30 4.1. Gambar Umum Subyek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Sekolah Dasar Negeri Sidorejo Lor 05, dengan subyek penelitian yaitu kelas 5. Total subyek dalam penelitian adalah 36 siswa, terdiri dari 12 siswa laki-laki dan 24 siswa perempuan. Persoalan utama yang dihadapi oleh kelas ini adalah ketuntasan belajar siswa. Dari data awal, diketahui bahwa siswa yang belum tuntas sejumlah 20 siswa mencapai lebih dari 55.6% dari total kelas.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Kondisi Sebelum Tindakan
Kondisi sebelum tindakan merupakan kondisi awal sebelum diterapkan model pembelajaran make a match menggunakan media realia. Pada siswa kelas 5 SDN sidorejo Lor 05. Berdasarkan data awal, ditemukan bahwa dari total siswa kelas 5 yaitu 36 siswa, ada 20 siswa (55.5%) yang dinyatakan belum tuntas dan 16 siswa (44.4%) siswa yang telah tuntas. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan sekolah, yaitu minimal 70% dari total jumlah siswa harus lulus KKM= 70, maka diperlukan suatu penelitian tindakan kelas untuk memperbaiki situasi ketuntasan pada siswa ini. Berikut disediakan dalam Tabel 4.1 dan gambar 4.2 jumlah siswa yang memperoleh nilai berdasarkan interval nilai ketuntasan belajar.
Tabel 4.1
Persentase Ketuntasan Belajar Sebelum Tindakan
No Nilai Sebelum tindakan
Keterangan Jumlah siswa (%)
1 <70 20 55.6 Belum tuntas
2 ≥70 16 44.4 Tuntas
Jumlah 36 100
Rata-rata 65
Nilai tertinggi 86
Nilai terendah 56
Gambar 4.2 Persentase Ketuntasan Siswa Sebelum Tindakan
Berdasarkan tabel 4.1. diketahui jumlah jumlah siswa belum mencapai ketuntasan < 70 adalah 20 siswa (44.4%), sedangkan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan >70 adalah 16 siswa (44.4%). Hasil ini memberikan gambaran bahwa perlu dilakukan tindakan untuk memperbaiki ketuntasan belajar guna mencapai kriteria yang ditetapkan sekolah yaitu minimal 80% total siswa bisa mencapai KKM =70.
4.2.2. siklus 1
a. Perencanaan
Perencanaan merupakan tahap untuk menyusun strategi dalam rangka menyelesaikan masalah ketuntasan belajar siswa yang dialami.
Setelah melakukan konsultasi dengan guru kelas, maka hal-hal yang direncanakan untuk selanjutnya dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut:
1) Menyepakati bahwa tindakan akan dilakukan pada dua siklus, dimana masing-masing siklus dilaksanakan masing-masing dua pertemuan.
44,4%
55,6%
persentase hasil belajar prasiklus Tuntas Tidak tuntas
2) Menyusun RPP berdasarkan kesepakatan antara guru sebagai kolaborator yang mengajar dengan peneliti; dimana RPP yang disusun kembali, tetap mengacu pada sintaks pembelajaran kooperatif model make a match.
3) Menyiapkan semua alat peraga; yaitu media realia seperti senter, lilin, kertas karton, gelas, air, pensil dan korek api. Dimana alat peraga yang disiapkan tersebut berkaitan dengan materi pembelajaran yang akan diberikan.
4) Mengecek kembali perlengkapan dan ketersediaan alat pengumpul data, yaitui lembar obsevasi hasil kesepakatan dengan guru.
b. Pelaksanaan Pertemuan 1
1. Kegiatan awal
Pada pertemuan pertama, guru mengawali kegiatan dengan memberikan salam, berdoa, mengabsensi siswa, dan mengecek kerapian serta kelengkapan alat dan sumber belajar yang disiapkan oleh siswa, agar siswa menjadi bersemngat belajar, guru memberikan motivasi dengan menyampaikan bahwa belajar dengan giat akan membawa kita kemasa depan yang baik, apa yang kita cita-citakan pasti akan tercapai. Setelah berhenti sejenak, selanjutnya guru memberikan apersepsi dalam bentuk pertanyaan yaitu apa yang terjadi dan akan kamu lakukan jika lampu tiba-tiba mati dirumamu, sementara hari sudah malam? Guru mempersilahkan siswa untuk menjawab apersepsi yang diberikan.
Serentak, beberapa siswa mengacungkan tangan. Agar tidak berebutan dalam menjawab, guru mempersilahkan satu persatu siswa untuk memberikan jawabannya. Setelah siswa selesai menjawab guru meluruskan jawaban siswa dan memberikan apresiasi kepada siswa yang sudah berani memberikan jawabanya, guru memberi penguatan melalui pujian, agar siswa terus memiliki keberanian dalam menyampaikan hal-hal yang diketahui. Setelah
itu, guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai hari itu.
