• Tidak ada hasil yang ditemukan

KARAKTERISTIK PASIEN ULKUS DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN PERIODE JANUARI 2017 MEI 2019 SKRIPSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "KARAKTERISTIK PASIEN ULKUS DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN PERIODE JANUARI 2017 MEI 2019 SKRIPSI"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

KARAKTERISTIK PASIEN ULKUS DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN

PERIODE JANUARI 2017 – MEI 2019

SKRIPSI

Oleh :

BAGINDA PASCAL AGUNG HAMONANGAN MANIK 160100114

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(2)

KARAKTERISTIK PASIEN ULKUS DIABETIK DI RUMAH SAKIT UMUM PUSAT HAJI ADAM MALIK MEDAN

PERIODE JANUARI 2017 – MEI 2019

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Kedokteran

Oleh :

BAGINDA PASCAL AGUNG HAMONANGAN MANIK 160100114

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

2019

(3)

i

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Penelitian : Karakteristik Pasien Ulkus Diabetik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Periode Januari 2017– Mei 2019

Nama Mahasiswa : Baginda Pascal Agung Hamonangan Manik

Nomor Induk : 160100114

Program Studi : Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Telah berhasil dipertahankan dihadapan Komisi Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar

Sarjana Kedokteran pada Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Pembimbing

dr. Doddy Prabisma Pohan, M.Ked(Surg), Sp.BTKV NIP. 197511132005011004

Ketua Penguji Anggota Penguji

Dr. dr. Mohd. Rhiza Z. Tala, M.Ked(OG), Sp.OG(K) dr. Tetty Aman Nasution, M.Med,Sc NIP. 196812052002121002 NIP. 197001091997022001

Medan, 4 Desember 2019

Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe Sp.S(K) NIP. 196605241992031002

(4)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena atas kasih karuniaNya penulis dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Karakteristik Pasien Ulkus Diabetik di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2017 – Mei 2019” sebagai syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

Pada kesempatan ini penulis memperoleh banyak sekali bantuan dari berbagi pihak dalam proses penyelesaian penelitian ini. Untuk itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada:

1. Dr. dr. Aldy Safruddin Rambe, Sp.S(K) selaku dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

2. dr. Doddy Prabisma Pohan, M.Ked(Surg), Sp.BTKV sebagai dosen pembimbing yang telah bersedia meluangkan waktu untuk memberikan masukkan, ide, arahan dan membimbing penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

3. Dr. dr. Mohd. Rhiza Z. Tala, M.Ked(OG), Sp.OG(K) dan dr. Tetty Aman Nasution, M.Med,Sc sebagai dosen penguji yang telah memberikan saran, kritik, masukkan dan ide kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

4. Bapak/Ibu pengurus Instalasi Rekam Medik RSUP Haji Adam Malik Medan yang telah membantu kelancaran penelitian ini.

5. Yang terkasih keluarga penulis, Ayahanda Azwil Sandy Manik, SE, MM., Ibunda Emma Martha Fine Simanjuntak, SKM, MM, MSc.Ph., Kakak penulis Vindy Debora Verawaty Manik dan Adik penulis Kindry Elizabeth Magdalena Manik yang telah mendoakan, mendukung, memberikan motivasi sehingga penulis dapat mencapai tahap ini.

6. Teman-teman penulis yang membantu dan memberikan dukungan kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian ini.

7. Teman-teman Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara angkatan 2016 yang telah sama-sama berjuang hingga mencapai tahap ini.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan yang telah mendukung, membantu, mendoakan penulis hingga tahap ini.

(5)

iii

Penulis menyadari skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan tidak lepas dari kesalahan dan kekurangan. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran sebagai masukkan kepada penulis untuk penelitian selanjutnya. Semoga penelitian ini dapat bermanfaat bagi semua pihak. Akhir kata, semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkati dan menyertai kita sekalian.

Medan, 3 Desember 2019 Penulis,

Baginda Pascal A.H. Manik

(6)

DAFTAR ISI

Halaman

Halaman Pengesahan... i

Kata Pengantar………. ii

Daftar Isi... iv

Daftar Gambar…...vi

Daftar Tabel... vii

Daftar Singkatan...viiii

Abstrak...ix

Abstract………x

BAB I PENDAHULUAN... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Rumusan Masalah... 2

1.3 Tujuan... 2

1.3.1 Tujuan Umum... 2

1.3.2 Tujuan Khusus... 2

1.4 Manfaat Penelitian... 3

1.4.1 Manfaat teoritis………... 3

1.4.2 Manfaat praktis... 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA... 4

2.1 Ulkus Diabetik…………... 4

2.1.1 Definisi... 4

2.1.2 Patofisiologi... 4

2.1.3 Faktor Risiko... 7

2.1.4 Klasifikasi Kaki Diabetik………... 9

2.1.5 Tatalaksana Ulkus Diabetik………. 12

2.1.6 Komplikasi……….……….. 16

2.2 Kerangka Teori... 17

2.3 Kerangka Konsep... 18

(7)

v

3.1 Rancangan Penelitian...19

3.2 Lokasi Penelitian...19

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian... 19

3.4 Metode Pengumpulan Data...20

3.5 Definisi Operasional... 20

3.6 Metode Pengolahan dan Analisis Data... 21

3.6.1 Pengolahan Data... 21

3.6.2 Analisis Data... 21

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN………. 23

4.1 Deskripsi Lokasi Penelitian………. 23

4.2 Hasil Penelitian……… 23

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……….. 30

5.1 Kesimpulan……….. 30

5.2 Saran……… 30

DAFTAR PUSTAKA... 31

LAMPIRAN... 35

(8)

DAFTAR GAMBAR

Nomor Judul Halaman

2.1 Gambar kaki charcot dengan ulkus………...…………. 6

2.2 Gambar claw toes………...………. 6

2.3 Gambar neuropati……… 8

2.4 Gambar ulkus neuroiskemik………...… 11

2.5 Kerangka teori………. 17

2.6 Kerangka konsep………. 18

(9)

vii

DAFTAR TABEL

Nomor Judul Halaman

2.1 Klasifikasi Meggitt-Wagner………...………. 10

2.2 Klasifikasi University of Texas…………... 10

3.1 Definisi operasional………...……. 20

4.1 Distribusi karakteristik berdasarkan usia subjek………... 23

4.2 Distribusi karakteristik berdasarkan jenis kelamin subjek……….. 24

4.3 Distribusi karakteristik berdasarkan IMT subjek……… 24

4.4 Distribusi karakteristik berdasarkan lama subjek menderita DM………... 25

4.5 Distribusi karakteristik berdasarkan neuropati diabetik subjek………….. 25

4.6 Distribusi karakteristik berdasarkan hiperlipidemia subjek……… 26

4.7 Distribusi karakteristik berdasarkan riwayat penggunaan insulin subjek... 27

4.8 Distribusi karaktersitik berdasarkan hipertensi yang diderita subjek……. 27

4.9 Distribusi karakteristik berdasarkan adanya trauma pada kaki yang diderita subjek………. 28

4.10 Karakteristik pasien ulkus diabetik………. 29

(10)

DAFTAR SINGKATAN

PTM : Penyakit Tidak Menular

DM : Diabetes Mellitus

CN : Charcot neuroarthropathy TCC : Total-contact cast

UT : University of Texas IMT : Indeks Massa Tubuh RISKESDAS : Riset Kesehatan Dasar

(11)

ix

ABSTRAK

Latar Belakang. Ulkus diabetik adalah salah satu komplikasi yang paling sering dari penyakit Diabetes Mellitus (DM). Diperkirakan 15% dari seluruh penderita DM akan menderita ulkus diabetik. Ulkus diabetik merupakan hasil dari adanya neuropati perifer dan neuropati somatik yang menyebabkan penurunan sensasi pada sehingga dapat mengakibatkan timbulnya kalus.

Selain neuropati, ulkus diabetik juga dapat disebabkan oleh penyakit vaskular perifer yang dapat menyebabkan iskemia pada kaki sehingga mempermudah timbulnya ulkus diabetik. Tujuan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pasien ulkus diabetik di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Haji Adam Malik periode Januari 2017- Mei 2019 berdasarkan faktor risiko ulkus diabetik tersebut. Metode. Jenis penelitian bersifat deskriptif dengan desain cross sectional study. Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa rekam medis pasien ulkus diabetik.

