56 BAB III SETTING LOKASI
3.1 Gambaran Umum Kabupaten Malang
Gambar 3.1 Lambang Kabupaten Malang
Kabupaten Malang ialah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Kabupaten Malang adalah kabupaten terluas kedua di Jawa Timur setelah Kabupaten Banyuwangi dan merupakan kabupaten dengan populasi terbesar di Jawa Timur. Kabupaten Malang juga merupakan kabupaten terluas ketiga di Pulau Jawa setelah Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Sukabumi di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten Malang ialah Kepanjen, kabupaten ini berbatasan langsung dengan Kota Malang tepat di tengah-tengahnya Kabupaten Jombang dan Kota Batu di utara Kabupaten Lumajang dan Kabupaten Probolinggo di timur, Samudra Hindia di selatan, serta Kabupaten Blitar dan Kabupaten Kediri di barat. Sebagian besar wilayahnya merupakan pegunungan yang berhawa sejuk, Kabupaten Malang dikenal sebagai salah satu daerah tujuan wisata utama di Jawa Timur. Bersama dengan Kota Batu dan Kota Malang, Kabupaten Malang merupakan bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya (Wilayah Metropolitan Malang) (RPIJM Kabupaten Malang 2011-2015).
57 3.1.1 Kondisi Geografi Kabupaten Malang
(1) Letak Geografis
Kabupaten Malang terletak pada wilayah dataran tinggi, dengan koordinat 112o 17’ 10,9” – 112o 57’ 0,0” Bujur Timur dan 7o 44” 55,11”
– 8o26’ 35,45” Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Malang adalah 334. 787 Ha, terdiri dari 33 Kecamatan yang tersebar pada wilayah perkotaan dan perdesaan. Kabupaten Malang terletak antara 0 – 2000 m dpl. Wilayah datar sebagian besar terletak di Kecamatan Bululawang, Gondanglegi, Tajinan, Turen, Kepanjen, Pagelaran dan Pakisaji, serta sebagian Kecamatan Singosari, Lawang, Karangploso, Dau, Pakis, Dampit, Sumber Pucung dan lainnya. Wilayah bergelombang terletak di Kecamatan Pujon, Ngantang, Kasembon, Poncokusumo, Jabung, Wajak, Ampelgading dan Tirtoyudo, sedangkan secara administrasi batas-batas wilayah Kabupaten Malang adalah sebagai berikut:
Sebelah utara :Kabupaten Jombang, Mojokerto dan Pasuruan
Sebelah timur : Kabupaten Probolinggo dan Lumajang Sebelah selatan : Samudra Indonesia
Sebelah barat : Kabupaten Blitar dan Kediri
58 (2) Kondisi Topografis
Gambar 3.2 Orientasi wilayah & batas administrasi Kabupaten Malang
Sumber: RPIJM Kabupaten Malang 2011-2015
Kabupaten Malang berada di daerah pegunungan yang kondisi topografinya dipengaruhi oleh Pegunungan Tengger yang berada sebelah Timur, Gunung Kawi dan Kelud disebelah Barat serta Gunung Arjuna dan Welirang di bagian utara. Bagian wilayah kabupaten yang berada pada wilayah pinggiran, topografinya dipengaruhi oleh pegunungan.
59 Keadaan topografi tersebut dapat digambarkan melalui kelerangan beberapa wilayah, diantaranya adalah:
1. Kecamatan Tajinan, Turen, Bululawang, Gondanglegi, Pakisaji, Kepanjen dan Pagelaran dengan luas 52.607,78 Ha (15,71 %) dari luas Kabupaten Malang seluruhnya, merupakan wilayah yang memiliki kelerengan 0-2 %.
2. Kecamatan Lawang, Singosari, Dau, Karangploso, Pakis, Sumberpucung, Kromengan, Dampit, Pagak, Bantur, Ngajum, Gedangan, Kalipare dan Donomulyo dengan luas 119.030,80 Ha atau 35,56 % dari luas Kabupaten Malang seluruhnya, merupakan wilayah dengan kemiringan 2-15 %.
3. Kecamatan Wagir, Sumbermanjing Wetan dan Wonosari, dengan luas 73.110,72 Ha atau 21,84 % dari seluruh luas Kabupaten Malang, memiliki kelerengan antara 15-40 %.
4. Kecamatan-kecamatan pada kelerengan >40 % meliputi Kecamatan Pujon, Ngantang, Tirtoyudo, Wajak, Ampelgading, Kasembon, Poncokusumo dan Jabung. Daerah yang memiliki kelerengan ini adalah daerah yang harus dihutankan karena memiliki fungsi sebagai perlindungan terhadap tanah dan air dan menjaga ekosistem lingkungan hidup. Daerah dengan kelerengan diatas 40 % di Kabupaten Malang meliputi area seluas 90.037,70 Ha atau 26,89 % dari seluruh luas Kabupaten Malang.
Ditinjau dari ketinggian, wilayah Kabupaten Malang terletak antara 0-2000 meter di atas permukaan laut untuk menunjukkan keadaan
60 yang bervariasi yaitu kondisi pegunungan. Wilayah bergelombang terletak di wilayah Sumbermanjing Wetan, Wahir dan Wonosari. Daerah yang terjal atau perbukitan sebagian besar terletak di Kecamatan Pujon, Ngantang, Tirtoyudo, Wajak, Ampelgading, Kasembon, Poncokusumo dan Jabung. Sedangkan wilayah yang datar sebagian terletak di Kecamatan Turen, Bululawang, Kepanjen, Gondanglegi, Tajinan, Pagelaran dan Pakisaji serta sebagian Kecamatan Singosari, Lawing, Karangploso, Dau, Pakis, Dampit, Sumberpucung, Kromengan, Ngajum, Gedangan Pagak, Kalipare, Donomulyo dan Bantur. Untuk lebih jelasnya tentang kondisi topografi dapat dilihat pada gambar dibawah ini (Sumber: RPIJM Kabupaten Malang 2011-2015).
