• Tidak ada hasil yang ditemukan

RAFITA F11114503

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RAFITA F11114503"

Copied!
203
0
0

Teks penuh

(1)

i

TINJAUAN SOSIOLINGUISTIK

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Ujian Guna Memeroleh Gelar Sarjana Sastra pada Program Studi Bahasa Indonesia

Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin

OLEH:

RAFITA F11114503

DEPARTEMEN SASTRA INDONESIA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS HASANUDDIN

2018

(2)
(3)
(4)
(5)

v

Allah SWT sehingga penulis dapat merampungkan skripsi ini. Penulisan skripsi ini sebagai salah satu syarat guna memeroleh gelar Sarjana Sastra di Departemen Sastra Indonesia Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Judul skripsi ini adalah “Ragam Bahasa Meme pada Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial Instagram: Tinjauan Sosiolinguistik”. Penulis telah

berusaha menyusun skripsi ini dengan sebaik mungkin, namun penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari hambatan, rintangan, dan kesulitan, tetapi berkat bantuan dan dukungan dari berbagai pihak juga menjadi kesyukuran bagi penulis. Oleh sebab itu, penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada:

1. Prof. Dr Akin Duli, M. A., selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

2. Dr. Munira Hasyim, M. Hum., selaku konsultan I. Beliau adalah panutan penulis, sosok tegas namun penyayang yang membuat penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik.

3. Dr. H. Tammasse, M. Hum., selaku konsultan II. Beliau sosok penuh wibawa dan tenang, selalu memberikan motivasi, arahan, dan bimbingan tiada henti selama proses penyusunan skripsi ini.

(6)

vi

5. Dr. H. AB. Takko Bandung, M. Hum., selaku Ketua Departemen Sastra Indonesia, beserta seluruh staf pengajar Departemen Sastra Indonesia yang telah mengasuh dan membagi ilmu kepada penulis.

6. Ayahanda Syahrir dan Ibunda Kiswati, selaku orang tua penulis yang senantiasa memberikan doa, motivasi, dan segala nasihat dengan penuh kesabaran dan keikhlasan selama penulis berjuang menuntut ilmu.

7. H. Muhammad Amin Naming dan Hj. Da’watia, selaku kakek dan nenek penulis yang senantiasa memberikan doa, kasih sayang, dukungan, nasihat dengan penuh kesabaran dan kasih sayang selama ini kepada penulis selama ini.

8. Seluruh staf pegawai di Jurusan Sastra Indonesia dan Fakultas Ilmu Budaya.

Terkhusus Ibunda Sumartina S.E., yang banyak membantu proses administrasi selama penulis duduk di bangku kuliah hingga proses penulisan skripsi.

9. Adik Kandungku yang tersayang Sigit Mulya Syahrir, atas dukungan dan semangat yang banyak mendorong penulis untuk terus optimis mengerjakan tugas akhir ini.

10. Hidayatullah Saifuddin S.H., dan Nani Suraiyyah S. Psi., kedua kakakku tercinta, yang telah memberi semangat dan kasih sayang selama ini kepada penulis.

11. Para sahabatku “Kalasisme” Nur Akhirah, Andi Hartina Tenrirawe, Erika Hamdianah yang selalu menemani dalam suka maupun duka.

(7)

vii

Aprilanti, Nur Adelia, Bahrul Ulum, Elisabet Iket, Adi Yanuarto, Musylia, dan seluruh teman Asketis14 yang tidak dapat saya sebutkan satu per satu. Teman- teman Ikatan Mahasiswa Sastra Indonesia (IMSI); teman-teman Gabungan Pelajar Mahasiswa Barru (GAPPEMBAR) Komisariat Enam Balusu, yang telah memberikan banyak pembelajaran dalam mengarungi dunia kemahasiswaan.

13. Teman-teman KKN Gelombang 96, terkhusus posko III Desa Madello, Kec.

Balusu, Kab. Barru: Yobelia Habel, Ivan Azen Raganti, Ayu Kurnia Amir, Zoelfahry Romadhon, Muh. Alfajar, Muzammil Hataman, yang telah menjadi keluarga baru dan banyak memberikan pembelajaran hidup.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca pada umumnya dan penulis khususnya. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan dari pembaca untuk penyempurnaan skripsi ini.

Makassar, 19 Mei 2018

Penulis

(8)

viii

HALAMAN PERSETUJUAN ... ii

HALAMAN PENGESAHAN... iv

KATA PENGANTAR... v

DAFTAR ISI... viii

ABSTRAK ... xi

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 . Latar Belakang...1

1.2 . Identifikasi Masalah ... 11

1.3 . Batasan Masalah ... 12

1.4 . Rumusan Masalah... 12

1.5 . Tujuan dan Manfaat Penelitian... 13

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Penelitian Terdahulu ... 14

2.2 Konsep ... 17

2.2.1 Komunikasi ... 17

2.2.2 Media Sosial... 18

2.2.3 Ragam Bahasa ... 20

2.2.4 Meme ... 22

2.2.5 Ragam Bahasa Meme... 24

2.3 Landasan Teori... 25

2.3.1 Sosiolingustik... 25

2.3.3.1 Perubahan Fonem... 28

2.3.3.2 Afiksasi ... 31

2.3.3.3 Hiperkorek... 32

2.3.3.4 Campur Kode ... 33

2.3.3.5 Singkatan... 33

2.3.3.6 Fungsi Ragam Bahasa ... 34

2.4 Kerangka Pikir ... 36

(9)

ix

3.1.2 Penelitian Lapangan ... 40

3.2 Metode Pengumpulan Data ... 40

3.2.1 Metode Simak ... 40

3.2.2. Teknik Dokumentasi ... 41

3.2.3 Teknik Catat ... 41

3.3 Sumber Data... 41

3.3.1 Populasi ... 41

3.3.2 Sampel... 42

3.4 Metode Analisis Data ... 42

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Bentuk-Bentuk Peggunaan Ragam Bahasa Meme pada Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial Instagram ... 43

4.1.1 Penggunaan Berupa Penghilangan Fonem ... 44

4.1.2 Penggunaan Berupa Penambahan Fonem... 65

4.1.3 Penggunaan Berupa Afiksasi... 71

4.1.4 Penggunaan yang Mengalami Hiperkorek ... 82

4.1.5 Penggunaan yang Mengalami Campur Kode ... 95

4.1.6 Penggunaan Berupa Singkatan ... 99

4.2 Fungsi Ragam Bahasa Meme pada Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial Instagram ... 104

4.2.1 Fungsi Emotif ... 105

4.2.2 Fungsi Fatik ... 119

4.2.3 Fungsi Direktif... 122

4.2.4 Fungsi Referensial ... 133

BAB V PENUTUP 5.1 Simpulan... 142

5.2 Saran ... 143

(10)

x

(11)

xi

Media Sosial Instagram: Tinjauan Sosiolinguistik. (dibimbing oleh Munira Hasyim dan Tammasse).

Penelitian ini bertujuan adalah: (1) menjelaskan bentuk-bentuk penggunaan ragam bahasa pada meme dalam Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial Instagram; (2) menjelaskan fungsi penggunaan ragam bahasa meme dalam Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial Instagram.

Objek dalam penelitian ini yaitu meme. Meme yang diteliti dikumpulkan dan dipilih dari akun Meme Comic Indonesia. Data primer diperoleh dari observasi dan pengumpulan data berupa teks tuturan tertulis dari akun Meme Comic Indonesia dan data sekunder diperoleh dari studi pustaka dengan mempelajari dan mengkaji literatur-literatur yang berkaitan dengan permasalahan yang diteliti. Data yang berhasil dikumpulkan selanjutnya dianalisis dengan pendekatan deskriptif kualitatif.

Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan teori Wijana sosiolinguistik dalam mengungkapkan dan menginterpretasi data mengenai bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa pada meme.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa meme pada akun Meme Comic Indonesia secara keseluruhan menggunakan beberapa bentuk dalam penggunaannya.

Bentuk penggunaan yang mengalami penghilangan fonem, penambahan fonem, afiksasi, hiperkorek, campur kode dan singkatan dengan menggunakan teori Verhaar dan Badudu sebagai teori pendukung, dalam menganalisis bentuk penggunaan.

Adapun fungsi penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia secara keseluruhan terdiri dari empat fungsi terdiri dari fungsi emotif, fungsi direktif, fungsi fatik, dan fungsi referensial teori Jakobson dalam menentukan fungsi bahasa pada meme.

Kata kunci: Media sosial, sosiolinguistik, ragam bahasa, meme.

(12)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seiring perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan dewasa ini, kehadiran internet semakin dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Bukan hanya sekadar mendapatkan informasi, melainkan menjadi sarana berupa hiburan dan pendidikan.

Kehadiran media sosial yang menunjang proses komunikasi tidak terlepas dari adanya peran bahasa. Terbukti dari penggunaannya dalam komunikasi sehari-hari, ada peran bahasa yang membuat satu sama lain dapat berkomunikasi saling menyampaikan maksud serta tujuan. Melalui bahasa yang digunakan, dapat menggambarkan asal usul, sosial budaya, pendidikan dan kepribadian seseorang.

