• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

commit to user BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan suatu kebutuhan setiap manusia karena dengan pendidikan, manusia mampu mengembangkan potensi dirinya untuk mencapai kesejahteraan hidup. Setiap lembaga pendidikan harus berusaha untuk dapat menghasilkan sumber daya manusia yang terampil dan cerdas sehingga menuntut orang-orang didalamnya bekerja secara optimal, penuh rasa tanggung jawab dan berdedikasi tinggi. Tuntutan mendasar yang dialami dunia pendidikan saat ini adalah peningkatan mutu pembelajaran. Sumber daya manusia yang berkualitas memiliki ciri-ciri antara lain: keterampilan berpikir dan dapat diandalkan, meliputi berpikir kritis, sistematis, logis, kreatif, mampu bekerja sama dengan baik, dan mampu memecahkan masalah dalam kehidupan dengan ide-ide cemerlang.

Usaha untuk meningkatkan mutu pembelajaran saat ini telah banyak dilakukan, termasuk dalam pembelajaran matematika. Sebagai salah satu pelajaran yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari, matematika perlu dipahami dengan baik oleh peserta didik. Matematika merupakan suatu pelajaran yang konsepnya tersusun secara hierarkis dari yang mudah atau sederhana meningkat ke yang sulit atau rumit. Dengan demikian, jika peserta didik belum menguasai konsep-konsep yang mendasar maka akan mengalami kesulitan untuk menguasai konsep yang lebih lanjut. Hal tersebutlah yang banyak dirasakan oleh peserta didik sehingga muncul anggapan bahwa matematika merupakan suatu pelajaran yang sulit. Sebagai akibatnya, peserta didik cenderung menunjukkan minat belajar dan motivasi berprestasi yang rendah dalam matematika. Padahal matematika seharusnya menjadi pelajaran yang menantang sehingga menarik minat belajar dan rasa ingin tahu yang besar dari dalam diri peserta didik.

Cara berpikir dan bernalar dalam pembelajaran matematika sangatlah penting. Hal ini sejalan dengan pendapat R. Soedjadi (2000: 45) bahwa “salah satu karakteristik matematika adalah pola berpikir deduktif yang merupakan salah

1

(2)

commit to user

satu tujuan yang bersifat formal, yang memberi tekanan kepada penataan nalar”.

Di samping cara berpikir, dalam proses pembelajaran siswa juga dilatih untuk mengembangkan kreativitasnya melalui imajinasi dan intuisi. Setiap siswa punya kemampuan berbeda-beda dalam memandang suatu permasalahan yang dikembangkan. Berdasarkan karakteristik matematika di atas dapat dimengerti bahwa matematika itu bukan saja dituntut sekedar menghitung, tetapi siswa juga dituntut agar lebih mampu menghadapi berbagai masalah dalam kehidupan sehari- hari. Baik masalah mengenai matematika itu sendiri maupun masalah dalam ilmu lain, sehingga apabila telah memahami konsep matematika secara mendasar dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Kenyataan yang sering dijumpai pada umumnya di sekolah menengah atas menunjukkan bahwa pembelajaran matematika diberikan secara klasikal melalui ceramah dan menggunakan pendekatan mekanistik tanpa melihat kemungkinan penerapan pendekatan lain sesuai dengan materi yang diajarkan. Akibatnya, siswa kurang berminat untuk mengikuti pelajaran yang disampaikan guru, siswa tidak tertarik mengikuti pelajaran, dan tidak adanya kesadaran akan pentingnya pelajaran matematika. Hal ini salah satu penyebab kemampuan matematika siswa rendah. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Feza-Piyose (2012: 62) menyebutkan bahwa ”two factors have been highlighted in research that impedes mathematics learning: teacher content knowledge and irrelevant teaching strategies”. Mereka menyimpulkan bahwa terdapat dua faktor yang dianggap menghambat pembelajaran matematika: pengetahuan guru dan strategi mengajar yang tidak relevan.

