• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB IV ANALISIS HASIL DAN PEMBAHASAN"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

35

A.Analisis Penelitian Persyaratan Permohonan

1. Pemenuhan Kesesuaian dan Kelengkapan Dokumen Permohonan

Pemenuhan kesesuaian dan kelengkapan dokumen permohonan ini merupakan tahap awal dari pemrosesan permohonan pengurangan. Pada tahap ini, penelitian formal pemenuhan persyaratan permohonan sudah dimulai yakni pada saat Wajib Pajak menyampaikan permohonannya di loket Tempat Pelayanan Terpadu ( TPT ). Petugas TPT yang bertugas saat permohonan diterima akan meneliti kesesuaian dan kelengkapan permohonan pengurangan. Penelitian formal pemenuhan persyaratan permohonan terdiri dari penelitian kesesuaian kondisi subjek pajak, kelengkapan dokumen permohonan dan pemenuhan persyaratan yang berkaitan dengan administrasi perpajakan.

Penelitian kesesuaian kondisi subjek pajak dilakukan petugas TPT dengan memastikan bahwa permohonan pengurangan memenuhi kriteria yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009 Tentang Pemberian Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan. Pemberian pengurangan atas Pajak Bumi dan Bangunan tidak diberikan kepada seluruh Objek Pajak PBB. Permohonan pengurangan terhadap kondisi objek pajak yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009 saja yang diterima sebagai permohonan pengurangan yakni pengurangan karena kondisi

(2)

tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak dan/atau karena sebab-sebab tertentu lainnya.

Penelitian kelengkapan dokumen permohonan dilakukan dengan memeriksa kelengkapan dokumen untuk setiap permohonan sesuai dengan kondisi objek pajak tertentu, yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-46/PJ/2009. Dokumen-dokumen yang diminta sebagai persyaratan permohonan harus secara lengkap dilampirkan sesuai dengan alasan permohonan. Petugas TPT akan menerima dan memberikan tanda terima kepada wajib pajak dan selanjutnya Pelaksana Seksi Pelayanan meneruskan kepada Seksi Pengawasan dan Konsultasi yang selanjutnya akan diproses oleh Account Representative. Apabila terdapat dokumen persyaratan yang tidak lengkap, maka dalam rangka pelayanan petugas TPT mengembalikan berkas permohonan tersebut dengan memberitahukan terlebih dahulu dokumen persyaratan yang belum dipenuhi sehingga berkas permohonan dapat segera dilengkapi dan diajukan kembali.

Kesesuaian administrasi perpajakan yang dimaksud dalam penelitian adalah mengenai persyaratan yang berupa belum pernah diajukannya keberatan atas PBB yang akan dimohonkan pengurangan dan persyaratan mengenai tidak adanya tunggakan PBB tahun sebelumnya atas objek pajak yang dimohonkan pengurangan. Tujuan penelitian ini antara lain untuk memastikan bahwa permohonan yang diajukan merupakan permohonan pengurangan karena sering terjadi kekeliruan alasan oleh wajib pajak yang bukan merupakan permohonan pengurangan melainkan keberatan. Kekeliruan ini timbul karena tipisnya

(3)

perbedaan antara pengurangan dengan keberatan. Hal dasar yang digunakan untuk membedakan keduanya adalah persetujuan wajib pajak atas besarnya Pajak Bumi dan Bangunan. Permohonan pengurangan berarti wajib pajak setuju atas besarnya Pajak Bumi dan Bangunan namun mereka meminta pengurangan atas besarnya pajak tersebut karena suatu alasan tertentu, sedangkan keberatan mengandung pengertian bahwa wajib pajak tidak setuju atas besarnya Pajak Bumi dan Bangunan yang ditetapkan. Oleh karena itu objek pajak yang dimohonkan pengurangan tidak boleh diajukan keberatan atau sebelumnya pernah diajukan keberatan.

Penelitian mengenai data tunggakan PBB dilakukan dengan cara melihat data tunggakan untuk tiap objek pajak melalui aplikasi SISMIOP ( Sistem Manajemen dan Informasi Objek Pajak ). Namun penelitian terhadap pemenuhan lunasnya tunggakan PBB tahun sebelumnya ini dapat menimbulkan hambatan bagi wajib pajak dalam mengajukan permohonan. Beberapa wajib pajak dapat saja tidak memenuhi persyaratan ini terutama bagi mereka yang mengajukan permohonan karena terbatasnya penghasilan yang mereka peroleh. Keadaan seperti ini perlu untuk diperhatikan dan dipertimbangkan karena mungkin wajib pajak tersebut benar-benar terbatas penghasilannya sehingga kewajiban PBB nya tidak terpenuhi bahkan sekalipun PBB tahun sebelumnya tersebut sudah memperoleh pengurangan.

