• Tidak ada hasil yang ditemukan

SKRIPSI. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SKRIPSI. Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau"

Copied!
107
0
0

Teks penuh

(1)

PROFIL TINGKAT KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA IPA BERDASARKAN GENDER PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN KELAS VIII MTs HASANAH PEKANBARU TAHUN

AJARAN 2020/2021

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Pada Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Universitas IslamRiau

OLEH:

SITI HUZAIMAH NPM 166510335

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS ISLAM RIAU PEKANBARU

2020

(2)

Profil Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Sis wa IPA berdasarkan Gender pada Materi Pencemaran Lingkungan Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru

Tahun Ajaran 2020/2021 SITI HUZAIMAH

166510335

Skripsi. Program Pendidikan Biologi. FKIP Universitas Islam Riau Pembimbing Utama: Dra. Suryanti, M.Si

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil tingkat kemampuan berpikir kritis siswa IPA berdasarkan perspektif gender dalam menyelesaikan masalah pada soal ulangan harian materi pencemaran lingkungan tingkat MTs dalam bentuk penelitian deskriptif. Instrumen yang digunakan adalah soal berpikir kritis pada materi pencemaran lingkungan yang dibuat dengan mengacu kepada bahan ajar kurikulum 2016 revisi dan wawancara. Penelitian ini menggunakan sampel jenuh yang mencakup seluruh anggota kelas VIII1, VIII2, VIII3, dan VIII4 MTs Hasanah Pekanbaru sebanyak 109 siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kemampuan berpikir kritis siswa laki-laki termasuk kedalam kategori kurang kritis dengan persentase sebesar 55% dan kemampuan berpikir kritis siswa perempuan termasuk dalam kategori kurang kritis dengan persentase sebesar 58%. Persentase kemampuan berpikir kritis teringgi pada siswa laki-laki berada pada indikator kejelasan dengan persentase sebesar 77,2% berada pada kategori kritis. Sedangkan persentase kemampuan berpikir kritis siswa laki-laki terendah berada pada indikator fokus dengan persentase sebesar 41,9% berada pada kategori sangat kurang kritis. Sementara itu, persentase kemampuan berpikir kritis siswa perempuan tertinggi juga berada pada indiator kejelasan dengan persentase sebesar 74,1% berada pada kategori kritis. Sedangkan persentase kemampuan berpikir kritis siswa perempuan terendah berada pada indikator kesimpulan dengan persentase sebesar 47,4% termasuk dalam kategori kurang kritis. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa siswa MTs Hasanah Pekanbaru Tahun ajaran 2020/2021 memiliki kemampuan berpikir kritis dalam kategori kurang tinggi.

Kata kunci: Berpikir Kritis, Gender

(3)

Profile of Science Students' Critical Thinking Ability based on Gender in Environmental Pollution Material Class VIII MTs Hasanah Pekanbaru

Academic Year 2020/2021 SITI HUZAIMAH

166510335

A Thesis. Biology Education. Training and Education Faculty, Riau Islamic University

Main Advisor: Dra. Suryanti, M.Si ABSTRACT

This study aims to determine the profile of the level of critical thinking skills of science students based on a gender perspective in solving problems in the daily test questions on environmental pollution material at the MTs level in the form of descriptive research. The instrument used was a matter of critical thinking on environmental pollution material made with reference to the 2016 revised curriculum teaching materials and interviews. This study used a saturated sample that included all 109 students of class VIII1, VIII2, VIII3, and VIII4 of MTs Hasanah Pekanbaru. The results showed that the critical thinking ability of male students was included in the less critical category with a percentage of 55% and the critical thinking ability of female students was included in the less critical category with a percentage of 58%. The highest percentage of male students' critical thinking skills is in the clarity indicator with a percentage of 77.2% in the critical category. Meanwhile, the lowest percentage of male students' critical thinking skills was on the focus indicator with a percentage of 41.9% being in the very less critical category. Meanwhile, the highest percentage of female students' critical thinking skills was also in the clarity indicator with a percentage of 74.1%

being in the critical category. Meanwhile, the lowest percentage of female students' critical thinking skills was at the conclusion indicator with a percentage of 47.4% including the less critical category. From the results of this study it can be concluded that students of MTs Hasanah Pekanbaru in the academic year 2020/2021 have critical thinking skills in the low category.

Keywords: Critical Thinking, Gender

(4)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji syukur penulis ucapkan atas nikmat dan karunia Allah SWT yang Maha Pengasih dan Penyayang, yang memungkinkan penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Profil Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan Gender pada Materi Pencemaran Lingkungan Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021”. Adapun tujuan dari pembuatan skripsi ini adalah untuk memenuhi salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan S1 pada Program Studi Pendidikan Biologi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan dengan setulus hati yang sedalam-dalamnya dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Ibu Dra.

Suryanti, M.Si, selaku pembimbing utama yang telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing dan memberikan arahan kepada penulis demi kesempurnaan penyelesaian skripsi ini. Selama menyelesaikan skripsi ini penulis memperoleh berbagai bantuan dan dukungan yang sangat berharga dari semua pihak. Penulis ingin menyampaikan penghargaan, rasa hormat, dan terimakasih setulus-tulusnya kepada bapak Prof. Dr. Syafrinaldi, S.H., M.C.L.

selaku Rektor Universitas Islam Riau, Ibu Dr. Sri Amnah, Msi. selaku Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Universitas Islam Riau, Ibu Dra. Hj. Tity Hastuti, M.Pd. selaku Wakil Dekan 1 bidang Akademik Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Riau.

Kemudian kepada dosen Program Studi Pendidikan Bioligi Ibu Dr. Evi Suryanti, M.Sc. selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi, dan Ibu Mellisa, M.P. selaku Sekretaris Program Studi Pendidikan Biologi, Ibu Dr. Siti Robiah, M.Si. sebagai Penasehat Akademik (PA), serta Bapak dan Ibu dosen FKIP UIR khususnya dosen Program Studi Pendidikan Biologi yang telah memberikan ilmu pengetahuan dan pengalaman-pengalamannya selama penulis mengikuti

(5)

perkuliahan, karyawan dan staf Tata Usaha FKIP UIR yang telah memberikan bantuannya.

Terima kasih kepada Siswa Kelas VIII1, VIII2, VIII3, VIII4 dan Guru IPA di MTs Hasanah Pekanbaru yang telah memberikan banyak bantuan selama penulis melakukan penelitian. Terimakasih buat keluarga tercinta terutama ayahanda Abidin (Alm) dan ibunda Abdah (Alm) yang telah menjadi orang tua paling sempurna dan terbaik untuk penulis, berkat merekalah penulis berada pada tahap ini, dan untuk Adinda Suryani, Adinda Aufa Khairunnisa, dan Adinda Wisnu Wicaksono yang selalu memberikan doa, dukungan, motivasi dan semangat kepada penulis baik secara moril dan materi serta mencurahkan seluruh kasih sayang dengan tulus dan ikhlas yang tiada hentinya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini. Terima kasih juga kepada seluruh keluarga besar yang lainnya.

Kepada teman sekaligus musuhku Juriansah dan teman-teman seperjuanganku Ana Deni Yulia, Nurul Jannah S.Pd, Fathiyah Nurul Haq S.Pd, Nursyahrani Lasmana S.Pd, Resi Oktafia S.Pd, Yuli alvita, Selsi Sartika S.AP, Dhilla Ananda S.Pd, Lala Karmila, Kelly Risdianti, Weni Nurmalita, Dwi Ayu Andini, Nia Kurniati, Felia Natasya, Nadhea Anggraini, Titik Afriani, Krisma Pratiwi, dan kakak tingkat ku kak Felia Oktadiyanti, S.Pd serta seluruh teman seperjuangan Biologi 2016 lainnya, terkhusus kelas B Biologi 2016 yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Terimakasih atas bantuan, semangat, perhatian, serta kasih sayang yang kalian berikan kepada penulis.

Penulis skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, oleh karena itu dengan kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari pembaca. Semoga skripsi ini bermanfaat dan menjadi salah satu alternatif dalam pembangunan dunia pendidikan.

