• Tidak ada hasil yang ditemukan

Richard West dan Lynn H. Turner, 2009.

Pengantar Teori Komunikasi, Analisis dan Aplikasi. Terj. Maria Natalia Damayanti Maer, Jakarta:

Salemba Humanika.

Subiantoro, Slamet. 2010. Antropologi Seni Rupa: Teori, Metode &

Contoh Telaah Analitis. Surakar- ta: UNS Press.

Sobur, Alex. 2003. Semiotika Komunika- si, Bandung: Remaja Rosdakarya.

Sobary, Mohamad. 2016. Perlawanan Politik dan Puitik Petani Temba- kau Temanggung, Jakarta: KPG.

T. Craig, Robert dan Heidi L. Muller, 2007. Theorizing Communica- tion, Readings Across Traditions, USA: Sage Publications.

Wirawan. 2010. Konflik dan Manajemen Konflik: Teori, Aplikasi, dan Pe- nelitian. Jakarta: Salemba Huma- nika.

PENINGKATAN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA MELALUI- PEMBELAJARAN

CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)

Indah Wigati1, Riri Novita Sunarti2, Okta Rumaini3*

13Prodi Pendidikan Biologi Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Raden Fatah Palembang

2Prodi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang

Email: [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini berjudulpeningkatan kemampuan berfikir kritis melalui model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL). bertujuan untuk mengetahui adanya peningakatan keterampilan berpikir kritis melalui model pembelajaran Contex- tual Teaching And Learning (CTL). Desain penelitian ini menggunakan nonequivalent control group designdengan metode quasi experimental design. Pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan dengan teknik purposive sampling. Sampel penelitian ber- jumlah 48 siswa yang terdiri dari kelas kontrol dan eksperimen. Berdasarkan hasil dari tes kemampuan berpikir kritis siswa menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) lebih baik dari pada model pembelajaran Direct Intruction. Hal ini dapat dilihat dari hasil uji hipo- tesis akhir (uji t), diperoleh yaitu 3,802 > 1,679 dengan sig 0,000< 0,05, maka Ha dite- rima dan H0 ditolak. Hasil analisis skor rata-rata ketuntasan indikator kemampuan ber- pikir kritis siswa kelas eksperimen mencapai 91,45% berkriteria sangat tinggi sedang- kan kemampuan berpikir kritis siswa di kelas kontrol 88,07% berkriteria sangat baik artinya kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen lebih tinggi daripada ke- mampuan berpikir kritis siswa kelas kontrol. Maka, dapat ditarik kesimpulan bahwa model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL)dapat meningkatkan ke- mampuan berpikir kritis siswa.

Kata Kunci:Contextual Teaching and Learning (CTL); Kemampuan Berpikir Kritis ABSTRACT

This research entitled the increasing of Contextual Teaching and Learning (CTL) learning model on students' critical thinking skill. This study to find out the im- provement of critical thinking skills through the Contextual Teaching And Learning (CTL) learning model to students. The research design that is used in this study none- quivalent control group designwhich has quasi experimental design.Sampling in this research is by purposive sampling technique. The sample of the study consisted of 48

stdents consisting of control and experimental class. Based on the results of the students' critical thinking skills test, the learning implementation using Contextual Teaching and Learning (CTL) learning model is better than Direct instruction model. This can be seen from the results of the final hypothesis test (t test), that is 3.802> 1.679 which sig result 0,000 <0,05, then Ha accepted and H0 rejected. The result of analysis of the aver- age score of mastery of the criteria of critical thinking skill of the experimental class reaches 91.45% very high criterion while the critical thinking skill of the students in the control class 88.07% is very good criteria meaning the students' experimental attitude is higher than the control class. Thus, it can be concluded that the model of contextual teaching and learning (CTL) take effect students' critical thinking skills.

Keywords: Contextual Teaching and Learning (CTL); Critical Thinking Skill.

PENDAHULUAN

Dalam sebuah proses

pembelajaran siswa seharusnya didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. kemampuan berpikir kritis dapat dikembangkan melalui pembelajaran yang bersifat student- centered, yaitu pembelajaran yang berpusat pada siswa (Susanto, 2013).

Oleh karena itu program pendidikan yang dikembangkan perlu menekankan pada pengembangan kemampuan berpi- kir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif yang harus dimiliki siswa (Prase- tiyo dan Lailatul, 2014).

Menurut Susanto (2013), berpikir kritis adalah suatu kegiatan melalui cara berpikir tentang ide atau gagasan yang berhubung dengan konsep yang diberi- kan atau masalah yang dipaparkan. Ber- pikir kritis juga dapat dipahami sebagai kegiatan menganalisis idea atau gagasan ke arah yang lebih spesifik, membeda-

kannya secara tajam, memilih, mengi- dentifikasi, mengkaji, dan mengembang- kannya ke arah yang lebih sempurna.

SMA Negeri 2 Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir merupakan salah satu SMA Negeri yang ada di Kecama- tan Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir.

Pada hari Rabu tanggal 23 November 2016 dilakukan wawancara dan observa- si guru dan siswa mengenai proses pem- belajaran Biologi di kelas X SMA Nege- ri 2 Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir.

Sekolah ini dipilih karena sebagian nilai siswa belum memenuhi KKM. Sekitar 50% siswa belum memenuhi standar KKM disekolah dimana standar KKM mata pelajaran Biologi 75.

Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan, diketahui bahwa dalam proses belajar mengajar sebagian besar siswa tidak begitu tertarik belajar Biolo- gi. Guru Biologi belum cukup kreatif dalam membelajarkan Biologi, misalnya

guru masih banyak belum menerapkan model-model dan metode-metode pem- belajaran. Salah satunya model pembela- jaran kontekstual yang belum diterapkan dalam proses pembelajaran dan media yang belum memadai dan belum maksi- malnya ketersediaan laboratorium Bi- ologi. Tingkat berpikir kritis siswa yang diamati melalui siswaterlihat kurang ak- tif dalam mengungkapkan pendapat, be- lum banyak mengungkapkan saran atau pertanyaan, kurang mampu menjelaskan permasalahan, belum mampu menjawab pertanyaan ketika ditanya oleh guru.

Dari hasil Observasi mengenai pembelajaran di dalam kelas X SMA Negeri 2 Muara Kuang Kabupaten Ogan Ilir menunjukkan bahwa pada proses ke- giatan pembelajaran masih perlu diting- katkan meliputi keterlibatan siswa dalam mencari informasi yang luas mengenai materi pembelajaran. Kemudian saat pe- laksanaan pembelajaran siswa masih ba- nyak yang tidak fokus, kurang aktif da- lam mencari informasi mengenai materi pembelajaran.

Maka berdasarkan permasalahan tersebut bahwa dalam proses pembelaja- ran Biologi untuk mampu menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif dalam diri peserta didik, dibutuhkan suatu metode pembelajaran yang menarik tidak mem-

bosankan dan mampu memberikan pen- galaman langsung pada siswa.

Proses belajar mengajar terdapat beberapa metode yang dapat merangsang kreativitas dan minat siswa terhadap pe- lajaran, salah satunya dengan pembelaja- ran menggunakanpendekatan Konteks- tual. Pembelajaran kontekstual (contex- tual-teaching learning/CTL) adalah sua- tu model pembelajaran holistik yang mendorong siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelaja- rinya dengan mengkaitkan materi terse- but dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan kultural) sehingga siswa memiliki pen- getahuan atau keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan atau konteks ke permasalahan atau konteks lainnya (Rusman, 2014).

Salah satu materi Biologi kelas X yang menumbuhkan kemampuan berpi- kir kritis siswa yaitu mengenai Fungi.

Materi tentang Fungi merupakan salah satu materi pokok yang erat kaitannya dalam kehidupan sehari-hari peserta di- dik. Pada materi tersebut siswa di tuntut untuk mengamati lingkungan disekitar.

Pada materi Fungi adanya keterkaitan dengan penerapan model pembelajaran kontekstual dimana siswa akan mudah

menemukan jamur di lingkungan seki- tarnya. Berdasarkan latar belakang terse- but, maka perlu dilakukan penelitian ini.

