• Tidak ada hasil yang ditemukan

PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TAHUN 2018

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "PROFIL KESEHATAN KABUPATEN TAHUN 2018"

Copied!
141
0
0

Teks penuh

(1)

DINAS KESEHATAN

KABUPATEN BARITO SELATAN

Jalan Bandara Sanggu 73751 Buntok Kalimantan Tengah

2019

TAHUN 2018

(2)

PROFIL KESEHATAN

KABUPATEN BARITO SELATAN TAHUN 2018

DINAS KESEHATAN KABUPATEN BARITO SELATAN

Jl. Bandara Sanggu 73751 Buntok Kalimantan Tengah

(3)

i

KATA PENGANTAR

Puji Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas rahmat dan karunia-Nya sehingga Buku Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 Edisi 2019 ini dapat tersusun dengan baik.

Sebagai salah satu produk Sistem Informasi Kesehatan Kabupaten Barito Selatan, maka Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ini diharapkan dapat memberi gambaran kepada para pihak yang membutuhkan informasi mengenai kondisi dan situasi kesehatan di wilayah Kabupaten Barito Selatan. Kondisi kesehatan yang digambarkan dalam Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ini disusun berdasarkan masukan dari data Kesehatan Kecamatan dan Desa yang merupakan gambaran kondisi dan situasi kesehatan di wilayah Kabupaten Barito Selatan, ditambah dengan data dari Puskesmas di Kabupaten Barito Selatan, Laporan Rumah Sakit Umum Daerah Buntok serta dari beberapa buku terbitan Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Barito Selatan.

Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan tahun ini menggunakan format sesuai dengan Petunjuk Teknis Penyusunan Profil Kesehatan Kabupaten/Kota Tahun 2018. Sistem informasi yang ada pada profil kali ini sudah menyajikan data terpilah.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pimpinan puskesmas yang telah menyampaikan Profil Kesehatan tingkat puskesmas tahun 2018 sebagai manifestasi dari laporan pencapaian kegiatan di bidang kesehatan. Penghargaan yang setinggi-tingginya, juga saya sampaikan kepada semua pihak yang telah membantu dan memberikan konstribusi sehingga Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 dapat tersusun dengan baik.

Dengan telah terbitnya “Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 Edisi 2019” kami mengharapkan dapat dimanfaatkan dalam pengambilan

(4)

ii

sebagai salah satu rujukan data dan informasi yang diperlukan.

Buntok, April 2019 Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan

dr. Djulita Kurniadia Palar NIP. 19690701 200212 1 009

(5)

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI .... ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR TABEL ... vi

DAFTAR LAMPIRAN TABEL ... vii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

BAB II GAMBARAN UMUM ... 3

A. Keadaan Geografis ... 3

B. Wilayah Administrasi ... 4

C. Keadaan Penduduk ... 5

D. Keadaan Pendidikan ... 6

BAB III SITUASI DERAJAT KESEHATAN ... 7

A. Mortalitas ... 7

B. Morbiditas ... 10

C. Status Gizi ... 19

D. Angka Harapan Hidup (AHH) ... 22

BAB IV SITUASI UPAYA KESEHATAN ... 23

A. Pelayanan Kesehatan ... 23

B. Akses dan Mutu Pelayanan Kesehatan ... 37

C. Perilaku Masyarakat ... 38

D. Keadaan Lingkungan ... 40

BAB V SITUASI SUMBER DAYA KESEHATAN ... 44

A. Sarana Kesehatan ... 44

B. Tenaga Kesehatan ... 46

C. Pembiayaan Kesehatan ... 48

BAB VI PENUTUP ... 50

LAMPIRAN ... 51

(6)

iv

2.1 Peta Wilayah Kabupaten Barito Selatan ... 3 2.2 Jumlah Penduduk Per Kecamatan tahun 2018 ... 5 2.3 Proporsi Penduduk Kabupaten Barito Selatan yang Berumur 10 Tahun

Ke atas menurut Status Pendidikan Tahun 2018 ... 6 3.1 Angka Kematian Bayi Per 1.000 Kelahiran Hidup

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018... 8 3.2 Angka Kematian Anak Balita Per 1.000 Kelahiran Hidup

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018 ... 9 3.3 Angka Kematian Ibu Per 100.000 Kelahiran Hidup

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018... 10 3.4 Penemuan Penderita BTA + Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018... 12 3.5 Kasus Diare Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018 ... 14 3.6 Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD)

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018... 17 3.7 Trend Angka Kesakitan Malaria Per 1000 Penduduk

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018... 18 3.8 Angka Kesakitan Filariasis per 100.000 Penduduk Kabupaten Barito Selatan

selama tahun 2015-2018 ... 19 3.9 Cakupan Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah Kabupaten Barito Selatan

Tahun 2015-2018 ... 20 3.10 Umur Harapan Hidup (UHH) Kabupaten Barito Selatan Tahun 2012-2014 ... 22 4.1 Cakupan K-1 dan K-4 Ibu Hamil Menurut Puskesmas

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 24 4.2 Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Menurut Puskesmas

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 25 4.3 Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut Puskesmas

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 26 4.4 Cakupan Fe-3 Menurut Puskesmas Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018... 27 4.5 Cakupan Vitamin A Pada Anak Balita Menurut Puskesmas

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 29

(7)

v

4.6 Persentase Peserta KB Aktif Berdasarkan Jenis Kontrasepsi

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 30

4.7 Cakupan Pelayanan Bayi Menurut Puskesmas Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 32

4.8 Cakupan Imunisasi Lengkap Pada Bayi Menurut Puskesmas Tahun 2018 ... 33

4.9 Cakupan Indikator D/S dan BGM Pada Balita Tahun 2015-2018 ... 35

4.10 Cakupan ASI Eksklusif Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018 ... 40

4.11 Cakupan Rumah Sehat Menurut Puskesmas Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 41

4.12 Jumlah Pengguna Air Minum Berdasarkan Jenis Sarana Tahun 2018 ... 42

4.13 Persentase Pengguna Jamban Sehat di Kabupaten Barito Selatan Berdasarkan Jenis Sarana Tahun 2018 ... 42

5.1 Persentase Posyandu di Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 46

5.2 Target dan Jumlah Tenaga Kesehatan di 12 Puskesmas Wilayah Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 ... 48

5.3 Persentase Anggaran Dinas Kesehatan Berdasarkan Total APBD Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018 ... 59

(8)

vi

2.1 Luas Wilayah Berdasarkan Kecamatan Tahun 2018 ... 4 2.2 Jumlah Desa dan Kelurahan Tahun 2018 ... ` 5 5.1 Target Standar Minimal Jumlah Tenaga Kesehatan di 12 Puskesmas Rawat

Jalan dan Rawat Inap Kabupaten Barito Selatan ... 47 5.2 Jumlah Tenaga Kesehatan di 12 Puskesmas Wilayah Kabupaten Barito

Selatan ... ... 47

(9)

1

BAB I

PENDAHULUAN

Pembangunan kesehatan dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif secara sosial dan ekonomis. Dalam kerangka tersebut, pembangunan kesehatan diselenggarakan dengan berdasarkan pada perikemanusiaan, pemberdayaan dan kemandirian, adil dan merata, serta pengutamaan dan manfaat dengan perhatian khusus pada penduduk rentan, antara lain ibu, bayi, anak, lanjut usia dan keluarga miskin.

Selanjutnya, dalam rangka peningkatan kebijakan dan manajemen pembangunan kesehatan maka perlu adanya informasi kesehatan yang akurat, tepat waktu, dan lengkap sebagai bahan dalam proses pengambilan keputusan, dalam pengolahan pembangunan kesehatan, serta menyediakan informasi untuk perencanaan, pelaksanaan, pemantauan, evaluasi program kesehatan, dan meningkatkan kewaspadaan di semua tingkat administrasi.

Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan merupakan salah satu produk Sistem Informasi Kesehatan yang memberikan gambaran situasi kesehatan di Kabupaten Barito Selatan yang diterbitkan setiap tahun. Dalam Profil Kesehatan ini memuat berbagai data tentang kesehatan dan data pendukung lain yang berhubungan dengan program kesehatan.

Untuk mengukur keberhasilan pembangunan kesehatan diperlukan indikator- indikator kinerja kesehatan antara lain adalah Indikator Kinerja dari Standar Pelayanan Minimal (SPM) bidang Kesehatan yang merupakan indikator yang dapat memantau hasil pencapaian penyelenggaraan pelayanan minimal. Sehingga dasar acuan pembuatan profil kesehatan kabupaten ini adalah Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan indikator kesehatan lain yang telah ditetapkan berdasarkan petunjuk teknis Pembuatan Profil Kesehatan dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Tujuan umum disusunnya Profil Kesehatan Kabupaten ini adalah diperolehnya gambaran tentang situasi kesehatan di Kabupaten Barito Selatan dan tujuan khususnya

(10)

2 adalah diperolehnya gambaran tentang derajat kesehatan masyarakat, situasi lingkungan kesehatan, upaya kesehatan, dan kondisi Sumber Daya Kesehatan.

