• Tidak ada hasil yang ditemukan

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI ISI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI ISI"

Copied!
70
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user

UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI ISI BACAAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

MELALUI PEMBELAJARAN MEMBACA CERDAS PADA SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SLB ABCD TUNAS

PEMBANGUNAN I NOGOSARI BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2011/2012

SKRIPSI

Oleh:

GIMER SUYATNO X.5211004

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS SEBELAS MARET

SURAKARTA JULI, 2012

(2)

commit to user ii

(3)

commit to user iii

(4)

commit to user iv

ABSTRAK

Gimer Suyatno. ”UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMAHAMI ISI BACAAN DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA MELALUI PEMBELAJARAN MEMBACA CERDAS PADA SISWA TUNAGRAHITA KELAS III SLB ABCD TUNAS PEMBANGUNAN I NOGOSARI BOYOLALI TAHUN PELAJARAN 2011/2012”. Skripsi, Surakarta: Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sebelas Maret, Juli 2012.

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pembelajaran membaca cerdas pada siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali tahun pelajaran 2011/2012.

Pendekatan penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Subyek penelitian ini adalah seluruh siswa tunagrahita kelas III semester II SLB Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali tahun pelajaran 2011/2012 yang berjumlah 4 siswa. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi untuk mengamati aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran kemampuan memahami isi bacaan melalui pembelajaran membaca cerdas, dokumentasi untuk memperoleh data kemampuan memahami isi bacaan awal, sedangkan tes digunakan untuk memperoleh data kemampuan memahami isi bacaan siklus I dan II. Teknik analisis data digunakan analisis deskriptif komparatif, yakni dengan membandingkan kemampuan memahami isi bacaan antarsiklus, yang dianalisis adalah kemampuan memahami isi bacaan siswa sebelum melalui pembelajaran membaca cerdas dan kemampuan memahami isi bacaan siswa setelah melalui pembelajaran membaca cerdas sebanyak dua siklus.

Hasil penelitian data awal nilai kemampuan memahami isi bacaan, diketahui nilai rerata sebesar 50,00. Seluruh siswa mendapat nilai kurang dari 60,00 dan belum ada yang tuntas. Hasil tes pada siklus I, diketahui rerata nilai kemampuan memahami isi bacaan sebesar 60,00, ketuntasan secara klasikal telah mencapai 75,00%. Hasil tes pada siklus II, diketahui rerata nilai kemampuan memahami isi bacaan sebesar 67,50, seluruh siswa siswa mendapat nilai 60,00 atau lebih (tuntas belajarnya). Ketuntasan secara klasikal telah mencapai 100,00%.

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran membaca cerdas dapat meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali tahun pelajaran 2011/2012.

Kata kunci: kemampuan memahami isi bacaan, pembelajaran membaca cerdas, siswa tunagrahita.

(5)

commit to user v

ABSTRACT

Gimer Suyatno. ”AN EFFORT TO INCREASE THE ABILITY TO COMPREHEND THE CONTENT OF READING TEXT IN TEACHING INDONESIAN THROUGH SMART READING TEACHING ON THE MENTALLY RETARDED CLASS III SLB ABCD TUNAS PEMBANGUNAN I NOGOSARI BOYOLALI IN THE SCHOOL YEAR 2011/2012”. Skripsi, Surakarta: The Faculty of Teacher Training and Science Education, Sebelas Maret University, Jule, 2012.

The aim of this study is to increase the ability to comprehend the content of reading text in teaching Indonesian through smart reading teaching on the mentally retarded class III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali in the school year 2011/2012.

The approach used in this study is Class Action Research (CAR). It is a study done by teacher in the class where he teaches by stressing on perfectness or increasing practice and process in teaching Indonesian. The subject of this study is all of elementary class III students semester II in SLB Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali in the school year 2011/2012 that consisting of 4 students.

This study uses observation as the technique to collect the data. It observes the teacher’s activity and the students’ activity in studying the ability to comprehend the content of reading text through smart reading teaching. Documentation is used to get the data of the early ability to comprehend the content of reading text, while the test is used to get the data of the ability to comprehend the content of reading text in the cycles I and II. To analyze the data this sudy uses descriptive comparative analysis, that is by comparing the ability to comprehend the content of reading text inter-cycles. The data being analyzed are the ability to comprehend the content of reading text before applying smart reading teaching and the ability to comprehend the content of reading text after applying smart reading teaching, two cycles .

From the early data about the value of ability to comprehend the content of reading text, the result of this study shows that the average value is 50.00. All of the students get value less than 60.00, so no one passes. The result of the test in the cycle I shows that the average value to comprehend the content of reading text is 60.00, so the classical exhaustiveness has reached 75.00%. The result of the test in the cycle II shows that the average value to comprehend the content of reading text is 67.50, all of the students get value 60.00 or more. (It’s better than before.) So the classical exhaustiveness has reached 100.00%.

Based on the result of this study, it can be concluded that smart reading teaching can increase the ability to comprehend the content of reading text in teaching Indonesian on the mentally retarded class III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali in the school year 2011/2012.

Key words: the ability to comprehend the content of reading text, smart reading teaching, mentally retarded.

(6)

commit to user vi

MOTTO

Artinya: “Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyeru kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah ... “ (Q.S. Ali Imron: 110).

(7)

commit to user vii

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan kepada:

- Istri tercinta.

- Anak-anak tersayang.

- Rekan-rekan PLB FKIP UNS.

- Murid-murid yang kusayangi.

- Almamater.

(8)

commit to user viii

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT., atas rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini untuk memenuhi sebagian persyaratan untuk mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Luar Biasa, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Banyak hambatan yang menimbulkan kesulitan dalam penyelesaian penulisan penelitian tindakan kelas ini, namun berkat bantuan dari berbagai pihak akhirnya kesulitan-kesulitan yang timbul dapat diatasi. Untuk itu, atas segala bentuk bantuan yang telah diberikan, penulis mengucapkan terima kasih kepada yang terhormat:

1. Prof. Dr. rer. nat. Sajidan, M.Si., atas nama Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sebelas Maret Surakarta yang telah memberi ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian.

2. Drs. R. Indianto, M.Pd., Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan yang telah memberikan ijin kepada penulis untuk melaksanakan penelitian tindakan kelas.

3. Drs. Hermawan, M.Si, Ketua Program Studi Pendidikan Luar Biasa yang telah memberikan ijin penyusunan skripsi.

4. Drs. Maryadi, M.Ag., selaku pembimbing I yang telah memberikan petunjuk kepada penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.

5. Dewi Sri Rejeki, S.Pd.,M.Pd., selaku pembimbing II yang dengan sabar telah memberikan bimbingan dan pengarahan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

6. Sugimin, S.Pd., Kepala SLB Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali yang telah memberikan ijin tempat penelitian dan informasi yang dibutuhkan penulis.

7. Semua pihak yang telah membantu penulis dalam menyelesaikan penelitian tindakan kelas ini.

(9)

commit to user ix

Dalam penyusunan skripsi ini, penulis menyadari masih ada kekurangan, karena keterbatasan pengetahuan yang ada dan tentu hasilnya juga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu segala saran dan kritik yang bersifat membangun sangat penulis harapkan.

Semoga kebaikan Bapak, Ibu, mendapat pahala dari Allah SWT., dan menjadi amal kebaikan yang tiada putus-putusnya dan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang berkepentingan.

Surakarta, Juli 2012

Penulis

(10)

commit to user x

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PERNYATAAN ... ii

HALAMAN PENGAJUAN ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... v

HALAMAN PENGESAHAN ... v

HALAMAN ABSTRAK ... vi

HALAMAN ABSTRACT ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... ii

DAFTAR TABEL ... iv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR GRAFIK ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN ... xvii

BAB I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Rumusan Masalah ... 4

C. Tujuan Penelitian ... 4

D. Manfaat Penelitian ... 4

BAB II. KAJIAN PUSTAKA ... 6

A. Kajian Pustaka ... 6

1. Tinjauan tentang Anak Tunagrahita ... 6

2. Tinjauan tentang Kemampuan Memahami Isi Bacaan ... 12

3. Tinjauan tentang Membaca Cerdas ... 15

B. Kerangka Berpikir... 24

C. Hipotesis Tindakan ... 25

(11)

commit to user xi

Halaman

BAB III. METODE PENELITIAN ... 26

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 26

B. Subyek Penelitian ... 27

C. Data dan Sumber Data ... 27

D. Pengumpulan Data ... 27

E. Uji Validitas Data ... 31

F. Analisis Data ... 33

G. Indikator Kinerja Penelitian... 33

H. Prosedur Penelitian ... 33

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 37

A. Deskripsi Pratindakan ... 37

B. Deskripsi Hasil Tindakan Tiap Siklus ... 38

C. Perbandingan Hasil Tindakan Antarsiklus ... 49

D. Pembahaan ... 52

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN ... 54

A. Simpulan ... 54

B. Implikasi... 54

C. Saran ... 55

DAFTAR PUSTAKA ... 56

LAMPIRAN-LAMPIRAN... 58

(12)

commit to user xii

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian ... 26 Tabel 2. Daftar Siswa Tunagrahita Kelas III SLB Tunas Pembangunan I