2. Kegiatan Inti
Setelah menjelaskan tujuan pembelajaran, guru menjelaskan materi pembelajaran, yaitu sifat-sifat cahaya serta siswa bersama guru melakukan demonstrasi berdasarkan sifat-sifat cahaya. Setelah menjelaskan materi pembelajaran dan melakukan demonstrasi guru meminta siswa menyebutkan kembali materi yang telah dijelaskan. Selanjutnya guru menjelaskan langkah- langkah penerapan model make a match. Setelah penjelasan guru memberikan kartu kepada siswa 5 siswa mendapatkan kartu soal, siswa lainnya mendapakan kartu jawaban. Setelah pembagian kartu guru meminta siswa yang mendapatkan kartu soal maju didepan disamping meja depan dan membaca soal. setelah semua siswa membaca soal siswa yang lain mencari jawaban yang cocok dengan soal yang dibaca dengan maju kedepan berdasarkan soalnya tanpa menimbulakn kegaduhan. Permainan dilakukan 3 putaran, putaran terakhir siswa diminta berdiskusi membahas jawaban dan menambah jawaban berdasarkan pengetahuan mereka, setelah itu tiap kelompok maju kedepan membacakan hasil diskusi mereka. Setelah diskusi selesai, guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari.
3. Kegiatan Akhir
Sebelum mengakhiri pelajaran, guru memberikan penguatan, guru meminta siswa siswa bertanya materi yang belum mereka pahami, setelah bertanya guru meminta siswa lain menjawabkan pertanyaan setelah itu guru meluruskan kembali jawaban siswa, setelah itu guru mengingatkan siswa untuk belajar karena masih ada pertemuan lagi berikutnya. Setelah itu, guru menutup pelajaran.
Pertemuan 2 1. Kegiatan Awal
Pertemuan kedua diawali dengan memberikan salam, mempresensi siswa, mengajak berdoa bersama, dan mengecek kelengkapan belajar siswa. Selanjutnya, guru memberikan motivasi.
Guru mengingatkan kembali materi yang dipelajari pada pertemuan pertama, setelah semua siswa menjawab pertanyaan guru, siswa ditanyakan apa yang terjadi jika cahaya mengenai cermin?
Bagaimana wujud bayanagan kamu jika kamu bercermin menggunakan cermin rias, kaca spion motor? Bagaimana bentuk bayangan kamu jika bercermin dibagian depan sendok stainless?
Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab apersepsi yang diberikan guru. Setelah siswa menjawab apersepsi, guru melanjutkan dengan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada hari itu, dan langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan.
2. Kegiatan Inti
Guru memberikan lagi lagi kartu soal dan kartu jawaban yang berbeda, siswa dibagikan dalam 5 kelompok, setiap siswa yang mendapatkan kartu soal mereka adalah ketua kelompok siswa yang lainnya mendapaykan kartu jawaban, siswa yang mendapatkan kartu soal maju kedepan disamping meja depan dan membaca soal, setelah semua soal dibaca siswa berlari menuju soal yang berdasarkan jawabanya tanpa membuat kegaduhan, permainan ini dilakukan 3 kali putaran setelah putaran terakkhir siswa duduk berkelompok dan membahas jawaban yang mereka dapat serta menambah jawaban berdasarkan pengetahuan mereka, setelah berdiskusi selesai, guru mempersilahkan siswa perkelompok diminta maju kedepan membacakan soal serta jawaban yang mereka diskusikan, kelompok lain memberikan tanggapan.
3. Kegiatan Akhir
Sebelum mengakhiri pelajaran, guru memberikan penguatan kepada siswa dengan mengingatkan kembali materi yang telah dipelajari dan mengatakan bahwa dalam kelompok bekerjasama dengan rekan yang lain sangat membantu dan itu merupakan tindakan yang baik dalam sebuah tim karena dapat membantu teman yang lain memahami materi pelajaran. Setelah itu guru mengingatkan kepada siswa untuk belajar materi selanjutnyanya dirumah. Setelah itu guru memberikan evaluasi berupa tes, evaluasi dimaksud untuk mengukur pemahaman siswa pada materi yang telah diberikan dengan menggunakan model make a match menggunakan media realia. Setelah itu siswa bersama guru bersama mengoreksi hasil kerja siswa, dan mengumpulkan hasil tes dimeja guru. Guru mengucapkan terimakasih atas kerjasama siswa, dan menutup pelajaran.
c. Observasi
Observasi dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung.