Pekanbaru, Januari 2021

Penulis

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... iii

DAFTAR ISI ... v

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 3

1.3 Pembatasan Masalah ... 4

1.4 Perumusan Masalah ... 4

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 4

1.6 Penjelasan Istilah Judul ... 5

BAB 2 TINJAUAN TEORI 2.1 Hakikat Profil ... 6

2.2 Kemampuan Berpikir Kritis ... 6

2.2.1 Definisi Berpikir Kritis ... 7

2.2.2 Ciri-Ciri Berpikir Kritis ... 8

2.2.3 Tujuan Berpikir Kritis ... 8

2.2.4 Indikator Berpikir Kritis ... 9

2.2.5 Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis ... 11

2.2.6 Interpretasi Kategori Kemampuan Berpikir Kritis ... 12

2.2.7 Dampak Positif Berpikir Kritis ... 12

2.2.8 Langkah-Langkah Berpikir Kritis ... 12

2.2.9 Pentingnya Berpikir Kritis dalam Berpikir Kritis ... 13

2.2.10 Standar Intelektual Berpikir Kritis ... 14

2.2.11 Dasar Pemikiran Kritis ... 15

2.3 Gender ... 15

(7)

2.3.1 Pengertian Gender ... 15

2.3.2 Perbedaan-Perbedaan Kemampuan berdasarkan Gender ... 16

2.3.3 Integrasi Gender pada Satuan Pendidikan ... 16

2.3.4 Gender dalam Sarana dan Prasarana di Sekolah ... 17

2.4 Penelitian yang Relevan ... 17

BAB 3 METODE PENELITIAN 3.1 Tempat dan Waktu ... 21

3.2 Jenis Penelitian ... 21

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian ... 21

3.3.1 Populasi Penelitian ... 21

3.3.2 Sampel Penelitian ... 22

3.3.3 Prosedur Penelitian ... 23

3.4 Data Penelitian ... 23

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 24

3.6 Instrumen Penelitian ... 26

3.7 Validasi Instrumen ... 27

3.8 Uji Reabilitas ... 28

3.9 Teknik Analisis Data ... 29

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian ... 31

4.1.1 Gambaran Umum Penelitian ... 31

4.2 Persiapan Penelitian ... 32

4.3 Pelaksanaan Penelitian ... 32

4.4 Analisis Penelitian ... 33

(8)

4.4.1 Deskriptif Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan Gender Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru

... 33

4.4.2 Deskriptif Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan berdasarkan Indikator ... 35

4.4.2.1 Indikator Fokus ... 41

4.4.2.2 Indikator Argumen ... 44

4.4.2.3 Indikator Kesimpulan ... 46

4.4.2.4 Indikator Situasi ... 48

4.4.2.5 Indikator Kejelasan ... 51

4.4.2.6 Indikator Tinjauan Lanjut ... 53

4.4.3 Persentase Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan ... 56

4.5 Pembahasan Hasil Penelitian ... 67

4.5.1 Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan ... 67

4.5.1.1 Indikator Fokus pada Siswa Laki-Laki ... 67

4.5.1.2 Indikator Fokus pada Siswa Perempuan ... 69

4.5.1.3 Indikator Argumen pada Siswa Laki-Laki ... 70

4.5.1.4 Indikator Argumen pada Siswa Perempuan ... 71

4.5.1.5 Indikator Kesimpulan pada Siswa Laki-Laki ... 72

4.5.1.6 Indikator Kesimpulan pada Siswa Perempuan ... 73

4.5.1.7 Indikator Situasi pada Siswa Laki-Laki ... 74

4.5.1.8 Indikator Situasi pada Siswa Perempuan ... 75

4.5.1.9 Indikator Kejelasan pada Siswa Laki-Laki ... 77

4.5.10 Indikator Kejelasan pada Siswa Perempuan ... 78

4.5.11 Indikator Tinjauan Lanjut pada Siswa Laki-Laki ... 79

4.5.12 Indikator Tinjauan Lanjut pada Siswa Perempuan ... 80

(9)

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan ... 86 5.2 Saran ... 86 DAFTAR PUSTAKA ... 88

(10)

DAFTAR TABEL

No Tabel Judul Tabel Halaman

Tabel 1 Indikator Kemampuan Berpikir Kritis ... 9

Tabel 2 Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis ... 11

Tabel 3 Interpretasi Kategori Kemampuan Berpikir Kritis ... 12

Tabel 4 Populasi Siswa Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru ... 22

Tabel 5 Sampel Penelitian Seluruh Siswa Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru ... 22

Tabel 6 Kisi-Kisi Instrumen Berpikir Kritis Sebelum Uji Validasi dan Uji Reabilitas ... 25

Tabel 7 Kisi-Kisi Instrumen Berpikir Kritis Setelah Uji Validasi dan Uji Reabilitas ... 25

Tabel 8 Daftar Nama Validator Beserta Bidangnya... 28

Tabel 9 Kriteria Tingkat Keterampilan Siswa Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru ... 30

Tabel 10 Persentase Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-laki Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru ... 33

Tabel 11 Persentase Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Perempuan Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru ... 34

Tabel 12 Rekapitulasi Kemampuan Berpikir Kritis berdasarkan Indikator Siswa Laki-Laki Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 ... 36

Tabel 13 Rekapitulasi Kemampuan Berpikir Kritis berdasarkan Indikator Siswa Perempuan Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 ... 38

Tabel 14 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa Laki-Laki Kategori Fokus pada materi Pencemaran Lingkungan... 41

Tabel 15 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa Perempuan Kategori Fokus pada materi Pencemaran Lingkungan... 42

Tabel 16 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa Laki-Laki Kategori Argumen pada materi Pencemaran Lingkungan ... 44

(11)

Tabel 17 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Perempuan Kategori Argumen pada materi Pencemaran Lingkungan ... 44 Tabel 18 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Laki-Laki Kategori Kesimpulan pada materi Pencemaran

Lingkungan ... 46 Tabel 19 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Perempuan Kategori Kesimpulan pada materi Pencemaran

Lingkungan ... 46 Tabel 20 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Laki-Laki Kategori Situasi pada materi Pencemaran Lingkungan ... 48 Tabel 21 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Perempuan Kategori Situasi pada materi Pencemaran Lingkungan ... 49 Tabel 22 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Laki-Laki Kategori Kejelasan pada materi Pencemaran Lingkungan... 51 Tabel 23 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Perempuan Kategori Kejelasan pada materi Pencemaran Lingkungan... 51 Tabel 24 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Laki-Laki Kategori Tinjauan Lanjut pada materi Pencemaran

Lingkungan ... 53 Tabel 25 Persentase Skor berdasarkan Indikator Berpikir Kritis pada Siswa

Perempuan Kategori Tinjauan Lanjut pada materi Pencemaran

Lingkungan ... 54 Tabel 26 Persentase Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Per Item Soal Siswa

Laki-Laki di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 ... 56 Tabel 27 Persentase Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Per Item Soal Siswa

Perempuan di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 ... 58

(12)

DAFTAR GAMBAR

No Gambar Judul Gambar Halaman Gambar 1 Grafik Persentase Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki dan

Siswa Perempuan ... 35 Gambar 2 Rekapitulasi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki dan Siswa

Perempuan Kelas VIII di MTs Hasanah Pekanbaru berdasarkan

Indikator ... 40 Gambar 3 Grafik Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki

dan Siswa Perempuan berdasarkan Indikator Fokus pada Materi Pencemaran Lingkungan di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran

2020/2021 ... 43 Gambar 4 Grafik Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki

dan Siswa Perempuan berdasarkan Indikator Argumen pada Materi Pencemaran Lingkungan di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran

2020/2021 ... 45 Gambar 5 Grafik Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki

dan Siswa Perempuan berdasarkan Indikator Kesimpulan pada Materi Pencemaran Lingkungan di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun

Ajaran 2020/2021... 48 Gambar 6 Grafik Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki

dan Siswa Perempuan berdasarkan Indikator Situasi pada Materi Pencemaran Lingkungan di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran

2020/2021 ... 50 Gambar 7 Grafik Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki

dan Siswa Perempuan berdasarkan Indikator Kejelasan pada Materi Pencemaran Lingkungan di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran

2020/2021... ... 52 Gambar 8 Grafik Perbandingan Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Laki-Laki

dan Siswa Perempuan berdasarkan Indikator Tinjauan Lanjut pada Materi Pencemaran Lingkungan di MTs Hasanah Pekanbaru Tahun

Ajaran 2020/2021... 55 Gambar 9 Grafik Perbandingan Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Per Item

Soal pada Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan di MTs Hasanah

Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 (Skor 4) ... 60

(13)

Gambar 10 Grafik Perbandingan Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Per Item Soal pada Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan di MTs Hasanah

Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 (Skor 2) ... 62 Gambar 11 Grafik Perbandingan Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Per Item

Soal pada Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan di MTs Hasanah

Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 (Skor 1) ... 64 Gambar 12 Grafik Perbandingan Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Per Item

Soal pada Siswa Laki-Laki dan Siswa Perempuan di MTs Hasanah

Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 (Skor 0) ... 66

(14)

