PADA USAHATANI POLA
DUSUNG DI DESA ALLANG,
KECAMATAN LEIHITU-PULAU AMBON
SIMSON LIUBANA
SEKOLAH
PASCASARJANA
INSTITUT
PERTANIAN
BOGOR
BOGOR
PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis ”Kajian Tanah Menurut Pedologi dan Etnopedologi Pada Usahatani Pola Dusung Di Desa Allang, Kecamatan Leihitu-Pulau Ambon” adalah karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, September 2008
Simson Liubana NRP.: A351060021
ABSTRACT
SIMSONLIUBANA. Soil Studies Based on Pedology and Etnopedology at Dusung
Patern Farming In Allang Village, Leihitu Sub District-Ambon Island. Guided by DJUNAEDI A. RACHIM and KOMARUDDIN IDRIS
Land clearing practices recently in Ambon island are not done on the capability and suitability of land, and it is effecting degradations. One of the prime mover is dusung system has been left. The actually effects are decreasing of water discharge drastically compare with 10 to 20 years ago and coast shallowing like in Teluk Dalam area. On other hand, Allang village is one of villages in Ambon island that still hold and develope the
dusung system, so this area is free from soil and land degradations. This system is based
on local knowledge and local wisdom that have a positive influence to the soil, productivity and environment from generation to generation and it can be used as a solution to overcome the degradation to this day. Therefore this participatory research was carried out to learn their knowledge and wisdom. The aims of this research are 1) to identify and to classify the soil into pedology and ethnopedology system, 2) to appoint the differences between them, 3) to appraise relationship between soil characteristics and rate of soil fertility in dusung system. Participatory method used to learn how they know the soil and how to manage it. Results of this research show that soils can be clasisified as
Typic Hapludults, have not been categorized in the other Hapludults on Lawa Hina dusung and Typic Kanhapludult, has not been categorized in the other Kanhapludult on Bandera dusung. Both of them have low to very low average fertility, according to its
high removing of soil bases, effected by high rain fall on that area. These soils have low base saturation (less than 35%), and especially for Kanhapludult has low clay Cation Exchange Capacity (< 16 cmol/kg). The ages of these soils are old to very old. People of Allang village catogorized them into one category and they called it umena wakil tein or soils with the problems of very low fertilization. They have a simple characteristic to describe them, by observe the vegetations that growth on these soils: small and not fertile, soil color generally red to yellowish red.
Key Words: dusung, local knowledge, local wisdom, participatory, soil sub groups, sustainability
RINGKASAN
SIMSONLIUBANA.Kajian Tanah Menurut PedologiDan Etnopedologi Pada Usahatani
Pola Dusung Di Desa Allang, Kecamatan Leihitu-Pulau Ambon. Dibimbing oleh
DJUNAEDI A. RACHIM dan KOMARUDDIN IDRIS
Praktek pembukaan lahan di pulau Ambon akhir-akhir ini kurang memperhatikan kemampuan dan kesesuaian tanah dan lingkungan sehingga menimbulkan berbagai kerusakan. Salah satu penyebabnya adalah pola dusung mulai ditinggalkan. Dampak yang sangat menonjol adalah berkurangnya debit air secara drastis pada beberapa sungai utama, dibandingkan dengan kondisi 10-20 tahun lalu dan pendangkalan daerah pesisir seperti daerah Teluk Dalam. Di sisi lain, Desa Allang merupakan salah satu satu desa di pulau Ambon yang masih tetap mempertahankan sistem usahatani pola dusung sehingga degradasi lahan tidak terjadi pada wilayah ini. Sistem ini didasarkan pada pengetahuan dan kearifan lokal yang telah berpengaruh positif terhadap tanah, produksi dan lingkungan dari generasi ke generasi, dan dapat dijadikan sebagai salah satu solusi terhadap berbagai degradasi lahan saat ini. Karena itu penelitian yang partisipatif ini dilakukan guna menggali pengetahuan dan kearifan lokal tersebut.
Penelitian ini bertujuan: 1) mengidentifikasikan karakteristik tanah dan pengelompokannya secara pedologi dan etnopedologi pada usahatani pola dusung, 2) menentukan kesamaan dan perbedaan antara sistem pengelompokan tanah berdasarkan
etnopedologi dan pedologi, 3) mengkaji hubungan antara karakteristik tanah dan tingkat
kesuburannya di dalam sistem usahatani pola dusung.