Observasi meliputi kinerja guru dalam mengajar dengan model make a match dengan media realia, aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan dengan model make a match menggunakan media realia, juga perubahan pada hasil belajar siswa karena menerima pelajaran dengan penerapan model make a match menggunakan media realia. Hasil yang disajikan sebagai berikut:
1. Kinerja Guru
Kinerja guru merupakan keseluruhan aktivitas yang dilakukan guru dalam penerapan model make a match menggunakan media realia dalam pembelajaran. Hasil pengamatan kinerja guru dalam pembelajaran, disajikan dalam Tabel 4.2 .
Tabel 4.2
Hasil pengamatan kinerja guru menerapkan model make a match menggunakan media realia
Siklus Pertemuan Total skor
Skor maks
Nilai kinerja
Kriteria
1 1
2
55%
65%
88 88
65%
79%
Cukup baik Cukup baik
Kinerja guru dalam menerapakan model make a match menggunakan media realia pada siklus 1 dihitung dengan cara sebagai berikut:
Nilai ∑
∑ x 100%
Dengan kriteria nilai sebagai berikut:
>86% =baik sekali 70-85% =baik
55-69 =cukup baik
<54% =kurang
Berdasarkan penghitungan hasil kinerja guru pada siklus 1, maka kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran make a match berada pada kategori baik dengan perolehan skor persentase 42 dan persentase 65%.
2. Aktivitas Siswa
Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model make a match menggunakan media realia. Aktivitas ini meliputi antusias, berani, tekun, bekerja sama, menyimak, aktif, dan kecepatan berfikir. Hasil pengamatan
pengamatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model make a match menggunakan media realia. Disajikan dalam Tabel 4.3.
Tabel 4.3
Hasil pengamatan aktivitas siswa mengikuti model make a match menggunakan media realia
Siklus Pertemuan Total skor Skor maks
Nilai aktivitas
Kriteria
1 1
2
19%
22%
32 32
59%
68%
Cukup baik Cukup baik siswa dalam mengikuti pembelajaran model make a match menggunakan media realia pada siklus 1 dihitung dengan cara sebagai berikut:
Nilai ∑
∑ x 100%
Dengan kriteria nilai sebagai berikut:
>86% =baik sekali 70-85% =baik
55-69% =cukup baik
<54% =kurang
Berdasarkan penghitungan hasil pengamatan aktivitas siswa pada siklus 1, maka kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran make a match menggunakan media realia berada pada kategori cukup baik dengan perolehan skor 19 dan persentase 59%.
3. Hasil Belajar Siswa
Hasil belajar siswa yang diamati adalah hasil belajar siswa setelah menerima pelajaran dengan model make a match menggunakan media realia. Menyajikan hasil belajar adalah untuk mengamati apakah model make a match menggunaka media realia
52.8%
47.2%
Persentase hasil belajar sklus 1
Tuntas Tidak Tuntas
mampu memberikan pengaruh dalam memperbaiki ketuntasan belajar siswa setelah tindakan. Berikut disajikan dalam Tabel 4.4 Gambar 4.2, hasil belajar siswa setelah tindakan siklus 1.
Tabel 4.4
Total Jumlah Dan Presentase Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus 1
No Nilai Siklus 1
Keterangan Jumlah siswa (%)
1 <70 17 47.2 Belum tuntas
2 70 19 52.8 Tuntas
Jumlah 36 100
Rata-rata Nilai tertinggi Nilai terendah
66 90 30
Gambar 4.2
Diagram Total Persentase Ketuntasan Belajar Siswa Pada Siklus 1 Mata Pelajaran IPA Siswa Kelas V Pokok Bahasan
“Sifat-Sifat Cahaya”
Berdasarkan Tabel 4.4, Gambar 4.2 diketahui bahwa jumlah siswa yang tuntas belajar dengan perolehan nilai >70 pada siklus 1 adalah 19 siswa (52.8%), dan siswa yang belum tuntas belajar dengan perolehan nilai <70 pada siklus I adalah 17 siswa (47.2%).
4. Perbandingan ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan dengan siklus I
Membandingkan ketuntasan belajar sebelum tindakan dengan setelah tindakan pada siklus I dimaksud untuk melihat apakah penerapan model make a match menggunakan media realia, memberikan pengaruh dalam meningkatka ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya.
Berikut ini disajikan dalam Gambar 4.5 perbandingan ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan dan setelah tindakan pada siklus I.
Tabel 4.5
Perbandingan ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan dengan siklus I
No. Ketuntasan
Kondisi awal Siklus I Jumlah
siswa
% Jumlah
siswa
%
1 Tuntas 16 44.4 19 52.8
2 Belum tuntas 20 55.6 17 47.2
Total 36 100 36 100
Berikut ini disajikan dalam Gambar 4.5 perbandingan jumlah ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan dan setelah diberikan tindakan dan setelah diberikan tindakan pada siklus I.
