ANALISIS KONFLIK DALAM PROSES TRANSPARANSI
DAN AKUNTABILITAS PENGELOLAAN KEUANGAN DESA
PAKRAMAN
(Studi Kasus Pada Desa Pakraman Tejakula, Kecamatan
Tejakula, Kabupaten Buleleng)
1
I Made Yogi Mardika,
1
Ni Luh Gede Erni Sulindawati,
2I Putu Sukma Kurniawan
Jurusan Akuntansi Program S1
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja, Indonesia
e-mail :
{
1[email protected],
1[email protected]
2[email protected]}@undiksha.ac.id
Abstrak
Desa pakraman merupakan salah satu bentuk organisasi non pemerintahan yang juga perlu untuk mengimplementasikan prinsip transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangannya. Transparansi dan akuntabilitas dapat terwujud dengan adanya keterlibatan dan kebebasan pihak berkepentingan dalam mengakses informasi keuangan sehingga konflik/permasalahan dalam informasi tersebut dapat dihindari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) bentuk transparansi dan akuntabilitas penyampaian informasi pertanggungjawaban keuangan, (2) konflik yang terjadi dalam penyampaian informasi pertanggungjawaban keuangan beserta solusi berupa saran yang diberikan, dan (3) pemahaman pengurus desa pakraman tentang pentingnya transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan sumber data primer dan sekunder. Data diperoleh dari observasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Pengolahan data yang terkumpul melalui tiga tahapan yaitu tahap reduksi data, tahap penyajian data dan yang terakhir adalah analisis data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) penyampaian informasi pertanggungjawaban keuangan desa pakraman dilakukan melalui paruman, (2) konflik yang terjadi berupa ketidakhadiran kelian dadia dalam paruman sebagai perantara penyampaian informasi keuangan kepada krama desa sehingga menyebabkan krama desa sebagai pihak berkepentingan mengalami kebutaan terhadap infomasi keuangan desa pakraman, serta solusi yang dapat diberikan dengan cara mediation, dan (3) transparansi dan akuntabilitas sangat penting untuk tetap memperkuat sistem kepercayaan seluruh elemen Desa Pakraman Tejakula.
Kata Kunci : Transparansi dan Akuntabilitas, Penyampaian Informasi, Konflik
Abstract
A traditional village is one of the non-government organizations which is also supposed to implement transparent and accountable financial management. Transparence and accountability can be created if the stakeholders can be involved in and have access to its financial management in order to avoid the conflict on financial information. This current study is intended to identify (1) the form of transparence and accountability used to present the information on financial responsibility ; (2) what conflict taking place when presenting the information on financial responsibility and what suggestion was proposed; and (3) to what extent the traditional village’s leaders could
understand the importance of the transparence and accountability of financial management. This current study was conducted using the qualitative method and the data were obtained from the primary and secondary data sources. The data were obtained through observation, in-depth interview and documentation. The collected data were analyzed through three stages; the stage in which the data were reduced; the stage in which the data were presented; and the stage in which conclusions were drawn.
The result of the study shows that (1) the information on the traditional village’s financial accountability was presented through meeting; (2) the conflict taking place was that head of dadia (a traditional sub group of people coming from the same ancestors), as the mediator who was supposed to present the financial information to the villagers, was absent, causing them not to know anything about the financial information; mediation was the solution; and (3) transparence and accountability are highly important in order to strengthen the confidence of all the elements of Tejakula traditional village.
Keywords: Transparence and Accountability, Presentation of Information, Conflict
PENDAHULUAN
Desa pakraman merupakan salah satu bentuk organisasi publik non pemerintahan dan organisasi nirlaba yang tersebar di berbagai wilayah Bali yang dituntut agar menyelenggarakan laporan keuangan yang transparan dan akuntabel. Hal ini sesuai dengan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 45 Tahun 2011 tentang organisasi nirlaba, bahwa organisasi nirlaba juga harus dan berhak untuk membuat laporan keuangan dan melaporkan kepada para pemakai laporan keuangan. Dalam pengelolaan keuangan yang baik dan tepat harus dapat menerapkan prinsip transparansi dan akuntabilitas. Sejalan dengan hal tersebut, transparansi dan akuntabilitas menjadi kewajiban dan tanggungjawab pemegang amanah untuk mengelola, menyajikan, melaporkan serta menyampaikan segala aktivitas yang dilaksanakan kepada pemberi amanah, dimana pemberi amanah tentunya memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Mardiasmo, 2009).
Menurut Halim dalam Warisando (2017) masyarakat tidak hanya memiliki hak untuk mengetahui pengelolaan keuangan tetapi berhak untuk menuntut pertanggungjawaban atas pengaplikasian serta pengelolaan keuangan tersebut. Begitu pula dalam desa pakraman sebagai salah satu organisasi non pemerintah dimana pengelolaan keuangan sangat diperlukan yang akan dapat menyelenggarakan pertanggungjawaban dalam bentuk
pelaporan keuangan dengan cara paruman yang bersifat transparan dan akuntabel sehingga persepsi negatif dan permasalahan lain dari krama desa terhadap pengurus desa pakraman dapat dihindari. Hal tersebut mengacu pada Lestari (2016) yang menyatakan bahwa konsep transparansi dan akuntabilitas tentunya harus diterapkan oleh organisasi manapun termasuk organisasi keagamaan seperti desa pakraman, dimana pengelolaan keuangan desa pakraman haruslah selalu terbuka, terkontrol dan dapat dipertanggungjawabkan.
