Lafad mustarak yang masih belum bisa ditentukan makna yang dikehendaki oleh mutakalim (orang yang berbicara) harus ditangguhkan dalam artian harus ditetapkan makna yang dikehendaki dengan merenungkan makana yang sesuai atau yang dikehendaki dengan melihat dan mempertimbangkan faktor-faktor dan argumen yang menguatkan terhadap makna yang dikehendaki, terlebih bila musytarak ini adalah firman Allah atau undang-undang yang berkaitan dengan kemaslahatan umat manusia, karena pada dasarnya mutakalim (orang yang berbicara) pastilah ada yang dimaksudkan dari pembicaraan tersebut.
Untuk mengetahui bahwa lafad mustarak itu ada atau tidak dalam pembicaraan baik dalam kalam Allah atau perkataan keseharian manusia perlu diulas perbedaan ulama dalam menyikapi hal ini diantranya adalah :
Para pakar berbeda pendapat dalam menentukan apakah lafad mustarak itu dapat terwujud atau tidak ? setidaknya ada tiga golongan diantaranya adalah :
1. Berpendapat bahwa lafad mustarak pasti terjadi (wajibu al-wujud) pada bahasa arab.
2. Menolak adanya lafad mustarak dalam Bahasa Arab
3. Boleh jadi (jaizu al-wujud) lafad mustarak terjadi dalam Bahasa Arab I. Hikmah
Hikmah dari kaidah muradif dan musytarak, antara lain:
1. Salah satu Mufasir al-Qur’an kontemporer yang menolak adanya tara>duf dalam al- Qur’an diantaranya adalah Muhammad Syahrur dan BintSya>ti’. Syahrur berpendapat bahwa linguistik Arab tidak mengenal sinonimitas (muradif) dikarenakan setiap kata memiliki makna tertentu dan setiap kata mengacu pada satu kata referen. Begitu pula Bint Syati’, ia berpendapat bahwa lafadz-lafadz dalam al-Qur’an tidak memiliki sinonim antara satu dengan yang lainnya. Hal ini tersebut terlihat dari salah satu dari beberapa prinsip dasar penafsirannya, antara lain:Adalah diktum yang telah ditemukan oleh para mufasir klasik, bahwa al- Qur’an dapatmenjelaskan dirinya sendiri(al-Qur’a>nyufassiruba’dul ba’dan), Adalah metode yang bisa disebut dengan metode munasabah, yaitu metode yang mengaitkan kata atau ayat dengan kata atau ayat yang ada didekatnya, sehingga disini tampak jelas bahwa al-Qur’an harus dipahami dalam keseluruhannya sebagai suatukesatuan. Adalah prinsip bahwa suatu
‘ibrah (ketentuan atau ungkapan) suatu masalah berdasar atas bunyi umumnya lafadz atau teks bukan pada adanyasebabyangkhusus.
2. Ulama’ yang yang memastikan adanya lafad mustarak dalam bahasa Arab mengemukakan argument baik akli maupun naqli diantaranya adalah: Kata-kata itu terbatas sedangkan makna itu tidak terbatas, oleh sebab itulah bila yang terbatas diterapkan pada yang tidak terbatas tentulah harus ada lafad mustarak (satu kata berbagai arti) dan tidak dapat dipungkiri bahwa makna memang tidak terbatas, semua sepakat akan hal ini. Penggunaan kata yang umum riel digunakan dalam percakapan sehari-hari, hal ini dapat dijumpai pada banyak kata diantaranya adalah kata ‘ada’
(maujud) atau kata ‘sesuatu’ (syai), kata ‘ada’ itu untuk menunjukkan satu benda padahal wujud sesuatu itu berbeda dengan wujud sesuatu yang lain namun dalam penggunaan kata ‘ada’ acap kali dimutlakkan dengan maksud mustarak.
3. Ulama’ yang menolak adanya musytarak dalam penggunaanya berargumen :Bahwa ketika seseorang berbicara dengan lafad musytarak maka niscaya tidak dapat difahami secara sempurna, dan hal ini akan muncul persepsi negative (menimbulkan
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 185 terjadi menggunakan argumentasi: Makna sebuah kata itu tergantung orang yang mengucapkannya, terkadang seseorang mengucapkan sesuatu secara jelas, namun terkadang juga mengucapkan sesuatu dengan maksud secara umum (tidak terperinci), sebagai mana ketika diucapkan secara terperinci akan menyebabkan kerusakan sebagai mana ucapan Abu Bakar ketika hijrah kemadinah ditanya oleh orang kafir “
(
وهَ نم
) siapa dia ? Abu Bakar menjawab”(ليبسلاَ يندهيَ لجروه
) dia adalahpenunjuk jalanku” dari jawaban ini adalah dikehendaki mustarak yaitu antara arti penunjuk jalan dan Nabi yang menunjukkan jalan.
