A. Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar
KOMPETENSI INTI KOMPETENSI DASAR
1. (SIKAP SPRIRITUAL)
Menghayati dan mengamalkan ajaran agama yang dianutnya
1.9. Menghayati kebenaran produk ijtihad yang dihasilkan melalui penerapan kaidah mujmal dan mubayyan 2. (SIKAP SOSIAL)
Menunjukkan perilaku jujur, disiplin, santun, peduli (gotong royong, kerjasama, toleran, damai), bertanggungjawab,
responsif, dan pro aktif, dalam berinteraksi secara efektif sesuai dengan perkembangan anak di lingkungan, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, kawasan regional, dan kawasan internasional
2.9. Mengamalkan sikap tanggung jawab dan patuh sebagai implementasi dari pemahaman tentang kaidah mujmal dan mubayyan.
3. (PENGETAHUAN)
Memahami, menerapkan, menganalisis dan mengevaluasi pengetahuan factual,
konseptual, prosedural, dan metakognitif pada tingkat teknis, spesifik, detil, dan kompleks berdasarkan rasa ingin tahunya tentang ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora dengan wawasan kemanusiaan, kebangsaan, kenegaraan, dan peradaban terkait penyebab fenomena dan kejadian, serta menerapkan pengetahuan pada bidang kajian yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah
3.9. Memahami ketentuan kaidah mujmal dan mubayyan
BAB IX
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 155 4. (KETERAMPILAN)
Menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara: efektif, kreatif, produktif, kritis, mandiri,
kolaboratif, komunikatif, dan solutif dalam ranah konkret dan abstrak terkait dengan pengembangan dari yang dipelajarinya di sekolah dan bertindak secara efektif dan kreatif serta mampu menggunakan metoda sesuai dengan kaidah keilmuan
4.9. Menyajikan contoh hasil analisis dari kaidah mujmal dan mubayyan dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari
B. Tujuan Pembelajaran
Setelah mengamati, menanya, mengeksplorasi, megasosiasi dan mengomunikasikan peserta didik dapat:
1. Mematuhi ajaran agama
2. Menjauhkan diri dari perbuatan yang melanggar agama 3. Membiasakan berpikir solutif untuk memecahkan masalah 4. Membiasakan sikap mandiri dalam aplikasi kaidah keilmuan 5. Memahami kaidah pokok fikih mujmāl dan mubayyan
6. Menerapkan dalam kehidupan kaidah pokok fikih mujmāl dan mubayyan 7. Menganalisis kaidah pokok fikih mujmāl dan mubayyan
8. Mempresentasikan argumentatif aplikatif kaidah mujmāl dan mubayyan
Kaidah Keempat:
mujmāldan mubayyan
1. Diskripsi
Pengetahuan 2. Pengertian
3. Redaksi
Spritual 4. Contoh dalam al-Qur’an
dan Sunnah
5. Contoh dalam kehidupan
Sosial 6. Hikmah
7. Analisis Teks dan Diskusi Kelompok
Ketrampilan (Uji Kompetensi) 8. Penelitian dan melacak
literatur
C. Peta Konsep Mujmal dan Mubayyan Redaksi Lafadz Mujmal
(Global)
Redaksi Lafadz Mubayyan (Rinci)
8. mengandung makna ambigu (tidak jelas)
1. Penjelasan denga kata-kata 9. Asingnya penggunaan lafadz 2. Penjelasan dengan perbuatan 10. Perpindahan makna secara
bahasa ke makna secara istilah
3. Penjelasan dengan tulisan/surat 4. Penjelasan dengan isyarat
5. Penjelasan dengan meninggalkan
D. Diskripsi Mujmal dan Mubayyan
Salah satu tujuan belajar ilmu usul fikih atau filsafat hukum Islam adalah untuk mengetahui alasan para intelektual muslim (ulama’) dalam memilih argumentasi (hujjah) yang dipandang lebih valid dalam menghindari truth claim atau taklid buta, usul fikih juga membantu pakar hukum untuk memperoleh wawasan yang lebih luas dari sumber asli al-Qur’an dan sunnah.
Al Qur’an maupun Sunnah menggunakan bahasa Arab, oleh karenanya memahami kedua sumber ini juga harus mampu memahami kaidah-kaidah penafsiran (interpretasi) salah satunya adalah mujmal dan mubayyan.
Ayat-ayat yang mujmal adalah ayat yang menunjuk kepada suatu pengertian yang tidak terang dan tidak terperinci; atau dapat juga dikatakan suatu lafal yang memerlukan penafsiran yang lebih jelas. Contoh ayat yang mujmal adalah:
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 157
َََِۗةو ٰك َّزلاَاوُتٰا َوََةوٰلَّصلاَاوُمْيِقَا َو
Dan laksanakanlah salat dan tunaikanlah zakat. (al-Baqarah/2: 110) Pada ayat tentang perintah “mendirikan salat dan membayar zakat” tersebut belum dijelaskan (mubayyan) secara terperinci bagaimana cara melaksanakannya.
