BAB III METODEPENELITIAN
3.3. Cara Kerja
3.3.6. Analisis Laboratorium
Tanah ditimbang sebanyak 5g dilarutkan dengan aquadest sebanyak 10ml.
Kemudian dikocok dengan shaker selama 30 menit.Setelah homogen diukur pH tanah.Sebelum pengukuran pH, elektroda pada pH meter dikalibrasi dengan larutan
buffer standar pH 4, pH 7, dan pH 10 sampai nilai pH stabil, setelah itu sampel diukur dan ditentukan pHnya.
b. Analisis Kadar Air (metode oven, SNI 01-3555-1998)
Cawan porselen dikeringkan dalam oven selama 1 jam pada temperatur 105oC lalu didinginkan dalam desikator dan ditimbang hingga mendapatkan bobot tetap (A). Ditimbang berat sampel sebanyak 2g (B), dimasukkan kedalam cawan porselen dan dipijarkan + 1 jam dalam oven. Kemudian cawan didinginkan dalam desikator dan ditimbang lagi hingga mendapatkan bobot yang tetap (C).Pemanasan diulang sampai diperoleh berat konstan. Sisa sampel dihitung sebagai total padatan dan pengurangan berat menunjukkan banyaknya air dalam bahan.
Kadar air = B−A − C−A (B−A)
c. Pengukuran Kemampuan Ikat Air(Ahn etal., 2009)
Sampel basah yang sudah diketahui terlebih dulu kadar airnya dianggap sebagai berat awal (W0) dan kemudian ditempatkan dalam beker. Kemudian sampel direndam dengan aquadest selama 1hari dan disaring menggunakan kertas whatman, sampel jenuh dianggap sebagai berat jenuh (Ws), kadar air sebagai MC, jumlah air yang tertahan oleh sampel dihitung sebagai WHC menurut persamaan:
%𝑊𝐻𝐶 = { 𝑊𝑠 − 𝑊0 + (𝑀𝑐 × 𝑊𝑜)}
{(1 − 𝑀𝑐) × 𝑊0} × 100%
d. Kadar Bahan Organik (Buttler, 2001)
Kadar bahan organikditentukan sebagai berat yang hilang pada pemanasan di dalam tanur pada suhu 550°C selama 6 jam (berat abu), setelah sampel terlebih dahulu dipanaskan di dalam oven pada suhu 105°C selama 24 jam (Wu,
2001).jumlah bahan organik kering dikurangi bahan organik yang hilang lalu dibagi dengan berat kering. Dihitung kadar bahan organik dengan persamaan:
%Kadar Bahan Organik =berat kering − berat abu
berat kering × 100%
e. Kadar C-organik
Kadar C-organikadalah kadar bahan organik ditentukan sebagai berat yang hilang pada pemanasan di dalam tanur pada suhu 550°C selama 6 jam dikurang total nitrogen (TN) dibagi dengan nilai konstanta 1,82. (Nelson, 1982).
%TOC =KBO − TN 1,82 Keterangan:
TOC = Total Organic Carbon KBO = Kadar Bahan Organik TN = Total Nitrogen
f. Kandungan Nitrogen (SNI. 02-4958-1999)
Sampel jagung yang telah dihaluskan ditimbang 0,25g yang sebelumnya telah dihaluskan ke dalam labu Kjeldahl/tabung digestor. Lalu ditambahkan 0,25-0,50g selenium mixture dan 3ml H2SO4 pa, kocok hingga campuran merata dan biarkan 2-3 jam. Setelah itu didestruksi sampai sempurna dengan suhu bertahap dari 150oC hingga akhirnya suhu maks 350oC dan diperoleh cairan jernih (3–3,5 jam). Setelah dingin diencerkan dengan sedikit aquades agar tidak mengkristal. Lalu dipindahkan larutan secara kuantitatif ke dalam labu didih destilator volume 250ml, tambahkan air bebas ion hingga setengah volume labu didih dan sedikit batu didih. Disiapkan penampung destilat yaitu 10ml asam borat 1 % dalam erlenmeyer volume 100ml yang dibubuhi 3 tetes indikator conway. Dilakukan destilasi dengan menambahkan 20ml NaOH 40 %. Destilasi selesai bila volume cairan dalam erlenmeyer sudah
mencapai sekitar 75ml. Destilat dititrasi dengan H2SO4 0,05N, hingga titik akhir (warna larutan berubah dari hijau menjadi merah jambu muda) = A ml, penetapan blanko dikerjakan = A1 ml.