(3) Kondisi Geologis
Gambar 3.3 Luas daerah berdasarkan struktur geologi Kabupaten Malang
Sumber: RPIJM Kabupaten Malang 2011-2015
Ditinjau dari keadaan geologinya, sebagian besar wilayah Kabupaten Malang terbentuk dari hasil gunung kwarter muda yang meliputi areal seluas 44,25 % atau 148. 152,52 Ha dari seluruh luas
61 Kabupaten Malang, sedangkan sebagian kecil merupakan miosen facies baru gamping dengan luas 90.884,00 Ha atau 27,15 5 dari luas kabupaten malang seluruhnya.
(4) Jenis Tanah
Gambar 3.4 Kabupaten Malang berdasarkan luas tanah &
sifatnya
Sumber: RPIJM Kabupaten Malang 2011-2015
Jenis tanah di Kabupaten Malang terdiri dari jenis tanah alluvial, regosol, brown forest, andosol latosol, mediteran dan litosol. Jenis tanah ini tidak seluruhnya tersebar di kecamatan-kecamatan yang ada di Kabupaten Malang. Luas daerah yang termasuk jenis tanah latosol memiliki luas sebesar 86.260,36 Ha atau 25,77 % dari seluruh luas wilayah Kabupaten Malang. Mediteran mempunyai luas sebesar 55.811,30 Ha atau 16,67 %, litosol seluas 69.133,25 Ha atau 20,65 % dan alluvial 28.003,25 Ha atau 8,36 % dari seluruh luas Kabupaten Malang.
Brown forest memiliki luas 6.142,25 Ha atau 1,83 % dari seluruh luas
62 Kabupaten Malang. Sedangkan jenis tanah regosol memiliki luas 45.654,17 Ha atau 13,54 % dari seluruh luas Kabupaten Malang dan andosol adalah 43.782,42 Ha atau 13,08 % dari seluruh luas Kabupaten Malang.
(5) Pola Penggunaan Tanah
Kabupaten Malang memiliki luas wilayah sekitar 291.044 Ha, dengan penggunaan lahan kebun sebagai lahan paling dominan (luasan paling besar) mencapai 102.219 Ha, yang tersebar di seluruh wilayah Kabupaten Malang. Penggunaan tanah yang memiliki luasan terbesar kedua adalah kawasan hutan (82.239 Ha). Kawasan hutan ini terdapat di wilayah pinggiran Kabupaten Malang yang berbatasan langsung dengan wilayah kabupaten lain dan samudera Indonesia. Penggunaan tanah berupa sawah hanya terdapat pada wilayah yang memiliki cukup air dan terdapat di seluruh kecamatan tetapi dalam presentase luasan yang berbeda.
(6) Kondisi Hidrologis
Di Kabupaten Malang yang dilalui oleh beberapa sungai besar dan anak sungai yang ada sebagaian dari kali konto dan kali brantas, sungai- sungai tersebut ada beberapa yang masuk di waduk-waduk Karangkates dan Selorejo, ada juga yang masuk samudra Indonesia dan laut jawa.
Berdasarkan data yang ada di Kabupaten Malang terdapat 588 mata air dengan debit 1 sampai 200 liter/detik, debit tertinggi terdapat di Wendit
63 Kecamatan Pakis (1.100 liter/detik). Sedangkan kecamatan yang memiliki debit air lebih dari 200 liter/detik adalah mata air yang berada di Tumpang, Pakis, Singosari, Gondanglegi, Sumberpucung, Ngajum, Wahir, Ampelgading dan Dampit.
(7) Kondisi Klimatologis
Kabupaten Malang memiliki iklim tropis dengan suhu antara 18,25oc sampai dengan 31,45 oc (suhu rata-rata dari empat stasiun pengamat cuaca antara 23oc sampai 25 oc). Tekanan udara paling tinggi dari empat stasiun pengamat cuaca terjadi di singosari 1.012,70 dan yang lain masih di bawah angak tersebut. Kelemahan udara yang diteliti lewat ke empat stasiun, stasiun Lawang 2.423 adalah menunjukkan angka tertinggi 84 % dan rata-rata kecepatan angin di empat stasiun pengamat antara 1,8 sampai dengan 4,7 km/jam. Untuk curah hujan di Kabupaten Malang rata-rata pertahunnya 1.596 mm dengan hari hujan 84,85 pertahun, curah hujan turun antara bulan April-Oktober.
(8) Pembagian Wilayah Administratif
Kabupaten Malang terletak pada wilayah dataran tinggi, dengan koordinat 112o 17’ 10,9”-112o 57’ 0,0” Bujur Timur dan 7o 44” 55,11”- 8o26’35,45” Lintang Selatan. Luas wilayah Kabupaten Malang adalah 334.787 Ha, terdiri dari 33 kecamatan yang tersebar pada wilayah perkotaan dan perdesaan.
64 3.1.2 Kondisi Demografi
Jumlah penduduk pada Kabupaten Malang pada tahun 2008 yaitu sebesar 2.460.288 jiwa dengan kepadatan penduduk sebesar 7 jiwa/Ha.
