POTRET
SINERGI FILANTROPI ISLAM
DI RUMAH SAKIT
UU No 28 tahun 2014 tentang Hak Cipta Fungsi dan sifat hak cipta Pasal 4
Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 huruf a merupakan hak eksklusif yang terdiri atas hak moral dan hak ekonomi.
Pembatasan Pelindungan Pasal 26
Ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23, Pasal 24, dan Pasal 25 tidak berlaku terhadap:
i. Penggunaan kutipan singkat Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait untuk pelaporan peristiwa aktual yang ditujukan hanya untuk keperluan penyediaan informasi aktual;
ii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk kepentingan penelitian ilmu pengetahuan;
iii. Penggandaan Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait hanya untuk keperluan pengajaran, kecuali pertunjukan dan Fonogram yang telah dilakukan Pengumuman sebagai bahan ajar; dan
iv. Penggunaan untuk kepentingan pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan yang memungkinkan suatu Ciptaan dan/atau produk Hak Terkait dapat digunakan tanpa izin Pelaku Pertunjukan, Produser Fonogram, atau Lembaga Penyiaran.
Sanksi Pelanggaran Pasal 113
1. Setiap Orang yang dengan tanpa hak melakukan pelanggaran hak ekonomi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf i untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp100.000.000 (seratus juta rupiah).
2. Setiap Orang yang dengan tanpa hak dan/atau tanpa izin Pencipta atau pemegang Hak Cipta melakukan pelanggaran hak ekonomi Pencipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) huruf c, huruf d, huruf f, dan/atau huruf h untuk Penggunaan Secara Komersial dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).
POTRET
SINERGI FILANTROPI ISLAM DI RUMAH SAKIT
Dr. Luhur Prasetiyo, M.E.I.
Unun Roudlotul Jannah, M.Ag.
Nurma Fitrianna, M.S.M.
KATA PENGANTAR PENERBIT
Assalamualaikum, w.r. w.b.
Segala puji kami haturkan ke hadirat Allah Swt., Tuhan Yang Maha Esa, atas limpahan rahmat dan karunia-Nya. Tak lupa, lantunan selawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada Nabi Besar Muhammad saw.
Dalam rangka mencerdaskan dan memuliakan umat manusia dengan penyediaan serta pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menciptakan industri processing berbasis sumber daya alam (SDA) Indonesia, Penerbit Deepublish dengan bangga menerbitkan buku dengan judul Potret Sinergi Filantropi Islam di Rumah Sakit.
Terima kasih dan penghargaan terbesar kami sampaikan kepada penulis yang telah memberikan kepercayaan, perhatian, dan kontribusi penuh demi kesempurnaan buku ini. Semoga buku ini bermanfaat bagi semua pembaca, mampu berkontribusi dalam mencerdaskan dan memuliakan umat manusia, serta mengoptimalkan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi di tanah air.
Wassalamualaikum, w.r. w.b.
Hormat Kami,
Penerbit Deepublish
KATA PENGANTAR
Problem ketidakadilan dan kemiskinan menjadi problem krusial bagi semua negara, terutama negara-negara miskin dan berkembang.
Ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan dihadapi oleh semua negara.
Dalam upaya menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial, salah satu instrumen yang bisa digunakan dalam Islam adalah melalui ZISWAF.
Secara fungsional, esensi ZIS dan wakaf memiliki kesamaan, meskipun keduanya berbeda dari sisi regulasi dan mekanisme pelaksanaan. Bahkan kalau dikelola secara sinergis, ZIS dan wakaf akan saling melengkapi dalam upaya mewujudkan pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial.
Buku ini merupakan buku hasil penelaahan mendalam yang menjelaskan tentang tata kelola ZIS dan wakaf di Rumah Sakit Islam di Ponorogo.
Optimalisasi tata kelola menjadi penting agar potensi ZIS dan wakaf yang cukup besar bisa dimaksimalkan. Sebagai upaya tersebut, buku ini menawarkan Potret Sinergi Filantropi Islam di Rumah Sakit sebagai rangkaian fokusnya. Kritik dan saran sangat diharapkan demi perbaikan dan penyempurnaan hasil kajian dalam buku ini.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR PENERBIT ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... vii
DAFTAR GAMBAR ... ix
DAFTAR TABEL ... x
BAB I PROLOG ... 1
BAB II FILANTROPI ISLAM ... 8
A. Filantropi Islam ... 8
B. Manajemen ZISWAF ... 11
1. Zakat ... 11
2. Infaq ... 22
3. Shadaqah ... 23
4. Fundraising ZIS ... 25
5. Pendayagunaan ZIS ... 27
C. Manajemen Wakaf ... 29
1. Wakaf ... 29
2. Fundraising Wakaf... 40
3. Pendayagunaan Wakaf ... 45
4. Wakaf Uang Menurut Ulama‘ Fikih ... 46
D. Integrasi Pendayagunaan ZISWAF ... 49
BAB III TATA KELOLA ZISWAF DI RUMAH SAKIT
ISLAM PONOROGO ... 53
A. ZISWAF di Rumah Sakit Umum Aisiyah Ponorogo ... 53
1. Sejarah Singkat Berdirinya RSU ‗Aisyiyah ... 53
2. Pendayagunaan Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf... 55
3. Optimalisasi ZISWAF... 59
B. ZISWAF di Rumah Sakit Umum Muhammadiyah Ponorogo ... 61
1. Sejarah Berdirinya RSU Muhammadiyah ... 61
2. Pendayagunaan Zakat, Infaq, Shadaqah dan Wakaf... 63
3. Optimalisasi ZISWAF... 67
C. Rumah Sakit Umum Muslimat Ponorogo ... 68
1. Sejarah Berdirinya RSU Muslimat ... 68
2. Pendayagunaan Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf... 69
3. Optimalisasi ZISWAF... 74
BAB IV SINERGI ZIS DAN WAKAF DI RUMAH SAKIT ISLAM PONOROGO ... 76
A. Tata Kelola ZISWAF di Rumah Sakit Islam Ponorogo ... 76
B. Optimalisasi Pendayagunaan ZISWAF di Rumah Sakit Islam Ponorogo ... 86
C. Islamic Integrated Philanthropy untuk Optimalisasi Peran ZIS dan Wakaf di Rumah Sakit bagi Masyarakat... 91
BAB V PENUTUP ... 99
DAFTAR PUSTAKA ... 101
TENTANG PENULIS ... 107
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.1. Pengelolaan Zakat BAZNAS Kabupaten Ponorogo
2021 ... 4 Gambar 4.1. Model Lembaga Filantropi Islam di Rumah Sakit
Islam Ponorogo... 84 Gambar 4.2. Islamic Integrated Philanthropy Model di Rumah
Sakit ... 98
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1. Penyaluran Dana ZIS Pada 2017-2021 ... 3
Tabel 2.1. Perbandingan Empat Mazhab Tentang Wakaf ... 33
Tabel 4.1. Persentase Distribusi Bidang Kesehatan... 86
Tabel 4.2. Data Variabel Input dan Output... 87
Tabel 4.3. Tingkat Efisiensi RSU Ponorogo ... 87
Tabel 4.4. Perbandingan Instrumen Filantropi Islam... 95
PROLOG
Problem ketidakadilan dan kemiskinan menjadi problem krusial bagi semua negara, terutama negara-negara miskin dan berkembang.
Ketimpangan pendapatan dan kesejahteraan dihadapi oleh semua negara.
Dalam upaya menciptakan keadilan dan kesejahteraan sosial, salah satu instrumen yang bisa digunakan dalam Islam adalah melalui ZISWAF.
Secara fungsional, esensi ZIS dan wakaf memiliki kesamaan, meskipun keduanya berbeda dari sisi regulasi dan mekanisme pelaksanaan. Bahkan kalau dikelola secara sinergis, ZIS dan wakaf akan saling melengkapi dalam upaya mewujudkan pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial.
Dalam Islam, instrumen filantropi Islam terwujud dalam zakat, infaq, shadaqah (ZIS) dan wakaf. Instrumen tersebut sangat vital dan berperan penting dalam pengembangan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Secara esensi, ZISWAF memiliki dua dimensi bagi umat Islam, yaitu dimensi agama dan dimensi sosial-ekonomi.1 Dimensi pertama memiliki makna bahwa ZISWAF sebagai perintah Allah kepada umat Islam dan sebagai bentuk ketaatan seorang hamba kepada Tuhannya.
Dimensi kedua berarti bahwa ZISWAF merupakan bentuk perhatian dan sensitivitas sosial-ekonomi umat Islam kepada sesamanya.
