Pengelolaan Lahan Pasir
Provinsi DIY dengan empat kabupaten dan satu kota memiliki garis pantai sepanjang sekitar 110 kilometer yang mencakup Kabupaten Kolon Progo, Bantul, dan Gunung Kidul dengan potensi lahan pasir pantai seluas sekitar 3.450 hektar terutama di Kabupaten Kulon Progo dan Bantul. Lahan pasir pantai di selatan DIY merupakan lahan marginal karena me
miliki keterbatasan dalam kemampuan menahan air karena porositas tinggi serta rendahnya kandungan unsur hara dan bahan organik. Selain itu, perbedaan suhu yang ekstrem pada malam dan siang hari serta udara yang sangat kering diindikasikan dapat menstimulasi meningkatnya penguapan air ke udara (evaporasi). Pendek kata, lahan pasir pantai di selatan DIY sebagai lahan marginal memiliki keterbatasan dalam sifat fisika, kimia, biologi, dan lingkungan lokakita.
Belum lagi dengan embusan angin laut yang kencang sehingga mengakibatkan tanaman tercerabut atau roboh, serta uap air laut yang mengandung partikelpartikel garam yang tinggi juga menjadi persoalan tersendiri ketika lahan pasir pantai akan dimanfaatkan untuk mengembangkan sektor pertanian dalam arti luas. Namun demikian, melihat derasnya alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian setiap tahun menjadi salah satu alasan bagi pemerintah DIY untuk mengoptimalkan potensi lahan pasir pantai, terutama yang berada di Kabupaten Kulon Progo dan Bantul, secara intensif dengan memulai kegiatan pengkajian yg melibatkan beberapa tenaga kependidikan (dosen) FAPERTA UGM dan petani setempat dengan dukungan dana dari APBD DIY pada tahun 2000an.
Alih fungsi lahan pertanian menjadi nonpertanian di DIY dalam satu dekade belakangan berkisar 150250 hektar setiap tahun, sehingga dari luas lahan teknis sebesar 57.000 hektar saat itu hanya tersisa sebesar 55.000 hektar. Saat ini
bisa jadi luasan lahan teknis di DIY yang menjadi andalan untuk pengembangan tanaman pangan, hortikultura, dan perkebunan lebih kecil dari angka 55.000 hektar. Hal itu merupakan salah satu yang menjadikan pertimbangan untuk mengoptimalkan potensi lahan pasir pantai di selatan DIY.
Sumber foto: http://blog.umy.ac.id/anonymouse/2015/10/27/bertani-di-lahan-pasir-pantai/
Kajian optimalisasi lahan pasir pantai di selatan DIY secara umum diawali dengan menetapkan areal lahan yang bisa dilakukan untuk pengembangan sektor pertanian dalam arti luas yakni pada jarak 100 meter dari garis pantai.
Pada jarak itu ditetapkan areal lahan yang terlebih dahulu ditanami dengan tanaman cemara laut atau cemara udang (Casuarina equisetifolia) sebagai tanaman pemecah angin atau windbreaker. Di daerahdaerah lahan pasir pantai tertentu, selain cemara laut atau cemara udang, sebagai tanaman pemecah angin juga digunakan pohon myamplung (Calophyllum inophyllum). Cemara laut atau cemara udang seperti dimaklumi merupakan tanaman khas pantai yang
potensial untuk kegiatan rehabilitasi dan konservasi lahan pasir pantai terutama dalam menahan angin laut dan uap air laut yang mengandung partikelpartikel garam sehingga dapat mendorong perbaikan kondisi lingkungan lokalita.
Bersamaan dengan penanaman cemara laut atau cemara udang, di areal lahan bagian dalamnya secara bertahap dan terbatas dimulai dengan kegiatan memperbaiki sifat fisika, kimia, dan biologi lahan dengan mendatangkan serta men
campurkan bahanbahan amelioran sebagai pembenah tanah seperti lempung, ziolit, pupuk organik, dan pupuk kandang yang umumnya berasal dari luar kawasan lahan pasir pantai. Sejauh ini, dengan mempertimbangkan berbagai hal, kegiatankegiatan pengkajian di lahan pasir pantai di selatan DIY termasuk pengkajian untuk meningkatkan kesuburan fisika, kimia, dan biologi tanah dilakukan dengan model
model percontohan atau dalam bentuk demonstrasi plot (DEMPLOT).
