• Tidak ada hasil yang ditemukan

Karakteristik Nyeri Pasca Bedah pada Pasien Bedah Ortopedi Tulang Panjang di RSUP Haji Adam Malik Medan Chapter III VI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Karakteristik Nyeri Pasca Bedah pada Pasien Bedah Ortopedi Tulang Panjang di RSUP Haji Adam Malik Medan Chapter III VI"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 3

KERANGKA KONSEP PENELITIAN

3.1.

Kerangka Teori

Persepsi Nyeri Klasifikasi Nyeri

- Nyeri akut - Nyeri kronis - Nyeri nosiseptif - Nyeri neuropati

Penilaian Nyeri

- Lokasi - Intensitas - Kualitas - Onset, durasii,

variasi dan ritme Terapi:

• Farmakologi: NSAID Opioid

• Nonfarmakologi: Distraksi

Pembedahan/kerusakan jaringan

(Stimulus)

nosiseptor

Serat nyeri aferen

Talamus

(2)

3.2.

Kerangka Konsep Penelitian

Berdasarkan tujuan penelitian yang sudah dibahas sebelumnya, maka terbentuklah

kerangka konsep sebagai berikut:

• Jenis kelamin

• Suku

• Umur

• Pendidikan

• Derajat nyeri ( VAS)

• Terapi

Karakteristik nyeri pasien

pasca bedah di RSUP H.

Adam Malik Medan

Faktor-faktor yang mempengaruhi:

Usia

Jenis kelamin

Tingkat pendidikan

Budaya

Ansietas

(3)

BAB 4

METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian

Penelitian ini penelitian deskriptif, dengan desain cross sectional yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mengetahui karakteristik nyeri pasien pasca

bedah di RSUP. Haji Adam Malik Medan.

4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian

4.2.1 Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik. Rumah sakit ini

dipilih karena merupakan rumah sakit tipe A dan menjadi rumah sakit

rujukan utama untuk wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya

4.2.2 Waktu Penelitian

Waktu penelitian terhitung mulai dari bulan September- Desemeber 2016.

4.3 Populasi dan Sampel

4.3.1 Populasi

Yang dimaksudkan dengan populasi dalam penelitian adalah

sekelompok subyek dengan karakteristik tertentu.24

4.3.2 Sampel

Populasi dalam penelitian ini

adalah semua pasien pasca bedah di RSUP Haji Adam Malik Medan pada periode

bulan September- Oktober 2016 yang telah memenuhi kriteria inklusi.

Besar sampel yang diperoleh menggunakan metode total sampling.

Dimana di dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah semua populasi

pasien pasca bedah di RSUP Haji Adam Malik dalam periode 1 September-31

Oktober 2016.

Adapun kritera inklusi dan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:

(a) Kriteria Inklusi

(4)

Pasien pasca bedah fraktur ekstremitas di ruang PACU RSUP Haji Adam Malik periode bulan September- Oktober 2016.

Pasien berumur > 18 tahun.

Pasien bedah tulang panjang (b) Kriteria Eksklusi

Dari kriteria eksklusi, yang tidak diambil sebagai data adalah:. • Pasien tuna wicara (bisu).

• Pasien tuna rungu (tuli).

4.4.1 Teknik Pengumpulan Data

Setelah mendapat persutujuan dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran

Universitas Sumatera Utara dan RSUP, Haji Adam Malik Medan, pasien diberi

penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta diminta keikutsertaan secara

tertulis dalam penelitian.

4.4.2 Alat dan Bahan

Penelitian ini menggunakan skala VAS dalam bentuk gambar untuk

menilai derajat nyeri pasien pasca bedah di ruang PACU RSUP Haji Adam Malik

Medan.