Wilayah dengan jumlah penduduk tertinggi yaitu pada Kecamatan Pakis yaitu sebesar 202.253 jiwa, sedangkan wilayah dengan jumlah paling sedikit terdapat pada wilayah Kecamatan Kasembon 30.088 jiwa.
Sedangkan wilayah dengan kepadatan penduduk tertinggi terdapat pada Kecamatan Kepanjen sebanyak 23 jiwa/Ha dan wilayah kecamatan dengan kepadatan penduduk terendah terdapat di wilayah Kecamatan Gedangan yaitu 3 jiwa/Ha.
(1) Agama
(2) Mata pencaharian (3) Pendidikan (4) Jumlah pendatang
3.1.3 Struktur Penduduk (1) Jenis Kelamin
Struktur penduduk Kabupaten Malang berdasarkan jenis kelamin yaitu diketahui jumlah penduduk dengan jenis kelamin laki-laki yaitu sebanyak 1.157.865 jiwa dan jumlah penduduk dengan jenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 1.302.363 jiwa, untuk lebih jelasnya jumlah penduduk berdasarkan jenis kelamin yang terdapat di Kabupaten Malang pada tiap kecamatan dilihat pada tabel berikut.
(2) Kelompok Umur
65 Jumlah penduduk menurut kelompok umur di Kabupaten Malang terbagi 2 yaitu kelompok pendidikan (0->19 tahun) dan kelompok tenaga kerja (20->45 tahun), dimana penduduk tertinggi yang terdapat pada kelompok kerja pada usia >45 tahun sejumlah 176.640 jiwa.
3.2 Sejarah Kabupaten Malang
Ketika kerajaan Singhasari di bawah kepemimpinan Akuwu Tunggul Ametung yang beristrikan Ken Dedes, kerajaan itu di bawah kekuasaan kerajaan Kediri. Pusat pemerintahan Singhasari saat itu berada di Tumapel.
Baru setelah muncul Ken Arok yang kemudian menghilangkan Tunggul Ametung dengan cara membunuhnya dan menikahi Ken Dedes yang cantik jelita, pusat kerajaan berpindah ke Malang, setelah berhasil mengalahkan kerajaan Kediri, dan saat jatuh ke tangan Singhasari statusnya menjadi Kadipaten. Sementara Ken Arok mengangkat dirinya sebagai raja bergelar Sri Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi (1222-1227).
Kerajaan mengalami jatuh bangun. Semasa kejayaan Mataram, kerajaan- kerajaan yang ada di Malang jatuh ke tangan Mataram seperti hal nya kerajaan Majapahit. Sementara pemerintahan pun berpindah ke Demak disertai masuknya Islam yang di bawah oleh Wali Songo. Malang saat itu berada di bawah pemerintahan Adipati Ronggo Tohjiwo dan hanya berstatus Kadipaten.
Pada masa-masa keruntuhan itu, menurut Folklore, muncul pahlawan legendaris Raden Panji Pulongjiwo, ia tertangkap prajurit Mataram di Desa Panggungrejo yang kini disebut Kepanjen (ke panji-an). Hancurnya Kota Malang saat itu dikenal sebagai Malang kuto bedhah.
66 Bukti-bukti lain yang hingga saat ini merupakan saksi bisu adalah nama- nama desa seperti Kanjeron, Balandit, Turen, Polowijen, Ketindan, Ngantang dan Mandaraka. Peninggalan sejarah berupa candi-candi merupakan bukti konkrit seperti:
(1) Candi Kidal di Desa Kidal Kecamatan Tumpang yang dikenal sebagai tempat penyimpanan jenazah Anusapati.
(2) Candi Singhasari di Kecamatan Singosari sebagai penyimpanan abu jenazah Kartanegara.
(3) Candi Jago/Jajaghu di Kecamatan Tumpang merupakan tempat penyimpanan abu jenazah Wisnuwardhana.
Pada zaman VOC, Malang merupakan tempat strategis sebagai basis perlawanan seperti halnya perlawanan Trunojoyo (1674-1680) terhadap Mataraman yang dibantu VOC. Menurut kisah, Trunojoyo tertangkap di Ngantang. Awal abad XIX ketika pemerintahan dipimpin oleh Gubenur Jenderal, Malang seperti halnya daerah-daerah di nusantara lainnya, dipimpin oleh Bupati.
Bupati Malang I adalah Raden Temenggung Notodiningrat I yang diangkat oleh pemerintah Hindia Belanda berdasarkan resolusi Gubenur Jenderal 9 Mei 1820 Nomor 8 Tahun 1819 Nomor 16. Kabupaten Malang merupakan wilayah yang strategis pada masa pemerintahan kerajaan-kerajaan.
Bukti lain yaitu, beberapa prasasti yang ditemukan menunjukkan daerah ini telah ada sejak abad VIII dalam bentuk kerajaan Singhasari dan beberapa
67 kerajaan kecil lainnya seperti kerajaan Kanjuruhan seperti yang tertulis dalam Prasasti Dinoyo.
Prasasti itu menyebutkan peresmian tempat suci pada hari Jumat Legi Tanggal 1 Margasirsa 682 Saka, yang jika diperhitungkan berdasarkan kalender kabisat jatuh pada tanggal 28 November 1760. Tanggal inilah yang dijadikan patokan hari jadi Kabupaten Malang. Sejak tahun 1984 di Pendopo Kabupaten Malang ditampilkan upacara Kerajaan Kanjuruhan, lengkap berpakaian adat zaman itu, sedangkan para hadirin dianjurkan berpakaian khas daerah Malang sebagaimana ditetapkan (Sumber: Situsbudaya.id).
