• Tidak ada hasil yang ditemukan

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKTIVITAS OPERATOR CONTAINER CRANE DI BELAWAN INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL (BICT) TAHUN 2020 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PRODUKTIVITAS OPERATOR CONTAINER CRANE DI BELAWAN INTERNATIONAL CONTAINER TERMINAL (BICT) TAHUN 2020 SKRIPSI"

Copied!
82
0
0

Teks penuh

(1)

SKRIPSI

Oleh

ANNA REHULINA BARUS NIM. 131000608

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(2)

SKRIPSI

Diajukan sebagai Salah Satu Syarat

untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat pada Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara

Oleh

ANNA REHULINA BARUS NIM. 131000608

PROGRAM STUDI S1 KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

2021

(3)
(4)

ii Telah diuji dan dipertahankan

Pada tanggal: 3 November 2020

TIM PENGUJI SKRIPSI

Ketua : Dra. Lina Tarigan, Apt., M.S.

Anggota : 1. Ir. Kalsum, M.Kes.

2. Ummi Salamah, S.K.M., M.Kes.

(5)

iii

Pernyataan Keaslian Skripsi

Saya menyatakan dengan ini bahwa skripsi saya yang berjudul “Faktor- Faktor yang Memengaruhi Produktivitas Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020” beserta seluruh isinya adalah benar karya saya sendiri dan saya tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar pustaka. Atas pernyataan ini, saya siap menanggung risiko atau sanksi yang dijatuhkan kepada saya apabila kemudian ditemukan adanya pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya saya ini, atau klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya saya ini.

Medan, 14 November 2020

Anna Rehulina Barus

(6)

iv Abstrak

Aktivitas perdagangan sangat menentukan perkembangan sebuah negara. Salah satu tempat terjadinya arus perdagangan adalah pelabuhan. Dikarenakan pelabuhan dapat menjadi pusat perekonomian yang menjanjikan, maka setiap negara berusaha membangun dan mengembangkan pelabuhan yang mereka miliki.

Salah satu cara yang dilakukan untuk dapat menggembangkan pelabuhan adalah penggunaan teknologi dan mesin-mesin dapat berupa penggunaan alat angkat angkut untuk mempermudah dan mempercepat kegiatan bongkar muat seperti penggunaan container crane untuk kegiatan bongkar muat peti kemas di pelabuhan. Mengingat pentingnya peranan container crane di pelabuhan maka perlu juga diperhatikan tingkat produktivitas operator container crane.

Produktivitas adalah perbandingan antara output yang didapat dengan keseluruhan input yang digunakan. Terdapat banyak faktor yang memengaruhi produktivitas seseorang oleh sebab itu tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui Faktor-Faktor yang Memengaruhi Produktivitas Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020.Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional. Besar sampel dalam penelitian ini adalah 28 orang (Total Populasi). Data yang diperoleh melalui pengisian kuesioner oleh pekerja. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan bivariat dengan menggunakan uji chi square.Hasil penelitian ini menujukkan bahwa variabel umur (p=0,396), pelatihan (p=0,638), masa kerja (p=0,638) dan kelelahan (p=0,139) tidak memiliki hubungan dengan produktivitas operator container crane. Disarankan Perlu adanya upaya yang dilakukan pihak BICT untuk meningkatkan produktivitas agar lebih banyak operator container crane yang bekerja produktif dan dapat mencapai target yang telah ditetapkan. bagi peneliti selanjutnya yang ingin melakukan penelitian tentang faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas operator container crane untuk dapat menemukan faktor lain di luar dari faktor yang sudah diteliti.

Kata kunci: Produktivitas, container crane, BICT

(7)

v Abstract

Trade activity determines the development of a country. One of the places where trade flows is the port. Because ports can become the promising economic centers, every country tries to build and develop ports. One of the ways to be able to develop the port is to use technology and machines such as the use of lifting equipment to simplify and speed up loading and unloading activities, for example the use of container cranes for loading and unloading of containers at the port.

Due to the importance of container crane's role at the port, it is necessary to pay attention to the productivity level of container crane operators. Productivity is the ratio between the output obtained and the overall input used. There are many factors that affect the productivity of container crane operator workers. The purpose of this study is to determine the factors that affect the productivity of container crane operators at Belawan International Container Terminal (BICT) in 2020. This study was an analytical study using a cross sectional research design. The sample size in this study was 28 people (total sampling). The data obtained from questionnaires. This study was univariate and bivariate analysis using the chi square test. The results of this study indicate that the variables age (p = 0.396), number of training (p = 0.638), years of service (p = 0.638) and fatigue (p = 0.139) had no significant correlation with the productivity of container crane operators. It is recommended to BICT to increase productivity so that container crane operators increase the productivy and can achieve the targets that has been set and also for further researchers to be able to find other factors outside of the factors already studied.

Keywords: Productivity, container crane, BICT

(8)

vi

Kata Pengantar

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala kasih karunia-Nya yang tak terbatas sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul berjudul “Faktor-Faktor yang Memengaruhi Produktivitas Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020” Skripsi ini adalah salah satu syarat yang ditetapkan untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Selama proses penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak baik moril maupun materil. Pada kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

1. Dr. Muryanto Amin, S.Sos., M.Si. selaku Rektor Universitas Sumatera Utara.

2. Prof. Dr. Dra. Ida Yustina, M.Si. selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

3. Dr. Ir. Gerry Silaban, M.Kes. selaku Ketua Departemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

4. Dra. Lina Tarigan, Apt., M.S. selaku Dosen Pembimbing yang telah meluangkan waktu dan dengan sabar memberikan bimbingan, arahan, dan masukan kepada penulis dalam penyempurnaan skripsi ini.

5. Ir. Kalsum, M.Kes. selaku Dosen Penguji I dan Ummi Salamah, S.K.M.,

M.Kes. selaku Dosen Penguji II yang telah meluangkan waktu dan pikiran

dalam penyempurnaan skripsi ini.

(9)

vii

6. dr. Surya Dharma. M.P.H. selaku Dosen Penasehat Akademik yang telah membimbing penulis selama menjalani perkuliahan di Fakultas Kesehatan Masyarakat USU.

7. Para Dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat USU atas ilmu yang telah diajarkan selama ini kepada penulis.

8. Pegawai dan Staf Fakultas Kesehatan Masyarakat USU yang telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

9. General Manager TPK Belawan Bapak Indra Pamulihan, besertan Bapak Jusup Arapenta Barus dan Bapak Barman yang telah mengizinkan penulis melakukan penelitian.

10. Teristimewa untuk orang tua (Natanael Barus dan Gemma Suriani Simarmata, S.Pd) yang telah memberikan kasih sayang dan kepercayaan yang begitu besar serta kesabaran dalam mendidik dan memberi dukungan kepada penulis.

11. Terkhusus untuk saudara dan saudari (Grace Oktavia, Angela Yunita, Cindy Naomi dan Monica Henny Tresnasetia) yang telah memberikan semangat kepada penulis.

12. Teman-teman terdekat (Astri, Ismail, Ifal, Arini, Fadli, Sahrul, Ravi, Irene, Ruth, Eka, Mona dan Padesi) yang telah menyemangati dan mendukung penulis.

13. Teman-teman seperjuangan skripsi (Assa dan Fara) yang selalu saling

menyemangati satu sama lain dalam penyelesaian skripsi.

(10)

viii

14. Teman-teman keluarga Unit Kegiatan Mahasiswa Marching Band USU yang selalu menyemangati dan menghibur penulis.

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih terdapat kekurangan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan adanya kritik dan saran yang membangun dari semua pihak dalam rangka penyempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap skripsi ini dapat memberikan kontribusi yang positif dan bermanfaat bagi pembaca.