Populasinya adalah seluruh pasien yang menderita ulkus diabetik di RSUP Haji Adam Malik pada tahun 2017-2018. Pemilihan besarnya sampel menggunakan metode Total Sampling. Hasil.

Kelompok usia <40 tahun (4,3%), usia 41-59 tahun (59,8%), usia >60 tahun (35,9%). Laki-laki (54,7%), perempuan (45,3%). IMT underweight (3,4%), normoweight (33,3%), overweight (63,350. Lama subjek menderita DM <5 tahun (39,3%), 5-10 tahun (41%), >10 tahun (19,7%).

Neuropati diabetik diderita oleh 86,3% pasien. Hiperlipidemia diderita oleh 77,8% pasien. Tidak ditemukan riwayat penggunaan insulin pada 55,6% pasien. Hipertensi (70,1%), tidak hipertensi (29,9%). Ulkus yang disebabkan karena adanya trauma 66,7%. Kesimpulan. Karakteristik pasien ulkus diabetik terbanyak pada rentang usia 41-59 tahun. Pasien terbanyak adalah laki-laki.

Faktor risiko terbanyak adalah neuropati diabetik.

Kata kunci ulkus diabetik, faktor risiko, neuropati.

(12)

ABSTRACT

Background. Diabetic ulcer is the most common complication of Diabetes Mellitus (DM).

Approximately 15% of all diabetics will suffer diabetic ulcer. Loss of sensation is the result of peripheral neuropathy and somatic neuropathy that induce callus formation that lead to diabetic ulcer. Beside neuropathy, peripheral vascular disease (PVD) is also involve in diabetic ulcer.

PVD make the foot is in ischemia that will lead to diabetic ulcer. Objective. This study aims to determine the characteristics of diabetic ulcer patients at Haji Adam Malik General Hospital in January 2017 – May 2019 based on risk factor of diabetic ulcer. Methods. This research is using descriptive method with cross sectional study design. The population is diabetic ulcer patients at Haji Adam Malik General Hospital in January 2017 – May 2019. The data is collected from medical record using total sampling technique. Results. Age group <40 years (4,3%), age 41-59 years (59,8%), age >60 years (35,9%). Male (54,7%), female (45,3%). Underweight BMR (3,4%), normoweight (33,3%), overweight (63,3%). Duration of DM <5 years (39,3%), 5-10 years (41%),

>10 years (19,7%). Patients with diabetic neuropathy 86,3%. Patients with hyperlipidemia 77,8%.

No history of insulin use in 55,6% of all patients. Patients with hypertension (70,1%) and no hypertension (29,9%). Trauma that lead to ulcer 66,7%. Conclusion. Most common characteristics of diabetic ulcer patients is in age group 41-59 years. Most patient is male. Highest rate of risk factor is diabetic neuropathy.

Keywords diabetic ulcer, risk factor, neuropathy

(13)

1 BAB I

PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang paling sering adalah Diabetes Mellitus (DM). Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi penyakit DM yang pernah didiagnosis oleh dokter sebesar 1,5%. DM atau biasa disebut diabetes merupakan penyakit gangguan metabolik menahun akibat pankreas tidak memproduksi cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang diproduksi secara efektif. Insulin adalah hormon yang mengatur keseimbangan kadar gula darah. Akibatnya terjadi peningkatan konsenstrasi glukosa di dalam darah (hiperglikemia) (Riskesdas, 2013).

Pasien dengan DM cenderung memiliki komplikasi salah satunya adalah ulkus diabetik. Ulkus diabetik adalah salah satu komplikasi DM dengan jumlah penderita yang terus meningkat. 15% dari pasien DM diperkirakan akan menderita ulkus diabetik (Yazdanpanah, 2015).

Berdasarkan penelitian Zhang dkk, prevalensi ulkus diabetik di dunia sebesar 6,3%. Amerika Utara memiliki prevalensi ulkus diabetik terbesar yaitu sebesar 13% sedangkan Oseania memiliki prevalensi terkecil yaitu sebesar 3,0%.

Sementara itu, Asia memiliki prevalensi sebesar 5,5% dengan India sebagai negara dengan prevalensi terbesar yaitu 11,6% di Asia (Zhang et al., 2017).

Di Indonesia, prevalensi ulkus diabetik sebesar 12,0%. Angka ini lebih besar jika dibandingkan dengan India. Hal ini disebabkan karena tingkat kepahaman masyarakat yang rendah terhadap ulkus diabetik. Prevalensi ulkus diabetik berpotensi meningkat dengan banyaknya kasus DM di Indonesia yang tidak terdeteksi (Yusuf et al., 2016).

Saat ini, ulkus diabetik merupakan penyebab utama pasien rawat inap dengan DM. Diperkirakan 20% pasien diabetes dirawat inap karena ulkus diabetik. Ulkus diabetik dapat menyebabkan infeksi, gangren, amputasi, bahkan kematian bila pasien tidak menerima perawatan yang sesuai. Disisi lain, bila pasien telah menderta ulkus diabetik, maka ulkus tersebut menjadi progresif dan dapat

(14)

menyebabkan amputasi. Secara keseluruhan, kejadian amputasi anggota gerak bawah dengan DM 15 kali lebih tinggi dibandingkan dengan pasien tanpa DM.

50% - 70% dari seluruh amputasi ekstremitas bawah disebabkan oleh ulkus diabetik (Yazdanpanah, 2015).

Secara umum pengelolaan ulkus diabetik meliputi penanganan iskemia, debridemen, penanganan luka, menurunkan tekanan plantar pedis (off-loading), penanganan komorbiditas dan penurunan risiko kekambuhan serta pengelolaan infeksi. Debridemen merupakan upaya untuk membersihkan semua jaringan nekrotik, karena luka tidak sembuh bila masih terdapat jaringan nonviable, debris dan fistula. Tindakan debridemen juga dapat menghilangkan koloni bakteri pada luka. Saat ini terdapat beberapa jenis debridemen yaitu autolitik, enzimatik, mekanik, biologis dan tajam (Langi, 2011).

Berdasarkan latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai karakteristik pasien ulkus diabetik di RSUP Haji Adam Malik Medan dari tahun 2017 sampai tahun 2019.

1.2 RUMUSAN MASALAH

Bagaimana karakteristik pasien ulkus diabetik di RSUP Haji Adam Malik Medan Periode Januari 2017 – Mei 2019?

1.3 TUJUAN PENELITIAN 1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui karakteristik pasien ulkus diabetik di RSUP Haji Adam Malik Medan

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Untuk mengetahui angka kejadian ulkus diabetik b. Untuk mengetahui karakteristik pasien ulkus diabetik

(15)

3

1.4 MANFAAT PENELITIAN 1.4.1 Manfaat Teoritis

Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi mengenai karakteristik pasien ulkus diabetik dan diharapkan dapat menjadi referensi untuk penelitian selanjutnya.

1.4.2 Manfaat Praktis

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai informasi mengenai karakteristik pasien dengan ulkus diabetik.

(16)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 ULKUS DIABETIK 2.1.1 Definisi

Ulkus diabetik merupakan salah satu penyakit yang timbul menyertai DM, dengan 15-25% dari semua pasien DM menderita ulkus diabetik dalam hidupnya.

Ulkus diabetik lebih sering terjadi pada pasien dengan DM tipe II dibandingkan dengan pasien dengan DM tipe I. Selain ulkus diabetik, komplikasi lain yang sering timbul adalah selulitis, abses, gangren dan nekrotisis fascilitis (Al Wahbia, 2019).

Trauma yang berulang ditambah, adanya neuropati yang menyebabkan penderita DM kehilangan sensasi juga adanya iskemia jaringan menyebabkan penderita tidak merasakan nyeri pada luka yang dialami. Luka yang tidak tertangani dengan baik dapat menyebabkan timbulnya ulkus hingga gangren.

Ulkus dan gangren yang terjadi pada penderita DM memudahkan untuk terjadinya infeksi bakteri. Hal tersebut akan semakin memperparah keadaan dari pasien.

Gangren tersebut dapat menyebar ke otot dan sendi bila kedalamannya mencapai deep fascia dan hal ini memerlukan penanganan segera untuk mencegah terjadinya amputasi (Bandyk, 2018).

