• Tidak ada hasil yang ditemukan

KLASIFIKASI DAS YANG DIPULIHKAN DAN DIPERTAHANKAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KLASIFIKASI DAS YANG DIPULIHKAN DAN DIPERTAHANKAN"

Copied!
256
0
0

Teks penuh

(1)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

1

KLASIFIKASI DAS

YANG DIPULIHKAN DAN

DIPERTAHANKAN

KEMENTERIAN KEHUTANAN

DIREKTORAT JENDERAL BINA PENGELOLAAN DAS DAN PERHUTANAN SOSIAL

(2)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

2

I.

PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Daerah Aliran Sungai yang selanjutnya disingkat DAS yang tersebar diseluruh

wilayah Indonesia, merupakan satu kesatuan ekosistem alami yang utuh dari

ekosistem pegunungan di hulu hingga ekosistem pantai di hilir. Kekayaan

sumber daya alam maupun buatan di dalam DAS merupakan karunia Tuhan

Yang Maha Esa yang perlu disyukuri, dilindungi dan diurus daya dukungnya

dengan sebaik-baiknya. Berdasarkan kondisi saat ini ada DAS yang harus

dipertahankan daya dukungnya namun banyak pula DAS yang sudah harus

dipulihkan daya dukungnya.

Pada saat ini telah menjadi keprihatinan banyak pihak bahwa telah terjadi

degradasi lingkungan. Degradasi tersebut dapat dilihat dari timbulnya bencana

alam, seperti banjir, tanah longsor, sedimentasi dan kekeringan yang terus

meningkat. Rusaknya wilayah hulu daerah aliran sungai (DAS) sebagai daerah

tangkapan air diduga sebagai salah satu penyebab utama terjadinya

permasalahan yang menyangkut kelestarian sumber daya air, terutama

permasalahan sedimentasi.

Degradasi DAS itu menyebabkan kerusakan fungsi hidrologis, menurunnya

kapasitas infiltrasi, dan meningkatnya koefisien aliran permukaan sungai. Ini

karena penggunaan dan peruntukan lahan yang sudah menyimpang dari

Rencana Tata Ruang Wilayah dan Tata Ruang Daerah (RTRW/RTD) di dalam

DAS. Degradasi tersebut dipercepat pula dengan adanya peningkatan

pemanfaatan sumber daya alam sebagai akibat dari pertambahan dan tekanan

penduduk serta perkembangan ekonomi, konflik kepentingan dan kurang

keterpaduan antarsektor, antarwilayah hulu-tengah-hilir, terutama pada era

otonomi daerah yang menempatkan sumber daya alam sebagai salah satu

sumber pendapatan asli daerah (PAD).

Sejak tahun 1970-an telah dilakukan upaya-upaya untuk memperbaiki kondisi

tersebut. Tujuan dari upaya-upaya tersebut pada dasarnya adalah untuk

mewujudkan perbaikan lingkungan seperti penanggulangan bencana alam

(3)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

3

banjir, tanah longsor dan kekeringan, sehingga sumberdaya hutan dan lahan

berfungsi optimal untuk menjamin keseimbangan lingkungan dan tata air DAS,

serta memberikan manfaat sosial ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Upaya-upaya yang telah dilakukan seringkali tidak sesuai dengan kondisi suatu

DAS, apakah DAS tersebut perlu dipulihkan atau dipertahankan. Sehingga

hasilnya menjadi kurang optimal bagi perubahan sebuah kondisi DAS. Oleh

karena itu diperlukan suatu upaya pengelolaan DAS yang melihat kondisi DAS

dengan baik, sehingga diharapkan hasilnya menjadi lebih optimal.

Dengan kondisi seperti itu maka Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun

melaksanakan kegiatan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan

Dipertahankan. Sehingga dengan tersusunya klasifikasi DAS ini diharapkan

upaya penanganan suatu DAS mendapatkan hasil yang optimal.

B.

Maksud dan Tujuan

Maksud penyusunan klasifikasi DAS ini adalah untuk memenuhi amanat yang

terkandung dalam Peraturan Pemerintah Nomor : 37 Tahun 2012 tentang

Pengelolaan DAS yaitu klasifikasi DAS yang dipulihkan dan dipertahankan.

Sedangkan tujuan dilaksanakannya penyusunan klasifikasi DAS ini adalah

tersedianya data Klasifikasi DAS yang dipulihkan dan dipertahankan untuk

penentuan kebijakan dalam penyelenggaraan pengelolaan Daerah Aliarn

Sungai.

C.

Ruang Lingkup

Ruang lingkup dari kegiatan Penyusunan Klasifikasi DAS yang dipulihkan dan

dipertahankan yaitu :

-

Pengumpulan data biofisik dan sosial ekonomi

-

Pengolahan dan analisa data

-

Penilaian terhadap kriteria dan sub kriteria yang digunakan dalam

Penyusunan Klasifikasi DAS

(4)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

4

Sasaran Penyusunan Klasifikasi DAS adalah wilayah Balai Pengelolaan DAS

Pemali Jratun dilaksanakan di dalam dan di luar kawasan hutan berada pada

Daerah Aliran Sungai (DAS) terdiri dari 133 DAS pada 29 kabupaten dan kota.

D.

Pengertian

1.

DAS (Daerah Aliran Sungai) adalah suatu wilayah daratan yang merupakan

satu kesatuan dengan sungai dan anak-anak sungainya, yang berfungsi

menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah

hujan ke danau atau ke laut secara alami, yang batas di darat merupakan

pemisah topografis dan batas di laut sampai dengan daerah perairan yang

masih terpengaruh aktivitas daratan.

2.

Sub DAS adalah bagian dari DAS yang menerima air hujan dan

mengalirkannya melalui anak sungai ke sungai utama. Setiap DAS terbagi

habis ke dalam Sub DAS – Sub DAS.

3.

Pengelolaan DAS adalah upaya dalam mengelola hubungan timbal balik

antara sumber daya alam dengan sumber daya manusia di dalam DAS dan

segala aktivitasnya untuk mewujudkan kemanfaatan sumber daya alam

bagi kepentingan pembangunan dan kelestarian ekosistim DAS serta

kesejahteraan masyarakat.

4.

Klasifikasi DAS adalah pengkategorian DAS berdasarkan kondisi lahan

serta kualitas, kuantitas dan kontinuitas air, sosial ekonomi, investasi

bangunan air dan pemanfaatan ruang wilayah.

5.

DAS yang dipulihkan daya dukungnya adalah DAS yang kondisi lahan serta

kualitas, kuantitas dan kontinuitas air, sosial ekonomi, investasi bangunan

air dan pemanfaatan ruang wilayah tidak berfungsi sebagaimana

mestinya.

6.

DAS yang dipertahankan daya dukungnya adalah DAS yang kondisi lahan,

kualitas, kuantitas dan kontinuitas air, sosial ekonomi, investasi bangunan

air, dan pemanfaatan ruang wilayah berfungsi sebagaimana mestinya.

(5)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

5

7.

Daya Dukung DAS adalah kemampuan DAS untuk mewujudkan kelestarian

dan keserasian ekosistem serta meningkatnya kemanfaatan sumberdaya

alam bagi manusia dan makhluk hidup lainnya secara berkelanjutan.

8.

Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan,

mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga

daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem

penyangga kehidupan tetap terjaga.

9.

Lahan kritis adalah lahan di dalam maupun di luar kawasan hutan yang

telah mengalami kerusakan, sehingga kehilangan atau berkurang

fungsinya sampai pada batas yang ditentukan atau diharapkan.

10.

Degradasi lahan adalah menurunnya kapabilitas sumberdaya lahan karena

erosi atau penyebab lainnya sehingga tidak dapat berperan optimal

sebagai media pertumbuhan lapangan.

11.

Konservasi tanah dan air adalah upaya melindungi, melestarikan,

meningkatkan daya dukung dan produktivitas tanah dan air ebagai

penyangga kehidupan.

12.

Reboisasi adalah upaya tanam-menanam dalam rangka rehabilitasi lahan

kritis di dalam kawasan hutan.

13.

Penghijauan adalah upaya pemulihan atau perbaikan kembali keadaan

lahan kritis di luar kawasan hutan melalui kegiatan tanam-menanam dan

bangunan konservasi tanah agar dapat berfungsi sebagai media produksi

dan sebagai media pengatur tata air yang baik, serta upaya

mempertahankan dan meningkatkan dayaguna lahan sesuai dengan

peruntukkannya.

14.

Kawasan hutan konservasi adalah kawasan hutan dengan ciri khas

tertentu, yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman

tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya.

15.

Kawasan hutan lindung adalah kawasan hutan yang karena keadaan sifat

alamnya diperuntukkan guna mengatur tata air, pencegahan bencana

banjir dan erosi, serta pemeliharaan kesuburan tanah.

(6)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

6

16.

Kawasan hutan produksi adalah kawasan hutan yang diperuntukkan guna

produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada

umumnya dan khususnya untuk pembangunan, industri dan eksport.

17.

