• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 2 LANDASAN TEORI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB 2 LANDASAN TEORI"

Copied!
64
0
0

Teks penuh

(1)

9 2.1 Teori Umum

2.1.1 Studi Korelasional

Menurut Sekaran (2003, p.126), correlational study is when the researcher is interested in delineating the important variables associated with the problems. Dimana disebut studi korelasional ketika peneliti tertarik dalam pembuatan variabel-variabel penting yang mempunyai hubungan dengan permasalahan.

Menurut Suryabrata (2000, p.24), tujuan penelitian korelasional adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan pada koefisien korelasi.

Menurut http://yudhiher.files.wordpresss.com/2007/04/transparan si-5-1.ppt, studi korelasional yaitu suatu studi untuk menemukan variabel penting yang berkaitan dengan masalah.

Berdasarkan teori-teori diatas maka dapat disimpulkan bahwa studi korelasional adalah studi yang dilakukan untuk menemukan variabel penting yang berkaitan dengan faktor masalah yang diteliti dengan tujuan untuk mendeteksi sejauh mana koefisien korelasi berkaitan dengan variasi-variasi pada faktor-faktornya.

(2)

2.1.2 Sistem Informasi

Menurut O’Brien dan Marakas (2004, p.6), sistem informasi merupakan susunan kombinasi dari sumber daya manusia, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber-sumber daya yang disimpan, memberikan respon, mentransformasi dan menyebarkan informasi pada sebuah organisasi.

Menurut Stair (2006, p.4), sistem informasi adalah sekumpulan komponen yang mengumpulkan, memanipulasi, menyimpan dan menganalisa data serta menyediakan feed back untuk mencapai suatu tujuan. Mekanisme feed back membantu organisasi mencapai tujuan mereka seperti meningkatkan keuntungan atau meningkatkan pelayanan bagi pelanggan.

Menurut Hall (2001, p7), mendefinisikan sistem informasi sebagai sebuah rangkaian prosedur formal dimana data dikelompokkan, diproses menjadi informasi dan didistribusikan kepada pemakai.

Berdasarkan teori-teori diatas, maka dapat disimpulkan bahwa pengertian dari sistem informasi adalah sistem informasi merupakan suatu rangkaian prosedur yang terdiri dari komponen yang telah diproses dan dianalisa sehingga menghasilkan suatu informasi dan digunakan oleh pemakai untuk membantu dalam pengambilan keputusan dan tercapainya tujuan perusahaan.

(3)

2.1.3 Informasi

Menurut O’Brien dan Marakas (2008, p.32), information is data placed in a meaningful and useful context for an end users. Dimana informasi adalah data yang ditempatkan di dalam suatu konteks yang bermanfaat dan penuh arti yang digunakan oleh user.

Menurut Laudon dan Laudon (2003, p.7), information is data that have been shaped into a form that is meaningful and useful to human beings. Informasi adalah data yang diolah menjadi suatu bentuk yang memiliki arti dan berguna bagi manusia.

Menurut Stair dan Reynold (2006, p.5), information is a collection of facts organized in such a way that they have additional value beyond the value of the facts themselves. Dimana informasi dapat diartikan sebagai kumpulan dari fakta yang diatur sedemikian rupa sehingga mempunyai nilai tambah selain dari nilai fakta itu sendiri.

Menurut Stair (2006 p.7), supaya informasi dapat digunakan oleh manajer dan pengambil keputusan, informasi harus memiliki karakteristik yang juga berguna bagi perusahaan. Karakteristik informasi yang baik adalah:

1) Akurat, bebas dari error atau kesalahan. Dalam beberapa kasus, secara umum ketidakakuratan informasi disebabkan oleh ketidakakuratan data yang ditransformasi. Hal ini sering disebut Garbage in, garbage out (GIGO).

(4)

2) Lengkap, berisi semua fakta-fakta yang penting. Contohnya, laporan investasi yang tidak menyajikan semua biaya-biaya yang penting, adalah informasi yang tidak lengkap.

3) Ekonomis, informasi juga harus relatif dapat dihasilkan secara ekonomis. Pengambilan keputusan harus selalu menyeimbangkan nilai dari informasi dengan biaya untuk menghasilkannya.

4) Fleksibel, informasi dapat digunakan untuk berbagai tujuan.

Contohnya, laporan jumlah inventory yang ada di gudang, dapat digunakan oleh bagian representasi penjualan, oleh manajer produksi untuk menentukan jumlah tambahan inventory yang diperlukan, dan di bagian keuangan digunakan untuk menentukan total nilai perusahaan yang telah diinvestasikan di inventory.

5) Reliabel, informasi dapat dipercaya. Dalam beberapa kasus, reliabilitas informasi tergantung pada reliabilitas metode pengumpulan data. Pada contohnya lainnya, reliabilitas tergantung pada sumber informasi tersebut.

6) Relevan, informasi berkaitan dengan permasalahan yang sedang dialami oleh pengambil keputusan.

7) Simpel/sederhana informasi harus sederhana, tidak terlalu kompleks.

Informasi yang canggih dan detail mungkin tidak dibutuhkan.

Kenyataannya, terlalu banyak informasi dapat menyebabkan informasi overload, dimana pengambil keputusan memiliki terlalu banyak dan tidak memberikan kemampuan untuk menentukan apa yang sungguh-sungguh penting.

(5)

8) Tepat waktu, informasi dihasilkan tepat pada saat dibutuhkan.

Mengetahui kondisi cuaca minggu lalu tidak akan meolong, ketika akan mencoba menentukan jas apa yang akan dipakai.

9) Dapat diverifikasi. Ini berarti bahwa informasi dapat meyakinkan kebenarannya, mungkin dengan memeriksa beberapa sumber-sumber informasi yang sama.

Berdasarkan teori–teori di atas dapat disimpulkan bahwa informasi adalah data yang telah dikumpulkan, diolah dan diproses, kemudian menjadi suatu bentuk yang memiliki arti dan bermanfaat bagi manusia.

2.1.4 Kualitas Sistem Informasi

Menurut DeLone dan McLean (Guimares, et al, 2009), dalam mengukur kesuksesan sebuah sistem informasi, kualitas sistem dan kualitas informasi merupakan komponen kualitas yang paling penting.

Kualitas dari sebuah sistem informasi merupakan hal yang penting untuk diukur. Dari prespektif user kualitas sistem menjadi faktor motivasi yang penting untuk user dalam menggunakan sistem tersebut, dan dalam mendapatkan keuntungan untuk perusahaan atas timbal balik dari investasi yang telah dilakukan.

Menurut McKimney, et al (2002), bahwa kepuasan user terhadap pemakai web merupakan pengaruh dari kualitas informasi dan kualitas sistem. Kesuksesan sebuah sistem dapat diukur dengan kepuasan user dalam menggunakan sistem tersebut, mungkin dari sisi kualitas

(6)

sistemnya maupun informasi yang dihasilkan. Kualitas Sistem memiliki tiga dimensi yaitu access, usability, dan navigation. Kualitas informasi berpengaruh karena informasi merupakan hal yang sangat penting sehingga harus memiliki keakuratan yang tinggi. Sehingga kualitas informasi memiliki dimensi yaitu understandability, reliability, dan usefulness.

Berdasarkan teori-teori diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kualitas sistem dan kualitas informasi dapat mengukur sebuah kualitas sistem informasi pada web yang akan mempengaruhi kepuasan user.

2.1.4.1 Kualitas Sistem

Menurut Guimares, et al (2009), faktor yang digunakan dalam mengukur sebuah kualitas sistem, adalah:

a) Ease of Use, apakah sistem mudah untuk digunakan

b) Ease of Learning, apakah sistem rentan waktu untuk dipelajari bagi pengguna-pengguna baru

c) Flexibility, informasi dapat digunakan untuk berbagai tujuan lain

d) Sophistication, informasi memiliki tampilan yang baik e) Customization, pengaturan ulang yang dilakukan oleh user

pada software yang bersangkutan

f) Functionality, apakah sistem sudah sesuai dengan kebutuhan

(7)

g) Reliability, menunjukkan seberapa besar sistem dapat diandalkan untuk melakukan suatu proses yang dapat dipercaya

h) Importance, kepentingan informasi untuk digunakan

Menurut McKimney, et al (2002), kualitas sistem merupakan ukuran dari sistem pemrosesan informasi itu sendiri dan berfokus pada interaksi antara user dan sistem. Berikut indikator-indikator yang termasuk dalam pengukuran kualitas sistem, adalah :

a) Responsif sistem ketika berkomunikasi dengan user

Kemampuan sistem dalam berkomunikasi dengan user untuk diklarifikasi dalam bentuk pertanyaan dan konfirmasi.