Untuk menghindari konflik atau permasalahan dalam keuangan desa pakraman, pengurus desa pakraman harus mampu menyampaikan informasi keuangan desa pakraman secara tepat dan jelas dalam desa pakraman kepada krama desa sehingga krama desa tidak mengalami kebutaan terhadap informasi keuangan desa pakramannya sendiri. Maka dari itu penyampaian informasi dari desa pakraman kepada krama desa sangat penting dan diharapkan akan terlaksana dengan baik dan maksimal.
Desa Pakraman Tejakula, Kecamatan Tejakula, Buleleng merupakan salah satu dari sekian banyak desa pakraman di Bali yang melaksanakan paruman dalam proses pertanggungjawaban keuangan desa pakraman itu sendiri. Namun sedikit berbeda dengan yang lain bahwa paruman dalam Desa Pakraman Tejakula hanya menghadirkan semeton desa negak (jero
bendesa, jero bau, jero penyarikan, anggota desa negak), dane jero mangku, semeton
dangka, dan semeton dadia. Tidak adanya
unsur krama desa yang seharusnya hadir
dalam paruman tersebut.
Tabel 1. Akumulasi Pendapatan dan Biaya Desa Pakraman Tejakula Tahun 2017
Tahun Pendapatan Biaya
2017 Rp. 2.264.254.325,00 Rp. 1.729.254.325,00 Sumber : Hasil Observasi Peneliti, (2017)
Alasan yang menjadi dasar pemilihan Desa Pakraman Tejakula sebagai tempat penelitian antara lain pertama, desa pakraman merupakan salah satu wilayah yang cukup luas yang kental dengan pelaksanaan upacara-upacara keagamaan dalam kesehariannya dan telah menjadi rutinitas desa pakraman yang ada di Bali yang tentunya memerlukan kesiapan dana yang cukup besar untuk menunjang kelancaran pelaksanaan upacara keagamaan. Jumlah tersebut merupakan nilai yang besar untuk lingkup desa pakraman sehingga perlu diketahui sumber pemasukan terbesar desa pakraman dan juga bentuk penyampaian informasi pertanggungjawaban keuangan kepada krama desa.
Kedua, penyampaian informasi pertanggungjawaban keuangan itu sangat diperlukan dan sangat disarankan dapat tersampaikan ke masyarakat secara merata dan adil sehingga seluruh informasi terkait pengelolaan keuangan dapat diketahui oleh masyarakat luas dan dengan hal itu pula dapat mencerminkan pertanggungjawaban ke masyarakat telah terlaksana dengan baik. Atmadja dalam Warisando (2017) menyatakan akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu (1) Akuntabilitas vertikal (vertical accountability) yaitu pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban pemerintah daerah kepada pemerintah pusat. (2) Akuntabilitas horizontal (horizontal accountability) yaitu pertanggungjawaban kepada masyarakat luas. Namun dalam proses penyampaian informasi paruman berupa hasil pertanggungjawaban keuangan desa pakraman selama satu tahun tidak tersampaikan dengan baik ke pihak yang
berkepentingan yaitu krama desa karena dalam paruman yang menghadirkan
pemucuk dadia diharapkan akan
menyampaikan hasil paruman tersebut ke anggota dadianya masing-masing namun tidak terlaksana dengan baik. Sehingga dengan tidak tersampaikannya informasi hasil paruman ke krama desa, menjadikan
paruman sebagai bentuk
pertanggungjawaban pengurus desa pakraman tidak mencerminkan akuntabilitas horizontal di Desa Pakraman Tejakula. Dan hal tersebut menjadi konflik yang cukup berarti dalam desa pakraman karena dengan tidak tersampaikannya informasi laporan pertanggungjawaban kepada krama desa selaku pihak berkepentingan dan pemberi amanah mengakibatkan krama desa mengalami kebutaan terhadap informasi posisi keuangan desa pakramannya sendiri.
Ketiga, dengan terjadinya permasalahan dalam penyampaian informasi laporan pertanggungjawaban keuangan desa pakraman maka menarik untuk diketahui pemahaman pengurus desa pakraman tentang pentingnya konsep transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan kuangan desa pakraman.
Merujuk darin ketiga alasan tersebut, konflik yang terjadi terkait transparansi dan akuntabilitas dalam penyampaian informasi laporan pertanggungjawaban keuangan Desa Pakraman Tejakula menarik untuk dikaji lebih mendalam dalam penelitian ini.
METODE
Jenis dan pendekatan penelitian ini adalah kualitatif, hal itu menyebabkan data dan analisis yang digunakan dalam penelitian ini juga bersifat kualitatif yang yang
berhubungan dengan ide, persepsi, pendapat, kepercayaan orang yang akan diteliti. Sumber data penelitian ini dari dua sumber yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Data yang dapat diperoleh langsung dari lapangan atau tempat penelitian Data sekunder adalah data yang dikumpulkan dahulu oleh pihak selain peneliti (Arikunto,2002).
Metode dan teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini adalah studi kepustakaan, observasi, wawancara, dokumentasi. Analisis digunakan dalam penelitian ini adalah reduksi data, penyajian data (data display), menarik kesimpulan (verifikasi).
Demi terjaminnya keakuratan data, maka keabsahan data perlu untuk dilakukan maka digunakan empat kriteria, yaitu kepercayaan, keteralihan, kebergantungan, kepastian. Salah satu kriteria kepercayaan ada beberapa teknik yang dilakukan diantaranya, perpanjangan keikutsertaan, ketekunan pengamatan, triangulasi (Moleong, 2005).