Penelitian awal oleh petugas TPT tersebut diatas tidak bertujuan untuk memutuskan diterima atau tidaknya permohonan yang diajukan karena yang berwenang untuk memutuskan adalah Account Representative. Penelitian

(4)

tersebut lebih diarahkan untuk memberikan bantuan penelitian bagi wajib pajak mengenai kelengkapan permohonan yang diajukan agar pemrosesannya tidak terkendala karena kurangnya persyaratan sehingga Account Representative

tidak punya cukup data sebagai dasar pengambilan keputusan. Berdasarkan penjelasan tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian kelengkapan persyaratan permohonan oleh setiap petugas TPT pada KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua sudah sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku.

2. Pemenuhan Jangka Waktu Permohonan

Persyaratan lain yang harus dipenuhi wajib pajak selain pemenuhan kesesuaian dan kelengkapan dokumen permohonan adalah pemenuhan jangka waktu permohonan. Permohonan pengurangan atas PBB harus sesuai dengan jangka waktu yamg diatur dalam Pasal 6 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009. Sebagai contohnya permohonan pengurangan untuk PBB yang tercantum dalam SPPT ( Surat Pemberitahuan Pajak Terhutang ) PBB harus memenuhi jangka waktu yang dipersyaratkan yakni 3 bulan sejak diterimanya SPPT PBB oleh wajib pajak.

Sesuai dengan Pasal 6 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009, persyaratan jangka waktu ini tidak diberlakukan apabila keterlambatan tersebut benar-benar dapat ditunjukkan oleh wajib pajak karena keadaan diluar kekuasaannya. Berdasarkan fakta yang ada, terdapat permohonan wajib pajak yang melebihi waktu yang dipersyaratkan karena keterlambatan penerimaan SPPT PBB. Apabila keterlambatan disebabkan karena terlambatnya penyampaian dari kelurahan, dokumen tambahan yang

(5)

harus dilengkapi oleh wajib pajak adalah tanda terima penyerahan SPPT PBB dari kelurahan atau surat keterangan dari pejabat kelurahan yang menyatakan keterlambatan penerimaan SPPT PBB oleh wajib pajak. Begitu pula apabila terdapat penyebab lain, maka wajib pajak harus dapat menunjukkan bukti lain yang menunjukkan keterlambatan pengajuan permohonan benar-benar diluar kekuasaannya.

Meskipun keterlambatan tidak sepenuhnya membuat persyaratan permohonan tidak terpenuhi, permasalahan keterlambatan permohonan pengurangan karena terlambatnya penyampaian SPPT PBB perlu diperhatikan kembali. Sistem penyampaian SPPT PBB melalui kelurahan berbeda dengan sistem self assessment yang dianut oleh Sistem Perpajakan di Indonesia. Disampaikannya SPPT melalui kelurahan akan menambah waktu sampainya SPPT pada wajib pajak. Sementara itu SPPT merupakan sarana wajib pajak untuk mengetahui besarnya pajak yang terutang dan terlambatnya penyampaian dapat mengurangi waktu wajib pajak dalam memenuhinya karena semakin dekatnya dengan waktu jatuh tempo pembayaran. Berkaitan dengan hak wajib pajak dalam mengajukan pengurangan, keterlambatan penyampaian SPPT PBB juga dapat membuat wajib pajak tidak dapat memenuhi persyaratan permohonan dan menambah persyaratan tambahan yang harus didapatkan oleh wajib pajak yang ingin mengajukan permohonan pengurangan tersebut yang berarti semakin bertambahnya prosedur yang harus ditempuh.

(6)

B.Analisis Pemrosesan Permohonan Pengurangan 1. Penelitian Permohonan Pengurangan

Permohonan pengurangan yang diteruskan petugas Seksi Pelayanan ke Seksi Pengawasan dan Konsultasi, oleh Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi akan didisposisikan kepada Account Representative untuk dilakukan pemrosesan sesuai dengan pembagian pengawasan yang sudah ada. Pemrosesan oleh Account Representative dilakukan melalui penelitian kantor atas berkas permohonan wajib pajak, namun apabila diperlukan dapat dilanjutkan melalui penelitian lapangan.

Tahapan penelitian untuk setiap kondisi tertentu yang diatur dalam Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-46/PJ/2009 secara keseluruhan adalah sama satu dengan yang lain. Penelitian awal yang dilakukan Account Representative adalah memilah berkas permohonan pengurangan sesuai dengan wewenang pemberian keputusan permohonan pengurangan. Apabila wewenang pemberian keputusan permohonan pengurangan merupakan wewenang dari Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama, maka Account Representative akan melanjutkan penelitian permohonan tersebut. Namun apabila wewenang pemberian keputusan tersebut merupakan wewenang Kepala Kantor Wilayah atau Direktur Jenderal Pajak, maka atas permohonan tersebut akan diteruskan kepada Kepala Kantor Wilayah atau Direktur Jenderal Pajak. Yang akan diteruskan ke Direktur Keberatan dan Banding.