Kawasan lindung diluar kawasan adalah kawasan yang keadaan dan sifat

fisiknya mempunyai fungsi melindungi kelestarian fungsi sumberdaya alam

dan sumberdaya buatan. Jenis Kawasan lindung terdiri dari kawasan

bawahnya, kawasan perlindungan setempat, kawasan suaka alam dan

kawasan bencana.

18.

Kawasan budidaya pertanian adalah kawasan yang ditetapkan dengan

fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi

sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.

19.

Erosi adalah peristiwa terangkutnya tanah atau bagian-bagian tanah dari

suatu tempat ke tempat lain oleh media alami. Pengikisan dan

pengangkutan tanah tersebut terjadi oleh media alami, yaitu air dan angin

(Arsyad 2006).

20.

Bahaya erosi adalah perkiraan jumlah tanah yang hilang maksimum yang

akan terjadi pada suatu lahan bila pengelolaan tanah tidak mengalami

perubahan (Hardjowigeno dan Widiatmaka (2007), sedangkan tingkat

bahaya erosi (TBE) ditentukan berdasarkan atas perbandingan antara

jumlah tanah yang tererosi dengan kedalaman (efektif) tanah tanpa

memperhatikan jangka waktu kelestarian yang diharapkan, jumlah erosi

yang diperbolehkan maupun kecepatan proses pembentukan tanah

(Hardjowigeno 2007).

21.

Kemiringan lereng adalah perbandingan antara beda tinggi (jarak vertikal)

suatu lahan dengan jarak mendatarnya.

22.

Konservasi Tanah adalah upaya mempertahankan, merehabilitasi dan

meningkatkan daya guna lahan sesuai peruntukannya.

(7)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

7

BAB II. KRITERIA PENETAPAN KLASIFIKSASI DAS

A.

Pemilihan Kriteria

Kriteria-kriteria evaluasi kondisi DAS dipilih berdasarkan

pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :

-

Tingkat obyektivitas kondisi teknis pengelolaan DAS

-

Perkembangan sosial politik serta peraturan perundang-undangan yang

terkait

-

Tingkat ketersediaan atau kemutakhiran data-data pendukung

-

Tingkat akseptabilitas para pihak

-

Tingkat dayaguna dan hasil guna

Dalam penyusunan klasifikasi DAS yang dihasilkan tidak dimaksudkan sebagai

dasar penentuan teknis rehabilitasi hutan dan lahan maupun teknis pengelolaan

sumberdaya air, tetapi diharapkan dapat menggambarkan tingkat urgensi

penanganan DAS dalam skala nasional, provinsi dan kabupaten/kota.

Sehubungan dengan itu, data dan informasi parameter dan kriteria yang dipilih

diperoleh dari sumber yang telah tersedia di berbagai instansi terkait dan

seminimal mungkin mengambil data primer secara langsung di lapangan.

B.

Kriteria dan Sub Kriteria Terpilih

Jenis kriteria, sub kriteria dan pembobotan yang digunakan dalam

penetapan klasifikasi DAS disajikan sebagaimana Tabel 2.1.

Tabel 2-1.

Kriteria, sub kriteria dan pembobotan dalam

Penetapan Klasifikasi DAS

No Kriteria/Sub Kriteria Bobot

1. Kondisi Lahan 40

a. Presentase Lahan kritis 20

b. Presentase Penutupan Vegetasi 10

(8)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

8

No Kriteria/Sub Kriteria Bobot

2. Kualitas, Kuantitas dan Kontiunitas Air (Tata Air) 20

a. Koefisien Rejim Aliran (KRA) 5

b. Koefisien Aliran Tahunan (C) 5

c. Muatan sedimen 4

d. Banjir 2

e. Indeks Penggunaan Air (IPA) 4

3. Sosial Ekonomi dan Kelembagaan 20

a. Tekanan Penduduk Terhadap Lahan 10

b. Tingkat Kesejahteraan Penduduk 7

c. Keberadaan dan Penegakan Norma 3

4. Investasi Bangunan Air 10

a. Klasifikasi Kota 5

b. Klasifikasi Nilai Bangunan Air 5

5. Pemanfaatan Ruang Wilayah 10

a. Kawasan Lindung 5

b. Kawasan Budidaya 5

C.

Metoda dan Prosedur Penerapan

Kriteria dan sub kriteria terpilih seperti tabel 2-1 diatas dalam penerapannya

memerlukan parameter-parameter yang harus dihitung dimana hasilnya

diklasifikasikan dalam beberapa klas, dan di masing-masing kelas diberi skor

yang mencerminkan tingkat prioritas penanganannya. Metode dan prosedur

penerapan kriteria/sub kriteria dijelaskan sebagai berikut :

1. Kondisi Lahan

Kriteria kondisi lahan meliputi 3 (tiga) sub kriteria berikut ini :

a.

Persentase Lahan kritis

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

LK x 100 %

PLLK =

A

Keterangan rumus :

PLLK : Persentase luas lahan kritis

LK

: Luas lahan kritis dan sangat kritis (ha)

A

: Luas DAS (ha)

(9)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

9

Tabel 2-2. Kriteria penilaian kekritisan lahan berdasarkan persentase

lahan kritis dalam DAS

No. Prosentase Lahan Kritis dalam

DAS Skor Kualifikasi Pemulihan

1. 0 < PLLK ≤ 5 0,50 Sangat rendah

2. 5 < PLLK ≤ 10 0,75 Rendah

3. 10 < PLLK ≤ 15 1,00 Sedang

4. 15 < PLLK ≤ 20 1,25 Tinggi

5. PLLK > 20 1,50 Sangat tinggi

b.

Persentase Penutupan Vegetasi

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

LV x 100 %

PPV =

A

Keterangan rumus :

PPV : Persentase penutupan vegetasi

LV

: Luas penutupan lahan vegtasi (ha)

A

: Luas DAS (ha)

Kriteria penilaian Persentase Penutupan Vegetasi disajikan pada Tabel

2-3 berikut ini.

Tabel 2-3. Kriteria Penilaian Kondisi Lahan berdasarkan Persentase

Penutupan Vegetasi

No. Prosentase Penutupan vegetasi

dalam DAS Skor Kualifikasi Pemulihan

1. 80 < PPV 0,50 Sangat rendah

2. 60 < PPV ≤ 80 0,75 Rendah

3. 40 < PPv ≤ 60 1,00 Sedang

4. 20 < PPV ≤ 40 1,25 Tinggi

5. PPV ≤ 20 1,50 Sangat tinggi

c.

Indeks Erosi (IE)

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

PE

IE

=

T

Ai

IE

= ∑ (

x IEi)

A

IE

= PEi/Ti

Keterangan :

(10)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

10

IE : Indeks erosi DAS

PEi : Prediksi erosi dengan USLE pada land unit ke i (ton/ha/tahun)

IEi : Indeks erosi pada land unit ke i

A : Luas DAS (HA) ; Ai = luas land unit ke i

T : Erosi yang diperbolehkan dalam DAS (tergantung solum tanah)

Ti : Erosi yang diperkenankan pada land unit ke i

Kriteria penilaian indeks erosi disajikan pada Tabel 2-4.

Tabel 2-4. Kriteria Penilaian Indeks Erosi

No. Nilai Indeks Erosi Skor Kualifikasi Pemulihan

1. 0 < IE ≤ 0,5 0,50 Sangat rendah

2. 0,5 < IE ≤ 1 0,75 Rendah

3. 1 < IE ≤ 1,5 1,00 Sedang

4. 1,5 < IE ≤ 2 1,25 Tinggi

5. IE > 2 1,50 Sangat tinggi

Perhitungan nilai IE disamping menggunakan rumus dan kriteria

penilaian diatas juga dapat menggunakan nilai pengelolaan lahan dan

tanaman (CP). Cara perhitungannya yaitu :

Ai

CP = ∑ (

x CPi)

A

Dimana ;

CP : Nilai tertibang pengelolaan tanaman dan lahan pada DAS

tertentu

CPi : Nilai CP pada unit lahan ke i

Ai : Luas unit lahan ke I (ha)

A : Luas DAS

Kriteria penilaian CP disajikan pada Tabel 2-5.

Tabel 2-5. Kriteria nilai tertimbang pengelolaan lahan dan tanaman

pada DAS tertentu (CP)

No. Nilai CP Skor Kualifikasi Pemulihan

1. 0 < CP ≤ 0,1 0,50 Sangat rendah 2. 0,1 < CP ≤ 0,3 0,75 Rendah 3. 0,3 < CP ≤ 0,5 1,00 Sedang 4. 0,5 < CP ≤ 0,7 1,25 Tinggi 5. CP > 0,7 1,50 Sangat tinggi

2.

Kualitas, Kuantitas dan Kontinuitas Air (Tata Air)

Kriteria kualitas, kuantitas dan kontinuitas air(tata air) terpilih untuk

menggambarkan kondisi hidrologis DAS, didekati dengan lima sub criteria

(11)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

11

yaitu koefisien rejim aliran, koefisien aliran tahunan, muatan sedimen, banjir

dan indeks penggunaan air. Cara perhitungan parameter untuk setiap sub

kriteria tersebut adalah sebagai berikut :

a.