Nogosari Boyolali sebagai Subyek Penelitian... 27 Tabel 3. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III

SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada

Kondisi Awal ... 37 Tabel 4. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III

SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada

Siklus I ... 42 Tabel 5. Kemampuan Memahami Isi bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III

SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada

Siklus II ... 47 Tabel 6. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Setiap Siklus Melalui

Pembelajaran Membaca Cerdas ... 50 Tabel 7. Peningkatan Kemampuan Memahami Isi Bacaan Setiap Siklus .... 51 Tabel 8. Peningkatan Kemampuan memahami isi bacaan Setiap Siklus ... 51

(13)

commit to user xiii

DAFTAR BAGAN

Halaman Bagan 1. Kerangka Berpikir ... 24 Bagan 2. Alur Penelitian Tindakan Kelas ... 36

(14)

commit to user xiv

DAFTAR GRAFIK

Halaman Grafik 1. Kemampuan Mehamai Isi Bacaan pada Kondisi Awal ... 38 Grafik 2. Kemampuan Mehamai Isi Bacaan pada Siklus I ... 42 Grafik 3. Kemampuan Mehamai Isi Bacaan pada Siklus II ... 48 Grafik 4. Peningkatan Kemampuan Memahami Isi Bacaan Melalui

Pembelajaran Membaca Cerdas ... 51 Grafik 5. Peningkatan Kemampuan Memahami Isi Bacaan Setiap Siklus ... 51

(15)

commit to user xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman

Lampiran 1. Jadwal Kegiatan Penelitian... 58

Lampiran 2. Silabus ... 59

Lampiran 3. Kisi-kisi Soal Tes Bahasa Indonesia Kelas D III/C SLB ABCD TP 1 Nogosari Boyolali ... 60

Lampiran 4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) ... 61

Lampiran 5. Lembar Pengamatan Proses, Psikomotor, Perilaku Berkarak- ter, Keterampilan Sosial ... 68

Lampiran 6. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III SLB Tunas Pembangunan I Nogosari (Nilai Awal) ... 72

Lampiran 7. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III SLB Tunas Pembangunan I Nogosari (Siklus I) ... 73

Lampiran 8. Kemampuan Memahami Isi Bacaan Siswa Tunagrahita Kelas III SLB Tunas Pembangunan I Nogosari (Siklus II) ... 74

Lampiran 9. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru (Siklus I) ... 75

Lampiran 10. Lembar Pengamatan Aktivitas Guru (Siklus II) ... 76

Lampiran 11. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa (Siklus I) ... 77

Lampiran 12. Lembar Pengamatan Aktivitas Siswa (Siklus II) ... 78

Lampiran 13. Foto-foto Kegiatan Penelitian ... 79

Lampiran 14. Perijinan Penelitian ... 81

(16)

commit to user BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Menurut pandangan umum sekolah merupakan lembaga pendidikan yang dapat mengubah tingkah laku siswa menjadi lebih baik dan lebih terarah, baik di lingkungan sekolah dan luar sekolah. Menurut Wahjosumidjo (2003:vii) “sekolah sebagai sistem terbuka, sebagai sistem sosial, dan sekolah sebagai agen perubahan, bukan hanya harus peka penyesuaian diri, melainkan seharusnya pula dapat mengantisipasikan perkembangan-perkembangan yang akan terjadi dalam kurun waktu tertentu.”

Setiap satuan pendidikan jalur pendidikan di sekolah harus menyediakan sarana belajar yang sesuai kurikulum sekolah. Kurikulum sekolah disusun untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan memperhatikan tahap pengembangan siswa dan kesesuaian dengan lingkungan, kebutuhan pendidikan nasional, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta kesenian, sesuai dengan jenis dan jenjang masing-masing satuan pendidikan.

Isi kurikulum merupakan susunan bahan kajian dan pelajaran untuk mencapai tujuan penyelenggaraan satuan pendidikan yang bersangkutan dalam rangka upaya pencapaian tujuan pendidikan nasional. Isi kurikulum pendidikan dasar memuat sekurang-kurangnya bahan kajian dan pelajaran tentang:

pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, membaca dan menulis, matematika (termasuk menghitung), pengantar sains dan teknologi, ilmu bumi, sejarah nasional dan sejarah umum, kerajinan tangan dan kesenian, pendidikan jasmani dan kesehatan, menggambar, serta bahasa Inggris.

Mata pelajaran bahasa Indonesia dan sastra adalah program untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap bahasa Indonesia. Bahasa berfungsi sebagai salah satu alat komunikasi, melalui bahasa manusia dapat saling berhubungan (berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari yang lain, dan meningkatkan kemampuan intelektual.

1

(17)

commit to user

Ruang lingkup pengajaran bahasa Indonesia kelas III SLB tunagrahita meliputi penguasaan kebahasaan, kemampuan memahami, mengapresiasikan karya sastra, kemampuan menggunakan bahasa Indonesia. Penguasaan mata pelajaran bahasa Indonesia bagi siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor, yakni faktor dari dalam diri siswa maupun faktor dari luar diri siswa. Pengaruh diri luar diri siswa salah satunya adalah metode pendekatan yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran. Pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah khususnya di Sekolah Luar Biasa dimungkinkan dapat berhasil dengan baik dan maksimal bila didukung oleh pembelajaran membaca cerdas.

Dalam berkomunikasi anak tunagrahita banyak mengalami kesulitan untuk mendapatkan kosakata yang sesuai untuk mengungkapkan apa yang diinginkan. Hal ini dapat dimaklumi karena mereka mengalami kekurangan dalam hal perbendaharaan kata yang disebabkan oleh IQ anak tunagrahita 70 ke bawah. Menurut Japan League for Mentally Retarded adalah ”lambannya fungsi intelektual, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes inteligensi baku dan terjadi pada masa perkembangannya, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun” (Geniofam, 2010: 10).

Agar tercipta kegiatan belajar mengajar yang ramah dan menyenangkan, dan dapat meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan pada mata pelajaran bahasa Indonesia anak tunagrahita, maka guru dalam menyampaikan materi dapat melalui pembelajaran membaca cerdas.

“Mengingat karakteristik dan hambatan yang dimiliki anak berkebutuhan khusus (ABK), maka

ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus. Yakni pola pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka” (Satmoko Budi Santoso, 2010: 128).

Anak berkelainan mental atau tunagrahita, yaitu “anak yang diidentifikasi memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendah atau di bawah rata-rata, sehingga untuk mengerjakan tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara khusus, termasuk kebutuhan program pendidikan dan bimbingan“

(Mohammad Efendi, 2006: 9). Perkembangan anak tunagrahita salah satunya adalah perkembangan kemampuan memahami isi bacaan dalam mengikuti pelajaran bahasa Indonesia diharapkan anak tunagrahita dapat mengikuti sesuai dengan kurikulum yang telah ditetapkan di SDLB.

Layanan khusus yang diperlukan bagi anak-anak yang mengalami hambatan mental adalah pendekatan di dalam pembelajarannya. Pendekatan itu

(18)

commit to user

perlu didasari oleh berbagai teori belajar yang sesuai dengan karakteristik belajar mereka. Kesesuaian dengan karakteristik belajar bagi anak tunagrahita juga menentukan di dalam pengembangan kurikulum bagi anak tunagrahita sampai ke tingkat operasional dalam pembelajaran; tahapan materi, penentuan strategi pada masing-masing tingkat pembelajaran masih perlu modifikasi dalam penerapannya di setiap bidang studi.

Pendekatan pembelajaran bagi anak hambatan mental yang mendasarkan teori pembelajaran dimaksudkan untuk dasar filosifi dalam pengembangan pembelajaran bagi anak tunagrahita. Untuk itu, ketepatan pendekatan keterampilan pembelajaran sangat diperlukan oleh guru dalam melakukan inovasi pembelajaran. Demikian juga pada mata pelajaran bahasa Indonesia materi memahami isi bacaan siswa kelas III tunagrahita, guru berusaha untuk meningkatkan kemampuan siswa yang selama ini dirasakan masih rendah, karena dari empat siswa hanya satu siswa yang mendapat nilai 60, sedangkan tiga siswa mendapat nilai kurang dari 60 atau masih di bawah KKM.

