• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEEFEKTIFAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN BERPIDATO SISWAKELAS XI DI MA. AISYIYAH SUNGGUMINASA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KEEFEKTIFAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN BERPIDATO SISWAKELAS XI DI MA. AISYIYAH SUNGGUMINASA"

Copied!
109
0
0

Teks penuh

(1)

KEEFEKTIFAN MEDIA AUDIO VISUAL DALAM PEMBELAJARAN BERPIDATO SISWAKELAS XI DI MA. AISYIYAH

SUNGGUMINASA

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi salah Satu Syarat guna Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan pada Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar

OLEH

INRIYANI NOMPO 10533768714

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MAKASSAR 2018

(2)

MOTO DAN PERSEMBAHAN

Berusaha, berdoa, berikhtiar adalah kunci kesuksesan

Tetaplah menjadi dirimu sendiri dan berbangga pada kemampuanmu.

i.ndry (pejuang toga bukan pejuang rindu)

Alhamdulillah dengan ucapan bismillah dengan segala kerendahan hati, dengan niat yang tulus, kupersembahkan skripsiku ini sebagai bentuk tanggung jawab, bakti, dan ungkapan terima kasihku kepada kedua orang tuaku yang kucintai lebih dari apapun, ibu dan ayah yang dengan tulus dan penuh cinta membesarkan dan membimbing saya hingga dewasa sampai pada tahap ini saya terus mengucap syukur karena menjadi anak dari kedua orang tua yang luar biasa hebat, doa ibu yang menggetarkan dan nasihat yang mendebarkannyalah membuat saya berusaha keras untuk berhasil, serta semangat juang ayah yang terus terpatri di dalam hatikulah yang membuatku kuat menghadapi rintangan apapun. Kepada sahabat setiaku yang menyemangati dari jarak jauh maupun dekat, lewat doa maupun secara langsung, dari hatiku kuucapkan terima kasih banyak telah menjadi teman, saudara, penyemangat,

(3)

seperjuangan tak kenal lelah, semoga tetap menjadi pelita di masa yang akan datang, Dan teruntuk kedua Dosen Pembimbingku yang sangat menginspirasi telah memberikan bimbingan dan motivasi untuk terus berusaha mendapatkan apa yang kita impikan, semoga kebaikan dan ilmu yang telah diberikan akan menjadi bekal dikemudian hari.

(4)

ABSTRAK

INRIYANI NOMPO. 2018. Keefektifran Media Audio Visual dalam Pembelajaran Berpidato Siswa Kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa. Jurusan

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Makassar. Pembimbing I Sitti Aida Azis dan Pembimbing II Syekh Adiwijaya Latif.

Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui Keefektifan Penggunaan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Berpidato.Jenis penelitian ini adalah penelitian Pre-Experimental Design (nondesigns) dengan menggunakan metode One-Group Pretest-Posttest Design.Subjek penelitian ini adalah siswa Kelas XI di MA.Aisyiyah Sungguminasa yang berjumlah 30 siswa dengan menggunakan media audio visual berupa video pidato melalui proyekytor, labtop, dan pengeras suara.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes-awal (pre-test) dan tes akhir (post-test), observasi, dan dokumentasi.Cara pengambilan data dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan tes.Tes yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu siswa berpidato sebelum dan sesudah penggunaan media audio visual dengan memerhatikan aspek kebahasaan dan non kebahasaan.

Dari hasil penelitian tentang Keefektifan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Berpidato Siswa Kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa terbukti sangat efektif digunakan.Hal tersebut dapat dibuktikan dengan pegujian hipotesis dengan menggunaan analisis uji t. Hasil dari analisis ini menunjukkan bahwa penggunaan media audio visual sangat efekif digunakan dalam pembelajaran berpidatosiswa kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa dengan hasil perbandingan nilai rata-rata siswa tes awal (pretest) dan tes akhir (posttest) dengan statistik uji t. Diketahui bahwa nilai thitung yang diperoleh dengan analisis uji t yaitu -3,273 dan nilai ttabel yaitu 1,695 yang diperoleh dengan memperhatikan tabel distribusi t denagn taraf signifikan ά = 0,05 dan df = N – 1 . Hasil ini menunjukkan bahwa Ho = ditolak dan Ha = diterima. Jadi, hipotesis pada penelitian ini terdapat pengaruh media audio visual terhadap pembelajaran berpidato siswa kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa. Kata Kunci: Efektivitas,Media Audio Visual,Kemampuan Berpidato

(5)

KATA PENGANTAR

Alhamndulillah puji syukur kehadirat Allah Swt., karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Dalam penulisan ini, penulis banyak memperoleh pengalaman yang sangat berharga,dan tidak lepas dari beberapa rintangan dan halangan. Namun, dengan kesabaran, keikhlasan, pengorbanan dan kerja keras serta doa dan motivasi dari berbagai pihak sehingga skripsi ini dapat selesai dengan baik dan tepat waktu.

Skripsi ini disusun untuk diajukan sebagai persyaratan melakukan penelitian pendidikan pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Makassar.

Terselesaikannya skripsi ini tidak lepas dari dukungan dan bantuan pihak-pihak lain, oleh karena itu lewat lembaran ini pula penulis menghaturkan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kedua orang tuaku tercinta, Ibu Aminah dan Bapak Nompo yang tak tidak henti-hentinya memberikan dukungan luar biasa serta semangat yang membara sampai detik ini dan saudara perempuanku yang teramat kucintai, Hartina yang begitu mendukung saya. Keluarga besar dan kebanggan kepada Dr. Sitti Aida Azis, M.Pd. dan Syekh Adiwijaya Latif, S.Pd., M.Pd. pembimbing I dan II yang telah memberi perhatian, kasih sayang, semangat, dan doa, membantu saya baik moril maupun material. Terima kasih juga kepada Nert-

(6)

nertku tersayang dan teman-temanku yang telah memberikan dorongan dan semangat dalam penyelesaian skripsi ini.

Tidak lupa juga penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada Ayahanda Dr. H. Abd. Rahman Rahim, SE., MM. Rektor Universitas Muhammadiyah Makassar, Erwin Akib, M. Pd., Ph. D. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, Dr. Munirah, M. Pd. Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar, serta seluruh Dosen dan Staf pegawai dalam lingkungan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar yang tidak dapat penulis sebutkan satu-persatu, atas kebaikannya telah membekali ilmu pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi penulis, kiranya Tuhan Yang Maha Esa membalas kebaikan mereka.

Penulis berharap, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan dapat menambah wawasan bagi penulis sendiri dan bagi pembaca umumnya. Semoga Allah Swt., senantiasa membimbing kita menuju ke jalan-Nya.

Makassar, Agustus 2018

(7)

DAFTAR ISI

SAMPUL ... ……. i

KARTU KONTROL PEMBIMBING I ... ……..ii

KARTU KONTROL PEMBIMBING II ... ……iii

HALAMAN PENGESAHAN ... …….iv

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ……..v

SURAT PERNYATAAN ... …….vi

SURAT PERJANJIAN ... ……vii

MOTO DAN PERSEMBAHAN ... …..viii

ABSTRAK ... …….x

KATA PENGANTAR ... …….xi

DAFTAR ISI ... ..…xiii

DAFTAR GAMBAR………xv

DAFTAR TABEL ... ……xvi

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang...1

B. Rumusan Masalah...6

C. Tujuan Penelitian...6

D. Manfaat Penelitian...6 BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

(8)

A. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian yang Relevan...8

2. Hakikat Media Pembelajaran...11

3. Hakikat keterampilan berbahasa...24

4. Hakikat Keterampilan Berbicara...29

5. Hakikat pidato...35

B. Kerangka Pikir...37

C. Hipotesis...40

BAB III METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian...41

B. Variabel dan Desain Penelitian...41

C. Populasi dan sampel...43

D. Teknik Pengumpulan Data...44

E. Teknik Analisis Data...45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. HasilPenelitian...50

B. Pembahasan………...62

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan...69

B. Saran...70

DAFTAR PUSTAKA………...71 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(9)

DAFTAR GAMBAR

(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Keadaan Populasi ... ...44

Tabel 2. Indikator Penilaian Berpidato siswa ... ...45

Tabel 3.Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Tes Awal (Pretest)...51

Tabel 4.Nilai Rata-rata dan Standar Deviasi Tes Awal (Pretest)...52

Tabel 5. Klasifikasi Kompetensi Pembelajaran Berpidato Siswa Tes Awal (Pretest)...54

Tabel 6.Distribusi Frekuensi dan Persentase Nilai Tes Akhir (Posttest)...55

Tabel 7.Nilai Rata-rata dan Standar Deviasi Tes Akhir (Posttest)...57

Tabel 8. Klasifikasi Kompetensi Pembelajaran Berpidato Siswa Tes Akhir (Posttest)...58

(11)

BAB I

PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Pendidikan bahasa Indonesia bertujuan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Indonesia siswa sesuai dengan fungsi bahasa sebagai wahana berpikir dan berkomunikasi untuk mengembangkan potensi intelektual, emosional dan sosial.Bahasa sangat fungsional dalam kehidupan manusia, karena selain merupakan alat komunikasi yang paling efektif, berpikir pun menggunakan bahasa.Ada beberapa aspek keterampilan berbahasa yang harus terus dibina untuk meningkatkan mutu pembelajaran bahasa sekarang ini.Kita mengenal ada berbagai macam atau beberapa macam cabang dari keterampilan berbahasa, mulai dari tingkat paling sederhana yakni menyimak, berbicara, membaca, dan menulis.