4.4.3 Masalah Etik

Sebelum melakukan penelitian, pasien akan diberi penjelasan tentang tujuan, manfaat dan resiko yang terkait dengan penelitian ini. Penelitian ini sangat

aman karena tidak melakukan intervensi terhadap pasien dan menilai derajat nyeri

(5)

4.4.4 Alur Kerja

Adapun alur kerja dalam penelitian ini adalah:

4.4.5 Metode Pengumpulan Data

Pengumpulan data dilakukan setelah memperoleh izin dari pihak

kampus Fakultas Kedokeran Universitas Sumatera Utara dan RSUP Haji Adam

Malik. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari wawancara

langsung terhadap pasien pasca bedah di RSUP. Haji Adam Malik Medan. Pasien Pasca Bedah

PACU

Penilaian:

• Jenis kelamin

• Suku

• Umur

• Pendidikan

• Derajat nyeri ( VAS)

(6)

4.5 Pengelolaan dan Metode Analisis Data

4.5.1 Pengelolaan Data

1. Editing

Dilakukan pemeriksaan kelengkapan data yang telah dikumpul.

Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan data maka

rekam medis tersebut tidak digunakan dan menggunakan rekam

medis yang lain.

2. Coding

Data yang telah dikumpul dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya

kemudian diberi kode secara manual oleh peneliti sebelum diolah

dengan komputer.

3. Entry

Data yang telah dibersihkan, di masukkan ke dalam program

komputer SPSS (Statistical Package for Social Science). 4. Cleaning

Pemeriksaaan semua data yang telah dimasukkan kedalam

komputer berguna untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam

pemasukan data.

5. Saving

Penyimpanan data untuk siap dianalisis.

4.5. Metode Analisis Data

Setelah data terkumpul dari wawancara yang dilakukan terhadap pasien

(7)

4.6. Definisi Operasional

Tabel 4.1 Definisi Operasional

No. Variabel Definisi

Operasional

4 Pendidikan Bimbingn

yang diberikan

seseorang

kepada orang

lain agar dapat

memahami

Visual Analog Scale

(VAS)

(8)

di keluhkan

penderita

tentang

perasaan yang

dirasakan

secara sensoris

dan emosional

yang tidak

menyenangkan

dan menganggu

pasca

pembedahan

6 Terapi Usaha untuk memulihkan

kesehatan

orang yang

sedang sakit

Mencatat Wawan

cara

Opioid

NSAID

Dan lain-lain

(9)

BAB 5

HASIL PENELITIAN

5.1 Hasil Penelitian

5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

RSUP Haji Adam Malik Medan beralamat di Jalan Bunga Lau no. 17

Medan Kelurahan Kemenangan, Kecamatan Medan Tuntungan adalah rumah

sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VII/1990. RSUP

Haji Adam Malik Medan ditetapkan menjadi Rumah Sakit Pendidikan

berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.502/Menkes/IX/1991 pada

tanggal 6 September 1991. RSUP Haji Adam Malik Medan merupakan pusat

rujukankesehatan utuk wilayah D.I. Aceh, Sumatera Barat dan Riau dan memiliki

visi sebagai rumah sakit pendidikan dan pusat rujukan nasional yang terbaik dan

bermutu di Indonesia pada tahun 2019.

5.1.2. Deskripsi Karateristik Responden

Penelitian ini dilakukan selama bulan September sampai Oktober 2016 di

ruang Post Anesthesia Care Unit RSUP Haji Adam Malik Medan yang diikut i sebanyak 52 pasien pasca bedah tulang panjang dan telah memenuhi kriteria

inklusi. Karakteristik responden yang diamati adalah jenis kelamin, usia,

pendidikan, suku dan jenis anestesi.

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Kelamin

Jenis Kelamin N %

Laki-laki 35 67,3

Perempuan 17 23,7

(10)

Berdasarkan hasil distribusi menurut jenis kelamin, terlihat pada tabel 5.1

bahwa kelompok yang tertinggi adalah laki-laki, yaitu sebesar 67,3% (36 orang)

dan sisanya sebanyak 23,7% (17 orang) kelompok perempuan.

Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Menurut Usia

Umur N %

18-25 2 3.8

26-45 27 51.9

46-65 14 26.9

>65 9 17.3

Total 52 100

Menurut hasil distribusi frekuensi yang terlihat pada tabel 5.2, terdapat

beragam umur responden.Frekuensi umur yang paling banyak ada dalam rentang umur 26-45, yaitu sebanyak 27 orang (54%).

Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Pendidikan

Pendidikan N %

SD 1 1.9

SMP 17 32.7

SMA 25 48.1

Sarjana 9 17.3

Total 52 100.0

Berdasarkan table 5.3 diatas, dapat dilihat distribusi frekuensi karakteristik

menurut tingkat pendidikan responden yaitu, SD sebanyak 1 orang (1.9%), SMP

(11)

Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah tertinggi menuruttingkat

pendidikan adalah SMA dan yang paling sedikit adalah kelompok SD.

5.4 Distribusi Frekuensi Menurut Suku

SUKU N %

Jawa 11 21.2

Batak 33 63.5

Melayu 8 15.4

Total 52 100.0

Berdasarkan frekuensi menurut suku, kelompok suku yang

terbanyak adalah batak, yaitu sebesar 33 orang (63,5%), Jawa sebanyak 11 orang

(21.2%) dan yang paling sedikit adalah suku Melayu 8 orang (15,4%). Hal ini

dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi 5.4.

Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Anestesi

Anestesi N %

Regional 18 35,6

General 34 65,4

Total 52 100

Pada penelitian ini terdapat dua jenis anestesi yang diberikan kepada

responden, yaitu anestesi general dan anestesi regional. Berdasarkan tabel 5.5

diatas, dapat dilihat responden yang mendapatkan anestesi regional sebanyak 35,6

% (18 orang) dan kelompok yang mendapatkan anestesi general adalah 65,4% (34

orang). Berdasarkan tabel diatas, responden yang mendapatkan anestesi general

(12)

5.1.3 Hasil Anaisis Data

5.6 Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Nyeri

Nyeri N %

Nyeri ringan 46 88,5

Nyeri sedang 6 11,5

Nyeri Berat 0 0

Total 52 100

Berdasarkan frekuensi distribusi terhadap tingkatan nyeri pada responden

diperoleh bahwa 88,5% (46 orang) pasien menglami nyeri ringan, sebanyak

11,5% (6 orang) mengalami nyeri sedang dan tidak ada responden yang

mengalami nyeri berat. Hal ini bisa dilihat pada tabel 5.6 diatas.

Tabel 5.7 Frekuensi Distribusi Menurut Terapi

Obat N %

Ketorolac 46 88,5

Tramadol 6 11,5

Total 52 100

Pada tabel 5.7 diatas, terlihat bahwa responden mendapat terapi yang

berbeda.Ada dua kelompok responden yaitu kelompok responden yang mendapat

terapi Ketorolac da nada yang mendapat terapi Tramadol. Pada tabel diatas,

(13)

Tabel 5.8 Frekuensi Distribusi Tingkat Nyeri Terhadap Jenis Kelamin

Jenis Kelamin Tingkat Nyeri Total

Nyeri ringan Nyeri sedang

Laki-Laki 33 (63,5%) 2 (3,8%) 35 (67,3%)

Perempuan 13 (25%) 4 (7,7%) 17 (32,7%)

Total 46 (88,5%) 6 (11,5%) 52 (100%)

Dari hasil analisis tabel 5.8 frekuensi distribusi tingkat nyeri terhadap jenis

kelamin terlihat bahwa 63.5% (33 orang) laki-laki mengalami nyeri ringan,

sementara perempuan hanya 25% (13 orang). Namun pada perempuan nyeri

sedang dialami sebanyak 4 orang (7,7%) dan lebih tinggi daripada laki-laki yang

hanya 2 orang (3,8%).