Manfaat yang dapat diperoleh dengan adanya buku Profil Kesehatan Kabupaten adalah sebagai wahana penilaian (evaluasi) dari program maupun permasalahan kesehatan yang ada juga sebagai sarana evaluasi keberhasilan program kesehatan secara menyeluruh di masyarakat sebagai upaya pengendalian, monitoring dan evaluasi program kesehatan masyarakat, diharapkan dapat digunakan untuk pengambilan keputusan bagi stakeholder. Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 Edisi 2019 ini juga diharapkan dapat bermanfaat dalam mendukung sistem manajemen kesehatan yang lebih baik dalam rangka pencapaian Visi Dinas Kesehatan yaitu “Mewujudkan Masyarakat Barito Selatan Sehat Secara Mandiri dan Berkualitas”

Dengan kedudukan yang cukup strategis, maka penyusunan profil kesehatan perlu mendapatkan perhatian dari berbagai pihak yang terlibat didalamnya dan diharapkan agar data dan informasi yang terkandung di dalamnya konsisten, valid, reliabel, dan dapat dipertanggungjawabkan serta dapat dimanfaatkan sebagai bahan perencanaan di tahun berikutnya.

Sistimatika penulisan Profil Kesehatan Kabupaten Barito Selatan ini terdiri dari BAB I Pendahuluan, BAB II Gambaran Umum Daerah, BAB III Situasi Derajat Kesehatan BAB IV. Situasi Upaya Kesehatan, BAB V Situasi Sumber Daya Kesehatan, BAB VI Penutup. Sedangkan untuk pengolahan dan analisis data digunakan analisis deskriptif, komparatif, dan kecendrungan yang disajikan dalam bentuk narasi, tabel, dan grafik.

(11)

3 BAB II

GAMBARAN UMUM

A. KEADAAN GEOGRAFIS

Kabupaten Barito Selatan dengan Ibu kota Kabupaten di Buntok terletak antara 1º 20 ‘ Lintang Utara, 2 º 35 ‘ Lintang Selatan, 114 º - 115 º Bujur Timur. Diapit oleh tiga Kabupaten tetangga yaitu di sebelah utara dengan sebagian wilayah Kabupaten Barito Utara, sebelah timur dengan sebagian wilayah Kabupaten Barito Timur, di bagian selatan dengan wilayah Kabupaten Kapuas dan Propinsi Kalimantan Selatan dan sebelah barat dengan wilayah Kabupaten Kapuas.

Gambar 2.1

Peta Wilayah Kabupaten Barito Selatan

Luas wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah 8.830 km² yang meliputi enam kecamatan. Kecamatan Dusun Hilir dan Kecamatan Gunung Bintang Awai merupakan kecamatan terluas masing-masing 2.065 km² dan 1.933 km² atau luas kedua kecamatan tersebut mencapai 45,28 % dari seluruh wilayah Kabupaten Barito Selatan, sedangkan kecamatan yang luasnya paling sedikit adalah Kecamatan Jenamas yaitu 708 km² atau

(12)

4 8,02 % luas wilayah kabupaten. Luas wilayah berdasarkan kecamatan di Kabupaten Barito Selatan dapat dilihat dalam tabel 2.1 berikut.

Tabel 2.1

Luas Wilayah Berdasarkan Kecamatan Tahun 2018

Sumber BPS Kabupaten Barito Selatan, 2018

Sebagian besar wilayah Kabupaten Barito Selatan merupakan dataran rendah dengan ketinggian berkisar antara 0 – 40 meter di atas permukaan laut. Kecuali sebagian wilayah kecamatan Gunung Bintang Awai dan sebagian Kecamatan Dusun Utara yang merupakan daerah perbukitan.

Kabupaten Barito Selatan mempunyai satu sungai besar (sungai Barito) dan beberapa sungai kecil / anak sungai, dan keberadaannya menjadi salah satu ciri khas Kabupaten Barito Selatan. Sungai Barito yang memiliki panjang mencapai 900 Km dengan rata – rata kedalaman + 8 m merupakan sungai terpanjang dan dapat dilayari hingga + 700 Km.

Sebagai daerah yang beriklim tropis, wilayah Kabupaten Barito Selatan udaranya relatif panas. Pada siang hari suhu mencapai 34 oC dan malam hari 23 oC, sedangkan rata – rata curah hujan pertahunnya relatif tinggi yaitu mencapai 252, 25 mm.

B. WILAYAH ADMINISTRASI

Secara administratif, Kabupaten Barito Selatan di bagi menjadi 6 kecamatan, yang selanjutnya terdiri dari desa dan kelurahan yang jumlah keseluruhannya adalah 93 Desa dan Kelurahan yang secara rinci dapat dilihat pada tabel 2.2 berikut.

No Kecamatan Luas Wilayah

(km2)

% Luas kabupaten Barito Selatan 1.

2.

3.

4.

5.

6.

Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara Gg. Bintang Awai

708 2.065 1.099 1.829 1.196 1.933

8,02 23,39 12,45 20,71 13,54 21,89

Jumlah 8.830 100,00

(13)

5 Tabel 2.2

Jumlah Desa dan Kelurahan Tahun 2018

No. Kecamatan Jumlah

Jumlah Desa Kelurahan

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Jenamas Dusun Hilir Karau Kuala Dusun Selatan Dusun Utara Gg. Bintang Awai

4 9 10 24 18 21

1 1 1 3 1 -

5 10 11 27 19 21

Jumlah 86 7 93

Sumber BPS. Kabupaten Barito Selatan, 2018

C. KEADAAN PENDUDUK

Kabupaten Barito Selatan memiliki luas wilayah sebesar 8.830 Km2. Sedangkan jumlah penduduk tahun 2018 menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Barito Selatan sebesar 134.543 jiwa. Jumlah penduduk terdiri dari 68.719 jiwa laki-laki dan 65.824 jiwa perempuan, sehingga ratio jenis kelamin atau perbandingan jumlah penduduk laki-laki per 100 penduduk perempuan adalah 104,4 yang artinya jumlah penduduk laki-laki empat persen lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk perempuan.

Adapun jumlah penduduk per Kecamatan di Kabupaten Barito Selatan tahun 2018 (proyeksi) adalah sebagai berikut :

Gambar 2.2

Jumlah Penduduk Per Kecamatan Tahun 2018

Sumber BPS Kabupaten BaritoSelatan Dalam Angka, 2018

(14)

6 Bila dibandingkan antara jumlah penduduk dengan luas wilayah, maka kepadatan penduduk Kabupaten Barito Selatan tergolong jarang, yaitu hanya sekitar 15,2 jiwa /km²-nya. Kepadatan penduduk tertinggi di Kecamatan Dusun Selatan yang juga merupakan tempat ibu kota Kabupaten Barito Selatan yaitu 30,7 jiwa/km² dan kepadatan terendah terdapat pada Kecamatan Dusun Hilir sebesar 8,0 Jiwa/Km².

Komposisi penduduk Kabupaten Barito Selatan bila dirinci menurut kelompok umur dan jenis kelamin, menunjukkan penduduk laki-laki lebih banyak dari pada perempuan yaitu 51,0 % sedangkan perempuan 48,9 % dan jumlah terbanyak berada pada kelompok umur 15 – 44 tahun (48,7 %) dan paling sedikit berada pada kelompok umur 65 tahun lebih (3,7 %)

D. KEADAAN PENDIDIKAN

Keadaan pendidikan seseorang mempunyai pengaruh terhadap pembangunan kesehatan dalam arti yang luas, baik individu, keluarga, masyarakat, lingkungan dan lain sebagainya. Persentase penduduk berusia 15 tahun ke atas yang tidak / belum pernah bersekolah sesuai data BPS Kabupaten Barito Selatan Dalam Angka Tahun 2018 pada laki-laki adalah 16,5 % dan pada perempuan berusia 10 tahun ke atas yang belum atau tidak pernah bersekolah adalah 21,5%. Selanjutnya di Kabupaten Barito Selatan, persentase penduduk yang berusia 15 tahun ke atas bila dirinci menurut tingkat pendidikan tertinggi yang ditamatkan adalah tamat SD/MI merupakan yang terbesar yaitu 35,7 %; SLTP/MTs 22,9 % ; SLTA/MA/Kejuruan, 19,1 % dan Perguruan Tinggi (D.I, D.II, D.III, dan S.1 serta S.2) mencapai 4 %.

Proporsi jumlah penduduk Kabupaten Barito Selatan dapat dilihat pada gambar 2.3 berikut.

Gambar 2.3

Proporsi Penduduk Kabupaten Barito Selatan yang Berumur 15 Tahun ke atas menurut Status Pendidikan Tahun 2018

(15)

7

Sumber BPS Kabupaten Barito Selatan, 2018

(16)

8 BAB III

SITUASI DERAJAT KESEHATAN

Tujuan Pembangunan Kesehatan adalah untuk meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif sesuai dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan.

Untuk mengetahui gambaran derajat kesehatan masyarakat dapat diukur dari indikator-indikator yang digunakan antara lain angka kematian (mortalitas), angka kesakitan (morbiditas), status gizi, serta umur harapan hidup. Indikator tersebut dapat diperoleh melalui laporan dari fasilitas kesehatan (fasility based) dan dari masyarakat (community based).

Perkembangan derajat kesehatan masyarakat dapat dilihat dari kejadian kematian dan kesakitan dalam masyarakat dari waktu ke waktu. Di samping itu kejadian kematian juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan kesehatan lainnya. Angka kematian pada umumnya dapat dihitung dengan melakukan berbagai survey dan penelitian.

A. MORTALITAS

Peristiwa kematian pada dasarnya merupakan proses akumulasi akhir dari berbagai penyebab penyakit, baik kematian langsung maupun tidak langsung yang berhubungan erat dengan masalah kesehatan secara umum dan juga dapat digunakan sebagai indikator dalam penilaian keberhasilan pelayanan kesehatan dan program pembangunan bidang kesehatan, di Kabupaten Barito Selatan angka kematian ini dirasa belum mampu merepresentasikan angka sebenarnya karena data kematian hanya didapat dari pencatatan kematian yang terjadi di sarana kesehatan yang ada, baik di puskesmas maupun rumah sakit.

