PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Kawasan pesisir dikenal sebagai ekosistem perairan yang memiliki potensi sumberdaya yang sangat besar. Wilayah tersebut telah banyak dimanfaatkan dan memberikan sumbangan yang berarti, baik bagi peningkatan taraf hidup masyarakat maupun sebagai penghasil devisa negara yang sangat penting.
Aktifitas perkonomian yang dilakukan di kawasan pesisir diantaranya adalah kegiatan perikanan (tangkap dan budidaya), industri dan pariwisata. Selain dimanfaatkan untuk kegiatan perekonomian, wilayah pesisir juga digunakan sebagai tempat membuang limbah dari berbagai aktifitas manusia, baik dari darat maupun di kawasan pesisir itu sendiri. Kegiatan ini memberikan dampak yang tidak diharapkan dari kondisi biofisik pesisir yang dikenal sangat peka terhadap perubahan lingkungan. Salah satu jenis perairan yang akan terkena dampak adalah perairan estuaria.
Kondisi seperti ini disinyalir juga terjadi di perairan muara Sungai Kampar. Muara Sungai Kampar merupakan gabungan dari beberapa aliran sungai besar dan anak sungai yang terdapat di Provinsi Riau. Aliran air yang masuk ke muara Sungai Kampar mengindikasikan banyak mengandung bahan pencemar. Hal ini terjadi karena di sepanjang sungai yang mengalir ke muara Sungai Kampar terdapat banyak pabrik-pabrik atau kegiatan industri yang beroperasi dan membuang limbahnya ke sungai. Pabrik yang paling besar masuk ke aliran adalah jenis pabrik kertas yaitu PT. RAPP (Riau Andalan Pulp andPaper).
Masuknya bahan pencemar ke dalam perairan muara sungai ini akan mengakibatkan terjadinya kerusakan pada berbagai organ tubuh, bahkan bukan tidak mungkin dapat mengakibatkan kematian serta mengakibatkan spesies tertentu yang rentan terhadap bahan pencemar menjadi hilang/punah sehingga spesies ikan yang dijumpai menjadi berkurang. Hal ini sesuai dengan pendapat Dahuri dan Arumsyah (1994) bahwa masuknya bahan pencemar ke dalam perairan dapat mempengaruhi kualitas perairan. Apabila bahan yang masuk ke perairan melebihi kapasitas asimilasinya, maka daya dukung lingkungan akan menurun. Sehingga menurun pula nilai perairan dan peruntukan lainnya.
perubahan akan berdampak pada ekologi perairan. Penyebaran bahan pencemar terutama logam berat dalam perairan dengan proses pengendapan akan mempengaruhi siklus hidup dari hewan perairan terutama ikan.
B. Tujuan
Ada pun tujuan dari penyusunan makalah ini adalah:
1. Untuk mengetahuai pengertian sampah, pengelolaan sampah dan kawasan pesisir.
2. Untuk mengetahui bagaimana pembagian sampah padat 3. Untuk mengetahui bagaimana konsep pengelolaan sampah
4. Untuk mengetahui bagaimana pengolahan Sampah secara umum dan pengolahan sampah di kawasan pesisir.
BAB I PEMBAHASAN
A. Pengertian Sampah, Pengelolaan Sampah dan Kawasan Pesisir
Kata sampah sudah merupakan hal yang lumrah, mendengar kata sampah sudah terbesit dalam pikiran kita bahwa sampah itu merupakan sesuatu yang sudah tidak digunakan lagi dan ingin dibuang. Namun menurut WHO, defenisi sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
Seperti yang telah diketahui secara umum,bahwa sampah dapat Kalimat ini biasanya mengacu pada material sampah yg dihasilkan dari kegiatan manusia, dan biasanya dikelola untuk mengurangi dampaknya terhadap kesehatan, lingkungan atau keindahan. Pengelolaan sampah juga dilakukan untuk memulihkan sumber daya alam . Pengelolaan sampah bisa melibatkan zat padat , cair , gas , atau radioaktif dengan metoda dan keahl ian khusus untuk masing masing jenis zat.
sifat laut seperti angin laut, pasang surut dan intrusi air laut; sedangkan batas ke arah laut mencakup bagian perairan pantai sampai batas terluar dari paparan benua yang masih dipengaruhi oleh proses alamiah yang terjadi di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta proses yang disebabkan oleh kegiatan manusia, misalnya penggundulan hutan, pencemaran industri/domestik, limbah tambak, atau penangkapan ikan. Jika dilihat dari pendekatan administrasi, kawasan pesisir adalah kawasan yang secara administrasi pemerintahan mempunyai batas terluar sebelah hulu dari kecamatan atau kabupaten atau kota dan ke arah laut sejauh 12 mil dari garis pantai untuk propinsi atau sepertiganya untuk kabupaten atau kota.