HASIL DAN PEMBAHASAN
Sumber Pemasukan Desa Pakraman Tejakula
Menurut Dewi (2015), sumber-sumber pemasukan dibagi menjadi dua jenis yaitu sumber pemasukan reguler dan sumber pemasukan non regular. Sumber pemasukan regular berasal dari urunan krama, urunan ngampel (krama yang berada di luar desa), sisa hasil usaha LPD. Sedangkan sumber pemasukan non regular berasal dari dana punia, dan bantuan sosial. Pemasukan Desa Pakraman Tejakula yang digunakan untuk membiayai aktivitas operasional desa pakraman yang pertama berasal dari urunan krama yang dikenakan sebesar Rp. 20.000 per Kepala Keluarga di setiap kegiatan piodalan. Hasil wawancara dengan Jero Bau selaku Bendahara Desa Pakraman menyebutkan bahwa :
“Urunan krama desa dikenakan sebesar Rp.20.000/KK (Kepala Keluarga) disetiap kegiatan upacara atau piodalan. Sudah kurang lebih 5 tahun urunan tersebut tidak mengalami kenaikan”
Jadi dapat disimpulkan bahwa urunan krama dikenakan sebesar Rp. 20.000 per Kepala Keluarga yang dibayarkan setiap kegiatan piodalan di desa pakraman.
Selain itu, pemasukan terbesar lainnya berasal dari Sisa Hasil Usaha (SHU) LPD sebesar 20% setiap tahunnya. Hasil wawancara dengan Jero Bau selaku Bendahara Desa Pakraman Tejakula menyebutkan bahwa :
“…. Sisa hasil usaha (SHU) LPD masuk ke desa adat sebesar 20 persen. LPD itu kan milik desa adat dan merupakan salah satu usaha di desa adat. Sehingga untuk bisa berjalan terus-menerus dan di satu sisi desa juga bisa menikmati, sehingga ditentukan persentasenya sebesar 20 persen dari SHU untuk menjalankan kegiatan operasional desa adat. Sehingga tahun ini pemasukan dari SHU LPD 20 persen itu masuk sebesar Rp.702.000.000”
Jadi, berdasarkan pernyataah dari
Jero Bau dapat ditarik kesimpulan bahwa
persentase Sisa Hasil Usaha LPD Tejakula yang masuk ke desa pakraman adalah 20% dan tahun ini memperoleh pemasukan Rp.702.000.000.
Pemasukan Desa Pakraman Tejakula yang lainnya berasal dari dana punia dan hasil laba pura. Hasil wawancara dengan
Jero Penyarikan selaku Sekretaris Desa
Pakraman Tejakula menyebutkan bahwa : “……yen (kalau) medana punia ape
deen dadi (apa saja boleh). Kan tidak
mungkin medana punia itu diwajibkan
harus ini, harus itu. Jadi, kita berikan
kebebasan dalam bentuk apapun dan kita terima. Biasanya yang medana punia itu dalam bentuk uang, beras, buah-buahan, pajeng, dan ada juga yang medana punia celeng (babi) atau kebo (kerbau). Kalau dana punia dalam bentuk uang, yang terkumpul selama setahun itu kurang lebih Rp.92.000.000. Bisa dilihat di saldo di lampiran itu”
Sedangkan dalam pemasukan berupa hasil laba pura dijelaskan dalam hasil wawancara dengan Jero Bau selaku
Bendahara Desa Pakraman Tejakula sebagai berikut.
“…….pendapatan lainnya ada hasil
laba pura berupa tanah desa yang
dikelola atau digarap oleh desa
negak. Ketentuan pembagian
keuntungannya telah ditetapkan sebesar 2/3 dari total hasil diberikan kepada penggarap dan sisanya lagi 1/3 masuk ke desa adat”
Berdasarkan beberapa kutipan hasil wawancara diatas dapat disimpulkan bahwa pemasukan dari dana punia untuk tahun 2017 diperoleh sebesar Rp.92.000.000 dalam bentuk nominal uang, sedangkan dana
punia diperbolehkan dalam bentuk apapun
asalkan dilandasi rasa ikhlas. Pemasukan desa pakraman yang berasal dari hasil laba
pura memiliki pembagian keuntungan yaitu
1/3 dari total keuntungan masuk ke desa adat, dan sisanya sebesar 2/3 diberikan kepada penggarap yaitu desa negak.
Bentuk Penyampaian Informasi Pertanggungjawaban Pengelolaan Keuangan Desa Pakraman Tejakula
Pelaksanaan pertanggungjawaban yang terbuka dari Pengurus Desa Pakraman Tejakula dilaksanakan melalui paruman. Hal tersebut dijelaskan dalam kutipan hasil wawancara Jero Penyarikan selaku Sekretaris Desa Pakraman Tejakula sebagai berikut.
“Untuk membahas keuangan desa pakraman dibahas dalam paum desa setiap akhir tahun biasanya bulan desember. Di paum itu dah nanti disampaikan kepada pemilet (peserta)
paum”
Dalam paruman tersebut selain pengurus desa pakraman, elemen krama desa pun dihadirkan untuk dapat mencerminkan budaya demokrasi dan sebagai bentuk partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan dalam paruman tersebut. Sehingga paruman tersebut akan menjadi salah satu cerminan desa pakraman terkait transparansi dan akuntabilitasnya. Keterlibatan seluruh warga untuk menentukan keputusan dalam hal
pengelolaan keuangan lebih banyak diterapkan saat ini untuk dapat mengarah pada terwujudnya budaya demokrasi yang adil serta adanya pengakuan hak yang seimbang antarwarga (Lestari, 2014).
