• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Kelola ZISWAF di Rumah Sakit Islam

BAB IV SINERGI ZIS DAN WAKAF DI RUMAH SAKIT

A. Tata Kelola ZISWAF di Rumah Sakit Islam

dari spirit Islam. Filantropi merupakan ruh dalam ajaran Islam, karena Islam mengatur keseimbangan hubungan secara vertikal ataupun horizontal yang diekspresikan dalam keimanan dan amal saleh.

Keseimbangan ini bisa menjadi bentuk refleksi ajaran Islam sebagai agama bernuansa filantropis. Oleh karena itu filantropi Islam bisa diartikan sebagai aktivitas dalam rangka meningkatkan kualitas hidup masyarakat dengan kegiatan ―memberi‖ dan berbagi. Dan aktivitas memberi tidak bisa dilakukan tanpa adanya objek untuk bisa diserahkan, yang salah satunya bisa berwujud harta kekayaan. Dalam kaitan ini Al-Qur‘an menunjukkan beberapa instrumen formal untuk penyaluran dan pemerataan harta kekayaan yang lazim disebut sebagai aktivitas filantropi dengan beberapa institusi, yaitu zakat, infaq, dan shadaqah, wakaf.133

Bagi orang-orang yang memiliki kekayaan, ada banyak faktor pendorong yang memotivasi mereka untuk menyumbang dan berderma.

Faktor pendorong utama adalah karena fakta bahwa tindakan amal mempengaruhi banyak dimensi manusia. Pertama, manusia tidak hanya dapat memelihara iman mereka (yaitu, mematuhi aturan Allah dan menunjukkan rasa syukur seorang hamba kepada Allah) dan memperkuat

133 Huda, ―Konfigurasi Infak Sedekah, Zakat, Dan Wakaf Untuk Kemandirian Umat:

Sebuah Model Integratif Membangun Filantropi Islam Di Era Indonesia Kontemporer,‖

127–129.

serta memurnikan jiwa mereka, tetapi juga mengharap rahmat dan pahala dari Allah. Kedua, tindakan amal juga mempengaruhi perilaku manusia.

Mereka mengembangkan perilaku manusia yang baik melalui kepedulian terhadap orang lain. Prinsip lebih baik memberi daripada menerima menjadi salah satu prinsip dasar filantropi Islam dengan membantu orang lain yang membutuhkan. Secara umum, perilaku yang baik dapat diwujudkan dengan berbuat baik kepada sesama manusia, memperlakukan umat manusia dengan baik, dan juga melindungi lingkungan. Ketiga, tindakan amal pada awalnya melibatkan transfer sumber daya dari Allah kepada umat manusia. Sebagai hamba yang baik, manusia sebagai pelaku ekonomi Islam mengkonsumsi sebagian dari sumber daya ini kepada pasangan, putra, putri, saudara kandung, dan kerabat dekat; dan sebagian diberikan ke orang lain, seperti orang yang membutuhkan, orang miskin dan panti asuhan, para musafir dan gharim, dan lain-lain.

Transfer sumber daya atau yang sering disebut dengan filantropi Islam dapat dalam dua bentuk yang berbeda, yaitu sedekah wajib dan sedekah sukarela. Sedekah wajib dapat berupa zakat pada mal dan zakat fitrah, sedangkan sedekah sukarela dapat melibatkan instrumen wakaf, hibah, dan infaq. Zakat (as a relief instrument) bertujuan untuk meringankan penderitaan sesama dan prinsip welas asih sebagai kekuatan pendorongnya. Sementara itu, wakaf (as an improvement instrument) berupaya memaksimalkan potensi individu manusia dan diberi energi oleh prinsip yang berusaha untuk memajukan individu dan masyarakatnya dan juga melestarikan bumi. Selanjutnya, instrumen filantropi lain seperti sedekah (as a reform instrument) berusaha untuk memecahkan masalah sosial dan menunjang dua instrumen filantropi sebelumnya. Oleh karena itu, instrumen filantropi Islam digunakan untuk membangun struktur dan layanan masyarakat yang lebih baik dan dimotivasi oleh tanggung jawab sosial.134

Instrumen filantropi Islam dimaksudkan untuk menjaga kemurnian jiwa. Instrumen tersebut membantu membangun ekonomi umat, membangun masyarakat dengan spirit kemanusiaan, mengurangi kesulitan ekonomi bagi orang miskin. Dengan demikian, filantropi Islam

134 Ismail, Abdullah, and Zaenal, ―Introduction,‖ 8–9.

mengurangi ketidaksetaraan dan menciptakan cinta dan persaudaraan.

