• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERFORMANS SAPI BALI INDUK SEBAGAI PENYEDIA BIBIT/BAKALAN DI WILAYAH BREEDING STOCK BPTU SAPI BALI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERFORMANS SAPI BALI INDUK SEBAGAI PENYEDIA BIBIT/BAKALAN DI WILAYAH BREEDING STOCK BPTU SAPI BALI"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

PERFORMANS SAPI BALI INDUK SEBAGAI PENYEDIA

BIBIT/BAKALAN DI WILAYAH BREEDING STOCK

BPTU SAPI BALI

(The Performance of Bali Cattle Cows as Calf Stocker at the Breeding Stock

of BPTU Bali Cattle)

HARTATI1,D.B.WIJONO2danMAHMUD SISWANTO3 ¹Loka Penelitian Sapi Potong, Jl. Pahlawan No. 2, Grati, Pasuruan 67184

²Balai Pembibitan Ternak Unggul Sapi Bali

ABSTRACT

Bali cattle has wide diversity, so it gives an opportunity to improve its performance as the source of breeding cattle. This research aimed to investigate the performance of Bali cow to be used as cow calf operation at breeding stock of Bali Province. This research was conducted at Bali cattle Breeding Stock in cooperation with Bali BPTU, during 2005 – 2006. The animal observed were 1132 head cow of Bali cattle owned by farmer at 2 regency at Tabanan and Bangli regency. The respondent was chosen through purposive random sampling method as base population for selection. The parameters were: physiological status, cow body weight and morphology. Data were analyzed using analysis of descriptive and t-student test. The result showed that Bali cattle at breeding stock of Tabanan and Bangli regencies had small diversity and relatively homogeneous. The different location was not influence Bali cattle, such as body weight or morphology.

Key Word: Cow Performance, Bali Cattle, Breeding Stock

ABSTRAK

Sapi Bali memiliki keragaman yang cukup luas, sehingga masih memberikan peluang untuk diperbaiki performansnya sebagai sumber bibit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui performans sapi Bali induk yang digunakan sebagai penghasil bibit di wilayah breeding stock Propinsi Bali. Penelitian dilakukan di wilayah breeding stock Sapi Bali bekerjasama dengan Balai Pembibitan Ternak Unggul (BPTU) Sapi Bali, dari tahun 2005 – 2006. Materi yang digunakan sebanyak 1132 ekor sapi Bali induk milik peternak yang tersebar di 2 Kabupaten yaitu Kab Tabanan dan Kab Bangli. Responden dipilih dengan metode purposive

random sampling yang akan digunakan sebagai populasi dasar seleksi. Parameter yang diamati meliputi status

fisiologis, bobot badan induk dan ukuran linier tubuh. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan uji beda dengan uji t-student. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi Bali yang digunakan sebagai indukan di wilayah breeding stock Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Bangli memiliki keragaman yang kecil dan relatif seragam. Perbedaan lokasi pemeliharaan tidak mempengaruhi performans sapi Bali, baik terhadap bobot badan maupun ukuran morfologi.

Kata Kunci: Performans Induk, Sapi Bali, Breeding Stock

PENDAHULUAN

Sapi Bali merupakan sapi potong lokal yang diduga mengalami penurunan mutu genetik. Penurunan mutu genetik ini ditandai dengan performan yang semakin mengecil dan sulitnya mendapatkan performan yang baik untuk digunakan sebagai calon bibit. Penurunan mutu genetik tersebut diduga akibat inbreeding

rakyat seperti tingginya pemotongan betina produktif dan penggunaan pejantan yang tidak memenuhi kriteria sebagai pejantan unggul. SAMARIYANTO (2004) menambahkan penyebab lain adalah belum sempurnanya sistem peremajaan bibit yang diikuti dengan seleksi dan culling yang baik, sehingga calon bibit jantan dan calon bibit betina terbaik tidak digunakan untuk memperbaiki mutu genetik.

(2)

kemungkinan kebanggaan terhadap sapi Bali sebagai plasma nutfah akan tinggal kenangan (KOMPAS, 2001).

Direktorat Jenderal Peternakan, dalam hal ini Direktorat Pembibitan telah melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap perkembangan sapi Bali di wilayah breeding

stock dengan membentuk Instalasi Populasi

Dasar (IPD) pada tingkat peternakan rakyat. Kabupaten Tabanan dan Bangli merupakan 2 wilayah breeding stock P3Bali yang memiliki lebih dari 40 kelompok ternak. Sampai tahun 2004 populasi sapi Bali di propinsi Bali mencapai 575.731 ekor (BPS, 2005).

Kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap pengaruh lingkungan baik pada kondisi dataran rendah maupun dataran tinggi, menjadikan sapi Bali sebagai salah satu sapi potong lokal yang berpotensi untuk dikembangkan. Berbagai upaya telah dilakukan untuk meningkatkan produktivitas dan mutu genetiknya, namun belum memberikan hasil yang optimal

(MUDIKJO dan MULADNO, 1999).

SAMARIYANTO (2004) menyatakan bahwa fokus utama perbaikan mutu genetik adalah merencanakan program breeding yang terarah melalui seleksi dan culling. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan informasi mengenai performans sapi Bali dalam upaya perbaikan mutu genetik di wilayah breeding

stock.

MATERI DAN METODE

Penelitian ini dilakukan di wilayah

breeding stock Sapi Bali bekerjasama dengan

BPTU Sapi Bali (dulunya bernama P3Bali) dari tahun 2005 – 2006. Materi yang digunakan sebanyak 1132 ekor sapi Bali induk milik peternak yang berada pada lokasi dengan agroekosistem dan ketinggian yang berbeda masing-masing adalah Kabupaten Tabanan dengan kondisi dataran rendah dan Kabupaten Bangli dengan kondisi dataran tinggi. Responden dipilih dengan metode purposive

random sampling, yang akan digunakan sebagai

populasi dasar seleksi.

Parameter yang diamati meliputi status fisiologis, bobot badan induk dan ukuran linier

tubuh. Data bobot badan yang diperoleh merupakan hasil konversi bobot badan 1, 3, 6 dan 9 bulan. Deskripsi daerah didapatkan dari data sekunder dan wawancara dengan pihak terkait. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif dan uji beda dengan uji t-student menurut petunjuk SUDJANA (1989).

HASIL DAN PEMBAHASAN Agroekosistem lokasi penelitian (deskripsi wilayah)

Wilayah yang digunakan untuk penelitian adalah Kab. Tabanan yang merupakan wilayah dataran rendah dan kabupaten Bangli sebagai daerah dataran tinggi dengan ketinggian dari permukaan laut masing-masing sekitar 125 m dan 1800 m. (BPS 2005). Secara umum wilayah Bali beriklim laut tropis dan dipengaruhi oleh angin musim, terdapat musim kemarau dan musim hujan yang diselingi oleh musim pancaroba. Suhu di Kabupaten Tabanan sekitar 27°C sedangkan di Kabupaten Bangli sekitar 24,9°C dengan kelembaban relatif (RH) 86 mm² dan 88 mm².

Luas wilayah Tabanan dan Bangli adalah 839,33 km² dan 520,81 km². Sebagian besar merupakan lahan kering masing-masing seluas 61.274 ha dan 49.182 ha dan lahan sawah seluas 22.626 ha dan 2.882 ha. (BPS, 2005).

Populasi sapi potong di Kab. Tabanan adalah 59.501 ekor yang terdiri dari 26.924 ekor sapi jantan dan 32.577 ekor sapi betina dengan jumlah pemotongan sebesar 2.221 ekor, sedangkan populasi di Kabupaten Bangli adalah 79.357 ekor yang terdiri dari 52.265 ekor sapi jantan dan 27.092 ekor sapi betina dengan jumlah pemotongan sebanyak 551 ekor (DINAS PETERNAKAN BANGLI, 2006).

Performans sapi Bali induk

Kondisi performan induk sapi Bali berdasarkan status fisiologis di breeding stock disajikan pada Tabel 2. Secara umum tampilan bobot badan induk di Kab Tabanan adalah 252,04 ± 43,85 kg (n = 734 ekor) sedangkan di Kab. Bangli sebesar 265,26 ± 49,64 kg (n = 398 ekor).

(3)

Tabel 1. Performans sapi Bali induk berdasarkan status fisiologis di wilayah breeding stock

Kabupaten Tabanan Kabupaten Bangli

Status fisiologis Pengamatan N % BB (kg) PBHH N (%) BB (kg) PBHH Awal 246,51 ± 79,93 (32,42) 0,00 ± 0,33 12 (3,0) 265,42 ± 80,38 (30,28) - Tidak bunting Akhir 441 (60) 246,84 ± 70,75 (28,66) - - Bunting Awal 277 (37,8) 263,60 ± 36,09 (13,69) -0,01 ± 0,12 360 (90,5) 277,3 ± 36,64 (14,55) -0,02 ± 0,09 Akhir 269,67± 40,39 (14,98) 279,47 ± 54,25 (19,41) 0,06 ± 0,13 Laktasi 1 – 3 bulan 16 (2,2) 285,12 ± 33,32 (11,69) -0,03±0,06 26 (6,5) 258,77 ± 25,81 (9,97) 0,01 ± 0,01 ( ) = persentase keragaman

Rataan bobot badan ini lebih rendah dibanding bobot badan hasil penelitian sebelumnya. PANE (1990), melaporkan bahwa rataan bobot badan sapi Bali betina dewasa di

breeding center Provinsi Bali adalah 300 kg

dan di P3 Bali adalah 278 kg. Sedangkan RASYID et al. (2005) mendapatkan rataan bobot badan induk sapi Bali di Kabupaten Tabanan sebesar 282,44 ± 51,53 kg dengan jumlah pengamatan sebanyak 96 ekor. Hal ini menunjukkan bahwa performans bobot badan induk sapi Bali di wilayah breeding stock dari tahun 1990 sampai 2006 mengalami penurunan sebesar 0,89%/tahun.

Hasil analisis statistik terhadap tampilan bobot badan induk sapi Bali pada kedua lokasi pengamatan menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P > 0,05), hal ini membuktikan bahwa perbedaan lokasi pemeliharaan tidak mempengaruhi performans sapi Bali. Ketinggian lokasi hanya akan mempengaruhi performan sapi potong apabila perbedaan ketinggian yang ditimbulkan cukup besar (LASLEY, 1978). ROBERTSHAW (1984) menyatakan bahwa sapi lokal daerah tropis mempunyai kemampuan adaptasi yang baik terhadap pengaruh lingkungan yang panas dan cukup toleran terhadap pengaruh lingkungan dingin.

Performan pertumbuhan sapi Bali induk pada ke 2 wilayah breeding stock disajikan pada Gambar 1. Dari grafik pertumbuhan terlihat bahwa laju pertumbuhan sapi Bali memiliki keragaman yang tinggi, hal ini

kemungkinan disebabkan karena pengaruh faktor lingkungan dan kemampuan individu beradaptasi terhadap kondisi pakan sehingga turut mempengaruhi kondisi bobot badan. WILLIAMSON dan PAYNE (1993) menyatakan bahwa lingkungan biotik mempengaruhi performans sapi potong melalui tingkat efisiensinya, sapi potong yang mendapat pakan yang terjamin (kualitas, kuantitas dan kontinuitas) akan mampu menampilkan efisiensi performans secara maksimal.

Performans reproduksi sapi Bali induk pada ke-2 lokasi breeding stock, terlihat sangat beragam (Tabel 2). Keberhasilan kebuntingan di Bangli (90,5%) lebih tinggi dibanding Tabanan (60%), hal ini menunjukkan bahwa tingkat fertilitas sapi Bali induk di Bangli lebih baik di banding Tabanan, hal ini tidak terlepas dari pengaruh kondisi badan, lingkungan pakan dan kesehatan. WIJONO et al. (2002)

menyatakan bahwa pemeliharaan induk yang buruk akan menyebabkan terjadinya perubahan aktivitas reproduksi bahkan terjadi inaktivitas ovarium.

Secara teknis pola perkawinan juga akan mempengaruhi keberhasilan kebuntingan. Pola perkawinan baik melalui IB atau kawin alam masing-masing memiliki keterbatasan, terutama terhadap jangkauan wilayah yang terlalu luas dan keterbatasan pejantan di daerah pembibitan.

Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa tingkat penggunaan IB dan kawin alam di Tabanan masing-masing mencapai 50% dengan jumlah pengamatan

(4)

Gambar 1. Grafik pertumbuhan sapi Bali induk di wilayah breeding stock

TB = tidak bunting; B = bunting; L = laktasi

Tabel 2. Ukuran morfologi sapi Bali induk di breeding stock

Kabupaten Tabanan Status fisiologis Induk n PB (cm) TP (cm) TG (cm) LD (cm) Tidak bunting Bunting Laktasi 455 277 16 120,22 ± 48,39 120,87 ± 9,07 120,44 ± 4,29 110,35 ± 6,94 111,95 ± 4,62 113,44 ± 3,39 109,78 ± 5,26 111,27 ± 4,22 113,06 ± 3,28 151,93 ± 12,79 155,86 ± 9,85 158,13 ± 6,02 Kabupaten Bangli Tidak bunting Bunting Laktasi 12 360 25 120,58 ± 17,22 118,77 ± 6,00 118,45 ± 4,75 112,08 ± 5,20 120,69 ± 17,84 115,14 ± 3,27 110,33 ± 7,23 112,58 ± 6,92 113,45 ± 4,42 156,75 ± 13,57 156,69 ± 19,04 159,27 ± 10,64

