BAB 2 LANDASAN TEORI. Menurut Mathiassen et al (2000, p9), sistem adalah kumpulan komponen yang

Teks penuh

(1)

7

LANDASAN TEORI

2.1 Sistem Informasi 2.1.1 Pengertian Sistem

Menurut Mathiassen et al (2000, p9), sistem adalah kumpulan komponen yang mengimplementasikan kebutuhan fungsi dan antarmuka permodelan.

Menurut McLeod (2001, p13), sistem adalah sekelompok elemen-elemen yang terintegrasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan, dimana unsur-unsur dari sistem meliputi input, transformasi, output, mekanisme pengendalian, tujuan dan umpan balik (feedback).

Menurut O’Brien (2002, p8), sistem adalah sekelompok komponen yang saling berhubungan yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama dengan menerima input dan menghasilkan output melalui proses transformasi yang terorganisir. Jadi, sistem adalah sekumpulan komponen yang terintegrasi, berinteraksi dan bekerja sama untuk mencapai tujuan yang sama.

2.1.2 Pengertian Informasi

Menurut Davis (1993, p28), informasi adalah data yang telah diolah menjadi suatu bentuk yang berarti bagi penerima dan bermanfaat dalam membantu pengambilan keputusan, baik sekarang maupun pada masa yang akan datang. Data adalah angka-angka yang secara relatif belum mempunyai arti bagi pemakai.

Menurut McLeod (2001, p12), informasi adalah data yang telah diproses atau data yang memiliki arti.

(2)

Menurut O’Brien (2002, p15), informasi adalah data yang telah diubah menjadi berarti dan berguna khususnya bagi pengguna akhir.

Jadi, informasi adalah data yang telah diproses sehingga memiliki arti yang berguna bagi pengguna akhir.

2.1.3 Pengertian Sistem Informasi

Menurut O’Brien (2002, p7), sistem informasi adalah kombinasi yang terorganisasi antara sumber daya manusia, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber daya data yang dikumpulkan kemudian diolah sehingga menghasilkan informasi yang disebarluaskan ke seluruh organisasi.

Menurut Turban (2001, p8), sistem informasi adalah sistem yang mengumpulkan, mengolah, menyimpan dan menganalisa data, dan menyebarkan informasi untuk tujuan-tujuan tertentu.

2.1.4 Peran Fundamental dari Sistem Informasi dalam Bisnis

Menurut O’Brien dan Marakas (2006, p6), ada 3 alasan fundamental untuk semua aplikasi bisnis dari teknologi informasi. Alasan tersebut dapat ditemukan dalam 3 peran penting yang dapat diberikan sistem informasi pada bisnis proses:

• Mendukung bisnis proses itu sendiri

• Mendukung pengambilan keputusan dari pegawai dan manajer

(3)

2.2 Analisis dan Perancangan Sistem 2.2.1 Pengertian Analisis Sistem

Menurut McLeod (2001, p128), analisis sistem adalah mempelajari sistem yang sudah ada dengan tujuan merancang sistem baru atau melakukan peningkatan pada sistem.

Menurut Mulyadi (2001, p41), analisis sistem adalah mengidentifikasikan informasi yang diperlukan oleh pemakai untuk melaksanakan pekerjaannya. Masalah yang sering dihadapi oleh analisis sistem pada tahap ini adalah membedakan apa yang diminta, dengan apa yang diinginkan, dan dengan apa yang diperlukan oleh pemakai informasi.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa analisis sistem adalah mempelajari sistem yang sudah ada untuk merancang sistem yang baru atau untuk melakukan peningkatan pada sistem dengan cara mengidentifikasikan jenis informasi yang diperlukan oleh pemakai informasi dalam melaksanakan pekerjaannya.

2.2.2 Langkah-Langkah dalam Tahap Analisis

Menurut McLeod (2001, p128), langkah-langkah dalam analisis sistem adalah sebagai berikut :

1. Mengumumkan pembelajaran sistem

Memberikan penjelasan kepada pegawai mengenai alasan perusahaan melakukan proyek untuk menerapkan aplikasi komputer yang baru, dan menerangkan kepada pegawai bagaimana sistem yang baru akan menguntungkan perusahaan dan pegawai. 2. Mengorganisasikan tim proyek

(4)

3. Mendefinisikan kebutuhan informasi

Sistem analis mempelajari kebutuhan informasi pemakai dengan terlibat dalam berbagai kegiatan pengumpulan informasi seperti wawancara, pengamatan, dan survei.

4. Mendefinisikan kriteria kinerja sistem

Merumuskan dengan tepat mengenai hal-hal yang harus dicapai oleh sistem. 5. Menyiapkan usulan rancangan

6. Menyetujui atau menolak rancangan sistem

2.2.3 Pengertian Perancangan Sistem

Menurut McLeod (2001, p130), perancangan sistem adalah penentuan proses dan data yang akan diperlukan oleh sistem yang baru. Untuk sistem yang terkomputerisasi, perancangan dapat memasukkan spesifikasi perlengkapan yang digunakan.

Menurut Mulyadi (2001, p51), perancangan sistem adalah suatu proses penerjemahan kebutuhan pemakai informasi ke dalam alternatif rancangan sistem informasi yang diajukan kepada pemakai informasi untuk dipertimbangkan.

2.2.4 Langkah-Langkah dalam Tahap Perancangan

Menurut McLeod (2001, p130), langkah-langkah dalam perancangan sistem adalah sebagai berikut :

1. Menyiapkan rancangan sistem yang rinci

2. Mengidentifikasi berbagai alternatif konfigurasi sistem 3. Mengevaluasi berbagai alternatif konfigurasi sistem tersebut 4. Memilih konfigurasi yang terbaik

(5)

5. Menyiapkan usulan penerapan

6. Menyetujui atau menolak penerapan sistem

2.3 Penjualan 2.3.1 Jenis Penjualan

Menurut Mulyadi (2001, p202), kegiatan penjualan terdiri dari transaksi penjualan barang atau jasa, baik secara kredit maupun tunai.

2.3.1.1 Penjualan Kredit

Menurut Mulyadi (2001, p210), penjualan kredit dilaksanakan oleh perusahaan dengan cara mengirimkan barang sesuai dengan order yang diterima dari pembeli dan untuk jangka waktu tertentu perusahaan mempunyai tagihan kepada pembeli tersebut. Untuk menghindari tidak tertagihnya piutang, setiap penjualan kredit yang pertama kepada seorang pembeli selalui didahului dengan analisis terhadap dapat atau tidaknya pembeli tersebut diberi kredit.

Menurut Mulyadi (2001, p213), informasi yang diperlukan oleh manajemen dari kegiatan penjualan kredit adalah :

1. Jumlah pendapatan penjualan menurut jenis produk atau kelompok produk selama jangka waktu tertentu.

2. Jumlah piutang kepada setiap debitur dari transaksi penjualan kredit. 3. Jumlah harga pokok produk yang dijual selama jangka waktu tertentu. 4. Nama dan alamat pembeli.