Menurut Resmini (2009: 49) “Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan”. Berbicara tidak sekadar mengucapkan kata-kata, berbicara merupakan alat untuk mengkomunikasikan gagasan-gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan sang penyimak. Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak pembicaraan yang disampaikannya maupun para penyimaknya; apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkomunikasikan gagasan-gagasannya dan apakah dia antusias atau tidak (Tarigan 1983: 15).

(12)

Salah satu keterampilan dari berbicara yaitu berpidato.Dalam berpidato tentunya kita harus memiliki keterampilan berbicara yang baik. Karena berpidato pasti akan memerlukan keterampilan berbicara di depan umum. Berpidato bukan hanya sekadar berbicara di depan umum, akan tetapi seseorang yang sedang berpidato harus mengetahui beberapa langkah-langkah seperti penggunaan intonasi, pengucapan vokal dan konsonan, artikulasi maupun penguasaan dari naskah iu sendiri. Tujuan dari langkah-langkah tersebut adalah guna meningkatkan kualitas peserta didik dalam memahami cara berpidato itu sendiri.

Namun, dalam pembelajaran bahasa Indonesia khusunya pada pembelajaran berpidato, masih kurang minat dan keinginan peserta didik untuk lebih aktif dalam mengikuti proses pemebelajaran. Karena masih banyak peserta didik yang beranggapan bahwa berpidato hanya dilakukan pada saat acara-acara formal saja, jadi berpidato berkesan hanya sekadar pembelajaran biasa tanpa memakanai bahwa dengan mempelajari cara berpidato dengan baik maka ada banyak pembelajaran yang didapatkan. Selain dari pengetahuan, dengan berpidato akan dilatih menjadi percaya diri, melatih cara bicara dengan baik, melatih berpikir, melatih pelafalan kata yang diucapkan. Akan tetapi, fenomena yang terjadi sekarang seperti pembahasan sebelumnya bahwa kurangnya minat peserta didik untuk mengikuti pembelajaran berpidato dengan baik.

(13)

Dikalangan pendidik tradisional kata media selama ini sering terkesan sesuatu yang mahal, rumit, dan berteknologi tinggi. Akibatnya terjadi keenggaan berhubungan dengan media meskipun sebenarnya di sekolah sudah terdapat sarana pembelajaran bahasa yang memadai, akan tetapi tidak dimanfaatkan dengan baik dan maksimal. Penggunaan paradigma dalam proses pembelajaran dari teacher centered ke student centered, dari passive learning ke active learning. Penggunaan media juga merupakan alat bantu bagi guru sehingga sisswa lebih mudah dapat memahami isi atau pesan yang terkandung dalam suatu mata pelajaran, karena keberadaan media pembelajaran akan sangat membantu belajar siswa di sekolah.

Menurut Akhadiah, dkk (1991 : 1) secara umum tujuan pembelajaran bahasa Indonesia adalah (1) siswa menghargai dan membanggakan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dan bahasa Negara; (2) siswa memahami bahasa Indonesia dari segi bentuk, makna dan fungsi serta menggunakannya dengan tepat dan kreatif untuk bermacam-macam tujuan, keperluan, dan keadaan; (3) siswa memiliki kemampuan menggunakan bahasa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan intelektual, kematangan emosional, dan kematangan social; (4) siswa memiliki disiplin dalam berpikir dan berbahasa (berbicara dan menulis); (5) siswa mampu menikmati dan memanfaatkan karya sastra untuk mengembangkan kepribadian , memperluas wawasan kehidupan, serta meningkatkan pengetahuan dan kemampuan berbahasa; (6) siswa menghargai dan mengembangkan sastra Indonesia sebagai khsanah budaya dan intelektual manusia Indonesia.

(14)

Memerhatikan pembelajaran bahasa Indonesia tersebut sebaiknya penyelenggara pembelajaran bahasa Indonesia mampu mempersiapkan, membina dan membenuk kemampuan peserta didik agar menguasai pengetahuan, sikap, nilai, kecakapan dasar yang diperlukan dalam kehidupan di masyarakat serta pengembangan diri siswa sebagai pribadi. Hal ini berimplikasi pada bagaimana seorang pendidik mendesain pembelajaran bahasa Indonesia di kelas. Pemilihan media dan metode yang sesuai dengan kurikulum dan potensi siswa adalah bagian lain yang harus diperhatikan oleh pendidik.

Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan pada saat pelaksanaan magang 3 dimulai pada tanggal 27 September 2017yang diketahui bahwa pembelajaran bahasa Indonesia pada keterampilan berbicara pidato belum berjalan secara optimal. Hal ini dapat dilihat dari setiap pembelajaran, guru masih menggunakan metode ceramah pada saat pembelajaran berlangsung.Sehingga, siswa terlihat kurang antusias dan cenderung pasif karena ptoses pembelajaran bersifat monoton dan membosankan.Selain itu, belum maksimalnya penggunaan media oleh guru yang sudah disediakan di sekolah. Hal lainnya adalah materi-materi dan tugas yang diberikan guru pada saat proses pembelajaran berlangsung kurang menarik karena masih terpaku pada buku pegangan.

Salah satu cara mengantisipasi hal tersebut yaitu menggunakan media pembelajaran yang diberikan kepada siswa untuk menumbuhkan minat belajar. Media

(15)

pembelajaran yang beragam dan disesuaikan dengan perkembangan zaman serta kebutuhan siswa akan membuat minat siswa lebih tinggi. Meskipun guru sebagai mediator utama dalam pembelajaran di kelas, alat bantu atau media lainnya juga sangat diperlukan agar pembelajaran tersebut lebih dinamis dan mencapai sasaran yang diinginkan. Media pembelajaran yang dikemas dengan baik dapat menjadikan proses pembelajaran lebih menarik dan diminati siswa.

Penggunaan media pembelajaran yang bervariasi dan inovatif sangat diperlukan dalam pembelajaran bahasa Indonesia Adapun salah satu caranya adalah dengan menggunakan media Audio visual seperti video agar siswanya berminat dalam pembelajaran bahasa Indonesia sehingga tercapai tujuan yang diharapkan. Seperti yang diungkapkan Rusman (2013: 201) manfaat penggunaan audiovisual meliputi : siswa dapat memperoleh persepsi yang sama dan benar dalam menerima materi pelajaran. Guru membuat siswa lebih fokus pada pembelajaran dan membantu mengigat kembali materi sehingga lebih mudah berbagi pengetahuan dan keterampilan yang telah dipelajari.

Penggunaan media audio visual dipandang tepat untuk memberikan pemahaman yang bersifat konkret, sehingga mempermudah siswa menyerap materi yang disampaikan. Materi yang diserap selanjutnya akan disampaikan kembali oleh siswa melalui teknik berbicara. Media audio visual ini berupa media video yang ditayangkan didepan kelas melalui proyektor.Atas dasar hal tersebut peneliti tertarik

(16)

untuk mengadakan penelitian tentang “Keefektifan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Berpidato Siswa Kelas XI di M.A Aisyiyah Sungguminasa”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan tersebut, maka yang menjadi masalah dalam penelitian ini adalah “Apakah Efektif Penggunaan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Berpidato?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan tersebut, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui keefektifan Penggunaan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Berpidato.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini diharapkan dapat mencapai tujuan penelitian yang tepat, dan menghasilkan sebuah laporan yang sistematis, serta dapat bermanfaat dalam kehidupan secara umum.Adapun manfaat dari penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Manfaat Teoretis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan wawasan untuk peningkatan metode pembelajaran berpidato pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan media audiovisual di sekolah.