Sebagai sebuah instrumen kesejahteraan, ZIS dan wakaf sebenarnya memiliki potensi yang sangat besar. Dalam Rakornas Zakat 2021 di Jakarta, Wakil Presiden Republik Indonesia menyampaikan bahwa potensi zakat di Indonesia sebesar 327,6 triliun. Potensi zakat yang besar itu berasal dari sejumlah jenis zakat. Di antaranya zakat perusahaan Rp.144,5
1 Abdul Karim, ―Dimensi Sosial dan Spiritual Ibadah Zakat,‖ ZISWAF : Jurnal Zakat dan Wakaf 2, no. 1 (2015): 1–20.
BAB I
triliun serta zakat penghasilan dan jasa Rp.139,07 triliun. Meskipun potensi zakat di Indonesia sangat besar, namun ternyata realisasi penghimpunan dana zakat hanya mencapai 71,4 triliun.2 Artinya realisasi zakat tersebut hanya tercapai sekitar 21,8% saja dari potensi yang ada.
Tentu ini menjadi PR bagi semua pihak untuk mengoptimalkan realisasi zakat tersebut.
Tidak jauh berbeda dengan potensi zakat, pemerintah menilai potensi wakaf di Indonesia juga cukup besar. Tercatat potensi wakaf secara nasional senilai Rp.217 triliun atau setara 3,4 persen dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan potensi tersebut berasal dari 74 juta penduduk kelas menengah saja dalam bentuk cash waqf.3 Artinya potensi keseluruhan lebih besar dari angka yang disebutkan oleh Menteri Keuangan tersebut.
Dengan potensi kedua instrumen filantropi Islam yang besar tersebut, sebenarnya ZIS dan wakaf bisa sangat mendukung realisasi pemerataan kesejahteraan dan keadilan ekonomi umat. Meskipun ZIS dan wakaf memiliki karakteristik distribusi yang berbeda, namun hal itu akan lebih memberikan nilai positif jika keduanya saling bersinergi. ZIS dan wakaf akan bisa saling melengkapi dalam mewujudkan kesejahteraan umat.
Harta wakaf berbeda dengan harta zakat. Harta wakaf harus ditahan dan bersifat abadi. Wakaf biasanya diperuntukkan untuk sarana/prasarana yang mendukung kegiatan keislaman ataupun fasilitas umum. Wakaf bisa digunakan dalam bentuk rumah ibadah, sekolah, rumah sakit, dan fasilitas- fasilitas umum yang dibutuhkan oleh masyarakat lainnya. Dewasa ini, harta wakaf tidak lagi hanya berupa aset tetap saja, tetapi harta aset berkembang dalam bentuk wakaf tunai sebagai dana abadi yang pengelolaannya lebih fleksibel. Beberapa negara, seperti Turki dan Bangladesh, telah mengembangkan wakaf tunai sebagai instrumen dalam usaha pengentasan kemiskinan.4
Berbeda dengan wakaf yang lebih banyak digunakan pada fasilitas yang bersifat fisik, harta zakat dialokasikan untuk kepentingan mustahiq
2 Ilham Safutra, ―Potensi Dana Zakat Rp 327,6 T, Realisasi Baru Rp 71,4 T,‖ Jawa Pos, 2021.
3 Intan Novita dan Zuraya Nidia, ―Sri Mulyani: Potensi Wakaf di Indonesia Rp 217 Triliun,‖ Republika, t.t.
4 Rozalinda, Manajemen Wakaf Produktif (Jakarta: Rajawali Pers, 2015), 385–86.
atau penerima zakat. Harta zakat lebih banyak digunakan untuk bantuan pengentasan kemiskinan, pengembangan SDM dan juga bantuan modal bagi pengusaha kecil.5 Untuk merealisasikan kesejahteraan umat, salah satu fasilitas umum yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat ekonomi lemah dan sering tidak terjangkau dari sisi biaya adalah rumah sakit.6 Distribusi dana ZIS dan wakaf sangat dibutuhkan oleh masyarakat tidak mampu yang membutuhkan layanan kesehatan. Dana filantropi tersebut paling tidak diharapkan bisa meringankan beban masyarakat bawah untuk mendapatkan akses kesehatan. Meskipun dana kesehatan sangat vital bagi masyarakat, dari data BAZNAS, penyaluran dana ZIS untuk bidang kesehatan ternyata paling sedikit dibandingkan bidang lainnya pada tahun 2017-2020. Baru pada tahun 2021, penyaluran dana ZIS pada bidang kesehatan menempati posisi ketiga dari total porsi penyaluran dana ZIS.
Hal ini tidak terlepas dari adanya Pandemi Covid-19 yang menjadi kasus internasional. Berikut tabel penyaluran dana ZIS mulai tahun 2017-2021:
Tabel 1.1. Penyaluran Dana ZIS Pada 2017-2021
Sumber: Laporan BAZNAS (2018-2022)
5 Mustafa Edwin Nasution, ―Zakat Dan Wakaf Sebagai Pilar dalam Sistem Perekonomian Nasional,‖ Iqtishoduna 1, no. 3 (2006): 5.
6 Tri Rini Puji Lestari, ―Pelayanan Rumah Sakit Bagi Masyarakat Miskin (Studi Kasus Di Enam Wilayah Indonesia),‖ Kesmas Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional 5, no. 1 (2010): 9–16; Amir Sodikin, ―Belajar Dari Kasus Balita Rafadan, Orang Miskin Dilarang Sakit?,‖ Kompas, 2020, https://regional.kompas.com/read/2020/07/06/
23300061/belajar-dari-kasus-balita-rafadan-orang-miskin-dilarang-sakit?page=all.
20% 10% 14% 10% 5%
22% 26% 17% 12% 7%
23% 23% 24% 14% 24%26% 32% 35% 55% 50%
10% 8% 10% 9% 14%
2017 2018 2019 2020 2021
Ekonomi Pendidikan Dakwah Sosial Kemanusiaan Kesehatan
Minimnya distribusi dana ZIS dalam bidang kesehatan juga terjadi di Kota Ponorogo. Ponorogo merupakan kota kecil di Jawa Timur. Dengan tingkat perekonomian penduduknya yang bervariasi, rumah sakit di Ponorogo juga sangat dibutuhkan oleh masyarakat Ponorogo, tidak terkecuali masyarakat ekonomi lemah. Dari hasil wawancara dengan Azhar Hudaya, pengelola BAZNAS Ponorogo, perhatian terhadap bidang kesehatan dalam pendistribusian dana ZIS sebenarnya sudah dilakukan.
Namun, persentase besaran dana untuk didistribusikan pada bidang kesehatan memang lebih kecil dari pada bidang lainnya, seperti bidang sosial-kemanusiaan, pendidikan, ekonomi, dan dakwah.7
Gambar 1.1. Pengelolaan Zakat BAZNAS Kabupaten Ponorogo 2021 Sebagai lokus kajian dalam penelitian ini, dari beberapa rumah sakit yang ada di Ponorogo, peneliti menentukan tiga rumah sakit yang menjadi representasi organisasi masyarakat Islam. Ketiga rumah sakit tersebut adalah Rumah Sakit Muslimat, Rumah Sakit ‗Aisyiyah, dan Rumah Sakit Muhammadiyah. Rumah Sakit Muslimat berafiliasi ke organisasi Nahdlatul Ulama, sementara Rumah Sakit ‗Aisyiyah dan Rumah Sakit Muhammadiyah berafiliasi ke organisasi Muhammadiyah. Ketiga rumah
7 Azhar Hudaya, Wawancara, 24 Februari 2022.
49.70
1.07 5.67 15.34
28.22
0.00 10.00 20.00 30.00 40.00 50.00 60.00
Ponorogo Peduli
Ponorogo Makmur
Ponorogo Taqwa
Ponorogo Sehat
Ponorogo Cerdas Persentase Penyaluran Zakat Berdasarkan Bidang
BAZNAS Ponorogo
sakit tersebut juga memiliki harta ZIS dan wakaf untuk mendukung kesejahteraan umat.
Rumah Sakit Muslimat memiliki sejarah pendirian yang panjang.