Koefisien Rejim Aliran (KRA)

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

Q Max

KRA =

Qa

Qa = 0,25 x Q Rata

Keterangan :

KRA

: Koefisien rejim aliran

Q Max : Debit harian rata-rata tahunan tertinggi

Qa

: Debit andalan (debit yang dapat dimanfaatkan/berarti)

Q Rata : Debit rata-rata bulanan > 10 th

Kriteria penilaian KRA disajikan pada Tabel 2-6.

Tabel 2-6. Kriteria Penilaian Koefisien Rejim Aliran (KRA)

No. Nilai KRA Skor Kualifikasi

Pemulihan

1. 0 < KRA ≤ 5 0,50 Sangat rendah

2. 5 < KRA ≤ 10 0,75 Rendah

3. 10 < KRA ≤ 15 1,00 Sedang

4. 15 < KRA ≤ 20 1,25 Tinggi

5. KRA > 20 1,50 Sangat tinggi

b.

Koefisien aliran tahunan ( C )

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

k x Q

C =

CH x A

Keterangan :

C

: Koefisien aliran tahunan

k

: Faktor konversi = (365 x 86.400)/10

A

: Luas DAS (ha)

Q

: Debit rata-rata tahunan (m

3

/detik)

CH

: Curah hujan rata-rata tahunan (mm/th)

(12)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

12

Tabel 2-7.Kriteria penilaian koefisien aliran tahunan (C)

No. Nilai C Skor Kualifikasi Pemulihan

1. 0 < C ≤ 0,2 0,50 Sangat rendah 2. 0,2 < C ≤ 0,3 0,75 Rendah 3. 0,3 < C ≤ 0,4 1,00 Sedang 4. 0,4 < C ≤ 0,5 1,25 Tinggi 5. C > 0,5 1,50 Sangat tinggi

c.

Muatan sedimen

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

MS = k x Cs x Q

(ton/tahun)

Keterangan :

MS

: Muatan sedimen (ton/ha/tahun)

k

: Faktor konversi = 365 x 86.400

Cs

: Konsentrasi sedimen rata-rata tahunan

Q

: Debit rata-rata tahunan (m

3

/detik)

Kriteria penilaian muatan sedimen disajikan pada Tabel 2-8.

Tabel 2-8.Kriteria penilaian muatan sedimen (MS)

No. Nilai MS Skor Kualifikasi Pemulihan

1. 0 < MS ≤ 5 0,50 Sangat rendah 2. 5 < MS ≤ 10 0,75 Rendah 3. 10 < MS ≤ 15 1,00 Sedang 4. 15 < MS ≤ 20 1,25 Tinggi 5. MS > 20 1,50 Sangat tinggi

d.

Banjir

Banjir merupakan meluapnya air sungai atau danau atau laut yang

menggenangi areal tertentu (biasanya kering) yang secara signifikan

menimbulkan kerugian baik materi maupun non materi terhadap manusia

dan lingkungan. Kriteria penilaian kejadian banjir berdasarkan data frekuensi

banjir yang diperoleh dari laporan kejadian bencana banjir atau pengamatan

langsung sebagaimana Tabel 2-9.

Tabel 2-9.Kriteria penilaian kejadian banjir

No. Frekuensi Banjir Skor Kualifikasi Pemulihan

1. Tidak pernah 0,50 Sangat rendah

2. 1 kali dalam 5 tahun 0,75 Rendah

3. 1 kali dalam 2 tahun 1,00 Sedang

4. 1 kali tiap tahun 1,25 Tinggi

(13)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

13

e.

Indeks penggunaan air

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

TKA

IPA =

Qa

Keterangan :

IPA

: Indeks penggunaan air

TKA

: Total kebutuhan air : kebutuhan air irigasi + DMI +

penggelontoran kota

DMI

: Domestic, municipal & industry

Qa

: Debit andalan

Kriteria penilaian indeks penggunaan air disajikan pada Tabel 2-10.

Tabel 2-10.Kriteria penilaian indeks penggunaan air (IPA)

No. Nilai IPA Skor Kualifikasi Pemulihan

1. IPA ≤ 0,25 0,50 Sangat rendah

2. 0,25 < IPA ≤ 0,50 0,75 Rendah

3. 0,50 < IPA ≤ 0,75 1,00 Sedang

4. 0,75 < IPA ≤ 1,00 1,25 Tinggi

5. IPA > 1,00 1,50 Sangat tinggi

3.

Sosial Ekonomi dan Kelembagaan

Kriteria sosial ekonomi dan kelembagaan DAS didekati dengan 3 (tiga) sub

kriteria, yaitu tekanan penduduk terhadap lahan, tingkat kesejahteraan

masyarakat dan kelembagaan DAS. Tekanan terhadap lahan diprediksi melalui

parameter rata-rata luas lahan pertanian perkeluarga petani. Kesejahteraan

penduduk diprediksi melalui parameter Persentase keluarga miskin dalam DAS

atau rata-rata tingkat pendapatan perkapita pertahun. Sedangkan kelambagaan

DAS dilihat dari kondisi keberadaan dan penegakan norma konservasi hutan dan

lahan oleh masyarakat DAS.

a.

Tekanan penduduk terhadap lahan (IKL)

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

A

IKL =

P

Keterangan :

(14)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

14

A

: Luas lahan pertanian di dalam DAS

P

: Jumlah KK petani di dalam DAS

Standar penilaian indeks ketersediaan lahan disajikan pada Tabel 2-11.

Tabel 2-11.Kriteria penilaian indeks ketersediaan lahan (IKL)

No. Selang Ukuran (Ha/KK) Skor Kualifikasi Pemulihan

1. IKL > 4 0,50 Sangat rendah

2. 2 < IKL ≤ 4 0,75 Rendah

3. 1 < IKL ≤ 2 1,00 Sedang

4. 0,5 < IKL ≤ 1 1,25 Tinggi

5. 0 < IKL ≤ 0,5 1,50 Sangat tinggi

b.

Tingkat kesejahteraan penduduk (TKP)

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

KK miskin x 100 %

TKP =

Total KK

Keterangan :

TKP

: Tingkat kesejahteraan penduduk

KK Miskin

: Jumlah kepala keluarga miskin

Total KK

: Jumlah total kepala keluarga

Keterangan tambahan:

Garis kemiskinan ditetapkan menggunakan data yang tersedia di BPS, yaitu

320-400 kg setara beras/kapita/tahun. sebagaimana Tabel 2-12.

Tabel 2-12. Standar penilaian tingkat kesejahteraan penduduk berdasarkan

jumlah keluarga miskin

No. Selang Ukuran (%) Skor Kualifikasi Pemulihan

1. 0 < TKP ≤ 5 0,50 Sangat rendah

2. 5 < TKP ≤ 10 0,75 Rendah

3. 10 < TKP ≤ 20 1,00 Sedang

4. 20 < TKP ≤ 30 1,25 Tinggi

5. TKP > 30 1,50 Sangat tinggi

Sedangkan apabila parameter yang digunakan adalah rata-rata pendapatan

perkapita per tahun, maka standar penilaian yang digunakan seperti yang

terlihat di dalam Tabel 13 berikut ini.

(15)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

15

Tabel 2-13. Standar penilaian tingkat kesejahteraan penduduk berdasarkan

pendapatan rata-rata perkapita/tahun

No. Selang Ukuran (juta rupiah) Skor Kualifikasi

Pemulihan 1. TKP > 5 0,50 Sangat rendah 2. 4 < TKP ≤ 5 0,75 Rendah 3. 3 < TKP ≤ 4 1,00 Sedang 4. 2 < TKP ≤ 3 1,25 Tinggi 5. 0 < TKP ≤ 2 1,50 Sangat tinggi

c. Keberadaan dan penegakan norma

Data diperoleh dari para tokoh masyarakat dan laporan dari instansi terkait.

Data yang diperlukan untuk analisa sub kriteria ini berupa keberadaan

norma yang berkaitan dengan konservasi dan air serta implementasinya di

lapangan di dalam DAS.

Standar penilaian keberadaan dan penegakan norma dilihat pada Tabel

2-14.

Tabel 2-14. Standar penilaian keberadaan dan penegakan norma

No. Keberadaan dan Keberfungsian Skor Kualifikasi

Pemulihan

1. Ada, dipraktekkan luas 0,50 Sangat rendah

2. Ada, dipraktekkan terbatas 0,75 Rendah

3. Ada, tapi tidak dipraktekkan lagi 1,00 Sedang

4. Tidak ada norma pro-konservasi 1,25 Tinggi

5. Ada norma kontra konservasi 1,50 Sangat tinggi

4.

Asset/nilai investasi bangunan air

Asset dan nilai investasi bangunan air dalam suatu DAS mencerminkan besar

kecilnya sumberdaya buatan manusia yang perlu dilindungi dari bahaya

kerusakan lingkungan DAS seperti banjir, tanah longsor, sedimentasi dan

kekeringan. Semakin besar nilai investasi dalam suatu DAS maka semakin

penting penanganan konservasi dan rehabilitasi hutan dan lahan di DAS

tersebut, dengan kata lain sekala pemulihan DAS menjadi sangat tinggi apabila

investasinya sangat tinggi dan kondisi biofisiknya telah mengalami degradasi.