(17)

a. Dengan penelitian ini diharapkan siswa semakin termotivasi dalam mengikuti pembelajaran Bahasa Indonesia khususnya pembelajaran berpidato.

b. Mengemas pembelajaran Bahasa Indonesia secara lebih kreatif,inovatif, dan menarik dengan menggunakan media audiovisual, sehingga kesan konvensional dan membosankan pada pembelajaran bahasa khususnya berpidato dapat diminimalisir.

c. Penelitian ini diharapkan mampu meningkatkan prestasi dan keunggulan bahasa Indonesia siswa yang baik dan benar sehingga dapat menambah nilai tawar bagi sekolah.

d. Penelitian ini diharapkan dapat digunakan dan dikembangkan sebagai referensi pada penelitian sejenis berikutnya, seperti dalam bidang kebahasaan. e. Sebagai salah satu bahan pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESISPENELITIAN A. Tinjauan Pustaka

1. Penelitian yang Relevan

Tinjauan pustaka adalah uraian sistematis tentang hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu yang berkaitan dengan masalah yang diteliti (Sangidu, 2004: 10).Tinjauan pustaka bertujuan untuk mengetahui keaslian penelitian yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya. Tinjauan terhadap hasil penelitian dan analisis sebelumnya ini akan dipaparkan yang berkaitan dengan penelitian ini. Penelitian ini bukanlah satu-satunya yang membahas mengenai keefektifan media audio visual dalam pembelajaran berpidato. Namun, ada penelitian lain yang mempunyai sudut pandang sama dengan tinjauan yang berbeda. Dengan alasan, peneliti menggunakannya sebagai bahan rujukan, pembanding dan sebagai pelengkap dalam penelitian ini.Supaya dapat menghasilkan penelitian yang lebih baik.

Ada beberapa penelitian dan analisis sebelumnya ini akan dipaparkan yang berkaitan dengan penelitian ini, yaitu :

a. Penelitian yang relevan telah dilakukan oleh Nuryati Djihadah (2014) dengan judul “ Pengaruh Penggunaan Media Audio Visual terhadap Keterampilan Menulis Puisi Kelas IX Jabal Nur Cipondoh, Tangerang”. Penelitian ini dilakukan di kelas IX-1 dengan menggunakan media audio visual sebagai alat bantu dalam pembelajaran menulis puisi. Media audio visual yang digunakan berupa video puisi yang berjudul “

(19)

Pada Suatu Hari Nanti” karya Sapardi Djoko Damono yang diperlihatkan melalui labtop, proyektor, dan pengeras suara. Video puisi yang diperihatkan kepada siswa bertujuan untuk meningkatkan keterampilan menulis puisi , dan diharapkan agar siswa dapat termotivasi dalam menulis puisi. Puisi yang diperlihatkan diharapkan mempermudah siswa dalam menciptakan puisi yang lebih unik, baik dari segi tema, bahasa, imaji dan makna.

b. Penelitian yang relevan telah dilakukan oleh Farah Diba Rizqika (2015) dengan judul “Penerapan Media Audio Visual dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia Keterampilan menulis di Kelas III Madrasah Ibtidaiyah Negeri Purwokerto Tahun Pelajaran 2015/2016”. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif karena ditujukanuntuk menggambarkan, menyajikan data keadaan sebenarnya yang terjadi di lokasi penelitian mengenai penerapan media audio visual pada mata pelajaran bahasa Indonesia keterampian menulis serta menganalisanya. Pada penelitian ini peneliti dapat menganalisis penerapan media audio pada mata pelajaran bahasa Indonesia keterampilan menulis sudah sesuai dengan modul yang di dalamnya berisi beberapa materi dan dalam penyampaiannya cocok menggunakan media audio. Dengan menggunakan media audio tersebut minat dan motivasi siswa dalam mengikuti proses pembelajaran mata pelajaran bahasa Indonesia lebih tinggi dan tujuan pembelajaran pun dapat tercapai sesuai dengan yang diharapkan.

c. Penelitan yang relevan telah dilakukan oleh Siti Rohaeta (2014) dengan judul “Pengaruh Media Video terhadap Kemampuan Berpidato Siswa Kelas X SMA Negeri

(20)

13 Kabupaten Tangerang Tahun Pelajaran 2012-2013”.Populasi dalam penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X SMA Negeri 13 Kabupaten Tangerang.Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah eksperimen semu, yaitu untuk memperoleh informasi yang merupakan perkiraan bagi informasi yang dapat diperoleh dengan eksperimen yang sebenarnya dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk mengontrol atau memanipulasikan semua variabel yang relevan. Dari penelitian ini dapat dilihat dari perubahan nilai tes sebelum dan sesudah perlakuan dari yang masih tergolong rendah menjadi baik. Dapat disimpulkan bahwa hipotesis terbukti adanya pengaruh media video terhadap kemampuan berpidato.

Dari ketiga penelitian relevan di atas, maka dapat disimpulkan persamaan dan perbedaan antara penelitian relevan dengan peneltian ini antara lain :

a. Persamaanya yaitu, penelitian ini sama-sama menggunakan media audi visual sebagai media dalam pembelajaran guna meningkatakan keterampilan siswa dalam belajar. Selain itu, dengan adanya penggunaan media ini dapat memotivasi dan mempermudah siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Perbedaannya yaitu, terletak pada keterampilan berbahasanya, penelitian relevan ini mengkaji keterampilan menulis puisi siswa dalam proses belajar-mengajar sedangkan peneltian ini mengkaji keterampilan berbicara siswa khususnya dalam berpidato.

b. Persamaannya yaitu, dengan menggunakan media audio visual dapat memotivasi dan memudahkan siswa dalam belajar agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Sedangkan perbedaannya yaitu, penelitian relevan menggunakan jenis

(21)

penelitian deskriptif dengan menggambarkan situasi atau keadaan penerapan media audio visual dalam pembelajaran di kelas. Sedangkan penelitian ini menggunakan jenis peneltian pra Eksperimen untuk mengetahui keefektifan penggunaan media audio visual dalam pembelajaran berpidato.

c. Persamaannya yaitu, kedua peneltian ini sama-sama menggunakan media audio visual sebagai alat bantu siswa dalam belajar guna meningkatkanmotivasi siswa mengikuti proses belajar-mengajar. Perbedaannya yaitu, penelitian relevan menggunakan metode penelitian eksperimen semu, sedangkan penelitian ini menggunakan jenis penelitian pra eksperimen.

2. Hakikat media Pembelajaran a. Pengertian Media

Menurut Arsyad, 2013; Sadiman, dkk., 1990, mengatakan bahwa media (bentuk jamak dari kata medium), merupakan kata yang berasal dari bahasa latin medius, yang secara harfiah berarti „tengah‟, „perantara‟ atau „pengantar‟.

Oleh karena itu, media dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar pesan Daripengirimke penerima pesan.Media dapat berupa sesuatubahan (software) dan/atau alat (hardware).

Menurut Gerlach & Ely (dalam Arsyad, 2013), mengatakan bahwa media jika dipahami secara garis besar adalah manusia, materi, atau kejadian yang membangun kondisi, yang menyebabkan siswa mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, atau sikap.Jadi menurut pengertian ini, guru, teman sebaya, buku teks, lingkungan sekolah dan luar sekolah, bagi seorang siswa merupakan media.

(22)

Dari dua pendapat ahli di atas, maka dapat disimpulkan bahwa media adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan kepada penerima. Sedangkan media pendidikan adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perbuatan, minat serta.perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi pada diri siswa. b. Pengertian Media Pembelajaran

Media pembelajaran adalah alat, sarana, perantara, dan penghubung untuk menyebar, membawa atau menyampaikan sesuatu pesan (message) dan gagasan, sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perbuatan, minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar mengajar terjadi pada diri siswa. Dalam media pembelajaran terdapat dua unsur yang terkandung , yaitu (a) pesan atau bahan pengajaran yang akan disampaikan atau perangkat lunak, dan (b) alat penampil atau perangkat keras.

Sementara dalam dunia pendidikan kata „media‟ disebut dengan media pembelajaran.Arsyad (2013: 10) menyampaikan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaiakan pesan atau informasi dalam proses belajar mengajar sehingga dapat merangsang perhatian dan minat siswa dalam belajar. Lebih lanjut Gagne dan Briggs (1975) dalam Arsyad (2013: 4) secara eksplisit mengatakan bahwa media pembelajaran meliputi alat yang secara fisik digunakan untuk menyampaikan isi materi pengajaran.Dari kedua pengertian tersebut media adalah alat yang digunakan untuk menyampaikan materi pembeljaraan.Alat ini

(23)

dapat berupa alat-alat grafis, visual, elektronis dan audio yang digunakan untuk mempermudah informasi yang disampaikan kepada siswa.