1. Angka Kematian Bayi

Bayi merupakan golongan masyarakat yang dianggap paling rawan dari aspek kesehatan. Indikator yang berkaitan dengan kematian bayi merupakan indikator penting dan sering dipakai untuk mengukur kemajuan suatu daerah. Selain itu, Angka kematian bayi merupakan indikator dalam menentukan status kesehatan masyarakat karena

(17)

9 indikator ini mencerminkan pelayanan kesehatan dasar yang paling awal, menentukan kualitas pelayanan kebidanan, keadaan kesehatan lingkungan, keadaan sosial ekonomi masyarakat, dan juga sangat menentukan kualitas generasi yang akan datang. Angka kematian bayi didefinisikan sebagai jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun yang dinyatakan dalam 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.

Berdasarkan laporan puskesmas, pada tahun 2018, kematian bayi terjadi sebanyak 6 bayi (3,1 Per 1000 Kelahiran Hidup) yakni kematian pada neonatal (< 28 hr). Trend perkembangan angka kematian bayi dapat dilihat pada gambar 3.1 berikut :

Gambar 3.1

Angka Kematian Bayi Per 1.000 Kelahiran Hidup Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018

Sumber Bidang Pelayanan Kesehatan, 2018

Dari gambar 3.1, dapat terlihat Angka Kematian Bayi pada tahun 2018 yaitu 3,1 per 1.000 Kelahiran hidup yang mana angka kematian pada tahun 2018 Mengalami penurunan dibanding tahun 2017. Angka tersebut apabila dibandingkan dengan target renstra kabupaten Barito Selatan Tahun 2018 maksimal 5 Per 1000 Kh, maka angka kematian bayi pada tahun ini sudah mencapai target. (lampiran Tabel 31)

2. Angka Kematian Anak Balita

Jumlah kematian anak balita berdasarkan laporan pencatatan di sarana kesehatan pada tahun 2018 sebanyak 1 orang sehingga angka kematian anak balita pada tahun 2018 adalah 0,5 per 1000 kelahiran hidup. Apabila dibandingkan dengan indikator MDGs maksimal sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup, maka angka kematian anak balita di Kabupaten Barito selatan sudah memenuhi target tersebut. Perkembangan angka

(18)

10 kematian balita di Kabupaten Barito Selatan selama tahun 2015 – 2018 dapat dilihat pada Gambar 3.2 Berikut .

Gambar 3.2

Angka Kematian Anak Balita Per 1.000 Kelahiran Hidup Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015–2018

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

3. Angka Kematian Ibu

Angka Kematian Ibu (AKI) menggambarkan jumlah wanita yang meninggal dari suatu penyebab kematian terkait dengan gangguan kehamilan atau penanganannya (tidak termasuk kecelakaan atau kasus insidental) selama kehamilan, melahirkan, dan dalam masa nifas (42 hari setelah melahirkan) tanpa memperhitungkan lama kehamilan per 100.000 kelahiran hidup. Sebagian besar penyebab kematian ibu melahirkan disebabkan oleh pendarahan, kejang-kejang, infeksi kehamilan, persalinan macet/lama, absorbsi/keguguran dan rata-rata karena terlambat di bawa ke Rumah Sakit rujukan.

Angka Kematian Ibu bersama dengan Angka Kematian Bayi senantiasa menjadi indikator keberhasilan pembangunan pada sektor kesehatan. Indikator ini dipengaruhi oleh status kesehatan secara umum, pendidikan, pelayanan selama kehamilan, persalinan, dan setelah persalinan.

Jumlah Kematian Ibu dalam hal ini kematian ibu hamil, ibu bersalin, dan ibu nifas pada tahun 2018 yaitu 3 orang. Berdasarkan jumlah kematian ibu, maka Angka Kematian Ibu pada tahun 2018 adalah 156/100.000 kelahiran hidup, Berdasarkan target

(19)

11 angka kematian Ibu Kabupaten tahun 2018 sebesar 89 Per 100.000 Kelahiran Hidup, maka Kabupaten Barito Selatan belum memenuhi target tersebut. (lampiran Tabel 21)

Gambar 3.3

Angka Kematian Ibu Per 100.000 Kelahiran Hidup Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015 – 2018

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

B. MORBIDITAS

Morbiditas adalah angka kesakitan, baik insiden maupun prevalen dari suatu penyakit. Morbiditas menggambarkan kejadian penyakit dalam suatu populasi pada kurun waktu tertentu. Morbiditas juga berperan dalam penilaian terhadap derajat kesehatan masyarakat.

Angka kesakitan penduduk bisa diketahui melalui dua metode, yang pertama didapat dari data yang berasal dari masyarakat (community based data) yang dapat diperoleh dengan melalui studi morbiditas. Sedangkan yang kedua melalui hasil pengumpulan data baik dari Dinas Kesehatan Kabupaten maupun dari data sarana pelayanan kesehatan (Facility Based Data) yang diperoleh melalui sistem pencatatan dan pelaporan. Perolehan data untuk menentukan angka kesakitan (Morbiditas) di Kabupaten Barito Selatan didapat melalui cara yang kedua yaitu berdasarkan laporan dari sarana pelayanan kesehatan di wilayah Kabupaten Barito Selatan.

(20)

12 1. AFP (Acute Flaccid Paralysis)

Erapo dilaksanakan melalui gerakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dan merupakan wujud dari kesepakatan global dalam membasmi penyakit polio di Indonesia. Kejadian AFP pada saat ini diproyeksikan sebagai indikator untuk menilai program eradikasi polio (erapo). Upaya memantau keberhasilan erapo adalah dengan melaksanakan surveilans secara aktif untuk menemukan kasus AFP sebagai upaya mendeteksi secara dini munculnya virus polio liar yang mungkin ada di masyarakat agar dapat segera dilakukan penanggulangan, cakupan vaksinasi polio rutin yang tinggi, dan sanitasi lingkungan yang memenuhi syarat kesehatan.

Pada Tahun 2018 di Kabupaten Barito Selatan ditemukan 1 (satu) kasus AFP Non Polio yakni terjadi di wilayah kerja Puskesmas Sababilah. (lampiran tabel 61).

2. TB Paru BTA Positif

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini dapat menyebar melalui droplet orang yang telah terinfeksi basil TB. Bersama dengan Malaria dan HIV / AIDS, TB menjadi salah satu penyakit yang pengendaliannya menjadi komitmen global dalam MDGs.

Pengendalian TB di Kabupaten Barito Selatan menggunakan strategy Direcly Observed Treatment Shortcourse (DOTS). Dengan program ini kita berusaha mencapai target penemuan penderita (CDR) sebesar > 70 % dari perkiraan penderita TB BTA positif kasus baru dengan tingkat kesembuhan sebesar > 85 %.

Berdasarkan data hasil kegiatan Program Pencegahan dan Penanggulangan Penyakit Menular Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 terjadi kasus BTA Positif sebanyak 129 orang. Pasien yang diobati sebanyak 129 orang dan dievaluasi kesembuhannya pada tahun 2018 sebanyak 129 orang.

Gambar 3.4

Penemuan Penderita TB BTA+ Tahun 2015-2018

(21)

13

Sumber Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2018

Berdasarkan gambar di atas, penderita TB BTA+ Pada tahun 2018 mengalami penurunan yang signifikan.

3. Pneumonia

Pneumonia adalah infeksi akut yang mengenai jaringan paru (alveoli), infeksi dapat disebabkan oleh bakteri, virus maupun jamun. Pneumonia juga dapat terjadi akibat kecelakaan karena menghirup cairan atau bahan kimia. Populasi yang rentan terserang adalah Pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun, atau orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutirsi, gangguan imunologi).

Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian balita yang utama, selain diare. Penyakit ini merupakan bagian dari penyakit infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). ISPA sebagai salah satu penyebab utama kematian pada bayi dan balita diduga karena pneumonia dan merupakan penyakit yang akut dan kualitas penatalaksanaannya masih belum memadai. Upaya pemberantasan penyakit ISPA dilaksanakan dengan fokus penemuan dini dan tata laksana kasus secara cepat dan tepat. Upaya ini dikembangkan melalui Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Jumlah balita pada tahun 2018 di wilayah Kabupaten Barito Selatan adalah 13.050 orang dan jumlah perkiraan kasus Pneumonia adalah 57 orang. Tidak ditemukan Kasus Pneumonia pada Balita pada tahun 2018. (lampiran tabel 53).

4. HIV/AIDS dan IMS

HIV/AIDS merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi virus Human Immunodeficiency Virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh. Infeksi

(22)

14 tersebut menyebabkan penderita mengalami penurunan ketahanan tubuh sehingga sangat mudah untuk terinfeksi berbagai macam penyakit lain.

Upaya penemuan kasus/penderita HIV/AIDS di Kabupaten Barito Selatan terus dilakukan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Propinsi Kalimantan Tengah yaitu terhadap kelompok pekerja dengan resiko tinggi HIV/AIDS pada Pekerja Seks Komersial (PSK). Berdasarkan laporan dari Bidang Pengendalian Masalah Kesehatan, pada tahun 2018 terdapat kasus lama untuk HIV yaitu 2 orang yang mendapat penanganan. (lampiran tabel 54).