Medan, 14 November 2020

Anna Rehulina Barus

(11)

ix Daftar Isi

Halaman

Halaman Persetujuan i

Halaman Penetapan Tim Penguji ii

Halaman Pernyataan Keaslian Skripsi iii

Abstrak iv

Abstract v

Kata Pengantar vi

Daftar Isi ix

Daftar Tabel xi

Daftar Gambar xii

Daftar Lampiran xiii

Daftar Istilah xiv

Riwayat Hidup xv

Pendahuluan 1

Latar Belakang 1

Perumusan Masalah 7

Tujuan Penelitian 7

Tujuan umum 7

Tujuan khusus 7

Manfaat Penelitian 8

Tinjauan Pustaka 9

Produktivitas Kerja 9

Pengukuran Produktivitas 11

Faktor-Faktor yang Memengaruhi Produktivitas 12

Umur 14

Pelatihan 15

Masa kerja 18

Kelelahan 19

Penelitian Terdahulu 22

Kerangka Konsep 23

Metode Penelitian 24

Jenis Penelitian 24

Lokasi dan Waktu Penelitian 24

Populasi dan Sampel 24

Variabel dan Definisi Operasional 24

Metode Pengumpulan Data 25

Metode Pengukuran 25

Metode Analisis Data 27

(12)

x

Hasil Penelitian 29

Gambaran Umum Lokasi Penelitian 29

Karakteristik Responden 31

Distribusi Responden Berdasarkan Umur dan Tingkat Pendidikan 32 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Mengikuti Pelatihan 33

Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja 33

Distribusi Responden Berdasarkan Kelelahan dan Produktivitas 34

Hubungan Produktivitas dengan Kategori Umur 35

Hubungan Produktivitas dengan Jumlah Mengikuti Pelatihan 35

Hubungan Produktivitas dengan Masa Kerja 36

Hubungan Produktivitas dengan Kelelahan 36

Pembahasan 38

Prosedur Kerja Operator Container Crane 38

Hubungan Umur dengan Produktivitas 38

Hubungan Pelatihan dengan Produktivitas 40

Hubungan Masa Kerja dengan Produktivitas 42

Hubungan Kelelahan dengan Produktivitas 43

Keterbatasan Penelitian 45

Kesimpulan dan Saran 46

Kesimpulan 46

Saran 46

Daftar Pustaka 47

Lampiran 49

(13)

xi Daftar Tabel

No Judul Halaman

1 Data Karakteristik Responden Berdasarkan Umur dan Tingkat

Pendidikan pada Operator Container Crane BICT Tahun 2020 31

2 Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur 32

3 Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Mengikuti Pelatihan 32

4 Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja 33

5 Data Responden Berdasarkan Kelelahan dan Produktivitas pada Operator Container Crane BICT Tahun 2020 33

6 Hubungan Produktivitas dengan Kategori Umur pada Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020 34

7 Hubungan Produktivitas dengan Jumlah Mengikuti Pelatihan pada Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020 35

8 Hubungan Produktivitas dengan Masa Kerja pada Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020 36

9 Hubungan Produktivitas dengan Kelelahan pada Operator Container

Crane di Belawan International Container Terminal (BICT)

Tahun 2020 36

(14)

xii

Daftar Gambar

No Judul Halaman

1 Container crane 2

2 Kerangka konsep 23

(15)

xiii

Daftar Lampiran

Lampiran Judul Halaman

1 Kuesioner Peneltilian 51

2 Master Data 60

3 Surat Permohonan Izin Penelitian Output SPSS 61

4 Surat Izin Penelitian 62

5 Surat Selesai Penelitian 63

6 Dokumentasi 64

(16)

xiv Daftar Istilah

B/C/H Box/Crane/Hour B/S/H Box/Ship/Hour

BICT Belawan International Container Terminal

(17)

xv Riwayat Hidup

Penulis bernama Anna Rehulina Barus berumur 25 tahun. Penulis lahir di Padang pada tanggal 4 Februari 1995. Penulis beragama Katolik, anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Natanael Barus dan Ibu Gemma Suriani Simarmata, S.Pd.

Pendidikan formal dimulai di TK Mariana Padang tahun 1998. Pendidikan sekolah dasar di SD Teresia Padang Tahun 2001 – 2007, sekolah menengah pertama di SMP Frater Padang Tahun 2007-2010, dan sekolah menengah atas di SMA Don Bosco Padang Tahun 2010-2013. Selanjutnya, penulis melanjutkan pendidikan di Program Studi S1 Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara.

Medan, 14 November 2020

Anna Rehulina Baru

(18)

1 Pendahuluan

Latar Belakang

Menurut Permenaker RI No. 8/2020 yang mengatur tentang K3 Pesawat Angkut dan Angkat, menyatakan bahwa peralatan maupun pesawat angkat adalah alat yang dibuat secara khusus untuk menaikkan dan menurunkan muatan barang.

Salah satu jenis peralatan angkat yang diatur dalam peraturan tersebut adalah

container crane yang dapat dilihat pada Gambar 1. Sejalan dengan pembangunan

dibidang teknologi dan industri yang mengalami peningkatan, penggunaan

pesawat angkat dan angkut menjadi bagian yang fundamental dalam peningkatan

pelaksanaan proses produksi. Penggunaan teknologi sangat dibutuhkan dalam

rangka pemenuhan kebutuhan manusia, namun penggunaan teknologi untuk

pemenuhan kebutuhan manusia yang tidak terkendali dapat mengakibatkan

kerugian pada manusia itu sendiri. Penggunaan teknologi dalam perkembangan

moderninsasi saat ini merupakan hal yang tidak dapat kita tolak, terutama sejak

dimulainya era industrialisasi yang ditandai dengan proses mekanisasi,

modernisasi, dan eletrifikasi, serta transformasi globalisasi saat ini. Untuk

memenuhi kebutuhan dan tuntutan era industrialisasi yang sedang berkembang

saat ini, maka penggunaaan mesin-mesin dan pesawat angkut akan terus

mengalami peningkatan sesuai dengan kebutuhan dalam bidang industri.

(19)

Gambar 1. Container cranes

Permenaker RI No 8/2020 Pasal 1 Ayat 16 yang mengatur tentang K3

Pesawat Angkut dan Angkat, dikatakan bahwa pekerja yang memiliki

keterampilan khusus dan kemampuan mumpuni dalam bidang pengoperasian

pesawat angkat dan angkut dinamakan dengan operator. Dalam hal ini lebih

difokuskan lagi terhadap pengoperasian pesawat angkat yaitu container crane

yang terdapat pada pelabuhan. Pembagian wilayah yang mencakup daratan atau

perairan yang telah memiliki batas tertentu, yang berfungsi sebagai tempat

dilaksanakannya kegiatan pemerintahan atau industri yang umumnya digunakan

sebagai tempat kapal bersandar untuk menaikkan dan menurunkan penumpang,

tempat bongkar muat barang, atau berupa pemberhentian moda laut dan tempat

kapal berlabuh yang dilengkapi dengan fasilitas-fasilitas yang mendukung

keamanan dan keselamatan pelayaran, sebagai penunjang aktivitas pelabuhan,

serta sebagai tempat yang digunakan sebagai perpindahan antar jenis transportasi

baik secara intra dan antar disebut dengan pelabuhan.

(20)

Aktivitas perdagangan sangat menentukan perkembangan sebuah pelabuhan. Semakin tinggi intensitas perdagangan di sebuah pelabuhan, maka akan berbanding lurus dengan luas area pelabuhan tersebut. Dikarenakan pelabuhan dapat menjadi pusat perekonomian yang menjanjikan, maka setiap negara berusaha membangun dan mengembangkan pelabuhan yang mereka miliki untuk menunjang kegiatan perekonomian yang dapat menampung berbagai jenis perdagangan. Pembangunan dan perluasan pelabuhan dilakukan sebagai pendukung kelancaran operasional perdagangan agar dapat dilakukan secara terus menerus dan berkesinambungan (Amril dan Jerry, 2016)

Mengingat ramainya aktivitas di pelabuhan maka terdapat berbagai jenis

klasifikasi pelabuhan di Indonesia. Berdasarkan penggunaannya pelabuhan terdiri

dari pelabuhan perikanan, pelabuhan minyak, pelabuhan penumpang, dan

pelabuhan barang. Setiap pelabuhan yang memuat aktivitas perdagangan pasti

dilengkapi dermaga dengan fasilitas bongkar muat barang contohnya seperti

container crane yang digunakan untuk mengangkut barang, gudang penyimpanan,

atau fasilitas reparasi. Contoh pelabuhan yang memiliki fasilitas seperti yang

sudah dijelaskan adalah Belawan International Container Terminal (BICT). BICT

adalah pelabuhan yang merupakan salah satu cabang perusahaan PT. Pelabuhan

Indonesia I (Persero) yang melaksanakan pengusahaan dan pelayanan jasa

bongkar muat petikemas internasional. Belawan International Container Terminal

memiliki prinsip dan komitmen untuk meningkatkan mutu, dan profesionalisme

pelayanan yang berfokus pada kepuasan pelanggan dan K3.

