• Tidak ada hasil yang ditemukan

Studi Deskriptif Mengenai Tipe Work-Life Balance pada Perawat Wanita di Rumah Sakit "X" Bandung yang Sudah Menikah.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Studi Deskriptif Mengenai Tipe Work-Life Balance pada Perawat Wanita di Rumah Sakit "X" Bandung yang Sudah Menikah."

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran mengenai tipe work-life balance pada perawat wanita yang sudah menikah, dengan jumlah responden sebanyak 48 orang yang dijaring dengan menggunakan teknik purposive sampling.

Untuk mengukur tipe work-life balance pada perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah menikah, digunakan alat ukur work-family enrichment oleh Greenhaus yang dikembangkan oleh Dawn S. Carlson (2006) dan work-family conflict oleh Grzywacz dan Carlson (2007), yang kemudian dimodifikasi oleh Indah Soca Kuntari M. Psi., Psikolog. Berdasarkan uji validitas dengan menggunakan rumus pearson dan reliabilitas dengan menggunakan rumus Alpha Cronbach, diperoleh 13 item yang valid dan 1 item yang tidak valid dari kuesioner work-family enrichment dengan nilai validitas antara 0.284 – 0.677 dan reliabilitas 0.768. Sedangkan untuk kuesioner work-family conflict diperoleh 18 item yang valid dengan nilai antara 0.400 – 0.771 dan reliabilitasnya 0.872. Hasil dari kedua alat ukur tersebut kemudian dikombinasikan sehingga didapatkan 4 tipologi yaitu beneficial, harmful, active dan passive work-life balance.

Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini menyatakan bahwa tipe work-life balance yang paling dominan pada perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah menikah adalah tipe beneficial sebesar 81.3%. Dari hasil tersebut, dapat dikatakan bahwa perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah menikah mendapatkan pengalaman enhancement yang tinggi dari peran-peran yang dijalankan pada domain pekerjaan dan domain keluarga dan konflik yang rendah dari peran-peran yang dijalankan pada domain pekerjaan dan domain keluarga. Peneliti menyarankan untuk lebih lanjut dilakukan penelitian dengan sampel yang lebih bervariatif serta melibatkan data penunjang yang lebih mendalam agar dapat menjadi bahan acuan untuk menentukan faktor-faktor dari work-life balance.

(2)

ix Abstract

This study is conducted to discover the description of work-life balance type in nurse who is married employee of “X” Hospital Bandung. Respondents in this study are 48 people nurse of “X” Hospital Bandung that have been married using purposive sampling technique.

The instruments used to measure these type of work life balance are work family enrichment which is based on theory Greenhaus that have been developed by Dawn S.Carlson (2006), and also work family conflict Grzywacz and Carlson (2007) that have been modified by Indah Soca Kuntari M. Psi., Psikolog. Based on validity test using pearson validity and reliability using Alpha Cronbach, there are 13 items valid and 1 item not valid in work-family enrichment questionnaire with range validity value from 0.284 – 0.677 and reliability value 0.768. In the other hand for work-family conflict questionnaire, researcher obtained 18 item valid with range validity value from 0.400 – 0.771 and reliability value 0.872. Result from both of the instrument are combined to obtain 4 typology of work life balance such as, beneficial, harmful, active and passive work-life balance.

This study is concluded that the dominant type of work life balance in married nurse employee of “X” Hospital Bandung is beneficial type (81.3 percent). Based on that can be said that they experience high enhancement and low conflict from both of work and family domain with their role. Researcher suggest to have further research with more variation sample and use deeper supporting data that can be used to determine which factor that relevant with work life balance.

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

KATA PENGANTAR ... v

ABSTRAK ... viii

ABSTRACT ... ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR BAGAN ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 9

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian ... 9

1.3.1 Maksud Penelitian ... 9

1.3.2 Tujuan Penelitian ... 9

1.4 Kegunaan Penelitian ... 10

1.4.1 Kegunaan Teoritis ... 10

1.4.2 Kegunaan Praktis ... 10

1.5 Kerangka Pemikiran ... 11

(4)

xi BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Work-Life Balance ... 19

2.1.1 Definisi Work-Life Balance ... 19

2.1.2 Dimensi Work-Life Balance ... 19

2.1.3 Job Demands and Resources ... 21

2.1.4 Taksonomi Work-Life Balance ... 24

2.1.5 Data Demografis Work-Life Balance (Trambley, 2004) ... 26

2.2 Konsep Keseimbangan Peran ... 34

2.3 Profesi ... 36

2.3.1 Definisi Profesi ... 36

2.3.2 Definisi Perawat ... 36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN 3.1 Rancangan dan Prosedur Penelitian ... 37

3.2 Bagan Prosedur Penelitian ... 37

3.3 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 38

3.3.1 Variabel Penelitian ... 38

3.3.2 Definisi Konseptual ... 38

3.3.3 Definisi Operasional ... 40

3.4 Alat Ukur ... 41

3.4.1 Alat Ukur Work-Life Balance ... 41

3.4.2 Data Pribadi dan Data Penunjang ... 45

(5)

3.5 Populasi Sasaran dan Teknik Penarikan Sampling ... 48

3.5.1 Populasi Sasaran ... 48

3.5.2 Teknik Penarikan Sample ... 49

3.6 Teknik Analisis Data ... 49

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Sample Penelitian ... 50

4.1.1 Gambaran Responden Berdasarkan Usia ... 50

4.1.2 Gambaran Responden Berdasarkan Divisi ... 51

4.1.3 Gambaran Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir ... 51

4.1.4 Gambaran Responden Berdasarkan Status Kepegawaian ... 52

4.1.5 Gambaran Responden Berdasarkan Lama Kerja ... 52

4.1.6 Gambaran Responden Berdasarkan Jadwal Bekerja ... 53

4.2 Hasil Penelitian ... 53

4.2.1 Hasil Penelitian Berdasarkan Data Work-Life Balance ... 54

4.2.2 Hasil Penelitian Berdasarkan Data Work-Family Enrichment ... 55

4.2.3 Hasil Penelitian Berdasarkan Work-Family Conflict ... 55

4.3 Pembahasan ... 56

BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan ... 59

5.2 Saran ... 59

(6)

xiii

5.2.2 Saran Praktis ... 60

(7)