Dimulai dalam bentuk BKIA Muslimat yang berdiri pada tanggal 3 Agustus 1963, Rumah Sakit Muslimat resmi beroperasi sebagai Rumah Sakit Umum pada tangal 12 Mei 2008 dan saat ini berstatus Terakreditasi Tingkat Paripurna Nomor. KARS-SERT/870/2017. Sebagai rumah sakit yang berafiliasi ke ormas NU, aset tanah Rumah Sakit Muslimat seluas 6.600 m2 merupakan tanah wakaf.8 Di samping itu, dari dana ZIS yang dikelola oleh LAZISNU Ponorogo, beberapa pasien yang tidak mampu juga mendapatkan bantuan keringanan biaya. Dana ZIS yang disalurkan tersebut sebagian berasal dari zakat perusahaan Rumah Sakit Muslimat yang dikelola oleh LAZISNU Ponorogo. Sementara, untuk zakat karyawan rumah sakit, Rumah Sakit Muslimat belum menerapkan pemotongan secara langsung terhadap gaji karyawan yang sudah mencapai nisab zakat.9
Sementara, Rumah Sakit ‗Aisyiyah dirintis sejak tahun 1975 dalam bentuk Rumah Bersalin ‗Aisyiyah. Rumah Sakit ‗Aisyiyah resmi beroperasi sebagai rumah sakit umum pada 20 September 1994 dan saat ini telah Terakreditasi Tingkat Paripurna SNARS Edisi 1 Tahun 2018. Rumah sakit ini memiliki aset tanah seluas 6201 m2 dalam status wakaf.10 Rumah sakit ini juga menerima dana ZIS untuk meringankan biaya pasien-pasien yang tidak mampu. Hampir sama dengan Rumah Sakit Muslimat, Rumah Sakit ‗Aisyiyah Ponorogo juga menyalurkan zakat perusahaan kepada LAZISMU Ponorogo. Hanya saja yang agak berbeda, Rumah Sakit
‗Aisyiyah telah menerapkan pembayaran zakat bagi yang sudah mencapai nisab dengan memotong 2,5% secara langsung dari gaji karyawan.11
Filantropi Islam masih menjadi kajian yang menarik secara akademis. Sudah banyak penelitian tentang filantropi Islam dengan tema kajian tentang ZIS dengan berbagai pendekatan.12 Demikian juga, sudah
8 ―Company Profile Rumah Sakit Umum Muslimat Ponorogo,‖ t.t.
9 Darmanto, ―Wawancara,‖ 2020.
10 ―Company Profile Rumah Sakit Umum Aisyiyah Ponorogo,‖ t.t.
11 Dalhar, ―Wawancara,‖ 2020.
12 Beberapa penelitian tentang ZIS di antaranya adalah Didin Hafiduddin, ―Peran Strategis Organisasi Zakat Dalam Menguatkan Zakat Di Dunia,‖ Jurnal Ekonomi Islam Al-Infaq 2, no. 1 (2011): 1–4; Rachman M. Aulia dan Salam Annisa Nur, ―The Reinforcement of
banyak penelitian tentang wakaf dengan beberapa pendekatan yang berbeda.13 Namun kajian tersebut lebih banyak memosisikan ZIS dan wakaf secara terpisah dan belum dalam bentuk sinergi dan integrasi antara keduanya. Secara umum, fokus kajian para peneliti terkait tentang ZIS di antaranya pada aspek objek zakat, manajemen fundraising, manajemen pendayagunaan, serta tata kelola organisasi ZIS. Sementara, pendekatan dalam penelitian yang digunakan adalah pendekatan normatif, sosiologis dan ekonomi. Hampir sama dengan kajian ZIS, kajian tentang wakaf juga mengambil aspek yang serupa dengan ZIS tersebut. Sementara, dari sisi pendekatan, Amelia dkk. telah memetakan kajian tentang wakaf berdasarkan pendekatannya menjadi tiga, yaitu pendekatan hukum, sosiologis dan ekonomi.14
Berdasarkan beberapa kajian yang sudah ada, integrasi zakat dan wakaf sudah mulai dilakukan oleh beberapa peneliti. Bahkan, sudah ada
Zakat Management through Financial Technology Systems,‖ International Journal of Zakat 03, no. 01 (2018), doi:https://doi.org/10.37706/ijaz.v3i1.68; M. Makhrus,
―Pengelolaan Zakat Produktif dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan di Indonesia,‖
Jurnal Hukum Ekonomi Syariah 2, no. 1 (2019): 37, doi:10.30595/jhes.v2i1.4458;
Elleriz Aisha Khasandy dan Rudy Badrudin, ―The Influence of Zakat on Economic Growth and Welfare Society in Indonesia,‖ Integrated Journal of Business and Economics 3, no. 1 (2019): 65, doi:10.33019/ijbe.v3i1.89; Eko Suprayitno, ―The Impact of Zakat on Economic Growth in 5 State in Indonesia,‖ International Journal of Islamic Banking and Finance Research 4, no. 1 (2020): 1–7, doi:10.46281/ijibfr.v4i1.470;
Hambari, Arif Ali Arif, dan Muntaha Artalim Zaim, ―The Role of Zakat Institution in Facing Covid-19: A Case Study of the Federal Territory Islamic Council (MAIWP) of Malaysia,‖ 4th International Conference of Zakat Proceedings (ICONZ), no. January (2020): 119–26.
13 Beberapa penelitian tentang wakaf di antaranya adalah Doddy Afandi Firdaus dkk.,
―Pemanfaatan Wakaf Tunai untuk Kebutuhan Hidup Keluarga Miskin di Dompet Dhuafa Bandung‖ (UIN Sunan Kalijaga, 2011); M. Nur Rianto Al-Arif,
―Pemberdayaan Masyarakat Berbasis Wakaf Uang,‖ Jurnal Asy-Syir‟ah 44, no. 02 (2010); Munir Zainal Arifin, ―Revitalisasi Manajemen Wakaf sebagai Penggerak Ekonomi Masyarakat,‖ Jurnal de jure Jurnal Syariah dan Hukum 05, no. 02 (2013);
Chowdhury Md. Shahedur Rahaman, Mohc Fahmi Ghazalil, dan Mohd Faisol Ibrahim,
―Economics of Cash Waqf Management in Malaysia: A Proposed Cash Waqf Model for Practitioners and Future Researchers,‖ African Journal of Business Management 05, no. 30 (2011); Thaker Mohammad Asmy Bin Mohd dan Dkk, ―Developing Cash Waqf Model As An Alternative Source of Financing for Micro Enterprises in Malaysia,‖
Journal of Islamic Accounting and Business Research 07, no. 04 (2016); Ridzwan Bakar dkk., ―Corporate Waqf University : A Sustainability Model‖ 7, no. 1 (2019): 24–
36.
14 Amelia Fauzia dan Dkk, Fenomena Wakaf di Indonesia: Tantangan menuju Wakaf Produktif (Jakarta: Badan Wakaf Indonesia, 2016), 93.
beberapa peneliti yang mengembangkan model integrasi zakat dan wakaf, seperti Hassan, Indrawan, dan Sulistyowati.15 Namun, belum ada yang melakukan fokus kajian pada integrasi zakat dan wakaf di rumah sakit sebagai tempat yang sangat potensial dan dibutuhkan oleh banyak masyarakat kecil untuk pendayagunaan zakat dan wakaf. Penelitian Zaenal dkk.16 Memang terkait rumah sakit. Namun, kajian mereka lebih fokus mengkaji dampak dan kualitas layanan rumah sakit yang didirikan oleh BAZNAS tersebut pada masyarakat. Sementara, penelitian ini fokus pada model sinergi dan integrasi zakat dan wakaf yang bisa diterapkan di rumah sakit, khususnya Rumah Sakit Muslimat, Rumah Sakit ‗Aisyiah, dan Rumah Sakit Muhammadiyah Ponorogo.
Berdasarkan latar belakang tersebut, menarik untuk didalami lebih lanjut bagaimana tata kelola ZIS dan wakaf dan bagaimana sinergi ZIS dan wakaf pada dua rumah sakit tersebut. Berdasarkan analisis tersebut, peneliti bisa mengembangkan model integrasi ZIS dan wakaf yang bisa diterapkan di rumah sakit.
15 Hassan M. Kabir, ―An Integrated Poverty Alleviation Model Combining Zakat, Awqaf And Micro-Finance,‖ in Seventh International Conference – The Tawhidi Epistemology: Zakat and Waqf Economy (University Kebangsaan Maysia Bangi, 2010);
Imam W Indrawan and Sebastian Herman, ―Integrated Zakat and Waqf Model for Refugees (IZWMR), Proposal to Improve Livelihood of Global Refugees,‖ 2018, https://www.academia.edu/download/57419213/Draft_Integrated_Zakat_and_Waqf_M odel_for_Refugees_IZWMR.pdf; Sulistyowati, ―Designing Integrated Zakat-Waqf Models for Disaster Management,‖ Journal of Islamic Monetary Economics and Finance 4, no. 2 (2018): 347–368.
16 Muhammad Hasbi Zaenal and Dkk, ―Integrating Zakat and Waqf Project: A Case Study of Free Hospital Development of the National Zakat Board (BAZNAS) Indonesia,‖ in Puskas Working Paper Series PWPS, 2017.