(21)

Permenaker dan Transmigrasi RI Nomor Per.21/MEN/IX/2009 yang mengatur tentang Pedoman Pelayanan Produktivitas, definisi dari produktivitas yang disebutkan dalam peraturan tersebut adalah sikap mental yang didasari dengan usaha untuk memperbaiki kualitas kehidupan secara sustainable melalui peningkatan kualitas, efektivitas, dan efisiensi. Sedangkan Umar (2005) memberi pengertian bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil yang dicapai dengan keseluruhan usaha yang digunakan memiliki dua dimensi. Dimensi pertama dalam perbandingan tersebut meliputi efektivitas yang tertuju pada perolehan kerja yang berorientasi pada pencapaian target yang berkualitas, tepat waktu, dan kuantitas hasil yang baik. Selanjutnya, dimensi kedua yakni efisiensi.

Efisiensi pada dimensi kedua memiliki hubungan dengan perbandingan antara masukan dan realisasi dari pekerjaan yang dilaksanakan.

Hubungan yang terjadi antara output (yang berupa jasa atau barang) dengan input (yang berupa uang, bahan baku, dan tenaga kerja) disebut dengan produktivitas. Produktivitas merupakan tolok ukur dari efisiensi produktif. Input pada kegiatan produksi sering dibatasi dengan tenaga kerja. Sementara output pada produksi dibatasi dengan kesatuan dari bentuk, fisik, dan nilai (Sutrisno, 2009). Sedangkan L. Greenberg dalam Sinungan (2009) mengatakan bahwa perbandingan antara keseluruhan keluaran waktu dibagi dengan keseluruhan masukan selama periode yang telah ditentukan disebut dengan produktivitas.

Mufti Aspiyah dan Martono (2016) melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Disiplin Kerja, Lingkungan Kerja, Dan Pelatihan Pada Produktivitas

Kerja”. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa lingkungan kerja dengan nilai

(22)

koefisien regresi 0,543 (positif), disiplin kerja yang memiliki nilai koefisien sebesar 0,232 dan nilai signifikansi 0,001, dan pelatihan secara sebagian akan memiliki pengaruh baik dan signifikan pada produktivitas kerja karyawan.

Peneliti mengambil kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat kedisiplinan karyawan, maka menandakan semakin baik lingkungan kerja dan menunjukkan baiknya kualitas pelatihan, yang dapat mengakibatkan kinerja karyawan dalam hal produktivitas.

Sedangkan llianus (2017) dengan penelitiannya yang berjudul “Pengaruh Pengetahuan, Keterampilan Dan Kemampuan Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan (Studi Pada Home Industri Goldia Aneka Cemilan Di Desa Petungsewu Kecamatan Dau Kabupaten Malang)” menyimpulkan dan menerangkan bahwa aspek keterampilan memiliki pengaruh terhadap produktivitas pada karyawan sebesar 3,349 sementara pengetahuan memiliki pengaruh terhadap produktivitas kerja pada karyawan sebesar 4,189, dan aspek terakhir yakni kemampuan memiliki pengaruh terhadap produktivitas kerja pada karyawan sebesar 3,290.

Tanti dan Tuwis Hariyani (2018) dengan penelitiannya yang mengenai

“Analisa Pengaruh Tingkat Upah, Masa Kerja, Usia Terhadap Produktivitas

Tenaga Kerja” dengan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 46) adalah sebesar 2.013,

menunjukkan variabel yang ditunjukkan dengan X2 yang menerangkan variabel

masa kerja dengan Y yakni variabel yang menerangkan produktivitas kerja

menghasilkan t hitung sebesar = 3,565. Maka pengaruh X2 adalah signifikan pada

tingkat kesalahan α = 5%. karena t hitung > t tabel yaitu 3.565 > 2.013.

(23)

Pada saat peneliti melakukan survei pendahuluan, hasil bongkar muat peti kemas di BICT mengalami penurunan dari tahun 2018 - 2019. Pada tahun 2018 BICT mampu memindahkan sebanyak 453.061 box crane (peti kemas) dengan menggunakan container crane, sementara pada tahun 2019 hanya mampu memindahkan 427.338 box crane (peti kemas) saja. Peneliti juga mengamati prosedur kerja operator container crane saat melakukan kegiatan bongkar muat peti kemas. Pertama petikemas diangkat dari kapal menggunakan container crane sesuai dengan Unloading List / Discharge plan dan crane Working program.

Kemudian di dermaga, petikemas diterima oleh alat angkut Head Truck + Chassis dan alat angkut lainnya sebagai peralatan bongkar muat dan membawanya ke lapangan penumpukan. Pada saat mengamati kegiatan bongkar muat tersebut terdapat operator yang bekerja dengan cekatan dan ada beberapa yang bekerja cukup santai.

Operator container crane bekerja dengan menggunakan sistem shift kerja shift 1 yang berlangsung selama 2 hari, 2 shift 2 yang berlangsung selama 2 hari, shift 3 yang berlangsung selama 2 hari, dan 2 hari libur, dengan pembagian shift sebagai berikut :

1. Shift 1 : Berlangsung mulai dari pagi jam 08.00 sampai dengan sore jam 16.00 WIB. Shift 1 memiliki waktu istirahat selama jam yang berlangsung dari jam 12.00 WIB-13.00 WIB.

2. Shift 2 : Berlangsung mulai dari sore jam 16.00 sampai dengan

tengah malam jam 24.00 WIB. Shift 2 memiliki waktu istirahat

selama 1 jam yang berlangsung dari jam 18.00 WIB-19.00 WIB.

(24)

3. Shift 3 : Berlangsung mulai dari tengah malam jam 24.00 sampai dengan pagi hari jam 08.00 WIB. Shift 3 memiliki waktu istirahat selama 1 jam yang berlangsung dari jam 04.00 WIB-05.00 WIB.

Atas uraian mengenai latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, menjadi dasar bagi rasa tertarik peneliti untuk melakukan pendalaman lebih lanjut untuk penelitian dengan judul ”Faktor-Faktor yang Memengaruhi Produktivitas Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020”

Rumusan Masalah

Faktor apa saja yang berkaitan dengan produktivitas pada operator BICT yang belum diketahui menjadi dasar bagi peneliti untuk meneliti lebih lanjut mengenai faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas operator container crane di Belawan International Container Terminal (BICT) tahun 2020.

Tujuan Penelitian

Tujuan umum. Untuk meneliti faktor-faktor apa saja yang memberikan pengaruh terhadap produktivitas operator container crane di BICT.

Tujuan khusus. Tujuan khusus pada penelitian inia ada 5, yaitu:

1. Untuk mengetahui hubungan umur dengan produktivitas operator container crane BICT.

2. Untuk mengetahui hubungan pelatihan dengan produktivitas operator container crane BICT.

3. Untuk mengetahui hubungan masa kerja dengan produktivitas operator

container crane BICT.

(25)

4. Untuk mengetahui hubungan kelelahan dengan produktivitas operator container crane BICT.

Manfaat Penelitian

Sudah seharusnya setiap penelitian memberikan sumbangsih dan manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Adapun manfaat yang diharapkan dapat bermanfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Menambah ilmu serta pengalaman peneliti mengenai faktor-faktor yang dapat memengaruhi produktivitas operator container crane.

2. Penelitian ini dapat bertindak sebagai masukan bagi perusahaan dan operator container crane tentang faktor apa saja yang dapat memengaruhi produktivitas tenaga kerja.

3. Untuk memberikan wawasan yang dapat digunakan sebagai sumber dan bahan

referensi bagi penelitian selanjutnya yang memiliki bidang keilmuan sejenis.

(26)

9

Tinjauan Pustaka

Produktivitas Kerja

Seperti yang telah disinggung sebelumnya pada awal pembahasan latar belakang penelitian ini, bahwa produktivitas adalah perbandingan antara output yang didapat dengan keseluruhan input yang digunakan memiliki dua dimensi.

Dimensi pertama dalam perbandingan tersebut adalah efektivitas yang tertuju pada tercapainya tujuan kerja yang berorientasi pada pencapaian target yang berkualitas, tepat waktu, dan kuantitas hasil yang baik. Selanjutnya, dimensi kedua yakni efisiensi. Efisiensi pada dimensi kedua memiliki hubungan dengan perbandingan antara masukan dan realisasi dari pekerjaan yang dilaksanakan (Umar, 2005).