5. Diare

Diare adalah penyakit yang terjadi ketika terjadi perubahan konsistensi feses selain dari frekuensi buang air besar. Seseorang dikatakan menderita Diare bila feses lebih berair dari biasanya, atau bila buang air besar tiga kali atau lebih, atau buang air besar yang berair tapi tidak berdarah dalam waktu 24 jam.

Kegiatan pokok dari upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit diare adalah Penemuan dan pengobatan diare dengan menitikberatkan pada penatalaksanaan penderita secara tepat sesuai standar baik di sarana kesehatan maupun di rumah tangga.

Jumlah perkiraan kasus diare di Kabupaten Barito Selatan berdasarkan jumlah penduduk pada tahun 2018 adalah 3.633 kasus. Sedangkan kasus diare yang terjadi selama kurun waktu yang sama tercatat ada 3.633 kasus. Hal ini berarti cakupan penemuan penderita Diare pada tahun 2018 adalah sebesar 100 %. Dari semua kasus diare yang terjadi tidak terdapat kasus kematian karena semua kasus diare telah mendapat penanganan dengan mendapat oralit dan tablet Zinc.

Gambar 3.5 Kasus Diare

Kabupaten Barito Selatan Tahun 2015-2018

(23)

15

Sumber Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2018

Berdasarkan gambar 3.5 diatas, diketahui bahwa jumlah kasus diare keseluruhan baik pada dewasa maupun balita pada tahun 2018 mengalami penurunan jumlah yaitu sebesar 287 kasus (8,4%) dibanding tahun 2017.

6. Kusta

Kusta adalah penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Leprae. Penatalaksanaan kasus yang buruk dapat menyebabkan Kusta menjadi progresif, menyebabkan kerusakan permanen pada kulit, saraf, anggota gerak, dan mata. Diagnosa Kusta dapat ditegakkan dengan adanya kondisi sebagai berikut : a. Kelainan pada kulit (bercak) putih atau kemerahan disertai mati rasa.

b. Penebalan saraf tepi yang disertai gangguan fungsi saraf berupa mati rasa dan kelemahan/kelumpuhan otot.

c. Adanya kuman tahan asam di dalam kerokan jaringan kulit (BTA Positif).

Pada tahun 2018, ditemukan 7 kasus kusta basah di Kabupaten Barito Selatan.

Kasus tersebut terjadi diwilayah kerja Puskesmas Jenamas dan Buntok, Bantai Bambure dan Puskesmas Patas I yang sudah mendapat penanganan (lampiran tabel 57, 58, 59, dan 60).

7. Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I) a. Difteri

Difteri termasuk penyakit menular yang jumlah kasusnya relatif rendah, rendahnya kasus difteri sangat dipengaruhi adanya program imunisasi. Dipteri adalah penyakit yang disebabkan corynebacterium diptheriae dengan gejala panas lebih kurang 30° C disertai adanya pseudo membran (selaput tipis) putih keabu-abuan pada

(24)

16 tenggorokan (laring, faring, dan tonsil) yang tak mudah lepas dan mudah berdarah.

Dapat disertai nyeri menelan, leher membengkak seperti leher sapi (bull neck) sesak nafas disertai bunyi (stridor) dan pada pemeriksaan apusan tenggorok atau hidung terdapat kuman difteri. Selama tahun 2018 di Kabupaten Barito Selatan tidak terdapat kasus difteri.

b. Tetanus

Tetanus adalah penyakit yang disebabkan oleh clostridium tetani, biasanya dengan gejala riwayat luka, demam, kejang rangsang, risus sardonicus (muka setan) dan kadang-kadang disertai perut papan dan opistotonus (badan melengkung) pada umur di atas 1 bulan. Selama tahun 2018 di Kabupaten Barito Selatan tidak ditemukan kasus tetanus yang terlapor.

c. Tetanus Neonatorum

Tetanus neonatorum adalah penyakit bayi lahir hidup normal dan dapat menangis dan menetek selama 2 hari kemudian timbul gejala sulit menetek disertai kejang rangsang pada umur 3-28 hari. Selama empat tahun terakhir (2015-2018) di Kabupaten Barito Selatan tidak ditemukan kasus tetanus neonatorum.

d. Campak

Campak merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus measles, disebarkan melalui droplet bersin atau batuk dari penderita, gejala awal penyakit adalah demam, bercak kemerahan, batuk, pilek, conjunctivitis (mata merah), selanjutnya timbul ruam pada muka dan leher, kemudian menyebar ke tubuh, tangan, serta kaki.

Pada tahun 2018, kasus campak tidak ditemukan di Kabupaten Barito Selatan.

e. Polio

Polio adalah salah satu penyakit menular yang termasuk ke dalam PD3I. Penyakit ini disebabkan oleh infeksi virus yang menyerang sistem syaraf hingga penderita mengalami kelumpuhan. Penyakit yang pada umumnya menyerang anak berumur 0-3 tahun ini ditandai dengan munculnya demam, lelah, sakit kepala, mual, kaku dileher dan sakit ditungkai dan tangan.

Selama lima tahun terakhir, di Kabupaten Barito Selatan tidak ditemukan kasus penyakit polio.

(25)

17 f. Hepatitis B

Penyakit Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B yang merusak hati. Penyebaran penyakit terutama melalui suntikan yang tidak aman, dari ibu ke bayi selama proses persalinan, melalui hubungan seksual. Infeksi pada anak biasanya tidak menimbulkan gejala. Gejala yang ada adalah lemah, gangguan perut dan gejala lain seperti flu, urine menjadi kuning, kotoran menjadi pucat. Warna kuning bisa terlihat pada mata ataupun kulit. Penyakit ini bisa menjadi kronis dan menimbulkan cirrhosis hepatis, kanker hati, dan menimbulkan kematian.

Selama empat tahun terakhir, di Kabupaten Barito Selatan tidak ditemukan kasus Hepatitis B (lampiran tabel 62).

8. DBD

Demam Berdarah Dengue adalah penyakikt yang disebabkan oleh virus Dengue dan ditularkan oleh vektor nyamuk Aedes Aegypty. Penyakit ini sebagian besar menyerang angak berumur < 15 tahun, namun dapat juga menyerang orang dewasa.

Penyakit ini sering muncul sebagai KLB dengan angka kesakitan dan kematian yang relatif tinggi. Penyakit ini biasanya muncul pada musim hujan yaitu antara bulan Oktober sampai dengan Maret, dimana banyak terjadi genangan air bersih yang merupakan suatu kondisi yang cocok untuk perkembangbiakan jentik nyamuk Aedes Aegypty.

Di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 ditemukan penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) sebanyak 12 orang dan sudah mendapat penanganan.

Gambar 3.6

Jumlah Kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) Tahun 2015-2018

Sumber Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2018

(26)

18 Berdasarkan gambar 3.6 di atas kasus DBD di Kabupaten Barito Selatan selama (2017 s/d 2018) terjadi kenaikan kasus. Kasus DBD yang ditemukan telah ditangani dan sembuh.

9. Malaria

Malaria merupakan salah satu penyakit menular yang upaya pengendaliannya menjadi komitmen global dalam Millenium Development Goals (MDGs). Malaria disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina, dapat menyerang semua orang bail laki-laki maupun perempuan pada semua golongan umur dari bayi, anak-anak, dan dewasa.

Kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka pengendalian malaria di tingkat pelayanan kesehatan dasar selama ini adalah penemuan dan pengobatan disertai pemberantasan vektor yang terbatas. Penemuan penderita malaria dilakukan secara pasif di sarana kesehatan. Tujuan pemberantasan penyakit malaria adalah menurunkan angka kesakitan dengan mengobati seluruh penderita klinis dan positif dengan pengobatan yang standar.

Pada Tahun 2018 tidak ditemukan penderita postitif Malaria yang dikonfirmasi laboratorium. Berdasarkan data tersebut diperoleh angka kesakitan malaria (API) sediaan dahak positif tahun 2018 sebesar 0 per 1000 penduduk. Bila dibandingkan dengan tahun 2017 dengan angka kesakitan malaria (API) sediaan dahak positif sebesar 0,01 per 1000 penduduk maka pada tahun 2018 terjadi penurunan penderita Malaria.

Bila dibandingkan dengan target Kementerian Kesehatan RI yang hanya 0,5 per 1000 penduduk, maka Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 sudah sesuai dengan target.

Gambar 3.7

Trend Angka Kesakitan Malaria Per 1000 Penduduk Kabupaten Barito Selatan selama tahun 2015-2018

(27)

19

Sumber Bidang Pencegahan dan Pegendalian Penyakit, 2018

Berdasarkan gambar 3.7, terlihat Angka Kesakitan Malaria ditahun 2017 terjadi penurunan. Bila dilihat berdasarkan puskesmas, maka penemuan kasus Malaria positif adalah di wilayah Kerja Puskesmas Patas I dengan jumlah kasus positif 1 orang (lampiran tabel 66).

10. Filariasis (Kaki Gajah)

Filariasis adalah penyakit yang disebabkan oleh parasit berupa cacing filariasis, yang terdiri dari 3 (tiga) spesies yaitu Wuchereria bancrofti, Brugia malayi, dan Brugai timori. Penyakit ini menginfeksi jaringan limfe (getah bening). Filariasis menular melalui gigitan nyamuk yang mengandung cacing filaria dalam tubuhnya. Dalam tubuh manusia, cacing tersebut tumbuh menjadi cacing dewasa dan menetap di jaringan limfe sehingga menyebabkan pembengkakan di kaki, tungkai, payudara, lengan, dan organ genital.