Bahkan untuk pahala tak terbatas yang didapat manusia, mereka dengan senang hati melakukan aktivitas berbagi dan berderma untuk mewujudkan kebahagiaan sesama manusia.

Sumber daya dari pengeluaran hingga donasi mempengaruhi beberapa dimensi manusia. Tetapi itu juga mempengaruhi ekonomi manusia. Manusia memutuskan apakah akan membelanjakan pendapatan mereka sekarang atau di masa depan. Biasanya, jika manusia ingin menghabiskan sekarang, itu disebut pengeluaran untuk konsumsi.

Pengeluaran saat ini juga mencakup transfer sumber daya (sumbangan) untuk orang lain, sementara pendapatan yang dipertahankan untuk pengeluaran di masa depan dikenal sebagai tabungan. Tabungan ini dapat disalurkan ke dalam bentuk investasi dalam produksi yang akan memberikan profit agar dapat digunakan untuk konsumsi di masa depan.

Distribusi bergantung pada sumber daya donor. Setelah berderma terjadi, penerima menggunakannya untuk membeli barang dari produksi saat ini.

Baik donatur maupun penerima menggunakan barang-barang dari produksi saat ini. Tingkat konsumsi saat ini meningkat dan karenanya, produksi saat ini juga meningkat. Akibatnya, pengembalian investasi meningkat dan karenanya, jumlah tabungan meningkat. Pengeluaran donatur di masa depan meningkat dan selanjutnya para donatur juga dapat meningkatkan jumlah donasi. Oleh karena itu, redistribusi kekayaan, baik wajib atau sukarela (yang mungkin melibatkan uang atau dalam bentuk barang), tergantung pada preferensi donor dan penerima. Pada akhirnya, keduanya mempengaruhi barang dari produksi saat ini yang berasal dari produksi industri. Dengan proses ini, baik donor maupun penerima bertukar sumber daya yang membantu distribusi sumber daya dalam filantropi Islam. Selain itu, sistem distribusi membantu penerima dalam mengelola kebutuhan hidup mereka. Dengan demikian, ia menciptakan bentuk dukungan baru, yang sebelumnya merupakan tanggung jawab pemerintah dan entitasnya di negara yang menggunakan sistem jaminan sosial.

Filantropi Islam sangat diperlukan untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial-ekonomi umat manusia. Untuk merealisasikan kesejahteraan umat tersebut, salah satu dimensi pendayagunaan filantropi Islam yang dibutuhkan banyak masyarakat adalah bidang kesehatan.

Distribusi dana ZIS dan wakaf sangat dibutuhkan oleh masyarakat tidak mampu yang membutuhkan layanan kesehatan. Dana filantropi tersebut paling tidak diharapkan bisa meringankan beban masyarakat bawah untuk mendapatkan akses kesehatan. Oleh karena itu, lembaga-lembaga filantropi selalu menyalurkan dana filantropi untuk bidang kesehatan, salah satunya adalah melalui rumah sakit.

Di Indonesia, cukup banyak lembaga filantropi yang berdiri dan berpartisipasi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pada laman https://filantropi.or.id/, terdapat 106 lembaga filantropi di Indonesia yang terdaftar. Filantropi Indonesia mengklasifikasikan lembaga-lembaga filantropi tersebut menjadi lima jenis, yaitu lembaga filantropi keluarga, lembaga filantropi perusahaan, lembaga filantropi keagamaan, lembaga filantropi independen, dan lembaga filantropi media. Lembaga filantropi keagamaan sebagai salah satu jenis lembaga filantropi di Indonesia cukup banyak berdiri, bahkan banyak yang sudah memiliki cabang-cabang di berbagai daerah. Pada laman filantropi.or.id tersebut, jumlah lembaga filantropi keagamaan di Indonesia berjumlah 30 lembaga, di antaranya Baznas, Dompet Duafa, Yayasan Rumah Zakat, YDSF, serta beberapa LAZ.135