Namun yang terjadi dalam paruman Desa Pakraman Tejakula ada perbedaan dibandingkan dengan paruman lainnya yang sebagian besar menghadirkan krama untuk ikutserta dalam paruman. Paruman Desa Pakraman Tejakula yang membahas agenda mengenai laporan pertanggungjawaban keuangan menghadirkan semeton desa
negak (Jero Bendesa, Jero Bau, Jero Penyarikan, anggota desa negak), dane jero mangku, semeton dadia, dan semeton dangka. Hasil wawancara dengan Jero
Penyarikan selaku Sekretaris Desa
Pakraman Tejakula menyebutkan bahwa : “ …..kalau paruman yang agendanya tentang pertanggungjawaban yang datang biasanya jero bendesa, jero
bau, jero penyarikan, desa negak,
jero mangku, pengempon pura
dangka sareng kelian dadia sami
(semua). Itu semua harus hadir. Tidak isi krama desa kalau paum ini”.
Kenyataan yang terjadi tentu tidak sejalan dengan pernyataan Lestari (2016) yang menyebutkan bahwa paruman merupakan aktivitas rutin yang dilaksanakan dalam desa pakraman yang dihadiri oleh
prajuru desa pakraman bersama krama desa
untuk membahas permasalahan ataupun merencanakan kegiatan bersama-sama. Karena dengan hadirnya krama desa dalam
paruman akan mencerminkan bahwa
akuntabilitas horizontal dapat terlaksana dan hasil paruman berupa infomasi pertanggungjawaban pengelolaan keuangan dapat secara jelas tersampaikan ke krama desa.
Dengan ketidakhadiran unsur krama desa pakraman akan menjadikan akuntabilitas horizontal desa pakraman tidak berjalan dengan baik dan mungkin akan memunculkan berbagai anggapan negatif dari krama desa tentang hasil paruman pertanggungjawaban pengelolaan keuangan yang tidak tersampaikan secara jelas kepada pemangku kepentingan yaitu krama desa.
Konflik Dalam Penyampaian Informasi Pengelolaan Keuangan
Konflik merupakan salah satu proses yang bersifat disosiatif yang tidak selalu berarti negatif karena konflik jika dihadapi dengan bijaksana dapat memberikan manfaat bagi semua pihak yang terlibat didalamnya. Daniel Webster diacu dalam Pickering (2001), mendefinisikan konflik sebagai suatu keadaan atau perilaku yang bertentangan. Dalam hal ini yang dimaksud sebagai keadaan atau perilaku yang bertentangan adalah paruman Desa Pakraman Tejakula tidak menghadirkan krama desa selaku pihak berkepentingan yang memiliki hak atas informasi tersebut. Peran krama desa selaku pemberi amanah dalam paruman desa pakraman digantikan oleh kelian dadia yang ditunjuk oleh Pengurus Desa Pakraman Tejakula untuk hadir dalam paruman. Tujuan Pengurus Desa Pakraman Tejakula menunjuk kelian dadi untuk hadir dalam paruman adalah sebagai perwakilan krama dan perantara penyampaian informasi dari desa pakraman ke krama desa. Dengan hal tersebut pengurus desa pakraman akan beranggapan bahwa mereka telah menunjukkan keterbukaan terhadap pertanggungjawaban keuangan kepada krama desa. Hasil wawancara dengan Gede Darmawan selaku Bendesa Desa Pakraman Tejakula menyebutkan bahwa :
“………tujuan diundangnya kelian
dadia dalam paruman ini istilahnya
sebagai krama. Dadiane nike pang
uning sami (dadia agar semua
mengetahui), amone kas desane dan sebagainya. Nanti mereka yang akan menjelaskan ke krama dadianya masing-masing”
Selanjutnya ditambahkan oleh Jero
Bau selaku Bendahara Desa Pakraman
Tejakula dalam kutipan hasil wawancara sebagai berikut :
“……..kalau krama kan terlalu umum, untuk lebih spesifik mengenai
undangan paruman
pertanggungjawabannya melalui
prajuru dadia/kelian dadia”
Jadi, dapat diketahui bahwa dalam
paruman dengan agenda
pertanggungjawaban keuangan, krama desa diwakilkan oleh kelian dadia yang diharapkan nantinya akan mampu menyampaikan informasi hasil paruman kepada krama-nya masing-masing.
Namun kenyataan yang terjadi bahwa
kelian dadia tidak satupun yang datang untuk
menghadiri paruman tersebut. Sehingga harapan dari desa pakraman untuk menjadikan kelian dadia sebagai perantara informasi kepada krama desa tidak berjalan sesuai dengan harapan. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Daniel Webster diacu dalam Pickering (2001) yang menyebutkan bahwa keadaan atau prilaku yang bertentangan yang terjadi karena adanya ketidaksesuaian antara suatu konsep yang sebenarnya.