Di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 tidak ditemukan kasus baru Filariasis. Angka Kesakitan Filariasis di Kabupaten Barito Selatan adalah 0 per 100.000 penduduk. Grafik Angka Kesakitan Filariasis dapat dilihat pada gambar 3.8 dibawah ini :

Gambar 3.8

Angka Kesakitan Filariasis per 100.000 Penduduk Kabupaten Barito Selatan selama tahun 2015-2018

(28)

20

Sumber Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2018

C. STATUS GIZI

Status gizi seseorang mempunyai hubungan yang erat dengan permasalahan kesehatan secara umum, di samping merupakan faktor predisposisi yang dapat memperparah penyakit infeksi secara langsung juga dapat menyebabkan terjadinya gangguan kesehatan individu. Status gizi pada janin/bayi sangat ditentukan oleh status gizi ibu hamil atau ibu menyusui. Indikator- indikator yang dapat mencerminkan keadaan/status gizi masyarakat diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)

Bayi yang lahir dengan BBLR merupakan manifestasi dari keadaan kurang gizi pada janin saat dalam kandungan. BBLR (kurang dari 2.500 gram) merupakan salah satu faktor utama yang berpengaruh terhadap kematian perinatal dan neonatal. BBLR dibedakan dalam 2 kategori yaitu: BBLR karena prematur (usia kandungan kurang dari 37 minggu) dan BBLR karena intrauterine growth retardation (IUGR), yaitu bayi yang lahir cukup bulan tetapi berat badannya kurang. Di negara berkembang banyak kasus BBLR disebabkan oleh ibu berstatus gizi buruk, Anemia, Malaria, dan menderita Penyakit Menular Seksual (PMS) sebelum konsepsi atau pada saat hamil.

Pada tahun 2018, bayi lahir yang ditimbang berat badannya sebanyak 1901 orang.

Jumlah bayi lahir hidup sebanyak 1923, cakupan bayi lahir yang ditimbang berat badannya adalah 98,9 %. Berdasarkan jumlah bayi yang ditimbang tersebut ditemukan kasus bayi BBLR (Berat Badan Lahir Rendah) sebanyak 75 orang (3,9 %). Semua kasus BBLR sudah tertangani dengan baik. Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang

(29)

21 cakupan BBLR sebanyak 3,2 %, maka pada tahun 2018 mengalami kenaikan jumlah BBLR.

Bila dilihat berdasarkan wilayah kerja puskesmas, maka wilayah kerja yang paling banyak BBLR ialah Puskesmas Buntok terdapat 20 orang BBLR mengingat Jumlah sasaran terbanyak ialah Puskesmas Buntok. Selain itu, Bila dibandingkan dengan target Kementerian Kesehatan untuk persentase bayi dengan BBLR maksimal 5 %, maka Kabupaten Barito Selatan telah berada di bawah target tersebut. Untuk mengetahui trend cakupan bayi BBLR dapat dilihat pada gambar 3.9 berikut.

Gambar 3.9

Cakupan Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah Tahun 2015-2018

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

Berdasarkan gambar 3.9 diketahui bahwa pada tahun 2018 terjadi peningkatan cakupan bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) (lampiran tabel 33).

2. Status Gizi Balita

Status gizi balita merupakan salah satu indikator yang menggambarkan tingkat kesejahteraan masyarakat. Salah satu cara penilaian status gizi balita adalah pengukuran secara antropometrik yang menggunakan Indeks Berat Badan menurut Umur balita kemudian disetarakan dengan standar baku rujukan WHO-NCHS untuk mengetahui status gizinya.

(30)

22 Pada tahun 2018 tidak ada kegiatan survei penilaian status gizi di Kabupaten Barito Selatan. Kegiatan survei terakhir dilakukan pada tahun 2012 dalam kegiatan Pemantaun Status Gizi (PSG).

D. ANGKA HARAPAN HIDUP (AHH)

Salah satu cara untuk menilai tingkat kesehatan secara umum adalah dengan melihat umur harapan hidup waktu lahir. Angka ini sekaligus memperlihatkan keadaan dan sistem pelayanan kesehatan yang ada dalam suatu masyarakat, karena dapat dipandang sebagai suatu bentuk akhir dari hasil upaya peningkatan taraf kesehatan secara keseluruhan. Di samping itu, umur harapan hidup ini sangat erat korelasinya dengan angka kematian bayi.

Angka harapan hidup waktu lahir merupakan gambaran rata-rata umur yang mungkin dapat dicapai oleh seorang bayi yang baru lahir. Berdasarkan laporan Statistik Kabupaten Barito Selatan, AngkaUmur Harapan Hidup di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2014 adalah sebesar 66,08 tahun. Ini berarti secara rata-rata penduduk di Kabupaten Barito Selatan hidup hingga mencapai usia 66 tahun. Untuk mengetahui perkembangan umur harapan hidup selama 3 (tiga) tahun terakhir dapat dilihat pada gambar 3.10 berikut.

(31)

23 Gambar 3.10

Trend Angka Harapan Hidup (AHH)

Kabupaten Barito Selatan Selama Tahun 2016-2018

Sumber BPS Kabupaten Barito Selatan, 2018

Berdasarkan gambar 3.10 diketahui bahwa terjadi kecendrungan peningkatan Angka Harapan Hidup (AHH) di Kabupaten Barito Selatan selama tahun 2016, 2017, dan 2018. Hal ini cukup menggembirakan karena semakin tinggi usia harapan hidup semakin meningkat kualitas kesehatan masyarakat. Di samping itu, kenaikan umur harapan hidup menunjukkan bahwa tingkat kematian semakin rendah.

(32)

24 BAB IV

SITUASI UPAYA KESEHATAN

Dalam rangka mencapai tujuan pembangunan kesehatan untuk mencapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya, telah dilakukan berbagai upaya kesehatan baik upaya kesehatan masyarakat (UKM) maupun upaya kesehatan perorangan (UKP) dengan menghimpun seluruh potensi yang ada. Upaya kesehatan diselenggarakan dengan peningkatan (promotif), pencegahan (preventif), pengobatan (kuratif), dan pemulihan (rehabilitatif).

Situasi upaya kesehatan digambarkan dengan indikator-indikator pelayanan kesehatan, akses dan mutu pelayanan kesehatan, perilaku masyarakat, dan keadaan lingkungan. Berikut ini diuraikan situasi upaya kesehatan untuk tahun 2016.

A. PELAYANAN KESEHATAN 1. Kunjungan Ibu Hamil

Pelayanan antenatal merupakan pelayanan kesehatan oleh tenaga kesehatan profesional (dokter spesialis kandungan dan kebidanan, dokter umum, bidan dan perawat) kepada ibu hamil selama masa kehamilannya, yang mengikuti program pedoman pelayanan antenatal yang ada dengan titik berat pada kegiatan promotif dan preventif. Hasil pelayanan antenatal dapat dilihat dari indikator cakupan K-1 dan K-4.

K-1 merupakan gambaran besaran ibu hamil yang telah melakukan kunjungan pertama ke fasilitas pelayanan kesehatan untuk mendapatkan pelayanan antenatal.

Sedangkan K-4 adalah gambaran besaran ibu hamil yang mendapatkan pelayanan ibu hamil sesuai dengan standar serta paling sedikit empat kali kunjungan, dengan distribusi sekali pada trimester pertama, sekali pada trimester dua dan dua kali pada trimester ketiga.

Pada tahun 2018, sasaran ibu hamil di Kabupaten Barito Selatan adalah 2.987 orang. Berdasarkan laporan hasil pelayanan, cakupan pelayanan K-1 sebesar 88,5 % dan cakupan pelayanan K-4 nya sebesar 83,6 %. Khusus cakupan pelayanan K-4, bila dilihat berdasarkan wilayah kerja Puskesmas, maka Puskesmas Tabak Kanilan memiliki cakupan tertinggi yaitu sebesar 93,3 %. Jika dibandingkan dengan target Indikator Standar Pelayanan Minimal sebesar 100 % cakupan K-4, maka Kabupaten Barito Selatan belum memenuhi target tersebut. (lampiran tabel 23).

(33)

25 Gambar 4.1

Cakupan K-1 dan K-4 Ibu Hamil Menurut Puskesmas Tahun 2018

Sumber Bidang Pelayanan Kesehatan Masyarakat, 2018

Gambar 4.1 diatas menunjukkan cakupan pelayanan K-1 dan K-4 menurut puskesmas. Terlihat bahwa konstribusi terbesar dalam pelayanan K-1 dan K-4 terhadap ibu hamil terdapat di wilayah kerja Puskesmas Tabak Kanilan, Baru dan Puskesmas Buntok.

2. Persalinan oleh Bidan atau Tenaga Kesehatan yang Memiliki Kompetensi Kebidanan

Pertolongan persalinan oleh bidan atau tenaga kesehatan juga merupakan salah satu kualitas pelayanan di fasilitas pelayanan kesehatan dasar. Komplikasi dan kematian ibu maternal dan bayi baru lahir sebagian besar terjadi pada masa persalinan, hal ini disebabkan pertolongan tidak dilakukan oleh tenaga kesehatan yang mempunyai kompetensi kebidanan (profesional). Proporsi persalinan yang ditangani oleh tenaga kesehatan (nakes) merupakan salah satu upaya untuk penurunan angka kematian ibu dan bayi. Pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan adalah pelayanan persalinan yang aman yang dilakukan oleh tenaga kesehatan dengan kompetensi kebidanan.