DAFTAR LAMPIRAN

No Lampiran Judul Lampiran Halaman

Lampiran 1 Perencanaan Jadwal Penelitian ... 93

Lampiran 2 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ... 94

Lampiran 3 Kisi-Kisi Instrumen (Uji Empiris) ... 112

Lampiran 4 Kisi-Kisi Instrumen Soal Berpikir Kritis untuk Penelitian ... 132

Lampiran 5 Surat keterangan Validasi Instrumen (1) ... 149

Lampiran 6 Surat Keterangan Validasi Instrumen (2) ... 151

Lampiran 7 Instrumen Uji Validasi Ahli Evaluasi (Validasi Pertama) ... 153

Lampiran 8 Instrumen Uji Validasi Ahli Materi (Validasi Pertama) ... 167

Lampiran 9 Instrumen Uji Validasi Ahli Evaluasi (Validasi Kedua) ... 181

Lampiran 10 Instrumen Uji Validasi Ahli Materi (Validasi Kedua) ... 195

Lampiran 11 Instrumen Uji Validasi Ahli Evaluasi (Validasi Ketiga) ... 219

Lampiran 12 Soal Berpikir Kritis (Uji Coba) ... 245

Lampiran 13 Soal Berpikir Kritis (Penelitian) ... 258

Lampiran 14 Data untuk Uji Validitas dan Uji Reabilitas ... 269

Lampiran 15 Uji Validitas ... 270

Lampiran 16 Uji Reabilitas ... 284

Lampiran 17 Analisis Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA Gender (Laki-Laki) pada Materi Pencemaran Lingkungan Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru TA 2020/2021 ... 285

Lampiran 18 Analisis Skor Tes Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA Gender (Perempuan) pada Materi Pencemaran Lingkungan Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru TA 2020/2021 ... 286

Lampiran 19 Nilai Persentase Skor Tes Berpikir Kritis Siswa Gender (Laki-Laki) Per Item Soal ... 287

Lampiran 20 Nilai Persentase Skor Tes Berpikir Kritis Siswa Gender (Perempuan) Per Item Soal ... 288

(15)

Lampiran 21 Analisis Statistik Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan Gender (Laki-Laki) Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru TA

2020/2021 ... 289 Lampiran 22 Analisis Statistik Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan

Gender (Perempuan) Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru TA

2020/2021 ... 290 Lampiran 23 Deskripsi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan Gender

(Laki-Laki) Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru TA 2020/2021 ... 291 Lampiran 24 Deskripsi Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan Gender

(Perempuan) Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru TA 2020/2021 ... 292 Lampiran 25 Rubrik Skor dan Kunci Jawaban Soal Pencemaran Lingkungan ... 293 Lampiran 26 Hasil Wawancara Guru Bidang Studi IPA MTs Hasanah Pekanbaru

TA 20202021 ... 299 Lampiran 27 Hasil Wawancar Siswa Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru TA

2020/2021 ... 301 Lampiran 28 Dokumentasi ... 317

(16)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang

Salah satu topik yang menjadi pokok yang sering dibahas dalam sebuah penelitian didalam dunia pendidikan adalah masalah kemajemukan siswa disekolah. Kemajemukan yang tampak jelas adalah perbedaan secara fisik.

Biasanya anak laki-laki memiliki fisik yang lebih besar dan kuat serta lebih unggul dalam hal keterampilan spasial jika dibandingkan dengan anak perempuan meskipun hampir semua anak perempuan matang lebih cepat daripada anak laki- laki. Meskipun demikian, anak laki-laki sering mengalami masalah dalam hal berbahasa, sehingga anak perempuan dinyatakan lebih unggul dalam hal kemampuan verbal. Perbedaan ini sangat berpengaruh pada motivasi belajar siswa (Pambudiono, Siti, dan Susriyati, 2018: 448-449).

Belajar berarti membentuk makna, yang berarti hasil bentukan siswa sendiri yang bersumber dari apa yang siswa lihat, rasakan, dan alami serta hasil dari proses belajar itu dipengaruhi oleh pengalaman siswa tentang lingkungannya yang tergantung pada apa yang telah diketahui, baik berkenaan dengan pengertian, konsep, formula, dan sebagainya (Aunurrahman, 2012: 19).

Proses belajar yang sebenarnya terjadi ketika skema pemikiran seseorang dalam keraguan yang menstimulirkan pemikiran-pemikiran lebih lanjut yang dalam situasi tertentu mengandung keraguan-keraguan tersebut memiliki unsur positif untuk mendorong siswa belajar. Selanjutnya menurut Sanjaya, Andi, (2017: 109), menyatakan bahwa dalam proses pembelajaran, persoalan merancang strategi yang cocok dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan, merupakan persoalan tersendiri yang tidak mudah untuk dilakukan (Aunurrahman, 2012: 19).

Kemampuan berpikir kritis sangat penting dalam proses pembelajaran karena dapat melatih siswa untuk membuat keputusan dari berbagai sudut pandang secara cermat, teliti, dan logis. Jika kemampuan berpikir kritis di tanamkan dan dikembangkan pada diri siswa, maka akan terbentuk sumber daya manusia yang cerdas berpikir dan kritis dalam menyelesaikan masalah. Sehingga dengan

(17)

memiliki kemampuan berpikir secara kritis siswa mampu menjadi generasi yang tanggap terhadap perubahan yang terjadi pada lingkungan maupun negaranya (Sulistiyawati dan Cici, 2017: 129).

Gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari sudut non- biologis yang berbeda pengertian dengan sex yang secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah sex lebih banyak berkonsentrasi pada aspek biologis seseorang yang meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi dan karakteristik biologis lainnya. Sementara itu, gender lebih banyak berkonsentrasi pada aspek sosial, budaya, psikologis dan aspek-aspek non-biologis lainnya.

Studi gender lebih menekankan perkembangan maskulinitas (masculinity/rujuliyah) atau feminitas (feminity/nisa’iyyah) seseorang. Sedangkan studi sex lebih menekankan perkembangan aspek biologis dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness/dzukurah) dan perempuan (femaleness/unutsah) (Arbain, Nur Azizah, Ika, 2015: 75-76).

Hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan dengan guru IPA kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru, di peroleh bahwa soal-soal yang diberikan kurang melatih keterampilan berpikir kritis peserta didik, pembelajaran IPA yang ada di MTs Hasanah masih dilakukan secara teoritis sehingga kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa, keantusiasan siswa dalam menjawab pertanyaan dari guru masih terbatas secara teori, umumnya hasil belajar siswa perempuan cenderung lebih baik dibandingkan siswa laki-laki, siswa perempuan lebih bersemangat mengikuti pembelajaran jika dibandingan dengan siswa laki-laki, hasil belajar siswa sebagian rendah dan tidak tuntas dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan yaitu 75.

Dari permasalahan diatas, perlu dilakukan pengujian tingkat kemampuan berpikir kritis siswa di MTs Hasanah Pekanbaru karena disekolah tersebut sudah pernah diterapkan soal berpikir kritis meskipun tidak diterapkan pada semua materi pelajaran. Sehingga peneliti dapat menguji tingkat kemampuan berpikir kritis siswa di sekolah tersebut.

(18)

Penelitian terdahulu yang sama dengan penelitian ini adalah penelitian yang dilakukan oleh Mawaddah, Ahmad, M. Duskri, (2018), yang meneliti tentang Perbedaan Keterampilan Berpikir Kritis berdasarkan Perbedaan Jenis Kelamin Matematis Siswa Sekolah Menengah, mengungkapkan bahwa Menurut hasil dari uji indikator analisis keterampilan berpikir kritis, siswa laki-laki dan perempuan bisa menentukan pertanyaan dengan benar dan memeriksa hasil dari masalah, namun kedua subjek laki-laki tidak dapat menggunakan strategi yang tepat untuk memecahkan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa perempuan bisa memecahkan masalah dengan baik.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka perlu di lakukan penelitian.

Hasil penelitian ini di harapkan mampu melatih kemampuan berpikir peserta didik. Untuk mengetahui sejauh mana kemampuan berpikir kritis peserta didik, maka penulis melakukan penelitian dengan judul “Profil Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan Gender pada Materi Pencemaran Lingkungan Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021”.

1.2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang, adapun identifikasi masalah dari penelitian ini, sebagai berikut:

1) Soal-soal yang diberikan kurang melatih keterampilan berpikir kritis peserta didik.

2) Pembelajaran IPA yang ada di MTs Hasanah masih dilakukan secara teoritis sehingga kurang mengembangkan kemampuan berpikir kritis siswa.

3) Keantusiasan siswa dalam menjawab pertanyan dari guru masih terbatas secara teori.

