• Tidak ada hasil yang ditemukan

َِةَجْل دلاَ َنِمَ ٍءْىَش َوَِةَح ْو َّرلا َوَِة َوْدَغْلاِب

“Sesungguhnya agama (Islam) mudah, tidak ada seorang pun yang hendak menyusahkan agama (Islam) kecuali ia akan kalah. Maka bersikap luruslah, mendekatlah, berbahagialah dan manfaatkanlah waktu pagi, sore dan ketika menjelang malam tiba.

(HR Bukhari no. 39).

G. Contoh Aplikasi dalam Kehidupan

Dari kaidah ketiga al masyaqah tajlibut taysir, dapat dipahami sebagai contoh aplikasi dalam kehidupan manusia, bahwa:

(1) Ketika seseorang sedang sakit dan tidak sanggup melakukan shalat dengan berdiri, maka mendapatkan kemudahan (taysir, dispensasi) melakukannya dengan duduk, jika tidak bisa duduk maka mendapatkan kemudahan melakukannya dengan berbaring, jika tidak bisa berbaring mendapatkan kemudahan melakukannya dengan memakai isyarat dan diperbolehkan memakai tayammum(al masyaqah tajlibut taysir).

(2) Ketika seseorang sedang dalam bepergian jauh yang dimubahkan syara’ (musafir, travelling) seperti berkunjung ke sanak saudara dan jarak tempuh perjalannanya lebih dari 89 KM. Maka mendapatkan kemudahan (taysir, dispensasi) melakukan shalat dengan jama’ (menggabungkan dua shalat) baik jama’ taqdim atau ta’khir,

bahkan bisa meng-qashar artinya meringkas rakaat shalat yang semula empat menjadi dua (seperti dhuhur, ashar dan isya’) kecuali maghrib boleh dijama’ tidak boleh diqasar, sedangkan shubuh tidak boleh dijama’ dan diqasar (al masyaqah tajlibut taysir).

(3) Ketika seseorang sedang bepergian menggunakan alat transportasi modern seperti pesawat, kapal pesiar, kereta api sampai astronot yang menjelajah angkasa menggunakan satelit dan alat transportasi canggih lainnya. Maka mendapatkan kemudahan (taysir, dispensasi) melakukan shalat dengan shalat sambil duduk, tidak menghadap kiblat, tidak menggunakan air tetapi dengan tayammum, melakukannya dengan cara jama’ dan qasar sebagai lihurmatil wakti artinya melakukan shalat untuk menghormati waktu shalat, setelah mereka sampai tempat tujuan shalat diulangi kembali (al masyaqah tajlibut taysir).

(4) Ketika seseorang dalam keadaan kesulitan (masyaqah) menemukan air untuk wudlu’ seperti kekeringan atau ada air tapi untuk kebutuhan primer seperti minum atau sakit yang tidak diperbolehkan kena air. Maka mendapatkan kemudahan (taysir, dispensasi) menggunakan tayammum dengan memakai debu (al masyaqah tajlibut taysir).

(5) Ketika seseorang sedang dalam kesulitan (masyaqah) karena suatu keadaan tertentu untuk melakukan shalat tepat waktunya seperti kesiangan bangun shalat shubuh karena malamnya ada kegiatan yang dihalalkan syara’ seperti belajar, mengaji sampai larut malam, menulis dan tidak menjadi kebiasaan (langganan) atau terjebak macet meskipun jaraknya dekat karena menggunakann kendaraan yang diluar kendalinya. Maka mendapatkan kemudahan (taysir, dispensasi) boleh melakukan shalat qadla’ (di luar waktunya) (al masyaqah tajlibut taysir).

(6) Ketika seseorang sedang melakukan shalat dalam suasana ketakutan atau bahaya seperti dalam pertempuran atau bencana alam gempa bumi, gunung meletus, banjir bandang, tsunami dan lain sebagainya. Maka mendapatkan kemudahan (taysir, dispensasi) melakukan shalat sambil berlari untuk menghindar atau menyelamatkan diri (al masyaqah tajlibut taysir).

(7) Contoh al masyaqah tajlibut taysir dalam konteks kekinian khususnya bidang technologi medis yaitu diperbolehkannya transplantasi organ tubuh dengan alasan

Ushul Fikih Kelas XI MA PK 47 ketika dalam keadaan emergency (darurat) maka diperbolehkan hal-hal yang semula diharamkan menjadi diperbolehkan selama batas-batas yang ditentukan, trnasplantasi organ tubuh adalah mengambil organ tubuh yang memiliki imunitas atau daya tahan tubuh yang sehat dari orang yang hidup untuk ditanam dalam tubuh orang lain untuk menggantikan organ tubuh yang tidak sehat atau tidak berfungsi dengan dalam kondisi darurat tujuannya untuk menyelamatkan hidupnya atau untuk membantu organ vital seperti ginjal, jantung, mata dan sebagainya supaya orang yang ditransplantasi tadi bertahan hidup dengan organ baru tersebut.

H. Hikmah

Hikmah dari kaidah ketiga al masyaqah tajlibut taysir, antara lain:

(1) Jika dipahami dengan seksama semua perintah Allah adalah mudah dan tidaklah sulit, tetapi kenapa ada orang yang merasa berat menjalankan perintah Allah? salah satu sebabnya karena dosa dan maksiat sehingga seorang hamba menganggap berat syariat yang sebenarna ringan jika ikhlas dan dipermudahkan sesuai situasi dan kondisi. Mereka yang berat menjalankan syariat sebenarnya lebih tunduk kepada syahwat dari pada kepada penciptanya yaitu Allah SWT.