Gambar 4.5
Perbandinagn Jumlah Ketuntasan Belajar Siswa Sebelum Tindakan Dengan Siklus I
Berdasarkan Tabel 4.5 dan Gambar 4.5 diketahui bahwa terjadi peningkatan jumlah maupun persentase ketuntasan belajar siswa. Jika sebelum tindakan, siswa yang tuntas belajar adalah 16 siswa (44.4%) dari total jumlah siswa, terjadi peningkatan setelah diberikan tindakan ppada siklus I, dimana siswa yang tuntas menjadi 20 siswa (55.6%) dari total jumlah siswa. Hasil ini memberikan gambaran bahwa terjadi peningkatan jumlah ketuntasan belajar siswa yaitu 3 siswa (8.3%). Jumlah siswa yang belum tuntas sebelum tindakan adalah 20 siswa (55.5%) dan berkurang setelah diberikan tindakan pada siklus I menjadi 17 siswa (47.2%). Hasil ini memberikan gambaran bahwa terjadi penurunan jumlah siswa yang belum tuntas yaitu 3 siswa (8.3%).
Meskipun terjadi peningkatan ketuntasan belajar siswa setelah diberikan tindakan pada siklus I, diketahui bahwa ketuntasan belajar ini belum memberikan hasil yang diharapkan yaitu minimal 75% dari total siswa tuntas belajar atau tuntas KKM yang ditetapakan sekolah= 70.
Dengan kata lain, dengan hasil ini diperlukan lagi tindakan yang harus dilaksanakan pada siklus II.
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
pra siklus siklus I
44,40%
52,80%
55,60%
47,20%
tuntas belum tuntas
d. Refleksi
Setelah tindakan pada siklus I dilaksanakan, perlu dilakukan refleksi tentang keseluruhan proses belajar mengajar. Refleksi didasarkan atas temuan baik temuan observer maupun temuan guru selama proses pembelajaran dilaksanakan. Refleksi dimaksdukan agara kekuragan-kekurangan selama tindakan pada siklus I, dapat diperbaiki sewaktu melaksanakan tindakan pada siklus II. Adapun kekurangan-kekurangan sselama tindakan pada siklus II.
Adapun kekurangan-kekurangan yang ditemui selama tindakan pada siklus I, adalah sebagai berikut:
1. Guru belum mengkoordinir dengan baik, baik dalam pembentukan kelompok, diskusi kelompok maupun presentasi tiap-tiap anggota kelompok.
2. Ketuntasan belajar siswa belum mencapai kriteria yang ditetapkan sekolah (minimal 80% dari total siswa tuntas KKM).
3. Hampir sebagian siswa masih bingung dengan pembentukan kelompok.
4. Siswa masih kurang konsentrasi dalam mengikuti pembelajaran.
4.2.3. Siklus II
a. Perencanaan
Berdasarkan refleksi pada siklus I, maka hal-hal yang direncanakan untuk dilaksanakan sebagai tindakan pada siklus II adalah sebagai berikut:
1. Guru mengkoodinir proses pembentukan kelompok, diskusi kelompok maupun presentasi anggota kelompok.
2. Ketuntasan belajar siswa sudah mencapai kriteria yang ditetapkan sekolah (minimal 80% dari total siswa tuntas KKM)
3. Guru menjelaskan cara pembentukan kelompok kembali dengan lebih detail supaya siswa tidak bingung saat mencari pasangan kelompok.
4. Siswa berkonsentrasi dalam mengikuti pembelajaran hingga selesai.
b. Pelaksanaan Pertemuan 1 1. Kegiatan Awal
Pada pertemuan pertama, guru mengawali kegiatan dengan memberikan salam, mengabsensi siswa, dan mengecek kerapian serta kelengkapan alat dan sumber belajar yang disiapkan oleh siswa. Agar siswa bersemangat daam belajar, guru memberikan motivasi dengan menyampiakan bahwa belajar dengan giat dapat membantu kita mencapai cita-cita kita, dan menjelaskan tujuan pembelajaran hari ini. Pada pertemuan pertama siklus II ini, masih dengan strategi yang lama, namun siswa yang menjelaskan kembali materi dan melakukan demontrasi.
