B
umi adalah planet yang diciptakan Tuhan Yang Mahakuasa untuk rumah atau tempat tinggal manusia.Begitu pun sebaliknya, manusia adalah makhluk istimewa yang diberikan amanah untuk menjaga bumi dari segala bentuk kerusakan. Tatkala kita mengabaikan peran kita sebagai manusia yang memiliki tanggung jawab pada bumi yang telah dititipkan ini maka kita telah berdosa.
Jika kita manusia tetap bersikap apatis, masa bodoh, dan tak acuh, maka siapa lagi yang peduli pada bumi? Makin hari makin marak tindakan tak peduli pada lingkungan sekitar. Kita melihat dengan mata kepala sendiri atau dari
sumber informasi platform media sosial, media online, koran, dan televisi berbagai macam perilaku manusia yang tidak peduli lingkungan. Misalnya, perilaku membuang sampah di sembarang tempat, yang mana perilaku ini akan berdampak pada terciptanya sebuah bencana ekologis seperti longsor, banjir, dan pencemaran lingkungan hidup.
Khusus untuk persoalan sampah, sebagaimana kita ketahui bersama, masalah ini belum bisa ditangani dengan baik oleh masyarakat. Masyarakat cenderung mengambil jalan instan, melalui perilaku membuang sampah di sembarang tempat, seperti di sungai, laut, dan tempat tak lazim lainnya. Tak jarang masyarakat memilih untuk mengumpulkan sampah, lalu membakarnya yang tentu akan mencemari udara di bumi. Sangat disayangkan! Tanpa sadar, apa yang telah kita lakukan semua akan bermuara pada kerusakan lingkungan hidup. Kendati begitu, kita tak boleh putus asa untuk memberikan teladan yang baik dan juga sosialisasi edukatif pada masyarakat melalui komunitas atau kelompok yang keanggotaannya berbasis kecintaan terhadap lingkungan.
Dalam dua tahun terakhir, saya menggagas sebuah komunitas pokdarwis (kelompok sadar wisata) yang dinamai Pokdarwis Kiling Modo, lalu dilegalkan oleh pemerintah desa dan Dinas Pariwisata. Pokdarwis Kiling Modo adalah komunitas yang lahir di sebuah desa di kawasan berbasis konservasi yaitu Taman Nasional Komodo, persisnya di Pulau Komodo, Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Flores, NTT atau dikenal dengan nama Labuan Bajo. Melihat perkembangan pariwisata yang begitu signifikan, selain membawa berkah ekonomi bagi masyarakat sekitar, industri pariwisata Labuan Bajo juga menjadi perhatian khusus bagi pemburu rente di daerahdaerah lain. Labuan Bajo menjadi tujuan utama untuk menciptakan bisnis investasi pariwisata,
mulai dari tour operator, travel agent, agen kapal wisata, sampai menjadi pekerja hotel dan pekerja pariwisata lainnya.
Di sisi lain, saya melihat akan ada perubahan drastis secara ekologi, khususnya pada makin banyaknya produksi sampah plastik dari pengelolaan industri kepariwisataan karena mendatangkan wisatawan yang cukup banyak, apalagi Desa Komodo berada di Pulau Komodo merupakan pusat kunjungan wisatawan yang hendak melihat “Sang Naga Purba Varanus Komodo”. Semenjak saat itu, di Desa Komodo, melalui pokdarwis, kami mulai membangun komunikasi dengan stakeholder setempat, lintas organisasi, dan seluruh komponen masyarakat dalam rangka sinergi kelembagaan dengan tujuan menciptakan desa wisata yang peduli lingkungan diawali dengan menjadwalkan kegiatan setiap hari Jumat yang dinamai Jumat Bersih. Kami juga menjalin kerja sama dengan LSM IWP (Indonesia Waste Platform) di Kota Labuan Bajo yang bergerak dalam persoalan sampah juga. Dari hasil komunikasi Itu, IWP menjawabnya dengan mendatangkan puluhan tempat sampah dengan konsep pemilahan sampah organik dan anorganik agar sampah terpilah itu nantinya mudah didaur ulang. Dari IWP, pokdarwis mendapatkan ide baru, yaitu tidak hanya mengajak masyarakat untuk membuang sampah di tempat yang telah disediakan, tetapi juga harus bisa memberikan sosialisasi melalui pendekatan konsep Ekonomi Sirkular, yang diajarkan oleh IWP, yaitu bagaimana menciptakan ekonomi masyarakat dari sampah plastik.
Kami bertemu seorang ibu bernama Nur Cahaya, berusia sekitar 40 tahun. Ibu Nur Cahaya kerap memelopori ibu
ibu lain untuk melakukan kegiatan kebersihan lingkungan bersamasama warga di Desa Komodo. Hal ini telah menjadi perhatian khusus bagi kami. Kami berdiskusi dengannya,
kami penasaran ingin mengetahui motivasi kegiatannya.
Malam hari kami berencana berkunjung ke rumahnya untuk mengobrol dan menanyakan apa yang memotivasi beliau sehingga rutin melakukan kegiatan tersebut. Beliau sedikit tersenyum, lalu menimpali pertanyaan kami,
“Tidak ada orang yang kasih uang ke saya” dengan khas logat Flores. Ia lalu melanjutkan, “Saya peduli dan cinta terhadap lingkungan. Saya juga ada bahagia tersendiri melihat lingkungan bersih, bahkan saya kasih keluar uang sendiri untuk beli minum untuk temanteman saat kegiatan bersihbersih.” Sontak kami terdiam dan merasa malu pada semangat muda kami. Nur Cahaya adalah seorang ibu yang memiliki rutinitas seharihari sebagai pedagang di warung kopinya di Loh Liang. Beliau selalu menyisihkan waktu untuk melakukan kegiatan kebersihan sebelum berangkat berjualan.
Kami pun menjelaskan bahwa kami juga sama seperti Ibu Nur Cahaya yang memiliki kecintaan yang sama terhadap lingkungan. Kami menawarkan kepada Ibu Nur Cahaya, jika ada waktu luang, kami akan membuat kegiatan bareng untuk lingkungan. Beliau tersenyum, lalu mengiyakan. Kegiatan kebersihan yang dilakukan Ibu Nur Cahaya dan teman
temannya telah berjalan cukup lama, sudah bertahun
tahun yang lalu. Kami masih merasa terharu, memikirkan seorang ibu yang seharusnya memiliki kesibukan mengurus rumah tangga dan berjualan untuk kebutuhan hidupnya, tetapi masih menyempatkan diri untuk membuktikan kecintaannya terhadap lingkungan. Kami lalu mengadakan swadaya anggaran dari anggota pokdarwis untuk membeli beberapa ikat bambu guna membangun gubuk kecil sebagai bank sampah untuk tempat Ibu Nur Cahaya berteduh saat memilah sampah plastik agar dapat diuangkan. Setelah
gubuk itu berdiri dengan bentuk seadanya, tanpa atap karena kekurangan anggaran, kami mengatakan kepada Ibu Nur Cahaya agar bersabar karena kami sedang mencari donatur yang baik hati.
Proposal kami pun terjawab setelah beberapa bulan diajukan. Kami mendapat bantuan tempat sampah dari bambu sebanyak 150 buah dari Badan Otorita Pariwisata Labuan Bajo, yang ada di bawah Kementerian Pariwisata.
Memang sedari awal, dari hasil observasi kami, persoalan pertama yang membuat masyarakat Desa Komodo membuang sampah sembarangan karena tidak tersedianya tempat sampah. Kendati begitu, tidak begitu saja persoalan sampah bisa terselesaikan dengan mudah di Desa Komodo.
Secara manusiawi, kami pun bangga atas pencapaian ini dan yakin akan diberikan apresiasi oleh masyarakat.
“Bukan apresiasi, bukan kebanggaan”, tetapi justru kelompok kami diterpa isu tak sedap oleh oknum masyarakat yang tak menyukai kelompok kami dengan isu bahwa kami berbisnis dengan memanfaatkan isu lingkungan, juga kami distigmakan sebagai kelompok yang mendapatkan anggaran besar dari pengelolaan sampah. Temanteman lain mulai merasa tersudutkan oleh isu negatif yang tak memiliki bukti ini. Saya berusaha memberikan spirit kepada temanteman untuk tetap berkomitmen dalam persoalan sampah. Setelah isu itu berlalu, kami pun mulai bangkit dan melanjutkan kegiatan kebersihan meski dalam keadaan tertatih karena ada berbagai kendala, juga persoalan anggaran untuk membuat gubuk bank sampah dan mencari jejaring pengepul sampah plastik di Desa Komodo yang belum terselesaikan.
Beberapa Foto Kegiatan Kami di Desa Komodo
Tempat sampah plastik
untuk Desa Komodo Tempat sampah bambu
untuk Desa Komodo IG kegiatan kami di Desa Komodo
Warga menonton video edukasi lingkungan hidup
Membangun Gubug Bank Sampah di Desa Komodo
Akbar mengajak pembaca buku digital untuk mengunjungi Desa Komodo, Labuan Bajo, dan tetap menjaga kebersihan lingkungan selama berwisata.
Desa Komodo terletak di Labuan Bajo, Flores. Dihuni oleh suku Komodo, yang dipercaya dapat berkomunikasi dengan Komodo, karena mitos satu ibu.
[TimIndonesiaExploride/IndonesiaKaya]
https://www.indonesiakaya.com/jelajah- indonesia/detail/desa-komodo