BAB II FILANTROPI ISLAM
C. Manajemen Wakaf
1. Wakaf
Wakaf berasal dari bahasa Arab al-waqf bentuk dasar dari kata
―waqafa-yaqifu-waqfan‖. Kata al-waqf semakna dengan al-habs bentuk dasar dari ―habasa-yahbisa-habsan‖ artinya menahan.58 Wakaf dalam bahasa Arab memiliki istilah yang terkadang bermakna objek atau benda yang diwakafkan (al-mauquf bih) atau dipakai dalam pengertian wakaf sebagai institusi seperti halnya dipakai dalam undang-undang di negara Mesir. Lain halnya penggunaan istilah wakaf di Indonesia yang mengandung makna objek yang diwakafkan atau institusi.59 Meskipun dalam istilah terdapat perbedaan penafsiran, tetapi hal tersebut telah disepakati bahwa makna wakaf merupakan menahan zatnya benda dan memanfaatkan hasilnya serta menyedekahkan manfaatnya.
57 Muhammad Daud Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat Dan Wakaf (Jakarta: UI Press, 1988), 62.
58 Sayyid Sabiq, Fiqh Al-Sunnah (Juz 3) (Beirut: Dar al-Fikr, 1971), 515.
59 Juhaya S. Praja, Perwakafan Di Indonesia: Sejarah, Pemikiran, Hukum, Dan Perkembangannya (Bandung: Yayasan Piara, 1995), 6.
Di Barat, kata-kata yang digunakan untuk menyatakan sejenis wakaf dapat berupa foundation endowment corporation dan trust.60 Foundation menurut kamus Oxford adalah harta yang dikhususkan untuk kepentingan organisasi selamanya. Endowment adalah pemberian. Di antara yang termasuk dalam pemberian adalah shadaqah untuk istri dan warisan yang ditinggalkan baginya. Kata pemberian juga mencakup harta yang diberikan kepada seseorang atau sumbangan organisasi atau pendapatan yang diperoleh secara berkala oleh seseorang maupun organisasi. Corporation adalah badan hukum yang dibentuk oleh undang-undang terlepas dari para tokoh yang merintisnya. Corporation sebagian ada yang berorientasi profit, seperti koperasi atau yayasan bisnis, dan sebagian yang lainnya tidak berorientasi profit. Trust mengandung arti kepercayaan atau kecenderungan kepada seseorang yang mempunyai otoritas tertinggi untuk mengatur harta yang sengaja ditahan untuk kepentingan orang lain. Trust juga merupakan organisasi atau perusahaan yang dikelola oleh orang-orang yang diberi mandat atau kuasa dan berbeda dengan perusahaan yang dikelola oleh pemiliknya. Jadi, penambahan kata philanthropi (kedermawanan) dan charity (murah hati) bagi keempat istilah wakaf di atas pada hakikatnya mengandung arti untuk orang lain atau melakukan kebaikan bagi orang lain atau memberi kemanfaatan umum.61
Menurut Encyclopedia Britania, wakaf adalah suatu institusi khusus dalam Islam dengan jalan pemilik melepaskan hak miliknya untuk selanjutnya menjadi milik Allah dengan maksud agar harta tersebut dimanfaatkan selamanya untuk tujuan kebaikan, termasuk untuk keperluan keluarganya.62
60 Monzer Kahf, Al-Waqf Al-Islami: Tathawwuruh, Idaratuh, Tanmiyyatuh (Damaskus:
Dar Al-Fikr, 2000), 62.
61 Abdurrohman Kasdi, ―Ikhtiar Pengembangan Wakaf Produktif: Studi Analisis Pemikiran Monzer Kahf Tentang Wakaf Produktif,‖ Equilibrium: Jurnal Ekonomi Syariah 1, no. 2 (2013): 166–167.
62 Tata Fathurrohman, Wakaf Dan Usaha Penanggulangan Kemiskinan Tinjauan Hukum Islam Dan Perundang-Undangan Indonesia, Disertasi (Jakarta, 2006), 37.
