• Tidak ada hasil yang ditemukan

Optimalisasi Pendayagunaan ZISWAF di Rumah

BAB IV SINERGI ZIS DAN WAKAF DI RUMAH SAKIT

B. Optimalisasi Pendayagunaan ZISWAF di Rumah

ZIS untuk bidang kesehatan. KLL RSU Muhammadiyah memiliki prioritas paling tinggi terhadap pendistribusian di bidang kesehatan, yaitu sebesar 60% dari total distribusi pada semua bidang. Selanjutnya, JP-ZIS RSU Muslimat mendistribusikan dana ZIS sebesar 44% untuk bidang kesehatan.

Sementara, KLL RSU ‗Aisyiyah memberikan porsi 18% untuk distribusi pada bidang kesehatan.

Tabel 4.1. Persentase Distribusi Bidang Kesehatan

LEMBAGA Distribusi Bidang Kesehatan (Rp) Persentase

KLL RSU ‗Aisyiyah 114.297.100 18%

KLL RSU Muhammadiyah 76.553.400 60%

JP-ZIS RSU Muslimat 44.320.300 44%

B. Optimalisasi Pendayagunaan ZISWAF di Rumah Sakit

Tabel 4.2. Data Variabel Input dan Output

DMU Input Output

Operasional Donatur Koleksi Distribusi Mustahiq

‘Aisyiyah 96.711.510 373 727.093.254 629.510.600 937 Muhammadiyah 19.994.150 416 193.228.848 127.318.900 61

Muslimat 3.364.000 263 132.394.328 99.652.300 80 Sumber: Data RSU tahun 2021 (diolah)

Berdasarkan tabel 4.1., jumlah dana ZISWAF terbesar yang dikelola adalah pada KLL RSU ‗Aisyiyah dan dana terkecil pada JP-ZIS RSU Muslimat. Dana operasional pada KLL RSU ‗Aisyiyah juga paling besar, sementara kebutuhan dana operasional terkecil pada JP-ZIS RSU Muslimat. Bahkan, kebutuhan dana operasional JP-ZIS RSU Muslimat jauh lebih kecil karena lembaga tersebut tidak mengambil hak amil.

Mereka mengambil kebijakan tersebut karena pengelola JP-ZIS bukan orang yang tersendiri, tetapi dikelola oleh karyawan RSU Muslimat bagian keuangan dan humas.

Data variabel input dan output tersebut kemudian diolah menggunakan DEAP Software. Tingkat efisiensi berdasarkan hasil pengolahan adalah sebagai berikut.

Tabel 4.3. Tingkat Efisiensi RSU Ponorogo

DMU CRS VRS Skala

‘Aisyiyah 0.653 1.000 0.653

Muhammadiyah 0.730 0.962 0.759

Muslimat 1.000 1.000 1.000

Hasil tersebut menunjukkan bahwa dari ketiga RSU yang diteliti, JP-ZIS RSU Muslimat paling efisien, baik pada Constant Return to Scale (CRS), Variable Return to Scale (VRS), maupun skala efisiensi dengan nilai 1,000.138 Dengan menggunakan VRS, ketiga pengelola ZIS di tiga RSU yang diteliti sangat efisien, meskipun KLL RSU Muhammadiyah agak di bawah sedikit nilainya. Namun jika dilihat dengan menggunakan

138 Model CRS mengasumsikan bahwa rasio antara penambahan input dan output adalah sama serta setiap perusahaan beroperasi pada skala yang optimal. Model VRS beranggapan bahwa perusahaan tidak atau belum beroperasi pada skala yang optimal serta rasio antara penambahan input dan output tidak sama.

CRS, ada perbedaan yang cukup signifikan dalam efisiensi. Secara rangking, JP-ZIS RSU Muslimat berada pada ranking satu, diikuti KLL RSU Muhammadiyah dan KLL RSU ‗Aisyiyah.

Berdasarkan hasil analisis tersebut, tampak bahwa pengelola ZISWAF dengan model Integrated Islamic Philanthropy Institution, yaitu JP-ZIS RSU Muslimat lebih efisien dari pada pengelola ZISWAF dengan model External Islamic Philanthropy Institution, yaitu KLL RSU

‗Aisyiyah dan RSU Muhammadiyah. JP-ZIS RSU Muslimat bisa dikatakan paling efisien dalam pendekatan input, karena biaya operasional yang biasanya diambil dari hak amil ditiadakan. JP-ZIS RSU Muslimat mendistribusikan seluruh dana yang terkumpul, setelah dikurangi 10%

yang disetorkan ke LAZISNU, kepada para mustahiq. Biaya operasional yang timbul dari kegiatan pendistribusian tersebut ditanggung oleh pihak RSU Muslimat. Contohnya, pada kegiatan khitanan dan ―yatiman‖ yang diadakan oleh JP-ZIS RSU Muslimat, biaya operasional pada kegiatan tersebut ditanggung oleh RSU Muslimat.

