• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN. A. Latar Belakang"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) adalah negara agraris dan juga salah satu negara kepulauan terbesar di Asia dan kedua di Dunia yang terdiri atas 17.508 pulau dengan garis sepanjang 81.000 km dan luas sekitar 3.1 juta km atau 62% dari luas teritorialnya.1 Sebagai negara kepulauan terbesar di Asia dan kedua di dunia, serta letak posisi yang sangat strategis diantara negara-negara didunia, yang terletak diantara dua benua dan dua samudera, dengan posisi silang yang menjadi pertengahan jalur perdagangan dunia. Sehingga akan dengan mudah untuk melakukan transaksi seperti kegiatan-kegiatan internasional, termasuk juga dalam hal tindakan Pencurian ikan (illegal Fishing) khususnya diperairan Indonesia.

Dengan 2/3 bagian perairan yang dimiliki Indonesia, maka kekayaan yang ada didalam laut baik itu hayati maupun non hayati, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan penghasil ikan yang cukup melimpah. Selain itu, memberikan keuntungan ekonomis bagi Indonesia khsusnya dalam sektor perikanan. Dengan sektor perikanan yang melimpah tersebut, menjadi potensi dan incaran bagi Kapal bendera asing yang masuk ke wilayah Perairan Indonesia, dengan melakukan tindakan mencuri, merusak, mencemari lingkungan laut, melebihi jumlah tangkapan yang seharusnya, dan tindakan lainnya. Maka Pelaku yang melakukan tindakan tersebut dikenal dengan sebutan Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing (IUU-Fishing).

Kejahatan Perikanan (fisheries crime) merupakan salah satu kejahatan atau tindak kriminal yang dapat dilakukan lintas negara, terorganisir dan dapat menyebabkan kerusakan serius terhadap keamanan lingkungan laut tetapi juga terhadap keberlanjutan sumber daya laut bagi Indonesia serta negara-negara lainnya. Istilah Kejahatan Perikanan yang sering digunakan oleh masyarakat adalah illegal fishing. Illegal fishing ini merupakan salah satu terminologi istilah Illegal, Unreported and Unregulated (selanjutnya disingkat IUU-fishing). Dalam definisi Internasional Kejahatan Perikanan bukan hanya sekedar pencurian ikan (illegal Fishing), namun juga meliputi Penangkapan ikan yang tidak

1S. Rasyid. 2020. Kejahatan perikanan di wilayah perairan indonesia dalam perspektif kejahatan transnasional terorganisir, Tesis, FH Universitas Negeri Semarang. Hal. 10.

(2)

dilaporkan (Unreported Fishing) dan penangkapan ikan yang tidak diatur (Unregulated Fishing).2

Secara harfiah IUU fishing diartikan sebagai kegiatan penangkapan ikan yang tidak sah, kegiatan perikanan yang aktifitasnya tidak dilaporkan kepada suatu institusi atau lembaga pengelola perikanan yang tersedia serta tidak diatur oleh peraturan yang ada. Dengan begitu Praktik IUU-Fishing ini sudah termasuk kedalam lingkup ranah Internasional, sehingga diperlukan Pengaturan yang memadai agar ketersediaan dari sumberdaya perikanan ini dapat dimanfaatkan dengan semaksimal mungkin dan tetap memperhatikan hak-hak negara pantai atas sumberdaya perikanan yang dimilikinya.

Dalam Penelitian Aryuni yang berjudul ”Politik hukum indonesia dalam menanggulangi transnational organized crime di bidang perikanan untuk mewujudkan kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat

”,

menjelaskan bahwa untuk menanggulangi IUU fishing pemerintah Indonesia telah meratifikasi beberapa Konvensi internasional terkait perikanan dan penanggulangan IUU fishing, antara lain seperti United Nations Convention on the Law of the Sea 1982 (selanjutnya disingkat UNCLOS) yang diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 17 tahun 1985, selain itu juga telah mengadopsi perjanjian internasional yang bersifat soft law, antara lain Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) dan International Plan of Action to Prevent, Deter and Eliminate (IPOA) IUU Fishing.3

Pemberantasan IUU Fishing merupakan salah satu prioritas nasional sebagai negara dengan poros maritim dunia, yaitu dengan mewujudkan negara kepulauan yang berdaulat dan mandiri melalui pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan yang berkelanjutan. Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan berbagai kebijakan pemberantasan IUU Fishing antara lain, melalui perbaikan dan penerbitan sejumlah peraturan baru, pembentukan Satuan Tugas Pencegahan dan Pemberantasan Ikan Secara Illegal yang berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 115 Tahun 2015, publikasi data kapal pencuri ikan, pengetatan pemantauan kapal penangkap ikan, dan peningkatan penegakan hukum, termasuk penenggelaman kapal.