Penelitian yang dilakukan Account Representative kemudian adalah meneliti kembali kelengkapan permohonan pengurangan sesuai dengan kondisi

(7)

objek pajak yang diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009. Apabila terdapat permohonan yang belum lengkap persyaratannya, Account Representative akan memberitahukan kepada wajib pajak untuk melengkapi persyaratan tersebut. Permintaan dapat diminta lebih dari satu kali apabila dokumen yang diminta masih belum dapat memenuhi persyaratan yang diminta. Keseluruhan hasil penelitian kelengkapan permohonan kemudian dituangkan Account Representative dalam Lembar Penelitian Persyaratan Permohonan Pengurangan PBB dengan format sesuai dengan Lampiran 3.

Setelah persyaratan permohonan pengurangan PBB yang kewenangan penyelesaiannya berada di KPP Pratama dinyatakan lengkap, Account Representative akan membuat konsep Surat Tugas Penelitian dan meneruskan ke Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi untuk diteliti terlebih dahulu sebelum kemudian diteruskan ke Kepala KPP Pratama untuk memperoleh persetujuan. Setelah Kepala KPP Pratama menyetujui Surat Tugas Penelitian,

Account Representative memulai penelitian di kantor.

Apabila menurut pertimbangan Account Representative diperlukan penelitian di lapangan, maka Account Representative akan membuat konsep Surat Tugas penelitian lapangan dan Surat Pemberitahuan Penelitian Lapangan. Kemudian konsep surat tersebut diteruskan ke Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi untuk diteliti terlebih dahulu sebelum kemudian diteruskan ke Kepala KPP Pratama untuk memperoleh persetujuan. Setelah disetujui, atas dasar Surat Tugas penelitian lapangan, Account Representative melakukan

(8)

penelitian di lapangan dan Surat Pemberitahuan Penelitian Lapangan disampaikan kepada wajib pajak pemohon pengurangan PBB.

Jumlah permohonan pengurangan yang diajukan wajib pajak untuk tahun pajak 2008 dan 2009 berdasarkan data yang diperoleh penulis dari SISMIOP KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua adalah pada Tabel 4.1 berikut :

Tabel 4.1

Jumlah Pengajuan Permohonan Pengurangan

No. Kelurahan Tahun 2008 Tahun 2009

Umum Veteran Umum Veteran

1. Duri Kepa 61 5 68 3

2. Kedoya Utara 56 3 87 3

3. Kedoya Selatan 47 3 43 4

Jumlah 164 11 196 10

Sumber : SISMIOP KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua

Berdasarkan data tersebut diatas, rata-rata permohonan pengurangan pada tahun 2009 mengalami kenaikan dari tahun 2008, meskipun untuk kelurahan Kedoya Selatan mengalami penurunan. Menurut hasil wawancara dengan Account Representative, kenaikan permohonan pengurangan sebagian besar disebabkan karena adanya kenaikan Nilai Jual Objek Pajak Bangunan yang menimbulkan kenaikan pada jumlah Pajak Bumi dan Bangunan terhutang. Kondisi ini merupakan sebagian besar alasan wajib pajak dalam mengajukan permohonan pengurangan. Dari penjelasan keterangan tersebut diatas, dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan penelitian kelengkapan permohonan, Account Representative sudah melaksanakan sesuai dengan

(9)

2. Penentuan Pemberian Besarnya Pengurangan

Permohonan pengurangan yang sudah dinyatakan lengkap persyaratan dokumennya, akan ditindaklanjuti dengan penentuan besarnya pengurangan yang akan diberikan. Sesuai dengan Pasal 4 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 110/PMK.03/2009, besarnya pengurangan yang dapat diberikan untuk kondisi tertentu objek pajak yang ada hubungannya dengan subjek pajak adalah sebesar paling tinggi 75%, kecuali kondisi tertentu objek pajak karena wajib pajaknya merupakan veteran pejuang kemerdekaan, veteran pembela kemerdekaan, penerima tanda jasa bintang gerilya atau janda/dudanya diberikan pengurangan sebesar 75%.

Peraturan perpajakan secara lebih lanjut tidak mengatur kriteria atau pertimbangan yang digunakan untuk menentukan besarnya pengurangan selain untuk veteran yang sudah ditegaskan sebesar 75% . Penentuan besarnya pengurangan oleh Account Representative menggunakan beberapa variabel pertimbangan dalam menentukan besarnya pengurangan. Variabel-variabel tersebut dibagi menjadi beberapa kelas sesuai dengan besarnya Pajak Bumi dan Bangunan. Perincian objek pajak yang diajukan permohonan pengurangan selain anggota veteran berdasarkan besarnya ketetapan pada tahun 2008 dan 2009 terbagi seperti pada Tabel 4.2 berikut :

Tabel 4.2

Perincian Kelas Objek Pajak Berdasarkan Besarnya Ketetapan

Tahun Perincian Objek Pajak Jumlah

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

2008 0 21 39 88 16 164

2009 1 20 33 120 22 196

(10)

Pembagian besarnya pemohon sesuai dengan besarnya ketetapan sebagaimana tersebut diatas digunakan untuk menentukan besarnya pengurangan yang dapat diberikan untuk setiap variabel-variabel pertimbangan. Setiap kelas ketetapan tersebut diatas memiliki besaran pengurangan minimum dan maksimum yang dapat diberikan pada masing-masing variabel pertimbangan.