Produktivitas merupakan suatu kemampuan yang dapat menghasilkan sesuatu didalam kesatuan tingkatan kerja yang akan terlihat melalui hasil nyata yang digambarkan dengan pencapaian pada tujuannya, maka dapat dikatakan bahwa produktivitas berhubungan dengan hal baik yang bersifat material maupun non-material, serta memiliki sifat dapat diukur dan tidak diukur dengan uang (Sedarmayanti, 2004)

Produktivitas diartikan sebagai hubungan antara keluaran/output (berupa barang atau jasa) dengan masukan/input (berupa tenaga kerja, bahan, uang).

Produktivitas merupakan tolok ukur yang menentukan efisiensi produktif. Input

dalam kaitannya dengan produktivitas kerja sering dibatasi dari aspek tenaga kerja

(27)

L. Greenberg dalam Sinungan (2005), menyatakan bahwa produktivitas sebagai perbandingan antara keseluruhan output pada periode tertentu dibagi dengaan keseluruhan input selama waktu yang telah ditentukan.

Malayu S.P Hasibuan (2005) mengutip melalui International Labour Organization (ILO), menyatakan bahwa sederhananya apa yang dimaksud dengan produktivitas adalah perbandingan yang menghitung secara keilmuan jumlah yang dihasilkan dari setiap aspek yang digunakan selama proses produksi berlangsung.

Sederhananya, produktivitas menekankan dan berorientasi pada perbandingan.

Adapun aspek-aspek tersebut memuat: (1) bahan baku, (2) tanah dan bahan pendukung, (3) tenaga kerja, (4) pabrik, mesin-mesin dan alat-alat,

Jadi, dari pengertian-pengertian diatas ditemukan konsep umum dari produktivitas, yakni produktivitas adalah suatu perbandingan antara keluaran dan masukan per periode waktu tertentu. Suatu produktivitas dikatakan meningkat menurut (Soeripto, 1989; Chew, 1991 dan Pheasant, 1991) yang dikutip oleh (Tarwaka,2004) apabila memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1. Jika jumlah produksi sama, atau ditingkatkan namun sumber daya yang digunakan lebih kecil.

2. Jika jumlah produksi mengalami peningkatan dengan perbandingan jumlah sumber daya yang sama.

3. Jika hasil produksi mengalami peningkatan, yang diperoleh dengan melakukan penambahan yang realtif kecil pada sumber daya.

Ketiga konsep yang telah dijelaskan diatas tadi secara umum digunakan

pada proses produksi untuk menghitung dan mengukur produktivitas sektor-sektor

(28)

dalam hal memanfaatkan sumber daya manusia (do the thing right). Jadi, dengan kata lain produktivitas adalah refleksi dari tingkat efektivitas dan efisiensi kerja.

Pengukuran produktivitas. Produktivitas adalah suatu yang terukur.

Artinya, untuk menentukan suatu kinerja produktivitas atau tidaknya diperlukan besaran-besaran satuan yang membuktikan masing-masing kesimpulan. Adapun produktivitas menurut Ravianto (1985) yang dikutip oleh Tarwaka, (2004) secara umum dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu:

1. Produktivitas total, yakni perbandingan antara keseluruhan jumlah waktu yang dikeluarkan dengan keseluruhan jumlah masukan per periode waktu tertentu. Untuk menghitung produktivitas total, faktor masukan keseluruhan yang berupa tenaga kerja, kapital, bahan, dan energi yang berbanding dengan total keluaran harus diperhitungkan.

2. Produktivitas parsial, yakni perbandingan antara keluaran/output yang memiliki satu jenis masukan terhadap input per periode waktu tertentu yang berupa upah, kapital, bahan baku, energi, dan beban kerja.

Hal ini dapat digambarkan sebagai persamaan sebagai berikut :

Dari rumus diatas diperoleh gambaran bahwa produktivitas dapat diartikan sebagai kaitan antara keluaran yang dihasilkan dari sistem atau sumber dengan masukan yang digunakan untuk menghasilkan keluaran. Dalam perihal mengukur produktivitas, kegiatan pengukuran dapat dilakukan secara langsing misalnya saja

Produktivitas = Keluaran (Output)

Masukan (Input)

(29)

Pengukuran produktivitas pada bongkar muat peti kemas dapat dihitung dengan cara :

1. Box/Crane/Hour (B/C/H), adalah jumlah peti kemas yang dibongkar muat dalam satu jam kerja oleh tiap crane.

= jumlah peti kemas ang di ongkar muat umlah jam efektif ( ) jumlah rane

2. Box/Ship/Hour (B/S/H), adalah jumlah peti kemas yang dibongkar muat per kapal dalam satu jam selama kapal bertambat.

= jumlah peti kemas ang di ongkar muat aktu tam at ( )

Keterangan : B = Box (peti kemas)

C = Crane (alat bongkar muat peti kemas) S = Ship (kapal)

H = Hour (waktu dalam satuan jam)

ET = Effective Time (jumlah jam efektif untuk melakukan kegiatan bongkar muat peti kemas)

BT = Berthing Time (jumlah jam satu kapal selama berada di tambatan sejak tali pertama diikat di dermaga sampai tali terakhir dilepaskan dari dermaga).

Faktor – faktor yang memengarui produktivitas. Dalam prosesnya,

apalagi berkaitan dengan tenaga kerja yang merupakan manusia, maka akan banyak

sekali faktor yang mempengaruhi baik dari dalam maupun dari luar karena seperti

yang diketahui manusia adalah mahkluk yang memiliki tenaga dan perasaan

(30)

Tarwaka (1991) meringkas faktor-faktor yang dapat mempengaruhi produktivitas kerja secara umum adalah sebagai berikut :

1. Motivasi. Motivasi menjadi aspek pertama yang mempengaruhi indikator penilaian kinerja karyawan. Motivasi, atau yang disebut juga dengan dorongan dari dalam diri, adalah kekuatan atau motor penggerak seseorang untuk melakukan kegiatan yang memiliki maksud tertentu dan memanfaatkan segala kemampaun yang mereka miliki guna meraihnya.

2. Etos kerja. Etos kerja adalah pedoman untuk mengukur sejauh manakah seseorang dapat melakukan pekerjaan yang dibebankan melalui usaha secara terus menerus untuk mencapai hasil yang unggul dalam setiap pekerjaan. Oleh karena itu etos kerja merupakan faktor penentu suatu produktivitas.

3. Kedisiplinan. Sikap secara mental yang ditunjukkan oleh perilaku atau tingkah seseorang dalam lingkup individu, kelompok, organisasi, atau masyarakat dengan mengikuti norma yang berlaku disebut dengan disiplin.

4. Keterampilan. Produktivitas ditingkatkan tidak hanya melalui faktor keterampilan teknis saja namun juga diikuti dengan kemapuan menejerial.

Dengan demiikian setiap pekerja dituntut untuk memiliki keterampilan dalam menguasai IPTEK terutama pada perkembagan teknologi yang mutakhir.

5. Pendidikan. Merupakan faktor terakhir yang bertindak sebagai peningkat

produktivitas. Pendidikan dalam hal ini meliputi pendidikan baik secara

(31)

yang kompeten, handal, dan dapat diandalkan.

Diketahui bahwa ternyata, setelah diuraikan ada banyak sekali faktor yang mempengaruhi produktivitas pekerja, yang dipengaruhi mulai dari tenaga kerja sendiri hingga faktor lain yang meliputi keterampilan pengetahuan/teknologi, pendidikan formal/informal,sikap disiplin, etika dalam kerja, masa kerja, status gizi apakah tercukupi, kondisi kesehatan yang prima, motivasi, tingkat penghasilan, lingkungan kerja maupun keluarga/sosial, saran produktivitas, manajemen dan kesempatan berprestasi, serta jaminan sosial. (Suryanto Ahmad,2008).

Umur. Pada dasanya setiap tahun umur manusia bertambah. Bertambahnya umur dari tahun ke tahun mempengaruhi kekuatan, penglihatan, maupun kesehatan pekerja. Umumnya tenaga kerja dengan usia lanjut memiliki tenaga fisik yang rentan memicu kelelahan, sebaliknya berlaku pada tenaga kerja dengan usia muda memiliki kemampuan fisik yang kuat dan dapat diandalkan (Amron, 2009).

