1. Definisi Integrasi Kurikulum
29 Mulyadi, Kepemimpinan Kepala Sekolah Madrasah (Malang;
Badan Libang dan Diklat Kementrian Agama, 2010), 45.
Definisi dasar yang ditawarkan oleh Humphreys menyatakan bahwa integrasi kurikulum adalah kurikulum di mana anak didik mengeksplorasi pengetahuan secara luas kajian bahan ajar terkait beberapa tinjauan dari lingkungannya.30 Integrasi kurikulum merupakan pendidikan dilakukan tanpa ada sekat dan mengasosiasikan berbagai aspek kurikulum fokus pada wilayah kajian yang komperhensif.31 Kurikulum melihat belajar dan mengajar secara holistik dan mencerminkan dunia interaktif yang nyata.
Secara terminologi integrasi adalah pembaharuan hingga menjadi kesatuan yang bulat dan utuh. Sedangkan istilah kurikulum berasal dari bahasa latin yakni “Curriculae”, artinya jarak yang harus ditempuh oleh seorang pelari. Pada saat itu, pengertian kurikulum adalah jangka waktu pendidikan yang harus ditempuh oleh siswa yang bertujuan untuk mendapatkan ijazah. Siswa dapat memperoleh ijazah
30 Yvonne J.John, “A ‘New’ Thematic, Integrated Curriculum for Primary Schools of Trinidad and Tobago: A Paradigm Shift,” International Journal of Higher Education 4, no. 3 (2015), https://doi.org/10.5430/ijhe.v4n3p172.
31 Donna H. Schumacher, “Five Levels of Curriculum Integration Defined, Refined, and Described,” Research in Middle Level Education, https://doi.org/10.1080/10825541.1995.11670055.
dengan cara menempuh kurikulum. Ijazah pada hakikatnya adalah bukti bahwa siswa telah bisa menempuh kurikulum yang berupa rencana pelajaran, seperti halnya seorang pelari telah menempuh suatu jarak dari satu tempat ketempat yang lain yang akhirnya menggapai finish. Dengan kata lain, kurikulum dikatakan sebagai perantara yang sangat penting dalam mencapai titik akhir dari suatu perjalanan yang ditandai oleh perolehan suatu ijazah tertentu.32
Menurut Forgarty, integarsi kurikulum merupakan suatu bentuk kurikulum yang bisa menggabungkan keterampilan, tema, konsep, dan topik secara inter dan antar disiplin atau penggabungan keduanya. Maurer juga menjelaskan integrasi kurikulum sebagai transfer pengetahuan di bawah tema integrasi atau interdisipliner. Sebagai kurikulum yang menawarkan sejumlah kemungkinan tentang kesatuan dan keterkaitan antara kegiatan sehari- hari dengan pengalaman di sekolah atau pengalaman pendidikan.33
32 Oemar Hamalik, Kurikulum dan Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2007), 16.
33 Syaifuddin Sabda, Model Kurikulum Terpadu IPTEK Dan IMTAQ (Desain, Pengembangan & Implementasi) (Ciputat: Ciputat Press Group, 2006), 44.
Glatthorn mengungkapkan, integrasi kurikulum tidak sebatas membekali peserta didik dengan gambaran menyeluruh tentang pengetahuan melalui bentuk pembelajaran dan budaya tetapi juga memberikan motivasi dan mengembangkan kompetensi peserta didik. Menurut Olivia, tugas guru dalam integrasi kurikulum, adalah “menyibukkan diri dengan masalah pengintegrasian materi pelajaran".