Menurut al-Kabisi,63 para ahli fikih mazhab Syafi'i mendefinisikan wakaf dengan beragam definisi yang dapat diringkas sebagai berikut.
a. Imam Nawawi mendefinisikan wakaf dengan menahan harta yang dapat diambil manfaatnya bukan untuk dirinya, sementara benda itu tetap ada dan digunakan manfaatnya untuk kebaikan dan mendekatkan diri kepada Allah. Definisi ini dikutip oleh al-Munawi dalam bukunya al-Taisir.
b. Al-Syarbini al-Khatib dan Ramli al-Kabir mendefinisikan wakaf dengan menahan harta yang bisa diambil manfaatnya dengan menjaga keamanan benda tersebut dan memutuskan kepemilikan barang tersebut dari pemiliknya untuk hal-hal yang diperbolehkan.
c. Ibnu Hajar al-Haitami dan Syekh Umairah mendefinisikan wakaf dengan menahan harta yang bisa dimanfaatkan dengan menjaga keutuhan harta tersebut dengan memutuskan kepemilikan barang tersebut dari pemiliknya untuk hal yang dibolehkan.
d. Syaikh Syihabuddin al-Qalyubi mendefinisikan wakaf dengan menahan harta untuk dimanfaatkan dalam hal yang dibolehkan dengan menjaga keutuhan harta tersebut.
Titik persamaan dari masing-masing definisi itu, wakaf adalah menahan harta yang bisa disalurkan kepada jalan yang dibolehkan.
Adapun pendapat lain dari mazhab Maliki yang menerangkan bahwa wakaf itu tidak melepaskan harta yang diwakafkan dari kepemilikan wakif.
Namun wakaf tersebut mencegah wakif melakukan tindakan yang dapat melepaskan kepemilikannya atas harta tersebut kepada yang lain. Lalu wakif berkewajiban menyedekahkan manfaatnya serta tidak boleh menarik hartanya yang dapat digunakan oleh mustahiq (penerima wakaf).
Walaupun disisi lain bentuknya seperti upah atau menjadikan hasilnya untuk dapat digunakan seperti mewakafkan uang. Wakaf dilakukan dengan mengucapkan lafaz wakaf untuk masa tertentu sesuai dengan keinginan pemilik. Dapat dikatakan bahwa pemilik harta menahan benda yang diwakafkan tersebut dari penggunaan secara kepemilikan, tetapi membolehkan pemanfaatan hasilnya untuk tujuan kebajikan. Artinya ialah
63 Muhammad Abid Abdullah Al-Kabisi, Hukum Wakaf Kajian Kontemporer (Jakarta:
Kerjasama Dompet Dhuafa Republika dan Iman, 2004), 40–41.
pemberian manfaat benda secara wajar sedang benda tersebut tetap menjadi milik si wakif. Dalam hal ini perwakafannya berlaku pada masa tertentu dan tidak boleh disyaratkan sebagai wakaf yang kekal.64
Wakaf juga merupakan salah satu bentuk kegiatan ibadah yang sangat dianjurkan untuk umat Islam. Hal ini dikarenakan pahala orang yang mewakafkan sesuatu hal akan selalu mengalir meskipun sang wakif telah wafat. Dalam sejarahnya, wakaf ialah sebuah instrumen maliyah, yang sebagai ajaran orang tersebut tergolong pada syariah sifatnya sakral dan suci. Adapun pemahaman dan implementasi wakaf tersebut tergolong pada fiqh (upaya yang bersifat kemanusiaan). Dalam hal ini dapat dipahami bahwa praktik dan realisasi wakaf tersebut ada kaitannya dengan realitas dan kepentingan umat di masing-masing negara muslim (termasuk Indonesia).65
Lebih lanjut, dalam penjelasan lengkap Hukum Allah dijelaskan:
―Meskipun tidak ada ayat Al-Qur‘an yang secara khusus berbicara tentang wakaf atau penetapan harta wakaf, indikasi terkandung dalam sejumlah ayat Al-Qur‘an yang banyak bertebaran di sana-sini dengan tema ―al-Infāq fi sabililāh‖ yang artinya mengeluarkan harta di jalan Allah‖. Sejauh ini dapat dipahami bahwa, ada landasan hukum ―wakaf tunai‖ (Waqf wa al-Nuqūd) ―dan‖ wakaf ―(al-Waqf) yang terdiri dari dalil-dalil yang disepakati oleh para ulama (al-adillah al-muttafaq 'alaih), yaitu: Al-Qur‘an dan hadis, dan ada juga dari dalil-dalil yang masih diperdebatkan (al-adillah al-mukhthalaf) yaitu "pendapat para ulama" menurut ijutaihad masing-masing yang boleh menjadi Istihsān, Mashālih al-Mursalah atau Istishlāh dan lain-lain.
