1
I. EVALUASI KONDISI CUACA BULAN SEPTEMBER 2020 A. Monitoring Dinamika Atmosfer September 2020
Kondisi cuaca di Indonesia termasuk Banyuwangi dikendalikan / dipengaruhi oleh fenomena-fenomena dinamika atmosfer berskala global, regional hingga lokal yang saling berinteraksi dan membentuk pola serta variabilitas cuaca - iklim di Banyuwangi. Berikut adalah monitoring kondisi fenomena-fenomena tersebut selama bulan September 2020: El Nino Southern Oscillation (ENSO)
Selama September 2020, monitoring suhu bawah laut Pasifik di kedalaman 0 – 200 m pada Juni – Juli 2020 menunjukkan anomali suhu negatif meluruh, kemudian anomali negatif suhu di bawah laut ini menguat kembali pada Agustus hingga akhir September 2020 di Pasifik tengah hingga timur. Secara umum, SST di Samudera Pasifik bagian barat hangat hingga dingin sedangkan pada wilayah tengah dan timur didominasi kondisi angin. Di Samudera Hindia bagian barat umumnya didominasi kondisi hangat hingga dingin, sedangkan bagian timur umumnya didominasi kondisi hangat. Anomali SST di wilayah Nino 3.4 menunjukkan nilai melewati ambang batas La NiÑa dan telah berlangsung selama 6 dasarian terakhir, sedangkan Anomali SST di Samudera hindia tetap menunjukkan kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) netral. SST Pasifik di Wilayah Nino 3.4 diprediksi didominasi anomali negatif pada Oktober 2020 dan bertahan hingga Januari 2021, kemudian meluruh hingga Maret 2021. Wilayah Samudera Hindia diprediksi didominasi anomali positif pada Oktober 2020, kemudian meluruh menuju normal hingga Maret 2021.
Gambar 1. Kondisi anomali suhu muka laut dan suhu bawah laut Pasifik, serta angin pasat di sekitar Pasifik Ekuatorial sampai akhir September 2020 (Sumber : BoM dan NOAA)
2 Dipole Mode
Dipole Mode Indeks (DMI) di Samudera Hindia selama bulan September 2020 menunjukkan kecenderungan menuju normal setelah sebelumnya berada pada kisaran negatif. Indeks minggu terakhir September 2020 tercatat -0.06 hal ini menunjukkan adanya kontribusi penambahan massa udara dari Samudera Hindia ke sebagian wilayah Indonesia bagian barat pada akhir Agustus 2020 hingga sekarang (Awal Oktober 2020). Kondisi DMI negatif ini diprediksi berlangsung hingga Desember 2020 Dan diprediksi akan menuju netral mulai Februari 2021.
Gambar 2. Indeks Dipole Mode hingga akhir September 2020 (Sumber : BoM)
Madden-Jullan Oscillation (MJO) dan Outgoing Longwave Radiation (OLR)
Analisa aktifitas MJO pada tanggal 29 September 2020 menunjukkan MJO aktif di fase 5 (Benua Maritim) dan di prediksi tetap aktif di fase 5 (Benua Maritim) hingga dasarian II Oktober 2020, namun intensitasnya lemah. Berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR terdapat wilayah Konvekif / sedikit lebih basah di bagian utara Indonesia hingga dasarian II Oktober 2020.
Gambar 3. Siklus posisi MJO dan anomali OLR selama September 2020, Warna biru adalah OLR negatif,menunjukkan wilayah basah atau hujan (Sumber : BMKG)
3 Sirkulasi Monsun Asia – Australia
Pada September 2020, seluruh wilayah Indonesia didominasi Angin Timuran, kecuali Sumatera bagian tengah hingga utara dan kalimantan bagian utara. Daerah belokan angin terjadi disekitar garis ekuator. Angin Timuran yang bertiup umumnya lebih kuat dibandingkan Klimatologisnya. Pola angin meridional, angin dari Selatan mendominasi wilayah Indonesia. Aliran massa udara dari Selatan umumnya hampir sama dengan klimatologisnya.