Pembelajaran membaca cerdas sangat dimungkinkan bisa digunakan sebagai upaya meningkatkan isi bacaan karena tidak hanya menekankan hafalan dan pengetahuan siap. Pembelajaran membaca cerdas menekankan keaktifan siswa dalam menemukan konsep, proses membaca cerdas dikembangkan melalui konsep yang mudah dikuasai dan siswa dapat menemukan konsep baru berdasarkan konsep yang telah dimiliki.

Proses memahami isi bacaan merupakan hal yang tidak mudah. Proses memahami isi bacaan dalam praktiknya melibatkan proses kognitif yang meliputi kemampuan mengingat, berpikir dan bernalar. Kemampuan kognitif dimaksudkan adalah kemampuan menemukan dan memahami informasi yang tertuang dalam bacaan secara tepat dan kritis. Seseorang dikatakan memahami isi bacaan jika ia dapat menjawab dengan tepat pertanyaan yang berkaitan dengan bacaan yang bersifat tersurat maupun tersirat. Rendahnya kemampuan memahami isi bacaan mengakibatkan rendahnya prestasi belajar siswa.

(19)

commit to user

Berdasarkan uraian di atas maka penulis mengadakan penelitian dengan judul: Upaya Meningkatkan Kemampuan Memahami Isi Bacaan Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Melalui Pembelajaran Membaca Cerdas Pada Siswa Tunagrahita Kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali Tahun Pelajaran 2011/2012.

Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang dan pembatasan masalah seperti telah diuraikan di depan, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut: “Apakah melalui pembelajaran membaca

cerdas dapat meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali tahun pelajaran 2011/2012 ?.

Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia melalui pembelajaran membaca cerdas pada siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali tahun pelajaran 2011/2012.

Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan memberikan manfaat secara teoritis dan praktis sebagai berikut:

1. Manfaat Teoritis

Menambah khasanah ilmu tentang pembelajaran membaca cerdas dalam memahami isi bacaan pembelajaran Bahasa Indonesia.

2. Manfaat Praktis

a. Menemukan alternatif untuk meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan pada siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali.

(20)

commit to user

b. Mencari solusi permasalahan yang dialami siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali dalam meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan pembelajaran Bahasa Indonesia.

(21)

commit to user BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Pustaka

1. Tinjauan Tentang Anak Tunagrahita a. Pengertian Anak Tunagrahita

Ada beberapa istilah mengenai anak tunagrahita, yaitu terbelakang mental, tuna mental, lemah otak, lemah fikiran, dan mentaly retarded. Smith, et.all., (2002: 43) mengemukakan bahwa:

People who are mentally retarded overtime have been rejerred to as dumb, stupid, immature defective, deficientg, subnormal, incompetent, and dull. Terms such as idiot, imbelice, moron and feebleminded were commonly used historically to label this population. Although the word faal referred to those who lwere mentally ill, and the word idiot was directed toward individuals who were severely retarded, these terms were frequently used interchangeably.

Terjemahannya sebagai berikut:

(Di waktu yang lalu orang-orang menyebut retardasi mental dengan istilah dungu (dumb), bodoh (stupid), tidak masuk (immature), cacat (defective), kurang sempurna (deficient), di bawah normal (subnormal), tidak mampu (incompetent), dan dan tumpul (dull). Istilah lainnya idiot, imbecile, moron, dan feebleminded digunakan untuk melabel kelompok menyandang tersebut. Walaupun kata tolol (fool) menunjuk ke orang sakit mental, dan kata idiot, mengarah individu yang cacat berat, keduanya sering digunakan secara bergantian.

Menurut Munzayanah (2000: 13), “Anak tunagrahita adalah anak yang mengalami hambatan dalam bidang intelektual serta seluruh kepribadiannya, sehingga mereka tidak mampu hidup dengan kekuatan sendiri di dalam masyarakat”.

“Anak tunagrahita adalah individu yang memiliki tingkat kecerdasan di bawah rata-rata dan disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul dalam masa perkembangan” (Satmoko Budi Santoso, 2010: 130).

Menurut Bratanata yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 88) bahwa:

6

(22)

commit to user

Seseorang dikategorikan berkelainan mental subnormal atau tunagrahita, jika ia memiliki tingkat kecerdasan yang sedemikian rendahnya (di bawah normal), sehingga untuk meniti tugas perkembangannya memerlukan bantuan atau layanan secara spesifik, termasuk dalam program pendidikannya.

Berdasarkan pengertian-pengertian seperti yang dikemukakan di atas, maka dapatlah disimpulkan bahwa yang dimaksud anak tunagrahita adalah mereka yang jelas-jelas mengalami keterlambatan dalam perkembangan kecerdasan, sehingga untuk mengembangkan potensinya secara optimal diperlukan pelayanan pendidikan secara khusus. Karena kelainannya itu maka mereka mengalami kesulitan dalam belajarnya dimana mereka terlihat sering ketinggalan dari teman-temannya yang normal.

b. Klasifikasi Anak Tunagrahita

Klasifikasi diperlukan untuk memudahkan pemberian bantuan atau pelayanan kepada anak tunagrahita. Dalam pengklasifikasian ini terdapat berbagai cara sesuai dengan sudut pandang disiplin ilmu dan ahli yang mengemukakannya.

Yusak S. (2003: 61) mengklasifikasikan anak tunagrahita berdasarkan IQ (tingkat kecerdasan) sebagai berikut:

“Idiot yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 2 tahun. IQ nya antara 0–19. Imbisil kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal yang berusia 7 tahun, minimal sama dengan anak normal usia 3 tahun, IQ nya 20–49.

Debil yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 10 tahun, minimal 7 tahun, IQ nya 50 – 69. Slow learners yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal. IQ nya 78 – 89.”

Pendapat lain dikemukakan oleh Satmoko Budi Santoso (2010: 130) yang mengklasifikasikan anak tunagrahita yaitu: “Klasifikasi tunagrahita berdasarkan pada tingkatan IQ (intelligen quotient). Tunagrahita ringan (IQ = 51-70), tunagrahita sedang (IQ = 36-50), tunagrahita berat (IQ = 20-35), dan tunagrhaita sangat berat (IQ di bawah 20).”

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa klasifikasi anak tunagrahita adalah IQ nya antara 0-19, kecerdasannya maksimal sama dengan

(23)

commit to user

anak normal yang berusia 2-3 tahun, IQ antara 20-49. Debil yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal berusia 7-10 tahun, IQ antara 50-69. Slow learners yaitu kapasitas kecerdasannya maksimal sama dengan anak normal. IQ antara 78-89 tak lebih dari kecerdasan anak normal usia 16 tahun. Tarap perbatasan atau lambat belajar mempunyai IQ = 51-70 untuk tunagrahita ringan, IQ = 36-50 untuk tunagrahita sedang, IQ = 20-35 untuk tunagrahita berat, dan IQ di bawah 20 untuk tunagrahita sangat berat.

Berdasarkan klasifikasi tersebut penulis akan meneliti siswa penyandang tunagrahita, yang tergolong mampu didik yang mempunyai IQ antara 36-70, anak yang tidak mampu mengikuti pada program sekolah biasa, tetapi ia masih memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan melalui pendidikan walaupun hasilnya tidak maksimal.

Kemampuan yang dapat dikembangkan pada anak tunagrahita mampu didik antara lain: 1) membaca, menulis, mengeja, dan berhitung; 2) menyesuaikan diri dan tidak menggantungkan diri pada orang lain; 3) keterampilan yang sederhana untuk kepentingan kerja di kemudian hari.

Kesimpulan anak tunagrahita mampu didik adalah anak tunagrahita yang dapat dididik secara minimal dalam bidang-bidang akademis, sosial, dan pekerjaan.

c. Faktor Penyebab Tunagrahita

Tunagrahita dapat disebabkan oleh beberapa faktor, baik faktor dari dalam maupun faktor dari luar diri anak. Adapun faktor penyebab tunagrahita menurut beberapa pendapat sebagai berikut:

Menurut Mohammad Efendi (2006: 91), bahwa "sebab terjadinya ketunagrahitaan pada seseorang menurut kurun waktu terjadinya, yaitu dibawa sejak lahir (faktor endogen) dan faktor dari luar seperti penyakit atau keadaan lainnya (faktor eksogen)." Faktor endogen yaitu faktor ketidaksempuraan psikobiologis dalam memindahkan gen, sedangkan faktor eksogen yaitu faktor yang terjdi akibat perubahan patologis dari perkembangan normal. Dari sisi pertumbuhan dan perkembangan, penyebab ketunagrahitaan menurut

(24)

commit to user

Devenport yang dikutip Mohammad Efendi (2006: 91) dapat dirinci melalui jenjang sebagai berikut:

1) kelainan atau keturunan yang timbul pada benih plasma;

2) kelainan atau keturunan yang dihasilkan selama penyuburan telur;

3) kelainan atau keturunan yang diakibatkan dengan implantasi;

4) kelainan atau keturunan yang timbul dalam embrio;

5) kelainan atau keturunan yang timbul dari luka saat kelaihiran;

6) kelainan atau keturunan yang timbul dalam janin;

7) kelainan atau keturunan yang timbul pada masa bayi dan masa kanak-kanak.