5. Kuantitas produk yang dijual.

(6)

7. Otorisasi pejabat yang berwenang.

2.3.1.2 Penjualan Tunai

Dalam transaksi penjualan tunai, barang atau jasa baru diserahkan oleh perusahaan kepada pembeli jika perusahaan telah menerima kas dari pembeli.

2.3.2 Konsinyasi

2.3.2.1 Pengertian Konsinyasi

Menurut Kieso (2004, p934), dalam beberapa perjanjian pengiriman barang dari perusahaan manufaktur ke dealer/retailer, tidak bisa dianggap sepenuhnya sebagai penjualan karena barang tersebut sebenarnya masih merupakan milik perusahaan manufaktur yang bersangkutan. Metode pemasaran yang khusus ini sering juga disebut sebagai konsinyasi.

Dalam konsinyasi, akan dikenal dua istilah, yakni consignor dan consignee. Consignor adalah pihak yang menitipkan barang, sementara consignee adalah pihak yang menerima titipan barang.

Menurut Kieso (2004, p934), consignee akan bertindak sebagai agen bagi consignor dalam menjual barang-barang yang dititipkan oleh consignor. Baik consignor maupun consignee sama-sama bertujuan untuk menghasilkan penjualan dalam rangka untuk memperoleh keuntungan atau untuk mengembangkan pasar. Sementara barang-barang yang dititipkan tersebut sepenuhnya adalah milik consignor sampai barang-barang tersebut berhasil dijual kepada customer.

Consignee menerima barang dari consignor, menjaganya dan menjualnya. Nantinya, consignee akan menyerahkan pendapatan penjualan yang berhasil

(7)

dilakukannya kepada consignor, setelah terlebih dahulu dikurangi dengan komisi penjualan dan biaya lainnya.

Consignor akan menerima laporan secara periodik dari consignee yang menunjukkan jumlah barang yang diterima, jumlah barang yang dijual, dan pendapatan yang diperoleh. Di bawah perjanjian konsinyasi, consignor harus menerima risiko jika barang mereka tidak berhasil dijual oleh consignee.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa konsinyasi adalah suatu perjanjian dimana consignor (pihak yang memiliki barang) menyerahkan sejumlah barang kepada consignee (pihak yang menerima barang) untuk dijualkan dengan memberikan komisi.

Ada unsur-unsur yang harus dipenuhi untuk melakukan konsinyasi, yakni: 1. Unsur perjanjian

2. Unsur consignor 3. Unsur consignee

4. Unsur barang yang dititipkan 5. Unsur penjualan

6. Unsur komisi

2.3.2.2 Perbedaan Penjualan Reguler dengan Penjualan Konsinyasi

Perbedaan penjualan reguler dengan penjualan konsinyasi adalah sebagai berikut 1. Perpindahan hak milik atas barang yang bersangkutan

Dalam transaksi penjualan reguler hak milik barang berpindah kepada pembeli pada saat barang diserahkan, kemudian keadaan demikian dipakai sebagai dasar pengakuan terhadap timbulnya pendapatan. Sedangkan penjualan pada penjualan

(8)

konsinyasi tidak berarti adanya penyerahan hak milik atas barang yang bersangkutan.

2. Pengakuan pendapatan

Perbedaan pengakuan pendapatan antara penjualan reguler dan penjualan konsinyasi akan berdampak pada laporan rugi laba. Menurut Ikatan Akuntansi Indonesia dalam bukunya yang berjudul Standar Akuntansi Keuangan, pengertian pendapatan adalah: “Pendapatan adalah arus masuk bruto dari manfaat ekonomi yang timbul dari aktivitas normal perusahaan selama periode bila arus masuk itu mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari konstribusi modal”

Sumber: aabisnis.blogspot.com/2008/04/penjualan-konsinyasi.html

2.3.2.3Keuntungan Penjualan Konsinyasi

Adapun keuntungan-keuntungan dari penjualan konsinyasi dari kedua pihak adalah sebagai berikut:

• Bagi pihak consignor, adalah untuk memperluas daerah pemasaran, terutama jika: 1. Permintaan akan produk tidak diketahui

2. Penjualan tahun lalu tidak menguntungkan 3. Barang tersebut mahal

• Bagi pihak consigne

1. Terlepas dari risiko mengalami kerugian

2. Dapat menghindari risiko kerusakan fisik dan fluktuasi harga Sumber: aabisnis.blogspot.com/2008/04/penjualan-konsinyasi.html

(9)

2.3.3 Retur Penjualan

Menurut Mulyadi (2001, p203), dalam transaksi penjualan, tidak semua penjualan berhasil mendatangkan pendapatan (revenue) bagi perusahaan. Adakalanya pembeli mengembalikan barang yang telah dibelinya kepada perusahaan. Transaksi pengembalian barang oleh pembeli ini ditangani perusahaan melalui sistem retur penjualan.

Menurut Mulyadi (2001, p231), informasi yang diperlukan oleh manajemen dalam transaksi retur penjualan adalah :

1. Jumlah rupiah retur penjualan menurut jenis produk atau kelompok produk selama jangka waktu tertentu

2. Jumlah berkurangnya piutang karena retur penjualan 3. Jumlah harga pokok yang dikembalikan oleh pembeli 4. Nama dan alamat pembeli

5. Kuantitas produk yang dikembalikan oleh pembeli

6. Nama wiraniaga yang melakukan penjualan produk yang dikembalikan oleh pembeli 7. Otorisasi pejabat yang berwenang

2.3.4 Biaya Pengangkutan

Menurut Weygandt at al (2005, p188), persetujuan penjualan harus menyatakan apakah penjual ataukah pembeli yang harus membayar biaya pengiriman barang ke lokasi pembeli.

Menurut Weygandt at al (2005, p232), ada dua jenis biaya pengangkutan, yakni: 1. Free On Board (FOB) Shipping Point, artinya hak barang berpindah dari penjual ke

(10)

barang keluar dari gudang penjual sampai ke gudang pembeli ditanggung oleh pembeli.

2. Free On Board (FOB) Destination, artinya hak barang berpindah dari penjual ke pembeli pada saat barang sudah sampai digudang pembeli (sampai tujuan), sedangkan biaya angkut sejak dari penjual sampai ke gudang pembeli ditanggung oleh penjual.

2.3.5 Peramalan Penjualan

Menurut Assauri (1994, p7), peramalan adalah kegiatan memperkirakan apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang. Jadi, dapat disimpulkan bahwa peramalan penjualan adalah kegiatan memperkirakan berapa banyak penjualan yang akan terjadi pada masa yang akan datang.

Peramalan sangat penting dalam perencanaan maupun pengambilan keputusan. Peramalan penjualan dibutuhkan untuk mengetahui kapan penjualan akan terjadi sehingga perusahaan dapat mempersiapkan kebijakan atau tindakan-tindakan yang perlu dilakukan.

Menurut Weygandt at al (2005, p973), peramalan penjualan menunjukkan potensi penjualan industri dan pangsa pasar yang diharapkan penjual. Masukan dari pegawai bagian penjualan atau manajemen level atas memiliki peranan penting dalam peramalan penjualan.