Berdasarkan jumlah sasaran ibu hamil yang ada, maka jumlah ibu yang melahirkan selama tahun 2018 di Kabupaten Barito Selatan adalah 2.987 orang.

Sedangkan jumlah ibu melahirkan yang ditolong oleh tenaga kesehatan adalah 1.901 orang atau cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan sebesar 63,6 %.

Sementara jika dilihat berdasarkan puskesmas, maka cakupan tertinggi ada di wilayah kerja Puskesmas Buntok yaitu 84,8 %. Apabila dilihat dari target Indikator

(34)

26 Standar Pelayanan Minimal sebesar 100 %, maka Kabupaten Barito Selatan belum memenuhi target tersebut. Gambar 4.2 menampilkan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan berdasarkan puskesmas tahun 2018.

Gambar 4.2

Cakupan Persalinan Oleh Tenaga Kesehatan Menurut Puskesmas Tahun 2018

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

Gambar 4.2 merupakan cakupan persalinan oleh tenaga kesehatan. Diketahui bahwa tidak ada puskesmas yang memenuhi target Indikator Standar Pelayanan Minimal (100 %) pada tahun 2018. (lampiran Tabel 23).

3. Pelayanan Ibu Nifas

Pelayanan ibu nifas sesuai standar adalah pelayanan kepada ibu nifas sedikitnya 3 kali, pada 6 jam pasca persalinan s.d. 3 hari, pada minggu ke II, dan pada minggu ke VI.

Pelayanan kesehatan ibu nifas yang diberikan meliputi : 1) pemeriksaan tekanan darah, nadi, respirasi dan suhu; 2) pemeriksaan tinggi fundus uteri; 3) pemeriksaan lokhia dan pengeluaran per vaginam lainnya; 4) pemeriksaan payudara dan anjuran ASI eksklusif 6 bulan; 5) pemberian kapsul Vitamin A 200.000 IU sebanyak dua kali; dan 6) pelayanan KB pasca persalinan.

Jumlah ibu nifas KF1 di Kabupaten Barito Selatan selama tahun 2018 adalah sebanyak 2.987 orang. Sedangkan yang mendapat pelayanan kesehatan adalah sebesar 1.901 orang atau cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas sebesar 63,6 %. Bila dibandingkan dengan cakupan pelayanan kesehatan ibu nifas tahun 2017 sebesar 64,1

%, maka pada tahun 2018 mengalami sedikit penurunan cakupan.

(35)

27 Bila dibandingkan dengan target indikator Standar Pelayanan Minimal yang ditetapkan sebesar 90 %, maka Kabupaten Barito Selatan ditahun 2018 belum mencapai target tersebut. (lampiran tabel 29).

Gambar 4.3

Cakupan Pelayanan Kesehatan Ibu Nifas Menurut Puskesmas Tahun 2018

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

4. Ibu Hamil yang mendapat Td

Tetanus disebabkan oleh toksin yang diproduksi oleh bakteri yang disebut Clostridium tetani. Tetanus juga bisa menyerang pada bayi baru lahir (Tetanus Neonatorum) pada saat persalinan dan perawatan tali pusat. Tetanus merupakan salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia.

Masih banyak calon ibu di masyarakat terutama yang tinggal di daerah-daerah terpencil berada dalam kondisi yang bisa disebut masih jauh dari kondisi steril saat persalinan. Hal inilah yang bisa menimbulkan risiko ibu maupun bayinya terkena tetanus.

Pada tahun 2018, sasaran ibu hamil di Kabupaten Barito Selatan adalah 2.987 orang. Berdasarkan sasaran yang ada, jumlah ibu hamil yang mendapat imunisasi Td-1 adalah 523 orang atau cakupan imunisasi Td-1 untuk ibu hamil sebesar 17,5 %, dan jumlah ibu hamil yang mendapat imunisasi Td-2 adalah 452 orang atau cakupan imunisasi Td-2 sebesar 15,1 %. Sedangkan Seluruh Jumlah Ibu Hamil yang Mendapat Imunisasi Td (Td1-Td5) ialah sejumlah 1.235 (41,3%) (lampiran tabel 24).

(36)

28 Pemberian Tablet Besi

Pelayanan kesehatan bagi ibu hamil, selain pemeriksaan kehamilan juga disertai dengan pemberian tablet besi (Fe) untuk mencegah terjadinya anemia besi pada ibu hamil. Tujuan pemberian tablet Fe untuk mencegah terjadinya anemia besi pada ibu hamil. Selama masa kehamilan, ibu hamil harus mendapatkan tablet besi sebanyak 90 tablet. 30 tablet pertama dinyatakan dengan cakupan Fe-1 dan untuk ibu hamil yang telah mendapat tablet besi sebanyak 90 tablet dinyatakan sebagai cakupan Fe-3.

Jumlah ibu hamil yang di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 adalah 2.987 orang. Berdasarkan jumlah sasaran tersebut, jumlah ibu hamil yang mendapat Fe-3 adalah 1.655 orang atau cakupan Fe-3 pada ibu hamil sebesar 55,4 %.

Bila dibandingkan dengan target Kementerian Kesehatan sebesar 90 %, maka cakupan Fe-3 di Kabupaten Barito Selatan belum memenuhi target yang diharapkan.

Untuk lebih jelasnya pencapaian cakupan pemberian Fe-3 menurut puskesmas dapat dilihat pada Gambar 4.4 berikut.

Gambar 4.4

Cakupan Fe-3 Menurut Puskesmas Tahun 2018

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

Berdasarkan Gambar 4.4, diketahui bahwa pada tahun 2018 ada 1 Puskesmas yang memenuhi target Kementerian Kesehatan yakni puskesmas Sababilah untuk cakupan pemberian Fe-3 diatas 90 % .

(37)

29 5. Bumil Risti yang Ditangani

Resiko tinggi atau komplikasi kebidanan pada kehamilan merupakan keadaan penyimpangan dari normal, yang secara langsung menyebabkan kesakitan dan kematian ibu maupun bayi. Ibu hamil dengan resiko tinggi atau komplikasi diantaranya ditandai dengan keadaan HB kurang dari 8 gr %, tekanan darah tinggi, oedema yang nyata, eklamsia, perdarahan per vaginan, dan kehamilan ganda.

Berdasarkan jumlah ibu hamil di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 terdapat cakupan pelayanan ibu hamil dengan resiko tinggi atau komplikasi kebidanan sebanyak 296 orang dengan kata lain cakupan sebesar 100,0 % dari perkiraan ibu hamil dengan komplikasi kebidanan.

Semua ibu hamil dengan resiko tinggi atau komplikasi kebidanan yang ditemui telah ditangani dan mendapat perawatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih (100 %). Hal ini berarti cakupan ibu hamil dengan resiko tinggi yang ditangani sudah memenuhi target Standar Pelayanan Minimal sebesar 100 %.

Indikator kinerja Standar Pelayanan Minimal (SPM 2016) menetapkan target 100

% cakupan ibu hamil resiko tinggi yang ditangani, hal ini berarti Kabupaten Barito Selatan telah memenuhi target tersebut.

Bila dilihat berdasarkan puskesmas, maka Puskesmas Buntok merupakan puskesmas dengan penemuan kasus bumil risti terbanyak yang ditangani yaitu 128 bumil. (lampiran tabel 30).

6. Neonatal Risti yang Ditangani

Jumlah bayi (neonatus) di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 adalah 1.923 orang dan perkiraan Neonatal dengan komplikasi adalah 288 orang, sedangkan yang terdeteksi dengan resiko tinggi atau komplikasi adalah 76 orang (26,3 %). Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya sebesar 23,8 %, maka pada tahun 2018 mengalami kenaikan penanganan kasus neonatal resiko tinggi.

Semua neonatal dengan resiko tinggi atau komplikasi yang ditemui telah ditangani dan mendapat perawatan sesuai dengan standar oleh tenaga kesehatan terlatih (100 %).

Hal ini berarti cakupan neonatal dengan resiko tinggi yang ditangani sudah memenuhi target Standar Pelayanan Minimal sebesar 100 %.

(38)

30 Bila dilihat berdasarkan puskesmas, maka puskesmas yang paling banyak ditemukan kasus neonatal resiko tinggi atau komplikasi adalah Puskesmas Buntok dengan jumlah kasus 25 bayi (lampiran tabel 30).

7. Pemberian Kapsul Vitamin A Dosis Tinggi

Tujuan pemberian kapsul vitamin A pada balita adalah untuk menurunkan prevalensi dan mencegah kekurangan vitamin A pada balita. Kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi masalah kekurangan vitamin A (KVA) pada masyarakat apabila cakupan tinggi. Vitamin A penting untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan serta meningkatkan daya tahan tubuh.

Sasaran pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi adalah bayi (umur 6-11 bulan) diberikan kapsul vitamin A 100.000 SI, anak balita (umur 1-4 tahun) diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin yang cukup melalui ASI.

Pada tahun 2018 di Kabupaten Barito Selatan, jumlah sasaran bayi adalah 2.437 orang dan yang memperoleh vitamin A dosis tinggi sebanyak 1.955 orang (80,2%).

Jumlah anak balita adalah 10.628 orang dan yang memperoleh vitamin A sebanyak 7049 anak balita (66,3 %).

Bila dibandingkan dengan cakupan pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi balita pada tahun 2017 sebesar 102 %, maka pada tahun 2018 yang sebesar 68,9 % telah terjadi peningkatan cakupan. (lampiran tabel 41).