Adapun pengertian media pembelajaran menurut beberapa para ahli yaitu :Media pembelajaran adalah suatu alat bantu yang digunakan oleh guru agar kegiatan belajar berlangsung secara efektif. Sadiman (2006: 7) Media adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke penerima sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat serta perhatian siswa sedemikian rupa sehingga proses belajar terjadi. Menurut Briggs (dalam Sadiman 2006: 6) berpendapat bahwa media adalah segala alat fisik yang dapat menyajikan pesan serta merangsang siswa untuk belajar. Menurut Trianto (2010: 199) Media sebagai komponen strategi pembelajaran merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber atau penyalurnya ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut, dan materi yang ingin disampaikan adalah pesan pembelajaran, dan bahwa tujuan yang ingin dicapai adalah terjadinya proses belajar.

Jadi, beberapa definisi di atas, media pembelajaran dapat dipahami, sebagai sesuatu alat yang dapat digunakan sebagai sesuatu alat yang dapat digunakan sebagai perantara penyampaian pesan atau informasi kepada siswa yang bertujuan untuk menciptakan pembelajaran yang efesien dan kondusif serta pencapaian pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya.

c. Ciri-ciri Media Pembelajaran

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar. Segala sesuatu yang dapat dipergunakan untuk merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan

(24)

kemampuan atau keterampilan pendidik sehingga dapat mendorong terjadinya proses belajar. Media pembelajaran mempunyai beberapa ciri untuk dapat dikenali. Ciri-ciri umum media pembelajaran adalah:

a) Media pembelajaran identik dengan alat peraga langsung dan tidak langsung. b) Media pembelajaran digunakan dlm proses komunikasi.

c) Media pembelajaran merupakan alat yg efektif.

d) Media pembelajaran sangat berperan bagi kepentingan pendidikan. e) Media pembelajaran erat kaitannya dgn metode mengajar

Untuk mengenali beberapa ciri media pembelajaran berikut akan tersajikan beberapa ciri menurut Gerlach& Ely (2011) yang mengemukakan tiga ciri-ciri media yang merupakan alasan mengapa media digunakan. Yaitu :

1) Ciri fiksatif (fixative property), Ciri ini menggambarkan kemampuan merekam, menyimpulkan, melestarikan, dan mengkonstruksi suatu peristiwa atau obyek. Cara ini amat penting bagi guru karena kejadian-kejadian atau objek yang telah direkam atau disimpan dengan format media yang ada dapat digunakan setiap saat. Media yang dikembangkan seperti photography, video tape, audio tape, disket komputer, dan film. Maka media ini memungkinkan suatu rekaman kejadian yang terjadi pada satu waktu tertentu ditransportasikan tanpa mengenal waktu.

2) Ciri manipulatif (manipulatif property). Suatu kejadian yang memakan waktu berhari-hari dapat disajikan kepada peserta didik dalam waktu dua atau tiga menit dengan teknik pengambilan gambar atau time-lapse recording. Kemampuan media dari ciri manipulatif memerlukan perhatian sungguh-sungguh karena apabila

(25)

terjadi kesalahan dalam pengaturan kembali urutan kejadian atau potongan bagian-bagian yang salah, maka akan terjadi pula kesalahan penafsiran yang tertentu saja akan membingungkan dan bahkan menyesatkan sehingga dapat mengubah sikap mereka kearah yang tidak diinginkan.

3) Ciri disributif (distributive property). Ciri distributif dari media memungkinkan suatu objek atau kejadian ditrasnspormasikan melalui ruang, dan secara bersamaan kejadian tersebut disajikan kepada peserta didik dengan stimulas pengalaman yang relatif sama mengenai kejadian ini. Sekali informasi direkam dalam format media apa saja, ia dapat direproduksi seberapa kali pun dan siap digunakan secara bersamaan di berbagai tempat atau digunakan secara berulang-ulang di suatu tempat. Konsistensi informasi yang telah direkam akan terjamin sama atau hampir sama dengan aslinya.

d. Fungsi Media Pembelajaran

Istilah media mula-mula dikenal dengan alat peraga, kemudian dikenal dengan istilah audio visual aids (alat bantu pandang/dengar). Selanjutnya disebut instructional materials (materi pembelajaran), dan kini istilah yang lazim digunakan dalam dunia pendidikan nasional adalah instructional media (media pendidikan atau media pembelajaran).Dalam perkembangannya, sekarang muncul istilah e-Learning.Huruf “e” merupakan singkatan dari “elektronik”.Artinya media pembelajaran berupa alat elektronik, meliputi CD Multimedia Interaktif sebagai bahan ajar offline dan Web sebagai bahan ajar online.

(26)

Levie & Lents (1982) mengemukakan empat fungsi media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu:

1) Fungsi Atensi

Fungsi atensi media visual merupakan inti, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian siswa untuk berkonsentrasi kepada isi pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yang ditampilkan atau menyertai teks materi pelajaran.Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik dengan materi pelajaran atau mata pelajaran itu merupakan salah satu pelajaran yang tidak disenangi oleh mereka sehingga mereka tidak memperhatikan. Media gambar khususnya gambar yang diproyeksikan melalui overhead projector dapat menenangkan dan mengarahkan perhatian mereka kepada pelajaran yang akan mereka terima. Dengan demikian, kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi pelajaran semakin besar.

2) Fungsi Afektif

Media visual dapat terlihat dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang bergambar.Gambar atau lambang visual dapat menggugah emosi dan sikap siswa, misalnya informasi yang menyangkut masalah social atau ras.

3) Fungsi Kognitif

Fungsi kognitif media visual terlihat dari temuan-temuan penelitian yang mengungkapkan bahwa lambang visual atau gambar memperlancar pencapaiaan

(27)

tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan yang terkandung dalam gambar.

4) Fungsi Kompensatoris

Fungsi kompensatoris media pembelajaran terlihat dari hasil penelitian bahwa media visual yang memberikan konteks untuk memahami teks membantu siswa yang lemah dalam membaca untuk mengorganisasikan informasi dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengan kata lain, media pembelajaran berfungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambat menerima dan memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.

Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pembelajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan.Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para siswa atau pendengar untuk bertindak (turut memikul tanggung jawab, melayani secara sukarela, atau memberikan subangan material). Pencapaian tujuan ini akan memperngaruhi sikap, nilai, dan emosi.

e. Klasifikasi media pembelajaran

Media pembelajaran bahasa secara umum dapat digolongkan dalam dua kelompok besar, yaitu berupa media elektronik dan media nonelektronik. Menurut Suyanto, media pembelajaran bahasa dibagi dalam tiga kategori besar. Diantaranya adalah sebagai berikut.

(28)

Dilihat dari segi jenisnya, media pembelajaran ada tiga macam. Diantaranya adalah sebagai berikut:

a) Media Audio (Auditif)

Media audio adalah media yang bentuk sarana penyampai, pembawa, dan pengantar pesannya ditangkap melalui indra pendengar. Diantara media audio ini adalah televisi, radio, MP3, tape recorder, piringan hitam, dan lain-lain.

b) Media Visual

Media visual adalah media yang hanya mengandalkan indra penglihatan. Artinya, media ini terfokus hanya pada pancaindra penglihatan.Jenis media visual ini ada yang menampilkan gambar diam seperti film strip film berangkai), slide (dilm bingkai), foto, gambar atau lukisan, dan cetakan.Ada pula jenis media yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak, seperti hanya film bisu dan film kartun.

c) Media Audiovisual

Media audiovisual adalah media yang mempunyai unsur suara dan gambar. Artinya, media ini didapatkan dari hasil penggabungan antara audio dan visual.Media jenis audiovisual dibagi kedalam dua bagian, diantaranya adalah sebagai berikut.

(1) Audiovisual Diam : film bingkai suara (sound slide), film rangkai suara, dan cetak suara.

(29)

(2) Audiovisual Gerak : film suara dan video-cassette.

f. Macam-macam Media Pembelajaran

Menurut Dr. Wina Sanjaya, M.Pd. media pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi beberapa klasifikasi tergantung dari sudut mana melihatnya.

1) Dilihat dari sifatnya, media dapat dibagi ke dalam:

(a)Media Auditif, yaitu media yang hanya dapat didengar saja atau media yang hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara.

(b) Media Visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Yang termasuk ke dalam media ini adalah film slide, foto, tranparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis dan lain sebagainya.