Peramalan penjualan melibatkan beberapa pertimbangan, yakni: 1. Kondisi ekonomi secara umum

2. Trend dalam industri 3. Penelitian mengenai pasar

(11)

4. Tindakan antisipasi, iklan dan promosi 5. Market share yang lalu

6. Perubahan harga

7. Pengembangan teknologi

2.3.5.1 Jenis Peramalan

Menurut Assauri (1994, p4), dilihat dari jangka waktunya, peramalan dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:

1. Peramalan jangka panjang: dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya lebih dari satu setengah tahun atau tiga semester. Peramalan jangka panjang biasanya digunakan untuk model perencanaan lini produk dan keputusan investasi.

2. Peramalan jangka pendek: dilakukan untuk penyusunan hasil ramalan yang jangka waktunya kurang dari satu setengah tahun atau tiga semester. Peramalan jangka pendek biasanya mencakup peramalan penjualan, perubahan harga, permintaan konsumen, pengeluaran modal jangka pendek, dan prosedur manajemen persediaan.

2.3.5.2 Langkah-Langkah Peramalan Penjualan

Menurut (Handoko, p260), proses peramalan biasanya terdiri dari langkah-langkah sebagai berikut:

1. Penentuan tujuan. Langkah pertama terdiri atas penentuan macam estimasi yang diinginkan. Tujuan peramalan tergantung pada kebutuhan-kebutuhan informasi para manajer. Analis membicarakan dengan para pembuat keputusan untuk mengetahui kebutuhan mereka dan menentukan variabel-variabel yang akan diestimasi, orang

(12)

yang akan menggunakan hasil peramalan, tujuan yang diinginkan dari penggunaan hasil peramalan, dan estimasi jangka pendek atau jangka panjang yang diinginkan. 2. Pengembangan model. Setelah tujuan ditetapkan, langkah berikutnya adalah

mengembangkan suatu model yang merupakan penyajian secara lebih sederhana sistem yang dipelajari. Dalam peramalan, model adalah suatu kerangka analitik yang bila dimasukkan data masukkan, menghasilkan estimasi penjualan di waktu mendatang (variabel apa saja yang diramal).

3. Pengujian model. Sebelum diterapkan, model biasanya diuji untuk menentukan tingkat akurasi, validitas, dan reliabilitas yang diharapkan. Ini sering mencakup penerapannya pada data historik, dan penyiapan estimasi untuk tahun-tahun sekarang dengan data nyata yang tersedia. Nilai suatu model ditentukan oleh derajat ketepatan hasil peramalan dengan kenyataannya (aktual). Dengan kata lain, pengujian model bermaksud untuk mengetahui validitas atau kemampuan prediktif secara logik suatu model.

4. Penerapan model. Dalam tahap ini, data historik dimasukkan dalam model untuk menghasilkan suatu ramalan.

5. Revisi dan evaluasi. Ramalan-ramalan yang telah dibuat harus senantiasa diperbaiki dan ditinjau kembali. Perbaikan mungkin dilakukan karena adanya perubahan-perubahan dalam perusahaan atau lingkungannya, seperti tingkat harga produk perusahaan, karakteristik-karakteristik produk, pengeluaran-pengeluaran pengiklanan, tingkat pengeluaran pemerintah, kebijaksanaan moneter dan kemajuan teknologi. Evaluasi, di lain pihak, merupakan pembandingan ramalan-ramalan dengan hasil nyata untuk menilai ketepatan penggunaan suatu metodologi atau

(13)

teknik peramalan. Langkah ini perlu dilakukan untuk menjaga kualitas estimasi-estimasi di waktu yang akan datang.

2.3.5.3 Model Peramalan Penjualan

Model peramalan penjualan yang akan digunakan adalah analisis runtun waktu, yakni:

1. Trend Analysis

Dalam model ini, garis trend berbentuk garis lurus dan persamaan yang digunakan adalah Σ Y = n a + b Σ X

Dari trend penjualan, akan dicari nilai dari a dan b, untuk kemudian mendapatkan hasil peramalan, dimana:

a = nilai trend pada periode dasar

b = tingkat pengembangan nilai yang diramal Y = besarnya nilai peramalan yang ingin diketahui X = unit tahun yang dihitung dari periode dasar 2. Moving Average

Persamaan Moving Average (MA) diperoleh melalui penjumlahan dan pencarian nilai rata-rata dari sejumlah periode tertentu, setiap kali menghilangkan nilai terlama dan menambah nilai baru.

MA = Σ X_________ Jumlah Periode 3. Exponential Smoothing

Merupakan suatu model peramalan yang melakukan penimbangan terhadap data masa lalu dengan cara eksponensial sehingga data paling akhir mempunyai

(14)

bobot atau timbangan lebih besar dalam rata-rata bergerak. Persamaan peramalan Exponential Smoothing adalah:

F t = T t-1 + α ( A t-1 – F t-1 ) dengan keterangan sebagai beikut:

F t = ramalan untuk periode sekarang (t)

F t-1 = ramalan yang dibuat untuk periode terakhir (t-1) α = smoothing consonant ( 0 ≤ α < 1 )

A t-1 = permintaan nyata periode terakhir Untuk menentukan nilai α dapat digunakan rumus:

α = 2__ n + 1

dimana n adalah jumlah periode. 4. Exponential Smoothing with Trend

Merupakan suatu model peramalan yang mempertimbangkan naik turunnya trend dalam data yang dikumpulkan selama suatu rangkaian periode waktu. Persamaan peramalannya adalah:

Forecast termasuk trend (FTT) = F t + koreksi trend = F t + T t

T t = T t-1 + β ( F t – F t-1 )

Dimana nilai β ( 0 ≤ β < 1 ) menentukan seberapa cepat trend memberikan tanggapan terhadap perbedaan-perbedaan dua ramalan sebelumnya.

(15)

2.3.5.4 Pengukuran Kesalahan Peramalan

Satuan ukuran kesalahan ramalan yang umum digunakan adalah Mean Absolute Deviation (MAD). Secara sederhana, ukuran ini merupakan perbedaan antara permintaan nyata ( D t ) dengan peramalan. MAD dapat dituangkan dalam rumus:

MAD = | D t – Forecast |

Rumus tersebut mengabaikan apakah perbedaannya bernilai positif atau negatif.

MAD digunakan untuk menentukan model peramalan yang terbaik. Semakin kecil angka MAD, semakin cocok model tersebut digunakan untuk peramalan.

2.3.5.5 Peramalan Penjualan sebagai Input bagi Perencanaan dan Pengambilan Keputusan

Menurut Makridakis at al (2000, p241), dari sudut pandang proses manajemen, kaitan antara peramalan, perencanaan dan pengambilan keputusan bisa dirangkum seperti yang ditunjukkan pada gambar 2.1. Elemen Hakiki dari penggambaran ini adalah bahwa peramalan pada umumnya mendahului perencanaan, yang pada gilirannya mendahului pengambilan keputusan peramalan organisasi.

