KOMPOSISI DAN STRUKTUR TEGAKAN PADA AREAL BEKAS TEBANGAN TEBANG PILIH TANAM INDONESIA INTENSIF (TPTII)

145  Download (0)

Teks penuh

(1)

KOMPOSISI DAN STRUKTUR TEGAKAN PADA AREAL BEKAS TEBANGAN

TEBANG PILIH TANAM INDONESIA INTENSIF (TPTII)

(Studi Kasus di IUPKHH PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat)

Oleh:

FERDIAN TEZAR NEVADA E14201048

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2007

(2)

KOMPOSISI DAN STRUKTUR TEGAKAN PADA AREAL BEKAS TEBANGAN

TEBANG PILIH TANAM INDONESIA INTENSIF (TPTII)

(Studi Kasus di IUPKHH PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat)

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan pada Fakultas Kehutanan

Institut Pertanian Bogor

Oleh :

FERDIAN TEZAR NEVADA

E 14201048

DEPARTEMEN MANAJEMEN HUTAN FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

(3)

Judul Penelitian : KOMPOSISI DAN STRUKTUR TEGAKAN PADA AREAL BEKAS TEBANGAN TEBANG PILIH TANAM INDONESIA INTENSIF (TPTII) (Studi Kasus di IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat).

Nama Mahasiswa : Ferdian Tezar Nevada

NRP : E14201048

Departemen : Manajemen Hutan Program Studi : Budidaya Hutan

Menyetujui : Dosen Pembimbing

(Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, M.S.) NIP. 130 536 674

Mengetahui, Dekan Fakultas Kehutanan

(Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS) NIP. 131 430 799

Tanggal lulus :

(4)

RINGKASAN

Ferdian Tezar Nevada. E14201048. Komposisi dan Struktur Tegakan pada Areal Bekas Tebangan Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) (Studi Kasus di IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat) di bawah bimbingan Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, M.S.

Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon-pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan diluar hutan (Soerianegara dan Indrawan 1988). Dalam rangka pengusahaan hutan produksi guna menjamin kelestarian produksi dan fungsi ekologis hutan alam produksi di

Indonesia, telah dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 485/Kpts-II/1989 tentang Sistem Silvikultur Pengelolaan Hutan Alam

Produksi di Indonesia. Dalam Surat Keputusan tersebut antara lain ditetapkan bahwa pengelolaan hutan alam produksi dapat dilakukan dengan Sistem Silvikultur Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA), Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) dan Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI).

Akan tetapi masih perlu diingat, kendatipun panduan sistem-sistem silvikultur diatas diberlakukan dan diikuti akan tetapi masih terdapat kelemahan-kelemahan terutama pada saat pelaksanaannya. Oleh karena itu, guna tercapainya kelestarian ekologi dan kelestarian hasil hutan yang produktif dan optimal maka Departemen Kehutanan mengembangkan suatu sistem silvikultur yang merupakan usaha penyempurnaan dari sistem-sistem sebelumnya yaitu Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) atau lebih dikenal dengan Sistem Silvikultur Intensif.

Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari dampak kegiatan pemanenan kayu dengan sistem silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) terhadap kondisi lingkungan terutama pada kondisi tegakan tinggal di areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat.

Objek penelitian ini adalah kondisi hutan sebelum pemanenan kayu, kondisi hutan setelah pemanenan kayu, kondisi hutan sebelum penjaluran dan kondisi hutan setelah penjaluran. Pada tiap-tiap kondisi hutan tersebut dibuat plot pengamatan pada tiga kelerengan yaitu kelerengan 0-15% (landai), 15-25%

(sedang), 25-45% (curam), dengan masing-masing tiga ulangan. Metode yang digunakan adalah metode jalur berpetak dengan ukuran 100 m x 100 m. Dalam plot pengamatan dibuat sub-sub petak dengan ukuran tingkat pohon dengan ukuran petak 20 m x 20 m (menjadi 17 m x 20 m setelah dilakukan kegiatan penebangan jalur), tingkat tiang 10 m x 10 m, tingkat pancang 5 m x 5 m dan tingkat semai 2 m x 2 m.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jumlah jenis yang ditemukan pada tiap-tiap plot setelah dilaksanakan kegiatan pemanenan kayu dan penjaluran secara umum mengalami penurunan. Penurunan jumlah jenis akibat masing-masing kegiatan terjadi pada semua tingkat vegetasi pada setiap kelerengan kecuali pada vegetasi tingkat tiang. Hal ini terjadi karena adanya kegiatan pemanenan kayu dan kegiatan penebangan jalur (untuk membuat jalur bersih atau jalur tanam). Dan apabila dibandingkan dari tingkat penurunan jumlah jenisnya maka dapat dilihat bahwa penurunan jumlah jenis akibat kegiatan

(5)

pemanenan kayu lebih tinggi daripada penurunan jumlah jenis akibat kegiatan penebangan jalur. Tinggi rendahnya jumlah jenis pada berbagai tingkatan permudaaan vegetasi yang ada menunjukkan tingkat survival dari setiap tingkat permudaan untuk mempertahankan dan mencapai tingkat pertumbuhan selanjutnya.

Jumlah permudaan yang terdapat pada plot pengamatan dikatakan cukup pada semua tingkatan vegetasi apabila dilihat berdasarkan kriteria ketercukupan permudaan dari pedoman TPTI. Akan tetapi tidak pada semua plot pengamatan memenuhi ketercukupan permudaan berdasarkan kriteria dari Wyatt-Smith (1963).

Jenis-jenis yang mendominasi pada plot pengamatan merupakan jenis- jenis komersial seperti Shorea parvifolia, Medang (Litsea firma), Keruing (Dipterocarpus crinitus), Nyatoh (Palaquium rostatum), dll. Selain itu ada juga jenis non komersial yang mendominasi pada beberapa tingkatan permudaan seperti jenis Kumpang (Diospyros sp) dan Kelampai (Elaterospermum tapos).

Indeks Kekayaan Margallef (R1) pada plot pengamatan termasuk pada kategori tinggi. Hal ini dapat dilihat dari besaran nilai indeks pada plot pengamatan yang berkisar antara 4,84 sampai 10,99. Sedangkan Indeks Kemerataan Jenis (E) pada plot pengamatan termasuk tinggi juda dengan besaran nilai indeks yang dimiliki yaitu antara 0,66 sampai 0,91.

Untuk nilai Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada plot pengamatan secara umum memiliki nilai diatas 3,00. Dengan demikian plot pengamatan tersebut memiliki indeks keanekaragaman yang tinggi.

Nilai indeks kesamaan komunitas (IS) pada tiap-tiap plot pengamatan memiliki nilai diatas 75%, kecuali pada plot pengamatan pemanenan kayu untuk tingkat vegetasi semai dan pancang. Dengan nilai IS diatas 75% maka keadaan komunitas sebelum dan setelah masing-masing kegiatan dianggap sama.

Keterbukaan lahan akibat kegiatan pemanenan kayu dan pembuatan jalur tanam terbesar terjadi pada kelerengan 25-45% dengan persentase keterbukaan laha mencapai 41,53%. Sedangkan pada kelerengan 0-15% dan 15-25%

persentase keterbukaan lahan mencapai 36,72% dan 39,36%.

Struktur horizontal tegakan hutan setelah pemanenan kayu dan hutan setelah penebangan jalur membentuk huruf “J” terbalik yang menggambarkan suatu ekosistem berbagai kelas umur yang relatif seimbang (balanced uneven- aged forest).

Kerusakan tegakan tinggal terbesar akibat penebangan satu pohon produksi terjadi pada plot pengamatan kelerengan 25-45% dengan persentase kerusakan sebesar 4,51%. Sedangkan persentase kerusakan tegakan tinggal terbesar akibat penebangan jalur sebesar 3,58% dan juga terjadi pada plot pengamatan kelerengan 25-45%.

Sementara untuk kerusakan tegakan terbesar akibat kegiatan pemanenan dan penjaluran terjadi pada plot dengan kelerengan 25-45% dengan persentase kerusakan sebesar 36,68% (tingkat kerusakan sedang). Dan persentase kerusakan tegakan akibat pemanenan dan penjaluran pada plot pengamatan kelerengan 0-15% dan 15-25% berturut-turut sebesar 21,83% dan 26,62%.

(6)

Untuk tingkat kesuburan tanah pada plot pengamatan tergolong rendah.

Hal ini dapat dilihat juga dari rendahnya nilai kejenuhan basa, kandungan bahan organik serta unsur hara lainnya, naik itu unsur hara makro ataupun mikro. Dan untuk nilai pH tanah pada plot pengamatan berkisar antara 4,2 sampai 4,8.

(7)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Garut, Propinsi Jawa Barat pada 23 April 1983 dari Ayah Zafran Syamsudin dan Ibu Prita Rustianingsih.

Penulis terlahir sebagai anak pertama dari tiga bersaudara.

Pendidikan dasar ditempuh di TK Aisyiah II Garut pada tahun 1987 lalu melanjutkan ke SDN Leuwidaun II Garut tahun 1989.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar penulis melanjutkan pendidikan ke Pesantren Persatuan Islam (PERSIS) 76 Garut dan lulus tahun 1998. Pada tahun yang sama penulis melanjutkan pendidikan ke SMUN 1 Tarogong dan lulus tahun 2001.

Tahun 2001 penulis diterima sebagai mahasiswa Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB) di Program Studi Budidaya Hutan, Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan. Tahun 2004 penulis mengikuti Praktek Umum Kehutanan (PUK) di Kamojang dan Leuweung Sancang BKSDA Garut serta Praktek Umum Pengelolaan Hutan (PUPH) di KPH Tasikmalaya. Pada tahun 2005 penulis mengikuti Praktek Kerja Lapang (PKL) di PT. Inhutani II Unit Usaha Kalimantan Selatan. Selama kuliah penulis juga aktif sebagai asisten pada mata kuliah Ekologi Hutan.

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan, penulis menyusun skripsi dengan judul “Komposisi dan Struktur Tegakan pada Areal Bekas Tebangan Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) (Studi Kasus di IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat)” di bawah bimbingan Bapak Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, MS.

(8)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kasih karunia-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penelitian dan penyusunan karya tulis ini.

Karya tulis ini disusun berdasarkan hasil penelitian di bidang Budidaya Hutan dengan judul “Komposisi dan Struktur Tegakan pada Areal Bekas Tebangan Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) (Studi kasus di IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur, Kalimantan Barat)” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan di Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar - besarnya kepada :

1. Papa, Mama dan Adik-adik yang senantiasa memberikan doa dan kasih sayangnya, serta segenap keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun material.

2. Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penelitian dan penulisan skripsi.

3. Prof. Dr. Ir. M. Ali Rachman, MS dan Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS sebagai dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Departemen Hasil Hutan.

4. Ir. Nana Suparna selaku Direktur Utama PT. Alas Kusuma Grup atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk dapat melakukan penelitian ini.

5. Ir. Joko Widianto selaku Manager Pembinaan Hutan serta Dadi Kristanto, S.Hut selaku Koordinator TPTII PT. Suka Jaya Makmur atas bantuan yang telah diberikan.

6. Serta semua pihak yang telah menbantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.

(9)

Penulis menyadari bahwa tulisan ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu saran dan kritik selalu penulis harapkan untuk perbaikan di masa mendatang.

Akhir kata, semoga banyak manfaat yang diperoleh baik bagi penulis maupun rekan-rekan yang menggunakan.

Bogor, Januari 2007

Penulis

(10)

UCAPAN TERIMA KASIH

Melalui lembaran ini, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada : 1. Papa, Mama dan Adik-adik yang senantiasa memberikan doa dan kasih

sayangnya, serta segenap keluarga yang telah memberikan dukungan baik moral maupun material.

2. Prof. Dr. Ir. Andry Indrawan, MS selaku dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan dan pengarahan selama penelitian dan penulisan skripsi.

3. Prof. Dr. Ir. M. Ali Rachman, MS dan Dr. Ir. Imam Wahyudi, MS sebagai dosen penguji dari Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Departemen Hasil Hutan.

4. Ir. Nana Suparna selaku Direktur Utama PT. Alas Kusuma Grup atas kesempatan yang diberikan kepada penulis untuk dapat melakukan penelitian ini.

5. Keluarga besar Camp Gunung Bunga (Pak Joko, Pak Hermanto, Pak Dadi, Poer, Arif, Om Joni, Duryanti, Brekele, dll), Keluarga besar Arboretum (Agus, Bang Petrus, dll), Pak Cahyadi, Ibu Prasti, Bang Rolex, dll.

6. Keluarga besar laboratorium Ekologi Hutan atas bantuan, ilmu, pengalaman, kehangatan, serta semuanya. Hatur nuhun pisan...

7. Teman-teman residu peradaban atas persahabatan, pemikiran, kebahagian, penderitaan serta bantuannya selama ini. (Among, Bery, Fiki, Muchlis, semangat buat penelitiannya), Syuhada, Dika, Dery... akhirnya kita satu kasta.

8. All Cibanteng crews, yang telah sabar atas kegaduhan yang selama ini terjadi.

9. Beny (thanks buat bantuannya), Aziz, Dania, Anang, Danu, Aa Dasep, Ajay, Wempi, Andy, Pudy, Jupri, Loedy, Jack, Gin-gin (thanks buat petanya), Sandy, Welly, Nunu, Videl, Tutu, tulang-tulang rusuk ku yang patah, serta teman-teman lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan satu persatu.

10. Keluarga besar BDH 38 (except ...) serta seluruh keluarga besar Fahutan, terima kasih atas kenangannya...

11. Rekan-rekan P3H serta PKL, terima kasih buat semuanya.

(11)

12. Keluarga besar kantin Kornita yang telah menemani lebih dari separuh masa kuliah penulis.

13. Ella Nurmila Novianty, atas kepercayaan, dukungan serta kasih sayangnya.

14. Muhammad Fauzan Putera Pertama Nevada, yang entah masih ada dimana.

15. Serta semua rekan-rekan yang membantu, mendukung dan mendoakan penulis untuk dapat menyelesaikan skripsi ini yang tidak mungkin disebutkan satu persatu.

(12)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR TABEL ... v

DAFTAR LAMPIRAN ... viii

I. PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Tujuan ... 2

II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3

A. Hutan Hujan Tropika ... 3

B. Klasifikasi Hutan ... 4

C. Stratifikasi Tajuk ... 6

D. Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia ... 8

E. Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Intensif Indonesia ... 12

F. Pemanenan Hasil Hutan ... 13

1. Penebangan ... 15

2. Penyaradan ... 17

G. Kerusakan Tegakan Tinggal ... 19

H. Perkembangan Hutan Bekas Tebangan ... 22

I. Hubungan Tanah dengan Tegakan ... 23

J. Analisis Tanah ... 25

1. Sifat Fisik Tanah ... 25

2. Sifat Kimia Tanah ... 27

III. METODOLOGI PENELITIAN ... 29

A. Waktu dan Tempat Penelitian ... 29

B. Bahan dan Alat ... 29

C. Metode Pengambilan Data ... 30

1. Analisa Vegetasi ... 30

2. Pengukuran Kerusakan Tegakan Akibat Penebangan Satu Pohon .. 32 3. Pengukuran Kerusakan Tegakan Akibat Kegiatan Pemanenan

(13)

Kayu dan Penjaluran ... 33

4. Pengukuran Keterbukaan Lahan Bekas Tebangan ... 34

5. Pengambilan Contoh Tanah ... 35

D. Analisa Data ... 37

1. Analisa Vegetasi ... 37

2. Analisa Kerusakan Pohon Akibat Penebangan Satu Pohon ... 39

3. Analisa Kerusakan Tegakan Akibat Kegiatan Pemanenan Kayu dan Penjaluran ... 40

4. Analisa Keterbukaan Lahan Bekas Tebangan ... 40

5. Pengukuran Sifat Fisik Tanah ... 40

6. Pengukuran Sifat Kimia Tanah ... 41

IV. KEADAAN UMUM LOKASI PENELITIAN ... 43

A. Letak dan Luas Areal ... 43

B. Topografi ... 44

C. Geologi dan Tanah ... 44

D. Hidrologi ... 45

E. Iklim ... 45

F. Kondisi Vegetasi Hutan ... 46

G. Keadaan Sosial Ekonomi Masyarakat ... 47

H. Aksesibilitas ... 48

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 49

A. Komposisi Jenis ... 49

B. Dominansi Jenis ... 55

C. Keanekaragaman Jenis ... 64

D. Kesamaan Komunitas (Indeks Similarity) ... 69

E. Struktur Tegakan ... 71

F. Keterbukaan Lahan ... 73

G. Kerusakan Tegakan Tinggal ... 75

1. Kerusakan Tegakan Akibat Penebangan Satu Pohon ... 75

2. Kerusakan Tegakan Akibat Pemanenan Kayu dan Penjaluran ... 76

H. Analisa Tanah ... 80

1. Sifat Fisik Tanah ... 80

(14)

2. Sifat Kimia Tanah ... 81

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 86

A. Kesimpulan ... 86

B. Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA ... 87

LAMPIRAN ... 91

(15)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Plot Pengamatan Analisis Vegetasi ... 31 Gambar 2. Kerapatan Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan

Pemanenan Kayu ... 53 Gambar 3. Frekuensi Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan

Pemanenan Kayu ... 53 Gambar 4. Kerapatan Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan

Penjaluran ... 54 Gambar 5. Frekuensi Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan

Penjaluran ... 55 Gambar 6. Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada LOA 1981/1982 ... 71 Gambar 7. Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada Et+0 ... 71 Gambar 8. Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada Kondisi Hutan

Sebelum Penjaluran ... 72 Gambar 9. Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada Kondisi Hutan

Setelah Penjaluran ... 72

(16)

DAFTAR TABEL

Halaman Tabel 1. Tahapan Kegiatan TPTI ... 10 Tabel 2. Tingkat Kerusakan Tegakan Tinggal Didasarkan pada Populasi

Pohon dan Tingkatan Perkembangan Vegetasi ... 21 Tabel 3. Tingkat Kerusakan Didasarkan pada Ukuran Luka (Kerusakan)

pada Setiap Individu Pohon ... 21 Tabel 4. Penilaian Sifat Kimia Tanah ... 27 Tabel 5. Tally Sheet Pengukuran Kerusakan Tegakan Akibat Penebangan

Satu Pohon ... 32 Tabel 6. Tally Sheet Pengukuran Kerusakan Tegakan Akibat Kegiatan

Pemanenan Kayu dan Penjaluran ... 34 Tabel 7. Tally Sheet Pengukuran Keterbukaan Lahan Akibat Penebangan .... 35 Tabel 8. Tally Sheet Pengukuran Keterbukaan Lahan Akibat Penyaradan ... 35 Tabel 9. Penetapan Kesuburan Tanah ... 41 Tabel 10. Luas Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Berdasarkan Kelas

Lereng ... 44 Tabel 11. Deskripsi Satuan Peta Tanah yang Terdapat di Wilayah Studi

dan Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur ... 45 Tabel 12. Hasil Pengamatan Cuaca di Stasiun Pengamat Cuaca Arboretum dan Camp 128 pada Bulan Desember 2004 ... 46 Tabel 13. Jumlah Jenis yang Ditemukan di LOA 1981/1982 dan Et+0 pada

Berbagai Kelerengan ... 49 Tabel 14. Jumlah Jenis yang Ditemukan pada Kondisi Hutan Sebelum

Penjaluran dan Setelah Penjaluran pada Berbagai Kelerengan ... 51 Tabel 15. Komposisi Permudaan Jenis Komersial Ditebang pada Hutan

Primer dan Et+0 Dilihat dari Kerapatan (N/Ha)

Serta Frekuensi ... 52 Tabel 16. Komposisi Permudaan Jenis Komersial Ditebang pada Hutan

Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran Dilihat dari

Kerapatan (N/Ha) Serta Frekuensi ... 54

(17)

Tabel 17. Daftar Jenis dengan INP Terbesar pada LOA 1981/1982 dan

Et+0 ... 57 Tabel 18. Daftar Jenis INP Terbesar pada Hutan Sebelum Penjaluran dan

Hutan Setelah Penjaluran ... 58 Tabel 19. Indeks Nilai Penting Kelompok Jenis pada LOA 1981/1982 dan

Et+0 ... 62 Tabel 20. Indeks Nilai Penting Kelompok Jenis pada Kondisi Hutan

Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran ... 63 Tabel 21. Indeks Kekayaan Margallef (R1) pada LOA 1981/1982 dan

Et+0 ... 64 Tabel 22. Indeks Kekayaan Margallef (R1) pada Kondisi Hutan Sebelum

Penjaluran dan Setelah Penjaluran ... 65 Tabel 23. Indeks Dominansi Jenis (C) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 ... 66 Tabel 24. Indeks Dominansi Jenis (C) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran

dan Hutan Setelah Penjaluran ... 66 Tabel 25. Indeks Kemerataan Jenis (E) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 ... 67 Tabel 26. Indeks Kemerataan Jenis (E) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran ... 67 Tabel 27. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada LOA 1981/1982 dan

Et+0 ... 68 Tabel 28. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada Kondisi Hutan Sebelum

Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran ... 69 Tabel 29. Indeks Similarity (IS) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 ... 70 Tabel 30. Indeks Similarity (IS) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan

Setelah Penjaluran ... 70 Tabel 31. Keterbukaan Lahan Akibat Kegiatan Pemanenan Kayu dan

Penjaluran Per Hektar ... 74 Tabel 32. Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Penebangan Satu Pohon ... 76 Tabel 33. Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan Kayu dan

Penjaluran ... 77 Tabel 34. Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan Kayu dan Penjaluran

TPTII ... 78

(18)

Tabel 35. Persentase Tipe-Tipe Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan Kayu dan Penjaluran ... 79 Tabel 36. Pengukuran Sifat Fisik Tanah ... 80 Tabel 37. Pengukuran pH Tanah ... 81 Tabel 38. Pengukuran Sifat Kimia Tanah dan Penetapan Tingkat Kesuburan

Tanah ... 82

(19)

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Daftar Jenis Tumbuhan Yang Ditemukan di Plot Pengamatan.