Anak tunagrahita dapat disebabkan antara lain:

Ketunagrahitaan can be caused by heredity and not hereditary. Genetic damage in off spring, such as damage to cell chromosomes, genes, and one or both parents suffer from disorder or simply as a bearer of properties. Factors outside the cell lineage, because of factors including malnutrition, accidents (head trauma), and metabolic disorders. (http://pustakaut.ac.id/puslataionline.php?menu=bmpshort).

(Ketunagrahitaan dapat disebabkan oleh keturunan dan bukan keturunan. Genetik kerusakan pada keturunannya, seprti kerusakan kromosom sel, gen, dan salah satu atau kedua orangtua menderita kelainan atau hanya sebagai pembawa sifat. Faktor-faktor di luar keturunan, karena faktor termasuk kekurangan gizi, kecelakaan (trauma kepala), dan gangguan metabolisme.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa sebab-sebab anak tunagrahita adalah: pada masa prenatal kekurangan vitamin, gangguan psikologis sang ibu, gangguan kelainan janin; pada masa natal proses kelahiran tidak sempurna, masa pos natal, anak tunagrahita dapat disebabkan pada waktu kecil pernah sakit secara terus menerus; faktor keturunan, gangguan metabolisme dan gizi, infeksi dan keracunan. Di samping itu juga disebabkan oleh predisposisi genetik terhadap gens atau faktor ekologis atau lingkungan, dan waktu terjadinya pemaparan, misalnya janin terpapar virus rubella sewaktu berusia trimester pertama maka kecacatan dapat berat.

d. Karakteristik Anak Tunagrahita.

Anak tunagrahita memiliki beberapa karakteristik. Menurut Geniofam (2010: 25-26), anak tunagrahita bisa diketahui jelas secara fisik, antara lain:

(25)

commit to user

1) Penampilan fisik tidak seimbang, mislanya kepala terlalu kecil/besar;

2) Tidak dapat mengurus diri sndiri sesuai usia;

3) Perkembangan bicara/bahasa terlambat;

4) Tidak ada atau kurang perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong);

5) Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali);

6) Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).

Smith, et.all. yang dikutip Mumpuniarti (2007: 10-11) menguraikan ciri-ciri anak tunagrahita sebagai berikut:

1) Kondisi kecerdasan fungsional

a) Asesmen fungsi kecerdasan harus diperoleh dari berbagai sumber informasi, dan kesepakatan sebagai cacat mental merupakan tanggungjawab bersama secara tim multidisipliner.

b) Skala skor IQ kurang dari 75.

2) Adaptasi tingkah laku

a) Harus diukur secara langsung seperti ukuran pada evaluasi performance individu dibandingkan dengan kelompok usia sebaya yang sama (same-age peers) dari latar belakang budaya yang sama.

b) Teridentifikasi deficit dalam dua atau lebih bidang keterampilan adaptif.

3) Periode perkembangan

a) Sampai usia 21 atau di bawahnya.

b) Ketidaksesuaian secara terus menerus sampai lebih dari satu tahun.

4) Performance dalam bidang pendidikan

a) Evaluasi tampilan pada bidang pendidikan dalam konteks arus lingkungan.

b) Teridentifikasi deficit dalam seluruh bidang akademik inti (matematika, bahasa, membaca, seni, dan science).

c) Deficit secara signifikan pada skor individual berkurang satu standart penyimpangan di bawah rata-rata dari sampel standardisasi nasional.

d) Pengukuran yang distandarisasi harus divalidasi lebih lanjut oleh data di sekolah pada dokumen yang berbeda antara individu performance dan performance kelompok usia sebaya dari latar belakang budaya yang sama.

e) Asesmen dari akademik performance harus juga inklud terdokumenasi daya tahan intervensi pendidikan umum.

Dalam jurnal internasional, Oliver & Williams (2005: 6) menjelaskan bahwa:

(26)

commit to user

Generally tunagrahita child characreristics in term of academic, social/emotional, physical/health. In addition it is also necessary to review ketunagrahitaan heavy and light, so it needs to be discussed karakteristik tunagrahita lightweight, tunagrahita medium, and heavy and very heavy tunagrahita.

(Secara umum karakteristik anak tunagrahita ditinjau dari segi akademik, sisial/emosional, fisik/kesehatan. Di samping perlu pula ditinjau berat dan ringannya ketunagrahitaan, sehingga perlu dibahas karakteristik tunagrahita ringan, tunagrahita sedand, tunagrahita berat dan sangat berat).

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ciri-ciri anak tunagrahita adalah: kapasitas belajarnya amat terbatas dalam pergaulan mereka tidak dapat mengurus, mengalami kesukaran dalam memusatkan perhatian, mengalami kesukaran berfikir abstrak, merekaa berbicara lancar, mereka masih dapat mengikuti pelajaran akademik di sekolah biasa ataupun khusus, mengalami gangguan dalam sosialisasi, iri hati kodrati yang merupakan dasar rasa keadilan, bergaul mencampurkan diri dengan orang lain, sikap yang ingin memisahkan diri atau menarik diri, penyesuaian diri yang kaku dan labil, pada umur 16 tahun baru mencapai umur kecerdasan yang sama dengan anak umur 12 tahun.

e. Dampak Tunagrahita bagi Siswa

Ketidakmampuan anak tunagrahita meraih prestasi yang lebih baik dan sejajar dengan anak normal, karena ingatan anak tunagrahita sangat lemah dibanding dengan anak normal. Maka tidak heran, jika instruksi yang diberikan kepada anak tunagrahita cenderung tidak melalui proses analisis kognitif.

Perkembangan kognitif anak tunagrahita sering mengalami kegagalan dalam melampaui periode atau tahapan perkembangan. Bahkan dalam taraf perkembangan yang paling sederhana pun, anak tuna grhaita seringkali tidak mampu menyelesaikan dengan baik.

Keterlambatan perkembangan kognitif pada anak tunagrahita menjadi masalah besar bagi anak tunagrahita ketika meniti tugas perkembangannya.

Beberapa hambatan yang tampak pada anak tunagrahita dari segi kognitif dan sekaligus menjadi karakteristiknya menurut Mohammad Efendi (2006: 98), sebagai berikut:

(27)

commit to user

1) Cenderung memiliki kemampuan berpikir konkret dan sukar berpikir.

2) Mengalami kesulitan dalam konsentrasi.

3) Kemampuan sosialisasinya terbatas.

4) Tidak mampu menyimpan instruksi yang sulit.

5) Kurang mampu menganalisis dan menilai kejadian yang dihadapi.

6) Pada tunagrahita mampu didik, prestasi tertnggi bidang baca, tulis, hitung tidak lebih dari anak normal setingkat kelas III-IV SD.

Keterbatasan daya pikir yang dialami anak tunagrahita menyebabkan mereka sulit mengontrol, apakah perilaku yang ditampakkan dalam aktivitas sehari-hari wajar atau tidak, baik perilaku yang berlebihan maupun perilaku yang kurang serasi. Atas dasar itulah maka untuk anak tunagrahita perlu dilakukan modifikasi perilaku melalui terapi perilaku.

Dalam memberikan terapi perilaku pada anak tunagrahita, seorang terapis harus memiliki sikap sebagaimana yang dipersyaratkan dalam pendidikan humanistik, yaitu penerimaan secara hangat, antusias tinggi, ketulusan dan kesungguhan, serta menaruh empati yang tinggi terhadap kondisi anak. Tanpa dilengkapi persyaratan tersebut, penerapan teknik motifikasi perilaku pada anak tunagrahita tidak banyak memberikan hasil yang berarti.

2. Tinjauan Tentang Kemampuan Memahami Isi Bacaan a. Pengertian Kemampuan Memahami Bacaan

Kemampuan memahami bacaan memiliki beberapa pengertian menurut pandangan beberapa pendapat. Untuk lebih jelasnya berikut ini dikemukakan beberapa pendapat yang berkaitan dengan kemampuan membaca permulaan.

Menurut Bormouth yang dikutip Darmiyati Zuchdi (2007: 22),

“kemampuan adalah seperangkat keterampilan yang digeneralisasi, yang memungkinan orang memperoleh dan mewujudkan informasi yang diperoleh dari kegiatan”. Pendapat lain dikemukakan oleh Jhonson yang dikutip Cece Wijaya dan Rusyan A. Tabrahi (2002: 8) menjelaskan bahwa “kemampuan merupakan perilaku rasional untuk mencapai tujuan yang dipersyaratkan sesuai dengan kondisi yang diharapkan”.