Gambar 4. Grafik indeks Monsun Australia harian yang dihitung dari data angin zonal arah barat-timur (komponen U) pada lapisan 850 mb (sumber: BMKG), dan normal streamline angin gradien 925 hPa
September (sumber: NOAA)
Gambar 5. Anomali angin zonal dan meridional September 2020 lapisan 850 mb (sumber: ESRL NOAA)
Pola aliran massa udara komponen zonal (timur – barat) di wilayah Jawa Timur khususnya Banyuwangi selama September 2020 (rata-rata bulanan) kondisinya tidak terjadi anomali (netral) yang mengindikasikan tidak ada dominasi massa udara dari barat maupun timur, namun masih sama dengan kondisi rata-ratanya. Untuk komponen meridional (Utara – Selatan) di mayoritas Jawa Timur kondisinya terjadi anomali negatif artinya massa udara dominan dari Utara mengarah ke Selatan. Kondisi tersebut juga turut berperan dalam variabilitas hujan di Jawa Timur selama September 2020.
4 Suhu Muka Laut Perairan Indonesia
Kondisi anomali suhu muka laut di perairan Indonesia pada September 2020 berkisar antara +0.25 hingga +2 º C, suhu muka laut yang hangat +0.53 (anomali positif) umumnya terjadi di sebagian besar perairan sebelah barat Sumatera, laut Aru, perairan sebelah utara Maluku Utara dan perairan sebelah utara Papua. Namun secara harian kondisi suhu muka laut cenderung hangat di sekitar perairan Jawa sebelah Selatan. Dengan suhu muka laut kisaran 27 – 30 °C di wilayah perairan Jawa, menunjukkan potensi penguapan cukup tinggi dalam pembentukan awan. Hangatnya suhu perairan menjadi salah satu faktor dalam membentuk hujan selama September 2020, ditambah faktor lainnya.
Gambar 6. Suhu Muka Laut Perairan Indonesia dan Anomalinya bulan September 2020 (sumber: NOAA)
Gangguan Tropis
Selama September 2020 terdapat 3 aktifitas siklon tropis di Utara ekuator yaitu Siklon NOUL pada 15 - 18 September 2020, Siklon DOLPHIN pada 21 - 24 September 2020, Dan Siklon KUJIRA pada 27 – 30 September 2020. Lokasi siklon yang cukup jauh kurang berdampak terhadap kondisi cuaca di Indonesia khususnya wilayah Banyuwangi. Di wilayah Banyuwangi kejadian hujan secara umum dipengaruhi oleh menguatnya monsun baratan yang menyebabkan pertemuan massa udara dan pertumbuhan awan hujan, hangatnya suhu muka laut serta aktifnya La NiÑa.
5 Kelembaban Udara
Kelembaban udara relatif selama September 2020 di Jawa Timur umumnya cukup basah dengan rata-rata kisaran diatas 70%, dimana hal ini berkorelasi positif dengan kejadian hujan dan sebaran pertumbuhan awan selama September 2020 yaitu masih terjadi hujan di wilayah Jawa Timur khususnya Banyuwangi. Dari peta Prakiraan kelembapan udara relatif untuk bulan Oktober ini di Jawa Timur khususnya Banyuwangi diprediksi umumnya diatas 80%.
Gambar 9. Kelembaban Udara Relatif September 2020 dan Anomalinya pada level 850 mb (Sumber: BMKG)
6 Aktivitas Cuaca
Selama bulan September 2020 sebagian besar wilayah Banyuwangi masih terjadi hujan dengan kategori Rendah, Menengah dan Tinggi. Hujan kategori Rendah terjadi di Banyuwangi Kota, Jambu/Licin, Dadapan/Kabat, Rogojampi, Genteng, Kebondalem/Bangorejo, Sukonatar/Srono, Tegaldlimo, Purwoharjo, Karangdoro/Tegalsari, Jambewangi/Sempu, Blambangan/Muncar dan Pesanggaran. Kategori Menengah terjadi di Alasmalang/Singojuruh, Glenmore dan Songgon. Kategori Tinggi terjadi di Bayu Lor/Songgon dan Kalibaru.