(16)

Gambar 2.1 Mengaitkan Peramalan, Perencanaan dan Pengambilan Keputusan Sumber: Makridakis at al (2000, p242)

Menurut Makridakis at al (2000, p243), tugas-tugas manajemen yang biasanya dikaitkan dengan keputusan perencanaan kapasitas adalah sebagai berikut:

• Menilai situasi dan lingkungan perusahaan • Menentukan kapasitas yang tersedia • Meramal kapasitas yang diperlukan

• Menyusun rencana-rencana alternatif untuk mencapai kapasitas yang diperlukan • Membuat analisis kuantitatif dan finansial mengenai alternatif-alternatif kapasitas • Menganalisis isu-isu kualitatif untuk masing-masing alternatif

• Meramal hasil masing-masing alternatif

• Memilih suatu alternatif tertentu yang bisa dikejar • Mengimplementasikan alternatif yang telah dipilih • Mengaudit dan meninjau hasil-hasil yang sebenarnya

Perencanaan Sumber daya

yang tersedia

Pembatasan

Harapan & Aspirasi Manajemen

Sasaran, tujuan, strategi, keputusan

Alokasi & komitmen sumber daya

Implementasi & pengontrolan kebijakan Peramalan

(17)

2.4 Penerimaan Kas

Menurut Mulyadi (2001, p455), penerimaan kas perusahaan berasal dari dua sumber utama: penerimaan kas dari penjualan tunai dan penerimaan kas dari piutang.

Menurut Mulyadi (2001, p462), informasi yang umumnya diperlukan oleh manajemen dari penerimaan kas adalah :

1. Jumlah pendapatan penjualan menurut jenis produk atau kelompok produk selama jangka waktu tertentu

2. Jumlah kas yang diterima dari penjualan

3. Jumlah harga pokok produk yang dijual selama jangka waktu tertentu 4. Nama dan alamat pembeli

5. Kuantitas produk yang dijual

6. Nama wiraniaga yang melakukan penjualan 7. Otorisasi pejabat yang berwenang

2.5 Letter of Credit

2.5.1 Pengertian dan Peranan Letter of Credit

Menurut Amir (2003, p1) Letter of Credit atau biasa disebut L/C digunakan sebagai sarana untuk memudahkan penyelesaian utang piutang. L/C adalah suatu surat yang dikeluarkan oleh bank devisa atas permintaan importir nasabah bank devisa bersangkutan dan ditujukan kepada eksportir di luar negeri yang menjadi relasi dari importir tersebut.

Isi surat tersebut menyatakan bahwa eksportir penerima L/C diberi hak oleh importir untuk menarik wesel (surat perintah untuk melunasi utang) atas Bank Pembuka untuk sejumlah uang yang disebut dalam surat itu. Bank yang bersangkutan menjamin

(18)

untuk mengakseptir atau menghonorir wesel yang ditarik tersebut asal sesuai dan memenuhi semua syarat yang tercantum di dalam surat itu. Untuk kepentingan eksportir L/C harus dibuka terlebih dulu sebelum barang dikirim.

Peran L/C dalam perdagangan internasional adalah: 1. Memudahkan pelunasan pembayaran transaksi ekspor

2. Mengamankan dana yang disediakan importir untuk membayar barang impor 3. Menjamin kelengkapan dokumen pengapalan

Pihak yang Terlibat Pembukaan Letter of Credit

Menurut Amir (2003, p3), pihak-pihak yang terlibat dalam pembukaan suatu L/C adalah :

1. Opener atau Applicant

Importir yang meminta bantuan bank devisanya unuk membuka L/C guna keperluan penjual atau eksportir, disebut sebagai opener atau applicant dari L/C itu

2. Opening bank atau Issuing bank

Bank devisa yang dimintai bantuannya oleh importir untuk membuka suatu L/C untuk keperluan eksportir disebut opening bank atau issuing bank.

Bank devisa inilah yang memberikan jaminan kepada eksportir. Oleh karena itu, nilai L/C sangat tergantung pada nama baik dan reputasi dari bank devisa yang membuka L/C tersebut.

3. Advising

Opening bank membuka L/C untuk eksportir melalui bank lain di negara eksportir yang menjadi koresponden dari opening bank tersebut. Bank korespondensi ini berkewajiban untuk menyampaikan amanat yang terkandung dalam L/C kepada

(19)

eksportir yang berhak. Oleh karena itu, bank koresponden bersangkutan disebut Advising Bank atau Bank Penyampaian Amanat.

4. Beneficiary

Eksportir yang menerima pembukaan L/C dan diberi hak untuk menarik uang dari dana L/C yang tersedia itu disebut sebagai penerima L/C atau beneficiary.

5. Negotiating bank

Di dalam L/C biasanya disebutkan bahwa beneficiary boleh menguangkan (menegosiasikan shipping document) melalui bank mana saja yang disukainya asalkan memenuhi syarat L/C. Bank yang membayar dokumen itu disebut sebagai negotiating bank.

Di dalam L/C adakalanya disebutkan bahwa negosiasi L/C itu hanya boleh dilakukan melalui bank tertentu saja; maka L/C semacam itu disebut restricted L/C. Bila L/C menyebutkan bahwa negosiasi dokumen boleh dilakukan di bank mana saja, maka disebut open L/C. Oleh karena itu, advising Bank tidak selalu menjadi negotiating bank.

2.5.3 Prosedur Pembukaan Letter of Credit

Menurut Amir (2003, p99), prosedur pembukaan L/C adalah sebagai berikut: 1. Pembeli dan penjual menandatangani kontrak jual beli dengan mencantumkan syarat

pembayaran melalui pembukaan L/C berdokumen

2. Pembeli meminta bank-nya yaitu issuing bank untuk menerbitkan L/C berdokumen untuk penjual (beneficiary)

(20)

3. Issuing bank membuka L/C dan minta kepada bank korespondennya (advising Bank) lazimnya di negara penjual untuk menyampaikan (to advise) atau memberikan konfirmasi atas L/C tersebut

4. Advising bank memberitahukan kepada penjual bahwa L/C sudah dibuka untuknya 5. Segera setelah penjual menerima L/C tersebut dan ternyata sesuai dengan syarat

kontrak jual-beli dan penjual sanggup memenuhi persyaratan L/C yang tercantum, maka penjual sudah dapat menyiapkan pengapalan barang

6. Penjual menyampaikan dokumen yang diperlukan kepada bank dimana kredit itu tersedia (Bank yang ditunjuk atau nominated bank)

7. Bank yang ditunjuk memeriksa dokumen tersebut dan mencocokkannya dengan dokumen yang diisyaratkan dalam kredit itu. Jika dokumen itu cocok, maka bank akan melakukan pembayaran-mengakseptasi atau menegosiasi sesuai dengan persyaratan yang disebut dalam kredit itu.

8. Bank yang menerima dokumen itu lalu meneruskannya kepada bank yang membuka L/C (issuing bank)

9. Issuing bank memeriksa lagi dokumen itu, dan sekiranya cocok dengan dokumen yang disyaratkan dalam L/C, maka issuing bank membayar kembali (reimburse) kepada bank yang telah melunasi, mengakseptasi atau menegosiasi dokumen itu seperti confirming bank atau bank lain yang ditunjuk sesuai dengan tata cara yang telah ditetapkan bersama sebelumnya di antara mereka.