FILANTROPI ISLAM
A. Filantropi Islam
Filantropi sebagai sebuah kedermawanan, merupakan ajaran etika yang sangat fundamental dalam agama Islam dan memiliki legitimasi yang komprehensif dalam Al-Qur‘an dan hadis. Kata philanthropy diambil dari bahasa Latin ―philanthropia”, dari bahasa Yunani ―philanthropia, philanthropos”, yang artinya ―mengasihi sesama‖. Kata tersebut berasal dari kata ―philo” dengan arti mencintai (―to love”) dan ―anthropos”
dengan arti manusia (human kind). Dengan asal kata ini, philanthropy bisa bermakna sebagai ―ungkapan cinta kasih kepada sesama manusia‖. Kamus
―Merriem-Webster‖ mendefinisikan filantropi dengan: ―(1) kepedulian untuk sesama melalui berbagai upaya dalam rangka mewujudkan kesejahteraan. Filantropi juga bisa dimaknai dengan (2) aktivitas atau pemberian bagi kemanusiaan dan atau organisasi penyedia bantuan untuk kemanusiaan.‖17 Dari pengertian ini, filantropi memiliki tiga unsur yaitu tindakan memberi kepada sesama, tindakan melayani dan juga bersifat asosiasi18. Jika suatu lembaga memiliki tiga unsur tersebut, maka dapat dikatakan sebagai lembaga yang bergerak dalam mengelola dana filantropi.
Referensi lain menyebutkan bahwa definisi filantropi merupakan
―konseptualisasi dari praktik memberi (giving), pelayanan (service) dan asosiasi (association) secara sukarela untuk membantu pihak lain yang
17 http:/www.merriam-webster.com/dictionary/philanthropy, accesed 14 Aug 2019.
18 Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) asosiasi mengandung arti perkumpulan orang yang mempunyai kepentingan yang sama.
BAB II
membutuhkan sebagai ekspresi rasa cinta‖.19 Beberapa buku filantropi memberikan definisi filantropi sebagai ―voluntary action for the public good‖ atau tindakan sukarela untuk kepentingan publik. Dengan definisi ini terdapat dua unsur penting, yaitu tindakan sukarela dan kepentingan umum. Dikatakan sukarela karena tidak berangkat dari paksaan atau kewajiban. Sehingga pembayaran pajak tidak termasuk aktivitas filantropi karena menjadi kewajiban setiap warga. Sedangkan dari aspek kepentingan umum terlihat bahwa dalam filantropi adakalanya dengan adanya pengorbanan terhadap kepentingan individu.20
Sedangkan Amelia Fauzia mendefinisikan filantropi sebagai semua kegiatan pemberian sukarela yang berasal dari pribadi/individu dan masyarakat baik dalam bentuk benda atau pelayanan untuk kepentingan umum. Definisi ini merujuk pada Mike W. Martin dalam buku Virtuous Giving, yang menjabarkan empat unsur dalam filantropi, yaitu bersifat sukarela, individu/pribadi, adanya pemberian dan layanan, serta kepentingan umum.21
Dalam aktivitas filantropi tidak terlepas dari praktik memberi secara sukarela untuk membantu sesama. Filantropi merupakan ruh dalam ajaran Islam, karena Islam mengatur keseimbangan hubungan secara vertikal ataupun horizontal yang diekspresikan dalam keimanan dan amal saleh.
Keseimbangan ini bisa menjadi bentuk refleksi ajaran Islam sebagai agama bernuansa filantropis. Oleh karena itu filantropi Islam bisa diartikan sebagai aktivitas dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan kegiatan ―memberi‖ dan berbagi. Dan aktivitas memberi tidak bisa dilakukan tanpa adanya objek untuk bisa diserahkan, yang salah satunya bisa berwujud harta kekayaan. Dalam kaitan ini Al-Qur‘an menunjukkan beberapa instrumen formal untuk penyaluran dan pemerataan harta
19 Nur Kholis et al., ―POTRET FILANTROPI ISLAM DI PROPINSI DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA,‖ La_Riba 7, no. 1 (July 31, 2013): 64.
20 Arif Maftuhin, Filantropi Islam: Fikih Untuk Keadilan Sosial (Yogyakarta: Magnum Pustaka Utama, 2017), 2.
21 Amelia Fauzia, Filantropi Islam: Sejarah Dan Kontestasi Masyarakat Sipil Dan Negara Di Indonesia (Yogyakarta: Gading Publishing, 2016), 17.
kekayaan yang lazim disebut sebagai aktivitas filantropi dengan beberapa institusi, yaitu zakat, infaq, dan shadaqah, wakaf.22
Filantropi Islam dapat dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu sedekah wajib dan sedekah sukarela. Sedekah wajib dapat berupa zakat pada mal dan zakat fitrah, sedangkan sedekah sukarela dapat melibatkan instrumen wakaf, hibah, dan infaq. Zakat (as a relief instrument) bertujuan untuk meringankan penderitaan sesama dan prinsip welas asih sebagai kekuatan pendorongnya. Sementara itu, wakaf (as an improvement instrument) berupaya memaksimalkan potensi individu manusia dan diberi energi oleh prinsip yang berusaha untuk memajukan individu dan masyarakatnya dan juga melestarikan bumi. Selanjutnya, instrumen filantropi lain seperti sedekah (as a reform instrument) berusaha untuk memecahkan masalah sosial dan menunjang dua instrumen filantropi sebelumnya. Oleh karena itu, instrumen filantropi Islam digunakan untuk membangun struktur dan layanan masyarakat yang lebih baik dan dimotivasi oleh tanggung jawab sosial.23
Instrumen filantropi Islam dimaksudkan untuk menjaga kemurnian jiwa. Instrumen tersebut membantu membangun ekonomi umat, membangun masyarakat dengan spirit kemanusiaan, mengurangi kesulitan ekonomi bagi orang miskin. Dengan demikian, filantropi Islam mengurangi ketidaksetaraan dan menciptakan cinta dan persaudaraan.
Bahkan untuk pahala tak terbatas yang didapat manusia, mereka dengan senang hati melakukan aktivitas berbagi dan berderma untuk mewujudkan kebahagiaan sesama manusia.
Sumber daya dari pengeluaran hingga donasi mempengaruhi beberapa dimensi manusia. Tetapi itu juga mempengaruhi ekonomi manusia. Manusia memutuskan apakah akan membelanjakan pendapatan mereka sekarang atau di masa depan. Biasanya, jika manusia ingin menghabiskan sekarang, itu disebut pengeluaran untuk konsumsi.
Pengeluaran saat ini juga mencakup transfer sumber daya (sumbangan)
22 Miftahul Huda, ―Konfigurasi Infak Sedekah, Zakat, Dan Wakaf Untuk Kemandirian Umat: Sebuah Model Integratif Membangun Filantropi Islam Di Era Indonesia Kontemporer,‖ Justicia Islamica 8, no. 2 (2016): 127–129.
23 Abdul Ghafar Ismail, Rose Abdullah, and Muhammad Hasbi Zaenal, ―Introduction,‖ in Islamic Philanthropy, ed. Abdul Ghafar Ismail, Rose Abdullah, and Muhammad Hasbi Zaenal (Cham: Springer Nature Switzerland, 2022), 8–9.
untuk orang lain, sementara pendapatan yang dipertahankan untuk pengeluaran di masa depan dikenal sebagai tabungan. Tabungan ini dapat disalurkan ke dalam bentuk investasi dalam produksi yang akan memberikan profit agar dapat digunakan untuk konsumsi di masa depan.
Distribusi bergantung pada sumber daya donor. Setelah berderma terjadi, penerima menggunakannya untuk membeli barang dari produksi saat ini.
Baik donatur maupun penerima menggunakan barang-barang dari produksi saat ini. Tingkat konsumsi saat ini meningkat dan karenanya, produksi saat ini juga meningkat. Akibatnya, pengembalian investasi meningkat dan karenanya, jumlah tabungan meningkat. Pengeluaran donatur di masa depan meningkat dan selanjutnya para donatur juga dapat meningkatkan jumlah donasi. Oleh karena itu, redistribusi kekayaan, baik wajib atau sukarela (yang mungkin melibatkan uang atau dalam bentuk barang), tergantung pada preferensi donor dan penerima. Pada akhirnya, keduanya mempengaruhi barang dari produksi saat ini yang berasal dari produksi industri. Dengan proses ini, baik donor maupun penerima bertukar sumber daya yang membantu distribusi sumber daya dalam filantropi Islam. Selain itu, sistem distribusi membantu penerima dalam mengelola kebutuhan hidup mereka. Dengan demikian, ia menciptakan bentuk dukungan baru, yang sebelumnya merupakan tanggung jawab pemerintah dan entitasnya di negara yang menggunakan sistem jaminan sosial.
B. Manajemen ZISWAF 1. Zakat
a. Definisi
Secara etimologis, zakat berasal dari kata dasar zaka yang berarti berkah, tumbuh, bersih, baik dan bertambah. Sesuatu itu dapat dikatakan zaka yakni bisa bertumbuh dan berkembang. Sebaliknya jika seseorang itu zaka, berarti orang itu baik dan terkuat. Menurut Wahidi, kata dasar zaka ialah bertambah dan tumbuh, definisi tersebut dapat diilustrasikan sebagai tanaman. Jika tanaman itu zaka, maka berarti tumbuh. Bila satu tanaman tumbuh tanpa cacat, maka kata zaka dapat berarti bersih. Namun bila seseorang yang bersifat zaka dalam arti baik, maka orang tersebut lebih banyak memiliki sifat yang baik. Lalu zaki yaitu seseorang yang memiliki lebih
banyak sifat-sifat orang baik, dan kalimat ―hakim-zaka-saksi‖
artinya hakim yang menjelaskan jumlah saksi-saksi diperbanyak.24 Sedangkan secara terminologi, zakat adalah sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah untuk diserahkan kepada orang- orang yang berhak (mustahiq) oleh orang-orang yang wajib mengeluarkan zakat (muzakki).25 Di dalam Al-Qur‘an, banyak ayat- ayat yang menjelaskan secara tegas perintah pelaksanaan zakat.
