yang diterapkan oleh Yayasan Pondok Pesantren Darul Falah dapat diterapkan untuk tahun pelajaran 2022/2023.
keputusan tetap dijalankan dan semua anggota anggota lembaga saling dukung mendukung demi mencapai tujuan lembaga.
Menurut analisis peneliti, jika dikatikan dengan berbagai jenis manajamen perubahan yang telah dipaparkan dalam kajian teori sebelumnya, maka proses perencanaan yang telah dilakukan oleh MA dan SMK Darul Falah Sukorejo sudah tepat. Yang dilakukan oleh kedua lembaga tersebut dapat dijadikan sebagai cerminan serta panutan bagi lembaga lain yang mungkin ingin mengadopsi manajemen perubahan. Adapun strategi dalam proses perencanaan yang dilakukan oleh MA dan SMK Darul Falah Ponorogo dapat dipaparkan sebagai berikut:
1. Identifikasi Perubahan a. Mengenal Perubahan
Mengacu pada pendapat utama dari Ustadz Dedik, maka terdapat alasan bahwa perubahan dilakukan untuk: 1) penyamaan standar dari keterampilan keagamaan, MA dan SMK Darul Falah merupakan lembaga di bawah naungan Pondok Pesantren, maka seharusnya bisa dan mampu dalam hal Alqur’an Hadits, Fikih, Akidah Akhlak, dan Bahasa Arab; 2) antisipasi polarisasi,
Ustadz Dedik melakukan srvey lapangan kepada siswa yang menjadi pengurus pondok dari kedua lembaga. Dan menurut sumber Ustadz Dedik, mereka saling berebut pengaruh siswa jenjang bawahnya atau siswa MTs Darul Falah Ponorogo; 3) efisiensi sarana dan manusia, ruang kelas dan guru yang terdapat di MA dan SMK Darul Falah masih dalam tahap cukup dengan syarat subsidi silang. Di beberapa mata pelajaran yang sama, ustadz- ustadzahnya pun sama. Ruang kelas pun beberapa kali disinyalir pernah bergantian.
Didasarkan pada teori Wibowo dalam bukunya yang berjudul Pengantar Manajemen Perubahan, maka alasan tersebut di atas dapat dibagi menjadi dua, yakni faktor internal dan eksternal.
Kedua faktor tersebut menjadi pendorong untuk perlunya perubahan. Adapun faktor yang penulis maksud adalah 19
1) Faktor internalnya, perubahan yang dilakukan oleh MA dan SMK Darul Falah Sukorejo Ponorogo termasuk ke dalam perubahan system
19 Wibowo, Managing Change (Pengantar Manajemen Perubahan) (Bandung: Alfa Beta, 2006), 53
administrasi dimaksudkan demi efisiensi tenaga pendidik dan kependidikan karena kedua lembaga secara pembelajaran dijadikan menjadi satu, merubah citra sekolah karena sebelumnya SMK yang identik dengan skill komputasi dan keperawatan juga mampu dalam hal ibadah, serta untuk mendapatkan20 kekuasaan dalam organisasi, manajemen perubahan harus ada yang memimpin, dan ini dilakukan oleh Ustadz Dedik Widianto. Kemudian ada perubahan system administrasi yang diharakan agar kedua lembaga menjadi lebih kompetitif.
2) Faktor Eksternal, Faktor ini cenderung merupakan kekuatan yang mendorong terjadinya suatu perubahan. Faktor ini merupakan faktor pendorong sebagai kekuatan yang bersumber dari luar lembaga, sehingga relatif tidak dapat dikendalikan. Didalam lingkungan eksternal ini terdapat banyak kekuatan, tetapi boleh dikatakan kekuatan- kekuatan utama berupa teknologi, komputer,
20 Winardi, Manajemen Perubahan Manajemen of change, (Bandung: Kencana, 2004), 71.
persaingan global dan okal dan faktor-faktor demografi. Di masyarakat pada umumnya sudah terpatri bahwa lulusan pondok pesantren harus bisa semua hal yang terkait dengan ritual ibadah, sehingga hal ini juga yang diharapkan pemimpin perubahan dapat diatasi.
b. Tipe Perubahan
Ahmad Rusdiana dan Asep Saefullah menyatakan tipe perubahan dalam manajemen perubahan ini meliputi delapan area perubahan, yaitu: perubahan budaya dan pola pikir (culture set dan mindset), organisasi, proses kerja sumber daya manusia (SDM), regulasi, pengawasan, akuntabilitas, dan pelayanan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat berikut:21
1) Budaya dan pola pikir, birokrasi yang berintrograsi dan berkinerja tinggi;
2) Organisasi, yang tepat ukuran dan fungsinya;
3) Proses Kerja, proses kerja yang jelas, efektif, efisien, terukur, yang menunjang prinsip good governace;
21 Asep Saefullah dan Ahmad Rusdiana, Manajemen Perubahan
(Bandung: Pustaka Setia, tt) 37
4) SDM, aparatur yang memiliki integritas, netral, kompeten, mampum professional, kinerja tinggi, dan sejahtera;
5) Regulasi, kondusif, tepat, serta tidak tumpang tindih;
6) Pengawasan, peningkatan kebersihan kinerja pegawai agar bersih dari KKN;
7) Akuntabilitas, demi meningkatkan kinerja birokrasi dalam organisasi;
8) Pelayanan publik, demi terpenuhinya kepuasan publik.
MA dan SMK Darul Falah Sukorejo Ponorogo merupakan organisasi yang bergerak di bidang jasa pendidikan. Jika mengacu tipe perubahan menurut Ahmad Rusdiana dan Asep Saefullah tersebut, maka yang terjadi adalah perubahan regulasi, kondusif, tepat, serta tidak tumpang tindih demi terpenuhinya kepuasan siswa dan pengguna siswa nantinya.
Menurut Winardi, menyatakan bahwa ada tiga bentuk cara untuk menganalisis area manajemen perubahan keorganisasian atau lembaga pendidikan berdasar jumlah subjeknya, yakni perubahan individu, perubahan kelompok, dan perubahan
organisasi.22 Sedangkan yang terjadi di MA serta SMK Darul Falah Ponorogo ini menurut pengamatan peneliti adalah perubahan versi organisasi. Secara teknikal, istilah pengembangan organisasi berkaitan dengan setiap perubahan yang direncanakan, di setiap organisasi. Masing-masing organisasi ini berubah, sesuai tahapan perencanaan yang telah disepakati bersama. Selain itu perubahan yang terjadi mempengaruhi sumber daya manausia, sarana prasarana, serta iklim belajar di kedua lembaga.
Tipe perubahan berdasar sifat perubahannya menurut Purnama dan Zulkieflimansyah ada lima, yakni: 1) tidak ada perubahan karena sama dengan strategi sebelumnya; 2) perubahan rutin, semua sama hanya berbeda strategi semisal dalam hal pemasaran;
3) perubahan inovatif, benar-benar menawarkan produk baru dengan disertai perubahan format organisasi; 4) perubahan radikal, bersatunya dua organisasi dalam industri yang sama; 5) Pengalihan organisasi, ini dilakukan ketika lembaga atau perusahaan yang sama sekali berbeda bidang industri
22 Winardi, Manajemen Perubahan, (Jakarta: Pranada Media, 2005), 89.
melebur menjadi satu.23 Jika didasarkan pada teroi ini, maka MA dan SMK Darul Falah berada dalam dua tipe sekaligus, perubahan radikal karena mengintegrasikan dua institusi yang masih dalam satu industri sama. Selanjutnya adalah perubahan inovatid, karena menghasilkan produk siswa baru, siswa SMK yang juga mumpuni dalam mata pelajaran Bahasa Arab, Qur’an Hadits, Akhlak, serta Fiqh.
Integrasi dua lembaga baru tidak hanya berakibat kepada diperolehnya sebuah produk yang baru, tetapi juga mengonfrontasikan masalah- masalah hukum, kompleksitas pengembangan struktur organisasi baru dan sering kali untuk menggabungkan keyakinan dan nilai-nilai organisasi yang terkadang meskipun bertentangan.
2. Perencanaan Perubahan
Peneliti berusaha untuk melakukan analisis terkait perencanaan perubahan yang berisi tentang diagnostik situasional, pemilihan strategi, hingga akhirnya membuat keputusan.
23 Purnomo & Zulkieflimansyah, Manajemen Strategi, (Indonesia:
Fakultas Ekonomi Univesitas Indonesia, 2005), 88.
a. Diagnostik Situasional
Maksudnya adalah penentuan tentang keadaan organisasi saat ini dari segi penataan pemangku kebijakan, identifikasi penolakan, besaran perubahan yang ingin dilakukan, dan terakhir adalah asesmen atau uji kesiapan organisasi.
1) Struktur dan isi kurikulum, Memadukan dua kurikulum yang berbeda seperti kurikulum MA dan kurikulum SMK Darul Falah tentu tidak mudah. Namun, di sini diperlukan upaya untuk menemukan titik temu antara kedua kurikulum agar dapat menciptakan kurikulum yang terintegrasi dan efektif. Para pemangku kepentingan menyebutkan bahwa perlu dilakukan analisis menyeluruh terhadap masing-masing kurikulum untuk mengetahui perbedaan dan kesamaan di antara keduanya.
Selain itu, perlu juga dilakukan evaluasi terhadap materi pembelajaran yang ada untuk mengetahui apakah materi tersebut masih relevan atau perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan perkembangan masa depan.
2) Kebutuhan Lembaga, MA dan SMK Darul Falah berada di bawah naungan Yayasan Pondok Pesantren Darul Falah Sukorejo Ponorogo yang tentunya memiliki beberapa pemangku kepentingan. Para guru harus berada di bawah wewenang kepala lembaga, sementara kepala lembaga berada di bawah kuasa yayasan. Maka dari itu dalam manajemen perubahan yang signifikan, maka penting untuk diketahui oleh pemangku yang berkepentingan. Dari wawancara serta dokumentasi yang dilakukan, peneliti membagi menjadi tiga kelompok pemangku kepentingan: a) utama, pemangku kepentingan yang memiliki kaitan langsung dengan kebijakan, program, dan atua proyek. Menurut peneliti, yang menjadi bagian ini adalah Wakil Kepala bidang Kurikulum MA dan SMK Darul Falah. Ustadzah Daniar Alviana dan Ustadz Edi adalah dua orang yang memiliki kepentingan langsung dalam manajemen perubahan ini, karena yang berubah secara signifikan adalah kurikulum; b) pendukung,
yang termasuk dalam pihak ini adalah pihak yang tidak memiliki kaitan secara langsung terhadpa suatu kebijakan, namun memiliki kepedulian dan keprihatinan sehingga mereka turut bersuara dan berpengaruh terhadap pihak yang terdampak. Pihak ini, yang berperan sebagai pemangku kepentingan pendukung ini adalah bagian BK atau Bimbingan Konseling, mereka tidak ikut dalam perumusan suatu kebijakan namun memiliki kepedulian tinggi terhadap para siswa dan guru sebagai yang terdampak dari kebijakan; c) kunci, orang atau pemegang jabatan ini adalah Ustadz Dedik Widianto itu sendiri, beliau mempunyai kewenangan secara formal dalam pengambilan keputusan.
3) Tentang penolakan atau resistensi, pada wawancara disebutkan terdapat satu guru dari masing-masing lembaga yang melakukan penolakan. Dari pihak MA tidak jelas siapa yang melakukan protes atau penolakan, namun intinya tidak setuju dengan kebijakan ini karena akan terjadi penurunan standar
pembelajaran di MA Darul Falah. Di pihak SMK juga terjadi demikian, Ustadz Ekhsan mengaku telah mencari referensi atau sumber belajar dan melakukan pemesanan, namun gagal karena adanya kebijakan integrasi kurikulum ini. Menurut Permenpan Tahun 2011 No 10 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Perubahan, penolakan yang dilakukan oleh kedua guru tersebut merupakan penolakan secara pasif dan idividual. Resistensi tidak berpengaruh terlalu besar, karena individu yang melakukan penolakan tidak menjabat dalam pemangku kebijakan utama maupun kunci. Selain itu juga tidak ada gejala tertentu semisal ketidakhadiran dalam rapat, tidak memenuhi komitmen, atau malah produktivitas menurun.
Sehingga peneliti menggolongkan dua resistensi tersebut sebagai floating voter, tingkat mendukung dan tingkat resistensi sama tinggi, tidak konsisten, waktu dukungan terhadap perubahan dan resistensi dapat berubah sewaktu-waktu;
4) Tantangan dan peluang, berdasar beberapa deskripsi data sebelumnya, terdapat beberapa hal tentang integrasi kurikulum antara MA dan SMk Darul Falah ini, yakni sebagai berikut:
a) Tantangan, kedua sekolah memiliki karakteristik dan fokus pembelajaran yang berbeda, sehingga perlu adanya upaya untuk mengintegrasikan struktur kurikulum dan metode pengajaran yang berbeda agar dapat menciptakan kurikulum yang efektif dan terpadu. enggabungan kurikulum akan menimbulkan tuntutan terhadap ketersediaan sumber daya dan tenaga pengajar yang memadai. Hal ini dapat menjadi tantangan apabila terdapat keterbatasan sumber daya dan tenaga pengajar yang tersedia. nggabungan kurikulum memerlukan adanya adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan bagi siswa, guru, dan staf sekolah agar dapat mengikuti perubahan dan memenuhi tuntutan kurikulum baru.
b) Peluang, penggabungan kurikulum dapat memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas dan variasi pembelajaran, dengan menggabungkan kelebihan-kelebihan dari kedua kurikulum yang diintegrasikan.
nggabungan kurikulum dapat memberikan peluang untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi siswa, dengan memberikan materi pembelajaran yang lebih variatif dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
nggabungan kurikulum dapat memberikan peluang untuk meningkatkan sinergi antara sekolah dan dunia kerja, dengan mengintegrasikan kebutuhan dunia kerja dalam kurikulum pembelajaran.
Berdasarkan diagnostik situasional yang telah dilakukan terhadap penggabungan kurikulum antara MA dan SMK, diperoleh beberapa temuan yang perlu diperhatikan dalam proses penggabungan kurikulum tersebut. Temuan tersebut meliputi diperlukannya upaya untuk mengintegrasikan struktur dan isi kurikulum dari kedua sekolah agar tercipta kurikulum yang
terpadu dan efektif. Diperlukan upaya untuk memastikan ketersediaan sumber daya dan tenaga pengajar yang memadai dalam penggabungan kurikulum. Siswa, guru, dan staf sekolah perlu melakukan adaptasi dan pembelajaran berkelanjutan agar dapat mengikuti perubahan dan memenuhi tuntutan kurikulum baru.
Penggabungan kurikulum dapat memberikan peluang untuk meningkatkan kualitas dan variasi pembelajaran, dengan menggabungkan kelebihan- kelebihan dari kedua kurikulum yang diintegrasikan. Penggabungan kurikulum dapat memberikan peluang untuk meningkatkan keterampilan dan kompetensi siswa, dengan memberikan materi pembelajaran yang lebih variatif dan sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.
Penggabungan kurikulum dapat memberikan peluang untuk meningkatkan sinergi antara sekolah dan dunia kerja, dengan mengintegrasikan kebutuhan dunia kerja dalam kurikulum pembelajaran.
Dalam mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang tersebut, perlu dilakukan
perencanaan dan pengelolaan yang baik.
Kurikulum yang terintegrasi dan efektif akan memberikan manfaat bagi siswa dan sekolah dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa untuk menghadapi tantangan masa depan.
b. Memilih Strategi
MA dan SMK Darul Falah dalam melakukan pemilihan strategi, jika berdasar pada deskripsi data sebelumnya, maka peneliti simpulkan sebagai berikut:
1) Analisis kebutuhan, dilakukan untuk memahami kebutuhan siswa dan dunia kerja namun tidak melupakan hal-hal yang bersifat kepesantrenan. Hal ini akan membantu dalam menentukan isi dan struktur kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan dunia kerja, serta mentalitas dari siswa.
2) Analisis SWOT (Strengths, Weaknesses, Opportunities, Threats) dilakukan untuk memahami kekuatan, kelemahan, peluang, dan tantangan dalam penggabungan kurikulum antara MA dan SMK Darul Falah.
Analisis ini akan membantu dalam mengidentifikasi faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan strategi.
3) Analisis stakeholder, dilakukan untuk memahami kepentingan dan harapan stakeholder yang terkait dengan penggabungan kurikulum antara MA dan SMK Darul Falah, seperti siswa, guru, staf sekolah, orang tua, dan dunia kerja. Analisis ini akan membantu dalam mengidentifikasi kebutuhan stakeholder dan memastikan partisipasi mereka dalam proses penggabungan kurikulum.
Dari hasil analisis tersebut, strategi dapat dikembangkan dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa dan dunia kerja, kekuatan dan kelemahan kurikulum yang digabungkan, peraturan dan kebijakan pendidikan yang berlaku, serta kepentingan dan harapan stakeholder.
Strategi tersebut dapat meliputi pengembangan kurikulum terpadu yang mencakup materi-materi dari kedua kurikulum, pengembangan modul
pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan siswa, pelatihan dan pengembangan keterampilan guru, pengembangan kemitraan dengan dunia kerja, dan pengembangan sistem evaluasi yang sesuai.
Berikut adalah beberapa strategi yang penulis analisis dari deskripsi data tentang manajemen perubahan dalam integrasi kurikulum di MA dan SMK Darul Falah Sukorejo:
1) Pengembangan kurikulum, yang mencakup materi-materi dari kedua kurikulum dapat menjadi strategi yang efektif dalam penggabungan kurikulum antara MA dan SMK Darul Falah. Hal ini dapat membantu mengintegrasikan pembelajaran antara keduanya dan memastikan bahwa siswa memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja dan akademis serta kepesantrenan. Harapan akhirnya adalah membantu siswa dalam memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang lebih baik;
2) Diklat guru dan staf, Hal ini dapat membantu guru dalam memahami kurikulum yang baru dan membantu mereka dalam menyusun strategi pembelajaran yang efektif. Terbukti dengan adanya tim kurikulum dari Yayasan Darul Falah yang diebntuk untuk membantu atau mengiringi perubahan ini terjadi;
3) Pengembangan sistem evaluasi yang sesuai Pengembangan sistem evaluasi yang sesuai dapat membantu dalam memantau kemajuan siswa dalam memahami kurikulum yang baru.
Tidak hanya menggunakan kertas dan komputer, MA dan SMK Darul Falah telah beberapa kali melaksanakan evaluasi pembelajaran berbasis unjuk kerja, jualan, pentas, dan semacamnya;
4) Pengembangan kemitraan dengan dunia kerja, kemitraan dengan perusahaan-perusahaan dapat membantu siswa dalam memperoleh pengalaman kerja yang berharga dan membantu mereka dalam mempersiapkan diri untuk karir di masa depan. Karena kurikulumnya terpadu, maka kegiatan
tambahan atau ekstrakurikulernya terpadu, dan semua bermitra dengan pihak eksternal.
Semisal bekerja sama dengan Balai Pelatihan Kerja, Studio Foto, dan penjahit.
Penggabungan dua kurikulum yang berbeda antara MA dan SMK memerlukan strategi yang tepat untuk mencapai tujuan dan memenuhi kebutuhan stakeholder. Pengintegrasian kurikulum, kolaborasi antara guru, pelatihan dan dukungan untuk pengajar, kemitraan industri, dan program pembinaan karir dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan dan menciptakan peluang dalam penggabungan dua kurikulum yang berbeda tersebut.
c. Keputusan Pemilihan
Dalam pemilihan strategi, perlu dilakukan analisis mendalam terhadap situasi dan kondisi penggabungan kurikulum antara MA dan SMK Darul Falah. Berikut ini adalah konsep pemilihan strategi atau pengambilan keputusan yang dilakukan oleh pihak mereka:
1) Pertimbangan tujuan penggabungan kurikulum, Pemilihan strategi harus selalu berorientasi
pada tujuan penggabungan kurikulum yang ingin dicapai. Misalnya, jika tujuannya adalah meningkatkan kualitas pendidikan dan mempersiapkan siswa untuk dunia kerja, strategi yang dipilih harus mendukung hal tersebut.
2) Identifikasi kebutuhan stakeholder: Kebutuhan stakeholder yang terlibat dalam penggabungan kurikulum harus dipahami dengan baik. Hal ini akan membantu dalam memilih strategi yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Misalnya, jika industri lokal membutuhkan lulusan yang memiliki keterampilan teknis tertentu, maka pengembangan kurikulum yang sesuai harus menjadi prioritas.
3) Analisis situasi dan kondisi: Situasi dan kondisi yang ada harus dianalisis dengan baik sebelum memilih strategi. Hal ini meliputi analisis terhadap kurikulum yang ada di masing-masing sekolah, kelebihan dan kekurangan dari kurikulum tersebut, dan tantangan yang mungkin dihadapi dalam penggabungan kurikulum.
4) Evaluasi strategi alternatif: Setelah beberapa strategi dipilih, evaluasi harus dilakukan untuk menentukan strategi mana yang paling efektif dan memungkinkan dalam mencapai tujuan penggabungan kurikulum.
Dengan memperhatikan konsep pemilihan strategi tersebut, MA dan SMK Darul Falah memilih untuk melanjutkan program integrasi kurikulum.
Bagan 4.1 Alur Perencanaan Manajemen Perubahan