10. Bila dokumen itu telah diperiksa oleh issuing bank dan ternyata cocok dengan persyaratan L/C, maka dokumen itu diteruskan kepada pembeli.

11. Issuing bank lantas memperoleh pelunasan dari pembeli sesuai ketentuan yang disepakati sebelumnya

(21)

12. Pembeli meneruskan dokumen pengangkutan kepada kantor pelayaran setempat atau agen pengangkut yang akan melakukan penyerahan barang kepada pembeli

2.5.4 Aplikasi Pembukaan Letter of Credit

Menurut Amir (2003, p101), dalam aplikasi pembukaan L/C mencantumkan: 1. Nama dan alamat lengkap dari Penerima L/C (beneficiary) atau penjual

2. Jumlah kredit dan kode valuta 3. Jenis kredit, apakah:

• revocable: dapat dibatalkan

• irrevocable: tidak dapat dibatalkan

• irrevocable dengan tambahan bahwa bank yang ditunjuk (nominated bank) diminta atau diberi kuasa oleh issuing bank melakukan "konfirmasi" atas kredit 4. Bagaimana sifat tersediannya kredit:

• by payment • deferred payment • acceptance, atau • negotiation

5. Kepada siapa wesel harus ditarik bunyi kalimat dalam wesel itu

6. Uraian ringkas barang, termasuk rincian jumlah dan harga satuan bila ada 7. Rincian dari dokumen yang diminta

8. Tempat pemberangkatan barang, tempat ambil alih atau tempat dimuat ke atas kapal serta tempat tujuan atau nama pelabuhan pembongkaran

(22)

10. Apakah alih kapal (transhipment) diperkenankan atau tidak 11. Apakah pengapalan sebagian diperkenankan atau tidak 12. Tanggal pengapalan terakhir

13. Jangka waktu yang diperbolehkan setelah tanggal pengapalan dimana dokumen harus diajukan untuk pembayaran, akseptasi atau negosiasi

14. Tempat dan tanggal kadaluarsa kredit 15. Apakah kredit itu transferable atau tidak

16. Bagaimana cara penyampaian kredit. Apakah lewat surat atau kawat (teletransmission)

2.6 Object Oriented Analysis and Design (OOAD) 2.6.1 Pengertian Object

Menurut Mathiassen et al (2000, p51), object merupakan suatu entitas yang memiliki identity, state dan behaviour. Pada dasarnya semua yang ada di dunia ini adalah object.

2.6.2 Pengertian Object Oriented

Object Oriented atau orientasi objek merupakan suatu cara untuk melakukan permodelan sistem dengan berorientasikan pada object yang terlibat dalam sistem tersebut. Beberapa keuntungan dari Object Oriented adalah:

1. Merupakan konsep yang umum yang dapat digunakan untuk memodel hampir semua fenomena yang ada di dunia dan dapat dinyatakan dalam bahasa umum (natural language).

(23)

3. Mengurangi biaya maintenance atau development.

2.6.3 Pengertian Object Oriented Analysis

Menurut Mathiassen et al (2000, p13), analisis melihat sistem dari sisi luarnya. Analisis merupakan suatu kegiatan dimana beberapa hal dipisahkan dan kemudian dijelaskan.

Menurut Larman (2002, p7), Object Oriented Analysis merupakan suatu analisis yang menekankan pada penemuan dan penjabaran objek-objek atau konsep-konsep di dalam problem domain.

2.6.4 Pengertian Object Oriented Design

Menurut Larman (2002, p6) desain lebih menekankan pada sebuah penyelesaian konseptual yang memenuhi kebutuhan atau permintaan dibandingkan dengan penerapannya.

Menurut Mathiassen et al (2000, p13), desain melihat sistem dari sisi dalamnya. Desain adalah aktivitas yang membangun bagian yang telah dikenal dan disatukan dengan cara yang baru.

Menurut Larman (2002, p7) object oriented design menekankan pada pendefinisian objek-objek software dan bagaimana mereka bekerja sama dalam memenuhi kebutuhan atau permintaan.

(24)

2.6.5 Pengertian Object Oriented Analysis and Design (OOAD)

Menurut Mathiassen et al (2000, p15), Object Oriented Analysis and Design menawarkan sebuah pendekatan sistematis dan lengkap terhadap analisis dan perancangan berorientasi objek.

2.6.6 Tahap dalam Object Oriented Analysis and Design (OOAD)

Menurut Mathiassen et al (2000, p15), Object Oriented Analysis and Design mempunyai empat aktivitas pokok, yang digambarkan sebagai berikut :

Gambar 2.2 Kegiatan Utama dan Hasilnya dalam OOAD Sumber: Mathiassen et al (2000, p15)

Berdasarkan gambar 2.2, kegiatan utama dalam OOAD, yaitu : 1. Problem Domain Analysis

2. Application Domain Analysis Problem Domain Analysis Component Design Application Domain Analysis Requirements for use Model Architectural Design Specification of Architecture Specification of Components

(25)

3. Component Design 4. Architectural Design

2.6.6.1 Problem Domain Analysis

Menurut Mathiassen et al (2000, p45), problem domain adalah bagian dari konteks yang diadministrasi, dimonitor dan dikendalikan oleh sebuah sistem. Tujuan dari aktivitas ini adalah mengidentifikasi dan memodelkan problem domain. Model merupakan deskripsi dari class, structure, dan behavior di problem domain.

Problem domain merupakan aktivitas yang sangat penting dalam membangun sebuah sistem karena model yang dihasilkan dalam problem domain analysis memberikan sebuah pemahaman mengenai kebutuhan sistem. Sumber dari aktivitas problem domain adalah system definition.

Menurut Mathiassen et al (2000, p24), system definition adalah deskripsi singkat dan jelas dari sistem terkomputerisasi dengan menggunakan bahasa alami. Terdapat tiga subaktivitas yang harus dilakukan untuk membuat system definition, yaitu usaha untuk mendapatkan pandangan menyeluruh dari situasi, membuat dan mengevaluasi ide-ide untuk pendesainan sistem, dan diakhiri dengan memformulasi dan mengevaluasi system definition sesuai dengan situasi yang ada.