(c) Media Audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat,misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua.

2) Dilihat dari kemampuan jangkauannya, media dapat pula dibagi kedalam:

(a) Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak sepertiradio dan televise. Melalui media ini siswa dapat mempelajari hal-halatau kejadian-kejadian yang aktual secara serentak tanpa harus menggunakan ruangan khusus.

(30)

(b) Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruangdan waktu seperti film slide, film, video, dan lain sebagainya.

3) Dilihat dari cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi kedalam:

(a) Media yang diproyeksikan seperti film, slide, film strip, transparansi, dan lain sebagainya. Jenis media yang demikian memerlukan alat proyeksi khusus seperti film projector untuk memproyeksikan film, slide projector untuk memproyeksikan film slide, operhead projector (OHP) untuk memproyeksikan tranparansi. Tanpa dukungan alat proyeksi semacam ini, maka media semacam ini, maka media semacam ini tidak akan berfungsi apa-apa.

(b) Media yang tidak diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan,radio, dan lain sebagainya.

g. Macam-macam Media Audio Visual dan Pemanfaatannya Media ini dibagi dalam:

1) Audio visual murni yaitu baik unsur suara maupun unsur gambar berasal dari satu sumber seperti video kaset.

2)Audio visual tidak murni yaitu unsur suara dan unsur gambarnya berasal dari sumber yang berbeda. Misalnya filmbingkai suara yangunsur gambarnya berasal dari slides proyektor dan unsur suaranyaberasal dari tape recorder.

(31)

(a) Media dengan daya liput luas dan serentak.Penggunaan media initidak terbatas oleh tempat dan ruang serta dapat menjangkau jumlah anak didik yang banyak dalam waktu yang sama. Seperti radio dan televise sertainternet. (b) Media dengan daya liput terbatas oleh ruang dan tempatmedia ini dalam

penggunaannya membutuhkan ruang dan tempatyang khusus seperti film sound slides filmrangkai, yang harusmenggunakantempat tertutupdangelap. (c) Mediauntukpembelajaraninvidual. Media ini penggunaannya hanya untuk

seorang diri termasuk media ini adal a h modul berprogram dan pengajaran melalui komputer

Adapun beberapa alat-alat atau media yang termasuk dalam mediaaudio visual dan kelebihan serta kelemahannya, yaitu:

1. Audiotape

Kelebihan-kelebihan Audiotape

a)Baik untuk siswa yang sedang belajar mendengar. b)Pengisi waktu saat menunggu

c)Mendengarsambil melakukan mobilitas (kegiatan lain)

d)Merupakan alternatif bagi yang tidak senang membaca atau yangmempunyai kesulitan membaca

e)Pendengar dapat mereviewnya sambil menunggu atau melakukanatau melakukan kegiatan lain.

Kelemahan Audiotape

(32)

dengan komponen lain yaitu adanya tape dan aliranlistrik

b) Tidak memungkinkan melakukan penjelajahan terhadap isi buku terlebih dahulu

c) Bila ingin mencermati kembali isi buku, harus mereviewnyakembali sampai menemukan yang dimaksudkan, baru kemudianmemutarnya kembali

d) Hal-hal penting tidak bisa digarisbawahi atau diberi tanda khusus. e) Tidak ada grafik, diagram, atau gambar sebagai bahan klarifikasi. Optimalisasi Audiotape

a)Matikan tape dan ulangi hal-hal yang perlu dihafalkan b)Buatlah catatan selama atau setelah selesai mendengarkan c)Dengarkan hal-hal penting atau hal-hal yang sulit beberapa kali.

d)Kalau ada buku manualnya, lihat dan cermatilah terlebih dahulusebelummendengarkan kaset.

2.Video dan Videotape Kelebihan Videotape

a) Baik untuk semua yang sedang belajar mendengar dan melihat b) Bisa menampilkan gambar, grafik atau diagram

c) Bisa dipergunakan di rumah, di luar kelas maupun dalamperjalanan dalam kendaraan

d) Bisa diperlambat dan diulang

e) Dapat dipergunakan tidak hanya untuk satu orang f) Dapat dipergunakan untuk memberikan umpan balik

(33)

Kelemahan Videotape

a) Sering dianggap sebagai hiburan TV

b) Kegiatan melihat videotape adalah kegiatan pasif

c) Menggunakan video berarti memerlukan dua unit alat, yaitu videotape dan monitor TV

d) Dibandingkan dengan kaset recorder, harganya relatif lebih mahal

e) Pemirsa tidak bisa melihat secara cepat bagian-bagian yang sudahtayangan yang sudah terlewatkan.

Optimalisasi Videotape

a) Kualitas videotape sangat variatif, pilihlah yang menghasilkangambar dan suara yang jelas

b) Jangan mempergunakan waktu dengan melihat video yang tidaksesuai dengan yang diinginkan

c) Anggaplah melihat video seperti dalam prosespembelajaran dikelas dengan membuat catatan, menjawab pertanyaan-pertanyaan.

d) Terlibat secara aktif

e) Lengkapilah dengan buku petunjuk dan buku-buku latihan f) Cermatilah semua buku yang menyertai videotape

g) Janganlah menjadi penonton yang pasif

h) Beristirahatlah ketika anda mulai kehilangan konsentrasi

i) Jangan ragu-ragu bertanya kepada guru atau instruktur, apabila ada sesuatu yang kurang jelas.

(34)

3. Hakikat Keterampilan Berbahasa a) Pengertian Menyimak

Menyimak adalah sebuah tindakan yang menyengajakan diri mendengar dan sasarannya berupa bunyi bahasa. Menyimak merupakan salah satu cara untuk mendengar dan menerima perasaan serta member tanggapan yang bertujuan menunjukkan bahwa kita sungguh-sungguh telah menangkapi perasaan serta pesan-pesan yang terkandung di dalamnya.

Keterampilan menyimak sangat dibutuhkan atau sangat perlu dimiliki oleh setiap orang supaya dalam berkomunikasi akan lebih lancar dan dapat membedakan anatara menyimak dan mendengarkan. Oleh karena itu, menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan lambing-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemhaman, apresiasi serta interpretasi untuk memperoleh informasi, mengungkap isi serta memahami makna komunikasi yang disampaikan oleh si pembicara memalui ujaran atau bahasa lisan.

b) Pengertian Membaca

Membaca adalah suatu proses yang dilakukan serta dipergunakan oleh pembaca untuk memperoleh pesan, yang hendak disampaikan oleh penulis melalui media kata-kata/bahasa tulis.

Dari segi linguistik, membaca adalah suatu proses penyandian kembali dan pembacaan sandi (a recording and decoding prosess).Membaca juga dapat diartikan sebagai suatu metode yang kita pergunakan untuk berkomunikasi dengan diri kita

(35)

sendiri dan kadang-kadang dengan orang lain-yaitu mengkomunikasikan makna yang terkandung atau tersirat pada lambing-lambang tertulis.

c) Pengertian Bericara

Berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.Pesan dan bahasa lisan merupakan dua hal yang sangat erat kaitannya.Berbicara betujuan untuk meyakinkan pendengar tentang sesuatu. Dengan pembicaraan yang meyakinkan, sikap dan cara pandang pendengar dapat diubah misalnya dari sikap menolak beralih sehingga akhirnya mereka mau dibuat, bertindak atau beraksi seperti ang dikendakinya.

d) Pengertian Menulis

Menulis merupakan salah satu kemampuan wajib yang harus diketahui oleh semua orang. Tanpa kemampuan yang satu ini, aktivitas dalam kehidupan sehari-hari dapat dipastikan tidak akan berjalan dengan lancar.Menulis sendiri merupakan aktivitas yang dilakukan dengan tujuan membuat atas apa yang dianggap penting dengan memanfaatkan berbagai macam media.

e) Hubungan antara Berbicara dan Menyimak

Antara berbicara dan menyimak, terdapat hubungan yang erat dari hal-hal berikut ini :

1) Ujaran (Speech) biasanya dipelajari melalui menyimak dan meniru (imitasi). Oleh karena itu, contoh atau model yang disimak serta direkam oleh anak sangat penting dalam enguasaan kecakapan berbicara.

(36)

2) Kata-kata yang akan dipakai serta dipelajarai oleh anak biasanya ditentukan oleh perangsang (stimulasi) yang mereka temui (misalnya kehidupan desa >< kota) dan kata-kata yang paling banyak member bantuan atau pelayanan dalam menyampaikan ide-ide mereka.