Lampiran 2. Rekapitulasi INP di Setiap Plot Pengamatan.

Lampiran 3. Foto-Foto Penelitian.

Lampiran 4. Peta Lokasi Penelitian.

(20)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Hutan merupakan salah satu sumberdaya alam yang memiliki arti penting bagi kehidupan manusia. Hutan dengan berbagai fungsi dan manfaatnya memberikan pengaruh yang sangat besar baik secara langsung maupun tidak langsung terhadap aspek ekologi, ekonomi, sosial dan sebagainya. Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta bertambahnya jumlah penduduk maka menyebabkan kebutuhan manusia menjadi semakin meningkat. Hal ini berdampak pada ketergantungan manusia terhadap sektor kehutanan menjadi semakin meningkat sehingga dapat mempengaruhi kondisi hutan secara ekologis. Oleh karena itu diperlukan konsep pengelolaan hutan secara lestari, yang dalam perkembangannya diharapkan dapat menambah nilai ekonomi namun tetap menjaga fungsi ekologis.

Dalam rangka pengusahaan hutan produksi guna menjamin kelestarian produksi dan fungsi ekologis hutan alam produksi di Indonesia, telah dikeluarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No. 485/Kpts-II/1989 tentang Sistem Silvikultur Pengelolaan Hutan Alam Produksi di Indonesia.

Dalam Surat Keputusan tersebut antara lain ditetapkan bahwa pengelolaan hutan alam produksi dapat dilakukan dengan Sistem Silvikultur Tebang Habis dengan Permudaan Alam (THPA), Tebang Habis dengan Permudaan Buatan (THPB) dan Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI).

Dari pelaksanaan kegiatan pengusahaan hutan yang telah berjalan, jika diadakan penilaian umum maka secara garis besar dapat ditemukan dua hal yang tidak mungkin dipungkiri. Pada satu sisi, keterlaksanaan pengusahaan hutan telah menyebabkan meningkatnya peranan sektor kehutanan di dalam perekonomian negara. Tetapi disisi lain, keterlaksanaan tersebut telah menyebabkan timbulnya kerusakan pada sumberdaya hutan itu sendiri.

Akan tetapi masih perlu diingat, kendatipun panduan sistem-sistem silvikultur diatas diberlakukan dan diikuti akan tetapi masih terdapat kelemahan-kelemahan terutama pada saat pelaksanaannya. Oleh karena itu,

(21)

guna tercapainya kelestarian ekologi dan kelestarian hasil hutan yang produktif dan optimal maka Departemen Kehutanan mengembangkan suatu sistem silvikultur yang merupakan usaha penyempurnaan dari sistem-sistem sebelumnya yaitu Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif (TPTII) atau lebih dikenal dengan Sistem Silvikultur Intensif.

Penelitian ini dilaksanakan sebagai pemberi informasi awal pelaksanaan TPTII sehingga dapat diketahui dampak yang ditimbulkan serta tingkat keberhasilan dari pelaksanaan sistem ini.

B. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah:

1. Mempelajari pelaksanaan Tebang Pilih Tanam Indonesia Intensif yang dilaksanakan di PT. Suka Jaya Makmur.

2. Mempelajari dampak kegiatan pemanenan kayu dengan Sistem Silvikultur Tebang Pilih dan Tanam Indonesia Intensif terhadap kondisi lingkungan terutama pada kondisi tegakan tinggal.

(22)

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Hutan Hujan Tropika

Hutan adalah masyarakat tumbuh-tumbuhan yang dikuasai pohon- pohon dan mempunyai keadaan lingkungan yang berbeda dengan keadaan di luar hutan (Soerianegara dan Indrawan, 1988). Sedangkan menurut Departemen Kehutanan (1992), hutan ialah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya atau ekosistem.

Hutan hujan tropika merupakan suatu komunitas tumbuhan yang bersifat selalu hijau, selalu basah dengan tinggi tajuk sekurang-kurangnya 30 m serta mengadung spesies-spesies efifit berkayu dan herba yang bersifat efifit (Schimper, 1903 dalam Mabberley, 1992). Richards (1966) juga menjelaskan bahwa salah satu ciri penting dari hutan hujan tropika adalah adanya tumbuhan berkayu, tumbuhan pemanjat dan efifit berkayu dalam berbagai ukuran.

Hutan hujan tropika merupakan jenis wilayah yang paling subur.

Hutan jenis ini terdapat di wilayah tropika atau di dekat wilayah tropika di bumi ini, yang menerima curah hujan berlimpah sekitar 2000-4000 mm per tahun. Suhunya tinggi (sekitar 25-26oC), dengan kelembaban rata-rata sekitar 80%. Komponen dasar hutan itu adalah pohon tinggi dengan tinggi maksimum rata-rata sekitar 30 m. Salah satu corak yang menonjol adalah sebagian besar tumbuhannya mengandung kayu (Ewusie, 1990).

Hutan hujan tropika ialah suatu komunitas yang kompleks dengan kerangka yang utama adalah pepohonan dengan berbagai ukuran. Adanya kanopi hutan menyebabkan iklim mikro yang berbeda dengan keadaan diluar, cahaya yang kurang, kelembaban yang tinggi, dan suhu yang rendah (Whitmore, 1986).

Richards (1966) memberikan beberapa ciri hutan hujan tropika, sebagai berikut:

(23)

a. Hutan hujan tropika terdiri dari berjenis-jenis tumbuhan berkayu dan umumnya kaya akan jenis-jenis dengan ukuran tinggi dan diameter yang besar.

b. Mempunyai banyak jenis-jenis kodominan, tetapi dapat juga hanya terdiri dari beberapa jenis saja. Jenis-jenis memperlihatkan gambaran umum yang sama, yaitu batangnya berbanir, lurus dan dekat tajuknya tidak bercabang.

c. Pada umumnya susunan tajuknya terdiri dari dua sampai tiga lapisan, sedangkan tumbuhan bawah terdiri dari perdu, dan permudaan atau tunas- tunas dari jenis-jenis pohon lapisan bawah.

d. Selain jenis pokok, pada umumnya mempunyai banyak jenis-jenis efifit, tumbuhan pemanjat, palma dan pandan.

e. Merupakan susunan vegetasi klimaks di daerah khatulistiwa, masing- masing jenis tumbuh-tumbuhan di dalamnya mempunyai sifat-sifat hidup yang berbeda, tetapi dengan kondisi-kondisi edafis dan klimatologis tertentu mereka membentuk suatu masyarakat tumbuh-tumbuhan yang seimbang.

B. Klasifikasi Hutan

Menurut Departemen Kehutanan (1992), hutan dapat digolongkan bagi tujuan pengelolaan hutan menurut hal-hal berikut:

a. Susunan jenis.

Hutan murni adalah hutan yang hampir semua atau seluruhnya dari jenis yang sama. Hutan campuran ialah hutan yang terdiri dari atas dua atau lebih jenis pohon. Baik hutan murni atau campuran dapat berupa seumur, tidak seumur atau segala umur.

b. Kerapatan tegakan.

Pada umumnya, hutan-hutan berbeda dalam hal jumlah pohon dan volume per hektar, luas bidang dasar dan kriteria lain. Perbedaan antara sebuah tegakan yang rapat dan jarang, lebih mudah dilihat dengan kriteria pembukaan tajuknya. Sedangkan kerapatan berdasarkan volume, luas bidang dasar, dan jumlah batang per hektar, dapat diketahui melalui

(24)

pengukuran. Untuk keperluan praktis, tiga kelas kerapatan telah dibuat, yaitu:

1. Rapat, bila terdapat lebih dari 70 % penutupan tajuk.

2. Cukup, bila terdapat 40-70 % penutupan tajuk.

3. Jarang, bila terdapat kurang dari 40 % penutupan tajuk.

Hutan yang terlalu rapat, pertumbuhannya akan lambat karena persaingan yang keras terhadap sinar matahari, air, dan zat hara mineral. Kemacetan pertumbuhan akan terjadi. Tetapi tidak lama, karena persaingan diantara pohon-pohon akan mematikan yang lemah dan penguasaan oleh yang kuat.

Sebaliknya, hutan yang terlalu jarang, terbuka atau hutan rawang, akan menghasilkan pohon-pohon dengan tajuk besar dan bercabang banyak, dengan yang pendek.

Suatu hutan yang dikelola baik ialah hutan yang kerapatannya dipelihara pada tingkat optimum, sehingga pohon-pohonnya dapat dengan penuh memanfaatkan air, sinar matahari, dan zat hara mineral dalam tanah.

Dengan demikian hutan yang tajuknya kurang rapat berfungsi kurang efisien kecuali bila celah terbuka yang ada, di isi dengan permudaan hutan atau pohon-pohon muda. Tempat-tempat terbuka tersebut biasanya ditumbuhi gulma yang mengganggu pertumbuhan jenis-jenis pohon utama atau tanaman pokok.

c. Komposisi umur.

Suatu lahan hutan disebut seumur, bila ditanam pada waktu bersamaan.

Meskipun demikian, ukurannya dapat berlainan, karena laju pertumbuhan yang berbeda. Hutan segala umur terdiri dari pohon-pohon berukuran besar hingga tingkatan semai. Jadi meliputi berbagai umur maupun ukuran.

Sedangkan hutan tidak seumur ialah hutan yang hanya mempunyai dua atau tiga kelompok umur atau ukuran. Misalnya hutan yang terdiri atas pohon-pohon yang sudah masak tebang, miskin riap, dan ukuran pancang saja.