Setelah masing-masing permohonan pengurangan dikelompokkan berdasarkan besarnya ketetapan sebagaimana tersebut diatas, kemudian

Account Representative menentukan besaran pengurangan untuk masing variabel pertimbangan. Pemberian besaran pengurangan untuk masing-masing variabel tersebut untuk pemohon selain veteran adalah sebagai berikut: a. Pengurangan Berdasarkan Rasio Beban Listrik Terhadap PBB

Sebaran besarnya rasio beban listrik terhadap PBB untuk pemohon pada tahun 2008 disajikan pada Tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4.3

Sebaran Rasio Beban Listrik Terhadap PBB tahun 2008

Rasio ( x ) Jumlah Objek Pajak Tiap Kelas

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

<0,075 - - - - - 0,075≤ x<0,12 - - - - 2 0,12≤x,0,155 - - - - 9 0,155≤x0,19 - - - 55 - 0,19≤x<0,255 - - 19 - - 0,255≤x<0,26 - 11 - 1 - 0,26≤x<0,295 - - 1 16 5 0,295≤x<0,34 - - 8 9 - 0,34≤x<0,375 - 5 9 1 - 0,375≤x<0,41 - 3 - 6 - 0,41≤x<0,44 - - 2 - - 0,44≤x<0,47 - - - - - 0,47≤x<0,5 - 2 - - - x≥0,5 - - - - - Jumlah - 21 39 88 16

(11)

Dari sebaran besaran rasio beban listrik terhadap PBB yang harus dibayar tersebut diatas, maka jumlah pengurangan yang diperoleh dari seluruh pemohon tahun 2008 adalah seperti pada Tabel 4.4 berikut :

Tabel 4.4

Pengurangan Berdasarkan Rasio Beban Listrik Terhadap PBB Tahun 2008

Pengurangan Jumlah Objek Pajak Jumlah

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

5% - 2 2 7 - 13 10% - 8 17 25 5 54 15% - - 1 1 - 1 20% - 11 19 55 9 94 25% - - - - 2 2 30% - - - - 35% - - - - 40% - - - - 45% - - - - 50% - - - - Jumlah - 21 39 88 16 164

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative Berdasarkan Tabel 4.4 tersebut di atas dapat diketahui bahwa pada tahun 2008 dari variabel pertimbangan rasio beban listrik terhadap PBB, sebanyak 13 pemohon memperoleh pengurangan sebesar 5%, 54 pemohon memperoleh pengurangan sebesar 10%, 1 pemohon memperoleh pengurangan sebesar 15%, 94 pemohon memperoleh pengurangan sebesar 20% dan 2 pemohon memperoleh pengurangan sebesar 25% . Jumlah pengurangan yang belum mencapai nilai maksimum menunjukkan bahwa beban listrik yang harus dibayar rata-rata pemohon tidaklah terlalu besar jika dibandingkan dengan PBB yang harus dibayar. Rasio yang semakin besar akan memperoleh besaran pengurangan yang semakin besar merupakan upaya mewujudkan keadilan dalam pemberian pengurangan.

(12)

Sebaran besarnya rasio beban listrik terhadap PBB untuk pemohon pada tahun 2009 disajikan pada Tabel 4.5 berikut ini:

Tabel 4.5

Sebaran Rasio Beban Listrik Terhadap PBB tahun 2009

Rasio ( x ) Jumlah Objek Pajak Tiap Kelas

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

<0,075 - - - 3 - 0,075≤ x<0,12 - - - - 4 0,12≤x,0,155 - - - 3 3 0,155≤x0,19 - - 1 26 - 0,19≤x<0,255 - - 5 2 1 0,255≤x<0,26 - - - 6 - 0,26≤x<0,295 - - 2 8 5 0,295≤x<0,34 - 3 8 9 1 0,34≤x<0,375 - 1 11 20 5 0,375≤x<0,41 - 7 1 30 - 0,41≤x<0,44 - 3 5 - - 0,44≤x<0,47 1 5 - 2 - 0,47≤x<0,5 - - - 5 - x≥0,5 - 1 - 6 3 Jumlah 1 20 33 120 22

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative Dari sebaran besaran rasio beban listrik terhadap PBB tersebut diatas, maka pengurangan yang diperoleh pemohon adalah seperti pada Tabel 4.6 berikut:

Tabel 4.6

Pengurangan Berdasarkan Rasio Beban Listrik Terhadap PBB Tahun 2009

Pengurangan Jumlah Objek Pajak Jumlah

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

0% - 1 - 13 3 16 5% 1 8 6 50 6 72 10% - 8 19 17 5 49 15% - 3 2 8 1 14 20% - - 5 26 3 34 25% - - 1 3 4 8 30% - - - - 35% - - - 3 - 3 40% - - - - 45% - - - - 50% - - - - Jumlah 1 20 33 120 22 196

(13)