N (%) = (A ml – A1 ml) x 0,05 x 14 x 100 mg contoh-1 x fk Keterangan:
A ml = ml titran untuk contoh (N-org + N-NH4) A1 ml = ml titran untuk blanko (N-org + N-NH4) 14 = bobot setara N
fk = faktor koreksi kadar air = 100/(100 – % kadar air).
3.3.7. Analisis Statisik
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah SPSS 13 dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap menggunakan 2 kali pengulangan.
Analisa dilanjutkan dengan Uji Duncan, yang bertujuan untuk mengetahui tingkat perbedaan (α < 0,05 berbeda nyata atau α > 0,05 tidak berbeda nyata) dari sampel yang digunakan maupun variasi percobaan.
SKEMA PENELITAN
Gambar 3. Skema Penelitian Tanah merah
Jagung ditanam Tanpa mikroba fungsional
Kompos
(dosis 6, 12, 24,48 ton/ha) pH
KBO WHC
Campuran media tanah dengan variasi kompos (dosis 0, 6, 12, 24,48 ton/ha)
+ NPK 50%
pH KBO WHC
Dengan mikroba fungsional ditambahkan pada minggu
ke-2 dan ke-3 Hari ke-35 jagung dipanen
Campuran media tanah setelah panen dengan variasi kompos
(dosis 0, 6, 12, 24,48 ton/ha)
pH KBO WHC
Jagung
(akar, batang dan daun)
Berat basah
Berat kering
Karbon (C)
Nitrogen (N)
Nisbah C/N Tinggi
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Kompos
Kompos dibuat dari campuran rumput, kotoran ternak, dedak padi, dengan perbandingan berat basah 5:3:1. Pengomposan dilakukan dengan metode windrow menggunakan Compostar sebagai bioaktivator untuk percepatan proses dekomposisi limbah bahan organik tersebut. Compostar adalah bioaktivator kompos yang mengandung konsorsia IMR pengurai bahan organik, pengendali hayati dan peningkat pertumbuhan tanaman.Compostar ini merupakan salah satu produk inokulan IMR bermanfaat yang dikembangkan oleh Kelompok Lingkungan, Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi, Badan Tenaga Nuklir Nasional.
Setelah 45 hari pengomposan limbah organik padat dengan metode windrow, kemudian dilakukan pengukuran parameter kualitas kompos yang terdiri dari pH, kemampuan ikat air, kadar bahan organik, kadar C-organik, total N, dan nisbah C/N.
Kompos yang dibuat memiliki kualitas yang sesuai dengan SNI 19-7030-2004 dan persyaratan teknis minimal pupuk organik Peraturan Menteri Pertanian No.28/Permentan/SR.130/S/2009 seperti disajikan pada Tabel 1. Menurut Sutanto (2002), kompos yang baik adalah kompos yang memiliki pH mendekati netral, karena mikroba dapat tumbuh baik pada pH mendekati netral atau netral. Kompos yang baik juga memiliki kadar bahan organik antara 30-60% dan nisbah C/N antara 5-20.
Tabel 1.Perbandingan kualitas kompos dengan SNI kompos dan persyaratan teknis minimal pupuk organik.
No Parameter Kompos SNI Kompos Pupuk organik
1 pH (H2O) 7,23 6,80-7,49 -
2 Kemampuan Ikat Air, % 186 > 58 -
3 Kadar Bahan Organik, % 55,31 27-58 -
4 Kadar C-organik, % 29,10 9,8-32,0 ≥ 12
5 Total N, % 2,79 > 0,4 < 6
6 Nisbah C/N 12 10-20 15-25
Keterangan: SNI Kompos = SNI 19-7030-2004, Pupuk organik = persyaratan teknis
minimal pupuk organik Peraturan Menteri Pertanian
No.28/Permentan/SR.130/S/2009
Berdasarkan standar SNI dan Peraturan Menteri Pertanian, kompos yang dibuat untuk penelitian ini memenuhi standar kompos.