5.9 Frekuensi Distribusi Tingkat Nyeri Terhadap Jenis Kelamin

Usia Tingkat Nyeri Total

Ringan Sedang

18-25 1 (1.9%) 1 (1,9%) 2 (3,8%)

26-45 26 (50%) 1(1,9%) 27 (51.9%)

46-65 13 (25%) 1 (1,9%) 14 (26,9%)

>65 6 (11,5%) 3 (5,8%) 9 (17,3%)

Total 46 (88,5%) 6 (11,5%) 52 (100%)

Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa pasien dengan nyeri ringan dirasakan

sebanyak 50% (26 orang) pada kelompok usia 26-45 tahun. Namun, pada

kelompok yang berusia diatas 65 tahun lebih banyak mengalami nyeri sedang

(14)

5.10 Frekuensi Distribusi Tingkat Nyeri Terhadap Pendidikan

Pendidikan Tingkat Nyeri Total

Nyeri Ringan Nyeri Sedang

SD 1 (1.9%) 0 (0%) 1 (1.9%)

SMP 15 (28.8%) 2 (3.8%) 17 (32.7%)

SMA

23 (44.2%)

2 (3.8%) 25 (48.1%)

Sarjana 7 (13.5%) 2 (3.8%) 9 (17.3%)

Total 46 (88.5%) 6 (11,5%) 52 (100%)

Pada tabel 5.10 diperoleh bahwa responden yang pendidikan terakhirnya

SMA mengalami nyeri sebanyak 25 orang (48,1%) dan lebih banyak daripada

responden yang tingkat pendidikannya sudah sarjana . Pada nyeri sedang tidak

terlihat perbedaan pada kelompok SMP, SMA dan sarjana yaitu sebesar 3,8% (2

orang).

Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Tingkat Nyeri Terhadap Suku

Suku Tingkat Nyeri Total

Nyeri Ringan Nyeri Sedang

Jawa 11(11,2%) 0 (0%) 11(21,2%)

Batak 27 (51,9%) 6 (11,5%) 33(63,5%

Melayu 8 (15,4%) 0 (0%) 8 (15,4%)

Total 46 (88,5%) 6 (11,5%) 52 (100%)

Suku Batak mengalami nyeri sebanyak 33 orang (63,5%), 6

(15)

menglami nyeri ringan. Berbeda dengan suku melayu dan jawa, pada kedua

kelompok suku ini hanya mengalami nyeri ringan.

5.2. PEMBAHASAN

5.2.1. KARAKTERISTIK RESPONDEN

Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kebanyakan pasien yang

menjadi responden adalah laki-laki yang berjumlah 35 orang (67,3%) sesuai

dengan tabel 5.1. Berdasarkan penelitian sebelumnya, tidak terdapat perbedaan

jenis kelamin dengan nyeri yang diukur dengan VAS dan tidak adanya perbedan

signifikan antara nyeri dan jenis kelamin.

Pada tabel 5.2 didapatkan bahwa setengah dari responden penelitian

berada pada rentang usia 26-45 tahun hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Wandner, yang mengatakan bahwa orang yang lebih tua lebih sensitive

terhadap nyeri dan lebih ingin mengutarakannya dari pada dewasa muda atau

dewasa tua.

29,30

31

Namun, pada penelitian yang dilakukan di Singapura menunjukkan

bahwa nyeri yang lebih ringan berhubungan dengan usia yang lebih muda.

Dari hasil analisa frekuensi tingkat pendidkan yang tertinggi adalah SMA

sebesar 48,1% . Tingkat pendidikan merupakan prediktor yang signifikan terhadap

nyeri, pasien yang tingkat pendidikannya rendah lebih merasa nyeri pada satu minggu pertama pasca operasi.

32

Suku yang terbanyak yang menglami nyeri pada penelitian ini adalah suku

batak (63,5%) mungkin hal ini dikarenakan mayoritas penduduk Sumatera Utara

adalah suku batak. Namun terdapat penelitian yang mengatakan bahwa terdapat

perbedaan yang signifikan antara nyeri terhadap suku batak dan suku jawa karena

perbedaan budaya dan perbedaan persepsi nyeri. 33

Pada penelitian ini terdapat dua jenis kelompok responden yang mendapat

anestesi, ada yang diberi anestesi general dan ada yang diberikan anestesi

regional. Pasien yang mendapatkan anestesi general lebih banyak daripada

(16)

yang mendapatkan anestesi general merasa lebih nyeri saat berad di Postoperative

Care Unit (PCU) daripada yang mendapatkan anestesi kombinasi atau anestesi

regional.