2.1.2 Patofisiologi

Ulkus diabetik terjadi karena trauma pada kaki dengan disertai adanya neuropati diabetik dan penyakit arteri perifer. Infeksi bukan merupakan penyebab utama dari ulkus diabetik tetapi merupakan kejadian sekunder setelah adanya ulkus pada lapisan epidermis (Boulton, 2019).

Neuropati diabetik adalah faktor utama dalam 90% kasus ulkus diabetik.

Kerusakan jaringan saraf pada DM mempengaruhi fungsi motorik, sensorik dan otonom. Kerusakan fungsi motorik menimbulkan kelemahan otot, atrofi dan paresis.

(17)

5

Kerusakan fungsi sensorik menyebabkan kehilangan sensasi terlebih sensasi perlindungan diri (protektif) seperti sensasi nyeri, tekanan dan panas. Kerusakan fungsi otonom menyebabkan vasodilatasi dan produksi keringat yang menurun sehingga menyebabkan menurunnya intak kulit yang dapat menjadi salah satu faktor yang mempermudah timbulnya infeksi bakteri (Alexiadou & Doupis, 2012).

Penyakit arteri perifer dapat timbul 5 hingga 8 kali lebih mudah pada pasien DM yang menderita DM pada usia lebih muda, DM yang progresif dan hal-hal tersebut dapat memperburuk penyakit arteri perifer dibandingkan dengan pasien tanpa DM. Penyakit arteri perifer sering terjadi pada bagian diantara lutut dan pergelangan kaki. Penyakit arteri perifer telah terbukti sebagai faktor resiko untuk penyakit kardiovaskular juga sebagai prediktor perkembangan ulkus diabetik.

Etiologi utama penyebab dari ulkus diabetik adalah campuran antara neuropati dan iskemik (neuroiskemik), terutama pada pasien usia tua (Alexiadou & Doupis, 2012).

Pada pasien neuropati diabetik perifer, kehilangan sensasi pada kaki menimbulkan cedera yang berulang dari internal (deformitas kaki dan kalus) atau dari eksternal (sepatu, panas, benda asing) yang tidak terdeteksi sehingga dapat menimbulkan ulkus pada kaki. Hal ini selanjutnya dapat menimbulkan infeksi pada ulkus yang dapat menyebabkan amputasi, terlebih pada pasien dengan penyakit arteri perifer (Alexiadou & Doupis, 2012).

5

(18)

Gambar 2.1 Kaki charcot dengan ulkus.

Gambar 2.2 Claw toes. Dorsofleksi dari phalanges proksimal diantara sendi metatarsal dan phalanges dengan fleksi dari sendi interphalanges proksimal dan distal sehingga dapat menyebabkan tekanan. Claw toe dapat mempengaruhi jari kaki kedua, ketiga, keempat dan kelima.

Kelainan struktur dan deformitas kaki seperti flatfoot, hallux valgus, claw toes, charcot neuroarthropathy, dan hammerfoot merupakan faktor penting karena

(19)

7

deformitas tersebut berkontribusi terhadap tekanan abnormal pada plantar yang dapat menyebabkan ulserasi pada kaki (Alexiadou & Doupis, 2012).

Charcot neuroarthropathy (CN) biasanya disebabkan oleh trauma minor yang berulang-ulang karena insensitifitas, disfungsi saraf simpatik dan aliran darah yang tidak adekuat. Bila pasien dengan CN berjalan, kaki menjadi hangat, membengkak dan terkadang terasa nyeri (Boulton, 2019).

2.1.3 Faktor Risiko

Adanya ulkus diabetik disebabkan oleh berbagai faktor, bukan hanya satu faktor (Alavi et al., 2014). Faktor risiko terjadinya ulkus diabetik adalah usia, jenis kelamin, obesitas, menderita DM dalam waktu yang lama, hiperlipidemia, menerima insulin sebagai pengobatan DM, hipertensi, neuropati diabetik dan penyakit vaskular perifer.

Hiperlipidemia adalah peningkatan kadar kolesterol atau kadar trigliserida atau keduanya. Bentuk primer dari hiperlipidemia adalah kilomikronemia, hiperkolesterolemia, hipertrigliserida dan hiperlipoproteinemia. Sedangkan penyakit lain seperti DM, pankreatitis, penyakit ginjal, hipotiroid merupakan bentuk sekunder dari hiperlipidemia (Sweeney et al., 2018).

Hiperlipidemia merupakan penyebab utama dari aterosklerosis (Sweeney et al., 2018). Aterosklerosis merupakan penyempitan pembuluh darah akibat penumpukan lemak, trombosit, neutrofil, monosit dan makrofag pada dinding arteri. Aterosklerosis ini dapat menyebabkan penyakit arteri perifer (Conte and Vale, 2010).

Menurut penelitian Al-Rubeean, dkk. durasi seseorang menderita DM mempengaruhi timbulnya komplikasi berupa ulkus diabetik. Semakin lama seseorang menderita DM, maka semakin tinggi kemungkinan terjadi komplikasi DM. Hal tersebut sebanding dengan riwayat pengontrolan gula darah yang buruk (Al-Rubeaan et al., 2015).

Pengobatan DM berupa insulin juga merupakan salah satu faktor risiko untuk timbulnya ulkus diabetik. Hal ini dikarenakan penggunaan insulin dalam jangka panjang dapat menyebabkan timbulnya kondisi hipoglikemia sehingga memacu

(20)

nafsu makan. Nafsu makan yang berlebih dapat mempengaruhi IMT dan bila hal tersebut tidak dicegah dapat mengakibatkan kenaikan IMT hingga pada obesitas.

Obesitas dapat meningkatkan tekanan pada telapak kaki dan mempermudah timbulnya kalus (Boulton, 2010 p. 433).

Neuropati adalah prediktor utama untuk timbulnya ulserasi. Kaki dengan neuropati tidak mengalami ulserasi secara spontan. Pembentukan ulkus merupakan kombinasi dari neuropati dan faktor lain seperti trauma yang berulang, ukuran sepatu yang tidak sesuai, berjalan tanpa alas kaki dan adanya pembentukan kalus pada area yang mengalami peningkatan tekanan (Alavi et al., 2014).

Tiga mekanisme utama untuk terjadinya cedera pada kaki dengan neuropati yaitu (1) alas kaki dengan ukuran yang tidak sesuai menghasilkan tekanan yang lemah tetapi berkepanjangan; (2) mengangkat beban yang cukup berat secara terus menerus memperbesar gesekan pada telapak kaki; (3) trauma yang berulang.

Trauma atau cedera yang terjadi karena peningkatan tekanan berhubungan dengan pembentukan kalus yang menyebabkan kerusakan jaringan (Alavi et al., 2014).

Onset neuropati diabetik sangat berbahaya dan banyak pasien tidak menyadari proses tersebut. Neuropati menyebabkan berkurangnya sensasi protektif dan nyeri neuropatik dapat menurunkan kualitas hidup. Nyeri neuropatik dapat berupa rasa seperti terbakar, panas, tusukan, hiperestesia dan allodynia (respon meningkat terhadap stimulus normal) (Alavi et al., 2014).

Gambar 2.3 Neuropati pada kaki diabetik. Pembentukan kalus sebagai presentasi dari

(21)

9

Neuropati menyebabkan berkurangnya kemampuan untuk menerima sensasi.

Neuropati otonom melibatkan sistem saraf simpatik dengan tanda berupa anhidrosis dengan kulit kering dan fisura pada telapak kaki. Neuropati motorik dapat dikenali dengan hilangnya refleks pergelangan kaki. Refleks pergelangan kaki yang berkurang berhubungan dengan deformitas dan kelemahan otot intrinsik.

Edukasi perawatan kaki yang baik harus dilakukan kepada pasien dengan DM untuk mencegah timbulnya ulkus diabetik, terlebih pada pasien dengan risiko tinggi (Alavi et al., 2014).

Penyakit vaskular perifer adalah salah satu faktor penting pada ulkus diabetik.

Ulkus diabetik dapat dibagi menjadi 3 kategori yaitu diabetik neuropati, diabetik iskemik dan diabetik neuroiskemik. Pasien kaki diabetik dengan neuroiskemik mempunyai prognosis yang lebih buruk. Gesekan dan trauma pada kaki diabetik iskemik dapat menyebabkan kerusakan jaringan kulit (Alavi et al., 2014).