Selanjutnya, berdasarkan hasil wawancara pada ketiga lembaga tersebut, sudah ada upaya optimalisasi ZISWAF di rumah sakit. Beberapa strategi yang digunakan adalah:

1. Penguatan SDM

Tata kelola dan pendayagunaan ZISWAF yang optimal membutuhkan kompetensi dan kreativitas pengelolanya. ZISWAF ketika dikelola secara alamiah dan mengalir apa adanya tentu tidak bisa membuahkan hasil yang optimal. Oleh karena itu, penguatan SDM pengelola ZISWAF agar berkompeten, akuntabel, serta kreatif mutlak harus dilakukan. Penguatan SDM sangat diperlukan dan dirasakan pada pengelolaan JP-ZIS RSU Muslimat. Meskipun sudah ada lembaga filantropi tersendiri, namun pelaksana operasional JP-ZIS RSU Muslimat masih dipegang oleh karyawan rumah sakit, terutama bagian keuangan dan humas. Oleh karena itu, pengelola merasa tidak bisa maksimal dalam mengelola dana ZIS yang ada. Dengan pengelolaan yang terpisah, JP ZIS memiliki manajemen operasional tersendiri agar bisa fokus dan lebih maksimal dengan program-program terencana dalam pengelolaan dana ZISWAF. Sementara, KLL RSU ‗Aisyiyah dan RSU Muhammadiyah

terus berupaya meningkatkan kompetensi pengelola melalui pelatihan-pelatihan dan studi banding.

2. Fundraising

Penghimpunan dana ZISWAF pada tiga rumah sakit yang diteliti masih bersifat internal. Donatur hanya terbatas pada karyawan rumah sakit tersebut melalui pemotongan 2,5% dari karyawan. Pengelola ZISWAF pada masing-masing rumah sakit perlu melakukan langkah-langkah kreatif agar bisa menarik dari sumber dana lain, baik dari pihak internal maupun pihak eksternal untuk berpartisipasi sebagai donatur. Upaya tersebut di antaranya selain dalam bentuk pelaporan kepada pihak terkait, KLL RSU Muhammadiyah memberikan bukti setor zakat dalam bentuk kuitansi yang bisa dijadikan pengurang penghasilan kena pajak. Kuitansi ini bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi muzakki (para dokter) untuk membayar zakat melalui KLL di luar zakat yang sudah dibayar sebesar 2,5% dari gaji yang dipotong oleh bendahara.

3. Pemberdayaan mustahiq

Tujuan utama ZISWAF adalah terwujudnya kesejahteraan umat.

Oleh karena itu, pendayagunaan ZISWAF yang bersifat pemberdayaan menjadi penting. Hal ini dilakukan agar masyarakat kurang mampu (mustahiq) menjadi masyarakat yang berdaya dan sejahtera melalui kegiatan pendayagunaan ZISWAF yang bersifat pemberdayaan tersebut.

Dalam upaya ini, ketiga lembaga filantropi di tiga RSU yang diteliti, yaitu KLL RSU Aisyiyah, KLL RSU Muhammadiyah, dan JP-ZIS RSU Muslimat bersinergi dengan beberapa pihak seperti karyawan rumah sakit dalam bentuk partisipasi aktif karyawan untuk mengawal pasien duafa yang direkomendasikan untuk mendapatkan santunan agar tepat sasaran.

Karyawan RS memberikan data penerima santunan, seperti kondisi perekonomian berdasarkan informasi yang disampaikan oleh petugas.

Selain pemberian santunan, KLL juga melakukan upaya pendampingan usaha bagi pasien atau keluarga pasien penerima santunan.

4. Peningkatan public trust dan akuntabilitas lembaga

Sebagai lembaga pengelola dana ZISWAF, terdapat kewajiban untuk mempertanggungjawabkan pengelolaannya dalam bentuk laporan secara berkala kepada stakeholder dan masyarakat. Hal ini penting, karena kepercayaan publik tidak bisa muncul begitu saja. Trust bisa muncul dan menguat jika lembaga mampu memberikan akuntabilitas kepada masyarakat. Ketika trust sudah terbentuk, maka masyarakat akan terdorong untuk berderma melalui lembaga tersebut. KLL RSU Aisyiyah mempertanggungjawabkan pengelolaan dana dalam bentuk laporan secara berkala kepada Lazismu daerah. Selain dalam bentuk laporan, pertanggungjawaban juga dalam bentuk kesiapannya untuk dilakukan audit keuangan oleh Kantor Akuntan Publik yang ditunjuk. Sebagaimana disampaikan Hasanah, bahwa ―KLL RSU 'Aisyiyah Ponorogo juga mengikuti Audit Keuangan setiap tahunnya. KLL RSU ‗Aisyiyah memperoleh opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) Audit Keuangan Tahun 2020. Dan saat ini sudah selesai proses audit keuangan 2021, dan tinggal menunggu hasil. Sementara, Kantor Layanan Lazismu (KLL) RSU Muhammadiyah mempertanggungjawabkan pengelolaannya kepada pihak terkait dalam bentuk pelaporan singkat ke Direktur RS yang dilakukan 6 bulan sekali. Pelaporan juga disampaikan ke LAZISMU Kota Ponorogo dan kepada para donatur (muzakki) dalam bentuk buletin tahunan. Selain itu pelaporan juga disampaikan kepada para donatur untuk program pengadaan sarana prasarana ruang rawat inap Gedung Ahmad Dahlan melalui WA Group Munfiq. Audit keuangan ini juga diberlakukan di KLL RSU Muhammadiyah dengan meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Hasil Pemeriksaan Laporan Keuangan Tahun 2020.

C. Islamic Integrated Philanthropy untuk Optimalisasi