Bahasa Indonesia yang digunakan oleh masyarakat, mempunyai berbagai ragam berdasarkan beberapa aspek yaitu berdasarkan penuturnya, tempat, sarana atau media yang digunakan dalam berbahasa. Umumnya, masyarakat tutur melakukan interaksi sosial untuk menjalin kerjasama, menyampaikan pendapat bahkan berselisih paham atau memiliki pendapat yang berbeda dalam menyampaikan maksud.

Faktor-faktor yang berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam masyarakat tutur, dapat memunculkan adanya sejumlah ragam bahasa. Keragaman bahasa disebabkan oleh penuturnya yang heterogen, yaitu seseorang masih memahami orang lain yang menggunakan bahasa Indonesia meski bahasa Indonesia yang digunakan

(13)

mengalami perbedaan dalam pembentukannya. Hal ini juga berlaku dalam media sosial.

Ragam bahasa dalam media sosial sangat beragam, seperti Instagram.

Instagram merupakan sarana komunikasi yang diciptakan untuk memberikan kemudahan dalam mengirimkan informasi dan interaksi dalam dunia maya. Dewasa ini Instagram banyak ditemukan penggunaan bentuk kata, tuturan atau pernyataan berupan tulisan dengan gaya mengkritik berkaitan dengan kejadian-kejadian yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat. Hal demikian, biasa diistilahkan dengan sebutan meme (dibaca: mim).

Istilah “meme” berasal dari bahasa Yunani “mimesis” yang artinya sesuatu menyerupai atau terdengar serupa dengan gen yang didefinisikan sebagai evolusi budaya (Dawkins, 1989). Senada dengan pendapat tersebut, Division (dalam Nasrullah, 2015: 73) menegaskan bahwa “an internet meme is a piece of culture,

typically, a joke, which gains influence through online transmission” yang artinya, meme merupakan bagian dari budaya, kadang sebagai lelucon yang muncul dan ditransmisikan secara online. Oleh sebab itu, meme merupakan makna baru yang dikenal sebagai karakter dari budaya yang termasuk gagasan, perasaan atau perilaku(tindakan) di Indonesia biasa disebut sebagai sindiran yang menggelitik.

Kemunculan meme disebabkan oleh faktor budaya, sosial, dan pendidikan.

Perolehan dan penggunaan bahasa secara umum pada meme, menimbulkan ragam yang dapat terlihat pada bahasa yang digunakan. Hal tersebut disebabkan oleh masyarakat yang menggunakan bahasa sesuka hati kemudian memasukkan ke dalam

(14)

bentuk meme yang mengalami persentuhan bahasa Indonesia dengan berbagai dialek yang ada di masyarakat sehingga menunjukkan kekhasan dalam penggunaannya.

Penggunaan kata yang dituliskan merupakan cerminan dari kehidupan sehari-hari masyarakat. Oleh sebab itu, meme tidak serta merta hadir di dalam fenomena bahasa tetapi lahir berdasarkan kebiasaan masyarakat menggunakan bahasa yang beragam.

Kajian bahasa, persoalan ragam bahasa dibahas dalam bidang sosiolinguistik.

Akan tetapi untuk menganalisis masalah, diperlukan adanya teori pendukung yang dapat menganalisis adanya bentuk dan fungsi yang terdapat dalam bahasa meme.

Itulah sebabnya, peneliti mengangkat objek penelitian dengan judul “Ragam Bahasa

Meme pada Akun Meme comic Indonesia di Media Sosial Instagram: Tinjauan Sosiolinguistik”.

Ragam bahasa yang dipergunakan oleh komunitas ini, mengacu pada penggunaan bahasa sehari-hari yang digunakan kaum remaja dan didasarkan pada kenyataan yang ada di lapangan. Variasi bahasa menurut situasi dan kondisi pengguna bahasa, mengacu pada pendapat Andhani (2007) yang menyebutkan bentuk bahasa gaul ada delapan yaitu; (1) istilah khas (tidak lazim); (2) benda, tempat, dan aktivitas; (3) kosakata baru atau cepat berubah, (4) kata-kata netral digunakan untuk kiasan; (5) sinonim khas atau istimewa; (6) singkatan dan akronim yang unik, (7) bahasa kasar atau makian, dan (8) penggunaan campur kode.

Pembahasan dalam penelitian ini, membatasi pada penggunaan ragam bahasa dari bentuk penghilangan fonem, penambahan fonem, afiksasi, hiperkorek, campur

(15)

kode, dan penggunaan singkatan. Hal ini dilakukan agar pembahasan tidak terlalu meluas. Berikut ini, contoh unggahan meme yang ada di Instagram menggunakan ragam bahasa dari aspek yang pertama yaitu penghilangan fonem:

Konteks: Percakapan antara seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru (A) dan laki-laki merupakan seorang murid (B), di dalam kelas saat mata pelajaran berlangsung, tiba-tiba (A) menegur (B) karena terlalu ribut.

(1) A : Heh yang di belakang ribut aja, sini gantiin ibu di depan.

B : Ok Bu…

: Yak karena saya jadi guru, sekarang ini kalian boleh pulang.

(Data 1:10/11/2017) Dalam data (1), terdapat tuturan yang tertulis antara A dengan B yang berlangsung di dalam kelas dalam suasana gaduh, tuturan A yang tertulis, “aja”

mengalami penghilangan fonem /s/ di awal kata sehingga menjadi [aja] dan [saja]

dalam bahasa Indonesia. Penggunaan kata [aja] merupakan ciri khas dari penggunaan dialek Jakarta yang terbiasa menyebut fonem /a/ pada awal kata [saja] dan memberikan unsur kepraktisan dalam penggunaan bahasanya;

(16)

tuturan B yang tertulis, “Ok” mengalami penghilangan fonem /e/ di akhir kata sehingga menjadi [Ok] dalam bahasa remaja dan dalam bahasa Indonesia [oke];

penggunaan kata [oke] dalam masyarakat bermakna mengiyakan sesuatu, ketika menjadi bentuk tulisan meme, huruf /e/ dihilangkan tanpa mengubah makna asalnya.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya unsur kepraktisan dalam memuat sebuah tulisan meme.

Tuturan tertulis, “Bu” juga mengalami penghilangan fonem /i/ di awal kata sehingga menjadi [Bu] dan [Ibu] dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada pronomina persona kedua tunggal. Fonem /i/ dihilangkan guna memberikan ciri khas penyebutan kata [ibu] merupakan unsur baku, tetapi dalam meme tidak menggunakan unsur baku karena ketika meme menggunakan unsur baku maka pembaca merasa terlalu monoton dalam penggunaannya yang justru bertentangan dengan tujuan utama dari sebuah meme, yaitu hiburan, candaan, maupun teguran.

Tidak hanya gejala penghilangan fonem, data (1) juga mengalami perubahan fonem berupa penambahan fonem. Terbukti pada tuturan B yang tertulis “Yak”

mengalami penambahan fonem /k/ di akhir kata sehingga menjadi [Yak]. Kata [Ya]

dalam bahasa Indonesia mengalami penambahan fonem /k/ dalam bahasa meme merupakan ciri khas agar serupa dengan aslinya, jelas fonem /k/ ditambahkan karena ketika menyebut kata [Ya] meskipun dalam bentuk tulisan, meme tetap menuliskan sesuai dengan penyebutannya yaitu menambah fonem /k/ pada kata [ya]. Adanya

(17)

perubahan fonem tersebut, disebabkan oleh masyarakat menggunakan bahasa dengan dialek berbeda-beda dan dituliskan sesuai dengan penyebutan atau pelafalannya.

Selain aspek fonologi, tuturan A yang tertulis, “gantiin” merupakan dialek Jakarta. Kata dasar {ganti} mengalami afiksasi berupa sufiks {-in} dalam dialek Jakarta, sehingga penambahan akhiran –in pada kata {ganti} menunjukkan makna menyuruh dalam konteks data (1). Penambahan morfem, cenderung dipengaruhi oleh tuturan dialek Jakarta dalam mengucapkan beberapa kata dengan menambahkan sufiks [-in] sehingga pengucapannya dirasa sudah menjadi kebiasaan bagi masyarakat kota Jakarta.

Verhaar (2004:107) mengemukakan bahwa afiksasi atau biasa disebut imbuhan ada empat macam, yaitu prefiks (imbuhan pada bagian awal kata dasar), sufiks (imbuhan pada akhir kata dasar), infiks (morfem yang disispkan di tengah kata), dan konfiks (afiks tunggal yang terjadi dari unsur yang terpisah). Afiksasi dijelaskan dalam kajian morfologi yaitu proses pembentukan kata.

(18)

Konteks : Percakapan antara seorang anak laki-laki (A) dan bapaknya (B), (B) menceritakan kepada (A) tentang istrinya.

(2) A :Yah, certain kenapa ayah bisa milih Ibu?

B : Nak, Ibu kamu ga pernah bikin instastory “DM first impression for me”dari situ ayah berfikir “she is the one”

(Data 2:10/11/2017) Dalam data (2) terdapat unsur yang merupakan penggunaan ragam bahasa berupa hiperkorek. Hal ini dapat dibuktikan dari adanya tuturan B yang tertulis,

“berfikir” merupakan bentuk yang tidak baku dari bahasa Indonesia “berpikir”.

Huruf {p} dalam bahasa Indonesia diganti dengan huruf {f }bentuk yang tidak baku.