Hutan segala umur biasanya penyebaran ukurannya lebih beragam dan jenisnya umumnya lebih toleran terhadap naungan. Sementara hutan seumur umumnya terdiri dari jenis intoleran. Angin topan, penebangan

(25)

berlebihan, kebakaran dan bencana lain, menciptakan kelompok-kelompok yang tidak seumur.

d. Tipe hutan.

Tipe hutan ialah istilah yang digunakan bagi kelompok tegakan yang mempunyai ciri-ciri yang sama dalam susunan jenis dan perkembangannya. Tipe hutan diberi nama menurut satu atau lebih jenis pohon yang dominan.

C. Stratifikasi Tajuk

Kanopi dari hutan hujan tropika sering kali terdiri dari beberapa lapisan atau stratifikasi dan formasi hutan yang berbeda memiliki tingkatan strata yang berbeda pula. Strata (lapisan) terkadang terlihat mudah di hutan atau pada diagram profil, tetapi terkadang juga tidak. Pertentangan pendapat tentang konsep ini cukup hebat. Oleh sebab itu amat perlu ditinjau ciri-ciri yang terlibat dengan teliti (Whitmore, 1986).

Dalam suatu masyarakat tumbuhan akan terjadi suatu persaingan antara individu-individu dari suatu jenis atau berbagai jenis, jika tumbuhan- tumbuhan tersebut mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang sama dalam hal hara mineral, tanah, air, cahaya, dan ruangan. Sebagai akibat adanya persaingan ini, mengakibatkan jenis-jenis tertentu akan lebih menguasai (dominan) daripada yang lain, maka akan terjadi stratifikasi tumbuhan di dalam hutan. Pohon-pohon yang tinggi dari stratum teratas menguasai pohon- pohon yang lebih rendah dan merupakan jenis-jenis yang mencirikan masyarakat hutan yang bersangkutan (Soerianegara dan Indrawan, 1988).

Richards (1966) menyatakan bahwa struktur hutan hujan tropika paling jelas dinyatakan dengan penampakan arsitekturnya, stratifikasi tajuk pohon- pohonnya, semak dan tumbuhan bawah.

Menurut Ewusie (1990), hutan hujan tropika terkenal karena adanya perlapisan atau stratifikasi. Ini berarti bahwa populasi campuran didalamnya disusun pada arah vertikal dengan jarak teratur secara tak-sinambung.

Meskipun ada beberapa keragaman yang perlu diperhatikan kemudian, hutan

(26)

menampilkan tiga lapisan pohon. Lapisan pohon ini dan lapisan lainnya yang terdiri dari belukar serta tumbuhan terna di uraikan sebagai berikut:

a. Lapisan paling atas (tingkat A) terdiri dari pepohonan setinggi 30-45 m.

Pepohonan yang muncul keluar ini mencuat tinggi, bertajuk lebar; dan umumnya tersebar sedemikian rupa sehingga tidak saling bersentuhan membentuk lapisan yang berkesinambungan. Bentuk khas tajuknya sering dipakai untuk mengenali spesies itu dalam suatu wilayah. Pepohonan yang mencuat ini sering berakar, agak dangkal dan berbanir.

b. Lapisan pepohonan kedua (tingkat B) di bawah yang mecuat tadi, terdiri dari pepohonan dengan tinggi sekitar 18-27 m. Pepohonan ini tumbuh lebih berdekatan. Tajuk sering membulat atau memanjang dan tidak selebar seperti pohon yang mencuat.

c. Lapisan pepohonan ketiga (tingkat C), terdiri dari pepohonan dengan tinggi sekitar 8-14 m. Pepohonan di sini sering mempunyai bentuk yang agak beraneka tetapi cenderung membentuk lapisan yang rapat, terutama di tempat yang lapisan keduanya tidak demikian.

d. Selain lapisan pepohonan tersebut, terdapat lapisan belukar yang terdiri dari spesies dengan ketinggiannya kurang dari 10 m.

e. Dan yang terakhir adalah lapisan terna yang terdiri dari tumbuhan yang lebih kecil yang merupakan kecambah dari pepohonan yang lebih besar dari bagian atas, atau spesies terna.

Sedangkan menurut Soerianegara dan Indrawan (1988), stratifikasi tajuk hutan hujan tropika misalnya sebagai berikut:

a. Stratum A: Lapisan teratas, terdiri dari pohon-pohon yang tinggi totalnya 30 m keatas. Biasanya tajuknya diskontinyu, batang pohon tinggi dan lurus, batang bebas cabang (clear bole) tinggi. Jenis-jenis pohon dari stratum ini pada waktu mudanya, tingkat semai hingga sapihan (seedling sampai sapling), perlu naungan sekedarnya, tetapi untuk pertumbuhan selanjutnya perlu cahaya yang cukup banyak.

b. Stratum B: Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 20-30 m, tajuknya kontinyu, batang pohon biasanya banyak bercabang, batang bebas cabang

(27)

tidak terlalu tinggi. Jenis-jenis pohon dari stratum ini kurang memerlukan cahaya atau tahan naungan (toleran).

c. Stratum C: Terdiri dari pohon-pohon yang tingginya 4-20 m, tajuknya kontinyu. Pohon-pohon dalam stratum ini rendah, kecil, banyak bercabang.

Disamping ketiga strata pohon itu terdapat pula strata perdu-semak dan tumbuh-tumbuhan penutup tanah, yaitu :

d. Stratum D: Lapisan perdu dan semak, tingginya 1-4 m.

e. Stratum E: Lapisan tumbuh-tumbuhan penutup tanah (ground cover), tingginya 0-1 m.

Richards (1966) mengemukakan bahwa hutan primer dengan struktur yang teratur akan menjadi kelompok hutan-hutan sekunder yang tidak teratur setelah penebangan pohon yang terseleksi. Keadaan tegakan yang ditinggalkan akan menentukan struktur dan komposisi pohon selanjutnya.

D. Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)

Untuk mengelola kawasan hutan alami fungsi produksi dengan berbagai karakteristiknya maka sistem silvikultur tebang pilih dianggap paling efisien, karena hanya menebang pohon besar yang kayunya dapat langsung dimanfaatkan saja tanpa mengubah ekosistem hutan terlalu keras. Sistem silvikultur tebang pilih merupakan sistem silvikultur yang paling luas di Indonesia. Sistem silvikultur ini dikeluarkan oleh Departemen Kehutanan dengan nama Sistem Tebang Pilih Tanam Indonesia (Sutisna, 2001).

Sistem silvikultur adalah rangkaian kegiatan berencana dari pengelolaan hutan yang meliputi penebangan, peremajaan, dan pemeliharaan tegakan hutan guna menjamin kelestarian produksi kayu atau hasil hutan lainnya. Sedangkan TPTI adalah sistem silvikultur yang meliputi cara penebangan dengan batas diameter dan permudaan hutan (Departemen Kehutanan, 1992).

Sistem silvikultur TPTI merupakan sistem yang paling sedikit mengubah ekosistem hutan di hutan produksi yang merupakan hutan alami campuran tidak seumur, dibandingkan dengan sistem silvikultur lainnya.

(28)

Sistem TPTI diharapkan menjadi modifikasi dari peristiwa alami di dalam hutan, yaitu menyingkirkan pohon-pohon tua agar ruang yang dipakainya dimanfaatkan oleh pohon-pohon muda yang masih produktif (Sutisna, 2001).

Satu sistem silvikultur ditetapkan untuk satu risalah hutan. Risalah hutan adalah kegiatan pendahuluan perencanaan yang memuat bahasan kritis terhadap tegakan hutan sebagai dasar penetapan kegiatan silvikultur atau bahkan sistem silvikultur yang sesuai. Penetapan ini harus selalu memperhatikan azas kelestarian hutan yang mencakup kelangsungan produksi, penyelamatan tanah dan air, perlindungan alam, dan aspek usaha yang menguntungkan (Sutisna, 2001).

Tujuan dari sistem TPTI adalah untuk mengatur pemanfaatan hutan alam produksi serta meningkatkan nilai hutan, baik kualitas maupun kuantitas pada areal bekas tebangan, untuk rotasi berikutnya agar terbentuk tegakan hutan campuran yang diharapkan dapat berfungsi sebagai penghasil kayu penghara industri secara lestari (Departemen Kehutanan, 1992). Sedangkan sasaran dari TPTI adalah tegakan hutan alam produksi tidak seumur dengan keanekaragaman hayati yang tinggi (Sutisna, 2001).

Untuk mencapai tujuan ini maka tindakan-tindakan silvikultur dalam hal ini permudaan hutannya diarahkan kepada:

1. Pengaturan komposisi jenis pohon didalam hutan yang diharapkan dapat lebih menguntungkan baik ditinjau dari segi ekologi maupun ekonomi.

2. Pengaturan struktur/kerapatan tegakan yang optimal didalam hutan yang diharapkan dapat memberikan peningkatan produksi kayu bulat dari tegakan sebelumnya.

3. Terjaminnya fungsi hutan dalam rangka pengawetan tanah dan air.

4. Terjaminnya fungsi perlindungan hutan.

Untuk mencapai sasaran yang diharapkan, maka ditetapkan tahapan TPTI dan tata waktu pelaksanaannya sebagai berikut:

Tabel 1. Tahapan Kegiatan TPTI.

No Tahapan Kegiatan TPTI Waktu Pelaksanaan (dalam tahun) 1 Penataan Areal Kerja Et – 3

2 Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan Et – 2 3 Pembukaan Wilayah Hutan Et – 1

(29)

4 Penebangan Et

5 Penebasan Et + 1

6 Inventarisasi Tegakan Tinggal Et + 1 7 Pengadaan bibit Et + 2 8 Penanaman/pengayaan Et + 2 9 Pemeliharaan tahap pertama Et + 3

10 Pemeliharaan tahap lanjutan a. Pembebasan

b. Penjarangan

Et + 4 Et + 9 Et + 14 Et + 19 11 Perlindungan dan penelitian Terus menerus (Sumber Departemen Kehutanan, 1992).

Keterangan: Et adalah simbol tahun penebangan.

Pelaksanaan sistem silvikultur TPTI dalam pengusahaan hutan dimaksudkan untuk mengatur kegiatan penebangan dan pembinaan hutan alam produksi yang mempunyai jumlah pohon inti minimal 25 pohon per hektar. Pohon inti adalah pohon jenis komersial berdiameter minimal 20 cm yang akan membentuk tegakan utama yang akan ditebang pada rotasi tebangan berikutnya. Pohon inti yang ditunjuk, diutamakan terdiri dari pohon komersial yang sama dengan pohon yang ditebang. Seandainya jumlahnya masih kurang dari 25 pohon per hektar, dapat ditambah dari jenis kayu lain (Departemen Kehutanan, 1992).

