• Tidak ada hasil yang ditemukan

الله ََد

Dalam dokumen USHUL FIKIH INDONESIA MAPK KELAS XI KSKK (Halaman 91-94)

ٌَئِّي ََسَ

“Sesungguhnya Allah melihat kepada kalbu hamba, maka Dia mendapati bahwa kalbu Muhammad n adalah kalbu terbaik yang dimiliki para hamba. Dia pun memilihnya dan mengutusnya untuk mengemban risalah-Nya. Kemudian Dia melihat kepada kalbu hamba-hamba setelah kalbu Muhammad, maka Dia mendapati kalbu para sahabatnya merupakan kalbu terbaik yang dimiliki hamba. Dia pun menjadikan mereka sebagai penolong Nabi-Nya. Mereka berperang di atas agamanya. Maka apa pun yang dianggap baik oleh kaum muslimin, maka itu pun baik di sisi Allah. Dan apa saja yang dianggap jelek oleh mereka, itu pun jelek di sisi Allah.” (HR. Ahmad)

Al ‘adatu muhakkamah bisa dijadikan pedoman, sandaran, dan dasar kebijakan hukum ketika memenuhi enam syarat, yaitu:

(1) Tidak bertentangan dengan syara’, seperti kebiasaan sebagian masyarakat yang hoby berjudi, minum minuman yang memabukkan, ngrumpi (ghibah, gosip) hal ini tidak bisa dijadikan sandaran hukum karena jelas bertentangan dengan syara’.

(2) Tidak menyebabkan mafsadah (keadaan yang buruk) serta menghilangkan mas͎lah͎āh (kebaikan secara umum), seperti kebiasaan sebagian masyarakat yang membuka aurat baik laki-laki atau perempuan ini tidak bisa dijadikan sandaran hukum karena jelas bertentangan dengan syara’.

(3) Sudah berlaku secara umum di kalangan kaum muslimin, seperti kebiasaan masyarakat Indonesia yang melakukan tradisi serahan dalam acara pernikahan.

(4) Tidak berlaku dalam ibadah mahdlah (formal), contohnya dalam kaidah minor (cabang) kelima ini yaitu; (

ٌع ْوُنْمَمَِةَداَبِعْلاِبَ ُراَثْيَ ِلَْا

), artinya mendahulukan orang lain dalam beribadah adalah dilarang, seperti mendahulukan orang lain untuk menempati shaf awal (barisan depan) dalam shalat adalah dilarang karena termasuk ibadah. Contoh lain mendahulukan orang lain untuk menutup aurat dan menggunakan air wudhu. Artinya, ketika seseorang hanya memiliki sehelai kain untuk menutup auratnya, sedangkan temannya juga membutuhkannya, maka dia tidak boleh memberikan kain itu kepada temannya karena akan menyebabkan auratnya terbuka sendiri. Begitu juga dengan air yang akan digunakannya untuk bersuci, maka tidak boleh memberikan air itu kepada temannya untuk menggunakan air tersebut karena hal ini berkaitan dengan ibadah. Sebaliknya mendahulukan orang lain mengalahkan diri sendiri dalam hal selain ibadah sangat dianjurkan (

َ ُراَثْيَ ِلَْا

ٌَب ْوُلْطَمَِةَداَبِعْلا ِرْيَغِب

), seperti mendahulukan orang lanjut usia (lansia) ketika masuk pintu mobil harus terlebih dahulu diutamakan dan seterusnya.

(5) Kebiasaan tersebut sudah memasyarakat saat akan ditetapkan sebagai salah satu pedoman hukum, contoh seperti kebiasaan masyarakat lamaran pra-nikah bisa dijadikan sandaran hukum diperbolehkan sesuai dengan adat masing-masing selama tidak melenceng dari syari’ah.