Kondisi hujan pada September 2020 jika dibandingkan dengan kondisi normal/ rata-rata bulan tersebut secara spasial hujan yang terjadi memiliki sifat hujan Bawah Normal terjadi di Licin, Dadapan/Kabat, Rogojampi, Kebondalem/Bangorejo, Songgon, Tegaldlimo, Purwoharjo, Karangdoro/Tegalsari, Jambewangi/Sempu dan Blambangan/Muncar. Sifat hujan Normal terjadi di Genteng, Sukonatar/Srono dan Pesanggaran. Sedangkan sifat hujan Atas Normal terjadi di Banyuwangi Kota, Bayu Lor/Songgon. Walaupun secara Normal Musim sebagian besar wilayah Banyuwangi berada pada Musim Kemarau namun hujan masih sering terjadi di beberapa kecamatan. Hal tersebut disebabkan karena suhu muka laut yang hangat di perairan sekitar Banyuwangi, adanya perlambatan angin dan pengaruh kondisi Dinamika Atmosfir lainnya.
Pada Oktober 2020 sebagian besar wilayah Banyuwangi diprediksi berada pada masa Pancaroba (peralihan musim yaitu dari musim kemarau ke musim hujan). Hal yang perlu di waspadai saat peralihan musim adalah terjadinya hujan lebat secara tiba-tiba, petir, angin kencang dan putting beliung. Kondisi ini akan lebih sering terjadi saat siang hingga sore jelang malam dan terkadang malam hari (jarang). Hujan lebat, Petir dan terkadang disertai angin kencang dapat di tandai dengan adanya pertumbuhan awan Cumulonimbus/Cb yang memiliki ciri puncak awan menjulang tinggi ke atas dan berbentuk seperti Tower bandara.
Kondisi cuaca untuk wilayah perairan selatan Banyuwangi pada Oktober 2020 di prediksi akan mulai terjadi hujan, petir dan terkadang disertai dengan angin kencang. Perlu diwaspadai pula terjadinya gelombang tinggi dan tingginya kecepatan angin .
B. Pantauan Kondisi Cuaca Bulan September 2020 di Kota Banyuwangi
Dari rentetan peta synoptic selama bulan September 2020 menunjukan bahwa wilayah Banyuwangi Kota berada pada masa Musim Kemarau, hal tersebut di tandai oleh jumlah curah hujan <150 mm/bulan. Dan pada Oktober 2020 wilayah Banyuwangi di prediksi berada pada masa peralihan musim yaitu dari musim kemarau ke musim hujan. Angin pada umumnya bertiup dari arah yang bervariasi. Angin dominan bertiup dari arah Tenggara, dengan kecepatan 2 – 12 knots. Kondisi cuaca cerah – berawan dan hujan ringan hingga sedang. Angin maksimum terjadi pada 11 September 2020 yaitu dari arah Selatan dengan kecepatan maximum 12 knots. Jumlah Hujan di Kota Banyuwangi dalam satu bulan 93.9 mm/bulan (Atas Normal). Suhu tertinggi 32.4 °C terjadi pada 25 September 2020, suhu terendah sebesar 22.0 ºC terjadi pada 16 September 2020.
Berikut adalah rekap data meteorologi yang diperoleh dari Stasiun Meteorologi Banyuwangi pada bulan S e p t e m b e r 2 0 2 0 , di mana pada tabel ini ditampilkan parameter hasil observasi yang merupakan hasil pengamatan di lapangan dan data normal/ rata- rata yang merupakan keadaan normal pada bulan yang bersangkutan.
7
Tabel 1. Rekap Data Meteorologi Stasiun Meteorologi Banyuwangi September 2020
NO PARAMETER HASIL OBSERVASI
SEPTEMBER 2020 NORMAL SEPTEMBER (1981-2010) 1 Temperatur rata-rata 27.0 ⁰C 26.2 ⁰C 2 Temperatur maksimum 30.3 ⁰C 31.9 ⁰C 3 Temperatur minimum 24.3 ⁰C 21.0 ⁰C
4 Temp. maks. absolut 32.4 ⁰C 33.5 ⁰C
5 Temp. min. absolut 22.0 ⁰C 19.0 ⁰C
6 Tekanan udara rata-rata * 1012.0 mb 1011.8 mb
7 Kecepatan angin rata-rata 3.1 knots 3.7 knots
8 Arah angin terbanyak Tenggara Selatan
9 Kelembaban rata-rata 78 % 77 %
10 Curah hujan 93.9 mm 48.0 mm
9
Gambar 10. Grafik parameter cuaca dan mawar angin di kota Banyuwangi hasil observasi September 2020 (Sumber: BMKG)
Penguapan yang terjadi selama September 2020 mencapai 174.6 mm dengan rata-rata harian 5.8 mm, penguapan tertinggi 10.0 mm terjadi pada 11 September 2020.
