• Tidak ada hasil yang ditemukan

Aglomerasi Industri

Dalam dokumen Menguak Misteri Alam dengan Geografi (Halaman 87-93)

Proyeksi Berdasarkan Kedudukan Sumbu Simetri

A. Industri

3. Aglomerasi Industri

Lokasi industri di suatu daerah sering menimbulkan persoalan.

Bahkan, relokasi industri yang sudah dilakukan oleh pemerintah pun terkadang menimbulkan konflik di antara banyak pihak. Contoh kasus mengenai lokasi industri di Simongan, Semarang seperti yang dipaparkan pada artikel berikut ini.

Perlukah Industri di Simongan Direlokasi?

Beberapa waktu yang lalu, polemik tentang perlu tidaknya industri di kawasan Simongan direlokasi ke zona industri yang sesuai dengan peruntukannya mencuat ke permukaan sejalan akan disahkannya Perda (peraturan daerah) tentang Rencana Detail Tata Ruang Rencana (RDTRR) Semarang. Sebagaimana telah ditetapkan menurut Rencana Tata Ruang Kota (RTRK) tahun 1995–2005 dan RDTRK, zona industri di Kota Semarang ditetapkan di daerah Tugu, Genuk, dan Plamongansari.

Penetapan ini bahkan sudah tertuang dalam Rencana Induk Kota (RIK) Semarang tahun 1975–2000. Hal ini berarti bahwa industri-industri yang menempati lokasi di luar ketiga zona yang telah tersebut di atas, dipandang sebagai pelanggaran terhadap peraturan daerah (perda). Namun demikian, harus dicermati pula bahwa industri-industri yang sekarang menempati lokasi seperti di Simongan tentu bukan tanpa alasan.

Jika menilik sejarahnya, daerah Simongan dan Srondol sebelum tahun 1975 memang ditetapkan sebagai kawasan industri. Oleh karena itu, di Srondol dan Simongan masih terdapat beberapa industri seperti PT Fumira, Jamu Jago, Raja Besi, dan Kubota. Yang menjadi persoalan sekarang adalah apakah industri-industri tersebut harus direlokasi ke zona industri baru demi memenuhi perda?

Disadur dari: www.suaramerdeka.com

Setelah membaca artikel di atas, sekarang yang menjadi pertanyaan apakah yang melatarbelakangi pengelompokan industri di suatu zona?

Untuk menjawabnya, kita harus mengetahui tujuan pengelompokan atau aglomerasi industri di suatu zona. Di Indonesia, aglomerasi diadopsi dalam bentuk zona industri, yaitu suatu wilayah itu dalam tata ruang daerah telah ditetapkan pemerintah sebagai kegiatan industri. Seperti dalam artikel tadi, sering aglomerasi industri muncul sebelum peraturan daerah maupun rencana tata ruang ditetapkan.

Sebenarnya apa saja yang menjadi penyebab terjadinya aglomerasi industri? Mari ikuti paparan berikut ini untuk mengetahuinya.

a. Masalah Lingkungan

Suatu kawasan industri terdiri atas industri individual yang berdiri sendiri dan industri-industri yang mengelompok dalam kawasan industri (industrial estate). Dalam teori pusat pertumbuhan (growth centre) yang dikemukakan oleh Francois Perroux (1950) dan Boudeville (1972), aglomerasi merupakan salah

satu instrumen untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan memberikan tetesan ke bawah (trickle down effect) pada daerah terbelakang. Selain itu, dari segi pengelolaan lingkungan aglomerasi industri akan lebih menguntungkan.

Apabila ditinjau dari aspek lingkungan, dengan pengelompokan industri di suatu lokasi akan lebih mudah dikelola. Apalagi jika industri-industri tersebut berada pada satu kawasan (industrial estate), maka pengelolaan limbah secara terintegrasi (integrated waste management) dengan mudah bisa dilakukan. Sehingga industri yang berada pada satu kawasan tidak perlu menyusun amdal sendiri. Amdalnya adalah amdal kawasan, tetapi masing-masing industri mempunyai kawasan untuk melakukan pengelolaan lingkungan sesuai dengan spesifikasi kegiatannya. Tetapi, apakah dengan ini pencemaran lingkungan tidak terjadi?