Adapun faktor yang menjadi alasan ketidakhadiran kelian dadia dalam paruman adalah karena kelian dadia tersebut sudah tidak mempercayai pengurus desa pakraman dalam mengelola keuangan dan juga mereka menganggap bahwa hal itu tidak penting. Hasil wawancara dengan Gede Darmawan selaku Bendesa Desa Pakraman Tejakula menyebutkan bahwa :
“……jani nak dadiane sing taen
ngugu be asal desane ngitungang kene-kenean. Uli pidan be sing gugu kar ngeneang (ngelola) pis. Nak keto dadiane engkenang nto”
Hal tersebut juga diakui oleh Gede Sujana selaku Kelian Dadia Pasek Kayu Selem yang merupakan pihak yang terlibat
dalam mekanisme penyampaian
pertanggungjawaban pengelolaan keuangan Desa Pakraman Tejakula dalam pernyataan sebagai berikut.
“….nah yen care bape nak kuang bermanfaat masi informasine to, selain nto bape nak ngelah gaen len ane lebih penting di jumah. Daripada bape teke paum sing meragatang ape, ngerti masi sing, pocol teke keme. Adaan be ane pentingan malu jemak gaene”
Selanjutnya ditambahkan oleh Jero
Bau selaku Bendahara Desa Pakraman
Tejakula dalam kutipan hasil wawancara sebagai berikut.
“Untuk menghadiri
pertanggungjawaban seperti ini rasanya tidak banyak yang akan hadir. Kalau hanya khusus untuk menerima laporan seperti ini langah
kar ane nyak teke (jarang yang mau
hadir) kar medingehang (untuk mendengarkan) laporan seperti ini” Sehingga alasan tersebut yang menjadi salah satu faktor penting penyebab tidak hadirnya kelian dadia dalam paruman yang diadakan oleh desa pakraman. Kelian
dadia yang akan difungsikan sebagai
perantara penyampaian informasi pertanggungjawaban keuangan dari desa pakraman kepada krama desa telah memiliki rasa ketidakpercayaan dengan pengurus desa pakraman sebagai pengelola keuangan desa pakraman.
Dengan adanya permasalahan tersebut, sudah dapat dipastikan bahwa informasi pengelolaan keuangan desa pakraman tidak mampu tersampaikan dengan jelas dan terarah sesuai sasaran yang sebenarnya. Krama desa sebagai sasaran desa pakraman dalam penerima informasi keuangan tidak mampu dilaksanakan dengan cara yang ditentukan sebelumnya yaitu melalui perantara kelian
dadia. Sehingga dengan tidak
tersempaikannya informasi paruman berupa laporan pertanggungjawaban keuangan tersebut telah menyebabkan krama desa sebagai pihak yang berkepentingan dalam pengelolaan keuangan desa pakraman tidak memiliki pengetahuan tentang keuangan desa pakraman yang sebenarnya. Hasil wawancara dengan Nyoman Purwanata selaku krama Desa Pakraman Tejakula menyebutkan bahwa :
“Kalau informasi pengelolaan kuangan desa adat tiang tidak tahu. Laporan pertanggungjawaban keuangan desa apalagi. Memang ada
paruman yang membahas tentang ini
setiap tahun, tapi keto be, sing kanti
nengked mai informasine
(Informasinya tidak sampai disini). Uli
mekelo be kene deen. Mungkin saja
ini jadi masalah di desa pakraman, karena pengurus desa pakramane
care sing terbuka dadine (karena
pengurus desa pakraman seperti tidak terbuka jadinya)”.
Dengan tidak tersampaikannya informasi laporan hasil pertanggungjawaban keuangan yang diawali dengan ketidakhadiran kelian dadia tersebut pada akhirnya berlanjut pada anggapan negatif dari krama desa yang menganggap bahwa desa pakraman tidak menunjukkan keterbukaan terkait keuangan dan juga tidak dapat dipungkiri telah menjadi masalah yang penting untuk ditanggapi. Anggapan krama desa terhadap pengelolaan keuangan desa pakraman mencerminkan suatu bentuk ketidakpuasan pemberi amanah (principal) terhadap pelaksana amanah (agent). Tahap konflik adalah suatu keadaan dimana para pihak menyadari atau mengetahui adanya perasaan tidak puas (Maskanah et al. dalam Hikmah, 2008). Akibat ketidakpuasan tersebut dapat memunculkan permasalahan lain yaitu timbul sedikit rasa malas di lingkungan krama desa untuk membayar
urunan pesu nasi dengan kondisi yang
seperti ini. Hal tersebut diperjelas dalam pernyataan Nyoman Purwanata selaku krama Desa Pakraman Tejakula sebagai berikut.
“…….ya kurang lebih gitu, nyatanya seperti itu. Krama yang tidak memenuhi peturunan pesu nasi karena masalah ini, ada. Ada saja lah segelintir orang (krama) yang kritis punya niat dan keinginan seperti itu. Kalau di desa cepat penyebaran kabar yang gitu, terutama gosip yang jelek.
Ini ngomong kesini, ini ngomong kesini, begitu seterusnya. Sekebedik
kene pengaruh, dadi be gede
masalahe (sedikit demi sedikit kena
pengaruh, bisa jadi besar masalahnya). Bisa ada masalah seperti ini juga karena pengurus desa pakraman kurang terbuka dengan krama desanya”.
Berdasarkan pemaparan kutipan hasil wawancara diatas, dapat ditarik kesimpulan
bahwa krama desa membenarkan adanya masalah baru yang muncul akibat tidak tersampaikannya informasi hasil paruman di Desa Pakraman Tejakula yang menjadi konflik atau permasalahan utama. Permasalahan sampingan tersebut muncul dan mudah berkembang karena didukung dengan kebiasaan masyarakat desa yang mudah untuk menyebarkan informasi dari mulut ke mulut dan juga masyarakat desa merupakan orang yang mudah terkena pengaruh dan provokasi dari pihak lain.