5.2.2. Analisa Hasil Data 30

Nyeri merupakan perasaan sensoris dan emosional yang tidak

menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau

menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.2 Dalam penelitian ini dilakukan

pengukuran nyeri pada pasien pasca bedah ortopedi dengan menggunakan vas

yang dimulai nari 0 sampai 10, dimana jika nilainya 0-3 merupakan nyeri ringan,

nilai 4-6 adalah nyeri sedang dan 7-10 merupakan nyeri berat. Hasil tabel 5.6

menunjukkan bahwa 88,5% pasien pasca bedah tulang panjang mengalami nyeri

ringan dan sisanya 11.5% mengalami nyeri sedang dan tidak ada yang mengalami

nyeri berat. Hal ini berbeda dengan penelitian Chung, dimana terdapat 5,3%

pasien yang mengalami nyeri berat pasca bedah di ruang PACU35 dan terdapat penelitian lain yang mengungkpkaan terdapat 9,4% pasien mengalami nyeri berat

pasca bedah ortopedi di ruang PACU.36

Pada tabel 5.7 terdapat tabel yang menggambarkan terapi nyeri pada

pasien pasca bedah. Terapi yang paling banyak digunakan adalah ketorolak

sebesar 88,5%. Hal ini berhubungan dengan tingkat nyeri pada responden.

Ketorolak merupkan obat NSAID yang digunakan untuk terapi nyeri ringan

dengan dosis 30mg/8 jam. Sedangkan Tramadol adalah golongan opioid lemah

yang bisa digunakan sebagai terapi nyeri sedang dan tidak mempunyai ceiling

effect dan tersedia dalam berbagai macam bentuk.

Hasil dari penelitian ini menunjukkan

bahwa penanganan nyeri pasca bedah di ruangan PACU sudah sangat baik.

7,24

opioid menurunkan

intensitas nyeri dan mengurangi ketakutan dengan cara meningkatkan ambang

nyeri, merubah reaksi terhadap nyeri, menginduksi untuk tidur dan

hiperkapni.25.Hal ini sesuai dengan tangga analgesik WHO.

Pada tabel 5.8 terdapat hasil frekuensi distribusi tingkat nyeri dengan jenis

(17)

laki-laki. Walaupun tidak terdapat perbadaan antara nyeri dan jenis kelamin, pada

hari pertama pasca operasi perempuan bisa mempunyai rerata VAS yang lebih

besar daripada laik-laki.

Umur diketahui mempunyai dampak pada persepsi nyeri. 29

33

Hasil dari tabel

5.9 menunjukkan bahwa nyeri sedang lebih banyak dirasakan oleh kelompok usia

yang lebih dari 65 tahun. Hal ini sesuai dengan Wadner, bahwa orang yang lebih

tua lebih sensitif terhadap nyeri dan lebih ingin mengutarakannya dari pada

dewasa muda atau dewasa tua.

Nyeri merupakan keluhan yang paling sering yang dirasakan pasien bedah

selama periode pasca bedah. Pendidikan berkaitan dengan tingkat nyeri yang

dirasakan pasien.