Gambar 4.5

Cakupan Vitamin A pada Balita menurut Puskesmas Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018

(39)

31

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

Berdasarkan gambar 4.5 diketahui bahwa Puskesmas yang cakupannya paling tinggi ialah Puskesmas Pendang 92 %.

8. Keluarga Berencana

Peserta Keluarga Berencana terbagi menjadi peserta KB Baru dan peserta KB Aktif. Berdasarkan laporan dari Bidang Pelayanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Selatan selama tahun 2018 sebagai berikut. Jumlah Pasangan Usia Subur sebesar 22.730 pasangan. Jumlah peserta KB Pasca Persalinan adalah 80 (2,7 % dari Jumlah Ibu Bersalin) sedangkan peserta KB Aktif adalah 17.066 (75,1 % dari PUS).

Bila dilihat berdasarkan puskesmas untuk peserta KB Aktif, Puskesmas Sababilah merupakan puskesmas tertinggi cakupannya yaitu sebesar 121 %, sebaliknya Puskesmas Pendang merupakan puskesmas terendah cakupannya yaitu hanya 38,9 %. Bila dibandingkan dengan target Standar Pelayanan Minimal (SPM 2016) yang cakupan peserta KB aktif sebesar 70 %, maka Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 cakupan 76,8 %, sudah memenuhi target tersebut.

Berdasarkan jenis kontrasepsi yang digunakan, Peserta KB Aktif dibedakan menjadi menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) yang jenisnya adalah IUD, MOP/MOW, implan dan Non Metode Konrasepsi Jangka Panjang (Non MKJP) yang jenisnya adalah suntik, pil, kondom, obat vagina, dan lainnya.

Di Kabupaten Barito Selatan, untuk Metode Kontrasepsi Jangka Panjang paling banyak menggunakan jenis implan (9,7 %). Sedangkan untuk Non Metode Kontrasepsi jangka Panjang paling banyak menggunakan jenis suntik (49,0 %). Untuk mengetahui distribusi jenis kontrasepsi untuk peserta KB Aktif dapat disimak pada Gambar 4.6 berikut.

Gambar 4.6

Persentase Peserta KB Aktif Berdasarkan Jenis Kontrasepsi Kabupaten Barito Selatan Tahun 2018

(40)

32

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

Berdasarkan gambar 4.6, diketahui bahwa jenis kontrasepsi yang terbanyak digunakan oleh peserta KB Aktif adalah Suntik yaitu sebanyak 8.368 orang (49,0 %), sebaliknya jenis kontrasepsi yang paling jarang digunakan adalah MOP dengan jumlah 15 orang (0,1 %). Untuk mengetahui distribusi penggunaan jenis kontrasepsi berdasarkan kecamatan dapat disimak pada lampiran tabel 28 dan 29.

9. Kunjungan Neonatal

Bayi hingga usia kurang dari satu bulan merupakan golongan umur yang paling rentan atau memiliki risiko gangguan kesehatan paling tinggi. Upaya kesehatan yang dilakukan untuk mengurangi risiko tersebut antara lain dengan melakukan persalinan yang ditolong oleh tenaga kesehatan dan pelayanan kepada neonatus (0-28 hari). Dalam pelayanan kesehatan neonatal, petugas selain melakukan pemeriksaan kesehatan bayi juga memberikan konseling perawatan bayi kepada ibu.

Jumlah bayi lahir hidup di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 adalah 1.923 orang. Jumlah kunjungan neonatal 1 kali (KN-1) adalah 1.783 orang atau Cakupan KN-1 sebesar 92,7 %. Sedangkan jumlah kunjungan neonatus lengkap adalah 1.748 orang atau cakupan KN lengkap sebesar 90,9 %.

Bila cakupan KN lengkap tahun 2018 dibandingkan dengan cakupan tahun 2017 sebesar 82,4 %, maka pada tahun 2018 mengalami kenaikan cakupan KN lengkap.

Apabila dibandingkan dengan target Kementerian Kesehatan sebesar 90 % untuk persentase bayi baru lahir yang mendapat kunjungan tenaga kesehatan, maka Kabupaten Barito Selatan sudah memenuhi target tersebut.

(41)

33 Sementara bila dilihat dari puskesmas, cakupan KN lengkap yang sudah mencapai target ialah Puskesmas Jenamas, Bangkuang, Kalahien, Baru, Pendang, Bantai Bambure dan Puskesmas Patas I (lampiran tabel 34).

10. Pelayanan Kesehatan Bayi

Pelayanan Kesehatan Bayi adalah pelayanan kesehatan sesuai standar oleh tenaga kesehatan (Dokter, Bidan, dan Perawat) minimal 4 kali dalam setahun, yaitu satu kali pada umur 29 hari 3 bulan, satu kali pada umur 3-6 bulan, satu kali pada umur 6-9 bulan, dan satu kali pada umur 9 – 11 bulan.

Pelayanan kesehatan yang diberikan meliputi pemberian imunisasi dasar (BCG, DPT/HB1-3, Polio 1-4, dan Campak), stimulasi deteksi intervensi dini tumbuh kembang (SDIDTK) bayi, dan penyuluhan perawatan kesehatan bayi. Indikator ini merupakan penilaian terhadap upaya peningkatan akses bayi memperoleh pelayanan kesehatan dasar, mengetahui sedini mungkin adanya kelainan atau penyakit, pemeliharaan kesehatan dan pencegahan penyakit serta peningkatan kualitas hidup bayi.

Berdasarkan hasil kompilasi data dari laporan puskesmas tahun 2018, Jumlah bayi sebanyak 1.923 orang. Sedangkan bayi mendapat pelayanan kesehatan (minimal 4 kali) sebanyak 1.873 orang atau cakupan pelayanan kesehatan bayi di Kabupaten Barito Selatan sebesar 97,4 %.

Cakupan pelayanan kesehatan bayi tahun 2018 Bila dibandingkan dengan target Indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM) sebesar 90 %, maka Kabupaten Barito Selatan sudah mencapai target tersebut.

Gambar 4.7

Cakupan Pelayanan Bayi menurut Puskesmas Tahun 2018

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

(42)

34 Berdasarkan gambar 4.7 di atas, dapat diketahui bahwa Puskesmas Babai memperoleh cakupan yang tertinggi yaitu diatas 100 %. Pencapaian target cakupan kunjungan bayi sangat dipengaruhi oleh keaktifan posyandu tiap bulannya, peran kader, dan partisipasi keluarga untuk membawa bayi ke posyandu, serta keaktifan tenaga puskesmas dalam membina posyandu.

11. Imunisasi

Bayi dan anak-anak memiliki risiko yang lebih tinggi terserang penyakit menular yang dapat mematikan, seperti : Dipteri, Tetanus, Hepatitis B, radang selaput otak, radang paru-paru, dan masih banyak penyakit lainnya. Untuk itu salah satu pencegahan yang terbaik dan sangat vital agar kelompok berisiko ini terlindung adalah melalui imunisasi.

Pencapaian Universal Child Immunization merupakan suatu gambaran terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut dapat digambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD3I.

Indikator yang digunakan untuk mengukur tingkat pencapaian program imunisasi adalah persentase desa yang mencapai UCI. Pada tahun 2018 dari 93 desa yang ada di Kabupaten Barito Selatan dilaporkan 77 desa telah mencapai UCI atau cakupan desa UCI 82,8 %.

Bila dibandingkan dengan pencapaian UCI tahun 2017 sebesar 86 %, maka pada tahun 2018 mengalami sedikit penurunan cakupan desa UCI. Namun bila dibandingkan dengan target Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang 100 % desa/kelurahan UCI, maka Kabupaten Barito Selatan masih belum mencapai target.

Bila dilihat berdasarkan puskesmas, maka ada 4 (empat) Puskesmas yang telah mencapai desa UCI 100 % yaitu Puskesmas Jenamas, Mengkatip, Bangkuang dan Puskesmas Babai,. Pelayanan imunisasi bayi mencakup vaksinasi BCG, DPT-HB (3 kali), Polio (4 kali), Hepatitis B ( 1 kali ) dan imunisasi Campak ( 1 kali ), yang dilaksanakan melalui pelayanan rutin di Posyandu dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya.

Jumlah bayi sasaran program imunisasi pada tahun 2018 adalah 1.923 orang.

Berdasarkan jumlah bayi diperoleh cakupan imunisasi BCG sebanyak 1.887 orang (98,1%), DPT-3+HB-3 sebanyak 1.825 orang (94,9 %), POLIO-4 sebanyak 1.843 orang

(43)

35 (95,8 %), dan CAMPAK sebanyak 1.969 orang (102,0 %) serta cakupan imunisasi lengkap sebanyak 1.853 (96,4 %).

Target Standar Pelayanan Minimal desa UCI sebesar 100 %, hal ini berarti Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 belum mencapai target tersebut.

Gambar 4.8

Cakupan Imunisasi Lengkap Pada Bayi Menurut Puskesmas Tahun 2018

Sumber Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, 2018

12. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu (D/S)

Cakupan penimbangan balita di posyandu (D/S) merupakan indikator yang berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi serta penanganan prevalensi gizi kurang pada balita.

Khusus untuk anak di bawah lima tahun (balita) yang merupakan anak pra sekolah perlu mendapat perhatian dari orang tua, karena sedang mengalami tumbuh kembang yang cepat. Orang tua perlu selalu mengamati pertumbuhannya, menimbang berat badannya secara teratur, memberi makanan yang bergizi dengan tidak membedakan anak laki-laki dan perempuan. Partisipasi orang tua membawa anaknya ke posyandu setiap bulan perlu didorong terus. Pada usia balita, pertumbuhan fisik merupakan suatu indikator keadaan gizi dan kesehatan seorang anak. Selain itu, keterlambatan pertumbuhan anak dapat merupakan indikasi keterlambatan perkembangan intelektual.