B. Pembagian Sampah Padat
Sampah padat dapat dibagi menjadi beberapa kategori, seperti berikut: 1. Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya,
Organik, misalnya, sisa makanan.
Anorganik, misalnya, logam, pecah-belah, abu dan lain-lain.
2. Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar
Mudah tertbakar, misalnya: Kertas pelastik, daun kering, kayu.
Tidak mudah terbakar, misalnya kaleng, besi, gelas dan lain-lain.
3. Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk
Mudah membusuk misalnya, makanan, potongan daging, dan
sebagainya.
Sulit membusuk, misalnya, plastic, kaleng, karet dan sebagainya.
Garbage, terdiri dari zat-zat yang mudah membusuk dan dapat
terurai dengan cepat, khususnya jika cuaca panas. Proses pembusukan sering kali menimbulkan bau busuk. Sampah jenis ini dapat ditemukan di tempat pemukiman, rumah makan, rumah sakit, pasar dan sebagainya.
Rubbish, terbagi menjadi dua
- Rubbish mudah terbakar terdiri atas zat-zat organic, misalnya kertas, kayu, karet, daun kering dan sebagainya.
Ashes, semua sisa pembakaran dari industry
Street sweeping, sampah dari jalan atau trotoar akibat aktifitas
mesin atau manusia.
Dead animal, bangkai binatan besar(anjing, kucing dan
sebagainya yang mati akibat kecelakaan).
House hold refuse, atau sampah campuran (misalnya garbage,
ashes, rubbish) yang berasal dari perumahan.
Demolision waste, berasal dari sisa pembangunan gedung.
Kontructions waste, berasal dari sisa-sisa pembangunan gedung
seperti tanah, batu dan kayu.
Sampah industry, berasal dari pertanian, perkebunan dan
industry.
Santage solid, terdiri atas benda-benda solid atau kasar yang
biasanya berupa zat organic pada pintu masuk pusat pengolahan limbah cair.
Sampah khusus, atau sampah yang memerlukan penanganan
khusus seperti kaleng dan zat radioaktif.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Jumlah Sampah: 1. Jumlah Penduduk
semakin banyak, misalnya pada aktivitas pembangunan, perdagangan, industri, dan sebaginya.
2. Sistem pengumpulan atau pembuangan sampah yang dipakai.
Pengumpulan sampah dengan menggunakan gerobak lebih lambat jika dibandingkan dengan truk.
3. Pengambilan bahan-bahan yang ada pada sampah untuk dipakai kembali.
Metode ini dilakukan karena bahan tersebut masih memiliki nilai ekonomi bagi golongan tertentu. Frekuensi pengambilan dipengaruhi oleh keadaan , jika harganya tinggi, sampah yang tertinggal sedikit. 4. Factor geografis.
Lokasi tempat pembuangan apakah di daerah pegunungan, lembah pantai, atau di daratan rendah.
5. Faktor waktu.
Bergabtung pada factor harian, mingguan, bulanan, atau tahuna. Jumlah sampah per hari bervariasi menurut waktu. Contoh, jumlah sampah pada siang hari lebih banyak dari pada jumlah di pagi hari, sedangkan sampah di daerah pedesaan tidak begitu bergabtung pada factor waktu.
Contoh, adat-istiadat dan taraf hidup dan mental masyarakat.
7. Pada musim hujan, sampah mungkin akan tersangkut pada selokan,pintu, air, atau pennyaringan air limbah.
8. Kebiasaan masyarakat
Contohnya jika seseorang suka mengkonsumsi satu jenis makanan atau tanaman, sampah makanan itu akan meningkat.
9. Kemajuan teknologi.
Akibat kemajuan teknologi, jumlah sampah dapat meningkat. Contoh, plastik, kardus, rongsokan, AC, TV dan sebagainya.
10. Jenis sampah.
Makin maju tingakt kebudayaan suatu masyarakat, semakin kimpeks pula jenis sampahnya.
