• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkara Nomor 07KPPU M2014

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Perkara Nomor 07KPPU M2014"

Copied!
110
0
0

Teks penuh

(1)

P U T U S A N

Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014

Komisi Pengawas Persaingan Usaha Republik Indonesia selanjutnya disebut Komisi yang memeriksa Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 telah mengambil Putusan tentang Dugaan Pelanggaran Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek

Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (“selanjutnya disebut Undang-Undang Nomor

5 Tahun 1999”) juncto Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat

(“selanjutnya disebut Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010”) terkait

Keterlambatan Pemberitahuan Pengambilan Saham PT HD Finance, Tbk. oleh PT Tiara Marga Trakindo,yang dilakukan oleh: --- PT Tiara Marga Trakindo (“selanjutnya disebut Terlapor”), berkedudukan di Gedung TMT 1, Lantai 19, Jalan Cilandak KKO Nomor 1, Jakarta 12560, Indonesia; --- Majelis Komisi; ---Setelah membaca Laporan Keterlambatan Pemberitahuan; --- Setelah membaca Tanggapan Terlapor terhadap Laporan Keterlambatan Pemberitahuan; --- Setelah mendengar keterangan para Ahli; --- Setelah mendengar keterangan Terlapor; --- Setelah membaca Kesimpulan Hasil Persidangan dari Investigator; --- Setelah membaca Kesimpulan Hasil Persidangan dari Terlapor; --- Setelah membaca surat-surat dan dokumen-dokumen dalam perkara ini; ---

TENTANG DUDUK PERKARA

(2)

halaman 2 dari 110

2. Menimbang, bahwa berdasarkan Laporan Penyelidikan, Sekretariat Komisi mengidentifikasi adanya keterlambatan pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor; --- 3. Menimbang, bahwa berdasarkan Laporan Penyelidikan, Sekretariat Komisi menyusun Laporan Keterlambatan Pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk. oleh Terlapor; --- 4. Menimbang, bahwa Laporan Keterlambatan Pemberitahuan telah disampaikan dan disetujui dalam Rapat Komisi pada tanggal 11 Maret 2014 (vide bukti I19); --- 5. Menimbang, bahwa berdasarkan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan, Ketua Komisi menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan dengan menerbitkan Penetapan Komisi Nomor 16/KPPU/PEN/III/2014 tanggal 28 Maret 2014 tentang Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A1); --- 6. Menimbang, bahwa berdasarkan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan tersebut, Ketua Komisi menetapkan pembentukan Majelis Komisi melalui Keputusan Komisi Nomor 39/KPPU/Kep/III/2014 tanggal 28 Maret 2014 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi pada Pemeriksaan Pendahuluan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A2); --- 7. Menimbang, bahwa Ketua Majelis Komisi Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014

(3)

halaman 3 dari 110

10. Menimbang bahwa pada Sidang Majelis Komisi tanggal 8 April 2014, Investigator membacakan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang pada pokoknya berisi hal-hal sebagai berikut (vide bukti B1): --- 10.1 Dasar: --- 10.1.1 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; --- 10.1.2 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; --- 10.1.3 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 1 Tahun 2010 tentang Tata Cara Penanganan Perkara; --- 10.1.4 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 10 Tahun 2010 tentang Formulir Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan; --- 10.1.5 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 3 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; --- 10.1.6 Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengenaan Denda Keterlambatan Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan; --- 10.2 Terlapor dalam perkara ini adalah PT Tiara Marga Trakindo, yang beralamat di Gedung TMT 1, Lantai 19, Jalan Cilandak KKO Nomor 1, Jakarta 12560; --- 10.3 Obyek perkara ini adalah Keterlambatan Pemberitahuan Pengambilalihan Saham PT HD Finance Tbk. oleh PT Tiara Marga Trakindo; --- 10.4 Terlapor diduga melanggar Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 juncto

Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010; --- Pasal 29Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999--- (1) Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan saham

(4)

halaman 4 dari 110

Komisi, selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan, atau pengambilalihan tersebut.

(2) Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) diatur dalam Peraturan Pemerintah.---

Pasal 5 Peraturan Pemerintah Nomor 57 Tahun 2010 ---(1) Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha atau

Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai asset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan secara tertulis kepada Komisi paling lambat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha atau Pengambilalihan saham perusahaan---

10.5 Bahwa dugaan pelanggaran Pasal 29 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 jo. Pasal 5 PP Nomor 57 Tahun 2010 yang dilakukan oleh Terlapor adalah sebagai berikut: --- 10.5.1 KPPU telah menerima Pemberitahuan dari PT Tiara Marga Trakindo yang melakukan pengambilalihan Saham (akuisisi) PT HD Finance Tbk. pada tanggal 24 Juni 2013 (vide I11); --- 10.5.2 Pemberitahuan tersebut dicatat oleh KPPU dengan nomor register A13613 (vide I11); --- 10.5.3 Berdasarkan pemberitahuan tersebut diketahui dalam pemberitahuan tersebut diketahui nilai aset hasil penggabungan adalah Rp.30.891.691.813.936 (vide I11); ---

2012

PT. Tiara Marga Trakindo (dalam USD) 3,009,779,951 PT. HD Finance (dalam Rupiah) 1.588.474.211.000 Selanjutnya setelah dilakukan konversi nilai mata uang yang berdasarkan kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap USD 1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai aset PT. Tiara Marga Trakindo adalah Rp.29.303.217.602.936 sehingga nilai aset hasil penggabungan adalah Rp.30.891.691.813.936;--- 10.5.4 Bahwa dalam pemberitahuan tersebut diketahui nilai penjualan hasil penggabungan adalah Rp.24.518.222.785.456 (vide I11); ---

2012

(5)

halaman 5 dari 110

T. HD Finance (dalam Rupiah) 1.049.238.000.000 Selanjutnya setelah dilakukan konversi nilai mata uang yang berdasarkan kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap USD 1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai penjualan PT. Tiara Marga Trakindo adalah Rp.23.468.984.785.456 sehingga nilai penjualan hasil penggabungan adalah Rp.24.518.222.785.456.

10.6 Bahwa PT Tiara Marga Trakindo adalah Badan Usaha Pengambilalih; --- 10.6.1 Bahwa PT Tiara Marga Trakindo adalah pelaku usaha selaku Badan Usaha Pengambilalih; --- 10.6.2 Bahwa PT Tiara Marga Trakindo didirikan pada tahun 1970 dengan nama PT Trakindo Utama berdasarkan Akta Notaris Djojo Muljadi, S.H., No. 55 tanggal 23 Desember 1970. Akta Pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. J.A.5/115/1 tanggal 31 Juli 1971; --- 10.6.3 Bahwa Akta Pendirian tersebut telah mengalami beberapa kali perubahan dan dengan Akta Notaris Ny. Liliana Arif Gondoutomo, S.H., No. 16 tanggal 16 Agustus 2000 mengenai perubahan nama perusahaan dari PT Trakindo Utama menjadi PT Tiara Marga Trakindo. Perubahan nama ini telah disahkan oleh Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. C-125.HT.01.04.TH2001 tanggal 4 Januari 2001; --- 10.6.4 Bahwa Perubahan terakhir berdasarkan Akta Notaris Mala Mukti, S.H.,LL..M, No. 79 tanggal 18 April 2012 mengenai perubahan susunan Direksi Perusahaan. Perubahan ini telah disahkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dengan Surat Keputusan No. AHU-AH.01.10-18565 tanggal 24 Mei 2012; --- 10.6.5 Bahwa PT Tiara Marga Trakindo adalah perseroan yang bergerak di bidang perdagangan, pemborongan (kontraktor), pengangkutan, industri, percetakan, perwakilan dan/atau peragenan, pekerjaan teknik, jasa atau pelayanan, pemukiman dan pertanian. PT Tiara Marga Trakindo merupakan holding company yang memiliki beberapa anak perusahaan; -- 10.6.6 Bahwa pemegang saham PT Tiara Marga Trakindo adalah sebagai berikut (vide I11): ---

No. Pemegang Saham Komposisi Kepemilikan (%)

(6)

halaman 6 dari 110

2. Achmad Ridwan Hamami 0,60%

10.6.7 Bahwa nilai penjualan dan aset Terlapor dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir adalah (vide I11); ---

Tahun Nilai Penjualan Nilai Aset

2010 USD 1.327.301.087 USD 1.329.061.371

2011 USD 2.352.388.452 USD 2.311.119.805

2012 USD 2.410.536.646 USD 3.009.779.951

(7)

halaman 7 dari 110

Soerodjo, S.H., Msi. No. 31 tanggal 12 Januari 2011, serta mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia pada bulan Mei 2011; --- 10.7.6 Bahwa PT HD Finance, Tbk. memiliki 31 kantor cabang yang tersebar di Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Bekasi, Tambun, Tangerang, Serpong, Serang, Cikupa, Ciledug, Depok, Bogor, Cileungsi, Cikarang, Karawang, Bandung, Cimahi, Semarang, Surabaya, Sidoarjo, Madiun, Tulungagung, Gresik, Kediri, Malang, Medan, Binjai, Palembang, Betung dan Pekanbaru; --- 10.7.7 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 3 Anggaran Dasar PT HD Finance, Tbk. maksud dan tujuan PT HD Finance, Tbk. adalah bergerak dalam bidang pembiayaan termasuk pembiayaan sesuai dengan Prinsip Syariah; 10.7.8 Bahwa pemegang saham PT HD Finance, Tbk sebelum pengambilalihan

adalah sebagai berikut (vide I11); ---

No. Pemegang Saham Komposisi Kepemilikan (%)

1. Wealth Paradise Holdings Limited

48,70%

2. PT HD Corpora 21,43%

3. Soeharto Djojonegoro 0,0000065%

4. Publik 29,87%

10.7.9 Bahwa nilai penjualan dan asset PT HD Finance, Tbk dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir adalah (vide I11); ---

Tahun Nilai Penjualan Nilai Aset

(8)

halaman 8 dari 110

melakukan penjualan saham HD Finance sebanyak 6.223.833 saham atau setara 0,43% total saham HD Finance yang telah diterbitkan. Dengan demikian kepemilikan saham Terlapor pada HD Finance adalah sebesar 55,81%. (vide I5); --- 10.8.4 Bahwa berdasarkan surat yang disampaikan Terlapor kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013 perihal Pengumuman Pengambilalihan HD Finance oleh PT Tiara Marga Trakindo, pengambilalihan saham HD Finance efektif secara yuridis pada tanggal 11 Maret 2013; (vide I4); --- 10.8.5 Bahwa kronologis pengambilalihan saham HD Finance oleh Terlapor adalah sebagai berikut: ---

10.9 Bahwa analisa pemberlakuan kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis oleh Terlapor dapat diuraikan sebagai berikut:--- 10.9.1 Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010 diatur bahwa kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis tidak berlaku bagi Pelaku Usaha yang melakukan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham antarperusahaan yang terafiliasi; --- 10.9.2 Bahwa berdasarkan penjelasan Pasal 7 PP Nomor 57 Tahun 2010, yang

(9)

halaman 9 dari 110

(1) hubungan antara perusahaan, baik langsung maupun tidak langsung, mengendalikan atau dikendalikan oleh perusahaan tersebut;

---(2) hubungan antara 2 (dua) perusahaan yang dikendalikan, baik langsung maupun tidak langsung, oleh pihak yang sama; atau --- (3) hubungan antara perusahaan dan pemegang saham utama; --- 10.9.3 Bahwa dengan demikian perlu terlebih dahulu untuk diuraikan apakah ketentuan kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis ini berlaku atau tidak bagi PT Tiara Marga Trakindo; --- 10.9.4 Bahwa pemegang saham PT Tiara Marga Trakindo adalah sebagai berikut; ---

No. Pemegang Saham Komposisi Kepemilikan (%)

1. Achmad Hadiat Hamami 99,40%

2. Achmad Ridwan Hamami 0,60%

dan pemegang saham PT HD Finance, Tbk sebelum pengambilalihan adalah sebagai berikut (vide I11);---

No. Pemegang Saham Komposisi Kepemilikan (%)

1. Wealth Paradise Holdings Limited

48,70%

2. PT HD Corpora 21,43%

3. Soeharto Djojonegoro 0,0000065%

4. Publik 29,87%

10.9.5 Bahwa berdasarkan kepemilikan tersebut diatas, Terlapor tidak terafiliasi dengan PT HD Finance (vide I11); --- 10.9.6 Bahwa dengan demikian maka kewajiban menyampaikan pemberitahuan secara tertulis kepada KPPU berlaku bagi Terlapor; --- 10.10 Bahwa analisa pemenuhan unsur pasal dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh Terlapor dapat diuraikan sebagai berikut: --- 10.10.1 Bahwa ketentuan Pasal 29 UU Nomor 5 Tahun 1999, menyatakan:

(10)

halaman 10 dari 110

(2) Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), diatur dalam Peraturan Pemerintah

10.10.2 Bahwa unsur-unsur Pasal 29 ayat (1) UU Nomor 5 Tahun 1999 tersebut adalah sebagai berikut; --- (1) Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau pengambilalihan

saham;--- (2) nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu;--- (3) wajib diberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30 (tiga

puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau pengambilalihan tersebut;--- 10.10.3 Bahwa unsur “Penggabungan atau peleburan badan usaha, atau

pengambilalihan saham” diuraikan sebagai berikut: ---

(1) Bahwa dalam unsur ini terdapat kata hubung “atau”;---

(2) Bahwa kata hubung “atau” berdasarkan kamus bahasa Indonesia

memiliki arti kata penghubung untuk menandai pilihan di antara beberapa hal (pilihan) (http://kbbi.web.id/);--- (3) Bahwa dengan demikian, maka dalam unsur ini, cukup salah satu

dari: “penggabungan”, atau “peleburan badan usaha”, atau “pengambilalihan saham” terpenuhi, maka telah terpenuhi unsur ini;

(4) Bahwa pada tanggal 24 Juni 2013, KPPU menerima pemberitahuan dari PT Tiara Marga Trakindo yang melakukan pengambilalihan saham (akuisisi) PT HD Finance, Tbk.;--- (5) Bahwa dengan demikian unsur pengambilalihan saham telah terpenuhi;--- 10.10.4 Bahwa unsur “nilai aset dan atau nilai penjualannya melebihi jumlah

tertentu” diuraikan sebagai berikut: --- (1) Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 29 ayat (2) UU No. 5/1999,

diatur bahwa Ketentuan tentang penetapan nilai aset dan atau nilai penjualan serta tata cara pemberitahuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) tersebut diatas, diatur dalam Peraturan Pemerintah; (2) Bahwa sebagai peraturan pelaksana dari ketentuan Pasal 29 UU No.

(11)

halaman 11 dari 110

(3) Bahwa nilai aset dan atau nilai penjualan melebihi jumlah tertentu diatur dalam Pasal 5 ayat (2) PP Nomor 57 Tahun 2010 yang menentukan: --- (a) nilai aset sebesar Rp2.500.000.000.000,00 (dua triliun lima

ratus miliar rupiah); dan/atau--- (b) nilai penjualan sebesar Rp5.000.000.000.000,00 (lima triliun

rupiah); --- (4) Bahwa nilai aset dan/atau nilai penjualan sebagaimana dimaksud

dalam Pasal 5 ayat (2) PP Nomor 57 Tahun 2010 tersebut diatas dihitung berdasarkan penjumlahan nilai aset dan/atau nilai penjualan dari: --- (a) Badan Usaha hasil Penggabungan, atau Badan Usaha hasil

Peleburan, atau Badan Usaha yang mengambilalih saham perusahaan lain dan Badan Usaha yang diambilalih; dan --- (b) Badan Usaha yang secara langsung maupun tidak langsung

mengendalikan atau dikendalikan oleh Badan Usaha hasil Penggabungan, atau Badan Usaha hasil Peleburan, atau Badan Usaha yang mengambilalih saham perusahaan lain dan Badan Usaha yang diambilalih; --- (5) Bahwa penghitungan nilai aset dan atau nilai penjualan tersebut

diatas untuk mengetahui apakah nilai aset dan atau nilai penjualan melebihi jumlah tertentu; --- (6) Bahwa nilai aset dan atau nilai penjualan tersebut menjadi hal menentukan apakah Pelaku Usaha wajib atau tidak wajib untuk melaporkan ke KPPU; ---

(7) Bahwa dengan adanya frasa kata hubung “dan atau” memiliki arti

sifat kumulatif maupun sifat fakultatif yang berati bisa keduanya atau salah satunya; --- (8) Bahwa dengan demikian, yang menjadi faktor utama dari unsur ini

adalah melebihi atau tidak melebihi jumlah tertentu yang telah ditentukan tersebut di atas; --- (9) Bahwa berdasarkan diperoleh fakta-fakta bahwa nilai aset dan/atau nilai penjualan Terlapor dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir adalah (vide dokumen I11): ---

Tahun Nilai Penjualan Nilai Aset

(12)

halaman 12 dari 110

2011 USD 2.352.388.452 USD 2.311.119.805

2012 USD 2.410.536.646 USD 3.009.779.951

dengan mengingat bahwa penghitungan nilai aset dan/atau nilai penjualan dilakukan dengan mata uang Rupiah, maka dilakukan konversi nilai mata uang yang berdasarkan kurs Jual Bank Indonesia pada tanggal 11 Maret 2013 adalah untuk setiap USD1 sama dengan Rp.9.736 maka diperoleh nilai sebagai berikut:---

Tahun Nilai Penjualan Nilai Aset

2010 Rp 12.922.603.383.032 Rp 12.939.741.508.056 2011 Rp 22.902.853.968.672 Rp 22.501.062.421.480 2012 Rp 23.468.984.785.456 Rp 29.303.217.602.936 dan nilai penjualan dan aset PT HD Finance, Tbk. dalam kurun waktu 3 (tiga) tahun terakhir adalah: ---

Tahun Nilai Penjualan Nilai Aset

2010 Rp 568.353.000.000 Rp 764.434.000.000 2011 Rp 1.028.822.000.000 Rp 1.241.206.378.000 2012 Rp 1.049.238.000.000 Rp 1.588.474.211.000