64 Praja, Perwakafan Di Indonesia: Sejarah, Pemikiran, Hukum, Dan Perkembangannya.
65 Akh. Minhaji, Nation State Dan Implikasinya Terhadap Pemikiran Dan Implementasi Hukum Wakaf (Yogyakarta: Pilar Media, 2005).
Tabel 2.1. Perbandingan Empat Mazhab Tentang Wakaf66
Poin Imam
Hanafi
Imam
Maliki Imam Syafi’i Imam Hanbali
Harta Wakaf
Tidak bergerak dan
bergerak dengan
syarat
Tidak bergerak dan
bergerak
Tidak bergerak dan bergerak
Tidak membedakan
Kepemilikan
harta wakaf Wakif Wakif (periodik)
Nadzir dan
Mauquf ‗alaih - Hak waris
harta wakaf Wakif
Wakif (setelah periode wakaf)
Tidak ada -
Hak jual harta wakaf
Diserahkan keputusan
wakif
Tidak boleh (jika tidak bergerak)
Tidak boleh (selama masih
bermanfaat)
Boleh (dikonversikan) Tujuan
wakaf Produktifitas Produktifitas Shadaqah/
hibah harta
Optimalisasi dan pemberdayaan Sejarah perkembangan wakaf di Indonesia sejalan dengan penyebaran Islam di seluruh Indonesia wilayah Nusantara. Di samping para ulama melakukan dakwah Islam, para ulama juga mengajarkan wakaf pada umat. Kebutuhan akan tempat ibadah, seperti masjid, surau, mendorong umat Islam untuk menyerahkan tanahnya sebagai wakaf.
Ajaran tersebut terus berkembang, seiring perkembangan zaman dengan banyaknya mendirikan masjid bersejarah yang dibangun di atas tanah wakaf.67 Di Indonesia sendiri, ada beberapa bentuk penyerahan harta untuk kepentingan umum yang mirip dengan wakaf, seperti huma pada zaman Empu Sendok di Ponorogo. Huma merupakan tanah atau hutan yang diberikan oleh raja kepada rakyatnya untuk dipergunakan dan diambil manfaatnya.68 Di Banten terdapat huma Serang, yakni lading yang setiap tahun dikerjakan secara bersama dan hasilnya dipergunakan untuk
66 Siti Nur Indah Rofiqoh et al., Model Islamic Corporate Governance Pada Pengelolaan Wakaf Uang Berbasis Wirausaha (Surabaya: Scopindo Media Pustaka, 2020), 4.
67 Tholhah Hasan, Perkembangan Kebijakan Wakaf Di Indonesia (Republika, n.d.).
68 Praja, Perwakafan Di Indonesia: Sejarah, Pemikiran, Hukum, Dan Perkembangannya.
kepentingan bersama.69 Di Lombok juga terdapat tanah adat yang disebut dengan tanah pareman, yaitu tanah yang dibebaskan dari pajak untuk diserahkan kepada desa-desa, subak-subak atau candi-candi demi kepentingan bersama.70 Di Minang Kabau dikenal dengan tanah pusako tinggi yang merupakan tanah suku atau kaum yang dikelola secara turun temurun dengan menghasilkan manfaat secara bersama-sama demi membiayai kebutuhan ekonomi keluarga. Tanah ini tidak boleh dijual dan dipindahtangankan kepada pihak lain. Seiring dengan perkembangan sosial masyarakat Islam, praktik perwakafan di Indonesia mengalami kemajuan dari waktu ke waktu.
