• Tidak ada hasil yang ditemukan

A. LATAR BELAKANG

2. Permasalahan Manajemen Kesis- waan

mereka butuhkan pun berbeda. Layanan atas kesamaan yang dilakukan oleh sis- tem schooling tentu harus pula dimasuk- kan layanan-layanan yang berbeda den- gan sistem schooling. Adanya tuntutan untuk memberikan layanan yang sama dan berbeda inilah dianggap perlu untuk dilakukannya pengaturan. Semuakegia- tanyangadadisekolah,diarahkanagarsiswa mendapatlayananpendidikanyangbaik- danterciptasuasanabelajaryangkondusif.

Karenasentrallayananpendidikandiseko- lahadalah siswa maka dalam hal ini ma- najemenkesiswaanmenempatiposi- siyangsangat penting.

Bila mencermati dari salah satu prinsip-prinsip dasar manajemen kesis-

laksanaan manajemen kesiswaan di se- kolah-sekolah pada umumnya masih ba- nyak kendala, kelemahan, dan kekuran- gan dalam beberapa faktor.Hasil peneli- tian Mustiningsih,127 mengatakan bahwa berdasarkan ruang lingkup yang ditan- gani tiap komponen manajemen berbasis sekolah, implementasi MBS di Indonesia menghadapi masalah secara berturut- turut yaitu: manajemen pembiayaan (100%), manajemen pendidik dan tenaga kependidikan (88%), manajemen budaya dan lingkungan sekolah (75%), manaje- men peserta didik (73%); manajemen sarana dan prasarana (71%), manajemen Humas (60%), dan manajemen pembela- jaran (40%).

Mencermati hal tersebut nam- paknya persoalan manajemen kesiswaan secara fakta menunjukkan indikasi adanya persoalan yang mendasar. Masih menurut Mustiningsih, masalah yg diha- dapi manajemen kesiswaan yaitu: 1).

Pendataan calon siswa, 2. Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB), 3). Penge- nalan sekolah/orientasi peserta didik, 4).

Pembinaan karakter peserta didik, 5).

Penyelenggaraan kegiatan ekstrakuriku- ler, 6). Penyelenggaraan layanan khusus, 7). Pengawasan, evaluasi dan pelaporan,

127 Mustiningsih, Masalah Implementasi Manajemen berbasis Sekolah, Jurnal Manajemen Pendidikan Vol. 24, Nomor 6, September 2015:

498-505, Universitas Negeri Malang.

dan 8). Melakukan pembinaan prestasi unggulan.

Permasalahan yang terjadi pada masa pendaftaran adalah masih diguna- kannya formulir,yang menyebabkan an- trian panjang, sehingga calon mahasiswa sering kerepotan, selain nilaitertinggi dan terendah UAS sebagai acuan diteri- manya dari calon siswa baru hanya bisa dilihatdengan mengunjungi langsung.

Belum lagi jika calon siswa berasal dari luar daerah yang secara geografis mere- ka memiliki kendala dalam mencari letak lokasi sekolah. Terkait ini Nur Heri Ca- hyana menjelaskan dalam penelitiannya, bahwa ruwetnya masalah administrasi yang bersifat pengguna berbuntut pada- kurang efisiensi dilingkungan kegiatan penerimaan siswa baru.128

Kemudian setiap tahun ajaran ba- ru setiap sekolah akan mengadakan se- leksi berdasarkan data yang masuk se- suai dengan daya tampungnya artinya sekolah akan mendesain Penerimaan Pe- serta Didik Baru (PPDB) sesuai dengan Standar Nasional Pendidikan (SNP) dengan acuan Permendiknas delapan SNP. Namun pada prakteknya sistem yang sudah dijalankan ini kadangkala

128 Nur Heri Cahyana dkk, Aplikasi Pe- nerimaan Siswa baru Berbasis Web, Jurnal Te- lematika Vol.10, No.1, Juli 2013, UPN Veteran Yogyakarta.

tidak berjalan sesuai dengan rambu- rambu yang secara jelas terdapat pada Juknis PPDB, disebutkan bahwa per rombongan belajar sebanyak 32 siswa tetapi ternyata masih ada sekolah yang menerima siswa lebih dari kapasitas yang ditentukan. Padahal dalam kondisi ini dari delapan SNP tersebut standar proses dan standar sarana prasaranalah yang benar-benar harus diperhatikan.

Artinya sekolah harus mempertimbang- kan ketersedian fasilitas sekolah dalam menerima siswa. Namun jika tidak ditaa- ti adalah hal yang wajar jika masih di- jumpai terdapat kelas dengan jumlah be- sar melebihi standar kapasitas rombon- gan belajar.

Persoalan lain, bila kita cermati umumnya sekolah lebih fokus pada ma- salah prestasi akademik siswa diban- dingkan dengan masalah akhlak dan pengendalian diri siswa. Hal inimenim- bulkan ketidakseimbangan antara presta- si akademik dan pengendalian diri.

Hingga saat ini sebenarnya banyak dika- langan siswa dengan mudahnya berinte- raksi dengan kondisi-kondisi sosial yang bertentangan dengan nilai-nilai moral, sebagai akibat daridampak negatif arus globalisasiyang sangat pesat akhir-akhir ini, kejadian tersebut sebagai akibat inte- raksi sosialnya yang sudah sedemikian

terbuka tanpa mengenal batas dan tem- pat. Dampak negatiftersebut antara lain semakin maraknya berbagai penyimpan- gan norma kehidupan agama dan sosial kemasyarakatan yang terwujud dalam bentuk kenakalan siswa di sekolah seper- ti: sikap tidak menghormati guru dan karyawan, perilaku ini tampak dalam hubungan siswa dengan guru atau ka- ryawan di mana siswa sering acuh tak acuh terhadap keberadaan guru dan ka- ryawan sekolah, kurang disiplin terhadap waktu dan tidak mengindahkan peratu- ran.

Kenakalan remaja saat ini meru- pakan salah satu fenomena yang kerap terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, dari mulai tawuran antar pelajar, gank motor, penyalahgunaan narkoba, seks bebas, dan lain sebagainya. Munculnya kenakalan remaja dipengaruhi beberapa faktor, terkait dengan hal tersebut Sudar- sonomenjelaskan salah satu faktor yang dapat menyebabkan kenakalan remaja antara lain kehidupan di sekolah dengan segala keanekaragaman karakter siswa (termasuk yang negatif) ikut mempenga- ruhi munculnya kenakalan pelajar.129Ga- galnya lembaga pendidikan dalam proses internalisasi nilai, moral, dan mental

129Sudarsono, Kenakalan Remaja, (Ja- karta:PT. Rineka Cipta, 2005), h. 2

siswa berakibat pada prilaku yang tidak dikendaki terjadi pada siswa di sekolah.

Karena itu, lingkungan sekolah yang ti- dak merangsang siswanya untuk belajar (misalnya suasana kelas yang monoton, peraturan yang tidak relevan dengan pengajaran, iklim dan budaya sekolah yang tidak nyaman, minimnya kegiatan ekskul siswa dan lain sebaganya) akan menyebabkan siswa lebih senang mela- kukan kegiatan di luar sekolah bersama teman-temannya.Maria Zuraida dalam disertasinya (2016) berjudul ―Hubungan Antara Kegiatan Sekolah dan Guru Se- bagai Bentuk Pengendalian Sosial Den- gan Keterlibatan Siswa dalam Tawuran Siswa Antar Sekolah‖ (Studi Kasus di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri T dan Sekolah Menengah Atas Negeri C Jakarta Selatan)menghasilkan bahwa ke- giatan ekstrakurikuler di sekolah mampu menekan secara signifikan tawuran dan kenakalan siswa.

Dari segi kultural, upaya yang dapat dilakukan adalah pihak sekolah selaku institusi pendidikan harus mampu menciptakan suasana yang nyaman bagi siswa. Pihak sekolah juga harus mampu membuat kegiatan yang dapat mengisi waktu luang para siswanya. Berdasarkan asumsi peneliti peristiwa tawuran di ka- langan pelajar mempunyai dampak sis-

temik dan merugikan berbagai pihak, diantaranya adalah terganggunya proses belajar di sekolah, dan berkurangnya penghargaan siswa terhadap toleransi, perdamaian dan nilai-nilai hidup orang lain. Kondisi ini bila terjadi secara ber- kelanjutan dan tanpa solusi maka seko- lah akan mengalami kesulitan dalam pencapaian tujuan pendidikan- nya.Melihat dampak negatif yang ditim- bulkan oleh adanya kenakalan pelajar membuat sekolah harus segera mencari strategi jituuntuk meredamnya.Salah sa- tu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga dan membentuk watak generasi muda Indonesia adalah melalui optimali- sasi peran manajemen kesiswaan di se- kolah sebagai sarana strategis untuk me- rencanakan, melaksanakan, serta men- gendalikan kegiatan-kegiatan siswa ke dalam penyelenggaraan pendidikan seca- ra memadai.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Lestari di salah satu SMA swasta di kota Bandung menunjukkan aspek-aspek kedisiplinan yang tergolong tinggi ting- kat pelanggarannya adalah aspek sopan santun (93%), kehadiran (87%), kegiatan belajar(83%), dan penampilan (71%), sedangkan sisanya tergolong ke dalam kategori sedang yaitu menjaga sarana dan prasarana (60%) dan dari data aspek

upacara (68%). Fakta ini menunjukkan bahwa persoalan sopan satun yang me- rupakan bagian dari karakter luhur siswa memiliki menduduki tingkat tertinggi dalam kategori pelanggaran siswa.

Bila dilihat dari perspektif ma- najemen pendidikan sekolah secara kese- luruhan maka apa yang diuraikan di atas masuk dalam wewenang manajemen ke- siswaan. Dari fakta tersebut menjelaskan bahwa manajemen kesiswaan termasuk salah satu substansi manajemen pendidi- kan yang menduduki posisi strategis, karena sentral layanan pendidikan, baik dalam latar institusi persekolahan mau- pun yang berada di luar latar institusi persekolahan, tertuju kepada siswa. Se- mua kegiatan pendidikan, baik yang ber- kenaan dengan manajemen akademik, layanan pendukung akademik, sumber daya manusia, sumber daya keuangan, sarana prasarana dan hubungan sekolah dengan masyarakat, senantiasa diupaya- kan agar peserta didik mendapatkan layanan pendidikan yang optimal.

Terkait dengan hal ini, pada pra penelitian di lapangan, informasi awal yang peneliti temukan bahwa manajemen kesiswaan di SMK Negeri 2 Palembangmasih terkendala pada persoalan komitmen pada kedisiplinan.

Hal mendasar yang menjadifaktor

penyebab adalah lebih kepada intervensi eksternal. Sebagaimana pengakuan dari informan: ―Peraturan dan tata tertib sekolah sudah ditandatangani oleh orang tua siswa dan siswa pada saat diterima di sekolah ini, tetapi pada kenyataannya sering kali kami sendiri tidak bisa komitmen terhadap peraturan tersebut apa bila ada siswa dari keluarga pejabat daerah misalnya, yang melanggar peraturan, sementara sekolah akan menerapkan konsekuensinya berakhir

―mentah‖ karena ―petunjuk‖ pihak eksternal.130 Walaupun ini tidak sering terjadi, namun kejadian tersebut, membuktikan bahwa sekolah tidak berkomitmen pada peraturan yang sudah disepakati.

Selanjutnyakembali ditambahkan oleh informan tersebut ―Pernah juga dulu ada kejadian, dimana sekolah menerapkan peraturan terhadap siswa yang terbukti mencuri dengan memberhentikannya sesuai dengan aturan sekolah yang sudah disepakati di awal masuk sekolah, harus berakhir dengan ―ketidakberdayaan‖ sekolah dalam menegakkan disiplin‖131. Kondisi ini berpotensi dapat memicu siswa

130Rah, staf waka kesiswaan, wawanca- ra, Palembang, Sabtu,30 Januari 2016

131Ibid.,

lainnya untuk menganggap sepele peraturan sekolah.

Selanjutnya, hasil penelusuran peneliti terhadap berita pada salah satu media cetak yang terbit pada tanggal 16 Desember 2015,132 yang memuat aksi penyerangan yang dilakukan oleh pelajar SMK Negeri 2 Palembang terhadap pelajar SMA Tri Darma Palembang yang dipicu faktor tidak terima ditegur karena siswa SMK Negeri 2 Palembang ngebut ketika melintas di depan SMA Tri Darma. Mencermati hal tersebut sepertinya ada persoalan pada hal pembinaan siswa yang belum maksimal.

Apalagi jika menelusuri sejarah SMK Negeri 2 ini yang mulanya bernama Sekolah Teknologi menengah (STM) dengan status swasta, sering kali terjadi aksi tawuran yang dilakukan pelajar- pelajar STM tersebut, paling tidak demikian informasi yang peneliti peroleh dari masyarakat sekitar.

Bicara soal disiplin, pada hakikatnya disiplin merupakan masalah yang sering dihadapi sekolah-sekolah pada umumnya. Lebih lanjut dikatakan, masalah disiplin sering digunakan sebagai barometer pengukur kemampuan kepala sekolah dalam memimpin

132 Tribun Sumsel, ―Kepsek SMA Tri Darma: Yang menyerang pelajar SMKN 2 Pa- lembang‖, Rabu, 16 Desember 2015

sekolahnya. 133 Selain itu Mustari mempertegas bahwa, disiplin merupakan suatu keadaan dimana sikap, penampilan, dan tingkah laku siswa sesuai dengan tatanan nilai, norma dan ketentuan-ketentuan yang berlaku di sekolah dan di kelas di mana mereka berada134. Dari penjelasan ini, maka dapat dipahami bahwa pelanggaran disiplin terjadi karena sikap, penampilan, dan tingkah laku siswa melanggar tatanan nilai, norma dan ketentuan- ketentuan yang berlaku di sekolah.

Bila dicermati, persentase siswa laki-laki lebih besar dibandingkan dengan siswi perempuan di SMK Negeri 2 Palembang. Sebagaimana hasil wawancara awal, dikatakan oleh Waka Kesiswaan ―Jumlah keseluruhan siswi perempuan saat ini kurang lebih hanya 10% dari jumlah siswa laki-laki―.135 Bila melihat kondisi ini, maka menjadi menarik untuk dicermati bagaimana manajemen kesiswaan di SMK Negeri 2 Palembang dengan mayoritas siswa laki- laki. Sebagaimana disampaikan dimuka bahwa manajemen kesiswaan merupakan

133 Tim Dosen Jurusan Administrasi Pendidikan, Administrasi Pendidikan... , h. 108

134 M. Mustari, Manajemen Pendidikan, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2014), h. 113

135 Mar, Waka Kesiswaan, Wawancara, Palembang , 27 Februari 2016

kegiatan yang mengatur seluruh aktivitas siswa mulai dari diterima sampai lulus (tamat). Hasil penelitian Jannah diketahui bahwa siswi cenderung memiliki tingkat kedisiplinan dan kualitas karakter pribadi yang lebih tinggi dari pada siswa, karena secara psikologis anak perempuan memiliki tingkat emosional yang lebih matang dibanding anak laki-laki.136 Hal ini juga diperkuat dengan pendapat Kamari bahwa perempuan mengalami proses pendewasaan otak atau lebih cepat matang 10 tahun dibanding laki-laki.

Artinya, dengan proses kematangan yang lebih cepat, siswi memiliki kemungkinan yang lebih kecil untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang melanggar peraturan, sehingga memiliki tingkat kedisiplinan yang lebih tinggi dibanding siswa.137

Selanjutnya, hasil penelitian Coi, Dodge, dkk (dalam Utama, 2010) dikatakan bahwa anak laki-laki pada umumnya lebih agresif daripada anak perempuan. Ada pembuktian bahwa

136 Miftahul Jannah, Perbedaan Tingkat Kedisiplinan dan Karakter Pribadi Siswa Akse- lerasi dan Non Akselerasi di MTSn 3 Malang, Jurnal MBS, 2015.

137 Kun Kamari, Ini Fakta Kenapa Wa- nita Lebih Cepat Dewasa, (online), (http://www.astaga.com/ini-fakta-kenapa-wanita- lebih-cepat-dewasa/), diakses 13 Januari 2015

anak laki-laki lebih cepat untuk berprilaku agresif bila dibandingkan anak perempuan untuk mengekspresikan agresivitas mereka secara fisik.

Kemudian didukung dari hasil penelitian Masykouri (2007), anak laki-laki lebih banyak menampilkan agresivitas, dibandingkan anak perempuan.

Perbandingannnya adalah 5 berbanding 1, artinya jumlah anak laki-laki yang melakukan agresivitas kira-kira 5 kali lebih banyak dibandingkan anak perempuan. Bandi mengatakan bahwa prilaku agresif yang muncul sering menimbulkan keresahan bagi lingkungan sekitar, sehingga dalam hal ini pelanggaran norma sosial dapat dijadikan objektifikasi suatu prilaku agresif. Dalam konteks manajemen kesiswaan khususnya pembelajaran di sekolah, prilaku agresif seperti berkelahi, mengabaikan dan membantah guru, berteriak, mengganggu teman, tidak menyelesaikan tugas, tidak jujur, pemarah dan lain sebagainya jika terjadi dengan frekuensi yang sering di kelas dan di segala kondisi akan menyulitkan guru sehingga keefektifan pembelajaran tidak akan optimal.138 Dari uraian di atas, bila dilihat tujuan manajemen

138 Delphie Bandi, Pembelajaran anak berkebutuhan khusus dalam setting pendidikan inklusi, (Bandung: Refika Aditama, 2007), h. 305

kesiswaan yakni mengatur kegiatan- kegiatan peserta didik agar menunjang proses pembelajaran di sekolah sehingga proses pembelajaran berjalan lancar, tertib, teratur, dan dapat memberikan kontribusi bagi pencapaian tujuan pembelajaran di sekolah secara efektif dan efisien, maka sekolah akan mengalami kesulitan untuk mencapai mutu pendidikan bila prilaku agresif siswa tersebut menjadi masalah yang mengganggu dalam menciptakan kondisi pembelajaran yang ideal.

Atas dasar ini pula peneliti tertarik melakukan penelitian terkait dengan bagaimana sekolah melakukan layanan dan pengaturan terhadap seluruh aktivitas siswa secara efektif agar mendukung pencapaian tujuan pendidikan baik tujuan nasional, tujuan kurikuler, tujuan institusional, dan tujuan instruksional. Oleh karena itu sekolah sebagai sebuah sistem harus memiliki mekanisme yang mampu mengatur dan mengoptimalkan berbagai komponen dan sumber daya pendidikan yang ada.

Salah satu aktivitas dalam manajemen penyelenggaraan sebuah lembaga pendidikan adalah manajemen kesiswaan.