Untuk menemukan adanya penyakit vaskuler dibutuhkan anamnesis dan pemeriksaan fisik termasuk riwayat penyakit arteri perifer, adanya klaudikasi (nyeri spasme otot karena adanya obstruksi arteri), rest pain (sensasi seperti terbakar pada kaki saat beristirahat). Manifestasi klinis termasuk penurunuan suhu kulit, kerontokan rambut dan penurunan pulsasi arteri dorsalis pedis atau arteri tibialis posterior. Menurut Alavi dkk., meskipun pemeriksaan fisik menghasilkan informasi kualitatif yang penting, pemeriksaan fisik tersebut hanya memiliki sensitivitas 50% (Alavi et al., 2014).

2.1.4 Klasifikasi Kaki Diabetik

Ketika terdapat ulkus diabetik, penilaian staging menjadi penting karena menentukan prognosis pasien tersebut. Sistem klasifikasi yang sering digunakan untuk menilai ulkus diabetik adalah klasifikasi Meggitt-Wagner. Klasifikasi Meggitt-Wagner menilai ulkus berdasarkan kedalaman ulkus dengan rentang skor 0 hingga 5. Skor 0-2 berdasarkan kedalaman ulkus yang merusak jaringan lunak sedangkan skor 3-5 berdasarkan infeksi pada ulkus tersebut. Sistem klasifikasi UT (University of Texas) menilai ulkus berdasarkan keparahan ulkus dan

(22)

dikategorikan menjadi 4 grade (0-III). Grade 0 merupakan lokasi postulserasi, grade I ulkus superfisial, grade II ulkus menembus tendon atau kapsula sendi dan Grade III ulkus menembus tulang atau ulkus mencapai sendi. Setiap grade memiliki 4 stage yaitu bersih tanpa iskemik (A), infeksi tanpa iskemik (B), iskemik (C) dan iskemik infeksi (D).

Tabel 2.1 Klasifikasi Meggitt-Wagner

Grade Lesi

0 Tidak ada ulkus pada pasien dengan risiko tinggi 1 Ulkus superfisial pada lapisan kulit

2 Ulkus dalam hingga ligamen dan otot tanpa melibatkan tulang atau pembentukan abses

3 Ulkus dalam dengan selulitis atau adanya abses, terkadang dengan osteomielitis

4 Gangren terlokalisir

5 Gangren menyebar di seluruh kaki

Tabel 2.2 Klasifikasi University of Texas

Grade Deskripsi

0 Preulserasi atau postulserasi

1 Ulserasi superfisial

2 Ulkus mencapai tulang atau kapsul sendi 3 Ulkus menembus tulang atau mencapai sendi

Stage Deskripsi

A Tanpa infeksi dan tanpa iskemik

B Infeksi dan tanpa iskemik

C Tanpa infeksi dan tanpa iskemik

D Iskemik dan infeksi

(23)

11

Gambar 2.4 Ulkus neuroiskemik (Grade 2D system UT) pada lateral tumit kanan. Ulkus ini disebakan karena penggunaan alas kaki yang tidak sesuai.

2.1.5 Tatalaksana Ulkus Diabetik

Ulkus diabetik harus mendapatkan penganganan yang tepat untuk mengurangi risiko komplikasi dari ulkus tersebut. Komplikasi dari ulkus diabetik tersebut dapat berupa infeksi dan amputasi. Selain itu, pengobatan untuk menangani penyakit yang mendasarinya yaitu DM.

Tujuan penatalaksanaan ulkus DM adalah penutupan luka. Prognosis ulkus akan lebih baik bila dideteksi lebih dini. Komponen dalam penatalaksaan ulkus diabetik mengangani penyakit yang mendasarinya, memastikan perfusi jaringan baik pada ulkus, perawatan ulkus termasuk pencegahan infeksi dan offloading pressure (Wound International, 2013).

2.1.5.1 Penanganan Penyakit Yang Mendasari Ulkus Diabetik

a. Menangani iskemia bila ditemukan adanya iskemia. Bila ditemukan adanya iskemia, rest pain dan ulserasi, kemungkinan pasien memerlukan

(24)

rekonstruksi pembuluh darah agar iskemia yang terjadi bisa tertangani dengan baik.

b. Melakukan kontrol gula darah dan DM. Hal ini termasuk kontrol glikemik ketat, menangani risiko hipertensi, hiperlipidemia dan menghentikan konsumsi rokok.

c. Mencari penyebab trauma. Pemeriksa harus memastikan bahwa pasien menggunakan alas kaki dengan ukuran yang sesuai untuk mengurangi risiko gesekan yang berlebihan, memeriksa adanya benda asing yang terdapat pada ulkus (seperti batu dengan ukuran kecil, pecahan kaca, rambut, dan lain sebagainya) yang dapat menyebabkan trauma pada luka. Bila memungkinkan, pemeriksa juga dapat memeriksa semua alas kaki yang digunakan pasien untuk memastikan alas kaki mempunyai ukuran yang sesuai.

2.1.5.2 Memastikan Perfusi Jaringan Baik

Pasien dengan iskemia ekstremitas adalah situasi darurat. Hal ini disebabkan karena pasien memiliki risiko tinggi untuk mengalami kerusakan jaringan pada ekstremitas bila tidak ditangani secepatnya dan dengan baik.

Perfusi arteri merupakan hal penting dalam proses penyembuhan dan harus dinilai awal pada pasien ulkus diabetik. Penilaian kompetensi vaskular pedis pada ulkus diabetik seringkali memerlukan bantuan pemeriksaan penunjang seperti MRI angiogram, Doppler maupun angiografi. Pemeriksaan sederhana seperti perabaan pulsasi arteri poplitea, tibialis posterior dan dorsalis pedis dapat dilakukan pada kasus ulkus diabetik kecil yang tidak disertai edema ataupun selulitis yang luas. Ulkus atau gangren kaki tidak akan sembuh bahkan dapat menyerang tempat lain di kemudian hari bila penyempitan pembuluh darah kaki tidak diatasi (Langi, 2010).

Salah satu hal yang perlu diingat adalah penurunan perfusi jaringan atau sirkulasi yang tidak baik dapat menjadi indikasi untuk tindakan revaskularisasi untuk mencapai penyembuhan yang optimal, mencegah rekurensi dan mengurangi risiko amputasi.

(25)

13

2.1.5.3 Perawatan Ulkus

Tahapan penanganan ulkus diabetik adalah debridemen jaringan, kontrol infeksi dan inflamasi, kontrol kelembaban, wound dressing, dan off-loading (Langi, 2010; Wound International, 2013; Harries and Harding, 2015).

a. Debridemen jaringan

Debridemen adalah tindakan untuk mengangkat atau menghilangkan jaringan yang mati sekaligus untuk mencegah infeksi bakteri karena diantara jaringan yang sehat dan mati adalah tempat yang baik untuk perkembangan bakteri (Singer, Tassiopoulos and Kirsner, 2017).

Sharp debridement merupakan salah satu jenis debridemen yang paling efektiif untuk menangani ulkus diabetik. Dalam menangani ulkus diabetik, tindakan sharp debridement dengan menggunakan gunting, scalpel dan forceps merupakan gold standard. Debridemen memberikan beberapa manfaat. Yang pertama, debridemen mengangkat jaringan yang telah mengalami nekrosis dari ulkus tersebut. Selain itu, debridemen juga mengurangi tekanan pada ulkus dan dapat memberikan inspeksi yang menyeluruh pada jaringan yang nekrosis maupun yang tidak. Debridemen juga membantu proses drainase pus bila terdapat abses pada ulkus tersebut.

Selain hal-hal yang telah disebutkan debridemen juga dapat meningkatkan efektivitas sediaan topikal dan mempercepat pemulihan jaringan epitel kulit (Wound International, 2013).