Untuk hal ini didekati dengan sub criteria keberadaan kota dan nilai investasi

bangunan air seperti waduk/bendungan/saluran irigasi.

(16)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

16

a.

Klasifikasi kota

Data yang diperlukan adalah keberadaan kota di dalam wilayah DAS serta

kategori dari kota tersebut. Informasi keberadaan kota tersebut diperoleh

dari peta RTRWP/K dan atau hasil pengamatan.

Keterangan tambahan:

Kalau dalam satu DAS terdapat lebih dari satu kelas kota, maka dipakai kelas

kota yang tertinggi (skor tertinggi)

Kriteria Penilaian Keberadaan Kota terlihat di dalam Tabel 2-15 berikut ini.

Tabel 2-15. Kriteria penilaian keberadaan kota

No. Keberadaan Kota Skor Kualifikasi

Pemulihan

1. Tidak ada kota 0,50 Sangat rendah

2. Kota kecil 0,75 Rendah

3. Kota madya 1,00 Sedang

4. Kota besar 1,25 Tinggi

5. Metropolitan 1,50 Sangat tinggi

b.

Klasifikasi Nilai investasi bangunan air (IBA)

Data yang digunakan dalam penilaian nilai investasi bangunan air yaitu

besarnya nilai investasi bangunan air (waduk, bendungan, saluran irigasi)

dalam nilai rupiah. Kriteria penilaian investasi bangunan air disajikan pada

Tabel 2-16.

Tabel 2-16. Kriteria penilaian investasi bangunan air (IBA)

No. Nilai Investasi Bangunan Air (IBA)

(Rp miliar) Skor PemulihanKualifikasi

1. 0 < IBA ≤ 15 0,50 Sangat rendah

2. 15 < IBA ≤ 30 0,75 Rendah

3. 30 < IBA ≤ 45 1,00 Sedang

4. 45 < IBA ≤ 60 1,25 Tinggi

5. IBA > 60 1,50 Sangat tinggi

5.

Pemanfaatan ruang wilayah

Kriteria pemanfaatan ruang wilayah terdiri dari sub kriteria kawasan lindung dan

kawasan budidaya. Kawasan lindung adalah wilayah yang ditetapkandengan

fungsi utama melindungi kelestarianlingkungan hidup yang mencakup sumber

dayaalam dan sumber daya buatan. Sedangkan Kawasan budi daya adalah

wilayah yang ditetapkandengan fungsi utama untuk dibudidayakan atasdasar

(17)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

17

kondisi dan potensi sumber daya alam,sumber daya manusia, dan sumber daya

buatan. Semakin sesuaikondisi lingkungan dengan fungsi kawasan maka

kualifikasi pemulihan DAS adalah rendah dan sebaliknya apabila tidak sesuai

fungsinya maka kualifikasi pemulihannya tinggi.

a.

Kawasan lindung

Dilakukan dengan mengukur luas liputan vegetasi di dalam Kawasan

Lindung. Dengan demikian sub kriteria ini sebenarnya juga untuk melihat

kesesuaian peruntukan lahan mengingat Kawasan Lindung sebagian besar

terdiri atas Kawasan Hutan.

Cara/rumus perhitungannya yaitu :

Luas liputan vegetasi x 100 %

PTH =

Luas Kawasan Lindung di dalam DAS

Keterangan :

PTH : persentase luas liputan vegetasiterhadap luas Kawasan Lindung

di dalam DAS

Yang termasuk kawasan lindung adalah Hutan Lindung dan Hutan

Konservasi (Cagar Alam, Suaka Margasatwa, Taman Buru, Tahura, Taman

Wisata Alam dan Taman Nasional) dan kawasan lindung lainnya.. Kriteria

penilaian kawasan lindung disajikan pada Tabel 2-17.

Tabel 2-17. Kriteria Penilaian Kawasan Lindung (PTH) berdasarkan

Persentase Luas liputan vegetasi terhadap Kaw Lindung di

dalam DAS (%)

No. Persentase Luas Kawasan Lindung Skor Kualifikasi

Pemulihan 1. PTH ≤ 5 0,50 Sangat rendah 2. 5 < PTH ≤ 10 0,75 Rendah 3. 10 < PTH ≤ 20 1,00 Sedang 4. 20 < PTH ≤ 30 1,25 Tinggi 5. PTH > 30 1,50 Sangat tinggi

b.

Kawasan budidaya

Sub Kriteria ini memfokuskan pada lahan dengan kelerengan 0-25% pada

Kawasan Budidaya. Kelas kelerengan 0-25% ini adalah paling sesuai untuk

(18)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

18

budidaya tanaman sehingga akan cocok berada pada Kawasan Budidaya.

Penghitungan dilakukan dengan mengukur luas total lahan dengan

kelerengan 0-25% yang berada pada Kawasan Budidaya. Semakin tinggi

persentase luas unit lahan dengan kerengan dimaksud pada Kawasan

Budidaya maka kualifikasi pemulihan DAS semakin rendah. Sebaliknya

semakin rendah persentase luas unit lahan dengan kelerengan dimaksud

pada Kawasan Budidaya, atau dengan kata lain semakin tinggi persentase

luas unit lahan dengan kelerengan >25% pada Kawasan Budidaya maka

kualifikasi pemulihan DAS semakin tinggi.

Cara/rumus perhitungan:

Luas total lahan dg kemiringan lereng 0-25% x 100%

LKB = ---

Luas Kawasan Budidaya di dalam DAS

Keterangan rumus:

LKB = persentase luas lahan dengan kemiringan lereng 0-25% terhadap

luas Kawasan Budidaya di dalam DAS

Kriteria penilaian kawasan budi daya tersebut menggunakan klasifikasi

seperti yang tersaji di dalam Tabel 2-18.

Tabel 2-18. Kriteria Penilaian Kawasan Budidaya berdasarkan keberadaan

lereng 0-25%

No. Persentase lahan yang berkemiringan

lereng 0- 25% di dalam Kaw. Budidaya Skor PemulihanKualifikasi

1. LKB > 70 % 0,50 Sangat rendah

2. 45 < LKB < 70 0,75 Rendah

3. 30 < LKB < 45 1,00 Sedang

4. 15 < LKB < 30 1,25 Tinggi

(19)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

19

III. KONDISI UMUM

A.

Kondisi Biofisik

1.

Letak dan Luas

Wilayah Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Pemali Jratun secara

geografis terletak antara 108° 41' 51' s/d 111° 41' 42' Bujur Timur dan 5° 43'

31'' s/d 7° 27' 44'' Lintang Selatan.

Batas wilayah secara administrasi wilayah kerja Balai Pengelolaan Daerah

Aliran Sungai Pemali Jratun adalah :

- Sebelah Timur berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur (BPDAS Solo)

- Sebelah Utara berbatasan dengan Laut Jawa,

- Sebelah Barat berbatasan Provinsi Jawa Barat (BPDAS Cimanuk CItanduy)

- Sebelah Selatan berbatasan dengan BPDAS Serayu Opak Progo.

Secara visual batas wilayah BPDAS Pemali Jratun seperti pada gambar 1

berikut ini :

Gambar 1. Wilayah BPDAS Pemali Jratun

Berdasarkan hasil revisi batas DAS tahun 2009 dan sesuai Surat Keputusan

Menteri Kehutanan Nomor : SK.511/Menhut-V/2011 tentang penetapan peta

(20)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

20

daerah aliran sungai wilayah BPDAS Pemali Jratun terdiri dari 10 Satuan

Wilayah Pengelolaan (SWP), 133 DAS dan 69 Sub DAS dengan total luas

wilayah BPDAS Pemali 1.697.485 hektar. SWP DAS Serang mempunyai luas

areal paling besar yaitu seluas 401.235 hekar, sedangkan SWP DAS

Karimunjawa yang merupakan kepulauan dalam wilayah kerja Balai Taman

Nasional Karimunjawa mempunyai luas areal paling kecil yaitu seluas 4.782

hektar. Untuk lebih jelasnya keterangan mengenai SWP DAS dan luasnya

selengkapnya disajikan pada Tabel 3-1.

Tabel 3-1. Nama dan Luas SWP DAS

No. SWP DAS Luas (Hektar)

1 Banger Blukar 210.881 2 Bodri Jragung 206.660 3 Bosok Pemali 193.749 4 Gandu Suwaduk 106.225 5 Gangsa Comal 201.434 6 Jabangbayi Temperak 112.091 7 Juwana 130.391 8 Karimunjawa 4.782 9 Serang 401.235 10 Tuntang 130.037 Jumlah Total 1.697.485

Sumber : Data dan Peta hasil revisi batas DAS tahun 2009 dan Lampiran SK.511/Menhut-V/2011

Selengkapnya rincian mengenai SWP DAS, DAS dan Sub DAS disajikan pada

Tabel 3-2 dan Gambar 2 berikut ini.