Karena dengan web, suatu perusahaan atau institusi dapat menyediakan informasi lebih cepat, interaktir dan real-time.

b) Keaktifan/ketersediaan web setiap saat

Dalam penyediaan pelayanan untuk user, web juga memampukan suatu institusi atau organisasi menyediakan informasi yang cepat dan setiap saat dibutuhkan. Sehingga keaktifan atau ketersediaan web setiap saat dapat memberikan apa yang menjadi kebutuhan user.

c) Tampilan informasi yang sederhana

Tampilan didesain dengan tata letak dan komposisi yang tidak membosankan, memiliki ukuran dan warna huruf maupun gambar yang sesuai. Menggunakan tampilan

(8)

presentasi informasi yang sederhana pada web, merupakan poin penting dalam alasan untuk kesuksesan sebuah web yang luar biasa.

d) Tampilan informasi yang mudah digunakan

Hal yang terpenting dalam web adalah presentasi informasi yang disajikan dalam web yang mudah digunakan dan mendesain friendly interface atau dengan kata lain presentasi informasi dan navigasi yang disediakan mudah dikenali fungsi-fungsinya, sebagai sarana iklan dan penyajian informasi. User selalu menginginkan interface yang lengkap termasuk teks, gambar dan mungkin virtual reality dan yang paling mudah digunakan.

e) Tampilan informasi yang tertata dengan baik (well organized)

Dalam mendesain layar perlu memperhatikan kepentingannya, sehingga desain penataannya harus dapat mendukung penggunaan website lebih cepat dan efisien.

Layar harus didesain dengan dengan tata letak presentasi informasi dan komponen web yang mendukung, secara teratur, tetap dan konsisten setiap pagenya. Perlu diingat bahwa perspektif desainer tampilan dengan user tentang tampilan, seringkali berbeda.

f) Navigasi mempermudah keluar masuk page

(9)

Dalam mendesain navigasi web site yang sukses disarankan untuk tidak lupa mengintegrasikan navigasi dengan content pada page-nya. Hal ini akan memudahkan visitor keluar maupun masuk ke setiap page.

g) Navigasi mempercepat pengaksesan informasi

Navigasi sebuah site yang disediakan berguna untuk menolong visitor lebih cepat dan mudah untuk mendapatkan informasi yang mereka butuhkan.

2.1.4.2 Kualitas Informasi

Menurut Guimares, et al (2009), yang menjadi faktor atau komponen dalam mengukur sebuah kualitas informasi adalah:

a) Availability, apakah sistem dapat diakses pada saat dan dimana ia diperlukan

b) Usability, informasi memiliki makna yang berguna untuk membantu user dalam menyelesaikan pekerjaannya

c) Understandability, informasi yang ditampung dalam laporan adalah kemudahannya untuk segera dipahami oleh pemakai

d) Relevance, informasi akan relevan jika memberikan manfaat bagi user

(10)

e) Format, informasi yang dihasilkan dalam bentuk atau susunan yang mudah dipahami/dimengerti

f) Conciseness, tingkat penggabungan atau pengikhtisaran informasi (ringkas dan padat)

g) Accuracy, keterandalan dan ketepatan informasi

h) Timeliness, informasi yang diterim tidak boleh terlambat, kekinian informasi

i) Completeness, informasi yang dihasilkan atau dibutuhkan memiliki kelengkapan yang baik. Karena bila informasi yang dihasilkan sebagian-sebagian, tentunya akan mempengaruhi dalam pengambilan keputusan atau menentukan tindakan secara keseluruhan, sehingga akan berpengaruh terhadap kemampuan untuk mengontrol atau memecahkan suatu masalah dengan baik

j) Consistency, perkiraan dari response time dan kemampuan dalam proses mengalirkan data

Menurut McKimney, et al (2002), yang menjadi indikator dari kualitas informasi adalah:

a) Informasi layak dipercaya, informasi yang memiliki nilai kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan

b) Informasi akurat, informasi memiliki nilai kekinian atau sering disebut up to date

(11)

c) Informasi memiliki kredibilitas, informasi memiliki kebenaran yang konsisten

d) Informasi memiliki makna yang jelas e) Informasi mudah dimengerti

f) Informasi mudah dibaca

g) Informasi bersifat informatif, informasi disajikan secara detail dan lengkap sesuai kebutuhan

h) Informasi memiliki nilai kegunaan, informasi memiliki makna yang berguna untuk membantu user dalam menyelesaikan pekerjaannya

2.1.5 Sintesis Kualitas Sistem Informasi Business Trip

Berdasarkan analisis teori-teori yang di atas, maka yang dimaksud dengan sistem informasi adalah susunan kombinasi dari sumber daya manusia, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber-sumber daya yang disimpan, memberikan respon, mentransformasi dan menyebarkan informasi pada sebuah perusahaan.

Sistem informasi Business Trip merupakan sebuah sistem yang bermanfaat bagi karyawan untuk melakukan perencanaan perjalanan bisnis, sehingga dapat mempercepat proses dan fokus dalam pekerjaannya. Sistem informasi Business Trip merupakan sebuah solusi manajemen bisnis terintegrasi yang didesain untuk menyeimbangi persaingan pasar tingkat atas yang menginginkan kebebasan untuk fokus

(12)

pada bisnis mereka. Business Trip cocok untuk perusahaan yang mencari suatu solusi yang dapat diimplementasikan secara cepat, pembelajaran dan penggunaan yang mudah. Untuk mengukur kualitas dari sistem informasi Business Trip, dimensi yang berkaitan adalah : 1) Access dengan indikatornya adalah ketersediaan web, responsif sistem; 2) Usability dengan indikatornya adalah tampilan informasi sederhana, tampilan informasi mudah digunakan, dan tampilan informasi tertata dengan baik; 3) Navigation dengan indikatornya adalah navigasi mempermudah out in page, dan navigasi mempermudah pengaksesan informasi; 4) Reliability dengan indikatornya adalah informasi layak dipercaya, informasi akurat, dan informasi memiliki kredibilitas; 5) Understandability dengan indikatornya adalah informasi memiliki makna yang jelas, informasi mudah dimengerti, dan informasi mudah dibaca; 6) Usefulness dengan indikatornya adalah informasi bersifat informatif, dan informasi memiliki nilai guna.

2.1.6 Konstruk Kualitas Sistem Informasi Business Trip

Berdasarkan sintesis di atas, maka yang dimaksud dengan sistem informasi adalah susunan kombinasi dari sumber daya manusia, hardware, software, jaringan komunikasi dan sumber-sumber daya yang disimpan, memberikan respon, mentransformasi dan menyebarkan informasi pada sebuah perusahaan. Sistem informasi Business Trip diterapkan pada PT. LG Electronics Indonesia untuk dapat digunakan oleh karyawan khususnya pada divisi Marketing (sub divisi MC

(13)

Marketing Communication) merupakan sebuah sistem yang dapat membantu karyawan untuk melakukan perencanaan perjalanan bisnis, sehingga dapat mempercepat proses dan lebih fokus dalam pekerjaannya.

Business Trip diterapkan karena PT. LG Electronics Indonesia mencari suatu solusi yang dapat diimplementasikan secara cepat melalui proses pembelajaran dan penggunaan yang mudah serta menyeimbangkan persaingan pasar yang semakin tinggi. Dimensi yang berkaitan dengan kulitas sistem informasi Business Trip adalah : 1) Access dengan indikatornya adalah ketersediaan web, responsif sistem; 2) Usability dengan indikatornya adalah tampilan informasi sederhana, tampilan informasi mudah digunakan, dan tampilan informasi tertata dengan baik;

3) Navigation dengan indikatornya adalah navigasi mempermudah out in page, dan navigasi mempermudah pengaksesan informasi; 4) Reliability dengan indikatornya adalah informasi layak dipercaya, informasi akurat, dan informasi memiliki kredibilitas; 5) Understandability dengan indikatornya adalah informasi memiliki makna yang jelas, informasi mudah dimengerti, dan informasi mudah dibaca; 6) Usefulness dengan indikatornya adalah informasi bersifat informatif, dan informasi memiliki nilai guna.

2.1.7 Kinerja

Menurut Wirawan (2009, p. 5), kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan atau suatu profesi dalam waktu tertentu. Suatu pekerjaan atau profesi

(14)

mempunyai sejumlah fungsi atau indikator yang dapat digunakan untuk mengukur hasil pekerjaan tersebut, Kinerja pergawai merupakan hasil sinergi dari sejumlah faktor. Faktor-faktor tersebut adalah faktor lingkungan internal organisasi, faktor lingkungan eksternal organisasi, dan faktor internal karyawan atau pegawai.

Faktor-faktor internal karyawan besinergi dengan faktor-faktor lingkungan internal organisasi dan faktor-faktor lingkungan eksternal organisasi. Sinergi ini mempengaruhi perilaku kerja karyawan yang kemudian mempengaruhi kinerja karyawan. Kinerja karyawan kemudian menentukan kinerja organisasi.