3) Ujaran anak mencerminkan pemakaian bahasa di rumah dan dalam masyarakat tempatnya hidup; misalnya : ucapan, intonasi, kosa kata, penggunaan kata-kata, dan polapola kalimat.

4) Anak yang elbih muda lebih dapat memahami kalimat-kalimat yang jauh lebih panjang dan rumit daripada kalimat-kalimat yang dapat diucapkannya.

5) Meningkatkan keterampilan menyimak berate membantu meningkatkan kualitas berbicara seseorang.

6) Bunyi atau suara merupakan suatu fakor penting dalam peningkatan cara pemakaina kata-kata anak. Oleh karena itu, anak-anak akan tertolong kalau mereka medengarkan/menyimak ujaran-ujaran yang baik dari pada guru, rekaman-rekaman yang bermutu, dan cerita-cerita yang bernilai tinggi.

7) Berbicara dengan bantuan alat-alat peraga ( visual aids) akan menghasilkan penangkapan informasi yang lebih baik pada pihak menyimak. Umumnya anak mempergunakan bahasa yang didengarnya.

f) Hubungan antara Menyimak dan Membaca

Keterampilan menyimak juga merupakan dasar atau faktor penting bagi suksesnya seseorang dalam belajar membaca secara efektif. Penelitian yang telah

(37)

dilakukan oleh para ahli telah memperlihatkan beberapa hubungan penting antara membaca dan menyimak, antara lain :

1) Pengajaran serta petunjuk-petunjuk dalam membaca diberikan oleh guru melalui bahasa lisan, dan kemampuan anak untuk menyimak dengan pemahaman penting sekali.

2) Menyimak merupakan cara atau mode utama bagi pelajaran lisan (verbalized learning) selama tahun-yahun permulaan di sekolah. Perlu dicatat misalnya bahwa anak yang cacat dalam membaca haruslah meneruskan pelajarannya di kelas yang lebih tinggi dengan lebih banyak melalui menyimak dari pada melalui membaca.

3) Walaupun menyimak pemahaman (listening comprehension) anak-anak sering gagal untuk memahaminya dan tetap menyimpan/memakai/menguasai sejumlah fakta yang mereka dengar.

4) Oleh karena itu, para pelajar membutuhkan bimbingan dalam beajar menyimak lebih efektif dan lebih teratur lagi agar hasil pengajaran itu baik.

5) Kosa kata atau perbendaharaan kata menyimak yang sangat terbatas mempunyai kaitan dengan kesukaran-kesukaran dalam belajar membaca secara baik.

6) Bagi para pelajar yang lebih besar atau tinggi kelasnya, korelasi antara kosa kata baca dan kosa kata simak (reading covabulary dan listening vocabulary) sangat tinggi, mungkin 80 % atau lebih.

7) Pembeda-bedaan atau diskriminasi pendengaran yang jelek acapkali dihubungkan dengan membaca yang tidak efektif dan mungkin merupakan suatu factor

(38)

pendukung atau faktor tambahan dalam ketidakmampuan dalam membaca (poor read-ing).

8) Menyimak turut membantu anak untuk menangkap ide utama yang diajukan oleh pembicara; bagi pelajar yang lebih tinggi kelasnya, membaca lebih unggul dari pada menyimak sesuatu yang mendadak dan pemahaman informasi yang terperinci.

g) Hubungan antara Berbicara dan Membaca

Sejumlah proyek penelitian telah memperlihatkan adanya hubungan yang erat diantara perkembangan kecakapan bahwa kemampuan umum bahasa lisan turut melengkapi suatu latar belakang pengalaman yang menguntungkan serta keterampilan-keterampilan bagi pengajaran membaca. Hubungan-hubungan antara bidang lisan dan membaca telah dapat diketahui dalam beberapa telaah penelitian, antara lain :

1) Performansi atau penampilan membaca berbeda sekali dengan kecakapan bahasa lisan.

2) Pola-pola pelajaran ujaran orang yang tuna aksara atau buta huruf mungkin mengganggu pelajran membaca pada anak-anak.

3) Kalau pada tahun-tahun permulaan sekolah ujaran membentuk suatu pelajaran bagi pelajaran membaca, membaca bagi anak-anak kelas yang lebih tinggi turut membantu meningkatkan bahasa lisan mereka, misalnya : kesadaran linguistic mereka terhadap istilah-istilah baru, struktur kalimat yang baik dan efektif, serta penggunaan kata-kata yang tepat.

(39)

4) Kosa kata khusus mengenai bahan bacaan haruslah diajarkan secara langsung. Andaikan muncul kata-kata baru dalam buku bacaan/buku pegangan murid, guru hendaknya mendiskusikannya dengan murid sehingga mereka memahami maknanya sebelum mereka mulai membacanya.

4. Hakikat Keterampilan Berbicara a. Pengertian Berbicara

Menurut Tarigan (1981:15), berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantis dan linguistik yang sangat intensif. Lebih lanjut Tarigan (1986: 3) mengemukakan bahwa berbicara adalah kemampuan seseorang dalam mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata yang bertujuan untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran,gagasan dan perasaan orang tersebut.

Sementara menurut Djago Tarigan (1995: 149) berbicara adalah keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan.Kaitan antara pesan dan bahasa lisan sebagai media penyampaian sangat berat. Pesan yang diterima oleh pendengar tidaklah dalam wujud asli, tetapi dalam bentuk lain yakni bunyi bahasa. Pendengar kemudian mencoba mengalihkan pesan dalam bentuk bunyi bahasa itu menjadi bentuk semula.

(40)

b. Tujuan Keterampilan Berbicara

Tujuan umum berbicara menurut Djago Tarigan (1995:149) terdapat

lima golongan yakni

1) Menghibur Berbicara

Si pembicara menarik perhatian pendengar dengan berbagai cara, seperti humor, spontanitas, menggairahkan, kisah-kisah jenaka, petualangan, dan sebagainya untuk menimbulkan suasana gembira pada pendengarnya.

2) Menginformasikan

Melaporkan dan dilaksanakan bila seseorang ingin: menjelaskan suatu proses, menguraikan, menafsirkan, atau menginterpretasikan sesuatu hal; memberi, menyebarkan, atau menanamkan pengetahuan; menjelaskan kaitan.

3) Menstimulasi Berbicara

Berbicara itu harus pintar merayu, mempengaruhi, atau meyakinkan pendengarnya. Ini dapat tercapai jika pembicara benar-benar mengetahui : kemauan, minat, inspirasi, kebutuhan, dan cita-cita pendengarnya.

4) Menggerakkan Dalam berbicara

Untuk menggerakkan diperlukan pembicara yang berwibawa, panutan atau tokoh idola masyarakat. Melalui kepintarannya dalam berbicara, kecakapan memanfaatkan situasi, ditambah penguasaannya terhadap ilmu jiwa massa,

(41)

Sedangkan, menurut Tarigan (1981:16), berbicara mempunyai tiga maksud umum, yaitu: memberitahukan, melaporkan (to inform); menjamu, menghibur (to entertain); dan membujuk, mengajak, mendesak, meyakinkan (to persuade).

c. Ragam Bentuk Berbicara

Secara garis besar bentuk berbicara dibagi dalam beberapa bentuk, yaitu 1) Berbicara di muka umum

Menurut Tarigan (1981: 22-23) beberapa kegiatan berbicara ke dalam kategori tersebut.

a) Berbicara dalam situasi yang bersifat memberitahukan atau melaporkan, bersifat informatif (informative speaking).

b) Berbicara dalam situasi yang bersifat membujuk, mengajak, atau meyakinkan (persuasive speaking).

c) Berbicara dalam situasi yang bersifat merundingkan dengan tenang dan hati-hati (deliberate speaking).

2) Berbicara dalam konferensi a) Kelompok resmi (formal), b) Kelompok tidak resmi (informal)

3) Prosedur Parlementer

4) Berdebat

(42)

b) Debat pemeriksaan ulangan,

c) Debat formal, konvensional atau debat pendidikan aktifitas dalam keterampilan berbicara oleh Richards dan Renandya(2002: 209-210), dibagi dalam empat aktivitas:Lisan (aural: oral activities), Gambar (visual: oral activities),Bantuan material (material-aided: oral activities), danKesadaran budaya (culture awareness: oral activities).

d. Fungsi Berbicara

Menurut Richards (2008: 21) fungsi berbicara antara lain:

1) Sebagai interaksi (talk as interaction),

Unsur pokoknya antara lain: a) berfungsi sosial,

b) Merefleksikan hubungan,

c) Merefleksikan identitas pembicara,

d) Bisa jadi formal atau casual, e) Menggunakan syarat percakapan, f) Merefleksikan tingkat kesopanan, g) Menggunakan kata-kata generik,

h) Menggunakan percakapan terdaftar/resmi, i) Terkonstruksi bersama.