Tabel 3-2. Nama dan Luas SWP DAS dan DAS

NO SWP DAS NAMA DAS SUBDAS JUMLAH LUAS DAS (HEKTAR)

1 2 3 4 5

1 Banger Blukar Das Ambo biji 5.053

Das Asin 704 Das Baja 2.155 Das Banger 3.716 Das Blukar 14.225 Das Boyo 14.998 Das Brontak 395

(21)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

21

1 2 3 4 5 Das Kebanyon 1.765 Das Kedondong 1.311 Das Kupang 18.021 Das Lampir 34.633 Das Pening 12.435 Das Pesanggrahan 2.583 Das Sambong 10.466 Das Sengkarang 30.630 Das Sragi 40.157 Das Susukan 3.371 Das Urang 11.893 Jumlah 0 210.881

2 Bodri Jragung Das Babon 3 12.292

Das Blorong 33.399

Das Bodri 4 65.249

Das Garang 4 21.277

Das Jragung 4 59.018

Das Kanal Timur 2 7.858

Das Mangkang Barat 5.176

Das Mangkang Timur 2.391

Jumlah 17 206.660

3 Bosok Pemali Das Babakan 12.500

Das Bosok 1.297 Das Kabuyutan 2 18.338 Das Kluwut 8.121 Das Pakijangan 6.515 Das Pemali 7 126.946 Das Siderpo 7.818 Das Tanjung 12.213 Jumlah 9 193.749

4 Gandu Suwaduk Das Balong 10.938

Das Banjaran 6.052 Das Barus 3.298 Das Brakkembang 2.947 Das Bugel 396 Das Cabakan 935 Das Cluwah 256 Das Gandu 1.571 Das Gelis 11.242 Das Guno 2.004 Das Kahar 639 Das Kalisat 1.626 Das Kanal 8.501 Das Kemangi 1.530

(22)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

22

1 2 3 4 5 Das Kenet 1.211 Das Klakah 368 Das Lenggi 3.052 Das Limar 2.200 Das Mati 2.382 Das Metawar 265 Das Mlonggo 6.538 Das Pakis 3.726 Das Pasokan 7.475 Das Rantian 473 Das Segrek 4.285 Das Semending 536 Das Suru 1.387 Das Suwaduk 2.079 Das Suwatu 2.546 Das Tayu 9.602 Das Ujungwatu 330 Das Wangkong 3.006 Das Wareng 1.893 Das Watugede 938 Jumlah 0 106.225

5 Gangsa Comal Das Cacaban 14.600

Das Cenang 3.608 Das Comal 5 82.137 Das Gangsa 19.941 Das Gentongan 2.776 Das Gung 18.338 Das Medana 699 Das Pah 7.905 Das Rambut 23.104 Das Randu 6.955 Das Semedo 3.064 Das Unter 2.590 Das Waluh 15.718 Jumlah 5 201.434

6 Jabangbayi Temperak Das Anyar 821

Das Bonang 719 Das Capluk 21.837 Das Gede 8.174 Das Jabangbayi 4.783 Das Jambangan 1.464 Das Kepel 884

(23)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

23

1 2 3 4 5 Das Kesambi 18.070 Das Kiringan 1.395 Das Kladen 1.715 Das Kresak 1.178 Das Lasem 23.061 Das Leran 528 Das Malang 789 Das Panggung 2.679 Das Randualas 318 Das Randugunting 14.559 Das Sranduk 518 Das Tasiksono 2.237 Das Temperak 6.362 Jumlah 0 112.091

7 Juwana Das Juwana 6 130.391

Jumlah 6 130.391

8 Karimunjawa Das Bengkoang 105

Das Burung 4

Das Cemara besar 7

Das Cemara kecil 3

Das Cendekian 16 Das cilik 2 Das Geleang 29 Das Genting 172 Das Gundul 5 Das Karimunjawa 2.314 Das Katang 4 Das Kembar 14 Das Kemujan 1.249

Das Krakal besar 4

Das Kumbang 8

Das Mandalika 15

Das Menjangan besar 76

Das Menjangan kecil 49

Das Menyawakan 27 Das Mrico 2 Das Nyamuk 128 Das Panjang 20 Das Parang 468 Das Sambangan 9 Das Seruni 29 Das Sintok 24 Jumlah 0 4.782

(24)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

24

1 2 3 4 5

9 Serang Das Serang 24 401.235

Jumlah 24 401.235

10 Tuntang Das Tuntang 8 130.037

Jumlah 8 130.037

Jumlah Total 69 1.697.485

Sumber : Data dan Peta hasil revisi batas DAS tahun 2009 dan Lampiran SK.511/Menhut-V/2011

Gambar 2. Peta Daerah Aliran Sungai wilayah BPDAS Pemali Jratun

2.

Batas Wilayah Administrasi

Hasil

overlay

/tumpang susun antara batas DAS hasil revisi tahun 2009 dengan batas

administrasi, wilayah administrasi yang masuk kedalam wilayah kerja Balai Pengelolaan

DAS Pemali Jratun terdiri dari 25 Kabupaten dan 4 Kota. Sedangkan wilayah

administrasi yang dikoordinir oleh Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun sejumlah 15

Kabupaten dan 4 Kota. Hal ini disesuaikan dengan prosentase cakupan luas wilayah yang

lebih dari 50 % dari luas wilayah administrasi yang bersangkutan. Prosentase wilayah

administrasi secara keseluruhan yang masuk kedalam batas wilayah Balai Pengelolaan

DAS Pemali Jratun dapat dilihat pada tabel 3-3 berikut ini.

(25)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

25

Tabel 3-3. Prosentase luas wilayah administrasi yang masuk ke BPDAS Pemali Jratun

No Kabupaten/Kota Provinsi Prosentase (%)

1 Banjarnegara Jawa Tengah 0,4 2 Banyumas Jawa Tengah 0,2 3 Batang Jawa Tengah 98,2 4 Blora Jawa Tengah 51,0 5 Boyolali Jawa Tengah 50,5 6 Brebes Jawa Tengah 97,2 7 Cilacap Jawa Tengah 0,1 8 Demak Jawa Tengah 100,0 9 Grobogan Jawa Tengah 100,0 10 Jepara Jawa Tengah 100,0 11 Kendal Jawa Tengah 100,0 12 Kudus Jawa Tengah 100,0 13 Kuningan Jawa Barat 0,1 14 Magelang Jawa Tengah 0,1 15 Pati Jawa Tengah 100,0 16 Pekalongan Jawa Tengah 100,0 17 Pemalang Jawa Tengah 100,0 18 Purbalingga Jawa Tengah 0,7 19 Rembang Jawa Tengah 89,8 20 Semarang Jawa Tengah 92,1 21 Sragen Jawa Tengah 13,6 22 Tegal Jawa Tengah 100,0 23 Temanggung Jawa Tengah 33,7 24 Tuban Jawa Timur 1,5 25 Wonosobo Jawa Tengah 0,1 26 Kota Semarang Jawa Tengah 100,0 27 Kota Pekalongan Jawa Tengah 100,0 28 Kota Salatiga Jawa Tengah 100,0 29 Kota Tegal Jawa Tengah 100,0

Sumber : Analisa Peta DAS dan Administrasi Skala 1 : 50.000 Wilayah BPDAS Pemali Jratun Tahun 2013

Sedangkan wilayah administrasi yang dikoordinir oleh BPDAS Pemali Jratun

selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3-4 berikut ini:

Tabel 3-4 Wilayah administrasi yang dikoordinir BPDAS Pemali Jratun

No Kabupaten/Kota Provinsi Prosentase

1 Batang Jawa Tengah 98,2

2 Blora Jawa Tengah 51,0

3 Boyolali Jawa Tengah 50,5

4 Brebes Jawa Tengah 97,2

5 Demak Jawa Tengah 100,0

6 Grobogan Jawa Tengah 100,0

7 Jepara Jawa Tengah 100,0

8 Kendal Jawa Tengah 100,0

9 Kudus Jawa Tengah 100,0

10 Pati Jawa Tengah 100,0

11 Pekalongan Jawa Tengah 100,0

(26)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

26

13 Rembang Jawa Tengah 89,8

14 Semarang Jawa Tengah 92,1

15 Tegal Jawa Tengah 100,0

16 Kota Semarang Jawa Tengah 100,0

17 Kota Pekalongan Jawa Tengah 100,0

18 Kota Salatiga Jawa Tengah 100,0

19 Kota Tegal Jawa Tengah 100,0

Sumber : Analisa Peta DAS dan Administrasi Skala 1 : 50.000 Wilayah BPDAS Pemali Jratun Tahun 2013

Penyebaran wilayah administrasi yang masuk dalam wilayah kerja BPDAS Pemali Jratun

dapat dilihat pada Gambar 3 berikut ini:

Gambar 3. Wilayah administrasi lingkup BPDAS Pemali Jratun

3.

Bentuk Lahan

Bentuk lahan ditentukan oleh gabungan karakteristik lereng, relief, pola

pengaliran dan jenis batuan Desaunettes (1977) memberikan katalog bentuk

lahan di Indonesia yang kemudian dijadikan dasar klasifikasi bentuk lahan.