(28)

commit to user

Menurut Gordon (2006:42) “memahami isi bacaan adalah proses kompleks yang melibatkan pemanfaatan berbagai kemampuan yang berhasil maupun yang gagal.” Setelah membaca, seharusnya siswa mampu mengingat informasi dalam bacaan tersebut. Apa dan seberapa banyak yang siswa ingat tergantung pada banyak faktor.

Menurut Robin yang dikutip Samsu Somadayo (2011: 3) memahami bacaan adalah “proses intelektual yang kompleks yang mencakup dua kemampuan utama, yaitu: penguasaan makna kata dan kemampuan berpikir tentang konsep verbal”. Pendapat ini memandang bahwa memahami bacaan, secara simultan terjadi konsentrasi dua arah dalam pikiran pembaca dalam melakukan aktivitas membaca, pembaca secara aktif merespon dengan mengungkapkan bunyi tulisan dan bahasa yang dibaca. Untuk itu pembaca dituntut untuk dapat mengungkapkan makna yang terkandung di dalam tulisan..

Berdasarkan pendapat-pendapat di atas, penulis simpulkan bahwa kemampuan memahami isi bacaan adalah perilaku rasional yang dimiliki oleh seseorang untuk menemukan dan menguasai makna melalui kerjasama kemampuan mengingat, memikirkan, menafsirkan, memahami informasi tertulis yang berupa teks, wacana, dan bacaan.

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Memahami Isi Bacaan

Faktor-faktor terpenting yang mempengaruhi proses pemahaman bacaan baik kuantitas maupun kualitas pemahaman terhadap materi bacaan menurut Gordon (2006:43-44) meliputi “kecepatan membaca, tujuan membaca, sifat materi bacaan, tata letak materi bacaan, dan lingkungan tempat membaca.”

Kecepatan membaca, jika melampaui batas-batas tertentu, bisa memberikan efek merugikan terhadap pemahaman. Batas-batas tersebut sangat bervariasi, tergantung orang dan waktunya. Jika seseorang berniat membaca dengan kecepatan dua kali lipat kecepatan terbaik, mungkin mengira sebagai pemahaman akan berkurang. Perkiraan itu ada benarnya, jika mencoba meningkatkan kecepatan membaca secara bertahap, pemahaman tidak akan

(29)

commit to user

berkurang. Kalaupun berkurang, hal ini bersifat semantara dan tidak akan terjadi lagi jika sudah terbiasa membaca lebih cepat.

Tujuan membaca, tentu saja berkaitan erat dengan motivasi dalam membaca dan minat terhadap materi bacaan. Jika motivasi dan minat sangat rendah atau bahkan sama sekali tidak ada, menetapkan tujuan yang jelas sering kali tidak menciptakan motivasi dan meningaktkan minat baca, walaupun sedikit, kehadirannya sangat berarti.

Burne (dalam Darmiyati Zuchdi, 2007:24) mengklasifikasikan faktor- faktor yang mempengaruhi memahami bacaan yakni “(1) faktor yang berkaitan dengan pembaca (reader-related factor); (2) faktor-faktor yang berkaitan dengan penulis atau pengarang (authur-related factor); (3) faktor-faktor yang berkaitan dengan teks bacaan (text-related factor).”

Ketepatan guru dalam mendiagnosis hal-hal yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa seperti yang penulis uraikan tersebut di atas dapat menjadi petunjuk bagi guru bahasa Indonesia menangani permasalahan dalam pengajaran membaca. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengkonstruk makna ketika membaca.

c. Strategi Memahami Isi Bacaan

Dalam usaha memperoleh pemahaman terhadap bahan bacaan, pembaca menggunakan strategi tertentu. Pemilihan strategi berkaitan erat dengan faktor- faktor yang terlibat dalam pemahaman, yaitu teks dan konteks.

Pada dasarnya, strategi membaca menggambarkan bagaimana pembaca memproses bacaan sehingga dia memperoleh pemahaman terhadap bacaan tersebut. Klein (dalam Farida Rahim, 2007: 36) mengategorikan model-model strategi membaca ke dalam tiga jenis, yaitu bawah-atas (bottom-up), atas- bawah (top-down), dan model membaca campuran (eclectic).

Dari ketiga jenis strategi membaca tersebut menurut Farida Rahim (2007: 36) dapat dijelaskan sebagai berikut

(30)

commit to user 1) Strategi Bawah-Atas (Bottom-Up)

Dalam strategi batas-atas pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran kebahasaan yang paling rendah menuju ke yang tinggi. Pembaca model ini mulai dari mengidentifikasi huruf-huruf, kata, frasa, kalimat dan terus bergerak ke tataran yang lebih tinggi, sampai akhirnya dia memahami isi teks. Pemahaman ini dibangun berdasarkan data visual yang berasal dari teks melalui tahapan yang lebih rendah ke tahapan yang lebih tinggi.

2) Strategi Atas-Bawah (Up-Buttom)

Dalam strategi atas-bawah merupakan kebalikan dari strategi bawah-atas. Pada strategi atas-bawah, pembaca memulai proses pemahaman teks dari tataran yang lebih tinggi. Dalam hal ini, pembaca mulai dengan prediksi, kemudian mencari input untuk mendapatkan informasi yang cocok dalam teks.

3) Campuran (Electic)

Dalam strategi pemahaman bacaan tidak harus memakai salah satu strategi saja, siswa dapat mengambil dan memilih yang terbaik dari semua strategi yang ada, termasuk pandangan-pandangan teori dan model pengajaran membaca. Begitu juga model bawah-atas dan atas-bawah bisa digunakan dalam waktu bersamaan jika diperlukan.

Berdasarlam kajian teori tentang kemampuan memahami bacaan di atas, dalam penelitian ini indikator aspek kemampuan memahami bacaan yang dijadikan alat ukur meliputi: kemampuan siswa memahami makna kata dalam wacana, makna frase dalam wacana, kalimat dalam wacana, ide pokok/topik wacana, jenis paragraf, pola paragraf, letak kalimat utama pada wacana, dan memahami tema, latar, pesan/amanat wacana.

3. Tinjauan Tentang Membaca Cerdas a. Pengertian Membaca Cerdas

Membaca memiliki beberapa pengertian yang bervariasi dipandang dari sudut pandag yang berbeda. Menurut Gilet dan Temple yang dikutip Syafi’ie (1999: 6), ”membaca adalah kegiatan fisual, berupa serangkaian gerakan mata

(31)

commit to user

dalam mengikuti baris-baris tulisan, pemusatan penglihatan pada kata dan kelompok kata, melihat ulang kata-kata dan kelompok kata untuk memperoleh pemahaan terhadap bacaan.”

Menurut Samsu Somadayo (2011: 4), ”membaca adalah suatu kegiatan interaktif untuk memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tulis.” Menurut Farida Rahim (2007: 3), bahwa ”definisi membaca mencakup (1) membaca merupakan suatu proses, (2) membaca adalah strategtis, dan (3) membaca merupakan interaktif.”

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa membaca adalah kegiatan interaktif, serangkaian proses dan strategis gerakan mata untuk memetik serta memahami arti atau makna yang terkandung di dalam bahan tulis untuk memperoleh pemahaan terhadap bacaan.

Sedangkan membaca cerdas yang dimaksudkan dalam penelitin ini adalah ”membaca yang berpartisipasif aktif dalam proses membaca, mempunyai tujuan yang jelas serta memonitor tujuan membaca dari teks yang dibaca” (Samsu Somadayo, 2011: 3).

c. Manfaat Membaca

Membaca memberikan banyak manfaat. Beberapa pendapat memberikan pandangan yang bervariasi tentang manfaat membaca. Berikut dikemukakan manfaat membaca:

Menurut Farida Rahim (2007:1), “masyarakat yang gemar membaca memperoleh pengetahuan dan wawasan baru yang akan semakin meningaktkan kecerdasannya sehingga mereka lebih mampu menjawab tantangan hidup pada masa-masa mendatang.” Adapun manfaat membaca adalah:

1) dapat menemukan sejumlah informasi dan pengetahuan yang sangat berguna dalam kehidupan; 2) dapat mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi mutakhir di dunia; 3) dapat mengayakan batin, meluaskan cakrawala kehidupan; 4) isi yang terkandung dalam teks yang dibacanya dapat segera dikethaui; 5) membaca intensif dapat menghemat energi, karena tidak terpancang pada suatu situasi, tempat dan waktu karena tidak menggangu orang di sekelilingnya. (Farida Rahim, 2007:2)

(32)

commit to user

Kemampuan membaca merupakan tuntutan realitas kehidupan sehari- hari baik bagi guru maupun siswa. Beribu judul buku dan berjuta koran diterbitkan setiap hari. Ledakan informasi ini menimbulkan tekanan pada guru untuk menyiapkan bacaan yang memuat informasi yang relevan untuk siswa- siswanya. Walupun tidak semua informasi perlu dibaca, tetapi jenis-jenis bacaan tertentu yang sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan guru dan siswa tentu perlu dibaca.