Pada unit kesatuan pengusahaan hutan alam produksi, yang mempunyai komposisi dan struktur tegakan yang khusus, dapat diadakan penyesuaian sistem silvikultur TPTI sebagai berikut: (Departemen Kehutanan, 1992)

a. Pada hutan payau, pedoman sistem silvikultur yang dipergunakan tetap berdasarkan pada Keputusan Direktur Jenderal Kehutanan No.

60/Kpts/DJ/1978.

b. Pada hutan rawa dengan komposisi hutan terdiri dari jenis komersial khusus, misalnya jenisramin, perupuk, dan jenis komersial lainnya; dan pemegang HPH tidak sanggup/sulit melaksanakan kegiatan penanaman/pengayaan, maka hanya diijinkan menebang pohon sebanyak- banyaknya 2/3 dari jumlah pohon, sesuai dengan komposisi jenisnya.

c. Pada kondisi hutan rawa yang tidak ditemukan pohon berdiameter 50 cm keatas dalam jumlah yang cukup, misalnya pada hutan ramin campuran,

(30)

maka khusus jenis ramin dapat dilakukan penurunan batas diameter pohon yang boleh ditebang menjadi 35 cm; dengan jumlah pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar, berdiameter 15 cm ke atas. Sedangkan rotasi tebangan ditetapkan 25 tahun. Pengaturan pohon yang dapat ditebang mengikuti ketentuan pada butir (b) tersebut.

d. Pada kondisi hutan dengan jumlah pohon muda yang berdiameter 20-49 cm, yang dapat ditunjuk sebagai pohon inti kurang dari 25 pohon per hektar, maka kekurangannya harus ditambah dengan pohon komersial lain, yang berdiameter di atas 50 cm dan berfungsi pula sebagai pohon induk. Batas diameter batang yang boleh ditebang adalah 50 cm, dengan jumlah pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar, sedangkan rotasi tebang ditetapkan 35 tahun.

e. Pada kondisi hutan yang terdiri dari jenis-jenis komersial, yang memiliki pertumbuhan yang lambat dan sulit ditemukan pohon-pohon yang berdiameter 50 ke atas, seperti pada hutan eboni campuran, maka khusus untuk jenis eboni dapat dilakukan penurunan batas diameter pohon yang boleh ditebang menjadi 35 cm, dengan jumlah pohon inti paling sedikit 25 pohon per hektar, berdiameter 15 cm ke atas. Sedangkan rotasi tebang ditetapkan 45 tahun.

TPI/TPTI mengikuti kaidah alami dengan menebang jenis-jenis pohon komersial dengan limit diameter 50 cm ke atas pada hutan produksi dan limit diameter 60 cm ke atas pada hutan produksi terbatas. Hasil tebangan TPI/TPTI tersebar dalam bentuk rumpang pada areal bekas tebangan, menurut kerapatan jenis-jenis pohon komersial ditebang pada areal tebangan (Soerianegara, 1996).

TPI/TPTI juga mensyaratkan diadakannya penanaman pengayaan pada areal hutan yang permudaannya kurang, pada areal bekas lahan sarad bekas tempat pengumpulan dan tanah-tanah terbuka lainnya. Pemilihan jenis pohon untuk penanaman pengayaan sesuai dengan kondisi daerah yang akan ditanami khususnya keadaan tanah dan cahaya sangat berperan dalam keberhasilan tanaman pengayaan yang dilakukan (Soerianegara, 1996).

(31)

Menurut pedoman TPTI maka harus tersedia minimal 400 batang/hektar untuk tingkat semai, 200 batang/hektar untuk tingkat pancang dan 75 batang/hektar untuk tingkat tiang dan 25 pohon /hektar jenis komersial dan sehat (Departemen Kehutanan, 1993).

Sistem TPTI memerlukan struktur tegakan pohon-pohon jenis niagawi yang berimbang, artinya jenis-jenis pohon yang bakal dipanen harus memiliki jumlah permudaan segala tingkatan yang memadai. Namun struktur demikian pada umumnya tidak dimiliki oleh jenis-jenis pohon stratum atasan, karena jenis-jenis itu hanya berkembang tumbuh di dalam rumpang dengan sinar matahari yang cukup. Untuk memperbaiki struktur harmonis dari tegakan jenis-jenis niagawi, diperlukan pengaturan ruang tumbuh untuk mendukung sejumlah terbatas dari permudaan agar segala tingkatan permudaan memiliki jumlah yang memadai (Sutisna, 2001).

E. Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Intensif Indonesia (TPTII)

Dalam mendorong tercapainya kondisi hutan yang mampu berfungsi secara optimal, produktif, serta dikelola dengan efektif dan efisien Departemen Kehutanan akan mengembangkan pembangunan Sistem Silvikultur Intensif atau Tebang Pilih Tanam Intensif Indonesia dalam pemanfaatan sumberdaya hutan. Silvikultur adalah cara-cara penyelenggaraan dan pemeliharaan hutan, serta penerapan praktik-praktik pengaturan komposisi dan pertumbuhan hutan. Dengan demikian sistem silvikultur merupakan cara utama untuk mewujudkan hutan dengan struktur dan komposisi yang dikehendaki, yang disesuaikan dengan lingkungan setempat. Sistem silvikultur intensif ini merupakan penyempurnaan dari sistem-sistem sebelumnya, yaitu Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI) dan Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Jalur (TPTJ).

Sistem TPTII adalah regime silvikultur hutan alam yang mengharuskan adanya tanaman pengkayaan pada areal pasca penebangan secara jalur, tanpa memperhatikan cukup atau tidaknya anakan yang tersedia dalam tegakan tinggal. Keunggulan dari Tebang Pilih dan Tanam Indonesia Intensif (TPTII) adalah (Departemen Kehutanan, 2004):

(32)

a. Kontrol pengelolaan baik oleh perusahaan sendiri, maupun pihak luar lebih efisien, mudah dan murah

b. Pada awal pembangunannya telah menggunakan bibit dengan jenis yang terpilih dan pada rotasi berikutnya telah menggunakan bibit dari hasil pemuliaan, sehingga produktivitasnya bisa meningkat 5 kali, kualitas produk lebih baik.

c. Target produksi lebih bisa fleksibel bergantung pada investasi tanaman (kayu, produk metabolisme sekunder).

d. Keanekaragaman hayati, kondisi lingkungan lebih baik.

e. Kemampuan perusahaan meningkat.

F. Pemanenan Hasil Hutan

Pemanenan kayu merupakan salah satu kegiatan pengelolaan hutan, pada dasarnya merupakan serangkaian tahapan kegiatan yang dilaksanakan untuk mengubah pohon dari hutan dan memindahkannya ke tempat penggunaan/pengelolaan dengan melalui tahapan perencanaan pembukaan wilayah hutan (PWH), penebangan, penyaradan, pengangkutan dan pengujian sehingga bermanfaat bagi kehidupan ekonomi dan kebudayaan masyarakat berdasarkan prinsip kelestarian (Conway, 1976).

Pemanenan merupakan suatu kegiatan memanen kayu secara ekonomis untuk memasok industri dengan menjaga kelestarian hasil, kualitas lingkungan, dan keselamatan pekerja dan peralatan (Suparto, 1994).

Sedangkan menurut Elias (1997), pemanenan adalah satu bagian yang dominan dalam manajemen hutan secara keseluruhan oleh karena itu feed back nya terhadap kesuksesan maupun kegagalan pengelolaan hutan yang lestari dalam jangka panjang sangatlah penting.

Reduced Impact Timber Harvesting (RITH) ialah suatu teknik pemanenan kayu yang direncanakan secara intensif, dalam pelaksanaan operasinya menggunakan teknik pelaksanaan dan peralatan yang tepat serta diawasi secara intensif untuk meminimalkan kerusakan terhadap tegakan tinggal dan tanah (Elias, 2002). Dan tujuan dari implementasi RITH adalah meminimalkan pengaruh negatif terhadap lingkungan (erosi, sedimentasi, dan

(33)

pengeruhan air sungai), meningkatkan efisiensi pemanenan (penekanan terhadap volume limbah pemanenan, biaya pemanenan dan peningkatan kualitas produksi kayu), menciptakan ruang tumbuh yang optimal dalam tegakan (memaksimalkan pertumbuhan dan hasil hutan non kayu), meningkatkan pendapatan, kesehatan dan keselamatan kerja pekerja dan masyarakat dan menciptakan prasyarat/kondisi pengelolaan hutan alam lestari (Elias, 2002).

Sistem pemanenan kayu jati dan rimba di Pulau Jawa menggunakan sistem manual, dengan menggunakan sub sistem penyaradan dengan sapi dan pemikulan oleh manusia. Sedangkan sistem pemanenan kayu di luar Jawa menggunakan sistem mekanis, dengan sub sistem penyaradan dengan traktor di tanah kering dan tanah rawa dengan sistem kuda-kuda (Elias, 1998).

Kegiatan pemanenan kayu yang intensif dapat berpengaruh serius terhadap struktur hutan dan persentase serta kerusakan terbesar terjadi pada pohon-pohon yang memungkinkan untuk ditebang (Whitmore, 1986).

Pemanenan kayu dengan sistem TPTI tidak menyebabkan perubahan stratifikasi tegakan, karena jumlah strata tegakan sebelum dan sesudah pemanenan kayu masih sama, yakni terdiri dari strata A, B dan C. Perubahan yang terjadi hanya pada tajuk terhadap lantai hutan yang berkisar 15-25 % (Elias, 1997).

Pemanenan kayu menyebabkan terjadinya perubahan komposisi dan struktur yang ditandai dengan bergesernya peringkat Indeks Nilai Penting (INP) masing-masing jenis dalam petak. Jumlah yang hilang akibat pemanenan kayu terkendali dan konvensional berkisar antara 1-6 jenis (Sularso, 1996).

Kegiatan penebangan dan penyaradan menyebabkan kerusakan tegakan tinggal yang berat. Penelitian lebih lanjut memperlihatkan bahwa kegiatan penyaradan menimbulkan kerusakan yang lebih berat daripada penebangan. Hal ini tergantung dari keterampilan pekerja, tegakan dan tajuk hutan, serta keadaan area pemanenan (Bureau of Forestry Philippines, 1970).