(10) Bahwa bila digabungan Nilai Penjualan dan Nilai Aset Terlapor pada tahun 2012 dengan Nilai Penjualan dan Nilai Aset PT HD Finance, Tbk pada tahun 2012 akan menjadi sebagai berikut: ---

Tahun 2012 Nilai Penjualan Nilai Aset

PT Marga Tiara Trakindo

Rp. 23.468.984.785.456 Rp. 29.303.217.602.936

PT HD Finance, Tbk

Rp. 1.049.238.000.000 Rp. 1.588.474.211.000

Total Rp. 24.518.222.785.456 Rp. 30.891.691.813.936

(11) Bahwa dengan demikian pengambilalihan saham oleh PT Tiara Marga Trakindo untuk nilai aset telah melebihi jumlah tertentu sebagaimana diatur dalam Pasal 5 PP Nomor 57 Tahun 2010; --- (12) Bahwa dengan demikian unsur “nilai aset dan atau nilai

(13)

halaman 13 dari 110

10.10.5 Bahwa unsur “wajib diberitahukan kepada Komisi selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal penggabungan, peleburan atau pengambilalihan” diuraikan sebagai berikut: --- (1) Bahwa berdasarkan ketentuan Pasal 5 ayat (1) PP Nomor 57 Tahun

2010 diatur bahwa pemberitahuan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan secara tertulis kepada KPPU paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal telah berlaku efektif secara yuridis Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan; ---

(2) Bahwa ketentuan tersebut dipertegas kembali oleh Komisi dalam Pasal 2 ayat (1) Perkom No. 4/2012 yang berbunyi: ---

“ Badan usaha yang melakukan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan wajib menyampaikan Pemberitahuan kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan telah berlaku efektif secara yuridis.” ---(3) Bahwa berdasarkan ketentuan tersebut, maka pemberitahuan wajib

dilakukan: --- (a) secara tertulis; --- (b) paling lama 30 (tiga puluh) hari sejak berlaku efektif; --- (c) berlaku efektif secara yuridis; --- (4) Bahwa PT Tiara Marga Trakindo memberitahukan secara tertulis

pada tanggal 24 Juni 2013 yang tercatat di KPPU; --- (5) Bahwa berdasarkan Pasal 5 ayat (2) Perkom No. 4/2012 tanggal

telah berlaku efektif secara yuridis adalah: --- (a) Bahwa untuk Badan Usaha yang berbentuk Perseroan Terbatas, sesuai dengan ketentuan dalam Pasal 133 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas

(“selanjutnya disebut UU No. 40 Tahun 2007”) pada bagian

penjelasan adalah tanggal: ---

(14)

halaman 14 dari 110

ii. Pemberitahuan diterima Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia baik dalam hal terjadi perubahan Anggaran Dasar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 21 ayat (3) UU No. 40 Tahun 2007 maupun yang tidak disertai perubahan Anggaran Dasar; dan --- iii. Pengesahan Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia

Republik Indonesia atas Akta Pendirian perseroan dalam hal terjadi Peleburan; ---

(b) Jika salah satu pihak yang melakukan Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan adalah Perseroan Terbatas dan pihak lain adalah perusahaan non-Perseroan Terbatas, maka pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal ditandatanganinya pengesahan Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan oleh para pihak. Adapun tanggal pengesahan adalah tanggal efektif suatu badan usaha bergabung atau melebur dan beralihnya kepemilikan saham di perusahaan yang diambil alih (closing date); atau --- (c) Khusus untuk Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa efek, maka pemberitahuan dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka; --- (6) Bahwa pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk oleh PT Tiara

Marga Trakindo merupakan Pengambilalihan Saham yang terjadi di bursa efek, sehingga berlaku ketentuan Pasal 5 ayat (2) huruf c Perkom No. 4/2012 yaitu dilakukan paling lambat 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal Surat Keterbukaan Informasi Pengambilalihan Saham Perseroan Terbuka; --- (7) Bahwa berdasarkan surat yang disampaikan Terlapor kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) No. TMT-LGL/129/LL/DIR/III/2013 perihal Pengumuman Pengambilalihan HD Finance oleh Terlapor, pengambilalihan saham HD Finance efektif secara yuridis pada tanggal 11 Maret 2013 (vide I4); ---

(15)

halaman 15 dari 110

Nomor SKB.06/MEN/VII/2012, Nomor 02 Tahun 2012 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama Tahun 2013; ---

(9) Bahwa dengan adanya frasa kata “sejak” maka memiliki arti

penghitungan 30 (tiga puluh) hari dihitung sejak tanggal pemberitahuan; --- (10) Bahwa penghitungan tersebut tampak dalam tabel di bawah ini: ---

Hari ke Tgl/bln Hari ke Tgl/bln Hari ke Tgl/bln

(11) Bahwa berdasarkan tanggal efektif yuridis yaitu sejak tanggal 11 Maret 2013, maka Terlapor memiliki kewajiban untuk memberitahukan kepada KPPU paling lambat dalam waktu 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal berlaku efektif yuridis, yaitu pada tanggal 24 April 2013; --- (12) Bahwa berdasarkan Formulir Pemberitahuan A1 dan Tanda Terima Pemberitahuan, Terlapor menyampaikan Pemberitahuan pada tanggal 24 Juni 2013 (vide I11); --- (13) Bahwa dengan demikian Terlapor terlambat menyampaikan

Pemberitahuan Pengambilalihan Saham PT HD Finance, Tbk kepada KPPU selama 41 (empat puluh satu) hari kerja; --- (14) Bahwa jika digambarkan kronologis keterlambatan pemberitahuan

pengambilalihan saham PT HD Finance, Tbk oleh PT Tiara Marga Trakindo kepada KPPU adalah sebagai berikut: ---

(16)

halaman 16 dari 110

11. Menimbang, bahwa pada tanggal 14 April 2014 Terlapor menyerahkan Tanggapan terhadap Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang pada pokoknya berisi hal-hal sebagai berikut (T-2): --- 11.1 Bahwa Terlapor menyusun Tanggapan terhadap Laporan Keterlambatan Pemberitahuan dengan sistematika sebagai berikut: --- 11.1.1 Formil Acara; --- 11.1.2 Materiil Acara. Sebelum memberikan tanggapan, Terlapor menjelaskan mengenai (1) Alur Transaksi serta Konsultasi dan Pemberitahuan ke KPPU dan (2) Peraturan Pengambilalihan yang Berlaku di Pasar Modal. Selanjutnya Terlapor memberikan tanggapan dalam 6 (enam) poin sebagaimana diuraikan pada butir 11.5 sampai dengan 11.10; --- 11.1.3 Kesimpulan; --- 11.2 Formil Acara. Bahwa Terlapor menyatakan tidak terdapat dasar hukum untuk

dilakukannya Pemeriksaan Pendahuluan karena Petikan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan, Petikan Penetapan Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan, Surat Panggilan dan Surat Pemberitahuan diterbitkan tanpa dasar hukum; --- (1) Bahwa Terlapor menerima Surat-Surat KPPU dan Laporan Keterlambatan Pemberitahuan pada tanggal 2 April 2014. Pada halaman terakhir Laporan Keterlambatan Pemberitahuan, terdapat penulisan tanggal 8 April 2014 dan ditandatangani oleh Manaek SM Pasaribu, S.H., LL.M., Yoza Wirsan Armanda, S.H., M.H., dan M. Gadmon Kaisar, S.H., M.H;--- Dalam kebiasaan surat-menyurat diketahui hubungan antara tanggal dan tanda tangan tersebut diartikan bahwa surat tersebut dikeluarkan dan ditandatangani pada tanggal sebagaimana dimaksud dalam surat, dalam hal ini adalah tanggal 8 April 2014; --- (2) Bahwa berdasarkan Pasal 6 ayat (1) jo. ayat (3) Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengenaan Denda Keterlambatan Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha

(17)

halaman 17 dari 110

KPPU No. 4/2012”), diketahui bahwa Laporan Keterlambatan Pemberitahuan yang disiapkan oleh unit kerja yang menangani Pemberitahuan untuk disampaikan dalam Rapat Komisi dan menjadi dasar bagi Ketua Komisi untuk menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan.

Bunyi ketentuan Pasal 6 ayat (1) Peraturan KPPU No. 4/2012 adalah “Unit kerja yang menangani monitoring dan/atau Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha, dan Pengambilalihan Saham Perusahaan, menyampaikan laporan Keterlambatan Pemberitahuan dalam Rapat Komisi.

Bunyi ketentuan Pasal 6 ayat (3) Peraturan KPPU No. 4/2012 adalah

Berdasarkan laporan keterlambatan sebagaimana dimaksud ayat (1), Ketua Komisi menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan.”--- Berdasarkan ketentuan yang tercantum pada pasal tersebut di atas, dapat disimpulkan bahwa Laporan Keterlambatan Pemberitahuan menjadi dasar bagi Ketua Komisi untuk menetapkan Pemeriksaan Pendahuluan;--- (3) Bahwa, penetapan Pemeriksaan Pendahuluan dituangkan dalam Petikan

Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan tertanggal 28 Maret 2014. Sementara itu, Laporan Pemberitahuan Keterlambatan tertanggal 8 April 2014. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa penetapan Pemeriksaan Pendahuluan yang dituangkan dalam Petikan Penetapan Pemeriksaan Pendahuluan, berikut Petikan Penetapan Jangka Waktu Pemeriksaan Pendahuluan, Surat Pemberitahuan dan Surat Panggilan yang masing-masing tertanggal 2 April 2014, diterbitkan tanpa dasar hukum, karena penerbitan dokumen-dokumen tersebut seharusnya didahului terbitnya Laporan Pemberitahuan Keterlambatan, bukan sebaliknya;--- 11.3 Materiil Acara, (1) Alur Transaksi serta Konsultasi dan Pemberitahuan ke KPPU; --- (1) 27 Desember 2012, Terlapor selaku calon pengendali PT HD Finance Tbk,

melakukan pengumuman rencana pengambilalihan PT HD Finance Tbk melalui Surat Kabar Bisnis Indonesia. Dalam pengumuman tersebut disampaikan bahwa transaksi pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk dari pengendali saat itu dengan target pengambilalihan dari pemegang saham pengendali saat itu sebesar maksimum 51% (lima puluh satu persen) yang akan dilakukan dalam 2 (dua) tahap, sebagai berikut:--- a. Pembelian 45% (empat puluh lima persen) saham PT HD Finance Tbk

(18)

halaman 18 dari 110

b. Pembelian 6% (enam persen) saham PT HD Finance Tbk dari PT HD Corpora dan Wealth Paradise Holdings Limited, apabila setelah proses Penawaran Tender Wajib kepemilikan saham Terlapor pada PT HD Finance Tbk tidak mencapai 51% (lima puluh satu persen);--- (2) 11 Januari 2013, Terlapor berdasarkan keinginan sendiri serta dengan

itikad baik melakukan Konsultasi rencana pengambilalihan PT HD Finance Tbk ke KPPU, serta menyampaikan sejumlah dokumen terkait yang dimintakan oleh KPPU; --- (3) 27 Februari 2013, KPPU menerbitkan Pendapat Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 04/KPPU/PDPT/II/2013 tentang Konsultasi Pengambilalihan Saham (Akuisisi) Saham Perusahaan PT HD Finance Tbk

Oleh PT Tiara Marga Trakindo (“Pendapat KPPU Atas Konsultasi”).

Pendapat KPPU Atas Konsultasi tersebut adalah komisi sebagai berikut:

Berdasarkan kesimpulan di atas, Komisi berpendapat tidak terdapat dugaan praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh PT Tiara Marga Trakindo; ---(4) 8 Maret 2013, Terlapor melaksanakan jual beli atas 45% (empat puluh lima

persen) saham PT HD Finance Tbk melalui Pasar Negosiasi di Bursa Efek Indonesia. Pelaksanaan jual beli tersebut merupakan satu kesatuan proses pelaksanaan pengambilalihan PT HD Finance Tbk untuk mencapai target perolehan saham PT HD Finance Tbk dari pengendali saat itu maksimum sebesar 51% (lima puluh satu persen). Dimana pengambilalihan terhadap 45% (empat puluh lima persen) tersebut telah diumumkan Terlapor melalui surat kabar Bisnis Indonesia tanggal 11 Maret 2013; --- (5) 14 Maret 2013, Terlapor menyampaikan Pernyataan Penawaran Tender

Wajib ke Otoritas Jasa Keuangan (“OJK”) yang merupakan satu kesatuan

(19)

halaman 19 dari 110

PT HD Finance Tbk kepada Terlapor, dan Terlapor wajib melakukan pembelian atas saham tersebut. Atas pembelian tersebut, Terlapor wajib menyelesaikan pembayaran harga saham kepada para pemegang saham publik paling lambat 22 Mei 2013; --- (8) 27 Mei 2013, Terlapor menyampaikan laporan keterbukaan informasi

kepada OJK atas penyelesaian Penawaran Tender Wajib berikut jumlah saham yang diperoleh oleh Terlapor; --- (9) 24 Juni 2013, Terlapor menyampaikan Pemberitahuan kepada KPPU atas hasil pengambilalihan dan jumlah akhir kepemilikan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor sebagai pengendali baru; ---

(10) 4 September 2013, KPPU menerbitkan Surat KPPU Nomor 103/K/IX/2013, Hal: Surat Tidak Melakukan Penilaian Ulang Pengambilalihan Saham, tertanggal 4 September 2013 ("Surat Tanggapan KPPU Atas Pemberitahuan Pengambilalihan"). Dalam surat tersebut KPPU menegaskan “Atas dasar pertimbangan tersebut, Komisi tidak melakukan Penilaian Ulang terhadap Pemberitahuan dengan Nomor Registrasi A13613 dan Pendapat Komisi tetap mengacu pada hasil Penilaian Konsultasi yang dikeluarkan pada tanggal 27 Februari 2013, yaitu Tidak Ada Dugaan Praktik Monopoli dan atau Persaingan Usaha Tidak Sehat yang diakibatkan Pengambilalihan (Akuisisi) Saham PT HD Finance Tbk oleh PT Tiara Marga Trakindo;

---(11) 3 Desember 2013, Terlapor menerima Surat KPPU No. 1040/SJ/P/XII/2013 tanggal 3 Desember 2013 Perihal: Surat Panggilan, yang isinya memanggil Terlapor untuk menghadap dan memberikan keterangan kepada Tim Penyidik KPPU tanggal 11 Desember 2013 terkait dengan dugaan pelanggaran UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat sehubungan dengan pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor. Atas panggilan tersebut, Terlapor hadir dan memberikan keterangan kepada Tim Penyidik KPPU pada tanggal 11 Desember 2013. Keterangan yang diberikan oleh Terlapor dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan dan ditandatangani oleh Terlapor; --- 11.4 Materiil Acara, (2) Peraturan Pengambilalihan yang Berlaku di Pasar Modal; --- (1) PT HD Finance Tbk, merupakan suatu perseroan terbatas yang bersifat

(20)

halaman 20 dari 110

Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas (selanjutnya

disebut “UUPT”), harus tunduk juga atas ketentuan di bidang Pasar Modal. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan pada Pasal 137 UUPT, yang berbunyi sebagai berikut “Dalam hal peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal tidak mengatur lain, ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Bab VIII berlaku juga bagi Perseroan Terbuka.”--- Dari ketentuan tersebut, diketahui secara tegas bahwa ketentuan di bidang Pasar Modal bersifat lex specialis khususnya dalam Pengambilalihan suatu Perseroan Terbuka; --- (2) Mengenai Pengambilalihan Perseroan Terbuka, diatur dalam Peraturan No.

IX.H.1. yang merupakan Lampiran Keputusan Ketua Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan No. KEP-264/BL/2011 tentang Pengambilalihan Perusahaan Terbuka (selanjutnya disebut “Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1”); --- (3) Bahwa, Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. memuat isi dengan sistematika sebagai berikut: --- a. Angka 1: Ketentuan Umum

b. Angka 2: Negosiasi Dalam Rangka Pengambilalihan c. Angka 3: Pengambilalihan Perusahaan Terbuka d. Angka 4: Pelaksanaan Penawaran Tender Wajib e. Angka 5: Kewajiban Pengalihan Kembali Saham f. Angka 6: Pengecualian

g. Angka 7: Ketentuan Penutup

(4) Berdasarkan ketentuan Angka 3 huruf a butir 2 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. diatur bahwa Pihak yang melakukan Pengambilalihan wajib melakukan Penawaran Tender Wajib. Adapun yang dimaksud Penawaran Tender Wajib menurut ketentuan Angka 1 butir e Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. adalah sebagai berikut “Penawaran Tender Wajib adalah penawaran untuk membeli sisa saham Perusahaan Terbuka yang wajib dilakukan oleh Pengendali baru” ---(5) Penawaran Tender Wajib merupakan penerapan dari prinsip perlindungan hak

(21)

halaman 21 dari 110

harga sebagaimana perhitungannya diatur dalam Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. --- Penawaran Tender Wajib sebagai bentuk perlindungan terhadap hak pemegang saham minoritas dikarenakan dalam pengambilalihan saham perusahaan terbuka tidak dipersyaratkan adanya persetujuan dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) terlebih dahulu. Hal tersebut sebagaimana ditegaskan pada ketentuan Angka 3 huruf b Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1., yang berbunyi sebagai berikut:---

Perusahaan Terbuka yang diambil alih tidak wajib memperoleh persetujuan dari pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS), kecuali apabila persetujuan tersebut dipersyaratkan oleh peraturan perundang-undangan yang khusus mengatur bidang usaha Perusahaan Terbuka yang diambil alih.”--- (6) Dalam perusahaan tertutup, bentuk perlindungan pemegang saham minoritas

tercermin dari ketentuan Pasal 126 ayat (2) jo. Pasal 62 UUPT yang mengatur sebagai berikut:--- Pasal 126 ayat (2) UUPT: ---

Pemegang saham yang tidak setuju terhadap keputusan RUPS mengenai Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau Pemisahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya boleh menggunakan haknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 62.” --- Pasal 62 ayat (1) UUPT: ---

Setiap pemegang saham berhak meminta kepada Perseroan agar sahamnya dibeli dengan harga yang wajar apabila yang bersangkutan tidak menyetujui tindakan Perseroan yang merugikan pemegang saham atau Perseroan, berupa: --- a. perubahan anggaran dasar; --- b. pengalihan atau penjaminan kekayaan Perseroan yang mempunyai nilai lebih dari 50 % (lima puluh persen) kekayaan bersih Perseroan; atau --- c. Penggabungan, Peleburan, Pengambilalihan, atau Pemisahan --- (7) Prosedur pelaksanaan Penawaran Tender Wajib diatur pada ketentuan Angka

4 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1., yang antara lain mengatur bahwa pengumuman keterbukaan informasi dalam rangka Penawaran Tender Wajib dilakukan setelah diterimanya persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan

(22)

halaman 22 dari 110

Wajib dilakukan selama 30 (tiga puluh) hari setelah pengumuman. Setelah pelaksanaan Tender Wajib diselesaikan, wajib dilaporkan kepada OJK paling lambat 5 (lima) hari kerja setelah penyelesaian; --- (8) Berdasarkan uraian di atas, Penawaran Tender Wajib merupakan rangkaian proses dalam pengambilalihan suatu perusahaan terbuka, dan sifatnya wajib dilaksanakan serta tidak dapat dipisahkan. Adapun jumlah saham perusahaan terbuka yang dikendalikan oleh pengendali baru, baru dapat diketahui pada saat berakhirnya proses Penawaran Tender Wajib dan wajib dilaporkan kepada OJK dalam waktu 5 (lima) hari kerja setelah penyelesaian Penawaran Tender Wajib; --- (9) Dalam hal Penawaran Tender Wajib tidak dilaksanakan, maka berdasarkan

ketentuan Angka 7 huruf d butir 1 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1., OJK dapat mengenakan sanksi. Berikut bunyi ketentuannya: ---

Pelanggaran atas ketentuan angka 3 huruf a butir 2), dapat dikenakan:--- a. pembatalan transaksi dan mewajibkan Pengendali baru untuk:---

(1) membayar denda; dan --- (2) mengembalikan saham kepada Pihak yang menjadi lawan transaksi

dan mengganti kerugian yang timbul; atau ---

b. denda dan kewajiban melakukan Penawaran Tender Wajib ---11.5 Materiil Acara, Tanggapan, I. Bahwa Penerapan Pasal 29 UU Anti Monopoli

dan Persaingan Usaha Tidak Sehat serta Pasal 5 PP No. 57/2010 Tidak Dapat Diterapkan Secara Terpisah Tanpa Melihat Dasar Pembentukannya; --- (1) Bahwa UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat diterbitkan

dengan salah satu pertimbangan sebagai berikut: ---

c. bahwa setiap orang yang berusaha di Indonesia harus berada dalam situasi persaingan yang sehat dan wajar, sehingga tidak menimbulkan adanya pemusatan kekuatan ekonomi pada pelaku usaha tertentu, dengan tidak terlepas dari kesepakatan yang telah dilaksanakan oleh negara Republik Indonesia terhadap perjanjian-perjanjian internasional.” --- Lebih lanjut ditegaskan juga dalam Alinea 6 Penjelasan Umum UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, sebagai berikut: ---

(23)

halaman 23 dari 110

kekuatan ekonomi pada perorangan atau kelompok tertentu, antara lain dalam bentuk praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang merugikan masyarakat, yang bertentangan dengan cita-cita keadilan sosial.” ---Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pembentukan UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat ditujukan untuk mencegah terjadinya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; --- (2) Bahwa, salah satu tindakan yang dilarang oleh UU Anti Monopoli dan

Persaingan Usaha Tidak Sehat adalah penggabungan, peleburan usaha atau penambilalihan yang dapat mengakibatkan terjadinya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (vide Pasal 28 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat); --- Adapun sebagai tolak ukur untuk menilai apakah suatu tindakan penggabungan, peleburan usaha atau penambilalihan dapat menimbulkan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, ditentukan lebih lanjut dalam Peraturan Pemerintah dan wajib diberitahukan kepada Komisi dalam waktu sebagaimana diatur dalam Pasal 29 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; --- (3) Bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 28 ayat (3) dan Pasal 29 ayat (2)

UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, dibentuklah PP No. 57/2010; --- (4) Bahwa, berdasarkan Alinea 3 Penjelasan Umum PP No. 57/2010, disebutkan

sebagai berikut: ---

(24)

halaman 24 dari 110

Adapun materi yang diatur dalam Peraturan Pemerintah ini meliputi Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha, dan Pengambilalihan saham yang dapat mengakibatkan terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, tata cara penyampaian pemberitahuan, penilaian

Komisi, dan konsultasi; --- (5) Bahwa untuk menghindari atau mencegah terjadinya Praktik Monopoli atau

Persaingan Usaha Tidak Sehat akibat dari penggabungan, peleburan dan pengambilalihan saham, PP No. 57/2010 mengatur mekanisme sebagai berikut: --- a. Konsultasi; --- b. Pemberitahuan. --- (6) Bahwa, mengenai Konsultasi diatur dalam Pasal 10 PP No. 57/2010, sebagai berikut: ---

(1) Pelaku Usaha yang akan melakukan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) dapat melakukan konsultasisecara lisan atau tertulis kepada Komisi. (2) Konsultasi secara tertulis sebagaimana dimaksud pada ayat (1)

dilakukan dengan mengisi formulir dan menyampaikan dokumen yang disyaratkan oleh Komisi.” ---Mengacu pada ketentuan tersebut di atas, Konsultasi tidak wajib dilakukan oleh pelaku usaha yang akan melakukan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan;--- (7) Lebih lanjut, berdasarkan Pasal 11 ayat (1) dan ayat (2) PP No. 57/2010, diatur bahwa: ---

(1) Berdasarkan formulir dan dokumen yang diterima oleh Komisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (2), Komisi melakukan penilaian. --- (2) Berdasarkan penilaian sebagaimana dimaksud pada ayat (1) Komisi

memberikan saran, bimbingan, dan/atau pendapat tertulis mengenai rencana Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau

(25)

halaman 25 dari 110

(8) Bahwa, mengenai Pemberitahuan diatur dalam Pasal 5 ayat (1) PP No. 57/2010, sebagai berikut: ---

Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau

nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu wajib diberitahukan secara tertulis kepada Komisi paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal telah berlaku efektif secara yuridis Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan.” ---Adapun berdasarkan Pasal 8 ayat (1) dan ayat (3) PP No. 57/2010, diatur bahwa Pemberitahuan secara tertulis dilakukan dengan cara mengisi formulir yang ditetapkan oleh KPPU dengan melampirkan dokumen pendukung yang berkaitan dengan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan; --- (9) Bahwa, berdasarkan Pasal 9 ayat (1) PP No. 57/2010 diatur sebagai berikut:

Berdasarkan pemberitahuan secara tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (3), Komisi melakukan penilaian untuk memberikan pendapat terhadap ada atau tidaknya dugaan Praktik Monopoli dan/atau Persaingan Usaha Tidak Sehat akibat dari Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan” (10) Bahwa berdasarkan uraian butir 6 sampai dengan butir 9 di atas, diketahui

bahwa fungsi dari Konsultasi dan Pemberitahuan sama, yaitu menjadi dasar bagi KPPU untuk melakukan penilaian. Hal tersebut ditegaskan dalam ketentuan Bab IV butir C yang merupakan Lampiran dari Peraturan KPPU Nomor 3 Tahun 2012 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaigan Usaha Tidak Sehat (“Peraturan KPPU No.

3/2012”), yang berbunyi sebagai berikut: ---

(26)

halaman 26 dari 110

data yang disampaikan oleh pelaku usaha pada saat Konsultasi Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan atau perubahan kondisi pasar yang material pada saat pemberitahuan. Dalam hal terdapat perubahan material atas data yang disampaikan oleh pelaku usaha atau

kondisi pasar, maka Komisi akan menggunakan kewenangannya untuk melakukan penilaian ulang terhadap Pemberitahuan setelah Penggabungan, Peleburan dan Pengambilalihan dilaksanakan.” --- Dengan demikian, ketentuan Pemberitahuan tidak dapat dilihat secara parsial manakala Konsultasi telah dilakukan sebelumnya; --- (11) Bahwa berdasarkan uraian di atas, Terlapor berdasarkan keinginannya

sendiri dan dengan itikad baik telah melakukan Konsultasi tertulis sebelum Terlapor melakukan transaksi pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk dari PT HD Corpora dan Wealth Paradise Holdings Limited selaku pengendali saat itu. Atas Konsultasi tertulis tersebut, Terlapor telah memperoleh hasil penilaian KPPU melalui Pendapat KPPU Atas Konsultasi, yang pada intinya menyatakan tidak terdapat dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor; --- Lebih lanjut, Terlapor juga telah menyampaikan Pemberitahuan setelah menyelesaikan satu kesatuan proses pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk, dimana atas Pemberitahuan tersebut KPPU tidak melakukan penilaian ulang dan tetap mengacu pada pendapat KPPU pada tanggapan Konsultasi;- (12) Berdasarkan uraian di atas, terbukti demi hukum bahwa KPPU tidak

(27)

halaman 27 dari 110

Peraturan Komisi No. 4/2012, Demi Hukum Wajib Didasarkan Pada Pertimbangan Adanya Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat;--- (1) Bahwa atas kewajiban Pemberitahuan terjadinya penggabungan, peleburan

atau pengambilalihan yang diatur dalam Pasal 5 ayat (1) PP No. 57/2010, terdapat ketentuan sanksi dalam hal terjadi pelanggaran sebagaimana diatur dalam Pasal 6 PP No. 57/2010, yang berbunyi sebagai berikut:---

Dalam hal Pelaku Usaha tidak menyampaikan pemberitahuan tertulis sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (1) dan ayat (3), Pelaku Usaha dikenakan sanksi berupa denda administratif sebesar Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah) untuk setiap hari keterlambatan, dengan ketentuan denda administratif secara keseluruhan paling tinggi sebesar Rp25.000.000.000,00 (dua puluh lima miliar rupiah); --- (2) Bahwa untuk mengatur secara khusus mengenai mekanisme pengenaan

sanksi terkait dengan pelanggaran kewajiban Pemberitahuan yang diatur dalam Pasal 6 PP No. 57/2010, diterbitkan Peraturan KPPU Nomor 4 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengenaan Denda Keterlambatan Pemberitahuan Penggabungan Atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham

Perusahaan (“Peraturan KPPU No. 4/2012”);

---(3) Bahwa, Peraturan KPPU No. 4/2012 tersebut diterbitkan dengan salah satu pertimbangan sebagai berikut: ---

a. bahwa untuk mendukung efektifitas pelaksanaan Pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan

(28)

halaman 28 dari 110

(4) Bahwa besarnya nilai sanksi denda administratif yang dapat dikenakan atas keterlambatan Pemberitahuan sangat signifikan, yaitu Rp1.000.000.000,00 per hari keterlambatan dan maksimum sebesar Rp25.000.000.000,00. Besarnya jumlah denda administratif tersebut dapat dipahami manakala pelaku usaha melakukan penggabungan, peleburan atau pengambilalihan yang dapat mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Karena sepanjang Pemberitahuan belum dilakukan, dan KPPU belum mengetahui kondisi tersebut, pelaku usaha dimaksud dapat memperoleh keuntungan dari praktik monopoli yang dilakukannya. --- Namun demikian, apabila denda keterlambatan hanya semata-mata ditujukan sebagai denda administratif tanpa melihat adanya akibat hukum yang ditimbulkan dari keterlambatan Pemberitahuan atau transaksi yang dilakukan, besarnya denda administratif tersebut adalah tidak wajar. Berikut beberapa contoh pengenaan denda administratif: --- Ketentuan Angka 7 huruf d butir 2 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1.:

Pelanggaran atas keterlambatan menyampaikan informasi sebagaimana dimaksud dalam angka 2 huruf b, angka 3 huruf a butir 1), angka 4 huruf a butir 1), angka 4 huruf a butir 3), angka 6 huruf c, dan angka 6 huruf d dikenakan sanksi administratif berupa denda Rp100.000,00 (seratus ribu rupiah) atas setiap hari keterlambatan.” --- Ketentuan Pasal 7 ayat (1) UU No. 16 Tahun 2009 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008 Tentang Perubahan Keempat Atas Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1983 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan Menjadi

Undang-Undang (selanjutnya disebut “UU KUP”): ---

(29)

halaman 29 dari 110

Maksud pengenaan sanksi administrasi berupa denda sebagaimana diatur pada ayat ini adalah untuk kepentingan tertib administrasi perpajakan dan meningkatkan kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajiban menyampaikan Surat Pemberitahuan; ---

(5) Bahwa, dalam kasus Terlapor, KPPU telah menyampaikan penilaiannya melalui Pendapat KPPU Atas Konsultasi bahwa tidak terdapat dugaan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat yang diakibatkan oleh pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor. Hal mana ditegaskan kembali dalam Surat Tanggapan KPPU Atas Pemberitahuan Pengambilalihan; --- (6) Quod non, apabila diasumsikan Terlapor dikategorikan telah terlambat melakukan Pemberitahuan pengambilalihan kepada KPPU, transaksi yang dilakukan Terlapor terbukti tidak mengakibatkan dan/atau sepatutnya diduga dapat mengakibatkan adanya praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat. Hal mana secara tegas dapat dibuktikan dari hasil penilaian KPPU yang dituangkan dalam Pendapat KPPU Atas Konsultasi dan Surat Tanggapan KPPU Atas Pemberitahuan Pengambilalihan; --- (7) Berdasarkan uraian di atas, demi hukum ketentuan Pasal 6 PP No. 57/2010

tidak dapat diterapkan dalam perkara a quo karena Terlapor telah menyampaikan informasi transkasi pengambilalihan yang akan dilakukan melalui Konsultasi dan KPPU telah menyampaikan penilaian bahwa tidak terdapat dugaan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat terhadap transaksi yang akan dilakukan oleh Terlapor. Pendapat mana ditegaskan kembali dalam Surat Tanggapan KPPU Atas Pemberitahuan Pengambilalihan, dimana KPPU tidak melakukan penilaian ulang; --- 11.7 Materiil Acara, Tanggapan, III. Bahwa Ketentuan Sanksi Denda Administratif Pasal 29 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat Merupakan Sanksi Yang Dikenakan Dalam Hal Tidak Menyampaikan Pemberitahuan; --- (1) Berdasarkan Bab II Lampiran Peraturan KPPU Nomor 3 Tahun 2012 tentang

Perubahan Kedua atas Peraturan KPPU Nomor 13 Tahun 2010 tentang Pedoman Pelaksanaan tentang Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan yang Dapat Mengakibatkan Terjadinya Praktik Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat (selanjutnya

disebut “Peraturan KPPU No. 3/2012”), diketahui tujuan dibentuknya

(30)

halaman 30 dari 110

a. Agar terdapat kesamaan penafsiran terhadap Pasal 28 dan Pasal 29 UU No.5/1999 dan PP No.57/2010, sehingga terdapat kepastian hukum dan dapat menghindari terjadinya kekeliruan atau sengketa dalam penerapannya. --- b. Agar Pasal 28 dan Pasal 29 UU No.5/1999 dan PP No.57/2010 dapat

senantiasa diterapkan secara konsisten, tepat, dan adil. --- c. Menjaga agar penggabungan, peleburan, dan pengambilalihan

senantiasa meningkatkan efisiensi perekonomian sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kesejahteraan nasional. --- d. Mencegah praktik monopoli dan/atau persaingan usaha tidak sehat oleh

pelaku usaha sebagai akibat dari penggabungan, peleburan atau pengambilalihan. --- e. Mendorong penggabungan, peleburan atau pengambilalihan yang bertujuan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam kegiatan usaha. --- (2) Bahwa, dalam Bab VIII Peraturan KPPU No. 3/2012 mengatur tentang

Aturan Sanksi, yang dibagi menjadi 2 (dua) yaitu:

a. Sanksi pelanggaran Pasal 28 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat; --- b. Sanksi tidak menyampaikan Pemberitahuan (Pasal 29 UU Anti

(31)

halaman 31 dari 110

Pengambilalihannya kepada KPPU, maka denda keterlambatan akan dibebankan kepada bagian dari kelompok usahanya yang berada di Indonesia. --- (5) Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pengenaan sanksi

denda administratif menurut Pasal 29 UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat dilakukan kepada pelaku usaha yang memenuhi syarat wajib melakukan Pemberitahuan namun tidak melakukan Pemberitahuan, dan hal tersebut diketahui oleh KPPU dari pelaksanaan kegiatan monitoring; 11.8 Materiil Acara, Tanggapan, IV. Bahwa Tidak Ada Keterlambatan Pemberitahuan Transaksi Pengambilalihan Oleh Terlapor Dengan Memperhatian Berlakunya Ketentuan Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1.; --- (1) Bahwa pada saat Konsultasi Terlapor telah menyampaikan kepada KPPU

mengenai target kepemilikan saham PT HD Finance Tbk yang diinginkan oleh Terlapor adalah minimum 51% (lima puluh satu persen). Dimana untuk perolehannya, Terlapor akan mengambilalih 45% (empat puluh lima persen) saham dari pengendali saat itu, yaitu PT HD Corpora dan Wealth Paradise Holdings Limited, dan tambahan sebanyak maksimum 6% (enam persen) apabila dari pelaksanaan Penawaran Tender Wajib, kepemilikan saham Terlapor belum mencapai 51% (lima puluh satu persen).--- (2) Bahwa, berdasarkan kronologis yang disampaikan Terlapor pada butir B.1., ketika transaksi pembelian saham PT HD Finance Tbk pada tahap pertama dilaksanakan, kepemilikan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor baru sebesar 45% (empat puluh lima persen) dan belum mencapai target minimum pengendalian yang direncanakan oleh Terlapor, yaitu sebanyak 51% (lima puluh satu persen).--- (3) Bahwa, PT HD Finance Tbk yang menjadi target pengambilalihan adalah