4) Umumnya hasil belajar siswa perempuan cenderung lebih baik dibandingkan siswa laki-laki.

5) Siswa perempuan lebih bersemangat mengikuti pembelajaran jika dibandingan dengan siswa laki-laki.

6) Hasil belajar siswa sebagian rendah dan tidak tuntas dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM) yang ditentukan yaitu 75.

(19)

1.3. Pembatasan Masalah

Agar penelitian ini mempunyai arah yang jelas dan pasti maka perlu diberikan batasan masalah. Batasan masalah dalam penelitian ini dibatasi pada siswa Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021 dengan materi semester genap untuk kelas VII pada Kompetensi Dasar 3.8, yaitu:

Menganalisis terjadinya pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi ekosistem.

Pada penelitian ini hanya diambil pada aspek pengetahuan saja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil tingkat kemampuan berpikir kritis siswa IPA berdasarkan gender pada materi pencemaran lingkungan dan dampaknya bagi ekosistem.

1.4. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dan identifikasi masalah, rumusan masalah pada penelitian ini adalah Bagaimanakah Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Siswa IPA berdasarkan Gender pada Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021?

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis siswa IPA berdasarkan gender pada Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021.

Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi :

1) Peserta didik; diharapkan dapat melatih peserta didik untuk berpikir kritis jika di berikan soal yang berhubungan dengan kemampuan berpikir kritis sehingga peserta didik dapat mengerjakan soal tersebut dengan baik.

2) Guru; untuk dijadikan pedoman dan panduan bagi pendidik untuk melatih kemampuan berpikir kritis peserta didik.

3) Sekolah; menjadi bahan referensi bagi sekolah untuk dapat memperbaiki proses pembelajaran agar dapat menghasilkan peserta didik yang memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi.

(20)

4) Peneliti lain; dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan penambahan wawasan untuk melakukan pengembangan dan pembaharuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir peserta didik.

1.6. Penjelasan Istilah Judul

Untuk menghindari kesalahan pemahaman terhadap judul penelitian ini, maka definisi istilah judul penelitian ini sebagai berikut:

Berpikir kritis adalah berpikir di luar kotak (kreativitas), menghasilkan ide segar (originalitas), serta kepedulian terhadap masalah- masalah sosial (sensitivitas) (Sulaiman dan Nandy, 2018: 88). Berpikir kritis juga dapat di artikan sebagai berpikir rasional tentang sesuatu, kemudian mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang sesuatu tersebut yang meliputi metode-metode pemeriksaan atau penalaran yang akan digunakan untuk mengambil suatu keputusan atau melakukan suatu tindakan (Sulistiani dan Masrukan, 2016: 608).

Gender adalah pembedaan antara laki-laki dengan perempuan berdasarkan ciri-ciri sosial dan budaya yang sebenarnya dapat dipertukarkan, karena diperoleh melalui proses belajar. Misalnya, perempuan itu secara umum dikenal lemah, lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara itu, laki-laki memiliki sifat kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sementara itu, banyak laki-laki yang emosional dan lemah lemut (Fatimah dan Wirdanengsih, 2014: 57).

(21)

BAB II TINJAUAN TEORI

2.1. Hakikat Profil

Profil adalah pandangan sisi, garis, besar, atau biografi dari diri seseorang atau kelompok yang memiliki usia sama atau dapat juga diartikan sebagai grafik, diagram, atau tulisan yang menjelaskan suatu keadaan yang mengacu pada data seseorang atau sesuatu (Mulyani, (2009) dalam Wati, (2017: 9)). Sedang menurut Hasan Alwi dalam Mulyani (2009) dalam Wati (2017: 9) profil adalah pandangan mengenai seseorang. Setelah dilihat dan dipahami mengenai berbagai pengertian dan pendapat tentang profil yang diungkapkan oleh para ahli dapat dimengerti bahwa pendapat-pendapat tersebut tidak jauh berbeda bahwa profil adalah suatu gambaran secara garis besar tergantung dari segi mana memandangnya. Dari segi seni profil dapat diartikan sebagai gambaran atau sketsa tampang atau wajah seseorang yang dilihat dari samping. Sedangkan bila dilihat dari segi statistik profil adalah sekumpulan data yang menjelaskan sesuatu dalam bentuk grafik dan tabel (Mulyani: 2009) dalam Wati, (2017: 9)). Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan profil adalah gambaran bagaimana tingkat kemampuan siswa IPA Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru dalam hal berpikir kritisnya ditinjau dari segi gender.

2.2. Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis menjadi penting dalam proses pembelajaran karena dapat melatih siswa untuk membuat keputusan dari berbagai sudut pandang secara cermat, teliti, dan logis. Jika kemampuan berpikir kritis ditanamkan dan dikembangkan pada diri siswa, maka akan terbentuk sumber daya manusia yang cerdas dalam berpikir dan kritis dalammenyelesaikan masalah.

Oleh karena itu proses pembelajaran di sekolah termasuk dalam pembelajaran Biologi, sebaiknya melatih siswa untuk menggali kemampuan dan keterampilan dalam mencari, mengolah, dan menilai berbagai informasi secara kritis (Sari, (2012) dalam Sulistiyawati, Cici, (2017: 129)).

(22)

Kemampuan berpikir kritis adalah kemampuan berpikir evaluatif yang memperlihatkan kemampuan manusia dalam melihat kesenjangan antara kenyataan dan kebenaran dengan mengacu kepada hal-hal ideal, serta mampu menganalisis dan mengevaluasi serta mampu membuat tahapan-tahapan pemecahan masalah, mampu menerapkan bahan-bahan yang telah dipelajari dalam bentuk perilaku sehari-hari baik di sekolah, di rumah maupun dalam kehidupan bermasyarakat sesuai dengan norma- norma yang berlaku (Rachmadtullah, 2015: 289).

2.2.1. Definisi Berpikir Kritis

Berpikir kritis adalah berpikir di luar kotak (kreativitas), menghasilkan ide segar (originalitas), serta kepedulian terhadap masalah- masalah sosial (sensitivitas) (Sulaiman dan Nandy, 2018: 88). Menurut DePorter dan Hernacki, (1999) dalam (Maulana, 2017: 5) Berpikir kritis adalah berlatih atau memasukkan penilaian atau evaluasi yang cermat, seperti menilai kelayakan suatu gagasan atau produk. Selanjutnya menurut Supriyati, Octaviana, Dwi, Lintang, dan Baskoro (2018: 75) menyatakan bahwa Berpikir kritis diartikan sebagai “proses aktif” dan

“cara berpikir secara teratur atau sistematis” untuk memahami informasi atau persoalan secara mendalam, sehingga membentuk keyakinan dalam kebenaran informasi yang didapat atau pendapat yang disampaikan. Kemudian lebih lanjut Sulistiani, Masrukan, (2016: 608), menyatakan bahwa Berpikir kritis juga dapat di artikan sebagai berpikir rasional tentang sesuatu, kemudian mengumpulkan informasi sebanyak mungkin tentang sesuatu tersebut yang meliputi metode- metode pemeriksaan atau penalaran yang akan digunakan untuk mengambil suatu keputusan atau melakukan suatu tindakan.

Keterampilan berpikir kritis juga menggambarkan keterampilan lainnya seperti keterampilan komunikasi dan informasi, serta kemampuan untuk memeriksa, menganalisis, menafsirkan, dan mengevaluasi bukti (Zubaidah, 2016:

3). Kemudian menurut Amalia dan Emi, (2016: 525) yang menyatakan bahwa berpikir kritis merupakan proses berpikir yang berlandaskan menyimpulkan dan menyelesaikan masalah, dimana aplikasi dalam pembelajaran matematika

(23)

berpikir kritis dalam menyelesaikan masalah berarti siswa paham konsep mana yang digunakan untuk menyelesaikan masalah dengan alasan dan pemikiran.

Selanjutnya Alatas, (2014: 89) menyatakan bahwa berpikir kritis meliputi pemeriksaan struktur, atau, asumsi, konsep, pengujian, pembuktian emprikal, nalar, implikasi, juga penolakan dari titik alternatif dan kerangka acuan tertentu.

Kemudian unsur pemikiran yang implisit dalam semua proses penalaran baik tujuan, persoalan menurut Lismaya, (2019: 8), berpikir kritis adalah sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis, dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh dari observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran, atau komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan.

2.1.1. Ciri-Ciri Berpikir Kritis

Seseorang yang berpikir kritis menurut Masrukan, (2016:608) memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Mampu berpikir secara rasional dalam menyikapi suatu permasalahan.

2) Mampu membuat keputusan yang tepat dalam menyelesaikan masalah.