PB = Panjang badan ; TP = Tinggi pinggul ; TG = Tinggi gumba ; LD = Lingkar dada

IB mencapai 45% dan kawin alam 55% dengan jumlah pengamatan 40 ekor induk. Ini membuktikan bahwa minat peternak terhadap IB masih rendah dan penggunaan sapi jantan di peternakan rakyat masih dipertahankan karena dianggap masih layak sebagai pejantan.

Hasil penelitian AFFANDHY et al. (2005), diperoleh tingkat penggunaan IB di Propinsi Bali mencapai 20,7% sedangkan kawin alam mencapai 51,7% sisanya adalah merupakan kombinasi antara keduanya. Selanjutnya ditambahkan bahwa keberhasilan program IB sapi potong di wilayah sentra pembibitan ditentukan oleh pengetahuan peternak, sikap peternak dan persepsi peternak. Tampilan morfologi sapi Bali induk di wilayah breeding

stock disajikan pada Tabel 2.

Hasil uji statistik terhadap tampilan morfologi sapi Bali induk di ke-2 wilayah

breeding stock pada berbagai status fisiologis

menunjukkan perbedaan yang tidak nyata (P > 0,05). Secara umum tampilan morfologi sapi Bali induk di Kab. Tabanan untuk masing-masing parameter PB, TB, TG dan LD adalah 120,48 ± 38,08 cm, 111,15 ± 4,99 cm, 110,41 ± 4,93 cm dan 153,65 ± 10,59 cm; sedangkan di Kabupaten Bangli adalah 120,84 ± 34,83 cm, 115,98 ± 15,19 cm, 112,91 ± 4,80 cm dan 156,74 ± 18,48 cm. Tampilan morfologi sapi Bali induk yang digunakan sebagai populasi dasar pembibitan, secara rataan memiliki keragaman yang sangat kecil. Tampilan morfologi ini lebih rendah dibandingkan dengan hasil penelitian sebelumnya. PANE 220 240 260 280 300 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Bulan B o bo t Bada n(k g ) 230 240 250 260 270 280 290 300 B o bo t Bad an(k g )

TB Tabanan B Tabanan L Tabanan TB Bangli B Bangli L Bangli

(5)

(1990) menyatakan bahwa ukuran tubuh sapi Bali juga dipengaruhi oleh tempat hidupnya yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan terutama di daerah pengembangan. Selanjutnya juga dilaporkan bahwa ukuran morfologi sapi betina dewasa di

breeding center Propinsi Bali untuk

masing-masing parameter PB, TG dan LD adalah 119,6 cm, 114,4 cm dan 174,2 cm sedangkan di P3Bali adalah 118,7 cm, 113,8 dan 166,1 cm. Hasil penelitian RASYID et al., (2005) mendapatkan tampilan morfologi sapi Bali induk di Kab. Tabanan untuk parameter yang sama sebesar 121,1 ± 5,79 cm, 114,3 ± 3,93 dan 162,4 ± 10,50 cm.

KESIMPULAN

Sapi Bali yang digunakan sebagai indukan di wilayah breeding stock Kabupaten Tabanan dan Kabupaten Bangli memiliki keragaman yang kecil dan relatif seragam. Perbedaan lokasi pemeliharaan tidak mempengaruhi performans sapi Bali, baik terhadap bobot badan maupun ukuran morfologi.

DAFTAR PUSTAKA

AFFANDHY,L.,D.PAMUNGKAS,D.B.WIJONO,P.W. PRIHANDINI, P.SITUMORANG,HARTATI,W.C. PRATIWI dan T. SUSILOWATI. 2005. Peningkatan Produktivitas Sapi Potong Melalui Efisiensi Reproduksi. Laporan Akhir Tahun. Loka Penelitian Sapi Potong. Grati Pasuruan.

BPS. 2005. Bali Dalam Angka.

DINAS PETERNAKAN KABUPATEN BANGLI. 2006. Informasi Data Peternakan Perikanan. Laporan Tahun Dinas Peternakan Perikanan Kabupaten Bangli.

KOMPAS. 2001. Minus, perbaikan mutu genetik sapi Bali selama 25 tahun. http://www.kompas. com/kompas-cetak/0108/30/iptek/minu10.htm.

LASLEY, J.F. 1978. Genetic of Livestock Improvement. 3rd Ed. Prentice-Hall Inc., Englewood Cliffs. New Jersey.

MUDIKJO,K. dan MULADNO. 1999. Pengembangan Industri Sapi Potong pada Era Pasca Krisis. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 1 – 2 Desember 1998 Puslitbang Peternakan, Bogor (Jilid I).

PANE. 1990. Teknologi Peternakan dan Veteriner: Sapi Bali. http://Gooogle/Puslitbangnak. Bogor 2006.

RASYID. 2005. Stratifikasi Induk dan Pembinaan Kelompok sebagai Bagian dalam Perbaikan Mutu Genetik Sapi Bali. Pros. Seminar Nasional Peternakan dan Veteriner. Bogor, 12 – 13 September 2005, Bogor (Buku I): 112 – 118.

ROBERTSHAW, D. 1984. Heat loss of cattle. In : Stress Physiology in Livestock. Vol. I Basic Principles. YOUSEF,M.K. (Ed.. CRS Press Inc. Boca Raton Florida.

SAMARIYANTO. 2004. Alternatif kebijakan perbibitan sapi potong dalam era otonomi daerah. Lokakarya Sapi Potong. http://

SUDJANA. 1989. Metode Statistika Ed. Ke-5. Tarsito Bandung.

WIJONO,D.B.,L.AFFANDHY and E.TELENI. 2002. The Relationship between Live Weight/Body Condition and Ovarian activity in Indonesia cattle. Proc. of the sixth AAAP Anim. Sci. Congress. Vol. III. AHAT. Bangkok p. 308 (Abstract).

WILLIAMSON, G. dan W.J.A. PAYNE. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

(6)

DISKUSI Pertayaan:

1. Jika dilihat tahun-tahun dulu (1980-an) sapi Bali memiliki bobot ban yang besar, sering ditampilkan di pameran-pameran. Mengapa sekarang bobot badannya semakin kecil?

2. Apakah sampai sekarang tidak ada upaya untuk meningkatkan mutu genetik sapi bali? Jawaban:

1. Diindikasikan telah terjadi penurunan mutu genetik, antara lain disebabkan karena seleksi negatif dan inbreeding sehingga saat ini sulit ditemui performans yang baik terutama untuk bibit. Untuk itu dilakukan peningkatan mutu genetik melalui pemulian dan pembibitan. Hasil pengamatan dilapangan diperoleh bahwa minat terhadap IB masih rendah disebabkan karena sapi penjantan yang ada di peternakan rakyat dianggap masih layak sebagai penjantan. 2 Berbagai upaya telah dilakukan antara lain seleksi, IB dengan penjantan unggul (straw IB

diperoleh dari BIB Singorasi dan UPTD Baturiti yang memiliki pejantan terseleksi), embrio transfer dan seleksi turunan breeding stock).

Gambar

Gambar 1. Grafik pertumbuhan sapi Bali induk di wilayah breeding stock  TB = tidak bunting; B = bunting; L = laktasi

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan uraian di atas, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gaya bahasa yang terdapat dalam lirik lagu band Betrayer album The Best Of, fungsi gaya

Dari Tabel 1 dapat dilihat bahwa pada pengamatan 3-7 hsa, menunjukan tingkat kematian yang semakin meningkat dari masing-masing perlakuan hingga 7 hsa, dan

Hubungan Minat Belajar Dengan Hasil Belajar Berdasarkan data yang ditemukan bahwa minat belajar kela X dan XII SMK Putra Tama bantul berada pada kategori sangat tinggi hak ini

Untuk itu maka tujuan dari makalah ini adalah melakukan analisis kualitas jasa dengan fokus pada pengukuran persepsi dan harapan pengguna jasa perusahaan dengan

Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk (1) Menemukan pedoman keterampilan dasar komunikasi konseling untuk meningkatkan efektivitas konseling individual (2)

Demam Berdarah Dengue (DBD) merupakan mulai dilaporkan pada tahun 2005 dan setiap penyakit yang disebabkan oleh virus Dengue dan tahunnya cenderung meningkat.. Pada

Perbaikan yang akan dilakukan terhadap keju Gouda terhadap keju cheddar yaitu Craft dan Prochiz untuk perbaikan kemasan agar keju Gouda dapat bersaing di pasaran

Buah sawit yang gugur dimanfaatkan menjadi bahan baku pembuatan arang briket dengan cara mengolah buah sawit menggunakan mesin hasil rancangan, mesin ini