(15)

Faktor Internal Karyawan:

• Bakat dan sifat pribadi

• Kreativitas

• Pengetahuan dan Keterampilan

• Pengalaman kerja

• Keadaan fisik

• Keadaan psikologi

Perilaku kerja karyawan:

• Etos kerja

• Disiplin kerja

• Motivasi kerja

• Semangan kerja

• Sikap kerja

• Stres kerja

• Keterlibatan kerja

• Kepemimpinan

• Kepuasan kerja

• Keloyalan

GAMBAR 2.1

PENGARUH LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL TERHADAP PERILAKU KINERJA KARYAWAN

Sumber: Wirawan,, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia (Jakarta 2009, hal. 7)

Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja karyawan.

a) Faktor internal pegawai, yaitu faktor- faktor dari dalam diri pegawai yang merupakan faktor bawaan dari lahir dan faktor yang diperoleh ketika ia berkembang. Faktor-faktor bawaan, misalnya bakat.

Lingkungan Eksternal:

• Kehidupan ekonomi

• Kehidupan politik

• Budaya dan agama masyarakat

• Kompetitor

Lingkungan Internal Organisasi:

• Visi, misi dan tujuan organisasi

• Kebijakan organisasi

• Bahan mentah

• Teknologi (robot, sistem produksi, dsb)

• Strategi organisasi

• Sistem manajemen

• Kompensasi

• Kepemimpinan

• Modal

• Budaya organisasi

• Iklim organisasi

• Teman sekerja

Kinerja Karyawan Kinerja Organisasi

(16)

Sementara itu, faktor-faktor yang diperoleh misalnya pengetahuan.

Setelah dipengaruhi oleh lingkungan internal organisasi dan lingkungan eksternal, faktor internal pegawai ini menentukan kinerja pegawai. Jadi, dapat diasumsikan bahwa makin tinggi faktor-faktor internal tersebut, makin tinggi pula kinerja pegawai.

b) Faktor-faktor lingkungan internal organisasi. Dalam melaksanakan tugasnya, pegawai memerlukan dukungan organisasi tempat ia bekerja. Dukungan tersebut sangat memengaruhi tinggi rendahnya kinerja pegawai. Oleh karena itu,manajemen organisasi harus menciptakan lingkungan internal organisasi yang kondusif sehingga dapat mendukung dan meningkatkan produktivitas karyawan.

c) Faktor lingkungan eksternal organisasi. Faktor-faktor lingkungan eksternal organisasi adalah keadaan, kejadian, atau situasi yang terjadi di lingkungan eksternal organisasi yang memengauhi kinerja karyawan.

Menurut Wirawan (2009 p.54), dimensi kinerja adalah unsur- unsur dalam pekerjaan yang menunjukkan kinerja (Henderson). Secara umum, dimensi kinerja dapar dikelompokkan menjadi tiga jenis, yaitu:

a) Hasil kerja

Hasil kerja adalah keluaran kerja dalam bentuk barang dan jasa yang dapat dihitung dan diukur kuantitas dan kualitasnya.

b) Perilaku kerja

(17)

Perilaku kerja diperlukan karena persyaratan dalam melaksanakan pekerjaan. Dengan berperilaku kerja tertentu, karyawan dapat melaksanakan pekerjaannya dengan baik dan menghasilkan kinerja yang diharapkan oleh organisasi. Perilaku kerja dicantumkan dalam standar kinerja, prosedur kerja, kode etik, dan peraturan organisasi.

Perilaku kerja dapat digolongkan menjadi perilaku kerja general dan perilaku kerja khusus. Perilaku kerja general adalah perilaku yang diperlukan semua jenis pekerjaan. Perilaku khusus adalah perilaku yang hanya diperlukan dalam satu jenis pekerjaan.

c) Sifat pribadi yang ada hubungannya dengan pekerjaan

adalah sifat pribadi karyawan yang diperlukan dalam melaksanakan tugasnya. Sifat pribadi yang dinilai dalam evaluasi kinerja hanya sifat pribadi yang ada hubungannya dengan pekerjaan.

TABEL 2.1

CONTOH INDIKATOR DIMENSI KINERJA Indikator Dimensi

Hasil Kerja

Indikator Dimensi Perilaku Kerja

Indikator Dimensi Sifat Pribadi yang Ada Hubungannya dengan Pekerjaan

• Kuantitas hasil produksi

• Kuantitas hasil produksi

• Kecepatan dalam melaksanakan pekerjaan

• Ramah kepada pelanggan

• Perilaku yang disyaratkan oleh prosedur kerja

• Perilaku yang disyaratkan oleh kode etik

• Pengetahuan

• Keterampilan

• Kejujuran

• Kebersihan

• Keberanian

• Kemampuan

(18)

• Jumlah

kecelakaan kerja

• Jumlah unit produk yang terjual

• Jumlah keuntungan

• Kepuasan pelanggan

• Efisiensi pengguna sumber

• Efektivitas melaksanakan tugas

• Jumlah poin karena melanggar peraturan lalu lintas (sopir)

• Jumlah nasabah yang dilayani

• Perilaku yang disyaratkan oleh peraturan organisasi

• Disiplin kerja

• Profesionalisme

• Kerja sama

• Kepemimpinan dalam tim kerja

• Memanfaatkan waktu

beradaptasi (Adaptabilitas)

• Inisiatif

• Kecerdasan

• Kerajinan

• Penampilan

• Sikap terhadap pekerjaan

• Kecerdasan emosional

• Semangat kerja

• Kecerdasan social

Sumber: Wirawan, Evaluasi Kinerja Sumber Daya Manusia (Jakarta 2009, hal 7)

Menurut http://digilib.petra.ac.id/jiunkpe/s1/ikom/2007/jiunkpe- ns-s1-2007-51402056-6752-pakuwon_darma-chapter2.pdf, yang menjadi indikator dalam penilaian kinerja (Gomes, 1995) adalah:

1. Quantity of Work, jumlah kerja yang dilakukan dalam suatu periode waktu yang ditentukan

2. Quality of Work, kualitas kerja yang dicapai berdasarkan syarat- syarat kesesuaian dan kesiapannya

(19)

3. Job knowledge, luasnya pengetahuan mengenai pekerjaan dan keterampilannya

4. Creativeness, keaslian gagasan-gagasan yang dimunculkan dan tindakan-tindakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang timbul

5. Cooperation, kesediaan untuk bekerjasama dengan orang lain sesama anggota organisasi

6. Dependability, kesadaran dan dapat dipercaya dalam hal kehadiran dan penyelesaian kerja

7. Initiative, semangat untuk melaksanakan tugas-tugas baru dan dalam memperbesar tanggungjawabnya

8. Personal Qualities, menyangkut kepribadian, kepemimpinan, keramahtamahan, dan integritas pribadi

Menurut Mangkunegara (2006, p.67), kinerja adalah hasil kerja secara kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melakukan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikan kepadanya.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja adalah keluaran yang dihasilkan oleh fungsi-fungsi atau indikator-indikator suatu pekerjaan, kualitas dan kuantitas yang dicapai oleh seorang pegawai dalam melakukan tugasnya sesuai dengan tanggungjawab yang diberikannya dalam waktu tertentu.

(20)

2.1.8 User

Menurut O’Brien dan Marakas (2008, p.20), end user (juga disebut sebagai user atau klien) adalah orang yang menggunakan sistem informasi atau informasi yang dihasilkan oleh sistem

Menurut Stair dan Reynold (2006, p.558), individual who will interact with the system regurarly. Dimana user adalah individu yang akan berinteraksi dengan sistem secara rutin.   

   Menurut Laudon dan Laudon (2004, p81), end users are representatives of departments outside the information systems group for whom applications are developed. Dimana user adalah pengguna akhir adalah perwakilan dari departemen sistem informasi diluar kelompok untuk aplikasi yang dikembangkan.

Berdasarkan beberapa pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa user adalah orang yang menggunakan dan berinteraksi secara rutin dengan sistem informasi untuk aplikasi yang telah dikembangkan

2.1.9 Kinerja User

Menurut (http://saulcarliner.home.att.net/idbusiness/value3.htm), user performance is users ability to perform these task. Purpose of user performance is to measures the extent to which users can perform the main task. Kinerja pengguna adalah kemampuan yang dimiliki pengguna untuk menyelesaikan semua tugasnya. Tujuan dari kinerja pengguna

(21)

adalah untuk mengukur sejauh mana pengguna dapat menyelesaikan tugas-tugas utamanya.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa kinerja user (user performance) adalah kemampuan user dalam memberikan hasil kerja terbaiknya dengan menyelesaikan tugas-tugas yang utama, dimana kinerja seorang user dapat didukung dari sarana lain seperti sistem.

2.1.10 Sintesis Kinerja User

Berdasarkan analisis diatas, kinerja user merupakan kemampuan user dalam memberikan hasil kerja terbaiknya dengan menyelesaikan tugas-tugas utama yang berinteraksi dengan teknologi informasi dalam suatu organisasi yang diakibatkan oleh kemampuan alami atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar. Dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan serta hasil yang diinginkan. Dimensi yang berkaitan dengan kinerja user adalah : 1) Hasil kerja dengan indikatornya adalah kuantitas kerja, dan kualitas kerja; 2) Perilaku kerja dengan indikatornya adalah kerjasama, dan perilaku yang disyaratkan organisasi;

3) Sifat pribadi dengan indikatornya adalah pengetahuan, kreatif, dapat dipercaya, dan inisiatif.