Bentuk lahan dianalisa dengan SIG menggunakan peta

landsystem sebagai

peta dasarnya. Dari analisa didapatkan jenis bentuk lahan wilayah BPDAS

Pemali Jratun terbagi menjadi 7 bentuk lahan yaitu dataran, dataran alluvial,

kipas

dan

lahar,

lembah

alluvial,

rawa

pasang

surut,

(27)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

27

perbukitanan/pegunungan. Data bentuk lahan di wilayah BPDAS Pemali

Jratun dijelaskan pada tabel 3-5 dan gambar 4 berikut ini.

Tabel 3-5. Data Bentuk Lahan Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No Bentuk Lahan Luas (Hektar) Prosentase (%) 1 Dataran 597.753 35 2 Dataran Aluvial 492.982 29 3 Kipas dan Lahar 96.926 6 4 Lembah Aluvial 10.505 1 5 Pegunungan 198.472 12 6 Perbukitan 257.300 15 7 Rawa pasang surut 43.547 3

Jumlah 1.697.485 100

Sumber : Analisa Peta Land System Skala 1 : 250.000 Tahun 2011

Gambar 4. Peta bentuk lahan wilayah BPDAS Pemali Jratun

4.

Kelas Kemiringan Lereng

Tingkat kemiringan lereng di wilayah Balai Pengelolaan DAS Pemali Jratun didominasi

oleh kelas kemiringan Datar seluas 1.154.163 hektar atau 68 % dari luas seluruh wilayah

yang sebarannya hampir disemua kabupaten/kota. Kelas kemiringan lereng curam dan

sangat curam mempunyai besaran prosentase kurang lebih 6 % dari luas wilayah kerja

BPDAS Pemali Jratun yang didominasi pada wilayah perbukitan dan pegunungan.

(28)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

28

Data dan Peta kelas kemiringan lereng di wilayah BPDAS Pemali Jratun dijelaskan pada

tabel 3-6 dan gambar 5 berikut ini.

Tabel 3-6. Kelas Kemiringan Lereng Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No Kelas Kemiringan Luas (Hektar) Prosentase (%) 1 Datar 1.154.163 68 2 Landai 197.837 12 3 Agak Curam 142.453 8 4 Curam 99.474 6 5 Sangat Curam 103.558 6 Jumlah 1.697.485 100

Sumber : Analisa Peta Land System Skala 1 : 250.000 Tahun 2011

Gambar 5. Peta Kemiringan Lereng wilayah BPDAS Pemali Jratun

5.

Iklim

Klasifikasi iklim menurut

Schmidt & Ferguson umumnya dipakai di Indonesia

dan beberapa negara Asia Tenggara yang memiliki musim kering-musim

hujan. Terdapat delapan kelompok iklim yang didasarkan pada nisbah bulan

kering (BK) ke bulan basah (BB), yang disimbolkan sebagai Q (dalam

persen

).

Bulan kering adalah bulan dengan presipitasi total di bawah 60

mm

dan bulan

basah adalah bulan dengan presipitasi total di atas 100 mm.

(29)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

29

Delapan kelompok iklim menurut Schmidt dan Ferguson adalah :

Iklim A, Q < 14,3, daerah sangat basah,

hutan hujan tropis

;

Iklim B, 14,3 =< Q < 33,3, daerah basah, hutan hujan tropis;

Iklim C, 33,3 =<

Q < 60,0, daerah agak basah, hutan rimba peluruh

(daun gugur pada musim kemarau);

Iklim D, 60,0 =< Q < 100,0, daerah sedang,

hutan peluruh

;

Iklim E, 100,0 =< Q < 167,0, daerah agak kering, padang

sabana

;

Iklim F, 167,0 =< Q < 300,0, daerah kering, padang sabana;

Iklim G, 300,0 =< Q < 700,0, daerah sangat kering, padang ilalang;

Iklim H, Q >= 700,0, daerah ekstrim kering, padang ilalang.

Keadaan iklim menurut tipe iklim Schmidt & Ferguson berdasarkan peta iklim

wilayah BPDAS Pemali Jratun tahun 2011 diketahui bahwa tipe iklimnya mulai

dari type B hingga type E dengan didominasi type iklim C dan D.

Untuk lebih jelasnya sebaran tipe iklim pada wilayah BPDAS dapat dilihat

pada Tabel 3-7 dan Gambar 6 berikut ini.

Tabel 3-7 Data Iklim Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No Tipe Iklim Luas (Hektar) Prosentase (%)

1 Tipe B 196.221 12

2 Tipe C 908.760 54

3 Tipe D 565.795 33

4 Tipe E 26.708 2

JUMLAH 1.697.485 100

(30)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

30

Gambar 6. Peta Iklim wilayah BPDAS Pemali Jratun

6.

Curah Hujan

Keadaan curah hujan di wilayah BPDAS Pemali Jratun mempunyai curah

hujan tahunan yang paling besar luasannya adalah curah hujan rata-rata per

tahun antara 2.000 – 3.000 mm seluas 745.943 hektar (43,9 % dari luas

wilayah BPDAS) yang meliputi Brebes, Grobogan, Jepara, Semarang, Tegal,

Demak, Pemalang, Kendal, Rembang, Pekalongan, Kudus, Batang, Kota

Semarang, Pati dan Boyolali. Sedangkan yang mempunyai luas areal paling

kecil adalah curah hujan rata-rata per tahun antara 6.000 – 7.000 mm seluas

6.397 hektar meliputi sebagian kecil di wilayah pegunungan di Kabupaten

Batang dan Pekalongan.

Untuk lebih jelasnya sebaran curah hujan tahunan rata-rata pada wilayah

BPDAS dapat dilihat pada Tabel 3-8 dan Gambar 7 berikut ini.

Tabel 3-8. Data Curah Hujan Wilayah BPDAS Pemali Jratun

No Curah Hujan Tahunan Luas (Hektar) Prosentase (%)

1 1000 - 2000 mm 718.932 42,4

2 2000 - 3000 mm 745.943 43,9

(31)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

31

4 4000 - 5000 mm 68.147 4,0

5 5000 - 6000 mm 37.352 2,2

6 6000 - 7000 mm 6.397 0,4

JUMLAH 1.697.485 100,0

Sumber : Analisa Peta Curah Hujan Tahunan Skala 1 : 250.000 Tahun 2011

Gambar 7. Peta Iklim wilayah BPDAS Pemali Jratun

7.

Tanah

Dari analisa peta jenis tanah di wilayah kerja BPDAS Pemali Jratun sebaran

jenis tanah yang mendominasi adalah Latosol seluas 610.767,80 ha atau

35%, Aluvial seluas 550.707,24 ha atau 32,44% selanjutnya diikuti oleh

grumusol seluas 209.879,50 ha atau 12,36% dan sisanya jenis tanah litosol,

mediteran regosol dan podsolik.

Selengkapnya data luas jenis tanah di wilayah BPDAS Pemali Jratun seperti

ditunjukan pada tabel 3-9 dan gambar 8 berikut ini :

Tabel 3-9. Data Jenis Tanah di wilayah BPDAS Pemali Jratun

No Jenis Tanah Luas (Hektar) Prosentase (%) 1 Aluvial 551.206 32,47 2 Grumusol 209.879 12,36 3 Latosol 610.495 35,96 4 Litosol 112.017 6,6 5 Mediteran 95.128 5,6

(32)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

32

6 Podsolik 2.340 0,14 7 Regosol 116.419 6,86 Jumlah 1.697.485 100,00

Sumber : Analisa Peta Jenis Tanah Skala 1 : 250.000 Tahun 2013

Gambar 8. Peta Jenis Tanah wilayah BPDAS Pemali Jratun

8.

Erosi

Erosi adalah penyingkiran dan pengangkutan bahan dalam bentuk larutan

atau suspensi dari tapak semula oleh pelaku berupa air mengalir (aliran

limpasan), es bergerak atau angin (tejoyuwono notohadiprawiro, 1998: 74).

Menurut G. kartasapoetra, dkk (1991: 35), erosi adalah pengikisan atau

kelongsoran yang sesungguhnya merupakan proses penghanyutan tanah oleh

desakan-desakan atau kekuatan angin dan air, baik yang berlangsung secara

alamiah atau pun sebagai akibat tindakan atau perbuatan manusia.

Pemindahan atau pengangkutan tanah tersebut terjadi oleh media alami

berupa air dan angin. Misalnya erosi didaerah beriklim basah, faktor yang

berperan penting adalah air sedangkan angina tidak berarti. Dua sebab utama

terjadinya erosi adalah karena sebab alamiah dan aktivitas manusia. Erosi

alamiah dapat terjadi karena adanya pembentukan tanah dan proses yang

terjadi untuk mempertahankan keseimbangan tanah secara alami. Sedangkan

(33)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

33

erosi karena aktivitas manusia disebabkan oleh terkelupasnya lapisan tanah

bagian atas akibat cara bercocok tanam yang tidak mengindahkan

kaidah-kaidah konservasi tanah atau kegiatan pembangunan yang bersifat merusak

keadaan fisik tanah (chay asdak, 1995: 441).