Benarkah industri di kawasan dan zona industri telah memenuhi kaidah lingkungan?

Apabila kita cermati, kasus-kasus pencemaran dan kerusakan lingkungan pada umumnya justru terjadi di zona industri (baik yang berdiri sendiri maupun yang berada di kawasan industri).

Misalnya pencemaran udara dan pencemaran sungai hingga pencemaran air tanah yang banyak dikeluhkan masyarakat. Kasus- kasus lingkungan menunjukkan kendati industri telah menempati lokasi yang benar tetapi masih saja menimbulkan masalah. Jika demikian salah siapa? Faktor penyebabnya memang bukan hanya sepihak. Pertama, pihak industri yang memang tidak mempunyai kepedulian terhadap lingkungan. Kedua, lemahnya pengawasan dari pemerintah. Karena lemahnya pengawasan, sesuatu yang masuk dalam kategori pelanggaran lingkungan sering dianggap sebagai sesuatu yang biasa. Wah, jika demikian akan sangat sia- sia penataan ruang untuk kawasan industri oleh pemerintah, serta amdal bersama satu kawasan.

b. Kondisi Lahan

Lahan merupakan faktor yang sangat penting bagi industri, bahkan bisa dikatakan faktor utama. Suatu bangunan industri berdiri di atas suatu lahan yang mempunyai karakteristik tertentu.

Lalu, karakteristik lahan apa sajakah yang mendukung terjadinya aglomerasi industri? Pada paparan di depan pernah kita bahas mengenai aspek biofisik yang perlu dipertimbangkan

dalam penentuan lokasi industri. Aspek tersebut salah satunya kondisi lahan. Kondisi lahan juga meme- ngaruhi aglomerasi industri.

Suatu wilayah industri tentu juga menjadi pusat kegiatan dari pekerjanya. Kondisi relief dan kemiringan lereng akan memengaruhi keterjangkauan tenaga kerja.

Jika kondisi lahan memiliki kemiringan lereng datar hingga landai pasti akan memudahkan menjangkau setiap lokasi. Kemudahan dalam menjangkau setiap tempat di lokasi tersebut tidak hanya dialami oleh tenaga kerja tetapi juga kendaraan sebagai alat

transportasi. Jadi, kondisi bentang alam memengaruhi Sumber: Our World a Closer Look, halaman 92

Gambar 3.15Aglomerasi industri di wilayah pesisir.

Sumber: www.btplawfirm.com Gambar 3.14Pencemaran udara

pemusatan industri. Contohnya, pemusatan industri di wilayah pesisir. Menurutmu, mengapa banyak pemusatan industri di wilayah pesisir? Ungkapkan pendapatmu.

Faktor fisik lahan lain yang juga tidak kalah menarik untuk mendorong aglomerasi industri adalah ketersediaan air dan tanah.

Industri memerlukan air untuk kegiatan produksi. Misalnya, industri kertas dan industri kimia. Air yang bersih dan yang bebas dari pencemaran diperlukan dalam industri pembuatan kertas, minuman, serta tekstil.

c. Letak yang Strategis

Letak yang strategis sangat berpengaruh terhadap munculnya aglomerasi di wilayah tertentu. Sebagai contoh, kawasan indus- tri di Pulau Batam yang dikenal dengan Batamindo Industrial Park. Aglomerasi industri di Batam muncul karena letaknya yang strategis. Wilayah Batam merupakan bagian dari wilayah Segitiga Pertumbuhan (Triangle Growth). Wilayah Segitiga Pertumbuhan meliputi wilayah Si-Jo-Ri, yaitu Singapura, Johor, dan Riau (Indonesia). Dengan letak yang strategis, menjadikan lokasi indus- tri di Batam cepat berkembang dan menarik banyak investor untuk membangun industri di wilayah Batam.

d. Kelengkapan Infrastruktur

Infrastruktur yang lengkap sangat mendukung bagi perkem- bangan industri. Pada lokasi industri yang memiliki infrastruktur atau prasarana lengkap akan cepat berkembang. Infrastruktur yang diperlukan bagi perkembangan industri antara lain jaringan jalan, listrik, air, dan telepon. Pembangunan infrastruktur tersebut membutuhkan biaya tinggi. Biaya pembangunan infrastruktur jauh lebih kecil dan hemat jika industri-industri dibangun dalam suatu lokasi. Kelengkapan infrastuktur pada lokasi industri

K e p u l a u a n R i a u

I N D O N E S I A

LAUT CINA SELATAN Pulau Tioman

Johor

Karimun Bulan

Batam Bintan Rembang

Sumatra Selat Malaka

SINGAPURA SEMENANJUNG MALAYSIA

U

0 50 km

Batas Internasional Batas Negara

Sumber: Understanding Geography 4, halaman 179 Gambar 3.16Letak Batam yang strategis.

Mengapa lokasi yang strategis sangat diperhitungkan dalam penentuan lokasi industri?

Diskusikan dengan teman sebangkumu!

menjadi daya tarik bagi industri-industri baru untuk menem- patinya, sehingga terjadi pengelompokan atau aglomerasi industri.

Ternyata banyak pertimbangan yang digunakan untuk menentukan lokasi industri. Tujuan pokok mempertimbangkan faktor-faktor yang memengaruhi lokasi industri adalah menemukan lokasi optimal (optimum location), yaitu lokasi terbaik secara ekonomi dan lingkungan. Bagi pelaku industri, keuntungan ekonomi sangat dipertimbangkan dalam penentuan lokasi industri. Keuntungan maksimal dapat diperoleh apabila biaya produksi sangat rendah dan pendapatan sangat tinggi. Tetapi, bukan hal yang naif jika jarang sekali ditemukan dua hal tersebut di tempat dan dalam waktu yang sama. Mungkin di satu lokasi bisa didapatkan biaya produksi murah tetapi wilayah pasaran sempit. Atau berlaku hal sebaliknya, yaitu wilayah pasaran luas tetapi biaya produksi sangat tinggi. Pada kondisi yang demikian sarana dan prasarana transportasi sering digunakan sebagai pemecahan, yaitu untuk menjangkau pasar atau mendatangkan komponen produksi. Jadi, transportasi menjadi sangat terkait dengan industri. Bahkan, aglomerasi industri juga dipengaruhi oleh faktor sarana transportasi. Bagaimana sebenarnya hubungan sarana transportasi dengan aglomerasi industri? Ikuti saja pemaparannya berikut ini.

4.

Kajian Hubungan Sarana Transportasi dengan Aglomerasi Industri

Seperti telah kamu ketahui bahwa transportasi merupakan faktor penting dalam industri. Ya, karena sarana transportasi merupakan penghubung antarlokasi. Baik itu lokasi bahan mentah dengan industri maupun lokasi industri dengan daerah pemasaran. Teori-teori lokasional yang berkaitan dengan industri telah dikemukakan oleh beberapa ahli ekonomi, antara lain oleh Alfred Weber, seorang ahli ekonomi.

a. Teori Alfred Weber

Alfred Weber adalah seorang ekonom Jerman. Teorinya menyangkut least cost location. Teorinya tentang lokasi industri ini diterbitkan dalam bukunya yang berjudul ”Uber den Standort der Industrien(About the Location of Industries), tahun 1990.

Least cost location merupakan teori lokasi dengan biaya terendah.

Hal ini diwujudkan dengan biaya transpor bahan mentah yang dibutuhkan dan barang jadi yang disuplai oleh pabrik ke pasaran adalah yang minimal. Jadi, isi pokok teori Weber adalah lokasi industri dipilih di tempat yang biayanya paling minimal. Tetapi untuk menerapkan prinsip dari teori ini perlu diasumsikan enam prakondisi. Nah, enam prakondisi tersebut sebagai berikut.

1) Wilayah rencana lokasi industri mempunyai keseragaman dalam hal topografi, iklim, dan penduduk. Dalam hal ini, penduduk berkaitan dengan keterampilan dan penguasaannya (pemerintahannya).

2) Sumber daya atau bahan mentah. Misalnya, ketersediaan pasir dan air bisa terdapat di mana-mana tetapi tambang besi serta batu bara tentunya hanya terdapat di lokasi tertentu dan itu pun terbatas.

3) Upah buruh. Ada upah buruh yang telah baku, dalam artian di mana-mana sama tetapi ada pula upah yang merupakan produk dari persaingan antarpenduduk.

4) Biaya transportasi tergantung pada bobot bahan mentah yang diangkut atau dipindahkan, serta jarak antara lokasi terdapatnya sumber daya (bahan mentah) dengan lokasi pabrik.

5) Terdapatnya kompetisi antarindustri.

6) Manusia itu berpikir rasional.

Guna membuktikan adanya enam prakondisi sesuai asumsi tersebut, Weber menyusun model berupa segitiga lokasional atau location triangle. Ingin tahu keterikatan sarana transportasi dengan pusat industri menggunakan model segitiga lokasional?

Perhatikan terlebih dahulu gambar di bawah ini.

Jika R1 dan R2 menggambarkan dua asal sumber bahan mentah, M adalah lokasi pasar. A adalah suatu industri yang akan didirikan dengan pertimbangan biaya transportasi. Menurutmu, gambar manakah yang mewakili lokasi paling cocok untuk didirikan industri? Ya, tentunya lokasi aglomerasi industri yang ideal adalah lokasi yang berada di pusat segitiga itu, yaitu gambar (a). Mengapa?

Karena pada gambar (a) menunjukkan biaya untuk transportasi bahan mentah dan produk jadi sama besarnya. Juga jarak dari P1 ke M, P1 ke R1 dan R2 sama jauhnya. Jadi, dengan menggunakan prinsip least cost maka lokasi P1 (lokasi berbiaya terendah) yang ideal adalah seperti pada gambar (a).

Menurut Weber, penentuan lokasi industri didasarkan oleh tiga faktor utama, yaitu material dan konsumsi, kemudian tenaga kerja, dan biaya transportasi. Teori ini menggunakan beberapa asumsi, yaitu:

1) Hanya tersedia satu jenis alat transportasi.

2) Tempat berproduksi (lokasi pabrik) hanya berada pada satu tempat.

3) Jika terdapat beberapa bahan mentah, asalnya dari beberapa tempat.

Dengan menggunakan tiga asumsi tersebut, maka biaya transpor akan bergantung pada dua hal, yaitu bobot barang dan jarak pengangkutan. Jika yang menjadi dasar penentuan itu bukan bobot, tetapi volume barang dan jarak pengangkutan, yang harus

M = Market (pasar) R1R2 = Raw materials (bahan mentah).

P1 M

R1 R2

(a)

P1 M

R1 R2

(b)

P1 M

R1 R2

(c)

P1 = Lokasi berbiaya terendah.

Sumber: Geografi Baru, halaman 63

Gambar 3.17Segitiga lokasional dari Weber.

diketahui adalah unit yang merupakan hubungan fungsional dengan biaya, apakah itu bobot, volume, maupun satuan panjang, juga jarak yang harus ditempuh dalam pengangkutan tersebut yang tarifnya sama untuk tiap jarak (mil, km, dan sebagainya). Dengan demikian, maka satu unit barang, biaya transpornya sama ke mana pun, sepanjang jaraknya sama.

Pada kenyataannya jarak antara sumber bahan mentah dengan pasaran tidak hanya lurus tetapi sering berkelok-kelok. Oleh karena itu, masih ada beberapa teori-teori lain yang menyem- purnakan teori Weber.

b. Teori Lokasi Teoretis dan Lokasi Praktis

Dalam realitas kehidupan sehari-hari, sarana transportasi berupa jalan yang menghubungkan antar- lokasi tidak selalu berbentuk jalan yang lurus. Bahkan, jalan dapat berbelok dan naik turun. Oleh karena itu, suatu lokasi industri dibedakan menjadi lokasi teoretis dan lokasi praktis. Penentuan titik lokasi yang teoretis maupun lokasi praktis juga harus mempertimbangkan berbagai jenis sarana transportasi. Lalu, bagaimana me- nentukan lokasi teoretis dan lokasi praktis? Perhati- kan gambar di samping.

Pada gambar I tampak jenis sarana transportasi yang tersedia hanya kereta api. Sedang pada gambar II ada dua jenis sarana transportasi, yaitu kereta api dan

perahu. Pada gambar I terdapat sumber bahan mentah di Kota M dan P. Juga, terdapat kota tempat menjual yaitu K. Berdasarkan teori, letak industri yang optimal adalah di titik L, seperti teori yang diungkapkan oleh Weber. Tetapi, berdasarkan pertimbangan kepraktisan, letak industri yang optimal adalah di titik LR.

Mengapa? Ya, karena titik LR merupakan kota terdekat dengan L, di mana tersedia sarana transportasi berupa kereta api.

Perhatikan gambar bagian II. Material atau bahan mentah M terletak di kota M, sedangkan material P terdapat di dua tempat yaitu P1 dan P2. Jika yang tersedia hanya satu jenis sarana transportasi yaitu kereta api, maka lokasi industri yang dapat dipilih adalah M dan P2. Tetapi dapat kita lihat bahwa pada gambar bagian II tersedia pula transportasi melalui media sungai, maka hal ini harus diperhitungkan. Misalnya biaya transpor material dari P1 ke K setengah dari P2 ke K atau sama dengan jalan antara P1 ke K1. Sehubungan dengan adanya kondisi yang demikian, maka letak industri yang optimal dan praktis tidak lagi di L2 tetapi di L1.

Nah, sekarang kamu telah mengetahui berbagai teori mengenai keterkaitan sarana transportasi dengan aglomerasi industri. Melalui pengetahuan ini, kelak kamu bisa menjadi seorang ahli perencanaan industri yang andal. Kamu dapat mengkaji lokasi-lokasi yang opti- mal untuk pemusatan industri. Tetapi tidak semudah membalikkan telapak tangan, semuanya dapat kamu capai dengan banyak berlatih.

Sebagai langkah awal untuk menjadi sang ahli perencanaan industri, lakukanlah kegiatan berikut ini.

I. M dan P = sumber-sumber bahan mentah.

K = kota (pasar)

II. M, P1 dan P2 , Biaya dari P1 ke K setengahnya jika dibandingkan dengan biaya P2 ke K.

I II

K

LR L

P M

Sun

gai

K

M KI

L2 L1

P1

P2

Sumber: Geografi Baru, halaman 70

Gambar 3.18Teori lokasi teoretis dan lokasi praktis.

Menentukan Lokasi Industri Perhatikan gambar di samping.

Bayangkan kamu menjadi seorang ahli dalam rencana tata ruang. Kamu diberikan tugas untuk menentukan lokasi industri tertentu pada daerah tersebut. Titik A dan B merupakan tempat sumber bahan mentah. Sedangkan C adalah daerah pasaran. Jika pada wilayah tersebut hanya ada satu jenis transportasi, yaitu kereta api, maka di manakah sebaiknya kamu letakkan industri di wilayah tersebut? Berikan alasanmu.

Setelah mampu menentukan lokasi industri, selanjutnya kamu akan diajak menemukan lokasi pertanian yang layak. Sektor pertanian telah lama menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Potensi ini sangat besar dan apabila dikembangkan akan memberikan keuntungan tidak hanya petani, tetapi juga bagi masyarakat banyak. Lahan di Indonesia cukup luas, didukung dengan faktor alami lainnya, seharusnya pertanian menjadi kegiatan primadona. Kenyataan yang terjadi lain, justru pada saat ini pertanian semakin merosot dan di sebagian masyarakat dianggap tidak lagi bisa menopang hidup. Benarkah begitu?

Ada banyak faktor yang memengaruhi keberhasilan dunia pertanian. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan kondisi alam yang mendukung, kita harus menciptakan strategi baru dalam pertanian agar bidang ini memberikan kehidupan yang layak. Lokasi pertanian menjadi salah satu hal yang diperhitungkan ketika hendak memulai bertani. Pemilihan lahan ini tidak hanya mempertimbangkan karakteristik lahan, apa yang akan ditanam di lahan tersebut pun perlu disesuaikan dengan keadaan alami lahan. Jadi, tahapan apa saja yang harus dilakukan? Nah, uraian berikut akan mengenalkanmu pada dunia pertanian.

Dalam dokumen Menguak Misteri Alam dengan Geografi (Halaman 87-93)