(43)

Unsur pokoknya antara lain: a) Fokus pada informasi,

b) Berfokus pada psan dan bukan pada partisipan,

c) Menggunakan strategi komunikasi agar bisa dipahami, d) Ada pertanyan, pengulanghan dan pemahaman,

e) Ada negosiasi,

f) Akurasi linguistik tidak begitu penting.

3. Sebagai kinerja/publik (talk as performance)

Unsur pokoknya antara lain:

a) Fokus pada pesan dan audiens,

b) Penyusunan dan kata berurut,

c) Memenitngkan akurasi dan bentuk,

d) Cenderung bahas tulisan,

e) Sering dalam bentuk monologik.

e. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efektivitas Berbicara Beberapa faktor yang harus diperhatikan oleh pembicara untuk keefektifan berbicara adalah

(44)

1) Faktor kebahasaan

Faktor kebahasaan yang menunjang keefektifan berbicara, meliputi:

a) Ketepatan ucapan, pengucapan buyi-bunyian harus tepat, begitu juga dengan penempatan tekanan, durasi, dan nada yang sesuai.

b) Pemilihan kata atau diksi, harus jelas, tepat dan bervariasi sehingga dapat memancing kepahaman dari pendengar.

c) Ketepatan sasaran pembicara, pemakaian kalimat atau keefektivan kalimat memudahkan pendengar untuk menangkap isi pembicaraan. Penilaian dari faktor kebahasaan meliputi: Ucapan, tata bahasa, kosa kata,

2. Faktor non kebahasaan

a) Sikap yang tidak kaku

b) Kesediaan menghargai pendapat,

c) Pandangan ke pendengar,

d) Gerak-gerik atau mimik tepat,

e) Kenyaringan suara,

f) Kelancaran berbicara,

g) Penguasaan topik.

Penilaian dari faktor non kebahasaan meliputi: ketenangan,volume suara, kelancaran, dan pemahaman.

(45)

5.Hakikat Pidato a. Pengertian Pidato

Pidato ialah suatu ucapan dengan memperhatikan susunan kata yang baik untuk disampaikan kepada orang banyak. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pidato didefinisikan sebagai (1) Pengungkapan pikiran dalam bentuk kata-kata yang ditujukan kepada orang banyak; (2) Wacana yang disiapkan untuk diucapkan di depan khalayak.

Contoh pidato yaitu seperti pidato kenegaraan, pidato menyambut hari besar, pidato pembangkit semangat, pidato sambutan acara atau event, pidato pelepasan siswa, pidato memperingati hari Kartini, dan lain sebagainya.

b. Jenis-jenis Pidato

Ditinjau berdasarkan pada sifat dari isi pidato, pidato dapat dibedakan menjadi:

1) Pidato Pembukaanadalah pidato singkat yang dibawakan oleh pembaca acara atau MC.

2) Pidato Pengarahan adalah pidato untuk mengarahkan pada suatu pertemuan. 3) Pidato Sambutan adalah pidato yang disampaikan pada suatu acara kegiatan atau

peristiwa tertentu yang dapat dilakukan oleh beberapa orang dengan waktu yang terbatas secara bergantian.

4) Pidato Peresmian adalah pidato yang dilakukan oleh orang yang berpengaruh untuk meresmikan sesuatu.

(46)

5) Pidato Laporan adalah pidato yang isinya adalah melaporkan suatu tugas atau kegiatan.

6) Pidato Pertanggungjawabanadalah pidato yang berisi suatu laporan pertanggungjawaban.

c. Tujuan Pidato

Pidato yang baik dapat memberikan suatu kesan positif bagi orang-orang yang mendengar pidato tersebut.Umumnya, kegiatan berpidato memiliki tujuan sebagai berikut.

1) Memberikan informasi

Memberikan sebuah pemahaman baru, mengingatkan, atau memberikan informasi kepada khalayak ramai.

2) Persuasif atau mengajak

Mempengaruhi khalayak ramai agar dengan senang hati mengikuti apa yang kita harapkan dan apa yang kita sampaikan.

3) Hiburan atau rekreasi

Menyenangkan pihak audiens dengan pidato yang kita bawakan sehingga tecapai kepuasan dan kesenangan terhadap apa yang kita sampaikan.

B. Kerangka Pikir

Berdasarkan uraian pada tinjauan pustaka, maka bagian ini akan diuraikan beberapa hal yang dijadikan penulis sebagai landasan berpikir selanjutnya. Landasan berpikir yang dimaksud akan mengarahkan penulis untuk menemukan data dan

(47)

informasi dalam penelitian ini guna memecahkan masalah yang telah dipaparkan dan diuraikan secara rinci pada landasan berpikir yang dijadikan pegangan dalam penelitian ini.

Seseorang dikatakan memiliki kemampuan apabila telah melalui dan menyelesaikan sebuah proses, proses yang harus dilalui dalam bahasa dan berbahasa ialah empat aspek keterampilan berbahasa. Keempat aspek ini bukan hanya mendukung dalam ruang lingkup berbahasa saja melainkan dalam ruang lingkup kehidupan pun saling berhubungan erat, yaitu aspek keterampilan menyimak, membaca, berbicara dan menulis.

Salah satu aspek yang digunakan dalam “Pembelajaran Berpidato ” dengan menggunakan media audio visual adalah aspek keterampilan menyimak, membaca dan berbicara, dengan menggunkan Model Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning) yaitu Pengetahuan yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung. Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi.Cara ini sering disebut dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).

Berdasarkan dukungan landasan teoritik yang diperoleh, maka dapat disusun kerangka pemikiran sebagai berikut:

(48)

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir Keterampilan Berbicara Pidato

Kebahasaan Non Kebahasaan

Pembukaan Isi Penutup Percaya diri Mimik Bahasa Tubuh

Media Audio Visual

Efektif Tidak Efektif

Hasil

(49)

C. Hipotesis Penelitian

Hipotesis penelitian adalah jawaban sementara terhadap masalah penelitian, yang kebenarannya masih harus diuji secara empiris. Dalam rangkaian langkah-langkah penelitian yang disajikan dalam bab ini hipotesis itu merupakan rangkuman dari kesimpulan-kesimpulan teoretis yang diperoleh dari penelaah kepustakaan. Hipotesis merupakan jawaban terhadap masalah penelitian yang secara teoretis dianggap paling mungkin dan paling tinggi tingkat kebenarannya.Hipotesis sebagai jawaban sementara terhadap persoalan yang diajukan dalam penelitian tidak hanya disusun berdasarkan pengamatan (awal) terhadap objek penelitian, melainkan juga didasarkan pada hasil kajian terhadap kepustakaan yang relevan dengannya.

Berdasarkan uraian kerangka berpikir di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut :

Ho : tidak terdapat pengaruh media audio visual terhadap pembelajaran membaca pidato siswa kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa.

Ha : terdapat pengaruh media audio visual terhadap pembelajaran membaca pidato siswa kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa.

(50)

BAB III

METODE PENELITIAN A. Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Pre-Experimental Design (nondesigns). Dikatakan Pre-Experimental Design, karena desain ini belum merupakan eskperimen sungguhan. Tujuannya untuk mengetahui keefektifan pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menggunakan model audio visual dalam pembelajaran berpidato kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa.

B. Variabel dan Desain Penelitian 1. Variabel Penelitian

Sugiyono (2017: 39) menyatakan bahwa variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Pada penelitian ini ditetapkan dua variabel: (a) variabel bebas ( Independen Variabel) yaitu media audio visual, dan (b) variabel terikat (Dependen Variabel) yaituketerampilan berbicara berpidato.

2. Desain Penelitian

Untuk memperoleh data yang akurat sesuai dengan masalah penelitian ini dirancang melalui penelitian eksperimen.Terdapat beberapa bentuk desain eksperimen yang dapat digunakan dalam penelitian ini, yaitu :Pre-Experimental

(51)

Design, True Experimental Design, Factorial Design, dan Quasi Experimental Design.

Penelitian ini menggunakan desain penelitian Pre-Experimental Design.Desain penelitian ini belum merupakan eksperimen sungguh-sungguh, karena masih terdapat variabel luar yang ikut berpengaruh terhadap terbentuknya variabel independen. Jadi hasil eksperimen yang merupakan variabel dependen itu bukan semata-mata dipengaruhi oleh variabel independen.Hal ini dapat terjadi, Karena tidak adanya variabel control, dan sampel tidak dipilih secara random.