Di sinilah peranan hadis menjelaskan sesuatu yang belum diatur dalam Al-Qur'an secaraterperinci.
Pada ayat mengenai batas kebolehan makan dan minum di bulan Ramadan sampai datang waktu fajar (minal-fajri). Lafal minal-fajri dianggap batas waktu yang disebutkan, sehingga dia dipandang sebagai ayat mubayyan.
Seringkali ke-mujmal-an suatu ayat diterangkan dengan jelas dalam hadis-hadis Rasullullah SAW sehingga dapat dirasakan bahwa antara Al-Qur'an dan hadis Rasullullah SAW ada hubungannya satu sama lain, kait-mengait; keduanya tidak bisa dipisahkan satu sama lain.
Ayat yang mujmal tidak boleh langsung ditafsirkan begitu saja, akan tetapi harus dicari mubayyan-nya pada ayat-ayat lain, dari sinilah alasan pentingnya memahami mujmal dan mubayyan.
E. Pengertian Mujmal dan Mubayyan
Mujmal artinya abstrak, global, kabur atau tidak jelas, samar-samar. Maksudnya suatu perkara atau lafadz yang tidak jelas atau hal-hal yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Mujmal menurut istilah ushul fiqh adalah lafadz atau mantuq yang memerlukan bayan (penjelasan). Mujmal adalah suatu perkataan yang belum jelas maksudnya dan untuk mengetahuinya diperlukan penjelasan dari lainnya. Penjelasan ini disebut bayan. Dalam arti lain, kandungan maknanya masih global dan memerlukan perincian. Ketidakjelasan tersebut disebut ijmal.
Sedangkan mubayyan menurut bahasa (etimologi) adalah yang menjelaskan atau yang merinci. Maksudnya adalah suatu lafadz yang mengandung penjelasan. Mubayyan menurut istilah ushul fiqh adalah mengeluarkan sesuatu dari bentuk yang musykil (kabur) kepada bentuk yang terang.Mubayyan adalah suatu perkataan yang jelas maksudnya tanpa memerlukan penjelasan dari lainnya.
F. Redaksi Mujmal dan Mubayyan 1. Redaksi Mujmal
Adapun yang menyebabkan timbulnya redaksi mujmal antara lain:
(1) Lafadz yang mengandung makna ambigu (tidak jelas) dan tidak ada indikator yang menentukan salah satu makna yang dikehendaki. Seperti lafadz mawaali dalam perkataan “aku berwasiat 1/3 hartaku untuk mawali budak itu”, padahal bagi orang yang berwasiat itu ada mawali berupa orang yang memerdekakannya dan ada pula mawali berupa orang yang dimerdekakan. Maka maksud perkataannya itu tidak bisa dipahami kecuali melalui penjelasan langsung orang yang berwasiat tersebut,
(2) Asingnya penggunaan lafadz dalam bahasa Arab dan kesamaran maksudnya.
Seperti kata halu’a pada firman Allah (QS Al-Ma’arij: 19). Kata itu asing dalam bahasa Arab sehingga tidak diketahui makna yang dimaksud sampai Allah menjelaskannya dengan ayat selanjutnya.
َ َقِلُخَ َناَسْنِ ْلااَ َّنِا ااع ْوُلَه
َ ۙ
Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh.(QS Al-Ma’arij: 19) (3) Perpindahan makna secara bahasa kepada makna secara istilah. Seperti lafadz
shalat, zakat, riba dan lain-lain. Makna kata-kata tersebut tidak bisa dipahami secara bahasa, oleh karena itu ia memerlukan penjelasan langsung dari yang mengeluarkan istilah tersebut. Biasanya penjelasan kata-kata yang seperti ini berasal dari sunnah Nabi. Oleh karena itu, penentuan makna yang tepat dari lafadz mujmal hanya terbatas pada masa kerasulan Nabi Muhammad dan terhenti sejak beliau meninggal.
Jika penjelasan langsung itu sudah cukup terang dalam menentukan maknanya maka lafadz itu tidak lagi menjadi lafadz mujmal akan tetapi menjadi lafadz mufassar dan berlakulah hukum lafadz mufassar, seperti penjelasan tentang shalat, zakat, haji dan lain sebagainya. Apabila penjelasan tersebut tidak tuntas untuk menghilangkan kemujmalan lafadz tersebut, maka lafadz itu menjadi lafadz musykil, dan berlakulah hukum-hukum lafadz musykil. Misalnya adalah riba, yang datang dalam Al-Quran secara mujmal, menurut madzhab Hanafi, dan Rasulullah SAW menjelaskannya dengan hadits harta riba yang enam jenis itu. Akan tetapi penjelasan ini belum tuntas karena sebenarnya riba tidak terbatas pada enam jenis