Kemudian hukum wakaf dinyatakan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. Rukun wakaf menurut fiqh ada empat macam, yaitu wakif (orang yang mewakafkan), mauquf‟alaih (pihak yang diserahi wakaf), mauquf (harta yang diwakafkan), shighat atau iqrar (pernyataan atau ikrar wakif sebagai suatu kehendak untuk mewakafkan).71 Selain itu, bentuk-bentuk wakaf ada dua, yaitu wakaf ahli dan wakaf khoiri. Wakaf ahli adalah wakaf yang ditujukan kepada orang-orang tertentu, seorang atau lebih, baik keluarga si wakif ataupun bukan. Wakaf ahli juga sering disebut dengan wakaf dzurri atau wakaf „alal aulad ialah wakaf yang ditujukan untuk kepentingan dan jaminan sosial dalam lingkungan keluarga atau kerabat sendiri.72 Sebaliknya untuk wakaf khoiri ialah wakaf yang secara tegas untuk kepentingan keagamaan atau kemasyarakatan (kepentingan umum). Wakaf ini ditujukan untuk kepentingan umum dengan tidak terbatas pada aspek penggunaannya yang mencakup semua aspek untuk kepentingan dan kesejahteraan umat Islam pada umumnya.
Kepentingan umum tersebut bisa untuk keagamaan, jaminan sosial, pendidikan, kesehatan, keamanan, dan lain-lain, yang dapat berwujud seperti pembangunan masjid, sekolah, jembatan, rumah sakit, panti asuhan anak yatim, dan sarana sosial lainnya.
69 Uswatun Hasanah, Peran Wakaf Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Sosial (Studi Kasus Pengelolaan Wakaf Di Jakarta Selatan) (Jakarta: IAUB Syarif Hidayatullah, 1997).
70 Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat Dan Wakaf.
71 Asy-Syarbini, Mughni Al-Muhtaj (Juz II) (Kairo: Mushthafa Halabi, n.d.).
72 UU No. 41 Tahun 2004 Tentang Wakaf Pasal 1 Ayat (1), n.d.
Selanjutnya akan dijelaskan terkait dengan wakaf menurut hukum nasional. Pada UU No. 41 Tahun 2004 dijelaskan terkait dengan aturan tentang wakaf. Adapun peraturan lain yang menjelaskan terkait dengan wakaf, yaitu pasal 70 UU No. 41 Tahun 2004. Bunyi pasal tersebut adalah
―semua peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai perwakafan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dan/atau belum diganti dengan peraturan yang baru berdasarkan undang-undang ini.‖ Sementara itu PP No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan Tanah Milik, pasal 1 (1), berbunyi bahwa ―wakaf adalah perbuatan hukum seseorang atau badan hukum yang memisahkan sebagian dari harta kekayaan yang berupa tanah milik dan melembagakannya untuk selama-lamanya demi kepentingan peribadatan atau keperluan umum lainnya sesuai dengan ajaran agama Islam.‖
Wakaf mempunyai peranan penting dalam pengembangan kehidupan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat. Secara historis, wakaf telah ada sejak awal perkembangan Islam, baik dalam bentuk wakaf aset tidak bergerak maupun dalam bentuk wakaf benda bergerak. Wakaf adalah menahan harta yang dapat dimanfaatkan dengan tetapnya zat benda yang menghalangi wakif dan lainnya dari tindakan hukum yang dibolehkan yang bertujuan untuk kebaikan dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah.73 Para ulama sepakat bahwa harta wakaf harus berbentuk benda yang bisa dimanfaatkan (mal mutaqawwim). Namun, terdapat perbedaan pendapat terkait dengan kekalnya benda (ta‟bid). Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa ta‟bid merupakan syarat bagi benda wakaf. Sementara, ulama Hanafiyah menyatakan bahwa benda yang diwakafkan tidak mesti bersifat ta‟bid.74
Dalam rangka mengembangkan wakaf yang bisa memberikan manfaat kepada umat, pengelolaan wakaf harus ditopang oleh nadzir yang berkompeten di bidang manajemen wakaf. Selama ini, harta wakaf sering kali belum bisa dimanfaatkan secara optimal karena persoalan kualitas nadzir. Peran nadzir sangat strategis sebagai pelaksana dari fungsi-fungsi