31

33

Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa 32,7% responden

dengan tingkat penddikan SMP, 48,1% responden mempunyai tingkat pendidikan

SMA, dimana lebih besar dari pada sarjana yang hanya 17,3% . Hasil penelitian

ini sesuai dengan pola hasil penelitian Lanitis, dkk dimana pasien yang mepunyai tingkat pendidikan sampai SMP adalah 36,5%, 38% SMA dan 25,5% pada

sarjana.33

Perbedaan suku terhadap persepsi nyeri berbeda-beda dan telah banyak

didokumentasikan oleh klinisi. Dalam penelitian ini terdapat 63,5% pasien yang

bersuku batak yang menglami nyeri dan 11,5% diantaranya mengalami nyeri

berat. Hanya 11,2% pasien yang mengalami nyer ringan dan berasal dari suku

Jawa. Dalam penelitian Suza,terdapat perbedaan signifikan antara suku jawa dan

batak dikarenakan adanya perbedaan budaya dan persepsi nyeri. Pada orang

Batak, persepsi nyeri merupakan hal yang mengganggu, tidak nyaman dan

melelahkan, namun berbeda pada suku Jawa dimana mereka mengartikannya

sebagai bertahan, mengganggu dan cobaan.

Namun tidak ada perbedaan pada nyeri sedang di penelitian ini terhadap

pendidikan SMP, SMA dan sarjana.

33

Rreaksi suku batak terhadap nyeri

biasanya berteriak atau menangis untuk mendapatkan perhatian. Suku Bata lebih

ekspresifSedangkan suku Jawa lebih sabar, tenang dan memiliki toleransi yang

(18)

BAB 6

KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:

5. Secara demografi, dari 52 pasien dapat dilihat:

• Laki-laki (67,3%) lebih banyak dari perempuan (23,7%) • Usia 26-45 tahun jumlahnya lebih banyak (51,9%) • Pendidikan terakhir SMA paling banyak (48,1%) • Suku Batak jumlahnya paling banyak (63,5%) • Anestesi general lebih banyk digunakan (65,4%)

6. Derajat nyeri terbanyak pada pasien pasca bedah ortopedi tulang panjang

di ruang PACU berdasarkan Visual Analogue Scale (VAS) adalah nyeri ringan (88,5%).

7. Obat yang digunakan pada pasien pasca bedah ortopedi tulang panjang

adalah NSAID ketorolac dengan dosis 30mg/ 8 jam

8. Teknik pemberian obat anti nyeri pada periode September- Oktober adalah

NSAID ketorolak intravena.

6.2. Saran

Adapun saran dari penelitian ini adalah:

1. Bagi petugas yang bekerja di PACU unutk tetap mpertahankan kualitas

dalam menangani nyeri pasien sehingga semua pasien bisa bebas nyeri.

2. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk memeriksa VAS

berulang-ulang agar dapat dilihat variasi skala nyerinya.

3. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat menjadi

Gambar

Tabel 4.1 Definisi Operasional
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Menurut Usia
Tabel 5.7 Frekuensi Distribusi Menurut Terapi
Tabel 5.8 Frekuensi Distribusi Tingkat Nyeri Terhadap Jenis Kelamin
+2

Referensi

Dokumen terkait

Metode: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka prevalensi infeksi nosokomial pada pasien luka operasi pasca bedah kelas bersih di bagian bedah di RSUP Haji Adam Malik,

Data yang digunakan merupakan data rekam medis pasien yang menderita vitiligo di RSUP Haji Adam Malik Medan yang telah memenuhi kriteria inklusi dan tidak

Haji Adam Malik Medan periode Januari 2011-Desember 2013. Mengetahui angka kejadian pasien retinoblastoma di RSUP

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui prevalensi infeksi luka operasi pada pasien pasca-operasi di bagian bedah RSUP H.. Adam

Lokasi.Anatomi diagnosa adalah sebuah ilustrasi yang tepat untuk menentukan lokasi nyeri, banyak pasien tidak dapat menentukan letak nyeri secara. tepat, banyak yang

Anggota Dana dan usaha Scripta Research Festival SCORE PEMA FK USU 20136. Anggota Dana dan usaha Scripta Research Festival SCORE PEMA FK

Populasi dalam penelitian ini adalah semua pasien yang didiagnosa menderita hepatitis C berdasarkan data rekam medis di RSUP Haji Adam Malik Medan mulai 01 Januari 2013 – 06

RSUP Haji Adam Malik Medan periode tahun 2014 dan 2015. Mengetahui sebaran etiologi pasien CTS di RSUP Haji