Lembaga filantropi Islam dalam penelitian termasuk dalam jenis filantropi keagamaan, karena berada di bawah naungan LAZISMU dan LAZISNU. Penelitian ini memotret tiga lembaga filantropi yang berada di rumah sakit Islam yang ada di Ponorogo. Tiga rumah sakit tersebut telah terdapat lembaga ZISWAF yang mengelola dana ZISWAF di masing-masing rumah sakit. Pengelola ZISWAF di RSU ‗Aisyiyah dan RSU Muhammadiyah dalam bentuk Kantor Layanan Lazismu (KLL), sedangkan di RSU Muslimat dalam bentuk Jaringan Pengelolaan ZIS (JP-ZIS). Meskipun tiga RSU tersebut sama-sama memiliki lembaga ZISWAF, namun pola pengelolaan dana ZISWAF pada masing-masing RSU tersebut berbeda.

Pengelolaan dana ZIS pada RSU ‗Aisyiyah dikelola oleh Lembaga Amil Zakat Muhammadiyah melalui Kantor Layanan Lazismu (KLL) RSU

‗Aisyiyah. Embrio pengelolaan dana zakat melalui KLL ini berawal dari

135 https://filantropi.or.id/direktori/pencarian/

keberadaan Lazis Ash-Shihah di Rumah Sakit yang kemudian berubah menjadi KLL setelah disahkannya UU Pengelolaan Zakat pada tahun 2011 yang memberikan regulasi lembaga pengelola zakat di Indonesia.

Operasional KLL ini menganut sistem jejaring yang terstruktur, yaitu berjejaring dengan LAZISMU yang berada di atasnya dan bukan sebagai korporasi. KLL RSU ‗Aisyiyah diberikan otonomi penuh dalam pengelolaan ZIS, tetapi berkewajiban untuk melaporkan secara berkala ke LAZISMU Daerah.

KLL RSU ‗Aisiyah dalam kegiatan pengumpulan dana bersumber dari tiga komponen, yaitu zakat, infaq, dan shadaqah yang berasal dari semua karyawan rumah sakit. Zakat diberlakukan bagi karyawan yang gajinya sudah mencapai nisab dengan cara dipotong 2,5% melalui aplikasi yang digunakan oleh bagian keuangan yang secara sistem melakukan pemotongan gaji untuk selanjutnya ditransfer ke rekening KLL.

Sementara, bagi karyawan yang belum mencapai nisab, pemotongan gaji sebesar 2,5% dalam bentuk infaq. Selain itu, karyawan juga bisa memberikan dalam bentuk shadaqah. Dari dana ZIS yang terkumpul pada KLL RSU ‗Aisyiyah, dana tersebut kemudian didistribusikan dan didayagunakan pada bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan sosial-dakwah.

Sementara, filantropi berupa wakaf belum banyak tergali pada KLL RSU ‗Aisyiyah. Upaya fundraising wakaf sebenarnya sudah dilakukan oleh KLL RSU ‗Aisyiyah, tetapi program tersebut belum bisa terlaksana karena beberapa alasan. Di antara alasan tersebut karena saat itu masih dalam situasi pandemi dan belum diterima oleh pimpinan.

Sementara, meskipun sama-sama berada di bawah naungan LAZISMU, tata kelola dana ZISWAF di KLL RSU Muhammadiyah sedikit berbeda dengan KLL RSU ‗Aisyiyah. Pada RSU Muhammadiyah, terdapat pemotongan 2,5% gaji karyawan sebagai zakat atau infaq.

Namun, dana hasil pemotongan tersebut tidak dikelola oleh KLL RSU Muhammadiyah. Dana tersebut disetorkan kepada KLL Kota Ponorogo.

Secara umum peraturan dari LAZISMU Pusat, fungsi Kantor Layanan Lazismu (KLL) untuk membantu penghimpunan dan pentasarufan LAZISMU Pembentuk (Daerah, Wilayah, dan Pusat). Oleh karena itu berdasarkan SOP yang berlaku, seharusnya keseluruhan dana masuk ke

KLL dan disetor ke Lazismu Pembentuk (Daerah, Wilayah, Pusat) dan akan ditasarufkan sesuai besaran dana penghimpunan KLL dan Proposal Program yang diajukan ke LAZISMU Pembentuk sebagai realisasi dari prinsip MANTAP (Manajemen Satu Atap).