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Tipologi Work-Life Balance ... 24

Tabel 3.1 Kisi-Kisi Alat Ukur Work-Life Balance ... 42

Tabel 3.2 Penilaian Item Work-Family Enrichment ... 43

Tabel 3.3 Penilaian Item Work-Family Conflict ... 44

Tabel 3.4 Kriteria Validitas ... 47

Tabel 3.5 Kriteria Reliabilitas ... 48

Tabel 4.1 Usia Responden ... 50

Tabel 4.2 Divisi ... 51

Tabel 4.3 Pendidikan Terakhir ... 51

Tabel 4.4 Status Kepegawaian ... 52

Tabel 4.5 Lama Kerja ... 52

Tabel 4.6 Jadwal Kerja ... 53

Tabel 4.7 Tipe Work-Life Balance ... 54

Tabel 4.8 Work-Family Enrichment ... 55

(8)

xv

DAFTAR BAGAN

(9)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 – Kisi-Kisi Alat Ukur ... L-1 Lampiran 2 – Kata Pengantar ... L-4 Lampiran 3 – Lembar Persetujuan Responden ... L-6 Lampiran 4 – Kuesioner Data Personel ... L-7

Lampiran 5 – Kuesioner Work-Life Balance ... L-11 Lampiran 6 – Validitas dan Reliabilitas Alat Ukur ... L-15 Lampiran 7 – Data Hasil Kuesioner ... L-17 Lampiran 8 – Data Demografis ... L-26 Lampiran 9 – Hasil Pengolahan Data Gambaran Responden ... L-28

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Menurut beberapa peneliti, terdapat tahapan yang terjadi di dalam kehidupan manusia, seperti bekerja, menikah, berkeluarga atau memiliki anak. Hal ini juga didukung dengan adanya lingkaran keseimbangan mengenai perkembangan manusia, diantaranya marital, parental, familial, social, dan lain-lain (James Clawson, 2010). Perkembangan tersebut dialami oleh individu baik pria maupun wanita dan mengacu pada peran yang akan dijalani, dimana terdapat juga tugas perkembangan yang akan dipenuhi. Tugas perkembangan tersebut diantaranya adalah bekerja, memilih pasangan, membuat hubungan dengan suatu kelompok sosial tertentu, membina keluarga, mengasuh anak, serta mengelola rumah tangga (Havighurst dalam Hurlock 2000 dan Monks 2006).

Pada awalnya, peran dalam kehidupan adalah traditional role dimana suami merupakan kepala rumah tangga dan bertanggung jawab dalam kesejahteraan ekonomi keluarga, sedangkan istri bertugas melayani suami, mengasuh anak serta menciptakan kenyamanan dan kehangatan keluarga. Namun, seiring perkembangan jaman traditional role tersebut berubah menjadi egalitarian role dimana suami tidak lagi menjadi

(11)

2

Semakin berkembangnya jaman diiringi pula semakin berkembangnya pekerjaan yang dapat dilakukan oleh wanita. Beberapa pekerjaan yang banyak dilakukan oleh wanita, diantaranya guru atau dosen, psikolog, designer, chef, translater, pengarang atau penulis dan lain-lain. Salah satu pekerjaan yang sebagian besar didominasi oleh wanita yang disoroti dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di rumah sakit (Turangan, 2013). Rumah sakit merupakan salah satu pelayanan sosial bagi masyarakat dalam bidang kesehatan, dimana orang yang berhubungan langsung dengan pasien adalah perawat. Perawat dapat disimpulkan sebagai orang yang telah dipersiapkan melalui pendidikan untuk turut serta merawat dan menyembuhkan orang yang sakit, usaha rehabilitasi, pencegahan penyakit, yang dilaksanakannya sendiri atau di bawah pengawasan dan supervisor dokter atau suster kepala (Gunarsa, 2012).

Salah satu rumah sakit yang disoroti dalam penelitian ini adalah Rumah Sakit “X” Bandung, dimana keseluruhan perawatnya berjenis kelamin wanita dengan jumlah 126 orang, sedangkan untuk perawat wanita yang sudah menikah sejumlah 48 orang. Perawat wanita lebih dibutuhkan atau diutamakan dibandingkan dengan perawat laki-laki karena pasien yang datang ke rumah sakit lebih mudah ditangani dan lebih mengharapkan untuk dilayani oleh perawat wanita. Akan tetapi, jika terdapat tugas-tugas yang perlu dilakukan oleh laki-laki seperti mengangkat barang (contoh: tabung oksigen), maka akan diperbantukan oleh karyawan laki-laki.

Di Rumah Sakit “X” Bandung terdapat divisi umum, bedah dan ICU dengan job

description perawat yang hampir serupa, diantaranya: (1) memersiapkan dan

(12)

3

keperawatan dasar kepada pasien, (5) memantau kondisi pasien dan selanjutnya melakukan tindakan yang tepat berdasarkan hasil pantauan tersebut, (6) melakukan pertolongan pertama kepada pasien dalam keadaan darurat secara tepat dan benar sesuai kebutuhan. Adapun tugas-tugas non-keperawatan yang diberikan oleh rumah sakit, seperti menginventarisasi alat-alat medis dan administrasi. Namun adapun yang membedakan ketiga divisi tersebut yaitu kompetensi yang dimiliki perawat dan tingkat keparahan suatu penyakit.