Debridemen enzimatik dapat dilakukan dengan menggunakan berbagai agen enzimatik. Beberapa diantaranya adalah crab-derived collagenase, kolagen dari krill, kombinasi streptokinase, streptodornase dan dextrans. Zat- zat tersebut dapat mengangkat jaringan nekrotik tanpa merusak jaringan yang sehat (Alexiadou and Doupis, 2012)

Debridemen biologis dapat dilakukan dengan menggunakan makhluk hidup. Makhluk hidup yang digunakan adalah belatung (maggot) yang telah disterilkan. Belatung mempunyai kemampuan untuk mencerna debris, bakteris dan jaringan yang telah mengalami nekrosis tanpa merusak jaringan yang sehat. Penelitian terkini menyatakan bahwa tindakan debridemen

(26)

biologis dapat juga digunakan untuk mengeliminasi bakteri pathogen yang telah resisten terhadap obat tertentu seperti Staphylococcus aureus yang telah resisten terhadap methicillin (Alexiadou & Doupis, 2012)

Ulkus dapat tersembunyi dengan adanya kalus. Tindakan debridemen harus mengangkat seluruh jaringan yang mengalami nekrosis (Wound International, 2013).

b. Kontrol infeksi dan inflamasi

Morbiditas dan mortalitas yang tinggi pada ulkus diabetik yang disertai infeksi menandakan bahwa tindakan yang cepat sangat diperlukan pada ulkus diabetik dibandingkan dengan ulkus yang disebabkan oleh hal-hal yang lain (Wound International, 2013).

Infeksi dapat dilihat secara klinis. Infeksi yang tidak mengancam tungkai biasanya terlihat memiliki ulkus yang dangkal, tidak terlihat adanya iskemia, tidak mengenai tulang dan atau sendi dan area selulitis tidak lebih besar dari 2 cm dari pusat ulkus. Pengelolaan pasien dilakukan sebagai pasien rawat jalan bila tidak ditemukan ada gejala dan tanda-tanda infeksi. Perawatan di rumah sakit dilakukan hanya bila tidak ada perbaikan dalam waktu 48-72 jam atau kondisi pasien memburuk. Antibiotik diberikan setelah dilakukan tindakan debridemen untuk membersihkan ulkus (Langi, 2010).

c. Kontrol kelembaban

Pembalut luka yang digunakan pada ulkus diabetik harus menjaga kelembaban dari ulkus tersebut karena kelembaban yang sesuai dapat membantu percepatan proses penyembuhan (Wound International, 2013).

Bila ulkus menghasilkan sekret yang banyak maka pembalut yang digunakan harus bersifat penyerap. Namun bila ulkus bersifat kering, maka digunakan pembalut luka yang dapat melembabkan ulkus. Bila ulkus cukup lembab, gunakan pembalut yang dapat mempertahankan kelembaban ulkus (Langi, 2010).

Untuk pembalut ulkus, dapat digunakan pembalut sederhana yang biasa digunakan yaitu kasa steril yang dilembabkan mengggunakan NaCl 0,9%.

(27)

15

pembalut modern. Pembalut modern yang sering dipakai dalam perawatan luka antara lain: hydrocolloid, hydrogel, calcium alginate, foam, dan lain sebagainya. Untuk pemilihan pembalut yang digunanakan sebaiknya turut mempertimbangkan faktor ekonomis sesuai kemampuan ekonomi pasien (Langi, 2010).

d. Off-loading

Tindakan off-loading merupakan salah satu prinsip utama dalam penatalaksanaan ulkus dengan dasar neuropati. Off-loading adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi tekanan pada telapak kaki. Tindakan ini dapat dilakukan secaara parsial maupun total. Dengan dilakukan off-loading tekanan pada telapak kaki akan berkurang dan hal tersebut dapat mempercepat proses penyembuhan luka (Langi, 2010).

Tindakan off-loading yang tidak adekuat telah terbukti menjadi salah satu faktor perlambatan penyembuhan ulkus walaupun perfusi jaringan baik.

Selain perlambatan penyembuhan ulkus, tindakan off-loading yang tidak adekuat juga meningkatkan risiko rekurensi ulkus diabetik (Alexiadou &

Doupis, 2012).

Metode off-loading yang merupakan gold standard dan paling efektif adalah non-removable total-contact cast (TCC). Non-removable TCC diindikasikan sebagai tindakan off-loading yang efektif untuk ulkus yang berada pada kaki bagian depan maupun tengah. Iskemia berat, abses yang dalam, osteomyelitis dan kualitas kuli yang buruk merupakan kontraindikasi penggunaan TCC. Non-removable TCC membagi tekanan pada telapak kaki dari kaki bagian depan dan tengah ke tumit kaki. Hal ini menyebabkan kaki bisa beristirahat dan dapat melakukan sebagian kecil aktivitas. Non- removable TCC juga mengurangi edema dan pasien memiliki tingkat kepatuhan yang tinggi (Alexiadou & Doupis, 2012).

2.1.6 Komplikasi

Salah satu komplikasi dari ulkus diabetik adalah rekurensi setelah ditangani.

Menurut Armstrong dkk, 40% dari pasien dengan ulkus diabetik yang telah

(28)

dillakukan tindakan mengalami rekurensi dalam waktu kurang dari 1 tahun dan 60% dalam waktu kurang dari 3 tahun (Armstrong, Boulton & Bus, 2017).

Salah satu alasan yang mendasari angka kejadian rekurensi yang tinggi adalah aspek kebiasaan. Pasien dengan ulkus diabetik yang telah ditangani telah mengalami penghilangan rasa nyeri. Rasa nyeri itu dapat berfungsi sebagai warning symptom. Ketika sudah ditangani, pasien-pasien ulkus diabetik kehilangan warning symptom sehingga mereka tidak melakukan tindakan preventif rekurensi yang memadai seperti penggunaan alas kaki untuk off-loading (Armstrong, Boulton and Bus, 2017).

(29)

17

2.2 KERANGKA TEORI

Kalus Peningkatan

tekanan pada kaki

Fisura pada telapak kaki Penurunan

produksi keringat Masalah

ortopedi Penurunan

sensasi

Iskemia jaringan pada kaki

Ulkus diabetik

DM

Neuropati otonom Neuropati

Somatik Penyakit

vascular perifer Neuropati

Hiperlipidemia

Trauma

(30)

2.3 KERANGKA KONSEP

Ulkus Diabetik DM

Karakteristik:

Usia

Jenis kelamin

Obesitas

Lama menderita DM

Hiperlipidemia

Penggunaan Insulin

Hipertensi

Neuropati diabetik

(31)

19 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 RANCANGAN PENELITIAN

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain potong lintang (cross sectional), secara retrospektif dengan menggunakan data sekunder berupa rekam medis. Penelitian ini akan menunjukkan karakteristik pasien ulkus diabetik di RSUP H. Adam Malik Periode Januari 2017 – Mei 2019

3.2 LOKASI PENELITIAN

Penelitian dilakukan pada bulan Juli sampai Desember 2019. Pengambilan dan pengolahan data dilakukan selama 1 bulan pada bulan Agustus 2019 di Instalasi Rekam Medik RSUP H. Adam Malik Medan. Data yang diambil merupakan data yang diperoleh dari Departemen Penyakit Dalam dan Departemen Bedah RSUP H. Adam Malik Medan

3.3 POPULASI DAN SAMPEL PENELITIAN

Populasi dari penelitian ini adalah pasien ulkus diabetik di RSUP H. Adam Malik Medan yang dirawat inap dan dirawat jalan. Teknik sampling yang digunakan pada penelitian ini adalah total sampling yaitu semua pasien ulkus diabetik di RSUP H. Adam Malik Periode Januari 2017 – Mei 2019.

Kriteria Inklusi :

a) Pasien ulkus diabetik yang dirawat inap dan dirawat jalan

b) Pasien dengan karakteristik yang memiliki kriteria obesitas, hiperlipidemia, hipertensi, penggunaan insulin dan neuropati diabetik.

Kriteria Eksklusi :

(32)

Data rekam medis yang tidak lengkap 3.4 METODE PENGUMPULAN DATA

Jenis data yang digunakan pada penelitian ini berupa data sekunder yaitu data yang diambil melalui rekam medis pasien ulkus diabetik di RSUP H. Adam Malik Medan Periode Januari 2017- Mei 2019.

