• Tidak ada hasil yang ditemukan

Snouch Hurgronje‘s theory "Islam entered the archipelago through the trading system" no doubt if the trade at that time in Sriwijaya became the beginning of the entry of Islam and developed very rapidly, especially on the coast of Sumatra. The existence of sovereignty over Sriwijaya from the Umayyah in the time of Umar Bin Abdul Aziz was also the opening of trade interaction and the present of Islam in Sriwijaya, this is what makes Islam and commerce become a linear dimension until they reach their dip- lomatic.

Keywords: Trading, Development of Islam and Sriwijaya.

1. Pengantar

“Yang menguasai Malaka berarti ia akan dapat menguasai Venese. Mulai dari Malaka sampai ke Cina dan dari Cina hingga Maluku dan dari Maluku mpai ke Jawa dan dari Jawa sampai Malaka dan Sumatera berada dalam ke- kuasaanya.”

Ungkapan yang diberikan A.

Corteso dalam The Suma Oriental of Tome Pires II tak hanya memberikan makna soal bagaimana mendeskripsikan tentang perkembangan selat Malaka se- bagai jalur yang mengakomodasi pela- buhan yang strategis bagi jalur perda- gangandi Asia dan Asia Tenggara tetapi juga menjelaskan bagaimana Sriwijaya sejak abad pertengahan ke -7 sudah ber- peran penting dalam perdagangan Asia (A. Corteso;287). Lalu lintas menju pe- labuhan Sumatera melewati wilaya selat Malaka tanpa melalui jalur dekat Cina menandakan padatnya aktivitas dagang dan banyaknya pedagang Asing yang masuk ke wilayah ini saat itu. Sehingga

secara otomatis secara dinamis Malaka menjadi pintu hulu hilirnya komoditas perdagangan di Nusantara.

Perkembangan jalur perdangan dan aktivitas dagang ini pula membuat ketertarikan pedagang Asing khususnya Muslim mulai melakukan pendekatan diplomatis guna meraih simpati dan pen- gakuan kedaulatan. Adanya kenyamanan memasuki jalur perdagangan di pesisir pantai Sumatera membuat para pedangan muslim banyak yang menetap.

Arab yang memperdagangkan rempah- rempah dan sutra. Oleh karena itulah ja- lur perdagangan tersebut dikenal sebagai jalur sutra. Selain itu banyak pedagang yang tinggal di Sriwijaya untuk beberapa lama hingga menunggu angin Muson bertiup ke pesisir Nusantara.(D.H. Burg- er,1957:29).

Sriwijaya mampu mengontrol Se- lat Malaka, perairan yang paling ramai di dunia. Raja-Raja Sriwijaya berhasil membangun diplomasi, politik dan eko- nomi kerajaan sehingga disegani oleh bangsa-bangsa lain di kawasan Asia. Pa- da abad ke-7 terdapat dua pusat peda- gangan di Sumatera, yakni Sriwijaya (Palembang) dan Melayu (Jambi). Lang- ka-langka stategis yang dilakukan oleh kerajaan Sriwijaya adalah memudarkan pengaruh kekuasaan raja-raja di sekitar Sumatera dan Semenanjung Malaya dengan mengontrol pelayaran dan per- dagangan di rute Cina.

Berdasarkan hasil penelitian ar- keologi yang dilakukan oleh Pusat Pene- litian Arkeologi Nasional di Palembang 1982-1992 dan Balai Arkeologi Palem- bang sejak tahu 1993-2018 dapat diketa- hui adanya tinggalan arkeologi di sepan- jang DAS Musi dari masa Sriwijaya dari abad ke-7-14 Masehi.(Retno Purwan- ti,2018:4). Melihat dari sekumpulan situs yang ada di Sumatera selatan seperti;

Situs Kanganyar, Situs Kambang Unge- len dan beberapa situs lainnya yang telah di teliti oleh pihak Balai Arkeologi atau Peneliti Arkeologi Nasional yang ada di Palembang dapat dikatakan bahwa akti- vitas perdagagan di masa itu abad 7-9 di Kerajaan Sriwijaya begitu sangat pesat.

Dibuktikan dengan adanya temuan ar- keologi berupa sisa koin na ,dammar,pecahan keramik asing (Ci- na, Thailand,dan Timur Tengah), manik- manik Indo Pasifik dan Ekofak.

Gambar 1. Peta persebaran situs-situs masa Sriwijaya di Palembang (Sumber: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional)

Selain beberapa komoditi di atas , pada masa Sriwijaya juga mempunyai banyak budak belia untuk diperdagang- kan (Cortesao, 1994: 156-157). Ini juga menjadi pusat studi kita bahwa di masa- masa Sriwijaya aktivitas perdagangan manusia juga sudah marak terjadi, ini berimbas pada banyaknya budak budak yang menjadi pelayan saudagar- sauda- gar besar yang bertujuan di pekerjakan di kapal-kapal mereka selama berlayar di daerah Sriwijaya dan Nusantara.