Sumber Sampah
Sampah yang ada di permukaan bumi ini dapat berasal dari beberapa sumber berikut:
Sampah di suatu pemukiman biasanya dihasilkan oleh satu atau beberapa keluarga yang tinggal dalam suatu daerah. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya sisa makanan dan bahan sisa proses pengolahan makanan
2. Tempat umu dan tempat perdagangan
Tempat umum adlah tempat yang memungkinkan banyak orang berkumpul dan melakukan kegiatan termasuk juga tempat perdagangan. Jenis sampah yang diahasilkan dapat berupa sisa-sisa makanan, sampah kering, abu, sampah khusus dan terkadang sampah berbahaya.
3. Saran layanan masyarakat milik pemerintah
Saran layanan yang dimaksud antara lain tempat hiburan dan umum, jalanan umum, tempat parker, tempat layanan kesehatan, pantai tempat berlibur, dan saran apemerintahan yang lain. Tempat tersebut biasanya menghasilkan sampah khususu dan sampah kering.
4. Industry berat dan ringan
Sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang. Lokasi pertanian seperti kebun, ladang, ataupun sawah yang mengasilkan sampah berupa bahan-bahan makanan yang telah membusuk, sampah pertanian, pupuk, maupun bahan pembasmi serangga tanaman.
C. Konsep pengelolaan sampah
Terdapat beberapa konsep tentang pengelolaan sampah yang berbeda dalam penggunaannya, antara negara-negara atau daerah. Beberapa yang paling umum, banyak-konsep yang digunakan adalah:
Hirarki Sampah - hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi
sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang, yang mengklasifikasikan strategi pengelolaan sampah sesuai dengan keinginan dari segi minimalisasi sampah. Hirarki limbah yang tetap menjadi dasar dari sebagian besar strategi minimalisasi sampah. Tujuan limbah hirarki adalah untuk mengambil keuntungan maksimum dari produk-produk praktis dan untuk menghasilkan jumlah minimum limbah.
D. Pengolahan Sampah
Pengelolaan sampah merupakan proses yang diperlukan dengan tujuan untuk mengubah sampah menjadi material yang memiliki nilai ekonomis sehingga mempunyai nilai faedah yang lebih tinggi agar menjadi
1. Metode Penghindaran dan Pengurangan
Sebuah metode yang penting dari pengelolaan sampah adalah pencegahan zat sampah terbentuk , atau dikenal juga dengan "pengurangan sampah". Metode pencegahan termasuk penggunaan kembali barang bekas pakai , memperbaiki barang yang rusak , mendesain produk supaya bisa diisi ulang atau bisa digunakan kembali (seperti tas belanja katun menggantikan tas plastik ), mengajak konsumen untuk menghindari penggunaan barang sekali pakai (contohnya kertas tissue) ,dan mendesain produk yang menggunakan bahan yang lebih sedikit untuk fungsi yang sama (contoh, pengurangan bobot kaleng minuman).
2. Tahap Pengumpulan dan Penyimpanan
Metode pengumpulan sampah bervariasi dan berbeda-beda antar negara dan kawasan. Jasa pengumpulan sampah rumah tangga biasanya disediakan oleh pemerintah daerah atau perusahaan swasta. Pada beberapa negara berkembang, jasa pengumpulan sampah yang resmi tidak tersedia. Sampah yang berada di lokasi sumber ( kantor, rumah tangga, hotel dan sebagainya) di tempatkan dalam tempat penyimpanan sementara (tempat sampah). Sampah basah dan sampah kering sebaiknya dikumpulkan di tempat yang terpisah untuk memudahkan pemusnahan.
1. Konstruksi harus kuat dan tidak mudah bocor.
2. Memiliki tutp dan mudah dibuka tanpa mengotori tangan. 3. Ukuran sesuai sehingga mudah diangkut oleh satu orang
Dari tempat penyimpana ini, sampah dikumpulkan kemudian dimasukkan ke dalam dipo (rumah sampah) dipo ini berbentuk bak besar yang digunakan untuk menampung sampah rumah tangga. dan bagi pengumpulan samph yang menggunakan jasa pengumpulan resmi biasanya dikumpulkan dalam konteiner sampah dan diangkut secara berkala.
3. Tahap Pengangkutan
Dari tempat pengumpulan sampah, sampah diagkut ke tempat pembuangan akhir atau pemusnahan sampah denga menggunakan truk pengangkut sampahyang disediakan oleh dinas kebersihan kota.