2. Kegiatan Inti
Setelah penjelasan materi dan demonstrasi,guru bertanya kepada siswa mengenai materi yang belum di pahami. Setelah itu guru membentuk kelompok dengan cara membagi kan kartu saol dan kartu jawaban kepada siswa. Setiap siswa yang mendapatkan kartu jawaban maju kedepan dan mereka adalah ketua kelompoknya, setelah maju kedepan setiap ketua kelompok membacakan soal yang ada pada kartu soal yang dipegang satu per satu, sementara siswa lain menyimak dan mendengarkan apa yang dibaca oleh ketua kelompok, setelah itu guru memberi waktu kepada siswa yang memegang kartu jawaban untuk menuju kepada ketua kelompok berdasarkan jawaban yang mereka pegang tanpa membuat kegaduhan. Permainan ini dilakukan 2 kali putaran. Pada saat putaran terakhir setiap kelompok berdiskusi dengan anggota kelompoknya untuk memastikan jawaban yang mereka pegang serta menambahkan kembali jawaban menurut pengetahuan mereka. Setelah itu masing-masing kelompok maju kedepan membacakan soal dan jwaban hasil diskusi kelompok. Setelah membaca soal dan jawaban kelompok lain diberikan kesempatan
untuk bertanya kepada kelompok yang sedang berdiskusi didepan.
Setelah menjawab pertanyaan kelompok yang bertanya, guru meluruskan jawaban siswa tersebut. Setelah itu guru menyimpulkan materi yang telah dipelajari hari ini.
3. Kegiatan Akhir
Sebelum penutupan pelajaran, guru memberikan apresiasi kepada kelompok yang sudah maju dan berani bertanya. Guru meminta siswa untuk belajar dirumah karena masih ada pertemuan ke 2. Guru memberi salam penutup dan mengakhiri pelajaran.
Pertemuan 2 1. Kegiatan awal
Pada pertemuan kedua ini, guru mengawali kegiatan dengan memberikan salam, mengabsensi siswa, dan mengecek kerapian, kelengkapan dan kesiapan siswa dalam mengikuti pelajaran. Tidak lupa guru memberikan motivasi kepada siswa supaya siswa dapat mengikuti pembelajaran dengan motivasi yang baik. Sama seperti pertemuan pertama pada siklus II ini, sebelum memulai pelajaran guru memberikan apersepsi dan menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan dicapai hari ini.
2. Kegiatan Inti
Sebelum memberikan tugas untuk didiskusikan kepada siswa dalam kelompok, guru terlebih dahulu memberikan pemaparan garis besar materi pelajaran yaitu sifat-sifat cahaya dengan salah satu sub materi yaitu cahaya dapat diuraikan, sambil mendemonstrasikan bagaimana tampak cakram warna.
Setelah melakukan demonstrasi siswa diminta untuk bertanya mengenai hasil demonstrasi apakah masih ada yang belum dipahami selama demonstrasi dilakukan.
Guru membentuk siswa dalam kelompok, langkah-langkahnya iyalah masing-masing siswa mendapatkan kartu, ada 5 siswa
yang mendapatkan kartu soal mereka berperan sebagi ketua kelompok, sedangkan siswa yang mendapat kartu jawaban mereka adalah anggota kelompok. Siswa yang mendapatkan kartu soal maju kedepan berbaris sejajar di samping meja depan dan membaca soal, setelah membaca soal, siswa diminta maju kedepan menuju kesoal yang sesuai dengan jawab yang dipegang tanpa membuat kegaduhan. Permainan ini dilakukan 3 kali putaran. Pada putaran terakhir siswa diminta duduk berkelompok dan mendiskusikan soal serta jawaban yang mereka pegang serta menambah jawaban sesuai dengan pengetahuan mereka. Setelah berdiskusi tiap-tiap kelompok secara bergantian maju kedepan membacakan hasil diskusinya, kelompok lain memberi tanggapan kepada kelompok yang didepan. Setelah itu guru memberikan pujian kepada setiap kelompok yang sudah berani maju kedepan membacakan hasil diskusinya dan kelompok yang sudah berani memberi tanggapan kepada kelompok yang berdiskusi didepan. Setelah itu guru merangkum keseluruhan hasil pembelajaran hari ini, dan meluruskan jawaban-jawaban siswa yang kurang tepat saat berdiskusi, dan menyimpulkan materi pembelajaran hari ini.
3. Kegaiatan Akhir
Guru memberikan soal evalusi kepada siswa. Evaluasi dimaksud untuk menguji dan mengetahui pemahaman siswa terhadap materi sifat-sifat cahaya dengan menerapkan model make a match menggunakan media realia, sekaligus menjadi instrumen untuk mengukur ketuntasan siswa dalam belajar.
Setelah mengerjakan evaluasi guru bersama siswa mengoreksi jawaban siswa. Guru menyampaikan terimakasih kepada siswa karena sudah mau bekerja sama dalam belajar selama proses pembelajaran berlangsung. Guru memberikan kenang-kenangan
sebagai ucapan terimakasih, mengucapkan salam penutup, dan doa pulang.
c. Observasi
Observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi meliputi kinerja guru dalam mengajar dengan model make a match menggunakan media realia, juga perubahan pada hasil belajar siswa karena menerima pelajaran dengan menerapkan model make a match menggunakan media realia.