3) Dapat melakukan analisis, mengorganisasi, dan menggali informasi berdasarkan fakta yang ada.

4) Mampu menarik kesimpulan dalam menyelesaikan masalah dan dapat menyusun argumen dengan benar dan sistematik.

2.2.3. Tujuan Berpikir Kritis

Adapun tujuan berpikir kritis menurut Swartz dan Perkins (Hassnubah, (2004) dalam (Maulana, 2017: 5)), sebagai berikut:

1) Bertujuan untuk mencapai penilaian yang kritis terhadap apa yang akan kita lakukan dengan alasan yang logis.

2) Memakai standar penilaian sebagai hasil dari berpikir kritis dalam membuat keputusan.

3) Menerapkan berbagai strategi yang tersusun dan memberikan alasan untuk menentukan dan menerapkan standar tersebut.

(24)

4) Mencari dan menghimpun informasi yang dapat dipercaya untuk dipakai sebagai bukti yang dapat mendukung suatu penilaian.

2.1.1. Indikator Berpikir Kritis

Adapun Indikator berpikir kritis yang telah dipaparkan oleh Ennis, terdiri dari 5 indikator, dapat dilihat pada tabel 1 sebagai berikut:

Tabel 1. Indikator Kemampuan Berpikir Kritis

Indikator Berpikir Kritis

Deskripsi

Argumen (Reason)

Mengetahui alasan-alasan yang mendukung atau melawan putusan yang dibuat berdasarkan situasi dan fakta yang relevan.

Fokus (Focus)

Memfokuskan pertanyaan atau isu yang tersedia untuk membuat sebuah keputusan tentang apa yang diyakini.

Kejelasan (Clarity) Menjelaskan arti atau istilah-istilah yang digunakan.

Kesimpulan (inference)

Membuat kesimpulan yang beralasan atau menyungguhkan.

Bagian penting dari langkah penyimpulan ini adalah mengidentifikasi asumsi dan mencari pemecahan, pertimbangan dari interpretasi akan situasi dan bukti.

Situasi (Situation) Memahami situasi dan selalu menjaga situasi dalam berpikir akan membantu memperjelas pertanyaan dan mengetahui arti istilah-istilah kunci, bagian-bagian yang relevan sebagai pendukung.

Tinjauan Lanjut (Overview)

Meninjau kembali dan meneliti secara menyeluruh keputusan yang diambil.

Sumber: Ennis, R (1981: 4-8)

Pada tabel 1, dapat diuraikan 6 indikator berpikir kritis menurut Ennis, (1996: 364) dalam Ulfa, Dinawati, dan Erfan, (2018: 41-43) sebagai berikut:

1) Focus (fokus), pada indikator ini mengandung arti yaitu: mampu memahami permasalahan sehingga dapat memecahkan masalah tersebut. Hal ini dilakukan agar pekerjaan lebih efektif, karena tanpa mengetahui fokus permasalahan waktu yang dibutuhkan lebih lama. Pada indikator ini, diharapkan kepada siswa agar: siswa dapat menuliskan hal yang diketahui pada soal, Siswa dapat menuliskan hal yang ditanya pada soal, dan siswa dapat menceritakan dengan bahasa sendiri permasalahan yang ada pada soal.

(25)

2) Reason (alasan), pada indikator ini mengandung arti yaitu: memberikan alasan terhadap jawaban atau simpulan yang telah dituliskan dalam menyelesaikan permasalahan. Pada indikator ini, mengharapkan siswa agar: siswa dapat menjelaskan (lisan maupun tulisan) strategi dalam menyelesaikan soal matematika dengan mengutarakan alasan dan siswa dapat mengerjakan soal yang sesuai dengan cara atau strategi yang telah ditentukan dengan mengungkapkan alasan.

3) Inference (simpulan), pada indikator ini mengandung arti yaitu: dapat membuat kesimpulan yang beralasan. Bagian yang terpenting dalam kriteria ini adalah kemampuan siswa dalam mengidentifikasi asumsi dan pemecahan, pertimbangan dari interpretasi akan situasi dan bukti. Pada indikator ini diharapkan agar siswa dapat membuat penyelesaian dari permasalahan yang telah dikerjakannya.

4) Situation (situasi), pada indikator ini mengandung arti, yaitu: memahami sesuatu dan selalu menjaga situasi dalam berpikir akan membantu memperjelas pertanyaan dalam focus dan mengetahui arti istilah-istilah kunci dan bagian- bagian yang relevan sebagai pendukung. Pada indikator ini mengharapkan agar Siswa dapat menghubungkan pengetahuan sebelumnya dalam menyelesaikan soal.

5) Clarity (kejelasan), indikator ini mengandung pengertian yaitu:

menjelaskan tujuan, arti atau istilah-istilah yang digunakan dalam penyelesaian.

Pada indikator ini mengharap agar Siswa mampu menjelaskan tahap demi tahap cara yang digunakan pada penyelesaian soal.

6) Overview (tinjauan kembali), indikator ini mengandung pengertian yaitu:

memeriksa kebenaran jawaban kembali secara menyeluruh atas penyelesaian yang diambil. Pada indikator ini mengharapkan agar: siswa dapat meneliti kembali jawaban secara menyeluruh dan siswa dapat menemukan cara lain untuk menyelesaikan masalah.

(26)

2.2.5. Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis

Adapun penskoran berpikir kritis yang telah dipaparkan oleh Stiggins (1994: 153), dapat dilihat pada tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2. Penskoran Kemampuan Berpikir Kritis

Kategori Skor Indikator Penilaian

Skor tinggi 5 Jawaban yang diberikan jelas, fokus, akurat. Butir-butir yang relevan dikemukakan (berhubungan dengan pertanyaan pada soal) untuk mendukung jawaban yang diberikan. Hubungan antara jawaban dengan soal tergambar secara jelas.

Skor sedang 3 Jawaban yang diberikan jelas dan cukup fokus, namun kurang lengkap. Contoh-contoh yang diberikan terbatas, keterkaitan antara jawaban dengan soal kurang jelas.

Skor rendah 1 Jawaban yang diberikan kurang sesuai dengan apa yang dimaksudkan dalam soal, berisi informasi yang tidak akurat atau menunjukkan kurangnya penguasaan terhadap materi. Butir-butir yang diberikan tidak jelas, tidak memberikan contoh yang mendukung.

0 Tidak ada jawaban Sumber: Stiggins, (1994: 153)

Pada penelitian ini, penskoran berpikir kritis dimodifikasi berdasarkan Stiggins, (1994: 153) dikarenakan soal yang digunakan adalah soal pilihan ganda beralasan sehingga penskoran maksimum untuk alasan adalah (3) sedangkan untuk soal pilihan ganda skor maksimumnya adalah (1). Adapun ketentuan skornya sebagai berikut:

1) Skor (0), jika siswa tidak memberikan alasan atau alasan yang diberikan mengikuti kalimat option yang dipilih dan pilihan gandanya juga salah, maka memperoleh skor (0).

2) Skor (1), jika alasan yang diberikan kurang sesuai dengan apa yang dimaksud dalam soal sementara pilihan gandanya benar, sehingga skor yang dinilai hanya skor pilihan ganda, yaitu skor (1).

3) Skor (2), jika siswa memberikan alasan pada setiap soal meskipun jawabanya kurang tepat, akan mendapat skor (1) dan untuk skor pilihan gandanya yang benar, diberi skor (1),. Jadi, skor maksimumnya adalah (2).

(27)

4) Skor (4), jika alasan yang diberikan jelas dan cukup fokus, maka diberi skor (3) dan pilihan ganda nya benar, maka diberi skor (1), jadi untuk skor maksimumnya adalah (4). Jadi, skor total = penjumlahan antara skor soal pilihan ganda dan skor alasan serta jumlah skor untuk keseluruhan soal adalah 12 (jumlah soal keseluruhan) X 4 (skor total persoal setelah dijumlahkan soal PG dan alasannya) = 48.

2.2.6. Interpretasi Kategori Kemampuan Berpikir Kritis

Adapun interpretasi kategori kemampuan berpikir kritis menurut Setyowati, Subali, dan Mosik, sebagai berikut:

Tabel 3. Interpretasi Kategori Kemampuan Berpikir Kritis

Rentang Nilai Kriteria

81,25-100 Sangat kritis

62, 0-81-25 Kritis

43,75-62,50 Kurang kritis

25,00-43,75 Sangat kurang kritis

Sumber: Setyowati, Subali, dan Mosik (2011: 91) 2.2.7. Dampak Positif Berpikir Kritis

Menurut Sulistiani dan Masrukan (2016: 610), adapun dampak positif dari berpikir kritis bagi siswa yaitu:

1) Melatih keterampilan dalam memecahkan masalah.