Sementara untuk penyebarluasan dan penerapan hasilhasil pengkajian dilakukan oleh petani secara mandiri karena petani memang telah diuntungkan dengan makin mem baiknya kegiatan usaha tani jika dibandingkan dengan masamasa sebelumnya. Sesungguhnya petanipetani yang bermukim di kawasan lahan pasir pantai di Kabupaten Kulon Progo dan Bantul relatif sudah cukup lama melakukan usaha tani di lahan pasir pantai kendatipun dengan hasil panen yang secara umum mungkin belum seperti yang diharapkan oleh petani.
Terkait dengan kegiatan pengkajian untuk menentukan tanamantanaman unggulan yang memiliki kesesuaian dengan kondisi lahan dan lingkungan lokalita, telah dicoba dilakukan penanaman dengan tanaman melon, semangka, cabai, dan terung. Kegiatan pengkajian itu seperti dimaklumi
membutuhkan waktu yang lama karena harus menyesuaikan dengan pola tanam dan cara bertanam yang mengikuti kaidahkaidah bercocok tanam yang baik yaitu mulai dari persiapan tanam, penanaman, pemeliharaan tanaman, hing
ga pemanenan. Dengan melihat pertumbuhan dan produksi dari masingmasing tanaman, tiga tanaman yakni melon, semangka, dan cabai direkomendasikan bisa diterapkan dan dikembangkan oleh petani di lahan pasir pantai. Selain tanaman melon, semangka, dan cabai, belakangan telah dita nam oleh petani di lahan pasir pantai dan berkembang dengan baik yakni tanaman bawang merah dan buah naga (dragon fruit). Oleh karena itu, tidak heran kalau pada saat ini di lokasi lahan pasir pantai di Desa Bugel, Kecamatan Panjatan, Kabupaten Kulon Progo telah menjadi sentra tanaman melon, semangka, dan cabai, sedangkan di Desa Sri Gading, Kecamatan Sanden, Kabupaten Bantul telah menjadi salah satu sentra untuk pengembangan tanaman bawang merah. Tidak hanya tanaman hortikultura, berbagai jenis tanaman pangan hingga kini juga telah tumbuh dan berkembang dengan baik di lahan pasir pantai. Meskipun demikian, tampaknya masih diperlukan kegiatan pendam
pingan oleh Satuan Organisasi Daerah (SOD) yang mem
bidangi pertanian, perguruan tinggi, dan unit ketja LITBANG Kementan RI karena dari hasil pengendalian (pemantauan dan evaluasi) secara terpadu, masih ditemukan petani yang boros dalam penggunaan sarana produksi pertanian terutama pestisida pada tanaman cabai dan bawang merah.
Lebih jauh, dari kegiatan pengkajian di lahan pasir pantai, terutama yang dilakukan oleh perguruan tinggi, diketahui sering kali melibatkan mahasiswamahasiswa semester akhir. Oleh karena itu, dari lahan pasir pantai selama ini telah dilahirkan sarjanasarjana pertanian dari
berbagai strata dan keahlian. Kisah sukses (success story) tentang pengelolaan lahan pasir pantai tampaknya telah menyebar luas dan menarik perhatian kalangan unit kerja LITBANG Kementerian/Lembaga (K/L) RI, terbukti penulis, yang ketika itu bertugas di Dinas Pertanian DIY, berkesempatan mendampingi langsung kunjungan kerja Kepala LIPI yang pada masa mendatang LIPI berharap dapat berkiprah secara nyata dalam pengembangan lahan pasir pantai di selatan DIY. Selain itu, kunjungankunjungan dalam rangka studi banding telah banyak dilakukan oleh para pihak terkait, baik yang berasal dari dalam negeri maupun luar negeri. Kondisi ini langsung maupun tidak langsung pada akhirnya telah memunculkan sosoksosok petani andal baik di Kabupaten Kulon Progo maupun Kabupaten Bantul yang setiap saat dapat menjelaskan dengan baik sesuai kepentingan masingmasing terkait dengan pengelolaan lahan pasir pantai di selatan DIY.
Kasongan, Bantul, 8 Januari 2021