Penelitian ini berlangsung dari tanggal 5 Februari 2008 hingga tanggal 5 Mei 2008 dengan menggunakan metode pembelajaran secara partisipatif, bagaimana mereka mengenal tanah, mengelompokkan dan mengelolanya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa tanah-tanah yang ditemukan adalah
Hapludult Tipik dan Kanhapludult Tipik. Tanah-tanah ini memiliki kejenuhan basa
rendah rata-rata < 35%) dan kation-kation basa umumnya rendah, yang disebabkan oleh tingginya curah hujan di daerah penelitian sehingga pencucian basa-basa meningkat. Tanah-tanah ini tergolong “tua-sangat tua“, ditinjau dari umur geologi. Berdasarkan pengetahuan masyarakat desa Allang, kedua satuan tanah ini dikelompokkan ke dalam satu kategori yaitu umena wakil tein atau tanah-tanah dengan masalah kesuburan sangat rendah. Karakteristiknya mudah bagi mereka untuk mengenal yaitu tumbuhan yang bertumbuh di atasnya kecil dan tidak subur, warna tanah umumnya merah sampai merah
kekuningan. Tingkat kesuburan tanah pada profil Ps3 yang dianalisis umumnya rendah
kandungan C-organik secara umum rendah, walaupun pada horison A kandungannya
cukup tinggi yaitu sebesar 3,07% namun pada horison E dan horison Bt adalah rendah
dan sangat rendah, masing-masing sebesar 1,82% dan 0,64%. Kandungan P dalam tanah
ini umumnya sangat tinggi yaitu rata-rata 24,7 ppm P2O5 dari dua horison atas yang
dianalisis. Hal ini berkaitan dengan pasokan bahan organik secara alami dari dusung, karena semua sisa-sisa tanaman baik daun yang gugur, akar tanaman yang membusuk serta kulit buah yang jatuh dalam dusung turut memberi sumbangan yang berarti atas meningkatnya kandungan P dalam tanah. Kandungan K dalam tanah ini umumnya rendah
kategori rendah. Kandungan N umumnya sangat rendah yaitu 0,10%. Kandungan P
dalam tanah ini umumnya sangat tinggi pada horison A sebesar 15,6 ppm P2O5
sedangkan pada horison AB kandungan P rendah yaitu sebesar 6,4 ppm P2O5. Hal ini
berkaitan erat dengan sumbangan dari bahan organik secara alami dari sisa-sisa tanaman baik daun, bunga, batang, akar dll., yang gugur dan membusuk terutama horison A, sedangkan horison AB justru rendah karena kurangnya pasokan bahan organik. Kandungan K dalam tanah ini umumnya rendah.
Pada dusung Lawa Hina dengan satuan tanah Hapludult, memiliki produksi yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan dusung Bandera, dengan satuan tanah Kanhapludult. Rata-rata produksi setiap tanaman yang diusahakan di dalam dusung Lawa
Hina antara lain tanaman pala dapat berproduksi lebih dari 300 buah per pohon dalam
sekali panen; kenari lebih dari 500 buah; kelapa kering atau yang telah tua 50-65 buah sekali panen dan cengkeh antara 5-10 kg berat kering per pohon dalam sekali panen. Dari seluruh tanaman yang diusahakan tersebut hanya cengkeh yang produksinya rendah jika dibandingkan dengan dusung Bandera yaitu 5-10 kg berat kering dalam sekali panen. Usahatani pola dusung dengan tanaman yang dominan pala memiliki produksi yang agak lebih tinggi dibandingkan dengan usahatani pola dusung dengan tanaman dominan cengkeh. Hal ini menunjukkan bahwa perbedaan pola dusung sebenarnya dapat mengindikasikan perbedaan satuan tanah karena memiliki kaitan yang erat antara kandungan unsur hara di dalam tanah dengan kebutuhan tanaman untuk berproduksi. Nama tanah yang sama pada kategori tinggi terutama pada kategori order dan sub order belum dapat dijadikan indikasi adanya perbedaan produksi, kecuali pada kategori yang lebih rendah yaitu kategori great group, baru dapat memberi indikasi bahwa perbedaan nama tanah bisa dijadikan indikasi adanya perbedaan produksi. Tanah Hapludult dan Kanhapludult merupakan tanah-tanah yang bermasalah dengan kesuburannya, jika hendak dimanfaatkan untuk tujuan pertanian yang produktif karena umumnya memiliki tingkat kesuburan yang rendah-sangat rendah. Namun demikian masyarakat Allang memiliki kearifan tertentu dalam mengelola tanah-tanah tersebut.