2) Munculnya pertanyaan inovatif dan merancang solusi yang tepat.

3) Aktif membangun argumen dengan menunjukkan bukti-bukti yang akurat dan logis.

2.2.8. Langkah-Langkah Berpikir Kritis

Adapun langkah-langkah berpikir kritis menurut Feldman, (2013: 39-64), terbagi menjadi 7 langkah yang terdiri dari menemukan persoalan, mengenali argumen, mencari kejelasan, memahami konteks, menemukan kredibilitas, mencari konsistensi, dan menilai argumen yang lebih jelasnya lagi dijelaskan dibawah ini, yang meliputi:

(28)

1) Menemukan persoalan, meliputi: (1) Bersikap netral dan objektif, (2) Utarakan persoalan dalam bentuk persoalan dalam bentuk pertanyaan yang bisa dijawab ya atau tidak, dan (3) Pelajari formulasi persoalan anda dengan informasi yang telah ditampilkan kepada anda.

2) Mengenali argumen, meliputi: (1) Mencari di lokasi yang biasanya: di awal atau akhir percakapan atau dokumen tertulis, (2) Mencari kata kunci yang mengawali konklusi, seperti “jadi”, sebagai akibatnya‟, ini menunjukkan bahwa”, “pendapat saya adalah” atau “intinya”, (3) Bila tidak ada pertanyaan yang jelas di dalam ucapan atau tulisan, buatlah pernyataan yang menjawab pertanyaan, “ ini tentang apa?” atau “apakah yang berusaha dibuktikan orang ini?” atau “apa yang berusaha saya buktikan?”.

3) Mencari kejelasan, anda harus menilai kekuatan analisis yang ada di balik konklusi untuk menentukan apakah anda harus setuju atau tidak. Hal ini dimulai dengan penemuan apakah anda memahami dengan jelas apa yang telah diutarakan atau dituliskan.

4) Memahami konteks, yang mencakup: motif dan tujuan penyaji, tempat, dan situasi di sekitar persoalan.

5) Menemukan kredibilitas, adalah kemampuan untuk dapat dipercaya dari suatu pernyataan atau posisi.

6) Mencari konsistensi, memeriksa apakah ada bukti yang saling bertentangan atau konklusi atau apakah bukti itu tidak relevan.

7) Menilai argumen, anda bisa mengenali taktik berpikir tidak kritis, yaitu analisis yang keliru dan manipulasi emosi, serta cara untuk

mengatasinya.

2.2.9. Pentingnya Berpikir Kritis dalam Pendidikan

Berpikir kritis merupakansuatu yang penting di dalam pendidikan menurut H.A.R. Tilaar (2011) dalam Zakiah, Ika, (2019: 7-8), karena beberapa pertimbangan antara lain:

1) Mengembangkan berpikir kritis di dalam pendidikan berarti kita memberikan penghargaan kepada peserta didik sebagai pribadi (respect a person). Hal ini

(29)

akan memberikan kesempatan kepada per-kembangan pribadi peserta didik sepenuhnya karena mereka merasa diberikan kesempatan dan dihormati akan hak-haknya dalam perkembangan pribadinya.

2) Berpikir kritis merupakan tujuan yang ideal di dalam pendidikan karena mempersiapkan peserta didik untukkehidupan kedewasaannya.

3) Perkembangan berpikir kritis dalam proses pendidikan merupakan suatu cita- cita tradisional seperti apa yang ingin dicapai melalui pelajaran ilmu-ilmu eksata dan kealaman serta mata pelajaran lainnya yang secara tradisional dianggap dapatmengembangkan berpikir kritis.

4) Berpikir kritis merupakan suatu hal yang sangat dibutuhkan di dalam kehidupan demokratis. Demokrasi hanya dapat berkembang apabila warga negaranya dapat berpikir kritis didalam masalah-masalah politik, sosial, dan ekonomi.

2.2.10. Standar Intelektual Berpikir Kritis

Eliana Crespo (2012) dalam Zakiah, Ika (2019: 11-13) yang merumuskan standar intelektual berpikir kritis yang paling signifkan yaitu diantaranya:

kejelasan, akurasi, persisi, relevansi, kedalaman, luas, logika, dan keadilan.

Adapun penjelasannya, sebagai berikut:

1) Kejelasan, yang meliputi: dapatkah anda menguraikan dalam pendapat itu?, dapatkah anda menjelaskan pendapat itu dalam hal lain?, dapatkah anda memberi saya ilustrasi?, dan dapatkah anda memberi saya permisalan?

2) Akurasi, yang meliputi: benarkah itu benar?, bagaimana kami dapat memastikan itu?, bagaimana kami temukan itu benar?

3) Presisi, yang meliputi: dapatkah anda memberi lebih detail? dan dapatkah anda lebih spesifik?

4) Relevansi, yang meliputi: bagaimana itu berhubungan dengan pertanyaan? dan bagaimana itu menanggung masalah?

5) Kedalaman, yang meliputi: bagaimana jawaban anda mengatasi kompleksirtas dalam pertanyaan?, bagaimana Anda memperhitungkan masalah dalam pertanyaan itu?, dan apakah itu berurusan dengan faktor yang paling signifkan?

(30)

6) Luas, yang meliputi: apa kami perlu mempertimbangkan sudut pandang yang lain?, apa ada cara lain untuk memandang pertanyaan ini?, seperti apa ini dari sudut pandang konservatif?, seperti apa ini dari sudut pandang?

7) Logika, yang meliputi: benarkah ini masuk akal?, apa ini mengikuti apa yang anda katakan?, apa itu mengikuti?, tapi sebelumnya anda menyiratkan ini dan andamengatakan?, dan bagaimana keduanya benar?

8) Keadilan, pemikiran kritis meminta kita untuk berpikir secara adil yaitu:

berpikiran terbuka, tidak memihak, dan terbebas dari prasangka dan bias yang menyimpang.

2.2.11. Dasar Pemikiran Kritis

Menurut Garnison,Anderson dan Archer (2011) dalam Zakiah, Ika (2019:

15-16), telah membagi empat keterampilanberpikir kritis, yaitu:

1) Cepat tanggap terhadap peristiwa, yaitu mengidentifkasi atau mengenali masalah, dilema dari pengalaman seseorang dengancepat,

2) Eksplorasi, memikirkan ide personal dan sosial dalam rangka membuat persiapan keputusan,

3) Integrasi, yaitu mengkonstruksi maksud dari gagasan, dan mengintegrasikan informasi relevan yang telah ditetapkanpada tahap sebelumnya,

4) Mengusulkan, yaitu mengusulkan solusi secara hipotesis, atau menerapkan solusi secara langsung kepada isu, dilema atau masalah serta menguji gagasan dan hipotesis.

2.2. Gender

2.2.1. Pengertian Gender

Gender adalah suatu konsep yang digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki-laki dan perempuan dari sudut non-biologis. Hal ini berbeda dengan seks yang secara umum digunakan untuk mengidentifikasi perbedaan laki- laki dan perempuan dari segi anatomi biologi. Istilah seks lebih banyak berkonsentrasi pada aspek biologis seseorang yang meliputi perbedaan komposisi kimia dan hormon dalam tubuh, anatomi fisik, reproduksi dan karakteristik biologis lainnya. Sementara itu, gender lebih banyak berkonsentrasi pada aspek

(31)

sosial, budaya, psikologis, dan aspek-aspek non-biologis lainnya. Studi gender lebih menekankan perkembangan maskulinitas (masculinity/rujuliyah) atau feminitas (feminity/nisa’iyyah) seseorang. Sedangkan studi seks lebih menekankan perkembangan aspek biologis dan komposisi kimia dalam tubuh laki-laki (maleness/dzukurah) dan perempuan (femaleness/unutsah). Untuk proses pertumbuhan anak kecil menjadi seorang laki-laki atau menjadi seorang perempuan, lebih banyak digunakan istilah gender dari pada istilah seks. Istilah seks umumnya digunakan untuk merujuk kepada persoalan reproduksi dan aktivitas seksual, selebihnya digunakan istilah gender (Arbain, Azizah, Ika, 2015:

75-76).

Gender adalah pembedaan antara laki-laki dengan perempuan berdasarkan ciri-ciri sosial dan budaya yang sebenarnya dapat dipertukarkan, karena diperoleh melalui proses belajar. Misalnya, perempuan itu secara umum dikenal lemah, lembut, cantik, emosional, atau keibuan. Sementara itu, laki-laki memiliki sifat kuat, rasional, jantan, dan perkasa. Sementara itu, banyak laki-laki yang emosional dan lemah lemut (Fatimah dan Wirdanengsih, 2014: 57).