Rentang usia 25-30 tahun merupakan rentang usia yang mencapai kemampuan fisik optimal, sedangkan kemampuan fisiologi akan menurun setiap 1%

pertahunnya setelah tenaga kerja mencapai usia tersebut. Bertambahnya umur akan diikuti dengan penurunan fisik, meliputi penurunan penyerapan oksigen, penglihatan, tajam pendengaran, kecepatakan dalam membedakan sesuatu, dan kemampuan berpikir yang melibatkan kemampuan berpikir jangka pendek dan pengambilan keputusan (Tarwaka, 2004).

Umur memiliki perbandingan secara terbalik dengan kapasitas kerja yang

mampu dilakukan secara fisik sampai batas waktu tertentu. Produktivitas berkaitan

dengan umur karena umur yang semakin bertambah akan diikuti dengan degenerasi

(32)

25% (Setyawati,2010).

Meningkatkan tingkat partisipasi kerja yang dipenharuhi oleh faktor umur menurut Simanjuntak (2001), pada dasarnya dipengaruhi oleh 2 hal, yakni: h

1. Semakin berusia seseorang, maka semakin kecil proposi atau jumlah penduduk yang bersekolah. Atau dengan kata lain jumlah penduduk yang sedang menjalani proses sekolah dalam kelompok umur muda jauh lebih besar daripada jumlah penduduk yang sedang menjalani proses sekolah dalam kelompok umur dewasa.

2. Semakin berusia seseorang, tanggung jawab yang dipikulnya akan semakin besar. Umumnya bahwa banyak masyarakat yang masih berusia muda terutama belum menikah masih menjadi tanggungan orangtuanya, walaupun tidak sedang bersekolah. Sebaliknya, orang dengan usia dewasa apalagi sudah menikah, memiliki tuntutan untuk mencukupi kebutuhan keluarganya yang harus dilakukan dengan melalui kerja keras.

Pelatihan. Pelatihan termasuk ke dalam pendidikan informal, merupakan proses jangka pendek yang mempergunakan prosedur sistematis dan terorganisasi dimana pegawai non manajerial mempelajari pengetahuan dan keterampilan teknis dalam tujuan terbatas. Pelatihan terdiri dari program-program yang disusun terencana untuk memperbaiki kinerja di level individual, kelompok, dan organisasi.

Memperbaiki kinerja yang dapat diukur perubahannya melalui pengetahuan,

keterampilan, sikap dan perilaku sosial dari karyawan itu. Pelatihan membantu

karyawan untuk melakukan pekerjaannya saat ini, serta pelatihan memberikan

(33)

Behaviour yang terus mengalami peningkatan yang dimiliki oleh setiap karyawan dengan itu dapat mewujudkan sasaran yang ingin dicapai oleh suatu organisasi atau perusahaan dalam pemenuhan standar sumber daya manusia yang diinginkan.

Berdasarkan sumbernya, metode pelatihan dapat di bagi menjadi dua, yaitu In-house dan Exsternal training. In-house training dapat berupa kegiatan on the job training, seminar, lokakarya, pelatihan internal perusahaan, dan pelatihan berbasis komputer, yang sumbernya berasal dari dalam perusahaan. Sedangkan external training terdiri dari kursus-kursus, seminar, dan lokakarya yang diselenggarakan oleh asosiasi profesional, lembaga pendidikan, trainer profesional, yang dilakukan pihak lain di luar perusahaan.

1. On the Job Training

Pelatihan ini biasanya dilaksanakan oleh departemen sumber daya

manusia, dengan cara melibatkan karyawan baru untuk terlibat secara

langsung dalam kegiatan operasional perusahaan. Orientasi karyawan

memberikan informasi latar belakang kepada karyawan baru yang

dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan mereka secara memuaskan, seperti

informasi tentang peraturan perusahaan. Orientasi yang berhasil harus

memenuhi empat hal utama: karyawan baru harus merasa diterima dan

nyaman, karyawan baru harus memahami organisasi tersebut dalam makna

luas (masa lalu, masa kini, budaya, dan visi masa depan), fakta kunci

seperti kebijakan dan prosedur, karyawan harus jelas mengenai apa yang

diharapkan dalam hal pekerjaan dan perilaku, dan karyawan harus mulai

menjalankan proses untuk membiasakan diri dengan cara perusahaan

(34)

Perusahaan sering menggunakan pelatihan di luar (outside training), dalam konteks pemahaman bahwa dilatih diluar perusahaan oleh orang dalam, atau oleh orang luar (diserahkan kepihak lain). Manfaat pelatihan untuk Individual atau pekerja:

a. Membantu individu dalam mengambil keputusan yang lebih baik dan pemecahan masalah yang efektif.

b. Membantu dalam mendorong dan mencapai pengembangan dan kepercayaan diri.

c. Membantu seseorang dalam mengatasi stres, tensi, kekecewaan, dan konflik.

d. Menyediakan informasi untuk memperbaiki pengetahuan kepemimpinan, keterampilan berkomunikasi dan sikap.

e. Meningkatkan pemberian pengakuan dan perasaan kepuasan pekerja.

f. Mengarahkan seseorang pada tujuan personal sambil memperbaiki keterampilan berinteraksi.

g. Mengembangkan jiwa untuk terus mau belajar.

h. Membantu mengurangi rasa takut/khawatir dalam mencoba melakukan tugas baru.

Pelatihan (baik bagi karyawan baru atau lama) memberikan keterampilan yang digunakan dan dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan menurut Garry Dressler.

Manfaat yang diperoleh dengan pendidikan dan pelatihan adalah:

(35)

2. Sebagai bentuk bantuan untuk mengurangi perasaan takut ketika berhadapan dengan tugas-tugas baru.

3. Meningkatkan kemampuan pengembangan diri dan rasa percaya diri.

4. Internalisasi dan operasionalisasi prestasi, motivasi kerja, tanggung jawab, prestasi, dan kemajuan (Justine Sirait, 2006).

Target dari pelatihan yang dilakukan pada dasarnya digunakan untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan. Melalui pelatihan, akan tercapai indikator-indikator diri karyawan yang meliputi pengembangan bakat, kreativitas, keterampilan dan motivasi kerja, inovasi, yang biasanya dikembangkan dalam proses pelatihan.

Masa kerja. Adalah lamanya seseorang pekerja bekerja dalam (tahun) dalam satu lingkungan perusahaan dihitung mulai saat bekerja sampai penelitian berlangsung (Suma’mur, 2014).

Menurut Bird and Germain dalam Saragih (2014), Karyawan baru

memerlukan perhatian lebih, pelatihan, pengawasan, dan bimbingan dari pada

karyawan lama yang memiliki pengalaman. Segala sesuatu yang baru bagi mereka

seperti teman sekerja, alat-alat, fasilitas kerja, prosedur kerja, kebiasaan, dan

peraturan-peraturan yang berlaku di perusahaan serta lingkungan tempat kerja

mereka. Mereka berusaha memberi kesan yang baik pada perusahaan dan atasan

dengan melakukan pekerjaan dengan baik. Masa kerja dapat menggambarkan

pengalaman seseorang dalam menguasai bidang tugasnya. Semakin lama seseorang

dalam pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya maka diharapkan akan mampu

meningkatkan produktivitasnya.

(36)

negatif. Akan memberikan pengaruh positif kepada tenaga kerja bila dengan lamanya seseorang bekerja maka dia akan semakin berpengalaman dalam melakukan tugasnya. Sebaliknya akan memberikan pengaruh negatif apabila semakin lamanya seseorang bekerja maka akan menimbulkan kebosanan (Tulus, 1992).

Kelelahan. Menurunnya efisiensi, performa kerja, dan penurunan kemampuan fisik/non fisik dalam melakukan atau meneruskan pekerjaa sering disebut dengan kelelahan. Kelelahan adalah mekanisme perlindungan yang dikeluarkan oleh tubuh untuk memberi peringatan kepada pemilik tubuh untuk beristirahat agar menghindari kerusakan yang bisa saja terjadi pada tubuh. Kelelahan pada tubuh dapat dipulihkan dengan beristirahat. Kelelahan sendiri diatur secara terpusat oleh otak manusia yakni pada susunan syaraf yang memiliki sistem aktivitas atau bersifat simpatis dan inhibisi atau bersifat parasimpatis (Wignjosoebroto, 2003).