Situasi demikian juga terjadi di SMA Negeri di kota Pontianak. Kondisi

yang terlihat hampir sebagian besar proses pembelajaran di kelas didominasi oleh

guru. Guru lebih banyak memberikan informasi, pembelajaran matematika yang

digunakan sebatas penjelasan materi, pemberian contoh, dan penyelesaian soal-

soal. Situasi demikian cenderung membuat siswa menjadi kurang aktif, kreatif,

dan kritis dalam pembelajaran. Penguasaan dan pemahaman siswa terhadap

konsep-konsep matematika lemah karena tidak mendalam. Akibatnya prestasi

(3)

commit to user

belajar matematika siswa rendah. Selain itu, pengetahuan yang diterima siswa secara pasif menjadikan matematika tidak bermakna bagi siswa.

Data yang bersumber dari Puspendik Balitbang Tahun 2013 menunjukkan bahwa nilai matematika siswa SMA Negeri di kota Pontianak pada UN 2013 memiliki rata-rata 6,5. Data ini berasal dari 10 sekolah negeri yang ada di Kota Pontianak. Dari rata-rata nilai tersebut diperoleh nilai tertinggi 10, namun masih terdapat siswa yang mendapatkan nilai 3,25. Dari sumber yang sama, distribusi nilai siswa sebesar 36,4% siswa memperoleh nilai masih dibawah rata-rata. Salah satunya dari persentase penguasaan materi soal matematika UN 2013 SMA pada materi sistem persamaan linear. Perolehan persentase penguasaan materi siswa di Kota Pontianak berdasarkan analisis kelompok dapat dilihat pada Tabel 1.1.

Tabel 1.1 Daya Serap Berdasarkan Analisis Kelompok Pada Semester I SMA Negeri di Kota Pontianak pada Ujian Nasional Tahun Pelajaran 2012/2013

No Kemampuan yang diuji Kota/Kab Prov Nas

1 Menggunakan aturan pangkat, akar, dan

logaritma 75,59% 70,37% 69,35%

2 Menyelesaikan masalah sehari-hari yang

berkaitan dengan sistem persamaan linear 71,60% 60,77% 70,06%

3 Menyelesaikan masalah program linear 66,34% 53,23% 67,80%

4 Menyelesaikan operasi matriks 74,14% 61,68% 73,35%

5 Menyelesaikan masalah deret aritmetika

dan deret geometri 67,28% 60,89% 64,03%

Sumber: PAMER UN TP 2012/2013

Data pada Tabel 1.1 menunjukkan bahwa daya serap menyelesaikan masalah program linear untuk tingkat kota/kabupaten jurusan IPA daya serapnya terendah dibanding materi lain namun lebih tinggi dari tingkat provinsi dan lebih rendah dari tingkat nasional. Oleh karena itu, masih diperlukan perbaikan kualitas pembelajaran matematika untuk meningkatkan prestasi belajar matematika siswa.

Ini menunjukkan pemahaman siswa terhadap materi menyelesaikan masalah

(4)

commit to user

program linear masih kurang. Dikarenakan pada kurikulum 2013, materi program linear mulai diajarkan dari kelas X dalam bentuk materi sistem pertidaksamaan linear dan digabung dengan sistem persamaan linear maka materi yang dipilih pada penelitian ini adalah sistem persamaan dan pertidaksamaan linear.

Dikarenakan pada kurikulum 2013, materi program linear mulai diajarkan dari kelas X dalam bentuk materi sistem pertidaksamaan linear dan digabung dengan sistem persamaan linear maka materi yang dipilih pada penelitian ini adalah sistem persamaan dan pertidaksamaan linear.

Rendahnya nilai matematika materi sistem persamaan dan pertidaksamaan linear mungkin dikarenakan siswa kurang paham dengan penjelasan guru tentang cara mempelajari materi menyelesaikan masalah sehari-hari yang berkaitan dengan sistem persamaan dan pertidaksamaan linear dimana masih banyak guru yang menggunakan pembelajaran klasikal, kurangnya guru menggunakan alat peraga yang ada di lingkungan sekitar, dan guru juga kurang mengaitkan pembelajaran dengan bentuk konkret atau bentuk nyata dalam kehidupan sehari- hari.

Dengan penerapan model pembelajaran yang tepat akan membuat suasana kelas aktif, menyenangkan, kreatif, baik dalam pembelajaran individual maupun kelompok memungkinkan siswa dalam kelas dalam berpartisipasi dalam mengkomunikasikan gagasannya. Suasana kelas tersebut dapat terwujud apabila guru aktif mengevaluasi diri dalam hal model pembelajaran yang dipakai, alat/bahan, dan evaluasi yang digunakan.