3.5 DEFINISI OPERASIONAL

Tabel 3.1Definisi operasional No. Variabel Definisi Alat

Ukur

Hasil Ukur Skala Ukur

1. Usia Lama waktu hidup

ketika pasien berobat ke rumah sakit

Rekam Medis

a) <40 tahun b) 40-59 tahun

c) >59 tahun

Ordinal

2. Jenis Kelamin Ciri biologis yang membedakan laki-laki

dan perempuan

Rekam Medis

a) Laki-laki b) Perempuan

Nominal

3. Indeks Massa Tubuh

Hasil dari berat badan dibandingkan dengan

tinggi badan

Rekam Medis

a) Underweight (<18 kg/m2) b) Normoweight

(18 kg/m2 – 25 kg/m2) c) Overweight

(>25 kg/m2)

Ordinal

4. DM Ditemukan kriteria

gula darah puasa (GDP) >126 mg/dl atau glukosa darah 2

jam PP >200 mg/dl atau glukosa darah sewaktu >200 mg/dl

Rekam Medis

a) Ya b) TIdak

Nominal

5. Hipertensi Ditemukan tekanan darah sistolik >140 mmHg dan/atau diastolik >90 mmHg

Rekam Medis

a) Ya b) Tidak

Nominal

(33)

21

keadaan dimana terjadi kenaikan kadar

koleterol di dalam darah. Kriteria:

Kadar kolesterol total:

Normal: <200 mg/dl Abnormal: >200

mg/dl

Medis b) TIdak

7. Neuropati Gejala penurunan sensasi karena kerusakan saraf

Rekam Medis

a) Ya b) Tidak

Nominal

8. Penggunaan Insulin

Pengobatan yang dilakukan untuk mengendalikan kadar

gula darah

Rekam Medis

a) Ya b) Tidak

Nominal

3.6 METODE PENGOLAHAN DAN ANALISIS DATA 3.6.1 Pengolahan Data

Agar analisis penelitian menghasilkan informasi yang benar, pengolahan data dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

a. Editing

Editing dilakukan untuk memeriksa ketepatan dan kelengkapan data. Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan, data dilengkapi kembali.

b. Coding

Data yang telah terkumpul dan dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya kemudian diberi kode oleh peneliti secara manual sebelum diolah dengan komputer.

c. Entry

Data yang telah diberi kode kemudian dimasukkan kedalam program komputer.

d. Cleaning Data

Pemeriksaan semua data yang telah dimasukkan ke dalam program komputer.

e. Saving

(34)

Penyimpanan data untuk dianalisis. Kemudian pengolahan data akan menggunakan program komputer yaitu Statistical Package for the Social Science (SPSS).

3.6.2 Analisis Data

Data yang telah dikumpulkan dan dicatat dari rekam medis kemudian diolah dengan menggunakan komputer dan dianalisis dengan analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi dari setiap variabel penelitian kemudian akan diperjelas dalam bentuk tabel dan narasi. Analisis univariat ini dilakukan untuk memperoleh gambaran/deskripsi pada masing-masing variabel penelitian

(35)

23 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 DESKRIPSI LOKASI PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan di RSUP Haji Adam Malik Medan yang berlokasi di Jalan Bunga Lau No. 17, Kelurahan Kemenangan Tani, Kecamatan Medan Tuntungan. RSUP HAM merupakan rumah sakit tipe A juga merupakan rumah sakit rujukan untuk wilayah Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat dan Riau.

Pengambilan sampel untuk penelitian ini diambil dari rekam medik pasien ulkus diabetik. Rekam medik tersebut diperoleh dari Departemen Penyakit Dalam dan Departemen Bedah.

4.2 HASIL PENELITIAN

Jumlah data pasien ulkus diabetik selama periode Januari 2017 hingga Mei 2019 sebanyak 164 pasien sementara jumlah pasien yang memenuhi kriteria sebanyak 117 pasien. Sebanyak 47 pasien tidak dapat menjadi sampel karena data rekam medis yang tidak dapat ditemukan dan data rekam medis yang tidak lengkap. Karakteristik subjek penelitian ditunjukkan pada tabel 4.1

Tabel 4.1 Distribusi karakteristik berdasarkan usia subjek.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)

Usia < 40 tahun 5 4.3

41 – 59 tahun 70 59.8

> 60 tahun 42 35.9

Berdasarkan tabel 4.1 subjek penelitian pasien ulkus diabetik yang paling banyak berada pada kelompok usia 41-59 tahun dengan jumlah 70 orang (59,8%) kemudian diikuti dengan kelompok usia diatas 60 tahun sebanyak 42

(36)

orang (35,9%). Usia pasien termuda pada penelitian ini adalah 36 tahun dan usia tertua 80 tahun.

Hasil penelitian Chomi dkk. memiliki hasil yang sama dengan penelitian ini yaitu pasien ulkus diabetik terbanyak berada di rentang usia 41-59 tahun yaitu sebanyak 62% (Chomi dan Nuñeza, 2015). Penelitian Decroli dkk. juga menunjukkan hasil yang sama yaitu terdapat 65,8% penderita ulkus diabetik berada pada rentang usia 41-59 tahun kemudian diikuti dengan rentang usia lebih dari 60 tahun yaitu sebanyak 28,9% (Decroli et al., 2008).

Tabel 4.2 Distribusi karakteristik berdasarkan jenis kelamin subjek.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)

Jenis Kelamin Laki-laki 64 54,7

Perempuan 53 45,3

Berdasarkan tabel 4.2 jenis kelamin subjek penelitian yang paling banyak adalah jenis kelamin laki-laki dengan jumlah 64 orang (54,7%) sedangkan jenis kelamin perempuan berjumlah 53 orang (45,3%).

Hal ini sependapat dengan penelitian Madanchi dkk. yang memperoleh distribusi jenis kelamin laki-laki sebesar 58,1% dan perempuan sebesar 41,9%

(Madanchi et al., 2013) juga penelitian Decroli dkk. di RSUP Dr. M. Djamil Padang yang memperoleh distribusi jenis kelamin laki-laki pada kasus ulkus diabetik sebesar 71% dan jenis kelamin perempuan sebesar 29% (Decroli et al., 2008).

Tabel 4.3 Distribusi karakteristik berdasarkan IMT subjek.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Indeks Massa

Tubuh (IMT)

Underweight 4 3,4

Normoweight 39 33,3

Overweight 74 63,3

(37)

25

Berdasarkan tabel 4.3 indeks massa tubuh (IMT) subjek penelitian yang paling banyak adalah kelompok overweight dengan jumlah 74 orang (63.3%) sedangkan yang paling sedikit adalah kelompok underweight dengan jumlah (3,4%). IMT terendah pasien adalah 17,6 kg/m2 sedangkan IMT tertinggi pasien adalah 31,3 kg/m2.

Berat badan berlebih dan IMT juga merupakan faktor yang memperparah resistensi insulin dan juga dapat mempermudah timbulnya kerusakan jaringan pada kaki karena beban pada kaki yang berlebih (Chomi and Nuñeza, 2015).

Tabel 4.4 Distribusi karakteristik berdasarkan lama subjek menderita DM.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Lama menderita

DM

< 5 tahun 46 39,3

5 – 10 tahun 48 41

> 10 tahun 23 19,7

Berdasarkan tabel 4.4 lama subjek penelitian menderita DM paling banyak berada pada kelompok 5-10 tahun sebanyak 48 orang (41%) kemudian diikuti kelompok penderita DM kurang dari 5 tahun sebanyak 46 orang (39,3%).

Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian yang dilakukan Decroli dkk. di RSUP Dr. M. Djamil Padang yang memperoleh distribusi lama pasien menderita DM dalam waktu 5-10 tahun sebanyak 35% sedangkan pasien yang menderita DM dalam waktu kurang dari 5 tahun sebanyak 34% (Decroli et al., 2008).

Tabel 4.5 Distribusi karakteristik berdasarkan neuropati diabetik.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Neuropati

diabetik

Ya 101 86,3

Tidak 16 13,7

(38)

Tabel 4.5 berisi jumlah pasien yang menderita neuropati diabetik dan yang tidak menderita neuropati diabetik. Jumlah pasien yang menderita neuropati diabetik sebanyak 101 orang (86,3%) sementara yang tidak menderita neuropati diabetik sebanyak 16 orang (13,7%).

Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian Li dkk. yang memperoleh distribusi penderita ulkus diabetik dengan neuropati sebesar 85,5% dan yang tidak menderita neuropati sebesar 14,5% (Li et al., 2011).

Menurut penelitian, neuropati merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi timbulnya ulkus diabetik dikarenakan gangguan sensasi pada kaki sehingga penderita seringkali tidak menyadari adanya ulkus pada kakinya (Alavi et al., 2014).