Bentuk penggunaan bahasa tersebut merupakan bentuk yang sering dituturkan masyarakat dengan penyebutan yang tidak baku, hal ini disebabkan oleh kebiasaan masyarakat yang belum memahami penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Unsur kebakuan di dalam meme juga tidak terlalu diperhatikan karena meme tercipta dengan apa adanya, artinya sesuai dengan yang terjadi dan tidak menggunakan unsur baku agar tetap menarik.

Selain itu, campur kode dalam data (2) tidak terlepas dari penggunaan bahasanya. Terbukti dari tuturan B yang tertulis, “Ibu kamu ga pernah bikin instastory “DM first impression for me” ; tuturan tersebut menggunakan kalimat

instastory; DM first impression for me” merupakan bahasa Inggris yang

dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia dan memiliki arti “cerita dimuat instagram;

pesan pribadi sangat berkesan untuk saya”. Kemudian pada tuturan B yang tertulis,

“dari situ ayah berfikir “she is the one” bentuk klausa “she is the one”

(19)

dimasukkan ke dalam bahasa Indonesia yang artinya “dia perempuan satu-satunya”

Campur kode dapat ditemukan dalam kajian sosiolinguistik.

Analisis berupa singkatan dari data (2) terdapat pada tuturan B yang tertulis,

“DM” merupakan singkatan dari “Direct Message” dan diterjemahkan ke dalam

bahasa Indonesia yaitu pesan langsung atau mengirimkan pesan langsung kepada sesama pengguna instagram. Tentunya singkatan DM ditulis sesuai dengan penyebutannya yang biasa disebutkan oleh pengguna instagram dalam meme.

Berdasarkan contoh data (1) dan (2) yang telah dipaparkan sebelumnya, mewakili bentuk yang akan digunakan dalam menganalisis objek yaitu penggunaan ragam bahasa meme pada akun meme comic Indonesia, berupa aspek penghilangan fonem, penambahan fonem, afiksasi, hiperkorek, campur kode, dan penggunaan singkatan. Selain bentuk penggunaan ragam yang telah diidentifikasi, terdapat 6 fungsi sebagaimana yang dikemukakan oleh Jakobson (dalam Nazhira 2012) yaitu;

fungsi emotif, fungsi referensial, fungsi puitik, fungsi fatik, fungsi metalingual dan fungsi direktif. Mengacu pada teori Jakobson tersebut, fungsi yang ditemukan dalam bahasa meme yaitu; fungsi emotif, fungsi fatik, fungsi direktif, dan fungsi referensial.

Berikut merupakan contoh fungsi yang terdapat pada bahasa meme di Instagram:

Konteks: Percakapan antara seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru (A) dan laki-laki merupakan seorang murid (B), di dalam kelas saat mata pelajaran berlangsung, tiba-tiba (A) menegur (B) karena terlalu ribut.

(20)

Contoh (1) A : Heh yang di belakang ribut aja, sini gantiin ibu di depan.

B : Ok Bu…

: Yak karena saya jadi guru, sekarang ini kalian boleh pulang.

Data (1) tuturan yang tertulis di dalamnya terdapat fungsi emotif. Hal ini terbukti dari adanya tuturan A yang tertulis, “Heh yang di belakang ribut aja, sini gantiin ibu di depan.” yang disampaikan dengan nada kesal dan marah. Fungsi emotif pada tuturan A, “Heh” yaitu menyatakan rasa kesal dan marah karena saat A menjelaskan materi pelajaran, di tengah penjelasannya tiba-tiba menegur B karena terlalu ribut sehingga memicu emosi A. Selain fungsi emotif terdapat pula fungsi referensial, terbukti dari tuturan A yang tertulis, “aja” menyatakan makna teguran yang diberikan secara tidak langsung bahwa selama pelajaran berlangsung B hanya membuat keributan di dalam kelas. Setelah mengungkapkan kekesalahannya tidak ada tindak lanjut yang dilakukan A.

Konteks : Percakapan antara seorang anak laki-laki (A) dan bapaknya (B), mereka membicarakan mengenai kisah asmara (B) dengan istrinya kepada (A).

Contoh (2) A : Yah, certain kenapa ayah bisa milih Ibu?

B : Nak, Ibu kamu ga pernah bikin instastory “DM first impression for me”dari situ ayah berfikir “she is the one”

(Data 2:10/11/2017) Dalam data (2) merupakan fungsi fatik yang terdapat pada tuturan A dan B yang tertulis, “Nak” dan “Yah” menyatakan sebagai hubungan antara bapak dan anak, merupakan fungsi fatik yaitu fungsi yang dipakai seseorang untuk menjalin hubungan keluarga atau solidaritas sosial. Adapun efek yang terdapat dalam data (2) setelah dituturkan A memahami maksud dari penutur B.

(21)

Konteks: Percakapan antara seorang laki-laki yang merupakan pembeli (A) dan penjual yaitu seorang ibu-ibu (B) berlangsung di pasar tradisional. Penutur (A) bertanya tentang harga bawang kepada mitra tutur (B).

Contoh (5) A : Bawang sekilo berapa Bu?

B : Minat, serius WA aja mas.

(Data 5:11/11/2017) Dalam data (5) merupakan fungsi direktif yaitu mengatur tingkah laku A untuk melakukan kegiatan, sesuai dengan yang diinginkan oleh B. Terbukti pada tuturan B yang tertulis, “Minat, serius WA aja mas” menunjukkan suatu pesan yang dituturkan B, “ WA aja mas” jika memiliki minat terhadap apa yang diinginkan A maka B memberikan penawaran untuk transaksi melalui WA (WhatsApp) media sosial. Tidak ada efek yang ditimbulkan dari tuturan tersebut karena hanya sampai pada kegiantan tanya jawab.

Konteks : Percakapan antara seorang laki-laki berprofesi sebagai penjual bendera (B) dan seorang laki-laki merupakan calon pembeli (A) yang berlangsung di pasar tradisional.

Contoh (20) A : bendera yang ini berapaan mas?

B : yang gede itu 100 ribu.

A : mahal amat, gak bisa kurang?

B : maaf bung. NKRI harga mati!!!

(Data 20:11/12/2017) Dalam data (20) merupakan fungsi referensial terbukti dari adanya tuturan A yang tertulis, “bendera yang ini berapaan mas?” kata “ini” pada tuturan tersebut refrensinya yaitu pada sebuah bendera. Kemudian tuturan B yang tertulis, “yang gede

(22)

itu 100 ribu” kata gede juga mengacu pada bendera. Maka percakapan di atas terjadi

tuturan yang berbeda tetapi referennya sama.

Kemunculan meme merupakan bentuk eksistensi bahasa Indonesia karena masyarakat lebih suka berkomunikasi dalam bentuk lain, salah satunya meme di media sosial. Bentuk meme ditulis dalam bahasa Indonesia memberikan dampak positif dan negatif. Adapun dampak positifnya, bahasa Indonesia masih tetap digunakan dan dicintai oleh masyarakat. Sedangkan dampak negatifnya, masyarakat menggunakan bahasa Indonesia sesuka hati tanpa memperhatikan kaidah bahasa Indonesia. Hal tersebut menyebabkan, kekhawatiran terhadap terjaganya kemurnian eksistensi bahasa Indonesia.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, masalah dapat diidentifikasi sebagai berikut.

1. Terdapat perubahan fonem dalam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram.

2. Terdapat afiksasi dalam penggunaan bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram.

3. Terdapat fungsi penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram.

4. Terdapat faktor penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram.

(23)

1.3 Batasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah yang telah dikemukakan di atas. Maka ruang lingkup penelitian ini adalah ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram. Adapun aspek-aspek yang diteliti yaitu sebagai berikut.

1. Penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram.

2. Fungsi penggunaan ragam bahasa meme pada akun meme Comic Indonesia di media sosial Instagram.

1.4 Rumusan Masalah

Berdasarkan ruang lingkup penelitian yang dikemukakan di atas, rumusan masalah penelitian ini, yaitu sebagai berikut.

1. Bagaimana penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram?

2. Fungsi apa saja yang terdapat dalam penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram?

1.5 Tujuan Penelitian

1) Tujuan Penelitian sebagai berikut;

1. mengetahui penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram;

2. mengetahui fungsi penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram.

(24)

1.6 Manfaat Penelitian 1) Manfaat teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat dalam menambah informasi, mengenai kajian linguistik terapan khususnya kajian sosiolinguistik. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi informasi, tentang bentuk-bentuk penggunaan ragam bahasa, yang terdapat dalam sebuah “meme” dan memberikan pemahaman akan pentingnya menjaga eksistensi bahasa Indonesia.

2) Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peneliti maupun pembaca. Adapun manfaat praktis yang diperoleh, yaitu:

a) Memberikan pemahaman kepada pembaca mengenai ragam bahasa pada meme.

b) Memberikan pemahaman kepada mahasiswa sastra Indonesia mengenai penggunaan bahasa sesuai kaidah bahasa Indonesia dan pentingnya menjaga eksistensi bahasa Indonesia.

c) Memberikan pemahaman kepada peneliti tentang penggunaan ragam bahasa pada meme.