Terdapat banyak alternatif model pembelajaran yang dapat diterapkan di

kelas saat pembelajaran matematika mulai tingkatan Sekolah Dasar sampai

Perguruan Tinggi. Salah satu model pembelajaran yang meningkatkan semangat

kerjasama siswa adalah model pembelajaran NHT yang dikembangkan oleh

Spencer Kagan pada tahun 1992. Model pembelajaran ini memberikan

kesempatan kepada siswa untuk saling membagikan ide dan mempertimbangkan

jawaban yang paling tepat (Miftahul Huda, 2011: 138). Dengan model

pembelajaran ini diharapkan siswa terlibat aktif baik secara individual maupun

kelompok, sehingga dapat menciptakan proses pembelajaran yang menyenangkan

(5)

commit to user

dan meningkatkan prestasi belajar. Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Tri Sardjoko (2010) menyimpulkan bahwa prestasi belajar matematika siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe NHT lebih baik daripada yang diajar dengan model pembelajaran kooperatif tipe GI.

Alternatif model pembelajaran lain yang dapat diterapkan oleh guru adalah model pembelajaran TGT. Pada model pembelajaran kooperatif ini, siswa-siswa saling berkompetisi dengan siswa dari kelompok lain agar dapat memberikan kontribusi poin bagi kelompoknya (Miftahul Huda, 2011: 138). Suatu prosedur tertentu digunakan untuk membuat permainan atau turnamen berjalan secara adil.

Hal ini didukung penelitian yang dilakukan oleh Nuzulia Mufida (2010) menyimpulkan bahwa prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran kooperatif tipe TGT lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran konvensional.

Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Abu dan Flowers (1997) dalam Jurnal Internasional yang berjudul The Effects of Cooperative Learning Methods on Achievement, Retention and Attitude of Home Economics Students in North California, yang menunjukkan bahwa penerapan pembelajaran kooperatif memberikan pengaruh positif terhadap prestasi, daya ingat dan sikap peserta didik terhadap pembelajaran. Begitu juga penelitian yang dilakukan oleh Haydon et al.

(2010) menyatakan bahwa : Previous research has demonstrated that Numbered Heads Together, a cooperatic learning strategy, is more effective than traditional teacher instruction in academic areas such as social studies and science. Artinya bahwa Numbered Heads Together, salah satu strategi pembelajaran kooperatif, lebih efektif daripada pengajaran tradisional dalam wilayah akademik seperti pembelajaran sosial dan sains.

Keberhasilan pembelajaran bukan hanya dipengaruhi oleh model

pembelajaran, akan tetapi juga dipengaruhi oleh tipe kepribadian siswa. Setiap

orang memiliki tipe kepribadian. Kepribadian setiap orang tidaklah sama, dan

masing-masing memiliki tipe kepribadian tersendiri. Kepribadian yang dimaksud

adalah suatu ciri khas yang menetap pada diri seseorang dalam berbagai situasi

dan dalam berbagai kondisi, mampu membedakan antara individu yang satu

(6)

commit to user

dengan individu lainnya. Menurut Hiprocates dan Gelanus dalam Littauer (1996:

11) membagi tipe kepribadian berdasarkan zat cair yang ada dalam tubuh seseorang. Mereka membagi tipe kepribadian ke dalam empat bagian, oleh Littauer (1996: 11) yaitu: sanguinis, melankolis, koleris, dan phlegmatis.

Beberapa sumber yang menjelaskan tipe kepribadian Hipocrates-Galenus, menyebutkan bahawa seorang sanguinis pada umumnya memiliki tingkah laku yang suka berbicara, penuh semangat, penuh rasa ingin tahu, kreatif dan inovatif, mudah bergaul. Seorang melankolis memiliki sifat serius, tekun, perasa terhadap orang lain, penuh pikiran, gigih dan cermat. Seorang koleris memiliki daya juang besar, berbakat pemimpin, dinamis, aktif, berkemauan kuat, tegas, berkembang karena saingan, dan seorang phlegmatis memiliki sifat sabar, tenang, mudah bergaul, santai, tidak mudah marah. Jika dikaitkan dengan prestasi belajar matematika, tipe kepribadian yang berdaya juang besar, berkemauan kuat, penuh semangat, penuh rasa ingin tahu akan lebih unggul dalam pembelajaran.