Berdasarkan Tabel 4.6 dapat diketahui bahwa pada tahun 2009 sebanyak 16 pemohon memperoleh besaran pengurangan 0%, 72 pemohon memperoleh besaran pengurangan 5%, 49 pemohon memperoleh besaran pengurangan 10%, 14 pemohon memperoleh besaran pengurangan 15% , 34 pemohon memperoleh 20%, 8 pemohon memperoleh 25% dan 3 pemohon memperoleh 35% dari variabel pertimbangan rasio beban listrik terhadap besarnya PBB. Sesuai dengan data pemberian pengurangan diatas dapat diketahui bahwa pemberian pengurangan dari variabel rasio beban listrik terhadap PBB sudah diberikan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. b. Pengurangan Berdasarkan Rasio Beban Telepon Terhadap PBB

Data sebaran besarnya rasio beban telepon terhadap PBB dari pemohon pada tahun 2008 pengurangan dapat dilihat pada Tabel 4.7 berikut ini:

Tabel 4.7

Sebaran Rasio Beban Telepon Terhadap PBB Tahun 2008 Rasio (x) Jumlah Objek Pajak Tiap Kelas

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

<0,01 - - - - 2 0,01≤x<0,04 - - - - 8 0,04≤x<0,070 - - 5 31 - 0,070≤x<0,10 - 3 8 - - 0,10≤x<0,125 - 6 - 1 1 0,125≤x<0,15 - - 1 20 5 0,15≤x<0,17 - - 9 28 - 0,17≤x<0,19 - 2 14 8 - 0,19≤x<0,21 - 8 2 - - 0,21≤x<0,23 - 2 - - - 0,23≤x<0,25 - - - - - x≥0,25 - - - - - Jumlah - 21 39 88 16

(14)

Berdasarkan sebaran Rasio beban telepon terhadap PBB tersebut, maka pengurangan yang diperoleh pemohon adalah seperti yang disajikan pada Tabel 4.8 berikut:

Tabel 4.8

Pengurangan Berdasarkan Rasio Beban Telepon Terhadap PBB Tahun 2008

Pengurangan Jumlah Objek Pajak Jumlah

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

0% - - - - 5% - 2 2 8 - 13 10% - 10 23 48 6 87 15% - - 1 1 - 1 20% - 9 13 31 8 61 25% - - - - 2 2 30% - - - - 35% - - - - Jumlah - 21 39 88 16 164

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative

Sebaran rasio beban telepon terhadap PBB untuk pemohon tahun 2009 disajikan pada Tabel 4.9 berikut ini :

Tabel 4.9

Sebaran Rasio Beban Telepon Terhadap PBB Tahun 2009

Rasio (x) Jumlah Objek Pajak Tiap Kelas

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

<0,01 - - 1 2 4 0,01≤x<0,04 - - 1 3 4 0,04≤x<0,070 - - 1 24 - 0,070≤x<0,10 - - 3 4 1 0,10≤x<0,125 - - - 18 - 0,125≤x<0,15 - - 3 10 3 0,15≤x<0,17 - 1 5 13 5 0,17≤x<0,19 - 3 7 34 - 0,19≤x<0,21 - 5 7 2 - 0,21≤x<0,23 - 7 - 2 - 0,23≤x<0,25 1 2 2 3 1 x≥0,25 - 2 3 5 4 Jumlah 1 20 33 120 22

(15)

Dari data sebaran rasio tahun 2009 tersebut diatas, maka pengurangan yang diperoleh pemohon adalah seperti pada Tabel 4.10 berikut:

Tabel 4.10

Pengurangan Berdasarkan Rasio Beban Telepon Terhadap PBB Tahun 2009

Pengurangan Jumlah Objek Pajak Jumlah

Buku 1 Buku 2 Buku 3 Buku 4 Buku 5

0% - 4 5 12 5 25 5% 1 8 7 34 5 55 10% - 7 12 23 3 46 15% - 1 3 22 1 27 20% - - 4 24 4 32 25% - - 1 5 4 10 30% - - 1 - - 1 35% - - - - Jumlah 1 20 33 120 22 196

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative

Berdasarkan data pengurangan tahun 2008 dan tahun 2009 dapat diketahui bahwa pemberian pengurangan dari variabel rasio beban telepon sudah sesuai dengan pedoman yang digunakan dimana setiap pemohon memperoleh pengurangan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan dengan mengacu pada besarnya rasio beban telepon terhadap PBB masing-masing.

c. Stimulus

Selama tahun 2008 dan 2009 tidak ada kebijakan pemberian stimulus untuk seluruh objek pajak yang terdaftar di KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua, sehingga dari variabel stimulus seluruh pemohon pengurangan pada tahun 2008 dan 2009 tidak mendapatkan besaran pengurangan.