Gender secara umum mengacu pada pemilahan peran sosial atau konstruksi sosial yang membedakan peran antara laki-laki dan perempuan oleh etika budaya setempat yang dikaitkan dengan pandangan kepantasan peran sosial menurut jenis kelamin secara biologis (Ace dan Ecep, 2010: 34).

2.3.2 Perbedaan-Perbedaan Kemampuan Berdasarkan Gender

Perbedaan gender ini tampaknya juga berpengaruh pada besarnya motivasi siswa untuk berprestasi. Hal tersebut karena adanya anggapan bahwa anak laki- laki lebih unggul dalam bidang sains dan matematika, sedangkan anak perempuan akan lebih unggul pada tugas-tugas yang lebih feminim seperti seni dan musik.

Perbedaan berikutnya yaitu tingkat agresivitasnya, anak laki-laki cenderung akan lebih agresif daripada akan perempuan (Pambudiono, Siti, Susriyati, 2015: 449).

2.3.3. Integrasi Gender pada Satuan Pendidikan

Dalam proses pendidikan saat ini, masih berlangsung ketidakadilan gender sehingga terbangun suatu stereotip, di mana anak laki-laki cenderung diberi

(32)

motivasi untuk menjadi kuat, pemberani sehingga diberi kegiatan yang menantang, didorong untuk menjadi pemimpin dan beraktivitas di luar rumah.

Berbeda dengan motivasi yang diberikan kepada siswa perempuan, yaitu motivasi menjadi orang yang penurut, tidak independen, mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan bekerja secara sosial. Adapun strategi yang dapat dilakukan dalam rangka integrasi gender di sekolah, yaitu: merencanakan dan melaksanakan rencana manajemen pendidikan yang memuat ketegasan kesetaraan gender, merencanakan dan melaksanakan serta mengevaluasi proses pembelajaran yang peka terhadap gender, dan mengajak komite sekolah untuk berpartisipasi dalam manajemen pendidikan berbasis gender (Fatimah dan Wirdanengsih, 2016: 148- 149).

2.3.4. Gender dalam Sarana dan Prasarana di Sekolah

Sarana dan prasarana hendaknya juga memperhatikan kebutuhan antara peserta didik laki-laki dan perempuan, misalnya, meja sekolah hendaknya didesain tidak terbuka, agar siswa perempuan menjadi nyaman ketika mereka duduk memakai rok. Seharusnya disediakan ruang ganti pakaian olahraga yang mereka jauh dari pelecehan seksual, disediakn perlengkapan bagi siswa perempuan ketika mereka mengalami menstruasi (Fatimah dan Wirdanengsih, 2016: 149).

2.4. Penelitian yang Relevan

Setelah peneliti membaca dan mencari referensi yang relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini, maka ditemukan beberapa penelitian yang relevan. Adapun penelitian relevan dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti ini, antara lain penelitian yang dilakukan oleh (a) Harso dan Jumilah, (b) Daniati, Dezi, Relsas, dan Heffi, (c) Endawati, Sukayasa, dan Bakri, (d) Mawaddah, (e) Perdana, Budiyono, Sajidan, dan Sukarmin, untuk lebih jelasnya sesuai penjelasan berikut ini yang meliputi:

Penelitian yang dilakukan oleh Harso dan Jumilah, (2018: 75), tentang profil berpikir kritis IPA berdasarkan perspektif gender untuk siswa kelas VIII SMP Negeri di Kota Ende. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VIII SMP Negeri dalam kota Ende tahun pelajaran 2017/2018, sebanyak 804 orang dan sampelnya

(33)

terdiri 10% dari populasi yakni sebanyak 80 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah random sampling. Data yang diperoleh berupa nilai skor soal tes berpikir kritis IPA. Analisis data dilakukan dengan analisis statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rerata kemampuan berpikir kritis IPA siswa adalah 66,84 berada pada kategori sedang atau cukup kritis. Sedangkan jika berdasarkan prespektif gender maka kelompok wanita memiliki rerata kemampuan berpikir kritis lebih tinggi dari kelompok Pria, dimana untuk wanita sebesar 68,56 yang berada pada kategori tinggi atau kritis sedangkan untuk pria sebesar 62,03 berada pada kategori sedang atau cukup kritis.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Daniati, Dezi, Relsas, dan Heffi, (2017: 1), tentang Analisis Tingkat Kemampuan Berpikir Kritis Peserta Didik Kelas VII SMP Negeri 2 Padang tentang Materi Pencemaran Lingkungan yang menyatakan bahwa Kurikulum 2013 mengharuskan siswa untuk dapat berpikir kritis. Ini kritis kemampuan berpikir dapat dilatih dengan menggunakan pertanyaan yang memiliki indikator pemikiran kritis, Selain itu pertanyaan- pertanyaan tersebut juga harus memiliki level kognitif C4 (menganalisis), C5 (mengevaluasi), dan C6 (mempersatukan). SMP Negeri 2 Padang telah menerapkan Kurikulum 2013 dalam pembelajaran, tetapi keterampilan berpikir kritis siswa tidak diketahui. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari 48 siswa kelas VII SMP Negeri 2 Padang. Data yang diperoleh dalam penelitian ini adalah diperoleh melalui teknik tes. Tes yang digunakan adalah tes deskripsi. Instrumen tes yang digunakan akan divalidasi dan dianalisis terlebih dahulu. Analisis instrumen ini meliputi tingkat kesulitan, diferensiasi dan reliabilitas. Instrumen uji diuji sebelum digunakan. Ini studi menghasilkan data bahwa tingkat keterampilan berpikir kritis siswa kelas tujuh di Indonesia SMP Negeri Padang masih dalam kualifikasi tidak kritis dengan persentase rata-rata nilai 48,53%. Indikator dengan persentase rata-rata tertinggi hingga terendah, yaitu; itu indikator inferensi memperoleh skor 69,96% dengan kualifikasi yang cukup kritis; itu Indikator memberikan pernyataan dasar diperoleh nilai 60,62%

dengan kurang kritis kualifikasi; indikator memperkirakan bahwa nilai 53,12%

(34)

diperoleh dengan tidak kritis kualifikasi; indikator memberikan pernyataan lanjutan memperoleh nilai 44,39% dengan kualifikasi tidak kritis, dan; indikator dasar pengambilan keputusan diperoleh nilai 14,58% dengan kualifikasi tidak kritis.

Kemudian penelitian yang serupa juga dilakukan oleh Endawati, Sukayasa, dan Bakri, (2017: 93) tentang profil proses berpikir siswa berkemampuan matematika tinggi dalam menyelesaikan soal cerita keliling dan luas persegi panjang ditinjau dari perbedaan gender di SMP Negeri 15 Palu. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa subjek laki- laki dan perempuan berkemampuan matematika tinggi dalam memahami masalah, melaksanakan rencana penyelesaian masalah dan memeriksa kembali jawaban melakukan proses berpikir asimilasi, sedangkan dalam menyusun rencana penyelesaian masalah melakukan proses berpikir asimilasi dan akomodasi.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Mawaddah, Ahmad, M.

Duskri, (2018: 1), yang meneliti tentang Perbedaan Keterampilan Berpikir Kritis berdasarkan Perbedaan Jenis Kelamin Matematis Siswa Sekolah Menengah, mengungkapkan bahwa Menurut hasil dari uji indikator analisis keterampilan berpikir kritis, siswa laki-laki dan perempuan bisa menentukan pertanyaan dengan benar dan memeriksa hasil dari masalah, namun kedua subjek laki-laki tidak dapat menggunakan strategi yang tepat untuk memecahkan masalah. Hal ini menunjukkan bahwa siswa perempuan bisa memecahkan masalah dengan baik.

