:
ىَّتحَ ِمئاَّنلاَنعَ:ٍةثلًثَنعَُملَقلاَعِف ُر )
ََّتحَيبَّصلاَنعوَ،َظقيتسي َ تحيَى
،َمِل
ََلِقعَيَىَّتحَِنونجملاَنعو (
Pena diangkat (kewajiban tidak diberlakukan) terhadap tiga (golongan), terhadap anak
"
tidur n dari orang kecil hingga balig, terhadap orang gila hingga sadar (sembuh), da
Abu Daud, 4403 dan Ibnu Majah, 2041) hingga bangun." (HR.
1. Mukhāṣîṣberkaitan juga dengan ‘urf (kebiasaan), karena terkadang kebiasaan dapat men-takhsis-kan nash-nash yang umum.
2. Adat atau ’urf tidak boleh dijadikan sebagai sarana takhṣīṣ, karena syariat tidak disusun berdasarkan adat.
3. Takhṣīṣ ialah membatasi jumlah Al-‘aam (taqlil). Berbeda dengan nasakh, karna ialah nasakh membatalkan hukum yang telah ada di ganti dengan hukum yang baru, (tabdil) takhṣīṣ atau mukhāṣîṣ bisa Al-Qur’an dan hadis, dalil-dali syara’ berupa ijma’, qiyas dan dalil akal. Nasakh hanya bisa dengan kata-kata. Takhṣīṣ hanya masuk pada dalil yang umum. Nasakh bisa masuk pada dalili umum maupun dalil khusus. Dengan perkataan lain, yang di-takhṣīṣ-kan hanya dalil umum, dalil khusus tidak bisa, sedangkan nasakh yang dibatalkan umum maupun dalil khusus.
takhṣīṣmasuk kepada hukum berita-berita. Nasakh hanya masuk kepada hukum saja, sebab membatalkan berita berari dusta.
I. Hikmah
Hikmah (perenungan) dari kaidah takhṣīṣdan mukhāṣîṣ, antara lain:
1. Para ulama ahli ushul fiqh mengarahkan perhatian mereka terhadap uslub-uslub dan ibarat-ibarat (analisis kritis) terhadap bahasa Arab yang digunakan untuk memahami nash-nash termasuk kaidah takhṣīṣdan mukhāṣîṣ.
2. Takhṣīṣ nas merupakan upaya pembatasan keumuman yang terkandung dalam nasdengancaramengeluarkan(ikhrāj) sebagianobjek daricakupan keumumannas seperti masa iddah selama tiga quru’ (masa suci/haidh) bagi perempuan yang
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 147 ditakhṣīṣoleh surat At-Thalaq ayat 4 dan Al Ahzab ayat 49 kecuali perempuan yang hamil masa iddah sampai melahirkan dan perempuan yang cerai sebelum dhuhul (hubungan suami istri) yang tidak ada masa iddah(masa tunggu untuk tidak menikah dengan lelaki lain untuk mengetahui ada bayi dikandungan atau tidak karena berkaitan dengan nasab bayi).
3. Takhṣīṣ termasuk bagian dari penjelasan> dan penafsiran terhadap sesuatu yang mengandung keumuman (al-‘a>m). Keumuman dapat berlaku pada lafal dan makna nas baik mafhum, muqtadā’ maupun hukum nas. Seperti keharusan berwudhu bagi setiap orang yang akan shalat, kemudian diberikan penjelasan dengan ditakhṣīṣ boleh memakai tayammum bagi orang yang tidak mendapatkan air, sebagaimana firman Allah pada surat Al-Maidah ayat 6.