73 Wahbah Al-Zuhaili, Al-Washaya Wa Al-Waqf Fi Al-Fiqh Al-Islami (Damaskus: Dar al-Fikr, 1996).
74 Ibn ‘Abidin, Radd Al-Mukhtar „ala Al-Dar Al-Mukhtar (Beirut: Dar Kutub
al-‗Ilmiyah, 1994).
organisasi wakaf. Setidaknya, ada tiga kata kunci yang dapat dijadikan alat ukur kualitas manajemen organisasi pengelola wakaf. Pertama, amanah.
Sifat amanah merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki oleh setiap nadzir wakaf. Kedua, sikap profesional. Sifat amanah saja belum cukup.
Sifat tersebut harus disertai dengan profesionalitas dalam pengelolaan wakaf. Ketiga, transparan. Dengan transparansi, sistem kontrol yang baik dan akuntabilitas pengelola akan tercipta.75
Saat ini wakaf tidak hanya berhenti pada wakaf benda tidak bergerak saja. Wakaf uang sudah mulai banyak dilakukan oleh banyak pihak di berbagai negara. Wakaf uang sebagai instrumen filantropi Islam sebenarnya relatif baru. Menurut Mannan, wakaf uang dapat berperan sebagai suplemen pendanaan berbagai proyek investasi sosial. Di samping itu, sertifikat wakaf uang juga merupakan investasi sosial yang strategis dan bisa menjadi model yang paling efektif dalam akumulasi modal sosial.76
Wakaf terbagi menjadi beberapa macam berdasarkan waktunya, tujuan, penggunaan barangnya, bentuk manajemen, dan jenis barangnya.
Berikut akan dijelaskan satu per satu:
a. Wakaf Berdasarkan Batasan Waktu
Wakaf ini dibagi lagi menjadi dua macam, yaitu wakaf mu‟abbad (wakaf selamanya, apabila terbentuk barang yang bersifat abadi, seperti tanah dan bangunan tanahnya) dan wakaf mu‟aqqat (sementara dalam waktu tertentu, seperti barang yang diwakafkan berupa barang yang mudah rusak dan dikarenakan keinginan wakif yang memberikan batasan waktu ketika mewakafkan barangnya).
b. Wakaf Berdasarkan Tujuan
Wakaf ini terbagi menjadi tiga macam, yaitu wakaf ahli yang mana ditujukan kepada orang-orang tertentu, seorang atau lebih, keluarga wakif atau bukan. Wakah ahli bisa disebut juga dengan wakaf dzurri yang mana bertujuan untuk memberikan manfaat kepada wakif, keluarga, keturunan, dan orang-orang tertentu tanpa melihat kaya atau miskin, sehat atau sakit, tua atau muda. Lalu wakaf khairi yang
75 Rozalinda, Manajemen Wakaf Produktif (Jakarta: Rajawali Pers, 2015).
76 Muhammad Abdul Mannan, Sertifikat Wakaf Tunai: Sebuah Inovasi Instrumen Keuangan Islam (Jakarta: Ciber, 2001).
bertujuan untuk kepentingan agama atau kemasyarakatan yang diserahkan untuk keperluan umum, seperti pembangunan masjid, sekolah, dan lain sebagainya. Terakhir yakni gabungan keduanya (musytarak) bertujuan wakafnya untuk umum dan keluarga secara bersamaan.
c. Wakaf Berdasarkan Penggunaan Tujuan
Wakaf ini terbagi menjadi dua macam, yaitu langsung (wakaf pokok barangnya digunakan untuk mencapai tujuannya seperti rumah sakit, masjid, dan lain sebagainya) dan produktif (wakaf pokok barangnya digunakan untuk kegiatan produksi dan hasilnya diperuntukkan untuk tujuan wakaf.