Hasil disajikan sebagai berikut:
1. Kinerja Guru
Kinerja guru merupakan keseluruhan aktivitasa yang dilakukan guru dalam menerapkan model make a match dalam pembelajaran. Hasil pengamatan kinerja guru dalam pembelajaran, disajikan dalam Tabel 4.6.
Tabel 4.6
Hasil Observasi Kinerja Guru Menerapkan Model Make A Match Menggunakan Media Realia Siklus II
Siklus Pertemuan Total skor Skor maks
Nilai
kinerja kreteria
II 1
2
66%
74%
88 88
75%
84%
Baik Baki sekali
Kinerja guru dalam menerapkan model make a match menggunakan media realia pada siklus II, dihitung dengan cara sebagao berikut:
Nilai ∑
∑ x 100%
Dengan kriteria nilai sebagai berikut:
>86% =baik sekali 70-85% =baik
55-69 =cukup baik
<54% =kurang
Berdasarkan penghitungan hasil kinerja guru pada siklus II, maka kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran make a match berada padakategori baik sekali dengan perolehann skor 62 dan persentase 97%.
2. Aktivitas siswa
Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model make a match menggunakan media realia. Aktivitas ini meliputi antusias, berani, tekun, bekerja sama, menyimak, aktif, dan kecepatan berfikir. Hasil pengamatan pengamatan aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model make a match menggunakan media realia. Disajikan dalam Tabel 4.7.
Tabel 4.7
Hasil pengamatan aktivitas siswa mengikuti model make a match menggunakan media realia
Siklus Pertemuan Total skor Skor maks
Nilai aktivitas
Kriteria
I 1
2
26%
29%
32 32
81%
90%
Baik Baik seklai
Aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran model make a match menggunakan media realia pada siklus 1 dihitung dengan cara sebagai berikut:
Nilai ∑
∑ x 100%
Dengan kriteria nilai sebagai berikut:
>86% =baik sekali 70-85% =baik
55-69% =cukup baik
<54% =kurang
Berdasarkan penghitungan hasil kinerja guru pada siklus 1, maka kinerja guru dalam menerapkan model pemelajaran make a match
0,00%
20,00%
40,00%
60,00%
80,00%
100,00%
tuntas belum tuntas
83,40%
16,60%
tuntas belum tuntas
menggunakan media berada pada kategori cukup baik dengan perolehan skor 30 dan persentase 93%.
3. Hasil belajar siswa
Hasil belajar siswa yang diamati adalah hasil belajar siswa setela menerima pelajaran dengan model make a match menggunakan media realia. Menyajikan hasil belajar adalah untuk mengamati apakah model make a match memberikan pengaruh dalam memperbaiki dn meningkatkan ketuntasan belajar siswa setelah tindakan.
Berikut disajikan dalam Tabel 4.8 Gambar 4.3, hasil belajar siswa setelah tindakan siklus II.
Tabel 4.8
Total Jumlah Dan Presentase Ketuntasan Belajar Siswa pada Siklus II
No Nilai
Siklus II
Keterangan Jumlah
siswa (%)
1 <70 6 16.6 Belum tuntas
2 >70 30 83.4 Tuntas
Jumlah 36 100
Rata-rata Nilai tertinngi Nilai terendah
76 100
35
Gambar 4.3 Diagram Total Jumlah Ketuntasan Belajar Siswa Pada Sisklus II
Berdasarkan Tabel 4.8 dan Gambar 4.3 diketahui bahwa siswa yang tuntas belajar setelah diberikan tindakan pada siklus II adalah 30 siswa (83,40%). Dengan perolehan hasil ini disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model make a match menggunakan media realia dalam rangka meningkatkan ketuntasan belajar IPA materi sifat-sifat cahaya, berhasil melebihi target ≤75%.
4. Perbandingan Ketuntasan Belajar Siklus I Dengan Siklus II
Membandingkan ketuntasan belajar setelah tindakan pada siklus I dengan siklus II, dimaksud untuk melihat apakah penerapan model make a match, memberikan pengaruh dalaam meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran IPA materi sifat-sifat cahaya.
Berikut ini disajikan dalam Tabel 4.9 perbandingan ketuntasan belajar siswa setelah siklus I dengan tindakan pada siklus II.