4. Takhṣīṣ dalam operasionalnya membutuhkan alatataudalil takhṣīṣ yaitu mukhāṣîṣitu sendiri yang harus mengandung kemaslahatanatas keumuman hukum nas tatkala penerapan hukum secara umum pada konteks tertentu berpotensi menimbulkan mudarat dan tidakberpihakpadamaqasid syari’ah (t ujua n huku m d it erapkan), sepert i pada sahabat Umar bin Khatab ra sebagai seorang khalifah (presiden) waktu itu memutuskan tidak melakukan hukum potong tangan bagi pencuri dengan alasan terjadinya pencurian bukan faktor kesengajaan tetapi terpaksa dilakukan karena lapar di musim panceklik. Orang kaya yang dicuri menimbun harta sebanyak- banyaknya tanpa peduli sesama, sedangkan pencuri tersebut kelaparan ingin mempertahankan hidupnya atau mempertahankan keluarganya dari kematian yaitu kelaparan. Oleh karna itu pencuri tersebut dikenai ta’zir.
5. Takhṣīṣ sama sekali tidak meng hasilkan dualisme hukum dalam satu permasalahan, akan tetapi takhṣīṣ hanya memberikan pengecualian yang sifatnya spesifik dan kasuistik. Sementara hukum asal yang terkandung pada nas al-‘āmm tetap berlaku dan diakui kehujjahannya, meskipun sifat keumumannya menjadi terbatas seperti pada hukum iddah, memotong tangan pencuri, semua tanaman wajib dizakati dan sebagainya pada penjelasan sebelumnya.
Ayo Mengamati!
Penjelasan Gambar:
Belajar dari takhṣīṣdan mukhāṣîṣsekaligus bisa memahami kerangka berpikir maqasid syari’ah (t ujua n huku m d it erapkan), kemaslahatanatas keumuman hukum nas tatkala penerapan hukum secara umum pada konteks tertentu berpotensi menimbulkan mudarat (bahaya) jika diterapkan, sebagaimana tekhnologi secara umum memiliki kemaslahatan yang besar seperti membantu manusia secara sistematis, terstruktur dan masif. Namun di sisi lain tekhnologi secara khusus menjadikan manusia menjadi individualis dan kurang peka terhadap lingkungan, maka tekhnologi harus berbasis kemaslahatan dan kemanfaatan dan menolak segala bentuk kemadharatan.
Sumber Gambar: WWW.CNBCINDONESIA.COM
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 149 Penugasan Belajar Mandiri
Mengamati
Amatilah gambar di atas, dalam menghadapi era New Society 5.0 renungkan dan kaitkan dengan sighat takhṣīṣdan mukhāṣîṣyang Anda pelajari! Buatlah narasi dari hasil renungan Anda di bawah ini.
1...
...
...
...
...
2...
...
...
...
...
...
3...
...
...
...
...
Ayo Menyampaikan Gagasan!
Dasar Logika: dengan memahami sighattakhṣīṣdan mukhāṣîṣini, mari kita aplikasikan dalam kehidupan nyata.
Sampaikanlahgagasanmu dengan menjelaskan dihadapan guru dan teman-temanmu secara individu tentang paradigma (kerangka berfikir) kemaslahatan yang bersifat luas, kemanfaatan yang bersifat jauh meneropong ke depan baik untuk diri sendiri, keluarga, bangsa Indonesia dan agama terkait dengan sighat takhṣīṣdan mukhāṣîṣ.
J. Uji Kompetensi
1. Uji Kompetensi: Diskusi Kelompok
Setelah Anda mendalami materi maka lakukanlah diskusi dengan kelompok Anda, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas sebagai seminar kelas dan hasilnya di tempel.