Perawat bekerja dengan menggunakan sistem shift dan non-shift yang terbagi menjadi 3 shift, yaitu shift pagi pukul 07.00-15.00, shift siang pukul 15.00-23.00 dan shift malam pukul 23.00-07.00, sedangkan untuk non-shift mulai dari hari senin sampai

dengan sabtu mulai pukul 07.00-15.00. Perawat bekerja dengan fixed time, namun perawat juga dituntut untuk melakukan pekerjaannya secara fleksibel, artinya sewaktu-waktu perawat wanita akan dirotasi ke bagian lain sesuai dengan kebutuhan—biasanya terjadi apabila salah satu bagian kekurangan perawat, sedangkan bagian yang lain memiliki perawat yang lebih. Jam kerja menunjukkan perbedaan waktu yang dimiliki perawat wanita untuk melakukan kegiatan lain yang berkaitan dengan perannya di keluarga sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga.

(13)

4

dituntut untuk mengelola rumah tangga, seperti mencuci, memasak, menjaga kebersihan, dan lain-lain. Terlebih perawat wanita yang sudah memiliki anak memiliki peran sebagai ibu, yang dituntut untuk mengurus dan merawat anak, mendidik dan memenuhi kebutuhan sehari-hari, mendampingi anak, dan lain sebagainya. Selain itu, perawat wanita yang sudah menikah yang tinggal bersama dengan anggota keluarga yang lain, seperti orang tua, mertua, dan sanak saudara lainnya, memiliki tuntutan peran yang harus dijalani.

Berbagai peran yang dimiliki perawat wanita yang sudah menikah menimbulkan adanya overlap yang memungkinkan mengarah pada konflik. Menurut Bedein et al (1983), konflik disebabkan karena individu kesulitan dalam memenuhi tuntutan pekerjaan dan keluarga yang seringkali bertentangan. Konflik peran lebih banyak terjadi pada wanita dibandingkan pria, meskipun pada dasarnya dapat terjadi pada wanita maupun pria. Hal ini didukung dengan beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa intensitas terjadinya konflik peran pada wanita lebih besar dibandingkan pria (Apperson et al., 2002). Menurut Davidson dan Copper (1992) juga Powell dan Graves (2003), wanita bekerja berhadapan dengan berbagai bentuk masalah di tempat kerja dan di rumah. Berdasarkan hal tersebut work-family conflict didefinisikan sebagai tekanan yang tidak kompatibel timbul secara bersamaan antar peran pekerjaan dengan peran keluarga (Greenhaus dan Beutell, 1985).

Work-family conflict terjadi pada wanita yang bekerja dan sudah menikah, serta

(14)

5

keluarga, seperti peran seorang ibu untuk mengantar anak ke sekolah, atau hadir pada acara yang diadakan oleh sekolah, peran seorang istri untuk menemani suami, peran sebagai ibu rumah tangga untuk menyiapkan makanan, mengelola rumah tangga. Konflik lebih terasa pada perawat wanita dengan sistem shift, dimana saat perawat wanita mendapatkan shift malam, mereka tidak ada untuk menemani keluarga saat berkumpul pada malam hari, dan tidak bisa menyiapkan makanan di pagi hari. Perawat wanita juga merasa lebih kelelahan sesaat sesampainya di rumah, sehingga seringkali menunda untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Hal ini didukung pula oleh penelitian yang dilakukan Berg (1986) dimana Berg telah mewawancarai hampir 1000 istri yang bekerja dan ia menyimpulkan bahwa masalah yang paling sering dialami adalah perasaan bersalah karena bekerja sampai larut malam, tidak bisa makan malam bersama dengan keluarga, memiliki sedikit ketertarikan dalam hubungan seksual, menjadi sedikit temperamental terhadap anak, serta harus meninggalkan pekerjaan untuk menghadiri acara anak di sekolah atau acara keluarga lainnya. Perawat yang lebih banyak merasakan konflik, akan mengalami psychological ill-being, seperti fatigue, distress dan job exhaustion (Aryee et al., 2005; Kunnunen et al., 2006; Wayne et al., 2004).

Walaupun demikian, peran-peran yang dijalani oleh perawat wanita yang sudah menikah tidak selalu menimbulkan konflik peran atau biasa dikenal dengan work-family conflict, namun juga dapat memunculkan pengalaman-pengalaman yang bermanfaat

(15)

6

Pengalaman enhancement yang didapat perawat wanita dari pekerjaannya dapat berupa kemampuan dan ilmu pengetahuan mengenai keperawatan dan obat-obatan, sehingga memampukan individu untuk memberikan pertolongan medis pada anggota keluarga atau orang lain yang membutuhkan di luar lingkungan rumah sakit. Perawat wanita juga mengembangkan kepekaan dan kecekatan ketika bekerja, mengingat bahwa hal tersebut dibutuhkan untuk melayani pasien dan hal tersebut terkadang dibutuhkan untuk melayani keluarga sesuai dengan kebutuhan mereka. Selain itu, dengan bekerja memampukan perawat wanita untuk mendapatkan penghasilan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Kombinasi pengalaman enhancement dan konflik peran yang dialami oleh individu dalam kaitannya dengan peran di dalam pekerjaan dan keluarga, akan mengarah pada work-life balance. Begitu pula menurut Jones et al (2006) menyatakan bahwa adanya interaksi positif antara peran wanita di dalam keluarga dan pekerjaan, dan hal ini disebut work-life balance. Menurut Grzywacz dan Carlson (2007:458), work-life balance didefinisikan sebagai pemenuhan harapan peran (terkait) yang

dinegosiasikan dan diterima antara individu dan mitra peran terkaitnya di domain pekerjaan dan keluarga. Bagaimana individu menyeimbangkan peran di dalam pekerjaan dan keluarga digambarkan dengan 4 tipe work-life balance, diantaranya beneficial balance, active balance, harmful balance dan passive balance.

