BAB 3
KERANGKA KONSEP PENELITIAN
3.1.
Kerangka TeoriPersepsi Nyeri Klasifikasi Nyeri
- Nyeri akut - Nyeri kronis - Nyeri nosiseptif - Nyeri neuropati
Penilaian Nyeri
- Lokasi - Intensitas - Kualitas - Onset, durasii,
variasi dan ritme Terapi:
• Farmakologi: NSAID Opioid
• Nonfarmakologi: Distraksi
Pembedahan/kerusakan jaringan
(Stimulus)
nosiseptor
Serat nyeri aferen
Talamus
3.2.
Kerangka Konsep PenelitianBerdasarkan tujuan penelitian yang sudah dibahas sebelumnya, maka terbentuklah
kerangka konsep sebagai berikut:
• Jenis kelamin
• Suku
• Umur
• Pendidikan
• Derajat nyeri ( VAS)
• Terapi
Karakteristik nyeri pasien
pasca bedah di RSUP H.
Adam Malik Medan
Faktor-faktor yang mempengaruhi:
Usia
Jenis kelamin
Tingkat pendidikan
Budaya
Ansietas
BAB 4
METODE PENELITIAN
4.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini penelitian deskriptif, dengan desain cross sectional yang dilakukan dengan tujuan utama untuk mengetahui karakteristik nyeri pasien pasca
bedah di RSUP. Haji Adam Malik Medan.
4.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
4.2.1 Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di RSUP Haji Adam Malik. Rumah sakit ini
dipilih karena merupakan rumah sakit tipe A dan menjadi rumah sakit
rujukan utama untuk wilayah Sumatera Utara dan sekitarnya
4.2.2 Waktu Penelitian
Waktu penelitian terhitung mulai dari bulan September- Desemeber 2016.
4.3 Populasi dan Sampel
4.3.1 Populasi
Yang dimaksudkan dengan populasi dalam penelitian adalah
sekelompok subyek dengan karakteristik tertentu.24
4.3.2 Sampel
Populasi dalam penelitian ini
adalah semua pasien pasca bedah di RSUP Haji Adam Malik Medan pada periode
bulan September- Oktober 2016 yang telah memenuhi kriteria inklusi.
Besar sampel yang diperoleh menggunakan metode total sampling.
Dimana di dalam penelitian ini yang menjadi sampel adalah semua populasi
pasien pasca bedah di RSUP Haji Adam Malik dalam periode 1 September-31
Oktober 2016.
Adapun kritera inklusi dan kriteria eksklusi dalam penelitian ini adalah:
(a) Kriteria Inklusi
•
Pasien pasca bedah fraktur ekstremitas di ruang PACU RSUP Haji Adam Malik periode bulan September- Oktober 2016.•
Pasien berumur > 18 tahun.•
Pasien bedah tulang panjang (b) Kriteria EksklusiDari kriteria eksklusi, yang tidak diambil sebagai data adalah:. • Pasien tuna wicara (bisu).
• Pasien tuna rungu (tuli).
4.4.1 Teknik Pengumpulan Data
Setelah mendapat persutujuan dari Komisi Etik Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara dan RSUP, Haji Adam Malik Medan, pasien diberi
penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta diminta keikutsertaan secara
tertulis dalam penelitian.
4.4.2 Alat dan Bahan
Penelitian ini menggunakan skala VAS dalam bentuk gambar untuk
menilai derajat nyeri pasien pasca bedah di ruang PACU RSUP Haji Adam Malik
Medan.
4.4.3 Masalah Etik
Sebelum melakukan penelitian, pasien akan diberi penjelasan tentang tujuan, manfaat dan resiko yang terkait dengan penelitian ini. Penelitian ini sangat
aman karena tidak melakukan intervensi terhadap pasien dan menilai derajat nyeri
4.4.4 Alur Kerja
Adapun alur kerja dalam penelitian ini adalah:
4.4.5 Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan data dilakukan setelah memperoleh izin dari pihak
kampus Fakultas Kedokeran Universitas Sumatera Utara dan RSUP Haji Adam
Malik. Penelitian ini menggunakan data primer yang diperoleh dari wawancara
langsung terhadap pasien pasca bedah di RSUP. Haji Adam Malik Medan. Pasien Pasca Bedah
PACU
Penilaian:
• Jenis kelamin
• Suku
• Umur
• Pendidikan
• Derajat nyeri ( VAS)
4.5 Pengelolaan dan Metode Analisis Data
4.5.1 Pengelolaan Data
1. Editing
Dilakukan pemeriksaan kelengkapan data yang telah dikumpul.