Berdasarkan uraian sebelumnya peneliti merasa perlu untuk menerapkan model pembelajaran TGT, NHT, dan model pembelajaran klasikal untuk mengetahui sejauh mana prestasi belajar siswa yang ditinjau dari tipe kepribadian siswa.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah dapat disusun perumusan masalah berikut.

1. Manakah yang memberikan prestasi lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe TGT, NHT, atau model pembelajaran klasikal?

2. Manakah yang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan tipe kepribadian sanguinis, melankolis, koleris atau phlegmatis?

3. Pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang memiliki prestasi

lebih baik antara siswa dengan tipe kepribadian sanguinis, melankolis, koleris

atau phlegmatis?

(7)

commit to user

4. Pada masing-masing tipe kepribadian, manakah yang menghasilkan prestasi lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe TGT, NHT, atau pembelajaran klasikal?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah sebelumnya, maka tujuan yang akan dicapai pada penelitian ini dinyatakan seperti berikut.

1. Untuk mengetahui prestasi belajar matematika manakah yang lebih baik, model pembelajaran kooperatif tipe TGT, NHT, atau model pembelajaran klasikal.

2. Untuk mengetahui siswa yang memiliki prestasi belajar matematika manakah yang lebih baik, siswa dengan tipe kepribadian sanguinis, melankolis, koleris atau phlegmatis.

3. Untuk mengetahui pada masing-masing model pembelajaran, manakah yang memiliki prestasi belajar matematika lebih baik, siswa dengan tipe kepribadian sanguinis, melankolis, koleris atau phlegmatis.

4. Untuk mengetahui pada masing-masing tipe kepribadian, manakah yang menghasilkan prestasi lebih baik antara model pembelajaran kooperatif tipe TGT, NHT atau pembelajaran klasikal.

D. Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1. Bagi guru

a. Gambaran tentang penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan NHT dalam pengajaran matematika.

b. Alternatif model pembelajaran untuk memberikan pembelajaran matematika yang inovatif.

c. Informasi mengenai model pembelajaran kooperatif tipe TGT dan NHT

terhadap siswa dengan tipe kepribadian sanguinis, melankolis, koleris, dan

phlegmatis.

(8)

commit to user 2. Bagi peneliti lain

a. Penelitian ini dapat menjadi bekal bagi peneliti dalam menghadapi berbagai kendala yang dihadapi dalam penerapan pembelajaran matematika di lapangan.

b. Penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan dan acuan bagi penelitian

sejenis selanjutnya.

Gambar

Tabel 1.1 Daya Serap Berdasarkan Analisis Kelompok Pada Semester I SMA  Negeri  di  Kota Pontianak  pada Ujian Nasional Tahun Pelajaran  2012/2013

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif adalah model yang digunakan untuk mewujudkan kegiatan belajar yang berpusat pada

Berdasarkan pada Berita Acara Pembuktian kualifikasi Nomor: 16/ULP-Pokja-I- JK/APBD/2016 tanggal 16 Februari 2016, pekerjaan pekerjaan Study Kelayakan Pengembangan

Dari tujuan-tujuan di atas dapat tergambar bahwa zakat sebagai salah satu ibadah khusus yang langsung kepada Allah mempunyai dampak yang sangat besar terhadap kesejahteraan

 Success in planning large scale material handling projects generally requires a team approach involving management, engineering, computer and information systems, finance and

Sampel yang diambil meliputi akar, batang, daun eceng gondok, sedimen dan air yang kemudian dianalisis dengan AAS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat

Kesimpulan penelitian yaitu ada hubungan yang signifikan antara perilaku pantang makanan dengan lama penyembuhan luka perineum pada ibu nifas di Kecamatan Srengat

Oleh sebab itu, penulis mengangkat iudul, “ Pengaruh Pembelajaran Matematika di Luar Kelas (Outdoor Study) Terhadap Minat dan Prestasi belajar Siswa Pada Pokok Bahasan Bangun

PEMBELAJARAN TEOREMA PYTHAGORAS UNTUK SISWA KELAS VIII SMP BERBASIS MULTIMEDIA ” dengan adanya media pembelajaran ini diharapkan dapat membantu siswa dalam