Dana lain yang diperoleh KLL RSU Muhammadiyah berasal dari pengelolaan 32 ruang pasien yang berstatus wakaf. 32 ruang pasien tersebut dikelola sepenuhnya oleh KLL RSU Muhammadiyah dengan ketentuan bahwa 2,5% dari sewa kamar diserahkan untuk dikelola oleh KLL RSU Muhammadiyah atas nama donatur sebagaimana tertera dalam akad dan sertifikat sedekah jariah (wakaf).

Pada RSU yang ketiga, yaitu RSU Muslimat, meskipun berada di bawah organisasi keagamaan yang berbeda, tata kelola ZISWAF pada RSU tersebut hampir sama dengan RSU ‗Aisyiyah dan RSU Muhammadiyah. Pengelolaan dana ZISWAF di RSU Muslimat dikelola oleh JP-ZIS (Jaringan Pengelolaan Zakat Infaq Shadaqah) yang berhak mengelola dana ZIS di rumah sakit. Dalam praktiknya posisi JP-ZIS sebagai pengelola mandiri di RS dan sebatas menyampaikan laporan ke NU Care Lazisnu Jatim. Sumber dana utama ZIS berasal dari infaq berupa potongan 2,5% dari gaji karyawan. Potongan tersebut dinamakan infaq dan bukan sebagai zakat untuk lebih memudahkan dan fleksibilitas distribusi dana tersebut.

Pemberlakuan infaq ini sudah berlangsung lama dan ketentuannya diatur dalam kontrak kerja tanpa ada pilihan untuk zakat atau infaq agar JP-ZIS lebih leluasa untuk mengelolanya. Awalnya, tujuan pemberlakuan infaq tersebut adalah membantu karyawan yang sedang mengalami musibah sebagai bentuk support dari sesama, sehingga distribusi kepada karyawan menjadi prioritas karena jumlah dana dan karyawan belum banyak saat itu.

Pada tahun 2022, jumlah karyawan RSU Muslimat sebanyak 263.

Jumlah tersebut belum termasuk dokter spesialis karena berposisi sebagai dokter tamu, bukan dokter organik RS. Pemotongan untuk infaq diberlakukan bagi semua karyawan termasuk dokter organik yang masuk manajemen RS. Gaji dokter spesialis hanya bisa dipotong apabila yang bersangkutan menghendakinya. Sedangkan perolehan infaq dari pemotongan gaji pada kisaran Rp.11 juta untuk setiap bulan. Dana infaq

tersebut kemudian dikelola oleh bagian keuangan dan humas RSU Muslimat pada kegiatan distribusi.

Berbeda dengan KLL di RSU ‗Aisyiyah dan RSU Muslimat yang mengambil sekitar 12,5% dari dana yang terkumpul untuk menjadi bagian amil, JP-ZIS pada RSU Muslimat tidak mengambil hak amil. Semua dana yang terkumpul didistribusikan semuanya dengan rincian 10% disetor ke LAZISNU, sedangkan sisanya disalurkan pada bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi dan sarana ibadah. Karena tidak mengambil hak amil, biaya operasional yang timbul dari kegiatan pendistribusian dana zakat ditanggung oleh RSU Muslimat.

Lembaga filantropi Islam dan rumah sakit merupakan dua institusi yang berbeda. Namun, karena lembaga filantropi Islam memiliki kantor layanan yang ditempatkan di rumah sakit, masing-masing lembaga tersebut memiliki perbedaan model pengelolaan menyesuaikan dengan kebijakan lembaga filantropi pembentuk dan kebijakan rumah sakit yang ditempati.

Tiga rumah sakit dalam penelitian ini juga memiliki pola tata kelola yang berbeda-beda. Berdasarkan praktik tata kelola di rumah sakit tersebut, tata kelola ZISWAF di rumah sakit ada dua model, yaitu:

1. Integrated Islamic Philanthropy Institution

Pada model ini, lembaga filantropi Islam memiliki struktur organisasi tersendiri. Namun, banyak operasional dan program kegiatan lembaga filantropi tersebut menyatu dengan perusahaan induk tempat lembaga filantropi tersebut beroperasi. Kegiatan dan program lembaga filantropi sering overlap dengan operasional dan program perusahaan.