Perintah tersebut seringkali beriringan dengan perintah pelaksanaan salat. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran zakat dalam kehidupan umat. Zakat bertujuan membersihkan diri dari sifat rakus dan kikir dan mendorong manusia untuk menumbuhkan sifat kedermawanan dan sensitivitas sosial.26
ۗ ْمُيَّم ٌنَك َس َكَثٰوَل َص َّن إ ۖ ْمِ ْيهَلَػ ِّل َصَو اَ ِبِ مِيهِّلَزُتَو ْ ُهُ ُرِّي َطُث ًةَقَد َص ْمِيِمََٰوْمَأ ْنِم ْذُخ ِ ُ َّللَّ أَو
ٌيِلَػ ٌعيِ َسَ
“Ambillah zakat dari harta mereka, guna membersihkan dan menyucikan mereka, dan berdoalah untuk mereka. Sesungguhnya doamu itu (menumbuhkan) ketenteraman jiwa bagi mereka. Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (Q.S. At-Taubah: 103)
Lain halnya pengertian zakat dari segi istilah fikih yaitu sejumlah harta tertentu yang diwajibkan Allah diserahkan kepada orang-orang yang berhak. Artinya, bahwa seseorang berzakat dengan mengeluarkan jumlah tertentu itu sendiri. Jumlah yang akan dikeluarkan disebut zakat. Hal ini disebabkan yang dikeluarkan itu dapat menambah banyak, membuat lebih berarti untuk orang yang membutuhkan, dan melindungi kekayaan itu sendiri dari kebinasaan.27 Dalam hal ini zakat merupakan ibadah maliyah ijutaima‟iyyah yang memiliki posisi sangat penting dan strategis
24 Yusuf Qardawi, Hukum Zakat Studi Komperatif Mengenai Status Dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur‟an Dan Hadist (Jakarta: Lentera Antar Nusa, 2010), 34.
25 Hasan Muarif Ambary, ―Ensiklopedia Islam,‖ Jilid 5. (Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1999), 224.
26 Quraish Shihab, Panduan Zakat (Jakarta: Penerbit Republika, 2001), 88.
27 Qardawi, Hukum Zakat Studi Komperatif Mengenai Status Dan Filsafat Zakat Berdasarkan Qur‟an Dan Hadist.
dalam mewujudkan kesejahteraan umat dan keadilan distribusi harta. Sebagai sebuah ibadah pokok, zakat menjadi salah satu rukun Islam yang harus ditunaikan. Urgensi zakat ditunjukkan dengan dua puluh ayat Al-Qur‘an yang memuji orang-orang yang secara sungguh-sungguh menunaikannya dan sebaliknya memberikan ancaman bagi orang yang meninggalkannya. Oleh karena itu, Rasulullah saw. pernah melakukan isolasi sosial kepada orang yang enggan membayar zakat.
Berbeda dengan definisi zakat dalam Islam yaitu salah satu instrumen kesejahteraan umat. Artinya, apabila zakat benar-benar dikelola dengan baik sebagaimana yang pernah dicontohkan oleh Nabi saw., niscaya ia akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hal ini akan berdampak terhadap berkurangnya jumlah pengangguran dan sekaligus mengurangi jumlah kaum fakir-miskin.
Apabila kesejahteraan masyarakat meningkat, maka sudah jelas kaum miskin secara berangsur-angsur akan bisa berkurang. Sistem kesejahteraan umat dengan segala sisinya merupakan kesatuan yang utuh. Zakat memberikan dimensi prinsip keadilan sosial dan pemerataan kesejahteraan. Kahf menyatakan bahwa zakat mengarah pada distribusi harta yang egaliter. Sebagai akibat dari pelaksanaan zakat, harta kekayaan tidak hanya dimiliki oleh segelintir orang kaya, namun harta selalu beredar di tengah masyarakat dan bisa lebih menggerakkan perekonomian umat.28
Selanjutnya zakat ditinjau dari segi bahasa yang telah dikemukakan oleh Hafidhudin bahwa zakat mempunyai beberapa arti, adalah ath-thaharatu (membersihkan dan menyucikan).
Artinya, orang yang selalu menunaikan zakat karena Allah Swt.
bukan untuk ingin dipuji oleh manusia. Dengan begitu, Allah akan membersihkan dan menyucikan baik hartanya maupun jiwanya.
Zakat bermakna al-barakatu (berkah), yang berarti orang yang selalu membayar zakat, hartanya akan selalu dilimpahkan keberkahan harta ini dapat berdampak terhadap keberkahan hidup.
Makna zakat yang lain yakni sebagai an-numuw (tumbuh dan
28 Monzer Kahf, Telaah Analitik Terhadap Fungsi Sistem Ekonomi Islam (Yogyakarta:
Pustaka Pelajar, 1995), 19–20.
berkembang), menegaskan bahwa orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya (dengan izin Allah) akan terus tumbuh dan berkembang. Hal ini dikarenakan oleh kesucian dan keberkahan harta yang telah ditunaikan kewajiban zakatnya. Makna zakat terakhir adalah ash-shalahu (beres dan bagus) yang berarti orang yang selalu menunaikan zakat, hartanya akan selalu bagus (tidak bermasalah dan terhindar dari masalah). Sedangkan secara istilah bahwa zakat merupakan bagian dari harta dengan adanya persyaratan tertentu dari Allah Swt. Persyaratan itu adalah mewajibkan kepada pemiliknya untuk diserahkan kepada yang lebih berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.29 Artinya, bahwa harta yang dikeluarkan zakatnya akan senantiasa berkah, tumbuh, berkembang, bertambah dan tentunya suci. Oleh karena itu, setiap harta yang telah mencukupi persyaratan tertentu, maka wajib bagi pemilik harta-harta untuk mengeluarkan zakat dari harta-harta tersebut yang diberikan kepada orang tertentu disesuaikan dengan tuntunan syariat Islam.
ِف َو ْمُ ُبِوُلُق ِةَفَّمَؤُمْم أَو اَ ْيهَلَػ َينِلِمَٰ َؼْم أَو ِينِكَٰ َسَمْم أَو ِءٓإَرَقُفْلِن ُتَٰ َقَد َّصم أ اَمَّه إ ِ َينِمِرَٰ َغْم أَو ِباَقِّرم أ
ِنْب أَو ِ َّللَّ أ ِليِب َس ِفَو ٌيِكَح ٌيِلَػ ُ َّللَّ أَو ۗ ِ َّللَّ أ َنِّم ًة َضيِرَف ۖ ِليِب َّسم أ
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, pra mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (Q.S. At-Taubah:
60)
Berdasarkan beberapa pemaparan definisi dari zakat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa zakat adalah harta tertentu yang dikeluarkan apabila telah mencapai syarat yang diatur sesuai aturan agama dan disalurkannya kepada orang tertentu yang ditentukan oleh syariat Islam. Dalam hal ini zakat sendiri berarti tumbuh,
29 Didin Hafiduddin, Zakat Dalam Perekonomian Modern (Jakarta: Gema Insani, 1998), 7.
berkembang, subur atau bertambah. Dinamakan zakat, sebab di dalamnya terkandung harapan untuk memperoleh keberkahan, membersihkan jiwa, dan memupuk dengan berbagai kebaikan.
Makna tumbuh dari zakat di sini ialah mengeluarkan zakat sebagai penyebab adanya pertumbuhan dan perkembangan harta.
Pelaksanaan zakat sendiri dapat berdampak kepada seseorang yang akan memperoleh banyak pahala. Sedangkan makna suci menunjukkan bahwa zakat yaitu menyucikan jiwa dari kejelekan, kebatilan, dan penyuci dari dosa-dosa.
b. Jenis dan Fungsi
Zakat terdiri dari dua jenis, yaitu zakat fitrah dan zakat mal.
Zakat fitrah ialah zakat yang wajib dikeluarkan pada bulan Ramadan setiap tahunnya bagi setiap muslim. Tujuannya ialah untuk menyucikan diri dengan membantu orang-orang yang kekurangan dan sebagai rasa syukur atas terselesainya puasa Ramadan.
Sedangkan zakat mal ialah seorang muslim yang wajib mengeluarkan zakat disesuaikan dengan nisab dan haulnya.