Tabel 4.9
Perbandingan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dan Siklus II
No Ketuntasan Siklus I Siklus II Jumlah
siswa
% Jumlah
siswa
%
1 Tuntas 19 52,80 30 83,40%
2 Belum
tuntas
17 47,20 6 16,60%
Total 36 100 36 100
Berikut ini disajikan dalam Gambar 4.4 perbandingan jumlah ketuntasan belajar siswa setelah tindakan pada siklus I dan setelah diberikan tindakan pada siklus II.
Gambar 4.4 Perbandingan Jumlah Ketuntasan Belajar Siklus I Dengan Siklus II
Berdasarkan tabel 4.9 dan gambar 4.4 diketahui bahwa pada siklus I, siswa yang tuntas belajar adalah 19 siswa (52,80%). Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus II, terjadi peningkatan jumlah ketuntasan belajar siswa menjadi 30 siswa (83,40%). Siswa yang belum tuntas pada siklus I adalah 17 siswa ( 47,20%). Setelah dilaksanakan tindakan pada siklus II, siswa yang tidak tuntas menurun menjadi 6 siswa (16,40%).
Dengan hasil ini dapat disimpulkan bahwa upaya peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran make a match menggunakan media realia, materi sifat-sifat cahaya pada siswa kelas 5 SDN Sidorejo Lor 05, berhasil dilakukan.
Berikut akan disajikan dalam Tabel 4.10 dan gambar 4.5 perbandingan keseluruhan ketuntasan belajar dari sebelum tindakan, siklus I, dan siklus II.
52,80%
83,40%
47,20%
16,60%
0,00%
10,00%
20,00%
30,00%
40,00%
50,00%
60,00%
70,00%
80,00%
90,00%
siklus I siklus II
tuntas belum tuntas
0,00%
10,00%
20,00%
30,00%
40,00%
50,00%
60,00%
70,00%
80,00%
90,00%
pra siklus siklus I siklus II 44,40%
52,80%
83,40%
55,60%
47,20%
16,60%
tuntas belum tuntas Tabel 4.10
Perbandingan ketuntasan belajar siswa sebelum tindakan, siklus I, dan siklus II.
No Hasil Belajar
Tuntas Belum tuntas
Jumlah siswa % Jumlah
siswa %
1 Prasiklus 16 44.4% 20 55.6%
2 Siklus I 19 52.8% 17 47.2%
3 Siklus II 30 83.4% 6 16.6%
Gambar 4.5
diagram perbandingan ketuntasan belajar pra siklus, siklus I, dan siklus II
Berdasarkan Tabel 4.10 dan Gambar 4.5 diketahui bahwa siswa yang tuntas sebelum tindakan adalah 16 siswa (44,40%). Setelah diberi tindakan pada siklus I terjadi peningkatan jumlah ketuntasan siswa menjadi 19 siswa (52,80%). Setelah diberi tindakan pada siklus II, terjadi peningkatan jumlah ketuntasan menjadi 30 siswa (83,40%). Siswa yang belum tuntas pada pra siklus adalah 20 siswa (55,60%). Setelah diberikan tindakan pada siklus I, berkurang menjadi 17 siswa (47,20%), berkurang menjadi 6 siswa (16,60%)
setelah diberikan tindakan pada siklus II. Dengan kata lain, bahwa upaya peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran make a match menggunakan media realia, materi sifat-sifat cahaya pada kelas 5 SDN Sidorejo Lor 05, berhasil dilakukan.
d. Refleksi
Dengan adanya tindak lanjut mengenai pembelajaran IPA dengan menggunakan model make a match menggunakan media realia dalam pelaksanaan pertemuan pertama siklus II, yang telah direncanakan sebelumnya oleh peneliti juga berhasil meningkatkan kualitas diskusi siswa serta hasil belajar siswa.
Dalam penelitian ini peneliti merasa masih ada sedikit kekurangan yaitu siswa kurang kontribusi dalam mengeluarkan pendapat. Peneliti menargetkan setidaknya siswa harus bisa mengeluarkan pendapat ketika mereka berdiskusi dalam kelompoknya.
Agar kekurangan tersebut Dengan adanya tindak lanjut mengenai pembelajaran IPA dengan menggunakan model pembelajaran tipe make a match menggunakan media realia dalam pelaksanaan pertemuan pertama siklus II, peneliti merancang melakukan penelitian dalam dua pertemuan selama siklus II. Pertemuan pertama, hasil refleksi perancangan dari siklus sebelumnya tentang adanya penambahan alokasi waktu dapat diperbaiki, maka peneliti merancang agar pada pertemuan berikutnya siswa dan guru menambah sumber bahan pembelajaran dengan menggunakan sumber tambahan, sebagai contoh menyuruh siswa mencari informasi tentang menyederhanakan berbagai sifat-sifat cahaya melalui internet ataupun buku referensi lain yang relevan.