4. Namun dalam kenyataannya penggunaan lafad musytarak lebih dari satu arti diperdebatkan oleh segolongan ulama diantra yang membolehkan musytarak digunakan lebih dari satu arti adalah imam syafi’I, al-Qadi Abu Bakar, Abu Ali Al- Jiba’I, Qadi Abdul Jabbar bin Ahmad, Qadi Ja’far, syeh Hasan dan jumhur ulama dan imam-imam ahli bait, dan yang menolak adanya mustarak yang menggunakan lebih dari satu arti adalah Abu Hasyim, Abu Hasan al-Bashri, dan al-Karkhi .
Ayo Menyampaikan Gagasan!
2) 3) 4) 5) 6) 7) 8)
Dasar Logika: dengan memahami muradif dan musytarak ini, mari kita aplikasikan dalam kehidupan nyata.
Sampaikanlahgagasanmu dengan menjelaskan dihadapan guru dan teman-temanmu secara individu tentang berani berpikir besar, berani mengambil keputusan besar, berani belajar dari orang-orang besar tetapi menghargai hal-hal yang kecil dan dimulai dari sekarang, dari dari sendiri dan dari hal yang kecil karena semua yang besar dimulai dari yang kecil, semua yang banyak dimulai dari yang sedikit sesuai kaidah sinonim (muradif) dan homonim (musytarak) bahwa kalimat tidak ada yang sia-sia pasti memiliki makna yang terkandung baik padanan kata maupun makna yang banyak yang terkandung dalam satu kalimat, begitu juga makna kehidupan kita banyak yang sinonim (muradif) dan homonim (musytarak).
Keterangan: Kita bisa memahami kerangka berpikir bahwa segala sesuatu butuh proses sebagaimana lahirnya revolusi industri dari 1.0, 2.0, 3.0, dan 4.0. tantangan ini bersifat
global (mujmal) yang harus dijawab dengan kesiapan menghadapi tantangannya (mubayyan) yaitu: meningkatkan daya saing dan produktifitas industri manufaktur nasional.
Tantangan yang bersifat global dan jawaban yang bersifat spesifik inilah yang bisa dikaitkan dengan kaidah mujmal dan mubayyan.
Sumber Gambar: Kementerian Perindustrian
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 187 Penugasan Belajar Mandiri
Mengamati
Amatilah gambar di atas, dalam menghadapi era Industri 4.0 renungkan dan kaitkan dengan sighat mujmal dan mubayyan yang Anda pelajari! Buatlah narasi dari hasil renungan Anda di bawah ini.
1...
...
...
...
...
2...
...
...
...
...
...
3...
...
...
...
...
...
J. Uji Kompetensi
a. Uji Kompetensi: Diskusi Kelompok
Setelah Anda mendalami materi maka lakukanlah diskusi dengan kelompok Anda, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas sebagai seminar kelas dan hasilnya di tempel.
Pembagian Tugas Kelompok Presentasi Seminar Kelas Penyaji:
Pembawa Acara/MC:
Moderator:
Pembahas:
Notulen:
Kelompok TEMA HASIL DISKUSI
1 Studi Perbandingan Sighat mujma>l dan Mubayyan
2 Metodologi Rumusan Kaidah mujma>l dan Mubayyan
3 Pengaruh Kajian Kebahasaan mujma>l dan Mubayyanterhadap hukum Islam
4 mujma>l dan Mubayyan dalam Konteks Kehidupan
5 Hikmah mujma>l dan Mubayyan
Ushul Fikih Kelas XI MA PK 189 b. Uji Kompetensi: Penugasan Penelitian Kelompok
Anda sebagai calon ulama’ intelektual, buatlah kelompok yang terdiri dari lima orang untuk bersama-sama melakukan penelitian dalam bentuk observasi (terjun langsung ke lapangan) melakukan wawancara ke masyarakat minimal lima orang untuk diwawancarai, rekamlah hasil wawancara kemudian tulislah dalam bentuk laporan, berilah kesimpulan dan saran kemudian presentasikan hasil penelitianmu di hadapan guru dan teman-temanmu!Selamat mencoba!
Kelengkapan Data Penelitian Kelompok Pewawancara:
Nama Informan:
Waktu:
Tempat:
No Pertanyaan Jawaban
1 Adakah perbedaan antara mujmal dan Mubayyan?Jelaskan!
2 Adakah perbedaan antara sighat mujmal dan Mubayyan Jelaskan!
3 Berikanlah contoh ayat yang bersifat mujmal!
3 Berikanlah contoh ayat yang bersifat mubayyan!
4 Kenapa dalil mujmal tidak bisa digunakan dalil sebelum ada mubayyan?
5 Jelaskan perbedaan antara penjelasan dengan ucapan dan tindakan!
6 Jelaskan perbedaan antara penjelasan dengan tulisan dengan isyarat!
7 Kenapa banyak ayat di Al-Qur’an bersifat global (mujmal)?
8 Apa perbedaan lafadz mufrad dengan murakkab?
9 Berikanlah contoh lafadz mufrad dengan murakkab terkait dengan redaksi mujmal
10 Apa saja hikmah yang bisa diambil dan lakukan terkait mujmal dan Mubayyan?