Perbedaannya dengan zakat fitrah, pada zakat mal tidak dibatasi waktu pengeluarannya. Zakat mal terdiri dari beberapa jenis zakat di antaranya, zakat perniagaan, penghasilan, pertanian, hasil laut, pertambangan, emas dan perak, hasil peternakan, dan lainnya. Oleh karena itu, masing-masing jenis zakat memiliki perhitungan sendiri- sendiri.30
Sedangkan fungsi zakat ditinjau dalam perspektif ekonomi yaitu sebagai jalinan persekutuan antara si miskin dan kaya. Melalui zakat, persekutuan tersebut diperbaharui setiap tahun, terus menerus.
Zakat dalam hal ini sebagai instrumen religius yang membantu perseorangan dalam masyarakat untuk menolong penduduk miskin yang tidak mampu menolong dirinya sendiri supaya kemiskinan dan kesengsaraan hilang dari masyarakat (muslim).31 Fungsi lain dari zakat ialah sebagai instrumen fiskal untuk mencapai tujuan keadilan
30 A. Chintya and E. T. Wahyuni, ―Pembagian Zakat Fitrah Kepada Mustahiq: Studi Komparatif Ketentuan Ashnaf Menurut Imam Syafi‘i Dan Imam Malik,‖ Muqtasid:
Jurnal Ekonomi dan Perbankan Syariah 8, no. 2 (2018): 154.
31 Umer Chapra, The Future of Economics: An Islamic Perspective (Jakarta: SEBI, 2001).
sosial-ekonomi dan distribusi kekayaan dan pendapatan. Zakat dapat dipandang secara aklamasi sebagai bagian tak terpisahkan dari falsafah moral Islam dan didasarkan pada komitmen yang pasti terhadap kemanusiaan.32
Selain fungsi zakat yang telah dijelaskan sebelumnya, maka zakat memiliki tujuan untuk menyucikan harta, mengangkat derajat orang-orang fakir miskin, menghilangkan sifat kikir yang menempel pada diri manusia, mensyukuri nikmat yang telah diberikan oleh Allah Swt., dan dapat mengembangkan kekayaan batin. Zakat juga memiliki syarat-syarat di dalamnya, seperti harta dimiliki secara sempurna, termasuk ke dalam harta yang berkembang, harta mencapai nisab, harta mencapai satu haul, dan harta melebihi kebutuhan pokok. Sedangkan syarat bagi orang-orang yang menyalurkan zakat, ialah orang Islam, merdeka, orang yang berakal, sudah baligh, dan orang yang sudah berkecukupan.33
Memahami uraian tersebut, maka zakat ditinjau dari perspektif ekonomi merupakan push factor bagi perbaikan kondisi masyarakat, khususnya perbaikan ekonomi. Hal ini dikarenakan dengan adanya distribusi zakat akan terjadi pertumbuhan kesejahteraan masyarakat dalam arti yang lebih luas. Zakat menjadi salah satu sumber keuangan yang didasarkan pada asas keadilan dan perpaduan antara kepentingan umum dan pemilik harta.34 Zakat sebagai perwujudan sumber keuangan dari komitmen sosio-ekonomi yang penting dari umat dalam memenuhi kebutuhan semua orang. Dalam hal ini tanpa meletakkan seluruh beban ke negara yang tanpa disadari telah dilakukan sosialisme dan negara kesejahteraan (welfare state) yang sekular sekalipun.35
c. Mustahiq
Menurut ayat Al-Qur‘an tersebut, orang-orang yang berhak menerima zakat (mustahiq) ada delapan golongan, yaitu fakir,
32 Umer Chapra, Sistem Moneter Islam (Jakarta: Gema Insani Press, 2000).
33 M. Makhrus, ―Pengelolaan Zakat Produktif Dalam Upaya Pengentasan Kemiskinan Di Indonesia,‖ Jurnal Hukum Ekonomi Syariah 2, no. 1 (2019): 37.
34 Abdul Wahab Khallaf, Politik Hukum Islam (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1994).
35 M. Umer Chapra, Islam Dan Tantangan Ekonomi (Jakarta: Gema Insani Press, 2000).
miskin, amil, mualaf, budak (riqab), orang yang terlilit utang (gharim), fi sabilillah dan ibnu sabil.
a. Fakir adalah orang yang tidak memiliki barang yang berharga, kekayaan dan usaha, sehingga orang tersebut sangat perlu dibantu keperluannya.
b. Miskin yakni orang yang mempunyai barang yang berharga atau pekerjaan yang dapat menutup sebagian hajatnya akan tetapi tidak mencukupinya, seperti contohnya orang memerlukan sepuluh dirham, tetapi hanya memiliki tujuh dirham saja.
c. Amil ialah orang yang ditunjuk untuk mengumpulkan zakat, menyimpannya, membaginya kepada yang berhak dan mengerjakan pembukuannya.
d. Mualaf dapat dibagi menjadi empat macam, yaitu mualaf muslim (orang yang sudah masuk Islam, tetapi niatnya atau imannya masih lemah. Oleh karena itu diperkuat dengan memberi zakat), orang yang telah masuk Islam (niatnya cukup kuat, dan terkemuka di kalangan kaumnya, maka orang tersebut diberi zakat dengan harapan teman-temannya akan tertarik masuk Islam, mualaf yang dapat membendung kejahatan orang kaum kafir di sampingnya, mualaf yang dapat membendung kejahatan orang yang membangkang membayar zakat. Pada bagian ketiga dan keempat, sebaiknya memberikan zakatnya sekira keperluan orang yang termasuk golongan tersebut saja. Sedangkan bagian pertama dan kedua akan diberikan zakat tanpa adanya syarat.
e. Budak (riqab) ialah budak berlian yang diberikan kebebasan usaha untuk mengumpulkan kekayaan agar dapat menebus dirinya untuk merdeka.
f. Orang yang terlilit utang (gharim) dibagi menjadi tiga macam, yaitu orang yang meminjam guna menghindarkan fitnah atau mendamaikan pertikaian/permusuhan, orang yang meminjam guna keperluan diri sendiri atau keluarganya untuk hajat yang mubah, orang yang meminjam karena adanya tanggungan misalnya para pengurus masjid, madrasah, atau pesantren menanggung guna keperluan masjid, madrasah, atau pesantren ini.
g. Fi sabilillah yakni jalan yang dapat menyampaikan sesuatu karena rida Allah baik berupa ilmu maupun amal.
h. Ibnu sabil adalah orang yang mengadakan perjalanan dari negara di mana dikeluarkan zakat atau melewati negara tersebut. Akan diberikan zakat jika memang menghendaki dan tidak bepergian untuk maksiat. Bagian ini tidak setiap waktu ada, akan tetapi baiknya untuk golongan ini tetap disediakan sekedarnya.36 Namun oleh para ulama kemudian memilah-milah mereka yang berhak atas zakat tersebut menjadi orang yang lebih berhak dan orang yang kurang berhak. Orang yang lebih berhak adalah orang fakir-miskin yang lemah dan tidak meminta-minta, dan orang yang sedang menuntut ilmu. Sedangkan yang kurang berhak adalah orang yang masih kuat dan mampu serta orang yang hanya beribadah dan sangat jarang bermuamalah.37 Dalam konteks Indonesia, fakir dan miskin sering kali digunakan sama untuk orang yang berada dalam kondisi kekurangan secara materi atau dalam kondisi kemiskinan.
Sedangkan menurut ulama, fakir dan miskin memiliki arti dan parameter yang berbeda.38
d. Distribusi Zakat
Sebagai rukun Islam ketiga, hukum zakat adalah fardlu ain bagi yang telah memenuhi berbagai syarat yang telah ditetapkan dalam Al-Qur‘an. Terkait dengan pendistribusian zakat, Al-Qur‘an tidak menyebutkan secara tegas model pendistribusian zakat. Namun, secara umum saat ini pendistribusian zakat ada dua macam, yaitu konsumtif dan produktif. Bahkan, banyak tokoh yang saat ini yang lebih mendukung pendistribusian zakat secara produktif. Akram Khan, sebagaimana dikutip oleh Sjechul Hadi Permono, menilai bahwa pendistribusian zakat secara konsumtif mempunyai kecenderungan untuk menimbulkan inflasi, karena sebagian besar penerima zakat termasuk dalam strata sosial golongan ekonomi
36 Kementerian Agama RI, Al-Qur‟an Dan Terjemahannya (Bandung: Diponegoro, 2008).
37 Umrotul Khasanah, Manajemen Zakat Modern (Malang: UIN Maliki Press, 2010), 40.
38 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh Al-Islami Wa Adillatuhu, Jus 3. (Beirut: Dar al-Fikr, 1989), 1952–1953.
lemah. Oleh karena itu, sebaiknya zakat lebih didistribusikan secara produktif, agar masyarakat berdaya dan lebih berupaya untuk berbudaya produktif. Dengan model distribusi secara produktif tersebut, zakat bisa menghantarkan para mustahiq keluar dari kondisi kemiskinannya.39
Dana zakat merupakan dana kepercayaan yang dibatasi oleh sumber zakat itu. Dana itu harus dikumpulkan dan selanjutnya didistribusikan sesuai sasaran yang telah diketahui dan direncanakan. Dalam hal ini zakat ialah dana kepercayaan, maka pengelolaan dana tersebut harus ditumpukan. Proses pengelolaan tersebut harus didasarkan pada pertanggungjawaban agar para sumber dana yakin bahwa zakat yang dikeluarkan didistribusikan dan dimanfaatkan sesuai dengan ketentuan.40 Selanjutnya dana zakat dikelola oleh organisasi yang mampu berperan untuk mewujudkan keseimbangan distribusi kepemilikan harta kekayaan sehingga terwujud masyarakat yang beradab, sejahtera, adil, dan makmur.41 Dalam pengelolaan zakat, pengumpulan dan pendistribusian zakat merupakan dua hal yang sama pentingnya. Namun, Al-Qur‘an lebih memperhatikan masalah pendistribusiannya.