Tabel 4.6 Distribusi karakteristik berdasarkan karakteristik hiperlipidemia.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)

Hiperlipidemia Ya 91 77,8

Tidak 26 22,2

Berdasarkan tabel 4.6 terdapat 91 orang (77,8%) yang menderita hiperlipidemia sedangkan 26 orang (22,2%) lainnya tidak.

Hasil penelitian serupa juga diperoleh Hicks dkk. dimana terdapat 57,8%

pasien ulkus diabetik yang memiliki hiperlipidemia dan 42,2% lainnya tidak memiliki hiperlipidemia (Hicks et al., 2019).

(39)

27

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Riwayat

penggunaan insulin

Ya 52 44,4

Tidak 65 55,6

Tabel 4.7 berisi riwayat pasien yang menggunakan insulin untuk mengobati DM. Terdapat 52 orang (44,4%) yang memiliki riwayat penggunaan insulin dan terdapat 65 orang (55,6%) pasien yang tidak memiliki riwayat penggunaan insulin.

Hal ini sebanding dengan penelitian Amogne dkk. yaitu 62% dari penderita ulkus diabetik tidak memiliki riwayat penggunaan insulin (Amogne et al,. 2011). Penelitian lain yang dilakukan oleh Rigato dkk. menunjukkan bahwa lebih banyak pasien ulkus diabetik yang tidak memiliki riwayat penggunaan insulin yaitu sebanyak 60,6% dibandingkan dengan pasien ulkus diabetik yang memiliki riwayat penggunaan insulin yaitu sebanyak 33,8%

(Rigato et al., 2018).

Tabel 4.8 Distribusi karakteristik berdasarkan hipertensi yang diderita subjek.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%)

Hipertensi Ya 82 70,1

Tidak 35 29,9

Berdasarkan tabel 4.8 terdapat 35 pasien (29,9%) yang tidak menderita hipertensi sedangkan terdapat 82 pasien (70,1%) yang menderita hipertensi.

Hasil penelitian ini sebanding dengan penelitian Li dkk. yang memeperoleh hasil pasien ulkus diabetik dengan hipertensi sebanyak 64,4%

dan pasien yang tidak memiliki riwayat hipertensi sebanyak 33,6% (Li et al., 2011). Hasil yang sama juga diperoleh Hicks dkk. dimana pasien ulkus

(40)

diabetik dengan hipertensi sebanyak 85,7% dan yang tidak memiliki riwayat hipertensi sebanyak 14,3% (Hicks et al., 2019).

Penelitian ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Chadwick dkk.

bahwa pasien DM dengan hipertensi akan mempermudah timbulnya ulkus diabetik karena hipertensi merupakan salah satu penyebab dari penyakit arteri perifer (Chadwick et al., 2013).

Tabel 4.9 Distribusi karakteristik berdasarkan adanya trauma yang diderita subjek.

Karakteristik Frekuensi (n) Persentase (%) Trauma

penyebab luka

Ya 78 66,7

Tidak 39 33,3

Berdasarkan tabel 4.9 78 orang (66,7%) pasien ulkus diabetik mengalami trauma yang menyebabkan timbulnya luka yang sulit sembuh sementara 39 orang (33,3%) tidak mengalami trauma yang menyebabkan timbulnya luka.

Hal ini sesuai dengan penelitan Salimi dkk. yang mengatakan bahwa luka pada penderita ulkus diabetik dapat disebabkan oleh trauma baik yang disadari maupn tidak disadari. Adanya trauma dan juga neuropati diabetik dapat mempermudah timbulnya ulkus diabetik dimana neuropati diabetik dapat menyebabkan anhidrosis pada kulit sehingga akan mudah timbul luka pada kulit (Salimi et al., 2017).

(41)

29

Tabel 4.10 Karakteristik pasien ulkus diabetik

Karakteristik DM dengan Ulkus Diabetik Jumlah Persentase (%) Usia

<40 th 5 4,3

41-59 th 70 59,8

>60 th 42 35,9

Jenis Kelamin Laki-laki 64 54,7

Perempuan 53 45,3

IMT

Underweight 4 3,4

Normoweight 39 33,3

Overweight 74 63,3

Lama menderita DM

<5 tahun 46 39,3

5-10 tahun 48 41

>10 tahun 23 19,7

Neuropati Diabetik Ya 101 86,3

Tidak 16 13,7

Hiperlipidemia Ya 91 77,8

Tidak 26 22,2

Riwayat penggunaan insulin

Ya 52 44,4

Tidak 65 55,6

Hipertensi Ya 82 70,1

Tidak 35 29,9

Trauma penyebab luka

Ya 78 66,7

Tidak 39 33,3

(42)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data tentang karakteristik pasien ulkus diabetik di RSUP Haji Adam Malik pada periode Januari 2017 – Mei 2019 dapat diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Angka kejadian ulkus diabetik pada pasien DM di RSUP Haji Adam Malik sebesar 8,7%.

2. Karakteristik yang paling banyak ditemukan pada pasien ulkus diabetik di RSUP Haji Adam Malik pada periode Januari 2017 – Mei 2019 adalah neuropati diabetik yang diderita 86,3% pasien ulkus diabetik pada periode tersebut. Pasien ulkus diabetik terbanyak berada pada rentang usia 41 – 59 tahun dengan persentase sebesar 59,8%.

5.2 SARAN

Berdasarkan hasil penelitian maka saran yang dapat disampaikan adalah : 1. Diharapkan tenaga medis dan masyarakat dapat mengenali karakteristik

dan faktor risiko ulkus diabetik sehingga dapat mengurangi timbulnya komplikasi DM berupa ulkus diabetik.

2. Disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk meneliti lebih dalam lagi mengenai ulkus diabetik

3. Diharapkan kepada petugas rekam medis agar dapat menyimpan rekam medis dengan baik sehingga memudahkan peneliti untuk melakukan penelitian.

(43)

31

DAFTAR PUSTAKA

Al Wahbia, A., 2019, ‘Operative versus non-operative treatment in diabetic dry toe gangrene’, Diabetes and Metabolic Syndrome: Clinical Research and Reviews, Elsevier Ltd, 13(2), pp. 959–963.

Alavi, A., Sibbald R. G., Mayer, D., Goodman, L., Botros, M., Armstrong, D. G., Woo, K., Boeni, T., Ayello, E. A., Kirsner, R. S., 2014, ‘Diabetic foot ulcers: Part I. Pathophysiology and prevention’, Journal of the American Academy of Dermatology. Elsevier Inc, 70(1), pp. 1.e1-1.e18.

Alexiadou, K., Doupis, J., 2012, ‘Management of Diabetic Foot Ulcers’, Current Geriatrics Reports, 4(3), pp. 265–276.

Al-Rubeaan, K., Derwish, M. A., Ouizi, S., Youssef, M. A., Subhani, S. N., Ibrahim, H. M., Alamri, B. N., 2015, ‘Diabetic foot complications and their risk factors from a large retrospective cohort study’, PLoS ONE, 10(5), pp.

1–17.

Amogne, W., Reja, A. and Amare, A., 2011 ‘Diabetic foot disease in Ethiopian patients : A hospital based study’.

Armstrong, D. G., Boulton, A. J. M., Bus, S. A., 2017, ‘Diabetic Foot Ulcers and Their Recurrence’, New England Journal of Medicine, 376(24), pp. 2367–

2375.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan, 2013, ‘Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013’, Laporan Nasional 2013, pp. 87-89

Bandyk, D. F., (2018), ‘The diabetic foot: Pathophysiology, evaluation, and treatment’, Seminars in Vascular Surgery. Elsevier Inc., 31(2–4), pp. 43–48.

Boulton, A. J. M., 2019, ‘The diabetic foot’, Medicine (United Kingdom). Elsevier Ltd, 47(2), pp. 100–105.

Brownrigg, J. R. W., Apelqvist, J., Bakker, K., Schaper, N. C., Hinchliffe, R.J., 2013, ‘Evidence-based management of PAD & the diabetic foot’, European

(44)

Journal of Vascular and Endovascular Surgery. Elsevier Ltd, 45(6), pp.

673–681.

Chadwick, P., Edmonds, M., McCardle, J., 2013, ‘Best Practice Guidelines : Wound Management in’, Wounds International, 5(2), p. 27.