Rich picture dapat digunakan untuk memperjelas pandangan user mengenai situasi dan permasalahan secara menyeluruh. Menurut Mathiassen et al (2000, p26), Rich Picture adalah gambar informal yang mempresentasikan pemahaman ilustrator mengenai situasi. Rich picture adalah bagian yang berguna dalam system definition. Menurut Mathiasssen (2000, p39-40), di dalam system definition terdapat enam elemen kriteria FACTOR, yaitu:

(26)

1. Functionality: fungsi-fungsi sistem yang mendukung tugas-tugas application domain 2. Application Domain: bagian dari organisasi yang mengatur, memonitor atau

mengontrol suatu problem domain

3. Conditions: kondisi dimana suatu sistem dikembangkan dan digunakan

4. Technology: teknologi yang digunakan untuk mengembangkan sistem dan teknologi saat sistem dijalankan

5. Objects: object-object utama di dalam problem domain

6. Responsibility: tanggung jawab seluruh sistem dalam hubungannya dengan konteks Problem Domain Analysis dibagi menjadi tiga aktivitas utama, seperti yang terlihat pada gambar sebagai berikut:

Gambar 2.3 Aktivitas-Aktivitas dalam Problem Domain Modeling Sumber: Mathiassen et al (2000, p46)

Problem Domain Analysis dibagi menjadi tiga aktivitas utama, yaitu : 1. Classes

Pada tahap ini, dilakukan penentuan objects, classes dan events yang akan menjadi elemen dalam model problem domain. Menurut Mathiassen et al (2000, p49), class adalah deskripsi dari kumpulan object yang saling berbagi struktur,

Classes Behaviour System Definition Model Structure

(27)

behavioral pattern dan atribut yang sama. Events adalah kejadian yang terjadi seketika yang melibatkan satu object atau lebih.

Kriteria evaluasi untuk class, antara lain : a. Mengidentifikasi objek-objek dari class. b. Class harus mempunyai informasi yang unik. c. Class mempunyai banyak objek.

d. Sebuah Class harus mempunyai sejumlah event yang cocok dan dapat diatur. Aktifitas-aktifitas dari class menghasilkan event table, yaitu tabel sederhana yang terdiri dari class-class dan event-event yang saling terkait.

2. Structure

Aktivitas structure berfokus pada hubungan antara classes dan objects. Structure dalam OOAD dibagi menjadi dua macam, yaitu class structure dan object structure.

a. Class Structure

Menurut Mathiassen et al (2000, p72), terdapat dua jenis class structure, yaitu:

• Generalization Structure, yaitu hubungan antara dua atau lebih subclass dengan satu atau lebih superclass. Superclass (sebuah class yang umum) mendeskripsikan property umum kepada kelompok dari subclass. Secara ilmu bahasa, generalization diekspresikan dengan “is a”.

(28)

Gambar 2.4 Generalization Structure Sumber: Mathiassen et al (2000, p73) • Cluster Strucutre

Cluster adalah kumpulan dari classes yang berhubungan. Cluster dapat membantu memberikan pemahaman secara menyeluruh terhadap problem domain dengan cara mengelompokkam classes dalam subdomain yang lebih kecil.

Gambar 2.5 Cluster Structure Sumber: Mathiassen et al (2000, p75) b. Object Structure

Menurut Mathiassen et al (2000, p75), terdapat dua jenis object structure, yaitu aggregation strucutre dan association structure.

(29)

• Aggregation Structure, merupakan hubungan antara dua atau lebih objects, dimana satu object merupakan dasar dan mendefinisikan bagian object lainnya.

• Association Structure, merupakan hubungan yang berarti antara sejumlah objects.

Gambar 2.6 Association Structure Sumber : Mathiassen et al (2000, p77) 3. Behavior

Menurut Mathiassen et al (2000, p89), behavioral pattern merupakan deskripsi dari event yang mungkin terjadi untuk semua objects di dalam sebuah class.

Konsep yang ada dalam behavior yaitu :

a. Event trace, yang merupakan runtutan events yang terlibat dalam objects tertentu.

b. Behavioral pattern, yang menggambarkan event traces yang mungkin untuk semua objects dalam class.

c. Attribute, yang merupakan deskripsi properti dari suatu class atau event.

Menurut Mathiassen et al (2000, p93) behavioral pattern memiliki struktur kontrol sebagai berikut:

• Sequence adalah suatu set events yang akan terjadi satu per satu (secara berurutan). Notasinya: “+”.

Car Person

1..* 0..*

(30)

• Selection adalah satu event yang terjadi dari suatu set events. Notasinya: “|”. • Iteration adalah satu event yang terjadi berulang-ulang kali. Notasinya: “*”.

Jika menghadapi situasi behavior patterns yang kompleks, akan sulit sekali untuk mengekspresikannya dalam notasi-notasi umum sehingga untuk pengekspresiannya lebih cenderung menggunakan Statechart Diagram.

Gambar 2.7 Notasi Dasar Statechart Diagram

2.6.6.2 Application Domain Analysis

Menurut Mathiassen et al (2000, p6), tahap ini mendefinisikan kebutuhan atau permintaan dari suatu sistem. Application Domain merupakan bagian yang mengatur, memantau, atau mengendalikan problem domain. Menurut Mathiassen et al (2000, p117), application domain dibagi menjadi tiga aktivitas utama yang terlihat dalam gambar sebagai berikut :

(31)

Gambar 2.8 Application Domain Analysis Sumber: Mathiassen et al (2000, p117) 1. Usage

Menurut Mathiassen et al (2000, p119), tujuan utama dari aktivitas ini adalah menentukan bagaimana actors berinteraksi dengan sistem. Actor adalah abstrakasi dari user atau sistem lainnya yang berinteraksi dengan sistem target. Sedangkan use case adalah sebuah pola interaksi antara sistem dengan actors dalam application domain.

2. Functions

Menurut Mathiassen et al (2000, p137), tujuan utama dari aktivitas ini adalah menentukan kemampuan sistem dalam memproses informasi. Secara konseptual, function adalah suatu fasilitas yang digunakan utnuk membuat sebuah model yang berguna bagi actor. Aktivitas ini menghasilkan sebuah function list yang lengkap beserta tingkat kerumitan dari functions tersebut.

3. Interfaces

Menurut Mathiassen et al (2000, p151), tujuan utama dari aktivitas ini adalah menentukan interface sistem yang sedang dikembangkan. Interface adalah fasilitas-fasilitas yang menjadikan model dan fungsi sistem menjadi tersedia bagi actors.

Usage Functions Interfaces Requirements System Definition

(32)

Menurut Mathiassen et al (2000, p152) ada dua tipe interface, yaitu user interface dan system interface.

a. User Interface, menghubungkan sistem dengan users. Terdapat empat user interface pattern, yaitu:

• Menu selection pattern, yang diekspresikan dalam bentuk daftar pilihan yang mungkin terdapat dalam user interface

• Form fill-in pattern, yang merupakan pola klasik untuk memasukkan data dengan menggunakan terminal berbasis karakter

• Command language pattern, dimana users secara sederhana mengaktifkan perintah yang telah dibuat

• Direct manipulation pattern, yang membiarkan users bekerja dengan menggunakan representasi-representasi object

b. System Interface, menghubungkan sistem satu dengan sistem lainnya. Terdapat dua system interface pattern, yaitu :

• Real external device • Interaction protocol

2.6.6.3 Architectural Design

Menurut Mathiassen et al (2000, p173), architectural design bertujuan untuk merestrukturisasi sistem yang terkomputerisasi. Menurut Mathiassen et al (2000, p176), architectural design dibagi menjadi tiga aktivitas utama, seperti yang terlihat pada gambar sebagai berikut :

(33)

Gambar 2.9 Kegiatan dalam Architectural Design Sumber: Mathiassen et al (2000, p176) 1. Criteria

Menurut Mathiassen et al (2000, p176), criteria merupakan properti yang lebih disukai dalam suatu arsitektur. Sementara, kondisi adalah peluang dan batasan secara teknis, organisasional, dan human yang terlibat dalam menjalankan tugas-tugas. Hasil yang diperoleh dalam tahap ini adalah kumpulan criteria yang telah diprioritaskan.