Apabila data belum lengkap ataupun ada kesalahan data maka
rekam medis tersebut tidak digunakan dan menggunakan rekam
medis yang lain.
2. Coding
Data yang telah dikumpul dikoreksi ketepatan dan kelengkapannya
kemudian diberi kode secara manual oleh peneliti sebelum diolah
dengan komputer.
3. Entry
Data yang telah dibersihkan, di masukkan ke dalam program
komputer SPSS (Statistical Package for Social Science). 4. Cleaning
Pemeriksaaan semua data yang telah dimasukkan kedalam
komputer berguna untuk menghindari terjadinya kesalahan dalam
pemasukan data.
5. Saving
Penyimpanan data untuk siap dianalisis.
4.5. Metode Analisis Data
Setelah data terkumpul dari wawancara yang dilakukan terhadap pasien
4.6. Definisi Operasional
Tabel 4.1 Definisi Operasional
No. Variabel Definisi
Operasional
4 Pendidikan Bimbingn
yang diberikan
seseorang
kepada orang
lain agar dapat
memahami
Visual Analog Scale
(VAS)
di keluhkan
penderita
tentang
perasaan yang
dirasakan
secara sensoris
dan emosional
yang tidak
menyenangkan
dan menganggu
pasca
pembedahan
6 Terapi Usaha untuk memulihkan
kesehatan
orang yang
sedang sakit
Mencatat Wawan
cara
Opioid
NSAID
Dan lain-lain
BAB 5
HASIL PENELITIAN
5.1 Hasil Penelitian
5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
RSUP Haji Adam Malik Medan beralamat di Jalan Bunga Lau no. 17
Medan Kelurahan Kemenangan, Kecamatan Medan Tuntungan adalah rumah
sakit kelas A sesuai dengan SK Menkes No. 335/Menkes/SK/VII/1990. RSUP
Haji Adam Malik Medan ditetapkan menjadi Rumah Sakit Pendidikan
berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI No.502/Menkes/IX/1991 pada
tanggal 6 September 1991. RSUP Haji Adam Malik Medan merupakan pusat
rujukankesehatan utuk wilayah D.I. Aceh, Sumatera Barat dan Riau dan memiliki
visi sebagai rumah sakit pendidikan dan pusat rujukan nasional yang terbaik dan
bermutu di Indonesia pada tahun 2019.
5.1.2. Deskripsi Karateristik Responden
Penelitian ini dilakukan selama bulan September sampai Oktober 2016 di
ruang Post Anesthesia Care Unit RSUP Haji Adam Malik Medan yang diikut i sebanyak 52 pasien pasca bedah tulang panjang dan telah memenuhi kriteria
inklusi. Karakteristik responden yang diamati adalah jenis kelamin, usia,
pendidikan, suku dan jenis anestesi.
Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Kelamin
Jenis Kelamin N %
Laki-laki 35 67,3
Perempuan 17 23,7
Berdasarkan hasil distribusi menurut jenis kelamin, terlihat pada tabel 5.1
bahwa kelompok yang tertinggi adalah laki-laki, yaitu sebesar 67,3% (36 orang)
dan sisanya sebanyak 23,7% (17 orang) kelompok perempuan.
Tabel 5.2 Distribusi Frekuensi Menurut Usia
Umur N %
18-25 2 3.8
26-45 27 51.9
46-65 14 26.9
>65 9 17.3
Total 52 100
Menurut hasil distribusi frekuensi yang terlihat pada tabel 5.2, terdapat
beragam umur responden.Frekuensi umur yang paling banyak ada dalam rentang umur 26-45, yaitu sebanyak 27 orang (54%).
Tabel 5.3 Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Pendidikan
Pendidikan N %
SD 1 1.9
SMP 17 32.7
SMA 25 48.1
Sarjana 9 17.3
Total 52 100.0
Berdasarkan table 5.3 diatas, dapat dilihat distribusi frekuensi karakteristik
menurut tingkat pendidikan responden yaitu, SD sebanyak 1 orang (1.9%), SMP
Dari tabel diatas dapat disimpulkan bahwa jumlah tertinggi menuruttingkat
pendidikan adalah SMA dan yang paling sedikit adalah kelompok SD.
5.4 Distribusi Frekuensi Menurut Suku
SUKU N %
Jawa 11 21.2
Batak 33 63.5
Melayu 8 15.4
Total 52 100.0
Berdasarkan frekuensi menurut suku, kelompok suku yang
terbanyak adalah batak, yaitu sebesar 33 orang (63,5%), Jawa sebanyak 11 orang
(21.2%) dan yang paling sedikit adalah suku Melayu 8 orang (15,4%). Hal ini
dapat dilihat pada tabel distribusi frekuensi 5.4.