Truk sampah pemuatan depan yang biasa ada di Amerika utara. 4. Penimbunan Darat
hiegenis dan murah. Sedangkan penimbunan darat yg tidak dirancang dan tidak dikelola dengan baik akan menyebabkan berbagai masalah lingkungan , diantaranya angin berbau sampah , menarik berkumpulnya hama , dan adanya genangan air sampah. Efek samping lain dari sampah adalah gas methan dan karbon dioksida yang juga sangat berbahaya. (di bandung kandungan gas methan ini meledak dan melongsorkan gunung sampah).
Penimbunan darat sampah
pengekstrasi gas yang terpasang untuk mengambil gas yang terjadi. Gas yang terkumpul akan dialirkan keluar dari tempat penimbunan dan dibakar di menara pemabakar atau dibakar di mesin berbahan bakar gas untuk membangkitkan listrik.
Kendaraan pemadat sampah penimbunan darat. 5. Pemusnahan sampah
Pemusnahan sampah terbagi atas beberapa cara yaitu: 1. Pembakaran
Pabrik pembakaran di Vienna (Spittelau incineration plant).
Pembakaran adalah metode yang melibatkan pembakaran zat sampah. Pengkremasian dan pengelolaan sampah lain yg melibatkan temperatur tinggi baisa disebut "Perlakuan panas". kremasi merubah sampah menjadi panas, gas, uap dan abu.
Pengkremasian dilakukan oleh perorangan atau oleh industri dalam skala besar. Hal ini bsia dilakukan untuk sampah padat , cair maupun gas. Pengkremasian dikenal sebagai cara yang praktis untuk membuang beberapa jenis sampah berbahaya, contohnya sampah medis (sampah biologis). Pengkremasian adalah metode yang kontroversial karena menghasilkan polusi udara.
energi (Waste-to-energy=WtE) atau energi dari sampah (energy-from-waste = EfW) adalah terminologi untuk menjelaskan samapah yang dibakar dalam tungku dan boiler guna menghasilkan panas/uap/listrik.Pembakaran pada alat kremasi tidaklah selalu sempurna , ada keluhan adanya polusi mikro dari emisi gas yang keluar cerobongnya. Perhatian lebih diarahkan pada zat dioxin yang kemungkinan dihasilkan di dalam pembakaran dan mencemari lingkungan sekitar pembakaran. Dilain pihak , pengkremasian seperti ini dianggap positif karena menghasilkan listrik , contoh di Indonesia adalah rencana PLTSa Gede Bage di sekitar kota Bandung.
Manfaat system ini adalah volume sampah dapat diperkecil sampai sepertiganya, tidak memerlukan ruang yang luas, panas yang dihasilkan dapat dipakai sebagai sumber uap, dan pengolahan dapat dilakukan secara terpusat dengan jadwal jam kerja yang dapat diataur sesuai dengan kebutuhan.
Kerugian yang ditimbulakan akibat penerapan metode ini adalah membutuhkan biaya yang cukup besar, lokalisasi pembuangan pabrik sukar didapat karena keberatan penduduk. 2. Metode Daur-ulang
baru dari daur ulang terus ditemukan dan akan dijelaskan dibawah.
Pengolahan kemabali secara fisik Baja di buang , dipilih dan digunakan kembali.
Sampah yang biasa dikumpulkan adalah kaleng minum
aluminum , kaleng baja makanan/minuman, Botol HDPE dan PET , botol kaca , kertas karton, koran, majalah, dan kardus. Jenis plastik lain seperti (PVC, LDPE, PP, dan PS) juga bisa di daur ulang.Daur makanan atau kertas , bisa diolah dengan menggunakan proses biologis untuk kompos, atau dikenal dengan istilah pengkomposan.Hasilnya adalah kompos yang bisa digunakan sebagi pupuk dan gas methana yang bisa digunakan untuk membangkitkan listrik.
Contoh dari pengelolaan sampah menggunakan teknik pengkomposan adalah Green Bin Program (program tong hijau) di
Toronto, Kanada, dimana sampah organik rumah tangga , seperti sampah dapur dan potongan tanaman dikumpulkan di kantong khusus untuk di komposkan.
4. Pemulihan energi
Kandungan energi yang terkandung dalam sampah bisa diambil langsung dengan cara menjadikannya bahan bakar, atau secara tidak langsung dengan cara mengolahnya menajdi bahan bakar tipe lain. dimana sampah dipanaskan pada suhu tinggi dengan keadaan miskin oksigen. Proses ini biasanya dilakukan di wadah tertutup pada Tekanan
tinggi. Pirolisa dari sampah padat mengubah sampah menjadi produk berzat padat , gas, dan cair. Produk cair dan gas bisa dibakar untuk menghasilkan energi atau dimurnikan menjadi produk lain. Padatan sisa selanjutnya bisa dimurnikan menjadi produk seperti karbon aktif. Gasifikasi dan Gasifikasi busur plasma yang canggih digunakan untuk mengkonversi material organik langsung menjadi Gas sintetis
(campuran antara karbon monoksida dan hidrogen). Gas ini kemudian dibakar untuk menghasilkan listrik dan uap.