(16)

7

yang dimilikinya. Mereka juga menyadari adanya manfaat yang didapat dari pekerjaannya.

Tipologi yang ke-2 adalah harmful balance yang mengacu pada proposisi tingginya konflik dan rendahnya pengalaman enhancement yang dialami individu dalam kaitannya dengan peran di pekerjaan dan keluarga, yang dapat mengancam fungsi psikologis dan kesejahteraan individu. Perawat dengan tipe ini tidak dapat menikmati perannya di pekerjaan, dan bahkan merasakan tuntutan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengalaman yang dimanfaatkan.

Tipologi yang ke-3 adalah tipologi yang lebih menitikberatkan pada keterlibatan individu pada peran yang dijalani atau dipilihnya atau yang disebut sebagai active balance. Tipologi yang mengacu pada proposisi tingginya pengalaman enhancement

dan konflik terkait pada keterlibatan individu dalam beberapa peran yang dipilihnya dalam kehidupan mereka. Individu dengan tipe ini lebih suka terlibat diluar peran sebagai istri dan ibu rumah tangga, serta perawat. Individu dengan tipe ini menikmati banyak aktivitas ketimbang hanya diam saja, di samping individu menyadari adanya overlap peran.

Kebalikan dengan tipe active balance, tipologi yang ke-4 justru tidak menyukai banyak aktivitas terkait peran diluar pekerjaan dan keluarga. Tipe passive balance mengacu pada proposisi rendahnya pengalaman enhancement dan konflik terkait pada sedikitnya peran yang diambil dalam kehidupannya. Individu dengan tipe ini menjadikan perannya di pekerjaan dan keluarga sebagai rutinitas.

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara kepada 6 orang perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah menikah,

(17)

8

dengan peran di pekerjaan dan keluarga. Hal tersebut juga didukung oleh sang suami, dimana suami tidak mengeluh apabila istrinya bekerja, bahkan suami membantu pengasuhan anak dan pengelolaan rumah tangga, sehingga hal tersebut meringankan beban perawat wanita. Adapun perawat wanita yang dibantu oleh anggota keluarga lain seperti ibu, ayah, mertua dan lain-lain, serta adanya asisten rumah tangga

Di samping itu, terdapat 2 orang perawat wanita yang sudah menikah yang mengatakan bahwa mereka merasa kesulitan dalam menyeimbangkan peran-perannya terkait dengan pekerjaan dan keluarga. Kesulitan yang seringkali mereka hadapi adalah ketika anak sakit, tetapi sebagai seorang ibu yang bekerja, tidak bisa meninggalkan pekerjaanya. Terkadang perawat wanita juga menjadi tidak fokus dalam menjalankan perannya di pekerjaan karena mengkhawatirkan anaknya di rumah. Mereka juga seringkali merasa bersalah karena tidak ada untuk merawat anaknya, sebaliknya mereka harus merawat orang lain. Hal tersebut ditunjukkan dari hasil wawancara bahwa pada tahun 2012 dan 2013 terdapat 4 orang perawat wanita yang sudah menikah yang mengundurkan diri dari pekerjaanya sebagai perawat. Hal tersebut dikarenakan para perawat tidak memiliki waktu yang cukup untuk merawat dan mendidik anaknya, serta mendampingi anaknya.

(18)

9

merasa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di rumah, dimana selalu ada pekerjaan yang harus mereka selesaikan, seperti melayani suami dan anak.

Berdasarkan tipe work-life balance, memungkinkan bahwa pekerja wanita yang sudah menikah tidak mengarah pada konflik, melainkan mampu menyeimbangkan peran-peran yang dijalani serta meningkatkan performa. Dengan demikian, peneliti tertarik untuk meneliti tipe work-life balance pada perawat wanita di rumah sakit “X” Bandung yang sudah menikah.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan penelitian ini ingin mengetahui tipe work-life balance manakah yang paling dominan pada perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah

menikah.

1.3 Maksud dan Tujuan Penelitian

1.3.1 Maksud Penelitian

Maksud dari penelitian ini adalah untuk memeroleh gambaran mengenai tipe work-life balance pada perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah

menikah.

1.3.2 Tujuan Penelitian

(19)

10

1.4 Kegunaan Penelitian

1.4.1 Kegunaan Teoritis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi masukan bagi ilmu pengetahuan khususnya Psikologi Industri dan Organisasi mengenai tipe work-life balance dalam kaitannya dengan enhancement dan konflik pada

perawat wanita yang sudah menikah.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan pada peneliti lain yang membutuhkan bahan acuan untuk melakukan penelitian lebih lanjut mengenai gambaran dan perbedaan tipe work-life balance.

1.4.2 Kegunaan Praktis

a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi maupun masukan bagi Rumah Sakit “X” Bandung dalam mengelola sumber daya manusia

untuk meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan.

b. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi dan meningkatkan wawasan perawat wanita yang sudah menikah dalam kaitannya dengan pengalaman enhancement yang didapat dari peran gandanya sehingga dapat meningkatkan performa kerja.

(20)

11

1.5 Kerangka Pemikiran

Partisipasi perempuan di domain keluarga dan pekerjaan menyangkut peran tradisi dan transisi yang diiringi dengan adanya tuntutan yang harus dipenuhi. Peran tradisi atau domestik mencakup peran perempuan sebagai istri, ibu dan pengelola rumah tangga. Sementara peran transisi meliputi pengertian perempuan sebagai tenaga kerja, anggota dalam kegiatan ekonomis (mencari nafkah) di berbagai kegiatan sesuai dengan keterampilan dan pendidikan yang dimiliki serta lapangan pekerjaan yang tersedia (Sukesi, 1991), yang dimana dalam penelitian ini adalah seorang perawat. Menurut Virginia Henderson (2010) perawat adalah seseorang yang membantu individu dalam keadaan sakit maupun sehat. Perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah menikah memiliki rentang usia 23 hingga 55 tahun. Peran transisi perawat wanita yang sudah menikah, berupa tercurahnya waktu kerja yang dimiliki yang berupa shift dan non-shift selama 8 jam/hari. Hal tersebut menunjukkan bahwa adanya perbedaan waktu

dalam melaksanakan aktivitas di domain pekerjaan dan keluarga. Adapun tuntutan yang berasal dari pihak-pihak seperti pasien dan/atau keluarga pasien, rumah sakit, atasan/supervisor, dan lain-lain.