3.3 Makna Lambang Kabupaten Malang
Adapun makna gambar dalam lambang Kabupaten Malang yaitu sebagai berikut:
(1) Jiwa nasionalis bangsa Indonesia yang suci dan berani, dimana segala usaha ditujukan untuk kepentingan nasional berlandaskan falsafah pancasila dilukiskan dengan perisai segi lima dengan garis tepi tebal berwarna merah putih.
(2) Kubah dengan garis tepi atapnya berwarna kuning emas dan warna dasar hijau mencerminkan papan atau tempat bernaung bagi kehidupan rohani dan jasmine diruang lingkup daerah Kabupaten Malang yang subur dan makmur.
(3) Bintang bersudut lima berwarna kuning emas, mencerminkan ketuhanan yang maha esa berdasarkan falsafah pancasila yang luhur dan agung.
68 (4) Untaian padi berwarna kuning emas, daun kapas berwarna hijau serta bunga kapas berwarna putih mencerminkan tujuan masyarakat adil dan makmur.
(5) Daun kapas berjumlah tujuh belas, bunga kapas berjumlah delapan, gelombang laut berjumlah empat puluh lima mencerminkan semangat perjuangan proklamasi 17 agustus 1945.
(6) Rantai berwarna kuning emas mencerminkan persatuan dan keadilan, gunung berapi berwarna hijau mencerminkan potensi alam daerah Kabupaten Malang sedangkan asap berwarna putih mengartikan semangat yang tak pernah kunjung padam.
(7) Laut mencerminkan kekayaan alam yang ada di daerah Kabupaten Malang sedangkan warna biru tua mencerminkan cita-cita yang abadi dan tak pernah padam.
(8) Keris yang berwarna hitam dan putih mengartikan jiwa kepahlawanan dan kemegahan sejarah daerah Kabupaten Malang.
(9) Buku terbuka berwarna putih mencerminkan tujuan meningkatkan kecerdasan rakyat untuk kemajuan.
(10) Sesanti satata gama karta raharja mencerminkan masyarakat adil dan makmur materiil dan spiritual disertai dasar kesucian yang langgeng (abadi) (Shofyan K, 2012).
3.4 Industri Kabupaten Malang
Jasa industri adalah kegiatan industri yang melayani pihak lain. Pada kegiatan ini bahan baku disediakan oleh pihak lain sedangkan pihak pengolah
69 hanya melakukan pengelolahannya dengan mendapat imbalan sejumlah uang atau barang sebagai bentuk balas jasa (upah makloon), misalnya perusahaan penggilingan padi yang melakuka kegiatan menggiling padi/ gabah petani dengan balas jasa tertentu.
Perusahaan atau usaha industri adalah suatu unit (kesatuan) usaha yang melakukan kegiatan ekonomi, bertujuan mneghasilkan barang atau jasa, terletak pada suatu bangunan atau lokasi tertentu dan mempunyai catatan administrasi tersendiri mengenai produksi dan struktur biaya serta terdapat orang atau lebih yang bertanggung jawab atas usaha tersebut.
Perusahaan industri pengolahan dibagi menjadi 4 golongan yaitu:
1. Industri besar (banyaknya tenaga kerja 100 orang atau lebih) 2. Industri sedang (banyaknya tenaga kerja 20-99 orang) 3. Industri kecil (banyaknya tenaga kerja 5-19 orang)
4. Industri rumah tangga (banyaknya tenaga kerja 1-4 orang)
Penggolongan perusahaan industri pengolahan ini semata-mata hanya didasarkan kepada banyaknya tenaga kerja yang bekerja, tanpa memperhatikan apakah perusahaan itu menggunakan mesin tenaga atau tidak, dan juga tanpa memperhatikan besarnya modal perusahaan tersebut (Badan Pusat Statistik).
Klasifikasi industri yang digunakan dalm survey pengolahan adalah klasifikasi yang berdasar kepada international standard industrial classification of all economic activities (ISIC) revisi 4, yang telah disesuaikan dengan kondisi di Indonesia dengan nama klasifikasi baku lapangan usaha Indonesia (KBLI) tahun 2009.
Kode baku lapangan usaha suatu perusahaan industri ditentukan berdasarkan produksi utamanya, yaitu jenis komoditi yang dihasilkan dengan nilai
70 paling besar. Apabila suatu perusahaan industri menghasilkan 2 jenis komoditi atau lebih dengan nilai yang sama maka produksi utama adalah komoditi yang dihasilkan dengan kuantitas terbesar.
Gambar 3.5. Jumlah perusahaan dan tenaga kerja menurut klasifikasi industri di kabupaten malang, 2015 dan 2018
3.5 Pariwisata Kabupaten Malang
Gambar 3.6 Jumlah wisatawan mancanegara dan domestik yang datang ke Kabupaten Malang tahun 2016-2018
71 Sumber: Kabupaten Malang satu data
Gambar 3.7 Jumlah wisatawan domestic dan manca Negara yang menginap di hotel di Kabupaten Malang
tahun 2016-2018
Sumber: Kabupaten Malang satu data
Gambar 3.8 Banyaknya pengunjung objek wisata di Kabupaten Malang 2016-2018
Sumber: Kabupaten Malang satu data
Wisatawan adalah seseorang atau sekelompok orang yang melakukan suatu perjalanan wisata. Jika lama tinggal sekurang-kurangnya 24 jam di daerah atau Negara yang dikunjungi. Wisatawan domestik (wisnus) adalah
72 wisatawan yang berasal dari dalam negeri/lokal. Wisatawan mancanegara (wisman) ialah setiap pengunjung yang mengunjungi suatu Negara di luar tempat tinggalnya, didorong oleh satu atau beberapa keperluan tanpa bermaksud memperoleh penghasilan di tempat yang dikunjungi dan lamanya kunjungan tersebut tidak lebih dari satu tahun (12 bulan).