Tabel 2.1 Criteria Klasik untuk Mengukur Kualitas Software Criteria Pengukuran dari

Usable Kemampuan adaptasi sistem terhadap konteks organisasi, hubungan kerja dan teknikal

Secure Suatu pencegahan melawan akses yang tidak terotorisasi terhadap fasilitas-fasilitas yang ada

Efficient Eksploitasi secara ekonomis dari fasilitas technical platform Correct Pemenuhan terhadap persyaratan-persyaratan

Reliable Pemenuhan terhadap eksekusi function yang benar-benar tepat Maintainable Besarnya usaha untuk melokasikan dan memperbaiki

kecacatan sistem

Testable Besarnya usaha untuk memastikan bahwa sistem menampilkan fungsi-fungsi yang telah ditentukan

Flexible Besarnya usaha untuk memodifikasi sistem

Comprehensible Usaha yang dibutuhkan untuk mendapatkan pengertian yang masuk akal terhadap sistem

Reusable Potensi penggunaan bagian-bagian sistem dalam sistem lain yang terhubung Criteria Process architecture Component architecture Architectural specification Analysis document

(34)

Criteria Pengukuran dari

Portable Besarnya usaha untuk memindahkan sistem ke teknikal platform

Interoperable Besarnya usaha untuk menggabungkan suatu sistem ke sistem lain

2. Components

Menurut Mathiassen et al (2000, p190), component architecture adalah sebuah struktur sitem yang terdiri dari komponen-komponen yang saling terhubung. Component adalah kumpulan dari bagian-bagian program yang membentuk sistem dan memiliki tanggung jawab yang telah terdefinisikan dengan jelas.

3. Process

Menurut Mathiassen et al (2000, p209), tujuan dari tahap ini adalah untuk mendefinisikan struktur fisik dari sebuah sistem. Process architecture adalah suatu struktur eksekusi sistem yang terdiri dari proses-proses yang saling bergantungan. Hasil yang akan diperoleh berupa sebuah deployment diagram. Processor adalah suatu bagian peralatan yang dapat mengeksekusi sebuah program.

2.6.6.4 Component Design

Menurut Mathiassen et al (2000, p231), tujuan dari component design adalah untuk menentukan implementasi dari kebutuhan dalam kerangka kerja arsitektural. Aktivitas yang ada dalam component design dapat digambarkan sebagai berikut:

(35)

Gambar 2.10 Component Design

Sumber : Mathiassen et al (2000, p232) 1. Model component

Menurut Mathiassen et al (2000, p235), model component merupakan bagian dari sistem yang mengimplementasikan model dalam problem domain. Hasilnya dari aktivitas ini adalah class diagram yang telah direvisi karena adanya aktivitas analisis.

2. Function component

Menurut Mathiassen et al (2000, p251), function component adalah bagian dari sistem yang mengimplementasikan kebutuhan fungsional. Tujuan dari function component adalah agar user interface dan komponen sistem yang lain dapat melakukan akses ke model. Function component menghubungkan model dengan usage.

3. Connecting components

Menurut Mathiassen et al (2000, p271), tujuan dari aktivitas ini adalah untuk menghubungkan komponen-komponen sistem yang akan menghasilkan class diagram dari komponen-komponen yang terlibat. Dalam aktivitas ini, akan dirancang

Design of Component connections Design of components Architectural specifications Component specification

(36)

hubungan antar komponen untuk mendapatkan rancangan yang fleksibel dan dapat dimengerti.

2.7 Pengertian Jaringan Lokal Komputer

Jaringan lokal atau Local Area Network (LAN) adalah sekumpulan dua atau lebih komputer yang berada dalam batasan jarak lokasi satu dengan yang lain, yang saling terhubung langsung atau tidak langsung.

Menurut Stalling (2001, p375), Topologi LAN mengacu pada suatu cara untuk menginterkoneksi end-point atau station ke jaringan. Beberapa macam topologi LAN: a. Topologi Bus

Topologi bus menggunakan multiple medium. Transmisi dari banyak station dapat diterima oleh semua station yang lain. Setiap akhir dari bus merupakan terminator, yang menyerap sinyal dan menghilangkannya dari bus.

Gambar 2.11 Topologi Bus Sumber: Stalling (2001, p376) b. Topologi Tree

Topologi tree merupakan generalisasi dari topologi bus. Medium transmisi yaitu kabel bercabang dengan loop yang terbuka. Layout tree diawali dengan headend. Satu atau lebih kabel mulai pada headend dan masing-masing memiliki cabang. Setiap transmisi dari banyak station dapat diterima oleh station lain.

(37)

Gambar 2.12 Topologi Tree Sumber: Stalling (2001, p376) c. Topologi Ring

Topologi ring terdiri dari sekumpulan repeater yang digabungkan dengan link point-to-point dalam loop tertutup. Repeater merupakan peralatan sederhana yang mampu menerima data dari satu link dan mentransmisikan mereka, bit per bit pada link lain secepat yang mereka terima.

Gambar 2.13 Topologi Ring Sumber: Stalling (2001, p376) d. Topologi Star

Pada topologi star, setiap station dihubungkan secara langsung ke node pusat. Secara khusus, setiap station ditambahkan ke node pusat dengan link point-to-point, satu transmisi dan satu penerima.

(38)

Gambar 2.14 Topologi Star Sumber: Stalling (2001, p376)

2.8 Metode Analisa Bisnis (Lima Kekuatan Porter)

Menurut Porter (1998, p3), ada lima kekuatan yang mampu mempengaruhi persaingan dalam suatu industri. Lima kekuatan tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah ini:

Gambar 2.15 Model Lima Kekuatan Porter Sumber: Porter (1998, p4)

(39)

Berikut penjelasan singkat mengenai lima kekuatan Porter: 1. Ancaman dari pesaing baru

Pendatang baru dalam suatu industri membawa kapasitas baru, keinginan untuk meraih pangsa pasar dengan sumber daya yang penting. Sebagai dampaknya, harga produk dapat menurun sehingga mengurangi tingkat keuntungan. Akuisisi suatu perusahaan dengan tujuan meraih pangsa pasar dapat dipandang sebagai pendatang baru, walaupun tidak tercipta suatu entitas yang sepenuhnya baru. Ancaman dari pendatang baru bergantung pada barrier to entry dan reaksi dari perusahaan yang sudah ada terhadap pendatang baru tersebut.

Ada enam sumber dari barrier to entry, yaitu skala ekonomis, differensiasi produk, syarat modal, switching cost, akses ke saluran distribusi, dan kebijakan pemerintah. Selain itu, ada juga skala kerugian biaya independen, yang berupa hambatan berbasis pengalaman.