2Aisyah dan Hari Sutra. 2020. Penegakan Hukum Illegal Fishing dalam Persepektif UNCLOS 1982, MulawarmanLawReview Vol. 5 Issue 1, FH Universitas Diponegoro. Hal. 5.

3Aryuni. 2018. politik hukum indonesia dalam menanggulangi transnational organized crime di bidang perikanan untuk mewujudkan kedaulatan, keberlanjutan dan kesejahteraan masyarakat. Disertasi, FH Universitas Jenderal Sudirman. Hal, 6.

(3)

Illegal Fishing adalah salah satu bentuk kejahatan yang dilarang berdasarkan ketentuan hukum. Bagi mereka yang melakukan atau melanggar ketentuan tersebut dapat dikenakan sanksi. Pada tahap inilah fungsi hukum sangat dibutuhkan sebagai media kontrol dan pencegahan terhadap tindakan-tindakan yang dapat mengganggu stabilitas pengelolaan serta kelestarian sumber daya ikan dan lingkungannya. Fungsi hukum selain sebagai bagian dari pengelolaan sumber daya perikanan juga memiliki kelebihan yakni mengikat atau memaksa dari hukum itu sendiri.4

Hal ini sesuai dengan apa yang kemudian diatur lebih lanjut dalam Pasal 33 Undang-Undang Dasar NRI 1945 yang kemudian diatur lebih lanjut dalam UU Perikanan. Dengan Upaya Pemerintah untuk penanggulangan IUU-F tersebut masih terdapat kelemahan, seperti Penegakan Hukum terhadap para pelaku praktik IUU Fishing.

Dengan beberapa Undang-Undang Nasional yang berlaku mengenai Kejahatan Perikanan seperti Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan masih terdapat kelemahan-kelemahan antara lain, pertama terkait dengan pengertian kejahatan perikanan belum diatur secara tegas.

Kedua, rumusan sanksi pidana Pasal 102 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang Perikanan, memiliki ancaman hukuman yang sangat berat yakni berupa penenggelaman, pembakaran atau ditembak ditemoat bagi kapal yang dijadikan alat untuk melakukan praktik IUU Fishing, ternyata belum memberikan efek jera kepada pelaku, serta rumusan pasal tersebut tidak mengatur sanksi paling rendah atau minimum bagi para pelaku IUU Fishing.

Kegiatan praktik IUU Fishing ini bisa dan sering ditemui di perairan selat malaka, dan baru-baru ini terjadi pada September 2021, dimana Kapal Pengawas HIU 16 menangkap kapal ikan asing berbendera Malaysia yang menangkap ikan secara Illegal menggunakan Trawl. Dan juga diketahui perairan antara Indonesia dan Malaysia masih terdapat batas maritim yang belum disepakati, sehingga kedua negara sepakat melaksanakan pengusiran apabila terjadi pelanggaran di wilayah tersebut, tetapi negara yang bersepakat sendiri yang telah masuk ke wilayah tersebut dengan melakukan aksi IUU Fishing. Sehingga perbuatan tersebut sesuai dengan Pasal 38 UU tentang Perikanan harus dijerat dengan sanksi Pidana berupa pembakaran atau penenggalaman kapal yang dijadikan alat untuk praktik tersebut agar memberikan efek jera kepada pelaku.

4Ayu, Efritadewi dan Wan, Jefrizal, 2017, Penenggelaman Kapal Illegal Fishing Di Wilayah Indonesia Dalam Perspektif Hukum Internasional, Jurnal Selat, FISIP Universitas Maritim Raja Ali Haji. hal. 7

(4)

Dengan begitu, Permasalahan inilah yang mendorong penulis untuk meneliti Penelitian ini dengan Judul “Penegakan Hukum Terhadap Praktik Kejahatan Illegal Unreported And Unregulated Fishing Menurut Persepektif Hukum Nasional dan Internasional”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah tersebut di atas maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut :

1. Apa saja Faktor sebab dan Akibat Praktik Illegal, Unreported dan Unregulated Fishing di wilayah Perairan Republik Indonesia?

2. Sejauhmana Penegakan Hukum terhadap Praktik Kejahatan Illegal Unreported, Unregulated Fishing di Wilayah Perairan Republik Indonesia selaras dengan Hukum Laut Internasional?

C. Tujuan Penelitian 1. Tujuan Objektif

a. Untuk Menganalisis lebih dalam mengenai Pemgertian dari Illegal, Unreported dan Unregulated .

b. Untuk mengetahui beberapa Faktor dan Akibat dari Praktik Illegal, Unreported dan Unregulated Fishing di wilayah Perairan Indonesia.

c. Untuk Menganalisis lebih dalam mengenai Penegakkan Hukum terhadap Praktik Kejahatan Illegal, Unreported dan Unregulated Fishing di Wilayah Perairan Indonesia.

d. Untuk Mengetahui Pengaturan Internasional yang menjadi landasan Pengaturan Nasional di Indonesia.

2. Tujuan Subjektif

a. Penelitian ini dapat diharapkan dapat bermanfaat bagi Calon Lulusan Fakultas Hukum khususnya Hukum Internasional yang yang berkaitan dengan Illegal Fishing, Konvensi-konvensi yang diratifikasi oleh Indonesia serta Penegakannya.

b. Untuk mengembangkan dan memberikan referensi bacaan mengenai Hukum Internasional yang berkaitan dengan Illegal Fishing ataupun Perikanan.

(5)

D. Manfaat/Kegunaan Penelitian

Manfaat/kegunaan yang diharapkan dari Penelitian ini ada dua, diantaranya :

1. Diharapkan dapat berguna dan menambah wawasan studi Ilmu Hukum khususnya dalam Hukum Internasional tentang Illegal Fishing, Konvensi-konvensi yang diratifikasi oleh Indonesia serta Penegakannya.

2. Diharapkan Hasil dari Penelitian ini dapat acuan atau masukan bagi Teman-teman Mahasiwa Fakultas hukum maupun lembaga aktivis untuk menjaga alam kita, Laut kita, dan apapun yang didalamnya.

E. Metode Peneltian

Pada Penelitian yang berjudul “Penegakan Hukum Terhadap Praktik Kejahatan Illegal Unreported, And Unregulated Fishing Menurut Persepektif Hukum Internasional”, ini menggunakan Metode Penelitian yakni :

1. Jenis penelitian yang digunakan dalam Penelitian ini adalah jenis penelitian Normatif (Normative Legal Research) yaitu Penelitian Hukum Kepustakaan yang mengacu pada Norma Hukum yang terdapat dalam Peraturan Internasional dan Peraturan Nasional atau perundang-undnagan.5 Sedangkan Fokus kajiannya, menggunakan Kajian Hukum Positif, Hukum Positif yang dimaksud merupakan hukum yang berlaku pada suatu waktu dan tempat tertentu, yaitu satu aturan atau norma tertulis yang secara resmi dibentuk dan diundangkan oleh pihak yang berwenang, dan disamping hukum yang tertulis tersebut terdapat norma didalam masyarakat yang tidak tertulis yang secara efektif mengatur perilaku anggota masyarakat.6

2. Sumber Data yang digunakan dalam penelitian ini, yakni Yuridis Normatif. Data yang diperoleh dan diolah dalam penelitian ini jenis data sekunder yang dalam penelitiannya dijadikan sebagai bahan hukum primer yang berupa Peraturan Perundang-Undangan dan pendekatan Konseptual. Sedangkan bahan hukum sekunder nya diperoleh dari sumber kepustakaan, yakni data yang didapatkan

5Soedjono Soekanto & Sri Mamudji, 2006, Penelitian Hukum Normatif: Suatu Tinjauan Singkat, Cet.9, Jakarta:Rajawali Press, Hal. 23

6Ibid.