Permasalahan yang terjadi berupa penunggakan pembayaran kewajiban peturunan desa pakraman oleh krama memang telah menjadi suatu bentuk permasalahan yang wajib untuk ditanggulangi dan diminimalisir agar nantinya tidak berdampak lebih buruk dan dapat mengurangi pemasukan desa pakraman melalui urunan krama dan juga akan mempengaruhi kelangsungan kinerja dari desa pakraman itu sendiri. Desa Pakraman Tejakula, permasalahan seperti itu sudah memiliki suatu kebijakan dan sanksi sebagai langkah penanggulangan masalah sehingga masalah tersebut tidak terus terjadi. Kebijakan yang diambil pengurus desa pakraman lebih mengarah pada pendekatan dan peringatan kepada krama yang tidak memenuhi kewajibannya untuk membayar peturunan. Hasil wawancara dengan Gede Darmawan selaku Bendesa Desa Pakraman Tejakula menyebutkan bahwa :
“ ada kebijakannya. Kebijakan itu dari desa yang menentukan. Kalau ternyata krama mampu tapi tidak membayar peturunan, semeton desa
negak yang baju hitam itulah yang
mencari krama tersebut. Istilahnya sebagai suatu bentuk peringatan
dulu”.
“……istilah denda tidak ada. Beda seperti kalau orang mandi diatas
kayoan (tempat mandi), pas hari raya
Nyepi ada yang keluar melewati jalan raya, itu baru ada dendanya”.
Selanjutnya dibenarkan oleh Ketut Muliani selaku krama Desa Pakraman Tejakula dalam kutipan hasil wawancara sebagai berikut.
“Pasti ada. Nak desane be ngelah
catatane ane sing mayah dan
sebagainya. Paling be baange
peringatan di munyi malu, amun tileh keto, biin ane kerasan baange”.
Dengan munculnya permasalahan baru atas konflik utama yang terjadi dapat digambarkan bahwa masalah tersebut menyangkut pihak pengurus desa pakraman dan juga pihak krama desa pakraman. Berdasarkan level permasalahannya, terdapat dua jenis konflik yaitu konflik vertikal dan konflik horizontal. Konflik vertikal terjadi apabila pihak yang dilawan oleh pihak lainnya berada pada level yang berbeda, sehingga kaitan makro-mikronya lebih cepat diketahui. Sedangkan konflik horizontal terjadi antara masyarakat dengan anggota masyarakat lainnya, dalam hal ini kaitan makro-mikronya agak sulit digambarkan dengan jelas bahkan sering kali sulit untuk menentukan siapakaha lawan yang sebenarnya (Maskanah et al. dalam Hikmah, 2008).
Solusi dan Saran Terhadap Konflik/Permasalahan
Menurut Soekanto (2002) penyelesaian konflik dapat dilakukan melalui pendekatan akomodasi. Tujuan akomodasi yaitu untuk mengurangi pertentangan antara orang-perorangan atau kelompok-kelompok manusia sebagai akibat perbedaan paham.
Solusi yang dapat dijadikan saran untuk menanggulangi konflik yang terjadi adalah dengan cara akomodasi dalam bentuk
mediation. Melalui alternatif mediation
tersebut penyelesaian masalah/konflik yang terjadi di Desa Pakraman Tejakula dapat ditanggulangi dengan menghadirkan dan mempertemukan Pengurus Desa Pakraman Tejakula, Kelian Dadia dan juga Krama Desa Pakraman Tejakula yang merupakan pihak-pihak yang terlibat dalam konflik penyampaian informasi tersebut yang diikuti dengan kehadiran penglingsir desa atau orang yang disegani dan dihormati oleh seluruh kalangan di desa pakraman yang berfungsi sebagai pihak ketiga dalam
mediation ini. Sehingga dalam pertemuan
dibahas secara jelas mengenai seluruh bentuk permasalahan dan kesalahpahaman yang terjadi. Sehingga krama desa pun dapat mengetahui dan memahami secara jelas permasalahan yang terjadi. Dan pada saat yang bersamaan pula dapat dicari jalan keluar sebagai bentuk solusi dari konflik yang terjadi di lingkungan desa pakraman, sehingga dalam tatap muka antara pihak-pihak tersebut dapat diperoleh jalan keluar bersama sehingga dapat tercapainya tujuan bersama.
Untuk dapat tetap menjaga sikap pengurus desa pakraman yang transparan dan akuntabel terkait keuangan, maka pengurus desa pakraman dapat memanfaatkan website atau media publikasi organisasi dan media sosial seperti facebook sebagai salah satu alternatif untuk dapat menyampaikan informasi hasil paruman kepada seluruh krama desa. Sehingga seluruh elemen krama dalam desa maupun luar desa (ngampel) dapat memiliki kebebasan akses informasi melalui website ataupun media publikasi lain. Dengan pemanfaatan website dan media publikasi organisasi lain tersebut dapat menjadi salah satu bentuk saran dan dan alternatif untuk tetap menjaga sikap ketransparansian dan akuntabel dari Desa Pakraman Tejakula dan diikuti dengan pelaksanaan paruman yang rutin sehingga alternatif tersebut tidak meninggalkan tradisi desa pakraman dan tidak mengurangi makna paruman yang sudah berlangsung di desa sejak dahulu.