Tingkat kelelahan atau tingginya kelelahan dipengaruhi oleh faktor pekerjaan yang dilakukan setiap hari. ika diuraikan lagi dari indikator tersebut maka akan didapatkan faktor yang mempengaruhi tingakt kelelahan bekerja yang meliput:

waktu istirahat, jam kerja, suhu, cahaya, ventilasi yang memiliki pengaruh pada kenyamanan bekerja, mental, sikap, dan kelelahan. Selain itu, terdapat gangguan lain yang tindak diinginkan dan mungkin terjadi seperti getaran dan kebisingan, yang jika terjadi harus sesegera mungkin dikurangi atau ditiadakan. Untuk mewujudkan terciptanya kondisi fisik yang menyenangkan, hal ini sebaiknya dipahami dengan benar (Nasution dalam Putra, 2011).

Penyebab kelelahan kerja menurut ILO dalam Setyawati (2010), secara

umum berkaitan dengan:

(37)

3. Ketahanan kerja dan intensitas kerja fisik dan mental yang tinggi.

4. Cuaca pada ruangan kerja, kebisingan maupun pencahayaan yang tidak memadai.

5. Faktor psikologis, meliputi situasi kondusif yang dilandasi dengan rasa tanggung jawab, atau kondisi yang menimbulkan ketegangan berupa munculnya konflik.

6. Kesehata, berhubungan dengan penyakit dan gizi.

7. Circadian rhytm (irama sirkadian).

Kelelahan memiliki gejala-gejala tertentu sebagai penadanya, seperti:

1. Kepala cenderung terasa berat, seluruh tubuh yang mengalami kebas, kaki terasa berat, pikiran tidak konsentrasi, mengantuk, kaku dan canggung dalam melakukan pergerakan, mata berat, menguap serta ketidakseimbangan berdiri dan perasaan ingin merebahkan diri yang muncul secara terus menerus.

2. Berpikir menjadi lebih sulit, lelah untuk berbicara, gugup, tidak dapat konsentrasi, susah perhatian terhadap sesuatu, lupa, tidak percaya diri, cemas, dan menurunnya sikap dalam bekerja.

3. Kepala terasa sakit, bahu kaku, punggung nyeri, susah bernafas, suara serak, spasme dari kelopak mata, tremor pada anggota badan dan kurang sehat badan (Suma’mur, 2009).

Gejala-gejala kelelahan yang masuk ke dalam golongan 1 menunjukkan

pelemahan kegiatan, sedangkan pada golongan 2 menunjukkan pelemahan terhadap

motivasi kerja, golongan 3 menunjukkan pelemahan fisik akibat menurunnya kondisi

(38)

terjadi akibat hasil dari suatu hasil dari aktivitas yang panjang. Kelelahan dapat diidentifikasi karena memiliki gejala. Gejala kelelahan nampak oleh mata dan dapat dirasakan, yaitu menurunnya mulai lambannya gerakan saat bekerja, perhatian, penglihatan kabur, pikiran susah konsentrasi, motivasi kerja menurun, kinerja tidak prima, serta meningkatnya kesalahan yang berakibat dari penurunan ketelitian.

Menurut Grandjean (2000), mengelompokkan metode pengukuran kelelahan dalam beberapa kelompok sebagai berikut:

1. Kualitas dan Kuantitas hasil kerja Kualitas output digambarkan sebagai suatu jumlah proses kerja (waktu yang digunakan setiap item) atau proses operasi yang dilakukan setiap unit.

2. Uji psiko-motor Salah satu digunakan adalah pengukuran waktu reaksi.

Waktu reaksi adalah jangka waktu dari pemberian suatu rangsang sampai kepada suatu saat kesadaran atau dilaksanakan kegiatan.

3. Uji hilangnya kelipatan Dalam kondisi yang lelah, kemampuan tenaga kerja untuk melipat kelipatan akan berkurang. Semakin lelah akan semakin panjang waktu yang diperlukan untuk jarak antara kelipatan.

4. Perasaan kelelahan secara subjektif Subjective Self Rating Test dari Industrial Fatigue Research Committee (IFRC) Jepang, merupakan salah satu kuesioner yang digunakan untuk mengukur tingkat kelelahan subjektif. Selain itu, dapat pula digunakan kuesioner untuk mengukur tingkat kelelahan subjective (KAUPK2).

Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja (KAUPK2) adalah alat ukut

yang digunakan untuk mengukur indikator kelelahan kerja yang dirancang oleh

(39)

dapat diderita oleh tenaga kerja, antara lain : susah berpikir, lelah berbicara, gugup menghadapi sesuatu, tidak pernah berkonsentrasi mengerjakan sesuatu, tidak punya perhatian terhadap sesuatu, cenderung lupa, kurang percaya diri, tidak tekun dalam melaksanakan pekerjaan, enggan menatap orang lain, enggan bekerja dengan cekatan, tidak tenang bekerja, lelah seluruh tubuh, bertindak lamban, tidak kuat berjalan, lelah sebelum bekerja, daya pikir menurun, dan cemas terhadap sesuatu.

Penelitian Terdahulu

Tanti dan Tuwis Hariyani (2018) dengan penelitiannya yang mengenai

“Analisa Pengaruh Tingkat Upah, Masa Kerja, Usia Terhadap Produktivitas Tenaga Kerja” dengan t tabel (α = 0.05 ; db residual = 46) adalah sebesar 2.013, menunjukkan variabel yang ditunjukkan dengan X2 yang menerangkan variabel masa kerja dengan Y yakni variabel yang menerangkan produktivitas kerja menghasilkan t hitung sebesar = 3,565. Maka pengaruh X2 adalah signifikan pada tingkat kesalahan α = 5%. karena t hitung > t tabel yaitu 3.565 > 2.013.

Sementara menurut penelitian oleh Wulandari (2018), yang berjudul “Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Produktivitas Kerja Karyawan Penyadap Karet di PT.

Perkebunan Nusantara III (Kasus: Kebun Sarang Giting, Kecamatan Dolok Masihul, Kabupaten Serdang Bedagai), hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa jumlah tanggungan, gaji dan premi, serta tingkat pendidikan memiliki pengaruh secara signifikan terhadap produktivitas kerja karyawan penyadap di PTPN III Kebun Sarang Giting.

Mufti Aspiyah dan Martono (2016) melakukan penelitian dengan judul

“Pengaruh Disiplin Kerja, Lingkungan Kerja, Dan Pelatihan Pada Produktivitas

(40)

Variabel Independen : 1. Umur

2. Pelatihan 3. Masa Kerja 4. Kelelahan

0,232 dan nilai signifikansi 0,001, dan pelatihan secara sebagian akan memiliki pengaruh baik dan signifikan pada produktivitas kerja karyawan. Peneliti mengambil kesimpulan bahwa semakin tinggi tingkat kedisiplinan karyawan, maka menandakan semakin baik lingkungan kerja dan menunjukkan baiknya kualitas pelatihan, yang dapat mengakibatkan kinerja karyawan dalam hal produktivitas.

Dari kegiatan penelitian tersebut peneliti menyimpulkan bahwa semakin tinggi tingkat kedisiplinan karyawan, semakin baik lingkungan kerja dan kualitas pelatihan maka akan semakin meningkatkan produktivitas kerja karyawan.

Kerangka Konsep

Berdasarkan latar belakang dan uraian teori, maka peneliti menentukan kerangka konsep untuk penelitian ini sebagai berikut:

Gambar 2. Kerangka konsep penelitian

Variabel Dependen :

Produktivitas

(41)

24

Metode Penelitian Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional yang bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi produktivitas operator container crane di Belawan International Container Terminal tahun 2020.

Lokasi dan Waktu Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Belawan International Container Terminal serta waktu penelitian dilaksanakan mulai bulan Maret – Oktober tahun 2020 . Populasi dan Sampel

Populasi. Populasi adalah keseluruhan objek penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh operator container crane di Belawan International Container Terminal yaitu sebanyak 28 orang.

Sampel. Seluruh total populasi yaitu sebanyak 28 orang.

Variabel dan Definisi Operasional

1. Produktivitas adalah jumlah rata-rata peti kemas yang dibongkar muat dalam satu jam kerja oleh tiap crane diukur dengan satuan box/crane/hour (B/C/H). Standar produktivitas kerja crane yang telah ditetapkan di BICT adalah 24 B/C/H.

2. Operator container crane adalah pekerja yang bertugas memindahkan

peti kemas dari dermaga ke atas kapal dan sebaliknya.