Penyinaran matahari rata-rata S e p t e m b e r 2020 a d a l a h 8 9 % . P e n y i n a r a n M a t a h a r i t e r t i n g g i mencapai 1 0 0 % terjadi pada dasarian I, II, dan III.
Tekanan udara (QFF) r a t a - r a t a 1 0 1 2 . 0 m b , tertinggi 1013.5 mb pada 12 September 2020 dan terendah 1009.9 mb pada 10 September 2020.
Rata-rata kelembaban udara relative (RH) S e p t e m b e r 2020 adalah 7 7 % dengan RH tertinggi 88% pada 22 September 2020, dan RH terendah 67% pada 14 September 2020.
Angin dominan bertiup dari arah Tenggara. Kecepatan angin antara 3 – 8 knots sebesar 56.2%, kecepatan angin 8 – 13 knot sebesar 8.3%. Kecepatan angin tertinggi 12 knots, terjadi pada tanggal 11,12, 28 dan 29 September 2020 dari arah Tenggara.
C. Evaluasi Kondisi Cuaca Bandara Banyuwangi.
Bandar Udara Banyuwangi (IATA: BWX, ICAO: WADY) terletak di Desa Blimbingsari Kec. Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur pada koordinat 8°18′38.16″ LS 114°20′24.64″ BT dengan elevasi 25.66 meter (84.19 feet). Bandara dengan landas pacu saat ini 2.250 meter tersebut dibuka pada 29 September 2010. Terdapat lima maskapai penerbangan komersial yaitu Garuda Indonesia, Wings Air, Citilink (Garuda Indonesia Group), Lion Air, Batik Air. Selain itu juga terdapat 2 sekolah penerbangan yaitu Akademi Penerbang Indonesia (API), Bali International Flight Academy (BIFA).
Kondisi parameter cuaca selama September 2020 di Bandara Banyuwangi dari data hasil pengamatan BMKG pos meteorologi penerbangan bandara Banyuwangi dengan durasi pengamatan 24 jam (00.00 – 23.00 UTC) adalah sebagai berikut :
Wilayah Bandara Banyuwangi pada bulan September 2020 normalnya berada pada masa Musim Kemarau. Pada September 2020 di Bandara Banyuwangi jumlah curah hujan 28.6mm.
Curah hujan tertinggi pada Agustus sebesar 9.3mm tanggal 29 September 2020. Kelembaban udara relatif rata-rata 85 %. RH tertinggi 100 % pada dasarian I, II dan III Juli 2020, terendah 46 % tanggal 15 September 2020. Tekanan udara (QNH) rata-rata 1011.9 mb, tertinggi 1015.1mb dan terendah 1007.8mb. Suhu rata–rata 26.8°C dengan suhu maksimum absolut 32.3°C terjadi pada tanggal 25 September 2020, suhu minimum absolut 21.1°C pada tanggal 14 dan 15 September 2020. Arah angin bervariasi, kecepatan angin 3 – 8 knots sebesar 56.2% bertiup dari arah Tenggara. Kecepatan angin tertinggi 15 knots, terjadi pada 21 September 2020 dari arah Tenggara.