(32)

halaman 32 dari 110

(4) Bahwa, mengacu pada ketentuan Angka 3 huruf a butir 2 Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1. tersebut di atas, Terlapor sebagai pihak yang melakukan pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk selaku perusahaan terbuka memiliki kewajiban untuk melakukan Penawaran Tender Wajib. Karenanya, proses transaksi pengambilalihan PT HD Finance Tbk oleh Terlapor secara keseluruhan tidak bisa dilepaskan dari proses Penawaran Tender Wajib. Dimana kepemilikan saham final oleh Terlapor selaku pengendali baru belum dapat ditentukan pada saat pembelian 45% (empat puluh lima persen) saham, melainkan setelah diselesaikannya proses Penawaran Tender Wajib yang merupakan kewajiban sebagaimana diatur dalam ketentuan Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1--- (5) Berdasarkan uraian dalam huruf B.2 di atas mengenai transaksi

pengambilalihan Perseroan Terbuka di lingkungan Pasar Modal, dapat disimpulkan bahwa pendapat investigator yang mengasumsikan kewajiban Pemberitahuan Terlapor atas pengambilalihan yang dilakukannya terhadap PT HD Finance Tbk terjadi sejak keterbukaan informasi yang dilaksanakan Terlapor saat Terlapor melakukan pembelian atas 45% saham PT HD Finance Tbk adalah sangat keliru dan tidak tepat, karena penyelesaian transaksi pengambilalihan dan jumlah pengendalian saham secara final baru terjadi secara efektif setelah diselesaikannya Penawaran Tender Wajib. Apabila Terlapor tidak melakukan Penawaran Tender Wajib setelah melakukan pembelian 45% saham dalam HD Finance Tbk, maka otoritas pasar modal berdasarkan ketentuan yang berlaku dapat membatalkan pembelian 45% saham dimaksud dan mewajibkan Terlapor mengembalikan saham kepada Pihak yang menjadi lawan transaksi dan bahkan mengganti kerugian yang timbul. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengambilalihan yang dilakukan baru memperoleh kepastiannya dan dianggap efektif sejak selesainya proses Penawaran Tender Wajib dan kemudian diikuti dengan pengumuman keterbukaan informasi atas pelaksanaan Penawaran Tender Wajib, sehingga kewajiban pemberitahuan mengenai pengambilalihan kepada KPPU mulai diperhitungkan sejak disampaikannya laporan penyelesaian Penawaran Tender Wajib kepada OJK. --- (6) Bahwa, keterbukaan informasi atas penyelesaian Penawaran Tender Wajib

(33)

halaman 33 dari 110

Penawaran Tender Wajib Atas Saham PT HD Finance Tbk oleh PT Tiara Marga Trakindo, dimana dalam pemberitahuan tersebut telah diketahui jumlah akhir saham yang dikendalikan oleh Terlapor sebagai pengendali baru PT HD Finance Tbk. Oleh karena itu, apabila batas waktu Pemberitahuan mengacu pada tolak ukur penyelesaian satu kesatuan transaksi pengambilalihan, yaitu tanggal surat keterbukaan kepada OJK tersebut di atas, maka dapat disimpulkan bahwa Pemberitahuan yang dilakukan oleh Terlapor masih dalam kurun waktu yang ditetapkan, mengingat faktanya laporan pemberitahuan yang dilakukan Terlapor kepada KPPU mengenai pengambilalihan saham dalam PT HD Finance Tbk pada tanggal 21 Juni 2013 adalah tidak terlambat dan masih memenuhi syarat 30 (tiga puluh) hari kerja sejak kewajiban pelaporan pemberitahuan tersebut timbul pada tanggal 27 Mei 2013.--- (7) Berdasarkan uraian tersebut di atas, demi hukum terbukti bahwa tidak terdapat keterlambatan Pemberitahuan pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor karena Pemberitahuan dilakukan masih dalam kurun waktu dari penyelesaian keseluruhan transaksi Pengambilalihan yang diatur menurut Peraturan Bapepam-LK No. IX.H.1.--- 11.9 Materiil Acara, Tanggapan, V. Bahwa Pelaksanaan Pemberitahuan Oleh Terlapor ke KPPU Dilakukan Berdasarkan Hasil Diskusi Dengan KPPU Pada Periode Konsultasi; --- (1) Bahwa, pada bulan Januari 2013 Terlapor menemui KPPU untuk

mengadakan Konsultasi rencana pengambilalihan saham PT HD Finance Tbk oleh Terlapor, dimana Konsultasi tersebut dimungkinkan sebagaimana diatur dalam Pasal 10 PP No. 57/2010, yang berbunyi sebagai berikut: ---

(1) Pelaku Usaha yang akan melakukan Penggabungan Badan Usaha, Peleburan Badan Usaha, atau Pengambilalihan saham perusahaan lain yang berakibat nilai aset dan/atau nilai penjualannya melebihi jumlah tertentu sebagaimana dimaksud dalam Pasal 5 ayat (2) dan ayat (3) dapat melakukan konsultasi secara lisan atau tertulis kepada Komisi.---

(34)

halaman 34 dari 110

Sehat melakukan Konsultasi secara lisan dan juga tertulis kepada KPPU dengan mengisi formulir dan menyampaikan dokumen yang disyaratkan oleh KPPU.--- (2) Dalam proses Konsultasi tersebut, Terlapor menjelaskan rencana transaksi

Pengambilalihan saham yang akan dilakukan oleh Terlapor terhadap PT HD Finance Tbk, sebagaimana Terlapor tuangkan juga dalam Ringkasan Rencana Pengambilalihan PT HD Finance Tbk, yang disampaikan oleh Terlapor kepada KPPU bersamaan dengan formulir dan dokumen pendukung yang dmintakan oleh KPPU pada saat Konsultasi. ---

(3) Selanjutnya, terkait dengan tahapan transaksi Pengambilalihan yang akan dilakukan, dalam proses Konsultasi Terlapor melakukan diskusi dengan pihak KPPU, yaitu Bapak Fajar Ardhi Saputra dan Bapak Hafis Sutomo yang keduanya berasal dari Biro Merger KPPU. Dalam diskusi tersebut, Terlapor menyampaikan alur transaksi yang akan dilakukan dan meminta pandangan KPPU mengenai waktu pelaksanaan Pemberitahuan. Adapun KPPU menginformasikan bahwa Pemberitahuan dapat dilakukan oleh Terlapor setelah diselesaikannya transaksi secara final dimana Terlapor telah memperoleh target pengendalian yaitu sekurangnya 51% (lima puluh satu persen) saham PT HD Finance Tbk. --- (4) Berdasarkan panduan yang diberikan kepada Terlapor tersebut, Terlapor

melaksanakan Pemberitahuan kepada KPPU setelah penyelesaian transaksi pengambilalihan secara final dan target pengendalian yang Terlapor sampaikan kepada KPPU pada saat Konsultasi, yaitu sekurangnya 51% (lima puluh satu persen) telah tercapai. Dalam Pemberitahuan tersebut, Terlapor menyampaikan jumlah saham PT HD Finance Tbk yang dikendalikan oleh Terlapor sebagai pengendali baru.--- (5) Atas Pemberitahuan yang disampaikan oleh Terlapor, KPPU telah memberikan tanggapannya sebagaimana dimuat dalam Surat Tanggapan KPPU Pemberitahuan Pengambilalihan. Dalam surat tersebut KPPU menyatakan antara lain bahwa: --- a. KPPU tidak menemukan adanya perubahan material atas data dan

kondisi pasar pada saat Konsultasi dan Pemberitahuan; --- b. KPPU tidak melakukan penilaian ulang terhadap Pemberitahuan dan

(35)

halaman 35 dari 110

(6) Berdasarkan uraian di atas, demi hukum terbukti bahwa pelaksanaan Pemberitahuan yang dilakukan oleh Terlapor dilakukan sesuai dengan arahan dari KPPU dan tidak terdapat niat dari Terlapor untuk melakukan pelanggaran atas ketentuan apapun khususnya Pemberitahuan pengambilalihan saham sebagaimana dimuat dalam UU Anti Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat serta PP No. 57/2010. Tidak adanya itikad Terlapor untuk melanggar ketentuan peraturan tercermin dari adanya itikad baik Terlapor untuk melakukan Konsultasi yang pada dasarnya tidak diwajibkan berdasarkan peraturan yang berlaku.--- 11.10 Materiil Acara, Tanggapan 6. Bahwa KPPU Tidak Pernah Menyatakan Adanya

Keterlambatan Pemberitahuan oleh Terlapor Dalam Surat Tanggapan KPPU Atas Pemberitahuan Pengambilalihan; --- (1) Bahwa berdasarkan Pasal 2 ayat (4) dan ayat (5) Peraturan KPPU No.