1. Kesadaran masyarakat yang tinggal dan melakukan aktivitas di lingkungan pesisir, sering menganggap wilayah pantai sebagai tempat pembuangan sampah yang gratis, relatif murah dan mudah (praktis). Hal ini selain disebabkan tingginya tingkat kemiskinan masyarakat pesisir, rendahnya pendidikan, tingkat kesehatan yang tidak memadai, juga kurangnya informasi tentang kebersihan lingkungan, telah menyebabkan perairan pesisir menjadi “keranjang sampah” dari berbagai macam kegiatan manusia baik yang berasal dari dalam wilayah pesisir maupun di luarnya (lahan atas dan laut lepas). Akibatnya pembuangan sampah sembarangan telah mengurangi nilai keindahan dan kenyamanan “kemolekan” lingkungan pantai.
2. Sebagai outlet dari daratan, sampah pesisir tidak bisa dilepaskan dari lahan atas (up land). Aktivitas manusia di wilayah daratan (land based activity), seperti membuang sampah di barangka dan selokan secara langsung menyebabkan terjadinya banjir, dan pada gilirannya sampah tersebut bermuara ke wilayah pesisir.
3. Sebagai kota pantai, sampah-sampah pesisir juga tidak dapat dilepaskan dengan pola sirkulasi arus air sehingga mempengaruhi keberadaan sampah. Untuk itu juga perlu ada kerjasama antar Pemerintah Daerah, seperti peraturan daerah bersama terhadap model penanganan sampah pesisir.
Pengelolaan sampah pesisir perlu dielaborasi lebih jauh dengan mempertimbangkan beberapa aspek yaitu:
2. Aspek Kelembagaan
3. Aspek Manajemen dan Keuangan
Dengan 3 aspek ini, dapat dilakukan suatu rencana tindak (action plan) yang meliputi:
1) Melakukan pengenalan karekteristik sampah pesisir dan metoda penanganannya
2) Merencanakan dan menerapkan pengelolaan persampahan secara terpadu(pengumpulan, pengangkutan, dan pembuangan akhir)
3) Memisahkan peran pengaturan dan pengawasan dari lembaga yang ada dengan fungsi operator pemberi layanan, agar lebih tegas dalam melaksanakan reward & punishment dalam pelayanan,
4) Menggalakkan program Reduce, Reuse dan Recycle (3 R) agar dapat tercapai program zero waste pada masa mendatang, 5) Melakukan pembaharuan struktur tarif dengan menerapkan
6) Mengembangkan teknologi pengelolaan sampah yang lebih bersahabat dengan lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi bahan buangan.
E. Pengolahan Sampah dan Dampaknya Bagi Masyarakat dan Lingkungan Manfaat pengelolaan sampah
1. Penghematan sumber daya alam 2. Penghematan energi
3. Penghematan lahan TPA
Bencana sampah yang tidak dikelola dengan baik 1. Longsor tumpukan sampah:
2. Sumber penyakit
3. Pencemaran lingkunga
Pengaruh Pengolahan Sampah Terhadap Masyarakat dan Lingkungan
Pengolahan sampah akan membawa pengaruh bagi masyarakat dan lingkungan itu sendiri. Pengaruh tersebut ada yang bersifat positif dan ada yang negatif. Pengaruh positif yaitu:
4. Sampah dapat dimanfaatkan untuk menimbun lahan semacam rawa-rawa dan dataran rendah.
5. Sampah dapat dimanfaatkan untuk pupuk.
6. Sampah dapat diberikan makanan ternak setelah menjalani proses pengelolaan yang telah ditentukan lebih dahulu untuk mencegah pengaruh buruk sampah tersebut terhadap ternak.
7. Pengolahan sampah menyebabkan berkurangnya tempat untuk berkembangniaknya serangga atau binatang pengerak lainnya. 8. Menurunkan insiden kasusu penyakit menular yang erat
hibungannya dengan sampah.