2.1.11 Konstruk Kinerja User

Berdasarkan sintesis di atas, maka yang dimaksud dengan kinerja user PT. LG Electronic Indonesia adalah kemampuan kerja user untuk

(22)

memberikan hasil kerja terbaiknya dimana kinerja user pada PT. LG Electronics Indonesia (Divisi Marketing, sub divisi MC Marketing Communication) didukung oleh sistem informasi Business Trip.

Dimensi yang berkaitan dengan kinerja user adalah : 1) Hasil kerja dengan indikatornya adalah kuantitas kerja, dan kualitas kerja; 2) Perilaku kerja dengan indikatornya adalah kerjasama, dan perilaku yang disyaratkan organisasi; 3) Sifat pribadi dengan indikatornya adalah pengetahuan, kreatif, dapat dipercaya, dan inisiatif.

2.1.12 Tabel kisi-kisi Variabel, Dimensi, dan Indikator Penelitian

TABEL 2.2

TABEL KISI-KISI VARIABEL, DIMENSI DAN INDIKATOR PENELITIAN

Variabel Dimensi Indikator

Kualitas Sistem Informasi Business Trip

Access

Usability

1. Responsif sistem ketika berkomunikasi dengan user 2. Keatifan/Ketersediaan setiap saat

1. Tampilan informasi yang sederhana

2. Tampilan informasi yang mudah digunakan

3. Tampilan informasi yang tertata dengan baik

(23)

Navigation

Reliability

Undestandability

Usefulness

1. Navigasi mempermudah out in page

2. Navigasi mempermudah pengaksesan informasi

1. Informasi layak dipercaya 2. Informasi akurat

3. Informasi punya kredibilitas

1. Informasi memiliki makna yang jelas

2. Informasi mudah dimengerti 3. Informasi mudah dibaca

1. Informasi bersifat informatif 2. Informasi memiliki nilai guna

Kinerja User Hasil Kerja

Perilaku kerja

Sifat Pribadi

1. Kuantitas kerja 2. Kualitas kerja

1. Kerja sama

2. Perilaku yang disyaratkan oleh peraturan organisasi

1. Pengetahuan 2. Kreatif

3. Dapat dipercaya 4. Inisiatif

(24)

2.1.13 Kerangka Berpikir

Pengertian kualitas sistem informasi Business Trip adalah kualitas dari sebuah sistem informasi yang menjadi faktor motivasi penting bagi user dalam menggunakan sistem tersebut, yang dapat mengahasilkan keuntungan untuk perusahaan atas timbal balik dari investasi yang telah dilakukan. Dengan kualitas sistem informasi Business Trip yang baik, maka dapat menggambarkan kesuksesan suatu sistem informasi tersebut. Dalam mengukur kesuksesan sistem informasi Business Trip yang berbasis web maka dimensi yang berkaitan adalah : 1) Access dengan indikatornya adalah ketersediaan web, responsif sistem; 2) Usability dengan indikatornya adalah tampilan informasi sederhana, tampilan informasi mudah digunakan, dan tampilan informasi tertata dengan baik; 3) Navigation dengan indikatornya adalah navigasi mempermudah out in page, dan navigasi mempermudah pengaksesan informasi; 4) Reliability dengan indikatornya adalah informasi layak dipercaya, informasi akurat, dan informasi memiliki kredibilitas; 5) Understandability dengan indikatornya adalah informasi memiliki makna yang jelas, informasi mudah dimengerti, dan informasi mudah dibaca; 6) Usefulness dengan indikatornya adalah informasi bersifat informatif, dan informasi memiliki nilai guna.

Kinerja user adalah kemampuan pengguna dalam memberikan hasil kerja terbaiknya dimana kinerja pengguna pada PT. LG Electronics Indonesia (Divisi Marketing, Sub Divisi CE Marketing Communication)

(25)

didukung oleh informasi Business Trip. Selain itu, kinerja user harus mencakup semua kriteria dimensi : 1) Hasil kerja dengan indikatornya adalah kuantitas kerja, dan kualitas kerja; 2) Perilaku kerja dengan indikatornya adalah kerjasama, dan perilaku yang disyaratkan organisasi;

3) Sifat pribadi dengan indikatornya adalah pengetahuan, kreatif, dapat dipercaya, dan inisiatif.

Dengan demikian, berdasarkan pengertian yang telah dipaparkan di atas, maka terdapat hubungan antara kualitas informasi Business Trip dengan kinerja user pada PT. LG Electronic Indonesia. Kesuksesan sebuah sistem informasi Business Trip dapat digambarkan melalui kualitas sistem informasi Business Trip yang semakin baik, yang berdampak pada kepuasan user dan hal ini akan meningkatkan kinerja user itu sendiri. Dengan meningkatnya kinerja user, maka akan berpengaruh pada peningkatan kinerja perusahaan. Sehingga diduga bahwa terdapat korelasi antara kualitas informasi Business Trip dengan kinerja user pada PT. LG Electronics Indonesia.

2.1.14 Hipotesis Penelitian

Menurut Sarwono (2006, p.66), secara garis besar ada dua jenis hipotesis didasarkan pada tingkat abstraksi dan bentuknya. Menurut tingkat abstraksinya hipotesis dibagi menjadi :

1. Hipotesis yang menyatakan adanya kesamaan-kesamaan dalam dunia empiris : Hipotesis jenis ini berkaitann dengan pernyataan-

(26)

pernyataan yang bersifat umum yang kebenarannya diakui oleh orang banyak pada umumnya

2. Hipotesis yang berkenaan dengan model ideal : Pada kenyataanya dunia ini sangat kompleks, maka untuk mempelajari kekompleksitasan dunia tersebut kita memerlukan bantuan filsafat, metode, tipe-tipe yang ada

3. Hipotesis yang digunakan untuk mencari hubungan antar variabel : hipotesis ini merumuskan hubungan antar dua atau lebih variabel- variabel yang diteliti

Menurut bentuknya, hipotesis dibagi menjadi tiga :

1. Hipotesis penelitian/kerja : Hipotesis penelitian merupakan anggapan dasar penelitian terhadap suatu masalah yang sedang dikaji.

2. Hipotesis operasional : Hipotesis operasional merupakan hipotesis yang bersifat obyektif. Artinya peneliti merumuskan hipotesis tidak semata-mata berdasarkan anggapan dasarnya, tetapi juga berdasarkan obyektifitasnya, bahwa hipotesis penelitian yang dibuat belum tentu benar setelah diuji menggunakan data yang ada.

3. Hipotesis statistik : Hipotesis statistik merupakan jenis hipotesis yang merumuskan dalam bentuk notasi statistik. Hipotesis ini dirumuskan berdasarkan pengamatan penelitian terhadap populasi dalam bentuk angka-angka (kuantitatif).

(27)

Menurut Sugiyono (2006, p.51), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, oleh karena itu rumusan masalah penelitian biasanya disusun dalam kalimat pertanyaan. Bentuk- bentuk hipotesis penelitian ada 3, yaitu:

a) Hipotesis Deskriptif, merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenan dengan variabel mandiri.

b) Hipotesis Komparatif, merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komparatif. Pada rumus ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.

c) Hipotesis Asosiatif, merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.

Ada dua jenis hipotesis yang digunakan dalam penelitian :

a) Hipotesis kerja, atau disebut juga dengan hipotesis alternatif, disingkat Ha. Hipotesis kerja menyatakan adanya hubungan antara variabel X dan Y, atau adanya perbedaan antara dua kelompok.

b) Hipotesis nol, atau disebut juga dengan hipotesis statistik, disingkat H0. Karena biasanya dipakai dalam penelitian yang bersifat statistik, yaitu diuji dengan perhitungan statistik. Hipotesis nol menyatakan tidak adanya perbedaan antara dua variabel, atau tidak adanya pengaruh variabel X terhadap Y. Dengan kata lain, selisih variabel pertama dengan variabel kedua adalah nol atau nihil.

(28)

Berdasarkan kerangka berfikir diatas, maka hipotesisnya merupakan hipotesis Asosiatif yang dirumuskan sebagai berikut :

a) Rumusan masalah Asosiatif :

Adakah hubungan antara kualitas sistem informasi Business Trip dengan kinerja user pada PT. LG Electronics Indonesia?

b) Hipotesis Penelitian:

Terdapat hubungan antara kualitas sistem informasi Business Trip dengan kinerja user pada PT. LG Electronics Indonesia

c) Hipotesis Statistik :

H0 : ρ = 0, berarti tidak ada hubungan Ha : ρ ≠ 0, berarti ada hubungan

(ρ = nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan)

2.2 Teori Khusus 2.2.1 Penelitian

Menurut Sarwono (2006, p.1), pada hakikatnya penelitian adalah proses yang dijalankan untuk menjawab pertanyaan yang sudah ditentukan sebelumnya. Masalah yang dirumuskan dalam penelitian sebaiknya mencerminkan hubungan antara dua variabel atau lebih karena pada praktiknya peneliti akan mengkaji pengaruh satu variabel tertentu terhadap variabel lainnya.

