• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kadar Hara Jagung (Zea mays L.)

Dalam dokumen MUHAMMAD FAJAR RAMADHAN-FST (Halaman 61-70)

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Kadar Hara Jagung (Zea mays L.)

ditambahkan IMR, 12 ton/ha merupakan dosis optimum karena hanya dengan kompos 12 ton/ha dapat menghasilkan berat kering yang sama seperti penambahan dosis kompos 24 ton/ha dan 48 ton/ha. Berdasarkan uji statistik, pemberian kompos dengan variasi dosis yang berbeda tidak berpengaruh nyata terhadap berat kering jagung, karena nilai signifikansinya mencapai 0,253 (P≥0,05) (Lampiran 10).

Perbedaan pertumbuhan tanaman jagung dimana pada penambahan kompos 24 ton/ha mengalami penurunan dapat diakibatkan oleh pencucian kompos dan mikroba serta kompetisi dalam perebutan unsur hara. Selain itu penanaman jagung dilakukan pada saat musim hujan, sehingga air melimpah dan mengakibatkan porositas tanah mengecil. Mengecilnya porositas tanah menyebabkan sistem aerasi pada tanah terganggu sehingga udara yang masuk lebih sedikit karena banyaknya air yang diikat oleh tanah. Banyaknya air yang terkandung dalam tanah membuat pertumbuhan jagung terhambat, karena syarat pertumbuhan jagung adalah lahan yang tidak terlalu basah dengan curah hujan yang sedikit (Suprapto, 2001).

merupakan unsur yang esensial bagi tanaman dan dibutuhkan dalam jumlah relatif besar.Unsur ini berpengaruh dalam sintesis asam amino, protein, asam nukleat, dan koenzim.Protein mempunyai fungsi penting dalam pertumbuhan sel vegetatif tanaman sebagai katalisator dan pengatur metabolisme (Grunes dan Allaway, 1985).

Protein merupakan bagian dari protoplasma sehingga adanya unsur N akan mendorong pertumbuhan tanaman diatas permukaan tanah.

C-organik pada tanaman merupakan hasil dari penimbunan asimilasi CO2 sepanjang masa pertumbuhan (Krishnawati, 2003).C pada tanaman banyak diserap dari tanah, namun apabila ketersediaannya kurang mencukupi C dapat diserap dari udara dan juga kompos, karena kompos merupakan sumber C-organik yang besar (Simanungkalit et al., 2006).

Hasil penelitian menunjukkan dengan penambahan kompos dapat meningkatkan kadar C dalam tanaman jagung. Kompos sendiri merupakan bahan organik yang memiliki kadar C yang tinggi (Simanungkalit et al., 2006).

Gambar 10. Grafik total C-organik jagung (Zea mays L.)

4000 5000 6000 7000 8000 9000 10000

0 6 12 24 48

mg/tanaman

Variasi dosis kompos (ton/ha)

Tanpa IMR Dengan IMR

Gambar 10 menunjukkan penambahan kompos dapat meningkatkan kadar C dalam tanaman jagung. Pada gambar grafik di atas menunjukkan bahwa dosis optimum pemberian kompos ada pada dosis 12 ton/ha baik tanpa IMR dan dengan penambahan IMR. Penurunan kadar C pada dosis 24 ton/ha tanpa penambahan IMR dapat diakibatkan pencucian kompos yang terjadi selama proses penanaman. Proses pencucian tersebut mengakibatkan kompos ikut terbawa aliran air yang berasal dari air hujan. Sehingga dalam proses penyerapan unsur C dari kompos tidak maksimal.

Berdasarkan uji statistik, pemberian kompos dengan dosis yang bervariasi memberikan pengaruh nyata terhadap kadar C pada jagung dengan nilai signifikansinnya sebesar 0,001 (P≥0,05) (Lampiran 11).

Gambar 11. Grafik total N jagung (Zea mays L.)

Gambar 11 menunjukkan pemberian kompos dapat meningkatkan kandungan N dalam jagung Peningkatan serapan N tanaman dapat disebabkan oleh meningkatnya ketersediaan N dalam tanah yang bersumber dari bahan organik kompos.Sejalan dengan hasil penelitian Darman (2006) bahwa pemberian kompos sangat

130 180 230 280 330 380

0 6 12 24 48

mg/tanaman

Variasi dosis kompos (ton/ha)

Tanpa IMR Dengan IMR

berpengaruh terhadap peningkatan konsentrasi N, P, dan K tanaman.Lebih lanjut Wahyudi (2009), melaporkan bahwa peningkatan serapan N tanaman ada keterkaitan dengan peningkatan berat kering tajuk, perbaikan perkembangan akar tanaman, dan peningkatan ketersediaan N tanah.Peningkatan perkembangan tanaman (berat kering tajuk dan berat kering akar) memiliki hubungan dengan perbaikan kondisi tanah. Hal tersebut akan menyebabkan peningkatan kemampuan akar tanaman untuk menyerap air dan unsur hara N dalam tanah yang pada gilirannya akan menunjang peningkatan perkembangan bagian tanaman di atas permukaan tanah. Namun pada dosis 24 ton/ha dan 48 ton/ha mengalami penurnan dan peningkatan serapan N, hal ini bisa dikarenakan serapan N pada dosis kompos tersebut tidak berlangsung secara maksimal bisa karena pengaruh mikroba tanah ataupun kompetisi antar tanaman.