10
Gambar 11. Grafik parameter cuaca hasil observasi September 2020 di Banyuwangi International Airport
11
D. Evaluasi Kondisi Cuaca Pelabuhan Penyeberangan Selat Bali
Berdasarkan pantauan data AWS maritim di pelabuhan penyeberangan Ketapang Banyuwangi, menunjukkan selama bulan September 2020 angin dominan dari arah Selatan - Barat Daya dengan kecepatan angin bervariasi 2 – 13.9 knot. Suhu berkisar antara 23.0 – 30.7 °C, Kelembaban Udara Relatif 51 – 100 %, dan tekanan udara berkisar 1006.9 – 1014.2 mb. Kondisi cuaca dominan cerah – berawan namun masih terdapat hujan ringan. Curah hujan tercatat 29.4 milimeter. Berikut grafik parameter cuaca selat Bali :
12
E. AnalisaHujan September 2020 Daerah Banyuwangi
Berdasarkan data curah hujan bulan September 2020 dari stasiun BMKG dan pos-pos hujan kerjasama di Banyuwangi dapat disajikan evaluasinya sebagai berikut :
Jumlah Curah hujan tertinggi 348 mm/bulan, terjadi di Bayulor (11 hari hujan) dengan sifat hujan Atas Normal. Sementara curah hujan terendah 10 mm/bulan yang terjadi di Kebundalam dengan sifat hujan Bawah Normal. Sedangkan curah hujan di Banyuwangi Kota 93.9 mm/bulan dengan sifat hujan Atas Normal.
Gambar 13. Peta Distribusi Curah Hujan September 2020 dan Sifat Hujan September 2020 di Banyuwangi (Sumber: BMKG)
Dari peta terlihat bahwa secara spasial mayoritas wilayah Banyuwangi pada September 2020 sebagian besar masih terjadi hujan kecuali Purwoharjo. Hujan yang terjadi masuk dalam kategori bervariasi yaitu Rendah, Menengah dan Tinggi. Curah Hujan kategori Rendah (0-100 mm/bln) terjadi di Banyuwangi Kota, Jambu/Licin, Dadapan/Kabat, Rogojampi, Genteng, Kebondalem/Bangorejo, Sukonatar/Srono, Tegaldlimo, Purwoharjo, Karangdoro/Tegalsari, Jambewangi/Sempu, Blambangan/Muncar dan Pesanggaran. Kategori Menengah (100-300 mm/bln) terjadi di Alasmalang/Singojuruh, Glenmore dan Songgon. Kategori Tinggi (300-500 mm/bln) terjadi di Bayu Lor/Songgon dan Kalibaru.
13
F. Monitoring Hari Tanpa Hujan Berturut-turut
Gambar 14. Peta Monitoring Hari Tanpa Hujan berturut-turut September 2020 di Banyuwangi (Sumber: BMKG Banyuwangi)
Dari peta terlihat bahwa secara spasial seluruh wilayah Banyuwangi pada September 2020 sebagian besar masih terjadi hujan. Hasil monitoring hari tanpa hujan di wilayah Banyuwangi pada September 2020 masuk dalam klasifikasi Sangat Pendek, Pendek dan Panjang. Klasifikasi Sangat Pendek (1-6 hari tidak terjadi hujan) terjadi di Banyuwangi Kota, Rogojampi, Songgon, Kalibaru, Glenmore, Genteng, Singojuruh, Srono, Muncar, Tegaldlimo dan Pesanggaran. Klasifikasi Pendek (6-10 hari tidak terjadi hujan) terjadi di Silir Agung dan Bangorejo. Klasifikasi Panjang (21-30 hari tidak terjadi hujan) terjadi di Licin, Kabat dan Purwoharjo. Dari hasil monitoring hari tanpa hujan wilayah Banyuwangi ini mengindikasikan bahwa daerah yang berpotensi untuk terjadinya Kekeringan Ekstrim pada September 2020 hingga pertengahan Oktober 2020 belum ada/ nihil.
14
II. PROSPEK CUACA BULAN OKTOBER 2020 A. Prediksi Dinamika Atmosfer Oktober 2020
Monitoring perkembangan ENSO dari BMKG menunjukkan kondisi ENSO negatif. Sementara itu Dipole Mode Indeks (DMI) yang terpantau negatif, diprediksi akan menuju netral mulai Maret 2021, mengindikasikan adanya penambahan massa uap air dari Samudera Hindia menuju wilayah Indonesia bagian Barat maupun sebaliknya.
Secara umum anomali suhu muka laut (Sea Surface Temperature/ SST) perairan Indonesia dan sekitarnya pada Oktober 2020 diprediksi tetap berada dalam kondisi anomali positif dan akan bertahan hingga Maret 2021.