Bahkan, perusahaan sering sharing biaya operasional, aset, dan atribut dengan lembaga filantropi. Dalam penelitian ini, lembaga filantropi Islam yang menggunakan model ini adalah JP-ZIS di RSU Muslimat. JP-ZIS RSU Muslimat merupakan organisasi ZIS yang terstruktur sebagai kepanjangan tangan dari LAZISNU. JP-ZIS diberi wewenang untuk menerima, mengumpulkan, mendistribusikan, dan mendayagunakan dana ZIS. JP-ZIS sebagai pengelola mandiri di RS berkewajiban untuk menyampaikan laporan ke NU Care Lazisnu Jatim sebagai bentuk akuntabilitas. JP-ZIS RSU Muslimat memiliki struktur pengelola berdasarkan SK LAZISNU. Namun, personalia JP-ZIS RSU Muslimat bukan orang yang berbeda dengan personalia RSU Muslimat. Pengelolaan

dana ZIS di RSU Muslimat secara praktis dilakukan oleh bagian keuangan dan bagian humas. Dengan demikian, operasional dan program JP-ZIS menyatu dengan RSU Muslimat. Bahkan, hak amil tidak diambil oleh JP-ZIS karena pengelolanya adalah bagian keuangan dan humas RSU Muslimat. Biaya operasional pendistribusian dan pendayagunaan ZISWAF ditanggung oleh RSU Muslimat. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa JP-ZIS RSU Muslimat termasuk dalam kategori Integrated Islamic Philanthropy Institution di rumah sakit.

2. External Islamic Philanthropy Institution

Pada model ini, operasional dan program lembaga filantropi terpisah dan berbeda dengan perusahaan. Perusahaan berposisi sebagai donatur, selanjutnya dana tersebut sepenuhnya dikelola oleh lembaga filantropi.

Dalam penelitian ini, KLL RSU ‗Aisyiyah dan KLL RSU Muhammadiyah termasuk dalam kategori model ini. Kedua KLL tersebut independen dan berbeda dengan manajemen RSU. Dana ZIS yang dipotong dari gaji karyawan RSU diserahkan sepenuhnya kepada KLL masing-masing rumah sakit dan selanjutnya dikelola secara independen. Pada KLL RSU

‗Aisyiyah, dana ZIS kemudian dikelola sendiri seutuhnya dan didistribusikan pada program-program yang telah direncanakan.

Sementara, KLL RSU Muhammadiyah lebih bertumpu pada dana profit wakaf ruang pasien, karena dana ZIS hasil pemotongan gaji karyawan RSU Muhammadiyah disetorkan ke KLL Kota Ponorogo. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa KLL RSU ‗Aisyiyah dan RSU Muhammadiyah termasuk dalam kategori External Islamic Philanthropy Institution di rumah sakit

Gambar 4.1. Model Lembaga Filantropi Islam di Rumah Sakit Islam Ponorogo

Pada lembaga filantropi, ada dua fungsi yang harus dijalankan. Dua fungsi tersebut adalah fungsi fundraising dan fungsi pendistribusian dan pendayagunaan. Terkait fungsi fundraising, ada beberapa strategi yang bisa digunakan oleh lembaga filantropi dalam penghimpunan dana.

Strategi tersebut adalah: 1) melalui sistem penggajian, 2) via e-card, 3) via pembayaran daring, 4) via layanan perbankan syariah, dan 5) via konter.136 Pada lembaga filantropi di penelitian ini, strategi penghimpunan dana adalah melalui sistem penggajian dan via pembayaran daring. Sumber dana utama dari ketiga lembaga filantropi dalam penelitian ini adalah gaji karyawan rumah sakit. Oleh karena itu, bentuk penghimpunan dana yang paling praktis dan efektif adalah melalui pemotongan langsung gaji karyawan. Mekanisme pembayaran zakat melalui sistem penggajian ini dilakukan oleh lembaga filantropi di masing-masing rumah sakit dengan cara diperhitungkan dan dipotong langsung dari daftar gaji. Pembayaran zakat dilakukan langsung dari gaji dan ditransfer ke rekening lembaga filantropi setiap bulannya.