Selain kompos yang ditambahkan untuk meningkatkan unsur N, ditambahkan juga IMR dalam penelitian ini. Fungsi IMR adalah dekomposer dan pengurai bahan organik, sehingga N-organik dapat diubah menjadi senyawa N yang lebih mudah untuk diserap tanaman seperti NH3 dan NO3-

, nitrat dapat digunakan sebagai sumber N pengganti amonia dalam biosintesis asam amino (Purwoko, 2007). Hal ini dapat dilihat pada perlakuan dimana jagung yang ditambahkan mikroba memiliki nilai kadar N yang cukup tinggi dibandingkan dengan jagung yang tidak ditambahkan IMR.

NO3- 2H+ 2e-

H2O

NADH

NAD+

NO2-

Nitrate Reduktase

3H+ 2e-

H2O

3 NADPH

3 NADP+ Nitrit Reduktase

[NOH]

2H+ 2e-

NH2OH 2H+ 2e-

H2O

NH3

COOH

C CH2 CH2 N COOH

H2 H

ATP ADP + Pi

Glutamin Sintase

L - Glutamat

COOH

C CH2 CH2 N C

H2 H

NH2 O

L - Glutamin

COOH C CH2 CH2 N COOH

H2 H

COOH

C CH2 CH2 O COOH H

2

alfa - Ketoglutarat GOGAT NADPH + H+ + NH3 NADP+ + H2O

L - Glutamat

Gambar 12.Proses asimilasi nitrat dan amoniak menjadi asam amino (Purwoko, 2007)

Pada dosis kompos 12 ton/ha, jagung yang tanpa penambahan IMR memiliki kadar N maksimum sebesar 339 mg/tanaman sedangkan jagung yang ditambahkan IMR memiliki kadar N maksimum sebesar 494 mg/tanaman. Begitupun pada dosis kompos 24 ton/ha, jagung yang tanpa penambahan IMR memiliki kadar N maksimum sebesar 239 mg/tanaman sedangkan jagung yang ditambahkan IMR memiliki kadar N maksimum sebesar 461 mg/tanaman. Pada dosis kompos 48 ton/ha, jagung yang tanpa penambahan IMR memiliki kadar N maksimum sebesar 351 mg/tanaman sedangkan jagung yang ditambahkan IMR memiliki kadar N maksimum sebesar 383 mg/tanaman. Hal ini menunjukkan betapa berpengaruhnya IMR dalam penyerapan unsur N bagi jagung. Berdasarkan hasil uji statistik, pemberian kompos dan mikroba memberikan pengaruh tidak beda nyata terhadap

peningkatan kadar N dengan nilai signifikansinya sebesar 0,122 (P≥0,05) (Lampiran 12), hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai standar deviasi.

Nisbah C/N kompos yang rendah akan semakin mudah dan cepat mengalami dekomposisi, sehingga memudahkan Jagung menyerap unsur C dan N dari kompos dan menyimpannya dalam sistem pertanamannya (Braddy, 1990). Penambahan mikroba dapat mengefesiensikan pemakaian kompos.Selain itu mikroba fungsional tersebut dapat meningkatkan kecepatan dekomposisi, meningkatkan penguraian materi organik, dan dapat meningkatkan kualitas produk akhir (Nuryani et. al, 2002).

Gambar 13. Grafik nisbah C/N jagung (Zea mays L.)

Gambar 13 menunjukkan bahwa pemberian kompos dapat menurunkan nilai nisbah C/N pada tanaman jagung, semakin kecil nisbah C/N semakin baik nisbahnya.Hasil terbaik pada kompos tanpa IMR terdapat pada dosis 24ton/ha dengan nisbah C/N 22,567, sedangkan pada kompos yang ditambah IMR terdapat pada dosis 48 ton/ha dengan nisbah C/N 22,879. Untuk mengetahui perlakuan mana yang lebih baik dapat dilihat kadar N dalam jagung. Pada dosis 24 ton/ha tanpa IMR

20 22 24 26 28 30 32 34 36 38 40

0 6 12 24 48

Nisbah C/N

Variasi dosis kompos (ton/ha

Tanpa IMR Dengan IMR

kadar N-nya adalah 226 mg/tanaman, sedangkan untuk dosis 48 ton/ha memiliki kadar N sebesar 340 mg/tanaman. Berdasarkan uji statistik, pemberian kompos dan IMR memberikan pengaruh nyata terhadap nisbah C/N dengan nilai signifikansinya sebesar 0,00 (P≥0,05) (Lampiran 13).

Hasil penenlitian ini senada dengan penelitian Valarini (2009) dan Zebrath (1999), bahwa dengan penambahan kompos pada tanah dapat meningkatkan kualitas kimia dan fisika tanah yaitu pH, KBO, dan WHC. Sementara pada pertumbuhan jagung (Zea mays L.) pemberian kompos dapat menurunkan nilai nisbah C/N, dan penambahan IMR sebagai bio-stimulan kompos dapat menurunkan nisbah C/N jagung (Zea mays L.) sehingga hasilnya menjadi lebih baik lagi dikarenakan IMR tersebut memiliki sifat sebagai dekomposer dan pengurai bahan organik, sehingga N- organik dapat diubah menjadi senyawa N yang lebih mudah untuk diserap tanaman.

