• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengelolaan Sampah untuk

Disisi lain, sebagian dari kelompok masyarakat masih banyak yang tidak peduli akan masalah sampah. Mereka membuang sampah sembarangan dan menyebabkan ter­

jadinya tumpukan sampah. Di kawasan tertentu, bau sampah basah sangat menyengat karena tidak dikelola. Di tempat lainnnya, bak­bak sampah di suatu perumahan dalam kondisi berantakan karena dibongkar orang yang hanya mau mencari dan mengambil sampah­sampah yang bernilai jual saja.

Dalam naskah ini saya berkesempatan membagikan pengalaman saya sebagai praktisi rumah minim sampah. Saya berharap dapat menginspirasi para pembaca agar mau mulai peduli akan pengelolan sampah sejak dari rumah, khususnya sampah organik. Kebiasaan mengolah sampah organik rumah tangga sendiri sudah saya mulai sejak 4 tahun yang lalu.

Saya mengolah sampah organik di rumah dengan campuran biocompond untuk dijadikan pupuk cair dan limbah padatnya ditanam. Saya juga mencoba mengolah sampah organik dengan Maggot BSF. Hasil maggot ini dapat digunakan untuk pakan lele, burung, dan unggas lainnya, yang saya man­

faatkan sendiri dan juga saya bagikan kepada kerabat yang memerlukan. Penerapan pengelolaan sampah serta pema­

haman jenis­jenis sampah di lingkungan rumah sendiri telah memicu saya untuk mengupayakan agar anggota rumah mau ikut peduli. Zero Waste Living mulai kami lakukan sekeluarga agar hidup dan lingkungan lebih sehat.

Saya juga berusaha menyinergikan pengelolaan sampah melalui kegiatan olahan fermentasi yang memanfaatkan kulit dan biji jeruk. Olahan fermentasi ini untuk campuran pupuk organik cair (POC), yang sangat baik untuk nutrisi tanaman, nutrisi ikan, serta campuran air kolam ikan, untuk penetral, menyehatkan air kolam, serta untuk bersih­bersih perabotan

rumah. POC ini juga sangat baik untuk pengurai kotoran di WC kamar mandi.

Hasil pertumbuhan tanaman yang saya beri nutrisi fermentasi sampah organik tumbuh sangat baik dan subur.

Saya sungguh senang. Buah pohon yang dihasilkan dari campuran pupuk organik cair fermentasi dan pupuk organik padat menghasilkan tekstur, tampilan, serta rasa yang ber­

beda. Karena keberhasilan ini, saya mulai berpikir untuk bertanam pohon buah lebih banyak di lahan yang lebih luas.

Kegiatan saya sehari­hari saat pandemi ini adalah bertanam/

mengurus tanaman sambil mengurus budi daya lele di ember serta pot besar dari tanah. Saya juga mendapat dukungan keluarga. Anak­anak mulai ikut memelihara lele dengan memanfaatkan tambahan nutrisi fermentasi kulit buah.

Mereka juga ikut memilah sampah organik dan anorganik untuk dimasukkan ke wadah­wadah yang sudah saya siapkan.

Kesibukan saya bertanam mulai merambah ke penge­

lolaan sampah bersih. Pembaca pasti berpikir, “Kok ada sampah bersih?” Mari saya jelaskan. Tanaman pot saya memerlukan wadah cantik agar hasil tanaman indah dan menarik dipandang mata. Oleh karena itu, saya melakukan bersih­bersih peralatan dapur serta pernik­pernik dekorasi yang ada di rumah. Saya membereskan peralatan dapur, memilah perabotan rumah yang tidak terpakai seperti kuali panci, pot­pot keramik, cerek air, dan lain sebagainya. Anak­

anak juga membantu saya mencari wadah di rumah, juga barang yang mereka anggap tidak perlu digunakan lagi dan sudah tidak terpakai, yang selama ini hanya ditumpuk dan disimpan. Setelah itu, kami melakukan kegiatan mengecat dan melukis wadah­wadah yang kami kumpulkan. Setelah proses pengecatan wadah selesai, kami mendapat pot­

pot tanaman yang cantik serta unik. Yang menjadikan

kegiatan ini menyenangkan saya adalah kegiatan ini dapat dilakukan bersama anak­anak. Cukup banyak wadah yang saya dapatkan dari kegiatan kami ini. Misalnya, panci teflon yang gagangnya lepas, saya percantik dengan mengecatnya dengan warna emas, perak, serta di­vernish. Begitu juga dengan kuali, panci magic jar, cerek minuman, pot­pot tanah liat yang sudah tersimpan di gudang, mangkuk kuah keramik, dan lainnya. Beberapa teman dan warga di sekitar rumah mulai mengikuti hal yang sama untuk memanfaatkan sampah yang tidak terpakai, sebagian juga menyumbangkannya agar dapat dimanfaatkan orang lain.

Halaman rumah saya mulai dipenuhi dengan tanaman pot­pot cantik dan unik. Hampir satu tahun saya asyik dengan kesibukan mengelola sampah rumah tangga dan bertanam. Lalu saya merasa pekarangan rumah saya sudah terlalu penuh tanaman sehingga terkesan bertumpuk dan tidak rapi. Saya merasa “perlu lahan yang lebih luas dan bisa menghasilkan tambahan juga secara ekonomi”. Saya mulai melirik lahan kosong di perumahan saya. Lahan tersebut berukuran sekitar 800 m persegi dan sudah dipaving atau konblok. Saya ingin ada taman indah dan kebun sehat untuk dimanfaatkan seluruh warga. Alhamdulilah, izin saya dapatkan dari Pak RT dan pengurus kompleks. Kebun Taman Probiotik Andrawina mulai saya cicil pengerjaannya bersama beberapa teman di kompleks perumahan. Kami juga mendapatkan bantuan dari warga berupa:

ü konblok sisa perbaikan halaman rumah yang sudah tidak terpakai dan kami pakai untuk membuat pola penempatan tanaman,

ü rak besi yang tidak terpakai kami cat ulang, ü bibit aneka tanaman bumbu dapur,

ü tanaman hias,

ü pot besar kolam ikan lele,

ü pengadaan payung taman dengan menggunakan tong besar serta tatakan meja besar yang sudah tidak digunakan,

ü sisa baja ringan yang dikumpulkan dari beberapa warga, ü dan lain­lain.

Pelan tetapi pasti, kebun di kompleks perumahan kami mulai terisi. Semua ini diusahakan dengan dana yang sangat minim dari pemanfaatan sampah. Warga kompleks perumahan saya juga cukup banyak yang melakukan aktivitas peduli lingkungan hidup, seperti ada bank sampah, biopori yang sudah dipasang, kepedulian warga akan lingkungan bersih, serta aktivitas bertanam di rumah warga. Secara keseluruhan, saya merasa bangga dengan teman dan tetangga di perumahan saya, juga ada rasa bahagia karena saya merasa sudah memberikan “sedikit” partisipasi dalam menjaga kelestarian alam dengan membantu program pemerintah yaitu mengurangi pembuangan sampah di TPS dan TPA (Tempat Pemrosesan akhir). Memang tindakan saya kecil sekali, hanya bisa memberikan untuk rumah dan lingkungan, melalui kesetiaan saya dalam berusaha menjalankan zero waste living. Semuanya saya lakukan demi mewujudkan lingkungan hidup yang lebih sehat, yang saya sadari, harus dimulai dari lingkungan saya sendiri.

*******

Note: coretan saya untuk inspirasi yang sudah saya wujudkan.

Skema Peran Sampah bagi Kebun/Taman 1. Sampah Organik

• pupuk cair sisa dapur (POC), olahan dan mentah tanaman,

• pupuk bekas kultur ditimbun sebagai media penyu­

bur tanah,

• magot BSF pakan ternak lele dan unggas,

• pupuk padat/kompos sebagai media penyubur tanah,

• fermentasi kulit dan biji jeruk (buah lainnya) guna campuran:

­ pupuk cair tanaman,

­ perbersih hama tanaman,

­ mengilatkan dan memperkuat warna daun tanaman,

­ campuran nutrisi ikan dan air kolam ikan.

2. Sampah Anorganik

• wadah tanaman (pot),

• kaleng/metal: panci , cerek, kuali, dan lain­lain,

• pot keramik dicat/dilukis ulang,

• botol/stoples plastik kreasi bentuk sesuai karak­

teristik yang diinginkan,

polybag karung plastik wadah tanaman,

• ban bekas wadah tanaman,

• popok media tanam bonsai kelapa, dan lain­lain.

3. Sampah Biomassa

• kayu, kertas, kain, popok, dan lain­lain pupuk kering

4. Kerja sama taman dan pengelolaan sampah meng­

hasilkan:

· tanaman hias,

· tanaman bumbu dapur,

· tanaman bermanfaat,

· tanaman buah,

· tanaman bonsai kelapa,

· pupuk organik cair (POC),

· pupuk kompos,

· media tanam,

· magot BSF untuk pakan ternak: ikan, burung, unggas, dan lain­lain,

· jus probiotik buah dan sayuran,

· jamu probiotik,

· teh kering bunga elang,

· dan lain­lain.

Taman Probiotik Andrawina yang belum rampung

Penggunaan panci Magic Jar bekas untuk wadah

bertanam. Bertanam menggunakan sampah pampers untuk pembibitan

akar bonsai kelapa.

Penggunaan kuali bekas untuk wadah bertanam.

Bertanam dengan sampah popok untuk pembibitan akar

bonsai kelapa.

Penggunaan panci teflon bekas untuk wadah

bertanam.

Penggunaan ban mobil bekas untuk pembibitan

tanaman hias.

Sebagian perabotan rumah bekas dipergunakan untuk wadah

bertanam.

Konblok untuk pembatas bertanam jagung manis.

Tatakan meja bekas diameter 160 cm, ember bekas komposter dikumpulkan.

Semuanya diubah menjadi meja payung taman untuk

warga.

Analisis Dampak Lingkungan