(42)

3. Umur adalah usia operator container crane yang dihitung sejak dilahirkan hingga penelitian ini dilakukan.

4. Pelatihan adalah pelatihan yang pernah diterima operator dalam bentuk sertifikasi pesawat angkat dan angkut.

5. Kelelahan adalah perasaan lelah berupa keluhan dan gejala subyektif operator yang dirasakan karena pekerjaannya yang diukur dengan KAUPK2.

Metode Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan cara yang digunakan peneliti untuk mendapatkan data dalam suatu penelitian.

Data primer. Pengumpulan data primer diperoleh dengan wawancara langsung terhadap operator container crane dengan menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan terlebih dahulu dengan cara responden menuliskan jawaban langsung di kuesioner.

Data sekunder. Data sekunder diperoleh dari Belawan International Container Terminal dan laporan tahunan PT Pelabuhan Indonesia 1 (persero).

Metode Pengukuran Data

Variable dependen. Produktivitas tenaga kerja adalah gambaran

kemampuan pekerja dalam menghasilkan output. Dalam penelitian ini

produktivitas operator container crane dihitung dengan membagi jumlah hasil peti

kemas yang berhasil dipindahkan dengan jumlah jam kerja. Produktivitas tersebut

dinyatakan dalam satuan B/C/H. Berdasarkan Standar Kinerja Pelayanan

Operasional pada Peti Kemas yang Telah Ditetapkan Oleh Otoritas Pelabuhan

(43)

Utama Belawan tahun 2019, produktivitas operator container crane dikategorikan sebagai berikut:

1 = Produktif, jika operator memindahkan ≥ 24 peti kemas dalam 1 jam kerja.

2 = Tidak produktif, jika operator memindahkan < 24 peti kemas dalam 1 jam kerja.

Variabel Independen.

Umur. Data mengenai usia operator didapatkan dengan menanyakan langsung pada operator melalui kuesioner. Variabel umur didasarkan pada usia operator sejak lahir hingga saat penelitian dilakukan. Skala ukur berbentuk rasio yang dikategorikan menurut Setyawati, 2010 :

1 = Produktif, jika umur respondenn 25-35 tahun.

2 = Tidak produktif, jika umur responden < 25 tahun atau > 35 tahun.

Pelatihan. Data mengenai pelatihan operator didapatkan dengan menanyakan langsung pada operator melalui kuesioner. Variabel pelatihan dibagi menjadi dua yaitu yang dikategorikan menjadi:

1= Pernah mengikuti sertifikasi pesawat angkat dan angkut.

2 = Tidak pernah mengikuti sertifikasi pesawat angkat dan angkut.

Kelelahan. Untuk mengukur kelelahan kerja peneliti menggunakan kuesioner baku KAUPK2 (Kuesioner Alat Ukur Perasaan Kelelahan Kerja).

KAUPK2 terdiri dari 3 aspek, yaitu aspek pelemahan aktivitas, aspek pelemahan

motivasi, dan aspek gejala fisik. KAUPK2 merupakan instrumen yang disusun

oleh Setyawati yang telah diuji kesasihan dan keandalannya. KAUPK2 terdiri dari

(44)

17 pertanyaan, setiap jawaban diberi skor dengan ketentuan : 1. Skor 3 (tiga) : diberikan untuk jawaban “Ya, sering”

2. Skor 2 (dua) : diberikan untuk jawaban “Ya, jarang”

3. Skor 1 (satu) : diberikan untuk jawaban “Tidak pernah”

Berdasarkan jumlah skor dari kuesioner menggunakan skala interval dengan tiga skala pengukuran, tingkat perasaan kelelahan kerja dikategorikan sebagai berikut :

1. Kurang lelah bila jumlah skor KAUPK2 < 23 2. Lelah bila jumlah skor KAUPK2 antara 23-31 3. Sangat lelah bila jumlah skor KAUPK2 > 31 Metode Analisis Data

Analisis data yang lakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan untuk melihat distribusi, frekuensi dan presentase masing-masing variabel. Data yang telah diolah disajikan dalam bentuk tabel. Setelah analisis univariat dilakukan dilanjutkan dengan analisis bivariat.

Analisis bivariat merupakan analisis untuk mengetahui interaksi dua variabel yang berhubungan atau berkorelasi. Analisis ini dilakukan dengan uji statistik chi square. Untuk menguji hipotesis dan menentukan hubungan variabel bebas dengan variabel terikat dengan menggunakan uji Chi Square (X2) dengan α=0.05.

Persamaan Chi Square :

df = (k-1) (b-1)

(45)

Keterangan : X2 = Chi Square

O = Nilai yang diamati (Observasi) E = Nilai yang diharapkan (Ekspetasi) df = Derajat kebebasan (degree of freedom) k = Jumlah kolom

b = Jumlah baris

Apabila nilai p ≤ α=0,05 maka hasilnya bermakna secara statistik atau terdapat

hubungan (Ha diterima), sedangkan bila nilai p ≥ α=0,05 maka hasilnya tidak

bermakna secara statistik atau tidak terdapat hubungan (Ho ditolak).

(46)

29

Hasil Penelitian

Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Sejarah Belawan International Container Terminal. Belawan International Container Terminal (BICT) merupakan salah satu cabang perusahaan dari PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) yang melaksanakan pengusahaan dan pelayanan jasa bongkar muat petikemas. Terminal ini merupakan yang terbesar di Sumatera, berlokasi di daerah Gabion Belawan, yaitu Timur Laut Sumatera. Tepatnya sekitar 30 KM dari Kota Medan, ibu kota propinsi Sumatera Utara. Belawan International Container Terminal berada di muara Sungai Belawan dan Sungai Deli dengan alur pelayaran sepanjang 13,5 km yang menghubungkan pelabuhan dengan perairan di Selat Malaka.

Belawan International Container Terminal mulai dibangun tahun 1980 pada areal hasil urukan seluas ± 30 hektar, dan diresmikan pemakaiannya oleh Presiden Republik Indonesia pada tanggal 17 Maret 1987. Pengembangan pelayanan peti kemas di Belawan dilaksanakan secara bertahap baik dari sisi organisasi maupun sisi pelayanan, yaitu dimulai dari dibentuknya organisasi Divisi Unit Terminal Peti Kemas dibawah organisasi Cabang Pelabuhan Belawan pada tanggal 1 September 1984 dan mulai beroperasi melayani bongkar muat dengan crane kapal pada tanggal 10 Februari 1985. Beroperasi secara penuh sebagai Terminal Peti Kemas setelah dilengkapi 2 unit Container Crane pada Maret 1987.

Berdasarkan Keputusan Direksi PT (Persero) Pelabuhan Indonesia I

Nomor : OT.09/I/I/PI-98 tanggal 16 Januari 1998 ditetapkan struktur organisasi

(47)

dan tata kerja Unit. Sejak itu Divisi pada Cabang Pelabuhan Belawan secara resmi berubah status menjadi pelabuhan cabang atau unit usaha mandiri dari PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) dengan nama Unit Usaha Terimal Peti Kemas Belawan disingkat Unit UTPK Belawan. Selanjutnya pada tahun 2003 struktur

PR.01/1/4/PI-03 tanggal 7 Pebruari 2003 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja pada Cabang Pelabuhan.

Pada tahun 2009 Unit UTPK Belawan berubah nama menjadi PT Pelabuhan Indonesia I (Persero) Belawan International Container Terminal (disingkat BICT) dengan melayani bongkar muat petikemas kapal yang berasal Domestik maupun Internasional. Pada tahun 2014 BICT sesuai dengan Keputusan Direksi nomor PR.02/2/24/PI-14.TU, tanggal 29 Agustus 2014, tentang Organisasi dan Tata Kerja Belawan International Container Terminal hanya melayani kegiatan bongkar muat petikmas International.

Visi dan misi. Sebagai bagian dari PT Pelabuhan Indonesia I (Persero), Belawan International Container Terminal harus mendukung visi dan misi korporat. Visi dan Misi ini menjadi acuan dalam menetapkan program jangka pendek maupun jangka panjang, adapun visi dan misi PT. Pelabuhan Indonesia I (Persero) yang juga menjadi target BICT adalah :

Visi : Menjadi Nomor satu di Bisnis Kepalabuhanan di Indonesia.

Misi : Menyediakan jasa kepelabuhanan yang terintegrasi, berkualitas dan

bernilai tambah untuk memacu pertumbuhan ekonomi wilayah.