Keberhasilan siswa dalam belajar ditentukan oleh kemampuan dan kesempatannya dalam membaca, karena membaca merupakan kunci seseorang meraih berbagai ilmu pengetahuan, teknologi dan wawasan kebudayaan yang ada di dunia.

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa membaca memiliki banyak manfaat, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Dengan membaca kita akan memiliki banyak pengetahuan dan dapat menularkan ilmu yang telah kita peroleh kepada orang lain.

d. Tujuan Membaca

Membaca hendaknya mempunyai tujuan, karena siswa yang membaca dengan suatu tujuan, cenderung lebih memahami dibandingkan dengan siswa yang tidak mempunyai tujuan. Kegiatan membaca yang dilakukan seseorang, memiliki beberapa tujuan. Tujuan utama membaca adalah untuk memperoleh informasi dan memahami makna bacaan. Menurut Suwaryono Wiryodijoyo (1999:1) tujuan membaca sebagai berikut:

(1) Membaca untuk kesenangan, materi bacaan berupa roman, novel, komik; (2) Membaca untuk penerapan praktis, materi bacaan berupa buku petunjuk praktis, buku resep makanan, modul ketrampilan; (3) Membaca untuk mencari informasi khusus, materi bacaan berupa ensiklopedia, kamus, buku petunjuk telepon; (4) Membaca untuk mendapatkan gambaran umum, materi bacaan berupa buku teori, buku teks, esay; (5) Membaca untuk mengevaluasi secara umum, materi bacannya berupa roman, novel, maupun puisi.

Dalam hubungannya dengan tujuan membaca, Djago Tarigan (2005:37) mengemukakan bahwa:

(33)

commit to user

Tujuan utama membaca adalah memperoleh kesuksesan, pemahaman penuh terhadap argumen-argumen yang logis, urutan-urutan retoris atau pola- pola teks, pola-pola simbolisme, nada-nada tambahan yang bersifat emosional dan sosial, pola-pola sikap dan tujuan sang pengarang juga sarana-sarana linguistik yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Sedangkan menurut Burn yang dikutip Farida Rahim (2007:11), tujuan membaca mencakup:

1) kesenangan;

2) menyempurnakan membaca nyaring;

3) menggunakan strategi tertentu;

4) memperbaharui pengetahuannya tentang suatu topik;

5) mengaitkan informasi baru dengan informasi yang telah diketahuinya;

6) memperoleh informasi untuk laporan lisan atau tertulis;

7) mengkonfirmasikan atau menolak prediksi;

8) menampilkan suatu eksperimen atau mengaplikasikan informasi yang diperoleh dari suatu teks dalam beberapa cara lain dan mempelajari tentang struktur teks;

9) menjawab pertanyaan-pertanyaan yang spesifik.

Membaca semakin penting bagi siswa tunagrahita. Setiap aspek kehidupan baik di sekolah maupun di rumah. Tujuan membaca pada siswa tunagrahita agar anak tidak ketinggalan terhadap mata pelajaran yang diterima di sekolah, sehingga setiap kelas dapat diikuti anak tunagrahita sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan dalam KTSP SLB.

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan membaca adalah memahami maksud keseluruhan yang terkandung dalam teks bacaan sampai hal yang paling mendetail, tujuan tersebut belum dapat sepenuhnya dicapai anak-anak tunagrahita, terutama pada saat awal pembelajaran membaca sehingga diperlukan inovasi pembelajaran dari guru yang tepat.

e. Faktor yang Mempengaruhi Kemampuan Membaca.

Tujuan membaca, tentu saja berkaitan erat dengan motivasi dalam membaca dan minat terhadap materi bacaan. Jika motivasi dan minat sangat rendah atau bahkan sama sekali tidak ada, menetapkan tujuan yang jelas sering kali tidak menciptakan motivasi dan meningkatkan minat baca, walaupun sedikit, kehadirannya sangat berarti.

(34)

commit to user

Kemampuan membaca dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor yang ada dalam diri pembaca meliputi kemampuan linguistik (kebahasaan), minat, motivasi, dan kumpulan membaca (seberapa baik pembaca dapat membaca), sedangkan faktor dari luar diri pembaca salah satunya adalah faktor kesiapan guru dalam pembelajaran (Johnson dan Pearson dalam Darmiyati Zuhdi, 2007:23-24).”

Ketepatan guru dalam mendiagnosis hal-hal yang diduga sebagai faktor yang mempengaruhi kemampuan siswa seperti yang penulis uraikan tersebut di atas dapat menjadi petunjuk bagi guru bahasa Indonesia menangani permasalahan dalam pengajaran membaca. Pembaca yang efektif menggunakan berbagai strategi membaca yang sesuai dengan teks dan konteks dalam rangka mengkonstruk makna ketika membaca.

Mengenai berbagai faktor penentuan kemampuan membaca, menurut Yap yang dikutip Darmiyati Zuchdi (2007:25), diutarakan sebagai berikut:

Kemampuan membaca seseorang sangat ditentukan oleh faktor kuantitas membacanya, maksudnya adalah kemampuan membaca seseorang itu sangat dipengaruhi oleh jumlah waktu yang digunakan untuk melakukan aktivitas membaca. Semakin bayak waktu membaca setiap hari, besar kemungkinan semakin tinggi tingkat komprehensinya atau semakin mudah memahami bacaan.

Suyatmi (1997: 11) menjelaskan beberapa faktor penunjang kegiatan membaca, antara lain:

1) Faktor intern meliputi: kompetensi bahasa, minat, motivasi, konsentrasi, ketekunan, kesehatan jasmani dan rohani, kemampuan menetralkan titik kelemahan, memiliki latar belakang pengetahuan yang sesuai dan penguasaan kosa kata yang memadai serta kemampuan memahami maksud bacaan secara cepat dan cermat.

2) Faktor ekstern/dari luar meliputi: (a) Pengadaan buku-buku bacaan yang baik sesuai dengan kebutuhan, menarik, dan menimbulkan keasyikan dan harga yang terjangkau masyarakat luas, (b) Unsur- unsur dalam bacaan dan sifat-sifat lingkungan baca atau faktor keterbacaan, (c) Kondisi dan situasi lingkungan yang merangsang kegemaran membaca, termasuk didalamnya pengadaan tempat belajar, sussana keluarga, sekolah, masyarakat sekitar, teman guru, dan tokoh masyarakat.

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan kemampuan membaca baik itu faktor

(35)

commit to user

instrinsik maupun faktor ekstrinsik. Bagi anak tunagrahita faktor instrinsik berupa kemampuan psikologis antara lain tingkat intelegensi yang rendah, kemampuan koordinasi motorik lambat, bicara lambat dan daya ingat yang rendah perlu diperhatikan dengan merangsang kemampuannya berupa stimulus dari luar.

f. Strategi Membaca Cerdas

Dalam usaha memperoleh pemahaman terhadap bahan bacaan, pembaca menggunakan stretegi tertentu. Pemilihan strategi berkaitan erat dengan faktor- faktor yang terlibat dalam pemahaman, yaitu teks dan konteks.

Menurut Darmiyati Zuchdi (2007: 61-62), bahwa ada beberapa strategi membaca yang dapat digunakan antara lain: 1) metode abjad, 2) metode bunyi, 3) metode kupas rangkai suku kata, 4) metode kata lembaga, 5) metode global, dan 6) metode Struktural Analitik Sistetik (SAS). Berikut akan dijelaskan beberapa metode dalam pembelajaran membaca permulaan:

1) Metode Abjad dan Metode Bunyi

Dalam penerapannya, kedua metode tersebut sering menggunakan kata lepas.

Misalnya :

a) Metode abjad (dalam mengucapkan huruf-hurufnya sesuai dengan abjad

“a”, “be”, “ce”, “de”, dan seterusnya).

Contoh: bo – bo bobo

b) Metode bunyi (dalam mengucapkan huruf-huufnya sesuai dengan bunyinyaa, beh, ceh, deh, dan seterusnya).

Contoh: bo – bo

beh – o – bo beh – o – bo bobo

Perbedaan antara metode abjad dan metode bunyi terletak pada pengucapan huruf.