Menurut Elias (1994), kerusakan lingkungan yang dapat diakibatkan oleh pemanenan kayu antara lain: kerusakan tegakan tinggal, kerusakan tanah

(34)

sebagai tempat tumbuh pohon-pohon, erosi, menurunnya keragaman jenis (biodiversity) terjadinya limbah pemanenan kayu (logging waste) yang besar.

1. Penebangan

Penebangan adalah pengambilan kayu dari pohon-pohon dalam tegakan yang berdiameter sama dengan atau lebih besar dari batas diameter yang ditetapkan (Departemen Kehutanan, 1993).

Menurut Suparto (1979) dalam Budiaman (2003), penebangan merupakan langkah awal dari kegiatan pemanenan kayu, meliputi tindakan yang diperlukan untuk memotong kayu dari tunggaknya secara aman dan efisien.

Maksud kegiatan penebangan melaksanakan pemanfaatan kayu secara optimal dari blok tebangan yang sudah disahkan atas pohon-pohon yang berdiameter lebih besar dari batas diameter yang ditetapkan dan meminimalkan kerusakan terhadap tegakan tinggal (Departemen Kehutanan, 1993).

Kegiatan penebangan pohon meliputi pekerjaan penentuan arah rebah, pelaksanaan penebangan, pembagian batang, penyaradan, pengupasan dan pengangkutan kayu bulat dari Tempat Pengumpulan (TPn), ke Tempat Penimbunan Kayu (TPK) (Departemen Kehutanan, 1993). Tetapi pada dasarnya kegiatan penebangan pohon terdiri dari 3 kegiatan, yaitu: persiapan penebangan, penentuan arah rebah, pembuatan takik rebah dan balas (Budiaman, 2003).

Asas-asas penebangan pohon dalam sistem TPTI (Sutisna, 2001) adalah:

a. Menebang pohon besar yang telah mencapai ukuran siap panen untuk dijual agar perusahaan memperoleh keuntungan finansial, dan memberikan ruang tumbuhnya kepada permudaan yang menghasilkan riap kayu lebih besar daripada pohon-pohon tua.

b. Pemanfaatan potensi hutan per satuan luas seoptimal mungkin dengan meminimalkan limbah pembalakan.

(35)

c. Penebangan pohon dalam tegakan menggunakan arah rebah menuju pangkal jalan sarad agar kerusakan dan tegakan tinggal dapat diminimalkan.

d. Penomoran kayu bulat secara konsisten berdasarkan nomor pohon berdiri yang dibuat dan dipetakan dalam kegiatan ITSP.

Teknik penebangan yang benar menurut Sinaga, et.al. (1984) dalam Putra (2003) adalah:

1. Menyingkirkan rintangan, yaitu untuk memudahkan pekerjaan dan mencegah kecelakaan.

2. Menentukan arah rabah pohon. Penentuan arah rebah pohon yang cermat sangat penting untuk menghindari kerusakan kayu, antara lain menghindari rebahnya pohon di atas parit, batu, tunggak dan masuk jurang.

3. Membuat takik rebah dan takik balas. Untuk mengurangi kerusakan pangkal pohon yang ditebang berupa serat kayu tercabut (barber chair) juga untuk mengarahkan rebah pohon sesuai dengan arah rebah yang telah ditentukan terlebih dahulu.

4. Penebangan. Untuk pohon yang tidak berbanir, penebangan dilakukan serendah mungkin yaitu sepertiga diameter pohon dari atas tanah, sedangkan pada pohon berbanir penebangan dilakukan di atas banir.

5. Pembagian dan pemotongan batang. Pekerjaan ini mencakup perataan takik rebah dan takik balas, membagi atau memotong batang menurut panjang sortimen yang dikehendaki.

Wyatt-Smith (1963) menyatakan bahwa permudaan dianggap cukup apabila memenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Terdapat paling sedikit 40 % stocking permudaan semai jenis komersial aatau 400 petak ukur mili acre per acre (1000 petak ukur acre per hektar).

b. Terdapat paling sedikit 60% stocking permudaan pancang jenis komersial atau 96 petak ukur per acre (240 petak ukur per hektar).

c. Terdapat paling sedikit 75% stocking permudaan tingkat tiang jenis komersial atau 30 petak ukur per acre (75 petak ukur per hektar).

2. Penyaradan

(36)

Penyaradan (skidding, yarding) adalah suatu kegiatan pengeluaran kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu atau disebut TPn (Sastrodimedjo, 1992). Sedangkan Budiaman (2003) menjelaskan bahwa penyaradan kayu adalah kegiatan memindahkan kayu dari tempat tebangan ke tempat pengumpulan kayu atau ke pinggir jalan angkutan. Dan untuk mengurangi kerusakan lingkungan (tanah maupun tegakan) yang ditimbulkan, penyaradan seharusnya dilakukan sesuai dengan rute penyaradan yang telah direncanakan di atas peta kerja.

Menurut Budiaman (2003), metode penyaradan dapat dilakukan dengan berbagai cara antara lain:

1. Secara manual.

2. Menggunakan hewan.

3. Memanfaatkan gaya gravitasi.

4. Skidding atau yarding (dengan traktor).

5. Menggunakan kabel, pesawat, helikopter.

Berbagai cara penyaradan yang tergantung pada beberapa faktor antara lain kerapatan tegakan dan ketebalan tumbuhan bawah (Conway, 1976).

Menurut Brown (1949) faktor lain yang perlu dipertimbangkan yaitu sistem silvikultur yang digunakan, keadaan iklim serta jarak ke tempat pengumpulan kayu. Sementara itu Sumitro (1980) menyatakan faktor-faktor yang mempengaruhi penyaradan (terutama di luar Jawa), antara lain: alat dan cara penyaradan, keadaan medan (kelerengan, cuaca), serta keadaan tegakan sisa.

Hutan alam diluar Jawa dengan sistem TPTI, menyulitkan jalannya penyaradan. Jalan sarad yang panjang menurut kontur dan kerapatannya rendah, terang akan mengurangi kerusakan tegakan tinggal. Kerusakan tidak langsung berupa luka bekas traktor dan pemadatan pada lapisan atas tanah tergantung pada beratnya traktor. Sayangnya tanah hutan di luar Jawa umumnya peka sekali terhadap gangguan ini (Sumitro, 1980).

Pada pelaksanaannya, penyaradan dapat dilakukan dua tahap. Tahap pertama, yaitu menarik kayu dari tunggak di tempat tebangan ke suatu tempat pengumpulan sementara, yang pada umumnya terletak di dalam hutan.

Kegiatan ini dimaksudkan untuk mempermudah tahap pekerjaan penyaradan

(37)

selanjutnya, yang dilaksanakan karena jarak sarad yang terlalu jauh sehingga bila dilakukan penyaradan secara langsung satu tahap saja, biayanya menjadi terlalu mahal (Sastrodimedjo, 1992).

Kebanyakan HPH beroperasi di daerah yang berbukit-bukit. Untuk mengeluarkan kayu dari tegakan hutan ke tempat pengumpulan, peralatan yang sering digunakan di hutan alam tropis di Indonesia ialah traktor berban ulat, seperti Cat D7 dan Komatsu D 85 E-SS. Traktor ini dapat bekerja pada kelerengan yang curam (Elias, 1997).

Menurut Elias (1999), ada beberapa kerusakan akibat penggunaan alat berat (seperti traktor), antara lain:

a. Pemadatan tanah.

Pemadatan tanah adalah proses dimana partikel-partikel tanah secara mekanik bergerak ke posisi yang lebih rapat satu sama lain. Pemadatan tanah diakibatkan oleh beban atau tekanan yang dialami tanah tersebut.

Idris (1987) menyatakan bahwa pemadatan tanah hutan yang terjadi akibat penyaradan kayu dengan traktor berban baja ditunjukkan oleh besarnya kerapatan massa tanah hutan antara 0,703-1,960 g/cm3 dengan rata-rata 1,158 g/cm3. Porositas tanah pada kerapatan massa tanah tersebut adalah 56%. Pemadatan tanah ini merupakan fungsi dari intensitas penggunaan jalan sarad, kebecekan tanah hutan serta kemiringan memenjang jalan sarad.

b. Keterbukaan Tanah.

Keterbukaan tanah yang disebabkan penggunaan alat berat dalam pengelolaan hutan alam pada hanya terjadi pada kegiatan penyaradan dan pembukaan wilayah hutan (jaringan jalan angkutan).

c. Erosi Setempat.

Sistem pemanenan kayu dan PWH merupakan faktor dominan yang menyebabkan erosi setempat (terutama erosi parit). Menurut Arsyad (1989), erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau atau bagian- bagian dari tanah dari sutau tempat yang diangkut oleh air atau angin ketempat lain. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan atas tanah yang subur

(38)

dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air.

d. Kerusakan Pada Vegetasi Hutan.

Kerusakan vegetasi hutan akibat operasi alat berat kehutanan terutama terjadi pada kegiatan penyaradan. Kerusakan vegetasi hutan, pertama terjadi pada kesulitan perakaran pohon untuk menembus tanah yang terpadatkan akibat dilewati oleh alat berat, sehingga usaha mencari bahan makanan, air dan menunjang batang pohonnya sendiri sering terganggu.

e. Gangguan Terhadap Satwa Liar.

Gangguan pengoperasian alat berat di hutan terhadap satwa liar terutam karena kebisingannya. Pada umumnya satwa liar akan menghilang pada waktu pengopersian alat berat, dan kembali lagi setelah operasi alat berat berhenti.

G. Kerusakan Tegakan Tinggal

Semua bentuk pemanenan kayu tanpa kecuali menimbulkan kerusakan pada lingkungan, baik itu lingkungan hutan itu sendiri maupun lingkungan sekitar hutan (Suparto,1994).

Kerusakan tegakan tinggal secara umum disebabkan oleh kegiatan penebangan dan penyaradan. Tingkat kerusakan dari keterbukaan lahan tegakan tinggal yang disebabkan oleh kegiatan penebangan dan penyaradan tergantung dari luasan intensitas pemanenan, terutama keterbukaan lahan yang disebabkan penebangan. Intensitas terbesar dari pemanenan menyebabkan luasnya keterbukaan lahan pada tegakan tinggal (Elias, 1997).

Kerusakan tegakan tinggal akibat pemanenan kayu dengan sistem TPTI adalah kerusakan yang terjadi pada bagian yang sebenarnya tidak termasuk dalam rencana untuk dipanen hasilnya pada waktu pemanenan kayu.