(48)

Analisis Univariat

Dalam penelitian ini, peneliti akan meneliti tentang distribusi frekuensi atau persebaran frekuensi yang berasal dari variabel dependen maupun independen. Adapun variabel tersebut meliputi umur, pelatihan, kelelahan, dan produktivitas. Untuk menganalisis variabel tersebut dilakukan dengan menggunakan analisis univariat.

Karakteristik responden. Data karakteristik responden dilihat dari umur, jenis kelamin dan pendidikan. Tingkat pendidikan responden terdiri dari SMK dan sarjana (S1). Umur responden termasuk kedalam umur produktif jika responden memiliki usia 25-35 tahun. Berikut karakteristik responden disajikan dalam bentuk tabel.

Tabel 1

Data Karakteristik Responden Berdasarkan Umur dan Tingkat Pendidikan dan Masa Kerja pada Operator Container Crane BICT Tahun 2020

Responden Umur Tingkat Pendidikan

Responden 1 29 SMK

Responden 2 30 SMK

Responden 3 29 SMK

Responden 4 30 SMK

Responden 5 28 SMK

Responden 6 31 SMK

Responden 7 31 SMK

Responden 8 32 SMK

Responden 9 31 SMK

Responden 10 31 SMK

Responden 11 30 SMK

Responden 12 29 SMK

Responden 13 31 SMK

Responden 14 31 SMK

(bersambung)

(49)

Tabel 2

Data Karakteristik Responden Berdasarkan Umur dan Tingkat Pendidikan pada Operator Container Crane BICT Tahun 2020

Responden Umur Tingkat Pendidikan

Responden 15 30 SMK

Responden 16 29 SMK

Responden 17 30 S1

Responden 18 30 SMK

Responden 19 33 SMK

Responden 20 30 S1

Responden 21 29 SMK

Responden 22 33 S1

Responden 23 30 SMK

Responden 24 28 SMK

Responden 25 29 SMK

Responden 26 30 SMK

Responden 27 29 SMK

Responden 28 30 SMK

Dari tabel 2, dapat dilihat seluruh termasuk dalam kategori umur produktif (25-35 tahun) yaitu sebanyak 28 orang. Mayoritas responden dengan tingkat pendidikan SMK yakni sebanyak 25 orang dan 3 orang responden dengan tingkat pendidikan sarjana.

Tabel 3

Distribusi Responden Berdasarkan Kelompok Umur

Kategori umur (n) (%)

28-30 tahun 19 67,9

31-33 tahun 9 32,2

Jumlah 28 100,0

Dari tabel 3, jika umur responden dikategorikan dengan mengunakan nilai

median dapat dilihat kelompok responden dengan umur 28-30tahun sebanyak 19

orang (67,9%) dan kelompok responden dengan umur 31-33tahun sebanyak 9

orang (32,2%).

(50)

Tabel 4

Distribusi Responden Berdasarkan Jumlah Mengikuti Pelatihan

Kategori Jumlah Mengikuti Pelatihan (n) (%)

2 kali 15 53,6

3 kali 13 46,4

Jumlah 28 100,0

Dari tabel 4, dapat dilihat kelompok responden yang pernah mengikuti pelatihan berupa sertifikasi pesawat angkat dan angkut sebanyak 2 kali adalah 15 orang (53,6%) dan yang pernah mengikuti pelatihan berupa sertifikasi pesawat angkat dan angkut sebanyak 3 kali adalah 13 orang (46,4%).

Tabel 5

Distribusi Responden Berdasarkan Masa Kerja

Kategori Masa Kerja (n) (%)

≤ 9,9 tahun 15 53,6

> 9,9 tahun 13 46,4

Jumlah 28 100,0

Dari tabel 5, dapat dilihat kelompok responden dengan masa kerja

≤9,9tahun sebanyak 15 orang (53,6%) dan kelompok responden dengan masa

kerja >9,9 tahun sebanyak 13 orang (46,4%).

(51)

Tabel 6

Data Responden Berdasarkan Kelelahan dan Produktivitas pada Operator Container Crane BICT Tahun 2020

Responden Skor Kelelahan

Kategori Kelelahan

Produktivit as (B/C/H)

Kategori Produktif Responden 1 34 Sangat Lelah 23 Tidak Responden 2 24 Lelah 28 Ya Responden 3 26 Lelah 29.3 Ya Responden 4 36 Sangat Lelah 22.3 Tidak

Responden 5 23 Lelah 22 Tidak

Responden 6 28 Lelah 30.6 Ya Responden 7 36 Sangat Lelah 19.6 Tidak Responden 8 21 Kurang Lelah 31 Ya Responden 9 21 Kurang Lelah 30 Ya Responden 10 21 Kurang Lelah 26 Ya Responden 11 22 Kurang Lelah 12 Tidak Responden 12 22 Kurang Lelah 30 Ya Responden 13 21 Kurang Lelah 20 Tidak Responden 14 22 Kurang Lelah 18 Tidak Responden 15 22 Kurang Lelah 32.5 Ya Responden 16 36 Sangat Lelah 15.5 Tidak Responden 17 26 Lelah 30 Ya Responden 18 30 Lelah 24 Ya Responden 19 22 Kurang Lelah 21 Tidak Responden 20 27 Lelah 30 Ya Responden 21 22 Kurang Lelah 28 Ya Responden 22 21 Kurang Lelah 20.3 Tidak

Responden 23 26 Lelah 30.6 Ya

Responden 24 24 Lelah 32 Ya

Responden 25 27 Lelah 22.3 Tidak

Responden 26 25 Lelah 22 Tidak Responden 27 34 Sangat Lelah 24.3 Ya Responden 28 22 Kurang Lelah 18 Tidak

Dari tabel 6, dapat dilihat sebanyak 12 orang responden merasa kurang

lelah, 11 orang responden merasa lelah dan 5 orang responden merasa sangat

lelah. Responden yang termasuk dalam kategori produktif sebanyak 15 orang dan

responden yang termasuk dalam kategori tidak produktif sebanyak 13 orang.

(52)

Analisis Bivariat

Hubungan Produktivitas dengan Kelelahan pada Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT).

Tabel 7

Hubungan Produktivitas dengan Jumlah Mengikuti Pelatihan pada Operator Container Crane di Belawan International Container Terminal (BICT) Tahun 2020.

Jumlah Mengikuti

Pelatihan

Produktivitas

Ya Tidak Jumlah P

value

(n) (%) (n) (%) (n) (%)

2 kali 8 28,6 7 25,0 15 53,6

0,638

3 kali 7 25,0 6 21,4 13 46,4

Total 15 53,6 13 46,4 28 100,0

Berdasarkan tabel 67di atas, dapat dilihat bahwa operator container crane

yang pernah mengikuti pelatihan sebanyak 2 kali dan telah bekerja produktif

sebanyak 8 orang (28,6%) dan yang belum bekerja secara produktif sebanyak 7

orang (25,0%), sedangkan operator container crane yang pernah mengikuti

pelatihan sebanyak 3 kali dan telah bekerja produktif sebanyak 7 orang (25,0%)

dan yang belum bekerja secara produktif sebanyak 6 orang (21,4%). Hasil uji

statistik diperoleh p value sebesar 0,638 (p > 0,05) yang berarti tidak terdapat

hubungan yang bermakna antara produktivitas operator container crane dengan

jumlah mengikuti pelatihan.

Gambar

Gambar 1. Container cranes

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi harga diri suami tinggal di rumah mertua. Tema yang diungkap dalam penelitian ini adalah alasan

Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi pemasungan terhadap penderita skizofrenia di kota Binjai Provinsi Sumatera

Tujuan dari penelitian ini yaitu: mengetahui faktor-faktor determinan yang memengaruhi terbentuknya jiwa wirausaha siswa SMK dan mengetahui bagaimana masing-masing

Berdasarkan jenis kapal terbesar yang masuk ke pelabuhan, kedalaman alur yang diperlukan yaitu 13,43 mLWS, lebar alur untuk satu jalur adalah 57,6 m, sedangkan untuk dua jalur

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi minat berwirausaha mahasiswa Program Studi Pendidikan Akuntansi FKIP Universitas Sebelas

Tujuan dan manfaat penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi tingkat perolehan margin pembiayaan dengan akad murabahah pada Bank Syariah X;

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah Untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pengeluaran konsumsi rumah tangga nelayan tangkap di Kelurahan Barombong

Jenis penelitian ini kualitatif dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi pencapaian nihil kecelakaan (zero accident) di PT.. PLN (Persero) Area