2) Metode Kupas Rangkai Suku Kata dan Metode Kata Lembaga

(36)

commit to user

Kedua metode ini dalam penerapannya menggunakan cara mengurai dan merangkaikan.

a) Metode Kupas Rangkai Suku Kata

Penerapannya guru menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

(1) Guru mengenalkan huruf kepada siswa (2) Merangkaikan suku kata menjadi huruf (3) Menggabungkan huruf menjadi suku kata.

Misalnya : ma – ta m – a – t – a ma – ta b) Metode Kata Lembaga

Penerapannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut : (1) Membaca kata yang sudah dikenal siswa

(2) Menguraikan kata menjadi suku kata (3) Menguraikan suku kata menjadi huruf (4) Menggabungkan huruf menjadi suku kata (5) Menggabungkan suku kata menjadi kata

Misalnya:

bola

bo – la

b – o – l – a

bo – la

bola 3) Metode Global

Dalam penerapannya menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Mengkaji salah satu kata

b) Menguraikan huruf menjadi suku kata c) Menguraikan suku kata menjadi huruf d) Menggabungkan huruf menjadi suku kata e) Merangkai suku kata menjadi kata

(37)

commit to user f) Merangkai kata menjadi kalimat

Misalnya : andi bermain catur

bermain ber – ma – in b – e – r – m – a – i – n

ber – ma – in bermain andi bermain catur

4) Metode SAS (Struktural Analitik Sintetik)

Menurut Momo dalam Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (2001: 63-66) dalam pelaksanaannya, metode ini dibagi dalam dua tahap yakni: a) tanpa buku, dan b) menggunakan buku. Pada tahap tanpa buku, pembelajarannya dilaksanakan dengan cara sebagai berikut:

a) Merekam bahasa siswa

Bahasa yang digunakan oleh siswa dalam percakapan, direkam untuk digunakan sebagai bahan bacaan.

b) Menampilkan gambar sambil bercerita

Guru memperlihatkan gambar kepada siswa, sambil bercerita sesuai dengan gambar tersebut.

Misalnya : ini budi

budi duduk di kursi

budi sedang belajar menulis

Kalimat tersebut ditulis di papan tulis dan digunakan sebagai bahan cerita.

c) Membaca Gambar

Misalnya: guru memperlihatkan gambar seorang ibu yang sedang memegang sapu, sambil mengucapkan kalimat, “ini ibu ani”.

d) Membaca gambar dengan kartu kalimat

Setelah siswa dapat membaca tulisan di bawah gambar, guru menempatkan kartu kalimat di bawah gambar. Untuk memudahkan pelaksanaan dapat digunakan media berupa papan flannel, kartu kalimat,

(38)

commit to user

kartu kata, kartu huruf dan kartu gambar. Dengan menggunakan media tersebut untuk menguraikan dan menggabungkan akan lebih mudah.

e) Membaca kalimat secara Struktural (S)

Setelah siswa dapat membaca tulisan di bawah gambar, gambar dikurangi sehingga siswa dapat membaca tanpa dibantu dengan gambar.

Dengan dihilangkannya gambar maka yang dibaca siswa adalah kalimat (tulisan).

Misalnya : ini bola ini bola budi ini bola amir f) Proses Analitik (A)

Sesudah siswa dapat membaca kalimat, mulailah menganalisis kalimat menjadi kata, kata menjadi suku kata, suku kata menjadi huruf.

Misalnya : ini bola ini – bola i – ni – bo – la i – n – i – b – o – l – a g) Proses Sintetik (S)

Setelah siswa mengenal huruf-huruf dalam kalimat, huruf itu dirangkai lagi menjadi suku kata, suku kata menjadi kata, kata menjadi kalimat seperti semula.

Misalnya : i – n – i – b – o – l – a i – ni – bo – la

ini – bola ini bola

Secara utuh proses SAS tersebut sebagai berikut : ini bola

ini – bola i – ni – bo – la i – n – i – b – o – l – a

i – ni – bo – la

(39)

commit to user ini – bola

ini bola

Berdasarkan metode di atas, tidak ada satu metode yang paling baik.

Semua metode mempunyai kelebihan dan kekurangan. Di dalam pembelajaran, guru harus mampu memilih dan menggunakan metode sesuai dengan bahan atau materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada siswa.

B. Kerangka Berpikir

Siswa yang memiliki kemampuan memahami isi bacaan baik secara kuantitas maupun kualitas akan cepat mengetahui ide, gagasan, maksud yang terkandung dalam bacaan. Maka diduga kemampuan memahami isi bacaan memiliki hubungan positif dengan prestasi belajar bahasa Indonesia. Semakin baik kemampuan memahami isi bacaan, dimungkinkan semakin tinggi pula prestasi belajar bahasa Indonesia.

Dalam memahami isi bacaan, pembelajaran membaca cerdas siswa sangat diperlukan, karena dengan membaca cerdas siswa akan lebih memahami isi bacaan tersebut sehingga kemampian memahami isi bacaan meningkat. Jadi penerapan pembelajaran membaca cerdas sangat tepat karena pembelajaran membaca cerdas merupakan upaya dari guru dengan cara memberi stimulus, pengarahan, dan mengaktifkan indera siswa agar siswa mau belajar sehingga dapat mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan potensi-potensi yang ada.

Adapun alur kerangka pemikiran yang ditujukan untuk mengarah jalannya penelitian tindakan kelas ini agar tidak menyimpang dari pokok permasalahan adalah sebagai berikut:

(40)

commit to user Bagan 1. Kerangka Berfikir

C. Hipotesis Tindakan

Berdasarkan kerangka pemikrian di atas, hipotesis tindakan penelitian yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “Pembelajaran membaca cerdas dapat meningkatkan kemampuan memahami isi bacaan dalam pembelajaran Bahasa Indonesia pada siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali tahun pelajaran 2011/2012.

Kondisi awal

Guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia belum menggunakan

pembelajaran membaca cerdas

Kemampuan memahami isi bacaan

rendah

Guru dalam pembelajaran bahasa Indonesia menggunakan pembelajaran

membaca cerdas

Kemampuan memahami isi bacaan

meningkat

Kondisi Akhir Tindakan

(41)

commit to user BAB III

METODE PENELITIAN

A. Tempat dan Waktu Penelitian 1. Tempat Penelitian

Pendekatan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dalam bahasa Inggris diartikan Classroom Action Research (CAR) yaitu penelitian yang dilakukan oleh guru di kelas atau di sekolah tempat mengajar, dengan penekanan pada penyempurnaan atau peningkatan praktik dan proses dalam pembelajaran (Susilo, 2007: 16). Penelitian dilaksanakan di kelas III Tunagrahita SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada pembelajaran mata pelajaran Bahasa Indonesia pada semester II tahun pelajaran 2011/2012, dengan alasan bahwa hasil belajar memahami isi bacaan siswa kelas III masih rendah.

2. Jadwal Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini dirancang selama empat bulan dengan rincian kegiatan sebagai berikut:

Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian

Kegiatan

Bulan ke ...

1 2 3 4

1. Persiapan

a. Studi eksploratif b. Perumusan masalah c. Konsultasi proposal PTK d. Penyusunan instrumen 2. Tahap Pelaksanaan

a. Perencanaan tindakan b. Implementasi tindakan 3. Analisis

a. Klasifikasi data b. Analisis data c. Interpretrasi data

d. Perumusan hasil penelitian 4. Tahap Penyusunan Laporan

a. Penyusunan laporan PTK b. Ujian

26

(42)

commit to user B. Subjek Penelitian

Penelitian tindakan kelas ini subyek penelitian adalah siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Kabupaten Boyolali berjumlah 4 siswa terdiri dari 3 siswa laki-laki dan 1 perempuan.

Tabel 2. Daftar Siswa Tunagrahita Kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari sebagai Subyek Penelitian.

No. Kode Siswa Jenis Kelamin

1 2 3 4

AS MK

AD NF

L L L P

C. Data dan Sumber Data

Data diperoleh dari dokumentasi, tes, dan observasi. Sumber data penelitian tindakan kelas ini berasal dari siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali sebagai subjek penelitian. Data yang berupa nilai kemampuan memahami isi membaca dalam bentuk angka diperoleh dengan menggunakan tes setelah dalam proses pembelajaran menerapkan pembelajaran membaca cerdas.

D. Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data merupakan hal yang sangat penting dan harus diperhatikan oleh peneliti dalam melaksanakan penelitian, karena hal ini merupakan sesuatu yang paling mendasar guna keberhasilan suatu penelitian dapat tercapai. Penelitian, di samping perlu menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan. Penggunaan teknik dan alat pengumpul data yang tepat memungkinkan diperolehnya data yang objektif. Di bawah ini akan diuraikan teknik penelitian yang digunakan dalam penelitian sebagai cara yang ditempuh untuk mengumpulkan data yang dilakukan secara terencana dan sistematis untuk pemecahan masalah.