Usaha penyediaan akomodasi adalah usaha yang menyediakan pelayanan penginapan yang dapat dilengkapi dengan pelayanan pariwisata lainnya. Usaha penyediaan pelayanan akomodasi dapat berupa hotel, villa, pondok wisata, bumi perkemahan, persinggahan caravan, dan akomodasi lainnya yang digunakan untuk tujuan pariwisata.
3.6 Tenaga Kerja Kabupaten Malang
Gambar 3.9 Jumlah tenaga kerja di luar negeri tahun 2018
Sumber: Kabupaten Malang satu data
73 Gambar 3.10 Jumlah pencari kerja yang terdaftar menurut jenis
kelamin di Kabupaten Malang
Sumber: Kabupaten Malang satu data
Gambar 3.11 Jumlah lowongan kerja yang terdaftar menurut jenis pendidikan di Kabupaten Malang tahun 2018
Sumber: Kabupaten Malang satu data
74 Gambar 3.12 Lowongan kerja yang terdaftar, dipenuhi, dihapuskan dirinci menurut jenis pendidikan di Kabupaten Malang
Sumber: Kabupaten Malang satu data Gambar 3.13 Penempatan tenaga kerja
Sumber: Kabupaten Malang satu data
75 Gambar 3.14 Penempatan pencari kerja menurut jenis antar kerja
penerima tenaga kerja, tingkat pendidikan pencari kerja dan jenis kelamin di Kabupaten Malang
Sumber: Kabupaten Malang satu data
Jumlah tenaga kerja di luar negeri di Kabupaten Malang tahun 2018 dengan Negara tujuan yaitu Hongkong, Singapura, Malaysia, Taiwan, Saudi Arabia dan Brunei Darussalam. Tenaga kerja yang berasal dari Kabupaten Malang dengan Negara tujuan Hongkong tercatat 2.166 orang, tenaga kerja dengan Negara tujuan Singapura 209 orang, tenaga kerja dengan Negara tujuan Malaysia 73 orang, tenaga kerja dengan tujuan Negara Taiwan 833, tenaga kerja dengan Negara tujuan Saudi Arabia 0 orang dan tenaga kerja dengan Negara tujuan Brunai Darussalam 6 orang. Hongkong adalah Negara tujuan favorit tenaga kerja asal Kabupaten Malang.
Banyak jumlah pencari kerja yang terdaftar menurut tingkat pendidikan yang ditamatkan dan jenis kelamin di Kabupaten Malang tahun 2018 menurut dinas tenaga kerja Kabupaten Malang adalah 51.572 orang dengan 33.489 laki- laki dan 18.183 perempuan dengan rincian yang tidak tamat SD 4 orang yang terdiri dari perempuan, tamat SD 729 orang dengan 503 laki-laki dan 226
76 perempuan, tamat SMP 4.291 orang dengan 1.474 laki-laki dan 2817 perempuan, tamat SMA 28.726 orang dengan 21.599 laki-laki dan 7.127 perempuan, tamat diploma 4.650 orang dengan 1.816 laki-laki dan 2.834 perempuan, dan sarjana 13.272 orang dengan 8.097 laki-laki dan 5.175 perempuan.
Banyaknya penempatan tenaga kerja yang terdaftar pada tenaga kerja di Kabupaten Malang pada tahun 2016 dengan jumlah 4.206 dengan program antar kerja lokal (AKL) sebanyak 53, antar kerja daerah (AKAD) sebanyak 5 dan antar kerja antar Negara (AKAN) sebanyak 2.132. Pada tahun 2017 dengan jumlah 2.853 dengan program antar kerja lokal (AKL) sebanyak 2.811. pada tahun 2018 dengan jumlah 4.056 dengan program antar kerja lokal (AKL) sebanyak 336, antar kerja daerah (AKAD) sebanyak 214 dan antar kerja antar Negara (AKAN) sebanyak 3.506.
3.7 Kondisi Lapangan di Wisata Agro Wonosari
Wisata agro adalah salah satu jenis wisata yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai obyek wisata dan memadukan antara kegiatan pertanian dan kegiatan wisata. Wisata agro bukan semata merupakan usaha yang menjual jasa bagi pemenuhan kebutuhan konsumen akan pemandangan yang indah dan udara yang segar, namun juga dapat berperan sebagai media promosi produk pertanian, menjadi media pendidikan bagi masyarakat (mulai dari pendidikan tentang kegiatan usaha di bidang pertanian sampai kepada pendidikan tentang keharmonisan dan kelestarian alam) (Oktaviani dan Suryana, 2006).
77 Salah satunya yang berada di Bodean Putuk, Toyomarto Kabupaten Malang Jawa Timur yaitu Wisata Agro Wonosari yang mana tempat tersebut merupakan wisata agro yang memiliki berbagai fasilitas. Fasilitas utamanya adalah wisata edukasi dan berbagai fasilitas yang mendukung disertai dengan pesona pemandangan perkebunan teh yang luasnya 1. 144. 32 Ha.