Kepercayaan Sebagai Unsur Penting dalam Mendukung Konsep Transparansi dan Akuntabilitas
Transparansi dan akuntabilitas merupakan suatu konsep dan prinsip yang sangat penting dan menjadi kewajiban bagi suatu organisasi. Sulistyani dalam Aldiasta (2017) menyatakan bahwa transparansi dan akuntabilitas adalah dua kata kunci dalam penyelenggaraan pemerintahan maupun penyelenggaraan perusahaan yang baik. Pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan keuangan di Desa Pakraman Tejakula juga dipahami oleh Pengurus Desa Pakraman Tejakula dan menjadikan konsep transparansi sebagai
keterbukaan dan akuntabilitas sebagai pertanggungjawaban itu suatu hal yang sangat penting yang harus dipertahankan. Sistem kepercayaan yang masih kental di lingkungan desa pakraman di Bali dapat menjadi hal penting untuk mengurangi munculnya permasalahan dalam desa pakraman dalam hal apapun. Konsep pertanggungjawaban dan keterbukaan terhadap informasi keuangan tersebut sangat penting untuk mendukung kepercayaan yang berkembang di desa pakraman sehingga dengan kepercayaan didukung dengan pertanggungjawaban dan keterbukaan tersebut dapat memunculkan perasaan lega di masyarakat. Hasil wawancara dengan Jero
Bau selaku Bendahara Desa Pakraman
Tejakula menyebutkan bahwa :
“Sangat penting sekali. Kalau di desa adat itu dah biasanya kepercayaan yang utama dan sangat penting. Kalau kepercayaan sudah ada di krama, mereka tidak akan menuntut begitu besar tentang itu. Sehingga adanya transparansi juga dapat membantu menjaga kepercayaan masyarakat di desa adat. Adanya transparansi ini juga penting untuk memudahkan komunikasi dengan masyarakat. Kalau seandainya ada ketertutupan, itu bisa memunculkan kecurigaan dan kecemburuan. Itu yang menimbulkan perasaan kurang
enak di lingkungan krama”.
Dengan adanya transparansi dan akuntabilitas ini diharapkan akan dapat mempertahankan rasa saling percaya masyarakat terhadap pengurus desa pakraman sebagai pelaksana seluruh aktivitas desa termasuk dalam keuangan sehingga dengan bertahannya kepercayaan yang kuat akan dapat meminimalisir munculnya konflik atau permasalahan.
SIMPULAN DAN SARAN Simpulan
Secara umum sumber pemasukan terbesar dan rutin Desa Pakraman Tejakula berasal dari urunan krama, SHU LPD sebesar 20%, dana punia, dan juga hasil laba pura. Dalam menjaga transparansi dan
akuntabilitas dari desa pakraman terkait pengelolaan keuangan desa pakraman selama satu tahun, desa pakraman mengadakan paruman forum untuk menyampaikan pertanggungjawaban pengelolaan keuangan desa pakraman. Dengan pelaksanaan paruman yang dilakukan setiap akhir tahun dan dihadiri
semeton desa negak, jero mangku, kelian dangka dan kelian dadia. Kelian dadia
ditunjuk untuk hadir dalam paruman untuk dapat bertindak sebagai perantara informasi ke krama desa sehingga seluruh krama desa dapat mengetahui informasi keuangan melalui dadianya masing-masing. Namun kenyataannya kelian dadia tidak hadir dalam
paruman, yang menyebabkan informasi
laporan pertanggungjawaban keuangan desa pakraman terhenti hanya sampai dalam
paruman saja dan tidak mampu
tersampaikan ke krama desa. Sehingga terjadi konflik yang terjadi dalam penyampaian informasi laporan pertanggungjawaban.
Konflik/permasalahan yang terjadi dalam Desa Pakraman Tejakula diawali dengan ketidakhadiran kelian dadi yang ditunjuk sebagai perwakilan krama dan diharapkan dapat menyampaikan informasi laporan pertanggungjawaban keuangan kepada kramanya masing-masing. Ketidakhadiran kelian dadia tersebut dikarenakan kelian dadia sudah tidak mempercayai Pengurus Desa Pakraman Tejakula dalam mengelola keuangan dan selain itu pula kelian dadia menganggap kegiatan seperti itu tidak penting. Dengan ketidakhadiran kelian dadia dalam paruman
mengakibatkan informasi
pertanggungjawaban keuangan desa pakraman tidak mampu diterima dan diketahui oleh krama desa selaku pihak yang berkepentingan terhadap informasi tersebut. Sehingga masalah itu menyebabkan krama desa mengalami kebutaan terkait informasi keuangan. Karena informasi tersebut tidak sampai secara tepat ke krama, maka sebagian kecil atau segelintir krama yang kritis menganggap bahwa pengurus desa pakraman tidak menunjukkan keterbukaan kepada krama terkait keuangannya, yang selanjutnya memicu munculnya perasaan malas dan penunggakan pembayaran
kewajiban dari krama. Sehingga solusi dan saran yang dapat diberikan terkait konflik yang terjadi adalah melalui proses akomodasi yaitu dengan cara mediation.