(21)

12

terjadi pada karyawan dimana di satu sisi individu harus melakukan pekerjaan di kantor dan di sisi yang lain ia harus memerhatikan keluarga secara utuh (Frone, Rusell dan Cooper, 1992). Di dalam Rantanen (2008) konflik peran disebut sebagai work-family conflict.

Namun beberapa peran yang dimiliki seorang wanita yang bekerja tidak selalu mengarah pada work-family conflict, melainkan individu memeroleh pengalaman yang dapat dimanfaatkan untuk kehidupan keluarganya, dan dapat menjadi sumber kekuatan dalam kehidupan sehari-harinya atau dikenal dengan sebutan resources atau sumber daya kerja. Resources merupakan dimensi-dimensi dari pekerjaan yang fungsional untuk mencapai goal, yang meminimalkan efek dari tuntutan kerja, atau menstimulasi personal growth (Bakker, 2010:153). Resources yang didapat oleh perawat wanita

mengarah pada dialaminya pengalaman enhancement. Enhancement merupakan resources yang didapat dari suatu peran, baik secara langsung meningkatkan performa

dalam peran lainnya atau disebut sebagai instrumental pathways, maupun secara tidak langsung dengan memberikan efek positif atau yang disebut dengan affective pathways. Pemahaman mengenai enhancement adalah bahwa dalam menjalankan perannya di pekerjaan, perawat wanita yang sudah menikah dapat memeroleh manfaat (seperti kemudahan, kepuasan, skill yang baru) untuk menjalankan perannya di keluarga. Dengan adanya pengalaman enhancement dapat membantu perawat wanita yang sudah menikah untuk mengurangi konflik peran yang mereka rasakan baik di pekerjaan maupun di rumah.

(22)

13

bertugas merawat anak dan suami, seperti memenuhi kebutuhan keluarga. Adapun manfaat berupa meningkatnya kepercayaan diri dan energi dalam melaksanakan peran di domain pekerjaan dan keluarga, serta menambahkan penghasilan yang dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Di samping itu, adapun pengalaman enhancement yang didapat perawat wanita yang sudah menikah dari domain keluarga, seperti meringankan tanggung jawab sebagai seorang istri dan ibu rumah tangga, mengingat suami membantu pengasuhan dan pengelolaan rumah tangga. Dukungan yang diberikan oleh keluarga juga dapat meningkatkan semangat individu untuk bekerja, seperti suami yang memberikan pengertian bahwa istri harus bekerja dan tidak banyak menuntut untuk melakukan tugas-tugas di rumah.

Ada wanita yang bisa menikmati peran gandanya, namun ada yang merasa kesulitan sehingga akhirnya persoalan-persoalan rumit semakin berkembang dalam kehidupan sehari-hari (Yulia, 2007). Kombinasi pengalaman enhancement dan konflik peran yang berasal dari resources dan demands akan mengarah pada cara individu untuk menyeimbangkan kehidupannya baik di domain pekerjaan dan keluarga atau disebut sebagai work-life balance. Work-life balance didefinisikan sebagai pemenuhan harapan peran terkait yang dinegosiasikan dan diterima antara individu dan mitra peran terkaitnya di domain pekerjaan dan keluarga (Grzywacs dan Carlson, 2007; hal. 458).

Adapun beberapa pandangan mengenai work-life balance dimana banyak ahli menyatakan bahwa work-life balance terdiri dari tingginya rewards, sumber daya dan enhancement yang dikombinasikan dengan rendahnya kecemasan, tuntutan dan konflik

(23)

14

balance dapat menentukan sikap dan tindakan individu. Hal tersebut diasumsikan

dengan peran individu dalam mengabdikan diri secara seimbang dan sama-sama puas dengan peran di dalam kehidupan mencerminkan bahwa work-life balance yang menghasilkan kemampuan untuk mengelola beberapa peran tanpa adanya konflik (Greenhaus et al., 2003; Marks dan MacDermid, 1996). Ketiga, keseimbangan yang dicapai antara peran di dalam pekerjaan dan bukan di pekerjaan diharapkan mengarah pada kepuasan dan well-being di dalam kehidupan. Dalam pidato presiden American Psychological Association (APA), menyatakan bahwa kesulitan menggabungkan

pekerjaan dan keluarga adalah tantangan besar bagi pekerja saat ini (Halpern, 2005). Work-life balance terbagi menjadi 4 tipologi, diantaranya beneficial balance,

harmful balance, active balance dan passive balance (Ftone, 2003; Greenhaus dan

Beutell, 1985; Kahn et al., 1964). Tipologi yang pertama yang diinterpretasikan sebagai tipologi ideal adalah beneficial balance yang mengacu pada proposisi tingginya pengalaman enhancement yang didapatkan individu dari kegiatan di pekerjaan dan keluarga, serta rendahnya konflik di pekerjaan-keluarga, yang dapat meningkatkan fungsi psikologis dan kesejahteraan individu. Perawat wanita dengan tipe beneficial dapat menikmati pekerjaannya tanpa merasakan adanya tuntutan dari tugas-tugas yang diberikan. Perawat wanita menyadari adanya manfaat atau pengalaman enhancement yang didapat dari pekerjaannya seperti kemampuan dan ilmu pengetahuan mengenai keperawatan yang dapat dimanfaatkan perawat wanita untuk membantu anggota keluarga atau orang di lingkungan sekitarnya yang sedang sakit. Sistem shift dan non-shift yang dimiliki perawat wanita juga memampukan mereka untuk dapat me-manage

(24)

15

untuk memenuhi kebutuhan ekonomoi keluarga, dengan tanpa merasa kekurangan. Perawat wanita dengan tipe beneficial balance merasakan kepuasan dalam setiap aspek kehidupannya. Rendahnya konflik yang dialami perawat wanita yang sudah menikah tipe beneficial balance berasal dari tingginya dukungan dari keluarga berupa rasa pengertian atau empati, kesediaan membantu melakukan pekerjaan rumah atau pengasuhan anak, serta adanya asisten rumah tangga.