4.2. Sifat Kimia dan Fisika Tanah
Tanah merah yang digunakan dalam penelitian ini bersifat agak masam, yaitu memiliki pH sekitar 5,57. Hal ini diduga karena pada tanah banyak ditemukan ion Al3+ karena dengan ion tersebut dapat menghasilkan H+ apabila bereaksi dengan air.Dalam keadaan tertentu, yaitu apabila tercapai kejenuhan ion Al3+ tertentu, terdapat juga ion Al-hidroksida, dengan demikian dapat menimbulkan variasi kemasaman tanah (Yulianti, 2007). Berikut reaksi yang terjadi:
Al terjerap pada koloidal tanah dalam keseimbangan dengan Al dalam larutan.
Al → Al3+ + 3e- Al3++ 3H2O → Al(OH)3 + 3H+ Hidrogen terjerap koloidal tanah, sumber ion H+ kedua.
H ↔ H+ + 1e-
Pada tanah berkeasaman sedang Al3+ dalam bentuk ion hidroksida aluminium.
Al3+ + OH-→ Al(OH)2+
Al(OH)2+ + OH- → Al(OH)2+
Ion Al(OH)2+ dan Al(OH)2+ dpt terjerap oleh koloidal tanah dan dapat dipertukarkan. Dalam larutan tanah terhidrolisis :
Al(OH)2+ + H2O → Al(OH)2+ + H+ Al(OH)2+
+ H2O → Al(OH)3 + H+
Secara umum pH optimum tanah berkisar antara 6,5-7,5 yaitu bersifat netral (Aak, 1993). Sedangkan pada penelitian ini digunakan tanah yang bersifat agak masam atau pH sekitar sekitar 5,57, sehingga diperlukan penambahan kompos untuk meningkatkan nilai pH tanah.Bahan organik pada komposdapat mengikat ion-ion yang bersifat asam yang ada di dalam tanah sehingga bereaksi dan membentuk senyawa-senyawa baru yang dapat mengurangi keasaman tanah.
Pada penelitian ini diuji nilai pH tanah dengan menambahkan berbagai macam variasi dosis kompos, mulai dari 6 ton/ha, 12 ton/ha, 24 ton/ha, sampai 48 ton/ha dan juga penambahan IMR pada minggu ke-2 dan 3 setelah penanaman jagung.
Gambar 4. Grafik pH tanah
4,0 4,5 5,0 5,5 6,0 6,5 7,0 7,5 8,0
0 6 12 24 48
pH
Variasi dosis kompos (ton/ha)
pH Awal pH Akhir pH Akhir + IMR
Terlihat pada gambar 4, hasil ini menunjukkan bahwa semakin banyak kompos yang ditambahkan, pH tanah akan meningkat. Dengan penambahan dosis kompos 24 ton/ha dan 48 ton/ha dapat meningkatkan nilai pH tanah dari 5,56 menjadi 6,7 dan 7,5, sehingga mencapai nilai pH optimum tanah yang berkisar 6,5-7,5. Hal ini menunjukkan bahwa penambahan kompos dengan dosis yang berbeda berpengaruh nyata terhadap peningkatan nilai pH tanah berdasarkan uji statistik Anova dengan nilai signifikansi 0,00 (P≥0,05) (Lampiran 4). Peningkatan pH tanah terkait pengikatan senyawa-senyawa yang bersifat asam yang ada di dalam tanah yang bereaksi dengan bahan organik dari kompos.
Stevenson (1994) menyatakan bahwa bahan organik yang telah terdekomposisi dapat meningkatkan aktivitas ion OH- yang bersumber dari gugus karboksil (- COOH) dan gugus hidroksil (OH-). Ion OH-akan menetralisir ion H+ yang berada dalam larutan tanah. Lebih lanjut Brady dan Weil (2002) menjelaskan bahwa naik turunnya pH tanah merupakan fungsi ion H+ dan OH-, jika konsentrasi ion H+ dalam larutan tanah meningkat, maka pH akan menjadiasam dan jika konsentrasi ion OH- meningkat maka pH akan menjadi netral atau mendekati basa.Menurut Buckman dan Brady (1982); Isrun (2006) bahwa pengaruh pemberian bahan organik mampu menurunkan kemasaman tanah sehingga dapat menaikan nilai pHnya.
Kandungan hara pada tanah semakin lama semakin berkurang karena sering digunakan oleh tanaman yang hidup diatas tanah tersebut, bila keadaan seperti ini terus dibiarkan maka tanaman akan kekurangan unsur hara sehingga pertumbuhan dan produksi menjadi terganggu. Kekurangan unsur hara yang diperlukan oleh
tanaman dapat diatasi dengan pemupukan (Sutoro dkk. 1988).Oleh karena itu, untuk meningkatkan bahan organik dalam tanah digunakanlah kompos.
Pada penelitian ini diuji nilai KBO tanah, dimana KBO tanah awal dilakukan sebelum penanaman jagung dan KBO akhir setelah panen jagung. Pengujian KBO dilakukan dengan metode pemanasan dengan suhu mencapai 550°C selama 12 jam (Buttler, 2001).Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan KBO tanah setelah ditambahkan kompos dengan dosis yang berbeda pada sebelum penanaman dan setelah panen jagung.
Gambar 5. Grafik KBO tanah
Gambar 5 menunjukkan peningkatan nilai KBO tanah setelah ditambahkan kompos baik pada sebelum penanaman dan setelah panen jagung.Semakin tinggi dosis kompos yang diberikan maka semakin tinggi nilai KBO tanah.Penambahan IMR juga berpengaruh pada peningkatan KBO tanah.Nilai tertinggi KBO tanah mencapai 20% yaitu dengan penambahan kompos dengan dosis 48 ton/ha dan penambahan IMR. Berdasarkan uji statistik Anova, pemberian kompos dengan dosis
10 12 14 16 18 20 22 24
0 6 12 24 48
%KBO
Variasi dosis kompos (ton/ha)
KBO awal KBO akhir KBO akhir + IMR
yang berbeda serta penambahan IMR memberikan pengaruh nyata dengan nilai signifikansi 0,00 (P≥0,05) (Lampiran 6).
Menurut Mubandono (2002), kompos dapat meningkatkan bahan organik dalam tanah, karena kompos berasal bahan organik yang didegradasikan secara organik. Sedangkan menurut Tisdale et al. (1985) dan Soepardi (1983), bahan organik sangat besar perananya dalam memperbaiki kesuburan tanah walaupun persentasenya hanya sebesar 5% dari total volume tanah. Selain itu dari hasil penelitian A.S. Gregory dan A.W. Vickers (2006), penambahan kompos dapat meningkatkan KBO tanah mencapai 2 kali lipat.
Peningkatan KBO tanah setelah panen (keadaan akhir) dapat dipengaruhi beberapa faktor, selain penambahan kompos pada awal sebelum penanaman, juga dapat dipengaruhi oleh penambahan IMR pada minggu ke-2 dan ke-3 karena mikroba tersebut dapat mengikat dan mendegradasi bahan-bahan organik seperti nitrogen dan fosfor, selain itu sisa-sisa tanaman pada saat setelah panen juga dapat mempengaruhi meningkatnya KBO tanah. Hal ini diperkuat oleh G. Convertini, D.
Ferri, F. Montemurro and M. Maiorana (2004), bahwa tanaman yang ditanam dapat meningkatkan KBO dan dapat menyuburkan tanah.
Tanah merah merupakan tanah yang dapat menyerap cukup banyak air.
Menurut Alison N. Anderson, David C. McKenzie, John J. Friend (1998), tanah merah terbentuk dari partikel-partikel yang sangat kecil yang memiliki pori-pori yang sangat kecil, sehingga dapat menampung air lebih banyak dibanding tanah pasir yang memiliki pori-pori lebih besar. Tanah yang dapat menyimpan air dalam jumlah
banyak sangat dibutuhkan oleh tanaman, karena air juga merupakan salah satu bahan yang digunakan dalam reaksi fotosintesis.
Pada penelitian ini dilakukan uji untuk mengetahui kemampuan ikat air (WHC) tanah sebagai salah satu sifat fisik tanah.Uji ini ditujukan untuk mengetahui seberapa banyak tanah dapat menangkap air dan menyimpannya dalam pori-pori tanah.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan kompos dapat meningkatkan WHC tanah, namun dengan penambahan IMR malah menurunkan kemampuan ikat air tanah.
Gambar 6. Grafik WHC tanah
Dengan penambahan kompos dapat meningkatkan WHC tanah mencapai 175%
dengan dosis mencapai 48 ton/ha, namun dengan penambahan kompos dosis 48 ton/ha dan IMR hanya mencapai 153%. Berdasarkan uji statistik penambahan kompos memberikan pengaruh nyata dengan nilai signifikansi 0,00 (P≥0,05) (Lampiran 7).
100 110 120 130 140 150 160 170 180 190 200
0 6 12 24 48
% WHC
Variasi dosis kompos (ton/ha)
Tanpa IMR Dengan IMR
Kemampuan ikat air (WHC) tanah meningkat setelah ditambahkan kompos, karena kompos dapat mempengaruhi tekstur dan kadar liat tanah dalam mengikat air (Hadisuwito, 2007).Menurut Stevenson (1982), bahan organik memberikan pengaruh terhadap sifat fisika yaitu peningkatan porositas tanah. Porositas tanah adalah ukuran yang menunjukkan bagian tanah yang tidak terisi bahan padat tanah namun terisi oleh udara dan air.Ilmuwan tanah Arkansas melaporkan bahwa untuk setiap 1% dari bahan organik, tanah dapat menyimpan 16.500 galon/acre air tersedia bagi tanaman (Scott, H.D, L.S. Wood, and W.M. Miley, 1986).Sementara penambahan mikroba WHC tanah tidak sebaik tanpa mikroba, karena mikroba membutuhkan air sebagai sumber oksigen untuk bahan organik sel pada respirasi.Selain itu air berfungsi sebagai pelarut dan alat pengangkut dalam metabolisme (Budiyanto, 2008).
4.3. Tinggi, Berat Basah dan Berat Kering Jagung (Zea mays L)
Tinggi, berat basah, dan berat kering merupakan uji dari sifat fisik tumbuhan.Pertumbuhan jagung secara fisik merupakan langkah pertama untuk melihat pengaruh dari penambahan kompos pada penelitian ini.
Gambar 7. Grafik tinggi jagung (Zea mays L.)
Pada penelitian ini penambahan kompos dengan variasi dosis yang berbeda menghasilkan tinggi jagung yang meningkat namun pada dosis 24 ton/ha dan 48 ton/ha mengalami penurunan dan kenaikan kembali.Penambahan dosis kompos 12 ton/ha tanpa IMR memberikan hasil terbaik dalam peningkatan pertumbuhan tinggi jagung. Sementara untuk penambahan kompos yang disertai dengan IMR, hasil terbaik pada dosis kompos 12 ton/ha yaitu 165cm, bukan pada dosis 24 ton/ha yang menghasilkan tinggi 170cm. Karena pada dosis kompos 165cm standar deviasinya mencapai ±21,213, yang artinya tinggi maksimum dengan dosis 12 ton/ha dapat mencapai sekitar 186cm sementara dengan dosis kompos 48 ton/ha memiliki standar deviasi ±14,142cm yang artinya tinggi maksimum dengan dosis ini mencapai 184cm.
Hasil standar deviasi tersebut didapat dari hasil uji statistik, hasil uji statistik juga menunjukkan penambahan kompos dengan variasi dosis yang berbeda dan IMR tidak memberikan pengaruh nyata karena nilai signifikansinya mencapai 0,434 (P≥0,05) (Lampiran 8).
135 140 145 150 155 160 165 170 175 180
0 6 12 24 48
cm
Variasi dosis kompos (ton/ha)
Tanpa IMR Dengan IMR
Tidak berpengaruhnya penambahan dosis kompos 24 ton/ha dan 48 ton/ha bisa dikarenakan kompetisi dalam perebutan unsur hara khususnya N, yang kemungkinan besar tanaman kalah bersaing. Karena pada setiap lokasi tanah penanaman jagung, jumlah mikroba tanah berbeda-beda sehingga memungkinkan adanya kompetisi dalam mengkonsumsi unsur hara sehingga tanaman akan kekurangan unsur hara karena sebagian besar unsur hara digunakan oleh mikroba tanah untuk metabolisme tubuhnya (Sutanto, 2006).Selain itu kompetisi antar tanaman jagung juga dapat mempengaruhi perbedaan tinngi jagung.
Berat basah tanaman adalah berat tanaman pada saat tanaman masih segar dan ditimbang secara langsung setelah panen, sebelum tanaman menjadi layu akibat kehilangan air (Lakitan, 1996).Proses pembentukan dan perkembangan organ tanaman sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air dan kompos dalam tanah.
Pembentukan dan perkembangan organ tanaman (daun, akar, dan batang) berhubungan dengan proses sel tanaman untuk membesar. Sel tanaman akan membesar seiring dengan menebalnya dinding sel dan terbentuknya selulosa pada tanaman. Pengaruh lainnya terkait dengan ketersediaan air bagi tanaman, berupa transport hara dari tanah bagi tanaman. Hara yang berada dalam tanah diangkut melalui air yang terserap oleh tanaman melalui proses difusi osmosis yang terjadi.
Semakin baik hara yang terjerap oleh tanaman, maka ketersediaan bahan dasar bagi proses fotosintesis akan semakin baik pula. Proses fotosintesis yang berlangsung dengan baik, akan memacu penimbunan karbohidrat dan protein pada organ tubuh tanaman (Fatimah dan Handarto, 2008).
Sama seperti pertumbuhan tinggi jagung, berat basah jagung tidak mengalami peningkatan seiring peningkatan dosis kompos.Pada dosis kompos 6 ton/ha tanpa IMR, berat basah jagung mengalami peningkatan dari dosis sebelumnya namun pada dosis berikutnya yaitu 24 ton/ha mengalami penurunan.Begitupun dengan variasi penambahan dosis kompos yang disertai penambahan IMR, pada dosis 12 ton/ha mengalami peningkatan dan penurunan setelahnya.
Gambar 8. Grafik berat basah jagung (Zea mays L.)
Gambar 8 menunjukkan pemberian kompos pada jagung yang tidak ditambahkan IMR memberikan hasil yang lebih baik daripada jagung yang ditambahkan IMR.Karena pada jagung yang ditambahkan IMR memiliki rentang nilai yang cukup lebar seperti pada penambahan kompos 12 ton/ha memiliki standar deviasi mencapai 120,208 sehingga dapat menghasilkan berat basah jagung yang tidak konstan seperti jagung yang hanya diberikan kompos.Tidak konstannya nilai berat basah jagung diakibatkan karena nutrisi yang dibutuhkan jagung tidak terserap secara maksimal, hal ini dikarenakan karena adanya kompetisi dengan mikroba
200 250 300 350 400 450
0 6 12 24 48
gram
Variasi dosis kompos (ton/ha)
Tanpa IMR Dengan IMR
tanah(Sutanto, 2006).Berdasarkan uji statisik pemberian kompos dengan variasi yang berbeda dan penambahan IMR tidak berpengaruh nyata karena nilai signifikansinya mencapai 0,256 (P≥0,05) (Lampiran 9).
Berat kering tanaman merupakan hasil dari tiga proses yaitu penumpukan asimilat melalui fotosintesa, penurunan asimilat akibat respirasi dan akumulasi ke bagian cadangan makanan (Parman. 2007). Gardner et al (1991) menyatakan bahwa berat kering tumbuhan adalah keseimbangan antara pengambilan CO2 (fotosintesis) dan pengeluaran CO2 (respirasi). Apabila respirasi lebih besar dibanding fotosintesis tumbuhan itu akan berkurang berat keringnya.
Gambar 9. Grafik berat kering jagung (Zea mays L.)
Gambar 9 menunjukkan dengan menambahkan kompos dosis 12 ton/ha dapat menghasilkan berat kering seperti penambahan kompos dosis 48 ton/ha.Pada penambahan kompos 24 ton/ha terjadi penurunan, hal ini menunjukkan bahwa penambahan kompos 12 ton/ha merupakan titik optimum dosis kompos yang dapat diberikan untuk jagung.Begitupun dengan penambahan dosis kompos yang
80 90 100 110 120 130 140 150 160 170 180
0 6 12 24 48
gram
Variasi dosis kompos (ton/ha)
Tanpa IMR Dengan IMR
ditambahkan IMR, 12 ton/ha merupakan dosis optimum karena hanya dengan kompos 12 ton/ha dapat menghasilkan berat kering yang sama seperti penambahan dosis kompos 24 ton/ha dan 48 ton/ha. Berdasarkan uji statistik, pemberian kompos dengan variasi dosis yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering jagung, karena nilai signifikansinya mencapai 0,253 (P≥0,05) (Lampiran 10).
Perbedaan pertumbuhan tanaman jagung dimana pada penambahan kompos 24 ton/ha mengalami penurunan dapat diakibatkan oleh pencucian kompos dan mikroba serta kompetisi dalam perebutan unsur hara. Selain itu penanaman jagung dilakukan pada saat musim hujan, sehingga air melimpah dan mengakibatkan porositas tanah mengecil. Mengecilnya porositas tanah menyebabkan sistem aerasi pada tanah terganggu sehingga udara yang masuk lebih sedikit karena banyaknya air yang diikat oleh tanah. Banyaknya air yang terkandung dalam tanah membuat pertumbuhan jagung terhambat, karena syarat pertumbuhan jagung adalah lahan yang tidak terlalu basah dengan curah hujan yang sedikit (Suprapto, 2001).
4.4. Kadar Hara Jagung (Zea mays L.)
Untuk proses pertumbuhan tanaman, memerlukan unsur-unsur sebagai bahan makanan. Unsur-unsur yang diperlukan dalam jumlah besar disebut unsur makro yang terdiri atas unsur C, H, O, P, K, Na, Ca dan Mg. unsur-unsur C, H, O diperoleh dari CO2 (udara) dan air, dan unsur lainnya diperoleh dari dalam tanah (N, P, K, Ca, S, Mg) (Ratih, dkk, 1999). Bagi tanaman unsur karbon digunakan untuk membentuk karbohidrat, lemak, dan protein bagi pertumbuhannya, membentuk selulosa, dinding sel dan memperkuat bagian tanaman (Simamora dan Salurdih, 2008).Sementara N
merupakan unsur yang esensial bagi tanaman dan dibutuhkan dalam jumlah relatif besar.Unsur ini berpengaruh dalam sintesis asam amino, protein, asam nukleat, dan koenzim.Protein mempunyai fungsi penting dalam pertumbuhan sel vegetatif tanaman sebagai katalisator dan pengatur metabolisme (Grunes dan Allaway, 1985).
Protein merupakan bagian dari protoplasma sehingga adanya unsur N akan mendorong pertumbuhan tanaman diatas permukaan tanah.
C-organik pada tanaman merupakan hasil dari penimbunan asimilasi CO2 sepanjang masa pertumbuhan (Krishnawati, 2003).C pada tanaman banyak diserap dari tanah, namun apabila ketersediaannya kurang mencukupi C dapat diserap dari udara dan juga kompos, karena kompos merupakan sumber C-organik yang besar (Simanungkalit et al., 2006).
Hasil penelitian menunjukkan dengan penambahan kompos dapat meningkatkan kadar C dalam tanaman jagung. Kompos sendiri merupakan bahan organik yang memiliki kadar C yang tinggi (Simanungkalit et al., 2006).
Gambar 10. Grafik total C-organik jagung (Zea mays L.)
4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000
0 6 12 24 48
mg/tanaman
Variasi dosis kompos (ton/ha)
Tanpa IMR Dengan IMR
Gambar 10 menunjukkan penambahan kompos dapat meningkatkan kadar C dalam tanaman jagung. Pada gambar grafik di atas menunjukkan bahwa dosis optimum pemberian kompos ada pada dosis 12 ton/ha baik tanpa IMR dan dengan penambahan IMR. Penurunan kadar C pada dosis 24 ton/ha tanpa penambahan IMR dapat diakibatkan pencucian kompos yang terjadi selama proses penanaman. Proses pencucian tersebut mengakibatkan kompos ikut terbawa aliran air yang berasal dari air hujan. Sehingga dalam proses penyerapan unsur C dari kompos tidak maksimal.
Berdasarkan uji statistik, pemberian kompos dengan dosis yang bervariasi memberikan pengaruh nyata terhadap kadar C pada jagung dengan nilai signifikansinnya sebesar 0,001 (P≥0,05) (Lampiran 11).
Gambar 11. Grafik total N jagung (Zea mays L.)
Gambar 11 menunjukkan pemberian kompos dapat meningkatkan kandungan N dalam jagung Peningkatan serapan N tanaman dapat disebabkan oleh meningkatnya ketersediaan N dalam tanah yang bersumber dari bahan organik kompos.Sejalan dengan hasil penelitian Darman (2006) bahwa pemberian kompos sangat
130 180 230 280 330 380
0 6 12 24 48
mg/tanaman
Variasi dosis kompos (ton/ha)
Tanpa IMR Dengan IMR