Chomi, E. I., Nuñeza, O. M., 2015 ‘Clinical Profile and Prognosis of Diabetes Mellitus Type 2 Patients with Diabetic Foot Ulcers in Chomi Medical and Surgical Clinic , General Santos’, 4(1), pp. 41–46.

Conte, S. M., Vale, P. R., 2010, ‘Peripheral arterial disease’, High Risk Diabetic Foot: Treatment and Prevention. Australian and New Zealand Society of Cardiac and Thoracic Surgeons (ANZSCTS) and the Cardiac Society of Australia and New Zealand (CSANZ), pp. 1–8.

Decroli, Eva., Karimi, Jazil., Manaf, Asman., Syahbuddin, S., 2008, ‘Profil Ulkus Diabetik pada Penderita Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RSUP Dr M . Djamil Padang’, Majalah Kedokteran, 58(1), pp. 3–7.

Elsharawy, M. A., 2011, ‘Outcome of midfoot amputations in diabetic gangrene’, Annals of Vascular Surgery. Annals of Vascular Surgery Inc., 25(6), pp.

778–782.

Gnanasundaram, S., Ramalingam, P., Das, B., 2019, ‘Gait changes in persons with diabetes: Early risk marker for diabetic foot ulcer’, Foot and Ankle Surgery. European Foot and Ankle Society.

Hicks, C. W. et al. (2019) ‘ScienceDirect Incidence and Risk Factors Associated With Ulcer Recurrence Among Patients With Diabetic Foot Ulcers Treated in a Multidisciplinary Setting’, Journal of Surgical Research. Elsevier Inc, 246(410), pp. 243–250.

Holt, R. I. G., Cockram, C. S., Flyvbjerg, A., Goldstein, G. J. (eds.) 2010, Textbook of Diabetes, A. John Willey & Sons, Ltd., Publication

(45)

33

Katsiki, N., Papadopoulou, S. K., Fachantidou, A. I., Mikhailidis, D. P., 2013,

‘Smoking and vascular risk: Are all forms of smoking harmful to all types of vascular disease?’, Public Health. Elsevier Ltd, 127(5), pp. 435–441.

Langi, Y. A., 2010, ‘Penatalaksanaan Ulkus Kaki Diabetes Secara Terpadu’, Jurnal Biomedik, 3(2), pp. 95–101.

Li, X., Xiao, T., Wang, Y., 2011, ‘Incidence , risk factors for amputation among patients with diabetic foot ulcer in a Chinese tertiary hospital’, Diabetes Research and Clinical Practice. Elsevier Ireland Ltd, 93(1), pp. 26–30.

Madanchi, N., Tabatabaei-Malazy, O., Pajouhi, O., 2013, ‘Who are diabetic foot patients ? A descriptive study on 873 patients’, pp. 2–7.

Megallaa, M. H., Ismail, A., Zeitoun M., 2019, ‘Diabetes & Metabolic Syndrome : Clinical Research & Reviews Association of diabetic foot ulcers with chronic vascular diabetic complications in patients with type 2 diabetes’, Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews. Elsevier Ltd, 13(2), pp. 1287–1292.

Rigato, M., Pizzol, D., Tiago, A., 2018, ‘Characteristics, prevalence, and outcomes of diabetic foot ulcers in Africa. A systemic review and meta- analysis’, Diabetes Research and Clinical Practice. Elsevier B.V.

Salimi, P., Hamedi, M., Jamshidi, N., 2017, ‘Investigating the effect of external trauma through a dynamic system modeling approach for clustering causality in diabetic foot ulcer development’, Medical Hypotheses. Elsevier Ltd, 101, pp. 37–43.

Singer, A. J., Tassiopoulos, A., Kirsner, R. S., 2017, ‘Evaluation and Management of Lower-Extremity Ulcers’, New England Journal of Medicine, 377(16), pp. 1559–1567.

Sohrabi, S., Russell, D., 2017, ‘Diabetic foot and foot debridement technique’, Surgery (United Kingdom). Elsevier Ltd, 35(9), pp. 500–504

(46)

Tendera, M. et al,. 2011, ‘ESC Guidelines on the diagnosis and treatment of peripheral artery diseases’, European Heart Journal, 32(22), pp. 2851–

2906.

Wheble, G. A. C., Emam, A. T., Khan, U. M., 2019, ‘Limb salvage in diabetic foot disease: A classification to aid successful reconstruction’, Journal of Plastic, Reconstructive and Aesthetic Surgery. Elsevier Ltd.

Yazdanpanah, L., 2015, ‘Literature review on the management of diabetic foot ulcer’, World Journal of Diabetes, 6(1), p. 37.

Yazdanpanah, L., Shahbazian, H., Nazari, I., Hesam, S., Ahmadi, F., Cheraghian, B., Arti, H. R., Mohammadianinejad, S. E., 2018, ‘Risk factors associated with diabetic foot ulcer-free survival in patients with diabetes’, Diabetes and Metabolic Syndrome: Clinical Research and Reviews. Diabetes India, 12(6), pp. 1039–1043.

Yusuf, S. et al., 2016, ‘Prevalence and Risk Factor of Diabetic Foot Ulcers in a Regional Hospital, Eastern Indonesia’, Open Journal of Nursing, 06(01), pp.

1–102.

Zhang, P. et al., 2017, ‘Global epidemiology of diabetic foot ulceration: a systematic review and meta-analysis’, Annals of Medicine, 49(2), pp. 106–

116.

Zubair, M. and Ahmad, J., 2019, ‘Diabetes & Metabolic Syndrome : Clinical Research & Reviews Potential risk factors and outcomes of infection with multidrug resistance among diabetic patients having ulcers : 7 years study’, Diabetes & Metabolic Syndrome: Clinical Research & Reviews. Elsevier Ltd, 13(1), pp. 414–418.

(47)

35

LAMPIRAN A

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Baginda Pascal Agung Hamonangan Manik

NIM : 160100114

Tempat / Tanggal Lahir : Kupang, 11 April 1998

Agama : Kristen Protestan

Nama Ayah : Azwil Sandy Manik, SE, MM

Nama Ibu : Emma Martha Fine Simanjuntak, SKM, MM, Msc.PH Alamat : Jl. Bakti Warga No. 10, Kupang - NTT

Riwayat Pendidikan : 1. Taman Kanak-Kanak Maria Goretti Kupang (2002-2004)

2. Sekolah Dasar Katolik Don Bosco 4 Kupang (2004-2010)

3. Sekolah Menengah Pertama Swasta Nusa Cendana International Plus School Kupang (2010-2013)

4. Sekolah Menengah Atas Taruna Nusantara Magelang (2013- 2016)

5. Program Studi Pendidikan Dokter S1 Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara (2016- sekarang)

Riwayat Pelatihan : 1. Pengenalan Kehidupan Kampus Mahasiswa Baru Fakultas Kedokteran USU Tahun 2016

2. Balut Bidai TBM PEMA FK USU 2016

3. Seminar dan Workshop Sirkumsisi SCORA PEMA FK USU 2017

Riwayat Organisasi : -

(48)

LAMPIRAN B

(49)

37

LAMPIRAN C

(50)

LAMPIRAN D

(51)

39

LAMPIRAN E

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Penelitian yang dilakukan adalah deskriptif dengan menggunakan desain cross-sectional yang mengambil data sekunder dari rekam medis pasien di mana menggambarkan

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan desain penelitian potong lintang (cross-sectional) terhadap 68 Ibu yang mempunyai anak usia kurang dari 5 tahun di RSUP

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan desain cross-sectional retrospektif, di mana peneliti akan mendeskripsikan angka kejadian

Metode:Penelitian ini adalah penelitian deskriptif retrospektif dengan desain cross sectional menggunakan data rekam medik seluruh penderita kista ovarium jinak yang

Penelitian ini merupakan penelitian analitik kuantitatif dengan menggunakan desain penelitian potong lintang (cross sectional) dimana data diambil hanya sekali bagi

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian survei analitik dengan desain cross-sectional study di RSUP Haji Adam Malik dengan jumlah sampel

Bahan dan metode: Penelitian ini adalah merupakan penelitian deskriptif observasional dengan rancangan potong lintang (cross sectional) terhadap 32 orang anak pasien

Desain penelitian yang digunakan adalah jenis deskriptif asosiasi dengan pendekatan yang digunakan adalah Cross Sectional atau potong lintang., karena didasarkan pada