Aturan dan ketentuan pendistribusian zakat termuat dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011, Bab III Pasal 25 tentang Pendistribusian bahwa zakat wajib didistribusikan kepada mustahiq sesuai syariat Islam. Pasal 26 menerangkan pendistribusian zakat, sebagaimana telah tertuang ke dalam pasal 25, dilakukan berdasarkan skala prioritas dengan memperhatikan prinsip pemerataan, keadilan, dan kewilayahan.42
Selanjutnya mengenai zakat produktif yakni sebuah model zakat yang dalam pendistribusiannya membuat mustahiq menghasilkan sesuatu yang produktif dan terus menerus melalui harta zakat yang
39 Permono Sjechul Hadi, Formula Zakat Menuju Kesejahteraan Sosial (Surabaya: CV.
Aulia, 2005), 87.
40 A.S.M. Basalamah, Akuntansi Zakat Infaq Dan Shodaqoh (Depok: Usaha Kami, 1995), 160.
41 H.R. Al-Faridy, Panduan Praktis Pengelolaan Zakat (Jakarta: Dompet Dhuafa Republika, 2002), 25.
42 Onyx Gemstone, ―Aplikasi Undang-Undang Pengelolaan Zakat,‖ n.d.
dikelolanya. Zakat produktif juga berarti harta yang diberikan kepada mustahiq, yang tidak dihabiskan atau dikonsumsi tetapi dikembangkan dan digunakan untuk membantu usaha para mustahiq tersebut. Oleh karena itu, segala usaha yang dijalankannya, diharapkan mustahiq tersebut dapat memenuhi kebutuhan hidup secara terus-menerus.43
Setelah mengetahui mengenai zakat produktif, maka akan dijelaskan mengenai pemberdayaan dana zakat. Pemberdayaan ini bertujuan untuk melakukan pemanfaatan dana zakat secara maksimal tanpa mengurangi nilai dan kegunaannya, demi mencapai kemaslahatan umat secara produktif dan lebih bermanfaat bagi mustahiq. Pemberdayaan ini dapat dilakukan melalui pemberian modal usaha baik dalam bentuk barang (misalnya gerobak yang nantinya akan digunakan untuk berjualan), uang (sebagai modal awal dalam menjalankan usahanya), dan lain sebagainya. Hal ini diharapkan akan terciptanya pemahaman dan kesadaran untuk menuju perilaku hidup yang mandiri serta dengan pemberian dana zakat produktif, ke depannya dapat mengurangi tinggi kemiskinan dan mengurangi angka pengangguran.44
e. Pengelola Zakat
Pengelola zakat diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011, Bab III Pasal 26 yang mengatur dua model pengelola, yaitu pertama, zakat dikelola lembaga yang dibentuk oleh pemerintah.
Kedua, zakat dikelola lembaga yang dibentuk oleh masyarakat.
Keikutsertaan pemerintah dalam pengelolaan zakat selain diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2011 tentang Pengelolaan Zakat juga diperkuat dengan adanya Peraturan Pemerintah untuk mendukung pelaksanaan undang-undang tersebut. Oleh sebab itu terbentuklah lembaga atau organisasi yang menaungi zakat secara profesional, yaitu Badan Amil Zakat Nasional yang disingkat dengan BAZNAS. Kemudian pemerintah memberikan keleluasaan bagi masyarakat dalam rangka mengelola dana zakat tersebut
43 Ahmad Thoharul Anwar, ―Zakat Produktif Untuk Umat,‖ Jurnal Zakat dan Wakaf 01 (2018): 45.
44 Noor Aflah, Arsitektur Zakat Indonesia (Jakarta: UI Press, 2009), 122-123.
dengan beberapa persyaratan dan ketentuan untuk dapat terbentuknya Lembaga Amil Zakat atau LAZ.
Zakat yang dikelola pemerintah tersebut memiliki wewenang dalam mengatur berbagai ketentuan mengenai pengelolaan zakat.
Hal ini berbeda dengan pelaksanaannya, di mana pemerintah lebih memosisikan diri sebagai regulator dan fasilitator dalam rangka memastikan bahwa pengelolaan zakat dilakukan dengan baik dan diperuntukkan demi kemaslahatan umat. Kemudian zakat yang dibentuk oleh masyarakat memiliki wewenang yang besar untuk mengelola zakat, akan tetapi tetap berkoordinasi, melaporkan, dan siap dibina oleh pemerintah.45 Keberadaan kedua lembaga tersebut menjadi bukti bahwa pemerintah telah mengupayakan untuk membuat kebijakan akan mengoptimalisasikan dana zakat dengan tujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan pembangunan nasional. Selain itu, diharapkan kedua lembaga atau institusi pengelolaan zakat tersebut bisa menjadi lebih baik diikuti dengan peningkatan kepercayaan masyarakat muzakki kepada organisasi pengelola zakat tersebut.
Pengelolaan kedua jenis organisasi atau institusi amil zakat tersebut seharusnya didasarkan atas sekurangnya empat prinsip.
Pertama, independen artinya lembaga ini tidak memiliki ketergantungan kepada orang-orang tertentu atau lembaga lain.
Kedua, netral artinya karena didanai oleh masyarakat, berarti lembaga ini milik masyarakat, sehingga dalam menjalankan aktivitasnya lembaga tidak boleh hanya menguntungkan golongan tertentu saja (harus berdiri di atas semua golongan). Ketiga, tidak diskriminatif artinya kekayaan dan kemiskinan bersifat universal yakni lembaga tidak boleh mendasarkan pada perbedaan suku atau golongan. Tetapi selalu menggunakan parameter-parameter yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan, baik secara syariah maupun secara manajemen. Keempat, tidak berpolitik praktis artinya lembaga tidak terjebak dalam kegiatan politik praktis.
45 Kementerian Agama RI, Standarisasi Amil Zakat Di Indonesia (Jakarta: Kemenag, 2013), 45.
2. Infaq
Infaq berasal dari bahasa Arab anfaqa (قفنا) yang artinya mengeluarkan atau membelanjakan. Dari akar kata ini, istilah infaq bersifat umum yakni mengeluarkan harta, baik untuk tujuan kebaikan maupun keburukan dikatakan sebagai infaq. Apakah harta tersebut dikeluarkan untuk fakir miskin, memberi sumbangan untuk masjid, membeli miras, membeli pakaian, membeli barang dan jasa yang diharamkan Allah, bahkan menyogok (suap) pun juga termasuk dalam kategori infaq.46 Sebagaimana yang tertuang dalam ayat berikut.
نِّم ُتُْؼ َطَت ْ س أ اَّم مُيَم ۟إوُّدِػَأَو نِم َنيِرَخإَءَو ْ ُكَُّو ُدَػَو ِ َّللَّ أ َّوُدَػ ۦِوِب َنوُبِىْرُت ِلْيَخْم أ ِط َبَِّر نِمَو ٍةَّوُق
هَأَو ْ ُكُْيَم إ َّفَوُي ِ َّللَّ أ ِليِب َس ِف ٍءْ َشَ نِم ۟إوُقِفنُث اَمَو ۚ ْمُيُمَلْؼَي َُّللَّ أ ُمَُنِوُمَلْؼَث َلَ ْمِِنِوُد ِ نوُمَل ْظُث َلَ ْ ُتُ
“Apa saja yang kamu nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalasi dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya.” (Q.S. Al-Anfal:
60)
ِْيهَلَػ ُنوُكَت َّ ُثُ اَ َنِوُقِفنُي َسَف ۚ ِ َّللَّ أ ِليِب َس نَغ ۟إوُّد ُصَيِم ْمُيَمََٰوْمَأ َنوُقِفنُي ۟إوُرَفَل َنيَِّلَّ أ َّن إ ِ ْم
َُّثُ ًةَ ْسَْح
نوُ َشَْ ُيُ َ َّنََّ َجَ َٰلَ إ ۟إٓو ُرَفَل َنيِ َّلَّ أَو ۗ َنوُبَلْغُي ِ
“Sesungguhnya orang-orang yang kafir menafkahkan harta mereka ini untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta tersebut, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka ini akan dikalahkan. Dan ke dalam jahanamlah orang-orang yang kafir tersebut dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal: 36)
Adapun infaq menurut terminologi syariah adalah mengeluarkan sebagian dari harta untuk kepentingan yang sesuai dengan ajaran Islam.