Pengembangan kegiatan pariwisata secara umum bertumpu pada keunikan, kekhasan serta daya tarik wisata alam yang dimiliki. Oleh karena itu, untuk menjaga kelangsungan kegiatan pariwisata perlu adanya pengelolaan dan pelestarian potensi wisata tersebut. Pengelolaan dilaksanakan melalui perencanaan, penyelenggaraan dan pelestarian yang bertujuan untuk memajukan kehidupan masyarakat sekitar serta meningkatkan perekonomian (Novitasari, 2016).
Tenaga kerja yang ada di PT Perkebunan Nusantara XII Persero Malang terdiri dari kalangan masyarakat Desa Toyomarto dan juga pendudukan dari daerah disekitarnya dan dikelompokkan dalam berbagai golongan diantaranya golongan IIIA-IVD termasuk dalam karyawan pimpinan, golongan IB-IID termasuk dalam karyawan pelaksanaan dan golongan IA terdiri dari karyawan pelaksana juga. Perbedaan golongan berdasarkan pada lamanya waktu pengabdian mereka dan perbedaan upah yang dihasilkan para pekerja berdasarkan golongan yang didudukinya. Tenaga kerjanya terdiri dari dua bagian yaitu tenaga kerja tetap dan tenaga kerja lepas atau musiman, tenaga kerja yang mengelolah Wisata Agro Wonosari termasuk tenaga kerja tetap karena di bawah komando RUPS dan di bawah binaan manajer kebun,
78 kemudian manajer kebun mengomando asisten wisata agro (Imama & Prawata, 2014.
Wisata Agro Wonosari memiliki empat bidang yaitu (1) front office (2) house keeping (3) pemelihara taman, dan (4) food and beverage. Kemudian jumlah seluruhnya 78 pegawai yang terdiri dari 43 pegawai laki-laki dan 35 pegawai perempuan. Di sini dapat dilihat bahwa pegawai laki-laki lebih mendominasi dibanding pegawai perempuan kemudian didukung dari bidang yang dipegang oleh pegawai perempuan yakni kebanyakan hanya di bidang food & beverage, juru masak, restoran dan tukang laundry. Sehingga muncul pertanyaan mengapa pegawai perempuan kurang dilibatkan di bidang petugas tiket, pemelihara bangunan dan pemelihara kolam renang kemudian peneliti akan menggali data mengenai apa saja yang bisa diakses, dikontrol oleh perempuan atau tidak dan siapa yang berhak dalam mengambil keputusan.
Kontribusi perempuan dalam pengembangan industri pariwisata sangat penting karena perempuan memiliki fungsi yang sama dengan rumah tangga dengan memiliki sebutan “ibu rumah tangga”. Terlepas dari kontribusinya dalam industri pariwisata, umumnya perempuan adalah sumberdaya manusia yang masih diabaikan dalam program pembangunan. Kondisi ketertinggalan perempuan dapat menggambarkan dengan adanya ketidakadilan dan ketidaksetaraan antara laki-laki dan perempuan (Yuwono, 2013). Apabila terdapat salah satu pihak yang dirugikan atau salah satu jenis gender lebih baik keadaan, posisi dan kedudukannya sehingga mengalami ketidakadilan maka hal tersebut dapat disebut sebagai gender bias.
79 Menurut peneliti, Gender bias ditetapkan sebagai masalah dalam penelitian ini karena kondisi lapangan di Wisata Agro Wonosari tidak sesuai dengan undang-undang pengarusutamaan gender dalam proses pengelolaannya ialah Intruksi Presiden (Inpres) nomor 9 tahun 2000 tentang pengarusutamaan gender dalam pembangunan nasional republic Indonesia.
3.8 Gambaran Umum Kecamatan Singosari
Kecamatan Singosari terletak di Kabupaten Malang yang berada tepatnya di sebelah utara Kota Malang, daerah yang menjadi poros lalu lintas Surabaya- Malang. Berdasarkan laman resminya, profil Kecamatan Singosari, memiliki luas wilayah 118,51 km2 (3,98% luas wilayah Kabupaten Malang). Kecamatan ini berada pada ketinggian 487 meter (DPL) diatas permukaan laut dengan suhu rerata antara 22 derajat Celsius hingga 32° Celsius, curah hujannya rata-rata mencapai 349 mm per tahun.
Batas wilayah utara : Kecamatan Lawang dan Kabupaten Pasuruan Batas wilayah timur : Kecamatan Jabung
Batas wilayah selatan : Kota Malang dan Kecamatan Pakis Batas wilayah barat : Kecamatan Karangploso
Penduduk 156.338 jiwa, dengan komposisi: 77.841 (49,79 %) laki - laki dan 78.497 (50,21 %) perempuan. Kepadatan 1.365 jiwa/km2. Pemeluk Agama Islam: 152.536, Katolik: 2.014, Kristen 1.455, Hindu: 522, Budha: 215.
Sedangkan tempat ibadat, 85 mesjid, 419 langgar, 6 gereja Kristen, 2 gereja Katolik, dan 1 Pura (Rifai, 2014: 39).
80 Bidang usaha per rumah tangga, antara lain, jasa: 12.126 orang, pertanian: 9.290 orang, industri pengolahan: 6.293 orang, karyawan bidang usaha dan pemerintahan : 5.719 orang, konstruksi: 3.805 orang, perdagangan:
1.920 orang, dan penggalian: 337 orang. Singosari juga dikenal dengan sebutan
“kota santri” karena banyaknya pondok pesantren yang berada dan berkembang di sekitar wilayah singosari.