Analisis aktifitas MJO pada tanggal 29 September 2020 menunjukkan MJO aktif di fase 5 dan di prediksi tetap aktif menuju fase 5 hingga dasarian II Oktober 2020. Berdasarkan peta prediksi spasial anomali OLR wilayah Konvekif / sedikit lebih basah mulai memasuki wilayah Indonesia bagian utara hingga awal dasarian II Oktober 2020.
Pada skala regional secara normal pola tekanan udara rendah selama September 2020 sering muncul di Belahan Bumi Utara (BBU). Seiring pergerakan semu matahari memasuki Oktober 2020 potensi terjadinya gangguan tropis di BBU akan membuat monsun Timuran stabil dan akan berdampak terhadap berkurangnya kejadian hujan terutama di selatan ekuator. La NiÑa yang sedang berlangsung menyebabkan hujan masih terjadi di Wilayah Banyuwangi. Waspadai juga cuaca Ekstrim pada peralihan musim.
Melihat perkembangan dinamika atmosfer dan dampaknya terhadap kondisi cuaca iklim di Jawa Timur dan Banyuwangi khususnya, dapat disimpulkan bahwa wilayah Banyuwangi pada bulan Oktober 2020 musim pancaroba atau peralihan musim dari musim kemarau ke musim hujan. Tetapi tetap perlu kewaspadaan menghadapi potensi terjadinya angin kencang dan gelombang laut tinggi khususnya di daerah pesisir pantai selatan Banyuwangi. Untuk prakiraan curah hujan bulanan, sebagai dampak pola monsun timuran yang stabil maka diprediksi akumulasi curah hujan bulan Oktober 2020 sebagian wilayah diprediksi curah hujannya berada pada kondisi dibawah normalnya, sebagian diatas normalnya dan sebagian wilayah lainnya berada dibawah kondisi rata-rata / normalnya.
15
Gambar 15. Prediksi ENSO dan anomali Suhu Permukaan Laut (Sumber : IRI, NMME )
16
B. Prakiraan Curah Hujan dan Sifat Hujan Banyuwangi Bulan Oktober 2020
Berdasarkan hasil perhitungan statistik dan pantauan kondisi fisis dan dinamis atmosfer di wilayah Jawa Timur dan sekitarnya serta kondisi lokal masing-masing wilayah terutama topografi daerah Jawa Timur, maka curah hujan daerah Banyuwangi untuk bulan Oktober 2020 diprakirakan sebagai berikut :
Curah Hujan wilayah Banyuwangi berkisar 0 mm hingga 100 mm
Sifat Hujan wilayah Banyuwangi di Bawah Normal – di Atas Normal
17
C. Prakiraan Potensi Banjir Oktober 2020
Berikut adalah peta prakiraan potensi Banjir bulan Oktober 2020. Dari peta terlihat wilayah di Banyuwangi potensi banjirnya diprediksi masuk kategori Aman. Hingga bulan Oktober 2020 semua wilayah Banyuwangi masih berada pada musim kemarau. Namun hujan ringan – sedang masih berpotensi terjadi dan tetap waspada terhadap kondisi cuaca yang dapat berubah setiap saat.
Gambar 17. Prakiraan Daerah Potensi Banjir Oktober 2020 (Sumber:BMKG)
III. INFORMASI TERBIT-TERBENAM MATAHARI OKTOBER 2020
Berikut adalah data terbit terbenamnya matahari, selama bulan Oktober 2020 di wilayah Kota Banyuwangi :
18
IV. KEJADIAN GEMPABUMI DIRASAKAN SIGNIFIKAN DI WILAYAH BANYUWANGI
Gambar 18. Kejadian Gempabumi yang signifikan di Banyuwangi (Sumber:BMKG)
Kejadian Gempa Bumi yang signifikan dirasakan sampai di wilayah Banyuwangi selama September 2020 tidak ada kejadian/ NIHIL.
V. KEJADIAN CUACA EKSTRIM SEPTEMBER 2020
Cuaca / Iklim Ekstrim adalah suatu kondisi meteorologi yang menyimpang dari nilai rata-ratanya atau menyimpang terhadap nilai batas ambang meteorologi di wilayah tersebut. Dampak pemanasan global yang berlanjut pada perubahan iklim di yakini sebagai salah satu pemicu munculnya cuaca/ iklim ekstrim baik dari tingkat keseringan, cakupan luas wilayah maupun nilainya, dimana cuaca/iklim ekstrim tersebut berpotensi menimbulkan bencana dan kerugian bahkan korban jiwa.