Bentuk Pre-Experimental Design ada beberapa macam yaitu : One-Shot Case Study,One-Group Pretest-Posttest Design, dan Intact-Group Comparison.Dalampenelitian ini menggunakan One-Group Pretest-Posttest Design.Desain ini diberikan pada satu kelompok saja tanpa kelompok pembanding, yaitu dengan menggunakan tes awal (preest) kemudian setelah diberikan perlakuan dilakukan pengukuran (posttest) lagi untuk mengetahui akibat dari perlakuan ini. Desain ini dapat digambarkan sebagai berikut :

O1 X O2

Keterangan :

O1 = nilai pretest (sebelum diberi perlakuan)

(52)

C. Populasi dan sampel 1. Populasi

Ridwan & Akdon (2010 : 237) menguraikan bahwa populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri dari objek atau subjek yang menjadi kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Nawawi (Ridwan & Akdon 2010: 237) menyebutkan bahwa, “populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, baik hasil menghitung atauun pengukuran kuantitatif maupun kualitatif pada karakteristik tertentu mengenai sekumulan objek yang lengkap”.Adapun rincian populasi dalam penelitian ini sebagai berikut.

Tabel 1 . Keadaan Populasi

Kelas

Jumlah siswa Jumlah

Laki-laki Perempuan

XI

10 20 30

Jumlah Total 30

Sumber : Tata Usaha MA. Aisyiyah Sungguminasa

Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa jumlah populasi dalam penelitian ini adalah keselururhan siswa kelas XI MA.Aisyiyah Sungguminasa sebanyak 30.

(53)

Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut.Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling.Total sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana jumlah sampel sama dengan jumlah populasi. Alasan pengambilan total sampling karena jumlah populasi yang kurang dari 100 seluruh populasi dijadikan sampel penelitian. Sampel yang ditetapkan dalam penelitian ini adalah kelas XI yang berjumlah 38 siswa.

D. Teknik Pengumpulan Data

Untuk memeroleh data penelitian diperlukan teknik pengumpulan data yang tepat dan dapat dipertanggujawabakan secara ilmiah.Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan tes-awal (pre-test) dan tes akhir (post-test), observasi, dan dokumentasi. Adapun cara pengambilan data dalam penelitian ini yaitu dengan melakukan tes. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampian, pengetahuan, intelegensi, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Adapun tes yang dilakukan dalam penelitian ini yaitu siswa membaca berpidato sebelum dan sesudah penggunaan media audio visual dengan memerhatikan aspek kebahasaan dan non kebahasaan.Adapun yang termasuk ke dalam aspek kebahasaan yaitu pembukaan, isi, dan penutup.Sedangkan aspek non kebahasaan yaitu percaya diri, mimik, dan bahasa tubuh.

(54)

No. Kebahasaan Skor Pembukaan 13 Isi 20 penutup 20 Non Kebahasaan Percaya diri 17 Mimik 17 Bahasa Tubuh 13 Jumlah 100

E. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini terbagi atas dua yaitu analisis statistik deskriptif dan analisis statistik inferensial.

1. Analisis Statistik Deskriptif

Analisis ini menggambarkan data yang telah terkumpul , seperti gambaran antara pengaruh variabel X dan variabel Y. Untuk menganalisis data yang diperoleh dari hasil penelitian akan digunakan analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial. Data yang terkumpul merupakan data dari pretest dan posstest kemudian dilakukan perbandingan.Membandingkan kedua hal tersebut dengan mengajukan pertanyaan apakah ada perbedaan antara nilai pretest dan posstest.Pengajuan ini hanya dilakukan pada rata-rata nilai kedua saja.Dan untuk keperluan itu digunakan

(55)

teknik yang disebut dengan uji-t (t-test). Dengan demikian langkah-langkah analisis data eksperimen dengan model eksperimen denganIntact Group Comparison Design. Statistik yang digunakan untuk menganalisis data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul selama proses penelitian dan bersifat kuantitatif. Adapun langkah-langkah dalam penyusunan melalui analisis ini sebagai berikut :

a) Rata-rata (mean)

2. Analisis Statistik Inferensial

Kata statistik berasal dari bahasa Latin, yakni status yang artinya negara atau menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan ketatanegaraan.Untuk lebih jelasnya dapat disimpulkan bahwa satistik adalah ilmu yang mempelajari tentang seluk beluk data yaitu tentang pengumpulan, pengolahan, penafsiran, dan penarikan kesimpulan dari data yang berbentuk angka-angka.

Statistika inferensial mencakup semua model yang berhubungan dengan analisis sebagaian data atau juga sering disebut dengan sampel kemudian dilakukan penarikan kesimpulan dari keseluruhan data atau populasi.Pengambilan kesimpulan dari statistika inferensial yang hanya didasarkan pada sebagian data saja menyebabkan sifat tak pasti sehingga memungkinkan terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan sehingga dibutuhkan teori peluang untuk mengantisipasi hal tersebut.

(56)

Dalam penggunaan statistik inferensial dalam penelitian ini menggunakan teknik statistik t (uji t) sebagai berikut :

√∑

Keterangan:

Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest X1 = Hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) X2 = Hasil belajar setelah perlakuan (postest) d = Deviasi masing-masing subjek

∑X2

d = Jumlah kuadrat deviasi N = subjek pada sampel

Langkah-langkah dalam pengujian hipotesis adalah sebagai berikut :

a. Mencari harga “Md” dengan menggunakan rumus :

Keterangan:

Md = Mean dari perbedaan Pretest dan posttest ∑d = Jumlah dari gain (pretest-posttest)

N = Subjek pada sampel

(57)

∑X2

d = ∑d – ∑ Keterangan :

∑X2

d = Jumlah kuadrat debbiasi

∑d = Jumlah dari gain (posttest –pretest) N = Subjek pada sampel

c. Menentukan harga thitung dengan menggunakan rumus : t =

√ ∑

Keterangan :

Md = Mean dari perbedaan pretest dan posttest X1 = Hasil belajar sebelum perlakuan (pretest) X2 = Hasil belajar setelah perlakuan (postest) D = Devisiasi masing-masing subjek

∑X2d

= Subjek pada sampel

a. Menentukan aturan pengambilan keputusan atau kriteria yang signifikan dengan aturan : Jika thitung > ttabel maka Ho = ditolak dan H1 = diterima, berarti penerapan media audio visual dalam pembelajaran berpidato siswa kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa berpengaruh.

b. Jika thitung ˂ ttabel maka Ho = diterima, berarti penerapan media audio visual dalam pembelaaran berpidato tidak memiliki pengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa. Mencari ttabel dengan

(58)

menggunakan tabel distribusi t dengan taraf signifikan ά = 0,05 dan df = N-1.

c. Membuat kesimpulan tentang hasil penelitian apakah penerapan media audio visual dalam pembelajaran berpidato berpengaruh terhadap hasil belajar siswa kelas XI di MA. Aisyiyah Sungguminasa.

Gambar

Gambar 1 Bagan Kerangka Pikir Keterampilan Berbicara Pidato
Tabel 1 . Keadaan Populasi

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa media audio visual merupakan media yang dapat digunakan dalam kegiatan pembelajaran dengan melibatkan pendengaran dan

pengembangan media pembelajaran berbasis audio visual dengan melalui tahap uji coba dan menghasilakan produk berupa media pembelajaran berbasis audio visual tokoh-tokoh

Pertama perencanaan dalam pembelajaran pembelajaran bahasa Indonesia dengan media audio visual meningkat yang paling dominan adalah pada tahapan penyusunan RKH

Salah satu jenis media pengajaran adalah media audio visual.Media audio visual adalah seperangkat alat yang dapat memproyeksikan gambar dan suara.Alat- alat yang

Audio visual VCD merupakan salah satu media pembelajaran yang dapat menunjang anak didik untuk menguasai materi pembelajaran, dengan media ini guru dapat memberikan

Kegiatan IbM dengan memanfaatkan media audio visual (audio visual aids) dalam mengajarkan kosakata bahasa Inggris bagi siswa Tpengabdian sesuai dengan yang ada di lapangan

Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian tindakan kelas dalam pembelajaran Bahasa Indonesia materi tentang sastra dengan menggunakan media audio visual untuk meningkatkan hasil belajar

Supriyanto 2017 dengan judul “Pengaruh penggunaan media pembelajaran audio visual terhadap keterampilan menyimak dongeng pada mata pelajaran bahasa indonesia siswa kelas II SD Negeri 48