d. Wakaf Berdasarkan Bentuk Manajemen
Wakaf ini terbagi menjadi empat macam, wakaf dikelola oleh wakif sendiri atau salah satu keturunannya, wakaf yang dikelola oleh orang lain ditujukan wakif mewakili suatu jabatan atau lembaga tertentu, seperti imam masjid, wakaf yang dokumennya telah hilang, sehingga hakim menunjuk seseorang untuk mengatur wakaf tersebut, dan wakaf yang dikelola oleh pemerintah.
e. Wakaf Berdasarkan Jenis Barang
Wakaf tersebut mencakup semua jenis harta benda. Di antaranya benda wakaf berupa tanah bukan berupa pertanian. Wakaf harta beda bergerak yang dijadikan pokok tetap seperti alat-alat pertanian, Al-Qur‘an, sajadah untuk masjid, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan semua benda bergerak akan punah dan tidak berfungsi, maka benda wakaf tersebut akan berakhir dengan hilangnya bentuk benda wakaf atau kerusakannya.77
Manfaat wakaf dalam kehidupan dapat dilihat dari segi hikmahnya.
setiap peraturan yang disyariatkan Allah Swt. kepada makhluk-Nya, baik berupa perintah maupun larangan pasti mempunyai hikmah dan manfaat bagi kehidupan manusia, khususnya bagi umat Islam. Manfaat itu bisa dirasakan di dunia sekarang maupun setelah di akhirat nanti, yaitu berupa pahala (didasarkan pada janji Allah). Ibadah wakaf yang tergolong pada
77 Abdurrohman Kasdi, Fiqih Wakaf Dari Wa Wakaf Klasik Hingga Wakaf Produktif (Yogyakarta: Idea Press, 2017).
perbuatan sunnah ini banyak sekali hikmah yang terkandung di dalamnya antara lain:78
a. Harta benda yang diwakafkan dapat tetap terpelihara dan terjamin kelangsungannya tanpa khawatir barangnya hilang atau pindah tangan. Karena secara prinsip, barang wakaf tidak boleh ditasarufkan, baik itu dalam bentuk dijual, dihibahkan atau diwariskan.
b. Pahala atau keuntungan bagi si wakif akan tetap mengalir walaupun suatu ketika ia telah meninggal dunia, selagi benda wakaf itu masih ada dan dapat dimanfaatkan. Oleh sebab itu, benda wakaf itu diharuskan tahan lama. Dalam keadaan seperti ini, wakaf menjadi inventaris untuk meraih keuntungan pahala dari Allah. Selain itu, wakaf bisa mendatangkan balasan di dunia, berupa kepuasan batin atau semakin terciptanya ikatan ukhuwah islamiyah. Bagi perbuatan-perbuatan yang baik akan senantiasa mengalir pahalanya meskipun pelaku telah meninggal dunia. Disebutkan Rasulullah dalam sebuah hadis yang diriwayatkan Ibnu Majah, "Sesungguhnya sebagian amalan dan kebaikan orang yang beriman yang dapat mengikutinya sesudah ia meninggal ialah ilmu yang disebarluaskan, anak saleh yang ditinggalkan, Al-Qur‘an yang diwariskan, masjid yang didirikan, rumah yang dibangun untuk musafir, sungai yang dialirkan atau sedekah yang ia keluarkan dari harta bendanya pada waktu ia masih sehat/hidup. Sedekah ini juga dapat menyusulnya sesudah orang tersebut meninggal dunia."
c. Wakaf merupakan salah satu sumber dana yang sangat penting manfaatnya bagi kehidupan agama dan umat. Antara lain untuk pembinaan mental spiritual dan pembangunan segi fisik. Mengingat besarnya hikmah dan manfaatnya terhadap kehidupan umat, maka Nabi Muhammad saw. sendiri dan para sahabat dahulu dengan ikhlas mewakafkan masjid, tanah, sumur, kebun dan kuda milik mereka serta harta benda lainnya untuk kemajuan agama dan umat Islam umumnya. Langkah nabi dan para sahabat itu kemudian kita
78 Qodariyah Barkah et al., Fikih Zakat, Sedekah, Dan Wakaf (Jakarta: Prenadamedia Group, 2020), 222–223.
ikuti hingga sekarang, walaupun belum begitu terkelola secara maksimal.