(25)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pada tinjauan pustaka ini akan diulas mengenai hasil-hasil penelitian relevan, kajian sosiolinguistik yang berkaitan dengan masalah dalam penelitian ini.

2.1 Penelitian Relevan

Penelitian mengenai ragam bahasa dengan kajian sosiolinguistik telah banyak dilakukan, baik dalam bentuk makalah penelitian, skripsi, tesis, maupun disertasi.

Begitupun objek kajian berupa meme juga telah banyak dipilih.

Penelitian yang relevan dengan penelitian ini ialah pertama penelitian yang dilakukan oleh Mu’ Aliyah Hi. Asnawi tahun 2010. Judul penelitan “Ragam Bahasa Facebook di Kalangan Mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin: Tinjauan Sosiolinguistik”. Penelitian tersebut mendeskripsikan penggunaan ragam bahasa

Facebook yang digunakan oleh mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin dalam aktivitas Facebook dan memiliki ciri tersendiri yang pemilihannya bergantung pada sikap pengguna Facebook dan menggunakan metode survai dengan mengumpulkan informasi dari responden, berupa data pribadi melalui kuesioner.

Hasil penelitian menunjukkan penggunaan bahasa mahasiswa Fakultas Sastra pada Facebook menurut jenis pemakaiannya terdiri atas penggunaan campur kode dan penggunaan istilah asing, ragam bahasa menurut medium penyampaiannya, penggunaan istilah. Selain penggunaan ditemukan pula faktor yang menyebabkan

(26)

mahasiswa Fakultas Sastra Unhas memiliki ketertarikan terhadap facebook. Adapun persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini, yaitu menggunakan sosiolinguistik sebagai tinjauan dan memiliki perbedaan pada metode dan hasil pengamatan. Penelitian tersebut menggunakan metode koesioner sedangkan penelitian ini menggunakan metode screen shoot atau tangkap layar dan hasil pengamatan juga berbeda. Hasil dari penelitian tersebut menunjukkan adanya faktor penyebab sedangkan penelitian ini menunjukkan fungsi bahasa.

Penelitian yang relevan kedua ialah Isti Ainurrahma tahun 2013. Judul penelitian “Ragam Bahasa dan Strategi Tindak Tutur Pedagang Asongan di Terminal Minak Koncar Kabupaten Lumajang”. Penelitian tersebut menggunakan penelitian

deskriptif dengan menggunakan rancangan penelitian kualitatif. Pengumpulan data menggunakan teknik rekaman, simak, wawancara, dan catat.

Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa pelafalan dan penulisan ragam bahasa pedagang asongan berdasarkan ciri fonologi berupa perubahan fonem, penghilangan fonem, penambahan fonem, pelafalan dan penulisan ragam bahasa pedagang asongan berdasarkan ciri morfologi. Penelitian ini juga menunjukkan adanya faktor penyebab adanya ragam bahasa pedagang asongan. Adapun persamaan dalam penelitian ini, menganalisis bentuk ragam bahasa berdasarkan ciri fonologi dan morfologi dan dalam penelitian ini menganalisis ciri yang sama tetapi menggunakan teori penunjang dalam analisis. Metode yang digunakan penelitian tersebut berupa wawancara sedangkan dalam penelitian ini, menggunakan metode dokumentasi.

(27)

Kemudian Ariesty Fujiastuti 2014. Judul penelitian “Ragam Bahasa Transaksi Jual Beli di Pasar Niten Bantul”. Penelitian tersebut membahas tentang karakteristik ragam bahasa transaksi jual beli di pasar Niten Bantul. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode rekam dan catat.

Teknik yang digunakan dalam penelitian tersebut SBLC (Simak Bebas, Libat Cakap).

Penelitian tersebut menghasilkan penggunaan kata, peggunaan kalimat, penggunaan kata dari bahasa Jawa.

Adapun faktor yang menyebabkan terjadinya ragam bahasa pada transaksi jual beli di pasar yaitu, faktor usia, faktor pendidikan, faktor asal daerah. Selain penggunaan dan faktor penyebab, ada pula fungsi yang dianalisis yaitu fungsi emotif, fungsi direktif, fungsi fatik, dan fungsi referensial. Adapun persamaan penelitian tersebut dengan penelitian ini, sama-sama menggunakan ragam bahasa dan menggunakan metode yang sama. Tidak menggunakan ciri fonologi dalam penelitiaannya tetapi menggunakan morfologi dan sintaksis. Dalam penelitian ini tidak menghasilkan faktor penyebab akan tetapi dalam penetian tersebut dijelaskan.

Tidak menggunakan teori penunjang dalam menganalisis objek akan tetapi, dalam penelitian ini menggunakan teori penunjang.

Berdasarkan ketiga penelitian di atas, penulis menganggap relevan dengan penelitian ini. Hal tersebut dikarenakan suatu kajian yang sama tentang ragam bahasa dengan meninjau melalui sosiolinguistik. Masing-masing memilih objek dan metode yang berbeda. Penelitian ini membahas Ragam Bahasa Meme pada Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial Instagram: Tinjauan Sosiolinguistik dengan

(28)

menggunakan metode simak (pengamatan) serta teknik dokumentasi berupa screenshoot dan catat. Sementara penelitian yang telah ada membahas kajian dengan objek dan metode berbeda.

2.2 Konsep

Konsep ialah sejumlah teori yang berkaitan dengan menggolongkan dan mengelompokkan objek-objek tertentu yang mempunyai ciri-ciri yang sama (Umar 2004:51). Oleh sebab itu, untuk memahami hal-hal yang ada dalam penelitian ini, perlu dipaparkan beberapa konsep, yaitu konsep komunikasi, media sosial, ragam bahasa, meme, dan ragam bahasa meme.

2.2.1 Komunikasi

Sebagai makhluk sosial, komunikasi merupakan unsur penting dalam sebuah penelitian. Hal ini dikarenakan komunikasi mengambil peran penting dalam segala bidang keilmuan, melalui komunikasi segala sesuatu dapat dimaknai dan dipahami. Kata komunikasi atau communication dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa latin communis artinya “sama”, communico, communication, atau communicare berarti “membuat sama” (to make commo).

Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama (Wiryanto, 2004: 5).

(29)

2.2.2 Media Sosial (social media)

Perubahan teknologi dalam dunia internet telah membuka ruang komunikasi yang lebih interaktif, semula komunikasi satu arah menjadi komunikasi berbagai arah. Sosial media memungkinkan pertukaran

Informasi yang cepat dan lengkap. Media sosial sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi, dan saling berkolaborasi atau bermain dari konten yang dihasilkan oleh pengguna bukan oleh editor sebagaimana di media massa.

Nasrullah (2015: 11) media sosial adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas. Oleh sebab itu, media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antarpengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial.

Komunikasi yang biasanya secara tatap muka dapat dilakukan kapan pun tanpa ada batasan dengan dukungan media-media sosial yang ada seperti Facebook, Twitter, Instagram, Path, dan media sosial lainnya. Karakteristik media sosial yang bersifat maya sering menghasilkan fenomena luar biasa, baik dikalangan pengguna media sosial itu sendiri maupun khalayak.

Tentunya tiap media sosial memiliki fenomena

(30)

tersendiri, bergantung pada cara penyebaran informasi oleh penggunanya.

Fenomena ini muncul dan berkembang di berbagai media sosial seperti Twitter, Facebook, Path, dan Instagram.

1) Instagram

Komunikasi dalam internet disebut juga dengan Computer Mediated Communication (CMC) di dalamnya memberikan fasilitas dengan berbagai aplikasi, salah satunya media sosial. Leica (2013: 35) mendeskripsikan Computer Mediated Communication (CMC) sebagai proses komunikasi dan interaksi antara manusia melalui perangkat komputer.

Jenis-jenis media sosial diantaranya Facebook, Twitter, Path, Instagram, Blog, Youtube (Nasrullah, 2015). Jenis-jenis media sosial tersebut mempunyai keunggulan salah satunya Instagram. Media sosial Instagram merupakan media sosial yang fitur-fiturnya memfokuskan pada aplikasi foto, video. Menurut situs Instagram, aplikasi Instagram didirikan oleh Kevin Systrom pada tahun 2010 dalam situsnya, Instagram didefinisikan sebagai berikut;

A fun and quirky way to share your life with friends through a series of pictures. Snap photo with your mobile phone, then choose a filter to transform the image into a memory to keep around forever. We’re building Instagram to allow you to experience moments in your friends lives through pictures as they happen. We imagine a world more connected through photos.

(31)

2.2.3 Ragam Bahasa

Ragam bahasa memiliki jumlah yang tidak terbatas. Itulah sebabnya, bahasa Indonesia dengan penggunaan bahasa yang amat luas menjadi cerminan dari sebuah masyarakat tutur yang selalu bersifat heterogen. Adapun Masyarakat tutur menurut Chaer (2004: 36) adalah suatu masyarakat yang anggota-anggotanya setidaknya mengenal satu variasi bahasa beserta norma- norma yang sesuai dengan penggunaannya. Setiap penutur bahasa, hidup dan bergerak dalam lingkungan masyarakat dengan adat istiadat atau tata cara pergaulan yang berbeda. Berikut pengertian ragam bahasa yang dikemukakan oleh beberapa ahli bahasa:

Menurut Soeparno (2002: 7-8), ragam bahasa merupakan sebuah kelaziman dalam sekelompok masyarakat tutur yang dipengaruhi oleh beragam faktor. Faktor-faktor yang memengaruhi terjadinya ragam bahasa tersebut antara lain adalah latar belakang sosial masyarakat, tingkat pendidikan, mobilitas penduduk, letak geografis, situasi penutur, dan sebagainya.