Tabel 2. Cuaca/ Iklim Ekstrim Bulan September 2020 Banyuwangi
KRITERIA KETERANGAN
Angin dengan kecepatan > 45 Km/jam -
Suhu udara > 35˚ C -
Suhu udara < 15˚ C -
Kelembaban udara < 30 % -
Curah Hujan >100 mm / hari Glenmore 150 mm, Kalibaru 139 mm
Tanah Longsor -
Banjir Bandang -
19
DAFTAR ISTILAH INFORMASI CUACA, IKLIM DAN GEMPABUMI
ENSO adalah singkatan dari El-Nino Southern Oscillation. Secara umum para ahli
membagi ENSO menjadi ENSO hangat (El-Nino) dan ENSO dingin (La-Nina). Kondisi tanpa kejadian ENSO biasanya disebut sebagai kondisi normal. Referensi penggunaan kata hangat dan dingin adalah berdasarkan pada nilai anomali suhu permukaan laut (SPL) di daerah NINO di Samudera Pasifik dekat ekuator bagian tengah dan timur. Pada saat fenomena El Nino berlangsung, kondisi atmosfer di wilayah Indonesia cenderung kering, sehingga potensi kondisi curah hujannya berkurang atau lebih sedikit dibandingkan dengan rata-rata normalnya. Kondisi sebaliknya terjadi ketika fenomena La Nina berlangsung, dimana atmosfer wilayah Indonesia umumnya akan cenderung basah, sehingga bisa berpotensi menyebabkan intensitas curah hujan yang lebih banyak dibanding rata-rata normalnya.
Dipole Mode merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudera Hindia yang
dihitung berdasarkan perbedaan nilai (selisih) antara anomali suhu muka laut perairan pantai timur Afrika dengan perairan sebelah barat Sumatera. Perbedaan nilai anomali suhu muka laut tersebut selanjutnya dikenal sebagai Dipole Mode Indeks (DMI), dimana DMI positif berdampak berkurangnya curah hujan di Indonesia bagian barat, DMI negatif berdampak meningkatnya curah hujan di Indonesia bagian barat.
Asian Cold Surge atau seruakan dingin Asia digunakan untuk menggambarkan
penjalaran massa udara dari Asia akibat adanya tekanan tinggi di daerah tersebut dan menjalar ke arah selatan menuju ekuator dengan membawa massa udara dingin. Indeks yang digunakan untuk identifikasi aktivitas cold surge adalah dengan menghitung indeks monsun yaitu selisih nilai tekanan antara Titik 115° BT/ 30° LU (didekati dengan data dari stasiun Wuhan di daratan China) dengan tekanan di Hongkong (116° BT/ 22° LU). Threshold value yang digunakan untuk indeks monsun dari gradient tekanan adalah ≥10 mb sebagai indikator adanya cold surge.
MJO singkatan dari Madden Jullian Oscillation adalah suatu istilah yang digunakan untuk
menggambarkan fluktuasi antar musiman yang terjadi di sekitar wilayah tropis. Keberadaan MJO ditandai dengan adanya penjalaran pada arah timuran di wilayah tropis dimana terjadinya penambahan intensitas curah hujan pada daerah tersebut, terutama di atas Samudera Hindia dan Pasifik. Anomali curah hujan seringkali merupakan indikator pertama dalam mengindikasikan kejadian MJO, dimana pada mulanya intensitas curah hujan tinggi terjadi di Samudera Hindia dan kemudian menjalar ke arah timur melewati wilayah Indonesia menuju Samudera Pasifik barat dan tengah panjang siklus MJO diperkirakan sekitar 30-60 harian. Penemu dari fenomena MJO ini adalah Madden dan Jullian.
OLR singkatan dari Outgoing Longwave Radiation adalah istilah yang digunakan untuk
menyatakan intensitas atau banyaknya radiasi gelombang panjang dari bumi ke atmosfer. Anomali OLR yang bernilai negatif menunjukkan jumlah radiasi yang terukur di atmosfer sangat sedikit karena terhalang oleh intensitas perawanan yang cukup tinggi di atmosfer. Sedangkan anomali OLR positif menunjukkan jumlah radiasi dari bumi yang cukup banyak karena tidak terhalang oleh kondisi perawanan di atmosfer. Satuan OLR adalah weber/m-2.