Kerusakan-kerusakan tersebut dapat berupa pohon roboh atau pohon masih berdiri tetapi bagian batang, banir atau tajuk dan diperkirakan tidak dapat tumbuh lagi dengan normal dan keterbukaan areal/tanah akibat penebangan dan penyaradan (Elias, 1997).

(39)

Pohon inti dinyatakan rusak apabila mengalami salah satu atau lebih keadaan sebagai berikut: (Departemen Kehutanan, 1993)

a. Tajuk pohon rusak lebih dari 30% atau cabang pohon/dahan besar patah.

b. Luka batang mencapai bagian kayu berukuran lebih dari 1/4 keliling batang dengan panjang lebih dari 1,5 m.

c. Perakaran terpotong atau 1/3 banirnya rusak.

Menurut Elias (1993) dalam Sularso (1996), berdasarkan populasi pohon dalam petak, kerusakan tegakan tinggal dapat dikelompokkan sebagai berikut: tingkat kerusakan ringan (<25%), tingkat kerusakan sedang (25-50%) dan tingkat kerusakan berat (>50%).

Beberapa tingkat kerusakan yang terjadi pada indivudu pohon yaitu:

1. Tingkat kerusakan berat a. Patah batang.

b. Pecah batang.

c. Roboh, tumbang atau miring sudut < 45o dengan permukaan tanah.

d. Rusak tajuk (>50% rusak tajuk), juga didasarkan atas banyaknya cabang pembentuk tajuk patah.

e. Luka batang/rusak kulit (>1/2 keliling pohon atau 300-600 cm kulit mengalami kerusakan).

f. Rusak banir/akar (>1/2 banir atau perakaran rusak/terpotong).

2. Tingkat kerusakan sedang

a. Rusak tajuk (30-50% tajuk rusak atau 1/6 bagian tajuk mengalami kerusakan).

b. Luka batang/rusak kulit (1/4-1/2 keliling pohon rusak atau 150-300 cm kulit rusak).

c. Rusak banir/akar (1/3-1/2 banir/akar rusak atau terpotong).

d. Condong atau miring (pohon miring membentuk sudut >45o dengan tanah).

3. Tingkat kerusakan ringan

a. Rusak tajuk (<30% tajuk rusak).

(40)

b. Luka batang/rusak kulit (1/4-1/2 keliling dan panjang luka <1,5 m atau kerusakan sampai kambium dengan lebar lebih dari 5 cm, lebih kurang sepanjang garis sejajar sumbu longitudinal dari batang).

c. Rusak banir/akar (<1/4 banir rusak atau perakaran terpotong).

Menurut Elias (1993), tingkat kerusakan tegakan tinggal didasarkan pada populasi pohon dan tingkatan perkembangan vegetasi sebagai berikut:

Tabel 2. Tingkat Kerusakan Tegakan Tinggal Didasarkan pada Populasi Pohon dan Tingkatan Perkembangan Vegetasi.

Tingkatan vegetasi PT. Narkata Rimba (%) PT. Kiani Lestari (%)

Semai 30.02 38.20

Pancang 27.17 43.40

Tiang 24.60 33.26

Pohon - 12.63

Berdasarkan pada ukuran luka (kerusakan) pada setiap individu pohon, tingkat kerusakan yang disebabkan pemanenan kayu sebagai berikut:

Tabel 3. Tingkat Kerusakan Didasarkan pada Ukuran Luka (Kerusakan) pada Setiap Individu Pohon.

PT. Narkata Rimba (%) PT. Kiani Lestari (%) Pohon luka berat 82.12 83.29 Pohon luka sedang 13.19 6.15 Pohon luka ringan 4.58 10.56

Hasil penelitian Muhdi (2001), memperlihatkan bahwa kerusakan terhadap tegakan tinggal pada berbagai tingkatan vegetasi akibat pemanenan kayu konvensional sebagai berikut: semai 34,42% (akibat penebangan 13,55% dan akibat penyaradan 20,87%), pancang 35,13% (penebangan 8,73%

dan penyaradan 26,40%), pohon 33,15% (penebangan 8,90% dan penyaradan 24,25%). Sedangkan kerusakan terhadap tegakan tinggal pada berbagai tingkatan vegetasi akibat pemanenan kayu RITH sebagai berikut: 23,17%

(akibat penebangan 6,36% dan penyaradan 16,80%), pancang 21,72%

(penebangan 5,43% dan 16,29%), pohon 19,53% (penebangan 6,63% dan penyaradan 12,89).

Adapun hasil penelitian Sularso (1996), memperlihatkan bahwa persentase rata-rata kerusakan tegakan tinggal akibat penebangan kayu (terkendali dan konvensional) berdasarkan tipe kerusakan berturut-turut adalah tipe batang sebesar 35,91%, patah tajuk 25,16%, patah cabang/ranting 19,99%, roboh 11,01%, condong 6,29% dan terkelupas kulit/pecah banir

(41)

5,64%. Sedangkan akibat penyaradan kayu urutan tipe kerusakan adalah sebagai berikut: kerusakan roboh 50,80%, patah batang 19,57%, patah tajuk 10,26%, patah cabang/ranting 7,15%, terkelupas kulit/pecah banir 6,75% dan condong 5,47%.

Hasil percobaan minimalisasi kerusakan akibat pemanenan kayu menunjukkan bahwa penerapan cara pemanenan kayu berwawasan lingkungan dapat mengurangi kerusakan tegakan tinggal sampai 50% dan limbah pemanenan kayu 10-30%. Kenaikan biaya produksi/pemanenan kayu hanya 1,27% (Elias, 1997).

H. Perkembangan Hutan Bekas Tebangan

Suksesi ialah rangkaian perubahan kondisi pada komunitas tanaman bersamaan dengan perubahan habitatnya (Baker, 1950). Sedangkan Ewusie (1990) menyatakan bahwa suksesi merupakan hasil dari tumbuhan itu sendiri, dalam arti bahwa tumbuhan yang berada dalam daerah tersebut pada suatu waktu tertentu mengubah lingkungannnya, yang terdiri dari tanah, tumbuhan dan iklim mikro yang berada di atasnya, sedemikian rupa sehingga membuatnya lebih cocok untuk spesies yang lain daripada bagi tumbuhan itu sendiri.

Richards (1966) membedakan suksesi atas dua bagian berdasarkan awal terjadinya, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder. Suksesi primer merupakan perkembangan vegetasi mulai dari yang tidak bervegetasi hingga mencapai masyarakat yang stabil. Sedangkan suksesi sekunder terjadi apabila klimaks atau suksesi normal terganggu, seperti terjadinya kebakaran, perladangan dan pembalakan.

Soerianegara dan Indrawan (1988) mengemukakan bahwa selama proses suksesi berlangsung hingga tercapainya stabilitas atau keseimbangan dinamis dengan lingkungan, terjadi pergantian masyarakat tumbuhan hingga terbentuk masyarakat yang disebut vegetasi klimaks.

Whitmore (1986) berpendapat bahwa siklus pertumbuhan dalam rangka regenerasi pohon di hutan hujan tropika dapat di bedakan dalam tiga tahapan, yaitu fase celah, fase pengembangan, dan fase tua. Fase-fase ini tidak

(42)

dapat dianggap sebagai fase-fase terpidah satu sama lainnya, melainkan berhubungan melalui kesinambungan pertumbuhan. Fase celah berisi permudaan ukuran semai dan pancang, fase pengembangan berisi tingkat tiang atau pohon muda, sedangkan fase tua terdiri dari pohon-pohon besar dan tua.

Richards (1966) menyatakan menyatakan bahwa apabila pohon yang besar mati, pohon tersebut akan meninggalkan suatu celah (gap) atau opening (bukaan) di dalam stratum pohon tersebut. Pembentukan suatu celah (gap) menyebabkan perkembangan tumbuhan bawah yang cepat, karena dirangsang pertambahan penyinaran dan mungkin oleh berkurangnya persaingan akar setempat, jenis pohon muda yang intoleran yang terdapat di sekitar tumbuhan bawah itu akan lebih cepat tumbuh daripada jenis yang toleran.

I. Hubungan antara Tanah dengan Tegakan

Tanah adalah kumpulan bahan-bahan alami yang terdapat di permukaan bumi, tempat berpijak pohon-pohon, yang mempunyai ciri-ciri yang terjadi karena pengaruh iklim dan kehidupan pada bahan induk tergantung pula pada bentuk (relief) dan waktu (Loekito, D dan R. Hardjono, 1970). Dengan demikian faktor-faktor pembentuk tanah ialah iklim, organisme, relief, bahan induk dan waktu.

Sementara Buckman dan Brady (1989) menyatakan bahwa tanah merupakan suatu tubuh alam, disintesakan dalam bentuk penampang dari berbagai campuran hancuran mineral dan bahan organik, bila mengandung cukup air dan udara akan menjadi tunjungan mekanik dan makanan bagi tumbuhan. Lebih lanjut lagi Buckman menyatakan bahwa larutan tanah mengandung garam-garam yang larut dan sebagian besar merupakan hara esensial bagi tumbuhan. Antara bagian pada tanah dengan larutan tanah terjadi pertukaran hara dan selanjutnya antara larutan tanah dengan tanaman.

Pertukaran ini hingga batas-batas tertentu ditentukan oleh jumlah di dalam tanah dan kadar garam dalam larutan tanah.

Tanah terdiri dari berbagai ukuran bahan mineral (seperti: pasir, debu dan liaat, yang dihasilkan oleh stratum geologis), bahan organik (dari

(43)

pembusukan tumbuh-tumbuhan dan binatang), air (dari presipitasi), udara (yang keluar dalam atmosfir) dan sejumlah besar jasad renik (Manan, 1976).

Faktor tanah mempunyai peran memenuhi berbagai kebutuhan hidup tanaman, yaitu: memberi dukungan mekanis dengan menjadi tempat berjangkarnya akar, menyediakan ruang untuk pertumbuhan dan perkembangan akar, menyediakan udara (oksigen) untuk respirasi, air, dan hara, serta menjadi media untuk memungkinkannya saling tindak dengan jasad lain (Purwowidodo, 2000). Sedangkan Baur (1968) menyatakan bahwa tanah sangat penting bagi tanaman untuk tumbuh dengan berbagai cara. Tanah menyediakan daya dukung fisik sebagai jangkar bagi akar yang dibutuhkan sebelum pohon tumbuh. Tanah juga menyediakan unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman baik itu secara langsung ataupun tidak langsung. Kedua fungsi dari tanah tersebut sangatlah penting bagi pertumbuhan dan perkembangan hutan hujan tropika.