Mediation adalah upaya mempertemukan
pihak-pihak berkonflik yang dalam hal ini adalah krama desa, kelian dadia dan juga pengurus desa pakraman yang diikuti dengan kehadiran penglingsir desa pakraman yang berfungsi sebagai pihak ketiga. Jadi, dengan jalan tersebut dapat diperoleh titik terang antara kedua belah pihak dan jalan keluar berupa solusi. Selain itu, untuk tetap menjaga ketransparansian dan akuntabilitas Desa Pakraman Tejakula, pengurus dapat memanfaatkan website atau media publikasi resmi lainnya seperti facebook sebagai sarana pendukung untuk menyebarkan dan menyampaikan segala bentuk informasi kepada krama desa. Melalui website
tersebut, krama desa dapat memiliki kebebasan akses terhadap informasi desa pakraman. Sehingga selain melalui paruman sebagai tradisi desa pakraman, dapat pula dilakukan penyampaian informasi keuangan melalui website ataupun media publikasi lainnya.
Pengurus Desa Pakraman Tejakula telah memahami betapa pentingnya adanya konsep transparansi dan akutabilitas dalam pengelolaan keuangan. Dengan adanya transparansi dan akuntabilitas ini diharapkan akan dapat mempertahankan rasa saling percaya masyarakat terhadap pengurus desa pakraman sebagai pelaksana seluruh aktivitas desa termasuk dalam keuangan sehingga dengan bertahannya kepercayaan yang kuat akan dapat meminimalisir munculnya konflik atau permasalahan. Selain itu, keterbukaan ini juga akan menjadi sarana untuk memudahkan komunikasi dengan masyarakat desa.
Saran
Berdasarkan konflik yang telah terjadi dalam penyampaian informasi laporan pertanggungjawaban keuangan yang melibatkan krama desa dengan pengurus desa pakraman, adapun saran yang dapat diberikan dari peneliti yaitu pengurus desa pakraman harus dapat memastikan bahwa informasi laporan pertanggungjawaban keuangan telah diketahui dan tersampaikan
ke krama desa. Selain itu, pengurus desa pakraman dapat memanfaatkan website resmi desa atau media sosial seperti
facebook sebagai sarana penyebaran
informasi kepada krama desa yang berada di dalam desa maupun yang berada di luar desa (ngampel) sehingga krama desa memilki kebebasan akses informasi keuangan. Sehingga dengan hal itu pula dapat mencerminkan transparansi dari Desa Pakraman Tejakula. Dan juga untuk kedepannya, sebaiknya pengurus Desa Pakraman Tejakula membuat laporan keuangan sesuai standar yang telah ada. Karena dengan tidak berpedoman pada standar hal ini mempengaruhi tingkat kepercayaan krama desa mengenai pelaporan keuangan yang direalisasikan.
DAFTAR PUSTAKA
Aldiasta, I Made. 2017. Mengungkap
Akuntabilitas Pengelolaan
Keuangan Pelaba Pura Khayangan Tiga (Studi Kasus Pura Khayangan
Tiga Desa Pakraman Bitera,
Kecamatan Gianyar, Kabupaten
Gianyar). Skripsi. Jurusan
Akuntansi Program S1, Universitas Pendidikan Ganesha.
Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur
Penelitian: Suatu Pendekatan
Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Atmadja, Anantawikrama Tungga, dkk. 2013.
Akuntansi Manajemen Sektor
Publik. Singaraja: Universitas
Pendidikan Ganesha
Dewi, Juni Kalmi. 2015. Analisis Transparansi dan Akuntabilitas Pengelolaan Keuangan di Tingkat Dadia (Studi pada Dadia Punduh Sedahan di Desa Pakraman Bila Bajang). Jurnal Ilmiah Mahasiswa
Akuntansi S1 (JIMAT). Vol.3, No.1
DSAK. 1998. PSAK Nomor 45 Tentang Pelaporan Keuangan Organisasi
Nirlaba. Jakarta: Ikatan Akuntansi Indonesia.
Hikmah, Zainatul. 2008. Analisis Konflik
Nelayan Dalam Pengelolaan
Sumberdaya Perikanan Selat
Madura Dalam Perspektif
Sosiologis-Hukum (Studi Kasus
Nelayan Batah Kecamatan
Kwanyar, Kabupaten Bangkalan, Provinsi Jawa Timur). Skripsi.
Program Studi Manajemen Bisnis dan Ekonomi Perikanan Kelautan, Institut Pertanian Bogor.
Lestari, Ayu Komang Dewi. 2014. Membedah
Akuntabilitas Praktik Pengelolaan
Keuangan Desa Pakraman
Kubutambahan, Kecamatan
Kubutambahan, Kabupaten
Buleleng, Provinsi Bali (Sebuah Studi Interpretif pada Organisasi Publik Non Pemerintahan). Skripsi.
Jurusan Akuntansi Program S1, Universitas Pendidikan Ganesha Lestari, Kadek Lia. 2016. Mengungkap
Akuntabilitas Praktik Pengelolaan Keuangan Desa (Studi Kasus Pada
Desa Pakraman Tabola,
Kecamatan Sidemen, Kabupaten Karangasem, Provinsi Bali. Skripsi.
Jurusan Akuntansi Program S1, Universitas Pendidikan Ganesha Mardiasmo. 2009. Akuntansi Sektor Publik.
Yogyakarta: ANDI
Pickering. 2001. How To Manage Conflict. Jakarta: Erlangga.
Warisando, Kadek David. 2017. Akuntabilitas
Upacara Ngenteg Linggih (Studi Kasus Pada Dadia Pasek Gelgel di
Desa Pakraman Tangguwisia,
Kecamatan Seririt). Skripsi.
Jurusan Akuntansi Program S1, Universitas Pendidikan Ganesha