• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ekonomi Sirkular

bagi Plastik

dengan teknologi dan sistem pengolahan sampah yang telah tersedia, maka yang dimaksud dengan “ramah lingkungan”

adalah kemasan yang materialnya mudah untuk didaur ulang dan lalu dapat dimanfaatkan kembali, bukan yang compostable atau biodegradable. Karena dengan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang masih dalam bentuk campuran segala macam jenis sampah, baik organik dan anorganik menyatu, material bio tersebut tidak akan terurai sehingga percuma adanya sampah yang makin membebani TPA.

Menurut perkiraan dari lembaga survei Markets&Markets, pasar kemasan seluruh dunia yang eco-friendly akan menca­

pai USD 249,5 miliar pada tahun 2025, dengan pertumbuhan per tahunnya 7,4%. Dan daerah Asia Pasifik akan memiliki porsi terbesar dengan adanya kebijakan dan pengawasan segenap peraturan yang ketat serta kesadaran masyarakat akan pentingnya penyelamatan bumi masa depan.

Pasar kemasan fleksibel di Asia juga sangat pesat pertumbuhannya. Menurut Transparency Market Research, proyeksi sektor ini bertumbuh 5,7% per tahun dan akan mencapai USD 6,7 miliar dari tahun 2016 sampai 2024. Dan di Indonesia sendiri, kemasan fleksibel adalah jenis kemasan yang terbesar perkembangannya. Dalam hal ini, kesadaran akan nilai suatu merek barang konsumsi yang dituntut konsumen tetap harus disertai dengan tuntutan lain yang sama penting, seperti biaya kemasan yang rendah, khususnya pada jenis kemasan ini. Dan ini merupakan tantangan ter­

sendiri terhadap limbah kemasan tersebut setelah produknya dikonsumsi. Sejalan dengan tuntutan di atas, maka harus dikembangkan kemasan yang ringan, nyaman untuk dibawa, dan yang cukup baik melindungi produknya, sekaligus tetap mudah untuk didaur ulang.

Di Eropa, solusi ke arah ekonomi sirkular menjadi suatu kebijakan yang dianggap sangat baik. Seluruh industri yang terkait, terutama industri pengguna kemasan makanan­

minuman, sangat mendukung diterapkannya sistem me­

kanisme ini, yaitu mengangkat nilai daur ulang kemasan yang dapat dimanfaatkan lagi secara berulang kali (upcycling).

Awal tahun 2020 Komisi Eropa (EC=European Commission) telah mencanangkan Rencana Aksi Ekonomi Sirkular dengan mengeluarkan roadmap dari sumber bahan yang berke­

lanjutan sampai proses produksinya dalam satu lingkaran tertutup (close loop).

Kalau kita setuju mengacu pada standar untuk kemasan plastik menuju ke ekonomi sirkular (Circular Economy), maka harus juga tetap mengacu pada prinsip LCA (Life Cycle Assesment). Artinya, rantai pasok (supply chain)­nya dimulai dari bahan baku plastik yang diproses, dipakai, dikem­

bangkan untuk menjadi kemasan, dibuang pasca­diman­

faatkan, didaur ulang, dan lalu dimanfaatkan kembali. Prinsip dasarnya, selama proses rantai pasok itu, sistemnya harus:

1. hemat pemakaian energi (dicari yang paling hemat);

2. meminimalisasi emisi karbon ke udara dan emisi cemaran terhadap air;

3. didaur ulang, baik itu yang disebut upcycling, artinya hasil daur ulang dapat dan layak dipakai lagi sebagai bahan baku kemasan Kembali maupun downcycling yang berarti dapat juga dimanfaatkan untuk produk lain (repurpose), tetapi tetap dengan memperhatikan prinsip LCA di atas.

Ekonomi berkelanjutan adalah topik yang hangat pada industri kemasan ini Harapannya adalah setiap inovasi patut untuk dikembangkan agar tetap memenuhi tantangan akan

fungsi suatu kemasan yang baik untuk produk tertentu, tetapi limbahnya jangan sampai membebani lingkungan hidup demi masa depan generasi anak­cucu kita bersama.

Kompleksitas produk dan fungsi­fungsi kemasannya makin tinggi, maka strategi dalam pengembangan kemasan perlu untuk dipikirkan kembali secara terus­menerus dan berkelanjutan. Saat ini, selain kesadaran akan pencemaran lingkungan, tantangan yang juga penting pada masa kini adalah kesadaran akan kesehatan dan kenyamanan, apalagi pada masa pandemi ini.

Lalu tren yang juga perlu disikapi adalah e-commerce karena jenis kemasan juga terjadi perubahan dan ini membu­

tuhkan kemasan yang “pintar”, yang mudah dipantau. Maka semua teknologi masa depan juga dapat membantu dari sisi pemantauan tersebut dalam hal menyikapi masalah ke­

sehatan, infrastruktur rantai pasok, dan juga tentunya dalam sistem pengolahan sampah. Teknologi Industry 4.0, Internet of Things, Artificial Intelligence, Augmented Reality, Track- and-Traceability pada masa mendatang akan banyak diman­

faatkan juga dalam industri pengemasan ini. Akan tetapi, yang penting adalah bahwa eco-design kemasan harus men­

jadi acuan para pengambil keputusan, baik dari perusahaan pengguna maupun dari perusahaan yang membuat kemasan itu sendiri. Namun, tetap tidak mengurangi banyak faktor penting yang dibutuhkan pada kermasan yang baik, seperti keamanan dan informasi bagi konsumen produk, efisiensi material yang dipakai pada kemasan, mudah dan nyaman untuk menikmati isi produknya, melindungi produk yang dikemas agar tahan lama dan tidak mudah rusak.

Di Indonesia, yang juga penting adalah memperbaiki dan meningkatkan teknologi daur ulang yang tersedia agar benar­

benar menjadi ekonomi sirkular yang tertutup dan sebanyak

mungkin plastik daur ulang yang dihasilkan dapat diman­

faatkan kembali dan bukan hanya sekadar downcycling. Saat ini di Indonesia ada orang­orang yang membuat briket yang dibuat dari sampah multilayer. Ada kemungkinan hal itu sangat mencemari udara ketika dipakai dan dibakar produk briketnya. Seandainya teknologi mendaur ulang untuk multi- layer itu belum ada di Indonesia, maka sampahnya dianggap sebagai residu yang seharusnya masuk ke incenerator.

Namun incinerator itu pun mempunyai standar yang sangat ketat terhadap pencemaran udara dengan filter yang berlapis. Model ini sangat perlu dipromosikan dan diterapkan dan dibuat konsep kerja sama dari berbagai pihak terkait agar menjadi tanggung jawab kita bersama dan juga tentunya bermanfaat bagi kita bersama saat ini maupun pada masa mendatang.