Ragam bahasa adalah variasi bahasa menurut penggunaannya berbeda- beda menurut topik yang dibicarakan, menurut hubungan pembicara, kawan bicara, orang yang dibicarakan, serta menurut medium pembicara (Savana, 2012: 3).

Variasi itu timbul karena kebutuhan penutur akan adanya alat komunikasi yang sesuai dengan situasi dan konteks sosialnya. Adanya berbagai variasi menunjukkan bahwa penggunaan bahasa (tutur) bersifat heterogen.

(32)

Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa ragam bahasa adalah warna bahasa yang ditimbulkan oleh sekelompok masyarakat tutur yang ditimbulkan oleh beberapa faktor yaitu latar belakang sosial masyarakat, tingkat pendidikan, mobilitas penduduk, letak geografis, situasi penutur dengan perkembangan bahasa itu sendiri yang tumbuh dan berkembang searah meningkatnya kegiatan dan peradaban kebudayaan manusia.

1) Ragam Bahasa Berdasarkan Penggunaannya

Savana (2012: 3) mengemukakan ragam bahasa dibagi berdasarkan dua kategori bahwa media dalam ragam bahasa berupa sarana yang terdiri atas; ragam lisan dan ragam tulisan. Ragam lisan ialah bahasa yang diujarkan oleh pengguna bahasa, misalnya pada saat orang berpidato atau memberi sambutan, dalam situasi perkuliahan, ceramah;

sedangkan ragam lisan yang nonstandar, misalnya dalam percakapan antar teman di pasar, atau dalam kesempatan nonformal lainnya.

Tingkat kemahiran seseorang mewujudkan berbagai ragam bahasa dalam suatu uraian berbeda-beda. Dapat dilihat dari masyarakat bahasa yang bersangkutan, jika masyarakat tersebut sangat sederhana sifatnya dan kehidupannya sangat beragam maka lebih mudah mencapai kemahiran itu, sementara jika masyarakat bahasa sudah majemuk coraknya dan sistem bagi kerja sudah sangat berkembang, hampir tidak mungkin orang mengenal semua ragam bahasa dengan lengkap. Hal ini

(33)

mengindikasikan bahwa tingkat kemahiran orang dalam mewujudkan berbagai ragam bahasa dalam suatu uraian akan berbeda-beda bergantung pada kapasitas dan kapabilitasnya dalam masyarakat.

2.2.4 Meme

Istilah meme mendadak naik daun seiring dengan perkembangan teknologi dewasa ini. Begitu pun dengan sikap sensitif masyarakat terhadap isu- isu yang berkembang saat ini menjadikan meme semakin popular. Hal sekecil apa pun yang terjadi saat ini, tidak lama kemudian dijadikan meme yang terkenal di masyarakat baik itu masalah politik, ekonomi, pendidikan, sosial bahkan hiburan. Fenomena meme muncul dan berkembang di berbagai media sosial seperti Twitter, Facebook, instagram, dan Path.

“Meme” berasal dari bahasa Yunani “mimesis” yang artinya sesuatu yang

menyerupai dan terdengar serupa dengan gen, yang didefinisikan sebagai evolusi budaya dalam teori Dawkins (Kurniawan 2017: 2). Senada dengan pendapat tersebut, Division (dalam Nasrullah, 2015: 73) menegaskan bahwa “an internet meme is a piece of culture, typically, a joke, which gains influence through online transmission” yang artinya meme bagian dari budaya, kadang

sebagai lelucon yang muncul di internet dan ditransmisikan secara online.

Adapun Kurniawan (2017) mengacu pada teori Dawkins dalam penelitiannya Virus of The Mind: The New Science of the Meme yang menyebutkan bahwa meme adalah suatu unit informasi yang tersimpan di benak

(34)

seseorang yang memengaruhi kejadian dilingkungannya sedemikian rupa sehingga makin tertular luas di benak orang lain. Berbagai persoalan dalam masyarakat kemudian dibungkus dan dikenal oleh masyarakat sebagai meme (baca: mim).

a) Jenis-Jenis Meme

Ada beberapa jenis meme yang sering disebarkan di media sosial Erik (2015) yaitu:

1) Meme Sindiran

Meme ini biasanya digunakan untuk menyindir seseorang dengan ciri khas tertentu (sifat, fisik dsb) bisa dikatakan meme ini cukup popular dikalangan remaja.

2) Meme Percintaan

Meme yang biasanya menggambarkan kegalauan para remaja ataupun remaja yang sedang berpacaran. Akhir-akhir ini banyak sekali cerita humor percintaan remaja yang dibagikan di beberapa situs internet dengan tujuan dapat dijadikan hiburan untuk sejenak melepas beban berat pekerjaan maupun persoalan lainnya.

3) Meme Motivasi

Meme ini punya tujuan mulia, yaitu memotivasi orang mengenai hal- hal positif yang sebaiknya kita jalani dalam hidup.

(35)

4) Meme Joke

Meme yang satu ini banyak diminati kalangan anak muda masa kini.

Meme ini biasanya berisikan tulisan yang konyol membuat kita tertawa saat membacanya.

5) Meme Politik

Meme ini khusus membahas tentang politik, namun tetap di dalamnya juga terdapat unsur komedi.

2.2.5 Ragam Bahasa Meme

Kajian sosiolinguistik mengungkapkan adanya keragaman bahasa dan menurut pembagian ragam bahasa, meme termasuk ragam tulis non standar karena meme cenderung menggunakan kata tanpa memperhatikan unsur kaidah bahasa Indonesia di dalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan memanfaatkan teori Wijana sosiolinguistik dalam mengungkapkan dan menginterpretasi data mengenai bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa pada meme.

Penelitian ini memanfaatkan teori Verhaar dan Badudu sebagai teori pendukung, berupa bentuk penggunaan ragam bahasa pada meme dilihat dari berbagai aspek yaitu perubahan fonem, afiksasi, hiperkorek; campur kode; dan singkatan. Begitu pun dengan fungsi yang terdapat pada ragam bahasa meme di Instagram yang mengacu pada teori Jakobson (dalam Nazhira 2012) yaitu fungsi emotif; fungsi fatik; fungsi direktif; dan fungsi referensial sebagai teori pendukung.

(36)

2.3 Landasan Teori

Menganalisis sebuah objek penelitian secara ilmiah tidak pernah lepas dari sejumlah teori. Teori tersebut berperan sebagai instrumen untuk menilai, mengukur, dan membantu analisis pada objek. Adapun landasan teori yang digunakan sebagai berikut:

2.3.1 Sosiolinguistik

Sosiolinguistik membahas hubungan antara pengguna bahasa dan perilaku sosial dengan adanya penggunaan bahasa, seseorang akan dapat mengetahui berbagai kondisi, nilai-nilai, kepercayaan, sistem etika, aturan yang membentuk dan memberikan ciri khusus kepada kelompok-kelompok masyarakat pengguna bahasa itu. Lebih lanjut, sosiolinguistik sebagai ilmu yang membicarakan bentuk-bentuk serta perubahan bahasa dikaitkan dengan fungsi sosialnya di dalam masyarakat penggunanya. Sosiolinguistik mencatat dan menelaah bahasa yang dipergunakan seseorang ketika berbicara dengan teman bicaranya Winarni (2015).

Sosiolinguistik adalah cabang ilmu bahasa yang berusaha menerangkan korelasi antara perwujudan struktur atau elemen bahasa dengan faktor-faktor sosiokultural pertuturannya tentu saja mengasumsikan pentingnya pengetahuan dasar-dasar linguistik dengan berbagai cabangnya, seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik dalam mengidentifikasikan fenomena-fenomena yang

(37)

menjadi objek kajian, yakni bahasa dengan berbagai variasi sosial atau regionalnya (Wijana. 2006:11).

Menurut Holmes (2001:1) kajian sosiolinguistik mempelajari hubungan antara bahasa dan masyarakat sosial. Oleh sebab itu, sosiolinguistik mengkaji mengenai fungsi sosial dari suatu bahasa dan cara bahasa tersebut digunakan.

Hal ini untuk menyampaikan sebuah pesan, melalui penggunaan sebuah bahasa tentunya, sosiolinguistik merupakan kajian kontekstual terhadap variasi penggunaan bahasa masyarakat dalam sebuah komunikasi yang alami.

Adapun Chaer (2004:3) menyatakan, “Sebagai objek dalam sosiolinguistik, bahasa tidak dilihat atau didekati sebagai bahasa, sebagaimana dilakukan oleh linguistik umum, melainkan dilihat atau didekati sebagai sarana interaksi atau komunikasi didalam masyarakat manusia”. Definisi tersebut

menjelaskan bahwa sosiolinguistik dalam mencari objeknya, tidak harus selalu mendekati bahasa itu melainkan, mencoba mengambil dari segi bahasa yang menjadi sarana interaksi dan komunikasi oleh masyarakat dalam kehidupan sehari-hari yang tidak akan lepas dari penggunaan sebuah bahasa.