Penggunaan kartu menuju sehat (KMS) balita adalah untuk meningkatkan kewaspadaan dan pengetahuan keluarga terhadap status gizi dan kesehatan anaknya, serta menentukan tindakan perbaikan pengasuhan dan pemberian makan kepada anak balita.

(44)

36 Upaya pemantauan terhadap pertumbuhan balita dilakukan melalui kegiatan penimbangan di posyandu secara rutin tiap bulannya. Berdasarkan laporan hasil penimbangan bulanan balita di posyandu diketahui bahwa jumlah balita di bawah dua tahun yang dilaporkan di wilayah Kabupaten Barito Selatan tahun 2018 adalah 7.982 orang, dari jumlah tersebut, balita yang ditimbang berat badannya sebanyak 4.545 (56,1

%). Untuk mengetahui lebih rinci cakupan penimbangan balita dapat dilihat pada lampiran tabel 43.

Gambar 4.9 Cakupan Indikator D/S dan BGM Pada Balita Tahun 2015-2018

Berdasarkan gambar 4.9 diatas diketahui bahwa tingkat indikator partisipasi masyarakat (D/S) terhadap penimbangan balita terjadi sedikit kenaikan dari tahun sebelumnya.

13. Penjaringan Kesehatan Siswa SD Kelas I dan setingkat

Pelayanan kesehatan pada kelompok anak pra sekolah, usia sekolah dan remaja dilakukan dengan pelaksanaan pemantauan dini terhadap tumbuh kembang dan pemantauan kesehatan anak pra sekolah, pemeriksaan anak sekolah/ sederajat, serta pelayanan kesehatan remaja, baik yang dilakukan oleh tenaga kesehatan maupun peran serta tenaga terlatih lainnya seperti kader kesehatan, guru UKS, dan dokter kecil.

Berdasarkan hasil pengumpulan data dari puskesmas-puskesmas di Kabupaten Barito Selatan tahun 2018 menunjukkan jumlah siswa SD/MI kelas 1 sebanyak 2.537 orang. Sedangkan yang mendapat pelayanan/ penjaringan kesehatan sebanyak 2.417 orang atau cakupan pelayanan/penjaringan kesehatan murid kelas 1 SD/MI sebesar 95,3

Sumber Bidang Kesehatan Masyarakat, 2018

(45)

37

%. Bila dibandingkan dengan Target Nasioanal SPM Bidang Kesehatan yaitu 100 % maka Kabupaten Barito Selatan belum telah mencapai target. (Lampiran tabel 49).

14. Pelayanan Kesehatan Usia Lanjut

Untuk memantau keadaan kesehatan golongan usia lanjut dilakukan program pemeriksaan kesehatan usia lanjut dengan usia 60 tahun ke atas. Kegiatan dilakukan tidak hanya Puskesmas tapi juga di Posyandu Usila.

Jumlah sasaran usila di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 adalah 9.007 orang. Berdasarkan data dari Seksi Pelayanan Kesehatan Masyarakat, jumlah usila yang mendapat pelayanan dan pemeriksaan kesehatan sebanyak 7.692 orang atau cakupan pelayanan usila sebesar 85,4 %. Bila dibandingkan dengan cakupan usila tahun 2017 sebesar 94,8 %, maka pada tahun 2018 mengalami penurunan.

15. Desa Terkena KLB yang Ditangani <24 Jam

Jumlah desa di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 adalah 93 desa/kelurahan. Berdasarkan jumlah desa/kelurahan tersebut pada tahun 2018 tidak terdapat desa/ kelurahan yang terkena Kejadian Luar Biasa (KLB).

16. Kesehatan Gigi dan Mulut

Pelayanan kesehatan gigi dan mulut di puskesmas dilaksanakan secara rutin seperti pelayanan kesehatan lainnya. Jumlah tumpatan gigi tetap selama tahun 2018 adalah 1766 kasus, sedangkan jumlah pencabutan gigi tetap adalah 1366 kasus. Rasio tumpatan / pencabutan adalah 1,3 (lampiran tabel 46).

Selain itu, dilakukan juga pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada anak sekolah dasar /sederajat. Jumlah sekolah dasar/ madrasah Ibtidaiyyah di Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 adalah 196 Sekolah. Sedangkan jumlah sekolah dasar/madrasah ibtidaiyyah yang mendapat pelayanan gigi sebanyak 193 sekolah.

Sementara jumlah anak murid dari 196 sekolah dasar/madrasah ibtidaiyyah adalah 2.537 dan yang mendapat pemeriksaan gigi sebanyak 2.417 orang. (lampiran tabel 47).

17. Cakupan Jaminan Kesehatan

Kepesertaan Jaminan Kesehatan di Wilayah Kabupaten Barito Selatan pada tahun 2018 yaitu 144.739 orang. dari jumlah 144.739 tersebut ialah terdiri dari peserta

(46)

38 Jaminan Kesehatan Nasional PBI dan Non PBI dan untuk rincian data jumlah kepesertaan sudah terpilah dan dapat dilihat pada lampiran tabel 17.

B. AKSES DAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN 1. Pemanfaatan Sarana Kesehatan

Jumlah kunjungan rawat jalan baik di puskesmas, rumah sakit, Klinik swasta dan Praktek bersama atau Perorangan selama tahun 2018 sebanyak 94.486 kunjungan (70,2

% ), sedangkan jumlah kunjungan rawat inap di tempat yang sama sebanyak 8.979 (6,7

%). Bila dibandingkan dengan kunjungan rawat jalan tahun 2017 sebanyak 53.078 kunjungan, maka pada tahun 2018 terjadi kenaikan kunjungan rawat jalan.

2. Kepesertaan Jaminan Kesehatan

Jumlah Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional di wilayah Kabupaten Barito Selatan terdiri dari Penerima Bantuan Iuran (PBI) APBN dan APBD sebanyak 106.715 (79,3 %), sedangkan Non Penerima Bantuan Iuran (Non PBI) sebanyak APBD 38.024 (28,3 %), Untuk rincian PBI dan Non PBI dapat dilihat pada tabel Lampiran 17.

3. Rumah Sakit

Sampai tahun 2018 jumlah rumah sakit di Kabupaten Barito Selatan masih tetap 1 (satu) buah yaitu Rumah Sakit Jaraga Sasameh Buntok yang merupakan rumah sakit yang dikelola pemerintah daerah dengan jumlah tempat tidur yang aktif (difungsikan) sebanyak 123 buah, dengan kriteria kelas C dan sudah terakreditasi Paripurna pada tahun 2018.

Untuk mengetahui tingkat efisiensi pelayanan rumah sakit, diperlukan berbagai indikator. Selain itu agar informasi yang ada dapat bermakna harus ada nilai parameter yang akan dipakai sebagai nilai banding antara fakta dengan standar yang diinginkan.

Terdapat banyak sekali indikator yang dipakai untuk menilai suatu rumah sakit. Yang paling sering dipergunakan diantarannya adalah Bed Occupancy Rate (BOR), Average Length of Stay (ALOS), Bed Turn Over (BTO), dan Turn Over Interval (TOI). Nilai parameter untuk masing-masing indikator adalah BOR idealnya antara 60-85 %, ALOS idealnya antara 6-9 hari, BTO idealnya antara 40-50 kali, dan TOI idealnya antara 1-3 hari.

Gambar

Gambar  4.1  diatas  menunjukkan  cakupan  pelayanan  K-1  dan  K-4  menurut  puskesmas
Gambar 4.9 Cakupan Indikator D/S dan BGM Pada Balita Tahun 2015-2018
Gambar 5.1  Persentase Posyandu
Tabel 45 89 Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa Kelas 10

Referensi

Dokumen terkait

Kematian ibu pada saat hamil, bersalin maupun nifas dapat terjadi karena.. berbagai penyebab baik langsung maupun

Dilihat dari definisi tersebut diatas angka kematian Balita adalah jumlah kematian bayi dan anak balita dalam kurun waktu 1 tahun yang dinyatakan sebagai angka

Data dan informasi tentang derajat kesehatan untuk Tahun 2012 dinyatakan dalam angka kematian bayi, angka kematian balita, angka kematian ibu maternal dan angka

Adapun Upaya –upaya yang dilakukan untuk menurunkan angka kematian bayi di Kabupaten Klungkung meliputi: Audit kematian maternal dan perinatal, serta pembinaan/ bimtek PWS

Data dan informasi tentang derajat kesehatan untuk Tahun 2015 dinyatakan dalam angka kematian bayi, angka kematian balita, angka kematian ibu maternal dan

Pencapaian pembangunan kesehatan Kota Palembang selama tahun 2005 dapat diamati dengan memakai indikator yang berupa angka kematian, pola penyakit dan keadaan gizi masyarakat,

Proporsi penyakit yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan dan masa nifas sebagai penyebab kematian hampir sama untuk perkotaan maupun pedesaan, sedangkzn

xxvi LAMPIRAN 32 JUMLAH KEMATIAN NEONATAL, BAYI, DAN ANAK BALITA MENURUT PENYEBAB UTAMA DI INDONESIA TAHUN 2019 LAMPIRAN 33 BAYI BERAT BADAN LAHIR RENDAH BBLR MENURUT JENIS KELAMIN