(16)

d. Kenaikan PBB yang harus dibayar

Variabel pertimbangan selanjutnya adalah besarnya prosentase kenaikan PBB dari tahun sebelumnya. Berdasarkan pengolahan data, hasil akhir pemberian pengurangan untuk pemohon pengurangan pada tahun 2008 dan tahun 2009 disajikan pada Tabel 4.11 berikut ini:

Tabel 4.11

Pengurangan Berdasarkan Prosentase Kenaikan PBB Prosentase Kenaikan (x) Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah Objek Pajak Pengurangan

(%) Objek Pajak Jumlah

Pengurangan (%) x< 50% 160 0 153 0 50%≤x<100% - 5 - 5 100%≤x<200% 4 10 42 10 200%≤x<300% - 15 1 15 x≥300% - 20 - 20

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative

Dari tabel 4.11 dapat diketahui bahwa mayoritas pemohon pada tahun 2008 dan tahun 2009 memperoleh besaran pengurangan sebesar 0% karena prosentase kenaikan PBBnya dibandingkan tahun sebelumnya kurang dari 50%. Tetapi pada tahun 2009 terdapat peningkatan jumlah pemohon yang memperoleh pengurangan karena mengalami kenaikan PBB melebihi 100% dari tahun sebelumnya sebanyak 39 pemohon atau penambahan sebesar 975%. Berdasarkan data permohonan pengurangan tersebut dapat diketahui bahwa pemohon pada tahun 2008 dan 2009 sudah memperoleh besaran pengurangan sesuai kriteria yang ditetapkan dengan dasar besarnya prosentase kenaikan PBB dari tahun sebelumnya.

(17)

e. Kondisi perawatan bangunan

Pemberian pengurangan dari variabel kondisi perawatan bangunan lebih bersifat pada penilaian subjektif dari Account Representative yang meneliti permohonan. Berbeda dengan variabel-variabel sebelumnya yang mendasarkan pemberian pengurangan dengan data yang terukur, variabel kondisi perawatan bangunan hanya didasarkan atas pertimbangan pribadi

Account Representative dari hasil pengamatan yang dilakukan. Hasil pemberian pengurangan dari variabel kondisi perawatan bangunan pada tahun 2008 dan 2009 disajikan pada Tabel 4.12 berikut ini:

Tabel 4.12

Pengurangan Berdasarkan Kondisi Perawatan Bangunan Tahun Jumlah Objek Pajak Tiap Besaran Pengurangan

10% 5% 0% -5% -10%

2008 60 61 25 5 13

2009 64 64 35 19 14

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative

Pada tabel 4.12 diatas baik pada tahun 2008 maupun 2009, Account Representative sebagian besar menilai kondisi perawatan bangunan dalam kriteria buruk dan buruk sekali , rata-rata sebanyak 36% dari jumlah seluruh pemohon pada tahun 2008 dan rata-rata sebanyak 32% dari jumlah seluruh pemohon pada tahun 2009. Sementara itu untuk kriteria kondisi perawatan bangunan sedang, baik dan baik sekali rata-rata sebanyak 26% dari jumlah pemohon pada tahun 2008 dan rata-rata sebanyak 34% dari jumlah pemohon pada tahun 2009. Pemberian pengurangan tersebut lebih didasarkan pada pertimbangan sehingga tidak mudah diukur dengan jelas kesesuaian pemberian pengurangaannya.

(18)

f. Bencana Alam

Bencana alam yang digunakan sebagai pertimbangan dalam variabel ini adalah banjir. Account Representative menghimpun data mengenai wilayah yang mengalami banjir pada tahun sebelumnya sesuai dengan fakta yang ada. Data ini kemudian dijadikan acuan untuk menentukan apakah pemohon termasuk wilayah yang mengalami banjir atau tidak. Hasil pemberian pengurangan dengan variabel tersebut disajikan pada tabel 4.13 berikut ini:

Tabel 4.13

Pengurangan Berdasarkan Kriteria Wilayah Banjir Jenis Ketetapan Tahun 2008 Tahun 2009 Jumlah Objek Pajak Pengurangan

(%) Objek Pajak Jumlah

Pengurangan (%) Buku 1 - 25 - 25 Buku 2 4 20 7 20 Buku 3 4 15 4 15 Buku 4 20 5 42 5 Buku 5 5 5 11 5

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative

Dari tabel tersebut diatas diketahui bahwa pada tahun 2008 pemohon yang memperoleh pengurangan sebanyak 33 pemohon atau sebesar 20% dari seluruh pemohon dan pada tahun 2009 pemohon yang memperoleh pengurangan sebanyak 64 pemohon atau sebesar 37% dari seluruh pemohon.

g. Koreksi ( pertimbangan lain )

Variabel koreksi sama halnya dengan variabel kondisi perawatan bangunan dimana pertimbangan yang digunakan lebih bersifat subjektif. Namun pertimbangan yang digunakan tidak hanya satu kondisi seperti

(19)

pertimbangan dari kondisi bangunan. Besarnya pengurangan yang diberikan Account Representative dapat menambah atau mungkin mengurangi sesuai dengan pertimbangannya masing-masing. Besaran pengurangan tersebut tidaklah dibatasi sehingga penentuan sangat bergantung pada pertimbangan Account Representative. Pemberian pengurangan dari variabel koreksi disajikan dalam Tabel 4.14 berikut:

Tabel 4.14

Pengurangan Berdasarkan Pertimbangan Lain

Sifat Koreksi Jumlah Objek Pajak Yang Memperoleh Koreksi

2008 2009

Menambah 35 50

Mengurangi 12 23

Sumber : Diolah dari Pemrosesan Pengurangan Account Representative

Berdasarkan hasil wawancara dengan Account Representative, koreksi dilakukan didasarkan atas kondisi pendapatan yang diperoleh pemohon. Untuk pemohon yang dianggap memiliki penghasilan lebih, maka akan memperoleh koreksi yang bersifat mengurangi, sedangkan bagi pemohon yang memperoleh penghasilan dengan jumlah yang sangat terbatas dapat memperoleh koreksi yang bersifat menambah. Dari Tabel 4.13 dapat diketahui bahwa sebanyak 35 pemohon pada tahun 2008 dan 50 pemohon pada tahun 2009 mendapat koreksi yang bersifat menambah serta 12 pemohon pada tahun 2008 dan 23 pemohon pada tahun 2009 memperoleh koreksi yang bersifat mengurangi.

Setelah keseluruhan besaran pengurangan dari variabel-variabel pertimbangan tersebut diatas ditentukan, keseluruhan besaran pengurangan yang didapatkan kemudian dijumlahkan sesuai dengan cara yang sudah

(20)

ditentukan. Ringkasan hasil proses pengurangan PBB pada tahun 2008 dan tahun 2009 di KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua dapat dilihat pada Tabel 4.15 berikut :

Tabel 4.15

Hasil Proses Pengurangan PBB

2008 2009

Jumlah Objek Pajak Terdaftar 27.487 27.716 Objek Pajak Mengajukan Pengurangan:

- Veteran 11 10

- Selain Veteran 164 196

Objek Pajak Yang Diterima Pengurangannya:

- Veteran 11 10

- Selain Veteran 151 166

Objek Pajak Yang Ditolak Pengurangannya:

- Veteran 0 0

- Selain Veteran 13 30

Sumber : Diolah dari SISMIOP KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua

Dari Tabel 4.14 tersebut diatas, dapat diketahui bahwa jumlah objek pajak yang diajukan pengurangan pada tahun 2008 sebesar 0,64% dari jumlah objek pajak yang terdaftar dan pada tahun 2009 sebesar 0,74% dari jumlah objek pajak yang terdaftar. Dari jumlah pengajuan pengurangan, pada tahun 2008 sejumlah 6,28% diajukan oleh veteran dan 93,72% diajukan oleh selain veteran. Dari permohonan pengurangan pada tahun 2009 sejumlah 4,85% diajukan oleh veteran dan 95,15% diajukan oleh selain veteran. Dari jumlah permohonan tersebut, seluruh permohonan veteran pada tahun 2008 dan tahun 2009 disetujui, sedangkan permohonan oleh selain veteran pada tahun 2008 sebanyak 92,07% dari jumlah pemohon dan sebanyak 84,69% dari jumlah pemohon pada tahun 2009 disetujui permohonannya. Secara umum sebagian besar permohonan pengurangan pada tahun 2008 dan 2009 disetujui

(21)

permohonannya. Adapun nilai nominal pengurangan yang disetujui dapat dilihat pada Tabel 4.16 berikut ini:

Tabel 4.16

Nilai Rupiah Pengurangan Yang Disetujui Kelompok Nilai Rupiah Pengurangan

2008 2009

Umum 357.130.001 425.484.500

Veteran 9.278.606 38.290.117

Jumlah 366.408.606 463.774.617

Sumber : Diolah dari SISMIOP KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua

Penyelesaian tugas pemrosesan permohonan pengurangan dilakukan

Account Representative dengan membuat Laporan Hasil Penelitian Pengurangan PBB seperti yang tercantum dalam Lampiran 5. Laporan ini memuat seluruh hasil penelitian baik di kantor maupun di lapangan dan diakhiri dengan kesimpulan serta usul atas permohonan pengurangan yang diajukan. Laporan Hasil Penelitian Pengurangan PBB akan diteruskan terlebih dahulu kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi untuk diteliti terlebih dahulu sebelum kemudian diteruskan ke Kepala KPP Pratama untuk memperoleh persetujuan.

Apabila Laporan Hasil Penelitian Pengurangan PBB disetujui oleh Kepala KPP Pratama, Laporan Hasil Penelitian tersebut diteruskan ke Seksi Pengolahan Data dan Informasi guna diteruskan kepada Operator Console

untuk dilakukan pemutakhiran data ketetapan PBB.

Setelah pemutakhiran data dilakukan, Operator Console meneruskan Laporan Hasil Penelitian kepada Seksi Pelayanan untuk dibuat Surat Keputusan Pengurangan PBB dengan format sesuai dengan Lampiran 6.