Kondisi tingkat bahaya erosi di wilayah BPDAS Pemali Jratun berdasarkan

hasil analisa USLE untuk kategori sangat berat sekitar 12%, berat 7%,

sedang 21%, ringan 23% dan sangat ringan 37% dari total luas wilayah.

Selengkapnya dapat dilihat pada tabel 3-10 dan Gambar 9 berikut ini :

Tabel 3-10. Data Erosi di wilayah BPDAS Pemali Jratun

No Erosi Luas (Hektar) Prosentase

(%) Sebaran Wilayah

1 Sangat Ringan 628.352 37,02 Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Pekalongan, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang dan Tegal

2 Ringan 395.673 23,31 Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

3 Sedang 352.647 20,77 Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kota Tegal, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

4 Berat 118.724 6,99 Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

5 Sangat Berat 202.088 11,91 Meliputi sebagian kabupaten Batang, Blora, Boyolali, Brebes, Demak, Grobogan, Jepara, Kendal, Kota Salatiga, Kota Semarang, Kudus, Pati, Pekalongan, Pemalang, Rembang, Semarang, Sragen, Tegal dan Temanggung

Jumlah 1.697.485 100

(34)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

34

Gambar 9. Peta Erosi wilayah BPDAS Pemali Jratun

9.

Fungsi Kawasan

Pembagian wilayah berdasarkan fungsi kawasannya di wilayah kerja BPDAS

Pemali Jratun dibagi menjadi 5 kawasan yaitu :

1.

Kawasan Hutan Konservasi yaitu kawasan hutan yang ditetapkan

pemerintah yang mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman

tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya. Pemangku kawasan hutan

konservasi di wilayah BPDAS Pemali Jratun adalah Balai Konservasi

Sumber Daya Alam Provinsi Jawa Tengah, Balai Taman Nasional Gunung

Merbabu dan Balai Taman Nasional Karimunjawa.

2.

Kawasan Hutan Lindung adalah kawasan hutan yang karena keadaan sifat

alamnya diperuntukkan guna mengatur tata air, pencegahan bencana

banjir dan erosi, serta pemeliharaan kesuburan tanah. Pemangku

kawasan hutan konservasi di wilayah BPDAS Pemali Jratun adalah Perum

Perhutani Unit I Jawa Tengah.

(35)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

35

3.

Kawasan Hutan Produksi merupakan kawasan hutan yang diperuntukkan

guna produksi hasil hutan untuk memenuhi keperluan masyarakat pada

umumnya dan khususnya untuk pembangunan, industri dan eksport.

Pemangku kawasan hutan konservasi di wilayah BPDAS Pemali Jratun

adalah Perum Perhutani Unit I Jawa Tengah.

4.

Kawasan Lindung di luar kawasan hutan adalah kawasan yang berada

diluar kawasan hutan negara yang karena keadaan dan sifat fisiknya

mempunyai fungsi melindungi kelestarian fungsi sumberdaya alam dan

sumberdaya buatan. Pengelolaan kawasan lindung di luar kawasan hutan

adalah masyarakat dan para pihak yang berkepentingan dalam kawasan

tersebut.

5.

Kawasan budidaya pertanian adalah kawasan yang ditetapkan dengan

fungsi utama untuk dibudidayakan atas dasar kondisi dan potensi

sumberdaya alam, sumberdaya manusia dan sumberdaya buatan.

Kawasan diluar keempat kawasan yang telah disebutkan diatas

dikategorikan sebagai kawasan budidaya pertanian yang pengelolaannya

oleh masyarakat dan para pihak yang berkepentingan dalam kawasan

tersebut.

Selanjutnya data luas areal fungsi kawasan di wilayah BPDAS Pemali Jratun

seperti ditunjukan pada tabel 3-11 dan gambar 10 berikut ini :

Tabel 3-11. Data Fungsi Kawasan di wilayah BPDAS Pemali Jratun

No Fungsi Kawasan Luas (Hektar) Prosentase (%)

1 Kawasan Hutan Konservasi 5.518 0,3

2 Kawasan Hutan Lindung 31.410 1,9

3 Kawasan Hutan Produksi 330.914 19,5

4 Kawasan Lindung diluar kawasan hutan 58.948 3,5

5 Kawasan Budidaya Pertanian 1.270.695 74,9

Jumlah 1.697.485 100,00

(36)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

36

Gambar 10. Peta Fungsi Kawasan wilayah BPDAS Pemali Jratun

10.

Penggunaan Lahan dan Penutupan Lahan

Tingkat kerapatan penutupan lahan dikelompokkan menjadi 5 kelas dengan

menggunakan klasifikasi yang telah diuji di lapangan seperti tabel 3-12

berikut ini :

Tabel 3-12. Kisaran Nilai Indeks Vegetasi dan Tingkat Kerapatan Penutupan

Lahan

No. Kisaran Nilai NDVI Estimasi Kerapatan Tingkat Kerapatan

1. < 0,01 Tak bervegetasi/ tubuh air -2. 0,01 – 0,18 0% - 20% Sangat jarang 3. 0,18 – 0,32 20% - 40% Jarang 4. 0,32 – 0,42 40% - 50% Sedang 5. 0,42 – 0,49 50% - 60% Lebat 6. > 0,49 > 60% Sangat lebat

Analisa penutupan lahan dilakukan berdasarkan hasil perhitungan indeks

vegetasi dengan menggunakan pendekatan transformasi NDVI. Transformasi

NDVI merupakan salah satu bentuk transformasi vegetasi yang mampu

merepresentasikan variasi fenomena vegetasi yang terkait dengan aspek

(37)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

37

kerapatan kanopi dengan menekan sumber-sumber variasi spektral yang lain

sehingga tingkat kerapatan yang dapat diamati melalui transformasi citra ini

merupakan presentasi kerapatan kanpi sesungguhnya di permukaan bumi.

Untuk mengelompokkan citra hasil transformasi menjadi kelas kerapatan,

dilakukan dengan menggunakan metode density slicing, yaitu memilah julat

antara -1 hingga +1 (hasil proses NDVI) menjadi enam interval yang

menggambarkan kerapatan obyek secara umum.

Klasifikasi penutupan lahan hasil transformasi tersebut ditampilkan pada tabel

3-13 di bawah ini.

Tabel 3-13. Kondisi Penutupan Lahan di wilayah BPDAS Pemali Jratun

KABUPATEN Badan Tutupan Vegetasi (Hektar) (Hektar) Luas Air Tambak Rendah Sangat Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi

Batang 215.52 224.87 9,873.46 13,032.31 19,048.37 43,279.55 85,674.07 Blora 519.23 8,430.84 90,898.23 6,258.13 88,283.40 194,389.83 Boyolali 1,100.95 26,881.00 34,552.44 7,360.88 39,183.47 109,078.74 Brebes 719.06 13,294.95 13,269.99 61,628.93 57,716.82 30,436.16 177,065.91 Demak 695.69 12,068.54 16,991.90 64,628.30 1,335.55 3,810.25 99,530.22 Grobogan 520.68 19,530.80 80,123.69 16,196.30 86,457.80 202,829.27 Jepara 188.65 1,800.81 12,950.12 16,238.69 47,257.72 23,573.20 102,009.19 Kendal 412.21 4,297.66 11,350.59 22,763.87 18,500.46 43,532.29 100,857.07 Kota Pekalongan 50.08 727.07 2,343.82 716.74 781.63 4,619.33 Kota Salatiga 3,526.60 1,625.09 81.32 18.21 5,251.22 Kota Semarang 68.58 2,540.32 18,438.03 63.18 1,960.55 10,926.06 4,833.46 38,830.18 Kota Tegal 15.88 446.01 2,278.62 937.99 3,678.51 Kudus 23.32 9,189.80 21,476.21 11,809.01 2,186.98 44,685.31 Pati 307.56 12,253.99 18,042.53 68,743.90 35,755.49 22,761.83 157,865.31 Pekalongan 347.54 1,185.76 6,762.73 27,465.15 22,337.90 31,001.99 89,101.06 Pemalang 525.58 2,110.44 8,242.68 41,321.93 41,299.69 20,230.11 113,730.43 Rembang 2,155.14 4,237.32 70,676.15 3,643.38 22,304.79 103,016.77 Semarang 1,492.17 15,529.17 20,721.54 34,128.43 28,664.59 100,535.89 Tegal 341.76 57.06 11,127.33 49,780.42 30,894.60 6,074.26 98,275.44

Sumber : Hasil Interpretasi Citra Landsat Tahun 2013 Kerjasama dengan PUSPICS UGM Yogyakarta

(38)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

38

Gambar 11. Peta Penutupan Lahan wilayah BPDAS Pemali Jratun

Hasil Interpretasi penggunaan lahan dilakukan secara visual yaitu dengan

memanfaatkan komposit 457 Landsat ETM+ yang telah dipertajam terlebih

dahulu. Hasil interpretasi tersebut disajikan dalam table 3-14 di bawah ini.

Tabel 3-14. Kondisi Penggunaan Lahan di wilayah BPDAS Pemali Jratun

KABUPATEN KETERANGAN Luas (Hektar)

Batang Air laut 66.68

Air tawar 1,023.13 Belukar/semak 6,181.71 Empang 840.59 Gedung 36.76 Hutan 7,542.54 Kebun 27,504.64 Pemukiman 9,121.32 Penggaraman 11.33 Rumput 410.75 Sawah irigasi 23,549.23

Sawah tadah hujan 3,128.22

(39)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

39

KABUPATEN KETERANGAN Luas (Hektar)

Tegalan 6,229.15

Blora Air tawar 1,044.20

Belukar/semak 2,884.87 Gedung 18.68 Hutan 376.05 Kebun 77,483.58 Pemukiman 12,866.11 Rumput 810.22 Sawah irigasi 23,407.77

Sawah tadah hujan 57,722.99

Tanah berbatu 4.32

Tegalan 17,731.79

Boyolali Air laut 0.73

Air tawar 2,206.44 Belukar/semak 6,587.18 Gedung 32.07 Hutan 31.96 Kebun 13,189.98 Pemukiman 25,136.59 Rumput 1,694.74 Sawah irigasi 25,480.41

Sawah tadah hujan 2,181.14

Tanah berbatu 136.02

Tegalan 32,401.45

Brebes Air laut 988.15

Air tawar 2,433.55 Belukar/semak 5,558.49 Empang 8,876.81 Gedung 13.92 Hutan 3,864.91 Hutan rawa 43.89 Kebun 50,291.52 Pasir darat 16.21 Pemukiman 14,782.15 Rawa 16.19 Rumput 1,269.74 Sawah irigasi 57,037.98

Sawah tadah hujan 15,800.13

Tanah berbatu 2.39

Tegalan 15,998.05

Demak Air laut 889.46

Air tawar 1,251.31

(40)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

40

KABUPATEN KETERANGAN Luas (Hektar)

Empang 7,033.16 Gedung 46.40 Hutan rawa 79.01 Kebun 6,102.27 Pasir darat 0.49 Pemukiman 11,941.22 Penggaraman 5.22 Rawa 104.02 Rumput 445.97 Sawah irigasi 61,772.91

Sawah tadah hujan 1,314.97

Tegalan 7,866.94

Grobogan Air tawar 1,577.19

Belukar/semak 12,081.14 Gedung 8.13 Hutan 2,048.93 Kebun 53,648.64 Pemukiman 24,055.00 Rumput 1,228.53 Sawah irigasi 73,585.84

Sawah tadah hujan 10,508.51

Tanah berbatu 27.87

Tegalan 24,059.53

Jepara Air laut 269.87

Air tawar 488.76 Bangunan Poly 0.19 Belukar/semak 2,845.99 Dermaga 0.05 Empang 1,491.95 Gedung 8.38 Hutan 8,551.84 Hutan rawa 29.00 Kebun 20,976.12 Kebun/Perkebunan 1,298.47 Lapangan Terbang 2.07 Mangrove 504.51 Pasir darat 1.15 Pasir Pasut 35.46 Pemukiman 17,616.28 Rawa 138.00 Rumput 451.72 Rumput/Tanah Kosong 129.76 Sawah irigasi 29,100.55

(41)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

41

KABUPATEN KETERANGAN Luas (Hektar)

Sawah tadah hujan 5,368.77

Semak/Belukar 525.10

Tegalan 12,084.23

Tegalan/Ladang 96.10

Kendal Air laut 354.88

Air tawar 556.50 Belukar/semak 4,541.19 Empang 3,458.97 Gedung 100.20 Hutan 2,148.43 Hutan rawa 1.08 Kebun 34,450.90 Pasir darat 15.38 Pemukiman 12,933.84 Penggaraman 3.05 Rawa 20.91 Rumput 439.92 Sawah irigasi 22,779.36

Sawah tadah hujan 9,289.25

Tegalan 9,763.24

Kota Pekalongan Air laut 28.93

Air tawar 44.27 Empang 212.39 Gedung 31.68 Hutan rawa 2.72 Kebun 34.76 Pemukiman 2,154.52 Rawa 8.31 Rumput 101.30 Sawah irigasi 1,937.71 Tegalan 62.74

Kota Salatiga Belukar/semak 3.37

Gedung 16.07

Kebun 1,863.09

Pemukiman 2,348.98

Rumput 29.83

Sawah irigasi 266.38

Sawah tadah hujan 408.25

Tegalan 315.15

Kota Semarang Air laut 282.14

Air tawar 172.00

Belukar/semak 1,300.06

(42)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

42

KABUPATEN KETERANGAN Luas (Hektar)

Gedung 141.61 Hutan 2.27 Hutan rawa 6.47 Kebun 11,436.08 Pasir darat 0.41 Pemukiman 10,397.63 Rawa 102.18 Rumput 2,875.49 Sawah irigasi 2,961.33

Sawah tadah hujan 1,550.53

Tanah berbatu 31.40

Tegalan 4,982.17

Kota Tegal Air laut 66.72

Air tawar 50.17 Empang 192.07 Gedung 0.86 Kebun 6.53 Pemukiman 1,848.88 Rumput 48.25 Sawah irigasi 1,428.88 Tegalan 36.15

Kudus Air tawar 105.59

Belukar/semak 1,283.80 Gedung 86.94 Hutan 1,182.16 Kebun 2,275.12 Pemukiman 8,508.94 Rumput 513.53 Sawah irigasi 22,305.67

Sawah tadah hujan 4,501.38

Tegalan 3,922.19

Pati Air laut 318.23

Air tawar 413.47 Belukar/semak 2,664.49 Empang 9,885.79 Gedung 26.65 Hutan 2,317.02 Kebun 22,563.20 Pemukiman 20,780.17 Penggaraman 253.53 Rumput 932.01 Sawah irigasi 59,452.63

(43)

Laporan Penyusunan Klasifikasi DAS yang Dipulihkan dan Dipertahankan Tahun 2014

43

KABUPATEN KETERANGAN Luas (Hektar)

Tegalan 27,705.54

Pekalongan Air laut 48.42

Air tawar 819.50 Belukar/semak 4,399.42 Empang 814.25 Gedung 22.76 Hutan 12,641.47 Kebun 22,057.76 Pemukiman 10,334.22 Rumput 318.36 Sawah irigasi 26,689.37

Sawah tadah hujan 4,940.36

Tegalan 6,015.20

Pemalang Air laut 391.07

Air tawar 1,100.34 Belukar/semak 4,365.07 Empang 2,031.78 Gedung 24.62 Hutan 2,366.70 Kebun 37,004.45 Pemukiman 11,900.20 Penggaraman 19.62 Rawa 135.32 Rumput 662.44 Sawah irigasi 35,223.08

Sawah tadah hujan 4,050.22

Tanah berbatu 299.28

Tegalan 14,156.26

Rembang Air laut 299.85

Air tawar 186.96 Belukar/semak 2,020.81 Empang 801.70 Gedung 10.21 Hutan 784.55 Hutan rawa 20.29 Kebun 22,135.62 Pasir darat 7.22 Pemukiman 5,998.22 Penggaraman 695.74 Rumput 356.54 Sawah irigasi 15,983.13

Sawah tadah hujan 21,065.67

Gambar

Tabel 2-1.   Kriteria,  sub  kriteria  dan  pembobotan  dalam  Penetapan Klasifikasi DAS
Tabel 2-4.  Kriteria Penilaian Indeks Erosi
Tabel 2-9.Kriteria penilaian kejadian banjir
Tabel 2-10.Kriteria penilaian indeks penggunaan air (IPA)
+7

Referensi

Dokumen terkait

- Jumlah laporan pembinaan dan bantuan teknis penyusunan pola pengelolaan SDA Wilayah Sungai - Jumlah laporan pembinaan dan bantuan teknis penyusunan rencana pengelolaan SDA

terjadinya banjir dan tanah longsor di wilayah DAS Lepan yang menandakan.. adanya sesuatu yang salah dalam pengelolaan

Balai Penelitian Teknologi Kehutanan Pengelolaan DAS. Salah satu keanekaragaman jenis flora di TNBB yaitu adanya keanekaragaman tumbuhan bawah. Untuk mengetahui potensi

Terselenggaranya Penyusunan Laporan- laporan di wilayah lingkup Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang Provinsi Sumatera Barat Outcome Terlaksananya Penyusunan

Bardasarkan klasifikasi sebagaimana ditetapkan dalam Pasal 10, Menteri Kehutanan menetapkan organisasi dan tata kerja serta klasifikasi Unit Pelaksana Teknis Balai

memberikan pemahaman kepada para multi pihak mengenai Daerah Aliran Sungai (DAS), serta memberikan informasi mengenai wilayah kerja Balai Pengelolaan DAS (BPDAS)

Pengukuran aliran permukaan dan sedimentasi di DAS Ciliwung Tugu telah dilakukan oleh Balai Pengelolaan DAS (BPDAS) Citarum-Ciliwung dan untuk keperluan penelitian ini data

Selain itu pengelolaan DAS dapat disebutkan merupakan suatu bentuk pengembangan wilayah yang menempatkan DAS sebagai suatu unit pengelolaan sumber daya alam (SDA) yang secara