(2) Semua perintah Allah hendaknya dilakukan seorang hamba sesuai kemampuannya dengan mengambil jalan tengah atau “tawas-suth” (moderat, wajar) dari kedua sikap antara “tasaahhul” artinya tidak mempermudah perintah Allah dengan ngawur(ceroboh, gegabah) dan “guluw” artinya mempersulit diri sendiri dalam memahami dan mengamalkan perintah Allah.

(3) Semua perintah dan larangan dari Allah SWT terhadap hamba-Nya adalah anugerah yang semua hamba mampu melaksanakannya kecuali terjadi keadaan darurat pada kondisi tertentu sehingga mendapatkan dispensasi (taysir) seperti orang yang sedang sakit, keadaan musafir, keadaan terpaksa, keadaan ketakutan, ketidak-tahuan, kekurangan dan sebagainya. Inilah yang kemudian melahirkan kaidah ketiga al masyaqah tajlibut taysir.

(4) Disebut darurat (masyaqah) jika membahayakan agama, atau jiwa, atau harta, atau keturunan, atau akal. Contohnya bila ada pihak-pihak yang ingin memecah-belah bangsa dengan ingin mengganti konsensus bersama (kalimatus sawa’) para pendiri

bangsa Indonesia seperti Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945.

Maka wajib dilawan dengan menolaknya atau laporkan ke pihak berwajib setempat bila tidak diatasi sejak dini akan mengancam perdamaian Bangsa Indonesia yang multi agama, budaya, bahasa, suku dan sebagainya. Ini adalah darurat dan sangat membahayakan agama, jiwa, harta, keturunan dan akal.

(5) Kaidah al masyaqah tajlibut taysir ini membangun kerangka berpikir manusia yang komprehensif (utuh, syumul), logik (masuk akal, ma’qul), seimbang atau harmonis (moderation, wasatiyah) dan fleksibel (lentur, mutaharrikah), visioner futuristik (analisis kritis di masa yang akan datang).

(6) Kemudahan dalam menjalankan agama merupakan sebuah tema penting, yang dengannya menjadi lebih mengerti bahwa syari’at tidaklah memberatkan baik dalam beribadah maupun muamalah (interaksi sosial), namun kaidah ini memiliki aturan pemakaian khusus agar tidak muncul anggapan bahwa semua syariat bisa disepelekan (politisasi) pengamalannya.

(7) Kaidah al masyaqah tajlibut taysir, ibaratnya seperti obat yang wajib memiliki resep dan dosis dari seorang dokter biar tidak terjadi over dosis atau salah resep, maka penting untuk memahami resep penerapan kaidah ketiga ini dengan selalu berkonsultasi kepada ahlinya yaitu ulama’ yang keredibilitas keilmuannya diakui secara umum.

(8) Karakter dasar Islam sesuai kaidah ketiga ini yaitu moderat (ist’dal, tengah-tengah, tidak ekstrim kanan dengan bersikap kebablasan seperti melakukan shalat sunnah sehari semalam sehingga lupa kewajiban sebagai suami atau istri dan ekstrim kiri dengan kesembronoan seperti menyepelekan dengan meninggalkan shalat secara sengaja.

(9) Dengan bersikap moderat berlandaskan kaidah ketiga ini, diharapkan menjadi seseorang yang selalu adil dalam bersikap, bijaksana dalam berpikir, selalu mengutamakan kemaslahatan umat secara luas, tidak keras kepala, bersikap ramah bukan marah, merangkul bukan memukul, mendidik bukan menghardik, membina bukan menghina, mengayomi bukan mencaci, bersatu bukan berseteru.

Ushul Fikih Kelas XI MA PK 49 (10) Kaidah al masyaqah tajlibut taysir ini membantu pakar hukum Islam dalam

memetakan permasalahan kontemporer yang selalu berkembang pesat pada zaman sekarang serta saman yang akan datang dan mencari problem solver yang maslahah.

Penjelasan Gambar:

Wherever there is a human being, there is an opportunity for kindness (Lucius Annaeus Seneca) Di mana pun ada manusia, banyak peluang untuk berbuat baik karena berbuat baik tidak harus menunggu sempurna, selalu ringankanlah kesulitan yang lain (al masyaqah tajlibut taysir) meskipun dengan memberi makan seekor kucing. Apalagi dengan meringankan

beban sesama manusia?

Sumber Gambar:storemypic.com

Ayo Mengamati

Mengamati

Amatilah gambar di atas, renungkan dan kaitkan dengan materi yang Anda pelajari!

Buatlah narasi dari hasil renungan Anda.

1...

...

...

...

...

2...

...

...

...

...

...

3...

...

...

...

...

...

Dengan memahami kaidah ketiga ini, peserta didik diharapkan tumbuh kepedulian, kepekaan, suka membantu, tolong-menolong meringankan kesulitan yang menimpa saudara sesama manusia, sesama penduduk

dunia, sesama bangsa Indonesia, dan sesama umat Islam.

Ayo ceritakan pengalamanmu membantu meringankan kesulitan orang lain terkait kaidah kesulitan akan mendatangkan kemudahan!

Dalam dokumen USHUL FIKIH INDONESIA MAPK KELAS XI KSKK (Halaman 55-60)