(22)

C.Dampak Pemberian Pengurangan terhadap Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan

Pencapaian kinerja penerimaan PBB diukur dengan membandingkan antara target yang telah ditentukan dengan realisasi bersih yang dicapai. Penentuan target penerimaan dilakukan oleh masing-masing satuan kerja, dalam hal ini adalah KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua yang kemudian diusulkan ke Kantor Wilayah sebagai prognosa rencana penerimaan PBB. Rencana penerimaan dari masing-masing satuan kerja belum merupakan rencana akhir karena Kantor Wilayah akan melakukan penyesuaian terhadap rencana penerimaan tersebut. Hasil akhir penyesuaian dari Kantor Wilayah ini merupakan rencana penerimaan bagi seluruh Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang berada dalam suatu Kantor Wilayah. Rencana penerimaan PBB KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua pada tahun 2008 dan tahun 2009 sebelum dan sesudah disesuaikan disajikan dalam Tabel 4.17 berikut :

Tabel 4.17

Rencana Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan

Tahun 2008 Tahun 2009 Rencana Penerimaan KPP 28.824.000.000 34.034.644.000

Revisi dari Kanwil (488.000.000) 48.702.000

Rencana Setelah Revisi 28.336.000.000 34.083.346.000

Sumber : Diolah dari Rencana Penerimaan PBB Kanwil Jakarta Barat

Sesuai dengan Tabel 4.16 tersebut diatas dapat diketahui bahwa pada tahun 2008 terdapat koreksi penurunan dari kanwil sebesar -1,69% dari rencana awal sehingga menurunkan jumlah rencana penerimaan PBB pada tahun 2008. Sedangkan pada tahun 2009 terdapat koreksi penambahan dari kanwil sebesar

(23)

0,14% dari rencana awal sehingga menaikkan jumlah rencana penerimaan pada tahun 2009. Jumlah rencana setelah revisi ini kemudian ditetapkan sebagai target penerimaan PBB KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua.

Penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan di tiap tahunnya memiliki potensi pengurangan pada nilai bersih realisasinya. Salah satu potensi pengurangan tersebut dapat berasal dari permohonan pengurangan. Pengurangan yang disetujui berpengaruh pada berkurangnya realisasi bersih penerimaan, sedangkan pengurangan yang tidak disetujui tidak memiliki pengaruh terhadap realisasi penerimaan. Pengaruh pemberian pengurangan terhadap realisasi penerimaan Pajak Bumi dan Bangunan di KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua secara ringkas disajikan dalam Tabel 4.18 berikut ini :

Tabel 4.18

Target dan Realisasi Penerimaan PBB

Tahun 2008 Tahun 2009 Target Penerimaan 28.336.000.000 34.083.346.000 Realisasi sebelum pengurangan 30.853.250.884 36.330.272.534 Pengurangan (366.408.606) (463.774.617) Realisasi Bersih 30.486.842.278 35.866.497.917

Sumber : Diolah dari SISMIOP KPP Pratama Jakarta Kebon Jeruk Dua

Berdasarkan Tabel 4.17 dapat diketahui bahwa realisasi bersih penerimaan PBB setelah pengurangan pada tahun 2008 dan 2009 melebihi target yang telah ditetapkan meskipun nilai pengurangan sudah diperhitungkan dalam realisasi penerimaan tersebut. Realisasi bersih setelah pengurangan pada tahun 2008 sebesar 107,59% dari target penerimaan dan sebesar 105,23% dari target penerimaan pada tahun 2009. Berdasarkan data tersebut diatas dapat diketahui

(24)

bahwa pemberian pengurangan PBB pada tahun 2008 dan 2009 tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap realisasi penerimaan PBB tahun berjalan.

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan Tabel 4.1 dapat diketahui bahwa terdapat data pengamatan GPS yang memiliki nilai MP1 dan MP2 diatas kriteria, yaitu data CP 01 pada bulan Februari 2014..

Mahkamah Konstitusi dalam amar putusannya menyatakan menolak permohonan Provisi Pemohon, dan mengabulkan pokok permohonan pemohon untuk sebagian dan menyatakan Pasal

Kondisi sebelum tindakan merupakan kondisi awal sebelum diterapkan model pembelajaran make a match menggunakan media realia. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan

Dari hasil nilai test yang didapatkan, maka akan diuji dan dibandingkan dengan nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan, apakah hasil belajar

Pada tabel tersebut, diketahui 70 % responden memperoleh pertanyaan yang mengaitkan materi sebelumnya dengan materi yang dipelajari. Hal ini dapat memperdalam pemahaman

Sesuai dengan sidang yang telah ditetapkan oleh Pengadilan Agama Tulungagung, pemohon hadir sendiri di dalam persidangan sedangkan termohon tidak pernah datang

Satuan Kerja Perangkat Daerah yang menggunakan anggaran tidak sesuai dengan. anggaran yang

Data dari pengumpulan secara visual di lapangan dan data perkerasan jalan, kemudian di formulasikan kedalam kriteria – kriteria sesuai dengan yang tercantum