2. Persaingan antar perusahaan sejenis

Persaingan terjadi karena satu atau lebih perusahaan merasakan adanya tekanan untuk bertahan atau melihat adanya suatu peluang untuk melakukan peningkatan atas posisi yang telah dicapai. Strategi dari suatu perusahaan dapat ditanggapi oleh pesaingnya dengan mengeluarkan strategi untuk menandingi strategi tersebut. Jika pola aksi dan reaksi ini berlarut-larut maka semua perusahaan dalam suatu industri akan mengalami kerugian.

Persaingan disebabkan oleh faktor struktural antara lain, pesaing yang banyak dengan kekuatan yang seimbang, pertumbuhan industri yang lambat, biaya tetap atau penyimpanan yang tinggi, kurangnya diferensiasi atau switching cost,

(40)

menambah kapasitas, pesaing yang beragam, risiko strategi yang besar, dan tingginya hambatan untuk keluar dari industri (exit barriers).

3. Tekanan dari produk pengganti (substitusi)

Produk substitusi dapat membatasi keuntungan potensial dari suatu industri. Semakin menarik harga yang ditawarkan oleh produk substitusi semakin kuat pengaruhnya terhadap keuntungan industri. Produk substitusi adalah produk yang dapat melakukan fungsi yang sama dengan produk dari industri. Produk substitusi yang patut diperhitungkan adalah produk yang harganya bersaing dengan produk industri dan produk yang diproduksi oleh industri yang menghasilkan keuntungan yang besar.

4. Kekuatan tawar-menawar pembeli

Pembeli mempengaruhi industri dengan menawar harga lebih rendah dan mengharapkan kualitas atau pelayanan yang lebih tinggi, serta membandingkan kekuatan antara pesaing satu dengan yang lainnya.

Kelompok pembeli dikatakan kuat jika pembeli membeli barang dalam jumlah yang besar, produk dari industri standar / tidak memiliki perbedaan yang mencolok, menghadapi switching cost yang sedikit, memperoleh laba yang rendah, pembeli memiliki informasi lengkap, jika produk dari industri tidak penting dibandingkan dengan produk dan jasa pembeli, dan pembeli memberikan ancaman besar terhadap integrasi ke belakang.

5. Kekuatan tawar-menawar pemasok

Pemasok dapat mempengaruhi industri dengan mengancam akan menaikkan harga atau menurunkan kualitas dari barang dan jasa yang akan dibeli. Sehingga

(41)

pemasok yang kuat dapat mengakibatkan penurunan laba perusahaan, karena menyebabkan biaya produksi semakin tinggi.

Kelompok pemasok kuat jika didominasi oleh sedikit perusahaan, industri bukan merupakan pelanggan penting bagi pemasok, produk dari pemasuk penting untuk produksi, memiliki switching cost yang tinggi dan differensiasi, mengancam integrasi ke depan pembeli, dan tidak bersaing dengan produk substitusi lain.

2.9 Critical Success Factor (CSF)

Menurut Martin (1990, p89), CSF adalah sejumlah area terbatas dimana hasil yang memuaskan akan menjamin kinerja yang kompetitif untuk suatu individu, departemen, atau organisasi. CSF merupakan beberapa area kunci dimana segala sesuatunya harus berjalan dengan benar agar bisnis dapat berkembang dan tujuan manajer dapat dicapai.

Analisis CSF cenderung memberikan dua dampak bagi eksekutif. Pertama, CSF membantu eksekutif untuk fokus pada aktivitas-aktivitas yang penting. Dan yang kedua, CSF membantu eksekutif untuk berpikir mengenai informasi-informasi yang mereka butuhkan. CSF dapat membantu mengidentifikasikan informasi-informasi yang penting dan memberikannya kepada eksekutif yang membutuhkan. CSF mendukung untuk membuat perencanaan dan mengambil keputusan.

Figur

Gambar 2.1 Mengaitkan Peramalan, Perencanaan dan Pengambilan Keputusan  Sumber: Makridakis at al (2000, p242)

Gambar 2.1

Mengaitkan Peramalan, Perencanaan dan Pengambilan Keputusan Sumber: Makridakis at al (2000, p242) p.16
Gambar 2.2 Kegiatan Utama dan Hasilnya dalam OOAD  Sumber: Mathiassen et al (2000, p15)

Gambar 2.2

Kegiatan Utama dan Hasilnya dalam OOAD Sumber: Mathiassen et al (2000, p15) p.24
Gambar 2.3 Aktivitas-Aktivitas dalam Problem Domain Modeling  Sumber: Mathiassen et al (2000, p46)

Gambar 2.3

Aktivitas-Aktivitas dalam Problem Domain Modeling Sumber: Mathiassen et al (2000, p46) p.26
Gambar 2.5 Cluster Structure  Sumber: Mathiassen et al (2000, p75)  b.  Object Structure

Gambar 2.5

Cluster Structure Sumber: Mathiassen et al (2000, p75) b. Object Structure p.28
Gambar 2.4 Generalization Structure  Sumber: Mathiassen et al (2000, p73)

Gambar 2.4

Generalization Structure Sumber: Mathiassen et al (2000, p73) p.28
Gambar 2.6 Association Structure  Sumber : Mathiassen et al (2000, p77)  3.  Behavior

Gambar 2.6

Association Structure Sumber : Mathiassen et al (2000, p77) 3. Behavior p.29
Gambar 2.7 Notasi Dasar Statechart Diagram

Gambar 2.7

Notasi Dasar Statechart Diagram p.30
Gambar 2.8 Application Domain Analysis  Sumber: Mathiassen et al (2000, p117)  1.  Usage

Gambar 2.8

Application Domain Analysis Sumber: Mathiassen et al (2000, p117) 1. Usage p.31
Tabel 2.1 Criteria Klasik untuk Mengukur Kualitas Software  Criteria  Pengukuran dari

Tabel 2.1

Criteria Klasik untuk Mengukur Kualitas Software Criteria Pengukuran dari p.33
Gambar 2.9 Kegiatan dalam Architectural Design  Sumber: Mathiassen et al (2000, p176)  1

Gambar 2.9

Kegiatan dalam Architectural Design Sumber: Mathiassen et al (2000, p176) 1 p.33
Gambar 2.11 Topologi Bus  Sumber: Stalling (2001, p376)  b.  Topologi Tree

Gambar 2.11

Topologi Bus Sumber: Stalling (2001, p376) b. Topologi Tree p.36
Gambar 2.12 Topologi Tree  Sumber: Stalling (2001, p376)  c.  Topologi Ring

Gambar 2.12

Topologi Tree Sumber: Stalling (2001, p376) c. Topologi Ring p.37
Gambar 2.15 Model Lima Kekuatan Porter  Sumber: Porter (1998, p4)

Gambar 2.15

Model Lima Kekuatan Porter Sumber: Porter (1998, p4) p.38
Gambar 2.14 Topologi Star  Sumber: Stalling (2001, p376)

Gambar 2.14

Topologi Star Sumber: Stalling (2001, p376) p.38

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :