• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh Redaksi Mujmal dan Mubayyan dalam Kehidupan

Dalam dokumen USHUL FIKIH INDONESIA MAPK KELAS XI KSKK (Halaman 174-182)

يذَ لُك

H. Contoh Redaksi Mujmal dan Mubayyan dalam Kehidupan

Ada beberapa aturan yang perlu diperhatikan dalam rangka menyikapi dalil-dalil mujmal dan mubayyan dalam realitas kehidupan, antara lain:

1. Para ulama, baik Hanafiyah maupun Syafi’iyah telah membagi lafal mujmal dan mubayyan menjadi beberapa bagian, meskipun kedua golongan ini berbeda pembagiannya, namun pada dasarnya sama-sama membagi kedua lafal tersebut menjadi beberapa bagian. Bila ditilik dari pembagian yang telah dilakukan oleh kedua kelompok di atas, secara tidak langsung menunjukkan bahwa antara tiap-tiap bagian itu memiliki tingkat akurasi dan kepastian/ketegasan maknanya.

2. Jenjang masing-masing lafal tersebut juga sangat menentukan dalam hal mengamalkan terhadap isi atau kandungan dari masing-masing lafal yang dimaksud.

Seperti diketahui, bahwa dari segi kejelasan makna suatu lafal, para ulama menempatkan zhahir sebagai bagian pertama, kemudian nash, mufassar dan bagian terakhir adalah muhkam. Penempatan seperti ini tidaklah berarti bahwa bagian pertama memiliki tingkat kejelasan makna yang paling tinggi dan bagian yang terakhir merupakan lafal yang tingkat kejelasan maknanya paling rendah. Akan tetapi justru yang paling tinggi tingkat kejelasan maknanya adalah bagian yang terakhir. Karenanya, dari keempat bagian lafal yang jelas itu, bila diurut berdasarkan tingkat kejelasan arti dari yang tinggi hingga rendah adalah sebagai berikut, yaitu:

Pertama, yang paling tinggi tingkatannya adalah “muhkam”, Kedua, yang lebih tinggi namun di bawah posisi muhkam adalah “mufassar”, Ketiga, yang dipandang sedikit lebih tinggi namun di bawah posis mufassar adalah “nash”. Keempat, yang paling rendah tingkat kekuatan dalalahnya adalah “zhahir”

Ushul Fikih Kelas XI MA PK 165 3. Empat peringkat dari masing-masing lafal tersebut, dapat dipahami bahwa meskipun

keempat lafal tersebut memiliki perbedaan tingkat kejelasan maknanya, namun kedudukan keempat lafal yang jelas itu adalah wajib diamalkan sesuai petunjuk masing-masing lafal, sepanjang tidak ada dalil yang mentakhsisnya, menta’wilny aataupun yang menasakhnya.

4. Hukum lafal yang mujmal, ulama ushul fikih menyatakan bahwa lafal yang mujmal tidak bisa dijadikan hujjah atau tidak bisa diamalkan sebelum ada dalil yang menjelaskannya (mubayyan). Oleh karena itu, selama tidak ada dalil yang menjelaskannya (mubayyan), maka lafal yang mujmal selamanya tetap tidak bisa dijadikan hujjah atau tidak boleh diamalkan.

I. Hikmah

Hikmah dari kaidah mujmal dan mubayyan, antara lain:

1. Hukum mujmal adalah tawaquf (ditunda, ditangguhkan) sampai ada atau terdapat bayan (penjelasan).”Maksudnya adalah apabila terdapat satu dalil yang bersifat mujmal, sedang bayannya belum didapat atau belum ditemukan, maka dalil tersebut tidak boleh diamalkan sebelum mendapatkan penjelasan atau bayan dari dalil tersebut.Tapi ada sebagian ulama yang tidak sependirian dengan ketentuan di atas, antara lain Daud Adzahiri yang berpendapat bahwa boleh mengamalkan dalil yang mujmal bila tidak terdapat bayan atau penjelassannya. Alasaan beliau antara lain adalah tidak mungkin terdapat dalil yang mujmal setelah Nabi wafat, karena sebelum Nabi wafat, Islam telah disempurnakan terlebih dahulu .

2. Hukum menangguhkan penjelasan, misalnya seorang bertanya tentang suatu perkara yang berhubungan dengan agama, dalam hal demikian apakah kita boleh menangguhkan jawaban karena sesuatu hal, dan bagaimana bila saat itu si penanya sangat memerlukan hukumnya.Dilihat dari segi waktunya, maka penangguhan ada dua macam, masing-masing terdapat ketentuan ulama: (1) menangguhkan penjelasan dari waktu yang diperlukan tidak boleh. Alasannya bila dalam hal demikian kita menangguhkan penjelasan, berarti kita membenarkan seseorang berijtihad salah atau membenarkan seseorang melakukan suatu perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak agama.

3. Di samping itu beralasan itu berlAndaskan juga dengan hadits yang berasal dari A’isyah, yang mana ketika Fatimah binti Abi Hubeisy bertanya pada Nabi ‘apakah

boleh meninggalkan sholat, karena dirinya selalu ‘istihadhah”’, yakni tidak pernah suci. Maka Nabi menjawab:“Tidak, itu adalah cairan dan bukan darah haid, dan bila datang haid maka tinggalkanlah sholat, dan bila telah habis (waktu haid) maka cucilah darah itu dari dirimu dan shalatlah” (HR. Bukhari dan Muslim).

4. Dari hadits ini tampak bahwa, tidak boleh ditangguhkan penjelasan pada waktu yang diperlukan, karena bila Nabi menundanya berarti Nabi telah membenarkan orang tersebut tidak shalat. Oleh sebagian ulama, hadits A’isyah tersebut dipakai juga sebagai alasan, bahwa wanita-wanita istihadhah َtidak wajib bersuci setiap akan sholat.

5. Perintah shalat pada ayat Dirikanlah shalat (QS.al-Baqarah: 110) tidaklah langsung diiringi dengan penjelasannya. Adapun penjelasan mengenai bentuk atau tata caranya adalah kemudian, yakni dengan cara-cara yang ditunjukkan oleh Nabi SAW.

sendiri. hal tersebut menunjukkan bolehnya menunda penjelasan atau bayan.

Ayo Menyampaikan Gagasan!

Dasar Logika: dengan memahami mujmal dan mubayyan ini, mari kita aplikasikan dalam kehidupan nyata.

Sampaikanlahgagasanmu dengan menjelaskan dihadapan guru dan teman-temanmu secara individu tentang paradigma (kerangka berfikir) skala prioritas dan menjadi manusia yang produktif dan bisa menjadi role model, sumber inspirasi bagi semua orang terkait segala sesuatu butuh proses ada tantangan global yang butuh jawaban spesifik sebagaimana kaidah mujmal (global) dan mubayyan (penjelasan spesifik)

Ushul Fikih Kelas XI MA PK 167 Penjelasan Gambar:

Belajar dari mujmal dan mubayyan sekaligus bisa memahami kerangka berpikir bahwa segala sesuatu butuh proses sebagaimana lahirnya revolusi industri dari 1.0, 2.0, 3.0, dan

4.0. tantangan ini bersifat global (mujmal) yang harus dijawab dengan kesiapan menghadapi tantangannya (mubayyan) yaitu: meningkatkan daya saing dan produktifitas

industri manufaktur nasional. Tantangan yang bersifat global dan jawaban yang bersifat spesifik inilah yang bisa dikaitkan dengan kaidah mujmal dan mubayyan.

Sumber Gambar: Kementerian Perindustrian

Penugasan Belajar Mandiri Mengamati

Amatilah gambar di atas, dalam menghadapi era Industri 4.0 renungkan dan kaitkan dengan sighat mujmal dan mubayyan yang Anda pelajari! Buatlah narasi dari hasil renungan Anda di bawah ini.

1...

...

...

...

...

2...

...

...

...

...

...

3...

...

...

...

...

...

...

Ushul Fikih Kelas XI MA PK 169 J. Uji Kompetensi

5. Uji Kompetensi: Diskusi Kelompok

Setelah Anda mendalami materi maka lakukanlah diskusi dengan kelompok Anda, kemudian persiapkan diri untuk mempresentasikan hasil diskusi tersebut di depan kelas sebagai seminar kelas dan hasilnya di tempel.