10. Keadaan lingkungan yang baik akan menghemat pengeluaran dana kesehatan suatu negara.
Pengaruh Negatif Pengolahan sampah yang kurang baik tidak hanya berpengaruh buruk terhadap kesehatan lingkungan namun akan berdampak pula bagi kehidupan social ekonomi dan budaya masyarakat seperti berikut:
1. Pengaruh terhadap kesehatan
a. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan menjadikan sampah sebagai tempat perkembangbiakan vector penyakit seperti lalat atau tikus.
b. Insiden penyakit demam berdarah akan meningkat karena vector penyakit hidup dan berkembang biak dalam sampah kaleng ataupun ban bekas yang berisi air hujan.
c. Terjadinya kecelakaan akibat pembuangan sampah secara sembarang.
d. Gangguan psikosomatis, misalnya sesak napas, insomnia, stres dan lain-lain.
2. Pengaruh terhadap lingkungan.
a. Estetika lingkungan menjadi kurang sedap dipandang mata. b. Proses pembusukan sampah oleh mikroorganisme akan
menghasilkan gas-gas tertentu yang menimbulkan bau busuk.
d. Pembuangan sampah ke dalam saluran pembuangan air akan menyebabkan aliran air terganggu dan saluran air menjadi dangkal.
e. Apabila musim hujan datang, sampah yang menumpuk dapat menyebabkan banjir dan dan menyebabkan pencemaran pada sumber air permukaan atau sumur dangkal.
3. Terhadap ekonomi dan budaya masyarakat
a. Pengolahan sampah yang kurang baik mencerminkan keadaan social budaya masyarakat setempat.
b. Keadaan lingkungan yang kurang baik akan menurunkan minat orang lain untuk dating berkunjung ke daerah tersebut. c. Kegiatan perbaikan lingkungan yang rusak memerlukan dana
yang besar.
d. Menurunkan mutu sumber daya alam sehingga mutu produksi menurun dan tidak memiliki nilai ekonomis.
PENUTUP A. Kesimpulan
1. Menurut WHO, defenisi sampah adalah sesuatu yang tidak digunakan, tidak dipakai, tidak disenangi, atau sesuatu yang dibuang yang berasal dari kegiatan manusia dan tidak terjadi dengan sendirinya.
2. Pembagian sampah padat:
1). Berdasarkan zat kimia yang terkandung di dalamnya, Organik, misalnya, sisa makanan.
Anorganik, misalnya, logam, pecah-belah, abu dan lain-lain.
2). Berdasarkan dapat atau tidaknya dibakar
Mudah tertbakar, misalnya: Kertas pelastik, daun kering, kayu.
Tidak mudah terbakar, misalnya kaleng, besi, gelas dan lain-lain.
3). Berdasarkan dapat atau tidaknya membusuk
Mudah membusuk misalnya, makanan, potongan daging, dan
sebagainya.
3. Konsep pengelolaan sampah:
1). Hirarki Sampah - hirarki limbah merujuk kepada " 3 M " mengurangi sampah, menggunakan kembali sampah dan daur ulang,
2). Perpanjangan tanggungjawab penghasil sampah / Extended Producer Responsibility (EPR).(EPR)
3). Prinsip pengotor membayar 4. Tahap metode pengolahan sampah:
1). Metode Penghindaran dan Pengurangan 2). Tahap pengumpulan dan penyimpanan 3). Tahap pengangkutan
4). Tahap penimbunan darat 5). Tahap pemusnahan sampah 5. Dampak pengolahan sampah
Diharapkan kepada pemerintah agar lebih memperhatikan lagi masalah persampahan khususnya di kawasan pesisir, karena selama ini masalah sampah masih menjadi masalah yang cukup serius, karena selama ini masyarakat pesisir masih menganggap remeh tentang sampah, misalnya menjadikan laut sebagai tempat pembuangan sampah, oleh karena itu pemerintah harus dapat memberikan solusi tentang masalah tersebut misalnya menyipkan tempat-tempat sampah dikawasan psisir dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat tentang persampahan.
Chandra, Budiman Dr, Pengantar Kesehatan Lingkungan, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2007.
Suyoto ,Bagong, Fenomena Gerakan Mengolah Sampah,PT.Prima Infosarana Media,Jakarta,2008.
http://id.wikipedia.org/wiki/Pengelolaan_sampah diakses tanggal 2 Juli 2015.
http://www.esp.or.id/handwashing/media/sampah.pdf teknologi pengelolaan sampah diakses tanggal 2 Juli 2015
http://majarimagazine.com/2007/12/teknologi-pengolahan-sampah/ usaha pengelolaan sampah masyarakat diakses tanggal 2 Juli 2015