Tabel 5.5 Distribusi Frekuensi Menurut Jenis Anestesi
Anestesi N %
Regional 18 35,6
General 34 65,4
Total 52 100
Pada penelitian ini terdapat dua jenis anestesi yang diberikan kepada
responden, yaitu anestesi general dan anestesi regional. Berdasarkan tabel 5.5
diatas, dapat dilihat responden yang mendapatkan anestesi regional sebanyak 35,6
% (18 orang) dan kelompok yang mendapatkan anestesi general adalah 65,4% (34
orang). Berdasarkan tabel diatas, responden yang mendapatkan anestesi general
5.1.3 Hasil Anaisis Data
5.6 Distribusi Frekuensi Menurut Tingkat Nyeri
Nyeri N %
Nyeri ringan 46 88,5
Nyeri sedang 6 11,5
Nyeri Berat 0 0
Total 52 100
Berdasarkan frekuensi distribusi terhadap tingkatan nyeri pada responden
diperoleh bahwa 88,5% (46 orang) pasien menglami nyeri ringan, sebanyak
11,5% (6 orang) mengalami nyeri sedang dan tidak ada responden yang
mengalami nyeri berat. Hal ini bisa dilihat pada tabel 5.6 diatas.
Tabel 5.7 Frekuensi Distribusi Menurut Terapi
Obat N %
Ketorolac 46 88,5
Tramadol 6 11,5
Total 52 100
Pada tabel 5.7 diatas, terlihat bahwa responden mendapat terapi yang
berbeda.Ada dua kelompok responden yaitu kelompok responden yang mendapat
terapi Ketorolac da nada yang mendapat terapi Tramadol. Pada tabel diatas,
Tabel 5.8 Frekuensi Distribusi Tingkat Nyeri Terhadap Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Tingkat Nyeri Total
Nyeri ringan Nyeri sedang
Laki-Laki 33 (63,5%) 2 (3,8%) 35 (67,3%)
Perempuan 13 (25%) 4 (7,7%) 17 (32,7%)
Total 46 (88,5%) 6 (11,5%) 52 (100%)
Dari hasil analisis tabel 5.8 frekuensi distribusi tingkat nyeri terhadap jenis
kelamin terlihat bahwa 63.5% (33 orang) laki-laki mengalami nyeri ringan,
sementara perempuan hanya 25% (13 orang). Namun pada perempuan nyeri
sedang dialami sebanyak 4 orang (7,7%) dan lebih tinggi daripada laki-laki yang
hanya 2 orang (3,8%).
5.9 Frekuensi Distribusi Tingkat Nyeri Terhadap Jenis Kelamin
Usia Tingkat Nyeri Total
Ringan Sedang
18-25 1 (1.9%) 1 (1,9%) 2 (3,8%)
26-45 26 (50%) 1(1,9%) 27 (51.9%)
46-65 13 (25%) 1 (1,9%) 14 (26,9%)
>65 6 (11,5%) 3 (5,8%) 9 (17,3%)
Total 46 (88,5%) 6 (11,5%) 52 (100%)
Dari tabel 5.9 dapat dilihat bahwa pasien dengan nyeri ringan dirasakan
sebanyak 50% (26 orang) pada kelompok usia 26-45 tahun. Namun, pada
kelompok yang berusia diatas 65 tahun lebih banyak mengalami nyeri sedang
5.10 Frekuensi Distribusi Tingkat Nyeri Terhadap Pendidikan
Pendidikan Tingkat Nyeri Total
Nyeri Ringan Nyeri Sedang
SD 1 (1.9%) 0 (0%) 1 (1.9%)
SMP 15 (28.8%) 2 (3.8%) 17 (32.7%)
SMA
23 (44.2%)
2 (3.8%) 25 (48.1%)
Sarjana 7 (13.5%) 2 (3.8%) 9 (17.3%)
Total 46 (88.5%) 6 (11,5%) 52 (100%)
Pada tabel 5.10 diperoleh bahwa responden yang pendidikan terakhirnya
SMA mengalami nyeri sebanyak 25 orang (48,1%) dan lebih banyak daripada
responden yang tingkat pendidikannya sudah sarjana . Pada nyeri sedang tidak
terlihat perbedaan pada kelompok SMP, SMA dan sarjana yaitu sebesar 3,8% (2
orang).