4/2012, diatur bahwa KPPU melakukan penyelidikan atas pemberitahuan yang disampaikan oleh pelaku usaha, laporan penyelidikan mana antara lain memuat ada tidaknya keterlambatan. --- (2) Bahwa berdasarkan Pasal 4 ayat (1) Peraturan KPPU No. 4/2012, diatur

sebagai berikut: ---

Keterlambatan pemberitahuan Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan diidentifikasi dari laporan monitoring dan/atau laporan Penyelidikan.” ---Adapun mengenai monitoring diatur dalam Pasal 3 ayat (1) Peraturan KPPU No. 4/2012, sebagai berikut: ---

Komisi dapat melakukan monitoring terhadap Penggabungan atau Peleburan Badan Usaha dan Pengambilalihan Saham Perusahaan, tanpa adanya Pemberitahuan dari badan usaha berdasarkan data atau informasi yang bersumber dari: --- a. Berita di media massa; --- b. Laporan dari masyarakat;atau --- c. Sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan.” --- Sementara itu, laporan penyelidikan dibuat berdasarkan Pemberitahuan dari pelaku usaha (vide Pasal 2 ayat (4) Peraturan KPPU No. 4/2012). --- (3) Mengacu pada ketentuan yang diuraikan dalam butir 2 di atas dan adanya

(36)

halaman 36 dari 110

kelengkapan isi formulir dan dokumen pendukung yang disampaikan oleh pelaku usaha berikut ada tidaknya keterlambatan Pemberitahuan merupakan pemeriksaan atas formil Pemberitahuan. Sementara itu, pemeriksaan dan analisa atas informasi yang dimuat dalam formulir Pemberitahuan dan dokumen pendukungnya merupakan pemeriksaan materil guna mengetahui ada tidaknya dugaan praktik monopoli dan persaingan usaha tidak sehat terkait dengan transaksi yang dilaksanakan. Setelah pemeriksaan secara formil dan materil dilakukan, baru kemudian KPPU memberikan tanggapan atas Pemberitahuan yang dilakukan. --- Pelaksanaan pemeriksaan atas formil dan materil Pemberitahuan yang dilakukan pelaku usaha, merupakan penerapan atas asas Keadilan dan asas Kepastian Hukum. Dimana dengan diperolehnya tanggapan dari KPPU atas Pemberitahuan yang dilakukan pelaku usaha, maka dapat dikatakan bahwa kewajiban Pemberitahuan telah diselesaikan oleh pelaku usaha. Oleh karena itu, tidaklah sepatutnya di kemudian hari dinyatakan bahwa Pemberitahuan yang dilakukan pelaku usaha tidak memenuhi syarat formil. Hal mana tentunya mengakibatkan tidak terdapat kepastian hukum dalam penerapan peraturan bagi pelaku usaha. --- Sementara itu, kepastian hukum merupakan salah satu tujuan diterbitkannya PP No. 57/2010, sebagaimana dimuat dalam Alinea 2 yang berbunyi sebagai berikut “Keberadaan Peraturan Pemerintah ini dalam dunia usaha sangat

penting untuk memberikan kepastian hukum bagi para Pelaku Usaha...” ---- (4) Dalam perkara a quo, atas Pemberitahuan yang disampaikan Terlapor,

(37)

halaman 37 dari 110

57/2010 sebagaimana didalilkan oleh Tim Investigator dalam Laporan Keterlambatan Pemberitahuan; --- 12. Menimbang, bahwa setelah melakukan Pemeriksaan Pendahuluan, Majelis Komisi menyusun Laporan Hasil Pemeriksaan Pendahuluan yang disampaikan kepada Rapat Komisi; --- 13. Menimbang, bahwa berdasarkan pertimbangan terhadap Laporan Hasil Pemeriksaan Pendahuluan, Rapat Komisi memutuskan untuk dilakukan Pemeriksaan Lanjutan terhadap Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014; --- 14. Menimbang, bahwa berdasarkan Keputusan Rapat Komisi, selanjutnya Komisi menerbitkan Penetapan Komisi Nomor: 20/KPPU/Pen/IV/2014 tanggal 17 April 2014 tentang Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A10); --- 15. Menimbang, bahwa untuk melaksanakan Pemeriksaan Lanjutan, Komisi menerbitkan Keputusan Komisi Nomor 55/KPPU/Kep/IV/2014 tanggal 17 April 2014 tentang Penugasan Anggota Komisi sebagai Majelis Komisi pada Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 (vide bukti A11); --- 16. Menimbang, bahwa Ketua Majelis Komisi Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014

menerbitkan Surat Keputusan Majelis Komisi Nomor 20/KMK/Kep/IV/2014 tentang Jangka Waktu Pemeriksaan Lanjutan Perkara Nomor 07/KPPU-M/2014 yang dilaksanakan dalam jangka waktu paling lama 14 (empat belas) hari kerja terhitung sejak tanggal 2 Mei 2014 sampai dengan tanggal 22 Mei 2014 (vide bukti A16); --- 17. Menimbang, bahwa Majelis Komisi telah menyampaikan Pemberitahuan Pemeriksaan Lanjutan, Petikan Penetapan Pemeriksaan Lanjutan, Petikan Surat Keputusan Majelis Komisi tentang Jangka Waktu Pemeriksaan Lanjutan (vide bukti A18 , A15, A17); --- 18. Menimbang bahwa pada tanggal 2 Mei 2014, Majelis Komisi melaksanakan Sidang Majelis Komisi dengan agenda Pemeriksaan Ahli dari Otoritas Jasa Keuangan yang dihadiri oleh YB Eko Pramuji, Marthen Pareang, S.H., dan M. Rizki Fauzi. Berdasarkan keterangan Ahli di bawah sumpah, Majelis Komisi memperoleh informasi yang pada pokoknya sebagai berikut (vide bukti B2); --- 18.1 Bahwa pihak Otoritas Jasa Keuangan yang memberikan keterangan Ahli adalah

(38)

halaman 38 dari 110

(39)

halaman 39 dari 110

(40)

halaman 40 dari 110

Tender offer harus dilakukan secara simultan atau berangkaian. Pengambilalihan bisa dikatakan setelah dilakukan tender wajib untuk mencapai sasaran pengendali baru; --- 19.6 Bahwa berdasarkan ketentuan poin 2 Peraturan Bapepam-LK Nomor IX.H1, dalam rangka Pengambilalihan Perusahaan Terbuka, Pengendali Perusahaan Terbuka baru wajib melakukan Penawaran Tender untuk seluruh sisa saham Perusahaan Terbuka tersebut. Tender offer wajib dilakukan oleh perusahaan pengendali baru; --- 19.7 Bahwa keterbukan informasi kepada publik sesuai dengan prinsip pasar modal. Keterbukaan informasi memberi manfaat untuk menentukan sikap dari investor apakah akan diam menunggu hasil atau menjual saham jika kurang percaya; --- 19.8 Bahwa Ahli mengetahui kewajiban pelaku usaha untuk melakukan pemberitahuan pengambilalihan saham dalam kurun waktu 30 hari setelah efektif yuridis kepada KPPU; --- 19.9 Bahwa pada dasarnya akuisisi adalah perjanjian, maka perjanjian mengikat para pihak. Apabila akuisisi terhadap 51% saham, maka sudah dikatakan pengendali baru. Tetapi jika kurang dari 51%, efektifnya berlaku setelah selesai proses rangkaian pengambilalihan atau tender offer; --- 19.10 Bahwa apabila ada aturan yang secara jelas menyatakan, khusus pengambilalihan di bursa efek, maka keterbukaan informasi publik yang pertama sudah dikatakan efektif yuridis. Menurut penafsiran hukum Ahli, rangkaian tahapan tender tersebut harus selesai terlebih dahulu sehingga dapat dikatakan efektif yuridis, efektif yuridis bukan hanya ditentukan pada saat keterbukaan informasi publik Kepada Otoritas Jasa Keuangan yang pertama; --- 19.11 Bahwa apabila ada Perusahaan mengambil saham tertanggal 10 kemudian lapor

(41)

halaman 41 dari 110

Referensi

Dokumen terkait

Pada hari ini, Senin tanggal dua puluh enam bulan Mei Tahun dua ribu empat belas, dimulai pukul 09.00WIT bertempat diruang rapat Komisi Pemilihan Umum Provinsi Maluku Utara,

Menimbang, bahwa Pengadilan Tinggi sependapat dengan Majelis Hakim Tingkat Pertama yang menyatakan bahwa Tergugat walaupun telah dipanggil secara patut dengan

Bahwa Majelis Komisi menilai persyaratan obat produksi BUMN dalam RKS secara tidak langsung telah memberikan hambatan bagi pabrikan non BUMN untuk ikut serta dalam

Bahwa berdasarkan keterangan para terlapor dan saksi serta dokumen lainnya, Majelis Komisi menilai bahwa Terlapor VI (PT. Lematang Sentana) tidak mengikuti dan

57 Tahun 2010 yang wajib diberitahukan secara tertulis kepada KPPU paling lama 30 (tiga puluh) hari kerja sejak tanggal telah berlaku efektif secara yuridis Pengambilalihan saham

Bahwa berdasarkan bentuk-bentuk persekongkolan tersebut, maka Majelis Komisi menilai adanya persekongkolan horisontal yang dilakukan antara Terlapor I dan Terlapor II dengan

Menimbang bahwa pada Sidang Majelis Komisi ini, Terlapor VI (Panitia Tender Pekerjaan Pembangunan Laut Samboja, Pembangunan Pelabuhan Terpadu di Kecamatan Kota

Setelah mempelajari seluruh dokumen dan bukti-bukti secara mendalam, Majelis Komisi menemukan bahwa tidak ditemukannya hubungan secara langsung antara PKS dengan ditetapkannya PT