Monsun adalah sirkulasi angin yang mengalami perubahan arah secara periodik setiap
setengah tahun sekali. Sirkulasi angin Indonesia ditentukan oleh pola perbedaan tekanan udara di Australia dan Asia. Pola tekanan udara ini mengikuti pola peredaran matahari dalam setahun. Pola angin baratan terjadi karena adanya tekanan udara tinggi di Asia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim hujan di Indonesia. Pola angin timuran/tenggara terjadi karena adanya tekanan udara tinggi di Australia yang berkaitan dengan berlangsungnya musim kemarau di Indonesia.
20
Daerah Pertemuan Angin Antar Tropis (ITCZ/ Inter Tropical Convergence Zone)
merupakan daerah tekanan udara rendah yang memanjang dari barat ke timur dengan posisi selalu berubah mengikuti pergerakan posisi semu matahari ke arah utara dan selatan khatulistiwa. Wilayah Indonesia yang dilewati ITCZ pada umumnya berpotensi terjadi pertumbuhan awan-awan hujan.
Curah Hujan (mm) adalah ketinggian air hujan yang terkumpul dalam penakar hujan
pada tempat yang datar, tidak menyerap, tidak meresap dan tidak mengalir. Unsur hujan 1 (satu) milimeter artinya dalam luasan satu meter persegi pada tempat yang datar tertampung air hujan setinggi satu milimeter atau tertampung air hujan sebanyak satu liter.
Zona Musim (ZOM) adalah daerah yang pola hujan rata-ratanya memiliki perbedaan
yang jelas antara periode musim kemarau dan periode musim hujan. Wilayah ZOM tidak selalu sama dengan luas daerah administrasi pemerintahan. Dengan demikian satu kabupaten/ kota dapat saja terdiri dari beberapa ZOM dan sebaliknya satu ZOM dapat terdiri dari beberapa kabupaten.
Dasarian adalah rentang waktu selama 10 (sepuluh) hari. Dalam satu bulan dibagi
menjadi 3 (tiga) dasarian, yaitu :
a. Dasarian I : tanggal 1 sampai dengan 10 b. Dasarian II : tanggal 11 sampai dengan 20
c. Dasarian III : tanggal 21 sampai dengan akhir bulan
Sifat Hujan adalah perbandingan antara jumlah curah hujan selama rentang waktu yang
ditetapkan (satu periode musim hujan atau satu periode musim kemarau) dengan jumlah curah hujan normalnya (rata-rata selama 30 tahun periode 1971 - 2000). Sifat hujan dibagi menjadi 3 (tiga) kategori, yaitu :
a. Atas Normal (AN), jika nilai curah hujan lebih dari 115% terhadap rata-ratanya b. Normal (N), jika nilai curah hujan antara 85% - 115% terhadap rata-ratanya c. Bawah Normal (BN), jika nilai curah hujan kurang dari 85% terhadap
rata-ratanya
Gempa adalah getaran bumi yang terjadi sebagai akibat penjalaran gelombang
seimik/gempa yang terpancar dari sumbernya/sumber energi elastik
Gempa Tektonik adalah gempabumi yang disebabkan oleh adanya pergeseran atau
pergerakan lempeng bumi.
Magnitude adalah parameter gempa yang berhubungan dengan besarnya kekuatan
gempa di sumbernya. Ada beberapa jenis magnitude, yaitu: magnitude lokal (ML), magnitude
gelombang permukaan (Ms), magnitude gelombang badan (mb), magnitude momen (Mw),
magnitude durasi (Md).
Intensitas gempa adalah besaran yang dipakai untuk mengukur suatu gempa
berdasarkan tingkat kerusakan dan reaksi manusia yang disebabkan oleh gempa tersebut.
Skala Richter Suatu ukuran obyektif kekuatan gempa dikaitkan dengan magnitudenya,
dikemukan oleh Richter (1930).
Skala MMI (Modified Mercally Intensity) adalah suatu ukuran subyektif kekuatan gempa
dikaitkan dengan intensitasnya.