• Tidak ada hasil yang ditemukan

N

ama saya Helda, pegiat gerakan pilah sampah dari rumah dan aktif menyosialisasikan gerakan bank sampah ke masyarakat secara masif. Karena kegiatan ini, Bank Sampah kami, Jaya DanaKirti, terpilih menjadi salah satu pemenang Alumni Grant Scheme (AGS) Australia Awards­Indonesia 2020. Komitmen pelayanan kami kepada masyarakat adalah edukasi meraih hati dan keliling jaya terus, sesuai dengan nama bank sampah pertama yang saya dirikan yaitu Bank Sampah Jaya DanaKirti, yang diambil dari bahasa Sansekerta, bahasa awal dari lahirnya bahasa Indonesia, yang artinya ke­

menangan/kesuksesan yang memperkayakan dan membawa

kemasyhuran. Kegiatan ini memiliki semangat untuk menjadi sukses dan berhasil, memiliki kekayaan agar terus dapat berbagi kepada masyarakat, dan gerakannya diikuti oleh orang banyak.

Ternyata dari pemberian nama berhajatkan doa tersebut, sedikit demi sedikit menjadi terkabul, dari hanya 1 (satu) bank sampah, pada tanggal 1 Februari 2019, sekarang sudah bermunculan lebih dari 39 bank sampah yang telah dan akan berdiri di sekitar Bumi Serpong Damai (BSD), Bintaro, Tangerang Selatan dan juga di Kabupaten Tangerang.

Sebanyak 29 komunitas sudah mendirikan bank sampah, dan 10 komunitas yang lain sudah mendapatkan edukasi tentang pengelolaan sampah, yang setelah pandemi ini berakhir akan mendirikan bank sampah di komunitasnya masing­masing, baik itu di lingkungan sekolah, perkantoran, maupun tempat tinggal mereka.

Saya pun makin yakin dengan pernyataan presiden pertama kita, Bapak Soekarno, bahwa alam semesta akan turut berkonspirasi mewujudkan persepsi dan doa menjadi nyata jika kita bersungguh­sungguh dalam bekerja. Demikian juga pernyataan seorang filsuf Yunani, Aristoteles, bahwa mendidik tanpa hati bukanlah mendidik sama sekali, yang kemudian ditegaskan dalam kitab suci Al­Qur’an Surah 15:

99, jangan berhenti mendidik sampai kematian itu sendiri yang menghentikan. Bagi saya, membagi ilmu tentang pengelolaan sampah adalah wajib hukumnya dan menjadi berdosa jika tidak diberikan kepada masyarakat, apalagi ditengah kondisi Indonesia darurat sampah seperti sekarang ini. Disebut darurat sampah karena Indonesia menghasilkan sampah 64 juta ton per tahun dan hanya 10% didaur ulang, 60% diangkut dan ditimbun ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), dan 30 persen sisanya tidak dikelola dan mencemari

lingkungan (data KLHK, Februari 2019), sedangkan Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mencatat setiap tahun sebanyak 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan, sebanyak 13.000 plastik mengapung di setiap kilometer persegi setiap tahun, dan berdasarkan fakta tersebut Indonesia dinobatkan menjadi negara nomor dua di dunia sebagai negara yang menghasilkan sampah plastik terbanyak ke laut setelah Cina.

Kekuatan mental menggerakkan gerakan pilah sampah dari rumah dan bank sampah ini berawal dari sebuah keprihatinan mendalam mengapa masyarakat Indonesia begitu mudah melepaskan sampah­sampah mereka dari genggaman tangan, membuangnya sembarangan dengan perasaan ringan, tanpa rasa bersalah dan jauh dari rasa tanggung jawab akan kebersihan lingkungan, sementara sajian dampak kerusakan lingkungan amatlah mudah tersaji, baik dari media elektronik, media sosial, maupun media cetak dan hampir semua anggota masyarakat Indonesia memiliki gadget. Dalam logika berpikir saya, seharusnya pengetahuan tentang pengelolaan sampah dan dampak lingkungan amatlah mudah diketahui, semudah jari kita bermain di keyboard telepon seluler. Akan tetapi, mengapa kesadaran tersebut sangatlah lambat menular dan menjadi sebuah perilaku budaya tanpa tanggung jawab di masyarakat?

Keprihatinan inilah yang selalu menggelisahkan hati dan jiwa saya, bahwa sudah saatnya kita berbuat, sudah saatnya melakukan sesuatu, saatnya menjadi inspirator, saatnya menebarkan kesadaran, saatnya menumbuhkan kepedulian, saatnya mengedukasi, dan saatnya berbuat nyata dengan gerakan bank sampah. Mengapa bank sampah? Karena bank sampah adalah media yang dapat menyelesaikan persoalan

sampah secara mudah, tanpa modal finansial yang besar, dan sekaligus dapat melibatkan partisipasi aktif masyarakat yang notabene adalah pelaku sumber dari hulu yang sangat masif memproduksi sampah, di samping produsen kemasan.

Berdasarka data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bulan Februari 2019, sumbangan sampah yang berasal dari rumah tangga sebesar 48%. Tentu saja sektor ini harus digarap dengan optimal, baik, dan benar karena sangat berpotensi menimbulkan dampak yang buruk bagi keberlangsungan lingkungan dan ekosistem, yang pada akhirnya juga akan mendatangkan bencana ekologis bagi kehidupan manusia itu sendiri. Tidak ada lagi planet lain yang dapat kita tinggali selain bumi ini.

Namun, makin intensif melakukan kegiatan edukasi pengelolaan sampah kepada masyarakat, rasanya makin optimistis saja yang dirasakan, bahwa ternyata masyarakat tidak terlalu sulit untuk didekati, dikenalkan pada hal yang baru seperti bagaimana memilah sampah dari rumah, apa itu bank sampah, pengelolaan sampah organik skala rumah tangga, dan bagaimana mendirikan bank sampah untuk klaster mereka masing­masing. Mereka sangat antusias untuk mengetahui hal tersebut dan mau melakukannya secara swadaya. Hampir tiap hari ada saja warga yang meminta untuk diedukasi tentang pengelolaan sampah dan bersambut dengan respons yang sangat positif sehingga dalam waktu yang cukup singkat, sudah puluhan bank sampah dapat didirikan. Dari gerakan swadaya masyarakat ini pula muncul inisiatif mandiri yaitu membangun fasilitas pengelolaan sampah seadanya dan sesuai kemampuan warga. Fakta yang terjadi sekarang sungguh membantah persepsi saya di awal tulisan ini, bahwa masyarakat Indonesia sulit digiring pada kesadaran dan kepedulian terhadap sampah, kurang memiliki

rasa tanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan, ternyata tidaklah demikian yang terjadi. Pertanyaannya sekarang, mengapa masyarakat dirasa dan dinilai kurang peduli sampah oleh pemerintah, kemudian menjadi paradigma negatif yang juga diamini dengan mudah oleh masyarakat sendiri? Penyebabnya mungkin saja karena tidak ada pemberian pelayanan informasi tentang pengelolaan sampah beserta dampaknya secara lengkap, komprehensif, dan berjenjang. Jika toh ada, mereka tidak dibimbing dengan intensif, ditambah lagi tidak terbangunnya sarana prasana yang dapat memfasilitasi masyarakat agar terus teredukasi dengan baik sebagaimana pada umumnya yang terjadi di negara maju.

Pengalaman menunjukkan bahwa untuk bisa mendidik dan mengubah perilaku menjadi budaya harus melalui pemberian informasi yang terus­menerus, layaknya pelayanan informasi kelas bintang 5, terintegrasi secara terpadu dengan penyediaan insfrastruktur fasilitas wadah pemilahan sampahnya, dan harus disediakan di tiap kawasan.

Bagaimana pengurangan sampah dari sumber bisa maksimal diterapkan? Jika warga hanya dianjurkan untuk bertanggung jawab mengelola sampah, sedangkan fasilitas pemilahan sampahnya tidak tersedia secara memadai, misalnya tempat sampah hanya tersedia satu di depan rumah, atau jika sudah dibedakan menjadi dua kategori, tetapi dalam pengangkutan sampahnya tidak dalam keadaan terpisah, tercampur kembali antara sampah organik dan anorganik. Sementara dalam Undang­Undang Pengelolaan Sampah Nomor 18 Tahun 2008 sudah diamanatkan secara jelas dan tegas tentang pembangunan sarana prasarana fasilitas pemilahan sampah, yang kemudian dijelaskan kembali secara terperinci sebagaimana dalam Peraturan

Pemerintah Nomor 81 tahun 2012, yang menyebutkan pada pasal 17, bahwa :

Pasal 17 (1) Pemilahan sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 huruf a dilakukan oleh: a. setiap orang pada sumbernya; b. pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya; dan c.

pemerintah kabupaten/kota.

(2) Pemilahan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dilakukan melalui kegiatan pengelompokan sampah menjadi paling sedikit 5 (lima) jenis sampah yang terdiri atas: a. sampah yang mengandung bahan berbahaya dan beracun serta limbah bahan berbahaya dan beracun;

b. sampah yang mudah terurai; c. sampah yang dapat digunakan kembali; d. sampah yang dapat didaur ulang;

dan e. sampah lainnya.

(3) Pengelola kawasan permukiman, kawasan komersial, kawasan industri, kawasan khusus, fasilitas umum, fasilitas sosial, dan fasilitas lainnya dalam melakukan pemilahan sampah wajib menyediakan sarana pemilahan sampah skala kawasan.

(4) Pemerintah kabupaten/kota menyediakan sarana pemilahan sampah skala kabupaten/kota.

(5) Pemilahan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dan ayat (4) harus menggunakan sarana yang memenuhi persyaratan: a. jumlah … - 9 - a. jumlah sarana sesuai jenis pengelompokan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (2); b. diberi label atau tanda; dan c.

bahan, bentuk, dan warna wadah.

Dapat kita simpulkan bahwa penyediaan fasilitas infra­

struktur pemilahan sampah sudah secara eksplisit disebutkan oleh Undang­Undang Pengelolaan Sampah, juga disebutkan pihak berwenang mana saja yang berkewajiban menyediakan

fasilitas tersebut. Tidak lagi hanya mengandalkan pengelo­

laan dengan sistem Kumpul­Angkut­Buang ke Tempat Pem­

buangan Akhir (TPA), yang selama ini terus saja kita lakukan, sementara kondisi TPA kita hampir di seluruh Indonesia sudah melebihi daya tampung yang sudah sangat tidak wajar (overload capacity). Penyediaan fasilitas infrastruktur pemilahan sampah akan menunjang pengelolaan sampah langsung dari sumber atau yang dinamakan desentralisasi pengelolaan sampah yang berbasis kawasan atau klaster, sehingga pengelolaan sampah sudah selesai di sumbernya, sampah anorganik disetorkan ke bank sampah setempat dan sampah organik dikelola dengan komposter, resapan lubang biopori, eco enzyme juga menggunakan lalat hitam (black soldier fly)/maggot baik skala rumah tangga maupun yang berskala lebih besar. Dengan demikian, secara otomatis pengiriman sampah ke TPA yang masih bermetodekan open dumping/pembuangan terbuka, dapat dieliminasi jumlahnya.

Sistem pembuangan terbuka ini pun juga sudah dilarang dalam UUPS Nomor 18 Tahun 2008 pasal 29 ayat 1 dan 2.

Entah mengapa TPA yang bersistem pembuangan terbuka (open dumping), masih saja dijalankan oleh pemerintah daerah.

Di akhir tulisan ini, saya menganjurkan kepada peme ­ gang regulasi, bahwa tercip­

tanya kedisiplinan masyarakat dalam pengelolaan sampah harus diawali dengan pem­

berian fasilitas pengelolaan sampah yang diamanatkan

oleh Undang­Undang dan penerapan konsekuensi ketegasan hukum bagi pelanggar Undang­Undang Pengelolaan Sampah.

Tanpa optimalisasi kedua instrumen tersebut, akan sangat sulit pengelolaan sampah di negeri ini dapat berjalan dengan baik. Namun, sepenggal harapan akan tetap dipanjatkan juga diikhtiarkan, semoga pengelolaan sampah yang terintegrasi akan menjadi Jaya DanaKirti. (Bumi Serpong Damai ­ Senin, 28 Desember 2020)

Aktivitas Bank Sampah Jaya DanaKirti bersama Masyarakat

Memilih Menumbuhkan