Dalam pertemuan kedua siklus II berhasil meningkatkan hasil belajar siswa memuaskan. Pada pertemuan ini peneliti rasa sudah tidak ada lagi kekurangan dalam pembelajaran make a match menggunakan media realia yang signifikan.
Dengan adanya tindakan penelitian menggunakan model pembelajaran tipe make a match hasil belajar siswa kelas V dari siklus I dan
siklus II meningkat. Hal ini dapat dilihat pada hasil siklus II, kemampuan siswa tentang pembelajaran materi sifat-sifat cahaya dari 52.8% menjadi 83.4%. Adanya permasalahan yang terdapat pada siklus I sebelumnya juga dapat teratasi dengan mengulang materi dan penjelasan yang lebih detail.
Berdasarkan dari hasil belajar siswa yang telah mencapai ketuntasan, peneliti dan guru melakukan kesepakatan bahwa tidak ada siklus lanjutan terhadap pembelajaran.
Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan masukan siklus I, dan memperbaiki kinerja, maka diketahui bahwa ketuntasan belajar siswa menjadi meningkat setelah diberikan tindakan pada siklus II.
4.3. PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa siswa yang tuntas pada pra siklus adalah 16 siswa (44,40%). Setelah diberi tindakan pada siklus I terjadi peningkatan jumlah ketuntasan siswa menjadi 19 siswa (52,80%). Setelah diberi tindakan pada siklus II, terjadi peningkatan jumlah ketuntasan menjadi 30 siswa (83,40%). Siswa yang belum tuntas pada pra siklus adalah 20 siswa (55,60%).
Setelah diberikan tindakan pada siklus I, berkurang menjadi 17 siswa (47,20%), berkurang menjadi 6 siswa (16,60%) setelah diberikan tindakan pada siklus II.
Dengan kata lain, bahwa upaya peningkatan hasil belajar IPA melalui model pembelajaran make a match menggunakan media realia, materi sifat-sifat cahaya pada kelas 5 SDN Sidorejo Lor 05, berhasil dilakukan.
Selain meningkatkan ketuntasan hasil belajar siswa, dengan menerapkan model pembelajaran make a match menggunakan media realia, materi sifat-sifat cahaya, juga meningkatkan kreativitas guru beserta siswa. Karena setiap siklus selalu terjadi peningkatan yang baik. Baik itu terjadi pada aktivitas guru maupun aktivitas siswa. Dengan demikian, pembelajaran yang menerapkan model make a match menggunakan media realia dapat meningkatkan hasil belajar. Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Shinta Kurniawati, 2014 “penerapan model kooperatif tipe make a match untuk
meningkatkan hasil belajar IPA kelas V materi sifat-sifat cahaya kelas Dersalam Kudus”.
Mendukung pernyataan toristis tentang model make a match yang dikatakan oleh Miftahul Huda (2013:251) bahwa model pembelajaran kooperatif tipe make a match menggunakan media realia merupakan salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang menjadi salah satu strategi penting dalam ruang kelas. Dengan mencari pasangan dalam sebuah kelompok dapat meningkatkan hasil belajar siswa, baik secara kognitif maupun fisik, karena ada unsur permainan, metode in menyenangkan; meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi yang dipelajari dan dapat meningkatkan motivasi hasil belajar siswa, melatih keberanian siswa untuk tampil presentasi, dan melatih kedisiplinan siswa menghargai waktu untuk belajar.
Menurut Gerlach dan Eli (dalam Arsyad, 2002) mengatakan bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap. Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media.
Sakinah (2013) Adapun kelebihan menggunakan media reealia, yaitu:
1. Dianggap medium yang paling mudah diakses dan lebih menarik perhatian.
2. Mampu merangsang imajinasi.
3. Memberikan pengalaman belajar langsung (dengan menyentuh dan mengamati bagian-bagiannya), dan pengalaman tentang keindahan.
Tujuan penerapan make a match menggunakan media realia dalam pembelajaran adalah untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Selain itu aktivitas, komunikasi dan interaksi antar siswa terjalin dengan baik dengan menggunakan model make a match menggunakan media realia ini siswa dapat membangun konsep sendiri mengenai materi yang mereka pelajari dengan cara berdiskusi dan bekerja sama menemukan soal maupun jawaban yang mereka pegang sehingga dari kondisi tersebut hasil belajar siswa dapat meningkat.
Dengan memperlakukan sintaks pembelajaran dengan tepat dengan memperhatikan karektiristik siswa, ternyata model pembelajaran ini mampu meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran IPA, materi sifat-sifat cahaya pada siswa kelas 5 SDN Sidorejo Lor 05, semester II Tahun Pelajaran 2015/2016.