Dengan demikian, guru bisa menggabungkan materi dalam pembelajaran dengan lingkungan tempat tinggal siswa.34
Palmer menggambarkan dalam menerapkan integrasi kurikulum yaitu: pertama, mengembangkan sub tujuan lintas kurikulum dalam pedoman kurikulum yang ada; kedua, mengembangkan model pembelajaran yang mencakup kegiatan dan penilaian lintas kurikulum; ketiga, mengembangkan pengayaan dan peningkatan aktivitas dengan fokus lintas kurikulum yang mencakup saran "kontak" lintas kurikulum di setiap tujuan, mengembangkan kegiatan penilaian
34 Ibid., 46
lintas kurikulum, termasuk perencanaan sampel di semua panduan kurikulum.35
Integrasi kurikulum melanjutkan dengan cara- cara praktis untuk mengubah pembelajaran menjadi pengalaman kehidupan nyata yang dapat ditransfer dengan mudah ke dalam aplikasi masa depan.36 Fogarty menjelaskan bahwa, model integrasi kurikulum dikelompokkan menjadi tiga klasifikasi pengintegrasian kurikulum, sebagai berikut: pertama Integrasi dalam satu disiplin ilmu; kedua, integrasi beberapa disiplin ilmu; ketiga, integrasi campuran.37
Di Indonesia istilah “kurikulum” boleh dikatakan baru menjadi populer sejak tahun lima puluhan, yang di populerkan oleh mereka yang memperoleh pendidikan di Amerika Serikat. Kini istilah itu telah dikenal orang di luar pendidikan.
Sebelumnya yang biasa digunakan adalah “rencana pelajaran”, sebenarnya pada hakikatnya kurikulum sama-sama artinya dengan rencana pelajaran.38 Dengan
35 Ibid.
36 R Fogarty, How to Integrate the Curricula (USA: CorwinPress, 2009), 56.
37 Ibid.
38 S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum,(Jakarta : Bumi Aksara, 2006), 2.
kata lain, integrasi kurikulum adalah pembauran atau penyatuan yang terjadi antara kurikulum yang ada terhadap mata pelajaran yang terdapat di sekolah.
Dalam hal ini adalah kuirkulum yang terdapat di MA dan SMK Darul Falah Sukorejo Ponorogo.
2. Model Integrasi Kurikulum
Dalam pelaksanaannya, peneliti memilih menggunakan teori Fogarty tentang beberapa model integrasi kurikulum yaitu: Fragmented, Connected, Nested, Sequenced, Shared, Webbed, Threaded, Integrated, Immersed and Networked.39
a. Fragmented Model
Model pembelajaran tradisional yang memisah-misahkan disiplin ilmu atas beberapa mata pelajaran seperti Matematika, Sains, Ilmu Sosial, Bahasa dan Seni. Model ini mengajarkan disiplin-disiplin ilmu tersebut secara terpisah dan tanpa ada upaya untuk menghubungkan atau mengintegrasikannya. Model ini mengutamakan
39 Robert Fogarty, “Ten Ways to Integrate Curriculum,” Educational Leadership (Palestine: Skylight Publishing, Inc. 1991), 55. Yang telah diprint ulang oleh R.C Morris tahun 2003.
kemurnian disiplin ilmu tertentu. Model ini lebih cocok untuk tingkat SMA dan Universitas.
b. Connected Model
Model yang menghubungkan satu konsep dengan konsep lainnya, topik satu dengan topik yang lain, satu keterampilan dengan keterampilan yang lain, ide yang satu dengan ide lain tetapi masih dalam lingkup satu bidang studi misalnya IPA atau IPS. Penggabungan menjadi satu kesatuan ini dimaksudkan untuk mengurangi kekurangan yang terdapat dalam bentuk mata pelajaran. Dari bahan kurikulum yang terlepas- lepas diupayakan disatukan dengan bahan kurikulum atau mata pelajaran yang sejenis sehingga dapat memperkaya wawasan siswa dari disiplin ilmu. Namun kenyataan di lapangan terbukti bahwa guru-guru masih berpegang pada latar belakang pendidikannya. Umpamanya ketika seorang guru sejarah mengajarkan bidang studi IPS, dalam pelaksanaannya masih mengutamakan pelajaran sejarahnya. Daripada substansi IPS itu sendiri. Demikian pula dalam penilaiannya cenderung akan banyak mengukur atau menilai
substansi sejarahnya daripada substansi IPS nya.
Salah satu penyebabnya karena guru yang bersangkutan belum memahami prinsip-prinsip pola penggabungan mata pelajaran tersebut.40 Nantinya connected model ini lebih dikenal dengan subject model, dan terakhir berubah menjadi broadfield model.
Walaupun telah tercapai keterpaduan yang erat antara beberapa mata pelajaran (broadfield), namun sebenarnya masih bersifat subject curriculum, hanya saja jumlah pelajaran sangat dikurangi. Jadi, broadfield dapat dianggap sebagai modifikasi subject curriculum yang tradisional.
Ciri-ciri umum broadfield antara lain:
1) Kurikulum terdiri dari beberapa mata pelajaran yang masih dalam satu bidang atau sejenis;
2) Tujuan kurikuler serta tujuan intruksional telah digariskan;
3) Sistem penyampaian terpadu;
4) Guru berperan sebagai guru bidang studi;
40 Rusman, Manajemen Kurikulum, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), 64.
5) Minat, bahasan, serta kebutuhan siswa dan masyarakat dipertimbangkan sebagai dasar penyususnan kurikulum walaupun masih dalam batas tertentu.
Dengan model connected siswa lebih mudah menemukan keterkaitan karena masih dalam lingkup satu bidang studi, tetapi kurang menampakkan keterkaitan interdisiplin.
c. Nested Model
Model yang memadukan berbagai keterampilan yaitu keterampilan sosial (sosial skill), keterampilan berpikir (thinking skill) dan keterampilan isi (content-specific skill) ketika membahas suatu topik. Misalnya ketika siswa mempelajari sistem peredarah darah, targetnya adalah memahami konsep sistem. Keterampilan sosial juga dikembangkan dengan cara siswa belajar secara berkelompok. Dengan begitu keterampilan-keterampilan tadi “nested” bersama- sama sebagai pengalaman belajar siswa.
d. Sequenced Model
Model ini mata pelajaran diatur dan diurutkan secara tepat satu sama lain antara topik-
topik atau unit-unit. Materi dari dua mata pelajaran yang berhubungan dapat diurutkan untuk diajarkan secara paralel. Topik-topik itu dapat dipadukan pembelajarannya pada alokasi jam yang sama.
Pembelajaran terpadu model sequenced ini ditempuh dalam upaya mengutuhkan dan menyatukan materi-materi yang bercirikan sama dan terkait agar lebih utuh dan menyeluruh.41
e. Shared Model
Merupakan bentuk pemaduan pembelajaran akibat adanya overlapping konsep atau ide pada dua mata pelajaran, sehingga menjadi konsep yang utuh terhadap konsep-konsep yang berserakan tersebut sehingga menuntun siswa untuk membuka wawasan dan cara berpikir yang luas dan mendalam melalui pemahaman terhadap konsep lintas disiplin ilmu
41 Nurul Indana, “Penerapan Kurikulum Terintegrasi Dalam Mengembangkan Mutu Belajar Siswa (Studi Kasus Di Sma Darul ‘Ulum 1 Unggulan Bppt Jombang),” Nidhomul Haq :Jurnal Manajemen Pendidikan
Islam 3, no. 2 (2018), https://e-
journal.ikhac.ac.id/index.php/nidhomulhaq/article/view/80
f. Webbed Model
Model Webbed ini mewakili pendekatan tematik untuk memadukan materi subjek. Model ini dimulai dengan menentukan tema yang kemudian dikembangkan sub temanya dengan memperhatikan kaitannya dengan bidang studi lain. Biasanya tema yang dipilih harus tema yang
“fertil” yaitu tema yang memiliki kemungkinan keterkaiatan yang kaya dengan unsur atau konep lain. Tema yang fertil biasanya berupa pola atau siklus. Tema yang familiar membuat motivasi belajar siswa meningkat dan memberi siswa pengalaman berpikir serta bekerja interdisiplin.
Akan tetapi sulit untuk menentukan tema yang fertile. Teori iniah yang dipakai oleh peneliti untuk analisis paparan data.
g. Threaded Model
Merupakan model pemaduan kurikulum berfokus pada metakurikulum. Pembelajaran dengan model ini ditempuh dengan cara mengembangkan gagasan pokok yang merupakan
benang merah (galur) yang berasal dari konsep yang terdapat dalam berbagai disiplin ilmu.42 h. Integrated Model
Integrasi berasal dari kata integer yang berarti unit. Dengan integrasi dimaksud perpaduan, koordinasi, harmoni, kebulatan keseluruhan. Model Integrated Curriculum, dalam praktiknya menghilangkan batas-batasan mata pelajaran dengan menentukan topik bahasan untuk memecahkan permasalahan.43 Kurikulum terpadu adalah kurikulum yang menyajikan bahan pembelajaran secara unit dan keseleuruhan tanpa mengadakan batas-batas antara satu mata pelajaran dengan yang lainnya. Integrasi kurikulum menghilangkan batas-batas diberbagai mata pelajaran dan menyajikan bahan pelajaran dalam bentuk unit. Yang penting tidak hanya bentuk kurikulum ini, tetapi juga tujuannya.