Berdasarkan pendapat ahli di atas peneliti menyimpulkan bahwa sosiolinguistik merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara bahasa dengan masyarakat. Kajian sosiolinguistik berkaitan dengan penggunaan bahasa dalam masyarakat, mempunyai aspek-aspek yang objek formalnya bahasa dan masyarakat serta mendasari pemikiran, tentang keanekaragaman berbahasa dalam ruang lingkup bermasyarakat.

(38)

1) Peristiwa Tutur

Peristiwa tutur ialah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur, dengan satu pokok tuturan dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu (Chaer, 2004: 47). Berdasarkan adanya peristiwa tutur Hymes (dalam Chaer, 2004: 48) mengemukakan bahwa ada unsur dalam mengidentifikasi suatu tuturan dan dirangkai menjadi akronim SPEAKING yang dapat diuraikan sebagai berikut.

S ; setting and scene (waktu, tempat, dan situasi yang berbeda dapat menyebabkan variasi bahasa yang berbeda).

P ; participants ( pihak yang terlibat dalam tuturan).

E ; ends (merujuk pada maksud dan tujuan dari tuturan).

A ; act (bentuk ujaran dan isi, berkaitan dengan kata-kata yang digunakan, bagaimana penggunaannya).

K ; keys (nada, cara, dan semangat. Suatu pesan yang disampaikan dengan senang hati, serius, singkat, sombong, dengan mengejek dan sebagainya).

I ; instrumentalities (media penyampaian berupa lisan dan tulisan).

N ; norm (aturan dalam berinteraksi).

G ; genre (jenis penyampaian misalnya, puisi, narasi, pepatah, doa, dan lain sebagainya).

(39)

Megacu pada teori SPEAKING Dell Hymes, peneliti dapat melihat betapa kompleksnya peristiwa tutur itu terbentuk. Komponen sosiolinguistik tersebut memperlihatkan betapa sebuah kegiatan tutur itu terkonsep. Adanya tuturan yang terkonsep dapat dengan mudah, menganalisis bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa yang terdapat dalam objek yang akan diteliti yaitu meme.

2.3.3.1 Perubahan Fonem

Semua penutur bahasa di dunia berusaha untuk menghemat dalam menggunakan bahasa pada tuturannya baik tuturan langsung maupun tertulis, sejauh itu, tidak menghambat komunikasi dan tidak bertentangan dengan budaya tempat bahasa tersebut digunakan. Sebagai contoh, daripada menuturkan “saya tidak bisa” bahasa Indonesia, dalam percakapan informal cenderung untuk mengatakan “saya ndak bisa”.

Penyingkatan seperti itu biasa disebut dengan penghilangan fonem (Verhaar, 2004: 85). Menurut Arifin (2009:16) yang mengemukakan bahwa perubahan fonem ialah proses berubahannya suatu fonem menjadi fonem lain sesuai dengan fonem awal kata yang bersangkutan.

Oleh sebab itu, berdasarkan pendapat ahli tersebut maka proses penggabungan morfem yang satu dengan morfem yang lain dalam proses pembentukan kata, dimungkinkan terjadi proses perubahan fonem.

(40)

Perubahan fonem yang terjadi dapat berupa penghilangan fonem dan penambahan fonem.

1) Proses Penghilangan Fonem

Proses penggabungan morfem yang satu dengan morfem yang lain dimungkinkan terjadi proses penghilangan fonem. Adapun contoh proses penghilangan fonem adalah sebagai berikut:

{meN-} + nikah = {menikah}

Bergabungnya morfem {meN-} dengan bentuk dasar (nikah), dapat terjadi penghilangan fonem. Apabila bertemu dengan bentuk dasar yang berawal dengan fonem /I/ sehingga menjadi {menikah}. Berikut merupakan bentuk penghilangan fonem yang biasa ditemukan dalam bahasa meme:

a) Aferesis adalah penghilangan huruf awal atau suku awal kata.

Contoh; upuasa menjadi puasa

sebentar menjadi bentar

b) Sinkope yaitu penghilangan fonem atau lebih di tengah kata.

Contoh; belom menjadi blom

sahaya menjadi saya

c) Apokope yaitu penghilangan fonem atau lebih pada akhir kata.

Contoh; nomor menjadi nom.

pelangi menjadi pelangi

pulau menjadi pulaut

(41)

2) Proses Penambahan Fonem

Proses penambahan fonem antara lain terjadi sebagai akibat pertemuan morfem {meN-} dengan bentuk dasarnya yang terdiri atas satu suku, dapat pula terjadi jika bentuk dasar bertemu dengan fonem- fonem tertentu misalnya fonem /ə/, /a/, atau /h/.

Misalnya: {meN-} + [bom] = {meng/e/bom}

/s/ + [itu] = {/s/itu}

Berikut merupakan bentuk penambahan fonem yang biasa ditemukan dalam bahasa meme;

a) Protesis yaitu penambahan fonem atau lebih di awal kata.

Contoh gejala protesis; emas menjadi mas

elang menjadi lang

saja menjadi aja

b) Epentetis yaitu penambahan fonem di tengah kata.

Contoh gejala efentetis; upama menjadi umpama

kapak menjadi kampak

jeneral menjadi jenderal

c) Paragog yaitu penambahan fonem atau lebih di akhir kata.

Contoh gejala Paragog; hulubala menjadi hulubalang

lamp menjadi lampu

Ina menjadi inang

(42)

2.3.3.2 Afiksasi

Proses morfologis adalah suatu proses yang mengubah leksem menjadi kata, sekurang-kurangnya dalam bahasa Indonesia terdapat sembilan jenis proses morfologis, yaitu derivasi zero, afiksasi, reduplikasi, komposisi, abreviasi, derivasi balik, metanalisis, analogi, dan kombinasi proses (Arifin. 2009: 8). Dari sembilan proses morfologis yang telah disebutkan, afiksasi diambil sebagai salah satu bentuk analisis untuk menganalisis objek berupa meme.

Afiksasi atau pengimbuhan adalah proses morfologis yang mengubah sebuah leksem menjadi kata setelah mendapat afiks (Arifin.

2009:10). Ramlan (2009: 55) mengemukakan bahwa afiks ialah suatu satuan gramatik terikat yang di dalam suatu kata merupakan unsur yang bukan kata dan bukan pokok kata, yang memiliki kesanggupan melekat pada satuan- satuan lain untuk membentuk kata atau pokok kata baru.

Berikut ini adalah bentuk-bentuk afiks:

1) Prefiks yaitu afiks yang diletakkan di depan kata dasar, contoh: me-, di-, ber-, ke-, ter, per-, se-.

2) Infiks yaitu afiks yang diletakkan di tengah kata dasar, contoh: -el-, - er, -em, dan –in.

3) Sufiks yaitu afiks diletakkan di belakang kata dasar, contoh: -an, -kan, -i.

4) Konfiks yaitu afiks yang terdiri atas dua unsur, satu di awal bentuk dasar dan di akhir yang berfungsi sebagai satu morfem terbagi.

(43)

Berdasarkan pendapat ahli di atas maka peneliti menyimpulkan bahwa afiksasi atau biasa dikenal dengan imbuhan merupakan bagian dari proses morfologis yang mengubah leksem menjadi kata. Bentuk- bentuk yang menjadi bagian dari afiksasi yaitu prefiks, infiks, sufiks, konfiks.

2.3.3.3 Hiperkorek

Menurut Muslich (2009: 104) gejala hiperkorek merupakan proses pembetulan bentuk yang sudah betul lalu menjadi salah.

Maksudnya, sesuatu yang sudah benar dibetulkan lagi yang akhirnya justru menjadi salah atau setidaknya dianggap bentuk yang tidak baku.

Hal tersebut sesuai dengan pengertian gejala hiperkorek, Kridalaksana (2008: 83) menyatakan gejala hiperkorek bersangkutan dengan bentuk atau pemakaian kata secara salah karena menghindari pemakaian substandard. Berdasarkan pengertian hiperkorek dari kedua ahli maka dapat disimpulkan bahwa gejala hiperkorek ialah pembetulan bentuk kata yang sudah benar atau baku namun justru menjadi salah dan tidak lagi benar. Gejala hiperkorek dapat dilihat pada contoh berikut ini;

paham menjadi faham

ahli menjadi akhli

hewan menjadi khewan

(44)

2.3.3.4 Campur Kode

Aspek lain dari ketergantungan bahasa dalam masyarakat multilingual ialah terjadinya campur kode. Campur kode terjadi dalam kehidupan sosial bermasyarakat. Fenomena ini terjadi karena pengguna bahasa khususnya, bahasa Indonesia yang penuturnya bilingual atau multilingual. Penggunaan unsur-unsur dari suatu bahasa tertentu dalam satu kalimat. Kridalaksana (2001) menerjemahkan campur kode adalah penggunaan satuan bahasa dari satu bahasa ke bahasa lain untuk memperluas gaya bahasa atau ragam bahasa, termasuk di dalamnya pemakaian kata, klausa, idiom, dan sapaan. Sedangkan Sumarsono (2002:

202-203) menyatakan “campur kode terjadi apabila penutur menyelipkan unsur-unsur bahasa lain ketika sedang memakai bahasa tertentu”

misalnya, ketika berbahasa Indonesia, seseorang memasukkan unsur bahasa daerah atau bahasa asing.