Hal ini sesuai dengan ayat berikut.
46 Sri Nurhayati et al., Akuntansi Dan Manajemen Zakat, ed. Sri Nurhayati et al. (Jakarta:
Salemba Empat, 2019).
نُث اَمَو ۚ ْ ُكُ ِسُفهَ ِلَِف ٍ ْيَْخ ْنِم ۟إوُقِفنُث اَمَو ۗ ُءٓا َشَي نَم ىِدْ َيَ َ َّللَّ أ َّنِكَٰ َمَو ْمُ ٰىَٰدُى َكْيَلَػ َسْيَم َّلَ
ِ إ َنوُقِف
َنوُمَل ْظُث َلَ ْ ُتُهَأَو ْ ُكُْيَم إ َّفَوُي ٍ ْيَْخ ْنِم ۟إوُقِفنُث اَمَو ۚ ِ َّللَّ أ ِوْجَو َءٓاَغِتْب أ ِ
“... Dan janganlah kamu membelanjakan sesuatu melainkan karena mencari keridaan Allah. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan, niscaya kamu akan diberi pahalanya dengan cukup sedang kamu sedikitpun tidak akan dianiaya (dirugikan).” (Q.S. Al-Baqarah: 272) Infaq dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, pertama infaq yang dihukumi wajib yakni infaq yang besarannya telah ditentukan seperti zakat, nazar, dan kafarat. Namun ada juga infaq wajib yang besarannya tidak ditentukan secara pasti misalnya pemberian seorang suami kepada istri (nafkah). Jenis kedua yakni infaq yang sifatnya sukarela, di mana Allah memberi kebebasan terkait jenis harta yang di-infaq-kan, waktu, maupun jumlahnya. Misalnya, infaq untuk kaum kerabat, fakir, miskin dan sebagainya.
3. Shadaqah
Sedekah berasal dari bahasa Arab shadaqah (ةق دص) yang artinya benar atau jujur.47 Sedekah dapat diartikan amalan yang membenarkan keimanannya (Islam). Sedekah memiliki arti yang lebih luas bila dibandingkan dengan infaq yang hanya melibatkan pemberian materi (misalnya uang, pakaian, makanan, dll.). Sementara sedekah dapat berbentuk materi ataupun non materi (misalnya tersenyum kepada orang lain/memberi salam, menolong orang lain atau dengan berzikir).
Menurut Muhammad Abdurrauf al-Munawi mendefinisikan sedekah (ةق دص):
ِتَّمإ ُ َلَْؼِفْمإ ُةق د ّصمإ ا َسُي اَمِم ُل اَقًيَو , ٌبْيَغ َق ْزِّرمإ َّنَأ ُثْيَح ْنِم ِبْيَغْم ِبَ ِنَماْئِلْإ ُق ْد ِص اَ ِبِ ْو ُدْبَي
ُُل ْوَق ُوْنِمو ,ِوِّقح ْنِم ُنا َسْؤِلْإ ِوِب ُحِم
>>إْوُقَّد َّصَّي ْنَأ َل إ ِ ِلِْىَإ َلِإ ٌةَمَّل َسُم ٌةَيِدَو << ِ ,ءاسنمإ(
) 29
َءاَفْغٕإ ىَّم َسَف فيرْؼتمإ .ًةَق َد َص ُه
354 - 359
47 Sri Nurhayati dkk, Akuntansi dan Manajemen Zakat (Jakarta: Penerbit Salemba Empat, 2019).
“Sedekah adalah suatu perbuatan yang akan tampak dengannya kebenaran iman (seseorang) terhadap yang ghoib dari sudut pandang bahwa rezeki itu sesuatu yang ghoib. Dikatakan juga (sedekah) itu ditujukan untuk sesuatu di mana manusia saling memaafkan dengan (sedekah) itu dari haknya. Di antara firman Allah: “Dan diyat yang diserahkan kepada keluarga (korban) kecuali bila mereka hendak bersedekah” (An-Nisa:92) maka Allah menamakan pemberian maaf (dari keluarga korban) sebagai sedekah. (At-Ta‘arif 452-453).
Secara umum, kata shadaqah kadang-kadang digunakan untuk menunjukkan beberapa makna, di antaranya:
a. Menunjuk makna zakat
ِباَقِّرمإ ِف َو ْمُ ُبِْوُلُق ِةَفَّمَؤُمْمإَو اَ ْيهَلَػ َ ْينِلِمٰؼْمإَو ِ ْينِك ٰسَمْمإَو ِءۤإَرَقُفْلِن ُتٰقَد َّصمإ اَمَّهِإ َ ْينِمِرٰغْمإَو
ٌْيِكَح ٌ ْيِلَػ ُ ّٰللَّإَوۗ ِ ّٰللَّإ َنِّم ًة َضْيِرَف ِۗلْيِب َّسمإ ِنْبإَو ِ ّٰللَّإ ِلْيِب َس ْ ِفِ َو
“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, Para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.48
b. Menunjuk makna pemberian secara sukarela
َو ِۗساَّنمإ َ ْينَب ٍۢح َلَ ْصِإ ْوَإ ٍف ْو ُرْؼَم ْوَإ ٍةَقَد َصِب َرَمَإ ْنَم َّلَِإ ْمُىٰ ٰوْ َّنَّ ْنِّم ٍ ْيِْثَل ْ ِفِ َ ْيَْخ َلَ
ْنَم
اًمْي ِظَغ إًرْجَإ ِوْيِثْؤُه َفْو َسَف ِ ّٰللَّإ ِتا َضْرَم َءۤاَغِتْبإ َ ِلِٰذ ْلَؼْفَّي
“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat makruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridaan Allah, Maka kelak Kami memberi kepadanya pahala yang besar”.49
48 Al-Qur‘an 9:60.
49 Al-Qur‘an 4: 114.
Kata shadaqah bisa memiliki makna ganda, yaitu zakat dan pemberian sukarela sebagaimana disebut dalam Surah At-Taubah baik terkait dengan perintah pemungutannya hingga penyaluran dan pemanfaatannya. Hal ini sejalan dengan urgensi filantropi Islam yang diperkuat dengan penegasan Al-Qur‘an sebanyak 82 kali tentang keseimbangan perintah zakat yang disandingkan dengan perintah salat. Dalam Islam, sedekah bukan sebatas sebagai pemberian harta kepada orang lain, akan tetapi juga berkaitan dengan perbuatan baik yang bersifat fisik ataupun nonfisik. Oleh karena itu bersedekah bisa dijalani oleh siapa pun, kapan pun dan di mana pun. Beberapa bentuk shadaqah adalah memberikan santunan kepada fakir miskin, anak yatim, membangun fasilitas umum seperti sarana prasarana ibadah, pendidikan, layanan kesehatan, dan lain sebagainya tanpa adanya pelanggaran terhadap aturan syariah.50 Definisi tersebut menunjukkan bahwa sedekah itu adalah setiap amal kebaikan secara umum baik material maupun nonmaterial.
4. Fundraising ZIS
Fundraising adalah proses mempengaruh masyarakat baik perseorangan sebagai individu atau perwakilan masyarakat maupun lembaga agar menyalurkan dananya kepada sebuah organisasi.51 Kata mempengaruhi masyarakat mengandung beberapa makna: pertama, dalam kalimat tersebut bisa diartikan memberitahukan kepada masyarakat tentang seluk-beluk keberadaan Organisasi Pengelola Zakat (OPZ). Kedua, mempengaruhi berarti juga mengingatkan dan menyadarkan.
Mengingatkan donatur untuk sadar bahwa harta yang dimilikinya bukan semata milik dia akan tetapi ada hak orang lain di dalamnya (delapan asnaf). Ketiga, mempengaruhi dalam arti mendorong masyarakat, lembaga dan individu untuk menyerahkan sumbangan baik berupa zakat, infak maupun sedekah. Keempat, mempengaruhi untuk membujuk para donatur untuk bertransaksi (membayar ZIS). Kelima, memberikan gambaran
50 Ahmad Gaus AF, Filantropi Dalam Masyarakat Islam (Jakarta: PT Elex Media Komputindo, 2008), 21.
51 Dewi Mayang Sari, Kajian Strategi Fundraising BAZIS Provinsi DKI Jakarta Terhadap Peningkatan Pengelolaan Dana ZIS, Skripsi: UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, 2010, 32.