Tabel 5.11 Distribusi Frekuensi Tingkat Nyeri Terhadap Suku
Suku Tingkat Nyeri Total
Nyeri Ringan Nyeri Sedang
Jawa 11(11,2%) 0 (0%) 11(21,2%)
Batak 27 (51,9%) 6 (11,5%) 33(63,5%
Melayu 8 (15,4%) 0 (0%) 8 (15,4%)
Total 46 (88,5%) 6 (11,5%) 52 (100%)
Suku Batak mengalami nyeri sebanyak 33 orang (63,5%), 6
menglami nyeri ringan. Berbeda dengan suku melayu dan jawa, pada kedua
kelompok suku ini hanya mengalami nyeri ringan.
5.2. PEMBAHASAN
5.2.1. KARAKTERISTIK RESPONDEN
Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa kebanyakan pasien yang
menjadi responden adalah laki-laki yang berjumlah 35 orang (67,3%) sesuai
dengan tabel 5.1. Berdasarkan penelitian sebelumnya, tidak terdapat perbedaan
jenis kelamin dengan nyeri yang diukur dengan VAS dan tidak adanya perbedan
signifikan antara nyeri dan jenis kelamin.
Pada tabel 5.2 didapatkan bahwa setengah dari responden penelitian
berada pada rentang usia 26-45 tahun hal ini bertentangan dengan penelitian yang dilakukan Wandner, yang mengatakan bahwa orang yang lebih tua lebih sensitive
terhadap nyeri dan lebih ingin mengutarakannya dari pada dewasa muda atau
dewasa tua.
29,30
31
Namun, pada penelitian yang dilakukan di Singapura menunjukkan
bahwa nyeri yang lebih ringan berhubungan dengan usia yang lebih muda.
Dari hasil analisa frekuensi tingkat pendidkan yang tertinggi adalah SMA
sebesar 48,1% . Tingkat pendidikan merupakan prediktor yang signifikan terhadap
nyeri, pasien yang tingkat pendidikannya rendah lebih merasa nyeri pada satu minggu pertama pasca operasi.
32
Suku yang terbanyak yang menglami nyeri pada penelitian ini adalah suku
batak (63,5%) mungkin hal ini dikarenakan mayoritas penduduk Sumatera Utara
adalah suku batak. Namun terdapat penelitian yang mengatakan bahwa terdapat
perbedaan yang signifikan antara nyeri terhadap suku batak dan suku jawa karena
perbedaan budaya dan perbedaan persepsi nyeri. 33
Pada penelitian ini terdapat dua jenis kelompok responden yang mendapat
anestesi, ada yang diberi anestesi general dan ada yang diberikan anestesi
regional. Pasien yang mendapatkan anestesi general lebih banyak daripada
yang mendapatkan anestesi general merasa lebih nyeri saat berad di Postoperative
Care Unit (PCU) daripada yang mendapatkan anestesi kombinasi atau anestesi
regional.
5.2.2. Analisa Hasil Data 30
Nyeri merupakan perasaan sensoris dan emosional yang tidak
menyenangkan terkait dengan kerusakan jaringan aktual maupun potensial, atau
menggambarkan kondisi terjadinya kerusakan.2 Dalam penelitian ini dilakukan
pengukuran nyeri pada pasien pasca bedah ortopedi dengan menggunakan vas
yang dimulai nari 0 sampai 10, dimana jika nilainya 0-3 merupakan nyeri ringan,
nilai 4-6 adalah nyeri sedang dan 7-10 merupakan nyeri berat. Hasil tabel 5.6
menunjukkan bahwa 88,5% pasien pasca bedah tulang panjang mengalami nyeri
ringan dan sisanya 11.5% mengalami nyeri sedang dan tidak ada yang mengalami
nyeri berat. Hal ini berbeda dengan penelitian Chung, dimana terdapat 5,3%
pasien yang mengalami nyeri berat pasca bedah di ruang PACU35 dan terdapat penelitian lain yang mengungkpkaan terdapat 9,4% pasien mengalami nyeri berat
pasca bedah ortopedi di ruang PACU.36
Pada tabel 5.7 terdapat tabel yang menggambarkan terapi nyeri pada
pasien pasca bedah. Terapi yang paling banyak digunakan adalah ketorolak
sebesar 88,5%. Hal ini berhubungan dengan tingkat nyeri pada responden.