Tipologi yang ke-2 adalah harmful balance yang mengacu pada proposisi tingginya konflik dan rendahnya pengalaman enhancement yang dialami individu dalam kaitannya dengan peran di pekerjaan dan keluarga, yang dapat mengancam fungsi psikologis dan kesejahteraan individu. Perawat dengan tipe ini merasakan bahwa pekerjaan mereka bukan hal yang menyenangkan, melainkan sebagai sebuah tuntutan yang harus dikerjakan dengan alasan seperti membantu ekonomi keluarga, sehingga individu tidak menikmati pekerjannya. Perawat juga merasakan adanya tuntutan yang tinggi dari segi jadwal bekerja baik dengan sistem shift maupun non-shift sehingga sulit untuk mengatur waktu dan terganggunya waktu untuk beristirahat. Hal tersebut juga menyebabkan perawat wanita kelelahan sesampainya di rumah, sehingga terkadang menunda untuk melaksanakan pekerjaan rumah. Selain itu, pengendalian emosi perawat juga menjadi hal yang penting, mengingat bahwa mereka tidak dapat menyalurkan emosinya secara tidak hati-hati, karena perawat dituntut untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada pasien. Hal tersebut terkadang membuat perawat wanita menjadi stress dan melampiaskan emosi negatifnya ke dalam keluarga, sebagai contoh mudah marah dan mood yang berubah-ubah.

(25)

16

terlibat dalam beberapa peran diluar peran sebagai istri dan ibu rumah tangga, serta perawat. Mereka senang melakukan berbagai aktivitas dan merasa jenuh saat tidak ada aktivitas yang dapat dikerjakan. Beberapa peran lain diantaranya seperti mengikuti suatu kegiatan/organisasi, sebagai perwakilan untuk menghadiri suatu acara tertentu, menjadi ibu RT dan lain-lain. Perawat dengan tipe active balance menyadari adanya overlap yang menimbulkan adanya konflik dari peran-peran yang diambil, seperti

kesulitan mengatur waktu, tugas dan tanggung jawab dari berbagai peran yang berbeda dan sebagainya. Namun, perawat juga merasakan adanya manfaat yang diambil seperti mendapatkan pengalaman, memenuhi kebutuhan, mengisi waktu luang dan lain-lain.

Tipologi yang ke-4 adalah passive balance yang mengacu pada proposisi rendahnya pengalaman enhancement dan konflik terkait pada sedikitnya peran yang diambil dalam kehidupannya. Kebalikan dengan tipe active balance, perawat dengan tipe ini justru lebih memilih untuk membatasi diri dan tidak menyukai berbagai aktivitas terkait peran diluar domain pekerjaan dan keluarga. Individu dengan tipe passive balance lebih mengutamakan perannya di pekerjaan yaitu untuk melayani dan merawat

(26)

17

Bagan 1.1 Kerangka Pemikiran Peran Ganda :

Perawat Wanita

di Rumah Sakit “X” Bandung

yang sudah

menikah

Conflict

Enhancement

Work – Life

Balance

Beneficial Balancce

Harmful Balance

Active Balance

(27)

18

1.6 Asumsi Penelitian

Asumsi yang mendasari penelitian ini adalah:

1. Perawat wanita yang sudah menikah memiliki beberapa peran yang harus dijalani, baik dalam pekerjaan maupun keluarga.

2. Tuntutan-tuntutan dari peran yang dijalani oleh perawat wanita baik dalam pekerjaan dan keluarga dapat dihayati sebagai konflik.

3. Manfaat-manfaat dari peran yang dijalani oleh perawat wanita baik dalam pekerjaan maupun keluarga dapat dihayati sebagai pengalaman enhancement.

(28)

59 BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Berdasarkan pengolahan dan pembahasan, maka peneliti memeroleh kesimpulan bahwa tipe work-life balance yang paling dominan pada perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang sudah menikah adalah tipe beneficial work-life balance.

5.2 Saran

5.2.1 Saran Teoritis

1. Peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya untuk melakukan penelitian dengan melibatkan data penunjang yang lebih mendalam agar dapat melihat keterkaitannya dengan tipe work-life balance sehingga dapat menjadi bahan acuan dalam menentukan faktor-faktor yang memengaruhi penggolongan tipe. 2. Peneliti menyarankan pada peneliti selanjutnya untuk menggali lebih dalam

terkait pengalaman enhancement dan konflik yang dimiliki responden, sehingga hasil penelitian dapat lebih tergambar.

(29)

60

5.2.2 Saran Praktis

1. Sehubungan dengan dominansi tipe beneficial work-life balance pada perawat wanita yang sudah menikah, maka Rumah Sakit “X” Bandung disarankan untuk dapat memertahankan lingkungan kerja.

(30)

STUDI DESKRIPTIF MENGENAI TIPE WORK-LIFE BALANCE PADA PERAWAT

WANITA DI RUMAH SAKIT “X” BANDUNG YANG SUDAH MENIKAH

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk memenuhi persyaratan akademik dalam mencapai gelar Strata satu pada Fakultas Psikologi di Universitas Kristen Maranatha

Disusun Oleh : Claudy Purnama

1230118

FAKULTAS PSIKOLOGI

UNIVERSITAS KRISTEN MARANATHA

BANDUNG

(31)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis sampaikan kepada Tuhan Yesus Kristus karena atas berkat dan kasih karunia-Nya, peneliti dapat menyelesaikan skripsi pada tahun ajaran 2016. Adapun judul dari skripsi ini adalah “Studi Deskriptif mengenai Tipe Work-Life Balance pada Perawat Wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang Sudah Menikah”.

Penelitian ini disusun dalam rangka memenuhi persyaratan menempuh sidang sarjana di Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha di kota Bandung. Dalam melakukan penelitian ini, peneliti menerima banyak bantuan, bimbingan serta motivasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini perkenankan peneliti menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Oej Irene Prameswari Edwina, M.Si., Psikolog selaku Dekan Fakultas Psikologi Universitas Kristen Maranatha.

2. Dra. Fifie Nurofia, psikolog, MM. selaku dosen pembimbing utama yang telah bersedia meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan saran dalam menyelesaikan penelitian ini.

3. Ni Luh Ayu Vivekanda, M.Psi., Psikolog selaku dosen pembimbing pendamping yang telah menyediakan waktu, tenaga, pikiran serta memberikan motivasi bagi peneliti selama penyusunan usulan penelitian ini.

4. Junandi Surjautama, dr, SH.MM. selaku direktur di Rumah Sakit “X” Bandung, yang telah memberikan izin kepada peneliti untuk melakukan penelitian.

5. Hj. Bida Sri Nur Aini, AMK. selaku kepala sub-bidang diklat keperawatan di Rumah Sakit “X”, yang telah meluangkan waktu untuk membantu peneliti dalam memberikan

(32)

6. Yuli Hartini, AMD selaku bagian kesekretariatan di Rumah Sakit “X” yang telah meluangkan waktu untuk membantu peneliti dalam memberikan informasi mengenai perawat.

7. Para perawat wanita di Rumah Sakit “X” Bandung yang telah membantu peneliti untuk melakukan survei awal dan memberikan informasi terkait dengan penelitian ini.

8. Yanto Purnama dan Mimi Sriwahyu selaku kedua orang tua peneliti yang telah memberikan segala dukungan, motivasi, dan doanya, serta memberikan fasilitas kepada peneliti agar dapat menyelesaikan penelitian ini.

9. Marsha Grasiani, Dien Savitri, Cynthia, serta Yusni Mutmainna selaku teman seperjuangan yang senantiasa mendukung dan selalu menjadi teman diskusi selama penyusunan skripsi ini.

10. Willsons Wijaya, Marsha Grasiani, Darina Qoidanti Hasna dan Agustina Emelia selaku sahabat-sahabat peneliti yang senantiasa mendukung dan selalu menjadi teman diskusi selama penyusunan skripsi ini.

(33)

Semoga penelitian ini dapat dipahami bagi siapapun yang membacanya. Sekiranya penulisan penelitian yang telah disusun dapat berguna baik bagi penulis sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya penulis memohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan atau menyinggung.

Bandung, Januari 2017

(34)

61

DAFTAR PUSTAKA

Aryee, S., Srinivas ES, & Tan HH.(2005). Rhythms of life : antecedents and outcomes of work-family balance in employed parents. Journal of Applied Psychology, 90, 132-146.

Bakker, Arnold B., Xanthopoulou, Despoina., Schaufeli, Wilmar B., Demerouti, Evangelia. (2007). The Role of Personal Resources in The Hob Demands-Resources Model. International Journal of Stress Management, 2, 121-141.

Bakker, A.B., & Geurts SAE.(2004). Toward a dual-process model of work-home interference. Work Occupation, 31, 345-366.

Barnett, R.C., & Baruch, G.K.(1985). Women’s involvement in multiple roles and psychological distress. Journal of Personality, Social Psychology,49, 135-145.

Carlson, D.S., Kacmar, K.M., Wayne, J.H., & Grzywacz, J.G.(2006). Measuring the positive side of the work-family interface : Development and validation of a work-family enrichment scale.Journal of Vocational Behavior, 68, 131-164.

Carlson, Dawn S., Kacmar, K. Michele., Williams, Larry J. (2000). Construction and Initial Validation of a Multidimensional Measure of Work-Family Conflict. Journal of Vocational Behavior, 56, 240-276.

Clark, S.C.(2000). Work/family border theory : A new theory of work/family balance.Human Relations, 53(6), 747-770.

Clawson, James G. S., 2010. Balancing Your Life: Executive Lesson for Work, Family and Self. Singapore: World Scientific

Friedenberg, Lisa, 1995. Psychological Testing: Design, Analysis and Use. Boston: Allyn & Bacon.

Frone, M.R., Russell, M., & Cooper, M.L.(1922a). Prevalence of work-family conflict : Are work and family boundaries asymmetrically permeable?. Journal of Organizational Behavior, 13, 723-729.

Frone, M.R., Russell, M., & Cooper, M.L.(1922b). Antecedents and outcomes of work-family conflict : Testing a model of the work-family interface. Journal of Applied Psychology, 77(1), 65-78.

Frone, M.R.(2003).Work-family balance. In Quick J.C., Tetrick L.R (Eds) Handbook of occupational health psychology. American Psychology Association, Washington, DC, pp 143-162.

(35)

62

Greenhaus, Jeffrey H., Collins, Karen M., Shaw, Jason D. (2003). The Relation Between Work-Family Balance and Quality of Life. Journal of Vocational Behavior, 63, 510-529.

Greenhaus, J.H., & Powell, G.N.(2006). When work and family are allies : A theory of work-family enrichment. Academy of Management Review, 31(1), 72-92.

Grzywacz, J.G, & Bass, B.L.(2003). Work, Family, and Mental Health : testing different models of work-family fit. Journal of Marriage Family, 65, 248-262.