Pembagian Tugas Kelompok Presentasi Seminar Kelas Penyaji:
Pembawa Acara/MC:
Moderator:
Pembahas:
Notulen:
Kelompok TEMA HASIL DISKUSI
1 Studi Perbandingan Sighat takhṣīṣdan mukhāṣîṣ 2 Metodologi Rumusan Kaidah takhṣīṣdan
mukhāṣîṣ
3 Pengaruh Kajian Kebahasaan takhṣīṣdan mukhāṣîṣterhadap hukum Islam
4 takhṣīṣdan mukhāṣîṣdalam Konteks Kehidupan
5 Hikmah takhṣīṣdan mukhāṣîṣ
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 151 2. Uji Kompetensi: Penugasan Penelitian Kelompok
Anda sebagai calon ulama’ intelektual, buatlah kelompok yang terdiri dari lima orang untuk bersama-sama melakukan penelitian dalam bentuk observasi (terjun langsung ke lapangan) melakukan wawancara ke masyarakat minimal lima orang untuk diwawancarai, rekamlah hasil wawancara kemudian tulislah dalam bentuk laporan, berilah kesimpulan dan saran kemudian presentasikan hasil penelitianmu di hadapan guru dan teman-temanmu!Selamat mencoba!
Kelengkapan Data Penelitian Kelompok Pewawancara:
Nama Informan:
Waktu:
Tempat:
No Pertanyaan Jawaban
1 Adakah perbedaan antara takhṣīṣdan mukhāṣîṣ?Jelaskan!
2 Adakah perbedaan antara sighat takhṣīṣdan mukhāṣîṣ?Jelaskan!
3 Adakah perbedaan dari sighat takhṣīṣdan ‘āmm?
3 Adakah perbedaan dari sighat Mukhāṣîṣ dan khāṣṣ?
4 Berikan contoh Takhṣīṣ Al-Qur’an oleh Al- Quran!
5 Berikan contoh TakhṣīṣAl-Qur’an oleh Hadits!
6 Berikan contoh Takhṣīṣ Al-Qur’an olehIjma’!
7 Apa maksud dari maqashid syari’ah?
8 Apa perbedaan Mukhāṣîṣdengan nasakh?
9 Bolehkah mentakhṣīṣAl Qur’an dengan pendapat sahabat?
10 Apa itu kerangka berpikir kemaslahatan? Adakah contohnya?
3. Uji Kompetensi: Penugasan Belajar Mandiri
Tulislah ayat al-Qur’an atau Hadis yang dengan sighat takhṣīṣdan mukhāṣîṣ, minimal 3 ayat/Hadis!
Buatlah kliping pendapat para ulama Indonesia tentang sighat takhṣīṣdan mukhāṣîṣdalam sebuah analisis kritis (kajian mendalam)!
Kelengkapan Data Tugas Belajar Mandiri Nama:
Nomer Absen:
No Tema Hasil Pencarian
1 Tiga ayat al-Qur’an dan tiga Hadis berkaitan dengan sighattakhṣīṣdan mukhāṣîṣ
2 Membuat kliping dua pendapat ulama’ Indoensia tentang sighat takhṣīṣdan mukhāṣîṣdalam sebuah
analisis kritis (kajian mendalam)
K. Rangkuman
1. Takhṣīṣartinya mengeluarkan sebagian apa yang tercakup dalam lafadz umum (‘āmm), sedangkan mukhāṣîṣadalah kalimat yang membatasi secara khusus atau spesifik ada yang bersifat tersambung antara ‘āmm dan khāṣṣ(muttasil) dan ada yang terpisah antara ‘āmm dan khāṣṣ(munfasil).
2. Para ulama ahli ushul fiqh mengarahkan perhatian mereka terhadap uslub- uslub dan ibarat-ibarat (analisis kritis) terhadap bahasa Arab yang digunakan untuk memahami nash-nash termasuk kaidah takhṣīṣdan mukhāṣîṣ.
3. Takhṣīṣ dalam operasionalnya membutuhkan alatataudalil takhṣīṣ yaitu mukhāṣîṣitu sendiri yang harus mengandung kemaslahatanatas keumuman hukum nas tatkala penerapan hukum secara umum pada konteks tertentu berpotensi menimbulkan mudarat dantidakberpihakpadamaqasid syari’ah (t ujua n huku m d it erapkan),
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 153