Menurut Indriantoro dan Supomo (2002, p.25), berdasarkan karakteristik masalah yang diteliti, penelitian dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

(29)

a) Penelitian Historis

Merupakan penelitian terhadap masalah-masalah yang berkaitan dengan fenomena masa lalu. Tujuan penelitian historis adalah melakukan rekonstruksi fenomena masa lalu secara sistematis, obyektif dan akurat untuk menjelaskan fenomena masa yang akan datang.

b) Penelitian Deskriptif

Merupakan penelitian terhadap masalah-masalah berupa fakta-fakta saat ini dari suatu populasi. Tujuan penelitian deskriptif adalah untuk menguji hipotesis atau menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan current status dari subyek yang diteliti. Metode pengumpulan data menggunakan metode survey, yaitu : 1) kuisioner dan 2) wawancara.

c) Studi Kasus dan Lapangan

Merupakan penelitian dengan karakteristik masalah yang berkaitan dengan latar belakang dan kondisi saat ini dari subyek yang diteliti, serta interaksinya dengan lingkungan.

d) Penelitian Korelasional

Merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan korelasional antara dua variabel atau lebih. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan ada atau tidaknya korelasi antar variabel.

e) Penelitian Kausal Komparatif

Merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah berupa hubungan sebab-akibat dengan dua variabel atau lebih.

(30)

f) Penelitian Eksperimen

Merupakan tipe penelitian dengan karakteristik masalah yang sama dengan penelitian karakteristik masalah yang sama dengan penelitian kausal komparatif, yaitu mengenai hubungan sebab-akibat antara dua variabel atau lebih. Dalam penelitian eksperimen peneliti melakukan manipulasi atau pengendalian (control) terhadap setidaknya satu variabel independen, sedang pada penelitian komparatif tidak ada perlakuan (treatment) dari peneliti terhadap variabel independen.

Menurut Sugiyono (2006, p.10), penilitian menurut tingkat eksplanasinya adalah penelitian yang bermaksud menjelaskan kedudukan variabel-variabel yang diteliti serta hubungan antara satu variabel dengan variabel yang lain. Berdasarkan hal ini, penelitian dapat dikelompokkan sebagai berikut:

a) Penelitian Deskriptif

Penelitian yang dilakukan untuk mengetahui nilai variabel mandiri, baik satu variabel atau lebih tanpa membuat perbandingan atau menghubungkan dengan variabel yang lain.

b) Penelitian Komparatif

Penelitian yang bersifat membandingkan, variabel mandiri tetapi untuk sampel yang lebih dari satu, atau dalam waktu yang berbeda.

c) Penelitian Asosiatif

Penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan dua variabel atau lebih. Pada penelitian ini minimal terdapat dua variabel yang dihubungkan.

(31)

Berdasarkan kerangka berfikir diatas, maka menurut karakteristik penelitian yang dilakukan masuk ke dalam penelitian korelasional. Dan menurut tingkat eksplanasinya, penelitian yang dilakukan masuk ke dalam penelitian asosiatif.

2.2.2 Variabel Penelitian

Menurut Sarwono (2006, p.37), variabel adalah sebuah simbol atau konsep yang dapat diberi berbagai macam nilai. Tipe-tipe variabel adalah sebagai berikut:

a) Variabel Independent (Variabel Bebas)

Variabel bebas dapat diukur, dimanipulasi atau dipilih oleh peneliti untuk menentukan hubungannya dengan suatu gejala yang diobservasi, atau variabel yang mempengaruhi variabel lain.

b) Variabel dependent (Variabel Tergantung)

Variabel tergantung adalah variabel yang diamati dan diukur untuk menentukan pengaruh yang disebabkan oleh variabel bebas atau variabel yang memberikan reaksi/respon jika dihubungkan dengan variabel bebas.

c) Variabel Moderat

Variabel moderat adalah variabel yang diukur, dimanipulasi, atau dipilih oleh peneliti untuk mengetahui apakah variabel tersebut mengubah hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung.

d) Variabel Kontrol

(32)

Dalam penelitian peneliti selalu berusaha menghilangkan pengaruh yang dapat mengganggu hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung. Suatu variabel yang pengaruhnya akan dihilangkan disebut variabel kontrol.

e) Variabel Intervening (perantara)

Variabel intervening adalah variabel yang secara teoritis mempengaruhi hubungan antara variabel bebas dan variabel tergantung, tetapi tidak dapat diamati dan diukur.

2.2.3 Populasi

Menurut Rosalina (2005, p.1), secara umum populasi bisa didefinisikan sebagai sekumpulan data atau obyek yang menjadi perhatian kita.

Menurut Sarwono (2006, p.111), populasi didefinisikan sebagai perangkat unit analisis yang lengkap yang sedang diteliti.

Menurut Sugiyono (2006, p.72), populasi adalah wilayah generalisasi obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat disimpulkan bahwa populasi adalah kumpulan dari orang obyek, kejadian atau sesuatu yang mempunyai karakteristik tertentu yang memiliki daya tarik untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.

(33)

2.2.4 Sampel

Menurut Sarwono (2006, p.111), sampel merupakan sub dari seperangkat elemen yang dipilih untuk dipelajari.

Menurut Sekaran (2003, p.266), a sample is a subset of the population.It comprises some members selected from it. Dimana sampel masih terkait dengan populasi. Yang beberapa anggotanya dipilih dari populasi tersebut.

GAMBAR 2.2

HUBUNGAN SAMPEL - POPULASI

Statistik Parameter (X, s, s²) (µ, σ, σ²) Estimasi

Sumber : Sekaran, Research Methods For Business (John Wiley & Son Inc., 2003) p.267

Menurut Rosalina (2005, p.2), sampel adalah sekumpulan data yang diambil atau dipilih dari suatu populasi. Dalam banyak praktek, sangat jarang penelitian dilakukan dengan menggunakan populasi, pada umumnya yang dipakai adalah sampel dengan alasan bahwa:

a. Waktu yang diperlukan untuk mengumpulkan data lebih singkat b. Dana yang diperlukan lebih sedikit

c. Data yang diperoleh lebih akurat

Sampel Populasi

(34)

d. Dengan statistik inferensi dapat dilakukan generalisasi. Dalam hal hasil perhitungan yang diperoleh dari sampel akan dipakai untuk mengumpulkan karakteristik dari populasinya.

Untuk menghindari kendala-kendala di atas, maka penelitian sering menggunakan sebagian dari obyek yang diteliti atau biasa disebut sampel.

2.2.5 Teknik Sampling

Menurut Sugiyono (2006, p.73), secara garis besar ada dua desain sampel utama, yaitu probability sampling dan non-probability sampling.

a) Probability Sampling adalah teknik sampling yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsure populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel.

1) Simple Random Sampling

Pengambilan sampel dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam populasi, bila populasi homogen

2) Proportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional

3) Disproportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini untuk menentukan jumlah sampel, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional

4) Cluster Sampling (Area Sampling)

(35)

Teknik ini digunakan untuk menentukan sampel bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas

b) Non-Probability Sampling adalah teknik sampling yang tidak memberikan peluang/kesempatan sama bagi setiap anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel

1) Sampling Sistematis

Teknik pengambilan sampel berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut

2) Sampling Kuota

Teknik untuk menentukan sampel dari populasiyang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan

3) Sampling Aksidental

Teknik untuk menentukan sampel berdarakan kebetulan, siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dianggap cocok sebagai sumber data

4) Sampling Purposive

Teknik untuk menentukan sampel dengan pertimbangan tertentu

5) Sampling Jenuh

Teknik penentuan sampel bila semua anggota populasi digunakan sebagai sampel

6) Snowball Sampling

(36)

Teknik penentuan sampel yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudian membesar

Penelitian ini menggunakan teknik probability sampling – simple random sampling, dimana pengambilan sampel dari anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada didalam populasi.

Ukuran sampel merupakan jumlah anggota sampel, jumlah sampel yang 100% (seratus persen) mewakili populasi adalah sama dengan jumlah anggota populasi itu sendiri.

Jumlah anggota sampel yang paling tepat digunakan dalam penelitian tergantung pada tingkat kesalahannya (dipengaruhi oleh sumber dana, waktu, dan tenaga yang tersedia). Makin besar tingkat kesalahan, maka akan semakin kecil jumlah sampel yang diperlukan, dan sebaliknya makin kecil tingkat kesalahan maka akan semakin besar jumlah anggota sampel yang diperlukan. Dalam penentuan jumlah anggota sampel dari populasi diperlukan tingkat kesalahan 1% (satu persen), 5% (lima persen), dan 10% (sepuluh persen).

(37)

TABEL 2.3

PENENTUAN JUMLAH SAMPEL DARI POPULASI TERTENTU DENGAN TARAF KESALAHAN 1%, 5%,DAN 10%

Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis (Alfabeta Jakarta 2004), p.81

N

S

N

S

N

S

1% 5% 10% 1% 5% 10% 1% 5% 10%

10 10 10 10 280 197 155 138 2800 537 310 247 15 15 14 14 290 202 158 140 3000 543 312 248 20 19 19 19 300 207 161 143 3500 558 317 251 25 24 23 23 320 216 167 147 4000 569 320 254 30 29 28 27 340 225 172 151 4500 578 323 255 35 33 32 31 360 234 177 155 5000 586 326 257 40 38 36 35 380 242 182 158 6000 598 329 259 45 42 40 39 400 250 186 162 7000 606 332 261 50 47 44 42 420 257 191 165 8000 613 334 263 55 51 48 46 440 265 195 168 9000 618 335 263 60 55 51 49 460 272 198 171 10000 622 336 263 65 59 55 53 480 279 202 173 15000 635 340 266 70 63 58 56 500 285 205 176 20000 642 342 267 75 67 62 59 550 301 213 182 30000 649 344 268 80 71 65 62 600 315 221 187 40000 563 345 269 85 75 68 65 650 329 227 191 50000 655 346 269 90 79 72 68 700 341 233 195 75000 658 346 270 95 83 75 71 750 352 238 199 100000 659 347 270 100 87 78 73 800 363 243 202 150000 661 347 270 110 94 84 78 850 373 247 205 200000 661 347 270 120 102 89 83 900 382 251 208 250000 662 348 270 130 109 95 88 950 391 255 211 300000 662 348 270 140 116 100 92 1000 399 258 213 350000 662 348 270 150 122 105 97 1100 414 265 217 400000 662 348 270 160 129 110 101 1200 427 270 221 450000 663 348 270 170 135 114 105 1300 440 275 224 500000 663 348 270 180 142 119 108 1400 450 279 227 550000 663 348 270 190 148 123 112 1500 460 283 229 600000 663 348 270 200 154 127 115 1600 469 286 232 650000 663 348 270 210 160 131 118 1700 477 289 234 700000 663 348 270 220 165 135 122 1800 485 292 235 750000 663 348 270 230 171 139 125 1900 492 294 237 800000 663 348 271 240 176 142 127 2000 498 297 238 850000 663 348 271 250 182 146 130 2200 510 301 241 900000 663 348 271 260 187 149 133 2400 520 304 243 950000 663 348 271 270 192 152 135 2600 529 307 245 1000000 663 348 271

∞ 664 349 272

(38)

Keterangan : n = Jumlah Populasi

s = Tingkat Kesalahan / Error

2.2.6 Skala Pengukuran

Menurut Sarwono (2006, p.93), ada empat tipe skala pengukuran dalam penelitian, yaitu nominal, ordinal, interval dan rasio.

a) Nominal

Skala pengukuran nominal digunakan untuk mengklasifikasi obyek, individual atau kelompok; sebagai contoh mengklasifikasikan jenis kelamin, agama, pekerjaan, dan area geografis. Dalam mengidentifikasi hal-hal di atas digunakan angka- angka sebagai simbol. Apabila kita menggunakan skala pengukuran nominal maka statistik non-parametik digunakan untuk menganalisis datanya. Hasil analisis dipresentasikan dalam bentuk presentase.

2) Ordinal

Skala pengukuran ordinal memberikan informasi tentang jumlah relatif karakteristik berbeda yang dimiliki oleh obyek atau individu tertentu.

3) Interval

Skala interval mempunyai karakteristik seperti yang dimiliki oleh skala nominal dan ordinal dengan ditambah karakteristik lain, yaitu berupa adanya interval yang tetap. Dengan demikian peneliti dapat

(39)

melihat besarnya perbedaan karakteristik antara satu individu atau obyek dengan yang lainnya. Skala pengukuran interval merupakan angka. Untuk melakukan analisis, skala pengukuran ini menggunakan statistik parametik.

4) Rasio

Skala pengukuran rasio mempunyai semua karakteristik yang dimiliki oleh skala nominal, ordinal dan interval dengan kelebihan skala ini mempunyai nilai 0 (nol) empiris absolut. Nilai absolut nol tersebut terjadi pada saat ketidakhadirannya suatu karakteristik yang sedang diukur. Pengukuran rasio biasanya dalam bentuk perbandingan antara satu individu atau obyek tertentu dengan lainnya.

Menurut Rosalina (2005, p.3), data dalam statistik berdasarkan pada tingkat pengukurannya (Level of Measurement) ada dua jenis, yaitu:

a. Data Kualitatif

Data kualitatif yaitu data yang dinyatakan dalam ukuran kategori atau biasa disebut dengan data yang bukan berupa angka. Data kualitatif bisa dibagi atas dua tipe, yaitu:

1) Data Nominal

Data nominal adalah data yang paling ‘rendah’ dalam level pengukuran data (suatu pengukuran data yang hanya menghasilkan satu dan hanya satu-satunya kategori).

2) Data Ordinal

(40)

Data ordinal adalah data kualitatif yang dikelompokkan ke dalam urutan-urutan atau rangking. Data ini merupakan data yang paling ‘tinggi’ dalam level pengukuran data dari pada data nominal. Misalnya data mengenai pendidikan yang dapat dinyatakan kedalam urutan jenjang pendidikan (SD, SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi).

b. Data Kuantitatif

Data kuantitatif adalah nilai data yang dinyatakan dalam skala numeric atau biasa juga disebut dengan data berupa angka dalam arti yang sebenarnya.

1) Data Interval

Data interval (jarak) yaitu data kuantitatif yang mempunyai jarak yang sama dan tetap antara titik satu dengan titik lainnya pada skala pengukuran. Titik nol pada skala itu dapat berubah- ubah. Misalnya suhu udara yang dinyatakan dalam derajat celcius.

2) Data Rasio

Data rasio adalah data kuantitatif yang mempunyai titik nol dan rasio antara dua nilai data adalah bermakda. Data rasio merupakan data yang bersifat data yang bersifat angka dalam arti yang sesungguhnya dan bisa dioperasikan secara matematika (+, -, ×, /). Misalnnya harga yang dinyatakan dalam rupiah, mobil yang harganya nol rupiah, artinya mobil tersebut gratis.

(41)

2.2.7 Skala Pengukuran Sikap

Menurut Sugiyono (2006, p.86), berbagai skala yang dapat digunakan untuk penelitian bisnis antara lain adalah :

a. Skala Likert

Skala Likert digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena sosial.

Dengan skala likert, maka variabel yang akan diuku dijabarkan menjadi indikator variabel. Kemudian indikator tersebut dijadikan sebagai titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan atau pertanyaan. Data yang diperoleh dari skala tersebut adalah berupa data interval

b. Skala Guttman

Skala pengukuran dengan tipe ini, akan didapat jawaban yang tegas;

yaitu “ya – tidak”, “benar – salah”, “pernah – tidak pernah”, “positif – negatif”, dan lain-lain. Data yang diperoleh dapat berupa data interval atau rasio dikhotomi (dua alternatif). Jadi kalai pada skala likert terdapat 1, 2, 3, 4 interval, dari kata “sangat setuju” sampai

“sangat tidak setuju”, maka pada dalam skala guttman hanya ada dua interval yaitu “setuju” atau “tidak setuju”. Penelitian ini dilakukan bila ingin mendapatkan jawaban yang tegas terhadap suatu permasalahan yang ditanyakan.

c. Semantic Deferential / Skala Osgood

Skala pengukuran yang berbentuk sematic deferential dikembangkan oleh Osgood. Skala ini juga digunakan untuk mengukur sikap, hanya

(42)

bentuknya tidak pilihan ganda maupun checklist tetapi tersusun dalam satu garis kontinum yang jawaban sangat positifnya terletak pada bagian kanan garis, dan jawaban yang sangat negatifnya terletak pada bagian kiri garis, atau sebaliknya. Data yang diperoleh adalah data interval, dan biasanya skala ini digunakan untuk mengukur sikap atau karakteristik tertentu yang dipunyai oleh seseorang.

d. Rating Scale

Dari ketiga skala pengukuran seperti yang telah dikemukakan, data yang diperoleh semuanya adalah data kualitatif yang kemudian dikuantitatifkan. Tetapi dengan rating scale, data mentah yang diperoleh berupa angka, kemudian ditafsirkan dalam pengertian kualitatif sehingga di dalam skala ini, responden tidak akan menjawab salah satu dari jawaban kualitatif yang telah disediakan, tetapi menjawab salah satu jawaban kuantitatif yang telah disediakan. Rating scale ini lebih fleksibel karena tidak terbatas untuk pengukuran sikap saja, tetapi dapat juga digunakan untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena-fenomena lainnya;

seperti skala untuk mengukur status sosial ekonomi, kelembagaan, pengetahuan, kemampuan, proses kegiatan dan lain-lain. Data yang diperoleh dari skala tersebut dapat berbentuk data interval maupun rasio, tergantung dari apa yang diukur dan bagaimana pengukuran dilakukan.

(43)

Untuk keperluan analisis secara kualitatif, maka jawaban-jawaban harus diberi arti.

Contoh:

Berilah jawaban angka:

4 – bila tata ruang itu sangat baik 3 – bila tata ruang itu cukup baik 2 – bila tata ruang itu tidak tahu 1 – bila tata ruang itu sangat tidak baik

Seberapa baik tata ruang kerja yang ada di perusahaan A?

1 2 3 4

Berdasarkan skala-skala pengukuran yang telah dipaparkan diatas, maka skala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah skala Likert. Karena dalam variabel yang diberikan akan diukur dan dijabarkan menjadi indikator variabel. Dan indikator tersebut dijadikan titik tolak untuk menyusun item-item instrumen yang dapat berupa pernyataan dan pertanyaan.

2.2.8 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Sugiyono (2006, p. 129), teknik pengumpulan data dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan), dan gabungan ketiganya.

a. Interview (wawancara)

(44)

Wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data, apabila peneliti ingin melakukan studi pendahuluan untuk menemukan permasalahan yang harus diteliti, dan juga apabila peneliti ingin mengetahui hal-hal dari responden yang lebih mendalam dan jumlah respondennya sedikit atau kecil.

b. Kuesioner

Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya. (Uma Sekaran : 1992) mengemukakan beberapa prinsip dalam penulisan angket, yaitu:

1) Prinsip penulisan

Prinsip ini menyangkut beberapa faktor yaitu: isi dan tujuan pertanyaan, bahasa yang digunakan mudah, pertanyaan tertutup terbuka – positif negatif, pertanyaan tidak mendua, tidak menanyakan hal-hal yang sudah lupa, pertanyaan tidak mengarahkan, panjang pertanyaan dan urutan pertanyaan.

2) Prinsip pengukuran

Instrumen/angket harus dapat digunakan untk mendapatkan data yang valid dan reliabel tentang variabel yang diukur. Supaya diperoleh data yang valid dan reliabel, maka sebelum instrumen tersebut diberikan kepada responden, perlu diuji validitas dan reliabilitasnya terlebih dahulu. Instrumen yang tidak valid dan reliabel bila digunakan untuk mengumpulkan data, akan menghasilkan data yang tidak valid dan reliabel juga.

(45)

3) Penampilan fisik angket

Penampilan fisik angket sebagai alat pengumpul data akan mempengaruhi respon atau keseriusan responden dalam mengisi angket.

c. Observasi

Sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkan dengan teknik yang lain, yaitu wawancara kuesioner.

Kalau wawancara dan kuesioner selalu berkomunikasi dengan kuesioner, maka observasi tidak terbatas pada orang, tetapi juga pada obyek-obyek alam yang lain. Teknik ini digunakan bila, penelitian berkenan dengan perilaku manusia, proses kerja, gejala-gejala alam dan bila responden yang diamati tidak terlalu besar.

2.2.9 Pengujian Hipotesis

Menurut Sarwono, (2006 p.43), hipotesis yang sudah dirumuskan kemudian harus diuji. Pengujian ini akan membuktikan H0 atau H1 yang akan diterima. Jika H1 ditolak, artinya ada hubungan antara cara memberikan instruksi terhadap bawahan dengan tinggi – rendahnya pemasukan perusahaan.

Menurut Sugiyono (2006, p.160), terdapat tiga macam bentuk pengujian hipotesis, yaitu uji dua pihak (two tail), pihak kanan, dan pihak kiri (one tail). Jenis uji mana yang akan dipakai tergantung pada bunyi kalimat hipotesis.

1) Uji Dua Pihak (Two Tail Test)

(46)

Uji dua pihak digunakan bila hipotesis nol (H0) berbunyi ”sama dengan” dan hipotesis alternatifnya (Ha) berbunyi ”tidak sama dengan” (H0 = ; Ha ≠).

Contoh hipotesis asosiatif : Hipotesis nol :

Tidak ada hubungan antara X dengan Y Hipotesis alternatif :

Terdapat hubungan X dengan Y H0 : ρ = 0 (berarti tidak ada hubungan) Ha : ρ ≠ 0 (berarti ada hubungan) 2) Uji Pihak Kiri

Uji pihak kiri digunakan apabila : hipotesis nol (H0) berbunyi ” lebih besar atau sama dengan” (≥) dan hipotesis alternatifnya (Ha) berbunyi ”lebih kecil” (<), kata lebih kecil atau sama dengan sinonim ” kata paling sedikit atau paling kecil”.

Contoh hipotesis asosiatif : Hipotesis nol :

Hubungan antara X dengan Y paling sedikit (< 0,65) Hipotesis alternatif :

Hubungan antara X dengan Y lebih kecil dari 0,65 H0 : ρ ≥ 0

Ha : ρ < 0 3) Uji Pihak Kanan

(47)

Uji pihak kanan digunakan apabila hipotesi nol (H0) berbunyi

”lebih kecil atau sama dengan” (≤), dan hipotesis alternatif (Ha) berbunyi ”lebih besar” (>). Kalimat lebih kecil atau sama dengan sinonim dalam kata ”paling besar”.

Contoh hipotesis asosiatif : Hipotesis nol :

Hubungan antara X dengan Y paling besar 0,65 Hipotesis alternatif :

Hubungan antara X dengan Y lebih besar dari 0,65 H0 : ρ ≤ 0

Ha : ρ > 0

Dalam uji dua pihak, taraf kesalahan α dibagi menjadi dua yaitu yang diletakan dalam pihak kiri dan kanan. Harganya setengah (½ α) sedangkan pada uji datu pihak (kanan maupun kiri) harga terletak pada satu pihak saja, yaitu terletak di pihak kanan saja atau kiri saja. Taraf kesalahannya adalah α.

2.2.10 Pengujian Validitas

Menurut Sekaran (2003, p.205), validity ensure the ability of a scale to measure the intended concept. Dimana validitas berarti memastikan kemampuan dari suatu skala untuk mengukur konsep yang diharapkan.

Menurut Abdulwahab (2005, p.17), instrumen yang digunakan untuk penelitian perlu diuji validitas dan reliabilitasnya. Diperlukan juga

(48)

uji coba instrumen terlebih dahulu untuk mengetahui butir soal yang dapat dipergunakan dan butir soal yang tidak dapat dipergunakan.

Instrumen yang valid atau sah apabila instrumen tersebut dapat mengukur apa yang hendak diukur. Misalnya, kalau yang ingin diukur itu minat, maka instrumen tersebut harus mengukur minat, dan bukan sikap atau pendapat dan seterusnya. Karena itu setiap instrumen perlu diketahui validitasnya.

Menurut Sarwono (2006, p.218), suatu skala pengukuran dikatakan apabila skala tersebut digunakan untuk mengukur apa yang seharusnya diukur. Ada 3 (tiga) tipe validitas pengukuran yang harus diketahui, yaitu:

1) Validitas Isi (Content Validity)

Validitas isi menyangkut tingkatan item-item skala yang mencerminkan domain konsep yang sedang diteliti. Dimensi- dimensi dalam suatu domain konsep tertentu tidak dapat begitu saja dihitung semuanya karena domain tersebut kadang mempunyai atribut yang banyak atau bersifat multidimensional.

2) Validitas Konstruk (Construct Validity)

Validitas konstruk berkaitan dengan tingkatan di mana skala mencerminkan dan berperan sebagai konsep yang sedang diukur.

Dua aspek pokok dalam validitas konstruk secara alamiah bersifat teoritis dan statistik.

3) Validitas Kriteria (Criterion Validity)

(49)

Validitas kriteria menyangkut masalah tingkatan di mana skala yang sedang digunakan mampu memprediksi suatu variabel yang dirancang sebagai kriteria.

Menurut Masrun (Sugiyono, 2006 p. 124), item yang mempunyai korelasi positif dengan kriterium (skor total) serta korelasi yang tinggi, menunjukkan bahwa item tersebut mempunyai validitas yang tinggi pula.

Pengujian validitas instrumen di dalam penelitian ini menggunakan koefisien korelasi antara skor butir soal dengan skor total.

Hasil pengujian validitas kemudian akan dibandingkan dengan r tabel.

Dasar pengambilan keputusan pengujian validitas instrumen ini adalah sebagai berikut :

a) Jika r hitung > r tabel, maka butir atau variabel tersebut valid.

Dalam artian indikator tersebut memang sesuai untuk mengukur apa yang ingin diukur.

b) Jika r hitung < r tabel, maka butir atau variabel tersebut tidak valid.

Dalam artian indikator tersebut tidak sesuai untuk mengukur apa yang ingin diukur.

Untuk mendapatkan nilai r tabel, dapat digunakan tabel nilai-nilai r product moment yang dapat dilihat dari tabel 2.4.

Sedangkan untuk mendapatkan nilai r hitung digunakan teknik korelasi product moment, dengan rumus sebagai berikut:

∑ ∑ ∑ ∑

∑ ∑ ∑

= −

} ) ( }{

) ( {

) )(

(

2 2 2 2

i i

i i

i i i

i xy

y y

n x x

n

y x y

x r n

(50)

Keterangan :

r = Menunjukkan koefisien antara skor butir soal dengan skor total n = Jumlah responden

Xi = Skor butir Yi = Skor butir

TABEL 2.4

NILAI-NILAI r PRODUCT MOMENT TARAF

SIGNIF TARAF SIGNIF TARAF SIGNIF

N 5% 1% N 5% 1% N 5% 1%

3 0,997 0,999 27 0,381 0,487 55 0,266 0,345 4 0,950 0,990 28 0,374 0,478 60 0,254 0,330 5 0,878 0,959 29 0,367 0,470 65 0,244 0,317

6 0,811 0,917 30 0,361 0,463 70 0,235 0,306 7 0,754 0,874 31 0,355 0,456 75 0,227 0,296 8 0,707 0,834 32 0,349 0,449 80 0,220 0,286 9 0,666 0,798 33 0,344 0,442 85 0,213 0,278 10 0,632 0,765 34 0,339 0,436 90 0,207 0,270

11 0,602 0,735 35 0,334 0,430 95 0,202 0,263 12 0,576 0,708 36 0,329 0,424 100 0,195 0,256 13 0,553 0,684 37 0,325 0,418 125 0,176 0,230 14 0,532 0,661 38 0,320 0,413 150 0,159 0,210 15 0,514 0,641 39 0,316 0,408 175 0,148 0,194

16 0,497 0,623 40 0,312 0,403 200 0,138 0,181 17 0,482 0,606 41 0,308 0,398 300 0,113 0,148 18 0,468 0,590 42 0,304 0,393 400 0,098 0,128 19 0,456 0,575 43 0,301 0,389 500 0,088 0,115 20 0,444 0,561 44 0,297 0,384 600 0,080 0,105

21 0,433 0,549 45 0,294 0,380 700 0,074 0,097 22 0,482 0,537 46 0,291 0,376 800 0,070 0,091 23 0,413 0,526 47 0,288 0,372 900 0,065 0,086 24 0,414 0,515 48 0,284 0,368

100

0 0,062 0,081

Sumber : Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, (Alfabeta : Bandung 2006), p.317

(51)

2.2.11 Pengujian Reliabilitas

Menurut Abdulwahab (2005, p.20), reliabilitas tes merupakan suatu konsep statistik yang dinyatakan dalam bentuk koefisien reabilitas ( r ). Hal yang mempengaruhi tes secara garis besarnya sebagai berikut:

1) Panjang tes dan kualitas butir soal 2) Hal yang berhubungan dengan testee 3) Penyelenggaraan tes

Menurut Sarwono (2006, p.219), reliabilitas menunjuk pada adanya konsistensi dan stabilitas nilai hasil skala pengukuran tertentu.

Reliabilitas berkonsentrasi pada masalah akurasi pengukuran dan hasilnya.

Untuk menghitung reliabilitas, digunakan 3 model sebagai berikut:

1. Tes Ulang: Tes ini dilakukan dengan cara menguji kuisioner kepada kelompok tertentu, misalnya A, kemudian dilihat skornya. Beberapa waktu kemudian kuesioner yang sama diujikan pada kelompok yang sama. Kedua skor dikorelasikan. Jika hasil korelasinya > 0,8 maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.

2. Tes Paralel: tes ini dilakukan dengan cara memberikan kuesioner terhadap kelompok tertentu, kemudian kelompok tersebut juga dites dengan menggunakan instrumen yang isi pertanyaannya ekuivalen.

Kemudian nilai kedua tes tersebut dikorelasikan. Jika hasil korelasinya > 0,8 maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.

3. Tes Belah Dua: Tes ini dilakukan dengan cara membagi skor-skor secara random dalam bentuk genap dan ganjil dari semua jawaban

(52)

responden. Kemudian kelompok genap dan ganjil dihitung. Hasilnya dikorelasikan dengan menggunakan korelasi Spearman Brown. Jika hasil korelasinya > 0,8 maka instrumen tersebut dinyatakan reliabel.

Untuk mendapatkan nilai alpha secara manual, digunakan teknik Croanbanch’s Alpha. Croanbanch’s Alpha (α) merupakan teknik pengujian reliabilitas suatu instrumen berupa kuesioner untuk mengukur laten variabel yang paling sering digunakan karena dapat digunakan pada kuesioner yang jawaban atau tanggapannya lebih dari dua pilihan.

Diperoleh melalui cara sebagai berikut:

⎟⎟

⎜⎜

⎛ −

⎟⎠

⎜ ⎞

=⎛

21 2 b

11 1

1 - k

k

σ r σ

Keterangan :

r11 = Reliabilitas instrumen

k = Banyaknya butir pertanyaan atau banyaknya soal ∑σb2 = Jumlah varians butir

σ21 = Varians total

Untuk mengerjakan rumus diatas dalam uji reliabilitas maka terlebih dahulu harus menghitung varians butir. Rumus yang digunakan adalah Rumus Varian (S2 / σ2), sebagai berikut :

n ) X X

( i 2

2 =

σ

Sumber : Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, (CV Alphabeta : Bandung 1999) p.50

(53)

Keterangan :

σ2 = Varians sampel

x = Jumlah skor pertanyaan ke-n i

N = Jumlah sampel

TABEL 2.5

TABEL ANALISIS RELIABILITAS

Nilai Hubungan

<0.20 0.21 – 0.40 0.41 – 0.70 0.71 – 0.90 0.91 – 1.00

Hubungan sangat kecil dan bisa diabaikan Hubungan yang kecil (Tidak erat)

Hubungan yang cukup erat Hubungan yang erat (Reliabel)

Hubungan yang sangat erat (Sangat reliable)

Sumber : http://olahdata.com/analisisvaliditas&reliabilitas

Dengan menggunakan instrumen yang valid dan reliabel dalam pengumpulan data, maka diharapkan hasil penelitian akan menjadi valid dan reliabel. Jadi instrumen yang valid dan realiabel merupakan syarat mutlak untuk mendapatkan hasil penelitian yang valid dan reliabel.

2.2.12 Statistik

Menurut Rosalina (2005, p.1), statistika adalah ilmu yang berhubungan dengan pengumpulan data (collecting), analisis data (analyze) dan penafsiran data (interpreting). Definisi statistika tersebut

(54)

memberikan gambaran bahwa statistika merupakan ilmu yang sangat erat hubungannya dengan data.

Aplikasi ilmu statistik dapat dibagi dalam dua bagian, yaitu:

1) Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif merupakan bidang ilmu statistika yang mempelajari cara-cara pengumpulan, penyusunan dan penyajian data dalam penelitian. Kegiatan yang termasuk dalam kategorri ini antara lain kegiatan pengumpulan data, pengelompokan data, penentuan nilai dan fungsi statistik, pembuatan grafik, diagram dan gambar.

Tujuan utama dari operasi statistik deskriptif adalah memudahkan orang untuk membaca data serta memahami maksudnya.

Ada beberapa teknik yang biasa digunakan dalam statistik deskriptif, yaitu:

a) Distribusi frekuensi

b) Presentasi grafis dengan Histogram

c) Mencari Central Tendency seperti Mean, Median, Modus, dan sebagainya

2) Statistik Inferensi

Merupakan bidang ilmu statistik yang mempelajari cara-cara penarikan suatu kesimpulan dari sesuatu populasi tertentu berdasarkan sebagian data (sampel) yang dikumpulkan. Tindakan inferensi tersebut misalnya melakukan perkiraan, peramalan, pengambilan keputusan dan sebagainya.

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa pengertian di atas, dapat diartikan bahwa sistem informasi berbasis web adalah sebuah sistem informasi yang menggunakan teknologi web atau internet untuk

Menurut Satzinger, Jackson, &amp; Burd (2012: p57-58),pengertian activity diagram menjelaskan sebuah aktivitas atau kegiatan yang dilakukan user atau sistem, orang

Berdasarkan pengertian – pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa perancangan sistem adalah proses penterjemahan kebutuhan pemakaian informasi yang terperinci

Berdasarkan kedua definisi diatas maka dapat kami simpulkan pengertian pada Sistem Informasi Manufaktur adalah suatu sistem berbasis komputeer yang bekerja dalam

Adapun pengertian menurut Hall (2001), “Sistem informasi adalah sebuah rangkaian prosedur formal, dimana data dikumpulkan, diproses menjadi informasi, dan didistribusikan

Dari beberapa pengertian subbab sebelumnya dapat ditarik kesimpulan pengertian dari Perencanaan Strategi Sistem dan Teknologi Informasi, yaitu suatu proses analisis

Pada uraian konsep dasar ini, akan dijelaskan berbagai hal mengenai pengertian program, pengertian sistem, pengertian sistem informasi, pengertian sistem informasi

Jadi kesimpulan dari pengertian perancangan sistem adalah sebuah proses untuk mengetahui komponen – komponen yang harus diimplementasikan kedalam sistem informasi