Kerusakan tanah dapat terjadi oleh beberapa hal antara lain:

kehilangan unsur hara dan bahan organik dari daerah perakaran, terkumpulnya garam di daerah perakaran (salinasi), terkumpulnya unsur atau senyawa yang merupakan racun bagi tanaman, penjenuhan tanah oleh air (waterlogging), dan erosi. Kerusakan tanah oleh satu atau lebih proses tersebut menyebabkan berkurangnya kemampuan tanah untuk mendukung pertumbuhan tumbuhan atau menghasilkan barang atau jasa (Riquier, 1977 dalam Arsyad, 1989).

Oliver dan Larson (1983) menyatakan bahwa tempat tumbuh dapat berubah seperti juga halnya dengan perkembangan hutan. Perkembangan tegakan akan meningkatkan kelembaban yang memungkinkan akar untuk melakukan penetrasi dalam menyerap mineral tanah dan akan meningkatkan ruang pori untuk menyimpan kelembaban. Oksigen tanah dan nutrisi akan meningkat seperti juga dengan peningkatan ruangan pori. Nutrisi meningkat sehingga akar, mikroorganisme dapat mengambilnya dari bahan induk tanah dan mengedarkan ke tanah dan akhirnya ke pohon. Total nitrogen akan meningkat sejalan dengan perkembangan tegakan karena semakin banyak nitrogen yang diikat dari udara oleh tumbuhan.

(44)

Keberhasilan pertumbuhan suatu tanaman hutan di lapangan dikendalikan oleh faktor-faktor pertumbuhan, yang terdiri dari faktor genetis dan faktor-faktor lingkungan. Pengendalian faktor genetis dimunculkan oleh gen-gen kromosom yang mempengaruhi proses-proses fisiologis melalui pengendalian pada sistesis ensim-ensim yang berperan ganda pada aneka reaksi fisiologis. Sedangkan pengendalian faktor lingkungan dimunculkan oleh peran aneka keadaan di luar tubuh suatu tanaman yang mempengaruhi proses-proses fisiologis (Poerwowidodo, 2000).

Kegiatan tebang pilih dapat menyebabkan kelembaban tanah meningkat, intersepsi air hujan berkurang, evaporasi meningkat, lapisan permukaan lebih cepat kering daripada hutan alami tetapi lebih lambat daripada tebang habis, serta terjadinya peningkatan traspirasi (Baker, 1950).

J. Analisis Tanah 1. Sifat Fisik Tanah

Tekstur tanah adalah perbandingan relief dari berbagai golongan besar partikel tanah dalam suatu massa tanah, terutama perbandingan antara fraksi-fraksi kiat, debu, dan pasir (Sarief, 1985). Sedangkan menurut Poerwowidodo (2004) tekstur tanah adalah perbandingan nisbi aneka kelompok ukuran jarah/pisahan tanah yang menyusun massa tanah suatu bagian tubuh tanah.

Kadar liat merupakan kriteria penting sebab liat mempunyai kemampuan menahan air yang tinggi. Tanah yang mengandung liat dalam jumlah yang tinggi dapat tersuspensi oleh butir-butir hujan yang jatuh menimpanya, dan pori-pori lapisan permukaan akan tersumbat oleh butir- butir liat semakin tinggi nisbah liat maka laju infiltrasi semakin kecil (Arsyad, 2000).

Tanah-tanah yang bertekstur liat mempunyai luas permukaan yang besar sehingga kemampuan menahan air dan menyimpan unsur hara tinggi. Tanaman yang ditanam pada tanah pasir umumnya lebih mudah kekeringan daripada tanah-tanah bertekstur lempung atau liat (Hardjowigeno, 2003).

Figur

Tabel 4. Penilaian Sifat Kimia Tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983)

Tabel 4.

Penilaian Sifat Kimia Tanah (Staf Pusat Penelitian Tanah, 1983) p.45
Gambar 1. Plot Pengamatan Analisis Vegetasi

Gambar 1.

Plot Pengamatan Analisis Vegetasi p.50
Tabel 10. Penetapan Status Kesuburan Tanah.

Tabel 10.

Penetapan Status Kesuburan Tanah. p.60
Tabel 10.Luas Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Berdasarkan Kelas Lereng.

Tabel 10.Luas

Areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur Berdasarkan Kelas Lereng. p.63
Tabel 11. Deskripsi Satuan Peta Tanah yang Terdapat di Wilayah Studi dan Areal  IUPHHK PT

Tabel 11.

Deskripsi Satuan Peta Tanah yang Terdapat di Wilayah Studi dan Areal IUPHHK PT p.64
Tabel 12. Hasil Pengamatan Cuaca di Stasiun Pengamat Cuaca Arboretum dan Camp  128 pada Bulan Desember 2004

Tabel 12.

Hasil Pengamatan Cuaca di Stasiun Pengamat Cuaca Arboretum dan Camp 128 pada Bulan Desember 2004 p.65
Tabel 14. Jumlah Jenis yang Ditemukan pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan  Setelah Penjaluran pada Berbagai Kelerengan

Tabel 14.

Jumlah Jenis yang Ditemukan pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan Setelah Penjaluran pada Berbagai Kelerengan p.70
Tabel 15  memperlihatkan komposisi permudaan jenis komersial  ditebang dilihat dari kerapatan (N/Ha) dan frekuensinya yang terdapat pada  plot pengamatan disetiap kelerengan

Tabel 15

memperlihatkan komposisi permudaan jenis komersial ditebang dilihat dari kerapatan (N/Ha) dan frekuensinya yang terdapat pada plot pengamatan disetiap kelerengan p.71
Gambar 3. Frekuensi Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan Pemanenan   Kayu

Gambar 3.

Frekuensi Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan Pemanenan Kayu p.72
Tabel 16. Komposisi Permudaan Jenis Komersial Ditebang pada Hutan Sebelum  Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran Dilihat dari Kerapatan (N/Ha)  Serta Frekuensi

Tabel 16.

Komposisi Permudaan Jenis Komersial Ditebang pada Hutan Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran Dilihat dari Kerapatan (N/Ha) Serta Frekuensi p.73
Gambar 4. Kerapatan Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan Penjaluran .

Gambar 4.

Kerapatan Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan Penjaluran . p.73
Gambar 5 Frekuensi Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan Penjaluran.

Gambar 5

Frekuensi Jenis Komersial Ditebang pada Plot Pengamatan Penjaluran. p.74
Tabel 17. Daftar Jenis dengan INP Terbesar pada LOA 1981/1982 dan Et+0.

Tabel 17.

Daftar Jenis dengan INP Terbesar pada LOA 1981/1982 dan Et+0. p.76
Tabel 18. Daftar Jenis INP Terbesar pada Hutan Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran

Tabel 18.

Daftar Jenis INP Terbesar pada Hutan Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran p.77
Tabel 19. Indeks Nilai Penting Kelompok Jenis pada LOA 1981/1982 dan Et+0.

Tabel 19.

Indeks Nilai Penting Kelompok Jenis pada LOA 1981/1982 dan Et+0. p.81
Tabel 20. Indeks Nilai Penting Kelompok Jenis pada Kondisi Hutan Sebelum  Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran

Tabel 20.

Indeks Nilai Penting Kelompok Jenis pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran p.82
Tabel 21. Indeks Kekayaan Margallef (R1) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 .  Kondisi Hutan  Kelerengan

Tabel 21.

Indeks Kekayaan Margallef (R1) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 . Kondisi Hutan Kelerengan p.83
Tabel 22. Indeks Kekayaan Margallef (R1) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran  dan Setelah Penjaluran

Tabel 22.

Indeks Kekayaan Margallef (R1) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan Setelah Penjaluran p.84
Tabel 23. Indeks Dominansi Jenis (C) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 .  Kondisi Hutan  Kelerengan

Tabel 23.

Indeks Dominansi Jenis (C) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 . Kondisi Hutan Kelerengan p.85
Tabel 25. Indeks Kemerataan Jenis (E) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 .  Kondisi Hutan  Kelerengan

Tabel 25.

Indeks Kemerataan Jenis (E) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 . Kondisi Hutan Kelerengan p.86
Tabel 26. Indeks Kemerataan Jenis (E) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan  Hutan Setelah Penjaluran

Tabel 26.

Indeks Kemerataan Jenis (E) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran p.86
Tabel 27. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 .  Kondisi Hutan  Kelerengan

Tabel 27.

Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada LOA 1981/1982 dan Et+0 . Kondisi Hutan Kelerengan p.87
Tabel 28. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada Kondisi Hutan Sebelum  Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran

Tabel 28.

Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran dan Hutan Setelah Penjaluran p.88
Gambar 8. Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada Kondisi Hutan Sebelum  Penjaluran .

Gambar 8.

Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada Kondisi Hutan Sebelum Penjaluran . p.91
Gambar 9. Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada Kondisi Hutan Setelah  Penjaluran.

Gambar 9.

Struktur Tegakan untuk Semua Jenis pada Kondisi Hutan Setelah Penjaluran. p.91
Tabel 32. Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Penebangan Satu Pohon .

Tabel 32.

Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Penebangan Satu Pohon . p.95
Tabel 33. Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan Kayu dan Penjaluran .  Jenis  Kegiatan  Kelerengan (%)  Σ Pohon  Sebelum  Ditebang  Σ Pohon  Ditebang  Σ Pohon Rusak  %  Kerusakan  Tingkat  Kerusakan  Pemanenan  Kayu  0-15 449 31  63 15.07 ringan 15-25

Tabel 33.

Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan Kayu dan Penjaluran . Jenis Kegiatan Kelerengan (%) Σ Pohon Sebelum Ditebang Σ Pohon Ditebang Σ Pohon Rusak % Kerusakan Tingkat Kerusakan Pemanenan Kayu 0-15 449 31 63 15.07 ringan 15-25 p.96
Tabel 35. Persentase Tipe-Tipe Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan  Kayu dan Penjaluran

Tabel 35.

Persentase Tipe-Tipe Kerusakan Tegakan Tinggal Akibat Pemanenan Kayu dan Penjaluran p.98
Tabel 38. Pengukuran Sifat Kimia Tanah dan Penetapan Tingkat Kesuburan Tanah  (Lanjutan)

Tabel 38.

Pengukuran Sifat Kimia Tanah dan Penetapan Tingkat Kesuburan Tanah (Lanjutan) p.101
Tabel 38. Pengukuran Sifat Kimia Tanah dan Penetapan Tingkat Kesuburan Tanah.

Tabel 38.

Pengukuran Sifat Kimia Tanah dan Penetapan Tingkat Kesuburan Tanah. p.101

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :