• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengembangkan Rumah

Lipat Ekspor (GRATIEKS). Pengembangan RPL, selain untuk memperkuat ketahanan pangan daerah dan nasional, juga untuk mewujudkan SDM yang sehat, aktif, dan produktif.

Melalui RPL dan Kawasan Rumah Pangan Lestari (KRPL) rumah tangga atau masyarakat diharapkan dapat membu­

didayakan berbagai jenis tanaman, ternak, dan ikan sebagai sumber karbohidrat, protein nabati dan hewani, juga vita­

min dan mineral yang sangat penting untuk mewujudkan konsumsi pangan yang memenuhi kaidah Beragam, Bergizi Seimbang dan Aman (B2SA).

Pengembangan RPL tidak saja penting dan strategis, tetapi juga merupakan menjadi kebutuhan nyata, terutama bagi daerah­daerah dengan kasus stunting yang tinggi atau memiliki persoalan dengan triple burden of malnutrition.

Saat ini di daerah­daerah tersebut mulai dilakukan kegiatan sosialisasi terkait dengan penyediaan bahan pangan sumber karbohidrat, terutama dari biji­bijian (beras) yang diperkaya dengan senyawa­senyawa tertentu seperti Fe atau Zinc untuk mengatasi persoalan stunting atau sering dikenal dengan anak yang tumbuh tidak normal. Mewujudkan SDM yang berkemampuan, baik fisik maupun nonfisik (jasmani dan rohani), sangat penting dalam rangka merealisasikan pencapaian tujuan pembangunan nasional mengingat inti keberhasilan dalam pencapaian tujuan pembangunan nasi ­ onal adalah tersedianya SDM yang profesional dan berka­

rakter, yakni SDM yang sehat, aktif, dan produktif.

Sejauh ini penumbuhan dan pengembangan RPL di perdesaan diarahkan untuk mengoptimalkan potensi lahan­

lahan pekarangan maupun lahan­lahan kering dan margi­

nal. Sampai dengan saat ini model pembangunan pertanian dalam format RPL dengan fasilitasi dana APBN maupun yang bersinergi dengan APBD telah banyak di tumbuhkan dan

dikembangkan di hampir setiap Kabupaten/Kota di Indonesia.

Bahkan secara khusus melalui dukungan dana keistimewaan (DANAIS) sejak tahun 2017 Provinsi DIY telah mengembang­

kan program sejenis dengan model pembangunan RPL yang disebut dengan Lumbung Mataraman, yang tersebar di Kabupaten/Kota di DIY.

Dengan menggunakan jargon JOS (Jangan Omong Saja) dan moto fenomenal Mangan Opo Sing Ditandur dan Nan- dur Opo Sing Dipangan, Lumbung Mataraman telah memi liki kontribusi nyata dalam mengawal penguatan ketahanan pa­

ngan di DIY. Hingga kini telah terbentuk sekitar 34 Lumbung Mataraman di DIY sejak ditumbuhkan pada tahun 2017. Se­

lain di wilayah perdesaan, penumbuhan dan pengembangan RPL juga dilakukan di kawasan perkotaan yang dimaklumi memiliki keterbatasan dalam kepemilikan lahan (lahan yang sempit) dan semuanya diselaraskan dengan pelaksanaan program pertanian perkotaan (urban farming).

Selama ini inisiasi terhadap penumbuhan dan pengem­

bangan pertanian perkotaan banyak dilakukan oleh pegiat­

pegiat pelestarian lingkungan hidup dengan membudi da­

yakan komoditas­komoditas pertanian dalam arti luas yang dilakukan secara organik untuk menghasilkan produk­produk pangan segar yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi.

Belakangan, terlebih ketika terjadi pandemi Covid­19 sebagai bencana nasional non­alam yang berdampak pada berbagai sektor termasuk sektor ekonomi, orientasi penumbuhan dan pengembangan pertanian perkotaan diperluas tidak sebatas hanya untuk menghasilkan produk­produk pertanian yang bermutu dan aman untuk dikonsumsi, tetapi juga dimaksud­

kan untuk menjaga penguatan ketahanan pangan daerah dan nasional. Dengan keterbatasan lahan yang ada atau yang dimiliki oleh masyarakat, pengelolaan pertanian perkotaan

dilakukan dengan menerapkan metode hidroponik, aqua- ponic, pertanian vertikal, dan wall garden baik untuk tanaman, ternak, maupun perikanan darat.

Penumbuhan dan pengembangan RPL dan pertanian perkotaan tentu memerlukan dukungan penuh dari peme­

rintah, pihak­pihak terkait dan swadaya masyarakat sendiri, terutama yang menyangkut penyediaan benih/bibit, pupuk, pestisida, alat/mesin pertanian, serta pakan ternak dan ikan. Benih/bibit tanaman yang dibudidayakan bisa dari jenis tanaman semusim sehingga cepat dipanen atau dari jenis dua musiman dan tahunan seperti buah­buahan yang diusahakan di polybag maupun dalam media pot. Untuk pengusahaan ternak bisa membudidayakan ternak unggas seperti ayam dan itik maupun ternak kecil seperti kambing dan domba. Sementara untuk budi daya ikan bisa dilakukan dengan sistem LELAKI SINTAL (lele lahan kering dengan sistem terpal) termasuk untuk jenis ikan yang lain seperti nila gift, mujair, dan ikan emas.

Untuk penggunaan pupuk, terutama dalam pertanian organik, diarahkan pada pemakaian pupuk organik karena sekaligus dimaksudkan untuk mengembalikan minimnya kandungan bahan organik pada lahan­lahan yang cukup lama tereksploitasi sehingga mengalami degradasi dan juga pada lahan­lahan kering atau marginal. Penyediaan pupuk organik bisa dipenuhi sendiri oleh masyarakat baik di perdesaan maupun di perkotaan dengan mengoptimalkan potensi sampah organik dan limbah pertanian yang diolah dengan metode PORASI (Pupuk Organik Cara Fermentasi) dan metode biokonversi dengan menggunakan lalat tentara hi­

tam (BSF). Bahkan dengan metode biokonversi dengan mem­

budidayakan lalat tentara hitam akan dihasilkan sekaligus pupuk organik dan magot BSF dengan kandungan protein

yang cukup tinggi, yang sangat baik untuk pakan ternak ung­

gas dan ikan. Dengan demikian, pengurangan timbulan sam­

pah, terutama sampah organik dari sumbernya, akan berjalan dengan baik dan sekaligus bersinergi dengan pengelolaan RPL dan pertanian perkotaan untuk mendukung program penguatan ketahanan pangan secara berkelanjutan. Untuk sampah anorganik (plastik) dari berbagai jenis dapat didaur ulang untuk menghasilkan produk handy craft, bijih plastik, produk keperluan rumah tangga, palet, dan briket plastik.

Dalam perspektif tata kelola sampah yang berbasis pada prinsip 3 R, membangun kesadaran melalui kegiatan edukasi adalah satu hal yang sangat penting agar masyarakat yang terlibat dalam program RPL dan pertanian perkotaan mampu dan mau melakukan pengumpulan, pemilahan, pemilihan, dan pengolahan sampah sehingga tidak berlanjut ke TPS atau TPA. Tentu pemerintah berkewajiban untuk menyiapkan regulasi, tenaga pendamping, dan fasilitas (sarana dan pra­

sarana) yang diperlukan oleh masyarakat untuk mengolah sampah di wilayah atau kawasan masing­masing. Dengan demikian, bumi yang lestari dapat terjaga seiring dengan ma­

kin meningkatnya derajat kesehatan masyarakat Indonesia.

Yogyakarta, 1 Desember 2020

Rumah Literasi (RULIT) WASKITA, BREBES

Pengelolaan Lahan Pasir