Hal tersebut dapat terlihat dengan penurunan nisbah C/N jagung (Zea mays L.) karena semakin kecil nisbah C/N maka semakin besar total N yang diserap jagung (Zea mays L.).

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

1. Pemberian kompos sebanyak 48 ton/ha dapat meningkatkan pHtanah dari 5,56 menjadi 7,51, KBO tanah dari 14% menjadi 18%, dan untuk WHC tanah meningkat 37%.

2. Pemberian IMR pada saat minggu ke-2 dan ke-3 dengan dosis kompos 48 ton/ha tidak berpengaruh terhadap peningkatan pH dan WHC tanah, tetapi berpengaruh nyata terhadap KBO tanah dari 14% menjadi 20,5%.

3. Dosis kompos 12 ton/ha dengan penambahan IMR merupakan dosis kompos optimum untuk tanaman jagung berdasarkan penelitian ini, dengan tinggi 165cm, berat basah 410g, berat kering 153g, total C sebesar 81433,978 mg/tanaman dan total N sebesar 305,541 mg/tanaman.

5.2. Saran

1. Untuk mendapatkan informasi lebih lanjut, dapat melakukan uji unsur-unsur hara yang lain, seperti P dan K.

2. Tanaman jagung diuji pada musim lain.

DAFTAR PUSTAKA

Ahn. H. K., T. J.Sauer., T. L. Richard. and T. D. Glanville. 2009. Determination of Thermal Properties of Composting Bulking Materials. Bioresourece Technology 100 (2009): 3974-3981.

Afandi, R. 2002. Ilmu Kesuburan Tanah. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Anderson A. N., D. C. McKenzie, and J. J. Friend. 1998. SOILpak for Dryland Farmers on The Red Soil of Central Western NSW. NSW Agriculture.

Brady, M. 1990. The Nature and Properties of Soils.10th ed. Macmillan Publ.

Company. New York.

Brady, N. C. and R. R. Weil, 2002.The Nature and Properties of Soils.31th ed.

Prentice-Hall, Upper Saddle River, New York.511 p.

Bremer, E. and K. Ellert. 2004. Soil Quality Indicators: A Review with Implications for Agricultural Ecosystems in Alberta. Symbio Ag Consulting Lethbridge.

Buckman, H. O. and C. Brady. 1961. The Nature and Properties of Soils. The McMillan, Co. New York.

Budiyanto, Agus. K. 2008. Hand Out-3. Nutrisi Mikroorganisme. Umm Press.

Malang.

Buttler, T. A., L. J. Sikora, P. M. Steinhilber, and L. W. Douglas. 2001. Compost Age and Sample Storage Effects on Maturity Indicators of Biosolids Compost.

Journal of Environment Quality 30:2141-2148.

Cahyani, V. R. 1996. Pengaruh Inokulasi Mikorisa Vesikular-Arbuskular dan Perimbangan Takaran Kapur dengan Bahan Organik terhadap Pertumbuhan Tanaman Jagung pada Tanah Ultisol Kentrong.Tesis. Pasca Sarjana UGM.

Yogyakarta.

Convertini G., D. Ferri, F. Montemurro and M. Maiorana. 2004. Effects of Municipal Solid Waste Compost on Soils Cropped with Tomato and Sunflower in Rotation with Durum Wheat. Istituto Sperimentale Agronomico, Bari, Italy.

Darman, S. 2006. Efisiensi Serapan Fosfat dan Pengaruh Komponen Beberapa Sifat Kimia Tanah Terhadap Hasil Tanaman Kedelai Akibat Pemberian Ekstrak Kompos Dan Pupuk Fosfat Pada Oxic Dystrudepts. J. Agrisains 7 (2): 86-93.

Djakakirana, G. dan S. Sabiham. 2007. Pengembangan Pertanian Spesifik Lokasi:

Jawaban dalam Mendukung Budidaya Pertanian Ekologis. Yayasan Padi Indonesia, Jakarta.

Dongoran, D. 2009. Respon Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung (Zea mays Saccharata Sturt) terhadap Pemberian Pupuk Cair TNF dan Pupuk Kandang Ayam.Skripsi. Universitas Sumatera Utara: Medan.

Edmond, J. B., A. M. Musser, and F. S. Andrews. 1957. Fundamentals of Horticulture. McGraw Hill Book Co. Inc. New York. 456 p.

Evanylo, G. K. 1988. Nitrogen Soil Testing for Corn in Virginia.Virginia Cooperative Extension.Virginia Polytechnic Institute and State University.http://www.ext.vt.edu

Fatimah, S. dan B. M. Handarto. 2008. Pengaruh Komposisi Media Tanam terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Sambiloto (Andrographis Paniculata, Nees).

Embryo Vol. 5 No. 2.Jurusan Agroekoteknologi Fak. Pertanian Unijoyo.

Foth, H. D. 1988. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Endang, D. P., Dwi, R. L., Rahayuning, T. Penerjemah; Sri, A. B. H., ed. Yogyakarta: Gajah Mada University Press.

Terjemahan dari: Fundamental of Soil Science.

Gardner et al. 1991. Fisiologi Tanaman Budidaya. Herawati Susilo, penerjemah.

Jakarta: Universitas Indonesia Press. Terjemahan dari Physiology of Crop Plants.

Goh, K. M. and Haynes, R. J. 1986.Nitrogen and Agronomic Practice. In: Mineral Nitrogen in The Plant-Soil System (Ed. R. J. Haynes), p. 379-442. Academic Press. London.

Gregory, A. S., and A. W. Vickers. 2006. Effects of amendments on soil structural development in a clay soil-forming material used as a cap for landfill restoration. Volume 19, Issue 3, pages 273–276, September 2003.

Grunes, D. L., and W. H. Allaway. 1985. Nutritional Quality of Plants in Relation to Fertilizer Use. In: Fertilizer Technology and Use, O. P. Engelstad et al. (eds.).

pp. 589-619. Soil Science Society of America, Madison, Wisconsin.

Hadisuwito, S. 2007. Membuat Pupuk Kompos Cair. Agromedia Pustaka. Jakarta.

Harada, Y. K., Tosada and M. Koshino 1993.Quality of compost produced from animal waste. Japan Agriculture Research Quartely. 26: 238-246.

Harahap, H. 2007. Pola Pertumbuhan dan Produksi Jagung (Zea mays L.) pada Musim Kering terhadap Perbedaan Waktu Tanam.Skripsi. Universitas Sumatera Utara. Medan.

Hardjowigeno, S. 2007. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.

Haug, R. T. 1980. Compost Engineering Principles and Practices. Ann Arbor Science Publishers, Inc. Ann Arbor, Michigan.

Indriani, Y. H, 2002. Membuat Kompos Secara Kilat. PT Penebar Swadaya.

Islam, M. Z., D. I. Sharif and M. A. Hossain. 2008. A Comparative Study of Azotobacter spp. From Different Soil Samples. J.Soil.Nature 2(3):16-19.

Isnaini, M. 2006. Pertanian Organik. Cetakan Pertama. Penerbit Kreasi. Yogyakarta.

Isrun. 2006. Pengaruh Dosis Pupuk P dan Jenis Pupuk Kandang terhadap Beberapa Sifat Kimia Tanah, Serapan P dan Hasil Jagung (Zea mays var. saccharata sturt) Pada Inceptisols Jatinangor. J. Agrisains Vol, 7 No.1: 9-17.

Jacob, A. and H. V. Uexkull. 1960. Fertilizer Use: Nutrition and Manuring of Tropical Crops. Translated by C. L. Whittles. Hannover.593 p.

Judoamidjojo, R. M., A. A.Darwis, dan E. G. Sa’id. 1992. Teknologi Fermentasi.

Bogor: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Pusat Antar Universitas Bioteknologi Institut Pertanian Bogor.

Karama, A. S., A. R. Marzuki, dan I. Manwan. 1990. Penggunaan Pupuk Organik pada Tanaman Pangan.Prosiding Lokakarya Nasional Efisiensi Pupuk V.

Cisarua 12-13 November 1990.

Krishnawati, D. 2003. Pengaruh Pemberian Pupuk Kascing terhadap Pertumbuhan Vegetatif Tanaman Kentang (Solanum Tuberosum).KAPPA. 4(1): 9-12.

Kononova, M. M. 1966. Soil Organic Matter: Its Roll in Soil Formation and in Soil Fertility. Perganon Press. London. England.

Lakitan, B. 1996.Fisiologi Pertumbuhan dan Perkembangan Tanaman. PT. Raja Grafindo Persada. Jakarta. 218 hal.

Lee, C. 2007. Corn Growth and Development.www.uky.edu/ag/grain crops

Leiwakabessy, F. M. 1988. Kesuburan Tanah. Jurusan Tanah. Fakultas Pertanian.

IPB. Bogor.

Lingga, P, Marsono. 2001. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Manan, M. H. A. 2006.Kamus Kimia. PT Bumi Aksara. Jakarta.

McWilliams, D. A., D. R. Berglund, and G. J. Endres. 1999. Corn Growth and Management Quick Guide.www.ag.ndsu.edu.

Mengel, K. and E. A. Kirkby. 1982. Principles of Plant Nutrition 3rd edition International Potash Institute. Warblaufen-Bern Switzerland.

Mulyani, M. Ir. 1999. Pupuk dan Cara Pemupukan. Cetakan Keenam. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Murbandono ,H. S. L. 2002. Membuat Kompos.Penerbit Penebar Swadaya. Jakarta.

Nelson, D. W., and L. E. Sommers. 1982. Total carbon, Organic Carbon, and Organic Matter. p. 539-577. In A.L. Page et al. (ed.) Methods of Soil Analysis.Part 2.2nd ed. Agron.Mongr. 9. ASA and SSSA. Madison, WI.