(43)

commit to user

Berorientasi pada judul penelitian maka metode yang akan digunakan dalam penelitian tindakan kelas ini dengan metode dokumentasi, tes, dan observasi.

1. Dokumentasi a. Pengertian Dokumentasi

Dokumentasi memiliki beberapa pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lain, yang pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Dari beberapa literatur diperoleh penjelasan sebagai berikut:

Menurut Suharsimi Arikunto (2006: 200) “dokumentasi yaitu data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, notulen, legger, agenda, dsb”. Menurut Margono (2009: 161), “dokumentasi adalah cara pengumpulan data melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku- buku pentang pendapat, teori, dalil, atau hukum-hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian.”

Berdasarkan kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa dokumentasi adalah cara pengumpulan data mengenai hal-hal atau variabel melalui peninggalan tertulis seperti arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori, dalil, catatan, notuler, legger, agenda, atau hukum- hukum dan lain-lain yang berhubungan dengan masalah penelitian

b. Dokumentasi yang digunakan

Dalam penelitian ini, metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tentang kemampuan awal memahami isi bacaan yang diambil dari nilai ulangan siswa tunagrahita kelas III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari yang berupa nilai.

2. Tes a) Pengertian Tes

Data kemampuan memahami isi bacaan diperlukan tes, agar peneliti dapat pengetahui kemampuan memahami bacaan yang diperoleh siswa pada siklus I dan siklus II setelah dalam pembelajaran melalui pembelajaran membaca cerdas.

(44)

commit to user

“Tes adalah sekumpulan pertanyaan yang harus dijawab dan/atau tugas yang harus dikerjakan” (Saifuddin Azwar, 2001: 2). Menurut Suharsimi Arikunto (2006:138) tes adalah “Serentetan pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki individu atau kelompok”.

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu alat yang dipergunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan, intelegensi, kemampuan atau bakat, berujud pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa baik secara individu atau kelompok.

b) Macam-macam Tes

Tes terdiri dari bermacam-macam. Macam-macam tes antara lain sebagai berikut: 1) Tes benar salah, 2) Tes pilihan ganda, 3) Tes menjodohkan, 4) Tes isian atau melengkapi, 5) Tes jawaban singkat (Suharsimi Arikunto, 2006:139).

c) Tes yang Digunakan

Materi tes kemampuan memahami isi bacaan meliputi: kemampuan siswa dalam menyebutkan beberapa kata sesuai dengan soal tes yang diberikan guru yang diperoleh dari bahan bacaan dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

Kemampuan memahami isi bacaan membaca siswa diukur melalui tes.

Setelah dilaksanakan tindakan, siswa dites dengan menggunakan soal isian yang menitikberatkan pada segi penerapan pada akhir pembelajaran setiap siklus.

3. Observasi a. Pengertian Observasi

Observasi memiliki beberapa pengertian yang berbeda antara satu dengan yang lain, yang pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Dari beberapa literatur diperoleh penjelasan sebagai berikut:

“Metode observasi adalah metode pengumpulan data dengan pengamatan secara langsung mengenal fenomena-fenomena dan gejala psikis maupun psikologi dengan pencatatan. Format yang disusun berisi item-item

(45)

commit to user

tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi” (Suharsimi Arikunto, 2006: 229). Menurut Supardi (2008: 127), “observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran.”

Kedua pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa observasi adalah kegiatan pengamatan (pengambilan data) secara langsung mengenal fenomena- fenomena dan gejala psikis maupun psikologi dengan pencatatan untuk memotret seberapa jauh efek tindakan telah mencapai sasaran.

b. Macam-macam Observasi

Observasi ini dilakukan untuk mengamati secara langsung proses dan dampak pembelajaran yang diperlukan untuk menata langkah-langkah perbaikan agar lebih efektif dan efisien. Dalam melakukan observasi proses, menurut Retno Winarni (2009: 84-85) ada 4 metode observasi yaitu: a) observasi terbuka, b) observasi terfokus, c) observasi terstruktur, dan d) observasi sistematik.

1) Observasi Terbuka

Pengamat tidak menggunakan lembar observasi, melainkan hanya menggunakan kertas kosong merekam pelajaran yang diamati.

2) Observasi Terfokus

Ditujukan untuk mengamati aspek-aspek tertentu dari pembelajaran.

Misalnya: yang diamati kesempatan bagi siswa untuk berpartisipasi.

3) Observasi Terstruktur

Observasi menggunakan instrumen yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda (√) pada tempat yang disediakan.

4) Observasi Sistematik

Observasi sistematik lebih rinci dalam kategori yang diamati. Misalnya dalam pemberian penguatan, data dikategorikan menjadi penguatan verbal dan nonverbal.

(46)

commit to user c. Observasi yang Digunakan

Dalam penelitian in digunakan observasi terstruktur, dimana observasi menggunakan instrumen yang terstruktur dan siap pakai, sehingga pengamat hanya tinggal membubuhkan tanda () pada tempat yang disediakan pada lembar pengamatan aktivitas guru dan aktivitas siswa dalam pembelajaran memahami isi bacaan melalui pembelajaran membaca cerdas. Alasan digunakan observasi terstruktur adalah untuk mempermudah observer melakukan pengamatan dan observasi tertruktur sesuai dengan masalah yang diteliti.

E. Uji Validitas Data

Teknik yang digunakan untuk memeriksa validitas data antara lain adalah triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan validitas data dengan memanfaatkan sarana di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembandingan data itu (Moelong dalam Sarwiji Suwandi, 2008: 69).

Validitas data yang digunakan antara lain dengan triangulasi sumber data dan triangulasi metode pengumpulan data. Dalam penelitian ini teknik triangulasi untuk mengetahui kemampuan memahami isi membaca dan faktor penyebabnya.

Untuk itu peneliti membandingkan data dari hasil penelitian. Triangulasi data dilakukan dengan cara :

1. Cross checking, peneliti melakukan pengecekan (checking) antara hasil metode pengumpulan data yang diperoleh melalui tes, observasi dan dokumentasi dengan memadukan hasil ketiganya. Dalam hal ini bertujuan memperoleh informasi yang benar dan meyakinkan.

2. Cek ricek, yaitu pengulangan kembali data yang diperoleh melalui berbagai sumber data, waktu, maupun metode dan informasi serta tempat memperoleh data (setting).

Berdasarkan dengan hal tersebut di atas maka dapat dirumuskan langkah- langkah yang dilakukan peneliti untuk memperoleh data yang terpercaya melalui:

1. Pengamatan secara terus menerus. Kegiatan ini dimaksudkan bahwa peneliti berusaha untuk selalu mengamati melalui pembelajaran membaca cerdas

Gambar

Tabel 1. Jadwal Kegiatan Penelitian
Tabel 2. Daftar Siswa Tunagrahita Kelas  III SLB ABCD Tunas Pembangunan  I Nogosari sebagai Subyek Penelitian.
Tabel 3. Kemampuan  Memahami  Isi  Bacaan  Siswa  Tunagrahita  Kelas  III SLB ABCD Tunas Pembangunan I Nogosari Boyolali pada Kondisi Awal.
Grafik 1.  Kemampuan Memahami Isi Bacaan pada Kondisi Awal.
+7

Referensi

Dokumen terkait

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING DALAM PEMBELAJARAN IPS DI KELAS IV SD.. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu

Mineral kalium merupakan ion intraselular dan salah satu mineral makro yang berperan dalam pengaturan keseimbangan cairan tubuh.Sebanyak 95% kalium berada di dalam cairan

PENDEKATAN SCIENTIFIC UNTUK MENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS, KREATIF DAN SELF- EFFICACY DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI KELAS III SD.. Universitas Pendidikan Indonesia |

Model Pembelajaran Berbasis Masalah merupakan salah satu metode yang digunakan dalam proses pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan yang memfokuskan guru dalam upaya

informasi yang berkenaan dengan rencana pelaksanaan tindakan, pendapat dari siswa dan guru terhadap penerapan Model Pembelajaran Berbasis Masalah dalam. pembelajaran

Dengan memperhatikan hasil- hasil dari langkah pengembangan di atas maka dapat dikatakan penelitian ini telah menghasilkan model buku ajar Fisika berbasis Spreadsheet

Pada Gambar 4.4 terlihat nilai rata-rata packet loss dari seluruh percobaan untuk jaringan CDN tanpa rateless code memiliki nilai rata-rata packet loss rendah dibandingkan

Dengan kata lain, hasil Hipotesa yang diterima adalah Ha yakni Terdapat Pengaruh antara Penggunaan Teknologi Smartphone terhadap Interaksi Sosial Remaja di Kalangan SMA