Grzywacz, J.G, & Carlson, D.S.(2007). Conceptualizing work-family balance : implications for practice and research. Adv Dev Hum Resour, 9, 455-471.

Grzywacz, J.G, & Marks, N.F.(2000). Reconceptualizing the work-family interface : An ecological perspective on the correlates of positive and negative spillover between work and family. Journal of Occupational Health Psychology, 5, 111-126.

Gunarsa, Singgih D & Gunarsa, Yulia Singgih D. (2012). Psikologi Perawatan. Jakarta: Imprint Libri

Jones, F., Burke, R.J., & Westman, M.(2006). Work-life balance : A psychological perspective. Psychology Press, New York, NY.

Kirchmeyer, C.(1992). Perceptions of nonwork-to-work spillover : challenging the common view of conflict-ridden domain relationships. Basic Appl Soc Psychol, 13, 231-249.

Kumar, R. (2009). Research methodology: a step-by-step guide for beginners. London: Sage Publication.

Marks, S.R., & MacDermid, S.M.(1996). Multiple roles and the self : a theory of role balance. Journal of Marriage Family, 58, 417-432.

Nazir, M. 1983. Metode Penelitian. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Rantanen, J.(2008). Work-family interface and psychological well-being : a personality and longitudinal perspective. Jyvӓskylӓ Studies in Education, Psychology, and Social

Research 346. University of Jyvӓskylӓ, Jyvӓskylӓ.

Schaufeli, W & Salanova, M. (2007). Work engagement: an emerging psychological concept and its implication for organization. Managing social and ethical issues in organization, 135-177.

Shortridge, Lillie M. & Lee, E. Juanita. (1980). Introduction to Nursing Practice. New York: McGraw-Hill, Inc.

Sieber, S.D.(1974). Toward a theory of role accumulation. Am Sociol Rev, 39, 567-578. Stoddard, Misti & Madsen, Susan R. (2007). Toward Understanding of The Link between

(36)

63

Sudjana.(1995).Metode Statistika Edisi Keenam. Bandung: Tarsito.

Sugiyono.(2010). Metode Penelitian pendidikan: Pendekatan kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.Bandung: Alfabeta.

Trambley, Dians-Gabrielle. (2004). Work-Family Balance: What are The Sources of Difficulties and What Could Be Done. Canada: Télé-université

Tiedje, L.B., Wortman, C.B., Downey, G., Emmons, C., Biernat, M., Lang, E. (1990). Women with multiple roles : role compatibility perceptions, satisfaction, and mental health. Journal of Marriage Family, 52, 63-72.

Voydanoff, P.(2005). Toward a conceptualization of perceived work-family fit and balance : a demands and resources approach. Journal of Marriage Family, 67, 822-836.

(37)

64

DAFTAR RUJUKAN

Alia, Mufida. 2008. Hubungan Work-Family Conflict dengan Psychological Well-Being pada Ibu yang Bekerja. (Online). (http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/125692-303.6%20MUF%20h%20-%20Hubungan%20Work%20-%20Pendahuluan.pdf. Diakses 7 Mei 2016).

Ferry, Rahman. 2010. Strategi Coping Perawat Rumah Sakit Jiwa Daerah Surakarta. (Skripsi Online). Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. (http://eprints.ums.ac.id/9995/1/F100030094.pdf. Diakses 16 Mei 2015).

Risa, Kurnianingtyas. 2009. Penerimaan Diri pada Wanita Bekerja Usia Dewasa Dini Ditinjau Dari Status Pernikahan. (Skripsi Online). Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta. (http://etd.eprints.ums.ac.id/6682/1/F100050264.pdf. Diakses 7 Mei 2016).

Sartika, Zumria. 2012. (Online).

(http://a-research.upi.edu/operator/upload/s_psi_0704463_chapter1.pdf, diakses 5 Mei 2016). Tiana, Silvani. 2013. Perencanaan Karir pada Mahasiswa Menikah. (Online).

(http://repository.upi.edu/4586/4/S_PSI_0800206_Chapter1.pdf, diakses 5 Mei 2016). Trya, Adhelia. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Memengaruhi Pendapatan Tenaga Kerja

Wanita di Sektor Informal di Kota Makassar. (Skripsi Online). Fakultas Ekonomi

Universitas Hasanuddin: Makassar.

Referensi

Dokumen terkait

Dalam hal ini, dapat dikatakan bahwa pegawai tersebut memiliki tipe active work-life balance, dimana tipe ini menitikberatkan pada penggunaan peran atau

Profil SWB dengan kepuasan hidup yang rendah dan afek negatif  SWB pada warga binaan yang sudah menikah di Lembaga Pemasyarakatan. Wanita Kelas IIA Bandung beberapa faktor

Para perawat rawat inap wanita yang sudah berkeluarga yang mengalami behavior based WIF tidak dapat memenuhi tuntutan pola perilaku pada peran sebagai ibu rumah tangga

Hipotesis yang diajukan adalah ada perbedaan tingkat kecemasan menghadapi pasien antara perawat pria dan wanita menikah di rumah sakit jiwa, dengan asumsi kecemasan perawat

Penelitian ini berjudul “Studi Deskriptif Mengenai Resilience at Work pada Perawat Inap di Rumah Sakit “X” Bandung” Tujuannya adalah memperoleh gambaran mengenai derajat

Dari hasil wawancara kepada 10 orang perawat rawat inap wanita di RS “X” kota Bandung, menunjukkan sebanyak 10 orang (100%) merasakan bahwa mereka tidak dapat melihat

Bagi perawat khususnya perawat wanita yang sudah menikah agar dapat mengelola dan membagi waktu yang baik dalam pekerjaan dan keluarga sehingga perawat

Hasil penelitian ini menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara konflik peran ganda dengan kepuasan kerja perawat wanita yang sudah menikah dan memiliki anak