Nuryani, S. H. U. dan Sutanto, R. 2002.Pengaruh Sampah Kota terhadap Hasil dan Tahana Hara Lombok. Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan, 3 (1): 24-28.

Parman.2007. Pengaruh Pemberian Pupuk Organik Cair terhadap Pertumbuhan dan Produksi Kentang (Solanum tuberosum L.)Laboratorium Biologi Struktur dan Fungsi Tumbuhan Jurusan Biologi FMIPA UNDIP. Semarang.

Purwoko, T. 2007. Fisiologi Mikroba. Bumi Aksara. Jakarta.

Puslittanak. 2005. Teknologi Pengolahan Lahan Kering: Menuju Pertanian Produktif dan Ramah Lingkungan. Pusat Penelitian Tanah Dan Agroklimat.

Bogor.

Prawiranata, S. Haran dan P. Tjondronegoro. 1992. Dasar – Dasar Fisiologi Tumbuhan. Jurusan Biologi. Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. IPB. Bogor.

Rahmawati, N. 2005.Pemanfaatan Biofertilizer pada Pertanian Organik. Fakultas Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan.

Ratih, Dra. Dkk. 1999.Sains Kimia 2B. Bumi aksara, Jakarta.

Rao, N. S., Subba. 1994. Soil Microorganisms and Plant Growth. Oxford and IBM Publishing Co. London.

Rukmana, H., 1997. Usaha Tani Jagung. Kanisius.Yogyakarta.

Scott, H. D., L. S. Wood, and W. M. Miley. 1986. Long-term Effects of Tillage on The Retention and Ttransport of Soil Water. Arkansas Water Resources Research Center.Publication Number 125.39 p.

Setyorini, D. 2005. Pupuk Organik Tingkatkan Produksi Tanaman. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian.

Simamora, S. Ir. dan Salurdih, Ir. 2008.Meningkatkan Kualitas Kompos. PT Agro Media. Jakarta.

Simanungkalit, R. D. M., D. A. Suryadikarta, R. Saraswati, D. Setyorini, dan W.

Hartatik.2006. Pupuk Organik dan Pupuk Hayati. Balai Besar Litbang Sumberdaya Lahan Pertanian. Bogor.

Sisworo, W. H. 2006. Swasembada Pangan dan Pertanian Berkelanjutan Tantangan Abad Dua Satu: Pendekatan Ilmu Tanah, Tanaman dan Pemanfaatan Iptek Nuklir. Badan Tenaga Nuklir Nasional. Jakarta.

SNI 01-3555-1998. Metode Oven Penentuan Kadar Air.Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

SNI 02-4958-1999. Metode Kjeldahl. Badan Standardisasi Nasional. Jakarta.

Steenis, C. G. G. J. 1992. Flora. Cetakan keenam.Pradnya paramita. Jakarta.

Stevenson, F. T. 1982. Humus Chemistry.John Wiley and Sons. New York.

Stevenson, F. J. 1994. Humus Chemistry: Genesis, Composition and Reaction. John Willey and Sons. New York. 597 p.

Sugito, Y. Nuraini. dan Nihayati. 1995. Sistem Pertanian Organik. Fakultas Pertanian. Universitas Brawijaya. Malang.

Suntoro. 2001. Pengaruh Residu Penggunaan Bahan Organik, Dolomit dan KCl pada Tanaman Kacang Tanah (Arachis Hypogeae. L.) pada Oxic Dystrudept di Jumapolo. Karanganyar.Habitat, 12(3) 170-177.

Suprapto, H. S. 2001. Bertanam Jagung. Cetakan ke-21. Penebar Swadaya. Jakarta.

Sutanto, R. 2006. Pertanian Organik. Kanisius.Yogyakarta.

Sutedjo, M. M. 2002. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.

Sutoro, Y. Sulaeman, dan Iskandar. 1988. Budidaya Tanaman Jagung. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Bogor

Soepardi, G. 1983. Sifat dan Ciri Tanah. Institut Pertanian Bogor. Bogor.

Syekhfani. 1995. Hara Tanah, Air, dan Tanaman. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian.

Universitas Brawijaya. Malang.

Tisdale, S. L., W. L. Nelson and J. P. Beaton, 1985. Soil Fertility and Fertilizer.4th Ed. Mac Millian Publ. Co. Inc. New York. 695 p

Valarini, P. J., G. Curaque, A. Seguel, K. Manzano, R. Rubio, P. Cornejo, and F.

Borie. 2009. Effect of Compost Application on Some Properties of A Volcanic Soil From Central South Chile. Chilean Journal of Agricultural Research 69(3):416-425

Wahyudi, I. 2009. Manfaat Bahan Organik terhadap Peningkatan Ketersediaan Fosfor dan Penurunan Toksisitas Alumunium di Ultisol.Disertasi Program Pascasarjana Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Malang.

Wu, L., and L. Q. Ma. 2001. Effect of Sample Storage on Biosolids Compost Stability and Maturity Evaluation, Waste Management, Technical Report. Journal of Environmental Quality 30:222-228.

Yang, S. S. 1997.Preparation of Compost and Evaluating Its Maturity. Agriculture and Holticulture Extension Bulletin No. 445.