Di bidang industri kecamatan Singosari terdapat beberapa wilayah industri besar dan menengah di kawasan Ardimulyo, Desa Toyomarto dan Desa Randuagung maka dengan adanya sentra industri tersebut banyak masyarakat Singosari yang bekerja di industri industri dengan pola penyerapan tenaga kerja secara padat karya wilayah tersebut adalah Desa Tunjungtirto, Desa Banjararum, Desa watugede, desa industri yang tersebar di wilayah sebagaimana tersebut diatas, antara lain: Perseroan Terbatas (PT) Bentoel, Perseroan Terbatas (PT) Perkebunan Nusantara XII, Perseroan Terbatas (PT) Kencana Tiara Gemilang, Perseroan Terbatas (PT) Beiersdorf Indonesia, Perseroan Terbatas (PT) Morodadi Prima, Perseroan Terbatas (PT) Phillip Morris dan lain-lain (Rifai, 2014: 39).
3.9 Gambaran Umum Desa Toyomarto
Desa toyomarto merupakan salah satu desa yang termasuk dalam wilayah kecamatan singosari kabupaten malang dengan luas wilayah kuarang lebih 905 Ha. Letak geografi desa toyomarto ini berada di lereng kemudian letak desa toyomarto dengan ibukota kecamatan terdekat adalah 5 km sedangkan jarak dengan ibkota kabupaten atau kota adalah 40 km. batas wilayah utara: desa ketindan kecamatan lawing, batas wilayah slatan: desa gunung rejo kecamatan
81 singosari, batas wilayah barat: hutan kecamatan singosari, batas wilayah timur:
desa ardimulyo dan candi renggo kecamatan singosari (Kurniawan, 2017).
Potensi sumber daya alam di desa toyomarto digunakan masyarakat sebagai mata pencaharian. Kondisi tanah yang subur sehingga potensi sumber daya alam yang dapat digali ialah dari sektor pertanian dan perkebunan.
Mengenai potensi sumber day alam desa toyomarto, data menunjukkan bahwa potensi terbesar yang dikembangkan adalah pertanian sebesar 80% dan sektor perkebunan 20% (Buwono Dkk, 2017: 29).
3.10 Sejarah PTPN XII Wisata Agro Wonosari
Perkebunan teh yang pertama kali di Indonesia bukanlah perkebunan yang diusahakan oleh bangsa Indonesia melainkan dikenalkan oleh pemerintah Kolonial Belanda. Upaya bangsa Indonesia untuk mengadopsi dan mengembangkan tanaman perkebunan ini, ternyata memerlukan waktu yang cukup lama. Berbagai bentuk dan corak yang mewarnai perkebunan- perkebunan di Indonesia saat ini masih menampakkan kondisi masa lampau.
Hal ini dapat dilihat dimana masyarakat perkebunan seolah-olah menjadi masyarakat yang sudah terpola pada kondisi dan lingkungan yang mencirikan aspek sosial budaya dan ekonomi disekitar daerah perkebunan (Imama H,N &
Parwata, 2014:13).
Perkembangan lebih lanjut adalah penyebaran tanaman teh di Jawa. Pada permulaan abad ke 19 mulai ada titik terang dalam pengenalan tanaman teh sebagai tanaman perkebunan. seorang ahli bedah dari Jerman diperintahkan oleh Pemerintah Hindia Belanda untuk mengirim beberapa tanaman Jepang ke
82 Hindia Belanda. Perintah resmi tersebut disertai dengan bukti tertulis Surat Keputusan Gubernur Tanggal 10 Juni 1824 No. 6. Tindakan ini dapat dianggap sebagai langkah awal pengenalan tanaman teh. Menurut beberapa sumber penulisan mengenai perkebunan teh, tahun 1824 tetap dicatat sebagai awal dimulainya pengenalan tanaman teh di Jawa. Pendelegasian Pemerintah Van Siebold dianggap sebagai tindakan pertama yang mendasari perkembangan budidaya teh di Indonesia.
Dalam pelaksanaan cultuurstelsel dibawah penguasa Gubernur Van Den Bosh, tanaman teh termasuk budidaya yang relatif baru dicoba oleh Pemerintah Hindia Belanda. Budidaya teh ditengah pelaksanaan tanam paksa ini merupakan tanaman yang belum diusahakan secara besarbesaran. Daerah yang mula-mula mengadakan percobaan meliputi: Banten, Priangan, Krawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Serang, Jepara, Besuki, Banyumas, Bagelen, Kedu, dan Surabaya. Selain di wilayah-wilayah tersebut perkebunan teh juga terdapat di Kabupaten Malang Kecamatan Singosari Desa Toyomarto Dusun Wonosari (Imama H,N & Parwata, 2014:13).
Dalam pelaksanaan culturstelsel dibawah penguasa Gubernur Van Den Bosh, tanaman teh termasuk budidaya yang relatif baru dicoba oleh Pemerintah Hindia Belanda. Budidaya teh ditengah pelaksanaan tanam paksa ini merupakan tanaman yang belum diusahakan secara besarbesaran. Daerah yang mula-mula mengadakan percobaan meliputi: Banten, Priangan, Krawang, Cirebon, Tegal, Pekalongan, Serang, Jepara, Besuki, Banyumas, Bagelen, Kedu, dan Surabaya. Selain di wilayah-wilayah tersebut perkebunan teh juga
83 terdapat di Kabupaten Malang Kecamatan Singosari Desa Toyomarto Dusun Wonosari.
Akhirnya pada tahun 1996 perkebunan teh Wonosari ini dikelolah oleh PT Nusantara XII yang didirikan berdasarkan PP Nomor 17 Tahun 1996, dituangkan dalam akte notaris Harun Kamil, SH nomor 45 tanggal 11 Maret 1996 dan disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dengan SK nomor C.2-8340 HT.01.01 tanggal 8 Agustus 1996.