2.3.3.5 Singkatan

Singkatan ialah kependekan berupa huruf atau gabungan huruf, baik dilafalkan huruf demi huruf maupun dilafalkan dengan mengikuti bentuk lengkapnya (Sugihastuti, 2000: 35). Gejala penyingkatan dapat dilihat pada contoh berikut ini;

jomblo ngenes menjadi JONES

pemberi harapan palsu menjadi PHP

gue menjadi GW

(45)

2.3.3.6 Fungsi Bahasa

Pada dasarnya bahasa memiliki fungsi-fungsi tertentu yang digunakan berdasarkan kebutuhan seseorang yakni sebagai alat untuk mengekspresikan diri, berkomunikasi, mengadakan integrasi dan beradaptasi sosial dalam lingkungan atau situasi tertentu, dan sebagai alat untuk melakukan kontrol sosial (Keraf 2001:3). Adapun Roman Jakobson (dalam Nazhira 2012) membagi enam fungsi yaitu;

1) Fungsi Emotif

Bahasa digunakan dalam mengungkapkan perasaan manusia misalnya, rasa sedih, gembira, kecewa, dan puas. Sebagai alat untuk mengungkapkan perasaan (ekspresi diri) tujuan manusia dalam mengungkapkan perasaan bermacam-macam antara lain agar terbebas dari semua tekanan emosi keadaan hatinya, suka dukanya diungkapkan dengan bahasa agar tekanan jiwanya dapat tersalur.

Sebagai contoh, ketika Anda merasa sedih ditinggalkan seseorang, Anda bercerita kepada teman Anda betapa hancurnya perasaan Anda saat ditinggalkan begitu saja.

2) Fungsi Referensial

Fungsi referensial merupakan fungsi bahasa yang digunakan sekelompok masyarakat untuk membicarakan suatu permasalahan dengan topik tertentu. Seseorang belajar mengenal segala sesuatu

(46)

dalam lingkungannya, baik agama, moral, kebudayaan, adat istiadat, teknologi dan ilmu pengetahuan melalui bahasa. Sebagai alat komunikasi, bahasa menjadi media antara manusia yang satu dengan lainnya karena bahasa dapat mengungkapkan maksud dan pikiran kita.

3) Fungsi Puitik

Fungsi puitik merupakan fungsi bahasa yang digunakan untuk menyampaikan suatu amanat atau pesan tertentu. Bahasa mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, kemauan dan tingkah laku seseorang. Sebagai alat komunikasi, bahasa merupakan media untuk menyampaikan semua yang kita rasakan.

4) Fungsi Fatik

Bahasa digunakan manusia untuk saling menyapa sekadar untuk mengadakan kontak bahasa mempersatukan anggota-anggota masyarakat.

Melalui bahasa manusia memanfaatkan pengalaman-pengalaman mereka, mempelajari dan mengambil bagian dalam pengalaman itu serta belajar berkenalan dengan orang lain. Bahasa sebagai alat komunikasi memudahkan seseorang untuk menjadi bagian dari masyarakat. Dengan demikian seseorang akan merasa dirinya terikat dengan kelompok yang dimasukinya.

(47)

5) Fungsi Metalingual

Bahasa digunakan untuk membicarakan masalah bahasa dengan bahasa tertentu dari segi kode yang digunakan, bahasa berfungsi sebagai metalingual atau metalinguistik. Artinya, bahasa itu digunakan untuk membicarakan bahasa itu sendiri. Biasanya bahasa digunakan untuk membicarakan masalah lain seperti ekonomi, pengetahuan dan lain-lain. Hal ini dapat dilihat dalam proses pembelajaran bahasa di mana kaidah-kaidah bahasa dijelaskan dengan bahasa.

6) Fungsi Direktif

Fungsi direktif yaitu fungsi bahasa yang mengatur tingkah laku pendengar. melalui bahasa, seseorang tidak hanya membuat si pendengar melakukan sesuatu tetapi melakukan kegiatan yang sesuai dengan yang diinginkan oleh si pembicara.

2.3 Kerangka Pikir

Berdasarkan landasan teori yang sudah dipaparkan di atas, tergambar beberapa konsep yang akan dijadikan sebagai acuan dalam mengaplikasikan penelitian ini.

“Ragam Bahasa Meme pada Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial

Instagram: Tinjauan Sosiolinguistik” merupakan penelitian yang membahas tentang bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa meme yang terdapat di Instagram.

Meme merupakan kata, kalimat atau pernyataan dengan gaya mengkritik kejadian- kejadian yang sedang hangat diperbincangkan oleh masyarakat. Bahasa yang terdapat

(48)

dalam meme menggunakan bentuk bahasa santai dan tidak memperhatikan kaidah bahasa Indonesia.

Adapun yang akan diteliti yaitu mengenai, bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa yang terdapat pada meme di media sosial Instagram ditinjau melalui sosiolinguistik. Berikut merupakan skema kerangka pikir;

(49)

skema kerangka pikir

Media Sosial Instagram

Ragam Bahasa Meme

Bentuk-Bentuk - Penghilangan fonem - Penambahan fonem - Afiksasi

- Hiperkorek - Campur kode - Singkatan

Fungsi Bahasa - Fungsi emotif - Fungsi fatik - Fungsi direktif - Fungsi referensial SOSIOLINGUISTIK

Bentuk dan Fungsi Penggunaan Ragam Bahasa Meme pada Akun Meme Comic Indonesia di

Media Sosial Instagram

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Penelian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif sebagai prosedur penelitian. Penelitian kualitatif tersebut untuk menghasilkan data desktiptif, berupa tuturan tertulis dari hasil pengamatan. Penelitian kualitatif dapat diartikan sebagai penelitian yang menghasilkan data deskriptif, berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati dari orang-orang yang diteliti (Moleong, 2010:4).

Jenis penelitian kualitatif sesuai dengan tujuan penelitian yaitu untuk mendeskripsikan, bentuk penggunaan ragam bahasa dan menganalisis fungsi dalam penggunaan ragam bahasa meme di Instagram. Deskripsi diperoleh dari hasil observasi pengamatan di lapangan, data diambil secara langsung di media sosial Instagram.

3.1.1 Penelitian Pustaka

Penelitian pustaka dimaksudkan untuk mencari, mengumpulkan dan memeroleh prinsip-prinsip ilmiah yang dapat mendukung analisis. Analisis yang digunakan dalam kaitannya dengan topik yang dibahas yakni bentuk penggunaan ragam bahasa. Penelitian pustaka dilakukan dengan membaca dan

(51)

memahami sejumlah literatur yang dapat dijadikan sumber acuan untuk mendapatkan bahan perbandingan.

3.1.2 Penelitian Lapangan

Penelitian lapangan bertujuan mengumpulkan bahan atau data primer, sesuai dengan fakta atau kenyataan yang ada di lapangan. Meme yang ada di Instagram dikumpulkan secara keseluruhan. Kemudian diamati dan disimak dengan mengkhususkan pada bentuk tuturan berupa percakapan.

3.2 Metode Pengumpulan Data

Metode diperlukan untuk mencari pengertian yang jelas mengenai cara atau prosedur kerja yang kita paparkan kepada pembaca. Surakhmad (1982:131) memberi batasan tentang metode, yaitu cara utama yang digunakan untuk mencapai suatu tujuan. Misalnya, untuk menguji serangkaian hipotesis dengan teknik alat-alat tertentu. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan atau sasran yang diinginkan penulis menggunakan metode sebagai berikut.

3.2.1 Metode Simak (Pengamatan)

Penulis mengumpulkan data dengan mengamati secara langsung, yakni membaca dengan seksama tuturan tertulis yang terdapat pada meme di Instagram. Kemudian menentukan konteks dalam tuturan tertulis tersebut, selanjutnya menentukan bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa pada meme, melalui akun Meme Comic Indonesia di media sosial Instagram. Metode

(52)

simak atau biasa disebut juga dengan metode sadap adalah salah satu cara yang digunakan untuk memeroleh data yang dilakukan dengan menyimak penggunaan bahasa, baik lisan maupun tulisan (Mahsun, 2005:92)

3.2.2 Teknik Dokumentasi

Teknik dokumentasi juga dianggap penting dalam pengumpulan data, yaitu dengan menyimpan data meme dengan mengunduh pada akun Meme Comic Indonesia yang benar-benar dianggap penting kemudian dilakukan print out.

3.2.3 Teknik Catat

Penulis juga menggunakan teknik catat untuk mencatat semua data berupa tuturan tertulis yang diperoleh dari hasil dokumentasi pada akun Meme Comic Indonesia di Instagram yang diunggah selama bulan November 2017 sampai Januari 2018.

3.3 Sumber Data 3.3.1 Populasi

Populasi data adalah keseluruhan subjek penelitian yang memiliki kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari kemudian ditarik simpulan (Sugiyono, 2011:80). Sehubungan dengan data yang diperoleh, populasi dalam penelitian ini adalah semua tuturan tertulis berupa bentuk penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di Instagram melalui media sosial.

(53)

Data dikumpulkan dari media sosial Instagram selama tiga bulan yakni bulan November 2017 sampai Januari 2018. Adapun, jumlah populasi seluruhnya adalah 50 bentuk tuturan yang tertulis.