Yulianti, F, 2007, Stabilisasi Tanah Lempung Purwodadi Dengan Menggunakan Abu Batubara Dan Kapur Ditinjau Dari Nilai Cbr Dan Swelling. Skripsi. Jurusan Teknik Sipil UNNES. Semarang.

Zebarth, B. J., J. H. Neilsen, E. Hogue, and D. Neilsen. 1999. Influence Of Organic Waste Amendment on Selected Soil Physical and Chemical Properties. Can. J.

Soil Sci. 79:501-504.

LAMPIRAN

Lampiran 1.Standar Kualitas Pupuk Organik Menurut Bank Dunia, Internasional, PT.

Pusri dan Pasar.

Parameter Kualitas Satuan

Standar Kualitas Bank

Dunia Internasional PT.

Pusri Pasar

Kualitas Fisik % Berat Kering ≤ 45 ≤ 25 - ≤ 20

a) Kadar Air Dimesionless - < 40 -

b) Kadar Humus Dimesionless - ± 7,5 - ± 7,5

c) pH Dimesionless - - -

d) Bau Dimesionless - bau Tanah - Bau

Tanah

Kadar Unsur Hara

a) N (Nitrogen) % Berat Kering - - ≥ 2,12 ≥ 2,30

b) P2O5 (Fosfor) % Berat Kering - ≥ 6,00 ≥ 1,30 ≥ 1,60

c) K2O (kalium) % Berat Kering - - ≥ 2,00 ≥ 2,40

d) Mg (Magnesium) % Berat Kering - - ≥ 3,19 ≥ 3,25

e) S (Belerang) % Berat Kering - - ≥ 0,01 ≥ 0,02

f) Mo (Molybdenum) % Berat Kering - - ≥ 0,05 ≥ 0,10

g) B (Boron) % Berat Kering - - ≥ 0,09 ≥ 0,10

h) Ca (Kalsium) % Berat Kering - - ≥ 0,97 ≥ 1,00

i) C/N Ratio Dimesionless ≤ 20 ≤ 20 - ≥ 15

Kadar Logam Berat

a) As (Arsenik) mg/kg Berat Kering - < 10 - < 10

b) Cd (Cadmium) mg/kg Berat Kering - < 3 - < 3

c) Cr (Cromium) mg/kg Berat Kering < 45 < 45 - < 45 d) Cu (Tembaga) mg/kg Berat Kering < 150 < 150 - < 150

e) Hg (Merkuri) mg/kg Berat Kering - < 1 - < 1

f) Ni (Nikel) mg/kg Berat Kering - < 50 - < 50

g) Pb (Timbal) mg/kg Berat Kering < 150 < 150 - < 150 h) Zn (Seng) mg/kg Berat Kering < 400 < 400 - <400

Kualitas Biologis

a) Coliform MPN/g - < 1000 - -

b) Salmonella sp. MPN/g - < 3 - -

Lampiran 2. Perhitungan a. Kadar bahan organik

% Kadar Bahan Organik =berat kering − berat abu

berat kering × 100%

Berat kering = 1,58g Berat abu = 1,37g

% Kadar Bahan Organik =1,58g − 1,37g

1,58g × 100%

% Kadar Bahan Organik = 13,29%

b. Kemampuan ikat air

%𝑊𝐻𝐶 = { 𝑊𝑠 − 𝑊0 + (𝑀𝑐 × 𝑊𝑜)}

{(1 − 𝑀𝑐) × 𝑊0} × 100%

W0 (berat awal) = 2,03g Ws (berat jenuh) = 3,62g Mc (kadar air) = 0,22g/g

%𝑊𝐻𝐶 ={ 3,62𝑔 − 2,03𝑔 + (0,22 × 2,03𝑔)}

{(1 − 0,22) × 2,03𝑔} × 100%

%𝑊𝐻𝐶 = 134%

Terjadi peningkatan 34%

c. Total C

TOC =KBO − TN 1,82 KBO = 98,946

TN = 1,607

TOC =98,946 − 1,607 1,82 TOC = 53,483

TOC/tanaman = TOC × Berat kering TOC = 53,483 × 91

TOC = 4866,953 mg/tanaman

Lampiran 3.Data Hasil Ragam Pengukuran pH Tanah Awal Deskriptif

Nilai pH tanah awal

N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for

Mean Minimum Maximum

Lower Bound Upper Bound

1 2 5,5600 ,00000 ,00000 5,5600 5,5600 5,56 5,56

2 2 6,2850 ,00707 ,00500 6,2215 6,3485 6,28 6,29

3 2 6,3750 ,04950 ,03500 5,9303 6,8197 6,34 6,41

4 2 6,5600 ,07071 ,05000 5,9247 7,1953 6,51 6,61

5 2 6,8300 ,00000 ,00000 6,8300 6,8300 6,83 6,83

6 2 5,5600 ,00000 ,00000 5,5600 5,5600 5,56 5,56

7 2 6,2850 ,00707 ,00500 6,2215 6,3485 6,28 6,29

8 2 6,3750 ,04950 ,03500 5,9303 6,8197 6,34 6,41

9 2 6,5600 ,07071 ,05000 5,9247 7,1953 6,51 6,61

10 2 6,8300 ,00000 ,00000 6,8300 6,8300 6,83 6,83

Total 20 6,3220 ,43608 ,09751 6,1179 6,5261 5,56 6,83

Hasil uji Anova Nilai pH tanah awal

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 3,598 9 ,400 266,527 ,000

Within Groups ,015 10 ,002

Total 3,613 19

Hasil uji Duncan

perlakuan N

Subset for alpha = .05

1 2 3 4

1 2 5,5600

6 2 5,5600

2 2 6,2850

7 2 6,2850

3 2 6,3750

8 2 6,3750

4 2 6,5600

9 2 6,5600

5 2 6,8300

10 2 6,8300

Sig. 1,000 ,055 1,000 1,000

Means untuk setiap kelompok subset menunjukkan keseragaman

Lampiran 4.Data Hasil Ragam Pengukuran pH Tanah Akhir Deskriptif

Nilai pH tanah akhir

N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for

Mean Minimum Maximum

Lower Bound Upper Bound

1 2 5,7450 ,14849 ,10500 4,4108 7,0792 5,64 5,85

2 2 6,0750 ,02121 ,01500 5,8844 6,2656 6,06 6,09

3 2 6,2700 ,02828 ,02000 6,0159 6,5241 6,25 6,29

4 2 6,7400 ,01414 ,01000 6,6129 6,8671 6,73 6,75

5 2 7,5050 ,00707 ,00500 7,4415 7,5685 7,50 7,51

6 2 5,7850 ,12021 ,08500 4,7050 6,8650 5,70 5,87

7 2 6,1300 ,01414 ,01000 6,0029 6,2571 6,12 6,14

8 2 6,2400 ,01414 ,01000 6,1129 6,3671 6,23 6,25

9 2 6,7450 ,04950 ,03500 6,3003 7,1897 6,71 6,78

10 2 7,5100 ,00000 ,00000 7,5100 7,5100 7,51 7,51

Total 20 6,4745 ,62247 ,13919 6,1832 6,7658 5,64 7,51

Hasil uji Anova Nilai pH tanah akhir

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 7,321 9 ,813 199,131 ,000

Within Groups ,041 10 ,004

Total 7,362 19

Hasil uji Duncan

perlakuan N

Subset for alpha = .05

1 2 3 4 5

1 2 5,7450

6 2 5,7850

2 2 6,0750

7 2 6,1300 6,1300

8 2 6,2400

3 2 6,2700

4 2 6,7400

9 2 6,7450

5 2 7,5050

10 2 7,5100

Sig. ,545 ,410 ,063 ,939 ,939

Means untuk setiap kelompok subset menunjukkan keseragaman

Lampiran 5. Data Hasil Ragam Pengukuran KBO Tanah Awal Deskriptif

Nilai KBO tanah awal

N Mean Std. Deviation Std. Error

95% Confidence Interval for

Mean Minimum Maximum

Lower Bound Upper Bound

1 2 14,0000 ,00000 ,00000 14,0000 14,0000 14,00 14,00

2 2 16,0000 1,41421 1,00000 3,2938 28,7062 15,00 17,00

3 2 15,5000 ,70711 ,50000 9,1469 21,8531 15,00 16,00

4 2 17,0000 ,00000 ,00000 17,0000 17,0000 17,00 17,00

5 2 19,5000 ,70711 ,50000 13,1469 25,8531 19,00 20,00

6 2 14,0000 ,00000 ,00000 14,0000 14,0000 14,00 14,00

7 2 16,0000 1,41421 1,00000 3,2938 28,7062 15,00 17,00

8 2 15,5000 ,70711 ,50000 9,1469 21,8531 15,00 16,00

9 2 17,0000 ,00000 ,00000 17,0000 17,0000 17,00 17,00

10 2 19,5000 ,70711 ,50000 13,1469 25,8531 19,00 20,00

Total 20 16,4000 1,95744 ,43770 15,4839 17,3161 14,00 20,00

Hasil uji Anova Nilai KBO tanah awal

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 66,800 9 7,422 12,370 ,000

Within Groups 6,000 10 ,600

Total 72,800 19

Hasil uji Duncan

perlakuan N

Subset for alpha = .05

1 2 3

1 2 14,0000

6 2 14,0000

3 2 15,5000 15,5000

8 2 15,5000 15,5000

2 2 16,0000

7 2 16,0000

4 2 17,0000

9 2 17,0000

5 2 19,5000

10 2 19,5000

Sig. ,101 ,108 1,000

Means untuk setiap kelompok subset menunjukkan keseragaman

Lampiran 6. Data Hasil Ragam Pengukuran KBO Tanah Akhir Deskriptif

Nilai KBO tanah akhir

N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for

Mean Minimum Maximum

Lower Bound Upper Bound

1 2 13,0000 ,00000 ,00000 13,0000 13,0000 13,00 13,00

2 2 14,0000 ,00000 ,00000 14,0000 14,0000 14,00 14,00

3 2 14,5000 ,70711 ,50000 8,1469 20,8531 14,00 15,00

4 2 16,5000 2,12132 1,50000 -2,5593 35,5593 15,00 18,00

5 2 18,0000 ,00000 ,00000 18,0000 18,0000 18,00 18,00

6 2 15,0000 ,00000 ,00000 15,0000 15,0000 15,00 15,00

7 2 16,0000 ,00000 ,00000 16,0000 16,0000 16,00 16,00

8 2 17,0000 ,00000 ,00000 17,0000 17,0000 17,00 17,00

9 2 19,0000 ,00000 ,00000 19,0000 19,0000 19,00 19,00

10 2 20,5000 ,70711 ,50000 14,1469 26,8531 20,00 21,00

Total 20 16,3500 2,34577 ,52453 15,2521 17,4479 13,00 21,00

Hasil uji Anova Nilai KBO tanah akhir

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 99,050 9 11,006 20,010 ,000