Perkebunan teh Wonosari memilki ketinggian sekitar 950 sampai 1.250 m dpl. Kondisi cuaca perkebunan pada siang hari suhunya mencapai 19-26 Celcius dan pada malam hari tempeatur udarah di perkebunan ini mencapai 17- 21 Celcius. Kelembapan udarah pada perkebunan teh Wonosari yaitu 70 sampai 90 %. Tipe iklim di perkebunan ini merupakan iklim B ke C.
Perkebunan Teh Wonosari di Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang terdiri dari tiga afdeling yaitu afdeling Wonosari, afdeling Randu Agung dan afdeling Gubug Utara. Usaha yang dihasilkan oleh perkebunan ini selain teh yang luasnya sekitar 526,72 Ha yaitu terdapat jenis budidaya lainnya anatara lain: kapok yang luasnya 382,00 Ha, aneka kayu yang memiliki luas 142,82 Ha dan pada perkebunan teh Wonosari tersebut terdapat agro wisata dengan luas 70,40 Ha. Karena dengan adanya perkebunan serta tempat wisata yang tersedia dapat membawa pengaruh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari (Imama H,N & Parwata, 2014:13).
Mengenai hasil produksi dari perkebunan Teh Wonosari yang terkenal dengan sebutan teh hitam (black tea) tersebut terdapat bermacam-macam mutu teh antara lain yaitu mutu BP 1, PF 1, PD, D 1, D 2, dan mutu D 3. Dalam
84 proses pengemasan hasil teh juga berbeda-beda sesuai dengan mutu yang ada yaitu golongan mutu BP 1 dikemas dengan berat sekitar 52 kg, mutu PF1 masing-masing kemasan beratnya sekitar 55 kg, mutu PD perkemasan beratnya 60 kg, mutu D 1 dalam masing-masing kemasan beratnya sekitar 65,7 kg, mutu D 2 masing-masing kemasan beratnya sekitar 65 kg serta untuk golongan mutu D 3 masing-masing kemasan beratnya sekitar 53,7 kg.
Hasil dari produksi perkebunan Teh Wonosari Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang ini yang yang terkenal dengan penghasil teh hitam (black tea) sebanyak 80% dari produk teh ini diekspor ke luar Negeri antara lain Belanda, Jepang dan lain-lain karena disana begitu banyak peminatnya yang menyukai produk teh hitam. Berawal dari pemetikan daun teh roda perekonomian perkebunan teh Wonosari Desa Toyomarto Kecamatan Singosari Kabupaten Malang berputar. Pemetikan daun teh pada umumnya dilakukan oleh pekerja-pekerja wanita.
Di perkebunan Negara, mereka kebanyakan termasuk pekerja harian tetap dan bertempat tinggal di perumahan yang disediakan oleh perusahaan.
Tetapi mayoritas para buruh petik tergolong karyawan lepas atau musiman.
Mekanisme pengolahan teh dimulai dengan pekerjaan pemetikan dikebun, dimana para pemetik biasanya telah mempunyai bagianbagian yang harus dikerjakan. Seorang pemetik mempunyai wilayah kerja sekitar 400 m².
Pemetikan kadang-kadang dimulai sejak dini hari dan berakhir menjelang sore.
Pengelompokan jumlah tenaga kerja perkebunan dibagi dalam dua golongan tenaga kerja yaitu karyawan harian tetap perkebunan dan karyawan harian
85 lepas perkebunan. Selain adanya dua golongan karyawan juga terdapat karyawan MBT (Masa Bebas Tugas) (Imama H,N & Parwata, 2014:13).
3.11 Tenaga Kerja Di Wisata Agro Wonosari
Gambar 3.15 karyawan Wisata Agro Wonosari
Sumber: kantor wisata agro wonosari
Tenaga kerja yang ada di PT Perkebunan Nusantara XII Persero Malang terdiri dari kalangan masyarakat Desa Toyomarto dan juga pendudukan dari daerah disekitarnya dan dikelompokkan dalam berbagai golongan diantaranya golongan IIIA-IVD termasuk dalam karyawan pimpinan, golongan IB-IID termasuk dalam karyawan pelaksanaan dan golongan IA terdiri dari karyawan pelaksana juga. Perbedaan golongan berdasarkan pada lamanya waktu pengabdian mereka dan perbedaan upah yang dihasilkan para pekerja berdasarkan golongan yang didudukinya (Imama & Prawata, 2014).
86 Tenaga kerjanya terdiri dari dua bagian yaitu tenaga kerja tetap dan tenaga kerja lepas atau musiman, tenaga kerja yang mengelolah Wisata Agro Wonosari termasuk tenaga kerja tetap karena di bawah komando RUPS dan di bawah binaan manajer kebun, kemudian manajer kebun mengomando asisten wisata agro. Dilihat dari gambar 3.15 di atas, Wisata Agro Wonosari memiliki tiga bidang yaitu (1) front office (2) house keeping dan (3) coordinator taman.
Kemudian jumlah seluruhnya 114 pegawai yang terdiri dari 79 pegawai laki- laki dan 35 pegawai perempuan. Di sini dapat dilihat bahwa jumlah pegawai laki-laki lebih mendominasi dibanding pegawai perempuan kemudian didukung dari bidang resto/ tea house yang seluruh anggotanya diisi oleh karyawan perempuan. Tetapi jumlah tersebut tidak dapat dikatakan adanya ketidakadilan dalam pembagian kerja melainkan untuk meciptakan keharmonisan sosial, kesetaraan yang adil dalam keragaman