Ketorolak merupkan obat NSAID yang digunakan untuk terapi nyeri ringan
dengan dosis 30mg/8 jam. Sedangkan Tramadol adalah golongan opioid lemah
yang bisa digunakan sebagai terapi nyeri sedang dan tidak mempunyai ceiling
effect dan tersedia dalam berbagai macam bentuk.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan
bahwa penanganan nyeri pasca bedah di ruangan PACU sudah sangat baik.
7,24
opioid menurunkan
intensitas nyeri dan mengurangi ketakutan dengan cara meningkatkan ambang
nyeri, merubah reaksi terhadap nyeri, menginduksi untuk tidur dan
hiperkapni.25.Hal ini sesuai dengan tangga analgesik WHO.
Pada tabel 5.8 terdapat hasil frekuensi distribusi tingkat nyeri dengan jenis
laki-laki. Walaupun tidak terdapat perbadaan antara nyeri dan jenis kelamin, pada
hari pertama pasca operasi perempuan bisa mempunyai rerata VAS yang lebih
besar daripada laik-laki.
Umur diketahui mempunyai dampak pada persepsi nyeri. 29
33
Hasil dari tabel
5.9 menunjukkan bahwa nyeri sedang lebih banyak dirasakan oleh kelompok usia
yang lebih dari 65 tahun. Hal ini sesuai dengan Wadner, bahwa orang yang lebih
tua lebih sensitif terhadap nyeri dan lebih ingin mengutarakannya dari pada
dewasa muda atau dewasa tua.
Nyeri merupakan keluhan yang paling sering yang dirasakan pasien bedah
selama periode pasca bedah. Pendidikan berkaitan dengan tingkat nyeri yang
dirasakan pasien.
31
33
Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa 32,7% responden
dengan tingkat penddikan SMP, 48,1% responden mempunyai tingkat pendidikan
SMA, dimana lebih besar dari pada sarjana yang hanya 17,3% . Hasil penelitian
ini sesuai dengan pola hasil penelitian Lanitis, dkk dimana pasien yang mepunyai tingkat pendidikan sampai SMP adalah 36,5%, 38% SMA dan 25,5% pada
sarjana.33
Perbedaan suku terhadap persepsi nyeri berbeda-beda dan telah banyak
didokumentasikan oleh klinisi. Dalam penelitian ini terdapat 63,5% pasien yang
bersuku batak yang menglami nyeri dan 11,5% diantaranya mengalami nyeri
berat. Hanya 11,2% pasien yang mengalami nyer ringan dan berasal dari suku
Jawa. Dalam penelitian Suza,terdapat perbedaan signifikan antara suku jawa dan
batak dikarenakan adanya perbedaan budaya dan persepsi nyeri. Pada orang
Batak, persepsi nyeri merupakan hal yang mengganggu, tidak nyaman dan
melelahkan, namun berbeda pada suku Jawa dimana mereka mengartikannya
sebagai bertahan, mengganggu dan cobaan.
Namun tidak ada perbedaan pada nyeri sedang di penelitian ini terhadap
pendidikan SMP, SMA dan sarjana.
33
Rreaksi suku batak terhadap nyeri
biasanya berteriak atau menangis untuk mendapatkan perhatian. Suku Bata lebih
ekspresifSedangkan suku Jawa lebih sabar, tenang dan memiliki toleransi yang
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan:
5. Secara demografi, dari 52 pasien dapat dilihat:
• Laki-laki (67,3%) lebih banyak dari perempuan (23,7%) • Usia 26-45 tahun jumlahnya lebih banyak (51,9%) • Pendidikan terakhir SMA paling banyak (48,1%) • Suku Batak jumlahnya paling banyak (63,5%) • Anestesi general lebih banyk digunakan (65,4%)
6. Derajat nyeri terbanyak pada pasien pasca bedah ortopedi tulang panjang
di ruang PACU berdasarkan Visual Analogue Scale (VAS) adalah nyeri ringan (88,5%).
7. Obat yang digunakan pada pasien pasca bedah ortopedi tulang panjang
adalah NSAID ketorolac dengan dosis 30mg/ 8 jam
8. Teknik pemberian obat anti nyeri pada periode September- Oktober adalah
NSAID ketorolak intravena.
6.2. Saran
Adapun saran dari penelitian ini adalah:
1. Bagi petugas yang bekerja di PACU unutk tetap mpertahankan kualitas
dalam menangani nyeri pasien sehingga semua pasien bisa bebas nyeri.
2. Untuk peneliti selanjutnya diharapkan untuk memeriksa VAS
berulang-ulang agar dapat dilihat variasi skala nyerinya.
3. Untuk penelitian selanjutnya diharapkan penelitian ini dapat menjadi