• Tidak ada hasil yang ditemukan

G. Simpulan dan Saran 1. Simpulan

10. Akuntabilitas dan Transparansi

Hampir semua organisasi nir laba hanya terbuka dan bertanggungjawab menyangkut program dan kegiatan maupun keuangan.pada pihak-pihak yang secara hukum (melalui AD/ART) diwajibkan untuk itu, maupun kepada pihak-pihak penyandang dana (donatur).

Ini berarti bahwa belum ada akuntabilitas dan transparansi secara umum ke khalayak sebagaimana berlaku untuk Yayasan berdasarkan UU Yayasan. Bahkan yang menarik, masih banyak lembaga swadaya masyarakat yang belum mengatur perihal akses khalayak terhadap pengelolaan organisasi maupun keuangan, sementara hampir kita ketahui bahwa LSM selalu menuntut keterbukaan dan pertanggungjawaban kepada institusi pemerintah.

Untuk organisasi nir laba berupa LSM, terdapat karakteristik yang berbeda perihal keterbukaan dan pertanggungjawaban. Ada organisasi yang belum mengatur perihal akses pemerintah dan masyarakat dalam pengelolaan organisasi, baik menyangkut laporan keuangan, laporan

kegiatan dan penyusunan pengurus.

Namun terhadap program kerjasama dengan pemerintah, ada laporan kegiatan dan keuangan yang bersifat insidentil.

Pada beberapa organisasi, pengurus hanya menyampaikan rencana kegiatan, laporan kegiatan dan laporan keuangan kepada Dewan Pengawas atau Rapat Anggota, secara periodik. Dewan Pengawas bertanggungjawab atas pelaksanaan tugasnya kepada Rapat Umum Anggota, dan secara berkala dapat menyampaikan laporan tertulis tentang pemeriksaan hal-hal khusus kepada semua anggota Perkumpulan.

Sementara itu, mekanisme pelaporan terhadap keuntungan dari unit-unit usaha dilakukan secara periodik melalui wadah Rapat Umum Pemegang Saham atau yang sejenis.

Menyangkut rencana program, akses masyarakat maupun stakeholder tidak diatur dalam AD dan ART, namun untuk yayasan tertentu masyarakat maupun stakeholders dapat mengaksesnya melalui media Brosur dan Bulletin. Khusus laporan keuangan, hanya diketahui oleh organ yayasan dan belum diumumkan secara terbuka.

Untuk organisasi nir laba di bidang keagamaan, memiliki kharakteristik khusus. Ada yang

memiliki ciri pelaporan keuangan yang sentralistik dalam melaporkan rencana kegiatan, hasil kegiatan dan laporan keuangan sebagai pelaksanaan prinsip subsidiaritas dan solidaritas. Selain itu, ada organisasi keagamaan yang lain bersifat lebih desentralistik dalam mekanisme laporan keuangan, rencana kegiatan, dan laporan kegiatannya dimana hal-hal tersebut hanya disampaikan kepada anggota pada level terkait saja. Bahkan pada organisasi keagamaan yang besar, laporan kerja dan rencana pengembangannya sudah menjadi konsumsi publik karena biasanya dibahas di dalam forum tertinggi organisasi (misalnya Muktamar) yang memperoleh liputan media massa secara luas.

Penutup

Tulisan ini kemudian ditutup dengan simpulan, bahwa:

a. Karakteristik pengelolaan lembaga nir laba sangat beragam, karena bergantung pada bidang pumpunan kegiatan. Karakteristik dimaksud terutama menyangkut pengelolaan internal, ada tidaknya pemisahan pembina, pengurus dan pengawas, aktivitas bisnis, pertanggungjawaban kegiatan, bentuk hukum pengaturan,

perpajakan, aktivitas politik, pengelolaan asset. Lembaga yang diamati ada yang telah mengadopsi pemisahan organ kelembagaan dalam pembina, pengurus dan pengawas, dan ada yang belum mengadopsinya.

Namun pelaksanaannya masih belum memenuhi ukuran-ukuran umum yang berlaku dalam prinsip good governance.

b. Meskipun suatu lembaga organisasi berlabel nir laba, namun mempunyai unit usaha (bisnis), agar dapat membantu pembiayaan aktivitas dari lembaga nir laba tersebut. Hal ini menimbulkan problematika akan kesesuaian pengelolaan lembaga dengan motivasi nir laba yang dirumuskan dalam tujuan pendiriannya. Organisasi nir laba juga memperoleh dana dari sumber dana publik, sehingga perlu memenuhi pula ukuran-ukuran dalam hal pertanggungjawaban publik.

c. Organisasi nir laba, sebagai suatu badan hukum telah melakukan pemisahan antara kekayaan pendiri dengan kekayaan organisasi. Dalam pengelolaannya, telah dilakukan pula perubahan pencatatan pemilikan dari atas nama pengurus organisasi menjadi atas nama organisasi.

Sekalipun demikian, sebagian besar lembaga nir laba, tidak memperoleh keringanan pajak yang besar meskipun telah ada fasilitas yang diberikan dalam metode penghitungan kewajiban perpajakan.

d. Menurut ukuran-ukuran good governance pengelolaan lembaga nir laba belum disertai dengan prosedur akuntabilitas publik yang jelas karena adanya kelemahan dari sisi undang- undang yang tidak memfasilitasinya secara jelas.

e. Sebelum era reformasi, lembaga nir laba berusaha untuk bersikap kritis terhadap sistem kekuasaan dan akibatnya memperoleh pandangan yang kurang bersahabat dari pemerintah. Namun setelah tahun 1998, telah terjadi perubahan cara pandang dan sifat hubungan menjadi lebih terbuka. Namun UU Yayasan tahun 2001 pada satu sisi dipandang cukup memberi ruang yang besar bagi intervensi pemerintah dalam pengelolaan lembaga nir laba.

Selanjutnya, berdasarkan temuan di atas, perlu disarankan agar:

a. Prinsip-prinsip good corporate governance perlu diatur lebih eksplisit di dalam UU Yayasan. Adanya keleluasaan pengaturan untuk

lembaga nir laba tanpa melepaskan masalah pengendalian mutu pelayanan. Intervensi negara perlu dibatasi dan proporsional sesuai dengan sifat bidang yang dilayani oleh lembaga nir laba.

b. Perlu adanya perlakuan perpajakan berupa fasilitas perpajakan bagi lembaga nir laba, terutama yang bergerak dalam usaha mewujudkan kepentingan umum.

DAFTAR PUSTAKA

Anheier, Helmut K. dan Frank P. Romo (1999). Foundations in Germany and the United States; A Comparative Analysis. Dalam H.K. Anheier dan S. Toepler (eds.), Private Funds, Public

Purpose. Kluwer

Academic/Plenum Publishers:

New York etc.

Brooks, Arthur C. (2003, Jul/Aug).

Challenges and Opportunities Facing Nonprofit Organizations.

Public Administration Review, Washington. Vol. 63. Iss. 4.

Brotodihardjo, R. Santoso. (1991).

Pengantar Ilmu Hukum Pajak.

PT Eresco: Bandung.

Hamel, W. Warren .(2003, March).

What corporate governance legislation means to you.

Association Management, Washington, Vol. 55. Iss. 3.

Holloway, Richard. (2001). Menuju Kemandirian Keuangan.

Yayasan Obor: Jakarta.

Kustiawan, Cucuk. (2004). Peranan Lembaga Swadaya Masyarakat

dalam Mempengaruhi Kebijakan Publik. Bhakti Caraka.

Linnan, David K. (2000). Undang- undang Nir Laba di Seluruh Dunia. Makalah dalam seminar

―Reformasi Hukum Yayasan di Indonesia‖. Program Magister Hukum Pascasarjana UGM dan Law School of University of South Carolina. Yogyakarta.

Lubis, Todung Mulya. (2005, 20 Desember). Menuju Good Corporate Governance.

www.hukumonline.com.

Mahfud MD , Moh. (1998). Politik Hukum di Indonesia. LP3ES:

Jakarta.

Prabowo, Dibyo. (1999). Rumah Nan Bahagia. Yayasan Panti Rapih:

Yogyakarta.(2003). Profil Bina Swadaya. Yayasan Bina Swadaya: Jakarta.

Profil NU. Pengurus Besar NU: Jakarta.

Ruru, Bacelius. Good Corporate Governance dalam Masyarakat Bisnis Indonesia, Sekarang dan Masa Mendatang. Paper. Dalam:

http:// www.nccg-indonesia.org/

lokakarya/yogyabruru.html Sen, Dilip Kumar. (2003, Oct. 2). A Few

Leaves Off Corporate Governance. Businessline.

Chennai.

Soemitro, Ronny Hanityo. (1985).

Metodologi Penelitian Ilmu Hukum. Ghalia Indonesia:

Jakarta.

Wahyono, Boedi dan Suyud Margono.

(2001). Hukum Yayasan Antara Fungsi Karitatif dan Komersial.

CV Navindo Pustaka Mandiri:

Jakarta.

Witherell, Bill. (2004, May). Corporate governance: Stronger principles for better market integrity. The OECD Observer. Paris.

Sumber lain:

―Asia: Explain yourself‖, The Lawyer.

London, Des 20, 2005. P.23.

“Delegasi Senat Mengadu ke DPR;

Selesaikan Sengketa Universitas

Trisakti”, dalam

http://www.pikiran-

rakyat.com/cetak/2011/03/0501.h tm

“Fakta Berbicara”dalam

http://www.yayasantrisakti.or.id/f akta_berbicara2.htm

“Yayasan Trisakti: Pertikaian Merupakan Tanggung Jawab

Depdiknas” dalam

http://www.sinarharapan.co.id/be rita/2011/03/nas02.html

“Kasus Universitas Dr. Soetomo Aneh

Tapi Nyata” dalam

http://www.fajar.co.id/

PENANAMAN NILAI - NILAI KARAKTER PADA ANAK USIA DINI

Lidia Oktamarina, M.Pd1, Indah Dwi Sartika, M.Pd2

Email: 1. [email protected] 2. [email protected]

ABSTRAK

Tulisan ini merupakan kajian ilmiah berkenaan dengan penanaman nilai karakter pada anak usia dini. Anak usia dini merupakan anak yang berada pada usia lahir sampai den- gan enam tahun. Anak usia dini berada pada masa keemasan, yang memiliki makna bahwa seluruh perkembangan anak akan mampu dioptimalkan pada usia ini. Pengem- bangan aspek perkembangan anak dalam dilakukan melalui jalur pendidikan. Pendidi- kan anak usia dini merupakan pendidikan dasar pertama yang diperoleh anak, baik da- lam jalur informal, non formal maupun formal. Dalam pelaksanaan pendidikan anak usia dini, ditekankan penanaman nilai karakter sejak dini. Beberapa karakter yang akan dikembangkan sejak dini diantaranya adalah karakter disiplin dan mandiri. Karakter di- kembangkan baik dalam lingkungan keluarga dan lingkungan sekolah. Pendidikan anak usia dini akan melatih anak untuk mengembangkan kecakapan hidupnya melalui proses bermain. Bermain merupakan suatu aktifitas yang menyenangkan bagi anak, sehingga dalam proses bermain anak akan belajar aturan dalam setiap permainan tanpa ada rasa paksaan.

Kata Kunci: penanaman nilai karakter, disiplin, mandiri, anak usia dini ABSTRACT

This paper is a scientific study concerning the planting of character values in early childhood. Early childhood is a child who is at the age of birth up to six years. Early childhood is in the golden age, which means that all children's development will be able to be optimized at this age. The development of aspects of child development is carried out through education. Early childhood education is the first basic education obtained by children, both in informal, non-formal and formal ways. In the implementation of early childhood education, emphasized the planting of character values from an early age. Some characters that will be developed early include the character of discipline and independence. Karak-ter was developed both in the family environment and the school environment. Early childhood education will train children to develop their life skills through the process of playing. Playing is a fun activity for children, so that in the process of playing children will learn the rules in each game without any compulsion.

Keywords: planting character values, discipline, independence, early childhood

PENDAHULUAN

Penanaman nilai karakter merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan baik dalam lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah dalam menciptakan anak yang berakhlak mulia dan dapat memahami aturan yang berlaku di lingkunganyya. Hendaknya penanaman karakter diterapkan sejak usia dini, seperti karakter mandiri dan karakter disiplin. Karakter mandiri dan disiplin dapat ditanamkan sejak usia dini melalui kegiatan-kegiatan keseharian yang dilakukan oleh anak, dan dapat di- lakukan melalui pembiasaan.

Penanaman nilai karakter dikem- bangkan di lembaga sekolah seperti hal- nya di pendidikan anak usia dini (PAUD). Pendidikan anak usia dini, memfokuskan pada pengembangan as- pek perkembangan anak, baik fisik mau- pun psikis. Sesuai dengan Undang- Undang Pendidikan Nasional No. 20 Ta- hun 2003 mendefinisikan bahwa pendi- dikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiri- tual keagamaan, pengendalian diri, ke- pribadian, kecerdasan, akhlak mulia, ser- ta keterampilan yang diperlukan dirinya,

masyarakat, bangsa dan negara. Melihat dari definisi ini maka jelas tercantum mengenai hakikat pendidikan yang juga menekankan pencapaian pada pemben- tukan karakter peserta didik.

Menurut UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1, pasal 1, butir 14 dinyatakan bahwa

―Pendidikan Anak Usia Dini adalah sua- tu upaya pembinaan yang ditujukan ke- pada anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkem- bangan jasmani dan ruhani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut‖.

Berdasarkan Undang-Undang yang berlaku, maka dapat dipahami bahwa pendidikan anak usia dini mene- kankan pada pengembangan kemampuan anak yang dilakukan melalui pemberian rangsangan. Rangsangan atau stimulasi diberikan pada pendidikan anak usia dini untuk mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak. Stimulus diberikan oleh pendidik atau orang tua melalui proses bermain dan pengasuhan baik da- lam lingkungan sekolah maupun rumah.

Aspek perkembangan anak cocok dikembangkan sejak usia dini. Menginga anak berada pada masa keemasan. Salah

satu kemampuan yang harus dikem- bangkan sejak usia dini adalah penana- man nilai karakter. Penanaman nilai ka- rakter dapat dilakukan melalui kegiatan bermain. Kegiatan bermain dapat mem- bantu guru menyampaikan pesan-pesan moral dan membentuk karakter anak mi- salnya pembiasaan mengucapkan maaf, terimakasih, mengikuti aturan, dan me- laksanakan tugasnya.

Oleh sebab itu, sebagai lingkun- gan yang menunjang dan mendukung pemberian stimulasi pada anak, hendak- nya memahami kebutuhan dan perkem- bangan anak. Begitu halnya dengan pe- nanaman nilai karakter, yang harus memperhatikan karakteristik dari setiap anak.

PEMBAHASAN