Keterbaharuan dalam penelitian adalah mengetahui bahwa indikator kete- rampilan berpikir kritis (KBK) yang pal- ing tinggi untuk materi fungi adalah Evaluation, Inference, dan Self Regula- tionmelalui model pembelajaran contex- tual teaching learning (CTL)..

KAJIAN TEORITIK

Menurut Rusman (2014), ada tu- juh komponen pembelajaran kontekstual (CTL) yang harus dikembangkan oleh guru, yaitu:

a. Konstruktivisme

Konstruktivisme merupakan landasan berpikir dalam CTL, yaitu bahwa pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya di- perluas melalui konteks yang terbatas.

Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Oleh kare- na itu, dalam CTL strategi untuk membelajarkan siswa menghubung- kan antara setiap konsep dengan ke- nyataan merupakan unsur yang di- utamakan dibandingkan dengan pe- nekanan terhadap seberapa banyak

pengetahuan yang harus diingat oleh siswa.

b. Menemukan (Inquiry)

Menemukan merupakan kegiatan inti dari CTL, melalui upaya menemukan akan memberikan penegasan bahwa pengetahuan dan keterampilan serta kemampuan-kemampuan lain yang diperlukan bukan merupakan hasil da- ri mengingat seperangkat fakta-fakta, tetapi merupakan hasil menemukan sendiri.

c. Bertanya (Questioning)

Unsur lain yang menjadi karakteristik utama CTL adalah kemampuan dan kebiasaan untuk bertanya. Melalui penerapan bertanya, pembelajaran akan lebih hidup, akan mendorong proses dan hasil pembelajaran yang lebih luas dan mendalam, dan akan banyak ditemukan unsur-unsur terkait yang sebelumnya tidak terpikirkan baik oleh guru maupun oleh siswa.

Menurut Kunandar (2011), kegiatan bertanya dalam pembelajaran berguna untuk:

1) Menggali informasi, baik admini- strasi maupun akademis;

2) Mengecek pemahaman siswa;

3) Memecahkan persoalan yang diha- dapi;

4) Membangkitkan respons kepada siswa;

5) Mengetahui sejauh mana keingin- tahuan siswa;

6) Mengetahui hal-hal yang sudah di- ketahui siswa;

7) Memfokuskan perhatian siswa pa- da sesuatu yang dikehendski guru;

8) Membangkitkan lebih banyak lagi pertanyaan dari siswa;

9) Menyegarkan kembali pengeta- huan siswa.

d. Masyarakat belajar (Learning Com- munity)

Maksud dari masyarakat belajar ada- lah membiasakan siswa untuk mela- kukan kerja sama dan memanfaatkan sumber belajar dari teman-teman be- lajarnya.

e. Pemodelan (Modeling)

Pemodelan artinya dalam sebuah pembelajaran keterampilan atau pen- getahuan tertentu, ada model yang bi- sa ditiru. Pemodelan pada dasarnya membahasakan gagasan yang dipikir- kan, mendemonstrasikan bagaimana guru menginginkan para siswanya un- tuk belajar, dan melakukan apa yang diinginkan guru agar siswa-siswanya melakukan.pemodelan dapat berben- tuk demonstrasi, pemberian contoh tentang konsep atau aktivitas belajar.

Dengan kata lain, model itu bisa be- rupa cara mengoperasikan sesuatu, cara melempar bola dalam olahraga, contoh karya tulis, cara melafalkan bahasa Inggris, dan sebagainya. Atau guru member contoh cara mengerja- kan sesuatu. Dengan begitu, guru member model tentang ―bagaimana cara belajar‖ (Kunandar, 2011).

Dalam pembelajaran kontekstual, guru bukan satu-satunya mod- el.Model dapat dirancag dengan me- libatkan siswa. Seorang siswa bisa di- tunjuk untuk member contoh teman- nya cara melafalkan suatu kata. Jika kebetulan ada siswa yang pernah memenagkan lomba baca puisi atau memenangkan kontes berbahasa Inggris, siswa itu dapat ditunjuk un- tuk mendemonstrasikan keahlian- nya.Siswa ―contoh‖ tersebut dikata- kan sebagai model. Siswa lain dapat menggunakan model tersebut sebagai

―standar‖ kompetensi yang harus di- capainya (Kunandar, 2011).

f. Refleksi (Reflection)

Refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru terjadi atau baru saja dipelajari. Dengan kata lain refleksi adalah berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di ma- sa lalu, siswa mengendapkan apa

yang baru dipelajarinya sebagai struk- tur pengetahuan yang baru yang me- rupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Pada saat refleksi, siswa diberi kesempatan un- tuk mencerna, menimbang, memban- dingkan, menghayati, dan melakukan diskusi dengan dirinya sediri.

Menurut Kunandar (2011), pada akhir pembelajaran, guru menyisihkan wak- tu sejenak agar siswa melakukan ref- leksi. Perwujudannya dapat beru- pa:Pernyataan langsung tentang apa- apa yang diperolehnya hari

itu;Catatan atau jurnal di buku sis- wa;Kesan dan saran siswa mengenai pembelajaran hari itu;Diskusi;Hasil karya.

g. Penilaian Sebenarnya (Authentic As- sessment)

Tahap terakhir dari pembelajaran kontekstual adalah melakukan peni- laian. Penilaian sebagai bagian integral dari pembelajaran memilki fungsi yang amat menentukan untuk mendapatkan informasi kualitas pros- es dan hasil pembelajaran melalui pe- nerapan CTL.

Tabel Indikator Berpikir Kritis Menurut Facione (Sumber: Facione, 2013)

No

Indikator Ke- mampuan Berpikir Kritis

Deskripsi Indikator Sub skill

1 Interpretasi Untuk memahami dan mengekspresi- kan makna atau makna yang luas, berbagai pengalaman, situasi, data, kejadian, penilaian, konvensi, keya- kinan, peraturan, prosedur, atau kri- teria

a. Mengkatagorikan b. Menentukan kalimat c. Mengklarifikasikan makna

2 Analysis (anali- sis)

Untuk mengidentifikasi hubungan inferensial yang diinginkan dan ak- tual di antara pertanyaan, konsep, deskripsi, atau bentuk lainnya yang dimaksudkan untuk mengungkapkan keyakinan, penilaian, pengalaman,

a. Menguji ide

b. Mengidentifikasikan ar- gumen

c. Menganalisis argumen

alasan, informasi, atau pendapat 3 Interference

(kesimpulan)

Mengidentifikasi suatu permasalahan untuk menarik kesimpulan yang ma- suk akal; membentuk dugaan dan hipotesis; mempertimbangkan in- formasi yang relevan dan untuk mengurangi konsekuensi yang men- galir dari data, pernyataan, prinsip, bukti, penilaian, keyakinan, penda- pat, konsep, deskripsi, pertanyaan, atau bentuk representasi lainnya.

a. Mencari bukti b. Memilah alternatif

c. Menggambarkan kesimpu- lan

4 Evaluation (eva- luasi)

Untuk menilai kredibilitas pernya- taan atau representasi lainnya yaitu deskripsi persepsi, pengalaman, situ- asi, penilaian, kepercayaan, atau pendapat; dan untuk menilai kekua- tan logis yang sebenarnya atau hu- bungan inferensial yang diharapkan antara pernyataan, deskripsi,

pertanyaan, atau bentuk representasi lainnya

a. Penilaian klaim b. Penilaian argumen

5 Explanation (menjelaskan)

Untuk menyatakan dan membenar- kan alasan bahwa dalam hal bukti, mempertimbangkan konseptual, me- todologi, dan kontekstual dimana hasil seseorang didasarkan; dan un- tuk menyajikan penalaran seseorang dalam bentuk argumen yang meya- kinkan

a. Menyatakan hasil b. Menemukan prosedur c. Mempresentasikan argu-

men

6 Self Regulation (regulasi diri)

Untuk memantau kegiatan kognitif seseorang, unsur-unsur yang diguna- kan dalam kegiatan-kegiatan, teru-

a. Menguji diri b. Mengkoreksi diri

tama dengan menerapkan keterampi- lan dalam analisis, dan evaluasi un- tuk penilaian yang disimpulkan oleh diri sendiri dengan maksud arah per- tanyaan, mengkonfirmasikan, mem- validasi, atau mengoreksi baik pena- laran seseorang atau hasil seseorang.

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat Penelitian