(6) Tidak bertentangan dengan suatu hal yang sudah ada penjelasan yang bisa dipertanggungjawabkan, contoh seperti bolehnya penggunaan vaksin meningitis, sepintas tidak ada permasalahan dalam penggunaan vaksin yang wajib bagi jamaah haji ini. Namun setelah ditemukannya unsur protein babi dalam vaksin ini sebagian calon jemaah haji menolaknya. Tetapi setelah ada penjelasan yang sangat jelas dan kuat argumentasi yang disampaikan oleh Kementerian Agama dan Kementerian Kesehatan, bahwa unsur babi tersebut telah melewati tes laboratorium dimana salah satu prosesnya harus melewati tujuh tahapan pensterilan dan salah satu tahapan di dalamnya memerlukan debu.

Ushul Fikih Kelas XI MA PK 83 F. Dasar Hukum

Kaidah kelima al ‘adatu muhakkamah berdasarkan al Qur’an dan Hadits, antara lain:

- ١

ََنيِلِهاَجْلاَِنَعَ ْض ِرْعَأ َوَ ِف ْرُعْلاِبَ ْرُمْأ َوَ َوْفَعْلاَِذُخ

Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh” (QS. Al-A’raf : 199)

Menurut Imam Al-Suyuthi sebagaimana dikutip ulama’ asal Indoneisa Syaikh Yasin bin Isa al-fadani, kata al-‘urf dalam ayat ini diartikan sebagai kebiasaan atau adat, adat di sini artinya adat yang tidak bertentangan dengan syariat (al ‘adatu muhakkamah). Namun pendapat ini dianggap lemah oleh ulama’ lain alasannya kalimat al-‘urf jika diartikan sebagai adat istiadat maka tidak sesuai dengan asbabun nuzul ayat ini dalam konteks dakwah yang telah dilakukan Nabi Muhammad SAW kepada masyarakat Arab yang memiliki karakter keras dan kasar, juga kepada orang-orang yang masih lemah imannya.

Kalimat al-‘urf dan al-‘adah artinya sama dalam konteks ucapan dan perilaku, keduanya secara kontinyuitas harus benar-benar telah dipraktikkan oleh mayoritas manusia, sehingga melekat pada jiwa, dibenarkan oleh akal dan selaras dengan watak sehat yang memiliki kemanfaatan dan tidak melenceng Sesama manusia harus saling berkasih sayang kerena Allah SWT, jangan ada benci,

dendam dan bermusuhan. Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda:

"Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah terdapat orang-orang yang bukan Nabi, dan bukan pula Syuhada. Tetapi para nabi dan syuhada cemburu pada mereka di hari kiamat nanti, disebabkan kedudukan yang diberikan Allah kepada

mereka".

"Ya Rasulullah, beritahukanlah kepada kami, siapa mereka?"

Ujar sahabat: "Agar kami bisa turut mencintai mereka."

Lalu Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam menjawab:

“Mereka adalah orang-orang yang saling mencintai karena Allah tanpa ada hubungan keluarga dan nasab di antara mereka. Demi Allah, wajah-wajah mereka

pada hari itu bersinar bagaikan cahaya di atas mimbar-mimbar dari cahaya.

Mereka tidak takut di saat manusia takut, dan mereka tidak sedih di saatmanusia sedih.”

(HR. Abu Dawud)

dari syara’. Tidak termasuk al-‘urf dan al-‘aadah (adat istiadat), jika mengandung kerusakan, bencana, malapetaka, kedurhakaan dan tidak ada manfaat atau kontribusinya sama sekali. Contohnya mu’amalah yang mengandung unsur keharaman, tipuan, riba, judi, najis dan sebagainya.

Meskipun perilaku tersebut telah menjadi kebiasaan atau bahkan mungkin sudah tidak dirasa lagi keburukannya.

٢

َْلاَُهَلَ َنَّيَبَتَاَمَِدْعَبَ ْْۢنِمَ َل ْوُس َّرلاَِقِقاَش يَ ْنَم َو -

َٰدُه

ََي َوَى

ََرْيَغَ ْعِبَّت

ََنْيِنِم ْؤُمْلاَ ِلْيِبَسَ

َاَمَ هِّل َوُن َ

ا ارْي ِصَمَ ْتَءۤاَس َوَ َِۗمَّنَهَجَ هِلْصُن َوَىٰل َوَت

Dalam dokumen USHUL FIKIH INDONESIA MAPK KELAS XI KSKK (Halaman 91-94)