Di samping mempunyai nilai sebagai tanda syukur seorang hamba atas nikmat yang telah dianugerahkan Allah, wakaf juga memiliki fungsi sosial. Dengan wakaf, di samping dana sosial lainnya, kesenjangan di antara kelompok yang berada dan yang tidak berada dapat ditipiskan dan dihilangkan, terutama dalam bentuk wakaf yang dikhususkan kepada kelompok yang tidak mampu. Dengan wakaf, penyediaan sarana ibadah dan pendidikan, seperti masjid, musala dan gedung-gedung pendidikan, akan lebih memungkinkan dengan menggunakan potensi wakaf yang ada.
Hikmah wakaf itu termasuk hikmah yang paling besar dan manfaatnya kembali pada orang yang menerima wakaf. Di antara orang fakir, ada juga kelompok orang yang tidak mampu berusaha, bisa karena masih kecil atau karena lemah tenaganya oleh sebab penyakit atau selain penyakit. Kondisi ini seperti orang yang tidak mampu bekerja keras di perusahaan-perusahaan atau tempat lainnya yang termasuk pekerjaan berat.
Hikmah wakaf dapat membantu pihak yang miskin, baik miskin dalam artian ekonomi maupun miskin tenaga. Di lain pihak, wakaf juga bertujuan untuk meningkatkan pembangunan keagamaan. Di samping itu, hikmah lain wakaf ialah dapat membentuk jiwa sosial di tengah-tengah masyarakat. Wakaf juga dapat mendidik manusia agar mempunyai tenggang rasa terhadap sesamanya. Si kaya akan merasa bertanggung jawab terhadap si miskin, sehingga muncul saling melindungi dan sebagai tindak lanjutnya akan terjalin hubungan ukhuwah islamiyah dan menjadi persatuan umat. Apabila orang-orang kaya mewakafkan hartanya kepada orang-orang fakir, maka ia akan mendapatkan pahala. Wakaf tersebut dapat menggembirakan pihak fakir miskin, karena telah mengeluarkan dari belenggu kesulitan dan melepaskan mereka dari malapetaka yang menimpa selama ini. Bagi wakif, ia akan menerima kemuliaan dan balasan dari Allah. Dampak positif langsung dari ibadah wakaf itu akan membentuk tali hubungan yang erat antara si wakif dengan mauquf 'alaih atau antara si kaya dan si miskin sehingga terciptalah rasa kesetiakawanan sosial.
Di sisi lain, tujuan wakaf adalah untuk meningkatkan pembangunan di segala bidang, baik pembangunan fisik rumah ibadah, pendidikan dan
sarana sosial. Adapun pembangunan non fisik (spiritual), wakaf dapat menambah ketakwaan kepada Allah Swt. Melalui ibadah wakaf, dua belah pihak memperoleh manfaatnya, baik bagi wakif (orang yang berwakaf) atau bagi si mauquf 'alaih, karena terlepas dari kesulitan. Bahkan, wakaf mampu menjadi sumber dana umat Islam untuk mengembangkan dakwah islamiyah, tentu dengan mendayagunakan harta wakaf secara optimal.
Dengan demikian, dapat diketahui bila wakaf itu dijalankan atau dilakukan menurut semestinya, maka akan meningkatkan rasa sosial di tengah-tengah masyarakat sehingga terbentuk atau terjalinlah hubungan yang harmonis antara si kaya dengan si miskin. Begitu juga sebaliknya, si miskin akan timbul rasa syukur kepada Allah Swt. yang telah memberikan rezeki padanya. Di samping itu, melalui wakaf akan timbul rasa hormat dan terima kasih kepada si kaya yang telah menolongnya, sehingga akhirnya timbul sinar keimanan bagi setiap individu dan terhindar dari segala perpecahan dan perselisihan di antara anggota masyarakat. Memang inilah yang diharapkan dan menjadi sasaran dari ajaran agama Islam.79