Mekanisme lain yang digunakan dalam penghimpunan dana adalah pembayaran via daring melalui transfer dana ke rekening lembaga

136 Nurhayati et al., Akuntansi Dan Manajemen Zakat.

Types of Islamic Philanthropy Institutions

Integrated Islamic Philanthropy

Institution JP-ZIS RSU Muslimat

External Islamic Philanthropy Institution

KLL RSU 'Aisyiyah

KLL RSU Muhammadiyah

filantropi. Mekanisme ini digunakan untuk donatur selain dari gaji karyawan ataupun donatur eksternal untuk program-program insidental tidak terikat. Sebagai contoh, KLL Muhammadiyah menghimpun dana untuk wakaf ruang pasien melalui mekanisme ini. Donatur bisa melakukan pembayaran via transfer sesuai dengan pilihannya. Untuk kamar kelas 1, 2, dan 3 senilai Rp.30juta, kamar VIP senilai Rp.40 juta dan VVIP senilai Rp.50 juta. Beberapa program insidental lain juga menggunakan mekanisme ini.

Fungsi kedua yang dijalankan lembaga filantropi adalah fungsi pengalokasian. Alokasi dana bisa dalam bentuk distribusi langsung atau dalam bentuk pendayagunaan. Menurut Mohammad Daud Ali, pendayagunaan zakat bisa diorientasikan dalam 4 (empat) kategori, yaitu Konsumtif-Tradisional, Konsumtif-Kreatif, Produktif-Tradisional, dan Produktif-Kreatif.137 Pada kategori Konsumtif-Tradisional, lembaga filantropi dalam penelitian ini mendistribusikan dana filantropi kepada yang berhak menerimanya untuk dimanfaatkan langsung oleh penerimanya. Contohnya, beberapa pasien kurang mampu yang kesulitan dalam melunasi biaya rumah sakit. Sementara pendayagunaan kategori Konsumtif-Kreatif dilakukan oleh ketiga lembaga filantropi yang diteliti untuk bidang pendidikan, seperti dalam bentuk alat-alat sekolah, beasiswa dan lain-lain.

Untuk kategori produktif, lembaga filantropi dalam penelitian ini menggunakan Produktif-Tradisional dan Produktif-Kreatif. Bentuk Produktif-Tradisional contohnya diberikan dalam bentuk barang-barang produktif, misalnya kambing, sapi, mesin jahit, alat-alat pertukangan dan sebagainya. Pemberian zakat seperti ini akan mendorong orang menciptakan suatu usaha atau memberikan suatu lapangan kerja baru bagi fakir-miskin. Sementara bentuk pendayagunaan Produktif-Kreatif yang dilakukan oleh lembaga filantropi di rumah sakit yang diteliti diwujudkan dalam bentuk modal untuk pelaku usaha mikro.

Sebagai lembaga filantropi yang berada di rumah sakit dan terkait erat dengan bidang kesehatan, ternyata ketiga lembaga filantropi dalam penelitian ini memiliki prioritas yang berbeda dalam pendistribusian dana

137 Ali, Sistem Ekonomi Islam Zakat Dan Wakaf, 62.

ZIS untuk bidang kesehatan. KLL RSU Muhammadiyah memiliki prioritas paling tinggi terhadap pendistribusian di bidang kesehatan, yaitu sebesar 60% dari total distribusi pada semua bidang. Selanjutnya, JP-ZIS RSU Muslimat mendistribusikan dana ZIS sebesar 44% untuk bidang kesehatan.

Sementara, KLL RSU ‗Aisyiyah memberikan porsi 18% untuk distribusi pada bidang kesehatan.

Tabel 4.1. Persentase Distribusi Bidang Kesehatan

LEMBAGA Distribusi Bidang Kesehatan (Rp) Persentase

KLL RSU ‗Aisyiyah 114.297.100 18%

KLL RSU Muhammadiyah 76.553.400 60%

JP-ZIS RSU Muslimat 44.320.300 44%

B. Optimalisasi Pendayagunaan ZISWAF di Rumah Sakit