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Perdana, Budiyono, Sajidan, dan Sukarmin, (2019: 43) tentang Analysis of Student Critical and Creative Thinking (CCT) Skills on Chemistry: A Study of Gender Differences, yang menyatakan bahwa Keterampilan berpikir kritis dan kreatif adalah atribut penting untuk sukses di abad ke-21. Pelajaran ini bertujuan untuk menentukan keterampilan berpikir kritis dan kreatif siswa di sekolah menengah Islam Kota Surakarta sehingga guru dapat memperhatikan kekuatan dan kelemahan masing-masing siswa yang berbasis tentang perbedaan gender. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini berjumlah 180 siswa yang terdiri dari 80 siswa pria dan 100 siswa wanita. Pengukuran keterampilan berpikir kritis menggunakan

(35)

instrumen 6 pertanyaan esai dari bahan kimia solusi elektrolit dan non-elektrolit yang mengukur aspek-aspek berdasarkan pada teori Facione, yaitu: analisis, inferensi, penjelasan, interpretasi, evaluasi, dan pengaturan diri. Kemudian, untuk mengukur keterampilan berpikir kreatif, instrumen tes esai-pertanyaan bahan kimia yang mencakup 4 aspek menurut Torrance, kelancaran, fleksibilitas, asli dan elaborasi, digunakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan berpikir kreatif siswa laki-laki lebih baik daripada siswa perempuan dan keterampilan berpikir kritis perempuan siswa lebih baik daripada siswa laki-laki.

(36)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Tempat dan Waktu

Penelitian ini telah dilaksanakan di Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru Tahun Ajaran 2020/2021. Penelitian ini dilaksanakan di bulan September Tahun 2020.

3.2. Jenis Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk mengetahui gambaran tingkat kemampuan berpikir kritis siswa IPA berdasarkan sudut pandang gender.

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian 3.3.1. Populasi Penelitian

Populasi merupakan objek atau subjek yang berada pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian (Riduwan, (2016: 8). Pada penelitian ini yang menjadi populasi adalah seluruh siswa kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru yang terdiri dari 4 kelas, yaitu kelas (8.1) dan kelas (8.2) yaitu kelas yang seluruh anggota kelasnya adalah siswa laki-laki, secara berurutan berjumlah 28 orang dan 23 orang. Sementara itu untuk kelas (8.3) dan kelas (8.4) merupakan kelas yang keseluruhan anggotanya adalah siswa perempuan dengan jumlah secara berurutan, yakni 28 orang dan 30 orang. Adapun perincian populasi berdasarkan kelas secara jelas dapat dilihat pada Tabel 4 dibawah ini.

(37)

Tabel 4. Populasi Siswa Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru

NO Kelas Jumlah

Total Laki-laki Perempuan

1 VIII1 28 - 28

2 VIII2 23 - 23

3 VIII3 - 28 28

4 VIII4 - 30 30

Jumlah 51 58 109

Sumber: MTs Hasanah Pekanbaru 3.3.2. Sampel Penelitian

Sampel adalah bagian dari populasi yang mempunyai ciri-ciri atau keadaan tertentu yang akan diteliti, karena tidak semua data dari informasi akan diproses dan tidak semua orang atau benda akan diteliti melainkan cukup dengan menggunakan sampel yang mewakilinya (Riduwan, 2016: 10). Penelitian ini menggunakan Teknik sampling jenuh. Teknik sampling jenuh ialah teknik pengambilan sampel apabila semua populasi digunakan sebagai sampel dan dikenal juga dengan istilah sensus. Pada penelitian ini, sampel diambil dari 4 kelas, yaitu kelas 8.1, 8.2, 8.3, dan 8.4 dengan jumlahnya sama dengan jumlah populasi, yakni berjumlah 109 orang yang terdiri dari siswa laki-laki sebanyak 51 orang dan siswa perempuan sebanyak 58 orang.

Untuk lebih jelas, perincian sampel dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5. Sampel Penelitian Seluruh Siswa Kelas VIII MTs Hasanah Pekanbaru

NO Kelas

Jumlah

Total Laki-laki Perempuan

1 VIII1 28 - 28

2 VIII2 23 - 23

3 VIII3 - 28 28

4 VIII4 - 30 30

Jumlah 51 58 109

Sumber: MTs Hasanah Pekanbaru

(38)

3.3.3. Prosedur Penelitian

Adapun Prosedur pada penelitian ini ditetapkan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

1) Tahap Persiapan

1) Melakukan observasi dan wawancara ke MTs Hasanah Pekanbaru.

2) Memilih populasi dan sampel.

3) Membuat soal berpikir kritis.

4) Memvalidasi soal (konstruk dan empiris).

2) Tahap Pelaksanaan

1) Siswa diberikan soal berpikir kritis mengenai materi pencemaran lingkungan melalui grup whatsapp perkelas sesuai jam pelajaran dalam bentuk link google form.

2) Mencermati, menganalisis, dan memberikan skor terhadap jawaban tes soal- soal yang telah diberikan ke siswa dengan cara memasukkan skor yang telah diperoleh siswa kedalam rumus yang telah ditentukan.

3) Melakukan observasi dan wawancara terhadap guru mengenai kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan kriteria yang telah ditentukan.

3.4. Data Penelitian

Data penelitian ini berupa data kuantitatif. Data kuantitatif pada penelitian ini berupa skor kemampuan berpikir kritis siswa yang diperoleh berdasarkan analisis soal berpikir kritis berdasarkan indikator berpikir kritis menurut Ennis yang terdiri dari 6 indikator, yakni: fokus, argumen, kesimpulan, situasi, kejelasan, dan tinjauan lanjut. Adapun skor di hitung berdasarkan modifikasi dari penskoran yang telah di paparkan oleh Stiggins. Soal berpikir kritis disajikan di googe form.

Soal tersebut disebarkan lewat grup whatsaap berupa link. Kemudian siswa diberi waktu menyelesaikan soal tersebut dari awal jam pelajaran hingga jam pelajaran berakhir. Adapun aturan dalam mengerjakan soal dan penskoran telah tertera pada google form. Sedangkan non-tes dengan melakukan wawancara dan dokumentasi.

(39)

3.5. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik tes dan teknik non-tes. Teknik tes dilakukan dengan menggunakan soal berpikir kritis pilihan ganda untuk menguji kemampuan berpikir kritis. Sedangkan non-tes dengan melakukan wawancara, observasi dan dokumentasi.

1) Tes

Tes sebagai instrumen pengumpul data adalah serangkaian pertanyaan atau latihan yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan, inteligensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok (Riduwan, 2016: 57). Tes dalam penelitian ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pengalaman siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan, dan dikerjakan oleh peserta didik secara individual. Tes tertulis ini digunakan untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam mengorganisasi pengetahuannya dalam memecahkan masalah. Penelitian ini menggunakan tes berbentuk objektif (pilihan ganda) beralasan untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis peserta didik. Adapun tujuan diberikannya soal pilihan ganda beralasan menurut Tuysuz (2009) dalam Saputra, (2019: 26) memaparkan bahwa kelebihan tes pilihan ganda beralasan meliputi dua hal yaitu: (1) mengurangi error dalam pengukuran, di mana dengan menggunakan pilihan ganda konvensional dengan lima pilihan jawaban memiliki kesempatan menjawab benar dengan cara menebak adalah 20%, sedangkan jika menggunakan tes pilihan ganda beralasan kesempatan menjawab benar dengan cara menebak adalah 4%; dan (2) dengan menggunakan tes pilihan ganda beralasan, pebelajar akan lebih mudah dalam melakukan penskoran.

Berikut ini kisi-kisi instrumen berpikir kritis berdasarkan indikator berpikir kritis sebelum dilakukan uji validasi dan uji reabilitas yang terdiri dari 20 soal, dapat dilihat pada tabel 6 berikut ini:

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis ternyata data menunjukkan bahwa jenis kelamin, tingkat pendidikan dapat menunjukkan perbedaan yang signifikan terhadap reward yang diperoleh, sedangkan

Pengembangan yang dilakukan pada rencana pelaksanaan pembelajaran adalah terdapat rubrik kisi-kisi penilaian dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik dan

Pengaruh Metode Pembelajaran card sort terhadap Hasil Belajar Murid Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia kelas V Sekolah Dasar Negeri 84 Bolli. Berdasarkan hipotesis

Belajar Keterampilan Bahasa Indonesia Murid Kelas IV SDN No.160 Inpres Bontolebang Kecamatan Polombangkeng Selatan Kabupaten Takalar. Jurusan Pendidikan Guru Sekolah

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala berkat dan penyertaan-Nya sehingga penulis berhasil menyelesaikan skripsi ini dengan judul: “ Uji

Mahasiswa pertama dulu sekolah dan masuk di SMK (Sekolah.. Menengah Kejuruan) dengan jurusan TGB (Teknik Gambar Bangunan) sedangkan mahasiswa kedua, ketiga dan

Natalia Tatag Hendralita. Analisis Kemampuan Berpikir Kritis Dan Pemecahan Masalah Matematika Dalam Menyelesaikan Soal Cerita Pada Topik Teorema Pythagoras Di

Hasil penelitian menunjukkan bahwa adanya pengaruh penerapan model pembelajaran Concept Sentence terhadap keterampilan menulis karangan deskripsi menggunakan media