(6)

melalui kegiatan studi dokumen berupa buku-buku, pedapat-pendapat atau tulisan para ahli atau pihak-pihak lain seperti, artikel ilmiah, jurnal publikasi, putusan- putusan terdahulu yang berhubungan dengan kajian penelitian yang dikaji.

Adapun Bahan Hukum yang hendak dikaji dan menjadi acuan dalam menyusun penelitian ini, yaitu :

a. Bahan Hukum Primer, yakni bahan-bahan yang mempunyai kekuatan hukum mengikat7, yang terdiri dari :

1) United Nations Convention on The Law of The Sea 1982 (UNCLOS 1982)

2) Code of Conduct For Responsible Fisheries (CCRF)

3) International Plan of Action to Prevent, Deter and Eliminate Illegal, Unreported, Unregulated Fishing 2001 (IPOA- IUUFishing)

4) Undang-Undang No. 17 Tahun 1985 tentang Pengesahan United Nations Convention on The Law of The Sea (UNCLOS 1982) 5) Undang-Undang No. 6 Tahun 1996 tentang Perairan Indonesia 6) Undang-Undang No. 5 Tahun 1983 tentang Zona Ekonomi

Ekslusif Indonesia.

7) Undang-Undang No. 31 Tahun 2004 jo Undang-undang No. 45 Tahun 2009 tentang Perikanan.

8) Undang-Undang No. 17 Tahun 2008 tentang Pelayaran.

9) Undang-Undang No. 32 Tahun 2014 tentang Kelautan.

10) Undang-Undang No. 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

11) Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.50/Men/2012 Tentang Rencana Aksi Nasional Pengesahan dan Penanggulangan Illegal, Unreported, and

Unregulated Fishing Tahun 2012-2016.

b. Bahan Hukum Sekunder, bahan yang memberikan penjelasan mengenai bahan hukum primer,8 seperti buku-buku, hasil penelitian

7Soerjono Soekanto. 2007. Pengantar Penelitian Hukum. Jakarta:Universitas Indonesia Press. Hal. 52.

(7)

terdahulu, artikel internet, junal publikasi, pendapat para ahli, dan yang lainnya.

c. Bahan Hukum Tersier, bahan yang memberi petunjuk terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder, yang lebih dikenal dengan bahan acuan bidang hukum atau rujukan bidang hukum.9

3. Pendekatan Penelitian dalam penelitian ini menggunakan Pendekatan Yuridis Normatif, yang penelitiaanya berdasarkan Pendekatan Peraturan Perundang- Undangan dan Pendekatan Konseptual.

4. Teknik Pengumpulan Data yang akan diolah dalam penelitian ini, dengan menggunakan teknik studi kepustakaan yang dikumpulkan dari berbagai ketentuang Undang-Undang, Dokumentasi, mengumpulkan literatur, serta mengakses internet yang berkitan dengan lingkup hukum Internasional.10 Studi Kepustakaan ini dilakukan penulis dengan membaca dan memahami dari Sumber data yang dijadikan acuan untuk mengejarkan penelitian ini.

5. Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini, menggunakan Analisis data yang diperoleh dari tinjauan kepustakaan yang bersumber dari buku- buku dan literatur lain. Analisis data yang digunakan adalah analisis data kualitatif, yaitu analisis yang menguraikan data secara bermutu dalam bentuk kalimat yang teratur, runtun, logis, serta tidak tumpang tindih, sehingga memudahkan untuk interpretasi data dan menganalisis.11

F. Rencana Sistematika Penulisan

Sebagai rencana Penulisan yang sistematis, maka penulisan hasil penelitian ini akan disusun sebagai berikut :

BAB I : PENDAHULUAN

Bab ini berisi yang didalamnya terbagai menjadi 6 sub bab. Yaitu Latar Belakang yang menalatar belakangi mengapa Penulis mengambil judul mengenai tindakan IUU-F serta

8Ibid, hal, 54

9Ibid, hal. 41.

10Ibid, hal. 46

11Abdulkadir, Muhammad, 2004, Hukum dan Penelitian Hukum, Bandung:Citra Aditya Bakti, Hal. 127.