Pembagian Tugas Kelompok Presentasi Seminar Kelas Penyaji:

Pembawa Acara/MC:

Moderator:

Pembahas:

Notulen:

Kelompok TEMA HASIL DISKUSI

1

2

3

4

5

Studi Perbandingan Sighat mujmal dan Mubayyan

Metodologi Rumusan Kaidah mujmal dan Mubayyan

Pengaruh Kajian Kebahasaan mujmal dan Mubayyanterhadap hukum Islam

mujmal dan Mubayyan dalam Konteks Kehidupan

Hikmah mujmal dan Mubayyan

6. Uji Kompetensi: Penugasan Penelitian Kelompok

Anda sebagai calon ulama’ intelektual, buatlah kelompok yang terdiri dari lima orang untuk bersama-sama melakukan penelitian dalam bentuk observasi (terjun langsung ke lapangan) melakukan wawancara ke masyarakat minimal lima orang untuk diwawancarai, rekamlah hasil wawancara kemudian tulislah dalam bentuk laporan, berilah kesimpulan dan saran kemudian presentasikan hasil penelitianmu di hadapan guru dan teman-temanmu!Selamat mencoba!

Kelengkapan Data Penelitian Kelompok Pewawancara:

Nama Informan:

Waktu:

Tempat:

No Pertanyaan Jawaban

1 Adakah perbedaan antara mujmal dan Mubayyan?Jelaskan!

2 Adakah perbedaan antara sighat mujmal dan Mubayyan Jelaskan!

3 Berikanlah contoh ayat yang bersifat mujmal!

3 Berikanlah contoh ayat yang bersifat mubayyan!

4 Kenapa dalil mujmal tidak bisa digunakan dalil sebelum ada mubayyan?

5 Jelaskan perbedaan antara penjelasan dengan ucapan dan tindakan!

6 Jelaskan perbedaan antara penjelasan dengan tulisan dengan isyarat!

7 Kenapa banyak ayat di Al-Qur’an bersifat global (mujmal)?

8 Apa perbedaan lafadz mufrad dengan murakkab?

9 Berikanlah contoh lafadz mufrad dengan murakkab terkait dengan redaksi mujmal

10 Apa saja hikmah yang bisa diambil dan lakukan terkait mujmal dan Mubayyan?

Ushul Fikih Kelas XI MA PK 171 3. Uji Kompetensi: Penugasan Belajar Mandiri

 Tulislah ayat al-Qur’an atau Hadis yang dengan mujmal dan mubayyan, minimal 3 ayat/Hadis!

 Buatlah kliping pendapat para ulama Indonesia tentang sighat mujmal dan Mubayyan dalam sebuah analisis kritis (kajian mendalam)!

Kelengkapan Data Tugas Belajar Mandiri Nama:

Nomer Absen:

No Tema Hasil Pencarian

1 Tiga ayat al-Qur’an dan tiga Hadis berkaitan dengan sighatmujmal dan Mubayyan 2 Membuat kliping dua pendapat ulama’ Indoensia

tentang sighat mujmal dan Mubayyan dalam sebuah analisis kritis (kajian mendalam) K. Rangkuman

1. Mujmal artinya abstrak, global, kabur atau tidak jelas, samar-samar.

Maksudnya suatu perkara atau lafadz yang tidak jelas atau hal-hal yang masih memerlukan penjelasan lebih lanjut. Sedangkan mubayyan menurut bahasa (etimologi) adalah yang menjelaskan atau yang merinci. Maksudnya adalah suatu lafadz yang mengandung penjelasan.

2. Hukum mujmal adalah tawaquf (ditunda, ditangguhkan) sampai ada atau terdapat bayan (penjelasan).”Maksudnya adalah apabila terdapat satu dalil yang bersifat mujmal, sedang bayannya belum didapat atau belum ditemukan, maka dalil tersebut tidak boleh diamalkan sebelum mendapatkan penjelasan atau bayan dari dalil tersebut.

3. Ayat yang mujmal tidak boleh langsung ditafsirkan begitu saja, akan tetapi harus dicari mubayyan-nya pada ayat-ayat lain, dari sinilah alasan pentingnya memahami mujmal dan mubayyan.

4.

Dalam dokumen USHUL FIKIH INDONESIA MAPK KELAS XI KSKK (Halaman 174-182)