Within Groups 5,500 10 ,550

Total 104,550 19

Hasil uji Duncan

perlakuan N Subset for alpha = .05

1 2 3 4 5 6 7 8

1 2 13,0000

2 2 14,0000 14,0000

3 2 14,5000 14,5000 14,5000

6 2 15,0000 15,0000 15,0000

7 2 16,0000 16,0000 16,0000

4 2 16,5000 16,5000 16,5000

8 2 17,0000 17,0000

5 2 18,0000 18,0000

9 2 19,0000 19,0000

10 2 20,5000

Sig. ,082 ,227 ,082 ,082 ,227 ,082 ,207 ,071

Means untuk setiap kelompok subset menunjukkan keseragaman

Lampiran 7. Data Hasil Ragam Pengukuran WHC Tanah Deskriptif

Nilai WHC tanah

N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for

Mean Minimum Maximum

Lower Bound Upper Bound

1 2 1,3800 ,05657 ,04000 ,8718 1,8882 1,34 1,42

2 2 1,4650 ,03536 ,02500 1,1473 1,7827 1,44 1,49

3 2 1,5000 ,05657 ,04000 ,9918 2,0082 1,46 1,54

4 2 1,5500 ,01414 ,01000 1,4229 1,6771 1,54 1,56

5 2 1,7500 ,00000 ,00000 1,7500 1,7500 1,75 1,75

6 2 1,2350 ,02121 ,01500 1,0444 1,4256 1,22 1,25

7 2 1,2750 ,10607 ,07500 ,3220 2,2280 1,20 1,35

8 2 1,2900 ,01414 ,01000 1,1629 1,4171 1,28 1,30

9 2 1,4750 ,09192 ,06500 ,6491 2,3009 1,41 1,54

10 2 1,5300 ,01414 ,01000 1,4029 1,6571 1,52 1,54

Total 20 1,4450 ,15595 ,03487 1,3720 1,5180 1,20 1,75

Hasil uji Anova Nilai WHC tanah

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups ,434 9 ,048 16,968 ,000

Within Groups ,028 10 ,003

Total ,462 19

Hasil uji Duncan

perlakuan N Subset for alpha = .05

1 2 3 4 5

6 2 1,2350

7 2 1,2750 1,2750

8 2 1,2900 1,2900

1 2 1,3800 1,3800

2 2 1,4650 1,4650

9 2 1,4750 1,4750

3 2 1,5000 1,5000

10 2 1,5300

4 2 1,5500

5 2 1,7500

Sig. ,348 ,089 ,062 ,173 1,000

Means untuk setiap kelompok subset menunjukkan keseragaman

Lampiran 8. Data Hasil Ragam Pengukuran Tinggi Jagung (Zea mays L.) Deskriptif

Tinggi jagung

N Mean Std. Deviation Std. Error 95% Confidence Interval for

Mean Minimum Maximum

Lower Bound Upper Bound

1 2 154,0000 9,89949 7,00000 65,0566 242,9434 147,00 161,00

2 2 164,0000 1,41421 1,00000 151,2938 176,7062 163,00 165,00

3 2 167,0000 2,82843 2,00000 141,5876 192,4124 165,00 169,00

4 2 150,0000 ,00000 ,00000 150,0000 150,0000 150,00 150,00

5 2 159,0000 2,82843 2,00000 133,5876 184,4124 157,00 161,00

6 2 153,5000 4,94975 3,50000 109,0283 197,9717 150,00 157,00

7 2 167,0000 5,65685 4,00000 116,1752 217,8248 163,00 171,00

8 2 165,0000 21,21320 15,00000 -25,5931 355,5931 150,00 180,00

9 2 170,0000 14,14214 10,00000 42,9380 297,0620 160,00 180,00

10 2 159,5000 ,70711 ,50000 153,1469 165,8531 159,00 160,00

Total 20 160,9000 9,30139 2,07985 156,5468 165,2532 147,00 180,00

Hasil uji Anova Tinggi jagung

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 820,800 9 91,200 1,108 ,434

Within Groups 823,000 10 82,300

Total 1643,800 19

Hasil uji Duncan

Sum of

Squares df Mean Square F Sig.

Between Groups 820,800 9 91,200 1,108 ,434 Within Groups 823,000 10 82,300

Total 1643,800 19

Means untuk setiap kelompok subset menunjukkan keseragaman

Dalam dokumen MUHAMMAD FAJAR RAMADHAN-FST (Halaman 61-70)

Dokumen terkait