Dengan kebulatan bahan pelajaran diharapkan kita membentuk anak-anak menjadi
42 Ibid.
43 Agus Zaenul Fitri, Manajemen Kurikulum Pendidikan Islam Dari Normatif-Filosofis ke Praktis, (Bandung: Alfabeta, 2013), 89.
yang integrated, yakni manusia yang sesuai atau selaras hidupnya dengan sekitarnya. Orang yang integrated hidup dan harmoni dengan lingkungannya. Kelakuannya harmonis dan ia tidak senantiasa terbentur pada situasi-situasi yang dihadapinya dalam hidupnya. Apa yang diajarkan sekolah disesuaikan dengan kehidupan anak di luar sekolah.44
Model Integrated dimulai dengan mengidentifikasi konsep, keterampilan sikap yang overlap pada beberapa bidang studi. Tema hanya berfungsi sebagai konteks pembelajaran.
Kelebihan model ini adalah hubungkan antar bidang studi jelas terlihat melalui kegiatan pembelajaran. Akan tetapi model ini menuntut wawasan yang luas dari guru dan karena terfokus pada kegiatan pembelajaran, terkadang mengabaikan target penguasaan konsep. Berikut kekurangan secara detail:45
44 S. Nasution, Asas-Asas Kurikulum,(Jakarta : Bumi Aksara, 2006),
195-196.
45 Ibid.
1) Tes masuk dan ujian akhir hanya satu bentuk, maka kurikulum terintegrasi ini kemungkinan akan memberatkan;
2) Tidak tersistematis dan logis;
3) Memerlukan banyak waktu dan variasi untuk kebutuhan siswa;
4) Guru belum memiliki kemampuan untuk melaksanakan kurikulum;
5) Guru, masyarakat, serta siswa memang belum terbiasa dengan kurikulum jenis ini.
6) Kurikulum dibuat oleh guru dan siswa sehingga memerlukan kesiapan dan kemampuan guru dalam pengembangan kurikulum.
7) Bahan pelajaran tidak tersusun secara logis dan sistematis
8) Memungkinkan kemampuan yang dicapai siswa akan berbeda jauh
9) Memerlukan waktu, biaya, dan tenaga yang banyak.
Selain kekurangan, kurikulum model ini juga memiliki kelebihan, yakni sebagai berikut:
1) Topik pembahasan saling berkaitan;
2) Sesuai dengan perkembangan zaman;
3) Memungkinkan adanya hubungan antara sekola dengan masyarakat.
4) Sesuai dengan ide demokrasi, dimana siswa dirangsang untuk berfikir sendiri, bekerja sendiri, dan memikul tanggungjawab bersama dan bekerja sama dalam kelompok.
5) Penyajian bahan sesuai dengan kesanggupan/kemampuan individu maupun kelompok.
6) Kurikulum ini sesuai dengan teori baru tentang belajar yang mendasarkan berbagai kegiatan pada pengalaman, kesanggupan, kematangan dan minat anak. Anak dilibatkan secara aktif untuk berfikir dan berbuat serta bertanggungjawab baik secara individu maupun kelompok.
i. Immersed Model
Model Immersed dirancang untuk membantu siswa dalam menyaring dan memadukan berbagai pengalaman dan pengetahuan dihubungakan dengan medan pemakaiannya. Dalam hal ini tukar pengalaman sangat diperlukan dalam kegiatan dan
disiplin dengan mengaitkan gagasan-gagasan melalui minatnya. Pada model ini integrasi terjadi secara internal dan intrinik yang dilakukan oleh siswa dengan sedikit atau tanpa intervensi dari luar. Siswa dalam pembelajaran harus memiliki kemampuan sebagai seorang ahli, sehingga dalam melihat sesuatu dia pandang pada satu kaca mata disiplin yang dimilikinya. Model ini hanya dapat diterapkan pada jenjang pendidikan menengah dan tinggi.
j. Networked Model
Merupakan model pemaduan pembelajaran yang mengendalikan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi maupun konteks berbeda- beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara terus menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang dihadapi siswa.
No Klasifikasi Integrasi
Model Integrasi Kurikulum 1
Integrasi kurikulum satu disiplin ilmu (interdisiplin ilmu)
Cellular, connected, nested
2
Integrasi kurikulum beberapa disiplin ilmu (antar disiplin ilmu)
squenced, shared, webbed, threaded, integrated
3
Integrasi kurikulum di dalam dan beberapa disiplin ilmu (inter dan antar disiplin ilmu)
Immersed, networked
Tabel 2.2 Klasifikasi Integrasi berdasar Disiplin Keilmuan46
3. Tahapan Pelaksanaan Integrasi Kurikulum
Pelaksanaan kurikulum direalisasikan dalam proses belajar mengajar sesuai dengan prinsip-prinsip dan tuntutan kurikulum yang telah dikembangkan bagi suatu jenjang pendidikan atau sekolah/madrasah tertentu. Kegiatan proses belajar mengajar erat kaitannya dengan tugas-tugas seorang guru, kegiatan- kegiatan tersebut antara lain:
a. menyusun rencana pelaksanaan program/unit;
b. menyusun jadwal pelaksanaan kegiatan dan jadwal pelajaran;
46 Robert Fogarty, “Ten Ways to Integrate Curriculum,” Educational
Leadership, 57.
c. pengisian daftar penilaian kemajuan belajar dan perkembangan peserta didik, dan
d. pengisian buku laporan pribadi peserta didik.
Dalam pendekatan pelaksanaan kurikulum terintegrasi, peserta didik adalah pembuat keputusan dan para pemecah masalah. Proses dipandang sebagai sentral untuk menjelaskan tingkah laku. Peserta didik itu berbeda satu sama lain, sedangkan masalah merupakan kunci dimana proses dimulai, karena itu pula cara penyelesaian masalah pun berbeda satu sama lain, tidak ada dua cara yang sama. Para peserta didik bukan saja dikembangkan sebagai suatu kepribadian yang bulat, akan tetapi juga dipersiapkan sebagai pribadi yang mampu berperan di masyarakat. Selain dari itu, pendekatan ini memungkinkan kerjasama antara sekolah dan masyarakat.47
Dalam pelaksanaan kurikulum seorang pengajar, diharapkan memiliki kompetensi strategi belajar mengajar yang sesuai dengan karakteristik kurikulum tersebut. Proses belajar mengajar yang sering dipakai
47 Nurul Indana, “Penerapan Kurikulum Terintegrasi Dalam Mengembangkan Mutu Belajar Siswa (Studi Kasus Di Sma Darul ‘Ulum 1 Unggulan Bppt Jombang),” 43.
seperti berbagai macam metode dan pendekatan tematik yang dilakukan dalam pembelajaran. Integrasi kurikulum terbentuk dari unit-unit proses belajar mengajar, yang bagian-bagian unit di tunjang sejumlah materi atau bidang studi. Tiap bagian merupakan suatu problem yang kompleks dan perlu dicari kan jalan keluar, dan pemecahannya membutuhkan bahan dari setiap bidang studi.48
Berbeda dengan Indana, Ali menyatakan penyajian integrasi kurikulum bisa dijalankan sebagai berikut: pertama, unit curriculum”, pada tingkat tertentu sejumlah mata pelajaran di integrasikan serta difungsikan menjadi suatu komponen guna mengkaji topik yang dipelajari, pembelajarannya menggunakan pendekatan multi disipliner; kedua, project curriculum”, materi tertentu yang relevan dari matei lain dipadukan untuk menyelesaikan suatu proyek untuk memecahkan problem.49
48 Rusman, Manajemen Kurikulum, 87.
49 Muhammad Ali, Pengembangan Kurikulum Di Sekolah (Bandung:
Sinar Baru Algensindo, 2009), 64.
Trianto juga menawarkan solusi tentang bagaiman tahapan pelaksanaan dari kurikulum terpadu ini, sebagai berikut:50
a. Memutuskan tujuan pembelajaran, tujuan pokok pembelajaran terintegrasi, yaitu: pertama, meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran; kedua, meningkatkan minat dan motivasi; ketiga, beberapa kompetensi dasar dapat dicapai sekaligus;
b. Klasifikasi, pihak lembaga atau penyelenggara mencari jenis atau model dalam kurikulum terintegrasi ini;
c. Pemaduan konsep, Salah satu kunci pembelajaran terintegrasi yang terdiri dari beberapa bidang kajian adalah menyediakan lingkungan belajar yang menempatkan peserta didik agar mendapatkan pengalaman belajar yang dapat menghubungkan konsep-konsep dari berbagai bidang kajian. Pembelajaran terintegrasi diawali dengan penentuan tema, karena penentuan tema akan membantu peserta didik dalam beberapa
50 Lias Hasibuan, Kurikulum Dan Pemikiran Pendidikan (Jakarta:
Gaung Persada Press, 2011), 16.
aspek, yaitu: pertama Peserta didik yang bekerjasama dengan kelompoknya akan lebih bertanggung jawab, disiplin dan mandiri; kedua, Peserta didik menjadi lebih percaya diri dan termotivasi dalam belajar bila mereka berhasil menerapkan apa yang telah dipelajarinya; ketiga, peserta didik lebih memahami dan lebih mudah mengingat karena mereka mendengar, berbicara, membaca, menulis dan melakukan kegiatan penyelidikan masalah yang sedang dipelajarinya;
keempat, memperkuat kemampuan berbahasa peserta didik; kelima, belajar akan lebih baik bila peserta didik terlihat secara aktif melalui tugas proyek, kolaborasi dan berinteraksi dengan teman, guru dan dunia nyata.
Kesimpulan dari konsep integrasi kurikulum ini merupakan pembauran atau penyatuan yang terjadi antara kurikulum yang ada terhadap mata pelajaran yang terdapat di sekolah. Model pelaksanaanya adalah dengan cara Model integrasi kurikulum yaitu: fragmented (model tergambarkan), connected (model terhubung), nested (model tersarang), squenced (model terurut), shared (model terbagi), webbed (model terjaring), threaded (model tertali), integrated (model
terpadu), immersed (model terbenam), networked (model jaringan). Kemudian dengan tahapan sebagai berikut:
perumusan tujuan pembelajaran terintegrasi, klasifikasi pengintegrasian tema/pokok materi, pemaduan konsep dalam pembelajaran terintegrasi.
Bagan 2.1 Alur dalam Pelaksanaan Integrasi Kurikulum
81 BAB III
METODE PENELITIAN A. Jenis dan Pendekatan Penelitian
Penelitian ini menggunakan jenis studi kasus. Studi kasus merupakan penelitian definitif demi menyelidiki proses untuk menghasilkan pemahaman mendalam dari individu, kelompok, atau situasi. Smith mengelompokkan studi kasus berbeda dari penelitian kualitatif lain. Pendapat tersebut didasarkan pada fakta bahwa studi kasus hanya berfokus pada satu unit dan atau sistem yang terbatas.
Sistem atau kondisi yang terbatas ini bisa terjadi karena kemungkinan jumlah orang yang terlibat atau waktu yang singkat (untuk kepentingan observasi). Jika sumber data tidak terbatas maka Smith tidak menggolongkan penelitian tersebut sebagai studi kasus.1 Sementara penelitian ini hanya terpaku atau membatasi bahasan pada Manajemen Perubahan dalam Integrasi Kurikulum di MA dan SMK Darul Falah Sukorejo Ponorogo.
Pendekatan penelitian merupakan keseluruhan cara atau kegiatan dalam suatu penelitian yang dimulai dari
1 M. Emzir, Metodologi Penelitian Kualitatif: Analisis Data (Jakarta:
Raja Grafindo Persada, 2012), 20.
perumusan masalah sampai membuat suatu kesimpulan.
Pendekatan penelitian ada dua macamya itu pendekatan kuantitatif dan pendekatan kualitatif. Peneliti menggunakan penedekatan kualitatif, karena memang peneliti hanya merekam, menganalisis objek (dalam kondisi alamiah) untuk kemudian disimpulkan dengan merujuk pada teori para ahli dan penelitian terdahulu.2 Peneliti datang ke lembaga untuk mengumpulkan data dari lingkungan, siswa, serta sumber utama yakni pihak kurikulum tentang bagaimana perencanaan, implementasi serta evaluasinya.