3.3.2 Sampel

Sampel data ialah sebagian dari subjek dalam populasi yang diteliti, yang sudah tentu mampu secara representatif dapat mewakili populasinya (Sabar, 2007). Adapun jumlah sampel dalam penelitian ini, sebanyak 30 data bentuk tuturan tertulis. Pengambilan data tersebut dilakukan secara purposif, yakni pengambilan data sesuai dengan kebutuhan peneliti. Jumlah tersebut dianggap representatif dari 20 data tersisa yang akan diteliti.

3.4 Metode Analisis Data

Penelitian ini mengambil data yang dianggap cocok untuk dianalisis dengan metode deskriptif kualitatif. Mahsun (2005: 86) menjelaskan bahwa penelitian deskriptif, bertujuan untuk memahami fenomena kebahasaan yang tengah diteliti.

Metode analisis data yang digunakan ialah metode deskriptif dengan memaparkan konteks tuturan yang tertulis. Kemudian menjelaskan bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia di Instagram.

(54)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh penulis, terkait dengan rumusan masalah yang dapat dilihat pada setiap data yang telah dikumpulkan.

Terdapat bentuk-bentuk dan fungsi penggunaan ragam bahasa meme pada akun Meme Comic Indonesia yang ada di media sosial Instagram

4.1 Penggunaan Ragam Bahasa Meme pada Akun Meme Comic Indonesia di Media Sosial Instagram

Setelah dilakukan penelitian pada akun Meme Comic Indonesia, terkait penggunaan ragam bahasa meme dilihat dari berbagai aspek, yaitu (1) penghilangan fonem; (2) penambahan fonem; (3) afiksasi; (4) hiperkorek; (5) campur kode; dan (6) singkatan. Adapun teori yang digunakan yaitu teori Wijana mengenai sosiolinguistik yang mengatakan bahwa untuk menganalisis sosiolinguistik diperlukan adanya aspek yang menunjang sebuah analisis tersebut yakni dari aspek fonologi, morfologi maupun sintaksis. Oleh sebab itu, dalam penelitian ini memanfaatkan teori Verhaar (2004) dan Badudu (1985) dalam menganalisis bentuk penghilangan fonem, penambahan fonem dan afiksasi; dan gejala bahasa yaitu hiperkorek, campur kode, dan singkatan. Berdasarkan hasil penelitian maka bentuk penggunaan ragam bahasa diuraikan sebagai berikut.

(55)

4.1.1 Penggunaan yang Mengalami Penghilangan Fonem

Proses penggabungan morfem yang satu dengan morfem yang lain dimungkinkan terjadi proses penghilangan fonem. Sebagai contoh, daripada menuturkan “saya tidak bisa” bahasa Indonesia, dalam percakapan informal cenderung untuk mengatakan “saya ndak bisa”. Penyingkatan seperti itu biasa disebut

dengan perubahan fonem (Verhaar, 2004: 85). Kemudian bentuk-bentuk penghilangan fonem ada tiga yaitu; (1) aferesis atau penghilangan fonem di awal kata; (2) sinkope atau penghilangan fonem di tengah kata; (3) apokope atau penghilangan fonem di akhir kata, Berikut ini merupakan bentuk penghilangan fonem pada penggunaan bahasa meme di Instagram:

Konteks: Percakapan antara seorang perempuan yang berprofesi sebagai guru (A) dan laki-laki merupakan seorang murid (B), di dalam kelas saat mata pelajaran berlangsung, tiba-tiba (A) menegur (B) karena terlalu ribut.

(1) A : Heh yang di belakang ribut aja, sini gantiin ibu di depan.

B : Ok Bu…

: Yak karena saya jadi guru, sekarang ini kalian boleh pulang.

(Data 1:10/11/2017)

(56)

Dalam data (1) terdapat unsur yang mengalami penghilangan fonem berupa aferesis dan apokope. Hal ini dapat dibuktikan dari adanya tuturan A yang tertulis,

“aja” dalam dialek Jakarta dan [saja] dalam bahasa Indonesia. Penggunaan kata [aja]

merupakan ciri khas dari penggunaan dialek Jakarta yang terbiasa menyebut fonem /a/ pada awal kata [saja];

tuturan B yang tertulis, “Ok” mengalami penghilangan fonem /e/ di akhir kata sehingga menjadi [Ok] dalam bahasa remaja dan dalam bahasa Indonesia [oke];

penggunaan kata [oke] dalam masyarakat bermakna mengiyakan sesuatu, ketika menjadi bentuk tulisan meme, huruf /e/ dihilangkan tanpa mengubah makna asalnya.

Hal tersebut disebabkan oleh adanya unsur kepraktisan dalam memuat sebuah tulisan pada meme. Tuturan tertulis, “Bu” juga mengalami penghilangan fonem /i/ di awal kata sehingga menjadi [Bu] dan [Ibu] dalam bahasa Indonesia yang merujuk pada pronomina persona kedua tunggal. Fonem /i/ dihilangkan guna memberikan ciri khas penyebutan kata [ibu] dalam bahasa meme sehingga pembaca, jika menggunakan kata [ibu] dalam bentuk baku, maka meme tersebut tidak menarik perhatian masyarakat.

Terutama jika tujuan utamanya hiburan, tentu saja digunakan bahasa yang santai dan berterima dalam masyarakat.

(57)

Konteks : Percakapan antara seorang anak laki-laki (A) dan bapaknya (B), (B) menceritakan kepada (A) tentang istrinya.

(2) A : Yah, certain kenapa ayah bisa milih Ibu?

B : Nak, Ibu kamu ga pernah bikin instastory “DM first impression for me”dari situ ayah berfikir “she is the one”

(Data 2:10/11/2017) Dalam data (2) terdapat unsur yang mengalami penghilangan fonem. Hal ini dapat dibuktikan dari tuturan A yang tertulis, “Yah” mengalami penghilangan fonem /a/ di awal kata bahasa Indonesia, sehingga menjadi [Yah] dalam bahasa remaja.

Kata [Yah] bentuk dasar dari kata [Ayah] merupakan persona kedua, menyatakan orang tua laki-laki; tuturan B yang tertulis, “Nak” mengalami penghilangan fonem /a/ di awal kata bahasa Indonesia sehingga menjadi [nak] bentuk tidak baku Penghilangan fonem /a/ dalam bahasa meme ditimbulkan dari adanya tuturan yang dilakukan oleh anak remaja. Remaja cenderung menghilangkan kata dalam penggunaannya dan dianggap biasa saja karena saat penutur memiliki hubungan yang dekat dengan lawan tutur misalnya keluarga atau sahabat maka kata seperti [anak, ibu, ayah] huruf pertamanya dihilangkan.

(58)

Tuturan B yang tertulis, “ga” dalam dialek Jakarta [nggak] dan [tidak] dalam bahasa Indonesia, mengalami penghilangan fonem /n/ dan /g/ di awal kata dan fonem /k/ di akhir kata. Kata [nggak] merupakan ciri khas dari dialek Jakarta, penghilangan fonem /n/, /g/ dan /k/ menjadi [ga] dalam meme disebabkan oleh adanya pelafalan yang salah, sehingga kata [nggak] dituliskan berdasarkan pelafalannya.

Konteks: Percakapan antara seorang laki-laki(A) dengan temannya (B). Penutur (A) meminta saran kepada (B) tentang asmaranya dengan perempuan yang tidak diketahui namanya (C). Tuturan tertulis tersebut merupakan tuturan langsung tidak literal, karena dalam tuturan memang jawabannya sudah benar akan tetapi sebenarnya (B) memberikan jawaban yang tidak sesuai dengan kondisi yang dimaksud oleh (A).

Referensi

Dokumen terkait

Kajian ini berkenaan dengan ragam bahasa Pakpak yang mencakupi pemilihan kata, frasa, penggunaan ungkapan (idiom) dan satuan estetis bahasa berupa umpama ‘pantun’ dan kata

Oleh karena itu, salah satu kajian dalam ilmu pragmatik tersebut digunakan dalam menganalisis penggunaan bahasa dalam bentuk tuturan percakapan yang terdapat dalam novel

 Menyediakan peluang utk memanipulasi, menarik dan mewakili bentuk dua dimensi  Membincangkan contoh-contoh dan bukan. contoh-bentuk

Mengklasifikasikan macam-macam bentuk, jenis makna, penggunaan jenis bahasa, dan motif yang digunakan dalam penamaan judul-judul film Indonesia genre drama.. Menganalisis

Act Sequence merujuk pada bentuk dan isi amanat dalam bentuk kata-kata dan pokok percakapan, yaitu berhubungan dengan penggunaan dan bentuk ragam hormat bahasa

Untuk keperluan analisis pembuktian bentuk ekspresi bahasa pada teks meme yang berpotensi masuk pada pelanggararan kriminal cyber crime , digunakan jenis

Variasi bahasa berdasarkan penggunaan dalam interaksi pembelajaran guru dan siswa memiliki variasi bentuk bahasa, yaitu ragam beku, resmi, usaha, santai dan akrab. Bentuk variasi

Kata Kunci : Transaksi jual beli, Sosiolinguistik, Ragam Bahasa Penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk-bentuk bahasa yang digunakan dalam transaksi jual beli, fungsi bahasa yang