JUMPER DIMULAI DARI ORF PERTAMINA DI DESA PERMISAN MENUJU KE
SALURAN SEMAMBUNG DI DESA PLUMBON.
Oleh : Kelompok VI
- Wawan Trianto 3111 100 059 - Firnalia Perdana P 3111 100 060 - Iveth Fahrizal 3111 100 065 - Ahmad Naim M 3111 100 067 - Agi Arbianto 3111 100 068
JURUSAN TEKNIK SIPIL
FAKULTAS TEKNIK SIPIL DAN PERENCANAAN INSTITUT TEKNOLOGI SEPULUH NOPEMBER
PENILAIAN DAN RENCANA PEMANTAUAN DAMPAK PROYEK PEMASANGAN PIPA JUMPER DIMULAI DARI ORF PERTAMINA DI DESA PERMISAN MENUJU KE SALURAN SEMAMBUNG DI DESA PLUMBON.
BAB I PENDAHULUAN
Latar Belakang
PT. PETROKIMIA GRESIK (PKG) adalah produsen pupuk terlengkap di Indonesia, yang berkewajiban untuk memenuhi kebutuhan pupuk khususnya di Jawa Timur dan mendukung Program Swasembada Pangan Nasional.
Sejak pecahnya pipa 28 inch milik PERTAMINA pada bulan November 2006 yang lalu akibat semburan lumpur di Sidoarjo, pasokan gas bumi ke PT. Petrokimia Gresik menjadi terbatas. Sampai dengan saat ini PT. Petrokimia Gresik hanya mendapat pasokan gas + 42 MMSCFD yang berasal dari :
Kangean Energi Indonesia dan melalui pipa Wunut sebesar 20-22 MMSCFD Kodeco sebesar 10-12 MMSCFD.
Dikarenakan hal tersebut pabrik amoniak hanya bisa berproduksi 85%, urea 90% dan kehilangan produksi amonia 50.000 ton, urea 30.000 ton. PKG telah membangun pipa gas dan dioperasikan sejak akhir tahun 2006 di daerah Wunut Sidoarjo, namun berpotensi terjadi kerusakan pipa akibat adanya semburan lumpur. Kondisi tersebut dapat mengakibatkan terhentinya pasokan gas.
Dalam rangka meningkatkan dan menjaga pasokan gas bumi ke PT. Petrokimia Gresik (PKG) maka direncanakan dibangun pipa Jumper 12 inch sepanjang 10,5 kilometer mulai dari ORF Pertamina Porong hingga ke pipa 28 inchi EJGP KM 35-200. Pembangunan pipa jumper ini diharapkan dapat menggantikan pipa gas yang dibangun di Wunut Sidoarjo apabila terjadi kondisi emergency. Selain itu bisa mengalirkan seluruh gas dari Kangean Energi Indonesia (KEI) guna mempercepat peningkatan suplai gas ke PT. Petrokimia Gresik.
Sesuai dengan PP No. 27 tahun 1999 tentang Amdal, serta berbagai perangkat peraturan perundangan lainnya yang berkaitan dengan kegiatan yang akan dilaksanakan, khususnya KEPMENLH No. 11 tahun 2006 tentang Jenis Usaha dan/atau Kegiatan yang Wajib Dilengkapi dengan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup (AMDAL), kegiatan Pemasangan Pipa Jumper PT. PKG termasuk kategori kegiatan yang tidak wajib dilengkapi dengan Studi AMDAL.
Di samping berbagai dampak positif yang diharapkan, muncul juga berbagai dampak negatif yang tidak diinginkan terhadap lingkungan hidup sebagai efek dari kegiatan Pemasangan Pipa Jumper PT PKG. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan pembangunannya harus pula diikuti dengan kegiatan pengelolaan lingkungan yang diarahkan pada upaya untuk mencegah atau menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif agar manfaat yang diperoleh dari kegiatan pembangunan dapat dioptimalkan.
Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang timbul dari latar belakang di atas, antara lain:
1. Apa saja dampak positif dan negatif potensial dari pekerjaan tersebut untuk setiap tahapnya (pra konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi/operasi) ?
2. Dampak apa saja yang penting dan bagaimana menganalisa dampak tersebut?
3. Bagaimana pengelolaan dampak negatif penting agar kerugian yang ditimbulkan dapat dimininalisir?
Maksud dan Tujuan
1. Mendapatkan Identifikasi dampak positif dan negatif potensial dari pekerjaan tersebut untuk setiap tahapnya (pra konstruksi, konstruksi dan pasca konstruksi/operasi). 2. Menentukan dampak apa saja yang penting dan bagaimana menganalisa dampak
tersebut.
BAB II RENCANA KEGIATAN
Lokasi
Rencana pemasangan jalur pipa gas jumper ini akan melalui sungai milik Dinas Pengairan Kabupaten Sidoarjo dan melintasi 3 Kecamatan di Kabupaten Sidoarjo yaitu Kecamatan Jabon, Kecamatan Porong, dan Kecamatan Tanggulangin. Di Kecamatan Jabon desa yang dilalui adalah Desa Permisan sedangkan di Kecamatan Porong desa yang dilalui adalah Desa Plumbon. Di Kecamatan Tanggulangin, jalur pipa akan melintasi 7 (tujuh) desa yaitu: Desa Sentul, Desa Penatarsewu, Desa Kalidawir, Desa Gempolsari, Desa Kalitengah, Desa Kludan dan Desa Kedensari.
Gambar 2.1. Rencana Rute Perpipaan yang akan dibangun
Jalur pipa dimulai dari ORF Pertamina di Desa Permisan menuju ke saluran Semambung di Desa Plumbon. Alur pipa searah dengan aliran saluran Semambung melewati Desa Sentul lalu ke Desa Penatarsewu. Di Desa Penatarsewu saluran bermuara di Kali Sangangewu. Di pertemuan saluran dan sungai tersebut pipa jalur pipa membelok searah dengan aliran sungai Sanggangewu melewati Desa Kalidawir. Jalur pipa selanjutnya diteruskan ke Kali Rowogedek
melewati Desa Gempolsari, Desa Kalitengah, Desa Kludan dan Desa Kedensari. Lokasi / rute seperti gambar 2.1.
Jadwal Kegiatan
Umur/jadwal kegiatan pemasangan pipa gas jumper ini dilakukan selama 254 hari dan dimulai pada Maret 2008. Untuk tahap prakonstruksi meliputi kegiatan pengukuran lapangan, disain / drawing, perijinan, tender pipa. Tahap ini diprakirakan memerlukan waktu 4 bulan mulai Maret 2008 sampai Juli 2008 Dokumen Perijinan yang sudah ada sampai studi ini dilakukan
Pekerjaan konstruksi pemasangan pipa Gas Jumper direncanakan dilaksanakan selama 5 (lima) bulan dan akan dilaksanakan mulai Juni 2008 sampai Nopember 2008.
Umur operasi pipa atau kegiatan pengoperasian pipa gas jumper ini adalah 5 tahun mulai Desember 2008 sampai Desember 2013 dan tahap pasca operasi adalah setelah tahun 2013
Garis Besar Komponen Kegiatan
Rencana kegiatan yang akan dilaksanakan adalah pemasangan jalur pipa gas jumper mulai dari ORF Pertagas Poro g ke pipa gas Perta i a ” di KM 5-200. Panjang pipa jumper ini adalah
,5 k de ga dia eter pipa adalah ” da tebal ,5 . Teka a desain pipa adalah 700
psi dan tekanan operasi 450 psi. Tie in pipa di jembatan layang tol di Km 35-200.
Rencana kegiatan yang diprakirakan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan hidup, dapat dibagi atas 4 (empat) tahapan, yaitu Tahap Pra Konstruksi, Tahap Konstruksi, Tahap Operasi, dan Tahap Pasca Operasi.
1) Tahap Prakonstruksi
a. Publikasi rencana kegiatan b. Pembebasan lahan
2) Tahap Konstruksi
a. Mobilisasi tenaga kerja konstruksi
b. Mobilisasi dan demobilisasi peralatan dan material c. Pembersihan lahan
Penumpukan pipa
Penggalian tanah dan penumpukan material galian Penjajaran dan penyambungan
Peletakan pipa Uji hidrostatik pipa
Pembuangan limba uji hidrostatik pipa e. Rehabilitasi sekitar jalur pipa
f. Demobilisasi tenaga kerja konstruksi 3) Tahap Operasi
BAB III METODE
Untuk mengidentifikasi dampak kegiatan, dilakukan pendekatan teknis untuk mendapatkan nilai dari dampak yang akan terjadi, seperti pada diagram di bawah ini.
Gambar 3.1. Pendekatan teknis penyusunan upaya pengelolaan lingkungan dan pemantauan lingkungan
Dengan pendekatan teknis, diharapkan didapatkan informasi-informasi penting mengenai dampak dari rencana kegiatan konstruksi. Antara lain:
1. Identifikasi hal penting
2. Identifikasi dan prakiraan dampak 3. Penentuan dampak besar dan penting 4. Evaluasi dampak besar dan penting
Identifikasi Hal Penting
b. Telaah literatur
c. Wawancara dan kuesioner
d. Penelitian dan partisipasi-observasi
Identifikasi dan Prakiraan Dampak
Untuk langkah awal dalam memprakirakan dampak besar dan penting yang akan timbul ditinjau berdasarkan interaksi antara komponen kegiatan konstruksi (tahap pra konstruksi, konstruksi, operasi dan pasca operasi) dengan komponen lingkungan terkena dampak. Prakiraan dampak penting dilakukan dengan menggunakan matriks prakiraan dampak penting.
Penentuan dampak besar dan penting
Penentuan dampak besar dan penting ini merupakan tindak lanjut dari hasil identifikasi dengan menggunakan bagan alir dan prakiraan dampak yang terjadi sebagai akibat dari adanya kegiatan proyek terhadap komponen lingkungan, untuk selanjutnya akan diperoleh nilai besaran dampak dan nilai pentingnya dampak dan sifat dampak untuk masing-masing kegiatan. Penentuan besaran dampak ditentukan dengan kriteria :
1 = Kecil (Skala 1) 2 = Sedang (Skala 2) 3 = Besar (Skala 3)
Evaluasi Dampak Besar dan Penting
Evaluasi dampak penting dari setiap tahap kegiatan seperti yang telah dilakukan secara holistik dengan memperhatikan dampak dari kegiatan terhadap aspek atau komponen lingkungan yang diperkirakan terkena dampak. Dari hasil prakiraan dampak terlihat, bahwa tidak semua dampak yang muncul sebagai hasil kegiatan Pemasangan Pipa Gas PT Petrokimia Gresik dapat dikategorikan sebagai dampak penting, karena beberapa dampak mempunyai intensitas dampak yang rendah atau karena penyebarannya relatif tidak luas.
BAB IV PEMBAHASAN
Identifikasi Dampak Positif dan Negatif Potensial Terlampir (lampiran 1)
Analisa Dampak Penting Tahap Pra Konstruksi
Yang perlu diperhatikan pada tahap ini adalah reaksi dari masyarakat sekitar yang menolak pemasangan pipa gas jumper karena beberapa aspek diantaranya lokasi tersebut dekat dengan pemukiman penduduk sehingga masyarakat merasa terganggu, termasuk ketidakpastian atas besarnya ganti rugi pada tanaman milik masyarakat juga menambah keresahan masyarakat.
Pada proyek pembangunan pipa gas, biasanya kekecewaan masyarakat terutama disebabkan karena alih fungsi yang tidak sesuai dengan kehendak masyarakat dan kegiatan yang mengganggu kebiasan masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan ketidak sepahaman antara masyarakat dengan pihak kontruksi dan akan menyebabkan hal hal yang tidak diinginkan seperti , demo atau pemberhentian paksa proyek tersebut oleh warga. Oleh karena itu perlu adanya sosialisai dengan warga setempat.
Pada proyek pembangunan jumper pipa gas PKG ini, masyarakat justru banyak memberikan masukan kepada pihak PT. Petrokimia Gresik sehingga atas usul warga jalur semula dipindahkan ke lokasi yang lebih aman.
Konstruksi
Untuk tahap kontruksi perlu diperhatikan bagaimana masyarakat tetap merasa nyaman dan tidak terganggu ketika konstruksi berjalan, untuk itu hal-hal yang paling diperhatihan adalah dampak dari kebisingan dan getaran yang ditimbulkan akibat pekerjaan kontruksi, kemacetan lalu lintas yang diakibatkan kendaraan yang mengangkut material, juga polusi yang diakibatkan pekerjaan.
Gambar 4.2. Kegiatan penggalian untuk jalur pipa disekitar pemukiman dan jalan sering menyebabkan aktivitas warga terganggu
Tahap Pasca Konstruksi / Operasi
Pada tahap pasca konstruksi, hal-hal yang perlu diperhatikan adalah kegiatan pengawasan dan pemeriksaan jalur pipa. Meliputi pemeriharaan pipa supaya mengurangi resiko kebocoran, pemeliaharaan ROW , pengawasan agar ROW tidak dimanfaatkan warga secara ilegal, dan system keamanan darurat yang harus berjalan dengan baik.
Tahap Pasca Operasi
Upaya Pengendalian Dampak Negatif Terlampir (lampiran 2)
BAB V PENUTUP
Kesimpulan
Di samping berbagai dampak positif yang diharapkan, muncul juga berbagai dampak negatif yang tidak diinginkan terhadap lingkungan hidup sebagai efek dari kegiatan Pemasangan Pipa Jumper PT PKG. Oleh karena itu, dalam setiap kegiatan pembangunannya harus pula diikuti dengan kegiatan pengelolaan lingkungan yang diarahkan pada upaya untuk mencegah atau menanggulangi dampak negatif dan mengembangkan dampak positif agar manfaat yang diperoleh dari kegiatan pembangunan dapat dioptimalkan.
Saran
Lampiran 1. Identifikasi Dampak Positif dan Negatif Potensial
Penilaian dan Rencana Pemantauan Dampak Proyek Pemasangan pipa jumper tersebut
dimulai dari ORF Pertamina di Desa Permisan menuju ke Saluran Semambung di Desa Plumbon
Diskripsi proyek :
Dalam rangka meningkatkan dan menjaga pasokan gas bumi ke PT. Petrokimia Gresik (PKG) maka direncanakan dibangun pipa Jumper 12 inch sepanjang 10,5 kilometer mulai dari ORF Pertamina Porong hingga ke pipa 28 inchi EJGP KM 35-200. Pembangunan pipa jumper ini diharapkan dapat menggantikan pipa gas yang dibangun di Wunut Sidoarjo apabila terjadi kondisi emergency. Selain itu bisa mengalirkan seluruh gas dari Kangean Energi Indonesia (KEI) guna mempercepat peningkatan suplai gas ke PT. Petrokimia Gresik.
Tabel.1 Matrik Penilaian Resiko Dampak
No Kegiatan Aspek
Terdampak
Kondisi Awal Hipotesis Kondisi Pada Saat
Pelaksanaan
Dampak
Tahap Prakonstruksi
Publikasi Rencana Kegiatan
Psikologis masyarakat Masyarakat hidup damai Masyarakat mulai resah (-)
Pembebasan Lahan Rencana kegiatan proyek diketahui masyarakat
Masyarakat cemas dengan rencana pembangunan
Masyarakat bisa mengetahui rencana kegiatan yang akan dilakukan sehingga mereka bisa menyalurkan aspirasi sebelum kegiatan pemasangan pipa gas jumper dilakukan.
(+)
Ketidakpastian ganti rugi
Harga tanah normal Terjadi spekulasi harga tanah, karena banyak makelar tanah yang menaikkan harga diatas harga normal
(-)
Alih fungsi lahan Lahan produktif, untuk sawah dan tambak
Ladang mata pencaharian warga terganggu (-)
Tahap Konstruksi
Mobilisasi Tenaga Kerja Konstruksi.
Penyerapan tenaga kerja
Mayoritas masyarakat bekerja sebagai petani dan pemilik tambak
Sebagian masyarakat beralih profesi menjadi tenaga kerja konstruksi dan makelar tanah
lokasi Kepadatan aktivitas di lokasi
Kualitas udara di sekitar jalur darat masih bagus. Tingkat kebisingan rendah
Seringnya penggunaan jalan darat untuk pengangkutan material dan peralatan dengan menggunakan gerobak mengakibatnya turunnya kualitas udara (debu) dan timbul ketidaknyamanan akibat kebisingan
(-)
Alih fungsi sungai masyarakat masih leluasa menggunakan sungai untuk kebutuhan sehari-hari
penggunaan sungai sebagai alternatif jalan darat (penggunaan ponton) mengakibatkan terbatasnya penggunaan sungai oleh warga Penyediaan lahan
loading dan exisisting dari peralatan dan material
_______ Penggunaan lahan kosong milik warga, lapangan desa Penatar Sew, dan lahan kosong milik developer Perumahan Permata Regency untuk lokasi Lay Down Area bisa diangap mengganggu kenyamanan
(-)
Aktivitas ekonomi Di daerah konstruksi dan lay down area pada mulanya tidak ada kegiatan ekonomi
Terjadi pengingkatan aktivitas ekonomi di daerah penggelaran pipa
(+)
Kondisi prasaranana transportasi
--- Beban truk yang sampai 10 ton bisa saja melebihi kapasitas jalan yang dilalui dan menyebabkan kerusakan jalan
(-)
Pembersihan Lahan. Mengganggu fungsi saluran irigasi
Saluran irigasi bekerja dengan semestinya.
Spekulasi adanya penurunan efisiensi dari saluran irigasi dan penurunan kualitas air akibat adanya pembersihan jalur pipa di jalur intake dengan
Material sisa pembersihan lahan masih berserakan di sekitar lokasi pembersihan lahan
Lokasi pembersihan sudah bersih dari material sisa pembersihan lahan dan dibuang di suatu ditanami tanaman maupun dijadikan tambak
Kegiatan pembersihan lahan dari tumbuhan dan material yang tidak dibutuhkan dianggap dapat mengurangi lahan persawahan dan pertambakan produktif.
Penggelaran Fisik Pipa Kebutuhan lahan untuk penumpukan material dan pipa
Akses masyarakat menuju sungai dan tambak masih lancar
Akses masyarakat menuju sungai dan tambak menjadi terganggu
proses
penyambungan pipa
pemotongan pipa. Timbul radiasi dari las.
Limba uji hidrosatik pipa
Tidak ada limbah yang dialirkan ke saluran
Timbul limbah akibat uji hidrostatik berupa air kotor dan kotoran padat
Adanya material sisa penggalian
--- Terjadi penumpukan material di sekitar bahu sungai yang belum ditangani
(-)
Rehabilitasi di sekitar jalur pipa
Penimbunan kembali lubang galian diikuti dengan pemadatan
Adanya penimbunan yang kurang sempurna sehingga diperlukan penimbunan ulang
Mengakibatkan adanya penurunan kualitas udara berupa debu akibat kegiatan penimbunan.
(-)
Pembersihan lahan di sekitar pipa dari tanah dan sampah yang tercecer
Material sisa pembersihan lahan berserakan di sekitar lokasi pembersihan lahan
Lokasi pembersihan sudah bersih dari material sisa pembersihan lahan dan dibuang di suatu lahan kosong
(+)
Pengembalian aliran sungai atau saluran
Saluran irigasi masih berfungsi dengan baik
Adanya kemungkinan terjadi penurunan efisiensi dari saluran irigasi untuk mengalirkan air ke
Sebagian masyarakat berprofesi menjadi tenaga kerja konstruksi di proyek pemasangan pipa jumper
Masyarakat yang tidak mampu mencari profesi lain pasca pemutusan kontrak tenaga kerja terpaksa menganggur
(-)
Ketidaknyaman masyrakat sekitar
Pada saat pelaksaanan konstruksi ketenangan masyarakat terganggu
Ketenangan masyarakat kembali pulih seperti sedia kala
(+)
Aktivitas ekonomi Pada saat pelaksaanan konstruksi terjadi peningkatan aktivitas ekonomi
Pasca konstruksi aktivitas ekonomi kembali berkurang akibat tidak adanya kegiatan.
(-)
-- Timbul kekhawatiran masyarakat sekitar akan terjadinya kebocoran gas.
(-)
Kemungkinan terjadinya kebocoran pipa
Masyarakat tidak perlu takut tentang kemungkinan adanya kebocoran gas
Munculnya spekulasi masyarakat tentang adanya kemungkinan terjadi kebocoran gas
(-)
Pemeliharaan pipa. Pelaporan
masyarakat kepada petugas Inspeksi berkala
- Masyarakat yang khawatir dengan adanya
kebocoran gas bisa membantu melaporkan ketidakberesan yang terjadi di daerah jalur pipa
tanam masyarakat di sekitar lokasi pengoperasian pipa karena adanya pengurangan lahan tanam
Sistem penanganan kemungkinan-kemungkinan darurat yang akan terjadi
(+)
Keresahan masyarakat
Timbul keresahan saat terjadi keadaan darurat (-)
Tahap Pasca Operasi
Pengosongan dan penutupan pipa setelah beroperasi selama lima tahun
Psikologi masyarakat Munculnya spekulasi masyarakat tentang adanya kemungkinan terjadi kebocoran gas dan polusi udara
Masyarakat tidak perlu takut tentang kemungkinan adanya kebocoran gas
(+)
Pemberhentian petugas inspeksi
- Pemutusan tenaga kerja menyebabkan
meningkatnya pengangguran
- Timbul polusi akibat gas N2 yang digunakan (-)
Pengembalian lahan
Lampiran 2. Upaya Pengendalian Dampak Negatif
Tabel.2 Matrik Upaya Pengendalian Dampak Negatif
No. Kegiatan Aspek Terdampak Uraian Upaya Pengelolaan Dampak Keterangan
untuk mengatasi hal-hal yang meresahkan masyarakat secara psikologis Pembebasan Lahan Ganti rugi bermasalah Mencoba mencari alternative selain uang untuk membebaskan lahan
masyarakat yang bermasalah
Alih fungsi lahan Disiapkan lahan baru ditempat lain yang memiliki fungsi dari lahan ditempat konstruksi
Tahap Konstruksi
Mobilisasi dan Demobilisasi Peralatan dan Material.
Kondisi prasarana transportasi
Memberi batasan pada beban yang dimobilisasi untuk mencegah terjadinya kerusakan pada prasarana transportasi
Dilakukan perbaikan terhadap prasarana transportasi di waktu yang tepat Penyediaan lahan
loading dan exisisting dari peralatan dan material
Pemberian ganti rugi atau kompensasi untuk pihak yang lahannya digunakan untuk loading dan eksisting peralatan
Polusi dari kendaraan berupa debu dan asap
Penyiraman jalan untuk menanggulangi resuspensi debu akibat kegiatan transportasi, dengan mempergunakan truk tangki air.
Mengoperasikan kendaraan yang baik jalan dan telah lulus uji emisi dari instansi terkait (Dinas Perhubungan setempat).
Membatasi laju kendaraan sehingga debu tidak beterbangan ke udara Kemacetan Upaya menanggulangi gangguan kemacetan lalu lintas dilaksanakan dengan
mengatur lalu lintas perjalanan kendaraan proyek tidak pada waktu jam sibuk, frekuensi angkutan diatur dan disesuaikan dengan kepadatan jalan yang dilalui, peningkatan disiplin pengemudi proyek dan pemasangan rambu-rambu lalu lintas seperti “flash light”
Kebisingan Untuk mengurangi intensitas kebisingan dilakukan dengan cara pembatasan aktifitas mobilisasi hanya pada siang hari saja.
Pembersihan Lahan. Mengganggu fungsi saluran irigasi
Pembuatan saluran irigasi yang alternative untuk mengganti saluran yang terganggu, memanfaatkan pompa air.
Penggelaran Fisik Pipa Kebutuhan lahan untuk penumpukan material dan pipa
Pembuatan akses jalan tambahan sebagai solusi dari lebar jalan yang berkurang akibat penumpukan material
Adanya material sisa penggalian
Dilakukan mobilisasi untuk sisa material penggalian ke tempat yang telah disiapkan
Rehabilitasi di sekitar jalur pipa
Penimbunan kembali lubang galian diikuti dengan pemadatan
konstruksi tenaga kerja
Tahap Operasi
Pengoperasian pipa penyalur Pengurangan lahan tanam
Disiapkan lahan pertanian dilokasi lain
Kemungkinan terjadinya kebocoran pipa
Dilakukan pencerdasan mengenai peluang terjadinya kebocoran pada pipa Dilakukan pencerdasan pada masyarakat yang bermukim disekitar pipa
mengenai prosedur keselamatan
Tahap Pasca Operasi
Pengosongan dan penutupan pipa setelah beroperasi selama lima tahun
Adanya penggunaan gas N2 saat pengosongan dan penutupan pipa
Dilakukan upaya lanjutan untuk mencegah terjadinya kebocoran gas N2 dan pengawasan terhadap pipa yang ditinggalkan
Pengembalian lahan bekas jalur pipa ke fungsi asalnya
Kembalinya proporsi lahan tanam setelah masa pengoperasian pipa berakhir
Perlu ada upaya dari PKG untuk melakukan upaya pengijauan kembali atas lahan bekas ROW pipa.
Lampiran 3. Rencana Pemantauan Dampak Proyek
Tabel.3 Matrik Rencana Pemantauan Dampak Proyek
No. Kegiatan Keterangan Parameter yang Dipantau Referensi
Tahap Prakonstruksi
Publikasi Rencana Kegiatan Psikologis masyarakat Jumlah komlplain dari masyarakat
Pembebasan Lahan Ganti rugi
bermasalah
Jumlah pembebasan lahan yang bermasalah
jumlah uang yang dikeluarkan untuk pembebasan lahan Alih fungsi lahan Luas lahan yang beralih fungsi
Nilai dan isi dari lahan yang beralih fungsi
Tahap Konstruksi
Mobilisasi Tenaga Kerja Konstruksi.
Penyerapan tenaga kerja
Mobilisasi dan Demobilisasi Peralatan dan Material.
Kondisi prasarana transportasi
Jumlah dan nilai dari kerusakan yang terjadi pada prasarana
Penyediaan lahan loading dan exisisting dari peralatan dan material
Jumlah lahan yang dibutuhkan untuk eksisting dan loading peralatan dan material
Pembersihan Lahan. Mengganggu fungsi saluran irigasi
Besaran debit untuk irigasi yang berkurang akibat jalur intake rusak
Pembuangan
material sisa pembersihan lahan
Volume buangan dan volume daya tampung TPA
Penggelaran Fisik Pipa Kebutuhan lahan untuk penumpukan material dan pipa
Lahan yang dipakai untuk penumpukan material
Adanya material sisa penggalian
Sisa material yang butuh untuk dialokasi
Rehabilitasi di sekitar jalur pipa Penimbunan kembali lubang galian diikuti dengan pemadatan
Pamadatan harus sesuai prosedur
Pembersihan lahan di sekitar pipa dari tanah dan sampah yang tercecer
Tingkat keluhan warga akibat polusi udara karea debu
Pengembalian aliran sungai atau saluran
Debit saluran pra dan pasca konstruksi
Demobilisasi tenaga kerja konstruksi
Pemutusan kontrak tenaga kerja
Jumlah kontrak tenaga kerja yang diputuskan dan kebutuhan tenaga kerja untuk tahap operasi
Tahap Operasi/Pasca Konstruksi
Pengoperasian pipa penyalur Pengurangan lahan tanam
Luas lahan tanam yang berkurang
Kemungkinan terjadinya kebocoran pipa
Sistem penanganan keadaan darurat.
Penanganan keadaan darurat seperti kebakaran atau kebocoran gas
Pengetahuan masyarakat dalam menangani keadaan darurat
Tahap Pasca Operasi
Pengosongan dan penutupan pipa setelah beroperasi selama lima tahun
Adanya penggunaan gas N2 saat pengosongan dan penutupan pipa
Kadar gas N2 yang lepas ke udara
Pengembalian lahan bekas jalur pipa ke fungsi asalnya
Kembalinya proporsi lahan tanam setelah masa pengoperasian pipa berakhir