Selain itu juga, aktivitas perda- gangan di dominasi dengan hasil Kapur

Barus, lada,gading gajah, belerang, kamper, cula badak,getah jerenang dan lainnya(Hirt and W.W. Rockhill, 1966:

Amelia, 1989). Semua komoditi ini men- jadi daya tarik mengapa Nusantara khu- susnya daerah Sriwijaya menjadi semua syurga dagang di abad 7-9 dan menjadi tujuan utama tika para pedagang Asing melintasi pesisir Malay. Catatan lainnya dari Tome Pires, seorang yang berke- bangsaan Portugis Menyebutkan bahwa dammar hitam merupakan salah satu komoditi perdagangan di Sriwijaya (Cor- tesao, 1994:156).

Gambar 2. Temuan Damar di Situs Tingkat Kabupaten Musi Rawas Utara (Sumber:

Balai Arkeologi Sumatera Selatan)

Berbagai komoditi perdagangan di Sriwijaya yang paling sering disebut oleh para penulis asing adalah kain sute- ra, rotan emas,lilin,lebah. Madu dan tuak, daging, jahe, onion (bawang merah), bawang putih. Dimana sistem pengum- pulan hasil komoditi perdagangan dipe- roleh dengan menjelajahi daerah peda- laman yang berada dari pusat kota. Dae- rah pedalam di kawasan Sriwijaya mem- punyai produk andalan untuk diperda- gangkan seperti: daerah aliran Sungai Lematang menghasilkan Lada, Beras, Kapas. Sedangkan daerah aliran Sungai Musi menghasilkan beras, kapas, lilin, emas, gambir, lada. (Husni Rahim, 1993;34; Marsden, 1975:360). Jadi tidak heran apabila Malaka dan sekitarnya adalah daerah perdagangan tersibuk saat itu dengan jalur perdagangan yang diku- asi oleh kerajaan Sriwijaya, inilah yang banyak mengundang pedagang-

pedaganng Asing tertarik untuk mengun- junginya.

Ada tiga tahap perkembangan da- lam sistem perdagangan di Asia Tengga- ra (Leong Sau Heng, 1990:18), yaitu col- lecting centres, Feeders points dan en- treport. Collecting centres yaitu daerah atau situs yang biasanya terletak di pan- tai maupun di disepanjang daerah aliran sungai di pedalaman. Sebagai pusat pen- gumpulan , maka peranannya adalah se- bagai penyedia komoditi khusus lokal (outlets for special produce). Situs ini biasanya terletak di daerah jalur utama perdagangan maupun tidak. Meskipun demikian, daerah ini umumnya terletak pada wilayah ekozone tempat barang- barang lokal itu diproduksi atau dihasil- kan. Misalnya terletak di daerah wilayah yang kaya akan tambang timah atau emas seperti di kampung Sungai Lang atau Kelang(Sau Heng,1990;23).

Feeders points umumnya diiden- tifikasikan sebagai pusat pelayanan da- lam skala lokal kecil. Tidak seperti hal- nya dengan entreport yang terletak di daerah lintasan perdagangan jarak jauh yang strategis, melainkan lebih ditentu- kan oleh faktor hubungan (jarak termuda dan terdekat) untuk mencapai daerah produsen. Situs ini biasanya terletak di daerah bagian pedalaman atau daerah pantai dan ditandai dengan sedikitnya bukti pengaruh budaya luar yang masuk (Leong Sau Heng,1990:29) dengan kata lain daerah ini adalah daerah pedalaman di bagian sistem perdagangan.

Terakhir adalah Entreport (pela- buhan antara) daerah inilah yang menja- di jalur tersibuk di sistem perdagangan yang ada di Malay seperti wilayah Pang- kalan Bujang, di muara Sungai Bujang Kedah (Leong Sau Heng,1990;26). Bi- asanya lokasi situs ini terletak di keda- tuan atau pusat pemerintahan. Dengan demikian kedudukan Sriwijaya menurut Peter J.Nas merupakan salah satu city- state yang paling awal dan sangat pent- ing. Eksistensinya didasarkan kepada fungsinya sebagai kerajaan emporium dan merchantilis dan berkerja keras un- tuk memonopoli perdagangan serta menguasai Jambi, Lampung, Semenan- jung Malay dan Kra.

Dari seluruh teori di atas maka dapat disimpulkan bahwa aktivitas per- dagangan di Sriwijaya memiliki sistem tersendiri mulai dari komoditi yang men- jadi rebutan para pedagang Asing (Ci- na,India dan Timur Tengah) ataupun ba- gaimana mereka selaku penguasa mari- time memberlakukan sistem open clos- ing trading guna mengatur lalu lalang perdagangan yang melintasi jalur perai- ran Sriwijaya. Sebagai konsekuensi un- tuk Negeri Indonesia saat ini maka wa- jarlah apabila Negeri yang ribuan pulau ini kembali Berjaya di Negeri sendiri di dunia perdagangan Global yang sangat maju pesat saat ini.