(8)

penegakan dari peraturan perundang-undangan naisonal maupun internasional yang masih berkaitan dengan tindakan IUU-F, Rumusan Masalah dari Penulisan/Penelitian ini, Tujuan Penulisan/Penelitian ini, Manfaat/Kegunaan Penulisan/Penelitian ini, Metode Penulisan/Penelitian dan, Sistematika Penulisan dalam Penulisan/Penelitian ini yang berisikan 4 bab, Pendahuluan, Tinjauan Pustaka, Pembahasan dan Penutup.

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab ini berisi diskripsi atau uraian tentang bahan-bahan teori, doktrin atau pendapat sarjana, dan kajian yuridis berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku, kajian terdahulu terkait topik atau tema yang diteliti. Dalam tinjauan pustaka ini berisi mengenai definisi dari IIllegal, Unreported, dan Unregulated Fishing, Konvensi-konvensi besar yang diratifikasi Indonesia mengenai pengaturan IUU-F, Pengaturan-pengaturan Nasional tentang Perikanan, Pelayaran, Kelautan Indonesia, dan yang lainnya. Selain itu, diuraikan juga mengenai bagian-bagian wilayah laut menurut konvensi internasional (UNCLOS), serta diuraikan juga pengaturan pendukung lainnya Peraturan Menteri, Keputusan Menteri, Peraturan Presiden, Putusan Mahkamah Agung dan yang lainnya.

BAB III : HASIL DAN PEMBAHASAN

Di Bab ini berisi tentang hasil penelitian yang telah dikaji dan dianalisa secara sistematis berdasarkan pada kajian pustaka sebagaimana dalam Bab II. Pada bab ini juga diuraikan mengenai isi dari rumusan masalah yang diantaranya mengenai Faktor dari Penyebab dan Akibat suatu tindakan IUU Fishing, serta Penegakan ataupun pencegahan yang dilakukan pihak berwenang sesuai aturan yang Indonesia ratifikasi yang disebut dengan Hukum Internasional dan Hukum Nasional atau Undang-Undang maupun peraturan lainnya.

BAB IV : PENUTUP

Bab ini berisi kesimpulan dan saran terkait dengan permasalahan yang diangkat.

Kesimpulan menyajikan secara ringkas seluruh isi penelitian yang ada hubungannya dengan masalah penelitian. Saran-saran dirumuskan berdasarkan hasil penelitian, berisi uraian mengenai langkah-langkah apa yang perlu diambil oleh pihak-pihak terkait penelitian yang bersangkutan.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan desain antarmuka yang konsisten akan memberikan manfaat yang baik pada website atau sistem informasi yang memiliki kategori yang sama dan dapat

Aset tetap adalah aset berwujud yang diperoleh dalam bentuk siap pakai atau dengan dibangun terlebih dahulu, yang digunakan dalam operasi perusahaan, tidak dimaksudkan

suara untuk bermain musik rock pengambilan keputusan para gitaris rock dalam pembelian gitar elektrik dan spare part-nya dipengaruhi oleh peran artis idola mereka, merek yang

Untuk menguji hipotesis mengenai perbedaan konsep diri antara remaja yang sejak masa akhir kanak-kanaknya dibesarkan dipanti asuhan dengan remaja yang sejak masa

Bhabin kampung tanjung bulan kec.kasui kab.way kanan laks giat anjau silau/dds sekaligus menyampaikan pesan-pesan kamtibmas agar meningkatkan kesadaran dalam menjaga dan

KETUA PENGADILAN NEGERI RENGAT KELAS II KEPUTUSAN KETUA PENGADILAN NEGERI NEGERI RENGAT KELAS II TENTANG STRUKTUR PELAYANAN TERPADU SATU PINTU PLUS (PTSP+) DI LINGKUNGAN

Uji reliabilitas bertujuan untuk melihat sejauh mana hasil pengukuran dapat dipercaya. Hasil pengukuran dapat dipercaya apabila dalam beberapa kali pelaksanaan pengukuran

Menurut Ghozali (2005) analisis regresi berganda pada dasarnya adalah studi mengenai ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel independen