Pengetahuan sains dan pengetahuan lokal tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya karena keduanya sama-sama memberi peran yang penting dan saling menunjang untuk kepentingan pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Pengetahuan sains kaya degan teori dan pengetahuan lokal kaya pengalaman. Apabila kedua pengetahuan ini dielaborasi dalam setiap perencanaan pembangunan, akan memberi manfaat yang besar dalam pembangunan pertanian yang berkelanjutan.
Kata kunci : dusung, pengetahuan lokal, kearifan lokal, partisipatif, satuan tanah, kelestarian
© Hak cipta milik IPB, tahun 2008
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
1. Dilarang mengutip dan memperbanyak sebagian atau seluruhnya Karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumber.
a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah
b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruhnya karya tulis ini dalam bentuk apapun baik cetak, fotokopi, mikrofilm dan sebagainya tanpa izin IPB
KAJIAN TANAH MENURUT PEDOLOGI DAN ETNOPEDOLOGI
PADA USAHATANI POLA
DUSUNG DI DESA ALLANG,
KECAMATAN LEIHITU-PULAU AMBON
SIMSON LIUBANA
Tesis
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains pada
Program Studi Ilmu Tanah
SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2 0 0 8
Judul Tesis :Kajian Tanah Menurut Pedologi dan Etnopedologi pada Usahatani Pola Dusung di Desa Allang, Keca- matan Leihitu-Pulau Ambon
Nama : Simson Liubana
Nrp. :A351060021
Disetujui
Komisi Pembimbing
Prof.Dr.Ir. Djunaedi A. Rachim Ketua
Dr.Ir.H. Komaruddin Idris Anggota
Diketahui
Dekan Sekolah Pascasarjana IPB,
Prof.Dr.Ir. Khairil A. Notodiputro, MS
Ketua Program Studi
Ilmu Tanah,
Dr.Ir. H.A. Sutandi, MSi
PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan karena kasih dan anugerahNya
penulisan tesis dengan judul:Kajian Tanah Menurut Pedologi dan Etnopedologi Pada
Usahatani Pola Dusung Di Desa Allang, Kecamatan Leihitu-Pulau Ambon, berhasil diselesaikan.
Ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi, penulis sampaikan kepada Prof.Dr.Ir. Djunaedi A. Rachim dan Dr.Ir. H. Komaruddin Idris selaku pembimbing yang telah memberi banyak waktu, nasihat, ide, arahan, bimbingan serta motivasi selama penyelesaian studi, penelitian dan penulisan tesis ini. Kepada Dr.Ir. Hendro, kepala Laboratorium Mineral PPT, ibu Evi, kepala laboratorium Kimia PPT, bapak Pramuji, bapak Agus, yang telah membantu dalam analisis kimia dan mineral tanah diucapkan terima kasih.
Terima kasih dan penghargaan yang sama, penulis sampaikan kepada berbagai pihak yang telah membantu mulai dari studi, penelitian dan penulisan tesis ini, terutama kepada:
1. Tuhan, karena Dia yang memberi hidup dan kesempatan studi di IPB 2. Rektor Universitas Pattimura yang memberi ijin studi di IPB
3. My soulmate, Heiske, istriku terkasih dan anugerah buah hatiku tersayang (dalam usia 5 bulan, 3 minggu), yang menginspirasiku, menyemangatiku untuk terus berjuang hingga saat ini.
4. Keluarga besar Liubana di Jakarta dan Kupang (k’ Yustus dan k’ Rini, k’ Lin dan k’ Nias serta semua anak-cucu serta ku dedikasikan tulisan ini buat almarhum ayah dan ibu tercinta, Michael Liubana dan Becina Fina), keluarga besar Liubana di Ambon (bapa Nelis, mama Mien dan adik-adik: Edi, Bai, Dora, Nani, Yeny, Niko, Bety, Titin, Ina, Zeth, Ing, John serta semua anak cucu), terima kasih atas dukungan dan doa kalian
5. Keluarga besar Kaengke di Manado, bapa Oen, mama Dorintje dan adik-adik Stenly, Hendra, dan Emon, yang setia untuk terus mendoakan dan mendukungku. Terima kasih atas semuanya